Daftar Isi Nusantara Angkasa News Global

Advertising

Lyngsat Network Intelsat Asia Sat Satbeams

Meluruskan Doa Berbuka Puasa ‘Paling Sahih’

Doa buka puasa apa yang biasanya Anda baca? Jika jawabannya Allâhumma laka shumtu, maka itu sama seperti yang kebanyakan masyarakat baca...

Pesan Rahbar

Showing posts with label ABNS SAINS - FILSAFAT DAN TEKNOLOGI. Show all posts
Showing posts with label ABNS SAINS - FILSAFAT DAN TEKNOLOGI. Show all posts

Miliki Berat Berlebih, Ini Saran Ibnu Sina


Pada era modern saat ini, bertebaran sarjana kesehatan atau kedokteran yang aktif menyuarakan berbagai hal tentang kesehatan, seperti efek buruk mengonsumsi makanan yang tidak sehat, pentingnya olahraga, diet yang tepat, serta pola tidur teratur. Banyak pula kalangan yang menggaungkan kampanye untuk menerapkan pola diet yang sehat. Semua hal itu dilakukan agar masyarakat dapat terhindar dari berbagai masalah kesehatan, seperti obesitas (kegemukan) dan diabetes.

Yang patut dicatat adalah, semua saran dan anjuran kesehatan itu telah lama dirisalahkan oleh para ilmuwan Muslim dalam buku-buku mereka. Setidaknya, ada lima buku kesehatan terbaik dalam peradaban Islam. Berikut ulasan salah satu buku tersebut.


Al-Qanun Fi al-Tibb (The Canon of Medicine)

Kitab ini ditulis oleh Ibnu Sina. Dalam peradaban Islam, ilmuwan yang dikenal pula dengan nama Avicenna ini tersohor berkat karya-karyanya dalam bidang filsafat dan pengobatan. Salah satu bukunya yang terkenal adalah, Al-Qanun Fi al-Tibb (The Canon of Medicine).

Buku karya Ibnu Sina itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada akhir abad ke-12. Tak pelak, buah pikiran Ibnu Sina yang tertuang dalam buku tersebut menjadi sumber referensi bagi penelitian medis di universitas-universitas di Eropa hingga akhir abad ke-17.

Dalam bukunya itu, Ibnu Sina menjelaskan tentang dampak negatif atau kerugian bila seseorang memiliki berat badan berlebih atau biasa disebut obesitas. Ia pun menguraikan cara untuk menghindari dan mengurangi risiko timbulnya obesitas, di antaranya dengan rutin berolahraga dan mengurangi asupan makanan berlemak.

(Republika/Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Ilmuwan Neurosains Indonesia Temukan Formula Ampuh ‘Tumpas’ Radikalisme


IImuwan Indonesia sedang mengembangkan terobosan penemuannya, yakni metode pengendali kecemasan dan stres. Ilmuwan tersebut adalah Taruna Ikrar, peneliti dari Departemen Neuorologi Fakultas Kedokteran di Universitas Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan.

Bersama dengan timnya, Taruna yang juga spesialis senior pada Divisi Neurobiologi di Universitas California, Irving, Amerika Serikat, ini bersedia menjelaskan metode yang sedang dikembangkannya.

Metode ini, menurut dia, mempelajari sistem saraf pada bagian kepala dan otak manusia, termasuk salah satunya penyebab seseorang melakukan tindakan radikal.

“Saat ini kami sedang mengembangkan berbagai manifestasi cemas. Salah satunya terorisme. Jadi, neurosains senang meneliti hal-hal aktual, salah satunya teroris. Karena itu, bukan hanya ancaman untuk Indonesia tapi juga dunia,” katanya, di Jakarta, pekan lalu.

Menurut Taruna, apabila semakin banyak orang yang berfikiran ekstrem dan terpengaruh dengan doktrin-doktrin yang tidak nyata, dunia ini akan mengalami bahaya. Karena itu, timnya kini terus mempelajari struktur otak orang yang terdoktrin tersebut, dan hal yang menyebabkan pandangan ekstrem muncul dari dalam diri.

“Penyebab orang yang terkena doktrin itu sampai bisa ingin bunuh diri. Nah, kita pelajari struktur otaknya. Ternyata, dari seluruh orientasi itu ditemukan bahwa otak ini terdiri dari 100 miliar sel saraf dengan jaringan berbeda-beda,” tuturnya.

Taruna melanjutkan, pembentukan otak orang ekstrem, karena struktur otaknya membentuk dirinya menjadi ekstrem. Ia mengatakan ada tiga pendekatan untuk proses penyembuhan orang berfikiran radikal. Yaitu neurogenesi, neurocompensation dan neuroplasticity.

Sementara penyebab seseorang melakukan aksi teror, dikatakan Taruna, ada dua hal yakni depresi dan frustasi.

“Bedanya, depresi adalah aksi di mana orang lain menekan dia, sedangkan frustrasi adalah keinginan diri sendiri yang tidak tersampaikan. Kita harus perbaiki input-nya. Kalau input-nya doktrin, ya, lakukan dedoktrinasi. Kalau input-nya stressor akibat stres, kita relay stres-nya,” ungkapnya.

Sedangkan untuk partisipan, Taruna menuturkan kalau ia dan timnya mengambil sampel dari pasien-pasien yang mengalami depresi, semisal akibat banyak utang, keluarga meninggal dunia dan berbagai faktor yang dikategorikan sebagai pemicu stres.

Ia mengaku timnya mempunyai simulasi khusus dalam melakukan doktrin, sehingga ke depannya, mereka masih harus mengamati seperti apa deekstremisme. Dari penelitian itulah, Taruna menemukan bahwa sel-sel syaraf yang mengalami struktur spesifik terhadap orang ekstrem bisa diperbaiki.

Artinya, metode penyembuhan untuk orang berpandangan radikal sudah ada dan pengobatannya melalui deradikalisasi.

“Kalau polisi melakukan deradikalisasi dengan cara radikal, itu salah besar. Karena akan membuat dia (teroris) menjadi semakin radikal. Ada cara-cara spesifik dalam pengembalian fungsi otak. Kami temukan dalam waktu 24 jam,” papar dia.

Taruna meneruskan, struktur sinaptik otak mampu berubah dari sebelumnya. Artinya, orang radikal mampu diperbaiki menjadi lebih baik.

“Makanya, saya ingin bicara dengan Wakapolri (Komjen Syafruddin). Saya rasa sudah saatnya neuro-leadership ini dipelajari oleh semua intelijen kita. Intinya, proses dengan pendekatan neurosains, kita mampu melakukan deradikalisme secara natural,” pungkasnya.

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Inilah Mobil Berbahan Bakar Air Karya Modifikasi Ustadz Hamidun


Mobil berbahan bakar air hasil karya Hamidun Nasution, warga Desa Gunung Tua Julu, Kecamatan Panyabungan Kota, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, sudah diuji dari rumahnya hingga Tasikmalaya, Jawa Barat.

Selama di perjalanan tidak ada kendala berarti yang dihadapi pria berusia 50 tahun itu. Karena itu, ia yakin mobil yang sudah dikonversi dari bahan bakar konvensional ke air itu sudah layak digunakan. Hamidun pun sudah menggunakannya sejak tiga tahun terakhir.

“Mobil yang sudah saya rakit ini sudah terbukti tidak ada kendala. Sebab saya mengendarai mobil ini dari Madina ke Aceh terus ke Jawa,” ujar Hamidun belum lama ini.

Diakuinya, biaya yang harus dikeluarkan untuk membuat converter cukup besar untuk ukurannya. Converter itu dapat mengubah air menjadi gas hidrogen yang dialirkan ke karburator. Biaya pembuatan converter yang dikeluarkan Hamidun mencapai Rp 10 juta.

“Memang pada pembuatan alat pengubah air menjadi bahan bakar mobil ini yang menempel di bagian mesin membutuhkan Rp 10 juta,” paparnya.

Di samping itu, proses pembuatannya cukup kompleks. Untuk membuat satu mobil hingga benar-benar bisa berjalan menggunakan bahan bakar air ia membutuhkan waktu hingga dua pekan.

Lebih lanjut Hamidun mengungkapkan, jika ada perusahaan yang mau membeli dan mengembangkan hasil penemuannya lebih besar lagi dia akan senang hati membuka diri.

“Harapan saya ke depannya ada perusahaan yang mau mengembangkan itu,” ungkap pria yang pernah bekerja di sebuah perusahaan automotif itu.

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Argumen Fitrah

Ilustrasi (Foto: Liputan Islam)

Mukadimah

Secara global, perlu diketahui bahwa maksud dari “argumen fitrah” yang diletakkan berdampingan dengan empirik dan rasio/akal, bukanlah fitrah aqliah, melainkan fitrah nurani. Oleh karena itu dalam argumen ini, kita tidak akan menjumpai pembahasan tentang premis minor (sughra), premis mayor (kubra) dan relasi antara minor-mayor (hadd-e wasath). Apa yang dijadikan sebagai landasan argumentasi di sini adalah inner vision (pengamatan internal) dan refleksi batin. Dengan demikian, pada pembagian di atas, tolok ukur pengklasifikasian terletak pada alat dan perangkat teologi. Artinya dalam argumen fitrah ini, kita akan menemukan ilmu sadar kita terhadap Tuhan melalui hati, perhatian dan refleksi internal, lalu melalui metode inilah kita akan membentuk makrifat tak sadar atau setengah sadar kita, terhadap Tuhan menjadi makrifat yang sadar dan aktual.

Sedangkan pada teori empirik, kita akan mengargumentasikan wujud Tuhan melalui penyaksian bias-bias fisikal dan materi (melalui proses penginderaan), juga dengan observasi dan mencermati keteraturan alam seperti pada teori keteraturan dan petunjuk (hidayah umum). Adapun pada argumen rasional, kita sama sekali tidak mempergunakan premis-premis eksperimental untuk mengaffirmasikan dan menegaskan eksistensi mutlak (wajibul wujud), melainkan hanya dengan bantuan akal yang dikolaborasikan dengan penerimaan terhadap prinsip keberadaan, seperti pada argumen wujub dan imkan (possibility), argumen illah (cause, sebab) dan ma’lul (effect, akibat) serta burhan shiddiqien.


Pembagian argumen berdasarkan asas kemanunggalan antara sâlik, maslak dan maqshad

Pada peristiwa terjadinya “sebuah gerak”, ada tiga asas yang menjadi poin perhatian yang perlu digaris bawahi, yaitu “mutaharrik (yang bergerak), masiir (jalan) dan hadaf (tujuan)”. Yang dimaksud dengan mutaharrik adalah pemikir yang berfikir dalam sebuah persoalan. Masir adalah metodologi atau wahana tafakkur dan kontemplasi. Sedangkan makshad adalah tujuan, yaitu konklusi dari pemikiran. Dari perspektif dan paradigma ini, dalil-dalil teologi dipilah menjadi beberapa bagian. Pada salah satu pembagiannya disepakati bahwa ketiga asas di atas saling terpisah satu dari yang lainnya. Pada bagian lainnya dikatakan bahwa mutaharrik dan masir adalah satu. Tetapi maksad terpisah dari keduanya. Dan pada bagian ketiga disepakati bahwa, masir dan maksad satu. Tetapi mutaharrik terpisah dari keduanya.[1]

Teori-teori semacam teori imkan, huduts (coming to be), gerak dan teori keteraturan, digolongkan dalam bagian pertama dimana pada tataran ini sâlik (pesalik), maslak (jalan suluk) dan makshad masing-masing terpisah satu dari yang lainnya.

Salah satu metode argumentasi atas wâjib al-wujud adalah ma’rifat nafs (pengenalan jiwa). Artinya bahwa manusia dapat menyadari keberadaan wâjib al-wujud melalui metode mutala’ah (pembelajaran) di dalam dirinya dan dalam perjalanan jiwanya. Lalu berargumentasi atas wâjib al-wujud dengan kontemplasi diri.[2] Dalam argumentasi semacam ini, pada hakikatnya metode dan cara yang dipergunakan adalah sama. Hanya saja tujuan terpisah dari keduanya.

Mulla Sadra memasukkan teori siddiqin pada bagian ketiga. Dikatakan bahwa maslak dan makshad adalah satu dan hanya para pesaliknyalah yang terpisah dari keduanya. Karena hal inilah sehingga dikatakan bahwa teori semacam ini merupakan teori yang paling mencakupi dan paling kuat di antara teori-teori lainnya.

Dalam kitab Asfar, ia mengatakan: “Teori yang paling kuat dan paling luas yang membahas tentang Tuhan adalah teori yang hadd-e wasath-nya (relasi antara premis minor dan premis mayor) mengakui ketiadaan sesuatu selain diri-Nya dimana pada akhirnya, metode identik dengan tujuan. Dan hal ini sebagaimana metodologi yang dpergunakan oleh para sadiqin, yaitu orang-orang yang berargumen dan bersaksi atas wajibul wujud dengan wajibul wujud”.[3]


Pertanyaan

Pada akhir wacana, ada baiknya kalau kita mencoba menjawab pertanyaan penting dalam masalah yang berkaitan dengan pembahasan di atas. Pertanyaan tersebut adalah, kenapa dan bagaimana sebagian dari filosof besar secara explisit menolak argumen atas wujud Tuhan. Sebagai contohnya Syaikh Ar-rais Abu ‘Ali Sina Ra dalam kitab Ta’liqat-nya, mengatakan: “Tidak ada teori yang bisa diargumentasikan atas wâjib al-wujud, dan Dia tidak bisa dikenali kecuali dari dirinya sendiri…”[4]

Untuk menjawab pertanyaan ini, dapat dikatakan bahwa, perolehan ilmu hushuli tentang Tuhan melalui metode rasional dan filosofis, bukan merupakan suatu hal yang tidak mungkin. Ibnu Sina pun mengungkapkan beberapa ulasan tentang Dzat Wajib. Oleh karena itu, harus dilihat paradigma apa yang menjadi alasan utama penafian teori pembuktikan wajib ini.

Penafian teori tersebut mungkin muncul karena salah satu dari asumsi berikut:
Sebagian filosof, hanya mengungkapkan teori sebatas pengertiannya sebagai teori deduksi (a-priori reasoning,) sedangkan teori induksi (a posteriori reasoning) diistilahkan sebagai dalil dan bukan teori. Dari sini bisa jadi yang dimaksud oleh mereka -seperti Ibnu Sina yang menafikan adanya kemungkinan teori wujud wajib- adalah bahwa teori deduksi tidak bisa dijadikan sebagai statement untuk dzat wajib. Hal ini karena dalam teori deduksi -sebagaimana yang telah kami isyaratkan sebelumnya- ulasan yang dikemukakan di dalamnya adalah munculnya effect (akibat) lantaran causa (sebab). Sedangkan Dzat Wâjib, Dia sendirilah yang menjadi illatul-illal (the first cause) dan bukan merupakan effect dari sesuatu yang lain. Atas dasar ini, teori deduksi tidak sesuai untuk wajib al-wujud. Dan literatur dari penjelasan tersebut adalah kitab Syifa yang mengatakan: “Tuhan tidak bisa diteorikan. Karena Dia tidak mempunyai penyebab dan tidak ada deduktifikasi tentang Nya”.[5]

Apa yang kita capai dari ilmu husuli, hanyalah persepsi dan mafhumnya belaka. Sementara untuk memahami wujud visual dan personal hanya mungkin dilakukan dengan cara penyaksian (musyahada, intuisi). Atas dasar ini, bisa jadi maksud dari penafian teori dalam pembuktian wâjib al-wujud adalah bahwa kita sama sekali tidak akan pernah mampu memastikan wujud visual dan personal Tuhan dengan menggunakan teori. Konklusi yang bisa kita hasilkan dari teori-teori ini hanyalah persepsi universal dari semisal “wajib al-wujud”, “illatul-illal” dan semacamnya. Tetapi untuk mencapai wujud wajib itu sendiri harus dilakukan melalui perjalanan irfani, bukan perjalanan akal dan teori.

Konklusi dari analogi-analogi teori yang diargumentasikan dalam kaitannya dengan wujud wajib merupakan qadhiyah hamliyah (attributive proposition), dimana subyek-subyek mereka adalah eksistensi-eksistensi mumkin dan ma’lul. Seperti misalnya dalam teori imkan yang dari proposisi ini disimpulkan bahwa “mumkinat (benda-benda mumkin) mempunyai sebuah wajibul wujud”. Dan dalam teori iliyat (kausalitas, hubungan sebab-akibat) disimpulkan bahwa “eksistensi-eksistensi effect mempunyai ilatul-ilal (the first cause)”. Sementara proposisi dalam teori keteraturan mengatakan bahwa “Alam mempunyai pengatur”.

Dengan demikian, teori-teori tersebut –pada hakekatnya dan secara langsung- adalah membuktikan makhluk sebagai predikat bukan membuktikan wujud wajib. Dan bisa jadi, dari sinilah sebagian menginterpretasikan penafian teori atas wujud wajib tersebut sebagai berikut: “Secara esensial (dzati), Dzat Wâjib tidak bisa diargumentasikan dengan teori. Tetapi secara aksidental (‘aradhi) hal tersebut memungkinkan”.[6]


Klasifikasi

Pada bagian ini, kami telah mengulas tentang beberapa kategori, yang secara ringkas akan kami isyaratkan kembali dengan klasifikasi sebagai berikut, bahwa:

Selama masih ada keinginan bertuhan dalam diri manusia, maka wacana tentang Tuhan akan senantiasa ada dan senantiasa hidup. Dalam katagori ini tidak ada jalan untuk lapuk dan letih.
Makrifat dan theology, bukan hanya merupakan pondasi religi, melainkan juga merupakan pondasi makrifat yakini. Hal ini karena oleh apa yang disepakati oleh para filosof bahwa ”Yakin terhadap adanya ma’lul (akibat) tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya pengenalan terhadap ilal (sebab)”.
Yang dimaksud dengan “dalil” –dalam pembahasan kita- adalah metode mutlak, argumentasi yang hampir setara dengan makna hujjah. Atas dasar inilah teori-teori fitrah, sadiqin dan sebagainya semuanya berada dalam deskripsi ini.

Irfan mengatakan bahwa wujud Tuhan adalah badihi (jelas dan aksiomatis). Dan semua alam merupakan manifestasi, tajalli serta saksi yang haq dan benar. Dan setiap sesuatu –meskipun sangat kecil- merupakan penampakkan dan dalil atas Nya. Sehingga dari sini bisa dikatakan: banyaknya argumentasi dan metode pembuktian wujud Tuhan dalam pandangan irfan, equivalen dengan banyaknya jumlah makhluk Tuhan.

Dalam filsafat dan kalam, interpretasi “Tuhan ada” disepakati merupakan sebuah intepretasi teoritis yang membutuhkan argumen dan teori. Argumen-argumen akal dalam kitab-kitab filsafat dan kalam tentang pembuktian wajib mempunyai tiga ragam pembahasan dalam formula yang berbeda:
1) Filosofi
2) Kalam
3) Alami.[7]

Metodologi yang dipergunakan oleh manusia untuk membuktikan wujud Tuhan ada tiga:

1) Metode kalbu atau fitrah,
2) Metode sensibel (material) atau metode tabi’at,
3) Metode akal atau metode argumen dan hikmat.[8]

Apa yang selama ini dikenal sebagai teori fitrah, pada hakikatnya bukan merupakan teori dalam istilah logika, melainkan salah satu dari metodologi theology yaitu metode kalbu, bukan metode akal. Atas dasar ini dalam bab theology, antara metode dan dalil dalam makna khas logika, terdapat korelasi umum dan khusus mutlak, yaitu setiap dalil merupakan metode. Tetapi setiap metode belum tentu merupakan dalil.

Dalam kitab-kitab filsafat, tolok ukur yang dipergunakan untuk mengaffirmasikan wujud Tuhan diletakkan pada metode-metode akal. Sedangkan metode-metode sensibility dan tabi’at juga ikut menjadi bahan pembahasan dari sisi bahwa minor akan membentuk mayor-nya akal. Seperti teori keteraturan serta teori hidayah dan petunjuk.

Sandaran para ahli kalam dalam affirmasi dan pembuktian wujud Tuhan adalah pada kejadian alam. Dan sebagiannya seperti Thusy (ra) selain bersandar pada kejadian alam juga bersandar pada possibility (kemungkinan). Dan dengan memperhatikan bahwa eksistensi-eksistensi alam bisa merupakan eksistensi essensial atau aksidensial, maka wujud Tuhan bisa diargumentasikan dalam empat keadaan: “Telah diketahui bahwa alam bisa muncul dalam bentuk esensi maupun aksidensi. Dan wujud Tuhan bisa diargumentasikan dengan setiap dari keduanya, baik melalui metode possibility ataupun metode hudust. Dengan demikian keseluruhannya menjadi empat cara”. [9]

Jumlah ikhtilaf dan kemajemukan teori, equivalen dengan jumlah kemajemukan dan ikhtilaf yang terdapat dalam hadd-wusta (middle-term) mereka. Oleh karena itu meskipun imkan, ma’luliyyat (ke-akibata-an) dan hudust saling melazimkan. Tetapi karena secara persepsi mereka berbeda antara satu dengan lainnya, maka teori-teori wujud dan imkan, ilah (sebab) dan ma’lul (akibat), masing-masing merupakan teori yang terpisah.
Literatur-literatur statement dan metodologi affirmasi wujud Tuhan terdapat dalam kitab-kitab filsafat dan kalam yang diantaranya adalah:

1) Argumen fitrah,
2) Argumen keteraturan,
3) Argumen hidayah dan petunjuk,[10]
4) Argumen gerak[11]
5) Argumen hudust nafs,[12]
6) Argumen wujub dan imkan,
7) Argumen sebab dan akibat,
8) Argumen atau burhan shiddiqin.

Tentu saja sebagian dari teori-teori tersebut di atas telah dibahas dalam berbagai wacana dan penjelasan. Seperti misalnya teori fitrah yang telah dipaparkan dengan cara-cara yang varian. Dimana sebagiannya berdasarkan pada asas intuisi dan ilmu hudhuri. Dan sepenggalnya lagi berasaskan pada ilmu husuli, yang hal ini akan dijelaskan lebih detail pada pembahasan fitrah. Sedangkan teori hudust, imkan dan siddiqin, juga telah disajikan dengan ulasan yang beragam. Misalnya -sebagaimana yang telah kami ungkapkan pada makalah-makalah sebelumnya- teori siddiqin telah dijelaskan dalam 19 ulasan. Yang keseluruhannya telah diungkapkan oleh marhum hakim rabbany Mirza Mahdi Mudarris Ashtiyany –Qudsallahu ruhuhul-‘alaa- dalam catatan kecilnya atas Sharh Mandzumah Hakim Sabzewary (ra).

Dengan memperhatikan berbagai uraian dari sebagian dalil-dalil affirmasi wujud Tuhan, bisa dikatakan bahwa telah ditemukan sekitar 34 penjelasan di dalam kitab-kitab filsafat dan kalam yang berkaitan dengan pembuktian wajibul wujud. Dimana pada pembahasan selanjutnya kami akan mencoba menelisik dan menganalisa sebagian dari dalil-dalil tersebut yang seiring dengan itu kami juga akan mengungkapkan berbagai ulasan yang berkaitan dengannya.


Argumen Fitrah

Apabila kita ingin meletakkan jenis gradasi logika dalam argumen-argumen pembuktian Tuhan, maka kita bisa mengedepankan argumen (burhân) fitri dari argumen-argumen lainnya. Hal ini karena sumber dan asas argumen ini adalah jiwa insane, yang dasarnya adalah ilmu hudhuri (knowledge by presence, presensi) dan jalannya muncul dari lubuk jiwa manusia. Dengan alasan inilah, maka argumen fitrah menduduki posisi lebih awal dari argumen-argumen lainnya. Tetapi, meskipun berdasarkan paradigma lainnya posisi argumen-argumen semacam burhân shiddiqien berada dalam barisan depan dari argumen-argumen lainnya, namun kami tetap akan mengedepankan pembahasan argumen fitrah hanya dengan mencukupkan pembahasan pada paradigma yang telah kami isyaratkan. Di sini kami akan melakukan analisa pembahasan yang sedikit lebih detail dalam kaitannya dengan tema berikut:

Beberapa Istilah tentang Fitrah

Fitriyât dalam ilmu Logika merupakan salah satu makna terminologi fitrah pada tema proposisi logika. Proposisi-proposisi fitri (fitriyât) merupakan sebuah proposisi yang meskipun keterbuktian predikat untuk subyek di dalamnya membutuhkan hadd-e wasath (middle term, relasi antara premis minor dan premis mayor), tetapi hadd-e wasath ini senantiasa hadir di dalam pikiran, dengan demikian proposisi ini termasuk dalam proposisi yakini (definitive) dan badihi (self-evident, gamblang dengan sendirinya). Oleh karena itu, para logikawan mengungkapkannya dengan interpretasi “Qadhaya qiyasâtuha ma’aha” yaitu “proposisi-proposisi yang analoginya senantiasa bersamanya”. Dalam tema teologi terkadang fitriyât berada dalam makna khas ini.

Kadangkala kata fitri berlaku untuk proposisi-proposisi primer (primitive statement). Yang dimaksud dengan proposisi-proposisi primer adalah sebuah proposisi dimana pada saat dzihn (pikiran) menggambarkan predikat dan subyeknya, maka pada saat itu pula ia membenarkannya. Ia tidak memerlukan pemikiran yang ruwet dalam menghukumi dan mengakuinya. sebagaimana yang terjadi dalam proposisi imtina’ tanaqudh (tertolaknya kontradiksi) yang mengatakan: “Ijtimâ’ wa irtifa’ naqidhâin (berkumpul dan terangkatnya dua kontradiksi secara bersamaan) adalah mustahil”.

Terkadang pula kata fitri dipergunakan dalam kaitannya dengan proposisi-proposisi akhlak, dimana dalam hubungannya dengan akal merupakan aktivitas yang actual. Seperti ketika kita mengatakan kalimat: “Bohong adalah perbuatan yang tercela”, maka kalimat tersebut merupakan sebuah proposisi fitri.

Kata fitri dalam sebagian hal, sinonim dengan kata “wijdân” (kata hati)”. Dalam terminologi ini, maksud dari fitrah adalah isyarat pada dasar dan sumber kemunculan hukum-hukum akhlak.

Kadangkala fitri sinonim dengan badihi (self-evident, gamblang dengan sendirinya), baik dalam institusi imajinasi maupun dalam batasan kejelasannya. Tentu saja apa yang sering dikatakan sebagai kejelasan badihi, biasanya yang dimaksud adalah badihiyât awwaliyah (badihi-badihi primer). Atas dasar inilah –sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya- kadangkala proposisi “Kontradiksi adalah mustahil”, biasa pula disebut sebagai fitri. Tetapi kita tidak menganggap materi sebagai fitri sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian logikawan yang memasukkannya dalam badihiyât dan yaqiniyât. Tetapi dalam institusi imajinasi, rasanya tak jarang imajinasi-imajinasi badihi seperti persepsi wujud (ada), ‘adam (tiada),terkadang kita sifatkan sebagai fitri. Misalnya ketika kita mengatakan: “Pahaman sesuatu merupakan sebuah pahaman dimana setiap individu secara fitrah mampu memahaminya”.

Terkadang maksud dari fitri adalah makrifat dan ilmu hudhuri. Seperti ketika kita mengatakan: “Adalah merupakan sebuah hal yang fitri apabila setiap orang menyadari keberadaannya”. Yang dimaksud di sini adalah setiap orang menyadari keberadaannya dengan ilmu hudhuri yang dimilikinya.
Terminologi lain dari fitrah adalah apa yang diungkapkan dalam filsafat Descartes. Maksud fitriyah dalam filsafat ini adalah sebuah pahaman, dimana akal insan secara sendirinya mampu mencerapnya dengan jelas. Seperti pahaman ihwal Tuhan, gerak, kontinuitas dan nafs. Berdampingan dengan fitriyah ini, Descartes juga mengungkapkan dua kelompok lain untuk makna-makna dan pahaman-pahaman, yang ia namakan sebagai fiktif dan obyektif.[13]

Dalam filsafat Imanuel Kant, kata fitri terkadang juga dipergunakan dalam kaitannya dengan duabelas kategori-nya.[14]

Istilah lain dari fitri, dapat kita jumpai dalam istilah Psikologi. Para psikolog sepakat bahwa terdapat empat hasrat dan keinginan yang ada di dalam diri manusia, yang terkadang keempat hasrat ini berada di bawah pengaruh “hiss” (indra)”, dan mereka adalah:

1) Keinginan beragama
2) Keinginan untuk cantik/indah
3) Keinginan untuk berilmu
4) Keinginan berakhlak baik[15]


Kesimpulan:

Tujuan dari penggunaan kata fitrah dalam derivasinya ini adalah untuk kita katakan bahwa dalam semua obyek dapat kita lihat makna setara dan universal, yaitu bahwa fitri senantiasa dikatakan untuk sebuah persoalan yang muncul dari esensi dan hakikat insan dan bersumber dari dalam diri manusia. Sedangkan secara obyektif bukan merupakan sesuatu yang perlu dicari. Dalam kaitannya dengan teologi pun ketika kita mempergunakan kalimat fitri, biasanya maksud kita adalah bahwa: manusia dalam lubuk jiwa, hakikat serta esensinya mempunyai semacam makrifat dan pengenalan hudhuri (knowledge by presence, presensi)terhadap awal keberadaan serta Tuhan, dimana hal tersebut tidak dia temukan dari tempat lain, tidak juga dari seorang pengajar. Tentu saja dalam tafsir dan penjelasan tema ini, begitu banyak penjelasan yang telah dipaparkan oleh para pakar, yang kami akan singgung pada waktu dan tempatnya tersendiri.

Komparasi antara kata tabiat, naluri dan fitrah
Meskipun ketiga kata ini terkadang saling menggantikan antara satu dengan lainnya (sering dipandang sinonim), tetapi pada hakikatnya makna dari ketiga kata ini berbeda dari satu dengan yang lainnya:

1. Natural, alami atau tabiat:

Kata tab’ atau tabi’at, biasanya digunakan dalam kaitannya dengan eksistensi tak bernyawa. Dan apabila dipergunakan pada eksistensi bernyawa maka hal ini dikarenakan adanya keuniversalan antara eksistensi bernyawa dengan yang tak bernyawa. Para filsosof dalam salah satu pembagiannya telah membagi fa’il (pelaku/subyek) menjadi dua bagian yaitu: fa’il tabi’i (natural) dan fa’il iradi ( mempunyai kehendak). Yang dimaksud dengan fa’il tabi’i adalah eksistensi-eksistensi yang secara natural mempunyai kelayakan efek yang khas dan tertentu. Tetapi dia tidak mempunyai kehendak dalam dirinya sendiri untuk melahirkan pengaruh tersebut. Misalnya “api” apabila diperhadapkan dengan “panas” maka hal ini termasuk dalam fa’il tabi’i. Dan dalam kaitannya dengan manusia, ketika kita mengatakan: “sexsual desire (hasrat seksual)” merupakan sebuah hal yang wajar. Dan secara alami manusia mempunyai kelayakan atasnya”. Maka yang dimaksud di sinipun demikian juga yaitu bahwa manusia tidak mempunyai kemampuan sendiri untuk memunculkan keberadaan atau ketiadaan hasrat seksualnya. Meskipun dia mempunyai kekuasaan dalam mempergunakan dan memanfaatkannya.

2. Naluri (gharizah)

Kata ini lebih banyak dipergunakan dalam kaitannya dengan hewan selain manusia, dan sama sekali tidak dipergunakan pada in-organik dan tumbuhan. Tetapi kadangkala dipergunakan pula pada manusia. Meskipun hingga sekarang belum jelas substansinya. Tetapi -secara global- biasanya yang dimaksud dengan instink (gharizah, naluri) adalah sebuah keadaan setengah sadar yang ditemukan pada binatang, yang dipergunakan untuk menuntun mereka dalam menjalani kehidupan. Misalnya lebah yang membuat rumah dengan konstruksi dan arsitektur yang detail dan cermat, cara anak binatang menyusu dari induknya dan hal-hal semacamnya, kita namakan dengan instink.

3. Fitrah

Kata ini sangat jarang dipergunakan pada selain manusia. Aspek-aspek fitri ini, merupakan aspek yang berhadapan dengan instink dan jiwa manusia. Dan posisinya berada dalam esensi manusia. Instink dan fitrah, keduanya biasa dipergunakan pada manusia. Hanya saja, instink dipergunakan dalam batasan materi dan hewani. Sedangkan fitrah, dipergunakan pada masalah-masalah trans-hewani, hasrat serta keinginan-keinginan yang lebih tinggi dan lebih suci. Persamaan antara fitrah, instink dan tabi’at adalah bahwa ketiganya merupakan masalah takwini yang berbaur dengan penciptaan eksistensi. Perbedaannya adalah tabi’at lebih luas dari kedua lainnya apabila dilihat dari obyek penggunaannya. Karena instink dan fitrah sama sekali tidak bisa dipergunakan dalam in-organik dan tumbuhan. Sedangkan tabi’at tidak demikian. Dapat dikatakan bahwa kekhususan instink terletak pada penggunannya yang berada pada batasan dimensi kehidupan materi hewan. Sedangkan fitrah, dipergunakan khusus pada manusia dengan dimensi-dimensi kehidupan mukaddas dan mulianya.[16]


Terjaganya Fitrah dari Kesalahan dan Khianat

Uraian ketiga dalam penjelasan filosofis argumen fitrah adalah bahwa fitrah mencintai kesempurnaan murni dan sahabat kinasih yang tanpa batas. Dari satu pihak, fitrah bukanlah penghianat dan pelanggar, dan apa yang dikatakan olehnya tidak akan pernah meleset, benar dan pasti ada. Dengan demikian, kesempurnaan murni dan tanpa batas (Tuhan) itu ada.

Untuk menyempurnakan penjelasan ini, selain kelaziman adanya cinta dan hasrat kepada Tuhan dalam diri semua manusia harus disempurnakan, terproteksi dan terhindarnya fitrah dari khianat serta ke-ismat(suci)-annya dari kesalahan pun harus dibuktikan. Untuk membuktikan kesucian fitrah ini sebagian memanfaatkan analogi dengan mengatakan bahwa: fitrah dalam diri manusia adalah sebagaimana instink yang terdapat pada binatang dan tumbuhan. Tidak sebagaimana adanya rasa haus ketika tidak ada air, lapar ketika tidak ada makanan dan sakit apabila tidak ada obat. Fitrah adalah pencari kesempurnaan dan keinginan bertuhan dalam diri manusia juga merupakan petunjuk terhadap adanya kesempurnaan mutlak dan kesempurnaan tanpa batas tersebut. Tetapi harus diperhatikan bahwa analogi di atas hanya sebagaimana istiqrâ’ naqis ghairi mu’allal, sama sekali tidak meyakinkan dan dalam Filsafat serta ilmu akal hal tersebut tidak bisa dijadikan sandaran.


Beberapa Poin Penting

1. Dalam semua pembahasan rasional tentang fitrah, terdapat poin-poin penting yang layak untuk dicermati yaitu affirmasi wujud Tuhan sama sekali bukan dengan makna wusul (penyatuan) kepada Nya. Hal ini karena yang dibicarakan dalam penalaran (istidhlâl, reasoning) ini adalah pemahaman dan keberakalan. Bukan masalah perolehan dan kehadiran (hudhur). Oleh karena itu, ketiadaan wusul kepada esensi tak terbatas, sama sekali bukan berarti menunjukkan ketiadaan husul (pencapaian) Nya.

2. Pada sebagian kitab setelah penjelasan argumen filosofis, seperti teori imkan (possibility, kemungkinan) atau illah (sebab), telah dikatakan bahwa dalil ini merupakan dalil yang fitri dan badihi (gamblang dengan sendirinya). Harus diperhatikan bahwa maksud dari kefitrian dalam masalah ini adalah apa yang dikatakan sebagai terminologi logika “fitrah” sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya, yaitu merupakan sebuah proposisi yang membutuhkan dalil. Tetapi hadd-e wasath (middle-term) analoginya sama sekali tidak akan pernah tersembunyi dari pikiran (proposisi yang analoginya berada bersamanya).

3. Apabila yang kita maksud dari fitrah adalah fitrah hati, dan bukannya fitrah rasio, berarti interpretasi dari “argumen fitrah” tidak akan benar. Dan sebagai penggantinya kita harus mempergunakan “metode fitrah”.


Ingkar Fitrah

Kami akan menutup pembahasan ini dengan mengungkapkan sekelumit tentang ingkar fitrah. Meskipun pembicaraan kami sebelumnya berkisar pada pembahasan fitrah teologi. Tetapi secara logis pengingkaran universal akan meniscayakan pada terjadinya pengingkaran partikular pula. Dari sini kami akan mencoba melihat apakah kita mempunyai jawaban di hadapan para pengingkar fitrah dalam makna universalnya ataukah tidak.

Dalam kategori ini pembicaraan bisa dibataskan pada dua lingkup: salah satunya adalah pertanyaan tentang “apakah fitrah itu ada?” Dan satunya lagi adalah pertanyaan tentang “apakah fitrah itu?”. Dengan ungkapan lain, kadangkala perbincangan berkisar pada fitrah (dalam tema “keberadaannya”) dan terkadang pada quiditasnya. (dalam tema “esensinya”)

Ingkar fitrah pun tak jarang muncul dalam makna bahwa sesuatu yang bernama “fitrah” sama sekali tidak ada dalam diri manusia, dan kadangkala dalam makna bahwa quiditas fitrah itu sendiri yang in-konsisten dan tidak jelas bagi kita. Ketika pembicaraan telah berkisar pada wujud fitrah, maka kita harus mengetahui dengan pasti apa maksud dari fitrah.

Apakah maksud kita adalah “wijdân (kata hati)”? Dengan demikian berarti kita harus melihat wijdân itu apa? Ataukah maksud kita tentang fitrah adalah “ruh dan jiwa”? Atau maksud kita adalah “ilmu hudhuri”? Pada kali inipun kita harus memperhatikan kategori hasrat dan ilmu –keduanya- dan kemudian bertanya apakah yang dimaksud dengan ke-eksistensi-an dan ketidak-eksistensi-an fitrah adalah keberadaan “hasrat-hasrat fitri” ataukah keberadaan “pencerapan fitri? Perbincangan dalam setiap bab dari tema-tema di atas menuntut pada keluasan waktu.

Tetapi terdapat satu poin yang harus diketahui secara global, yaitu bahwa prinsip keberadaan seperangkat hasrat, persepsi fitri dan karunia Tuhan di dalam diri manusia adalah suatu hal yang tidak bisa dipungkiri. Dan ini merupakan sebuah permasalahan yang akan menjadi jelas dengan ilmu hudhuri kita, sehingga dari sini pula tidak akan membawa kepada kesalahan. Tentu saja bisa jadi akan muncul pertanyaan: Bagaimana kita bisa mengetahui ilmu hudhuri orang lain.

Dan bagaimana kita bisa yakin bahwa orang lain pun sebagaimana kita mempunyai seperangkat hasrat dan pencerapan? Tentu saja sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya, ilmu hudhuri senantiasa akan menciptakan keyakinan hanya untuk orang yang alim. Tetapi kita pun bisa menetapkan argumen adanya fitrah (hasrat dan pencerapan) dalam diri orang lain dengan menyaksikan efek dan perilaku dari selain kita, dan dengan bantuan penalaran yang logis. Sebagaimana ilmu-ilmu eksperimen yang memperoleh kaidah universalnya melalui observasi yang cermat, penyaksian terus-menerus dan dengan metode raf’ (eliminasi) dan wadh’ (disposisi)[17]

Filsafat-filsafat dan maktab-maktab semacam filsafat Hegel, bertolak pada prinsipnya sendiri tidak bersedia menerima fitrah sebagai sebuah hal yang konstan dan tak berubah. Berhadapan dengan pendapat ini kita akan menjatuh-leburkan prinsip dialektik mereka. Dengan demikian prinsip berfikir mereka akan rusak dengan sendirinya.

Pada bab esensi fitrah pun, banyak pertanyaan manusia yang bisa diselesaikan dengan ilmu hudhuri. Misalnya setiap individu bisa memahami hasrat fitrinya seperti: hasrat pada kebaikan dan mencari hakikat. Atau pada katagori pemahaman dan pencerapan, dengan melewatkan informasi-informasi hudhuri yang ada dalam diri, lalu meletakkan mereka (hasrat pada kebaikan, pencarian hakekat, dan …) dalam titik perhatian. Jangan Anda mengatakan bahwa perhatian semacam ini secara lazim akan membentuk ilmu hudhuri menjadi ilmu hushuli, kemudian substansi keyakinan akan menjadi sirna darinya. Tidak senantiasa demikian, bahwa perhatian terhadap ilmu hudhuri dengan sendirinya akan merupakan sebuah pengetahuan husuli, melainkan informasi-informasi hudhuri bisa diletakkan sebagai titik perhatian dan inti hudhuri kemudian menetapkan hukum untuk masalah tersebut dimana seratus persen sesuai dengan realitas dan hakekat, dan sama sekali tidak akan tercabut dari keyakinan terhadapnya. Sebagaimana dalam proposisi dan hukum-hukum logika dikatakan bahwa: analogi hukum kita adalah bahwa insan adalah universal.

Sebagian mengatakan: quiditas fitrah manusia harus dilihat dari cermin historisnya dan mereka inilah manusia-manusia yang riil yaitu yang telah membentuk sejarah. Sedangkan mereka yang berada dalam pencarian fitrah dan pengenalan quiditas manusia hanyalah hendak mencongkel panggung sejarah. Dan mereka yang mencari apa yang tidak bisa didapatkan berarti akan berjalan tanpa tujuan sehingga akibatnya orang-orang yang mereka perkenalkan adalah insan simbolik dan bukan realistik.

Dengan ringkas kami akan mengatakan bahwa: perbedaan antara ada dan apa, demikian juga perbedaan antara tidak seharusnya dan tidak ada, kondisinya sebagaimana sebuah lobang yang tidak akan pernah penuh. Dan meletakkan tidak seharusnya pada tempat tidak ada merupakan sebuah kesalahan yang fatal. Demikian pula tidak layak menyetarakan antara ada dengan harus. Dan bukankah ini termasuk kerancuan –sebagaimana yang diungkapkan oleh para logikawan dalam bab mughâlathah (fuzzy logic)- antara mâ-bil-’aradh (aksidensi) dengan mâ-bil-dzat (dzati, esensi) ?

Jika ketidaksucian merupakan esensi sejarah itu sendiri dan bukan aksidensi-nya, apakah ini berarti bahwa ketidaksucian adalah quiditas insan lalu dzat dan fitrah akan membentuknya? Ketika kita mengatakan: “Yang jelek dan yang buruk harus dikenali secara formal dari dalam diri manusia. Dan dalam pengenalan manusia harus disepakati pula adanya peran untuk mereka, dan manusia harus didefinisikan sedemikian rupa hingga ketidaksucian tersebut merupakan suatu hal yang wajar dan abadi untuknya, dan bukannya sebagai sebuah masalah yang bisa berkarat dan tak layak diperhatikan”.

Apakah kita sadar bahwa ternyata kita telah mencampur adukkan antara tema “keberadaan sesuatu” dengan tema “esensi sesuatu”? Bukankah telah dikatakan dalam logika bahwa bisa jadi sebuah predikat merupakan dâimul wujud (wujud yang senantiasa ada) bagi subyeknya, tetapi tidak bersifat dzati dan esensial? Apabila kita ingin meletakkan definisi hakikat insan dan “esensinya” dengan “keberadaan”, sebagaimana yang direfleksikan oleh sejarah, apakah hal ini benar-benar memungkinkan? Apakah dalam definisi seperti ini tidak akan terdapat kontradiksi? Apakah ini bukan apa yang dikeluarkan dalam discourse para Eksistensialist semacam Sartre dan Heidegger? Apakah klaim ini tidak meniscayakan pada ingkar fitrah? Tentang apa yang kita katakan bahwa “panggung historis merupakan panggung alami yang tidak terkontaminasi oleh campur tangan dan kesalahan faktor-faktor lain”, dari mana datangnya? Apakah klaim ini bukan didasarkan pada kaidah yang keliru semisal “al qasru la-yadum” (peristiwa non-alami tidak mungkin berlangsung terus-menerus) dan “mayoritas peristiwa non-alami adalah mustahil”?[18]

Kita juga jangan mengesampingkan satu poin berikut bahwa para arif dalam anthropologi menyepakati bahwa seluruh apa yang dimiliki dunia merupakan pintu untuk kejadian-kejadian non-alami, dengan berdasarkan pada asas ini, dari mana bisa dikatakan bahwa panggung historis merupakan sebuah panggung alami?
Kesimpulan dari perbincangan kita adalah bahwa kita sama sekali tidak akan pernah mampu menemukan metode (jalan) sempurna untuk pengenalan fitrah dan esensi insan hanya dengan memperhatikan sejarah, meskipun sejarah telah menunjukkan kepada kita “latar belakang manusia”. Tetapi hal ini sama sekali tidak pernah menguak tabir tentang “apa manusia itu”. Di sinilah untuk kesekian kalinya kita harus memaksakan diri untuk mengetahui peran penting pengenalan hudhuri dalam pengenalan insan, dan memperdengarkan kepedulian refleksi internal dan makrifat internal dalam pembentukan human science dari pandangan Islam. (antara aql, âqil dan ma’qul) pemikir (mutafakkir) tidak akan pernah terpisah dari pikirannya (tafakkur), oleh karena itu pembagian ini tidak bisa dengan mudah diadaptasikan dalam semua persoalan; Menurut Ayatullah Jawadi Amuli (Baca Makalah)


Catatan Kaki:

[1] Sebagian dari Sâhib Nadzar (pemikir otoritatif) sepakat bahwa tiga pembagian ini merupakan pembagian yang dangkal dan eksternal saja, karena berdasarkan kebersatuan tentang Mabda’ dan Ma’ad.
[2] .Yang dimaksud di sini adalah pengenalan husuli (ilmu yang dicapai melalui pe???) dan bukan penyaksian hudhuri dan perolehan wijdâni.
[3] .Asfar, J. 6, hal. 13.
[4] .Hal. 70, Pengenalan Filsafat, Muhammad Taqi Misbah Yazdi, jilid 2, hal. 329.
[5] . Syifa, hal. 348, Pasal 4, Makalah ke delapan.
[6] . Âmuzesy-e Falsafah, J. 2, hal. 332.
[7] Mula ‘Abdur-razaq Lahijy mengatakan: “Ada tiga metode terkenal dalam pembuktian wujud wajib yaitu: metode mutakalimah, metode hukama alami dan metode hukama ilahy (Filosof), Shawariqul-ilham, hal. 494,495.

(Irib/Maktabindo/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Perusahaan Pertanian dan Industri Sarakhs


Perusahaan pertanian dan industri Sarakhs didirikan pada tahun 1365 Hs dan terdaftar dengan nomor 1302. Tujuan pendirian perusahaan ini adalah untuk menjalankan program pertanian, perkebunan, peternakan dan program pembangunan yang sesuai dengan prinsip ilmu pengetahuan.

Aktivitas utama perusahaan pertanian dan industri Sarakhs adalah pertanian dan perkebunan. Kedua bidang ini menghasilkan produk-produk pertanian, membuka lahan perkebunan, menanam bunga, pepohonan, membeli dan menyewakan lahan pertanian, hutan dan padang rumput, dan bangunan-bangunan terkait, serta pelayanan pergudangan, penurunan dan pengangkutan barang, juga transportasi.

Perusahaan ini sekarang mengerjakan aktivitas pertanian di atas lahan seluas 1.360 hektar dan mengelola sekitar 29 sumur untuk pengairan.


Unit Pertanian dan Perkebunan

1. Unit pertanian

Unit pertanian perusahaan pertanian dan industri Sarakhs memiliki sekitar sembilan sumur pengairan dan mengolah sekitar 600 hektar lahan. Sebagian besar produk yang dihasilkan adalah gandum, alfalfa (tanaman untuk pakan ternak), jagung, rapeseed dan triticale.


2. Unit Perkebunan Pistachio

Perusahaan pertanian dan industri Sarakhs saat ini merupakan salah satu produsen terbesar pistachio di Sarakhs yang menggunakan 200 hektar lahannya untuk menanam tanaman ini. Pistachio yang dihasilkan unit ini lebih banyak dari jenis kacang hazel, kaleghochi dan berbentuk oval yang memiliki khasiat jauh lebih tinggi dibandingkan kacang-kacangan dan bahan berprotein lain. Sekarang, perusahaan pertanian dan industri Sarakhs memiliki tiga kebun pistachio forodghah, kachouli dan hutan. Dikarenakan sumber air dan tanah yang sesuai, maka kebun-kebun pistachio itu dibuka.


Prestasi

Perusahaan pertanian dan industri Sarakhs pada tahun 1391 Hs (2012) berhasil memanen 430 ton alfalfa, 54 ton rapeseed, 698 ton gandum, 1.335 ton jagung dan 103 ton pistachio. Perusahaan ini juga terpilih sebagai produsen terbaik produk rapeseed dan pistachio, dan mencapi level tertinggi dalam produksi alfalfa di kota Sarakhs.

(Astan-News/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Sekilas Satelit Palapa

Palapa B1

Palapa ialah nama bagi sejumlah satelit telekomunikasi geostasioner Indonesia. Nama ini diambil dari "Sumpah Palapa", yang pernah dicetuskan oleh Patih Gajah Mada dari Majapahit pada tahun 1334.

Satelit pertama diluncurkan pada tanggal 8 Juli 1976 oleh roket Amerika Serikat dan dilepas di atas Samudera Hindia pada 83° BT. Satelit pertama dari 2 satelit itu bertipe HS-333 dan bermassa 574 kg.

Kemudian 4 satelit dari seri kedua dibuat, yang kesemuanya dari tipe Hughes HS-376. Ketika peluncuran Palapa B2 gagal, satelit ke-3 diatur. Awalnya bernama Palapa B3 dan dijadwalkan untuk STS-61-H, akhirnya diluncurkan sebagai Palapa B2P. Sementara itu Palapa B2 diperbaiki kembali oleh STS-51-A, diperbaharui dan diluncurkan lagi sebagai Palapa B2R.

Palapa D dipesan[1] pada tanggal 29 Juni 2007 oleh perusahaan Indonesia PT Indosat Tbk, kepada Thales Alenia Space. Itu adalah Spacebus 4000B3 yang akan dibuat di Pusat Luar Angkasa Cannes Mandelieu.

Astronot Dale A. Gardner memegang kertas bertulisan "For Sale" setelah Palapa B2 diperbaiki (1984).


No. Nama Mulai Operasi
(diluncurkan)
Akhir Operasi Slot Orbit Pengelola Wahana luncur Pembuat Keterangan
1. Palapa A1 8 Juli 1976 Juni 1985[2] 83° BT Perumtel Delta-2914 Hughes (HS-333)[3] Diluncurkan dari Kennedy Space Center, Tanjung Canaveral, AS.
2. Palapa A2 10 Maret 1977 Januari 1988[2] 77° BT Perumtel Delta-2914 Hughes (HS-333)[3]
3. Palapa B1 18 Juni 1983[4] 1990 108° BT Perumtel Challenger F2
(STS-7)
Hughes (HS-376)[3]
4. Palapa B2 3 Februari 1984
8:00 EST
Gagal Perumtel Challenger F4
(STS-41-B)
Hughes (HS-376)[3] dilepas dari wahana pada 16:00 EST[5], gagal dan dijemput oleh STS-51A pada November 1984[2]
5. Palapa B2P 21 Maret 1987 Februari 1996[2] 113° BT Perumtel
Satelindo
Delta 6925 Hughes (HS-376) Beralih kepemilikan ke Satelindo pada 1993,[3] dan diganti Palapa C1.[2]
6. Palapa B2R 13 April 1990 2000 108° BT Perumtel Delta 6925 Hughes (HS-376) Merupakan Palapa B2 yang diperbaiki oleh Sattel Technologies,[2]
7. Palapa B4 14 Mei 1992
7:40 WIB[6]
2005[3] 118° BT Telkom Delta II-7925 Hughes (HS-376) Diluncurkan dari Kennedy Space Center.
8. Palapa C1 31 Januari 1996 1999 113° BT Satelindo Atlas-2AS Hughes (HS-601) Diluncurkan dari Kennedy Space Center LC-36B.[7]
Gagal beroperasi sehingga pada Januari 1999 beralih kepemilikan ke Hughes dan berganti nama menjadi HGS3.
Desember 2000 disewa Kalitel dari AS di 50º BT dan menjadi Anatolia 1, Agustus 2002 disewa Pakistan di 38ºBT menjadi Paksat1.[8]
9. Palapa C2 15 Mei 1996 2011[7] 113° BT Satelindo
Indosat
Ariane-44L H10-3 Hughes (HS-601) Diluncurkan dari Kourou, Guyana Perancis.[7]
Orbit akan dipindahkan ke 105,5° BT karena 113° BT akan ditempati Palapa D.[9]
10. Palapa D 31 Agustus 2009 16:28 WIB 2024 113° BT Indosat Long March 3B Thales Alenia Space
(Spacebus-4000B3)
Diluncurkan dari Xichang Satellite Launch Center (XSLC), Cina.
Menggeser orbit Palapa C2 dari 113° BT ke 105,5° BT.
11. Palapa E Rencana: 2016 - 150,5° BT Indosat - Orbital Sciences Corporation (USA) -


Rujukan

1. ^ Communiqué de presse Thales Alenia Space
2. ^ a b c d e f (Inggris) NASA: Palapa Program, diakses 4 September 2009.
3. ^ a b c d e f (Indonesia) Tonda Priyanto, 2005, Perjalanan TELKOM Dalam Mengoperasikan Satelit Komunikasi Untuk Melayani Kepulauan Indonesia dalam Online Journal of Space Communication, diakses 8 September 2009.
4. ^ (Inggris) Gunter Dirk Krebs, (31-03-2009), Palapa-B 1, 2, 2P, 2R, 4 / Palapa Pacific / Agila 1 / NewSat 1, dikunjungi 8 September 2009.
5. ^ (Inggris) Absolute Astronomy: STS-41-B, diakses 8 September 2009.
6. ^ (Inggris) Nasa, National Space Science Data Center, Palapa B-4, diakses 8 September 2009.
7. ^ a b c Gunter Dirk Krebs, Palapa-C 1, 2 / HGS 3 / Anatolia 1 / Paksat 1, dikunjungi 8 September 2009.
8. ^ (Indonesia) WanXP (27-10-2007), Palapa C1, Riwayatmu Kini, diakses 8 September 2009.
9. ^ (Indonesia)Muhammad Firman dan Muhammad Chandrataruna, 03-09-2009, Satelit Palapa D Indosat alami kegagalan, diakses pada 10 September 2009.

(Wikipedia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Tahun 2020, Indosat Luncurkan Satelit Palapa N-1 Dari Tiongkok (China)

Penandatanganan pengadaan satelit Palapa N-1 Indosat di Jakarta, Rabu (17/5). (Dok. Indosat Ooredoo)

Operator telekomunikasi Indosat Ooredoo akan meluncurkan satelit Palapa N-1 pada 2020. Satelit dengan investasi senilai US$ 200 juta tersebut akan diposisikan sebagai pengganti dan generasi penerus dari satelit Palapa-D pada slot orbit 113 derajat Bujur Timur.

Karena itu, Indosat menggandeng PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) untuk membentuk perusahaan patungan (joint venture) yang diberi nama PT Palapa Satelit Nusa Sejahtera (PSNS). Perusahaan patungan tersebut yang menadatangani kerja sama pemebelian satelit kepada produsen satelit terkemuka asal Tiongkok, China Great Wall Industry Corporation (CGWIC). Penandatanganan disaksikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Mekominfo) Rudiantara.

Alexander Rusli, president director and CEO Indosat Ooredoo, mengatakan, satelit Palapa N-1 akan menjadi keempat yang berada di slot tersebut. Nantinya, ada C1, C2, Palapa-D, dan N1. Satelit Palapa N-1 akan memiliki ekosistem terbesar di Indonesia karena memiliki 25 juta base yang pointing terhadap satelit yang berada di 113 derajat Bujur Timur.

“Kami bekerja sama dengan PSN untuk meluncurkan satelit ini yang intinya mencari skala karena banyak sekali resources, sehingga operation satelit bisa di-share,” ujar Alex, panggilan akrab Alexander, saat acara Penandatanganan Kerja sama Antara Indosat Ooredoo dan CGWIC di Jakarta, Rabu (17/5).

Menurut dia, satelit akan mengoptimalkan sumber daya spektrum yang ada untuk menyediakan layanan penyiaran (broadcast) dan pita lebar internet (broadband) ke seluruh wilayah Indonesia. Teknologi yang digunakan juga terbaru dalam industri satelit, yakni High Throughput Satellite (HTS).

“Dari sisi investasi sekitar US$ 200 juta. Satelit ini akan memiliki kapasitas 12 Gbps. Memang dari sisi kontribusi dari bisnis satelit hanya sekitar 1% dari total pendapatan kami, tetapi dari sudut kelengkapan yang kami berikan kepada B2B customer memang sangat penting,” ujarnya.

Alex menjelaskan, CGWIC akan mengerjakan dan mengorbitkan satelit untuk mendukung proyek strategis. Satelit tersebut akan dikembangkan dengan menggunakan Chinese DFH 4 Bus yang sudah teruji dan akan diluncurkan dengan Long March 3B dari Xichang Satellite Launch Center di Tiongkok.

Secara umum, lanjut dia, sebagian besar masyarakat Indonesia hanya mengetahui bahwa Indosat Ooredoo merupakan operator seluler dan telekomunikasi digital. Pada Rabu (17/5), pihaknya menegaskan dan menyampaikan kembali salah satu profil bisnis penting, yakni sebagai penyedia layanan satelit di Indonesia.

“Hal ini menggarisbawahi komitmen kami kepada para pelanggan, terutama pelanggan bisnis, keberlanjutan layanan dan kerja sama jangka panjang dengan mereka,” tambah dia.


Seleksi

Sementara itu, CEO PSN Adi Rahman Adiwoso mengungkapkan, terpilihnya CGWIC sebagai perakit satelit Palapa N-1 telah melewati proses tender yang ketat. CGWIC dipilih karena memiliki pengalaman yang telah teruji.

“CGWIC memiliki reputasi yang bagus. Mereka memiliki teknologi yang bisa diandalkan dalam perakitan satelit. Sedangkan Long March yang merupakan perusahaan peluncur juga memiliki reputasi yang bagus. Long march itu 60 kali launch gak pernah failure. Jadi, kami yakin peluncuran satelit akan berhasil dan berjalan normal,” ungkap Adi.

Adi menambahkan, menjadi sebuah kehormatan bagi PSN untuk dapat bekerja bersama dengan Indosat Ooredoo dalam membentuk perusahaan joint venture yang bernama PSNS. Perusahaan patungan tersebut yang akan melakukan pengadaan dan mengoperasikan satelit Palapa-N1, sebagai pengganti satelit Palapa-D.

“PSN selalu membangun kerja sama yang erat dengan mitra strategis untuk melanjutkan komitmen di industri satelit. Melalui kolaborasi ini, kami berharap mampu memecahkan masalah kesenjangan digital yang ada di masyarakat kita, sekaligus mempercepat penetrasi akses internet ke seluruh wilayah Indonesia,” terang Adi.


Keterjangkauan

Lebih jauh, Menkominfo pun mengapresiasi langkah yang diambil oleh Indosat. Sebab, bisnis satelit sebenarnya penuh risiko, terutama kegagalan dalam peluncuran. Tetapi, dia melihat, apa yang dilakukan merupakan langkah tepat bagi Indosat untuk menjembatani kesenjangan akses internet di Indonesia.

“Bisnis satelit mulai ramai sekitar dua tahun terakhir ini. Tapi, memang, risikonya tinggi kalau gagal. Pemerintah tidak berpikir dari financial feasible saja, tetapi pemerintah berpikir bangun saja dulu, nanti akan create demand. Dengan demikan, confidence dari stakeholder makin tinggi,” ungkap Rudiantara.

Dia juga mengingatkan kepada para pemain bisnis satelit tidak ragu-ragu dalam menginvestasikan dana untuk membangun infrastruktur satelit. Sebab, jika infrastrukturnya sudah tersedia, otomatis demand akan terbuka dengan sendirinya. Apalagi, selama ini, Indonesia kekurangan pasokan satelit.

Pasokan satelit pun harus bisa dikejar dua tahun ke depan agar kebutuhan yang besar bisa terpenuhi di Tanah Air. “Bagaimana kita bisa mengkoneksikan internet kecepatan tinggi bagi seluruh masyarakat. Dengan cara mengguyur Indonesia dengan infrastruktur, demand akan tumbuh dengan sendirinya,” pungkas Rudiantara.

(Berita-Satu/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Pemuda Ini Sebut Penakluk Ransomware Wannacry. Simak!

Marcus (kiri) sang penjinak ransomware wannacry

Ransomeware WannaCry berhasil dijinakkan pemuda usia 22 tahun yang awalnya hanya mau dipanggil dengan nama samaran MalwareTech. Kini identitasnya terungkap sudah.

Namanya adalah Marcus Hutchsins. Ia dianggap sebagai pahlawan setelah menaklukkan WannaCry agar tidak menyebar lebih jauh. Marcus mengaku melakukannya tanpa sengaja.

Awalnya dia menganalisis sampel WannaCry dan menemukan kalau ransomeware itu terhubung dengan alamat web yang tak terdaftar. Ia lalu mendaftarkan domain itu, sesuatu yang biasa dilakukannya untuk menyelidiki ancaman siber.

Aksi itulah yang ternyata menjadi cara jitu menghentikan ulah WannaCry. Sang ransomware mendadak menjadi non aktif begitu mengenali domain sudah terdaftar. Maka infeksi WannaCry pun sangat jauh melambat setelah sempat menginfeksi sekitar 200 ribu komputer di 150 negara.

Dikutip detikINET dari Guardian, Marcus awalnya tidak mau mengungkap identitasnya. Namun media di Inggris berhasil mencari siapa dia dan sekarang mau tak mau, Marcus pun tampil ke publik.

Marcus tinggal di rumah keluarganya, di sebuah kamar tidur kecil merangkap tempat kerjanya di selatan Inggris. Dia bekerja jarak jauh untuk perusahaan keamanan asal Amerika Serikat, Kryptos Logic.

“Aku keluar untuk makan siang bersama temanku dan kembali di sore hari ketika melihat banyak artikel mengenai rumah sakit di Inggris kena serangan. Aku pun menemukan sampel malware itu dan melihatnya terkoneksi pada domain yang spesifik, yang tak terdaftar,” kisahnya yang kemudian mendafatarkan domain itu.

“Aku sebenarnya tak tahu apa yang kulakukan saat itu, bahwa mendaftarkan domain ternyata bisa menghentikan malware itu. Jadi dalam CV-ku nanti aku hanya bisa menulis pernah secaratidak sengaja menghentikan serangan siber internasional,” candanya.

(Detik-Inet/Gerilya-Politik/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Ilmuwan Muslim Rintis Konsep Batas Wilayah


Garis batas wilayah menentukan teritorial negara. Para ilmuwan Muslim berhasil merintis konsep tentang batas wilayah. Ini adalah kontribusi di bidang ilmiah untuk mempertegas batas wilayah.

Terdapat beberapa kriteria, mulai dari kepadatan penduduk, luas, serta produktivitas lahan pertanian. Menurut Ralph Brauer, kepemilikan atas suatu wilayah harus diiringi kebijakan yang melindunginya. Misalnya, warga setempat memperoleh hak pengelolaan lahan produktif. Kemudian, pe nguasa mengenakan pajak atas tanah (kharaj) di sana.

Menurutnya, hal itu sudah dipraktikkan di dunia Islam sejak masa Khulafaur Rasyidin. Adalah Khalifah Umar bin Khattab yang memelopori ketika memperluas wilayah. Dan terus berkembang hingga masa selanjutnya. Ilmuwan menopang pemerintah dengan kemampuan mengukur luas wilayah dalam penentuan batas.

Selain itu, para ilmuwan Muslim telah mampu mengukur luas wilayah yang berguna dalam menentukan garis batas. Naskah ilmiah mencantumkan istilah yarad, sahm, jarib, atau qabiz untuk menghitung jarak dan panjang sebuah area.

Abu Fida, ilmuwan abad ke- 13, menemukan miqyas, yakni alat yang digunakan untuk mengukur luas wilayah. Menurut Brauer, sejarawan kontemporer sangat mengagumi keahlian ilmuwan Muslim dalam memperkirakan jarak dan letak wilayah.

Dalam kaitan ini terdapat ja lin an kerja sama antara ahli geografi dan pakar matematika. Prestasi lainnya adalah pengembangan metode pengukuran garis lintang dan bujur yang diadopsi dari pengetahuan Yunani kuno.

Al-Khawarizmi dikenal luas sebagai tokoh yang menyusun peta bumi disertai posisi dan letak wilayah. Karya ini berpe ngaruh besar bagi kemajuan bidang geografi. Kondisi di wilayah perbatasan dan kawasan terluar tak luput dari pengamatannya.

Sementara itu, Sulayman al- Tajir pada 851 memberikan deskripsi mendalam tentang situasi wilayah, penduduk, dan kehidupan sosial ekonomi di wilayah Timur Jauh.

(Republika/Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Stan Pusat Pengembangan Teknologi dan Seni Quran Pada Konferensi Malaysia


Stand Pusat Pengembangan dan Kemajuan Teknologi dan Seni Quran Jihad Akademisi pada Konferensi dan Pameran Internasional Kedua Para Pengusaha Muslim (SID) di Kuala Lumpur, ibukota Malaysia memajang berbagai produknya di hadapan publik.

Menurut laporan IQNA, Konferensi dan Pameran Internasional Kedua Para Pengusaha Muslim, terselenggara hari ini, 11 Mei, di hotel Aloft, Kuala Lumpur dengan kerjasama Pusat Perkembangan Teknologi dan Seni Quran Jihad Akademisi Iran (SID).

Pada stan Pusat Pengembangan dan Kemajuan Teknologi dan Seni Quran Jihad Akademisi telah telah dirilis dan ditawarkan berbagai produk bagian dari Jihad Akademisi diantaranya adalah pusat pertumbuhan modal, Royan Institute, Robin Produk Institute, Institut kasmir dan wanita surgawi.

Stan ini juga mencakup produk dari para pengusaha Iran yang bermukim di Malaysia dalam berbagai bidang seni.











(IQNA/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Penggunaan Berlebih Ponsel Tingkatkan Bahaya Kerabunan


Salah satu anggota Dewan Ketua Asosiasi Optometri Iran mengabarkan meluasnya bahaya kerabunan yang dari hari ke hari terus meningkat akibat penggunaan telepon seluler, tablet dan komputer secara berlebihan.

Astan News melaporkan, Dr. Abdollah Farzaneh di sela kongres nasional Asosiasi Optometri Khorasan ke-18 mengatakan, kerabunan menyebar begitu cepat terutama di kalangan kaum muda dan remaja, padahal masalah ini dapat dicegah.

Menurutnya, strategi paling tepat untuk mencegah penyebaran kerabunan akibat penggunaan terlalu lama alat-alat elektronik seperti telepon genggam dan tablet adalah pendidikan.

Dr. Farzaneh menjelaskan, kita harus memberikan pendidikan kepada anak-anak, pemuda dan remaja agar mereka mengatur jarak gadget dari mata, mengatur cahaya ruangan dan memperhatikan aturan “20-2-20”.

Terkait aturan “20-2-20” Dr. Abdollah Farzaneh menerangkan, berdasarkan aturan ini, mata harus beristirahat setiap 20 menit menggunakan gadget selama 2-5 menit.

Ia juga menyinggung cedera-cedera lain yang mengancam mata akibat penggunaan terlalu lama alat-alat elektronik dan menuturkan, sindrom CBS pada kenyataannya meliputi penyakit-penyakit seperti sakit leher, sakit pinggang, mata lelah dan yang penyakit lain yang diakibatkan oleh penggunaan terlalu lama komputer, tablet dan telepon genggam.

Pakar Optometri Iran itu menekankan pentingnya tes skrining terutama pada usia kanak-kanak dan remaja.

“Penggantian dan pembuatan kacamata medis dan kacamata hitam merupakan keahlian para pakar Optometri dan campur tangan orang-orang bukan ahlinya dalam masalah ini hanya membahayakan keselamatan mata masyarakat,” pungkasnya.

(Astan-News/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Ilmuwan Akui Kebenaran Al-Qur’an Terkait Keajaiban Penciptaan Manusia


Bukti kebesaran Allah salah satunya ialah keajaiban penciptaan manusia. Ketika merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim Ibu, Allah menggunakan kata ‘alaq’ di dalam Al-Qur’an Surah Al Alaq Ayat 1-2. “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah,” bunyi ayat tersebut.

Seorang ilmuwan bernama Dr Keith Moor awalnya bingung dengan ayat yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari alaq yang bermakna segumpal darah atau bermakna sesuatu yang melekat, seperti lintah.

Dr Keith Moor tidak mengetahui apakah benar tahap awal perkembangan embrio melekat seperti lintah atau tidak. Berbekal ayat ini, kemudian ia mempelajari tahap awal perkembangan embrio menggunakan mikroskop canggih.

Di bawah mikroskop canggih itu, ia mengamati dan membandingkannya dengan lintah. Alangkah terkejutnya ia saat mengetahui bahwa memang sangat mirip.

Ketika sel sperma pria bergabung dengan sel telur wanita, intisari bayi yang akan lahir terbentuk. Sel tunggal yang dikenal sebagai zigot dalam ilmu biologi ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi segumpal daging.

Tentu saja, hal ini hanya dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop. Namun, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja.

Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di Bumi dengan serabutnya. Melalui hubungan ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang Ibu untuk pertumbuhannya.

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Iriana, Kapal Tenaga Listrik Pertama 'Made in RI'

MV Iriana, made in Indonesia.

Industri galangan kapal nasional PT Sumber Marine Shipyard menunjukkan kemampuannya dalam membuat moda transportasi laut yang berkualitas dan menggunakan teknologi canggih.

Perusahaan yang memproduksi kapal angkut semen curah (cement carrier) berkapasitas 9.300 deadweight tonnage (DWT) dengan menerapkan sistem electric propulsion, menjadi yang pertama di Indonesia.

Kapal yang diberi nama MV Iriana ini diresmikan langsung oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Tanjung Ucang, Batam, pada 25 Maret 2017 kemarin. Hadir dalam kesempatan tersebut Dubes Indonesia untuk Singapura Ngurah Swajaya, Staf Khusus Menko Maritim Purbaya Yudhi Sadewa, Kepala BP Batam Hatanto Reksodipoetro, Ketua Umum INSA Johnson W Sutjipto, dan Staf Ahli Gubernur Kepulauan Riau Syamsuardi.

MV Iriana digerakkan bukan dengan bahan bakar minyak, namun tenaga listrik yang dihasilkan oleh electric motor, sehingga hemat energi serta ramah lingkungan. Indonesia menjadi negara nomor tiga di Asia dalam membangun jenis kapal ini setelah Jepang dan Taiwan.

Airlangga mengungkapkan, teknologi MV Iriana sama dengan yang digunakan oleh Jepang sebagai negara pertama yang menerapkannya, namun buatan Indonesia lebih canggih karena mampu menghemat bahan bakar lebih besar.

"Untuk itu, kami memberikan apresiasi karena teknologi di sini akan menghemat energi hingga 20 persen, sedangkan di Jepang hanya saving sekitar 10 persen," ujar Airlangga dalam keterangan tertulis, Minggu (26/3/2017).

MV Iriana yang memiliki spesifikasi panjang 117 meter, lebar 25,5 meter, tinggi 7,9 meter, kedalaman ke air 6,3 meter, dan kecepatan 10 knot tersebut dikerjakan oleh putra putri Indonesia dalam waktu kurang dari setahun. Bahkan, pemakaian bahan baku untuk kapal besar ini, didominasi baja lokal produksi PT Krakatau Posco, Cilegon.

Airlangga menambahkan, pembangunan kapal tersebut mampu menghemat devisa sekitar Rp 260 miliar untuk satu kapal sehingga dapat memperkerjakan banyak tenaga kerja lokal dan memperkuat mata uang rupiah. "Kapal ini menyerap tenaga kerja dan bahan baku lokal yang tinggi serta dibangun dengan tepat waktu," katanya.

Menurutnya, pembangunan kapal ini sejalan dengan langkah pemerintah yang menempatkan sektor maritim sebagai salah satu program prioritas dalam pembangunan nasional, termasuk juga di dalamnya adalah pengembangan industri galangan kapal. "Melalui visi kemaritiman, saat ini pemerintah berupaya agar sektor industri galangan kapal nasional mempunyai daya saing di tingkat global," tukasnya.

"Karya anak bangsa ini adalah wujud nyata kemandirian industri perkapalan nasional, yang nantinya dapat mendukung kelancaran distribusi barang khususnya untuk muatan semen yang akan digunakan bagi kegiatan pembangunan di Indonesia," tutupnya.

(Islam-Times/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

PTDI Siapkan Pesawat 'Bandel' Untuk Penerbangan Perintis

Pesawat NC212i dan N219, buatan Indonesia.

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) gencar menyasar pasar angkutan udara perintis. Ada dua jenis pesawat karya perusahaan pelat merah bermarkas di Kota Bandung, Jawa Barat, tersebut yang disiapkan khusus terbang menjelajah wilayah terpencil dan pedalaman nusantara.

Supervisor Pengembangan Bisnis Pesawat Terbang PTDI M. Umar Saripudin menegaskan pihaknya jauh-jauh hari membidik target market pesawat kecil. Penetrasi digulirkan PTDI sejak dua tahun terakhir dengan 'mendekati' sejumlah operator dalam negeri.

"PTDI punya dua pesawat yang nanti bisa mengisi rute penerbangan perintis. Yaitu pesawat NC212i dan N219," ucap Umar kepada detikfinance di sela-sela kegiatan media trip di Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II, Kota Pekanbaru, Riau, Kamis petang (23/3/2017) kemarin.

NC212i ialah pesawat multiguna generasi terbaru dari NC212 dengan daya angkut 28 penumpang, memiliki ramp door, sistem navigasi dan komunikasi yang lebih moderen. N219 bobotnya ringan, berkapasitas 19 orang, serta dilengkapi teknologi avionik moderen.

Dua pesawat tersebut, sambung Umar, mumpuni di kelasnya. Tipe 212 kiprahnya dikenal sebagai pesawat militer dari dalam dan luar negeri. Untuk N219, kini tengah tahap sertifikasi oleh Kementerian Perhubungan, diproyeksikan PTDI menjadi pesawat perintis.

"Ini pesawat kuat dan 'bandel'. Karakteristik NC212i dan N219 dapat mendarat di landasan rumput, pasir dan berbatu. Jadi, dua pesawat yang khusus didesain oleh PTDI ini bisa dioperasikan di rute perintis," ujar Umar.

NC212i dan N219, menurut Umar, cocok untuk pesawat penumpang dan kargo di jalur perintis.

"Untuk daerah ekstrem dengan landasan sangat tinggi dan pendek, kami mengembangkan 219. Nantinya dapat diperuntukkan di daerah seperti Papua. Untuk daerah-daerah pantai serta landai, seperti di Indonesia bagian barat, tengah, dan sebagian timur, pesawat 212 enggak masalah," tutur Umar.

Sekadar diketahui, Kementerian Perhubungan menyediakan anggaran Angkutan Udara Perintis tahun 2017 sebesar Rp 499 miliar yang melayani 193 rute di lebih dari 100 bandara yang dikelola 26 Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).

Hal itu berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara bernomor : KP. 353 tahun 2016 tentang Rute dan Penyelenggara Subsidi Angkutan Udara Perintis serta Penyelenggara Subsidi Angkutan Bahan Bakar Minyak (BBM) Tahun Anggaran 2017.

Angkutan udara perintis ini memiliki peran penting dalam mengakomodir rute penerbangan jarak pendek. Selain itu, tujuannya menjangkau masyarakat serta membentuk konektifitas rute wilayah pedalaman dan tertinggal atau daerah yang belum terlayani moda transportasi lain.

Umar menyatakan, PTDI siap memproduksi dan memasarkan angkutan udara perintis. Tentu saja, semangat mencintai hasil produk dalam negeri terus digaungkan PTDI kepada para calon pembeli pesawat.

Strategi pemasaran yang diusung perusahaan ini yaitu mengikuti acara-acara pameran, penetrasi pasar ke mitra strategis, serta menjalin komunikasi bersama operator dalam negeri. PTDI terus menggali keinginan pasar dengan mendatangi langsung para operator.

"Dulu PTDI selalu lebih banyak menjual produk untuk militer, sekarang kami mulai masuk pasar sipil atau penumpang. Sudah ada pesawat N219 yang diminati operator dalam negeri. Animonya memang tinggi," kata Umar.

(Detik-News/Islam-Times/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Menteri: Turki Minta Pembatalan Larangan Laptop di Penerbangan AS

Larangan elektronik di penerbangan AS.

Turki mengatakan Selasa (21/3) pihaknya akan meminta Amerika Serikat untuk membatalkan larangan perangkat elektronik yang lebih besar dari ponsel di kabin penerbangan dari 10 bandara di Turki, Timur Tengah dan Afrika Utara.

“Kami sangat menekankan bahwa ini tidak akan menguntungkan penumpang dan membatalkan atau melunakan langkah ini harus diadopsi,” kata Menteri Transportasi Ahmet Arslan pada wartawan, mengatakan keputusan itu tidak benar.

Pemerintah Amerika Serikat (AS) melarang penumpang pesawat dari 13 negara Afrika dan Timur Tengah termasuk Turki membawa gadget dan benda elektronik ke dalam pesawat yang terbang langsung (direct) ke AS.

Informasi soal aturan baru tersebut disebar oleh US Transportation Safety Administration (TSA) melalui e-mail ke berbagai maskapai di Afrika dan Timur Tengah termasuk Turki, Senin (20/3) lalu.

(Islam-Times/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Multifungsi, Pesawat Amfibi PTDI Bisa Angkut Penumpang Hingga Kargo

Pesawat N219 - Amphibious Version - buatan PT Dirgantara Indonesia.

Pesawat N219 Amphibious Version buatan PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) tidak hanya digunakan sebagai angkutan penumpang. Pesawat amfibi yang bisa mendarat di air dan darat ini juga bisa digunakan untuk berbagai fungsi.

Pesawat N219 amfibi ini tentunya bisa mengangkut penumpang atau wisatawan dengan kapasitas penumpang mencapai 19 orang. Lebar kabin dalam pesawat 1,80 meter dengan tinggi 1,71 meter. Sedangkan panjang kabin pesawat 6,65 meter.

"Misinya sama dengan basic N219, namun bisa mendarat di air," jelas Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Minggu (19/3/2017).

Selain itu, pesawat yang rencananya akan dibuat di akhir 2018 ini juga bisa digunakan untuk angkutan barang atau cargo transportation. Sedikitnya bisa mengangkut tiga kontainer tipe D2 dengan dimensi 1,4 meter x 1,06 meter x 1,14 meter sebanyak 3 unit.

"Satu pesawat bisa multi roles," tambah Arie.

Tidak hanya itu, pesawat buatan Bandung ini nantinya juga bisa digunakan untuk angkutan medis jika terjadi bencana di daerah terpencil. Pesawat ini kemudian mengangkut pasien dari pulau-pulau kecil ke rumah sakit di kota besar.

Misalnya, N219 Amphibious Version dapat menjangkau pulau-pulau kecil di Laut Banda seperti Kepulauan Banda, Pulau Kesui, dan Pulau Molu. Pesawat ini mempermudah dan mempercepat pelayanan angkutan kesehatan ke rumah sakit di kota besar seperti Ambon.

Pasalnya, pesawat N219 Amphibious Version ini bisa mendarat di daerah terpencil di tengah keterbatasan infrastruktur bandara.

"Bisa terbang dalam pulau yang landing runway-nya sangat limit (terbatas)," tutur Arie.

(Detik-News/Islam-Times/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Startups Islam Dalam Festival Teknologi Texas


Sejumlah direktur muslim dengan startups baru hadir dalam festival teknologi Austin markas propinsi Texas Amerika guna menunjukkan modernisasi dan juga religi.

Menurut laporan IQNA seperti dikutip dari france24, Shahid Amanullah, seorang direktur muslim Amerika dan termasuk pendiri situs Affinis Labs mengatakan, sudah waktunya merubah opini dunia terhadap kaum muslim di dunia maya.

"Saya tidak ingin membatasi pembicaraan tentang Islam di internet dengan memerangi terorisme,” tambahnya.

Amanullah datang ke festival SXSW2017 guna menunjukkan bahwa realita adalah hal yang lain, realita sebuah ekosistem yang sedang mengembangkan startups Islam.

Dalam dunia teknologi dibawah dominasi model Amerika, para remaja Silicon Valley tidak mengenal raksasa kecuali Steve Jobs dan uang, dengan demikian ide startups religi nampaknya menarik dan asing.

Chris Abdurrahman, warga Amerika yang memeluk Islam pada tahun 2001 memiliki pengalaman pahit dalam hal ini dan mengatakan, ketika saya mensearching dukungan finansial untuk situs Launchgoog, semua orang menolak dan bahkan seorang investor mengatakan pada saya ide yang amat gemilang, namun dana yang saya gunakan untuk mendanai melarang bantuan keuangan untuk sejumlah agenda religi!

Kendati demikian, sekarang ini setiap harinya rata-rata 20 desain baru diupload di Launcgood dan situs memungkinkan kepada para kontraktor muslim seantero dunia dari masa pendirian pada tahun 2013 sampai sekarang memiliki penghasilan sebanyak 13 juta dolar.

Chris bukan satu-satunya orang yang dengan bersandar para imannya, memasuki dunia startups. Di Inggris, Shazya Salim, dengan menciptakan ieat, sebuah perusahaan yang menjual makanan halal Inggris, membuka tempatnya dalam bidang ini; sejak tahun 2014,lima pabrik lainnya telah mengikutinya.

Di Indonesia, Dian Pelangi telah berhasil mengumpulkan 5 juta pengikut di Instagram untuk busana muslimnya dan mengimpor pekerjaannya ke seantero dunia.

Shazya Salim mengatakan, kita tengah berada di permulaan jalan dan sibuk menulis undang-undang ekosistem startups Islam. Ada kemungkinan untuk mengembangkan startups ini. Di dunia ada satu miliar enam ratus juga muslim dan jika hanya menghitung para remaja saja yang menyambut kinerja ini, maka kita akan memiliki pasar 700 sampai 800 juta.

Steve Jobs atau Bill Gates, teknologi muslim kemungkinan adalah Abrar Hussain. Ia penanggung jawab dana investasi Elixir Capital, yang memobilisasi 250 juta dolar pada bulan Oktober 2016 untuk menjamin keuangan startups Islam.

Ia mengharap di masa dekat ini seorang muslim atau wanita berhijab muncul dalam peringkat Steve Jovs dan atau Elon Musk, direktur Tesla.

(France-24/IQNA/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Wikileaks Beberkan Berbagai Alat Penyadap Milik CIA

wikileaks-dumps-on-cia

Alat tersebut berupa malware hasil pengembangan sebuah tim elit khusus pengembangan software, Engineering Development Group (EDG). Jenis malware-nya bermacam-macam, mulai dari backdoors, exploit atau celah keamanan, payloads, trojan, hingga virus komputer.

Wikileaks, membeberkan keberadaan berbagai alat yang dipakai Central Intelligence Agency (CIA) untuk menyadap berbagai jenis gadget.

Alat tersebut berupa malware hasil pengembangan sebuah tim elit khusus pengembangan software, Engineering Development Group (EDG). Jenis malware-nya bermacam-macam, mulai dari backdoors, exploit atau celah keamanan, payloads, trojan, hingga virus komputer.

Totalnya, tim EDG sudah membuat ribuan malware yang bisa dipakai menyusup ke berbagai perangkat genggam, teknologi, serta software. Mereka menggunakan program jahat ini untuk mengetahui lokasi pengguna, membaca pesan teks, mendengarkan pesan suara, bahkan sampai menyalakan microphone dan kamera smartphone.

Salah satu data dalam bocoran dokumen itu menyebut bahwa tim ini fokus pada upaya menjebol keamanan dan enkripsi macam-macam tipe iPhone, iPad serta Android.

Data lain menyebut bahwa ada lusinan celah keamanan yang masih bisa dipakai oleh instansi pemerintah AS untuk menyadap atau memata-matai pengguna perangkat buatan Apple. Beberapa celah keamanan dalam data itu tampaknya ada di iOS 9 yang dirilis pada 2015 silam.

Ada juga rincian mengenai nama dan pemasok berbagai malware yang khusus digunakan untuk menyusup ke sistem operasi Android. Beberapa di antara malware yang disebutkan adalah SwampMonkey, EggsMayhem, serta DugTrio.

Kemudian ada disebutkan juga sejumlah celah keamanan yang ada di sistem operasi Windows untuk komputer desktop dan server, Mac, komputer bersistem Linux, serta software perusahaan seperti VMware.

Detil mengenai asal usul seluruh data, nama dan rincian peralatan peretas di Wikileaks itu masih belum jelas.

Namun tahun lalu, sebuah kelompok bernama ShadowBrokers dituding berhasil menggondol alat peretasan milik NSA. Kemudian beberapa waktu setelahnya, Wikileaks mengumumkan telah mendapatkan seluruh cache data serupa.

Juru bicara CIA enggan berkomentar mengenai keaslian dokumen atau isi dokumen yang dibocorkan oleh Wikileaks tersebut. Sementara itu sejumlah perusahaan teknologi yang pemilik produk yang disebutkan dalam bocoran tersebut langsung bereaksi.

Dokumen Wikileaks mengenai alat peretas CIA membuat sejumlah perusahaan teknologi bereaksi. Perusahaan-perusahaan ini khawatir jika para penggunanya merasa bahwa barang yang dibelinya tidak aman untuk dipakai dan disusupi software mata-mata.

(Wikileaks/Islam-Times/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Terkait Berita: