Daftar Isi Nusantara Angkasa News Global

Advertising

Lyngsat Network Intelsat Asia Sat Satbeams

Meluruskan Doa Berbuka Puasa ‘Paling Sahih’

Doa buka puasa apa yang biasanya Anda baca? Jika jawabannya Allâhumma laka shumtu, maka itu sama seperti yang kebanyakan masyarakat baca...

Pesan Rahbar

Meluruskan Doa Berbuka Puasa ‘Paling Sahih’


Doa buka puasa apa yang biasanya Anda baca? Jika jawabannya Allâhumma laka shumtu, maka itu sama seperti yang kebanyakan masyarakat baca selama ini. Doa itu sudah sejak lama diajarkan oleh guru mengaji bahkan biasa diputar oleh beberapa stasiun televisi saat bulan Ramadan. Tapi beberapa tahun belakangan, sebagian masyarakat dibingungkan oleh doa berbuka puasa versi lain yang sebelumnya jarang terdengar. Doa dengan awalan dzahabazh zhammâ’ diperkenalkan oleh sebagian masyarakat lain yang “tercerahkan”.

Kedua doa tersebut sama-sama bersumber dari riwayat hadis. Sebagaimana naturalnya, hadis yang dicatat ratusan tahun setelah wafatnya nabi saw. memiliki perbedaan dari berbagai sisi. Misalnya, ulama A melemahkan isi hadis (matan) yang dikuatkan oleh ulama B; ulama C memperkuat rantai riwayat (sanad) yang dilemahkan oleh ulama D; ulama E melemahkan periwayat (rawi) A padahal ia dikuatkan oleh ulama F. Sehingga perbedaan dalam ilmu hadis adalah sesuatu yang koheren. Masalah baru timbul ketika di antara mereka saling menyalahkan.

Kini, para pengamal doa Allâhumma laka shumtu disalahkan karena mereka mengamalkan hadis yang dinilai daif. Mereka dituduh membuat bidah oleh para pengamal doa dzahabazh zhammâ’ yang merasa amalannyalah yang paling sahih. Tapi apakah itu cukup tepat?

Ya Allah hanya kepada-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan karena rezeki-Mu aku berbuka (puasa).[1]

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَ بِكَ اَمَنْتُ, وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

Ya Allah hanya kepada-Mu kami berpuasa dan dengan rezeki dari-Mu kami berbuka (puasa), maka terimalah (puasa) kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.[2]


اللّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَي رِزْقِكَ أفْطَرْنَا فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْع العلِيْم

Doa masyhur di atas dicatat di antaranya oleh Abu Daud, Ath-Thabarani dan Ad-Daruquthni dengan beragam lafaznya. Doa tersebut diriwayatkan melalui berbagai jalan: marfu’ karena disandarkan begitu saja kepada Rasulullah saw., mursal karena tabiin langsung meriwayatkan dari Rasulullah saw. tanpa melewati sahabat, dan maqthu’ karena hanya disandarkan kepada tabiin.

Di antara para periwayat melalui jalur marfu’ terdapat nama-nama keluarga nabi seperti, Jafar bin Muhammad, Muhammad bin Ali, Husain bin Ali, dan Ali bin Abi Thalib.[3] Namun di antara rawi terpercaya tersebut terselip nama-nama yang dilemahkan oleh beberapa ulama hadis, misalkan As-Sari bin Khalid, penduduk Madinah yang dianggap tidak dikenal dan tidak dapat dijadikan hujah; atau terdapat nama Muadz, namun diragukan apa dia Muadz bin Jabal sahabat nabi atau Muadz bin Zuhrah seorang tabiin; dan beberapa nama lain yang dianggap lemah, seperti Daud bin Az-Zibriqan, Abdul Malik bin Harun, dan Ismail Al-Bajari.

Lalu, siapakah yang melemahkan riwayat di atas? Di antaranya Nasiruddin Al-Albani.[4]

Meski demikian, jika riwayat tersebut dianggap terputus apatah lagi lemah karena tidak sampai pada sahabat, bukankah itu menyalahi aksioma mendasar bahwa seluruh sahabat adil dalam meriwayatkan sebuah hadis? Atau sebuah keyakinan lain, berdasarkan riwayat, bahwa tabiin adalah salah satu generasi terbaik?

Telah hilang dahaga, telah basah kerongkongan dan telah tetap pahala, Insya Allah.


ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Sementara doa yang baru didengar oleh banyak awam belakangan ini juga terdapat dalam kitab ulama yang sama semisal Abu Daud, Ath-Thabarani, Ad-Daruquthni, An-Nasai, Al-Hakim, dan lainnya. Meski doa ini dianggap lebih kuat secara periwayatan, namun bukan berarti tanpa kekurangan.

Di antara periwayat doa dzahaba ini terdapat nama Marwan bin Salim Al-Muqaffa yang baru mendapat predikat level makbul oleh Ibnu Hajar dan tidak dijadikan hujah oleh Bukhari dan Muslim. Menurut Ibnu Hajar orang yang dijadikan hujah oleh Bukhari bernama Marwan Al-Ashfar. Sementara Marwan bin Salim dikukuhkan sebagai orang terpercaya oleh Ibnu Hibban.

Lalu, siapa yang mensahihkan derajat riwayat di atas? Di antaranya Nasiruddin Al-Albani.


Dikenal Sebagai Amalan Para Ulama

Meski kedua macam doa di atas memiliki kekurangan dari sisi ilmu periwayatan dan penisbatannya kepada Rasulullah saw., namun tidak serta merta menjadikan doa tersebut dilarang untuk dibaca. Para ulama berbagai mazhab seperti Fakhruddin Usman bin Ali Az-Zailai dari mazhab Hanafi[5], Ahmad bin Ghunaim bin Salim Al-Azhari dari mazhab Maliki[6], Imam Nawawi dari mazhab Syafii[7], Ibnu Qudamah dari mazhab Hambali[8] menyatakan bahwa membaca doa Allâhumma laka shumtu saat berbuka puasa sebagai perbuatan mustahab alias dianjurkan.

Lebih jauh, andaipun riwayat berbuka puasa Allâhumma laka shumtu memiliki kelemahan secara periwayatan, namun beberapa kitab melengkapi doa tersebut dengan dzahabazh zhammâ’ . Frasa kedua tersebut yang secara bahasa berarti “telah hilang dahaga” merupakan ungkapan biasa sesudah berdoa yang diucapkan Rasulullah saw. setelah meminum air. Kalimat tersebut baru menjadi doa—sebagaimana umumnya—ketika didahului dengan kalimat Allâhumma yang berarti “Ya Allah…”.

Pun demikian, doa sebagai bentuk pengharapan dan “komunikasi” kepada Allah tidak mewajibkan harus memiliki sumber nas Alquran dan hadis. Hal tersebut otomatis tidak mengharuskan seluruh doa harus berbahasa Arab. Terjemahan doa Allâhumma laka shumtu jelas tidak mengindikasikan adanya pelanggaran atau menyelisihi syariah; bahkan terlihat memiliki arti yang lebih bermakna dibandingkan kenyataan bahwa setelah minum dahaga pun hilang.
Doa Buka Puasa Menurut Syiah

Doa Allâhumma laka shumtu yang dalam beberapa kitab ahlusunah diriwayatkan oleh keluarga nabi saw. memiliki kesamaan sebagaimana yang tercatat dalam kitab ulama Syiah (Imamiah).[9] Imam Musa Al-Kazhim, salah seorang keturunan nabi, mengatakan bahwa doa saat berbuka puasa adalah:

Ya Allah hanya kepada-Mu aku berpuasa, dengan rezeki-Mu aku berbuka, dan kepada-Mu aku bertawakal.

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ، وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ

Riwayat lain menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib a.s. juga biasa membaca doa berikut ketika berbuka puasa:

Dengan nama Allah. Ya Allah hanya kepada-Mu kami berpuasa dan dengan rezeki dari-Mu kami berbuka. Ya Allah, maka terimalah (puasa) kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا اللَّهُمَّ فَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ


Baca sebelumnya disini: Doa Buka Puasa Dalam Ahlul Bait


Referensi:

[1] Abu Daud, Sunan Abi Dâud, juz I, hal. 719, no. 2.358, Dâr Al-Fikr.

[2] Ad-Daruquthni, Sunan Ad-Dâruquthnî, juz II, hal. 185, no. 26, Beirut: Dâr Al-Ma’rifah, 1386 H. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir menggunakan kata singular.

[3] Ibnu Abi Usamah, Musnad Al-Hârits, no. 469, cet. 1, Madinah: Markaz Khidmatus Sunnah, 1413 H. Lihat juga Yahya Al-Jurjani, Tartib Al-‘Amâli, no. 1092, cet. 1, Beirut: Dârul Kutub Al-Ilmiah, 1422 H.

[4] Ulama masyhur salafi asal Shkodër, Albania, yang juga berprofesi mereparasi jam. Kritiknya terhadap fanatisme dan kejumudan, menjadikan pandangannya memiliki perbedaan dengan empat mazhab. Ia juga dianggap sejalan dengan pemikiran mazhab Zahiriah.

[5] Hanafi Fakhruddin Az-Zailai, Tabyîn Al-Haqâiq Syarh Kanz Ad-Daqâiq, Kairo: Al-Matbu’ah Al-Kubra Al-Amiriah, juz 4, hal. 178.

[6] Ahmad bin Ghunaim An-Nafrawi, Al-Fawâkih Ad-Dawâni ‘alâ Risâlah Ibni Abi Zaid Al-Qirwâni, Dâr Al-Fikr, 1415 H, juz 3, hal. 386.

[7] Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, juz 6, hal 363.

[8] Ibnu Qudamah, Asy-Syarh Al-Kabir, juz 3, hal. 76.

[9] Abbas Al-Qumi, Mafâtîh Al-Jinân, Beirut: Mu’assasah Al-A’lamî, hal. 230

(Eja-Jufri/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Doa: Pesan Imam Jakfar As-Shadiq Untuk Mengenal Imam Zaman afs


Ada banyak jalan untuk bisa mengenal Imamah dan Imam Zaman afs, misalnya cara yang terbaik ialah dengan mengkaji doa-doa dan ziarah-ziarah yang menjelaskan tentang kemuliaan Imam zaman afs yang disampaikan oleh para Imam Makshum as yang menjelaskan tentang kemuliaan Imam afs.

Shabestan News Agency, waktu kemunculan Imam Zaman afs tidaklah pasti, meskipun begitu kita harus selalu menanti kemunculan beliau. Yang mungkin saja Allah swt tidak ingin memanjangkan kegaibannya, sehingga menyebabkan berbagai keraguan dan isu-isu seputar Imam Zaman afs terus bertambah, lalu, apa yang harus kita lakukan supaya kita tidak terkena keraguan ini?

Dalam hal ini Ayatullah Al-Uzhma Jawadi Amuli menuliskan :
Muhammad ibn Utsman Amri mengatakan bahwa “aku mendengar dari ayahku ketika aku sedang menemui Imam Hasan Askari as, ayahku bertanya : apakah ucapan ini benar Rasulullah saww mengatakannya “barang siapa yang mati tanpa mengenal Imam Zamannya, maka mati dalam keadaan jahiliyah?, Imam as berkata : iya, ucapan ini benar adanya, dan tidak ada keraguan di dalamnya, kemudian ayahku berkata : lalu setelah anda wafat nanti ya Imam, siapa yang akan menjadi Imam setelahmu? Imam Askari as mengisyaratkan nama Imam Mahdi as dan kemudian berkata : “ia akan memiliki kegaiban yang panjang dimana mengenai hal ini sebagian orang meragukannya”

Mengenal wali Allah, yaitu Imam Zaman afs adalah satu-satunya jalan keselamatan, yang dengan meminta kepada Allah yang maha suci dan dengan kesungguhan dalam beramal maka semuanya menjadi mungkin.

Salah satu sahabat Imam Jakfar Shadiq bertanya pada beliau : ya Imam! Apa yang harus kulakukan jika aku ada di zaman kemunculan Imam Mahdi as?, Imam as berkata “bacalah doa ini : Ya Allah, perkenalkanlah dirimu karena jika engkau tidak mengenalkan dirimu maka aku tidak akan mengenal Nabi-Mu, Ya Allah, perkenalkan Rasul-Mu karena jika aku tidak mengenal Rasulmu maka aku tidak akan mengenal Hujjah-Mu, Ya Allah, perkenalkanlah Hujjah-mu, karena jika aku tidak mengenal Hujjahmu maka agamaku akan tersesat”.

توصیه امام صادق(ع) برای شناخت صاحب الزمان(عج)

خبرگزاری شبستان: برای شناخت مقام والای امامت و شخصیت منحصر به فرد امام عصر علیه السلام راه های فراوانی هست؛ بررسی دعاها و زیارت هایی که از خود امام عصر(عج) رسیده و یا فرموده امامان دیگر درباره آن حضرت(عج) است از بهترین این راه ها است.

گروه مهدویت خبرگزاری شبستان، زمان ظهور وجود مبارک بقیة الله الاعظم (عج) معلوم نیست گرچه ما باید همواره منتظر ظهور خجسته حضرتشان (عج) باشیم. امکان دارد خدای نخواسته غیبت ایشان طولانی شود، و تردیدها، شکوک و شبهه ها نیز افزایش یابد. چه کنیم تا به این تردیدها در ابعاد فردی یا اجتماعی مبتلا نشویم؟ درباره مسایل و مباحث دینی، به ویژه چالش های فراروی حکومت اسلامی نظیر مبحث ولایت فقیه، به دام قرائت های مختلف گرفتار نیاییم؟ در باتلاق شبهات فرو نرویم و با شناخت اصیل امام و امامت مشکلات موجود در این زمان را باز شناخته و بگشاییم؟

شناخت ولی خدا و امام عصرعجل الله تعالی فرجه تنها راه نجات و رستگاری است که با درخواست از خداوند و مجاهده علمی و عملی امکان پذیر است.


آیت الله جوادی آملی در این باره چنین می نویسند:

غیبت امام زمان (عج) همواره مسئله ای مهم و معتبر و اصیل بوده است، به گونه ای که همه معصومان علیهم السلام از نبی مکرم اسلام صل الله علیه وآله تا امام عسکری علیه السلام بارها به وجود مبارک ایشان و ویژگی هایشان اشاره فرموده اند. روایات مجامع روایی شیعه و غیرشیعه در این باره نه از حد استفاضه بلکه از تواتر متعارف نیز فزون تر است.

محمد بن عثمان عمری می گوید: «از پدرم شنیدم که در خدمت امام حسن عسکری علیه السلام بودم که پدرم پرسید: این سخن حق است که پیامبر صل الله علیه وآله فرموده اند: «من مات و لم یعرف امام زمانه مات میتة جاهلیة»؟ فرمودند: «آری این سخن درست است. و هیچ تردیدی در آن نیست، همان طور که شکی در روز بودن این روز روشن نیست، ان هذا حق کما ان النهار حق»؛ سپس پدرم فرمودند: «پس از این که شما رحلت کردید، امام بعد از شما کیست؟ امام عسکری علیه السلام به نام مبارک حضرت ولی عصر (عج) اشاره کرد و آنگاه فرمودند: «او غیبتی طولانی دارد که در آن عده ای سرگردان، گروهی هلاک و دسته ای دچار تردید می شوند؛ اما ان له غیبة یحار فیها الجاهلون و یهلک فیها المبطلون و ...»

بر این اساس غیبت ولی عصر سلام الله علیه برای بسیاری دشوار می آید و شکوک و شبهات، اذهان بسیاری را مسموم می کند و عده ای می گویند که چگونه می شود انسانی بیش از هزار سال زنده بماند و گروهی سخن می رانند که از کجا معلوم است که بیاید و کسان دیگر شبهات دیگر ساده تر یا پیچیده تر را در اذهان می پرورند و آن را می پراکنند.

از سویی دیگر زمان ظهور وجود مبارک بقیة الله الاعظم معلوم نیست گرچه ما باید همواره منتظر ظهور خجسته حضرتشان باشیم و امکان دارد خدای نخواسته غیبت ایشان طولانی شود، و تردیدها، شکوک و شبهه ها نیز افزایش یابد. چه کنیم تا به این تردیدها در ابعاد فردی یا اجتماعی مبتلا نشویم؟ درباره مسایل و مباحث دینی، به ویژه چالش های فرا روی حکومت اسلامی نظیر مبحث ولایت فقیه، به دام قرائت های مختلف گرفتار نیاییم؟ در باتلاق شبهات فرو نرویم و با شناخت اصیل امام و امامت مشکلات موجود در این زمان را باز شناخته و بگشاییم؟

شناخت ولی خدا و امام عصر عجل الله تعالی فرجه تنها راه نجات و رستگاری است که با درخواست از ذات اقدس خداوند و مجاهده علمی و عملی شدنی است.

وعده نجات از جهالت و رهایی از ظلمت گمراهی، دل انسان های بصیر را از دیرباز به خود مشغول داشته است به همین سبب بعضی شاگردان خاص اهل بیت علیهم السلام برای یافتن طریق هدایت سوالاتی درباره معرفت آخرین حجت الهی در محضر ایشان مطرح کرده اند.

چنان که جناب زراره می گوید: از امام صادق علیه السلام شنیدم که فرمودند: «قائم ما پیش از قیام خود غیبتی طولانی خواهد داشت.» عرض کردم: چرا؟ فرمودند: «اگر ظاهر باشد او را می کشند؛» سپس فرمودند: «ای زراره! اوست که انتظارش را می کشند و مردم در ولادتش شک می کنند؛ برخی می گویند پدرش از دنیا رفته و فرزندی از خود به جای نگذارده است؛ بعضی می گویند در شکم مادرش است؛ گروهی گویند غائب است، دسته ای گویند به دنیا نیامده و عده ای دیگر گویند دو سال قبل از وفات پدرش به دنیا آمد! همان موعود منتظر است؛ ولی خدای والا می خواهد تا شیعیان را بیازماید و در این آزمایش دشوار باطل گرایان دچار تردید می شوند.»

زراره (که گویا از چنین فضای پرشبهه ای هراسناک گردید و به فکر چاره افتاده) گوید: به امام صادق علیه السلام عرض کردم: فدایتان شوم اگر من در آن زمان بودم چه کنم؟ آن حضرت(ع) فرمودند: «اگر آن زمان را ادراک کردی، پیوسته دل به این دعا مشغول دار: اللهم عرفنی نفسک فانک ان لم تعرفنی نفسک لم اعرف نبیک؛ اللهم عرفنی رسولک، فانک ان لم تعرفنی رسولک لم اعرف حجتک؛ اللهم عرفنی حجتک فانک ان لم تعرفنی حجتک ضللت عن دینی.»

دعا تنها مجموعه ای از الفاظ برای خواندن و درخواست کردن نیست، بلکه معارف عمیق و درس های ارزشمندی در دعای معصومان علیهم السلام نهفته است که فهم آن ها و تامل در آموزه هایشان آثار ارزشمند علمی و عملی به بار می آورد، چنان که زراره در پی آن است که با این درس گرانقدر مشکل خویش را بگشاید.

برای شناخت مقام والای امامت و شخصیت منحصر به فرد امام عصر علیه السلام راه های فراوانی هست؛ بررسی دعاها و زیارت هایی که از خود امام عصر(عج) رسیده و یا فرموده امامان دیگر درباره آن حضرت(عج) است از بهترین این راه ها است.

همانگونه که تامل در عبارات نهج البلاغه، سخنان حضرت سیدالشهداء علیه السلام از آغاز تا پایان حادثه کربلا، معارف بلند صحیفه سجادیه گویای برنامه های امیرالمومنین امام علی، امام حسین و امام سجاد علیهم السلام اند و از ایجاد حوزه های علمی و برگزاری مناظرات علمی برنامه صادقین علیهما السلام استنباط می شود از ادعیه ماثور یا مرتبط با امام عصر علیه السلام نیز، برنامه های ایشان فهمیده می شود؛ زیرا وقتی امامی دعا می کند علاوه بر مقتضایات دعا، ویژگی های امامت و وظیفه امام در برابر امت و چگونگی پیوند امام با امت و تاثیر ملکی و ملکوتی امام را تشریح می کند.

بر این پایه کسی که می خواهد وجود مبارک حضرت ولی عصر علیه السلام را بشناسد، بهتر است زیارت ها و دعاهای مرتبط با آن حضرت(عج) را به دقت بررسی کند تا به حریم معرفت آن امام همام بار یابد.

پایان پیام/99

(Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Doa di Malam Nishfu Sya’ban


Doa yang dinukil dari Sayyid ibnu Thawus ra dimana doa ini seperti doa ziarah Imam Zaman afs

Shabestan News Agency, salah satu dari doa yang dianjurkan untuk dibaca pada malam Nishfu Sya’ban yang bertepatan dengan malam kelahiran Imam Zaman afs ialah doa yang dinukil dari Sayyid ibnu Thawus ra dimana doa ini seperti doa ziarah Imam Zaman afs, doanya ialah :

«اللَّهُمَّ بِحَقِّ لَيْلَتِنَا هَذِهِ وَ مَوْلُودِهَا وَ حُجَّتِكَ وَ مَوْعُودِهَا الَّتِي قَرَنْتَ إِلَى فَضْلِهَا فَضْلاً فَتَمَّتْ كَلِمَتُكَ صِدْقاً وَ عَدْلاً لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِكَ وَ لا مُعَقِّبَ لِآيَاتِكَ نُورُكَ الْمُتَأَلِّقُ وَ ضِيَاؤُكَ الْمُشْرِقُ وَ الْعَلَمُ النُّورُ فِي طَخْيَاءِ الدَّيْجُورِ الْغَائِبُ الْمَسْتُورُ جَلَّ مَوْلِدُهُ وَ كَرُمَ مَحْتِدُهُ وَ الْمَلائِكَةُ شُهَّدُهُ وَ اللَّهُ نَاصِرُهُ وَ مُؤَيِّدُهُ إِذَا آنَ مِيعَادُهُ وَ الْمَلائِكَةُ فَالْمَلائِكَةُ أَمْدَادُهُ سَيْفُ اللَّهِ الَّذِي لا يَنْبُو وَ نُورُهُ الَّذِي لا يَخْبُو وَ ذُو الْحِلْمِ الَّذِي لا يَصْبُو مَدَارُ الدَّهْرِ وَ نَوَامِيسُ الْعَصْرِ وَ وُلاةُ الْأَمْرِ وَ الْمُنَزَّلُ عَلَيْهِمْ مَا يَتَنَزَّلُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

وَ أَصْحَابُ الْحَشْرِ وَ النَّشْرِ تَرَاجِمَةُ وَحْيِهِ وَ وُلاةُ أَمْرِهِ وَ نَهْيِهِ اللَّهُمَّ فَصَلِّ عَلَى خَاتِمِهِمْ وَ قَائِمِهِمْ الْمَسْتُورِ عَنْ عَوَالِمِهِمْ اللَّهُمَّ وَ أَدْرِكْ بِنَا أَيَّامَهُ وَ ظُهُورَهُ وَ قِيَامَهُ وَ اجْعَلْنَا مِنْ أَنْصَارِهِ وَ اقْرِنْ ثَارَنَا بِثَارِهِ وَ اكْتُبْنَا فِي أَعْوَانِهِ وَ خُلَصَائِهِ وَ أَحْيِنَا فِي دَوْلَتِهِ نَاعِمِينَ وَ بِصُحْبَتِهِ غَانِمِينَ وَ بِحَقِّهِ قَائِمِينَ وَ مِنَ السُّوءِ سَالِمِينَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَ صَلَوَاتُهُ عَلَى [وَ صَلَّى اللَّهُ عَلَی] سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَ الْمُرْسَلِينَ وَ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ الصَّادِقِينَ وَ عِتْرَتِهِ النَّاطِقِينَ وَ الْعَنْ جَمِيعَ الظَّالِمِينَ وَ احْكُمْ بَيْنَنَا وَ بَيْنَهُمْ يَا أَحْكَمَ الْحَاكِمِينَ.

===============

دعای شب نیمه شعبان که به منزله زیارت صاحب الزمان(عج) است

خبرگزاری شبستان: خواندن این دعا را سيّدبن طاووس نقل كرده و خواندن آن در شب نیمه شعبان به منزله زيارت امام زمان صلوات اللّه عليه است.

به گزارش گروه مهدویت خبرگزاری شبستان: از جمله دعاها و سوگندهایی که در شب نیمه شعبان به واسطه مولود عالی مقام و ارزشمند این شب، به خدای تعالی عرض می کنیم این است؛ خواندن این دعا را سيّدبن طاووس نقل كرده و به منزله زيارت امام زمان صلوات اللّه عليه است:

«اللَّهُمَّ بِحَقِّ لَيْلَتِنَا هَذِهِ وَ مَوْلُودِهَا وَ حُجَّتِكَ وَ مَوْعُودِهَا الَّتِي قَرَنْتَ إِلَى فَضْلِهَا فَضْلاً فَتَمَّتْ كَلِمَتُكَ صِدْقاً وَ عَدْلاً لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِكَ وَ لا مُعَقِّبَ لِآيَاتِكَ نُورُكَ الْمُتَأَلِّقُ وَ ضِيَاؤُكَ الْمُشْرِقُ وَ الْعَلَمُ النُّورُ فِي طَخْيَاءِ الدَّيْجُورِ الْغَائِبُ الْمَسْتُورُ جَلَّ مَوْلِدُهُ وَ كَرُمَ مَحْتِدُهُ وَ الْمَلائِكَةُ شُهَّدُهُ وَ اللَّهُ نَاصِرُهُ وَ مُؤَيِّدُهُ إِذَا آنَ مِيعَادُهُ وَ الْمَلائِكَةُ فَالْمَلائِكَةُ أَمْدَادُهُ سَيْفُ اللَّهِ الَّذِي لا يَنْبُو وَ نُورُهُ الَّذِي لا يَخْبُو وَ ذُو الْحِلْمِ الَّذِي لا يَصْبُو مَدَارُ الدَّهْرِ وَ نَوَامِيسُ الْعَصْرِ وَ وُلاةُ الْأَمْرِ وَ الْمُنَزَّلُ عَلَيْهِمْ مَا يَتَنَزَّلُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

خدایا به حق اين شب و مولود آن، و به حق حجتّت و موعود او، كه به فضيلتش فضيلت ديگرى را قرين ساختى، پس كامل شد كلمه ات به راستى و عدالت، براى كلماتت دگرگون سازى نيست، و براى آياتت پس زنده اى نمى باشد، نور درخشانت، و پرتو فروزانت، و نشانه روشنت در شب تاريك، آن غايب پوشيده از نظر، كه ولادتش عظيم بوده و اصل و نسبش شریف است، فرشتگان گواه اويند، و خدا ياور و تأييد كننده اش آنگاه كه وعده ظهورش در رسد و فرشتگان مددكاران اويند، شمشير خداست كه كند نشود، و نور حق است كه خاوش نگردد، و بردبارى است كه كارى بی منطق انجام ندهد، مدار روزگار است.
پدرانش نواميس عصر، و متولّيان حكومت حق اند، نازل شده بر آنان آنچه در شب قدر نازل مى شود،

وَ أَصْحَابُ الْحَشْرِ وَ النَّشْرِ تَرَاجِمَةُ وَحْيِهِ وَ وُلاةُ أَمْرِهِ وَ نَهْيِهِ اللَّهُمَّ فَصَلِّ عَلَى خَاتِمِهِمْ وَ قَائِمِهِمْ الْمَسْتُورِ عَنْ عَوَالِمِهِمْ اللَّهُمَّ وَ أَدْرِكْ بِنَا أَيَّامَهُ وَ ظُهُورَهُ وَ قِيَامَهُ وَ اجْعَلْنَا مِنْ أَنْصَارِهِ وَ اقْرِنْ ثَارَنَا بِثَارِهِ وَ اكْتُبْنَا فِي أَعْوَانِهِ وَ خُلَصَائِهِ وَ أَحْيِنَا فِي دَوْلَتِهِ نَاعِمِينَ وَ بِصُحْبَتِهِ غَانِمِينَ وَ بِحَقِّهِ قَائِمِينَ وَ مِنَ السُّوءِ سَالِمِينَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَ صَلَوَاتُهُ عَلَى [وَ صَلَّى اللَّهُ عَلَی] سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ النَّبِيِّينَ وَ الْمُرْسَلِينَ وَ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ الصَّادِقِينَ وَ عِتْرَتِهِ النَّاطِقِينَ وَ الْعَنْ جَمِيعَ الظَّالِمِينَ وَ احْكُمْ بَيْنَنَا وَ بَيْنَهُمْ يَا أَحْكَمَ الْحَاكِمِينَ.

اصحاب حشر و نشرند، و مفسّران وحى خدا، و واليان امر و نهى حق. خدايا! بر خاتم و قائمشان كه پوشيده از عوالم ايشان است درود فرست.

خدايا! ما را به درك ايام او و ظهور و قيامش نايل فرما، و از يارانش قرارمان ده، و خوخواهى او قرين كن، و ما را در شمار ياران و دل دادگانش ثبت فرما، و در دولتش شاد و خرّم زنده بدار، و از همنشينى اش بهره مند ساز و برپادارنده حقش قرارمان ده، و از بديها به سلامت بدار، ای مهربان ترين مهربانان، و سپاس خداى را پروردگار عالميان، و درودهاى بى پايان خدا بر آقايمان محمّد خاتم پيامبران و رسولان، و بر اهل بيت راستگو و خاندان حق گويش باد، خدایا لعن کن بر همه ستمكاران، و بين ما و بين آنان داورى كن، اى بهترین داوران.

منبع: صحیفه مهدیه، ص 435

پایان پیام/99

(Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Doa Imam Zaman afs Pada Hari Ke-3 Bulan Sya’ban


Sementara dalam kitab “Zadul Ma’ad” disebutkan bahwa Imam Zaman afs berkata “berpuasalah pada hari ketiga di bulan Sya’ban dan bacalah doa ini, karena pada hari tersebut Imam Husain as dilahirkan.”

Shabestan News Agency, Allamah Majlisi ra dalam kitab “Biharul Anwar” mengatakan : wakil dari Imam Hasan Askari as, Qasem bin Ala’ Hamedani menerima sebuah surat yang di dalamnya ditulis “sebagaimana Imam Husain as dilahirkan pada hari Kamis pada hari 3 bulan Sya’ban, maka berpuasalah pada hari tersebut dan bacalah doa ini.”

Sementara dalam kitab “Zadul Ma’ad” disebutkan bahwa Imam Zaman afs berkata “berpuasalah pada hari ketiga di bulan Sya’ban dan bacalah doa ini, karena pada hari tersebut Imam Husain as dilahirkan.”

Dan doa tersebut ialah :

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْمَوْلُودِ فِي هَذَا الْيَوْمِ الْمَوْعُودِ بِشَهَادَتِهِ قَبْلَ اسْتِهْلالِهِ وَ وِلادَتِهِ بَكَتْهُ السَّمَاءُ وَ مَنْ فِيهَا وَ الْأَرْضُ وَ مَنْ عَلَيْهَا وَ لَمَّا يَطَأْ (يُطَأْ) لابَتَيْهَا قَتِيلِ الْعَبْرَةِ وَ سَيِّدِ الْأُسْرَةِ الْمَمْدُودِ بِالنُّصْرَةِ يَوْمَ الْكَرَّةِ؛

الْمُعَوَّضِ مِنْ قَتْلِهِ أَنَّ الْأَئِمَّةَ مِنْ نَسْلِهِ وَ الشِّفَاءَ فِي تُرْبَتِهِ وَ الْفَوْزَ مَعَهُ فِي أَوْبَتِهِ وَ الْأَوْصِيَاءَ مِنْ عِتْرَتِهِ بَعْدَ قَائِمِهِمْ وَ غَيْبَتِهِ حَتَّى يُدْرِكُوا الْأَوْتَارَ وَ يَثْأَرُوا الثَّارَ وَ يُرْضُوا الْجَبَّارَ وَ يَكُونُوا خَيْرَ أَنْصَارٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَعَ اخْتِلافِ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ

اللَّهُمَّ فَبِحَقِّهِمْ إِلَيْكَ أَتَوَسَّلُ وَ أَسْأَلُ سُؤَالَ مُقْتَرِفٍ مُعْتَرِفٍ مُسِي ءٍ إِلَى نَفْسِهِ مِمَّا فَرَّطَ فِي يَوْمِهِ وَ أَمْسِهِ يَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ إِلَى مَحَلِّ رَمْسِهِ ؛

اللَّهُمَّ فَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عِتْرَتِهِ وَ احْشُرْنَا فِي زُمْرَتِهِ وَ بَوِّئْنَا مَعَهُ دَارَ الْكَرَامَةِ وَ مَحَلَّ الْإِقَامَةِ اللَّهُمَّ وَ كَمَا أَكْرَمْتَنَا بِمَعْرِفَتِهِ فَأَكْرِمْنَا بِزُلْفَتِهِ وَ ارْزُقْنَا مُرَافَقَتَهُ وَ سَابِقَتَهُ وَ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُسَلِّمُ لِأَمْرِهِ وَ يُكْثِرُ الصَّلاةَ عَلَيْهِ عِنْدَ ذِكْرِهِ وَ عَلَى جَمِيعِ أَوْصِيَائِهِ وَ أَهْلِ أَصْفِيَائِهِ الْمَمْدُودِينَ مِنْكَ بِالْعَدَدِ الاثْنَيْ عَشَرَ النُّجُومِ الزُّهَرِ وَ الْحُجَجِ عَلَى جَمِيعِ الْبَشَرِ

اللَّهُمَّ وَ هَبْ لَنَا فِي هَذَا الْيَوْمِ خَيْرَ مَوْهِبَةٍ وَ أَنْجِحْ لَنَا فِيهِ كُلَّ طَلِبَةٍ كَمَا وَهَبْتَ الْحُسَيْنَ لِمُحَمَّدٍ جَدِّهِ وَ عَاذَ فُطْرُسُ بِمَهْدِهِ فَنَحْنُ عَائِذُونَ بِقَبْرِهِ مِنْ بَعْدِهِ نَشْهَدُ تُرْبَتَهُ وَ نَنْتَظِرُ أَوْبَتَهُ آمِينَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

===============

دعای صاحب الزمان علیه السلام برای سوم شعبان

خبرگزاری شبستان: علامه مجلسی می فرمایند: وکیل امام حسن عسکری علیه السلام نامه ای از ناحیه مقدسه دریافت کرد که در آن فرموده بودند: «همانا مولای ما امام حسین علیه السلام در روز پنجشنبه سوم شعبان به دنیا آمدند؛ آن روز را روزه بگیر و این دعا را بخوان.»

به گزارش خبرگزاری شبستان : علامه مجلسی در کتاب «بحارالانوار» می فرمایند: وکیل امام حسن عسکری علیه السلام – قاسم بن علاء همدانی- نامه ای از ناحیه مقدسه دریافت کرد که در آن فرموده بودند: «همانا مولای ما امام حسین علیه السلام در روز پنجشنبه سوم شعبان به دنیا آمدند؛ آن روز را روزه بگیر و این دعا را بخوان.»

و در کتاب « زادالمعاد » می فرماید: امام زمان صلوات الله علیه این دستور را صادر فرمودند: «روز سوم شعبان را روزه بگیر و این دعا را بخوان؛ زیرا این روز ولادت امام حسین علیه السلام است»


و آن دعا به شرح ذیل است:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْمَوْلُودِ فِي هَذَا الْيَوْمِ الْمَوْعُودِ بِشَهَادَتِهِ قَبْلَ اسْتِهْلالِهِ وَ وِلادَتِهِ بَكَتْهُ السَّمَاءُ وَ مَنْ فِيهَا وَ الْأَرْضُ وَ مَنْ عَلَيْهَا وَ لَمَّا يَطَأْ (يُطَأْ) لابَتَيْهَا قَتِيلِ الْعَبْرَةِ وَ سَيِّدِ الْأُسْرَةِ الْمَمْدُودِ بِالنُّصْرَةِ يَوْمَ الْكَرَّةِ؛

خدايا از تو مى خواهم به حق مولود در اين روز، كه به شهادتش وعده داده شد پيش از برخاستن صدايش و قبل از ولادتش، آسمان و هركه در آن است زمين و هر كه بر آن است بر او گريست درحالى كه هنوز قدم در جهان نگذاشته بود، كشته اشك، سرور خاندان، مدد يافته به يارى روز بازگشت،

الْمُعَوَّضِ مِنْ قَتْلِهِ أَنَّ الْأَئِمَّةَ مِنْ نَسْلِهِ وَ الشِّفَاءَ فِي تُرْبَتِهِ وَ الْفَوْزَ مَعَهُ فِي أَوْبَتِهِ وَ الْأَوْصِيَاءَ مِنْ عِتْرَتِهِ بَعْدَ قَائِمِهِمْ وَ غَيْبَتِهِ حَتَّى يُدْرِكُوا الْأَوْتَارَ وَ يَثْأَرُوا الثَّارَ وَ يُرْضُوا الْجَبَّارَ وَ يَكُونُوا خَيْرَ أَنْصَارٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمْ مَعَ اخْتِلافِ اللَّيْلِ وَ النَّهَارِ

پاداش شهادتش اين بود كه امامان از نسل اويند، و شفا در كام اوست و پيروزى با اوست در زمان بازگشتش؛ و جانشينان از خاندانش پس از قيام كننده شان و غيبت او، تا انتقام گيرند و خون خواهى نمايند، و حضرت جبّار را خشنود سازند و بهترين ياران دين حق شوند، درود خدا بر ايشان همگام با رفت وآمد شب و روز.

اللَّهُمَّ فَبِحَقِّهِمْ إِلَيْكَ أَتَوَسَّلُ وَ أَسْأَلُ سُؤَالَ مُقْتَرِفٍ مُعْتَرِفٍ مُسِي ءٍ إِلَى نَفْسِهِ مِمَّا فَرَّطَ فِي يَوْمِهِ وَ أَمْسِهِ يَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ إِلَى مَحَلِّ رَمْسِهِ ؛

خدايا! به حق آنان به تو توسّل می جويم و از تو درخواست می كنم درخواست گنهكار معترف به گناه و بد كرده به خود با امورى كه در امروز ديروزش كوتاهى نموده، از تو تا هنگام رفتن در گورش پناه می خواهد،

اللَّهُمَّ فَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عِتْرَتِهِ وَ احْشُرْنَا فِي زُمْرَتِهِ وَ بَوِّئْنَا مَعَهُ دَارَ الْكَرَامَةِ وَ مَحَلَّ الْإِقَامَةِ اللَّهُمَّ وَ كَمَا أَكْرَمْتَنَا بِمَعْرِفَتِهِ فَأَكْرِمْنَا بِزُلْفَتِهِ وَ ارْزُقْنَا مُرَافَقَتَهُ وَ سَابِقَتَهُ وَ اجْعَلْنَا مِمَّنْ يُسَلِّمُ لِأَمْرِهِ وَ يُكْثِرُ الصَّلاةَ عَلَيْهِ عِنْدَ ذِكْرِهِ وَ عَلَى جَمِيعِ أَوْصِيَائِهِ وَ أَهْلِ أَصْفِيَائِهِ الْمَمْدُودِينَ مِنْكَ بِالْعَدَدِ الاثْنَيْ عَشَرَ النُّجُومِ الزُّهَرِ وَ الْحُجَجِ عَلَى جَمِيعِ الْبَشَرِ

خدايا! بر محمّد و خاندانش درود فرست، و ما را در جمع او محشور كن، و همراه وى در بهشت و جايگاه ابدى جاى ده.
خدايا! همچنان كه ما را به شناسايى اش گرامى داشتى پس ما را به تقرّب به آن حضرت گرامى دار، و رفاقت و سابقه محبّت با او را روزی ما فرما، و ما را از كسانى قرار ده كه فرمانش را تسليم مى شوند، و به هنگام بردن نامش صلوات زياد بر او میفرستند، و هم بر همه جانشينان و خاندان برگزيده اش، آن يارى شدگان از سوى تو به عدد دوازده، آن ستارگان درخشان و حجّت هاى الهى بر تمام بشر

اللَّهُمَّ وَ هَبْ لَنَا فِي هَذَا الْيَوْمِ خَيْرَ مَوْهِبَةٍ وَ أَنْجِحْ لَنَا فِيهِ كُلَّ طَلِبَةٍ كَمَا وَهَبْتَ الْحُسَيْنَ لِمُحَمَّدٍ جَدِّهِ وَ عَاذَ فُطْرُسُ بِمَهْدِهِ فَنَحْنُ عَائِذُونَ بِقَبْرِهِ مِنْ بَعْدِهِ نَشْهَدُ تُرْبَتَهُ وَ نَنْتَظِرُ أَوْبَتَهُ آمِينَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

خدايا! ببخش بر ما در اين روز بهترين بخشش را، و برآور براى ما هر خواسته اى را، چنان كه حسين را به محمّد بخشيدى، و فطرس به گهواره اش پناهنده شد، و ما پناهنده به مزار اوييم پس از شهادتش، بر تربتش حاضر مى شويم و بازگشتش را انتظار مى كشيم، آمين اى پروردگار جهانيان.

پایان پیام/99

(Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Keagungan Doa Nabi Khidhir di Malam Nishfu Sya’ban


“Ketika engkau telah menghafal doa ini bacalah setiap malam Jum’at atau sebulan sekali atau setahun sekali atau paling tidak seumur hidupmu sekali dimana kelak doa ini akan mencukupimu dan menolongmu, rezekimu akan diperbanyak, dan kau akan mendapatkan ampunan Ilahi.”

Shabestan News Agency, Kumayl bin Ziyad berkata : suatu hari aku sedang duduk bersama Amirul Mukminin Ali as di masjid Bashrah bersama beberapa sahabat, kemudian di antara mereka bertanya kepada Imam as tentang makna dari firman Allah swt “pada malam ini setiap perkara telah ditentukan hikmahnya.”

Kemudian Imam Ali as berkata “maksud dari malam tersebut ialah Nishfu Sya’ban, aku bersumpah demi Dia yang jiwa Ali berada di tangannya, tidak ada seorang hambapun kecuali semua amalan baik dan buruk yang dilakukannya selama setahun sampai Nishfu Sya’ban berikutnya pada malam tersebut akan dibaginya, dan bagi orang yang menghidupkan malam ini dan membaca doa Hidhir maka doanya akan diijabah.”

Imam Ali as keluar dari masjid, kemudian aku (kumayl) ketika malam tiba mengikutinya dan Imam as melihatku kemudian berkata “mengapa kau datang kemari? Aku berkata : wahai Imam! Ajari aku doa Hidhir tersebut, kemudian Imam as berkata “ketika engkau telah menghafal doa ini bacalah setiap malam Jum’at atau sebulan sekali atau setahun sekali atau paling tidak seumur hidupmu sekali dimana kelak doa ini akan mencukupimu dan menolongmu, rezekimu akan diperbanyak, dan kau akan mendapatkan ampunan Ilahi.”

Kemudian Imam Ali as mengajarkan doa tersebut atau dikenal dengan Doa Kumayl hingga saat ini.

فضیلت دعای حضرت خضر(ع) در شب نیمه شعبان

خبرگزاری شبستان: هر شب جمعه یا در طول عمرت یک مرتبه این دعا را بخوان که تو را کفایت و یاری می کند، و روزی تو را زیاد می گرداند و آمرزش الهی را هیچگاه از دست نمی دهی.

به گزارش خبرگزاری شبستان: کمیل بن زیاد می گوید: با مولایم امیرالمومنین علی علیه السلام در مسجد بصره نشسته بودم و گروهی از اصحاب نیز همراه آن حضرت(ع) بودند، پس بعضی از آنان از ایشان سوال کردند که معنای این فرمایش خداوند: «که در این شب هر امری با حکمت معین گردد» چیست؟

حضرت امیرالمومنین علیه السلام فرمودند: «مراد شب نیمه شعبان است؛ قسم به آن کس که جان علی در دست اوست، هیچ بنده ای نیست مگر این که تمامی خیر و شرّی که در طول سال تا شب نیمه شعبان آینده بر او می گذرد، در آن شب برای او تقسیم می شود و هیچ بنده ای نیست که این شب را با شب زنده داری سپری کند و دعای حضرت خضر علیه السلام را بخواند مگر این که اجابت شود.»

امام علیه السلام از مسجد بیرون رفتند، من شب هنگام در پی ایشان به راه افتادم؛ حضرت(ع) فرمودند: ای کمیل؛ چه باعث شده که اینجا آمده ای؟ گفتم: ای امیرمومنان دعای خضر علیه السلام را می خواهم. حضرت(ع) فرمودند: «ای کمیل؛ بنشین؛ هنگامی که این دعا را حفظ کردی، هر شب جمعه یا در ماه یک مرتبه و یا در طول سال یک مرتبه یا در طول عمرت یک مرتبه این دعا را بخوان که تو را کفایت و یاری می کند، و روزی تو را زیاد می گرداند و آمرزش الهی را هیچگاه از دست نمی دهی.»

سپس فرمودند: «ای کمیل؛ دوستی و همنشینی طولانی تو با ما تو را سزاوار نموده که آنچه می خواهی به تو ببخشم.» و سپس حضرت امیرالمومنین(ع) «دعای کمیل» را به او آموختند.

منبع: صحیفه مهدیه، ص ۴۳۵ پایان پیام/99

(Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Benarkah Syiah Melaknat Para Sahabat Nabi?. Ternyata Jawabannya Begini Didalam Do'a Asyura, Simak!


Siapa yang Pertama, Kedua dan Ketiga yang Dilaknat Syiah dalam Ziarah Asyura?

Oleh: Ismail dg. Naba

Akhir-akhir ini ketentraman dan kedamaian dalam masyarakat diusik oleh segelintir orang yang merasa dirinya paling benar, paling beragama dan merasa penegak sunnah Rasulullah saw, mereka adalah kelompok Pengikut Muhammad bin Abdul Wahab. Mereka merasa terusik dan tidak tenang melihat perkembangan pesat pengikut mazhab cinta (mazhab Ahlulbait) yang lebih dikenal dengan sebutan “Syiah” di penjuru dunia khususnya di tanah air Indonesia. Untuk membendung vitamin cinta ini, mereka terus menerus menebarkan virus penangkal dengan tuduhan dan fitnahan murahan yang tidak mendasar supaya mata air kecemerlangan yang terpancar dari Rasulullah saw dan keluarganya yang suci tersamarkan dan bahkan menjauh dari masyarakat.

Setiap musim haji dan umrah di sekitar pekuburan suci Baqi’ (pemakaman para sahabat dan keluarga Rasulullah saw) tepatnya disekitar kuburan empat imam dalam mazhab Ahlulbait (Imam Hasan al-Mujtaba, Imam Ali Zainal Abidin, Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Ja’far Shadiq alaihimussalam) para pencinta keluarga Rasulullah saw berziarah ke pemakaman tersebut dengan membaca doa ziarah dan tawassul yang dibaca melalui buku Mafatihul Jinan. Para petugas pemerintahan Saudi (yang bermazhab Wahabi) melakukan sweeping terhadap buku do’a tersebut dan bertanya bahwa maksud dari “pertama”, “kedua”, “ketiga” yang kalian laknat dalam doa ziarah Asyura siapa saja?.

Sebenarnya pertanyaan seperti ini sudah pernah muncul sejak zaman Syekh Thusi ra dan sampai hari ini pertanyaan itu masih tetap digulirkan oleh para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab guna menyudutkan mazhab Ahlulbait (Syiah) dengan ingin mengatakan bahwa mazhab Ahlulbait bukan bagian dari Islam sebagaimana yang baru baru terjadi dikota Makassar. Segelintir orang yang tidak senang kepada pencinta Ahlulbait Nabi melontarkan tuduhan bahwa orang-orang Syiah melaknat sahabat Rasulullah SAW dengan menuduh bahwa yang dimaksud oleh orang-orang Syiah dengan yang pertama, kedua dan ketiga dalam do’a tsb adalah khalifah pertama, khalifah kedua dan khalifah ketiga.

Apakah tuduhan tersebut benar? Apakah memang betul seperti itu keyakinan dalam mazhab Ahlulbait? Mari kita simak beberapa penjelasaan atas jawaban dari pertanyaan diatas.

Ada beberapa jawaban terhadap pertanyaan tersebut:

1. Dari mana kita mengetahui bahwa siapa orang orang yang dimaksud dalam do’a tersebut,? Jika pengucap pertama (Imam dalam mazhab Ahlulbait) do’a ini, ingin menerangkan secara jelas siapa yang dimaksud, maka dari awal beliau akan memperjelas maksudnya sehingga tidak terjadi tanda tanya dan ketidakjelasan. Dan kalian wahai pengikut Muhammad bin Abdul Wahab yang tidak meyakini ilmu ghaib bahkan ilmu ghaib para Anbiyah saja anda tidak meyakininya, maka bagaimana mungkin kalian mengetahui niat orang orang Tasyayyu dan niat para imam dalam mazhab Ahlulbait pada do’a tersebut bahwa siapa siapa yang dimaksud tiga orang tersebut?. Syarat untuk mengetahuinya adalah mesti memiliki ilmu ghaib.

2. Salah satu ulama mazhab Ahlulbait mengatakan, “Ketika saya ada di masjid Nabawi, pada saat itu saya memegang kitab do’a Mafatihul Jinan, tiba tiba salah seorang petugas (pengikut mazhab wahabi) mengambil buku tersebut dari tangan saya dan mencari ziarah Asyura dan memperlihatkan kepada saya kemudian berkata, “Yang pertama, kedua dan ketiga yang kalian laknat ini siapa?”

Ulama tersebut menjawab, “Memangnya kita wajib mengetahui siapa orang-orangnya?” Dia (Wahabi) menjawab, “Ketika kita tidak mengetahui siapa orang tersebut maka bagaimana mungkin kita melaknatnya?”. Ulama Syiah itu menjawab, “Kaum muslimin shalat lima kali sehari dan senantiasa mengatakan “ghairil maghdhubi ‘alaihim wa laddhaalliin” apakah orang orang yang melaksanakan shalat tersebut mengetahui siapa saja “maghdhubi ‘alaihim” (orang-orang ang dimurkai), dan “dhallin“(orang-orang yang sesat)? Dia berpikir sejenak dan berkata, “Tidak, Mereka tidak mengetahuinya”. Maka ulama Syiah tersebut menjawab, “Ketika mereka tidak mengetahuinya, bagaimana mereka memohon kepada Tuhan untuk tidak ditunjukkan kepada jalan orang orang yang dimurkai dan disesatkan?” Dia menjawab, “Ini adalah shalat dan diperintahkan untuk membaca seperti itu dan Tuhan tidak menginginkan kepada kita untuk mengetahui siapa siapa yang dimaksud.” Mendengar jawaban petugas itu, sang ulama berkata, “Ini juga adalah doa ziarah dan diperintahkan untuk dibaca seperti itu dan mereka yang membaca do’a tersebut tidak mengetahui siapa yang dimaksud dalam do’a tersebut.”

Dengan jawaban yang diberikan oleh ulama tsb, petugas itu terdiam dan pergi.

3. Kalian (pengikut Muhammad bin Abdul Wahab) sendiri yang berprasangka dan menuduh bahwa yang dimaksud oleh Syiah dengan yang pertama, kedua dan ketiga adalah khalifah pertama (Abu Bakar as-Siddiq), khalifah kedua (Umar bin Khattab), Khalifah ketiga (Usman bin Affan). Apakah kalian menemukan didalam buku-buku Syiah Imamiyah yang dikarang oleh ulama-ulama mu’tabar Syiah mulai dari ulama-ulama terdahulu sampai yang kontemporer yang menulis secara jelas bahwa yang dimaksud ketiga orang tersebut adalah orang-orang yang sebagaimana kalian sebutkan? Tentunya kalian tidak akan menemukannya karena memang tidak ada dan kenapa pertanyaannya berhenti sampai yang ketiga? Kalau bisa saya melanjutkan pertanyaannya yaitu yang dimaksud dengan yang keempat dalam do’a tersebut adalah siapa? apakah kalian berani mengatakan bahwa yang keempat adalah khalifah keempat (imam Ali as)?, Kalau dijawab dengan kalimat: “Saya tidak tahu”. Maka saya mengatakan bahwa dari mana kalian mengetahui ketiganya tetapi yang keempat kalian tidak mengetahuinya? Sebagaimana jawaban kalian terhadap pertanyaan tentang yang keempat bahwa “saya tidak tahu”, kami juga mengatakan bahwa kami tidak mengetahui siapa yang pertama, kedua dan ketiga tersebut dan kami tidak menerima segala macam prasangka dan tuduhan yang lontarkan kepada kami tentang ketiga orang tersebut.

4. Begitupula bisa dikatakan bahwa memangnya kalian tidak membuka kitab kalian sendiri yang diriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa: “Jika ada orang tidak layak dilaknat dan dilontarkan pelaknatan kepadanya maka pelaknatan yang dilontarkan kepadanya berubah menjadi rahmat dan keberkahan baginya?[1]

Kalau memang seperti itu kenapa mesti bersedih apalagi marah-marah!!.”

5. Dalam sejarah disebutkan bahwa Musuh-musuh Syaikh Thusi (385-460 H) (salah seorang ulama terkemuka Syiah) melaporkannya kepada khalifah Abbasi bahwa Syekh Thusi dan teman temannya melakukan pelaknatan kepada para sahabat dengan bukti yang tertulis didalam kitabnya yang berjudul al-Mishbah dan Doa Ziarah Asyura. Khalifah Abbasi memanggil SyaikhThusi dan meminta pertanggungjawaban atas tuduhan yang dilemparkan kepadanya. Syaikh Thusi menjawab tuduhan tersebut dengan mengatakan bahwa bukan begitu maksudnya sebagimana yang khalifah dengar dari sipenebar fitnah, maksud dari
- Yang pertama adalah qabil yang membunuh habil, dia adalah orang pertama yg mencontokan pembunuhan dan penzaliman,
- Yang kedua adalah Qaidar yang membunuh onta Nabi Shaleh as, yang ketiga adalah pembunuh Nabi Yahya as, dia adalah raja Rumania yang tergila-gila dengan seorang pelacur dan
- Yang keempat adalah Abdurrahman bin Muljam, pembunuh Imam Ali as. 

Setelah khalifah mendengar jawaban Syaikh Thusi, bukan hanya tidak menerima perkataan sipenebar fitnah tetapi justru Syaikh Thusi malah diberikan kedudukan yang terhormat dan penebar fitnah dihukum karena menebarkan fitnah dan merusak persaudaraan sesama kaum muslimin.[2]

Setelah kita menyimak beberapa jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang yang tidak senang kepada pencinta Ahlul Bait Nabi maka dapat disimpulkan bahwa mereka hanya ingin menebarkan kebencian dan keresahan didalam masyarakat karena klaiman mereka tidak terbukti dan tidak mendasar. Oleh karena itu kami hanya ingin mengatakan kepada para pembenci pencinta Rasul dan Keluarganya yang suci tanpa kami meyakini siapa saja yang dimaksud dengan orang-orang tersebut bahwa siapa pun mereka, mereka adalah orang-orang yang secara terang-terangan menzalimi para Anbiyah dan keluarganya dan mereka berhak untuk dilaknat dan sama sekali tidak ada kaum muslimin yang menolak pelaknatan kepada mereka yang menzalimi para Anbiya dan keluarganya kecuali orang-orang yang tidak punya akal dan hatinya tertutup untuk menerima kebenaran.

Wallahu ‘Alim


Catatan Kaki:

[1]. Sahih muslim, Muslim bin al Hujaj al Nisyaburi, dar ibnu katsir, Beirut, jilid 4 hal.2007

[2] .Al istibshar fi makhtalafa min al akhbar, Muhammad bin Hasan Thusi (yang dikenal dengan nama syekh Thusi atau syekh At Thaifah), dar al-kitab al-islamiyah, Tehran, jilid 1 hal.14.

(Bahtera-Nuh/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Hakikat dan Manfaat Doa


Oleh: Syaikh Husain Mazhahiri

Sesungguhnya salah satu faktor penolong bagi manusia dalam melakukan “jihad akbar” melawan nafsu ammarah ialah doa. Al-Quran al-Karim memberikan perhatian yang khusus kepada doa, disebabkan doa menciptakan hubungan dengan Allah SWT. Al-Quran Al-Karim juga mengecam orang-orang yang tidak menaruh perhatian terhadap doa.

Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan aku perkenankan bagimu.

Kemudian Allah SWT menambahkan:

Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, mereka akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina. (QS. Al-Mu’min: 60)

Tidak pernah di dalam Al-Quran disebutkan suatu azab seperti penyebutan azab ini. Atau bisa juga kita katakan, bahwa jarang kita melihat suatu ancaman dalam bentuk seperti ini sebagaimana yang ditujukan kepada orang yang meninggalkan doa. Barangsiapa tidak berdoa, lalu dia berputus asa dari doa dan meninggalkan tali di atas punggung unta dalam keadaan yang sensitif ini, maka niscaya Allah memasukkannya ke dalam neraka Jahanam.

Katakanlah (kepada orang-orang musyrik), “Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadahmu. (tetapi bagaimana kamu beribadah kepada-Nya), padahal sungguh kamu telah mendustakan-Nya. Karena itu kelak azab pasti menimpamu.” (QS. Al-Furqan: 77).

Barangsiapa menjauhkan diri dari berdoa dan memohon kepada Allah Azza Wajalla, maka niscaya Allah SWT akan berlepas tangan darinya dan menyerahkan urusan dirinya kepada-Nya, dan ketika itulah anda dapat menyaksikan betapa dia merugi di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, hadis-hadis menganjurkan kita untuk senantiasa membaca doa Rasulullah SAW di saat kegelapan malam. Yaitu doa yang berbunyi, “Ya Allah, janganlah sekejap pun Engkau serahkan urusan diriku kepadaku.”

Sesungguhnya doa adalah salah satu cabang dari cabang-cabang penyucian dan pembinaan diri. Inilah yang disebutkan oleh Allah SWT setelah Dia bersumpah demi matahari dan cahayanya di pagi hari, kemudian demi bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila ia menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya; kemudian datang ungkapan penyebutan jiwa serta penyempurnaannya, dan pengilhaman jalan kefasikan dan ketakwaan kepda jiwa itu, serta keberuntungan orang yang menyucikan jiwanya dan kerugian orang yang menutupi jiwanya dengan maksiat dan kebodohan, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams : 9-10)

Penyucian jiwa berlangsung dengan doa dan tawassul kepada Allah SWT. Semata-mata doa yang mendidik dan menyucikan jiwa manusia, kata ganti orang pertama (dhamir mutakallim) sebanyak tujuh kali disebutkan pada ayat di bawah ini. Dan ini menunjukkan adanya perhatian yang begitu besar kepada doa. Di dalam surah Al-Baqarah, kita menyaksikan kedekatan Allah Azza Wajalla kepada orang yang berdoa, manakala orang berdoa dan memohon kepada-Nya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah), bahwasannya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah : 186)

Ayat yang mulia ini turun ketika sekelompok orang bertanya apakah Tuhan kami itu dekat sehingga kami cukup berbisik (bermunajat) kepada-Nya, atau Dia itu jauh sehingga kami harus menyeruh-Nya?

Maka Allah SWT pun menajawab, bahwa Dia itu dekat dan mengetahui semua keadaan mereka, serta mendengar doa mereka sebagaimana orang yang berdekatan mendengar perkataan temannya. Allah SWT berfirman, “Aku mengabulkan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-ku”, jika dia datang dengan memenuhi syarat-syarat doa dan mengetahui orang yang dia tuju.

Dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. (QS. Qaf : 16)

Ini menunjukkan bahwa Allah SWT jauh lebih mendengar kepada seorang hamba dibandingkan semua orang yang berada dekat dengannya. Di samping itu ayat ini merupakan pendorong kepada kita untuk hanya berdoa dan bertawassul kepada Allah saja, dan tidak meminta kepada yang lain.

Imam Ali berkata, “Amal perbuatan yang paling dicintai oleh Allah Azza Wajalla di muka bumi adalah doa.”

Rasulullah SAW bersabda, “Tuhanku, aku ingin mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Mu yang Engkau cintai, sehingga aku bisa mencintainya?”

Maka Allah SWT pun berkata, “Jika Aku melihat seorang hamba-Ku banyak menyebut-ku, maka Aku mendengarkannya dan mencintainya; dan jika aku melihat seorang hamba-Ku tidak menyebut-Ku, maka Aku menghalanginya dan membencinya.”

Berdasarkan penjelasan di atas, maka di dalam pandangan Al-Quran Al-Karim dan riwayat-riwayat yang mu’tabar dari Rasulullah SAW dan para Imam Ahlul Bait, doa lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah daripada shalat malam, daripada mengerjakan shalat pada waktunya, dan demikian juga lebih utama daripada jihad. Karena, doa menghubungkan manusia dengan Allah secara langsung, dan menjadikannya tidak bersandar kecuali kepada-Nya. Almarhum al-Kulaini telah menulis kitab doa di dalam al-Kafi, dan mengiringinya dengan riwayat-riwayat yang berbicara tentang keutamaan-keutamaan doa. Demikian juga yang dilakukan oleh ‘Allamah Majlisi tatkala dia menghimpun sejumlah riwayat yang menaruh perhatian terhadap masalah-masalah doa. Kedua kitab ini, bersama dengan kitab Ash-Shahifah as-Sajjadiyyah secara keseluruhan telah membentuk jalan para Imam Ahlul Bait yang suci. Sungguh besar apa yang dikatakan bahwa doa menjadikan manusia mampu membangun dan membersihkan dirinya dari berbagai kotoran dan maksiat. Atau, sebagaimana kata pemimpin Revolusi Islam, ketika membahas tema, “Seorang manusia dapat membangun dirinya dari dua hal; yaitu pertama Al-Quran, dan kedua Doa.

Al-Quran adalah perkataan yang turun dari sisi Zat yang Maha benar, sedangkan doa adalah perkataan seorang manusia kepada Penciptanya. Jadi, kita bisa mengatakan bahwa doa adalah ucapan seorang manusia yang ditujukan kepada Penciptanya, sedangkan Al-Quran adalah perkataan Pencipta terhadap makhluk-Nya. Oleh karena itu, doa adalah salah satu kebanggaan manusia dan selezat-lezatnya kelezatan.

Sesungguhnya manfaat doa banyak sekali, akan tetapi kami tidak akan membahas seluruh manfaatnya. Kami cukupkan untuk membahas dua manfaat darinya saja. Yang pertama, salah satu manfaat doa adalah kebanggaan yang diperoleh seorang hamba dengan bermunajat kepada Tuhannya. Seandainya seorang manusia ditakdirkan dapat bertemu dan berhadapan muka dengan Pemimpin Fulan atau Sultan Fulan, niscaya anda akan melihatnya merasa bangga dengan hal itu di hadapan teman-temannya.

Pada hakikatnya doa adalah kebanggaan seorang hamba di dalam bermunajat kepada tuannya, dan tidak ada kebanggaan yang lebih tinggi daripada seorang manusia dapat bermunajat kepada Tuhannya di tengah malam yang gelap gulita.

Imam Ali Kw berkata, “Barangsiapa yang menyukai bertemu dengan Allah SWT, maka dia akan lupa dengan dunia.”

Doa, artinya kepergian seorang hamba ke rumah Tuannya yang berkali-kali menyerunya, “Kemarilah kepada-Ku”, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan perkenankan bagimu”, dan juga mengancamnya jika dia tidak datang kepada-Nya. Setelah itu Allah SWT berkata, “Aku mengabulkan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” Artinya , “Berdoalah kepada-Ku, penuhilah perintah-Ku, dan berimanlah kepada-Ku; niscaya aku akan mewujudkan apa-apa yang kau inginkan.”

Jika kebetulan seseorang melihat Imam Ali dalam keadaan pingsan di kegelapan malam yang gelap gulita, niscaya dia menyangka bahwa Imam Ali menjadi demikian karena takut dari neraka Jahannam. Tidak, Ali Kw lebih tinggi daripada yang demikian.

Yang demikian itu tidak lain kecintaan seorang hamba dihadapan Kekasih dan Penciptanya. Demikian juga keadaan Fatimah az-Zahra dihadapan Allah Azza Wajalla, di mana tidak terdengar darinya kecuali suara rintihan, dan tidak terlihat darinya kecuali air mata yang mengalir di pipi. Rasulullah SAW telah bersabda di dalam sebuah hadisnya yang panjang, “… Adapun putriku, Fatimah, adalah penghulu wanita seluruh alam … Manakala dia berdiri di mihrabnya dihadapan Tuhannya—Jalla Jalaluh—maka cahayanya menyinari para malaikat di langit, sebagaimana cahaya bintang menyinari para penduduk bumi. Lalu Allah SWT berkata kepada para malaikat-Nya, ‘Wahai para malaikat, lihatlah hamba-Ku, Fatimah, Penghulu para wanita, tengah berdiri dihadapan-Ku, urat lehernya bergetar karena takut kepada-Ku, dan sungguh dia telah menghadap untuk menyembah-Ku dengan hatinya.”

Imam Ja’far ash-Shadiq berkata. “Dua rakaat pada tengah malam jauh lebih aku sukai dibandingkan dunia dengan segala isinya.”

Imam Ridha berkata, “Ali bin Husain ditanya, ‘Bagaimana orang-orang yang bertahajjud di waktu malam bisa menjadi orang yang paling bagus wajahnya?’ Ali bin Husain menjawab, “Karena mereka berdua-duaan dengan Allah, maka Allah pun memakaikan cahaya-Nya kepada mereka.”

Adapun manfaat yang kedua dari doa adalah terlepasnya orang yang berdoa dari berbagai kesedihan, kemurungan, dan keresahan, yang terkadang bisa mengeruhkan kehidupan seseorang. Dari pandangan kejiwaan, dapat dikatakan bahwa mayoritas keresahan dapat hilang dengan berdoa kepada Allah SWT di tengah malam, disebabkan pada saat itu seorang manusia dapat mengutarakan seluruh keluh kesah yang ada di dalam hatinya kepada Zat yang Maha Esa. Dengan begitu, dia dapat mengurangi beban yang berlebihan dari dalam hatinya, yang pengaruhnya tampak jelas terpantul di dalam akhlak pribadinya, sehingga menjadikannya kelelahan meskipun tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berat, dan selalu merasa resah dan tidak tahu apa penyebabnya.

Di samping itu, riwayat-riwayat mengatakan bahwa kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya jauh lebih besar dibandingkan kasih sayang ibu kepada anaknya, “Dia-lah yang dipuji-puji oleh seluruh makhluk ketika mereka butuh dan menghadapi kesulitan, manakala mereka sudah putus pengharapan dari seluruh yang lain selain Dia.”

Tidak mengapa kiranya di sini kita menukil munajat yang biasa dipanjatkan oleh Imam Ali dan oleh para Imam Ahlul Bait sesudahnya, yang diriwayatkan oleh Khalawiyyah, yang terdapat di dalam kitab Mafatih al-Jinan, di bawah judul “Amalan-Amalan bulan Sya’ban” :

Ya Allah, sampaikanlah shalawat dan salam kepada Muhammad dan keluarga Muhammad; dengarkanlah doaku manakala aku berdoa kepada-Mu, dengarkanlah seruanku manakala aku menyeruh-Mu, dan perhatikanlah aku manakala aku bermunajat kepada-Mu. Sungguh, aku telah berlari kepada-Mu, dan kini aku berdiri dihadapan-Mu dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri kepada-Mu, serta mengharapkan ganjaran dari-Mu. Ya Allah, Engkau mengetahui apa yang ada di dalam jiwaku, Engkau mengetahui kebutuhan-kebutuhanku dan Engkau mengetahui apa yang ada di dalam hatiku. Sungguh, tidak tersembunyi dari-Mu tempat kembaliku. Aku tidak ingin menyampaikan ucapan-ucapanku, dan tidak ingin mengutarakan permintaanku, namun aku mengharapkannya untuk hasil akhirku. Sungguh, telah berlalu ketetapan-ketetapan-Mu atas diriku, apa-apa yang akan berlaku hingga akhir umurku, dari hal-hal yang tersembunyi dan kelihatan dari diriku. Di tangan-Mu lah, dan bukan di tangan yang lain, kelebihan, kekurangan, manfaat, dan mudharat diriku.

Ya Allah, jika Engkau mencegahku maka siapakah yang akan memberi rezeki kepadaku, dan jika Engkau menelantarkanku maka siapakah yang akan menolongku.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemarahan-Mu, dan dari datangnya kemurkaan-Mu. Ya Allah, jika aku tidak layak mendapat rahmat-Mu, Engkau dapat memberiku dengan luasnya kemurahan-Mu …

Sebagian orang bertanya, “Mengapa doaku tidak diperkenankan, padahal aku berdoa kepada Allah SWT untuk diberi rezeki—misalnya—siang dan malam.”

Di sini, Allamah Thabathaba’i, penulis kitab tafsir al-Mizan mengatakan, “Sesungguhnya doa diperkenankan, namun kebanyakannya tidak sesuai dengan sangkaan kita, melainkan sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Terkadang kita berdoa kepada Allah SWT supaya diberi rezeki yang banyak, atau dikaruniai anak laki-laki. Atau dengan kata lain, kita berdoa sesuai dengan kemauan kita, bukan sesuai dengan kepentingan-kepentingan fitri kita, padahal seharusnya doa sejalan dengan kenyataan, bukan dengan khalayan. Bisa saja harta yang banyak itu akan merusak kita dan menjauhkan kita dari agama, sementara kita tidak mengetahui itu; padahal Allah SWT mengetahui itu. Dan Dia tidak menginginkan sesuatu bagi kita kecuali kebaikan. Allah SWT mengetahui bahwa maslahat si Fulan menuntut dia untuk tetap dalam keadaan fakir dan hidup tanpa harta yang banyak. Allah mengetahui bahwa agamanya akan lebih baik dalam keadaan ini, dibandingkan jika sekiranya dia diberi rezeki yang banyak. Akan tetapi, jika Allah melihat bahwa sekiranya si Fulan diberi anak laki-laki maka agamanya akan menjadi sempurna, atau keadaannya akan menjadi lebih baik, maka pasti Allah pun memberinya anak laki-laki. Al-Quran al-Karim telah menyinggung masalah ini secara ringkas namun penuh manfaat.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal sesuatu itu amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah : 216)

Pada ayat yang lain Allah SWT juga berfirman dengan makna yang sama:

Mungkin saja kamu tiak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak pada sesuatu itu. (QS. An-Nisa : 19)

Sesuatu yang bukan berada di dalam manfaat kita tidak akan terjadi, lalu kemudian kita pun menyangka bahwa doa yang kita panjatkan tidak memberikan hasil apa-apa.

Apa-apa yang di dalamnya terkandung manfaat bagi kita, maka dengan cepat akan terlaksana setelah doa. Inilah yang ditetapkan oleh Allah SWT atas kita. Dia lebih mengetahui kemaslahatan hamba-hamba-Nya yang tidak mampu mengenal kebaikan. Banyak dari mereka yang berdoa dengan sesuatu yang buruk, tanpa menyadarinya. Akan tetapi Zat yang Maha Kuasa-lah yang menetapkan dan menentukan diperkenankannya doa yang kita panjatkan setiap hari.

Salah satu masalah yang penting di dalam doa ialah tidak adanya pemaksaan terhadap suatu permintaan. Para Imam Ahlul Bait memulai doanya dengan mentauhidkan Allah SWT, menyebutkan sifat-sifat-Nya, dan menyebutkan rahmat dan kasih sayang-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan tidaklah mereka menyebut hajat mereka kecuali di akhir doa. Inilah yang dapat kita rasakan pada doa Kumail bin Ziyad, yang terdapat di dalam kitab Mishbah al-Mutahajjad. Doa ini dimulai dengan kata-kata. “Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, dengan kekuatan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu, dan yang dengannya menunduk segala sesuatu, dan yang dengannya menunduk segala sesuatu, dan yang dengannya merendah segala sesuatu, dan dengan keagungan-Mu yang mengalahkan segala sesuatu.”

Dan doa ini terus berlanjut dalam bentuk seperti ini, hingga seseorang mengemukakan sebagian besar sifat-sifat dan nama-nama Allah SWT, untuk memberikan perhatian yang besar kepada doa dan Zat yang doa ditujukan kepada-Nya, yang tidak lain adalah Allah Azza Wajalla. Setelah itu barulah orang yang berdoa menyebutkan hajatnya, setelah sebelumnya bersumpah kepada Allah SWT atas nama para nabi dan para rasul-Nya, dan juga Nabi Penutup SAW dan para Imam Ahlul Bait, sehingga orang yang berdoa dapat merasakan kelezatan doa, yang mana Allah SWT senang melihat hamba-Nya dalam keadaan demikian, “Ktakanlah, ‘Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, melainkan kalau ada doamu,’” (QS. Al-Furqan : 77)

Jika Allah SWT tidak memperkenankan doa yang kita panjatkan, maka janganlah kita berputus asa dari rahmat Allah SWT, karena putus asa terkadang bisa sampai kepada batas kekufuran.

Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang kafir. (QS. Yusuf : 87)

Adapun sebab yang kedua tidak dikabulkannya doa adalah perbuatan dosa dan maksiat kepada Allah SWT. Dia tidak ubahnya seperti dinding yang menghalangi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Rasulullah SAW telah bersabda, “Barangsiapa memakan satu suap dari makanan yang haram, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam …”

Betapa indah apa yang disebutkan di dalam doa Kumail bin Ziyad—semoga rahmat Allah tercurah atasnya—di mana di dalam doa itu seorang Muslim mengatakan, “Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang merusak nikmat. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang merintangi doa. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang menurunkan bencana.”

Juga pada permulaan munajat sya’baniyyah disebukan, “Ya Allah, dengarlah doaku manakala aku berdoa kepada-Mu, dan dengarlah seruanku manakala aku menyeru-Mu.” Arti ungkapan ini ialah, Ya Allah, sukseskanlah aku di dalam menyingkap tabir penghalang yang menghalangi di antara permohonanku dan Engkau, dan di antara aku dan Engkau. Yaitu tidak lain adalah hijab yang dibuat oleh dosa dan maksiat. Inilah yang disebut dengan bab penyerupaan al-ma’qul (sesuatu yang bersifat akli) dengan al-mahsus (sesuatu yang bersifat inderawi).

Atas dasar ini kita dapat mengetahui bahwa terkabulnya sebuah doa mempunyai syarat-syarat tertentu, yang salah satunya adalah menjauhi perbuatan maksiat dan hal-hal yang dibenci oleh Allah SWT. Oleh karena itu, selayaknya kita memulai doa kita dengan tobat dan memohon ampun, supaya kita mampu mengangkat tirai yang menghalangi doa bisa naik ke atas. Tidak mengapa juga kita mengungkapkan tobat pada pertengahan atau akhir doa. Inilah yang dapat kita saksikan di dalam munajat sya’baniyyah, doa makarimul akhlaq, ­dan doa Kumail.

Jadi, yang menjadi sebab tidak dikabulkannya doa adalah diri kita sendiri, dan juga maksiat serta dosa yang kita lakukan. Kita harus menjauhi semua hal yang diharamkan oleh Allah SWT, baik berupa menyakiti orang lain, makan makanan yang haram, maupun hal-hal yang lain. Imam Muhammad al-Baqir berkata, “Sungguhnya jika seorang laki-laki memperoleh suatu harta yang haram, maka tidak diterima ibadah haji, umrah, dan silaturahmi darinya.”

Walhasil, jika kita ingin doa kita dikabulkan di sisi Allah SWT maka kita harus menjauhi perbuatan dosa dan maksiat, menjaga hak-hak orang lain, tidak bersikap takabur kepada manusia, tidak tertipu harta dan kekayaan yang ada pada kita, dan harus banyak memuji Allah atas besarnya kebaikan yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita, dengan pujian yang memang merupakan hak-Nya. Kita juga harus berpegang teguh kepada apa-apa yang terdapat di dalam kitab-Nya yang mulia, dan kepada apa-apa yang diucapkan Rasulullah SAW dan Ahlul Baitnya, supaya kita dapat menyampaikan doa hingga tingkatan-tingkatan pokoknya, agar diterima dan diridhai oleh Allah SWT.

Adapun sebab ketiga yang menghalangi diperkenankannya doa ialah, apa yang terlintas di dalam hati bertolak belakang dan tidak sesuai dengan kata-kata doa yang sedang kita ucapkan. Amirul Mukminin Ali Kw berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW melihat seorang laki-laki yang mmembelakangi keningnya. Melihat itu Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa yang berusaha mengalahkan Allah maka Allah pasti mengalahkannya, dan barangsiapa yang menipu Allah maka pasti Allah menipunya. Janganlah sama sekali engkau bergeser dari tanah dengan keningmu, dan jangan pula engkau mengubah penciptaanmu.’”

Imam Ali berkata, “Sesungguhnya makhluk yang paling dibenci oleh Allah SWT ialah dua orang laki-laki. Yaitu seorang laki-laki yang Allah serahkan urusan dirinya kepadanya, sehingga dia menyimpang dari jalan Allah SWT, dan tergila-gila dengan bid’ah dan doa yang sesat. Dia menjadi fitnah bagi orang-orang yang terpesona kepadanya, dan menyebabkan orang-orang yang berada di belakangnya tersesat dari petunjuk …”

Barangsiapa hatinya penuh dengan dosa, maka hatinya tidak ubahnya menjadi seperti tempat tidur setan. Dia tidak bisa mengosongkan satu tempat pun di dalam hatinya untuk Tuhan. Mungkin saja seseorang berdoa, sementara hatinya penuh dengan dosa, sehingga doanya pun tidak diperkenankan, disebabkan dirinya penuh dengan maksiat yang mencegah turunnya rahmat Allah kepada dirinya. Adapun hati yang diperuntukkan untuk sesuatu apa pun kecuali untuk perintah-perintah Allah SWT, maka dia dapat mengatakan, “Aku datang ke hadapan Engkau Ya Allah.” Dengan begitu, dia menjadi manusia yang bahagia dengan masuknya cahaya Allah ke dalam hatinya.

Saya memberikan contoh di sini, dengan maksud supaya pmbicaraan saya menjadi jelas. Jika salah seorang dari anda melemparkan wadah ke laut, niscaya dengan cepat anda menyaksikan wadah itu penuh dengan air. Akan tetapi jika dia menutup wadah itu terlebih dahulu dengan penutup yang kuat, lalu kemudian baru melemparkannya ke laut, niscaya anda akan melihat bahwa wadah itu kosong dari air. Dengan kata lain, tidak ada satu tetes air pun masuk ke dalamnya, meskipun wadah itu dibiarkan tetap berada di dalam laut selama setahun penuh. Adakah anda berpikir bahwa penyebab tidak masuknya air ke dalam wadah adalah kikirnya laut dari air, atau penyebabnya adalah penutup kuat yang mencegah masuknya air ke dalam wadah?

Demikian juga halnya anda masuk ke dalam sebuah kamar yang di dalamnya tidak tedapat jendela kecuali hanya satu pintu yang menjadi tempat anda masuk ke dalam kamar itu. Lalu anda mengunci pintu itu. Setelah itu anda menyaksikan bahwa anda tengah berada di dalam kegelapan yang pekat. Apakah ketika itu anda dapat menyalahkan matahari karena tidak memasukkan cahayanya kepada anda?

Jadi, anda harus membuka pintu kamar, dan menjadikannya sebagai jendela. Dengan begitu, baru anda dapat menyaksikan masuknya cahaya matahari kepada anda.

Jadi, kesalahan itu berasal dari kita dan bukan dari air laut atau kamar. Hati yang tidak mengenal kesucian tidak ubahnya seperti kamar yang tidak memiliki jendela.

Dapat juga hasud menjadi salah satu hal yang menghalangi doa. Hasud adalah salah satu faktor yang merusak hati. Karena, hasud adalah pangkal dari sifat-sifat yang buruk, dan buah dari hasud ialah kesengsaraan dunia dan kesengsaraan akhirat. Orang yang hatinya dikuasai oleh hasud, niscaya Allah SWT mencegahnya dari rahmat-Nya dan juga dari dikabulkannya doanya. Amirul Mukminin Ali Kw berkata, “Hasud adalah perangai yang rendah dan musuh negara. Hasud adalah gunting iblis yang paling besar. Hasud merintangi jiwa, hasud adalah seburuk-buruknya penyakit, aib yang paling jelek, dan perasaan yang memberatkan. Tidaklah orang yang hasud dapat terobati kecuali apabila harapannya telah sampai terhadap orang yang dihasudinya.”

Banyak riwayat Ahlul Bait Nabi SAW yang mengatakan bahwa orang yang berdusta manakala dia berdusta, maka keluarlah bau busuk dari mulutnya, dan bau busuk itu terus naik ke langit, sehingga para malaikat terganggu dengan bau busuk itu, dan mereka melaknat si pemiliknya. Apakah mungkin orang seperti ini akan dikabulkan doanya? Sebaliknya, orang yang berpuasa, yang terkadang kita tidak kuat mencium bau mulutnya, mereka mempunyai bau yang harum di alam malakut. Sesungguhnya doa mereka diterima dan dikabulkan, disebabkan kosongnya hati mereka dari maksiat, dan disebabkan keteguhan mereka dalam memegang apa-apa yang terdapat di dalam Kitab Allah SWT dan juga sunah para wali-Nya.

Perlu disebutkan di sini, bahwa usaha untuk berdoa dan memulai dalam masalah ini, tidak sunyi dari pengaruh-pengaruh positif bagi jiwa, dan juga ganjaran—meskipun tanpa disertai dengan pengabulan doa. Karena—secara umum—kata-kata doa dapat melembutkan hati, dan dapat membantu seorang Muslim untuk memahami kalimat-kalimat dan ungkapan-ungkapan yang dia ucapkan tatkala berdoa.

Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq berkata dari kakeknya, Rasulullah SAW yang mengatakan, “Sesungguhnya aku menyukai seorang laki-laki dari kamu, yang jika dia berdiri mengerjakan shalat fardhu dia menghadap Allah dengan hatinya, dan tidak menyibukkan hatinya dengan urusan dunia. Tidaklah seorang Mukmin menghadap Allah dengan hatinya di dalam shalat, kecuali Allah pasti akan mendatanginya dengan wajah-Nya, dan juga mendatanginya dengan hati orang-orang mukmin yang mencintainya, setelah terlebih dahulu Allah Azza Wajalla mencintainya.”

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami taufik dan ketaatan, kejauhan dari maksiat, dan pengabulan doa. Ya Allah, datangilah kami dengan wajah-Mu yang mulia, halangi dari kami kekuatan bala, dan selamatkanlah kami dari bencana yang sekonyong-konyong. Ya Allah, tolonglah kami dari hilangnya kenikmatan dan dari tergelincirnya kaki; singkapkanlah dari kami kesulitan zaman, palingkanlah dari kami penghalang-penghalang urusan, datangkanlah kepada kami tali kelana keselamatan dan bawalah kami kepada tempat kemuliaan. Ya Allah, singkapkanlah bala dan bencana-Mu, wahai Zat yang Maha Pengasih di antara yang pengasih, dengan nama Muhammad dan keluarga Muhammad yang suci.

(Buletin-Mitsal/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Tanpa Shalawat, Doa Tidak Akan Diijabah


Kemudian Imam as melanjutkan “tidak akan diijabah sebuah doa sampai dibacakan shalawat kepada Muhammad saww dan keluarganya.”

Shabestan News Agency, dalam riwayatnya Imam Shadiq as bersabda “barang siapa yang memiliki hajat kepada Allah swt maka mulailah dengan membaca shalawat kepada nabi Muhamamad saww dan keluarganya, kemudian sampaikan hajatnya, dan setelah selesai tutup dengan membaca kembali shalawat, karena Allah swt akan mengabulkan doa yang berada di tengah sedang shalawat berada di awal dan akhirnya.”

Kemudian Imam as melanjutkan “tidak akan diijabah sebuah doa sampai dibacakan shalawat kepada Muhammad saww dan keluarganya.”

Kemudian Imam as juga bersabda “barang siapa yang berdoa kemudian tidak menyebutkan nama Muhamamad saww maka doanya hanya berterbangan di atas kepalanya saja, dan jika dibacakan nama Muhammad saww dan keluarganya maka doanya akan langsung diangkat.”

Rasulullah saww juga bersabda “barang siapa yang saat namaku disebut kemudian ia tidak bershalawat kepadaku maka nerakalah tempatnya,” dalam riwayat lainnya dikatakan “barang siapa yang saat namaku disebut kemudian ia melupakan shalawat kepadaku maka jalan ke surganya akan tersesat.”

Khawarizmi dalam manaqibnya menukil sebuah riwayat dari Abu Ilqimah, pada suatu hari Rasulullah saww shalat subuh bersama kami, kemudian nabi saww berkata “wahai sekalian! Semalam aku bermimpi bertemu dengan pamanku Hamzah dan saudaraku Jakfar, kemudian aku bertanya kepada mereka tentang amalan yang paling utama yang mereka dapatkan? Kemudian mereka berkata : “paling baiknya amalan ada 3 macam, shalawat kepadamu, memberi minum orang yang haus dan mencintai Ali bin Abi Thalib as.”

نسخه امام صادق (ع) برای اجابت دعاها

خبرگزاری شبستان: هر كس به درگاه خدای جله جلاله حاجتی دارد باید به صلوات بر محمد و آلش شروع كند، و سپس حاجت خود را بخواهد، و در آخر هم به صلوات بر محمد و آل محمد پایان دهد.

خبرگزاری شبستان – سرویس قرآن و معارف: امام صادق(ع) می‌فرمایند: «مَنْ كَانَتْ لَهُ إِلَی اللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ حَاجَةٌ فَلْیَبْدَأْ بِالصَّلَاةِ عَلَی مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ ثُمَّ یَسْأَلُ حَاجَتَهُ ثُمَّ یَخْتِمُ بِالصَّلَاةِ عَلَی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ أَكْرَمُ مِنْ أَنْ یَقْبَلَ الطَّرَفَیْنِ وَ یَدَعَ الْوَسَطَ إِذَا كَانَتِ الصَّلَاةُ عَلَی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ لَا تُحْجَبُ عَنْه/ هر كس به درگاه خدای جله جلاله حاجتی دارد باید به صلوات بر محمد و آلش شروع كند، و سپس حاجت خود را بخواهد، و در آخر هم به صلوات بر محمد و آل محمد پایان دهد، زیرا كه خدای(جله جلاله) كریم تر از آن است كه دو طرف دعا را بپذیرد، و وسط دعا را واگذارد و به اجابت نرساند زیرا صلوات بر محمد و آل محمد از او محجوب نیست."

صلوات آشناترین و در دسترس ترین دعایی است که همه ما مسلمان ها هر روز با آن سر و کار داریم، در نماز و غیر نماز در مناسبت ها و غیر مناسبت ها حتی در عادی ترین رخدادهای روز وقتی در حرم شلوغی پیش می آید کسی می گوید صلوات بفرستید وقتی نزاع و جر و بحثی در جایی پیش می آید کسی می گوید صلوات بفرستید و تمام کنید اما به واقع کم تر کسی در میان ماست که بداند صلوات چه گنجی است و ما در کنار چه گنجینه معنوی قرار گرفته ایم که به واقع خیلی وقت ها عیار آن را نمی دانیم. کتاب ارزشمند "صلوات بر پیامبر(ص)؛ عامل قدسی شدن روح" تألیف محقق گرانمایه و پژوهشگر دینی اصغر طاهرزاده تلاشی محققانه مبتنی بر آیات و روایات است تا به واسطه این غواصی در آیات و روایات به ارزش حقیقی صلوات به مثابه یکی از عظیم ترین دعاهای انسان برسد. آنچه در ادامه می آید فرازهایی از مباحث این کتاب است.


مقام جامعیت رسول خدا(ص)

نفس پیامبر(ص) به وسعت هستی است و اشتیاق بر پیامبر(ص) و نزدیكی به او به معنای نزدیك‌شدن به قلبی است كه به وسعت هستی است، و این قلب انسان به اندازه‌‌ای كه به پیامبر(ص) نزدیك شود، از رحمت كلیه موجودات هستی برخوردار می‌شود و از نور آن‌ها بهره‌مند می‌گردد. خوشا بر احوالات قلبی كه با نظر صحیح و عارفانه بر پیامبر(ص) احوالاتی از آن قلب قدسی را نصیب خود کرده است.

مقام پیامبر(ص) مقام وجود جامعی است كه همه اسماء الهی در آن مقام به جامعیت موجودند و لذا همچنان که خود حضرت از عرش تا فرش وسعت دارد، زمینی بودن بشر را با عالم غیب الهی تركیب می‌كن. در مقام جامعیت، قبلیت و بعدیت معنی ندارد، همه قبلی‌ها و بعدی‌ها در آن مقام جمع‌اند، در نتیجه او وجهه تعادل‌بخش و هماهنگ‌كننده عالم هستی محسوب می‌شود. ما نباید از موضوع مقام جامعیت پیامبر(ص) به راحتی بگذریم و گرنه بسیاری از روایات برایمان مبهم می‌ماند، و نمی‌فهمیم وقتی مقامی در جامعیت اسماء الهی قرار گرفت و شدیت وجود پیدا کرد، چرا ملائکه به او سجده می‌کنند و در خدمت صلوات فرستندگان به او قرار می‌گیرند. از طرف دیگر متوجه هستید که مقام دنیا، مقام كثرت و پراکندگی است و لذا علاوه بر قبل و بعد داشتن، طوری نیست که همه‌چیز در هر نقطه از آن جمع باشد، با توجه به این دو نکته است که عرض می‌شود؛ پیامبر (ص)از طریق رحمت محمّدیه، انسان را از حقارتِ پستِ ضعیفِ مادونِ دنیایی، به وحدت ارزشمند الهی دعوت می‌كند و تسلیم‌شدگان به خود را به آن مقام می‌كشاند.


انحراف از بهشت با غفلت از یاد رسول الله (ص)

راوی می‌گوید: به ابوعبدالله صادق(ع) گفتم: من وارد خانه كعبه شدم و هر چه فكر كردم دعائی به خاطرم نیامد جز صلوات بر محمد و آل محمد. ابو عبد الله گفت: این را بدان كه هیچ كس به جایزه ای پربهاتر از جایزه تو دست نیافته است. جدم رسول خدا(ص) گفت: هر كس نام مرا بشنود و از صلوات بر من تغافل نماید، خداوند او را از راه بهشت منحرف سازد.

راستی چرا حضرت صادق(ع) می‌فرمایند آن فردی که در خانة کعبه وارد شده و دعایی جز صلوات نکرده به پر بهاترین بهره‌ها دست یافته است؟ آیا این بدان جهت نیست که نزدیکی به مقام رسول خدا(ص) نزدیکی به حقیقت جامع اسماء الهیه است، مقامی که همة کمالات در جان مقدس او جمع است؟ و آیا این نزدیکی، نزدیکی به پربهاترین بهره‌ها نیست؟


مقام قدسی پیامبر (ص) مقام جامعیت اسمای الهی

مقام قدسی پیامبر(ص) مقام جامعیت همة اسماء الهی است، زیرا از طرفی اسم «الله»، اسم جامع حضرت اَحد است و پیامبر(ص) مأمور به دعوت به «الله» است و خداوند به او فرمان داده که؛ "قُلْ هَـذِهِ سَبِیلِی أَدْعُو إِلَی اللّهِ عَلَی بَصِیرَةٍ/ ای پیامبر! بگو این است راه من که از سر بصیرت دعوت به "الله" بکنم. "

وقتی متوجه شدیم «الله» اسم جامع الهی است و پیامبر(ص) مأمور به دعوت بشریت است به اسم «الله»، یعنی هر چه همة پیامبران در مقام نبوت‌های طول تاریخ دارند و هر کدام وجهی از حقایق را به بشریت عرضه کرده‌اند، آن حضرت همه را دارند و همة حقیقت را به بشریت ارائه می‌دهند، حال نزدیكی به پیامبر(ص) یعنی نزدیكی به چنین مقام جامعی. البته و صد البته همان‌طور که عرض شد این به شرطی است که تمام مظاهر این مقام یعنی اهل بیت آن حضرت نیز مورد توجه باشد. زیرا خود حضرت رسول‌(ص) می‌فرمایند: «مَنْ صَلَّی عَلَیَّ وَ لَمْ یُصَلِّ عَلَی آلِی لَمْ یَجِدْ رِیحَ الْجَنَّةِ وَ إِنَّ رِیحَهَا لَتُوجَدُ مِنْ مَسِیرَةِ خَمْسِ مِائَةِ عَام / رسول خدا(ص) فرمود: هر كس بر من صلوات فرستد و بر آل من صلوات نفرستد بوی بهشت را كه از مسافت پانصد سال بوئیده شود، نبوید." این بدین معنی است که آن مقام را باید در همة مظاهرش مورد نظر قرار داد تا به همة ابعاد آن مقام نزدیک شده باشیم.

با توجه به مقام جامعیت ذات قدسی پیامبر(ص) هیچ مانعی نمی‌تواند بین او و خالق او قرار گیرد، و هیچ‌چیزی نمی‌تواند حجاب بین او و مقصد اصلی هستی یعنی حضرت «الله» باشد و لذا وقتی تقاضایی از حضرت پروردگار در میان باشد اگر آن تقاضا در منظر نور محمدی(ص) با خدا در میان گذارده شود بدون حجاب بالا می‌رود و پس‌زده نمی‌شود، امیرالمؤمنین(ع) فرمود: "... مَنْ صَلَّی عَلَی النَّبِیِّ(ص) رُفِعَتْ دَعْوَتُه/ هر كس صلوات بر پیامبر فرستد دعایش بلند شود."


راه امام صادق (ع) برای اجابت دعاها

امام صادق(ع) می‌فرمایند: «مَنْ كَانَتْ لَهُ إِلَی اللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ حَاجَةٌ فَلْیَبْدَأْ بِالصَّلَاةِ عَلَی مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ ثُمَّ یَسْأَلُ حَاجَتَهُ ثُمَّ یَخْتِمُ بِالصَّلَاةِ عَلَی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ أَكْرَمُ مِنْ أَنْ یَقْبَلَ الطَّرَفَیْنِ وَ یَدَعَ الْوَسَطَ إِذَا كَانَتِ الصَّلَاةُ عَلَی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ لَا تُحْجَبُ عَنْه/ هر كس به درگاه خدای جله جلاله حاجتی دارد باید به صلوات بر محمد و آلش شروع كند، و سپس حاجت خود را بخواهد، و در آخر هم به صلوات بر محمد و آل محمد پایان دهد، زیرا كه خدای(جله جلاله) كریم تر از آن است كه دو طرف دعا را بپذیرد، و وسط دعا را واگذارد و به اجابت نرساند زیرا صلوات بر محمد و آل محمد از او محجوب نیست."

در همین راستا آن حضرت می‌فرمایند: "لَا یَزَالُ الدُّعَاءُ مَحْجُوباً حَتَّی یُصَلَّی عَلَی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّد/ پیوسته دعا محجوب است تا بر محمد و آلش صلوات فرستاده شود."

و نیز می‌فرمایند: "مَنْ دَعَا وَ لَمْ یَذْكُرِ النَّبِیَّ (ص) رَفْرَفَ الدُّعَاءُ عَلَی رَأْسِهِ فَإِذَا ذَكَرَ النَّبِیَّ(ص) رُفِعَ الدُّعَاء/ هر كه دعائی كند و نام پیغمبر را نبرد آن دعا بالای سرش (چون پرنده ای) بچرخد، و چون نام پیغمبر(ص) را برد دعا بالا رود. "

و نیز وقتی متوجه جایگاه مقام جامعیت رسول خدا(ص) بودیم می‌فهمیم چرا امام معصوم می‌فرمایند در میزان اعمال انسان هیچ‌چیز به وزن صلوات بر محمد و آل او نخواهد بود. روایت می‌فرماید: "عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ أَحَدِهِمَا(ع) قَالَ مَا فِی الْمِیزَانِ شَیْ ءٌ أَثْقَلَ مِنَ الصَّلَاةِ عَلَی مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ وَ إِنَّ الرَّجُلَ لَتُوضَعُ أَعْمَالُهُ فِی الْمِیزَانِ فَتَمِیلُ بِهِ فَیُخْرِجُ (ص) الصَّلَاةَ عَلَیْهِ فَیَضَعُهَا فِی مِیزَانِهِ فَیَرْجَحُ بِه/ محمد بن مسلم از یكی از دو امام باقر و صادق(ع) حدیث كند كه فرمود: در میزان چیزی سنگین تر از صلوات بر محمد و آل محمد نیست، و همانا مردی باشد كه اعمالش را در میزان گذارند و سبك باشد، پس ثواب صلوات او درآید و آن را در میزان نهد پس به سبب آن سنگین گردد و بر كفه دیگر بچربد."

زیرا تمام اعمال اگر از منظر نور جامع محمدی انجام گیرد، حقانیت دیگری خواهد داشت و این در حالی است که در قیامت آنچه وزن دارد "حق" است و خدا فرمود: "وَالْوَزْنُ یوْمَئِذٍ الْحَق/ در آن روز وزن و سنگینی مربوط به حق است." و با نظر به مقام پیامبر(ص) و اهل بیت آن حضرت(ع) اعمال انسان به عالی‌ترین شکل خود جهت می‌گیرد و لذا در نهایتِ حقانیت واقع می‌شود، و صلوات بر محمد و آل او(ع) موجب جهت‌گیری انسان به سوی آن ذوات مقدس حقانی در همة امور خواهد بود.

پایان پیام/187

(Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Amalan dan Doa Pada Malam Pernikahan


Pertanyaan: 

Asslmkm Wr.Wb. Apakah ada bacaan Surat Al-Qur'an tertentu pada acara pengajian menjelang hari H pernikahan? Terima kasih Wassalamua'laikum WR WB.


Jawaban Global:

Dianjurkan pada waktu akad nikah membaca khutbah Imam Ridha As yang mengandung makna yang sangat menyeluruh ini supaya beroleh keberkahan dari khutbah tersebut.

Teks khutbah Imam Ridha As itu adalah sebagai berikut:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِی حَمِدَ فِی الْکِتَابِ نَفْسَهُ وَ افْتَتَحَ بِالْحَمْدِ کِتَابَهُ وَ جَعَلَهُ أَوَّلَ مَحَلِّ نِعْمَتِهِ وَ آخِرَ جَزَاءِ أَهْلِ طَاعَتِهِ وَ صَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ خَیْرِ بَرِیَّتِهِ وَ عَلَى آلِهِ أَئِمَّةِ الرَّحْمَةِ وَ مَعَادِنِ الحِکْمَةِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِی کَانَ فِی نَبَئِهِ الصَّادِقِ وَ کِتَابِهِ النَّاطِقِ أَنَّ مِنْ أَحَقِّ الْأَسْبَابِ بِالصِّلَةِ وَ أَوْلَى الْأُمُورِ بِالتَّقْدِمَةِ سَبَباً أَوْجَبَ نَسَباً وَ أَمْراً أَعْقَبَ حَسَباً فَقَالَ جَلَّ ثَنَاؤُهُ وَ هُوَ الَّذِی خَلَقَ مِنَ الْماءِ بَشَراً فَجَعَلَهُ نَسَباً وَ صِهْراً وَ کانَ رَبُّکَ قَدِیراً وَ قَالَ وَ أَنْکِحُوا الْأَیامى‏ مِنْکُمْ وَ الصَّالِحِینَ مِنْ عِبادِکُمْ وَ إِمائِکُمْ إِنْ یَکُونُوا فُقَراءَ یُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَ اللَّهُ واسِعٌ عَلِیمٌ»

“Segala puji bagi yang memuji diri-Nya dalam kitab-Nya dan memulai pujian atas diri-Nya dalam kitab-Nya dan meletakkan pujian kepada-Nya sebagai tempat nikmat-Nya dan pahala terakhir bagi orang-orang yang taat. Shalawat bagi Muhammad sebaik-baik makhluk-Nya dan bagi keluarganya para imam rahmat dan tambang-tambang hikmah. Segala puji bagi Allah yang menyebutkan dalam berita yang benar dan kitab-Nya yang terang bahwa wasilah yang paling pantas untuk mengikat dan paling unggul untuk maju adalah wasilah yang melahirkan nasab (baca: pernikahan) dan Allah Swt berfirman, “Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (mempunyai) keturunan dan mushâharah, dan adalah Tuhan-mu Maha Kuasa.” Dan firman-Nya, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang saleh dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”[1].

Imam Ali As bersabda, “Tatkala engkau telah bermaksud untuk melewati malam pertama (zafaf) maka kerjakanlah dua rakaat salat. Tatkala engkau telah usai mengerjakan salat maka mempelai pria meletakkan tangannya di atas ubun-ubun mempelai wanita dan berkata:

«اللَّهُمَّ بَارِکْ لِی فِی أَهْلِی وَ بَارِکْ لَهَا فِیَّ وَ مَا جَمَعْتَ بَیْنَنَا فَاجْمَعْ بَیْنَنَا فِی خَیْرٍ وَ یُمْنٍ وَ بَرَکَةٍ وَ إِنْ جَعَلْتَهَا فُرْقَةً فَاجْعَلْهَا فُرْقَةً إِلَى خَیْرٍ».

“Tuhanku! Jadikan istriku berkah bagiku dan aku menjadi berkah baginya. Selama kami bersama maka jadikanlah kebersamaan kami itu dalam kebaikan, kemuliaan, dan keberkahan. Dan jika ada kemaslahatan pada perpisahan kami maka jadikanlah perpisahan itu berujung pada kebaikan.”[2]

Demikian juga dianjurkan pada malam pengantin tatkala mempelai pria membawa mempelai wanita ke arah rumahnya hendaknya disertai dengan takbir (Allahu Akbar) sebagaimana Rasulullah Saw beserta Jibril, Mikail dan malaikat-malaikat yang menyertai keduanya berseru Allahu Akbar pada malam pengantin Sayidah Fatimah.[3]


Referensi:

[1]. Hasan Fadhl Thabarsi, Makârim al-Akhlâk, hal. 206, Syarif Radhi, Qum, Cetakan Keempat, 1412 H.
[2]. Ibid.
[3]. Ibid, hal. 266.

(Islam-Quest/Tebyan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Terkait Berita: