Pesan Rahbar

Home » » Sebagaimana Jonru, Habib Rizieq Juga Belum Paham Islam Nusantara

Sebagaimana Jonru, Habib Rizieq Juga Belum Paham Islam Nusantara

Written By Unknown on Friday, 21 October 2016 | 20:56:00


"Karena Jaringan Islam Liberal (JIL) sudah tak laku, maka mereka ganti nama jadi Jaringan ‪#‎IslamNusantara‬ (JIN). Sebenarnya hanya sesederhana itu urusannya. JIN itu bikinan orang-orang liberal, yang ingin merusak aqidah Islam. Jangan terkecoh! Waspadalah!"

Demikian fitnah yang dilontarkan seorang bernama Jonru (orang PKS) terhadap #Islam Nusantara. Fitnah itu pun dilontarkan oleh beberapa orang PKS lainnya, kalangan Wahhabi bahkan imam besar FPI ''Habib Rizieq".

Islam Nusantara adalah sebuah cara berislam yang memperhatikan konteks realitas Nusantara kedisinian (waqi'), menggunakan landasan dakwah Rasulullah saw, teori Urf (al-Adatu Muhakkamah), teori transformasi hukum ala Ibnu al-Qayyim, maqasyid Syariah, dan sebagainya.

Jadi Islam Nusantara bukanlah perkumpulan, jaringan, sindikasi apalagi mafia yang dibentuk untuk maksud jahat, seperti yang dituduhkan Jonru dan orang sejenisnya. Mereka banyak yang salah paham terhadap Islam Nusantara.

Secara ideologis, Islam Nusantara didominasi oleh Ahlussunnah wal Jamaah dengan fondasi Asy'ariyah dalam teologi, Syafi'iyah dalam fiqh, dan Ghazaliyah dalam aspek tasawuf, dimana prinsip-prinsip tersebut di akomodasi oleh ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni: Nahdhatul Ulama.! Hal inilah yang mungkin menjadi ketakutan kalangan yang anti terhadap #IslamNusantara.

Islam Nusantara adalah fakta yang hidup. Dihidupi oleh kaum muslimin di Nusantara sejak lebih dari lima ratus tahun yang lalu hingga kini dan telah sekian lama menjadi wajah peradaban masyarakat yang tinggal di kawasan ini. Sebagai istilah, “Islam Nusantara” hanya menamai sesuatu yang sudah ada. Mengapa perlu ada istilah ini? Karena panggilan sejarah.

Kami harap Bapak Jonru, Habib Rizieq dan anti NUsantara lainnya mau memahami dan tabayun dulu kepada para tokoh PBNU, istilah Islam Nusantara pun sudah kerap dipublis dalam media Ahlusunnah diantaranya sebagaimana tulisan KH. Afifuddin Muhajir berikut.

Istilah Islam Nusantara akhir-akhir ini mengundang banyak perdebatan sejumlah pakar ilmu-ilmu keislaman. Sebagian menerima dan sebagian menolak. Alasan penolakan mungkin adalah karena istilah itu tidak sejalan dengan dengan keyakinan bahwa Islam itu satu dan merujuk pada yang satu (sama) yaitu Al-Qur’an dan As-Sunah.

Kadang suatu perdebatan terjadi tidak karena perbedaan pandangan semata, tetapi lebih karena apa yang dipandang itu berbeda. Tulisan singkat ini mungkin menjadi jawaban bagi mereka yang menolak “Islam Nusantara” menurut apa yang saya pahami dan saya maksudkan dengan istilah tersebut.

Seperti jamak diketahui, Al-Quran sebagai sumber utama Agama Islam memuat tiga ajaran. Pertama, ajaran akidah, yaitu sejumlah ajaran yang berkaitan dengan apa yang wajib diyakini oleh mukallaf menyangkut eksistensi Allah, malaikat, para utusan, kitab-kitab Allah, dan hari pembalasan.

Kedua, ajaran akhlak/tasawuf, yaitu ajaran yang berintikan takhalli dan tahalli, yakni membersihkan jiwa dan hati dari sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat terpuji. Ketiga, ajaran syariat, yaitu aturan-aturan praktis (al-ahkam al-‘amaliyah) yang mengatur perilaku dan tingkah laku mukallaf, mulai dari peribadatan, pernikahan, transaksi, dan seterusnya.

Yang pertama dan kedua sifatnya universal dan statis, tidak mengalami perubahan di manapun dan kapanpun. Tentang keimanan kepada Allah dan hari akhir tidak berbeda antara orang dahulu dan sekarang, antara orang-orang benua Amerika dengan benua Asia. Demikian juga, bahwa keikhlasan dan kejujuran adalah prinsip yang harus dipertahankan, tidak berbeda antara orang Indonesia dengan orang Nigeria. Penipuan selalu buruk, di manapun dan kapanpun. Dalam segmen keyakinan dan tuntunan moral ini, Islam tidak bisa di-embel-embeli dengan nama tempat, nama waktu, maupun nama tokoh.

Sementara yang ketiga, yaitu ajaran syari’at, masih harus dipilah antara yang tsawabith/qath’iyyat dan ijtihadiyyat. Hukum-hukum qath’iyyat seperti kewajiban shalat lima kali sehari semalam, kewajiban puasa, keharaman berzina, tata cara ritual haji, belum dan tidak akan mengalami perubahan (statis) walaupun waktu dan tempatnya berubah. Shalatnya orang Eropa tidak berbeda dengan salatnya orang Afrika. Puasa, dari dahulu hingga Kiamat dan di negeri manapun, dimulai semenjak Subuh dan berakhir saat kumandang azan Maghrib.

Penjelasan Al-Quran dan As-Sunah dalam hukum qath’iyyat ini cukup rinci, detil, dan sempurna demi menutup peluang kreasi akal. Akal pada umumnya tidak menjangkau alasan mengapa, misalnya, berlari bolak-balik tujuh kali antara Shafa dan Marwa saat haji. Oleh karena itu akal dituntut tunduk dan pasrah dalam hukum-hukum qath’iyyat tersebut.

Sementara itu, hukum-hukum ijtihadiyyat bersifat dinamis, berpotensi untuk berubah seiring dengan kemaslahatan yang mengisi ruang, waktu, dan kondisi tertentu. Hukum kasus tertentu dahulu boleh jadi haram, tapi sekarang atau kelak bisa jadi boleh. Al-Quran dan As-Sunah menjelaskan hukum-hukum jenis ini secara umum, dengan mengemukakan prinsip-prinsipnya, meski sesekali merinci. Hukum ini memerlukan kreasi ijtihad supaya sejalan dengan tuntutan kemaslahatan lingkungan sosial.

Para tabi’in berpendapat bahwa boleh menetapkan harga (tas’ir), padahal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam melarangnya. Tentu saja mereka tidak menyalahi As-Sunah. Perbedaan putusan itu karena kondisi pasar yang berubah, yaitu bahwa pada masa Nabi SAW harga melambung naik karena kelangkaan barang dan meningkatnya permintaan, sedangkan pada masa tabi’in disebabkan keserakahan pedagang. (Nailul Authar, V, 220)

Di sini, para tabi’in membedakan antara-apa yang disebut ekonomi modern dengan-pasar persaingan sempurna dari pasar monopoli atau oligopoli misalnya.

Para tabi’in juga memfatwakan larangan keluar menuju masjid untuk perempuan muda karena melihat zaman demikian rusak, banyak laki-laki berandal yang sering usil hingga berbuat jahil, (Al-Muntaqa Syarḥul Muhadzdzab, I, 342) padahal Nabi sendiri bersabda-seperti dalam riwayat Abu Daud

(لا تمنعوا اماء الله مساجد الله، ولكن ليخرجن تفلات. رواه أبو داود عن أبي هريرة.)

-supaya jangan sampai perempuan dilarang keluar menuju masjid.

Dalam pengertian hukum yang terakhir ini kita sah dan wajar menambahkan pada ‘Islam’ kata deiksis, seperti Islam Nusantara, Islam Amerika, Islam Mesir, dan seterusnya. Makna Islam Nusantara tak lain adalah pemahaman, pengamalan, dan penerapan Islam dalam segmen fiqih mu’amalah sebagai hasil dialektika antara nash, syari’at, dan ‘urf, budaya, dan realita di bumi Nusantara.

Dalam istilah “Islam Nusantara”, tidak ada sentimen benci terhadap bangsa dan budaya negara manapun, apalagi negara Arab, khususnya Saudi sebagai tempat kelahiran Islam dan bahasanya menjadi bahasa Al-Qur’an. Ini persis sama dengan nama FPI misalnya, saya benar-benar yakin kalau anggota FPI tidak bermaksud bahwa selain mereka bukan pembela Islam.

(Muslimoderat/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita:

Index »

KULINER

Index »

LIFESTYLE

Index »

KELUARGA

Index »

AL QURAN

Index »

SENI

Index »

SAINS - FILSAFAT DAN TEKNOLOGI

Index »

SEPUTAR AGAMA

Index »

OPINI

Index »

OPINI

Index »

MAKAM SUCI

Index »

PANDUAN BLOG

Index »

SENI