Daftar Isi Nusantara Angkasa News Global

Advertising

Lyngsat Network Intelsat Asia Sat Satbeams

Meluruskan Doa Berbuka Puasa ‘Paling Sahih’

Doa buka puasa apa yang biasanya Anda baca? Jika jawabannya Allâhumma laka shumtu, maka itu sama seperti yang kebanyakan masyarakat baca...

Pesan Rahbar

Showing posts with label ABNS BUDAYA. Show all posts
Showing posts with label ABNS BUDAYA. Show all posts

Sedekah Laut dan Tsunami Budaya

Sedekah laut di Cilacap. (Foto: Merdeka.com)

Masygul hati saya membaca pesan pendek dari Whani Darmawan, seorang pesilat yang juga dramawan dari Yogyakarta. Membalas kiriman video saya membaca puisi di Panggung Krapyak tentang gempa bumi dan tsunami di Palu, ia mengirim sebuah foto poster. Tertulis di situ, “Cintailah Yogyakarta dengan iman dan amal shalih, tinggalkan tradisi jahiliyah sedekah laut atau bumi.”

Whani mengajak untuk menggagas gerakan kebudayaan. Meski obrolan kami masih permulaan dan permukaan, saya duga ia tak sendiri gelisah soal peredaran isu ini. Kawan saya yang lain, Soelung Lodhaya, pegiat kebudayaan di Bali, menyoal foto pamflet di Cilacap yang bertuliskan pesan lebih keras lagi. Begini bunyinya, “Jangan larung sesaji karena bisa tsunami.” Ia menilai, pamflet itu pembunuhan karakter atau penggerusan budaya bangsa.

Lain lagi di Banyuwangi. Awal Oktober lalu, Bupati Abdullah Azwar Anas berapi-api ketika memaparkan beragam festival di bumi Blambangan. Salah satunya, pergelaran Gandrung Sewu pada 20 Oktober nanti. Lalu, pada Kamis dini hari, Banyuwangi terdampak gempa 6.4 SR di Laut Bali.

Front Pembela Islam (FPI) di Banyuwangi mengeluarkan surat pernyataan sikap yang langsung viral di media sosial. Surat bernomor 0003/SK/DPW-FPI Banyuwangi/II/ 1440/Tanggal 11 Oktober 2018 itu berisi kecaman terhadap acara Gandrung Sewu yang akan digelar di Pantai Boom, Banyuwangi. “Kegiatan itu akan mengundang semakin banyak bencana di bumi, khususnya di tanah Banyuwangi,” kecam FPI dalam surat yang ditandatangani Ketua Tanfidzi Agus Iskandar dan Sekretaris Yudo Prayitno.

Isu yang menghubungkan antara gempa dan tsunami dengan kegiatan kebudayaan bermula dari gempa dan tsunami di Palu yang disinyalir terjadi karena Festival Nomoni. Di dalam kegiatan tahunan pada perayaan ulang tahun Kota Palu itu, para tetua adat membaca mantra-mantra tua dan kembali menghidupkan tradisi lama: memberi sesaji pada semesta. Alih-alih bersandar pada teori-teori ilmiah atau mitologi setempat, kesedihan gara-gara bencana justru dibenturkan dengan dalil-dalil suci dan dalih-dalih ideologis. Tak pelak, ini menggesek budaya dan agama.

Hari-hari ini, bahkan sesungguhnya tak hanya hari-hari ini, Tanah Air tercinta tak henti-hentinya mengalami gempa. Sejak gempa 7 SR di Lombok pada 5 Agustus, disusul gempa 7.4 SR disertai tsunami dan likuifaksi di Palu pada 28 September, kemudian gempa 6.4 SR di Laut Bali yang mengguncang Pulau Sapudi di Sumenep, Madura dan Situbondo, yang terasa pula di Bali, Banyuwangi, bahkan Malang. Info BMKG dalam kicauan di linimasa menulis, terjadi 5.578 gempa pada 2016 dan 6.929 gempa pada 2017, dengan 19 di antaranya gempa besar. Dan, itu masih dinilai wajar.

Mengapa? Masih dalam twit yang sama, admin akun @infoBMKG menuliskan satu fakta yang seharusnya sudah kita pahami bersama, yaitu Indonesia dikelilingi oleh Ring of Fire. Cincin api. Negeri ini punya sedikitnya 127 gunung berapi aktif. Jika satu menggeliat, geliatan itu bukan tidak mungkin akan menjalar pada cincin api. Belum lagi jika lempeng-lempeng besar di bawah laut pun bekerja. Evolusi gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami menjadi fenomena alam tak terelakkan. Meski korban berjatuhan, ini semua tak benar-benar salah manusia belaka.

Pernah saya berbincang dengan seorang kawan lainnya bahwa seorang presiden sesungguhnya tidak hanya memimpin rakyat, warga negara bangsanya. Ia tidak hanya memimpin manusia. Namun, lebih dari itu presiden juga memimpin angin, air, api, tanah, dan seluruh anasir alam semesta di jagat bernama negara yang dipercayakan kepadanya. Oleh karena itu, saya -atau kita- sering mendengar betapa seorang Sukarno, Soeharto, dan Gus Dur sedemikian kuat dan giatnya dalam laku spiritual, baik sebelum, ketika, maupun sesudah menjabat presiden.

“Di bawah situ ada gua. Paspampres saja mengenakan jaket berlapis-lapis. Namun, Pak Harto hanya pakai kain kemben dan bertelanjang dada. Bersemadi berjam-jam di bawah sana,” kata Kholiq Arif semasa masih menjabat Bupati Wonosobo, ketika mengajak saya ke Telaga Warna.

“Sejak dari zaman Pak Karno, para presiden dan calon presiden selalu bertapa di sini,” ujar Kiai Abdul Manaf, juru kunci Siti Hinggil, Petilasan Raden Wijaya di Bejijong, Trowulan, Mojokerto.

“Warga bergantian menandu Gus Dur sampai Pringgodani,” kisah Pak Erry, warga Karanganyar.

Banyak cerita yang saya kumpulkan dari perjalanan panjang ke berbagai sumber keyakinan masyarakat. Namun, apakah kita bisa serta-merta menghakimi para pemimpin negeri ini dan rakyatnya yang suka berziarah, bertirakat batin, berlama-lama dalam doa di petilasan-petilasan bersejarah itu sebagai kaum musyrikin? Lebih-lebih, semakin banyak terpasang papan pengingat di lokasi-lokasi yang disakralkan itu untuk memohon hanya kepada Allah, bahkan di maqbarah para Waliyullah.

Lautan manusia tak henti-hentinya berziarah di tanah pusaka ini. Tidak hanya bersedekah pada manusia, masyarakat Nusantara juga mengenal tata krama pergaulan dengan sesama makhluk Tuhan yang bukan manusia. Ia angin, air, api, tanah, binatang, pohon, bukit, gunung, laut, sungai, dan masih banyak lagi. Berbicara tentang Indonesia, seluruhnya adalah penduduk Indonesia pula. Duduk, bertempat, dan tinggal di titik-titik yang sama meski berbeda dimensi ruang dan waktu. Ada yang lebih dulu datang, ada yang kemudian. Dan, yang terpenting adalah hidup rukun dan damai. Saling dukung, tak saling ganggu.

Semesta di Indonesia telah memberikan banyak kekayaannya kepada kita. Namun, diakui atau tidak, kita tidak membalasnya dengan kasih sayang sepadan. Kita justru semakin merusak tanah dan air di Tanah Air kita sendiri. Lelaku batin penyelarasan frekuensi kesemestaan dalam upacara adat, di antaranya sedekah laut dan bumi, justru dibenturkan dengan tuduhan-tuduhan pemicu bencana. Padahal, adat telah ratusan tahun menjadi bagian tidak terpisahkan dari ragam kehidupan rakyat. Agama hadir menyempurnakan, bukan menghancurkannya. Seharusnya.

Tulisan saya ini bisa melebar ke mana-mana, namun saya merasa harus pula menyertakan kisah seorang teman lain lagi bernama Budi Dalton. Ia berseloroh, ilmu kini perlu membedah perut untuk memasukkan gunting ketika tindakan medis operasi, namun ilmu kuno tidak perlu. “Tanpa dibedah pun, gunting bisa dimasukkan ke perut. Lalu, mana yang kini dan mana yang kuno?” tanya Budi. Dia dan kawan-kawan merasa gemas ketika pendekatan “menyanologi” lebih dulu mengendus jejak sejarah di Gunung Padang, namun kemudian tidak diakui.

Jangankan untuk perkara sebesar itu. Untuk urusan memberi bunga kepada keris pun, saya pernah ditanya, “Bukankah itu perbuatan syirik?” Saya lantas balik bertanya, “Kamu punya hape?” Dijawab, “Punya.” Saya tanya lagi, “Supaya bisa bekerja, kamu kasih makan apa itu hape?” Dijawab, “Pulsa.” Pelan-pelan kemudian saya bicara, “Nah, masing-masing punya makanannya sendiri. Hape diberi pulsa, mobil diberi bensin, manusia diberi nasi, keris diberi bunga. Lalu, di mana letak syiriknya?” Menjadi persoalan jika kita mengonsumsi yang bukan makanan kita.

Gus Yusuf Chudlori punya cerita unik yang saya dengar bertahun-tahun silam. Ia menerima keluhan dari masyarakat di desanya yang dilarang membakar dupa dan kemenyan oleh para pendatang yang suka mengutip dalil. Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang itu mendekati para pendalil tersebut. Dia berkata, “Sudahlah, warga desa tidak seperti orang kota yang punya banyak hiburan. Di sini hiburan mereka ya cuma membakar dupa dan kemenyan. Mereka punya iman tauhid yang insya Allah kuat. Tak perlu ada yang dikhawatirkan.”

Hari-hari ini, berbicara soal agama menjadi lebih sulit karena ancaman pidana penistaan agama menghantui. Tidak benar-benar leluasa lagi untuk bercanda. Tidak seperti dulu. Kini, dalil pun diadu. Dibumbui dalih. Perang tak hanya soal-soal pelik yang perlu buka kitab, tapi juga urusan-urusan sepele dengan mengandalkan kegenitan dan kengototan berargumen seraya mengolok-olok. Surga dikapling-kapling untuk kelompoknya sendiri sembari menghakimi kelompok lain sebagai penghuni neraka atau penyebab azab bencana alam.

Bahkan, dialektika tentang keberagaman dalam keberagamaan semakin sering mengarah pada pribadi. Kepemimpinan seseorang dinilai dari kecakapan dalam mengimami salat dan kefasihan dalam membaca Al Quran. Sampai-sampai, lidah dan lisan yang berbeda dialek pun dijadikan bahan ledekan yang seperti tak habis-habis. Ketika Presiden mengucap “Al Fatekah”, yang menurut para penentang seharusnya Al Fatihah, perang lidah telah disulut. Kita menegaskan kembali betapa kita tak perlu siapa-siapa untuk mengadu domba, kita bisa dan suka beradu sendiri. Cerita-cerita kewalian orang-orang tidak fasih bacaannya namun tajam dan bersih hati beradu dengan kisah-kisah fadhilah dan keharusan membaca kitab suci tanpa keseleo lidah. Harus baik dan benar. Sebab, salah baca salah makna. Dan, itu berbahaya. Riwayat tentang bahasa Arab adalah bahasa di surga, malaikat hanya memahami bahasa Arab, dan oleh karena itu bahasa ini lebih mulia dibanding yang lain sehingga wajib dikuasai. Semua itu mengemuka kembali. Padahal, Allah adalah Tuhan bagi segala bangsa dan bahasa. Dia niscaya tidak punya persoalan bagaimana lisan bicara. Penglihatan-Nya tembus ke hati.

(Fokus-Today/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Beginilah Foto Unik Kegiatan Warga Kudus Rayakan Hari Asyura

Sumber foto: Sutini/Radio Elshinta

Hari Asyura yang dirayakan sebagian umat Islam setiap tanggal 10 Muharam terasa meriah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Warga Desa Kauman, Kudus, Jateng misalnya, Jumat (29/9/2017), membawa bubur asyura di seputar tempat tinggal mereka untuk dibagikan kepada tetangganya.

Kegiatan ibu-ibu masyarakat Kudus membuat Bubur Asyura

Warga Kudus sedang memperingati Hari Asyura dengan di jaga aparat kepolisian

Tradisi membagikan bubur asyura itu peninggalan Sunan Kudus untuk mengajarkan sikap saling berbagi kepada sesama. Bubur berbahan dasar delapan bahan pangan, yaitu beras, jagung, kedelai, ketela, kacang tolo, pisang, kacang hijau dan kacang tanah itu hanya dibuat pada bulan Asyura atau bulan Muharam

Warga membagi bubur asyura kepada tetangganya di Desa Kauman, Kudus, Jawa Tengah

Pekerja memasak daging kerbau saat persiapan tradisi buka luwur makam Sunan Kudus di Kudus, Jateng, Jumat

Hari Asyura yang diperingati setiap 10 Muharam di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah dirayakan dengan tradisi buka luwur makam Sunan Kudus. Tradisi buka luwur yang digelar setahun sekali pada bulan Muharam atau Sura tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara memperingati haul Sunan Kudus dengan puncak acara jatuh pada tanggal 10 Muharam. Tradisi ini dilangsungkan dengan membagikan nasi yang dibungkus daun jati berikut lauk berupa daging kerbau kepada ribuan warga.

Pekerja meratakan nasi saat persiapan tradisi buka luwur makam Sunan Kudus di Kudus, Jateng, Jumat (29/9/2017)

Tradisi buka luwur yang diselenggarakan setiap 10 Muharam atau pada Sabtu (30/9), setiap tahunnya tidak pernah sepi dari kunjungan masyarakat dari berbagai daerah. Mereka memadati kompleks Makam Sunan Kudus guna memperebutkan nasi uyah asem (jawa) dan nasi jangkrik goreng.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengapresiasi masyarakat Kabupaten Kudus dan sekitarnya yang antusias mengikuti tradisi buka luwur di Makam Sunan Kudus, Sabtu.

(Fokus-Today/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Makanan Khas Berbuka di Bulan Muharram: Bubur Asyura. Sudah Tradisi Turun Temurun

Bubur Asyura, bubur khas untuk berbuka puasa 10 Muharam

Akhir pekan lalu mayoritas warga Muslim di Indonesia melakukan ibadah puasa Muharram, puasa sunnah yang dinilai bisa menghapus dosa dan memberi syafaat atau manfaat pada hari kiamat nanti.

Yang menarik ada beberapa daerah di Indonesia yang menyediakan sajian khusus pada saat berbuka puasa Muharram, yang kabarnya hanya dimasak pada saat istimewa itu, yaitu bubur Asyura.

“Kamo dineusu baro peget 10 Muharram, 3 boh blangong 1 untuk buka puasa di mesjid, 2 boh blangong untuk warga dusun nyan tingkat dusun goh lom gampong. Lengkap mandum jenis umbi-umbian. Kamo boh mandum. That msngat (Kami di Nesu – nama daerah di Banda Aceh.red – pada hari 10 Muharam membuat tiga periuk bubur untuk buka puasa di mesjid, dua periuk bubur untuk warga dusun di kampung. Terdiri dari umbi-umbian. Lezat sekali),” ujar Mus, salah seorang warga di Nesu, Banda Aceh.

Bubur Asyura adalah bubur yang dibuat dengan berbagai bahan dan ramuan khusus untuk berbuka puasa pada 10 Muharram. Menurut Fikriah Haridhi, salah seorang pendengar VOA yang juga tinggal di Banda Aceh, bubur Asyura ini merupakan tradisi lama. “Ibu-ibu di kampung kami di Lamseupeng membuatnya untuk berbuka puasa 10 Muharram dan dibagikan ke mesjid, makan bersama di kampung atau bawa pulang ke rumah,” ujar Fikriah.


Tradisi memasak bubur Asyura ini tidak saja ada di Nanggroe Aceh Darussalam tetapi juga di hampir seluruh daerah di Indonesia yang warganya melaksanakan puasa Muharram. Ada yang berpuasa sejak hari Kamis (28/9) hingga Minggu (1/10), tetapi sebagian besar berpuasa pada hari Sabtu (30/9) saja. Bubur ini juga merupakan bagian dari tradisi di Malaysia dan Brunei Darusalam. Namun rasanya beranekaragam, ada yang terbuat dari umbi-umbian yang manis rasanya, ada pula yang gurih karena mengandung rempah-rempah dan daging.

Hal senada disampaikan Nurul Akmal, yang mengatakan bahan-bahan bubur Asyura dikumpulkan sejak lama dan dibawa ke sebuah rumah untuk dimasak bersama-sama. “Bahan-bahannya adalah santan kelapa, pisang, nangka masak gula merah, beureune atau sejenis sagu tetapi butirannya keras, kacang hijau, labu kuning, ubi dan lain-lain,” ujar Nurul. Ditambahkannya, biasanya ketika memasak bersama ini para ibu saling tukar cerita keluarga, membahas isu-isu terkini di kampung, hingga isu sosial politik di tanah air dan dunia.

(Fokus-Today/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Peringati Asyura: Santuni Yatim Piatu dan Bagi-bagi Makanan

Khadamul Majelis Raudhaturrahmah memperingati hari Asyura 10 Muharram

Majelis yang dipimpin Abuya Guru KH M Haderawi HK dan berlokasi di Jalan A Yani Km 9 Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar ini juga membagikan bubur Asyura pada Sabtu (30/9) usai salat Ashar.

Khadamul Majelis Raudhaturrahmah memperingati hari Asyura 10 Muharram bersama anak yatim sekaligus menyantuni dan membimbing mereka.

Disampaikan Guru Haderawi, di hari Asyura itu mereka berpuasa dan bermunajad kepada Allah SWT, ceramah, membaca wirid, menyantuni anak yatim sebanyak 49 orang.

“Banyak hikmah hari Asyura. Banyak peristiwa kenabian terjadi pada hari Asyura. Kita disuruh berpuasa, berdoa dan menyantuni anak yatim. Bersyukur atas nikmat Allah SWT,” jelasnya.

Bubur Asyura juga bermakna latihan qanaah. Dengan bahan serba sedikit dikumpulkan dan diolah menjadi makanan bermanfaat penuh vitamin.

(Tribun-News-Banjarmasin/Fokus-Today/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Interaksi Sunnisme dan Syi’isme Munculkan Islam Yang Unik di Indonesia

Grebeg Suro

Dari praktik-praktik keagamaan yang berkembang kuat di Nusantara selama berabad-abad, dapat diasumsikan bahwa interaksi antara Sunisme dan Syi’isme memiliki kontribusi yang sama besarnya terhadap munculnya komunitas Islam yang unik di Indonesia. Maka tidaklah berlebihan bahwa Sunni Islam di Jawa terkadang diklaim sebagai “Syiah secara kultural”. Walaupun menurut Abdurrahman Wahid (1995: 14) bahwa baik kaum Modernis maupun Tradisional menolak pengaruh Syiah khususnya dalam aspek ideologis dan politis.

Sebagai contoh praktik-praktik keagamaan tersebut misalnya istilah “Imam” telah menjadi standar di kalangan kaum Sunni Muslim di Jawa, sehingga empat pendiri mazhab tidak pernah disebut oleh masyarakat Jawa, kecuali dengan menambahkan kata “imam” di depannya.

Kepercayaan akan datangnya al-masih, Imam Mahdi yang akan datang sebagai Ratu Adil (Penguasa yang Adil) secara taradisional maupun historis telah mewarnai masyarakat Jawa. Sebagai contoh Sultan Agung (1613-1645), yang memerintah kerajaan Mataram di Yogyakarta, karena kesuksesannya yang luar biasa, banyak orang menganggapnya sebagai Ratu Adil.

Keturunan Nabi yang secara umum dikenal sebagai “Habib”, selalu mendapat tempat khusus di kalangan para santri di Jawa, demikian pula yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan sampai sekarang.

Perayaan Tabut/Ta’ziyah atau Tabuik Osenyang dilakukan setiap tahun untuk mengenang kematian Husain yang tragis merupakan bukti lain tentang elemen-elemen subtansial Syi’i khususnya di Sumatera. Demikian pula penerjemahan karya utama literatur Syi’i, Hikayat Muhammad Hanafiyah, dari Persia ke dalam bahasa Melayu sekitar Abad XIV merupakan bukti lain yang signifikan pengaruh Syi’i di Sumatera (Mas’ud, 3004: 57).

Dalam tradisi Jawa “Grebeg Suro” kita juga menemukan adanya pengaruh Syiah. Kebiasaan orang Jawa yang lebih menganggap Muharram sebagai bulan nahas karena tewasnya Sayyidina Husain juga merupakan pengaruh dari Syiah. Karenanya, orang-orang Jawa berpantang menggelar perayaan nikah atau membangun rumah pada bulan “Suro” atau Muharram.

Di daerah Sunda, pada bulan Muharram terdapat tradisi mengadakan bubur “beureum-bodas” (merah-putih), dan dikenal dengan istilah bubur Suro. Konon, “merah” pada bubur perlambang darah syahid Sayyidina Husain, dan putih perlambang kesucian nurani Sayyidina Husain. Demikian pula di Kalimantan –khususnya dibeberapa tempat di Kalimantan Selatan- setiap sepuluh Muharram (Hari Asyura) sebagian masyarakat melakukan tradisi “Membubur Asyura”. 

Selainitu, menurut Humaidy dalam penelitiannya berjudul Peta Gerakan Syiah di Kalimantan Selatan, (2014) masih banyak kultur-kulturSyiah yang merasuk ke dalam kultur Sunni yang menjadi anutan masyarakat Banjar.

Tentu saja sudah bukan bentuk asli, melainkan sudah mengalami mudikasi, Seperti peringatan hari Sepuluh Muharram (Asyura), –telah disebutkan di atas-bacaan Tulak Bala, Tawassul, ZiarahKubur, Maulid Nabi dan hari Arba Mustamir.

Rentetan pengaruh Syiah dalam tradisi-tradisi keagamaan di Nusantara akan bertambah panjang dengan bahasan –pro dan kontra- mengenai Marhaba, Shalawatan Diba’, Tahlil Arwah, Haul, Kenduri. Khusus kenduri, sangat kental dipengaruhi oleh tradisi Syiah karena diambil dari bahasa Persia, “Kanduri”, yang berarti tradisi makan-makan untuk memperingati Fatimah Az-Zahrah, puteri Nabi Muhammad saw.

Hal ini kemungkinan besar karena dipengaruhi oleh Islam yang datang ke Nusantara sebagai Islam yang bercorak sufi. Sebagaimana yang dituturkan oleh Annemarie Schimmel (2003) dalam bukunya Dimensi Mistik dalam Islam, menurutnya kalau kita melihat akar perkembangan sufi di dunia Islam awal, bahwa Ja’far as-Sadiq, Imam keenam Syiah adalah merupakan salah seorang diantara guru agung dalam tasawuf awal.

Gagasan-gagasan Ja’far, dan mungkin, pemikir-pemikir sufi lain, di zaman awal tersebar, merembes ke dalam kehidupan mistik sampai akhirnya muncul dalam pernyataan-pernyataan sejumlah sufi yang hidup hampir bersamaan, yang mengungkapkan keanekaragaman kemungkinan dalam kehidupan mistik. Hal ini menunjukkan bahwa gagasan-gagasan sufi dan Syiah, pada tahap awal saling berkait-kaitan.

Di antara gagasan-gagasan yang saling berkiatan itu adalah komentar Ja’far terhadap Alquran yang sebagiannya terdapat dalam tafsir Sulami, menunjukkan pandangan Ja’far yang luar biasa terhadap gejala mistik. Ja’far melihat empat segi yang berbeda dalam Alquran: pernyataan, untuk kebanyakan orang; kiasan, untuk golongan istemewa atau elit; sentuhan keanggunan (lata’if), untuk para wali; dan akhirnya “kenyataan” untuk para nabi.

Struktur pluralistik Alquran ini menyebabkan Ja’far menggambarkan struktur hirarki orang-orang beriman sesuai dengan taraf-taraf pengetahuan “kebatianan“ mereka. Prinsip-prinsip ini kemudian dikembangkan oleh para sufi yang lebih mutakhir ketika mereka menyebut-nyebut“tahap-tahap” dan “persinggahan-persinggahan” dan kemudian menggolong-golongkannya bagi orang kebanyakan, bagi sepilihan orang, dan bagi elitnya elite.

Prinsip hirarki ini juga kemudian terdapat dalam teori-teori yang lebih mutakhir mengenai kewalian, dan juga merupakan suatu segi khas dalam pemikiran Syiah. Imam Ja’far mengacu kepada suatu struktur pengalaman mistik yang terbentang dalam dua belas tahap dari sumber ke sumber, yang tampak seperti persiapan dari persinggahan-persinggahan yang harus dilewati oleh sufi yang menjalankan pembaiatan sepanjang jalan. Beberapa diantara prinsip-prinsip tafsir Ja’far tampaknya mengandung pelbagai pemikiran yang sampai akhir-akhir ini, dianggap milik kaum mistik yang lebih mutakhir (Schimmel, 2003: 50)

Pada abad ke-X akhir merupakan masa organisasi dan konsolidasi bagi tasawuf. Masa itu meluas pelbagai kelompok Syiah di setiap bagian Kekaisaran Muslim. Sejak 914 –tahun kematian Sibli- Baghdad telah dikuasai oleh keluarga Buwaihid dari Iran, suatu dinasti Syiah; Siria Utara dikuasai oleh dinasti Hamdani, yang juga Syiah –untuk beberapa lamanya Aleppo menggantikan Baghdad sebagai tempat berkumpulnya para penyair, fulsuf dan ahli mistik.

Arabia Tengah juga telah ditaklukkan oleh kaum Karmathia pada tahun 930; kelompok Syiah yang kuat ini memilih Bahrain sebagai pusatnya, dan cabangya meluas sampai lembah Indus. Di sanalah, di Multan, Hallaj pernah bergaul dengan mereka. Di Afrika Utara, dinasti Syiah Fatimid memperoleh kekuasaan; dan pada tahun 969 mereka menaklukkan Mesir dan mendirikan suatu pemerintahan yang rapi yang berlangsung sampai dua abad.

Sekitar abad ke-XV, kita menemukan bukti yang lebih luas tentang meningkatnya loyalitas Syiah. Pada saat ini dua faksi besar di Isfahan bukan lagi Hanafi dan Safi’i, tetapi Sunni dan Syiah. Dalam sufisme India, jumlah yang meningkat dari tokoh sufi di kalangan tarekat alh as-sunnah secara individual mengambil sebuah posisi Syiah, khususnya di Deccan.

Di Iran, loyalisme kepada Ali sedang ditingkatkan di beberapa tarekat. Di dalam tarekat itu muncul Syi’isme yang memperkenalkan primasi Ali di kalangan khalifah yang empat. Simnani (w. 1336) menjamin bahwa imam ke dua belas adalah qutb pada zamanya (Mughni, 2002: 85).

Demikianlah, gerakan sufi dalam konteks Indonesia hampir identik dengan yang terjadi di dunia Islam pada abad-abad yang telah disebutkan di atas. Tidak terlalu berlebihan kiranya untuk menyebutkan periode tersebut sebagai sebuah periode sufi dalam sejarah Islam. Pengaruh Walisongo telah berkembang selama berabad-abad di Jawa. Islam yang datang ke Nusantara tidak diragukan, adalah Islam yang bercorak sufi.

Muhammad Ramli, pengajar Pondok Pesantren Al Falah Banjarbaru & STAI Al Falah Kalimantan Selatan.

(Islami/Duta-Islam/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Tradisi Asyura: Warga Beli Barang Tanpa Tawar Menawar


Masyarakat Polewali Mandar, Sulawesi Barat, punya tradisi berbelanja perkakas dan peralatan dapur di hari Asyura atau hari ke-10 bulan Muharram, tanpa tawar menawar.

Beragam perkakas pertanian seperti kapak, cangkul, parang, sabit atau peralatan dapur seperti panci, wajan baskom atau sendok dibeli warga sesuai penawaran pedagang tanpa ada tawar-menawar harga.

Masyarakat percaya membeli perkakas atau perlatan dapur tanpa tawar-menawar akan memuluskan jalan rezeki mereka selama setahun ke depan.

Karenanya, mereka memborong peralatan dapur atau perkakas apa saja di hari Asyura yang pada tahun ini bertepatan dengan tanggal 20 September.

Tak heran jika sejumlah pasar tradisonal di Polewali Mandar seperti Pasar Sentral Wonomulyo Ini dibanjiri warga berbelanja perkakas atau peralatan dapur sejak pagi.

Umumnya warga membeli perkakas atau peralatan dapur yang bisa tahan lama seperti panci, pisau, ember sesuai kemampuan ekonomi mereka.

Warga yang punya kemampuan ekonomi yang cukup akan membeli beragam perkakas dan peralatan dapur, sementara yang mereka yang punya ekonomi lemah cukup berbelanja timba plastik, sipi atau penjepit ikan yang terbuat dari belahan bambu.

Yunus, salah satu warga Tapango, Polewali Mandar, mengaku membeli perkakas pertanian seperti cangkul dan parang karena ia percaya hari Asyura atau 10 Muharram bisa melancarkan rezeki mereka.

“Katanya kalau ditawar jalan rezeki juga bisa srak atau tidak lancar. Tapi kalau membeli dengan hari senang Insya Allah jalan rezekinya dimuluskan selama setahun ke depan,” tutur Sandi.

Sebagai informasi, hari tanpa tawar menawar ini akan berlangsung dalam tiga hari atau hingga Sabtu (22/9/2018).

(Fokus-Today/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Ritual Tabut Bengkulu Mengenang Kesyahidan Cucu Nabi


Warga memadati badan jalan yang menjadi rute arak-arakan “tabut tebuang” atau pembuangan tabut yang menandai puncak ritual tabut yang digelar turun-temurun oleh anggota Kerukunan Keluarga Tabut (KKT) Bengkulu untuk memperingati syahidnya Imam Husein di Karbala, Irak.

Festival selama 10 hari yang acara intinya untuk memperingati kesyahidan cucu Nabi Muhammad SAW yang gugur dalam perang di Padang Karbala Irak, diisi berbagai lomba. Antara lain lomba musik dol dan lomba tari kreasi.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, pembuangan tabut digelar setelah Salat Zuhur,” kata Ketua KKT Bengkulu, Syiafril Syahbuddin di Bengkulu, Sabtu 30 September 2017 dilansir Antara.

Tabut tebuang berakhir dengan berdoa bersama di depan makam Imam Senggolo di Karabela, lalu melepas dan menyimpan kembali semua perlengkapan ritual tabut seperti “jari-jari” dan bendera.

Pembuangan tabut merupakan puncak rangkaian ritual tabut yang digelar 10 hari pada 1-10 Muharram atau bertepatan dengan 30 September 2017. Ritual ini bermakna membuang semua perbuatan buruk karena diyakini kebaikan pasti bisa mengalahkan kejahatan.

Arak-arakan tersebut diawali dengan rombongan penabuh musik tradisional Bengkulu, yakni dol yang ditabuh sepanjang perjalanan sejauh sekitar enam lima yang mereka lalui. Arak-arakan tersebut menyusuri jalan Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Sudirman, Suprapto dan Jalan S Parman, kemudian berakhir di kompleks pemakaman Karabela.

Inti dari upacara selama 10 hari terhitung 1 hingga 10 Muharram itu adalah simbol mengumpulkan semua bagian tubuh Husein, lalu diarak dan dimakamkan di Padang Karbala. Adapun tahapan ritual Tabot sesuai urutan yakni mengambil tanah, duduk penja, meradai, merajang, arak penja, arak serban, gam atau masa tenang/berkabung dan arak gedang serta tabot terbuang.

Ritual tabut digelar turun-temurun oleh KKT untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala pada 10 Muharam 61 Hijriah (681 M). Perayaan tabut di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syeh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada 1685. Syeh Burhanuddin atau Imam Senggolo pun menikah dengan wanita Bengkulu kemudian keturunannya disebut KKT terus menggelar ritual tabut hingga kini.

(Antara-News/Satu-Islam/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Cara Bijak Leluhur Jawa ‘Melawan Lupa’ Tragedi Karbala


Jika Anda bertanya kepada masyarakat Jawa, apa nama penyangga pintu yang terpasang di rumahnya, mereka akan menjawab: kusen. Mereka yakin, tanpa kusen, pintu rumah takkan jadi kokoh dan mudah roboh.

Tapi pernahkan Anda menyangka bahwa nama ‘kusen’ bukan hanya sekadar nama tanpa makna?

Tahukah Anda bahwa ternyata inilah satu di antara banyak pesan tersembunyi dari ekspresi cinta masyarakat Jawa kepada keluarga Nabi yang disimbolkan melalui bagian penting dari sebuah rumah?

Ya. Kusen tak lain adalah personifikasi dari Husen (Husein) cucunda Nabi yang dibantai 30 ribu tentara Muslim atas perintah khalifah Yazid bin Muawiyah. Sedangkan pintu adalah personifikasi Ali bin Abi Thalib, sebagaimana Nabi SAW pernah bersabda, “Aku kota ilmu dan Ali adalah pintunya”.

Secara samar dan unik rupanya leluhur kita ingin menyampaikan pesan sejarah, bahwa, ajaran yang diwarisi Ali dari sang Nabi SAW hampir saja punah sia-sia, jika Husen tidak menapaki jalan kesyahidan seperti Ali, ayahnya.

Dan bukan hal baru bahwa masyarakat Jawa seringkali mengajarkan etik dan moral melalui simbol-simbol. Mereka memang punya cara yang khas dalam menyampaikan pesan, baik melalui syair, sanepa, perlambang penamaan pada benda-benda, aneka kuliner (seperti bubur suro, ketupat dll), maupun melalui pemadatan bahasa.

Kata “Suro” misalnya, adalah pemadatan dari kata “Asyura” yang bermakana peristiwa menyedihkan hari kesepuluh di bulan Muharam, mengacu pada tragedi berdarah pembantaian Husein dan keluarganya yang terjadi di Karbala atas perintah penguasa zalim zaman itu.

Pada bulan tersebut, umumnya masyarakat Jawa tidak akan mengadakan pesta tasyakuran dalam bentuk apapun, mulai dari mendirikan rumah, resepsi pernikahan, sunatan atupun hajatan sukacita lainya.
Tradisi dan simbol semacam ini tak hanya dimaksudkan sebagai ungkapan duka, tapi juga menjadi instrumen pendidikan dalam membentuk kepribadian masyarakat yang ikhlas berkorban, setulus pengorbanan pemimpin pemuda surga Sayidina Husein.

Jejak Asyura melimpah di negeri ini. Sejak masa lalu hingga kini, kuliner bubur suro masih marak mentradisi, tak lain sebagai cara bijak mengabarkan ulang kepahlawanan Husein beserta keluarga dan sahabatnya dalam peristiwa Karbala.

Cara ini sengaja diabadikan sebagai ajakan untuk melawan lupa serta seruan belasungkawa pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW atas gugurnya Husein di Karbala.

Masyarakat Jawa pada bulan Muharam juga biasa menaburkan bunga di tiap perempatan jalan yang sering dilalu-lalangi masyarakat, sebagai pengingat bahwa dulu rombongan kafilah keluarga Nabi yang terdiri dari perempuan dan anak-anak ditawan, diarak bersama penggalan kepala Husein dan 16 kepala lainya sejauh 1.200 km mulai Karbala, Kufah dan Damaskus Suriah. Tradisi menebar bunga juga ditujukan agar malapetaka serupa tak terulang kembali dimasa-masa mendatang.

Tentu yang utama dimaksud “musibah” di sini adalah, upaya penghancuran nilai-nilai kemanusian serta penipuan atas nama agama, dan juga atas nama rakyat biasa melalui propaganda dan dalil-dalil absurd yg ditafsir untuk menindas dan demi kepentingan kekuasaan semata.

Tidak hanya di Jawa, berbagai ungkapan duka di hari Asyura menjelma menjadi tradisi yang masih ditemukan di berbagai daerah di Nusatara. Sebut saja misalnya Perayaan Tabot di Bengkulu dan Tabuik di Pariaman Sumatra Barat. Ada juga di Painan, Padang, Maninjau, Pidie, Banda Aceh, Meuleboh dan Singkil.
Dari batang pisang Tabot dibuat, dihiasi bunga-bunga beraneka warna, diarak ke pantai bersama ribuan orang sambil diiringi teriakan “Hayya Husein hayya Husein” (“Hidup Husein, hidup Husein”). Demikianlah prosesi tersebut diakhiri dengan pelarungan Tabot di laut lepas. Benda yang disebut tabot itulah perlambang keranda jenazah suci Sayyidina Husein.

Peristiwa Asyura tak hanya menguras air mata, tapi juga membangkitkan semangat kepahlawanan, pengorbanan dan kesetiakawanan. Dan tak dapat dipungkiri, bahkan bangsa kita pun pernah dipompa darahnya melalui kisah sejarah Asyura di Karbala. Yakni ketika semangat para pejuang menggelora saat para kesatria keluarga Nabi disebut namanya.

Sejarah mencatat, ambisi penjajah Belanda hampir pupus saat itu juga. Sekalipun bantuan tentara didatangkan dari berbagai kepulauan di luar Jawa. Salah satunya, saat perang Diponegoro. (1825-1830).

Kondisi tersebut sebagaimana tergambar dalam pidato Kyai Mojo (Muhammad al-Jawad) yang dikenal sebagai panglima perang Pangeran Diponegoro dalam kitab Babad Perang Dipanegara, karya pujangga Yasadipura II, Surakarta, berikut ini:

“Wahai kalian ksatria Mataram, negara Jawa tersimpan sudah dalam cakrawala pemahaman kalian.
Pada diri kalian tersimpan watak prilaku, kebijaksanaan Sayyidina Ali dan Sayyidina Hasan. Tertanam juga (pada diri kalian) keberanian Husein.

Ingatlah… pada saat Suro nanti, Belanda akan kita lenyapkan dari tanah Jawa, karena terdorong kekuatan para kesatria Muhammad yaitu, Ali, Hasan dan Husein.

Bertempurlah kalian dengan iringan takbir dan shalawat, jika kelak kalian gugur di medan laga ini, maka kalian akan tercatat syahid sebagaimana gugurnya para sahabat setia Sayyidina Husein di Nainawa (Karbala).

Engkau yang bijak terlibat dalam peperangan ini, adalah orang yang pantas mendapat julukan Ali Basya (gelar kehormatan bagi para ksatria/bangsawan).”

Selain itu, peristiwa Asyura dan Sayyidina Husein juga dikenal dan telah tertanam sedemikian rupa di tengah para pejuang kita.

Presiden pertama RI Ir. Soekarno bahkan pernah berkata, “Husein adalah panji berkibar yang diusung oleh setiap orang yang menentang kesombongan di zamannya, dimana kekuasaan itu telah tenggelam dalam kelezatan dunia serta meninggalkan rakyatnya dalam penindasan dan kekejaman.” (10 Hari Yang Menggetarkan Dunia: Ucapan dan Komentar Tokoh Dunia karya Saed Zomaezam)

Meski demikian, saat ini mungkin lebih banyak generasi muda bangsa kita yang tak lagi mengenal tragedi Asyura dan siapa tokoh penting di baliknya. Namun patut disyukuri, bahwa nilai-nilai luhur, sekalipun berupa remahan, berupa pesan moral di balik kearifan leluhur dalam merawat ingatan dan melawan lupa Tragedi karbala, masih mewarnai sebagian jiwa anak bangsa. Mereka mewarisi keberanian dan pengorbanan dari para leluhur mereka yang mengambil pelajaran dari Sayyidina Husein. Sementara sebagian dari kita mungkin perlu merefreshnya saja. Membongkar ulang sejarahnya, tanpa perlu meributkan siapa yang akan melakukannya, apa agamanya dan apa mazhab atau aliran agamanya.

Terkait tragedi Karbala, siapapun boleh memperingatinya. Siapapun tak terlarang mengidolakan figurnya. Hal ini seperti disampaikan Antoine Bara, seorang cendekiawan, pemikir, dan tokoh terkemuka Kristen dalam bukunya yang berjudul Imam Hussein in Christian Ideology, yang menyatakan bahwa Imam Husein tidak khusus untuk Syiah atau khusus Muslim saja, tetapi milik seluruh dunia karena menurutnya beliau adalah “hati nurani agama”…

Sebagai bangsa Indonesia, kita patut bangga kepada para leluhur dan para pendahulu kita yang dengan caranya yang unik dan bijak telah memperkenalkan tragedi Asyura dan sosok Sayyidina Husein kepada generasi kita.

Terhadap warisan budaya yang tak ternilai harganya ini, atas semua karya yang sampai di tangan kita, dan usaha besar dalam membentuk kepribadian bangsa, tak terkecuali segala peninggalan, pusaka dan wasiat itulah, kita mesti tetap menjaganya agar tak terlupa.

Demi mewarisi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam peristiwa Karbala, kita dituntut cerdas dan cermat dalam melestarikan tradisi Asyura yang sarat makna. Inilah tugas generasi kita melawan lupa.

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Hikmah Belajar Hidup Bahagia dan Lebih Bermartabat Kepada Bangsa Lain


Dilansir oleh United Nation Sustainable Development Solutions Network, negara-negara Skandinavia atau Nordic Country mendapat predikat sebagai negara paling bahagia di dunia karena mengisi tiga posisi teratas Global Happiness Rangkings di Tahun 2017 ini, berturut-turut yaitu Norwegia, Denmark, dan Islandia.

Meski dikenal sebagai negara dengan musim dingin yang panjang di dunia dan seringkali sulit beraktivitas karena cuaca, negara-negara tersebut tetap mengisi posisi-posisi puncak terkait kebahagiaan. Mengingat kondisi negara-negara nordik yang sepertinya sering menghentikan aktivitas karena lingkungan. Apakah karena semakin berkurangnya produktivitas, mereka semakin bahagia?

Jawabannya tidak sesederhana itu, justru penilaian yang dilakukan oleh United Nation Sustainable Development Solutions Network memasukkan kategori pendapatan (income) sebagai salah satu aspek utama penilaian kebahagiaan. Mungkinkah dengan pekerjaan mereka yang sedikit, bayaran mereka tetap dihargai tinggi? Berikut beberapa pelajaran sederhana agar kita bisa bahagia dengan cara belajar dari juaranya.


Keadaan Alam Memperkuat Kebersamaan

Di balik pemikiran menyeramkan kita tentang musim dingin yang panjang, ternyata orang-orang Skandinavia menggunakan kelemahan musim menjadi sesuatu hal yang menjadi salah satu pendukung kebahagiaan mereka. Saat musim dingin, waktu yang ada memang hanya cukup untuk bertemu dengan keluarga dan teman dekat. Hal itu, menurut Psychology Today justru membangun kedekatan luar biasa dan menghasilkan hubungan interpersonal yang baik. Di tambah lagi ketika musim panas dan midsummer, bersama-sama mereka menggunakan hari-harinya untuk berbagai hal bermanfaat seperti melakukan perayaan dan berkumpul dengan lebih banyak orang.


Dukungan Sosial

Berawal dari kerasnya keadaan alam, menurut Dr Jan-Emanuel De Neve seperti dilaporkan Time.com, orang-orang Skandinavia sangat memiliki rasa aman ketika berkumpul bersama komunitasnya. Dari komunitas tersebut didapatkan dukungan sosial seperti, masih adanya kemurahan hati di seluruh masyarakatnya, memiliki rasa saling percaya di atas semua kebebasan yang ada, dan mudah mendapatkan bantuan ketika menghadapi masalah. Bahkan, ketika ada dompet terjatuh di sana, orang-orang Skandinavia lebih cenderung mengembalikan dompet tersebut.


Tidak Ada Korupsi dalam Bisnis dan Pemerintahan

Salah satu aspek penilaian dari United Nation Sustainable Development Solutions Network adalah angka korupsi di negara-negara pemenang. Menurut Transparency International’s Study of Corruption Perception Worldwide, negara-negara Skandinavia paling sedikit melakukan korupsi. Hal itu dirasa karena homogenitas masyarakatnya dan kedekatan personal yang mendalam pada masing-masing orang. Selain itu, menurut Economist.com, masyarakatnya memiliki dua kualitas, yaitu mengedepankan investasi pada manusia dan melindungi manusianya dari kejahatan-kejahatan paham atau sistem yang membawa manusianya menjadi korup. Sehingga ada tekanan sosial positif untuk tidak melakukan korupsi.


Mengupas Permasalahan dari Akarnya

Negara-negara Skandinavia sangat peduli dengan kondisi psikis masyarakatnya karena kultur dukungan sosial juga kebersamaannya. Begitu pun ketika berbicara tentang permasalahan kemiskinan. Ketika dunia kerja bebas hiring dan firing pekerjanya, negara dan masyarakatnya melakukan upaya komprehensif melalui berbagai macam cara. Di sana tuna wisma dan datangnya imigran menjadi permasalahan bersama, yang disiasati oleh pemerintah dengan memberikan bantuan. Melalui program-program bantuan pelatihan, jaminan sosial bagi orang-orang terlantar, dan sangat memperhatikan keadaan anak-anak dan perempuan.

Orang-orang Skandinavia bukannya berpangku pada rasa malas karena keamanan dan jaminan yang ditanggung oleh pemerintah. Mereka memiliki kesadaran sosial tinggi, termasuk pada dirinya sendiri. Sehingga bersama-sama bisa mencapai kebahagiaan komunal walaupun keadaan alamnya sangat ekstrem.

Itulah di antara beberapa kualitas hidup bermasyarakat dan berbangsa di negara-negara Skandinavia yang layak diteladani. Untuk itu, perlu kita renungkan: Bagaimanakah cara kita bisa mengaplikasikan kondisi global di negara-negara Skandinavia pada budaya dan kearifan lokal Indonesia?

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Inilah 5 Tradisi Unik Saat Hari Raya Idul Adha di Indonesia


Hari Raya Idul Adha adalah hari besar keagamaan yang selalu dinantikan oleh kaum Muslim di seluruh dunia. Waktu perayaannya yang bertepatan dengan datangnya “musim haji” ini sekaligus menjadi momen penting untuk menumbuhkan kepedulian sosial terhadap sesama. Salah satu caranya adalah dengan menyembelih dan membagikan hewan kurban berupa sapi, kambing, atau domba kepada orang-orang miskin dan tidak mampu.

Namun tak hanya itu, ternyata ada beberapa tradisi unik saat Hari Raya Idul Adha di Indonesia.

Apa saja? Berikut 5 di antaranya:

1. Apitan di Semarang

Sebagai rasa syukur atas rezeki berupa hasil bumi yang diberikan, masyarakat Semarang selalu melakukan apitan. Tradisi ini ditandai dengan pembacaan doa untuk keselamatan warga dan dilanjutkan dengan melakukan arak-arakan. Nantinya, warga akan berebut mengambil iring-iringan berupa hasil pertanian, seperti padi, jagung, terung, cabai, tomat, dan sejenisnya. Masyarakat setempat percaya bahwa hasil bumi yang mereka peroleh akan membawa berkah.


2. Manten sapi di Pasuruan

Manten sapi adalah tradisi yang dilakukan masyarakat Pasuruan untuk menghormati hewan kurban yang akan disembelih. Menariknya, sapi-sapi warga yang hendak dijadikan kurban akan didandani secantik mungkin layaknya pengantin. Hewan tersebut juga akan diberikan kalung bunga tujuh rupa, lalu dibalut dengan kain kafan, serban, dan sajadah. Selain untuk membungkus jenazah sebelum dimakamkan, kain kafan juga menjadi tanda kesucian orang yang berkurban.

Semua sapi yang sudah didandani akan diarak oleh ratusan warga menuju masjid setempat untuk diserahkan kepada panitia kurban. Setelah sapi disembelih, ibu-ibu akan turut memeriahkan tradisi ini dengan membawa bumbu masak dan peralatan dapur untuk acara memasak sebelum makan bersama.


3. Mepe kasur di Banyuwangi

Masyarakat Osing di Banyuwangi juga menyambut hari raya dengan tradisi unik. Tradisi yang dikenal dengan istilah mepe kasur atau menjemur kasur ini selalu diadakan setiap mendekati Idul Adha. Menariknya, proses menjemur kasur harus dilakukan secara serentak sejak pagi hari di depan rumah masing-masing. Sesekali, mereka akan membolak-balik dan menggebuk kasur menggunakan alat tebah atau sapu lidi agar kembali bersih dari debu.

Mepe kasur menjadi cara masyarakat setempat menghormati datangnya bulan Zulhijah. Warga juga percaya bawa tradisi menjemur kasur menjadi cara untuk menolak bala, sekaligus menjauhkan segala hal-hal buruk dari rumah.


4. Grebeg gunungan di Yogyakarta

Di Yogyakarta, tradisi unik grebegan dilakukan setiap hari besar agama Islam. Bila ada grebeg Syawal saat Idul Fitri, maka ada juga tradisi grebeg gunungan menjelang Idul Adha. Saat grebeg gunungan, tiga buah gunungan (pareden) berisi berbagai makanan dan hasil bumi akan diarak dari keraton menuju masjid untuk upacara pembacaan doa.

Acara puncaknya adalah pada saat warga memperebutkan ketiga gunungan dengan penuh semangat. Mereka percaya bahwa makanan yang berhasil diambil dari gunungan bisa mendatangkan rezeki.


5. Kaul negeri dan abda’u di Maluku Tengah

Masyarakat Negeri Tulehu di Maluku Tengah selalu merayakan kaul negeri dan abda’u setelah melaksanakan shalat Idul Adha. Tradisi ini merupakan acara adat menggendong tiga kambing menggunakan kain, layaknya menggendong anak kecil, oleh para pemuka adat dan agama. Kambing tersebut kemudian diarak keliling desa sambil diiringi alunan takbir dan shalawat menuju masjid. Nantinya, ketiga kambing tersebut akan disembelih dan dagingnya dibagikan kepada fakir miskin.

Sementara itu, abda’u merupakan tradisi merebut bendera bertuliskan kalimat tauhid oleh ribuan pemuda di Desa Tulehu, Ambon. Tradisi ini menjadi sebuah bentuk ketulusan menerima Islam sebagai agama yang harus dijaga. Selain itu, abda’u diselenggarakan untuk mempererat hubungan persaudaraan antarpemuda.

***

Nah, itulah di antara beberapa tradisi yang digelar masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia bertepatan dengan saat perayaan Idul Adha. Untuk dapat menyaksikan secara langsung, ada baiknya jika kita datang langsung ke daerah-daerah tersebut sekalian menambah pengalaman dan pengetahuan baru terkait akulturasi budaya yang terjadi antara Islam dan budaya Indonesia.

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Wayang dan Tasawuf ‘Modern’ Hamka


”Sesungguhnya aku tidaklah diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak.”–Hadis

Untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat, para pendakwah menggunakan beragam medium. Termasuk dengan menggunakan seni dan budaya. Ada wayang, kidung, sastra, syair, dan lain sebagainya.

Di Indonesia, khususnya pada zaman Walisongo, medium yang paling kental digunakan dan dirasakan dampaknya oleh warga hingga saat ini adalah medium berupa wayang. Dengan cara tersebut, masyarakat menjadi lebih mudah dalam memahami Islam, dan terbukti kini Indonesia menjadi negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Lebih dari sekadar wayang dan syiar Islam, tampaknya kehadiran wayang pun memberikan nilai-nilai positif yang jika ditilik lebih dalam, terkait juga dengan tasawuf, khususnya bila kita tilik pendapatnya Hamka yang ia sebut sebagai tasawuf modern.

Tak bisa dipungkiri, dalam pagelaran wayang yang dilakukan para Walisongo, tiket masuk yang dibebankan pada para pengunjung adalah dengan hanya menggunakan kalimat syahadatain. Ini lah yang kemudian menjadi cikal bakal tasawuf, dengan berpindahnya seseorang dari kondisi kurang baik kepada yang lebih baik, melalui jalan taubat (masuk Islam).

Hamka sendiri mendefiniskan tasawuf sebagai kehendak untuk memperbaiki budi dan men-“shifa’-kan (membersihkan batin)”. Ia menerima dan mengamalkan tasawuf sebagai jalan untuk mendekatkan diri pada Allah, selama ajarannya masih dalam koridor ke-Islam-an yang berdasar pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Kemudian ia pun mengkontekstualisasi dan menginterpretasikannya kembali hingga lebih mudah diterima oleh masyarakat modern.

Bukan tanpa alasan laki-laki yang bernama lengkap Haji Abdul Malik Karim Amrullah ini menamakan tasawufnya dengan istilah “modern”. Semakin berkembangnya zaman, semakin merajalelanya konsep tasawuf yang beragam, tampaknya Hamka menilai bahwa tasawuf tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang jauh dari dunia, dan berpijak pada zuhud. Sebab jika itu yang terjadi, Islam yang begitu jaya di masa lalu, kelak di masa depan justru terpuruk diakibatkan masyarakatnya yang menjauh dari urusan dunia. Hamka muncul dengan ide racikannya yang berasal dari ilmu tasawuf dan ahli filsafat dengan menawarkan solusi agar umat Islam tidak menyalah artikan zuhud yang harus meninggalkan dunia.

Sesungguhnya, ini pun selaras dengan konsep ajaran Islam yang disyiarkan para Walisongo. Mereka, dengan tanpa meninggalkan dunia (memimpin wilayah kerajaan dan bergelimang harta), tohnyatanya tetap menjaga nilai-nilai luhur tasawuf. Seperti sikap rendah hati, berpikir secara mendalam terhadap suatu peristiwa dengan tidak mudah menyalahkan golongan tertentu, memiliki nilai moralitas yang baik, dan yang terpenting adalah mengamalkan ajaran Islam sesuai al-Qur’an dan as-Sunnah.

Konsep Islam yang disyiarkan Hamka dan Walisongo, tak ubahnya dengan apa yang diprioritaskan al-Ghazali dalam tasawuf. Yakni, akhlak menjadi inti dari Islam. Pun demikian dengan sabda Muhammad Saw, “Sesungguhnya aku tidaklah diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak.”

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Peran Budaya dan Akhlaq Dalam Media Sosial


Pemerhati masalah akhlaq masyarakat mengatakan bahwa penggunaan media telegram oleh sebagian tokoh masyarakat dan pemerintahan di negara seperti Iran tidak memberikan pengaruh dan perrkembangan positif bagi perilaku masyarakatnya.

Shabestan News Agency, Doktor Salman Kunai, pakar psikologi dan pengajar universitas menjelaskan bahwa penggunaan media masa seperti facebook dan telegram di Amerika hanya 1/6 dibandingkan tingkat penggunaannya di Iran. Beliau menambahkan bahwa di 4 negara bagian Amerika telah tercantum dalam undang-undang negara mengenai aturan penggunaan media sosial, yakni apabila terjadi di sebuah institusi terdapat pegawai pemerintah terlalu aktif dalam memakai media sosial seperti telegram atau facebook di saat jam kerja atau kegiatan kantor, maka mereka akan mendapat teguran dari masyarakat dan sanksi yang berat dari negara, pertanyaannya apakah Iran juga memiliki aturan dalam hal ini?

Beliau menambahkan bahwa, kehadiran berbagai media sosial seperti facebook dan telegram di negara seperti Iran yang juga digunakan oleh banyak pegawai pemerintah telah menimbulkan banyak masalah negatif terkait perilaku masyarakatnya. Kita tahu bersama bahawa media-media tersebut juga menjadi penyebab banyaknya tindakan menyimpang masyarakat di negara asalnya.

Dengan munculnya banyak media sosial menyebabkan semakin cepat tersebarnya modus-modus kejahatan dari berbagai negara. Berbagai perilaku menyimpang dari negara lain akan semakin cepat diadopsi oleh penduduk di wilayah lain melalui perantara media-media sosial ini.

Karena itu kita harus berusaha mengimbangi dengan memasukkan konten-konten positif untuk meminimalisir efek negatif dari media-media sosial tersebut.

(Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Budaya Kesyahidan, Adalah Budaya Asyura dan Imam Husein (as)


Budaya Kesyahidan, adalah budaya Asyura dan Imam Husien (as) dan beragam usaha untuk memperluasnya di tengah masyarakat harus terus dilakukan, karena dengan melakukan hal ini Islam akan mencapai tujuannya.

Sahbestan News Agency, ketua dewan pembantu presiden, Hujjatul Islam wal Muslimin Ali Syahidi Muhlati, dihadapan anggota organisasi Syuhada menyatakan bahwa: perkumpulan keluarga Syuhada adalah sebuah organisasi yang mulia dimana kita semua wajib berkhidmat sepenuhnya untuk anggota keluarga para syuhada ini. Beliau menambahkan bahwa jasa-jasa para syuhada itu sangatlah besar demi berdirinya Republik Islam Iran.

Hingga kini tercatat lebih dari 6400 Syahid, 14.000 veteran dan 800 tawanan perang yang berasal dari wilayah ini menyumbangkan diri mereka demi bangsa dan negara tercinta ini. Perlu diketahui bahwa untuk berdirinya Republik Islam Iran, lebih dari 225.000 Syahid telah berjuang dan mengorbankan darah mereka. Hingga kini, tercatat sekitar 3.300.000 keluarga Syuhada dan veteran terdapat di seluruh Iran. Kita semua saat ini berhutang budi dan wajib bagi kita untuk selalu memberikan pelayanan terbaik kepada mereka.

Beliau menambahkan bahwa budaya kesyahidan bukanlah hal baru. Budaya ini telah dikenalkan oleh Imam Husein (as) dan keluarganya dalam peristiwa Asyura’, oleh karenanya wajib bagi kita pecinta Ahlul Bayt untuk melanjutkannya agar tujuan Islam itu tercapai.

(Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Pentingnya Pusat Kebudayaan Mahdawiyat Dalam Masyarakat Intizhar


Dimana kebudayaan Mahdawiyat ini nantinya memiliki tujuan, arah politik dan pengelolaan yang biasa pada umumnya, supaya dapat menghasilkan masyarakat Islam dan pemerintahan Islam serta persiapan untuk kemunculan Imam Zaman afs.

Salah seorang anggota penelitian ilmu-ilmu dan budaya Islam, Hujjatul Islam Rahim Kargar dalam sebuah Channel Telegramnya menulis tentang “kajian dan analisa akhir zaman dan tanda-tanda kemunculan Imam Zaman afs”.

Pada hakikatnya “budaya Mahdawiyat” adalah sebuah budaya istiqamah, keadilan, rasionalitas, keamanan, spiritualitas, kesetaraan, penghambaan, kebebasan dan kesucian. Dan adalah sangat penting sekali jika mentransfer budaya ini ke dalam masyarakat.

Dan tidak bisa dipungkiri bahwa untuk melembagakan budaya ini di dalam masyarakat butuh kepada politik dan kebijakan-kebijakan serta langkah-langkah yang tidak sedikit, dan untuk merealisasikan hal tersebut baik dalam pelaksanaan dan sebagainya harus dimulai dari pembuataan markas budaya penanti Imam Zaman afs, kemudian setelah itu front budaya Mahdawiyat akan terbentuk dan menyebar di masyarakat.

Dimana kebudayaan Mahdawiyat ini nantinya memiliki tujuan, arah politik dan pengelolaan yang biasa pada umumnya, supaya dapat menghasilkan masyarakat Islam dan pemerintahan Islam serta persiapan untuk kemunculan Imam Zaman afs.

Kemunculan Imam Zaman afs terealisasi dengan adanya syarat-syarat yang telah disebutkan, jadi selama syarat-syarat tersebut belum terjadi maka kemunculan Imam Zaman afs tidak akan terjadi, namun tanda dan ciri-ciri terdapat berdasarkan hadits Imam Makshum as, yang akan terjadi sebelum atau jelang kemunculan Imam Zaman afs, dan masing-masing tanda semakin mendekatkan kemunculan Imam afs.

Salah satu di antara syarat-syarat sebuah revolusi dan mewujudkannya ialah tentang bagaimana bentuk penerimaan orang-orang terhadapnya, yakni jika orang-orang tidak menginginkannya maka secara zahir syaratnya belum terpenuhi dan kebangkitan Imam Zaman afs pun tidak terealisasi, seperti halnya kebangkitan Imam Husain as karena tidak adanya keikutsertaan orang-orang kala itu maka Imam Husain as mereguk kesyahidan.

(Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Tujuh Bubur Paling Terkenal Dalam Tradisi Jawa


Masyarakat Indonesia tentu sudah tak asing dengan makanan khas bernama bubur. Tapi mungkin belum banyak yang tahu bahwa ternyata bubur bukan hanya kuliner biasa. Terutama dalam budaya masyarakat Jawa, yang mengenal bubur atau yang biasa disebut jenang ini sebagai makanan yang di baliknya sarat doa dan pengharapan mulia.

“Bubur terbagi jadi dua jenis, untuk konsumsi sehari-hari dan untuk keperluan ritual adat,” ujar Murdijati Gardjito (75), Guru Besar dan peneliti pangan di UGM, Sabtu (12/8/2017).

Dalam kebudayaan masyarakat Jawa yang tersebar dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur, bubur atau yang juga disebut jenang untuk keperluan ritual budaya terdapat tujuh macam.

“Karena bahasa Jawa tujuh itu pitu, buat orang Jawa singkatan dari pitulungan, minta permohonan kepada Tuhan, minta pertolongan kepada Tuhan agar hajatnya dikabulkan,” kata Gardjito.

Ketujuh bubur beserta tradisinya tersebut terdiri dari dua corak yaitu bubur merah dan bubur putih, yang mengalami perpaduan.


Ketujuh bubur ini adalah:

1. Bubur Putih

Bubur ini hanya memakai garam, santan, dan daun salam. Disajikan kepada masyarakat seusai berkegiatan bersama. Sensasi wangi utamanya dari daun salam dan rasa gurihnya dari santan.


2. Bubur Merah

Bubur merah di sini merupakan bubur yang diberi gula palma, yaitu gula yang terbuat dari tanaman palma seperti kelapa, siwalat, atau yang populer dari aren. Manis dan wanginya aren tentu akan menggoda siapa pun yang menyantapnya.


3. Jenang Slewah dan Pliringan

Keduanya merupakan campuran bubur merah dan putih sebelumnya. Bubur slewah sebagian sisinya puth, sebagian lagi merah. Sedangkan bubur pliringan menempatkan bubur putih di tengah bubur merah.

Filosofi dari keduanya ialah sebagai keseimbangan, ada siang ada malam, kadang senang kadang sudah.

“Bubur putih itu simbol dari kekuatan atau simbol dari ayah. Merah simbol ibu atau darah saat melahirkan. Jadi itu mengingatkan kita akan kelahiran ke dunia, dikehandaki oleh Tuhan, melewati kedua orangtua,” kata Murdijati.


4. Jenang Palang

Lalu ada juga bubur yang membentuk palang putih di antara bubur merah, seperti lambang Palang Merah Indonesia (PMI).

“Ini melambangkan hidup itu penuh dengan masalah, jadi supaya disadari, masalah itu untuk diselesaikan bukan untuk dihindari,” kata Guru Besar yang masih aktif menerbitkan buku-buku khazanah kuliner Indonesia ini.


5. Jenang Baro-Baro

Jenang atau bubur ini merupakan bubur merah yang di atasnya diberi parutan kelapa dan diberi sisiran atau parutan gula palma yang berwarna kemerahan.


6. Jenang Manggul

Bubur ini berwujud putih, ditaburi kacang-kacangan seperti kedelai hitam goreng, kacang tanah goreng, lalu irisan telur, abon, dan sambal goreng tempe. Bubur ini bisa ditemukan setiap menjelang satu Muharam dalam penanggalan Hijriyah.

Mengandung filosofi yang dalam yaitu dari kata “manggul” yang berarti memanggul beban. Mengingatkan kepada anak dalam satu keluarga agar selalu memanggul atau menjunjung tinggi kehormatan orangtua.

“Makanya membawa panggul/manggul itu membawa tapi di atas panggul. Jadi setiap tahun itu ada peringatan, anak itu harus mikul nduwur mendem jero. Artinya menjunjung tinggi dan menjaga keamanan serta kehormatan keluarganya,” kata Murdijati.


7. Bubur sumsum

Terakhir yang paling populer ialah bubur sumsum yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Ternyata bubur ini fungsinya mengembalikan stamina setelah lelah menyelenggarakan hajat atau perayaan adat, seperti pernikahan.

Bubur yang mengandung karbohidrat dan cairan kinca atau gula palma cair itu dibagikan pada semua yang membantu terselenggaranya acara. Sebagai rasa syukur, ucapan terima kasih dan pemulihan tenaga.

Bubur ini juga memiliki nama lain bubur lemu di Solo, sementara nama bubur sumsum lebih terkenal di Yogyakarta dan daerah lainnya.

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Genosida Budaya Pemerintah Cina Terhadap Umat Muslim Uighur


Pemerintah Cina setelah melarang penggunaan bahasa Uighur di sejumlah sekolah propinsi kawasan muslim Xinjiang, didakwa telah melakukan genosida budaya terhadap umat muslim Uighur.

Menurut laporan IQNA yang dilansir dari AboutIslam, organisasi pendidikan kawasan Hotan di Xinjiang dengan mengeluarkan sebuah perintah mengumumkan, berdasarkan undang-undang sekolah harus mengeneralisasi bahasa dan tulisan nasional dan bahasa-bahasa lokal dipaparkan di bawah undang-undang pendidikan bahasa kedua.

Menurut pengumuman, sejumlah sekolah diharuskan tidak memakai bahasa Uighur dalam pendidikan dan aktivitas sosial dan umum. Anak-anak yang pergi ke sekolah dari musim semi, dari permulaan sebelum SD, akan menggunakan bahasa Mandarin.

Dalam pengumuman tersebut dikemukakan sejumlah sekolah yang melanggar undang-undang ini akan mendapat hukuman keras.

Pemerintah Cina di Beijing mengumumkan tuntutan implementasi sistem pendidikan dua bahasa di Xinjiang; namun dalam praktek di sejumlah sekolah kawasan-kawasan ini dipaksa untuk menggunakan bahasa Mandarin.

Umat muslim Uighur menuduh pemerintah telah melanggar undang-undang sendiri terkait menghormati minoritas agama.

Menurut undang-undang Cina, minoritas agama berhak untuk menjaga bahasa dan tradisinya dan para pelajar dapat menggunakan buku-buku dengan bahasa masing-masing dan memanfaatkan bahasanya untuk kemajuan.

Al-Shat Hasan, Ketua Lembaga Muslim Uighur di Amerika mengatakan, tujuan dari kinerja ini adalah memangkas bahasa Uighur dan ini adalah sebuah genosida budaya.

Pemerintah Cina telah memberlakukan banyak batasan terhadap umat muslim Uighur di Xinjiang. Serangan brutal pasukan polisi ke sejumlah rumah, larangan melakukan ritual keagamaan umat muslim, melarang pemilihan nama-nama Islami dan membatasi bahasa dan budaya masyarakat adalah sebuah aksi-aksi yang dilakukan terhadap mereka.

(About-Islam/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Lewat Festival, Budaya Panji Hidup Kembali


Sering orang bilang anak-anak zaman sekarang kurang memperhatikan kebudayaan. Pernyataan itu tidak semuanya benar. Ada banyak anak merindukan dan keingintahuan mereka untuk mencari hal itu masih kuat. Anak-anak senang belajar sejarah itu dengan caranya sendiri.

Demikian pernyataan Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid saat membuka Seminar Budaya Panji, “Mengembangkan Potensi Sastra dan Budaya Panji di Panggung Dunia”, di Museum Wayang, Kota Tua Jakarta, Sabtu (5/8/2017) kemarin.

Menariknya, ini terlihat dalam acara seminar sastra kebanyakan pesertanya berasal dari kalangan pelajar sekolah menengah atas dan mahasiswa. Mereka dari Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Para pelajar sangat antuasias mendengarkan pembicara hingga diskusi usai.

Seminar menghadirkan pembicara Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, Prof. Roger Tol dari Universitas Leiden Belanda, Prof.Dr. Nooriah Mohamed dari University Sains Islam Malaysia, Prof. Dr. I Made Bandem, seniman akademisi Bali, Dwi Cahyono, pendiri Museum Panji Malang.

Hilmar Farid menambahkan, seminar ini membicarakan kemungkinan mengembangkan Panji kebudayaan ini di tingkat nasional dan internasional itu seperti apa. Bagaimana memperkenalkan ceritanya kembali, dan memperkenalkan sosok-sosoknya.

“Kita sudah punya ide dengan aplikasi digital yang akan kita jalankan. Seperti Wayang Beber. Ada cerita anak SMP yang menyadur cerita lama dengan rasa kekinian, itu yang kita harapkan. Anak-anak muda menjadikan Panji sebagai bagian menyusun menyadur pengembangan ceritanya dengan apa yang dirasakan sekarang, kekinian.”

“Cerita Panji memiliki keunikan karena pengarangnya banyak, dengan berbagai versi dan diwarnai dengan budaya daerah serta disampaikan kembali dalam berbagai bahasa daerah di berbagai daerah di sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara,” jelas Hilmar.

Keunikan dan kepopuleran Panji menjadi inspirasi munculnya bentuk seni lain seperti tari, wayang, topeng, maupun seni rupa. Akan tetapi kisah Panji sudah mulai dilupakan orang seiring dengan perkembangan zaman.

“Oleh karena itu sangat baik untuk mengangkat kisah ini sebagai upaya untuk membangkitkan kembali sekaligus merevitalisasi budaya Panji.”

“Perhelatan ini mengambil tema “Kebangkitan Budaya Panji” di mana di dalamnya terkandung semangat untuk menggelorakan kisah Panji sebagai warisan budaya penguat identitas kawasan. Perhelatan festival ini juga sebagai upaya mengangkat kearifan lokal Nusantara dan membangun karakter bangsa dengan menggali nilai-nilai kepahlawanan yang terdapat dalam cerita Panji sekaligus sebagai media untuk mempromosikan budaya bangsa,” papar Hilmar.

Sementara, Pengamat Budaya sekaligus penggagas dan pembicara kunci dalam Seminar Sastra dan Budaya Panji, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro menjelaskan, cerita Panji mengisahkan percintaan dan peperangan antara kerajaan Jenggala dan Panjalu. Sebelum pecah, Jenggala dan Panjalu merupakan satu kerajaan besar bernama Panjalu (Kediri) yang dipimpin oleh Airlangga, berkuasa pada 1042-1222 di Jawa Timur. Kisah Panji dengan tokoh sentral Inu Kertapati dan Galuh Chandrakirana memiliki banyak versi dan tersebar hingga ke wilayah Asia Tenggara.

“Oleh karena begitu luar biasa keunikan satra dan budaya Panji, Perpustakaan Nasional bersama dengan Malaysia, Kamboja, British Library, dan Leiden Universiteit telah mendaftarkan naskah Panji sebagai Ingatan Kolektif Dunia untuk kategori naskah kuno atau Memory of the World di UNESCO yang hasilnya akan diketahui Oktober 2017 mendatang,” ungkap Wardiman.

Pembicara lain Prof. Dr. Nooriah Mohamed mengatakan, membicarakan teori tentang perkembangan Panji banyak sarjana di luar Indonesia yang membicarakannya, seperti Rassers, Ras, Teeuw dan Robinson.

“Malah di Malaysia cerita Panji turut dijadikan penelitian ilmiah oleh Harun Mat Piah dan Abd Rahman Kaeh yang meneliti Panji Jayeng Kusuma dan Panji Narawangsa,” kata Nooriah yang fasih berbahasa Jawa halus.

Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian Gelaran Budaya Panji. Gelaran ini telah dilaksanakan sejak 2014 menjadikan budaya dan sastra sebagai unsur penting keberlangsungan ASEAN serta telah mendeklarasikan dirinya menjadi komunitas.

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Padukan Budaya dan Teknologi, Ngarak Beras Perelek Raih Rekor MURI


Karnaval budaya dalam rangka Peringatan Hari Jadi Purwakarta ke 186 dan Hari Jadi Kabupaten ke 49 bertajuk “Ngarak Beras Perelek” berhasil mengukir sejarah. Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatat, sebanyak 53.918 orang secara bersama-sama membawa beras yang dimasukkan ke dalam ruas bambu.

Jumlah ini menambah rekor yang telah ditorehkan oleh kabupaten yang terkenal dengan Taman Air Mancur Sri Baduga ini menjadi sebelas rekor. Hal ini diungkapkan oleh perwakilan Museum Rekor Indonesia, Awan Rahardjo, Jum’at (4/8/2017) malam di sela penetapan rekor, di panggung utama karnaval, Jalan RE Martadinata Purwakarta.

“Sejarah baru bagi Indonesia juga Dunia, 53.918 orang secara bersamaan membawa bambu berisi beras. Ini rekor yang ke sebelas bagi Purwakarta,” jelas Awan.

Rekor ini, tutur Awan, terbilang unik mengingat beberapa hal yang menjadi penilaian khusus MURI. Selain karena berdasarkan kebudayaan di Jawa Barat, rekor ini juga tercipta dalam spirit pengentasan penggunaan Beras Sejahtera (Rastra) oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

“Rekor ini unik ya, inspirasinya dari perilaku budaya orang Jawa Barat, juga berangkat dari keinginan agar masyarakat Purwakarta mengkonsumsi beras yang layak. Luar biasa saya kira,” ungkap Senior Manager MURI tersebut.

Hal yang diungkapkan oleh Awan, merupakan tujuan Pemerintah Kabupaten Purwakarta dalam menggelar karnaval di Hari Jadi. Targetnya, tanggal 17 Agustus 2017 ini, seluruh masyarakat Purwakarta sudah terpenuhi kebutuhan berasnya dengan konsumsi beras premium hasil urunan masyarakat mampu yang sudah dimasukan ke dalam ATM Beras.

“Ini gabungan tradisi dan teknologi, perelek itu tradisi orang Jawa Barat, ATM Berasnya itu produk teknologi. Selain ini bentuk pengamalan sila kedua Pancasila,” kata Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Acara yang berlangsung sejak pukul 19.30 WIB ini juga diisi oleh tarian kolosal yang melambangkan Nyi Pohaci, simbol kemakmuran Jawa Barat berdasarkan cerita rakyat. Usai tarian selesai, para peserta mulai berjalan meninggalkan tempat pembukaan di Jalan Jenderal Sudirman menuju titik finish di Jalan RE Martadinata.

Selain itu, komunitas masyarakat adat dari berbagai daerah di Jawa Barat juga turut diundang oleh panitia acara untuk mengikuti karnaval ini. Salah satunya, masyarakat adat Ciptagelar, Sukabumi yang dikenal memiliki ketahanan pangan yang kuat dengan cadangan beras yang bisa dijadikan persediaan untuk beberapa tahun ke depan.

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Sedekah Bumi: Merawat Nasionalisme dan Cinta Negeri


Warga Dukuh Sidialit, Kabupaten Jepara menggelar tradisi sedekah bumi. Mereka melakukan kirab gunungan yang berisi hasil bumi sebagai tanda syukur atas melimpahnya habisl panen.

Tradisi kirab gunungan Dukuh Sidialit Desa Kendengsidialit Kecamatan Welahan berlangsung pada hari Senin Pahing, (31/7/2017). Ratusan warga ikut mengarak empat gunungan yang terbuat dari hasil bumi desa setempat.

Gunungan itu diarak mulai dari makam cikal bakal Mbah Regem, kemudian ke makam Mbah Suro. Selanjutnya, gunungan itu dibawa menuju di rumah Kamitua (kepala dukuh) untuk didoakan bersama-sama sebelum akhirnya diperebutkan warga setempat.

Kamitua Sidialit, Dwi Haryoso menuturkan tradisi kirab gunungan sudah berlangsung bertahun-tahun. Namun, tiap tahun mengalami perkembangan sesuai kondisi dan situasi masyarakat sekarang.

Saat ini, pelaksanaan tradisi ini selain melestarikan budaya lokal, juga dimanfaatkan untuk membekali masyarakat supaya cinta terhadap tanah air.

“Tahun ini kami ingin mengajak masyarakat untuk mencintai Tanah Air, melalui kegiatan seperti ini,” papar dia.

Ia cukup prihatin dengan munculnya paham radikal yang sudah menggerogoti rasa Nasionalisme masyarakat, terutama kaum muda.

“Untuk itu, tradisi ini terus harus ada dan dikreasikan lebih lebih baik tanpa mengurangi khidmat dan kemurniannya,” lanjutnya.

Kirab gunungan, menurutnya, sama halnya dengan sedekah bumi yang diperingati tiap bulan apit, penanggalan Jawa. Selain kirab, malamnya ada pertunjukan wayang kulit.

“Hal ini juga mengingatkan masyarakat bahwa di dukuh ini ada sejarah yang perlu dipelajari, diketahui dan dijaga. Ini bentuk rasa syukur warga melalui sedekah bumi tersebut,” tuturnya.

Matraji (67), warga setempat mengaku kirab gunungan tahun ini lebih meriah ketimbang sebelumnya.

“Banyak warga yang ikut dan lebih tertata. Semoga ke depan lebih baik lagi,” tandasnya.

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Harimau Tjampa: Kelindan Pencak Silat Dengan Islam


Dari filosofi pencak silat hingga kontroversi adegan syur

JAUH sebelum Merantau dan The Raid, film silat sudah diproduksi di Indonesia. Salah satunya adalah Harimau Tjampa karya Djadoeg Djajakusuma di tahun 1953. Sutradaranya, Djajakusuma, adalah salah satu pendiri Perfini bersama Usmar Ismail di tahun 1950, yang dianggap perintis pembuatan film-film dengan kru dan cerita khas Indonesia. Ia acap mengangkat tema tradisional dan kedaerahan, seperti di Tjambuk Api (1958), Lahirnya Gatot Kaca (1960), Bima Kroda (1967), dan Malin Kundang (1971). Karena itu, di sini banyak terselip budaya Minang, dari budaya oralnya (petatah-petitih) hingga upacara pernikahan. Dan jika dalam The Raid ada Iko Uwais yang menang beberapa kejuaraan silat, di film ini ada Malin Maradjo yang juara silat PON II 1951. Berikut cuplikannya:


Film berdurasi 97 menit ini penting dalam beberapa hal: pertama, banyak akademisi meyakini bahwa film ini adalah salah satu yang pertama yang serius mengangkat budaya dan tradisi Minangkabau—khususnya lewat silat dan nilai-nilai filosifi keislaman yang dikandungnya. Dan kedua, kontroversi seputar adegan sensual yang dilakukan aktrisnya, Nurnaningsih, yang dianggap sebagai adegan sensual pertama dalam film nasional. Mari kita bahas yang pertama dulu.

Film yang banyak pertarungan Silek Kumango ini dipercantik dengan paduan suara tanpa alat musik, seperti nasyid, yang menjadi narator pembuka.

“kisah lama, kami ulangi, masa kumpeni nan berkuasa… Keras perintah pajak dan rodi, harimau tjampa, nama cerita… Hamba sujud memohon kami…Mohon kami tuan ajari…oh sengsaranya hidupku…” .

Musik tradisional di film ini begitu ciamik, sehingga penata musiknya, GRW Sinsu, mendapat penghargaan di Festival Film Asia 1955.

Berlatar tahun 1930an, film peraih Citra untuk Skenario Terbaik (oleh Surjosumanto) di FFI 1955 itu bercerita tentang Lukman, yang berniat balas dendam terhadap kematian ayahnya dengan cara mencari dan belajar guru silat. Awalnya, ia mendatangi Datuk Langit, tapi rupanya sang Kepala Negeri itu meminta imbalan yang tak bisa ia jangkau. Akhirnya, ia bertemu dengan Saleh dan berguru padanya.

Padepokan silat di Kampung Pauh itu terasa sangat islami dan menjunjung akhlak dan nilai keislaman. Mereka berkumpul di masjid, selalu shalat berjamaah, dan belajar untuk rendah hati. Karena itu, dari awal, sang guru mempertanyakan movitasi Lukman belajar. “ Kalau tidak ada berada, tak kan tempua bersarang rendah,” ujarnya. Ia menasehati agar ilmunya tidak digunakan sembarangan, hanya untuk pertahanan diri.

Dan di sinilah perkara dimulai. Lukman orangnya temperamental dan mudah terpancing, hingga beberapa kali janjinya dilanggar. “Apa yang aku katakan? Mandi di bawah-bawah, menyauk di hilir-hilir. Ingat Lukman, masih belum ada kata putus lagi. Kau masih ingat akan janjimu atau tidak, Man?”, tegas Saleh. Lukman menjelaskan bahwa ia dituduh mencuri air dan pertarungan itu tidak disengaja, dan berjanji takkan silat lagi.

Setelah beberapa kali terjebak dalam “tobat sambal”, kali ini melawan teman seperguruannya, ia pun diusir dari padepokan. Karena frustasi, ia berjudi dan akhirnya berkelahi lagi: kali ini alasannya adalah karena lawannya berupaya menghalang-halangi percintaannya dengan Kiah. Sang lawan pun tertusuk pisaunya sendiri. Ia pun, lagi-lagi, minta tolong ke gurunya. Gurunya menolak dan menasehati agar ia menyerahkan diri. “Tangan mencecang, bahu memikul. Kamu tak usah lari, Lukman. Supaya kamu mendapat pelajaran yang lebih baik, “ ujarnya. Maka Lukman pun dipenjara. Masalah baru muncul: di penjara ia mendapat info soal pembunuh ayahnya, di samping berita kalau Kiah akan dikawin paksa oleh orang yang sama, dan ia pun bertekad kabur dan membalas dendam.

Saya sepakat dengan David Hanan (akademisi film dari Universitas Monash, Melbourne) yang menggarisbawahi bahwa Harimau Tjampa bukan sekadar cerita balas dendam, tapi menjelajahi praktik dan filsafat pencak silat dan hubungannya dengan nilai-nilai keislaman. Di film itu digambarkan bahwa Lukman mudah terprovokasi, kurang bisa mengendalikan emosi. Karena itu, kata Hanan, ia juga harus berlatih diri untuk mendapatkan nilai ketekunan dan pengekangan diri serta, yang terpenting: “tunggu sabar”.

Film yang dibuat kala Usmar kuliah di UCLA itu dipenuhi dengan adegan laga ciamik, serta peribahasa khas Minang. Misalnya : telah kering sumur kau timba” atau “Lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup bercermin bangkai”. Yang menarik, ada adegan “Asyrokol”, ritual berdiri menyambut “Rasulullah” saat upacara maulid nabi, yang biasa dilakukan saat shalawatan oleh kaum “Islam tradisionalis”. Hal ini menarik, karena dilakukan oleh orang-orang Sumatera Barat yang biasanya diasosiasikan dengan “Islam pembaharuan”.

Sayangnya, nilai-nilai yang hendak dikomunikasikan sang sutradara terganggu oleh adegan Kiah (Nurnaningsih) setengah bugil selama beberapa detik. Sehingga, sebagian penonton lebih mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk protes terhadap adegan itu, dan tak ambil peduli dengan cerita dan hal lainnya. Karena keterbatasan bahan dan data, saya belum menemukan protes terhadap Perfini, Djajakusuma, atau Usmar Ismail (produser), atau lembaga sensor yang meluluskannya. Reaksi penonton lebih menyoroti sang aktris yang dianggap melanggar nilai kepatutan. Mungkin juga, karena Nur, nama panggilannya, melawan balik pandangan masyarakat tahun 1950an itu dengan opini-opini liberal yang sebelumnya belum pernah ada.

Nur yang asli Wonokromo, Surabaya itu menyatakan: “Saya tidak akan memerosotkan kesenian, melainkan hendak melenyapkan pandangan-pandangan kolot yang masih terdapat dalam kesenian Indonesia.”

Akibatnya, banyak penonton protes. Seorang penggemar, misalnya menulis surat pembaca di majalah Kencana eidisi no. II./1954, yang menyatakan keprihatinannya dan menyuruhnya sadar. Tulisnya:

Achirul kalam saya anjurkan kepada saudari bahwa perjuangan saudari yang sedemikian itu menurut keyakinan saya akan menjatuhkan kepopuleran saudari sebagai bintang film. Saya berdo’a moga-moga saudari insyaf pada apa yang telah saudari perjuangkan itu, sehingga mengakibatkan kegemparan masyarakat

Tak lama setelah itu, beberapa majalah memuat foto seronoknya. Bahkan foto bugil seleb yang juga main di film Krisis karya Usmar Ismail itu, tersebar di berbagai kalangan, bersama gambar Titien Sumarni dan Netty Herawati. Namun, kemudian diketahui bahwa itu adalah hasil teknik montage saja, padahal kala itu belum ada photoshop atau software lain yang canggih atau budaya viral internet.

“Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga”? Untungnya tidak. Dalam konteks hari ini, film ini tetap dihormati dan diapresiasi sebagai film klasik yang berharga. Bahkan, beberapa akademisi dengan serius mengulasnya. David Hanan, misalnya, melestarikannya untuk kepentingan pendidikan, memberikan subtitles, dan mengulasnya dalam kertas kerja akademik dan sedang menyusun buku yang diantaranya menganalisa film ini. Salah satunya lewat kuliah umum.


*) Ekky Imanjaya adalah dosen tetap School of Media and Communication, BINUS Internasional, Universitas Bina Nusantara, Jakarta. Salah satu pendiri sekaligus redaktur rumahfilm.org itu kini sedang menempuh studi S3 di bidang Kajian Film di University of East Anglia, Norwich, Inggris

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Terkait Berita: