Daftar Isi Nusantara Angkasa News Global

Advertising

Lyngsat Network Intelsat Asia Sat Satbeams

Meluruskan Doa Berbuka Puasa ‘Paling Sahih’

Doa buka puasa apa yang biasanya Anda baca? Jika jawabannya Allâhumma laka shumtu, maka itu sama seperti yang kebanyakan masyarakat baca...

Pesan Rahbar

Showing posts with label ABNS SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label ABNS SEJARAH. Show all posts

Peristiwa G30S 1965 Yang Menyisakan Beberapa Misteri Yang Belum Terjawab

Adegan film Penghianatan G30S/PKI. (Foto: indonesianfilmcenter.com)

Sejarah kelam peristiwa G30SPKI menyisakan beberapa pertanyaan yang masih belum terjawab dan dampak yang terus menjadi polemik masyarakat, menjadi ajang politik khususnya menjelang pilpres 2019.

Beberapa waktu lalu sempat menjadi pro kontra atas pemutaran kembali film dokumenter peristiwa G30SPKI yang sejak era Habibie di hentikan oleh Menteri Penerangan Letnan Jenderal (Purn) Yunus Yosfiah, sebagai bentuk upaya pemerintah yang ingin meninjau ulang sejarah peristiwa G30S PKI.

Rae Sita Michel, perempuan kelahiran 16 April 1994, mendengar kisah tentang gerakan 30 September 1965 atau G30S 1965 ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Oleh pemerintah kala itu, gerakan itu dilabeli G30S PKI.

“Waktu pelajaran PPKN, G30S itu kaya ada tujuh orang TNI atau ABRI dibunuh sama PKI terus mereka dimasukin ke Lubang Buaya,” kata Rae pada sebuah wawancara dengan Tempo Institute pada 2012.

Ia lupa apa alasan ketujuh jenderal itu dibunuh, ia hanya ingat kisah G30S memiliki berbagai macam versi. Versi pertama, peristiwa G30SPKI terjadi karena ada keterlibatan Soekarno pada PKI. “Terus ada juga yang bilang kalau itu cuma akal-akalannya presiden Soeharto supaya dapat kuasa gitu,” ujarnya.

Rae juga pernah mendengar Soeharto mengeluarkan Undang-Undang untuk siapapun yang pernah terlibat dalam PKI, baik langsung maupun tidak, untuk dilarang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Menurut Rae, ia merasa kasihan pada siapapun yang terdampak dengan kebijakan tersebut. “Kan itu mungkin kaya kesalahan nenek moyang kok kena juga sebagai generasi muda?”

Di akhir wawancara, Rae berpesan pada generasi muda seperti dirinya untuk lebih peka dengan sejarah negara sendiri. Menurut dia, sejarah adalah apa yang membentuk identitas diri dan membentuk bangsa ini. “Kita harus tahu sejarah yang sebenarnya,” ujarnya.

Sejarawan Asvi Warman Adam mengatakan sejarah peristiwa G30S 1965 memang masih menyisakan pertanyaan. Setidaknya menurut dia ada dua hal yang belum terjawab secara jelas, yaitu jumlah korban dan siapa yang bertanggungjawab atas peristiwa itu.

Mengenai jumlah korban, kata Asvi, ada banyak versi yang beredar. Angka terendah dari Komisi Pencari Fakta yang pernah dibentuk presiden Soekarno menyebut korbannya mencapai sekitar 78 ribu orang. “Angka yang paling tinggi sampai 3 juta (jumlah korban) oleh Sarwo Edhi,” ujarnya. Sarwo Edhi Wibowo adalah mantan Komandan Pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). RPKAD adalah pasukan yang berperan dalam penumpasan PKI pada 1965. Sedangkan Komnas HAM yang melakukan pencarian fakta pada 2008-2012 menyebut jumlah korban berkisar 500 ribu hingga 3 juta orang.

Seperti jumlah korban, persoalan siapa yang bertanggungjawab pun masih menjadi pertanyaan. Namun menurut Asvi, teka-teki tersebut makin jelas dengan ditemukannya bukti-bukti baru. Ia menyebut salah satunya adalah temuan peneliti Australia Jess Melvin dalam buku The Army and the Indonesian Genocide: Mechanics of Mass Murder.

Melvin menemukan sejumlah dokumen militer yang berisi perintah pemusnahan PKI sampai ke akar-akarnya. Surat pertama muncul dari Soeharto sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) kepada Komandan Militer Wilayah Aceh Ishak Djuarsa pada pagi hari, 1 Oktober 1965. Dia mengabarkan telah terjadi kudeta di Jakarta di bawah pimpinan Letnan Kolonel Untung.

Surat tersebut kemudian direspon oleh Komandan Mandala I (Panglatu) Sumatera Letnan Jenderal Ahmad Junus Mokoginta dengan surat perintah pemusnahan PKI yang berbunyi “Segenap anggota Angkatan Bersenjata untuk setjara tegas/tandas, menumpas contra-revolusi ini dan segala bentuk pencianatan2 dan sematjamnja sampai keakar2nja.”

Menurut Asvi, Melvin beruntung bisa mendapat dokumen tersebut karena ini adalah kali pertama analisa peristiwa 1965 didasarkan pada dokumen militer sendiri. “Laporan ini sangat rinci menjelaskan secara rinci operasi militer, waktu, kronologi, tempat dan jumlah korban” ujarnya.

Saat ini, sejarah mengenai peristiwa G30S 1965 didasarkan pada versi pemerintah Orde Baru bahwa PKI adalah dalang terjadinya serangkaian pembantaian. Karena itu, kata Asvi, peristiwa itu disebut G30S PKI seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah. “Padahal yang benar seharusnya G30S, bahwa dalangnya itu PKI atau yang lainnya itu bisa diperdebatkan,” ujarnya.

(Tempo/Fokus-Today/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Cerita AH Nasution Digiring Prabowo Keluar Saat Salat Jenazah


Sikap kritis yang ditunjukkan Soeharto membuat Abdul Haris Nasution menjadi sosok yang paling dibenci dan dijauhi selama rezim Orde Baru berkuasa. Kegiatannya mulai dibatasi, termasuk hak politik dan suaranya dikebiri habis-habisan oleh penguasa, hukuman ini tak jauh beda dengan mereka yang dituduh sebagai anggota atau keluarga dari organisasi terlarang.

Padahal, Nasution merupakan orang terdekat Soeharto sebelum naik ke kursi kekuasaan. Nasution juga lah yang mendorong Pak Harto, sapaan Soeharto, menjadi seorang presiden, boleh dibilang keduanya adalah sahabat dekat saat sama-sama menjadi prajurit di masa perang kemerdekaan hingga kekuasaan Orde Lama berakhir.

Keretakan keduanya makin menjadi saat Nasution ikut terlibat dalam Petisi 50. Petisi 50 adalah sebuah pernyataan keprihatinan yang ditandatangani oleh 50 tokoh sebagai reaksi atas pidato Presiden Soeharto yang menyatakan lebih baik menculik satu orang dari 2/3 jumlah anggota DPR yang menghendaki amandemen UUD 1945 daripada membiarkan UUD 1945 diamandemen.

Perlakuan terburuk dialami AH Nasution saat sedang melayat ke mantan Wakil Persiden Adam Malik yang baru saja menghembuskan napas terakhirnya pada 1984. Saat itu dirinya tengah mengikuti salat gaib untuk menyalati jenazah Adam Malik, baru saja mau melaksanakannya dia malah digiring keluar.

Dalam kisah yang ditulis senandungwaktu.com, Rabu (20/9), saat akan ditarik keluar, Nasution sudah dalam posisi takbiratul ikhram. Tiba-tiba dia didorong keluar oleh anggota pasukan pengawal presiden (paspampres) termasuk Prabowo Subianto.

Alasannya mengejutkan, dia diminta keluar karena Wakil Presiden Umar Wirahadikusumah akan datang ke rumah duka. Mendapatkan perlakuan itu, Nasution mengaku hanya bisa mengelus dada. Dia pun pasrah ketika digiring keluar rumah duka.

“Waktu itu saya cuma bisa mengucapkan Astagfirullah al azhiem, mau protes, protes sama siapa, sama Adam Malik? Enggak bisa,” kenang Nasution seperti yang tertulis dalam buku Bisikan Nurani Seorang Jenderal.

Pasokan air ledeng ke rumah Nasution pun diputus sehingga ia harus membuat sumur sendiri, selain itu media massa tidak diperbolehkan memuat wawancara dan tulisan Nasution. Bahkan di Mesjid Cut Meutia yang ia bangun, setiap salat Jumat, tentara selalu mengintai dalam posisi siap tembak agar Nasution tak naik mimbar.

Cuma itu? Tidak, Nasution juga tidak diperbolehkan memenuhi undangan keluarga pahlawan revolusi yang hendak mengadakan hajatan, walau rumah mereka tidak seberapa jauh dari rumah Nasution.

Nasution juga amat kesal ketika konsep Dwifungsi ABRI yang ia buat untuk sekadar menyampaikan aspirasi ABRI dalam dunia politik disalahgunakan Soeharto untuk membuat ABRI lebih mendominasi kekuasaan. Selain itu Golkar yang Nasution dirikan dulu untuk membendung pengaruh PKI malah dijadikan mesin pengumpul suara dalam Pemilu oleh Soeharto dengan cara-cara yang tidak demokratis. Akibatnya Nasution bersumpah tidak akan mengikuti pemilu selama Soeharto berkuasa walau halaman rumahnya sempat dijadikan tempat pemungutan suara.

Ketika Nasution sudah renta dan Soeharto merasa Nasution tidak perlu lagi ditakuti, Soeharto merangkulnya kembali dengan memberi gelar Jenderal Besar. Nasution tetap mempergunakan pertemuan dibalik pemberian gelar itu untuk menyampaikan masukannya, tetapi Soeharto buru-buru pergi dengan alasan hendak buang air.

Atas berbagai hal yang menyakitkan yang ditimpakan Soeharto selama 20 tahun kepadanya, Nasution mengaku tidak dendam lagi.

“Saya tidak dendam. Jangankan pada orang yang menyiksa batin saya selama 20 tahun, pada orang yang telah membunuh anak sendiri pun saya tidak dendam, pulang dari Pulau Buru (anggota Cakrabirawa) datang ke rumah minta maaf, ya saya maafkan.”

Sebenarnya kalau Nasution berdiam diri dan menutup mata terhadap berbagai ketidakberesan dalam pemerintahan rezim Soeharto, maka hidupnya akan jauh dari masalah. Tetapi Nasution bukan tipe orang seperti itu, ia menolak bungkam walau tingkahnya berbuah derita panjang, sebuah sikap yang tidak bisa dimiliki sembarang orang.

Sumber : biografi Jendral A.H Nasution
Bisikan Nurani Seorang Jenderal

Diambil dari FB Zulfikar Mahdanie

(Suara-Islam/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Mengenal Ansor NU; Perjuangan Ansor Untuk Bangsa Dari Masa ke Masa

Foto: HWMI.CyberTeam

Kelahiran Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan.

GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan. Karenanya, kisah Laskar Hizbullah, Barisan Kepanduan Ansor, dan Banser (Barisan Serbaguna) sebagai bentuk perjuangan Ansor nyaris melegenda.

Terutama, saat perjuangan fisik melawan penjajahan dan penumpasan G 30 S/PKI, peran Ansor sangat menonjol.

Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) dari situasi konflik internal dan tuntutan kebutuhan alamiah.

Berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh, dan pembinaan kader.

KH Abdul Wahab Hasbullah, tokoh tradisional dan KH Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam.

Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH Abdul Wahab yang kemudian menjadi pendiri NU membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air).

Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Ansoru Nahdlatul Oelama (ANO).

Nama Ansor ini merupakan saran KH. Abdul Wahab, ulama besar sekaligus guru besar kaum muda saat itu, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah.

Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut.

Gerakan ANO (yang kelak disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagi penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam.

Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor).

Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU.

 
Foto: HWMI.CyberTeam

Hubungan ANO dengan NU saat itu masih bersifat hubungan pribadi antar tokoh.

Baru pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain:
1. Ketua H.M. Thohir Bakri;
2. Wakil Ketua Abdullah Oebayd;
3. Sekretaris H. Achmad Barawi dan Abdus Salam.

Dalam perkembangannya secara diam-diam khususnya ANO Cabang Malang, mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut Banoe (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kelak disebut BANSER (Barisan Serbaguna).

Dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937. Di Kongres ini, Banoe menunjukkan kebolehan pertamakalinya dalam baris berbaris dengan mengenakan seragam dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang.

Sedangkan instruktur umum Banoe Malang adalah Mayor TNI Hamid Rusydi, tokoh yang namaya tetap dikenang dan bahkan diabadikan sebagai sama salah satu jalan di kota Malang.

Salah satu keputusan penting Kongres II ANO di Malang tersebut adalah didirikannya Banoe di tiap cabang ANO.

Selain itu, menyempurnakan Anggaran Rumah Tangga ANO terutama yang menyangkut soal Banoe.

Pada masa pendudukan Jepang organisasi-organisasi pemuda diberangus oleh pemerintah kolonial Jepang termasuk ANO.

Setelah revolusi fisik (1945 1949) usai, tokoh ANO Surabaya, Moh. Chusaini Tiway, melempar mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO.

Ide ini mendapat sambutan positif dari KH. Wachid Hasyim, Menteri Agama RIS kala itu, maka pada tanggal 14 Desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor, disingkat Pemuda Ansor (kini lebih pupuler disingkat GP Ansor).

Terimakasih Ansor

(HWMI-CyberTeam/suaraislam/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Jejak-jejak Ahlulbait di Kabuyutan Sunda


Ahlulbait tak bisa dipisahkan dari sejarah Nusantara. Di berbagai penjuru negeri, jejak-jejak Ahlulbait bertebaran dan menyatu dengan darah dan nafas putra-putri pertiwi. Termasuk di Kabuyutan Sunda.

Saat ABI Press bertandang ke Gegerkalong Bandung dan mewawancarai Abah Yusuf Bahtiar, karuhun (sesepuh) Kabuyutan Gegerkalong, dia memaparkan bahwa sosok Ahlulbait dan 14 Manusia Suci tak terpisahkan dengan sejarah Kabuyutan Sunda. Berbagai adat dan tradisi Kabuyutan sangat kental dan tak bisa dipisahkan dari nama Ahlulbait.

“Saat Muludan, kita sebelumnya selalu sholawatan dan bertawassul kepada 14 Manusia Suci,” terang Abah Yusuf. “Dari Nabi Muhammad, Siti Fatimah, Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan, Sayyidina Husen, Ali Zainal Abidin, Muhammad, Ja’far, Musa, Ali, Muhammad, Ali, Hasan Askari, dan Imam Mahdi Ratu Adil Sejati.”

“Kita buat 14 nasi tumpeng. Ke 14 nasi tumpeng yang dijadikan sebagai barokahan itu adalah simbol dari 14 Manusia Suci ini,” tutur Abah Yusuf. “Ini adalah salah satu bagian bagaimana memelihara nilai-nilai karuhun (leluhur). Karena leluhur Kabuyutan itu adalah Nabi Muhammad, Baginda Ali, dan semua keluarga Nabi.”

Tak hanya dalam simbolisasi nasi tumpeng, syair-syair lagu daerah pun menjadi sarana para leluhur Kabuyutan untuk mengungkapkan kecintaannya kepada Baginda Nabi dan keluarganya.

“Dalam Maulid kita juga melantunkan lagu Bubuy Bulan dan Bentang Sulintang. Bubuy Bulan itu lagu yang menggambarkan bagaimana sunnah-sunnah atau tapak lacak petilasan gambaran tentang baginda Nabi itu telah dibubuy, dihilangkan oleh orang-orang tak bertanggungjawab,” tutur Abah Yusuf.

“Begitu pula keluarga Nabi yang mewarisi ilmu-ilmu kenabian itu pun dihilangkan oleh mereka. Sampai ada yang dibunuh, diracun, dan sebagainya. Yang terakhir, Imam Mahdi Satria Piningit Sejati itu pun sampai disembunyikan (Allah Swt) karena juga akan dibunuh.” lanjut Abah Yusuf. “Karena itulah, semua Kabuyutan menunggu datangnya Imam Mahdi.”

“Sementara lagu Bentang Sulintang menceritakan tentang keluarga Nabi yang bagaikan bintang di langit. Menjadi penunjuk arah di kegelapan malam,” tutur Abah Yusuf yang menyebutkan lagu-lagu ini sudah diwariskan turun-temurun sejak zaman Prabu Siliwangi, lebih dari 700 tahun yang lalu.


Mama Muhammad Hasan, Singanya Bandung

Jejak Ahlulbait pun sangat kental pada beladiri silat yang juga menjadi budaya khas warisan karuhun Kabuyutan Sunda. Sebelum belajar silat, para pesilat diharuskan membaca shalawat kepada Nabi dan keluarga Nabi.

Salah satu aksesori khas Kabuyutan juga batu akik Ali, yang dinisbahkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib as. Juga ada batu pualam hijau bertatahkan sosok maung (harimau) yang memiliki rajah huruf Arab berawalan ‘ra’ dan akhiran ‘ain’. “Ra itu artinya Rasulullah, ‘Ain itu artinya Ali. Keduanya itu selalu sejajar dan ketemu. Simbolnya bahwa Sayyidina Ali itu selalu bersama Rasulullah.”

Dalam prosesi Ziarah pun, shalawat dan tawassul kepada Nabi dan 14 Manusia Suci selalu dibaca. Saat ABI Press wawancara, Abah Yusuf dan rombongan Kabuyutan sendiri usai menziarahi leluhur mereka, Mama Muhammad Hasan yang genap 200 tahun disemayamkan.

Menurut penuturan Abah Yusuf, Mama Muhammad Nurhasan adalah leluhurnya karuhun Gegerkalong yang sangat ditakuti oleh penjajah Belanda saat itu karena keperkasaan dan keuletannya melawan Belanda. “Oleh Belanda, Mama Muhammad Hasan sampai diberi stempel Lion in Bandung, singanya Bandung,” ujar Abah Yusuf.

“Beliau juga menulis kitab dalam bahasa Arab Sunda berjudul ‘Muslimin Muslimat’ yang oleh beliau kalau mau mengkaji kitab ini selalu diperintahkan untuk mencari guru mursyid yang sejati. Beliau sebutkan 14 Manusia Suci lebih awal, baru kepada bapaknya beliau, kakek beliau, dan seterusnya,” tutur Abah Yusuf. Banyaknya jejak-jejak Ahlulbait di bumi Nusantara makin menunjukkan bahwa Ahlulbait tak bisa dipisahkan dari sejarah Nusantara, dan dari sejarah Islam di Indonesia.

(ABI-Press/Islamic-Sources/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Islam Di Mekah


Oleh: Levi Yamani

Saya akan menjelaskan mengenai kejadian yang penting yang terjadi pada masa Islam awal yang ada di Mekkah. Kita dapat mengetahui bahwa Rasulullah saw sangat lama berada di Mekkah dalam riwayat Rasulullah saw berada di mekkah selama 13 tahun. Maka dari itu mari kita lihat bagaimanakah kehidupan dan Islam pada zaman Rasulullah saw di mekkah.

Seperti sejarah tertulis yang menjelaskan kondisi Mekkah sejak awal merupakan tempat perdagangan yang sangat pesat dengan ciri umum penduduk Mekkah dan kebiasaannya berdagang ke luar Mekkah. Ini semua menjadi bekal bagi kita untuk memahami konteks sosio-religius pada dakwah islam fase Mekkah.

Mengingat pentingnya sebuah suku dalam komunitas Mekkah, maka Nabi diperintahkan untuk mula-mula menyebarkan Islam di kalangan kerabatnya1 -seperti besarnya pengaruh suku Quraisy di kalangan penduduk Mekkah yang karenanya bisa dibayangkan betapa terpukulnya Muhammad SAW ketika ia mengumpulkan keluarganya dalam suatu jamuan santai dan mengajak mereka ke jalan Allah, namun ternyata keluarganya menolak dan hanya Ali bin Abi Thalib yang berani dan mau menjadi pembantunya. Puluhan orang yang hadir mentertawakan Muhammad dan Ali. Tidak seorangpun menyadari bahwa beberapa di antara para undangan ini akan ditebas oleh Ali di medan Badr, empat belas tahun kemudian, sebagai bukti kesungguhan Ali.

Besarnya pengaruh suku Quraisy di Mekkah jugalah yang salah satunya bisa membuat Hamzah memeluk Islam, yakni ketika Abu Jahl dari bani Hanzhalah mencaci dan mengejek Muhammad, lalu orang-orang melapor pada Hamzah dan serta merta Hamzah-lah yang menghajar kepala Abu Jahl dengan busur panahnya. Insiden ini akan berbuntut panjang kalau saja spirit suku saat itu tidak segera padam.

Ketika Abu Thalib masih hidup, bani Hasyim memberikan perlindungan pada Muhammad dan tidak ada yang berani membunuh Muhammad karena Baninya akan membalas nantinya.2

Ketika Islam hadir di Mekkah dapatlah kita baca dalam beberapa literatur bahwa pada fase Mekkah bercirikan ajaran Tauhid. Tetapi sesungguhnya bukan hanya persoalan teologis semata, juga seruan Islam akan keadilan sosial, perhatian pada nasib anak yatim, fakir miskin dan pembebasan budak serta ajaran Islam akan persamaan derajat manusia, yang menimbulkan penolakan keras penduduk Mekkah pada Muhammad. Bagi mereka, agama ini tidak hanya “merusak” ideologi dan teologi mereka, tetapi juga “merombak” kehidupan sosial mereka.

Contoh menarik, misalnya, dalam al-Qur’an dijelaskan tentang kata “Karim” dalam masyarakat jahiliyyah merupakan bagian penting kode etik muru`ah –cita-cita moral tertinggi masyarakat Arab jahiliyah yang mencakup antara lain, kejujuran, keberanian, kesetiaan dan kedermawanan serta keramah-tamahan. Keberanian dan kedigjayaan terutama ditunjukkan pada saat pertempuran dan penyamunan. Loyalitas terfokus pada ikatan-ikatan kesukuan dan perjanjian. Kedermawanan dan keramah-tamahan terutama ditunjukkan dalam menjamu tamu, dan seringkali dengan maksud meninggikan status seseorang di hadapan tetamunya.3

Konsep “karim” di atas mengalami perubahan makna yang drastis ketika al-Qur’an dengan tegas mengatakan bahwa manusia yang paling mulya (akram) dalam pandangan Allah ialah yang paling bertakwa kepadaNya. Bagi yang tidak mengetahui konteks di atas, pernyataan al-Qur’an itu akan terdengar biasa saja. Tapi bagi orang-orang pada masa Muhammad, pernyataan di atas betul-betul radikal. Jika konteks Arab jahiliyyah berikut kedudukan kata karim dalam pandangan-dunia mereka dipahami, maka yang terjadi adalah revolusi cita-moral Arab. Bukan orang yang berharta banyak, menang dalam pertempuran dan seorang bangsawan yang disebut karim, tapi mereka yang bertakwa. Implikasinya, budak hitam legam pun dapat dipandang karim. Radikalisasi makna pandangan-dunia (weltanschaung) Arab jahiliyyah yang dilakukan Islam seperti inilah yang sedikit banyak menggoncang penduduk Mekkah.

Dapatlah diambil kesimpulan secara tentatif bahwa masyarakat Islam pada kurun Mekkah belum lagi tercipta sebagai sebuah komunitas yang mandiri dan bebas dari urusan Bani. Negara Islam juga belum terbentuk pada dakwah islam fase Mekkah. Ajaran Islam pada fase Mekkah bercirikan tauhid dan dalam titik tertentu terjadi radikalisasi makna dalam pandangan Arab jahiliyyah yang berimplikasi mengguncang tataran sosio-religius penduduk Mekkah.

Jika kita melihat sistem dan Perjalanan Rasulullah saw di mekkah maka kita akan mendapati setiap ayat yang turun di mekkah adalah berupa ajakan Allah swt kepada manusia untuk menuju pada tauhid. Rasulullah saw banyak mendapat penolakan dari masyarakat bangsa arab bahkan dari keluarganya sekalipun yang merupakan pada zaman itu sebagai pembesar-pembesar Quraisy, Abu Lahab paman Rasul saw menjadi penentang no.1 datangnya Islam di bumi Mekkah tersebut karena menurut Abu Lahab aturan hidup Islam yang menuju kepada tauhid dapat menghilangakn citra besar bangsa arab pada zaman itu dan akan menghilangkan sistem yang mereka gunakan cukup lama tersebut dengan mengklaim bahwa sistem tersevut adalah sistem yang diajarkan oleh nabi Ibrahim as padahal nabi Ibrahim as adalah penentang berhala pertama kali, tidak lagi sesuai keadaan bangsa arab dengan ajaran nabi Ibrahim as. Maka Islam datang ingin mengembalikan ajaran yang murni dari nabi ibrahim as.

(Levi-Yamani/Islamic-Sources/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Sejarah Dibangunnya Masjid Jin di Mekah


Masjid Jin adalah sebuah masjid yang terletak di Kampung Ma’la, tidak jauh dari pekuburan Kota Makkah. Penamaan masjid tersebut dengan Masjid Jin terkait erat dengan suatu peristiwa yang sangat langka dan penting yang berkaitan dengan bangsa jin dan dakwah Islam.

Peristiwa yang dimaksud adalah masuk Islamnya serombongan jin di masjid tersebut setelah mendengar dan menghayati lantunan ayat-ayat suci Alquran yang dibacakan oleh Nabi Muhammad SAW.

Pada kesempatan itu, para jin berbaiat (berjanji setia) untuk beriman kepada Allah SWT, mengikuti ajaran Islam, dan menyebarkan agama Allah di kalangan mereka. Oleh sebab itu, masjid ini dikenal juga dengan nama Masjid Al-Bai’ah, yakni masjid tempat serombongan jin melakukan baiat.

Peristiwa besar ini diungkapkan oleh Allah SWT dalam Alquran surat Al-Ahqaf ayat 29-32: “Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Alquran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata, “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)!”

“Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Alquran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.”

“Hai kaum kami terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.”

Dalam suatu riwayat yang dimuat Imam Bukhari dan Imam Tirmidzi yang berasal dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa peristiwa pertemuan antara Rasulullah SAW dan serombongan jin itu terjadi ketika Rasulullah SAW dan serombongan sahabat sedang dalam perjalanan menuju pasar Ukkadz.

Ketika sampai di daerah Tihamah, Rasulullah SAW dan rombongannya berhenti untuk melaksanakan Shalat Fajar. Rupanya, shalat Fajar yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat tersebut mengakibatkan terhalangnya berita-berita langit yang biasa dicuri dengar oleh para syetan (jin yang kafir). Bahkan, syetan-syetan (jin-jin kafir) yang sedang mencoba mencuri berita tersebut mendapat lemparan bintang- bintang sehingga terpaksa pulang ke tempat kaumnya.

Sesampai di tempat kaumnya, syetan-syetan (jin-jin kafir) tersebut ditanya oleh kaumnya, “Apa yang menyebabkan kalian terhalang mendapat berita langit?”

Mereka menjawab, “Kami terhalang mendapatkan berita langit, bahkan kami dikejar oleh bintang-bintang.”

Kaum syetan menjawab, “Tidak mungkin ada halangan antara kita dengan berita langit. Pasti ini ada sebabnya!”

Pimpinan mereka memerintahkan, “Menyebarlah kalian ke barat dan ke timur. Carilah penghalang tersebut!”

Lalu syetan-syetan (jin-jin) tersebut menyebar ke seluruh pelosok jagad mencari penyebab terhalangnya berita langit tersebut. Sebagian di antara mereka sampai ke daerah Tihamah tempat Rasulullah SAW dan para sahabat berhenti. Ketika itu Rasulullah SAW tengah melakukan shalat Subuh.

Para jin tersebut mendengar dan memerhatikan dengan seksama bacaan Rasulullah SAW. Kemudian mereka berkata, “Demi Allah, pasti inilah yang menyebabkan kita terhalang dari berita langit.”

Mereka sangat kagum terhadap ayat-ayat Alquran yang mereka dengar. Mereka mengimaninya. Mereka lalu pulang ke kaumnya dan menyampaikan kejadian yang mereka alami. Kaum mereka pun menerima dan mengimani ajaran yang dibawa tersebut.

Peristiwa ini pula yang melatarbelakangi turunnya Alquran surat Al-Jin ayat 1. Ayat ini menginfomasikan kepada Nabi Muhammad SAW tentang peristiwa alam gaib yang terjadi di sekeliling Rasulullah SAW dan para sahabat ketika itu. Rasulullah SAW kemudian menyampaikan pemberitahuan Allah SWT tersebut kepada para sahabat dan umat Islam.

Dalam surat Al-Jin, Allah SWT memberikan informasi, “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Alquran), lalu mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Alquran yang menakjubkan, yang memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman ke padanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.”

Sejarah Masjid Jin di MakkahKata jin secara kebahasaan mengandung makna ketertutupan atau ketersembunyian. Para pakar memberikan bermacam-macam definisi tentang jin. Muhammad Farid Wajdi menyatakan jin adalah makhluk yang terbuat dari hawa atau api, berakal, tersembunyi, dapat membentuk diri dengan berbagai bentuk, dan mempunyai kemampuan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan berat.

Sayyid Sabiq mendefinisikan jin dengan sejenis ruh yang berakal, berkehendak, mukallaf (dibebani tugas-tugas oleh Allah) sebagaimana manusia, tetapi mereka tidak berbentuk materi sebagaimana bentuk materi yang dimiliki manusia, yakni luput dari jangkauan indra atau tidak dapat terlihat sebagaimana keadaannya yang sebenarnya atau bentuknya yang sesungguhnya dan mereka mempunyai kemampuan untuk tampil dalam berbagai bentuk.

Dalam Alquran ditemukan paling tidak lima kata yang digunakan untuk menunjuk makhluk jin, yaitu jin, jan, jinnat, iblis, dan syaithan. Kata iblis dimasukkan ke dalam kata-kata yang menunjukkan jin karena pada hakikatnya iblis tergolong jenis jin.

Kata syaithan termasuk juga yang menunjuk kepada makna jin karena syaitan itu terdiri dari jin dan manusia. Sedangkan kata khannas merupakan salah satu macam syaitan yang juga terdiri dari manusia dan jin.

Jin tercipta dari bahan dasar berupa api, berkembang biak, dan membutuhkan makanan untuk kelangsungan hidupnya. Jin diciptakan oleh Allah berpasangan. Ada jin laki-laki atau jantan dan ada pula jin perempuan atau betina. Jin mempunyai keinginan dan kemampuan untuk melakukan hubungan seksual.

Oleh sebab itu, jin juga dapat melahirkan keturunan dan selanjutnya membentuk kelompok atau masyarakat jin. Jin mempunyai beberapa kemampuan yang di antaranya melebihi kemampuan yang dimiliki manusia. Misalnya, jin dapat menjelajahi ruang angkasa dan menyadap berita-berita langit.

Jin juga mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan berat. Di antara tentara dan pekerja Nabi Sulaiman, terdapat golongan jin dan syaitan yang bertugas melakukan beberapa jenis pekerjaan berat, seperti mendirikan bangunan, patung-patung, piring-piring besar, dan menyelami lautan.

Pada dasarnya, jin tidak dapat dilihat oleh mata manusia. Hal ini didasarkan kepada firman Allah dalam surat Al-A’raf: 27, “… sesungguhnya ia (syaitan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka…”

Para ulama memandang ayat ini sebagai dalil yang sangat kuat tentang tidak mungkinnya manusia melihat jin. Imam Syafi’i bahkan berkata, “Barangsiapa yang mengaku melihat jin, maka ditolak kesaksiannya, kecuali Nabi.”

Rasyid Ridha juga menegaskan, “Barangsiapa yang mengaku melihat jin, maka itu hanya ilusi atau ia melihat binatang aneh yang diduganya jin.”

Ketidakmampuan manusia melihat jin dan kemampuan jin melihat manusia adalah karena berbedanya unsur kejadian manusia dan jin. Manusia adalah makhluk kasar, sedangkan jin adalah makhluk halus. Sesuatu yang halus dapat melihat yang kasar, tidak sebaliknya.

Sementara itu ada pula ulama yang menyatakan kemungkinan jin dapat dilihat oleh manusia. Allah dapat saja memberikan kemampuan istimewa kepada orang tertentu, sehingga mampu melihat makhluk halus.

Firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 27 di atas tidak menafikan kemampuan melihat jin secara mutlak. Ayat itu hanya mengatakan bahwa manusia tidak dapat melihat jin pada suatu tempat, atau suatu keadaan, atau suatu waktu ketika jin melihat manusia. Namun, selain itu tidak tertutup kemungkinan manusia dapat melihat jin.

Ulama lain berpendapat bahwa jin hanya dapat dilihat oleh para nabi atau hanya pada masa kenabian. Ketika itu, Allah mengubah mereka menjadi makhluk kasar. Sekarang tidak bisa lagi.

Kedua pendapat yang terakhir menurut Quraish Shihab terkesan seperti dibuat-buat. Pendapat lain yang agaknya bisa diterima adalah bahwa jin dapat dilihat manusia jika jin berubah mengambil bentuk makhluk yang dapat dilihat manusia. Hal ini tidak terbatas bagi orang atau waktu tertentu, tetapi bisa terjadi pada siapa pun dan kapan- pun jika kondisi memungkinkan.

Dalam hal pembebanan tanggungjawab melaksanakan ajaran-ajaran agama, terdapat kesamaan antara manusia dan jin. Manusia dan jin sama-sama dibebani oleh Allah SWT dengan seperangkat perintah dan larangan yang terangkum dalam ajaran agama yang disampaikan oleh para rasul-Nya.

Allah berfirman dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Pada surat Al-An’am ayat 130 Allah berfirman, “Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepada terhadap pertemuanmu dengan hari ini?”

Dalam menerima dan menjalankan ajaran agama tersebut, sebagaimana manusia, kalangan jin berbeda-beda sikap. Ada yang beriman, ada pula yang kafir. Ada yang taat, ada pula yang ingkar. Dalam surat Al-Jin ayat 11,13, dan 14 terdapat informasi dari kalangan jin sendiri tentang keadaan jin yang demikian.

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian. Kami menempuh jalan yang berbeda-beda. Dan sesung-guhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka jahannam.”

Bangsa jin sebagaimana yang dijelaskan di ataslah yang bertemu dengan Rasulullah SAW di kampung Ma’la di dekat daerah Tihamah. Untuk mengabadikan peristiwa unik dan penting tersebut, dibangun sebuah masjid berukuran sedang yang dikenal dengan nama Masjid Jin.

(Fiqih-Islam/Islamic-Sources/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Dakwah Islam di Cina


Cina adalah negara terbesar ketiga yang mempunyai penduduk terpadat. Di negara yang menggunakan mandari sebagai bahasa nasionalnya menganggap bahwa agama tidaklah penting. Karena mereka menganggap bahwa agama hanyalah seuatu yang kuno dan agama hanya di pakai pada masyarakat yang tidak mampu menjalani tantangan hidup.

Di negeri tak mengenal Tuhan, Islam hidup dan berkembang. Bahkan banyak sumbangan Islam telah diwariskan. Diantaranya sistem kalender, ilmu matematika dan kedokteran Hidayatullah.com–Ismail adalah mengagum berat Usamah bin Ladin, tokoh yang paling ditakuti Amerika Serikat. “Ia adalah seorang pahlawan,” ujarnya Ismail memuji Usamah. “Ia adalah Muslim yang baik”, ujarnya sebagaimana dikutip Reuters.

Barangkali komentar seperti ini akan menjadi sesuatu yang tak asing bila diucapkan warga Muslim Iraq atau Saudi. Tapi ini dari mulut seorang warganegara Cina, suatu negeri yang secara resmi berprinsip tak bertuhan dan sangat keras mengendalikan agama.

Cina merupakan negara yang mempunyai penduduk paling besar di dunia, dengan jumlah populasi lebih dari 1.3 milyar. Sekalipun ia seringkali dilihat sebagai negara Komunis, ia juga dikenal sebagai negeri yang ‘tak bertuhan’.

Sebuah LSM Freedom House’s Center for Religious Freedom dan Open Doors memposisikan Cina di tempat ke-10 dalam daftar negara penganiaya agama di dunia.


B. Rumusan Masalah

Dari pemaparan diatas, sangatlah sulit suatu agama masuk ke Negara tersebut. Dari situlah dapat disimpulkan sebuah rumusan masalah sebagai berikut:
1. Kapan dan siapakah pembawa Islam ke Cina?
2. Bagaimana Islam berpengaruh pada kebudayaan di Cina?


Dakwah Islam di Cina

Dakwah mempunyai pengertian mengubah sesuatu yang kurang baik menjadi baik, yang negatif menjadi positif, yang kafir menjadi iman, yang musyrik menjadi bertauhid, dan yang lemah menjadi kuat iman.
Negara Cina dikenal sebagai negara tak bertuhan. Oleh karenanya orang islam wajib berdakwah untuk meluruskan jalan yang telah menyimpang itu (sesuai dengan pengertian dakwah diatas).


A. Masuknya Islam di Cina

Islam telah tersebar di Cina selama lebih 1300 tahun. Kini terdapat lebih dari 20 juta warga Muslim di negeri itu. Mereka tersebar 10 suku, termasuk etnik Huizu, Uygur, Kazakh, Kirgiz, Tajik, Uzbek, Tatar dan lain-lainnya.

Penduduk Islam tinggal di merata tempat di seluruh Cina, terutama di bagian barat laut Cina, termasuk provinsi Gansu, Qinghai, Shanxi, wilayah otonomi Xinjiang dan wilayah otonomi Ningxia.

Menurut Lui Tschih, seorang penulis Muslim Cina pada abad ke 18 di dalam karyanya “Chee Chea Sheehuzoo” (perihal kehidupan Nabi), utusan itu diketuai oleh Panglima Besar Saad bin Abi Waqqas (seorang sahabat Nabi).

Kota Guangzhou di Cina ternyata menyimpan sejarah kebesaran Islam. Di kota yang disebut Khanfu oleh orang Arab ini, Islam pertama kali datang dan berkembang. Kota ini menjadi pusat pengembangan Islam di Cina karena keberadaan pelabuhan laut internasionalnya.

Menurut catatan resmi dari Dinasti Tang yang berkuasa pada 618-905 M dan berdasarkan catatan serupa dalam buku A Brief Study of the Introduction of Islam to China karya Chen Yuen, Islam pertama kali datang ke Cina sekitar tahun 30 H atau 651 M.

Khalifah Usman memerintah imperium Muslim selama kira-kira 12 tahun. Selama kekhalifaannya , imperium Arab meluas di Asia dan Afrika.

Disebutkan bahwa Islam masuk ke Cina melalui utusan yang dikirim oleh Khalifah Ustman bin Affan, yang memerintah selama 12 tahun atau pada periode 23-35 H / 644-656 M. Sementara menurut catatan Lui Tschih, penulis Muslim Cina pada abad ke 18 dalam karyanya Chee Chea Sheehuzoo (Perihal Kehidupan Nabi), Islam dibawa ke Cina oleh rombongan yang dipimpin Saad bin Abi Waqqas.

Sebagian catatan lagi menyebutkan, Islam pertama kali datang ke Cina dibawa oleh panglima besar Islam, Saad bin Abi Waqqas, bersama sahabat lainnya pada tahun 616 M. Catatan tersebut menyebutkan bahwa Saad bin Abi Waqqas dan tiga sahabat lainnya datang ke Cina dari Abyssinia atau yang sekarang dikenal dengan Etiopia.

Setelah kunjungan pertamanya. Saad kemudian kembali ke Arab. Ia kembali lagi ke Cina 21 tahun kemudian atau pada masa pemerintahan Usman bin Affan, dan datang dengan membawa salinan Alquran. Usman pada masa kekhalifahannya memang menyalin Alquran dan menyebarkan ke berbagai tempat, demi menjaga kemurnian kitab suci ini.

Pada kedatangannya yang kedua di tahun 650, Saad bin Abi Waqqas kembali ke Cina dengan berlayar melalui Samudera Hindia ke Laut Cina menuju pelabuhan laut di Guangzhou. Kemudian ia berlayar ke Chang’an atau kini dikenal dnegan nama Xi’an melalui rute yang kemudian dikenal sebagai Jalur Sutera.
Bersama para sahabat, Saad datang dengan membawa hadiah dan diterima dengan hangat oleh kaisar Dinasti Tang, Kao-Tsung (650-683). Namun Islam sebagai agama tidak langsung diterima oleh sang kaisar. Setelah melalui proses penyelidikan, sang kaisar kemudian memberikan izin bagi pengembangan Islam yang dirasanya cocok dengan ajaran Konfusius.

Namun sang kaisar merasa bahwa kewajiban sholat lima kali sehari dan puasa sebulan penuh terlalu keras baginya hingga akhirnya ia tidak jadi memeluk Islam. Meski demikian, ia mengizinkan Saad bin ABi Waqqas dan para sahabat untuk mengajarkan Islam kepada masyarakat di Guangzhou. Oleh orang Cina, Islam disebut sebagai Yisilan Jiao atau agama yang murni. Sementara Makkah disebut sebagai tempat kelahiran Buddha Ma-hia-wu (atau Rasulullah Muhammad SAW).

Saad bin Abi Waqqas kemudian menetap di Guangzhou dan ia mendirikan Masjid Huaisheng yang menjadi salah satu tonggak sejarah Islam paling berharga di Cina. Masjid ini menjadi masjid tertua yang ada di daratan Cina dan usianya sudah melebihi 1300 tahun. Masjid ini terus bertahan melewati berbagai momen sejarah Cina dan saat ini masih berdiri tegak dan masih seindah dahulu setelah diperbaiki dan direstorasi.

Masjid Huaisheng ini kemudian dijadikan Masjid Raya Guangzhou Remember the Sage, atau masjid untuk mengenang Nabi Muhammad SAW. Masjid ini juga dikenal dengan nama Masjid Guangta, karena masjid dengan menara elok ini yang letaknya di jalan Guangta.

Sebagian percaya bahwa Saad bin Abi Waqqas menghabiskan sisa hidupnya dan meninggal di Guangzhou, Cina. Sebuah pusara diyakini sebagai makamnya.

Namun sebagian lagi menyatakan bahwa Saad meninggal di Madinah dan dimakamkan di makam para sahabat. Meski tidak diketahui secara pasti dimana Saad bin Abi Waqqas meninggal dan dimakamkan dimana, namun dipastikan ia memiliki peranan penting terhadap perkembangan Islam di Cina.

Sebagian meyakini Abi Waqqas meninggal di Guangzhou, Cina. Sebuah pusara diyakini sebagai makamnya. Namun sebagian menyatakan beliau meninggal di Madinah dan dimakamkan di makam para sahabat


B. Islam di Cina Pasca Saad din Abi Waqqas

Setelah masa itu , Islam berkembang dengan pesat di Cina dibanding daerah-daerah lain di luar kawasan Arab. Di negara ini, Islam berkembang melalui perdagangan. Itu sebabnya, Islam berkembang di daerah sekitar pelabuhan dan bandar-bandar besar di berbagai negara.

Selain Guangzhou, salah satu daerah yang menjadi pusat perkembangan Islam adalah Quanzhou. Kota yang menjadi titik awal jalur sutera ini juga menjadi bukti nyata keindahan toleransi antar umat beragam. Di kota ini, pemeluk Islam, Hindu, Budha, Manichaeisme, Taoisme, Nestoriaisme, dan berbagai kepercayaan lain di kota ini hidup damai dan berdampingan.

Quanzhou juga ramai dikunjungi peziarah Muslim dari Arab karena keberadaan makam suci dua orang yang dipercaya merupakan sahabat Rasulullah. Dalam bahasa Cina, sahabat ini bernama Sa-ke-zu dan Wu-ko-su. Selain makam, di Quanzhou juga terdapat salah satu masjid pertama yang ada di Cina, yaitu Masjid Qingjing. Masjid ini dibangun tahun 1009, dan desain masjid ini dibuat berdasar desain masjid di Damaskus, Suriah.

Di kota ini juga terdapat sekitar 10 ribu makam orang Arab dengan nama keluarga Guo di Pulau Baiqi, Quanzhou. Makam-makam ini ditulisi dengan huruf Cina dan Arab. Makam ini jelas makam orang Islam, dan banyak di antaranya yang ditulisi dengan kata Fanke Mu yang artinya adalah makam orang asing. Ini menjadi bukti banyaknya umat Islam dari luar Cina yang menetap di kota ini.

Sayangnya kini kejayaan sejarah kota ini hilang begitu saja. Di suatu masa, Quanzhou menjadi kota yang dipenuhi oleh masjid, kuil, dan biara. Namun kini semua itu hilang, dan yang tersisa hanyalah dinding yang nyaris roboh.


C. Pengaruh Islam terhadap kebudayaan Cina

Terlepas itu, kebudayaan Islam mempunyai kedudukan yang penting dalam kebudayaan Cina. Islam pernah memberi sumbangan besar terhadap perkembangan sains dan teknologi negeri itu. Diantaranya adalah kalender yang diciptakan oleh umat Islam dan pernah digunakan di Cina dalam waktu yang panjang.

Selain itu ada alat pandu arah angkasa yang dicipta oleh seorang ahli ilmu falak yang bernama Zamaruddin pada Dinasti Yuan sangat popular di Cina. Ilmu matematika yang dikembangkan dari Arab telah diterima oleh orang Cina. Ilmu perobatan Arab juga menjadi sebagian ilmu perobatan Cina. Umat Islam juga terkenal dengan pembuatan meriam di Cina, Dinasti Yuan menggunakan sejenis meriam yang dikenali sebagai meriam etnik Huizu yang dicipta oleh orang Islam Cina. Yang jelas, Islam tidak bisa dipisahkan begitu saja di negeri itu. [cha, berbagai sumber)

Berdasarkan hasil penelitiannya, para ilmuan barat seperti W. Montgomery Watt, Marshall G.S Hodgson, dan John Obert Voll, menyimpulkan bahwa rahasia dibalikdaya hidup umat islamdan kegigihan mereka dalam mengambil peran-peran sosial tersebut disebabkan oleh kesadaran terhadap misi ketujhanan.

Kesadaran ketuhanan itu pada gilirannya membentuk sikap hidup umat islam untuk senantiasa bersikap positif, aktif dan kreatif terhadap dunia dan permasalahan manusia.

Cina adalah sebuah negara yang tidak percaya akan adanya Tuhan. Oleh karena itu didutuhkan seorang da’i untuk berdakwah di negara tersebut.

Menurut catatan resmi dari Dinasti Tang, (618-905M), dan catatan serupa dalam buku A Brief Study of the Introduction of Islam to China karya Chen Yuen, bahwa Islam mulai datang ke negeri itu sekitar tahun 30H atau 651M (kurun ke 7 Masehi) melalui melalui satu utusan yang dikirim oleh Khalifah Usman bin Affan (memerintah kira-kira 12 tahun (23-35H/644-656M).

Saad kemudian menetap di Guangzhou dan ia mendirikan Masjid Huaisheng yang menjadi salah satu tonggak sejarah Islam paling berharga di Cina. Masjid ini, kini menjadi masjid tertua yang ada di daratan Cina dan usianya sudah melebihi 1300 tahun.

Penduduk Islam tinggal di merata tempat di seluruh Cina, terutama di bagian barat laut Cina, termasuk provinsi Gansu, Qinghai, Shanxi, wilayah otonomi Xinjiang dan wilayah otonomi Ningxia.

Dakwah Saad bin Abi Waqqas di Cina dapat dibilang berhasil hal ini dapat dibuktikan dengan peradaban dan kebudayaan Islam yang diterima dan sangat berpengaruh terhadap kebudayaan Cina.


DAFTAR PUSTAKA

Darajat Zakiah, dkk,Perbandingan Agama, (Jakarta:Bumi Aksara,1984)
Mahmudunnasir Syed, Islam Konsepsi dan Sejarah, (Bandung:Rosdakarya,2005)
Nurhakim Moh, Sejarah dan Peradaban Islam, (Malang:UMM,2004)
www.google.com, 28 Sep 2006, www.hidayatullah com
www.google.com, Jumat, 17 Februari 2006, www.republika.co.id

(Islamic-Source/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Sejarah Awal Agama Islam Masuk Ke Tanah Jawa


Sejarah Awal Agama Islam Masuk Ke Tanah Jawa – Sebelum Islam masuk ke tanah Jawa, mayoritas masyasarakat jawa menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Selain menganut kepercayaan tersebut masyarakat Jawa juga dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya Hindu dan Budha dari India. Seiring dengan waktu berjalan tidak lama kemuadian Islam masuk ke Jawa melewati Gujarat dan Persi dan ada yang berpendapat langsung dibawa oleh orang Arab.

Sejarah Awal Agama Islam Masuk Ke Tanah JawaKedatangan Islam di Jawa dibuktikan dengan ditemukannya batu nisan kubur bernama Fatimah binti Maimun serta makam Maulana Malik Ibrahim. Saluran-saluran Islamisasi yang berkembang ada enam yaitu: perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, kesenian, dan politik. Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Bagaimanakah proses Islam masuk ke tanah Jawa?, Bagaimana masyarakat Jawa sebelum Islam datang?, Bagaimana peran Wali Songo dan metode pendekatannya?, Dan bagaimana Islam di Jawa paska Wali Songo? Dengan tujuan untuk mengetahui keadaan masyarakat Jawa sebelum Islam datang, peran Wali Songo di tanah Jawa dan metode pendekatannya, serta keadaan Islam di Jawa paska Wali Songo.


Islam Masuk Ke Tanah Jawa

Di Jawa, Islam masuk melalui pesisir utara Pulau Jawa ditandai dengan ditemukannya makam Fatimah binti Maimun bin Hibatullah yang wafat pada tahun 475 Hijriah atau 1082 Masehi di Desa Leran, Kecamatan Manyar, Gresik. Dilihat dari namanya, diperkirakan Fatimah adalah keturunan Hibatullah, salah satu dinasti di Persia. Di samping itu, di Gresik juga ditemukan makam Maulana Malik Ibrahim dari Kasyan (satu tempat di Persia) yang meninggal pada tahun 822 H atau 1419 M. Agak ke pedalaman, di Mojokerto juga ditemukan ratusan kubur Islam kuno. Makam tertua berangka tahun 1374 M. Diperkirakan makam-makam ini ialah makam keluarga istana Majapahit.

1. Masyarakat Jawa Sebelum Islam Datang

a. Jawa Pra Hindu-Budha
Situasi kehidupan “religius” masyarakat di Tanah Jawa sebelum datangnya Islam sangatlah heterogen. Kepercayaan import maupun kepercayaan yang asli telah dianut oleh orang Jawa. Sebelum Hindu dan Budha, masyarakat Jawa prasejarah telah memeluk keyakinan yang bercorak animisme dan dinamisme. Pandangan hidup orang Jawa adalah mengarah pada pembentukan kesatuan numinous antara alam nyata, masyarakat, dan alam adikodrati yang dianggap keramat.

Di samping itu, mereka meyakini kekuatan magis keris, tombak, dan senjata lainnya. Benda-benda yang dianggap keramat dan memiliki kekuatan magis ini selanjutnya dipuja, dihormati, dan mendapat perlakuan istimewa.

b. Jawa Masa Hindu-Budha
Pengaruh Hindu-Budha dalam masyarakat Jawa bersifat ekspansif, sedangkan budaya Jawa yang menerima pengaruh dan menyerap unsur-unsur Hinduisme-Budhisme setelah melalui proses akulturasi tidak saja berpengaruh pada sistem budaya, tetapi juga berpengaruh terhadap sistem agama.

Sejak awal, budaya Jawa yang dihasilkan pada masa Hindu-Budha bersifat terbuka untuk menerima agama apapun dengan pemahaman bahwa semua agama itu baik, maka sangatlah wajar jika kebudayaan Jawa bersifat sinkretis (bersifat momot atau serba memuat).

Ciri lain dari budaya Jawa pada saat itu adalah sangat bersifat teokratis. Pengkultusan terhadap raja-raja sebagai titisan dewa adalah salah satu buktinya. Dalam hal ini Onghokham menyatakan:

Dalam kerajaan tradisional, agama dijadikan sebagai bentuk legitimasi. Pada jaman Hindu-Budha diperkenalkan konsep dewa-raja atau raja titising dewa. Ini berarti bahwa rakyat harus tunduk pada kedudukan raja untuk mencapai keselamatan dunia akhirat. Agama diintegrasikan ke dalam kepentingan kerajaan/kekuasaan. Kebudayaan berkisar pada raja, tahta dan keraton. Raja dan kehidupan keraton adalah puncak peradaban pada masa itu.

Di pulau Jawa terdapat tiga buah kerajaan masa Hindu Budha, kerajaan-kerajaan itu adalah Taruma, Ho-Ling, dan Kanjuruhan. Di dalam perekonomian dan industri salah satu aktivitas masyarakat adalah bertani dan berdagang dalam proses integrasi bangsa. Dari aspek lain karya seni dan satra juga telah berkembang pesat antara lain seni musik, seni tari, wayang, lawak, dan tari topeng. Semua itu sebagian besar terdokumentasikan pada pahatan-pahatan relief dan candi-candi.


2. Peranan Wali Songo dan Metode Pendekatannya

Era Wali Songo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Wali Songo adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di Jawa peranan Wali Songo sangat besar dalam mendirikan kerajaan Islam di Jawa.

Di Pulau Jawa, penyebaran agama Islam dilakukan oleh Walisongo (9 wali). Wali ialah orang yang sudah mencapai tingkatan tertentu dalam mendekatkan diri kepada Allah. Para wali ini dekat dengan kalangan istana. Merekalah orang yang memberikan pengesahan atas sah tidaknya seseorang naik tahta. Mereka juga adalah penasihat sultan.

Karena dekat dengan kalangan istana, mereka kemudian diberi gelar sunan atau susuhunan (yang dijunjung tinggi). Kesembilan wali tersebut adalah sebagai berikut:

Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim). Inilah wali yang pertama datang ke Jawa pada abad ke-13 dan menyiarkan Islam di sekitar Gresik. Dimakamkan di Gresik, Jawa Timur.
Sunan Ampel (Raden Rahmat). Menyiarkan Islam di Ampel, Surabaya, Jawa Timur. Beliau merupakan perancang pembangunan Masjid Demak.
Sunan Drajad (Syarifudin). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan agama di sekitar Surabaya. Seorang sunan yang sangat berjiwa sosial.
Sunan Bonang (Makdum Ibrahim). Anak dari Sunan Ampel. Menyiarkan Islam di Tuban, Lasem, dan Rembang. Sunan yang sangat bijaksana.
Sunan Kalijaga (Raden Mas Said/Jaka Said). Murid Sunan Bonang. Menyiarkan Islam di Jawa Tengah. Seorang pemimpin, pujangga, dan filosof. Menyiarkan agama dengan cara menyesuaikan dengan lingkungan setempat.
Sunan Giri (Raden Paku). Menyiarkan Islam di Jawa dan luar Jawa, yaitu Madura, Bawean, Nusa Tenggara, dan Maluku. Menyiarkan agama dengan metode bermain.
Sunan Kudus (Jafar Sodiq). Menyiarkan Islam di Kudus, Jawa Tengah. Seorang ahli seni bangunan. Hasilnya ialah Masjid dan Menara Kudus.
Sunan Muria (Raden Umar Said). Menyiarkan Islam di lereng Gunung Muria, terletak antara Jepara dan Kudus, Jawa Tengah. Sangat dekat dengan rakyat jelata.
Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah). Menyiarkan Islam di Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon. Seorang pemimpin berjiwa besar.

Salah satu cara penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh para Wali tersebut ialah dengan cara mendakwah. Penyebaran Islam melalui dakwah ini berjalan dengan cara para ulama mendatangi masyarakat (sebagai objek dakwah), dengan menggunakan pendekatan sosial budaya. Pola ini memakai bentuk akulturasi, yaitu menggunakan jenis budaya setempat yang dialiri dengan ajaran Islam di dalamnya. Di samping itu, para ulama ini juga mendirikan pesantren-pesantren sebagai sarana pendidikan Islam.


3. Islam Di Jawa Paska Wali Songo

Setelah para Wali menyebarkan ajaran Islam di pulau Jawa, kepercayaan animisme dan dinamisme serta budaya Hindu-Budha sedikit demi sedikit berubah atau termasuki oleh nilai-nilai Islam. Hal ini membuat masyarakat kagum atas nilai-nilai Islam yang begitu besar manfa’atnya dalam kehidupan sehari-hari sehingga membuat mereka langsung bisa menerima ajaran Islam. Dari sini derajat orang-orang miskin mulai terangkat yang pada awalnya tertindas oleh para penguasa kerajaan. Islam sangat berkembang luas sampai ke pelosok desa setelah para Wali berhasil mendidik murid-muridnya. Salah satu generasi yang meneruskan perjuangan para Wali sampai Islam tersebar ke pelosok desa adalah Jaka Tingkir. Islam di Jawa yang paling menonjol setelah perjuangan para Wali songo adalah perpaduan adat Jawa dengan nilai-nilai Islam, salah satu diantaranya adalah tradisi Wayang Kulit.

(IAIN-Cirebon/Islamic-Sources/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Dibalik Kokohnya Revolusi Islam Iran


Dalam kurun waktu sejak era perang sampai dengan masa sekarang, pemerintahan Republik Islam Iran diakui atau tidak terus mengalami dinamika kemajuan drastis. Barat yang mengintimidasi Iran dengan sanksi dan blokade ekonomi, msyarakat Iran malah berhasil mendesain dan membuat berbagai jenis senjata mutakhir yang tidak dimiliki oleh negara manapun kecuali AS dan segelintir negara yang dipasok oleh AS. Dalam situasi sedemkian rumit dan njelimet, Iran berhasil membuat rudal anti tank dan pesawat tempur modern, bahkan disaat musuh menutup semua jalur Iran, tapi anak-anak bangsa ini justru membuat jalan dan jalur mandiri. Masalah nuklir Iran menjadi isu paling spektakuler karena dunia memang peka terhadap isu nuklir. Padahal, di luar persoalan nuklir terdapat sederet aktivitas Iran lainnya di berbagai bidang yang tak kalah pentingnya dengan nuklir. Hanya saja, aktivitas lain itu memang tidak dapat dikaitkan dengan isu militer dan pertahanan.

Semua prestasi ini tercapai di tengah blokade ekonomi dan tekanan politik, disaat kondisi sebagian negara yang menjalin hubungan ekonomi dengan Iranpun bahkan ikut-ikutan menekan Iran. Semua ini membuktikan betapa besarnya potensi dan kapasitas yang dimiliki oleh bangsa Iran. Ketika pintu di banyak tempat tertutup bagi Iran, oleh bangsa Iran, kondisi ini justru diapresiasi, sebab jika pintu-pintu itu terbuka lebar Iran justru akan menggampangkan segalanya sehingga cenderung mandeg dan stagnan. Harus ada motivasi kuat agar manusia dapat bekerja keras, selalu berinovasi, bergerak maju di bidang keilmuan, dan lancar dalam mengerjakan apapun.

Lebih dari itu, uang dan imperialisme mengatur segala sesuatu di dunia. Barat menggunakan iptek sebagai sarana untuk menghegemoni dunia. Mereka memiliki motivasi. Karena itu, negara-negara yang terbelakang dari segi iptek juga harus memelihara motivasinya untuk bisa melangkah maju sesuai yag digarisan Barat. Dan Iran bisa mandiri berdiri diatas kaki sendiri karena satu faktor yang membangkitkan motivasi, yaitu tertutupnya pintu-pintu yang ada.

Tak heran jika begitu banyak kekacauan di dunia, terutama poros di Timur Tengah, Republik Islam Iran berdiri tegak sebagai cahaya mercusuar dengan stabilitas yang normal. Negara-negara lain akan runtuh sejak lama jika embargo itu dikenakan pada mereka, kata Ayatulah Sayyid Ali Khamenei.

“Negara yang secara ekonomi dihegemoni oleh kekuatan lain tidak akan bisa menentukan strategi perekonomian secara tepat. Mungkin sepintas lalu negara itu terlihat bergairah, tapi fondasi perekonomiannya rapuh. Jika ada satu saja kran ekonomi yang diblokir atau ada satu bagian yang diusik, maka seluruh bangunan ekonomi negara akan runtuh. Buktinya, hanya dalam tempo dua atau tiga bulan saja seorang pemodal bisa memurukkan kondisi perekonomian sejumlah negara Asia Tenggara yang tiga diantaranya tercatat sebagai negara yang relatif bagus dan bergairah dari segi perekonomian,” kata Sayyid Ali Khamenei beberapa tahun lalu.

Semua kemajuan yang dicapai revolusi Islam terjadi justru di saat musuh-musuh Iran, AS dan para sekutunya di berbagai persoalan -termasuk politik, budaya dan ekonomi-, tak henti-hentinya mengintimidasi dan menteror Iran. Tak bosan-bosannya mereka menjulurkan lidahnya kepada Iran dan mengatakan, “Kalian akan diembargo ekonomi!, Kalian akan mati kelaparan!, Jalur pembangunan Iran akan buntu!” dan berbagai ancaman lainnya. Tapi, justru kemajuan yang dicapai selama dekade ini, di saat Iran terkepung intimidasi, makar, dan berbagai macam tekanan lain internal dan eksternal.

Apa rahasia stabilitas dan kemajuan Iran? Sebagian beraggapan, karena Iran diberkahi dengan minyak dan kekayaan gas yang maruah, dan karena itu Iran mampu mengatasi semua badai. Setelah semua produsen minyak dunia seperti- Irak, Libya, Suriah dan bahkan Arab Saudi – dicengkeram oleh gejolak. Irak hancur oleh invasi dan sanksi bertubi-tubi Barat. Iran Islam, juga mengalami ancaman semacam ini, bahkan lebih berat, ironisnya Iran tetap berdiri kuat. Libya benar-benar hancur; bisa dikatakan negara ini hanya tinggal sebuah nama, tidak ada pemerintahan disana, elemen-elemen Takfiri meluluhlantakkan negara kaya raya minyak ini. Di Suriah pun dilanda perang hasutan dan dibiayai dari luar negeri. Kalaupun Irak dan Suriah masih mampu bertahan hingga saat ini dari konspirasi besar, itu berkat dukungan yang diterimanya dari Hizbullah dan Iran. Dan kerajaan Wahabi boneka Barat, Arab Saudi, meskipun digambarkan sebagai kerajaan yang stabil oleh Presiden AS Barack Obama (28 Januari lalu)- nyatanya, Saudi goyah dan keropos luar dalam. Jimmy Carter juga pernah menyatakan Iran dibawah kepemimpinan rezim Shah, stabil, di akhir 1977- Arab Saudi goyah dan sedang menuju tepi jurang. Kelangsungan hidup Kerajaan tidak lagi terjamin dan tidak hanya karena baru saja kehilangan seorang raja, namun kontradiksi dan kekacauan internal yang sama-sama berebut kekuasaan.

Apa penyebab stabilitas dan kemajuan Iran? Kita mungkin bisa meringkasnya dalam satu kata saja: Islam!. Ya Islam saja, tidak lebih.

Iran memulai meniti jalan Islam untuk memenuhi kebutuhan masyarakat serta membangun sistem di mana mereka yang tertindas diperlakukan dengan secara adil dan bijak. Benar, Republik Islam Iran berdiri dengan tidak sempurna; tidak akan pernah atau bahkan menjadi sebuah negara yang sempurna, tapi itu jauh lebih baik daripada apa yang dialami oleh negara-negara lain. Tidak seperti Arab Saudi atau Pakistan atau Libya, Irak dan Suriah, kerusuhan komunal dan etnis. Kepatuhan Iran terhadap Islam tidak dangkal. Ada komitmen yang tulus untuk hidup dalam diri masyarakat Iran sampai tercapai cita-cita Islam. Hal ini terbukti dalam kesederhanaan pemimpinnya, dimulai dengan kepribdaian Imam Sayyid Ali Khamenei, yang diikuti sampai ke tingkat masyarakat terendah. Sikap Taqwa yang terus mengalir dari atas; ketika pemimpin bertaqwa, itu akan menginspirasi masyarakat di level bawah untuk meniru teladannya. Dan kekayaan negara tidak terkonsentrasi di tangan segelintir para rakus atau hanya dibeberapa bagian atas kelas elit.

Dalam sebagian masyarakat Muslim, sifat taqwa hanya dimiliki disebagian besar orang miskin, massa yang tertindas, tetapi tidak mengalir ke orang-orang kalangan atas dan pemimpin. Sebaliknya, konsentrasi kekayaan hanya ada di tangan kalangan atas. Tentu hal ini menciptakan kebencian masyarakat dan oleh karena itu menimbulkan ketidakstabilan dalam masyarakat. Hal ini juga tidak mengherankan jika di beberapa masyarakat Muslim tidak memiliki kondisi stabilitas apapun; mungkin Turki dan Malaysia dapat dikutip sebagai pengecualian, tetapi dalam arti yang sangat terbatas.

Dua aspek yang luar biasa lain dari Iran adalah totalitas kemerdekaan dari pengaruh dan hegemoni asing, tidak ada utang luar negeri yang menumpuk. Diukur dengan skala apapun, ini adalah prestasi yang benar-benar luar biasa. Kekuatan predator Barat tidak mentolerir negara manapun untuk melakukan penilaian independen; mereka menggunakan otot besar militer untuk mengalahkan negara yang bandel supaya kembali ke jalur yang sudah diterapkan. Mereka mencoba ini dengan Iran dan hampir empat dekade, namun mereka gagal total. Dan bahkan Iran hingga hari ini tidak menjadi bagian dari sistem keuangan internasional,- Iran bukan anggota dari Bank of International Settlements, sebuah lembaga yang didominasi oleh banksters internasional, para bandit dan pencuri. Iran begitu terampil menghindari penipuan keuangan kapitalis yang dilakukan secara teratur dan sistematis untuk memiskinkan orang lain sambil mengumpulkan kekayaan di tangan segelintir orang.

Hanya kepatuhan terhadap prinsip-prinsip Islam yang benar, memungkinkan seseorang mampu menahan dan bertahan dari berbagai tekanan tak kenal kompromi. Dan Iran adalah perwujudan dari nilai-nilai tersebut dan model bagi umat Islam lainnya untuk menirunya, andai saja mereka bisa melepaskan penutup mata dari ideologi sektarian. Kepada bangsa Iran dan bangsa-bangsa tertindas di dunia, Selamat atas kemerdekaan dan Revolusi Islam Iran yang jatuh pada 22 Bahman 1393, bertepatan dengan 12 Februari 2015 .

(Islamic-Sources/Islam-Times/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Runtuhnya Islam Andalusia Jangan Terulang di Indonesia


Ustadz Afifi Abdul Wadud mengungkapkan fakta tentang berkurangnya jumlah umat Islam yang ada di beberapa negara termasuk Indonesia. Bahkan, dia mengkhawatirkan runtuhnya Islam Andalusia, bisa terulang di Indonesia.

Beberapa negara seperti, Philipina dulu 100 persen penduduknya adalah muslim, saat ini hanya tinggal 2 persen. Dulu penduduk Singapura 93 persen muslim, sekarang hanya tinggal 15 persen. Dan saat ini, sekitar 1 juta muslim di Myanmar sedang bernasib tragis.

"Dulu Indonesia, 95 persen penduduknya adalah Muslim. Saat ini hanya 80 persen, lima tahun lagi tinggal berapa persen?" ungkap Ustadz Afifi yang juga merupakan lulusan Al-Madinah International University (MEDIU) itu.

Pemimpin Muslim terakhir di Andalusia Spanyol Abdillah Muhammad bin Al Ahmar, keluar dari istana kerajaan dengan hina. Malam itu, Andalusia telah jatuh ke tangan kerajaan Katolik setelah berada di bawah kekuasaan Islam selama lebih dari 800 tahun.

Dia meninggalkan istana dengan hati pilu, dadanya sesak. Hingga sampai di sebuah bukit yang cukup tinggi. Dari sana dia menatap Istana Al Hambra, dia menangis tersedu-sedu hingga jenggotnya basah kuyup dengan air mata.

Melihat hal itu, ibunya berkata, Menangislah! Menangislah seperti perempuan! Karena kau tidak mampu menjaga kerajaanmu sebagaimana laki-laki perkasa.

Andalusia memiliki luas wilayah 700 ribu kilometer persegi. Kalau pada masa sekarang Andalusia itu meliputi sebagian besar wilayah Spanyol, lalu seluruh wilayah portugis, dan sebagian besar wilayah Selatan Perancis.

Islam pertama kali masuk ke Andalusia pada tahun 711 M melalui jalur Afrika Utara. Spanyol sebelum kedatangan Islam dikenal dengan nama Iberia/Asbania, kemudian disebut Andalusia. Ketika negeri subur itu dikuasai bangsa Vandal, dari perkataan Vandal inilah orang Arab menyebutnya Andalusia.

Dalam bukunya Kebangkitan Islam di Andalusia, Ahmad Mahmud Himayah memberikan informasi berkenaan dengan Islam di Andalusia. Ada tiga catatan besar mengenai sebab keruntuhan peradaban Islam di Andalusia.

Pertama, perpecahan umat Islam pada saat itu. Kedua, cinta dunia dan takut mati kaum muslimin khususnya anggota keluarga kerajaan Islam Andalusia. Ketiga, memudar atau hilangnya peran ulama pada saat itu, kata Himayah dalam bukunya itu.


Perpecahan umat Islam pada saat itu

Umat Islam Andalusia tidak berbeda dengan umat Islam lainnya di seluruh penjuru dunia. Mereka satu akidah, berpegang teguh pada mahzab Ahlussunnah Waljamaah.

Oleh karena itu, ketika mereka sedang dalam keadaan menghadapi kesulitan dan penindasan, mereka meminta pertolongan kepada saudara-saudaranya sesama Muslim yang memiliki kekuatan untuk membantu mereka. Kerajaan Islam di Maroko dan Kekhalifahan Utsmaniyah menjadi dua kerajaan yang mereka kirimkan surat meminta bantuan.

Di antara isi surat yang mereka tuliskan kepada kedua kerajaan itu disebutkan dalam buku Himayah, sebagai berikut:

Salam sejahtera kami haturkan untuk yang mulia, dari seorang hamba yang tertindas di Andalusia, wilayah sebelah Barat bumi Maroko.

Dengan dikelilingi oleh lautan Roma yang membentang luas dan lautan raya yang dalam dan pekat.

Salam sejahtera untuk semua, dari seorang hamba yang terluka akibat bencana berat yang menimpa.

Kami dikhianati dan ditindas, agama kami diubah dengan paksa, kami dianiaya dengan keji dan kejam.

Namun, kami tetap berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad SAW, melawan tentara salib berdasarkan satu niat.

Saat kami membina perjanjian perdamaian, mereka malah mengkhianati dan melanggarnya.
Bukan sekali mereka melanggar perjanjian, bahkan sebelumnya berkali-kali mereka mengingkari dan menindas kami dengan kekerasan dan penganiayaan.

Mereka membakar kitab suci umat Islam dan mencampakkannya ke tempat-tempat sampah sehingga berbaur dengan najis.

Kitab suci yang kami jadikan sandaran dalam setiap urusan, mereka campakkan dengan keji dan zalim.

Kami dipaksa mencaci Nabi, dan dilarang untuk menyebut namanya, baik pada saat senggang maupun tertindas.

Kalau ada satu orang atau satu kelompok orang yang melantunkan namanya, bahaya siksa dan azab mengancam mereka.

Nama-nama kami diubah dengan nama yang tidak kami senangi. Sayang seribu sayang, mereka mengubah agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW dengan agama anjing-anjing Romawi, makhluk terburuk di muka bumi.

Kami pun akan menjadi hamba sahaya yang tidak bertuan, menjadi umat Islam yang tidak bisa mengucapkan kalimat syahadatain.

Jika kedua bola mata insan menyaksikan, betapa kesulitan yang kami derita, ia akan mencurahkan hujan airmata.

Betapa pedih yang kami rasakan, menahan derita nestapa yang terus menyelimuti.....

Surat tersebut menggambarkan bagaimana muslim Andalusia sangat membutuhkan sekali bantuan dari umat Islam lainnya. Mereka mengiba, menangis, dan mengemis belas kasihan raja-raja Islam.

Namun bantuan yang diharapkan tidak turun-turun. Hal ini semakin membuat mereka terisolasi dan semakin lama menanggung beban penderitaan. Umat Islam di Andalusia diberikan tiga pilihan oleh kerajaan Kristen: Masuk Kristen, Keluar dari Andalusia, atau dibunuh!

Jumlah mereka yang dibunuh mencapai puluhan ribu jiwa. Sebagian mereka ada yang murtad atau pura-pura murtad. Mereka yang murtad ini selalu diawasi oleh intelejen Kerajaan Kristen pada saat itu.

Bila terbukti masih beragama Islam maka akan ditangkap dan dihukum. Apalagi mereka yang merencanakan pemberontakan, tak tanggung-tanggung akan dihukum mati! Digantung dan dikuliti kemudian di arak keliling kota sebagaimana yang terjadi pada diri para mujahidin saat itu.

Di manakah kerajaan Islam Maroko yang saat itu bersebelahan dengan umat Islam Andalusia? Di manakah kekhalifahan Utsmaniyah yang dengan gemilang berhasil menaklukan Konstantinopel?

Namun dalam buku Himayah tidak membahas mengapa Khalifah Utsmaniyah tidak turun membantu umat Islam Andalusia. Tetapi ada penjelasan mengejutkan dari Raja Maroko mengapa mereka enggan membantu Muslim Andalusia.

Raja Maroko ingin mencari aman saja, karena bila mereka terlalu jauh terlibat dalam konflik yang terjadi di Andalusia, kekuasaan mereka akan terancam. Kerajaan Kristen akan menyerang mereka atau melakukan praktik adu domba sesama anggota keluarga kerajaan seperti yang terjadi di Andalusia.

Intinya, kerajaan Kristen akan berupaya mempersulit keadaan kerajaan Islam Maroko. Akhirnya, mereka pun mengambil jarak terhadap umat Islam di Andalusia.

Kenyataan ini tampaknya juga diderita oleh pemimpin negara-negara Islam saat ini. Mereka tidak berani memberikan bantuan secara penuh, terutama militer, kepada umat Islam yang tertindas seperti di Palestina, Suriah, Afghanistan, Irak, dan Mindanao. Mereka lebih memilih mengamankan kekuasaan mereka.

Memang sejarah telah mencatatkan para pemimpin yang membantu para mujahidin nasibnya sering berakhir tragis, seperti yang dialami Raja Faishal dari Arab Saudi dan Jenderal Zia Ul Haq dari Pakistan. Tapi itulah resiko perjuangan. Bila tidak ada pengorbanan tidak akan ada kemenangan. Para mujahid pasti sudah siap dengan kematian, karena kematian bisa menjadi jalan kemenangan bagi mereka.


Cinta dunia dan takut mati

Kemudian pada awal abad ke-16 adalah titik nadir umat Islam Andalusia. Mereka sedang bersiap diri menghadapi keruntuhan, sebuah keruntuhan yang dicatat dalam sejarah. Sebuah keruntuhan yang mengundang kepiluan dan kesedihan yang mendalam.

Selama delapan abad lamanya mereka berkuasa di Andalusia dan mendirikan sebuah peradaban yang besar, peradaban ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Peradaban yang mengantarkan mereka menjadi kerajaan paling digdaya di seantero dunia saat itu.

Bukanlah kekalahan dan kemenangan itu terjadi karena pihak luar, tetapi terjadi pada umat Islam itu sendiri, dengan izin Allah tentunya. Sebagaimana firman Allah swt, Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sehingga ia mengubahnya sendiri.(QS. Ar-Rad: 11)

Pada saat itu kerajaan Islam Andalusia sudah tercabik-cabik menjadi kerajaan-kerajaan kecil, menjadi 23 kerajaan kecil. Masing-masing anggota kerajaan ingin memiliki kekuasaan. Mereka saling tikam antara satu dengan yang lain. Raja atau sultan silih berganti berkuasa.

Anak membunuh ayahnya, keponakan membunuh pamannya tampaknya sudah menjadi lumrah pada saat itu. Bahkan yang paling buruk adalah anggota kerajaan itu meminta tolong Raja-Raja Kristen untuk membantu mereka menyingkirkan orang-orang yang menurut mereka menghalangi ambisi mereka dalam meraih kekuasaan.

Tentu saja setiap bantuan yang diberikan harus dengan imbalan yang memadai. Dan imbalan itu nyatanya sangat besar jumlahnya. Terus saja seperti ini kejadiannya. Dengan sendirinya Raja-raja Kristen menjadi mudah mengadu domba atas sesama anggota kerajaan Islam Andalusia. Daerah kekuasaan Islam Andalusia sedikit demi sedikit digrogoti oleh Kerajaan Kristen.

Fakta lain, pasti ada saja muncul pahlawan-pahlawan yang menyerukan perang suci menghadapi kaum kufar. Mereka menyerukan kepada kaum muslimin Andalusia untuk bangkit menghadapi pasukan Kristen. Ada saatnya mereka menang, tapi seringkali mereka kalah.

Hal ini terjadi karena kurangnya dukungan pihak kerajaan terhadap aksi mereka. Mereka berjuang secara sporadis dengan jumlah personel terbatas walaupun sangat mematikan. Salah satu di antara para pahlawan itu adalah Jenderal Musa bin Abi Ghassan.

Kata-katanya yang paling terkenal, Mati syahid di bawah reruntuhan pagar Granada lebih mulia daripada hidup di bawah penindasan.

Tetapi suara yang mendominasi saat itu menghendaki Granada diserahkan kepada musuh. Tetapi Musa bin Abi Ghassan tidak setuju. Ia berteriak dan berkata, Kita lebih baik menyebutkan siapa-siapa saja yang menghendaki perjuangan mempertahankan Granada dan siapa yang menghendaki penyerahannya ke tangan musuh.

Namun sayang, tidak ada seorang pun yang mendengarkan dan mendukungnya. Akhirnya, dia pergi meninggalkan majelis kerajaan dan menunggang kudanya meninggalkan Granada yang merupakan benteng paling utama dari Kerajaan Islam Andalusia.

Hingga suatu saat dia bertemu dengan sekelompok pasukan Kristen, ia langsung menyerang dengan ganas menggunakan pisau dan pedangnya. Namun, tentara musuh semakin banyak yang mengepungnya. Dan ketika hendak ditawan, ia mengambil inisiatif untuk menyeburkan dirinya ke dalam laut.

Sementara itu, Raja Abu Abdillah bersegera menyerahkan Granada ke kerajaan Kristen Spanyol. Salah satu dari dua orang yang menjadi negosiator penyerahan Granada ke tangan kerajaan Kristen adalah Ibnu Kamasyah, seorang menteri yang murtad.

Ia memeluk agama Kristen setelah penyerahan, bahkan menjadi seorang pendeta besar. Bukan hanya menteri yang murtad, banyak dari keluarga kerajaan dan pemuka kaum yang murtad. Mereka memeluk Kristen setelah Granada diserahkan kepada Kerajaan Kristen.

Mereka adalah, dua orang pangeran, yakni Saad dan Nasr bin Sultan Abil Hasan, ibunya yang bernama Mahma, Pangeran Yahya An-Niyar, anak paman Raja Abu Abdillah bin Zaghl dan Panglima Mariya bersama anak dan istrinya. Nama-nama mereka diganti dengan nama-nama Kristen.

Demikianlah Andalusia tenggelam karena ruh Islam yang ada dalam jiwa mengalami kematian, sehingga kerusakan pun merajalela. Hal itu diperburuk dengan pengkhianatan terhadap Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang muslim.


Memudar atau hilangnya peran ulama pada saat itu

Lantas, di manakah para ulamanya? Himayah tidak membahasnya secara khusus. Padahal poin ini sangat penting untuk dibahas karena para ulama pada hakikatnya memiliki peran yang sentral di tengah masyarakat.

Dengan resolusi jihad yang dikeluarkan KH Hasyim Asyari contohnya, ini memotivasi umat Islam di Indonesia untuk melawan penjajahan. Namun, ada gambaran tersirat dari tulisan Himayah, betapa lemahnya peran dan pengaruh ulama pada saat itu.

Karena faktanya majelis kerajaan juga diisi oleh banyak ulama, misalnya di dalamnya ada seorang Qadhi atau Mufti. Tapi mengapa mereka seolah diam, bahkan larut dalam pemikiran Raja yang penuh kelemahan, cinta dunia dan takut mati? Dan akhirnya kekuasaan Islam berakhir di Andalusia, dan belum pernah bangkit lagi hingga detik ini.

Ustadz Afifi mengambil pelajaran dari kisah Andalusia ini dan membandingkan dengan keadaan umat Islam saat ini, yang sebenarnya tidak ada bedanya dengan keadaan umat Islam di Andalusia pada saat itu. Harapan atas kebangkitan itu selalu ada, asalkan persatuan, tarbiyah, dan ulama, harus menjadi perhatian serius bagi umat Islam yang ingin meraih kejayaannya kembali.

Hampir semua pra-syarat hancurnya Islam di Andalusia, telah ada dan terjadi di Indonesia. KH Ahmad Dahlan pernah berkata, "Islam tidak akan pernah musnah dari dunia, tapi Islam bisa hilang di negeri ini".

(Republika/Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Deklarasi Balfour, Bukti Kejahatan Besar Inggris Terhadap Palestina


Barat bukan hanya tidak memiliki sistem politik yang benar untuk ditawarkan kepada seluruh bangsa dunia. Rezim ini malah menganggap diri sebagai barometer kebenaran dan kebatilan. Dengan ini, segala sesuatu yang keluar dari Barat dianggap sebagai kebenaran absolut. Sementara itu, apa yang keluar dari dunia lain dinilai sebagai kebatilan yang absolut.


Kesombongan bangsa Barat ini telah sampai pada batas mereka menganggap diri mereka sebagai pengayom seluruh bangsa di dunia. Untuk itu, dengan alasan untuk menebarkan demokrasi, mereka menjajah seluruh negara dunia dan merampok seluruh kekayaan bangsa-bangsa ini. Dengan slogan indah kebebasan dan hak asasi manusia, mereka telah menjadikan bangsa-bangsa dunia merana dan terlantar.

Bangsa Arab dan muslim tidak akan pernah melupakan seluruh bentuk kejahatan Barat terhadap umat manusia. Mereka telah menelantarkan bangsa Palestina dari tanah air yang telah ditempati oleh nenek moyang bangsa ini. Hanya dengan alasan “menganugerahkan tanah air tak berpemilik kepada bangsa yang tak memiliki tanah air”, Barat telah melakukan kejahatan sejarah.

Kejahatan besar Inggris tersebut dimulai dengan kesepakatan yang ditandatangani oleh Arthur Balfour, mantan Menteri Luar Negeri Inggris, dan Walter Rothschild. Dalam deklarasi yang akhirnya dikenal dengan Deklarasi Balfour tersebut ditegaskan bahwa Inggris akan melakukan semua usaha untuk menciptakan sebuah tanah air nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina.

Persis ketika bangsa Palestina menuntut Inggris supaya meminta maaf lantaran Deklarasi Balfour ini, Theresa May, Perdana Menteri Inggris, malah menekankan akan menggelar pesta untuk merayakan hari penandatangan deklarasi tersebut.

[Sumber: Al-Iba’/Munib Sa’ih]
*****

Petisi Serukan Inggris Minta Maaf Atas Deklarasi Balfour Ditandatangani Lebih 10.000 Orang

Deklarasi Balfour. (Foto: Istimewa)

Lebih dari 11.000 orang telah menandatangani petisi yang menyerukan pada Pemerintah Inggris untuk meminta maaf atas Deklarasi Balfour 1917, saat Menteri Luar Negeri Arthur Balfour menjanjikan tanah air untuk orang-orang Yahudi di Palestina dengan mengusir penduduk Arab pribumi, demikian laporan Pusat Palestina Kembali (PRC) yang berbasis di London, Rabu (12/4).

“Kami meminta Pemerintah Kerajaan untuk secara terbuka meminta maaf kepada rakyat Palestina karena mengeluarkan Deklarasi Balfour. Keputusan kolonial Inggris antara 1917-1948 menyebabkan perpindahan massal bangsa Palestina,” kata petisi.

“Kerajaan harus mengakui perannya selama Mandat dan sekarang harus memimpin upaya untuk mencapai solusi yang menjamin keadilan bagi rakyat Palestina,” tegas isi petisi itu, demikian Kantor Berita Palestina melaporkan.

Menurut aturan petisi yang berlaku di Inggris,, pemerintah wajib mengeluarkan tanggapan resmi dalam jangka waktu tiga hari menjelaskan posisinya tentang petisi jika jumlah tanda tangan mencapai 10.000. Namun, menurut perencana petisi, lima hari sejauh ini berlalu tanpa tanggapan resni dari Pemerintah Inggris.

Tareq Hammoud, Direktur Eksekutif PRC, mengatakan bahwa dengan mencapai angka ini, kampanye jelas dapat kesempatan untuk lebih mendapat perhatian.

“Ketika 10.000 orang Inggris meminta pemerintah mereka untuk meminta maaf atas Deklarasi Balfour, itu adalah indikasi pergeseran yang signifikan dalam opini publik selama dekade terakhir dalam mendukung perjuangan Palestina,” katanya, menjelaskan bahwa jumlah tanda tangan sudah mencapai 10.000 lebih akhir pekan lalu dan pada hari Selasa (11/2) sudah mencapai 11.613. Penyelenggara bertujuan mengumpulkan 100.000 tanda tangan, yang berarti permo/P1honan akan dipertimbangkan untuk melaksanakan debat di parlemen.

(Miraj-News/Al-Iba’/Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Mengintip Alam Pemikiran Ibn Arabi


Adalah sulit untuk bisa menggambarkan Muhyiddin Ibn Arabi secara lengkap dan utuh dalam beberapa paragraf berikut ini. Karena itu, tulisan ini agaknya lebih tepat disebut sekadar stimulasi untuk lebih banyak mengenal sosoksufi besar ini.

Ibn Arabi terlahir di Mursia, Andalusia pada 28 Juli 1165 dan meninggal pada 10 November 1240 M. para sufi menjulukinya sebagai asy-Syaikh al-Akbar (Guru Besar). Hampir semua karangannya yang bertumpuk itu berbicara tentang wacana-wacana tingkat tinggi dalam bidang tasawuf, sehingga ia sering digolongkan sebagai pemikir Muslim yang “paling sulit dipahami”.

Berbagai isu intelektual yang meruyak di masa Ibn Arabi (seperti tasawuf, tafsir, hadis, fiqih, kalam (irologi), dan filsafat (dibahasnya secara sangat kaya dan mendetail. Meskipun sangat loyal kepada hadis, pemikirannya terkesan inovatif. Pelbagai karyanya telah menghadirkan khazanah perenungan yang prolific tentang semua dimensi Islam. Tidak berlebihan bila kita katakan bahwa Ibn Arabi adalah pemikir yang paling berpengaruh pada paro kedua sejarah Islam.

Pemikiran dan kepribadian Ibn Arabi yang senantiasa berkilau itu memikat dan mengilhami para pemikir Muslim hingga dewasa ini. Menurut James Morris,

“Mengikuti apa yang dikatakan oleh Whitehead tentang Plato, dengan kadar penekanan yang sama dapat dikatakan bahwa sejarah pemikiran Islam setelah Ibn Arabi (setidaknya sampai abad ke-18 yang menandai suatu perjumpaan yang sama sekali baru dengan Barat modern) tak lain merupakan serangkaian catatan kaki terhadap karya-karyanya.”

Tiga gagasan besar Ibn Arabi yang paling berpengaruh pada perkembangan tasawuf adalah wahdah al-wujud (kesatuan wujud), alam al-Khayal (dunia imajinasi), dan al-Insan al-Kamil (manusia sempurna). Ungkapan wahdah al-Wujud sebenarnya tidak penah digunakan oleh Ibn Arabi sendiri. Para pengikutnya mengadopsi ungkapan ini untuk menjelaskan pemikiran Ibn Arabi.

Setiap kali menggunakan kata wujud, Ibn Arabi selalu memperhatikan asal-usul etimologisnya. Baginya, wujud tidak hanya berarti “menjelma” atau “mengada”, melainkan juga berarti “menemukan” dan “ditemukan”.

Dalam konteks ketuhanan, kata ini berarti bahwa Tuhan “Ada” dan tidak pernah tidak ada. Dan hanya Dialah yang “menemukan”diri-Nya dan segala sesuatu selain-Nya. Dengan kata lain, wujud tidak hanya bermakna keberadaan (existence), melainkan juga awareness, kesadaran, dan pengetahuan.

Ibn Arabi memakai kara khayal (imajinasi) untuk mengacu kepada segala sesuatu yang berada di posisi pertengahan, bukan sekadar kepada daya khayal yang melengkapi kerja nalar (reason) dalam pikiran manusia (mind). Contoh umum dari realitas khayali (imaginal) adalah pantulan cermin. Cermin maupun pantulannya tidak menggambarkan realitas yang seutuhnya. Kombinasi dari keduanya yang bisa menghadirkan keutuhan realitas.

Imajinasi dalam pengertian seluas-luasnya adalah alam semesta beserta segala isinya, lantaran semua itu bukan sepenuhnya ‘adam (ketiadaan) dan bukan sepenuhnya wujud (kebenaran) melainkan “sesuatu di antara keduanya.” Dalam pengertian yang lebih sempit, alam semesta tercipta dari dua keadaan: ketampakan (syahadah) dan ketersembunyian (ghaib), tubuh dan ruh; makna (sense atau ma’na) dan persepsi (hiss). Di antara semua itulah Dunia Imajinasi berada. Tidaklah ia sepenuhnya ruhani, juga tidak sepenuhnya jasmani. Tidak semuanya indrawi (perceptible) , juga tidak semuanya bebas dari sifat-sifat indrawi.

Di dalam diri manusia, imanijasi merujuk kepada jiwa (nafs) yang berada di antara ruh (embusan Ilahi) dan raga (lempung). Praktis semua awareness dan kesadaran terjadi di dalam imajinasi. Antara sisi ruhani dan jasmani, maknawi dan indrawi (sense perception) terjadi interaksi dalam dua pola: objek-objek spiritual terus menyempurna melalui instrumen ragawi, sementara objek-objek ragawi berproses menjadi lebih spiritual.

Manusia sempurna adalah raison d’atre penciptaan alam semesta (macrocosmos). Tuhan mencipta alam semesta agar manusia bisa mengetahui mutlaknya kesempurnaan Ilahi. Sebagai makhluk yang tercipta dari citra Ilahi, manusia berpotensi untuk mengetahui dan merengkuh sifat-sifat sempurna Tuhan (kecuali yang berkaitan dengan kemutlakan-Nya). Dengan mengaktualisasi semua potensi intelektual (mengetahui) dan eksistensial (mengada), manusia sempurna telah memenuhi tujuan penciptaan. Bagi Ibn Arabi, manusia berada tepat di titik tengah yang tak terhingga. Ia adalah penampakan dari Dia atau bukan Dia, dari wujud atau bukan wujud.

Dia selalu berada di tahap yang tak bertahap. Meski telah menulis banyak sekali karangan, tetapi karya yang paling banyak dikaji dan diteliti adalah Fushush al-Hikam (Permata Kebijaksanaan) dan al-Futuhat al-Makkiyyah. Lebih dari seratus buku komentar telah ditulis untuk Fushush, dan akan terus ditulis pada masa-masa yang akan datang. Pada saat yang sama, ada sejumlah tulisan yang tak kalah banyaknya yang dibuat orang untuk menyerang dan mengutuk buku ini dan pengarangnya.

Al-Futuhat al-Makkiyyah berarti kumpulan futuh (pembukaan) di Mekah. Menurut Ibn Arabi, Allah telah “membukakan” hatinya untuk dicurahi ilmu yang banyak. Kata futuh menyiratkan bahwa jenis ilmu ini datang kepada seseorang yang telah lama dan sabar menunggu di depan pintu. Pemberian ilmu jenis ini jelas tidak melibatkan paksaan dari dalam, upaya keras atau pencarian. Karena, mencari pengetahuan tertentu akan menyesatkan pelaku suluk dari pencarian akan Tuhan. Ibn Arabi menuturkan,

“Ketika aku terus-menerus mengetuk pintu Allah, aku menunggu dengan penuh waspada, tidak terganggu, hinga kemudian tampaklah oleh pandanganku kebesaran Wajah-Nya dan sebuah panggilan untukku, tidak lebih dari itu.”

Namun demikian, harus diingat bahwa tidak semua masuka (warid) bisa disebut futuh (pembukaan). Para sufi membedakan empat kategori lintasan pikiran (khawathir): Ilahi, ruhani, ego-sentris (nafsani) dan syaithani.

Menurut William Chittick, “dari perspektif Sufi, salah satu tanda penyimpangan paling jelas dari ‘spiritualitas’ kontemporer – terutama dari ragam ‘New Age’ – ialah ketakmampuannya memilah-milah sumber masukan. Pengetahuan yang dicurahkankepada pencari Allah adalah pengetahuan mengenai Al Qur’an dan Kalam Ilahi. Ibn Arabi mengatakan: “Tiada yang dibukakan bagi wali Allah selain pemahaman tentang Kitab yang Agung.”

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Sulthanah Shafiatuddin, Nakhoda Perempuan Pertama Kerajaan Aceh Darussalam


Sejarah Aceh tidak terlepas dari peran hebat para perempuan sehingga masyarakat Indonesia lekat dengan nama sejumlah pahlawan nasional perempuan lebih banyak dari Aceh. Jauh sebelum muncul pejuang-pejuang perempuan seperti Cut Nyak Dien, Laksamana Malahayati, dan Cut Muetia, Aceh memiliki Sulthanah Shafiatuddin, pemimpin atau nakhoda perempuan pertama di Kerajaan Aceh Darussalam.

Kemunculannya sebagai pemimpin tidak lepas dari kontroversi di Kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan pada 1496 itu, ketika sang suami, Sultan Iskandar Tsani mangkat. Saat itu sulit sekali mencari pengganti Sultan Iskandar Tsani karena dari keluarga terdekat tidak ada seorang laki-laki.

Muncul pertimbangan untuk mengangkat sang istri, Ratu Shafiatuddin Syah sebagai Sulthanah di Kerajaan Aceh Darussalam yang dulu pernah dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636), sang ayah Shafiatuddin Syah. Dia merupakan putri tertua Raja yang memimpin Kerajaan Aceh Darussalam di era 1636-1641 tersebut.

Sultan Iskandar Muda yang wafat pada 1636 tidak mempunyai putra mahkota dan digantikan oleh Sultan Iskandar Tsani, menantunya. Iskandar Tsani adalah putra Sultan Ahmad Syah, Sultan Pahang (kini wilayah Malaysia) yang menikah dengan Shafiatuddin Syah setelah Sultan Iskandar Muda menaklukkan Pahang pada 1617.

Era Sultan Iskandar Tsani tidak lama, yaitu 1636-1641 yang juga merupakan tahun kematiannya. Situasi politik yang mendesak saat itu kemudian menempatkan Shafiatuddin sebagai pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam berikutnya dengan gelar Paduka Sri Sultanah Ratu Safiatuddin Tajul-’Alam Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam binti al-Marhum Sri Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam Syah.

Debat soal boleh tidaknya pemimpin perempuan dalam pemerintahan Islam ternyata sudah terjadi ketika Ratu Shafiatuddin diajukan untuk memimpin Kerajaan Aceh Darussalam. Ada sejumlah kalangan yang tidak setuju atas naik tahtanya Ratu Safiatuddin. Terjadilah beberapa kali aksi pemberontakan juga upaya pengkhianatan untuk mendongkel kepemimpinan sang ratu.

Kondisi saat itu bertambah rumit bagi dirinya karena Sulthanah Shafiatuddin juga harus menghadapi ancaman eksternal seiring menguatnya pengaruh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) setelah berhasil merebut Malaka dari Portugis pada awal tahun 1641.


Berangkat dari penguatan adat istiadat

Sejumlah kalangan di Kerajaan Aceh Darussalam bukan tanpa pertimbangan matang dalam memilih Ratu Shafiatuddin. Dia dinilai pantas menduduki tahta kerajaan yang ditinggalkan suaminya karena dia memiliki visi cemerlang dalam menyebarkan Islam serta mengembangkan kebudayaan dan seni dalam masyarakat Islam di Aceh.

Potensi memimpinnya pun terbilang tak kalah dengan raja-raja sebelumnya yang notabene seorang laki-laki. Terbukti ketika tahun 1639 terjadi Perang Malaka, Sulthanah Shafiatuddin membentuk sebuah barisan perempuan untuk menguatkan benteng istana. Banyak kebijakan bernilai positif yang dilakukan oleh ratu yang mempunyai nama asli Putri Sri Alam ini.

Ia terbilang sukses membangkitkan kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam yang mengalami periode gemilang pada era kepemimpinan sang ayah, Sultan Iskandar Muda, dan sempat redup semasa dipimpin oleh sang suami, Sultan Iskandar Tsani.

Salah satu yang terkenal adalah tentang tradisi pemberian hadiah berupa tanah untuk pahlawan perang. Masa pemerintahan Sulthanah Shafiatuddin pun dinilai sangat bijak, di mana menyoal hukum serta adat istiadat dijalankan dengan baik. Dari visi infrastruktur adat istiadat inilah muncul pengembangan seni, budaya, dan ilmu pengetahuan di era kepemimpinanya.

Selain itu, Ratu Shafiatuddin berhasil mempertahankan hubungan diplomasi dengan kerajaan-kerajaan lain sehingga nama besar Kesultanan Aceh Darussalam tetap terjaga. Tak hanya itu, di masa kekuasaannya, Aceh Darussalam mengalami kemajuan pesat dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, agama, hukum, seni dan budaya, hingga ilmu pengetahuan seperti dijelaskan sebelumnya.

Sulthanah Safiatuddin bertahta selama 34 tahun hingga wafat pada 1675. Sepeninggal sang ratu pertama itu, Kesultanan Aceh Darussalam masih dipimpin oleh para perempuan tangguh sampai 24 tahun setelahnya, yaitu berturut-turut Sulthanah Naqi al-Din Nur al-Alam (1675-1678), Sultanah Zaqi al-Din Inayat Syah (1678-1688), sampai masa pemerintahan Sultanah Kamalat Syah Zinat al-Din (1688-1699).

Perihal pengangkatan ketiga perempuan tersebut, uniknya hal itu merupakan gebrakan baru dalam kerajaan Islam. Dikarenakan Sulthanah Shafiatuddin tidak memiliki keturunan, sang ratu akhirnya mengangkat tiga orang perempuan tersebut untuk meneruskan tahtanya. Ketiga perempuan itu justru bukan berasal dari keturunan ningrat atau bangsawan Aceh, melainkan kalangan biasa. Setelah Shafiatuddin, Aceh pun dipimpin oleh ketiga sosok perempuan itu.

Kendati tidak semua ratu sanggup membawa Kesultanan Aceh Darussalam merasakan era emas seperti pada masa Sultan Iskandar Muda dan Sulthanah Shafiatuddin, Serambi Mekkah yang menerapkan syariat Islam pernah memiliki rekam sejarah gemilang di bawah kepemimpinan perempuan. Ini merupakan fakta sejarah yang tidak terbantahkan.

Bahkan, Aceh punya banyak lagi tokoh-tokoh pemimpin perempuan yang tidak melulu bertahta dengan label ratu atau sulthanah. Para wanita hebat asli tanah rencong ini bahkan tampil sebagai panglima perang dan memimpin perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah Belanda, yakni Laksamana Malahayati, Cut Meutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, Cutpo Fatimah, hingga tentunya Cut Nyak Dien yang masyhur itu.


Seorang penulis

Pada masa kepemimpinan Sulthanah Safiatuddin perkembangan sastra bisa dikatakan sangat pesat. Hal ini tidak lain karena sang ratu merupakan sosok yang cinta terhadap bacaan. Dia banyak mengarang sajak dan cerita-cerita pendek.

Wujud nyata yang telah dilakukan oleh Sultanah Safiatuddin untuk mencerdaskan rakyatnya ketika itu adalah mendirikan perpustakaan. Tak banyak pemimpin yang perhatian dengan hal-hal semacam ini, namun Sultanah Safiatuddin melakukannya dengan sangat baik.

Pada masa pemerintahan Ratu Safiatuddin, perpustakaan negara didirikan dan diperluas. Selain itu, sang ratu juga memberikan dukungan penuh kepada para sastrawan dan kaum intelektual untuk mengembangkan keilmuannya.

Di masa-masa inilah lahir para cendekiawan macam Hamzah Fanshuri, Nuruddin Ar-Raniry, dan Syekh Abdurrauf Singkel. Ketiga orang yang disebut terakhir itu merupakan para ulama yang berhasil meletakkan pondasi kuat di bidang ilmu keislaman melalui sejumlah karya-karya monumentalnya.

Hamzah Fansur banyak melahirkan syair dan prosa, di antaranya Syair Burung Unggas, Syair Dagang, Syair Perahu, Syair Si Burung pipit, Syair Si Burung Pungguk, Syair Sidang Fakir. Sedangkan prosa yaitu Asrar al-Arifin dan Sharab al-Asyikin.

Nuruddin Ar-Raniry mengarang Kitab Bustanus Salatin (Taman Raja-raja), dan Kitab Shiratal Mustaqim (jalan yang lurus). Sedangkan Abdurrouf Singkel menulis Mir'at al-Thullab fî Tasyil Mawa'iz al-Badî'rifat al-Ahkâm al-Syar'iyyah li Malik al-Wahhab (karya di bidang fiqh atau hukum Islam, yang ditulis atas permintaan Sulthanah Shafiatuddin) dan Kitab Tarjuman al-Mustafid, merupakan naskah pertama Tafsir Al-Qur'an berbahasa Melayu.

Meski tidak banyak arsip yang mencatat sejarah tentang Sulthanah Shafiatuddin, tapi usahanya dalam memimpin kerajaan besar dalam sejarah Islam di Nusantara patut jadi teladan. Tercatat selama 58 tahun atau setengah abad lebih semenjak Sulthanah Shafiatuddin, Kerajaan Aceh Darussalam dipimpin oleh para perempuan atau sulthanah.

Saat ini, nama Sulthanah Shafiatuddin diabadikan menjadi nama sebuah taman budaya di Banda Aceh, ibukota Provinsi Aceh. Taman ini menjadi pusat seni dan kebudayaan dari 23 kebupaten/kota di Aceh yang mempunyai ciri khas masing-masing. Setiap lima tahun sekali, di taman seluas 9 hektar ini diadakan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang menampilkan beragam seni, budaya, kuliner, musik, dan lain-lain dari masing-masing kabupaten/kota.

(NU-Online/Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Terkait Berita: