Daftar Isi Nusantara Angkasa News Global

Advertising

Lyngsat Network Intelsat Asia Sat Satbeams

Meluruskan Doa Berbuka Puasa ‘Paling Sahih’

Doa buka puasa apa yang biasanya Anda baca? Jika jawabannya Allâhumma laka shumtu, maka itu sama seperti yang kebanyakan masyarakat baca...

Pesan Rahbar

Showing posts with label ABNS HIKMAH. Show all posts
Showing posts with label ABNS HIKMAH. Show all posts

Bala, Azab dan Bencana Menurut Quraish Shihab

KH. Quraish Shihab

Ketika bencana alam datang, banyak orang yang menjadi korban. Padahal, sebagian dari korban dikenal sebagai orang baik semasa hidupnya.

Karena itu, tidak sedikit orang yang bertanya-tanya tentang filosofi bencana, apalagi dikaitkan dengan Tuhan. “Bukankah Allah maha baik, lalu mengapa ada tsunami?” tanya sebagian kalangan.

Para filsuf hingga ulama berupaya menjawab pertanyaan di atas. Salah satu jawabannya: tidak semua yang dianggap baik oleh manusia itu baik menurut Tuhan.

Mufasir Quraish Shihab lalu memberikan analogi berdasar premis di atas. Ia bilang, manusia umumnya hanya dapat melihat sebatas tahi lalat. Jika ia hanya melihat “titik hitam” itu, ia tidak akan menemukan keindahan.

Namun jika ia melihat keselurhan wajah wanita tempat tahi lalat itu berada, ia mungkin akan melihat keindahan. Artinya, cara pandang manusia umumnya masih parsial.

Di sisi lain, Penulis kitab tafsir Al Misbah ini mengatakan, orang yang beriman pasti meyakini Allah Maha Baik. Karena itu, orang beriman juga meyakini apapun yang datang dari-Nya pasti kebaikan.

“Jika saya memukul anak saya, apakah saya bermaksud jahat pada anak saya?” katanya dalam sebuah majelis ilmu seperti disiarkan kanal Youtube Quraish Shihab. Tentunya analogi ini tak dapat diterapkan pada orang-orang yang belum mengimani Allah Maha Baik.


Simak Videonya:


Secara bahasa, musibah dapat dikatakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Orang yang lalai mengendarai kendaraan lalu kecelakaan disebut musibah baginya. Namun orang yang taat lalu lintas tapi ditabrak hingga tewas oleh pengendara lalai juga disebut musibah.

Dalam konteks ini, kata Quraish Shihab, Al-Quran memiliki ragam terminologi. Salah satunya ialah bala atau ujian.

Sebagian orang mengatakan musibah itu buruk, padahal menurut Al-Qur;an tidak demikian. Musibah dalam arti bala itu baik.

“Sedemikian, sehingga mahasiswa di kampus mendesak dosennya dengan berkata: kapan saya diuji,” kata Quraish. Nabi Sulaiman pun pernah bersabda, “Ini adalah anugrah Tuhanku untuk mengujiku.”

Bala bukan murni berasal dari perbuatan manusia. Bala datang dari Allah dan pasti dialami oleh setiap manusia.

Dalam Surat Al Mulk ayat 2 disebutkan, Allah menciptakan hidup ini untuk bala. Tentunya, ujian untuk menyaring siapa saja orang yang benar-benar bersabar, beriman dan tidak berputusasa pada rahmat-Nya.

Di sisi lain, bala tidak hanya berbentuk derita seperti bencana alam, penyakit dan kekurangan harta. Bala bisa juga dalam bentuk pemberian kekayaan. Dibandingkan penyakit, kata Quraish Shihab, memikul bala berupa kekayaan sejatinya lebih sulit.

Orang yang diberikan kekayaan cenderung mudah lupa dengan Tuhan. Sedangkan orang yang diberikan penyakit cenderung ingat kepada Tuhan.

Istilah lainnya dalam Al-Quran ialah azab. Azab berarti siksaan yang disesuaikan oleh beratnya perbuatan buruk seseorang. Jika berdasarkan keadilan Ilahi, setiap orang akan mendapatkan setimpal dengan apa yang pernah mereka perbuat.

“Hanya saja, karena kasih sayang-Nya, Allah sering mengurangi siksaan,” kata Qurasih Shihab.

Al-Qur’an juga menyebut istilah fitnah yang berarti bencana. Fitnah dapat muncul akibat ulah manusia yang menimpa orang salah dan orang yang tidak salah.

Contonya, banjir yang diakibatkan oleh menumpuknya sampah di saluran air. Musibah ini akibat ulah manusia namun juga berdampak pada orang-orang yang selama ini disiplin membuang sampah pada tempatnya.

Namun menurut Quraish Shihab mengutip Al-Qur’an, tidak akan terjadi musibah yang menimpa manusia kecuali atas izin-Nya. Arti izin di sini, kata Quraish Shihab, ialah adanya sistem yang telah ditetapkan Allah. “Jadi kalau mau menghindar, ikuti sistem yang ditetapkan oleh-Nya,” katanya.

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Syair Sa’di Shirazi Tentang Kesederhanaan dan Kematian


Abu Muhammad Mushrifuddin Muslih bin Abdullah bin Mushrifi Shirazi, yang juga mengacu kepada nama Sheikh Sa’di atau Sa’di Shirazi (Sa’di dari Shiraz), atau lebih dikenal dengan nama pena Sa’di (Saadi) adalah seorang penyair, penulis prosa, dan pemikir Persia. Dia dilahirkan di Shiraz antara tahun 1184-1210 dan meninggal antara tahun 1291 atau 1292.

Sa’di dikenal dunia melalui dua karya besarnya yang berjudul Bustan (Kebun Buah) tahun 1257 dan Gulistan (Taman Mawar) tahun 1258. Meskipun Sa’di dikenal sebagai seorang penyair, dia juga dipertimbangkan sebagai seorang Sufi. Oleh karena itu, N. Hanif, dalam bukunya yang berjudul Biographical Encyclopaedia of Sufis: Central Asia and Middle East, memasukan nama Sa’di sebagai salah seorang Sufi.

Sa’di terbiasa duduk bersama rakyat jelata di kedai-kedai terpencil sampai dengan larut malam dan bertukar pandangan dengan pedagang, petani, pengkhotbah, musafir, pencuri, dan Sufi pengemis. Selama dua puluh tahun atau lebih, dia terus konsisten melanjutkan kegiatannya dalam berdakwah, menasihati, belajar, mengasah kemampuan khotbahnya, dan memolesnya menjadi permata kebijaksanaan yang menerangi kegelapan pada rakyat banyak.

Di antara seluruh karya Sa’di, terdapat sebuah syair yang membicarakan tentang kehidupan sederhana dan kaitannya dengan kematian:

“Aku memperhatikan putra seorang lelaki kaya, duduk di kuburan ayahnya dan berselisih dengan seorang putra Darwish, mengatakan, ‘Properti makam ayahku terbuat dari batu, dan batu nisannya elegan. Trotoarnya terbuat dari marmer, dilapisi dengan batu-batu seperti pirus. Tapi apa yang menyerupai makam ayahmu? Hanya terdiri dari dua batu bata berderet dengan dua genggam lumpur yang dilemparkan di atasnya.’ Anak dari Darwish mendengarkan itu semua dan kemudian berkata, ‘Pada saat ayahmu dapat melepaskan batu-batu berat yang membebani dirinya, milikku (ayahnya) telah mencapai surga.’

“Tubuh dengan beban ringan,

Tidak diragukan dapat berjalan dengan mudah.

Seorang Darwish yang hanya membawa kemiskinan,

Juga akan tiba dengan beban ringan di gerbang kematian,

Sedangkan dia yang hidup dalam kebahagiaan, kekayaan, dan kemudahan

Tidak diragukan lagi semua pertanggungjawabannya akan berat.

Dari semua peristiwa, seorang tahanan yang telah bebas dari semua ikatannya,

Harusnya lebih berbahagia ketimbang seorang Amir yang menjadi tahanan.”

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

“Andai Prilaku Kanjeng Nabi Kasar, Orang Lain Tak Akan Mendekatinya”


Inti ajaran Islam adalah budi pekerti yang luhur. Inti itu dapat disaksikan melalui akhlak manusia pilihan Allah, Rasulullah saw.

Menurut Pengasuh Ponpes Raudhatu Thalibin, KH. Ahmad Mustafa Bisri, Allah tidak pernah memuji Nabi Muhammad karena kepandaian, jabatan atau hartanya. “Jika kita meneliti Al-Qur’an, Allah memuji Nabi Muhammad karena akhlaknya yang sangat luhur,” kata Mustafa Bisri seperti disiarkan oleh Gus Mus Channel.


Tidak heran, pada masa itu, kebanyakan orang masuk Islam karena jatuh cinta kepada budi pekerti Rasulullah Saw. Di sisi lain, Rasulullah memang sering berada di tengah-tengah masyarakat sehingga banyak orang yang bersaksi ihwal keluhuran prilakunya.

“Kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka,” kata pria yang akrab disapa Gus Mus ini mengutip kesaksian Al-Qur’an, surat Ali Imran, ayat 159. “Seandainya Kanjeng Nabi itu kasar, apalagi ganas terhadap orang lain, orang lain tak akan mendekatinya. Nyatanya, sejarah membuktikan, orang-orang senantiasa mengerumuni Rasulullah dengan penuh kasih-sayang.”

Karena itu, menurut Gus Mus, tanda keber-agama-an seseorang ialah budi pekerti. Hal ini juga ditegaskan oleh hadis bahwa orang yang paling dekat dengan Rasulullah saw. di hari kiamat adalah orang yang paling berakhlak mulia.

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Makna dan Tujuan Labbaika Yaa Husain!!!


Oleh: Ustadz Muhammad Taufiq Ali Yahya

Makna dan Tujuan serta filosofi dari teriakan
Labbaika Yaa Husain !!!
Labbaika Yaa Husain !!!
Labbaika Yaa Husain !!!

Mengapa semua rezim yang zalim sangat ketakutan dengan teriakan Labbaika Ya Husain!!!

Karena teriakan
Labbaika Ya Husain!!!
adalah merupakan manifestasi dari perintah Allah dan RasulNya agar melakukan baraah (berlepas diri)

*Lalu apakah hubungannya Baraah dengan teriakan
Labbaika Ya Husain?*

Baraah adalah berlepas diri kaum Muslim dari kekafiran, kemusyrikan, kefasiqan dan kezaliman.

Dalam Al-Qur'an, banyak sekali ayat2 yg menegaskan tentang perintah Allah untuk Baraah ini.

Salah satu ayat mengenai Baraah ini terdapat dalam surat An-Nisa' ayat 100 yg berbunyi...

Holy Quran 4:100
------------------

۞ وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Lalu apa hubungannya teriakan Labbaika Ya Husain !!!
dengan ayat2 mengenai Baraah ini?

Telah kita ketahui bahwa Imam Husain as tidak bersedia membai'at Yazid bin Muawiyah yg merupakan pemimpin bani Umayyah yg sangat zalim, dan Imam Husain as bersedia meninggalkan Madinah menuju Karbala untuk mengorbankan diri beliau menuju kesyahidan dalam melawan Yazid.

Imam Husain as berkata, *
"Wahai manusia! Rasulullah saww bersabda, 'Barangsiapa yg melihat pemimpin yg zalim, menghalalkan apa yg diharamkan Allah, menyeleweng dr ajaranNya, menentang sunnah Rasulullah saww, serta berbuat dosa dan pelanggaran terhadap hamba2 Allah, kemudian tidak dirubah atau ditentang baik dengan perbuatan atau ucapan, maka Allah SWT berhak untuk mencampakkannya ke tempat (yg telah disediakan untuk) nya."'*
(Maqtal Khawarizmi 1/234)

Beliau as juga berkata;
"Aku tidak keluar (ke Karbala) untuk kejelekan atau kesia2an atau kerusakan atau sebagai orang yg zalim. Akan tetapi aku keluar untuk memperbaiki umat kakekku Muhammad saww.
Aku berkehendak menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar serta berjalan di jalan kakekku Muhammad dan di jalan ayahku Ali bin Abi Thalib."*
(Maqtal Khawarizmi 1/188)

Dari ucapan2 Imam Husain as diatas, maka sudah jelas sekali bahwa beliau as telah melakukan apa yg telah Allah perintahkan dalam surat An-Nisa' ayat 100 diatas dengan berhijrah untuk baraah atas kekafiran dan kezaliman.

Maka teriakan:
Labbaika Ya Husain!!!
yg digemakan selama ini dalam setiap kesempatan, baik dalam ibadah Haji, acara2 ritual keagamaan dan yg lain2, adalah bukan menyamakan kedudukan Imam Husain as sejajar dengan kedudukan Allah, bukan menuhankan Imam Husain as seperti yg selama ini dituduhkan Takfiri.

Namun teriakan;
Labbaika Ya Husain!!!
adalah simbol Baraah kaum Muslim terhadap kekafiran, kemusyrikan, kefasiqan dan kezaliman atas musibah dan bencana yg selama ini menimpa kaum Muslim, dr sikap2 jahat pemimpin kafir, musyrik, fasiq dan zalim yg menimpa mereka sebagaimana yg telah menimpa Imam Husain as.

Labbaik Ya Husain !!!
adalah satu sikap yg berkesesuaian dengan apa yg telah Allah perintahkan untuk melakukan Bara'ah tersebut.

Filosofi teriakan
Labbaika Ya Husain!!!

Labbaika itu dalam bahasa Arab, dipakai untuk menyahuti panggilan yang, biasanya kalau yang memanggil itu lebih tua atau lebih mulia. Tapi untuk orang yang tidak mengerti bahasa Arab, dikiranya hanya jawaban panggilan untuk Tuhan. Padahal tidak demikian.

Ketika Imam Husain as sudah tinggal sendiri, beliau as berseru: "Adakah seseorang yang bisa menolongku?"

Orang yang meninggal, apalagi syahid, tidak mati sesuai dengan ayat Qur'an-hadits dan, apalagi dalam filsafat. Karena itu mereka selalu mendengar apapun yang kita katakan.

Jadi, tidak heran kalau di dalam shalat kita diwajibkan mensalami kanjeng Nabi Saw secara langsung dengan "Assalaamu 'alaika ayyuha al-Nabii".

Begitu pula tidak heran kalau hadits mensunnahkan kita mensalami orang-orang yang meninggal di pemakaman, kalau kita melewati kuburannya dengan mengatakan"Assalaamu 'alakum yaa ahla dhiar

Tidak ada yang tidak tahu, bahwa imam Husain as adalah Ahlulbait dan pejuang di jalan Allah membela agama dengan harta dan jiwa beliau as. Dan tidak ada yang tidak tahu, kalau syahidnya sebegitu menderita dengan dikepung berhari-hari di tengah padang pasir tanpa air dan kepalanya serta sebagian besar keluarga dan sahabatnya dipenggal dan dibuat mainan serta ditancap di atas tombak dan diarak dari Karbala-Irak sampai ke Damaskus-Suriah.

Dengan semua penjelasan itu, maka slogan :
"Labbaika yaa Husain”!!!
Adalah:

1. Tanda kesetiaan kepada imam Husain as yang menyeru di Karbala dikala sendirian (Ya laitani kunna ma akum fa afudza fauzan azhiima)

2. Mengerti arti perjuangan yang sebenarnya; karena sudah belajar kepada Imam Husain as. Yakni; *tidak brelebihan dalam segala perbuatan
*Tidak menzalimi yang lemah,
*tidak konpromi dengan kebatilan dan
*tidak takut dengan apapun dan pada siapapun.

3. Untuk Sekarang ini dalam keadaan siap penuh untuk mengorbankan apa saja seperti yang sudah dikorbankan oleh imam Husain as

4. Syi'ar kepada sesama muslimin untuk mempelajari perjuangan imam Husain as dan meneladaninya.

5. Teriakan kepada kaum Kafirin agar mereka tidak main-main dengan Islam dan muslimin.

6. Ajakan kepada saudara-saudara Sunni untuk mengkaji sejarah perjuangan Imam Husain as yang juga untuk mencintainya dan keluarganya serta mengajak untuk meneladaninya.

7. Baiat kepada Allah, Nabi Saw dan para Ahlulbait as untuk seluruhnya.

8. Baiat kepada Islam yang hakiki, argumentatif, dan tegas. Akan tetapi dalam waktu yang sama juga santun kepada yang lemah dan, tidak memaksa siapapun baik dengan ucapan, sikap dan, apalagi tindakan fisik.

9. Sumpah setia kepada Islam untuk terus setia walau harus terpenggal seperti Imam Husain as.

10. Selalu ingin terus bersama perjuangan Imam Husain as hingga dapat datang menemuinya dan mendapatkan syafaat darinya.

Labbaika Yaa Husain !!!
Labbaika Yaa Husain !!!
Labbaika Yaa Husain !!!

(Dokumentasi/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Makna Asyuro Menurut Allah Swt


Oleh: Ustadz Muhammad Taufiq Ali Yahya

Makna Asyuro menurut Allah SWT dalam hadis Munajat Nabi Musa as

الشَّيْخُ فَخْرُ الدِّينِ الطُّرَيْحِيُّ فِي مَجْمَعِ الْبَحْرَيْنِ، وَ فِي حَدِيثِ مُنَاجَاةِ مُوسَى ع وَ قَدْ قَالَ يَا رَبِّ لِمَ فَضَّلْتَ أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ص عَلَى سَائِرِ الْأُمَمِ فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فَضَّلْتُهُمْ لِعَشْرِ خِصَالٍ قَالَ مُوسَى وَ مَا تِلْكَ الْخِصَالُ الَّتِي يَعْمَلُونَهَا حَتَّى آمُرَ بَنِي إِسْرَائِيلَ يَعْمَلُونَهَا قَالَ اللَّهُ تَعَالَى الصَّلَاةُ وَ الزَّكَاةُ وَ الصَّوْمُ وَ الْحَجُّ وَ الْجِهَادُ وَ الْجُمُعَةُ وَ الْجَمَاعَةُ وَ الْقُرْآنُ وَ الْعِلْمُ وَ الْعَاشُورَاءُ قَالَ مُوسَى ع يَا رَبِّ وَ مَا الْعَاشُورَاءُ قَالَ الْبُكَاءُ وَ التَّبَاكِي عَلَى سِبْطِ مُحَمَّدٍ ص وَ الْمَرْثِيَةُ وَ الْعَزَاءُ عَلَى مُصِيبَةِ وُلْدِ الْمُصْطَفَى يَا مُوسَى مَا مِنْ عَبْدٍ مِنْ عَبِيدِي فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ بَكَى أَوْ تَبَاكَى وَ تَعَزَّى عَلَى وُلْدِ الْمُصْطَفَى ص إِلَّا وَ كَانَتْ لَهُ الْجَنَّةُ ثَابِتاً فِيهَا وَ مَا مِنْ عَبْدٍ أَنْفَقَ مِنْ مَالِهِ فِي مَحَبَّةِ ابْنِ بِنْتِ نَبِيِّهِ طَعَاماً وَ غَيْرَ ذَلِكَ دِرْهَماً إِلَّا وَ بَارَكْتُ لَهُ فِي الدَّارِ الدُّنْيَا الدِّرْهَمَ بِسَبْعِينَ دِرْهَماً وَ كَانَ مُعَافاً فِي الْجَنَّةِ وَ غَفَرْتُ لَهُ ذُنُوبَهُ وَ عِزَّتِي وَ جَلَالِي مَا مِنْ رَجُلٍ أَوِ امْرَأَةٍ سَالَ دَمْعُ عَيْنَيْهِ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ وَ غَيْرِهِ قَطْرَةً وَاحِدَةً إِلَّا وَ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيدٍ مستدرك‏الوسائل ج : 10 ص : 319

Diriwayatkan dari Kitab Mustadrok Wasail juz 10 halaman 319

diriwayatkan dari Syeik Fakhrud din Ath-thoroiyhi dalam Majmail Bahrain dalam hadis Munajat Nabi Musa a.s. saat dia bermunajat :

’Ya Robbi apa yang menyebabkan kemuliaan ummatnya Nabi Muhammad melebihi ummat yang lain”.?

Allah Swt Bersabda: ”Mereka dimuliakan karena 10 perkara.

” Musa bertanya,” Apakah gerangan hal tersebut hingga daku akan menyuruh bani Israil mengerjakannya.”

Allah Swt menjawab 10 hal tersebut adalah : 1. Sholat. 2. Zakat. 3. Puasa. 4. Haji. 5. Jihad. 6. Jum’at. 7. Jama’ah. 8. Al-Qur’an. 9. Ilmu. 10. Asyuro.

Kemudian Musa a.s. bertanya apakah Asyuro itu?

Allah Swt menjawab : ”Tangisan dan berusaha menangis, untuk cucu Nabi Muhammad saw serta mengadakan acara berduka buat mengenang musibah putra Al-Musthofa.

Ya Musa siapapun dari hambaku pada zaman tersebut menangis atau berusaha menangis dan berduka atas putra Al-Musthofa maka wajib atasnya masuk surga, menetap disana.

Dan siapapun yang menginfakkan hartanya dalam rangka mencintai putra dari putrinya Nabi saw atau membuat makanan atau apapun berupa uang maka Aku akan memberkahinya di dunia uangnya tersebut dengan 70 kali lipat dan akan dilipat gandakan lagi di surga serta akan diampuni dosa-dosanya”.

Demi Keagungan dan Kemuliaan-Ku siapapun baik lelaki maupun perempuan yang mengalirkan air matanya di hari Asyuro walau dengan hanya setetes maka akan dicatat pahalanya bagaikan 100 orang yang syahid.”

(Dokumentasi/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Pesan Ukhuwah Rasulullah Saw di Saat Haji Wada’


Pada tahun 10 hijriyah, Rasulullah saw pergi haji. Beliau berangkat dari Madinah pada 26 Dzulqa’dah. Sampai di Dzulhulaifah dekat masjid asy-Syajarah, beliau kenakan ihram, kemudian masuk al-Haram (tanah suci) seraya berucap: “Labbaikallâhumma labbaik; labbaika lâ syarîka laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk; lâ syarîka laka labbaik..” Adalah seruan nabi Ibrahim as.

Kalimat talbiyah tersebut berulang-ulang beliau ucapkan saat melihat orang mengendarai tunggangannya. Atau bila langkah beliau naik sebuah tanjakan atau turun ke sebuah lembah, dan berhenti dari talbiyah ketika telah sampai Mekah. Ialah pada hari keempat Dzulhijjah. Lalu beliau langsung menuju Masjidil Haram, dan masuk dari pintu Bani Syaibah seraya hamdalah dan memuji Allah swt serta menyampaikan shalawat atas nabi Ibrahim as.

Nabi saw memulai langkah dari Hajar Aswad, mengusap dan menciumnya. Kemudian melakukan tawaf tujuhkali putaran di sekeliling Ka’bah. Setelah itu melaksanakan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim (as).


Mereka takkan Melepas Ihram Selama Nabi saw dalam Berihram

Lalu beranjak ke Shafa dan Marwa untuk melakukan sa’i antara keduanya. Lepas itu beliau berpaling kepada jemaah haji dan bersabda:

“Siapa yang tidak membawa hewan kurban hendaklah ia bertahallul dan menjadikan (ibadah)nya sebagai umrah (yakni, hendaklah mencukur rambutnya, dan maka menjadi halal baginya apa yang telah ihram haramkan baginya). Bagi siapa yang membawa hewan kurban, hendaklah menetapi ihramnya.”

Namun, sebagian orang enggan melepas ihramnya selagi Nabi saw dalam keadaan berihram. Sampai beliau menyuruh mereka melakukan apa yang telah beliau katakan, yang maknanya demikian:

“Sekiranya aku mengetahui sebelumnya masa datang dan sikap mereka yang plin-plan serta kontra, tentulah aku tidak akan menyembelih kurban dan akan melakukan apa yang kalian perbuat. Jadi harus bagaimana lagi, aku telah membawa kurban. Tak memungkinkan bagiku melepas ihram sebelum hewan kurban sampai di tempat penyembelihannya. Maka wajiblah bagiku menetapi ihramku. Yakni, aku akan menyembelih kurban di Mina, sebagaimana yang Allah perintahkan. Sedangkan kalian, siapa yang tidak menyembelih kurban haruslah baginya melepas ihramnya dan menjadikan (ibadah)nya sebagai umrah. Kemudian berihram lagi lah (dari awal) untuk ibadah haji..”


Pesan Ukhuwah

Pada hari kedelapan Dzulhijjah, Rasulullah saw berniat ke Arafah melalui jalan Mina untuk wuquf di sana sampai mentari terbit pada sembilan Dzulhijjah. Dengan menaiki ontanya berangkat menuju Arafah, lalu singgah di kemah yang telah disediakan untuknya. Nabi saw di atas ontanya menyampaikan ceramah di hadapan hadirin yang berjumlah mencapai seratus ribu orang. Beliau bersabda:

“Dengarkan dan jaga perkataanku! Bahwa sepertinya aku sesudah tahun ini tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selamanya. Hai orang-orang, sesungguhnya darah dan harta bendamu adalah haram bagi kamu (merampas hak milik) sampai diri kamu menemui Tuhanmu kelak, seperti keharaman (kehormatan dan kesucian) bulan ini, seperti keharaman tanah ini dan seperti keharaman hari ini..”

Rasulullah saw di dalam khotbahnya ini menyinggung soal kebiasaan-kebiasaan jahiliyah yang buruk, seperti dendam, khianat, riba dan lainnya, juga berpesan agar berlaku baik terhadap kaum wanita. Beliau juga bersabda: “Telah aku tinggalkan di tengah kalian sesuatu yang apabila kalian berpegang teguh kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat untuk selamanya. Ialah perkara yang terang; Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Muslimin itu bersaudara. Tiada nabi sesudahku dan tiada umat sesudah kalian. Bukankah segala yang merupakan jahiliyah telah jatuh di bawah kakiku!?”

Setelah matahari terbenam Rasulullah saw berangkat menuju Muzdalifah. Di sana beliau menetap dari fajar sampai mentari terbit. Pada hari kesepuluh beliau bertolak ke Mina dan melaksanakan manasik. Kemudian melangkah menuju Mekah untuk menuntaskan manasik yang tersisa.

Imam Ali ketika itu berada di Yaman. Mengetahui Rasulullah saw pergi ke Mekah, maka ia berangkat (menyusul) bersama pasukannya untuk bergabung di musim haji. Ia membawa beberapa kain dan sutra yang diambil sebagai jizyah dari penduduk Najran. Setelah melaksanakan manasik umrah, ia kembali ke pasukannya sebagaimana yang Rasulullah perintahkan. Saat ia mendapati wakilnya telah membagi kain kepada tiap orang dari mereka, ia ingin menyerahkannya kepada Rasulullah saw, maka ia meminta kepada mereka untuk mengembalikan kain-kain itu.


Referensi:

As-Sirah al-Muhammadiyah/Ayatollah Syaikh Subhani.

(Ikmal-Online/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Arafah, Hari Besar Kembali ke Fitrah


Wuquf di padang Arafah merupakan rukun haji. Artinya, bagi orang yang melaksanakan manasik haji, tidaklah sah hajinya dengan meninggalkan rukun ini.

Pada tanggal 9 Dzulhijjah yang disebut dengan hari Arafah, tak hanya bagi jemaah haji, terdapat amalan-amalan yang dianjurkan bagi kita, di antaranya membaca doa malam Arafah dan siangnya. Dapat dirujuk kitab Mafatihul Jinan karya Almarhum Syaikh Abbas al-Qummi, misalnya. Di bagian amalan bulan Dzulhijjah diterangkan tentang keutamaan-keutamaan hari Arafah beserta amalan, bacaan dan doanya.

Syaik Abbas Qommi menerangkan: “Meskipun tidak disebut sebagai hari raya, tetapi merupakan hari besar, di dalamnya Allah menyeru hamba-hamba-Nya agar melakukan amal ibadah dalam ketaatan kepada-Nya. Pada hari ini, syaitan merasa dirinya hina dan marah lebih daripada hari-hari lainnya..”

Selain mandi, ziarah kepada Imam Husein cucu Rasulullah saw, shalat dua rakaat ba’da asar, dianjurkan bagi kita membaca doa Arafah. Dalam sejarahnya, doa ini disampaikan oleh Imam Husein pada waktu sore di hari Arafah.

Sebagai seorang hamba di dalam doanya, ia memanggil Tuhannya. Dengan penuh rasa berharap memohon kepada-Nya. Apa yang ia harapkan? Pahala, rahmat dan keridhaan dari Allah. Hanya kepada Allah lah ia meminta. Karena hanya Dia lah yang ia percaya.

Hal itu sebagaimana dalam kisah nabi Ibrahim as, ketika dipersekusi oleh kaum musyrik dengan membakarnya hidup-hidup, Jibril datang kepadanya dan berkata: “Hai Ibrahim, apakah kamu perlu bantuan?”

Ia berkata, “Tidak kepadamu! Tetapi aku memerlukan bantuan hanya kepada Allah!”.

Dengan demikian, karena ia berlindung kepada Allah di saat kesulitan, api yang membakar tidak berefek bagi Sang Anggota Ulul’azmi ini. Allah Yang Mahakuasa telah mengeluarkan perintah kepada api: “” (QS: al-Anbiya` 69)


Kembali ke Fitrah, Manusia Menyeru: “Tuhanku..”

Ya, hanya Allah Rabbul ‘alamin Yang Ibrahim seru. Rasulullah saw bersabda:”Siapa memanggil Allah swt, menyeru Dia sampai tujuhkali; “Yâ Allâh yâ Rabbi..”, niscaya Allah mengabulkan semua hajat yang dia mohon baginya.” (ad-Da’awat/ar-Rawandi, 44; al-Mahasin/al-Barqi, 35-36).

Dalam riwayat-riwayat lainnya disampaikan, “Rabbanâ” limakali; atau “Rabbi” atau ”yâ Rabbi” tigakali. Maka Allah berfirman, “Labbaika ‘abdi, sal tu’tha.. (Aku datang wahai hamba-Ku menyambut panggilanmu. Mintalah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan bagimu!)” (Kanzul ‘Ummal 2/64, dan lainnya).

Sebuah riwayat dari Imam Shadiq, beliau ditanya tentang nama teragung Allah yang mesti diseru dalam memohon kepada-Nya. Saat itu musim dingin, ada sebuah kolam milik beliau. Imam berkata kepada si penanya: “Masuklah ke dalam kolam ini, dan berendamlah sampai aku beritahu soal itu kepadamu!”

Ketika dia melakukan hal itu, Imam Shadiq menyuruh sahabat-sahabatnya yang hadir menahan orang itu, sehingga dia berdiam di dalam air. Saat dingin memuncak baginya, dia berucap: “Rabbi aghitznî..” (Tuhan, tolonglah aku!)

Imam berkata, “Itulah (jawabannya) yang dia tanyakan tadi kepadaku.” (Raudhul Jinan wa Rauhul Janan fi Tafsir al-Qur`an 1/69)

Pensyarah Doa Arafah, Mulla Muhammad Ali Fadhil (Haji Fadhil Khurasani; 1260-1342 H) menjelaskan: Maksud Imam Shadiq dari penerapan tersebut ialah menggugah dan mengembalikan orang itu kepada fitrahnya, bahwa manusia dalam tarbiyah Tuhannya akan memohon pertolongan kepada-Nya. Dialah yang membimbing dan mendidik hamba-Nya dalam berbagai musibah, kesulitan dan penderitaan.

Sesungguhnya Adam dan Hawa dalam kembali kepada Allah, mengungkapkan: “Rabbanâ zhalamnâ anfusanâ..”, dan Allah menerima taubat keduanya.

Ketika nabi Nuh as teraniaya oleh kaumnya yang ingkar, memohon kepada Allah: “Rabbi (Ya Tuhan-ku), janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” (QS: Nuh 26).

Nabi Ibrahim as pun berdoa dengan Nama Allah ini: “Rabbi (Ya Tuhan-ku), berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” (QS: asy-Syu’ara 82).

Nabi Musa as dalam kisahnya, setelah membunuh seorang Qibthi, memohon ampunan kepada Allah: “Rabbi (ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku.” (QS: al-Qashash 16).

Nabi Sulaiman as dalam memohon karunia kerajaan baginya: “Rabbi (Ya Tuhan-ku), ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak berhak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku..” (QS: Shad 35)

Nabi Zakaria ketika memohon karunia seorang anak: ““Ya Tuhanku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri..” (QS: al-Anbiya 89)

Rasulullah Sang Nabi Penutup saw dalam berdoa juga diperintah agar menyebut Nama ini: “Dan katakanlah, “Rabbi (Ya Tuhanku), berilah ampun dan anugerahkanlah rahmat (kepadaku), dan Engkau adalah penganugerah rahmat yang paling baik.” (QS: al-Mu`minun 118)

Dengan menyebut “Rabbi”, Allah mengabulkan doa-doa mereka.


Referensi:

1-Syarh Du’a ‘Arafah/Mulla Muhammad Ali Fadhil.

2-Ushul al-Ma’rifah fi Syarhi Du’a ‘Arafah (1)/Abbas Ahmad Rais Darazi al-Bahrani.

(Ikmal-Online/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Imam Baqir Pendobrak Pemikiran Batil


Jabir bin Abdillah meriwayatkan: Rasulullah saw bersabda kepadaku, “Kamu akan hidup lama sampai melihat seorang laki keturunanku, yang (di masanya) paling mirip denganku; namanya sama dengan namaku. Bila kamu melihat dia, jangan lupa sampaikan salam dariku untuk dia!” (Bihar al-Anwar, juz 46, hal 294)

Jabir ketika menginjak usia lanjut, khawatir ajal menjemput sebelum bertemu dengan Imam Baqir, ia memanggil-manggil nama cucu Nabi saw ini: “Hai Baqir… Dimanakah engkau?” Hingga kemudian melihatnya, maka Jabir mendekatinya, mencium tangan dan kakinya, seraya berkata: “Demi ayah dan ibuku, sungguh mirip dengan datuknya, Rasulullah saw.. Datuk Anda menyampaikan salam kepada Anda!”. (Tarikh al-Ya’qubi 2/320)

Al-Ya’qubi menerangkan arti “al-Baqir”, gelar masyhur yang disandang oleh Imam kelima bagi Syiah Ahlulbait ini: “Dinamai al-Baqir karena ia membelah ilmu.” (‘Ilal asy-Syarayi’ 1/233). Menurut Jabir bin Yazid al-Ju’fi, maknanya ialah karena ia membongkar ilmu dan menampakkannya.

Muhammad bin Mukarram juga menjelaskan bahwa: Muhammad bin Ali bin Husain dipanggil dengan “al-Baqir” ra, karena ia membelah ilmu, mengetahui akarnya dan menyimpulkan cabangnya.” (Lisan al-‘Arab)


Ketinggian Ilmunya

Keluasan ilmu diakui oleh ulama besar seperti Ibnu Hajar al-Haitsami, Abdullah bin ‘Atha dan lainnya. Ibnu ‘Atha telah mengungkapkan: “Saya melihat Hakam bin ‘Utaibah yang tersohor di berbagai penjuru dalam ilmu dan fikih, di hadapan Muhammad al-Baqir tunduk dengan santun seperti anak kecil terhadap guru besar, terpana oleh ucapan dan kepribadian beliau.”

Di satu acara pertemuan yang mengundang banyak orang, seorang uskup besar yang sudah sepuh mendekati Imam Baqir dan bertanya: “Apakah Anda dari kaum Nasrani, ataukah muslimin?”

“Muslimin”, sahut beliau.

“Apakah Anda ulama mereka, ataukah orang awam (yang bodoh)?”

“Saya bukan orang awam!”

Seakan ingin mengajak dialog dengan beliau, Uskup berkata, “Saya yang memulai bertanya, ataukah Anda?”

“Anda saja yang bertanya jika Anda mau!”, kata beliau.

Maka dia bertanya, “Apa alasan Anda -sebagai bagian dari muslimin- mengklaim bahwa penghuni surga itu makan dan minum, tapi tidak buang air? Adakah mengenai hal ini sebuah pendekatan yang jelas di dunia ini?”

Imam menjawab, “Ada! Contoh yang jelas di dunia ini ialah janin dalam rahim ibu, ia makan tapi tidak buang air”

“Luar biasa”, ucap si uskup. “Tadi Anda bilang, Anda bukan ulama!”

“Saya tidak bilang begitu. Saya bilang bahwa Saya bukan orang awam!”, bantah Imam.

“Pertanyaan lainnya..”, kata dia.

“Silahkan..”

Si uskup bertanya, “Apa dalil atas keyakinan Anda bahwa buah-buahan dan kenikmatan surga takkan berkurang, walau seberapapun banyaknya yang dimakan tetaplah adanya, dalam utuh tanpa berkurang? Mengenai hal ini, bisakah Anda sebutkan contoh yang jelas dari semua yang ada di dunia ini?”

“Tentu”, jawab Imam tegas. “Contoh jelasnya terdapat di alam inderawi api. Bila Anda menyalakan ratusan lentera sekalipun dari satu lentera yang menyala, nyala api lentera yang pertama tetaplah sebagaimana adanya tanpa terkurang sedikitpun darinya!”.

Tiap soal yang dilontarkan si uskup, semuanya dijawab oleh Imam Baqir dengan jawaban yang memuaskan. Namun, karena merasa dirinya terpojok dengan emosi dia berkata: “Hai orang-orang, apakah kalian sengaja menghadirkan seorang sangat alim yang tingkat ilmu keagamaannya lebih tinggi dan luas dari Saya, supayaSaya jatuh dibuatnya dan muslimin tahu bahwa para pemuka mereka lebih baik dari kami? Demi Tuhan, Saya tidak akan berbicara lagi dengan kalian. Andaipun tahun depan Saya masih hidup, kalian tidak akan menjumpai Saya berada di tengah kalian!”. Sang uskup setelah berkata demikian, berdiri dan langsung keluar.


Mematahkan Penyesatan

Di masa imamah al-Baqir, banyak aliran dan kelompok seperti Mu’tazilah, Khawarij dan Murji`ah yang aktif. Peran beliau sebagai penghalau kokoh yang mendobrak kebatilan berbagai pemikiran, melalui dialog dengan para pemuka aliran keagamaan.

Satu misal, dalam dialog dengan Nafi’ bin Arzaq seorang pemuka Khawarij di majlis beliau, di antaranya beliaumengatakan: “Sampaikan kepada Mariqin (kaum Khawarij), mengapa kalian menghalalkan darah Amirul mu`minin Ali, sementara kalian dahulu mengorbankan darah kalian dalam mentaati dia, dan memandang bahwa membela dia mendekatkan diri kepada Allah?

Mereka akan menjawab, “Ia dihukum Allah!”.

Maka katakan kepada mereka, “Allah dalam syariat Rasul-Nya menghukum dua orang terkait dua kasus;

Pertama, terkait perselisihan antara suami dan isteri.. (QS: an-Nisa 35).

Kedua, terkait keputusan Sa’d bin Mu’adz yang diangkat Rasulullah saw sebagai pemutus perkara antara beliau dan kabilah Yahudi (Bani Quraizhah), dan ia memutuskan sesuai hukum Allah.

Tidak tahukah kalian bahwa Amirul mu`minin Ali menerima pemutusan dengan syarat; dua pemutus perkara harus berdasarkan hukum Alquran dan tidak melampaui batasan Alquran, dan jika pendapat keduanya bertentangan dengan Alquran akan tertolak?

Ketika dikatakan kepada Imam Ali, bahwa orang yang telah beliau tunjuk sebagai pemutus perkara, merugikan beliau sendiri, beliau berkata, “Aku tidak menunjuk dia, tetapi aku menunjuk Alquran sebagai pemutus perkara..”

Jadi, bagaimana bisa kaum Khawarij kemudian memandang sesat terhadap pemutusan Alquran dan tertolaknya kontra Alquran, sementara mereka tidak menyesatkan bid’ah yang telahdibuat oleh mereka sendiri?”

Mendengar perkataan tersebut, Nafi’ mengungkapkan: “Demi Allah, belum pernah aku mendengar perkataan semacam itu dan tak pernah terlintas di benakku..”


Referensi:

1-al-Hayat al-Fikriyah li A`immati Ahlilbait (1)/Rasul Ja’fariyan.

2-Sire-e Pisywayan/Mahdi Pisywai.

(Ikmal-Online/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Abbas bin Ali bin Abi Thalib, Simbol Persaudaraan


Oleh: *Fauziah Salim As Shabbah

Banyak sudah kisah yang diabadikan dalam sejarah Arab tentang cinta dan gairah seperti kisah Qais dan Laila, Antar dan Abla, Cleopatra dan Mark Antony … dan lain-lain. Kami membaca semua kisah-kisah itu di sekolah dan berbagai media. Tapi agar tenggelam dalam gairah yang membawa makna paling indah dari persaudaraan sejati sepanjang sejarah, kita seharusnya belajar dan meniru kisah Sayyidina Abbas bin Ali bin Abi Thalib dengan saudara tirinya Sayyidina Hussein.

Setelah wafatnya Sayyidah Fatimah, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata pada saudaranya Aqil: “Carikan aku wanita yang terlahir dari jawara Arab agar lahir darinya anak yang pemberani dan penolong bagi saudara-saudaraya.” Wanita itu adalah Sayyidah Ummul Banin Fatimah al Amiriyah, ibu Sayyidina Abbas. Selain dia sendiri berkhidmat untuk Hasan, Husain dan Zainab, wanita keturunan jawara Arab ini juga mewakafkan putranya, Abbas, untuk berkhidmat pada saudaranya Husain dan melindunginya sepanjang hayatnya hingga mereka berdua gugur sebagai syuhada bersama di padang Karbala tahun 61 Hijriah.

Sesungguhnya persaudaraan dan perangai Abbas yang mulia, yang mendorong Husain memilihnya membawa benderanya di Karbala. Husain pun merasa nyaman di sampingnya. Dan hubungan akrab tidak hanya terjalin dengan saudaranya Husain saja, Abbas juga menjadi pendukung, pelindung, dan penolong Hasan dan Zainab.

Apa yang membuat saya menyampaikan kisah sangat singkat tentang hubungan dua saudara tidak sekandung ini? Banyaknya kasus di pengadilan seputar perselisihan saudara disebabkan oleh harta, warisan, atau persoalan pribadi dan pecahnya keluarga. Persaudaraan yang saling bertengkar di antara mereka hingga ke titik perpecahan. Persaudaraan dimana mereka tidak memasuki rumah-rumah saudaranya yang lain. Persaudaraan yang ketika mereka saling bertemu di jalan tidak saling menyapa dengan salam. Persaudaraan yang tidak saling mengunjungi kecuali pada hari raya dan momen tertentu dan ketika salah satunya tertimpa musibah, mereka tidak saling menanyakan.

Seandainya setiap saudara berpedoman pada Al Abbas, belajar dari perjalanan hidupnya, tidak akan kita lihat putusnya tali silaturahmi yang merebak di masyarakat kita. Walau mereka hanya mengamalkan sebagian dan yang paling mudah dari akhlak Abbas, mak akan terwujud persaudaraan yang aman, bahagia, dan kokoh (stabil).

Dikatakan dalam sejarah, sesungguhnya Abbas memanggil Husain dengan “Wahai saudaraku” hanya sekali, yaitu ketika hari Asyura; saat dia jatuh dari kudanya ke tanah dengan kedua tangan yang terpotong. Ketika itu, dia mendambakan melihat manusia yang paling dekat dengannya sebelum dia meninggal dunia. Pada momen menyakitkan itu, Abbas memanggil Husain dengan ucapan “Hampiri aku wahai Saudaraku”. Dengan segera Husain menghampirinya, lalu membersihkan debu dan darah dari wajah dan mata Abbas. Pandangan Abbas pun tertuju pada saudaranya untuk yang terakhir kalinya sebelum dia menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Husain. Dia pun meninggal dengan menggambarkan dan mengisahkan ketinggian makna persaudaraan, kesetiaan, dan cinta. Husain pun menangisinya dengan tangisan sekeras-kerasnya dan berkata dengan ucapannya yang tekenal itu, “Kini punggungku patah, dayaku semakin sedikit, dan musuhku semakin senang.”

Inilah persaudaraan hakiki yang patut dicontoh… dia berada di sisi saudaranya di setiap keadaan. Hingga dalam kondisi yang paling berat dan sulit sekali pun, Abbas tetap setia pada saudara. Maka, ketika Abbas mengalami derita dan musibah yang begitu besar, di hari terjadinya peristiwa Karbala, dia tidak kecewa, marah, gila atau mundur. Bahkan dia setia dan bisa dipercaya oleh saudaranya. Abbas bersamanya dan tidak berpisah hingga kedua tanganya terputus dan syahid di jalan perjuangan. Dia pun naik ke puncak kemuliaan dan keluhuran budi hingga kisahnya, seperti kisah teridah dua saudara, abadi sepanjang sejarah.


Fauziah Salim As Shabbah

*Penulis adalah anggota keluarga Kerajaan Kuwait yang aktif menjadi pengacara dan kolomnis. Kolomnya tersebar di berbagai media Arab, termasuk Alarabiyah.net

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Pilar Politik Rasulullah Saaw


Oleh: Purkon Hidayat

Salah satu parameter terpenting dan paling utama dalam masyarakat dan pemerintahan yang didirikan oleh Nabi Muhammad Saw adalah keyakinan terhadap ketauhidan Allah swt, keimanan dan spiritualitas. Dengan seruan tauhid,”Tuhanku, tanpa-Mu aku tidak akan meraih keselamatan”, Rasulullah Saw telah mengajarkan teisme sebagai pilar utama dalam berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk politik. Nabi Muhammad Saw meletakkan sebuah sistem yang bernilai dan abadi dengan berpijak ketauhidan.

Sistem Tauhid menolak segala bentuk penyembahan manusia kepada manusia lain, maupun benda dan unsur lain di dunia ini. Ibadah dan penghambaan hanya kepada Allah swt. Pada pinsipnya, filosofi diutusnya para Nabi supaya manusia memperhatikan masalah ibadah, dan menghindari menyembah berhala dengan berbagai bentuk. Dalam masyarakat yang bertauhid, motif dan pendorong aktivitas manusia adalah cinta dan keimanan kepada Allah swt. Keimanan tersebut tumbuh dari dalam diri manusia yang akan membimbingnya menuju jalan kebenaran dan kebahagiaan sejati.

Parameter lain dalam masyarakat era Rasulullah Saw adalah perhatian terhadap prinsip ilmu dan pengetahuan. Urgensi masalah ini dijelaskan dalam beberapa ayat yang turun sebagai wahyu pertama kepada Nabi Muhammad Saw, yaitu perintah untuk membaca dan belajar, Iqra. Dalam Al-Quran surat al-Alaq ayat 1 hingga 5, Allah swt berfirman, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Allah swt dalam al-Quran menjelaskan kedudukan tinggi orang-orang yang berilmu selain orang yang bertaqwa, berjihad dan iman. Pada prinsipnya salah satu faktor yang menyebabkan keabadian dan pengembangan budaya dan peradaban, sistem politik dan sosial yang maju adalah keharmonisannya dengan perkembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan.Sebab fakta sejarah yang valid menunjukkan bahwa sejumlah arus penyimpangan agama lahir akibat pemahaman keliru yang bertentangan dengan akal dan ilmu pengetahuan, dan menyebabkan peran agama dalam masyarakat tersingkirkan, sebagaimana yang menimpa agama Kristen dan Yahudi.

Sejatinya, perilaku tidak rasional yang ditunjukkan otoritas Gereja abad pertengahan menjadi sarana yang subur bagi kelahiran dan perkembangan pemikiran Sekularisme di dunia Barat.Tapi dalam sistem sosial dan peradaban yang diletakkan Rasulullah Saw, fakta sejarah menampilkan sistem Islam yang tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan, bahkan agama ilahi ini justru mendorong manusia untuk menuntut ilmu dan belajar, berpikir dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Dengan pijakan tersebut, sejarah mencatat Islam menjadi tempat lahirnya para ilmuwan dan pemikir besar dunia yang memiliki kontribusi di berbagai bidang disiplin ilmu.

Contoh lain dari parameter penting sistem pemerintahan Rasulullah Saw adalah perhatian terhadap keadilan. Keadilan termasuk salah satu prinsip utama di alam semesta ini, dan sunatullah dibangun berdasarkan prinsip tersebut. Tanpa menjalankan keadilan sosial, manusia tidak akan mencapai kebahagiaan, dan kekuatan politik apapun tanpa penerapan keadilan sosial di dalamnya akan tumbang dan tidak abadi. Salah satu tujuan utama Rasulullah Saw mendirikan pemerintahan Islam adalah menegakkan keadilan.Al-Quran pun menegaskan prinsip keadilan dan senantiasa mendorong manusia untuk menegakkannya di berbagai bidang. Rasulullah Saw berupaya untuk menjalankan keadilan di tengah masyarakat. Masyarakat di era Rasulullah Saw setara dan bersaudara, dan tidak ada keistimewaan di antara mereka selain ketakwaannya.

Parameter lain dari sistem politik dan pemerintahan Rasulullah Saw adalah persatuan umat Islam.Nabi Muhammad Saw mengerahkan seluruh upayanya untuk mewujudkan persatuan umat Islam. Maksud dari persatuan Islam dalam konteks saat ini adalah kaum Muslimin dari berbagai mazhab bersatu di bahwa panji-panji kesamaan prinsip kolektif agama seperti tauhid, al-Quran, kenabian, dan hari akhir demi menghadapi berbagai ancaman terhadap prinsip Islam dan masyarakat Muslim. Selain itu, seluruh umat Islam harus menghindari perselisihan mengenai cabang agama, politik, ras, suku bangsa dan bahasa. Salah satu strategi Rasulullah Saw untuk mewujudkan persatuan umat Islam melalui akhlak dan perilaku mulia beliau.

Akhlakul karimah Nabi Muhammad Saw senantiasa menjadi salah satu sarana terpenting dan bernilai untuk mewujudkan persatuan Islam dan meredakan friksi yang berpotensi menceraiberaikan umat. Saking tingginya akhlak Rasulullah, musuh-musuhnya pun akhirnya menjadi barisan sahabat beliau. Oleh karena itu, akhlak Nabi Muhammad Saw menjadi faktor penting bagi terwujudnya persatuan umat Islam.

Hijrahnya Rasulullah Saw ke Madinah disertai ikatan janji persaudaraan antarkelompok yang berbeda-beda, terutama menyatukan antara Ansar dan Muhajirin. Kesepakatan tersebut menjadi solusi paling jelas dalam mewujudkan persatuan umat Islam. Seluruh suku yang sebelumnya bertikai berhasil disatukan oleh Rasulullah Saw di bawah panji-panji agama Islam. Salah satu bagian dari kesepakatan persaudaraan antara Muhajirin dan Ansar, berbunyi sebagai berikut: “Sesama Muslim menjadi teman dan pendukung bagi yang lain, dan semua bersatu menghadapi kezaliman. Penandatangan kesepakatan ini akan membentuk sebuah bangsa yang bersatu. Tidak boleh ada yang menzalimi orang lain. Jika terjadi perselisihan antarsesama Muslim, maka rujukan penyelesaiannya adalah Allah swt dan Rasul-Nya.”

Perjanjian persaudaraan ini dibangun berdasarkan prinsip penolakan terhadap motif sektarian dalam hubungan sosial sesama manusia, dan digantikan dengan motif tauhid. Fakta sejarah ini menunjukkan bahwa Rasulullah Saw berupaya untuk menanamkan nilai tauhid, dan peran sentralnya di berbagai bidang dalam masyarakat. Oleh karena itu, program perjanjian persaudaraan antara Ansar dan Muhajirin merupakan salah satu cara terbaik untuk menjaga persatuan umat Islam dari berbagai ancaman.

Penolakan terhadap diskriminasi, rasisme dan sektarianisme merupakan parameter lain dari sistem sosial dan pemerintahan Rasulullah Saw. Islam sangat menentang fanatisme golongan dan bigotri. Sebagai gantinya, Islam menyodorkan ketakwaan menjadi parameter keutamaan manusia. Sejarah menunjukkan bagaimana Rasulullah Saw menjadikan Bilal sebagai muazin untuk menegaskan penentangan Islam terhadap segala bentuk diskriminasi ras dan golongan, yang dianut masyarakat jahiliyah Arab ketika itu. Sistem politik dan pemerintahan Islam menjunjung tinggi prinsip global seperti kredibilitas, keilmuan, ketakwaan dan keadilan yang menggantikan parameter sektarian. Sikap damai dan toleransi terhadap non-Muslim juga menjadi prinsip penting pemerintahan Islam yang dibangun Rasulullah Saw.

Jalan politik Nabi Muhammad Saw tidak menolak keberadaan bangsa-bangsa dan independensinya. Eksistensi mereka tetap ada dan dihargai, dan Islam menyatukan bangsa-bangsa itu di bawah panji-panji Islam dengan menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan. Fakta sejarah menunjukkan nota kesepakatan yang ditandatangani dan dijalankan era Nabi Muhammad Saw, dan setelah beliau wafat tetap dijalankan oleh pemerintahan Islam selama non-Muslim tidak melanggarnya. Sejarah Islam menunjukkan bahwa sistem politik Rasulullah Saw sangat memperhatikan masalah kebebasan dan perdamaian. Piagam Madinah menjamin perdamaian, kebebasan dan keamanan bagi semua orang di tengah beragam perbedaan suku, bangsa dan keyakinan agama di masa itu. Semoga umat Islam dewasa ini kembali menjalankan ajaran yang telah diwariskan Nabi Muhammad saw, dan menjadikan Islam sebagai Rahmatan lil Alamin, rahmat bagi seluruh alam.

(Irib-Indonesia/Islamic-Sources/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Kesabaran Imam Hasan as, Mukaddimah Kebangkitan Karbala


Pada hari ini, Imam Hasan al-Mujtaba as, gugur syahid secara mazlum di tangan istrinya. Berdasarkan catatan sejarah, Muawiyah memberikan 1.000 dirham kepada Ja’dah, istri Imam Hasan dan berpesan bahwa jika Imam Hasan as terbunuh maka Ja’dah akan dinikahkan dengan putranya Yazid bin Muawiyah. Ja’dah pun memenuhi permintaan Muawiyah dan meracuni Imam Hasan as.

Setelah Imam Hasan as gugur syahid, Imam Husein as memandikan dan mengkafani jenazah saudaranya dan meletakkannya dalam sebuah peti, serta memenuhi wasiat terakhirnya, agar Imam Hasan as dimakamkan di sisi Rasulullah Saw. Akan tetapi pasukan Bani Umayah menghadang iring-iringan pelayat Imam Hasan as dan kemudian dengan sangat keji mereka menghujani iring-iringan pelayat itu dengan anak panah. Setelah peristiwa itu, jenazah Imam Hasan as dimakamkan di kompleks pemakaman Baqi’.

Kezaliman tersebut, merupakan puncak kekurang-ajaran dan penistaan terhadap jenazah Imam Hasan as, yang Rasulullah Saw pernah bersabda, “Hasan adalah bunga harumku, ya Allah, aku mencintainya maka cintailah dia dan cintailah mereka yang mencintainya.”

Berabad-abad berlalu dari musibah besar itu akan tetapi pedihnya luka sayatan atas keterasingan dan kemazluman Imam Hasan as, masih tetap segar di hati Muslim dan para pecinta Ahlul Bait as. Apa yang tercatat dalam sejarah tentang masa-masa akhir kehidupan Imam Hasan as, akan membuat siapa pun terkesima akan kesabaran dan ketabahan hati beliau.

Imam al-Mujtaba as bahkan bersabar di hadapan kezaliman dan kejahatan pembunuhnya dan meminta saudaranya (Imam Husein as) untuk tidak berusaha menghukumnya. Diriwayatkan bahwa ketika detik-detik akhir kesyahidan Imam Hasan as telah dekat, beliau berpesan kepada saudaranya, “Wahai saudaraku! Segera aku akan berpisah denganmu dan menjumpai Tuhanku. Mereka telah meracuniku; aku tahu siapa yang melakukan ini kepadaku dan dari mana asal kezaliman ini; aku akan menuntunya di hadapan Allah kelak; tapi sumpah demi hakku terhadapmu, aku ingin kau tidak mengejar peristiwa ini dan pelakunya dan nantikanlah qadha’ Allah Swt tentangku.”

Salah satu keunggulan akhlak Imam Hasan al-Mujtaba as adalah kesabaran dan ketabahan beliau. Tentang hal ini, banyak kisah dan riwayat yang tercatat dalam sejarah. Sebagai contoh, Marwan, salah seorang musuh bebuyutan Ahlul Bait as, mengaku bahwa kesabaran dan ketabahan Imam Hasan as menandingi kekokohan gunung-gunung.

Setelah kesyahidan Imam Ali as, masyarakat berbaiat kepada Imam Hasan al-Mujtaba as. Sejak itulah, Muawiyah memulai aksi-aksi munafiknya serta menyebar isu dan kebohongan guna mempengaruhi opini publik. Dalam upayanya itu Muawiyah sedemikian sukses sehingga berhasil menyuap sejumlah sahabat Imam Hasan as. Ketika beliau menyadari ketidaksetiaan dan pengkhianatan para sahabatnya, beliau terpaksa berdamai dengan Muawiyah untuk menjaga nyawa dan harta umat Muslim. Oleh karena itu, pemerintahan Imam Hasan as hanya bertahan enam bulan.

Perdamaian Imam Hasan as, merupakan salah satu langkah efektif dan sangat bijaksana demi menjaga masyarakat Islam. Pada masa itu, perang internal dalam tubuh umat Islam tidak menguntungkan dunia Islam. Karena imperium Romawi yang telah merasakan pukulan telak dalam perang dengan pasukan Islam, selalu menanti saat yang tepat untuk melancarkan serangan balasan.

Di sisi lain, kondisi masyarakat Irak sedemikian rupa sehingga mereka tidak siap mental untuk membentuk pasukan dan bersama dalam barisan Imam Hasan as. Oleh karena itu, terjun ke medan perang dengan pasukan yang tidak siap secara mental tidak akan menghasilkan apapun kecuali kekalahan. Atas dasar itu, Imam Hasan as hanya dapat bersabar menyaksikan kebodohan dan ketidaksadaran masyarakat, serta berdamai dengan Muawiyah demi menjaga dunia Islam.

Kepada masyarakat Imam al-Mujtaba berkata, “Bangsa-bangsa berdamai, di saat mereka dicekam kezaliman para penguasa mereka, akan tetapi aku berdamai di saat aku khawatir akan kejahatan sahabat-sahabatku sendiri. Aku menyeru kalian untuk berjihad melawan musuh, kalian tidak bangkit. Aku telah menyampaikan hakikat ke telinga kalian, tapi kalian tidak mendengar dan sekarang belum selesai ucapanku, kalian telah bercerai-berai seperti kaum Saba’, dan dengan kedok saran dan nasihat, kalian saling menipu…”

Kesabaran Imam Hasan as tidak hanya terbatas pada hubungan beliau dengan banyak orang, melainkan sifat mulia beliau ini juga telah menyelamatkan dunia Islam dan menjaga nyawa kaum Syiah. Mungkin karena alasan ini pula, kesabaran menjadi sifat paling menonjol Imam Hasan as, mengingat pengaruh dari kesabaran beliau ini masih dirasakan hingga kini.

Pada masa pemerintahan Muawiyah, jika Imam Hasan as tidak bersabar dan berdamai dengannya, maka seluruh pondasi Islam terancam bahaya besar. Oleh karena itu, dalam menjawab mereka yang memprotes keputusan berdamai itu, Imam Hasan as berkata, “Aku berdamai demi menjaga darah Muslim. Jika aku tidak berbuat demikian, maka tidak akan tersisa satu Syiah pun di muka bumi ini… celakalah kalian! Kalian tidak tahu apa yang telah aku lakukan, sumpah demi Allah, menerima perdamaian ini lebih baik bagi pengikutku dari apa saja yang matahari menyinarinya dan kemudian terbenam…”

Bukan tanpa alasan jika Rasulullah Saw menjelaskan sosok Imam Hasan as dan bersabda, “Jika akal tampil dalam bentuk manusia, maka manusia itu adalah Hasan (as).”

Meski beliau dikenal sebagai sosok penyabar, akan tetapi sejarah menjadi saksi bahwa dalam banyak kesempatan dan jika diperlukan, beliau menunjukkan ketegasan dan keberaniannya. Oleh karena itu dalam sejarah hidup Imam Hasan as, kita menyaksikan Imam Hasan as bersikap berani dan sangat tegas hingga menggetarkan seluruh pilar-pilar durjana istana musuh. Meski para musuh telah menyusun rencana sedemikian rupa sehingga Imam Hasan as terpaksa teringkir dari pemerintahan, akan tetapi hal itu tidak membuat Imam tetap bersabar di hadapan kezaliman para penguasa taghut.

Di Madinah, misalnya, dalam banyak kesempatan Imam dengan tegas menentang cara-cara tidak islami Muawiyah. Setelah perdamaian dengan Imam Hasan as, Muawiyah menuju Kufah dan di sana, di hadapan khalayak umum, dia lancang menghina Imam Ali as. Namun belum selesai kelancangannya itu, Imam Hasan as berdiri di mimbar dan berkata kepada Muawiyah, “Apakah kau sedang mengolok Amirul Mukminin Ali (as), meski Rasulullah (Saw) telah bersabda tentangnya bahwa barang siapa mengolok-olok Ali (as) maka dia telah mengolokku dan barang siapa mengolokku, maka dia telah mengolok Allah (Swt), dan barang siapa mengolok Allah (Swt), maka Allah akan menjerumuskannya ke neraka untuk selamanya dan mengazabnya.” Kemudian, Imam Hasan as turun dari mimbar dan keluar dari masjid sebagai bentuk protes.

Imam al-Mujtaba dengan pandangannya menerawang jauh ke masa depan, rela bersabar menghadapi protes, sindiran dan berbagai ungkapan dari para sahabatnya yang bodoh dan berpikiran dangkal, demi menyelamatkan dunia Islam. Imam Hasan as dengan kesabaran dan ketabahan beliau berusaha membuat masyarakat sadar akan hakikat Muawiyah dan Bani Umayyah. Pada hari pertama setelah perdamaian, Muawiyah telah melanggar kesepakatan. Sampai-sampai Muawiyah dalam sebuah pidatonya mengatakan, “… wahai masyarakat Irak! Aku telah berperang dengan kalian untuk berkuasa atas kalian!” Kemudian dia merobek surat perdamaian dan menginjak-injaknya. Akibat ulah Muawiyah dan pelanggarannya, secara perlahan masyarakat menyadari kekhilafan mereka. Melalui kesabaran beliau, Imam Hasan as memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyaksikan sendiri kesewenang-wenangan dan kezaliman Bani Umayyah. Semua itu pada akhirnya mempersiapkan gerakan kebangkitan saudaranya Imam Husein as. Jika masyarakat tidak mengenal wajah sejati Bani Umayyah, maka tekad dalam gerakan kebangkitan Imam Husein as akan dipersoalkan dan pada akhirnya kebangkitan tersebut tidak pernah terwujud. Dengan demikian, langgengnya Islam adalah berkat kebijaksanaan Imam Hasan as. Menurut Syeikh Razi Ale Yasin, kisah Karbala sebelum menjadi Huseini, adalah Hasani.

(Irib-Indonesia/Islamic-Sources/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Mengenang Ibrahim dan Doa-doa di Padang Arafah


Ibadah haji adalah rekonstruksi perjalanan Nabi Ibrahim as. mendaki puncak tauhid. Sebagai Bapak Tauhid, seluruh hidup Nabi Ibrahim adalah drama perjuangan menuju Allah. Pada saat lingkungannya terbelenggu dalam penyembahan tuhan-tuhan kecil, Ibrahim menyentak keluar memeluk Tuhan Mahaesa sebagai manusia yang terbebaskan.

Kepada masyarakat yang terbuai dan terhegemoni oleh imajinasi akan patung-patung kecil dan Patung Besar yang terbuat dari tanah, Nabi Ibrahim menyerukan pembebasan. Ia merevolusi masyarakat dengan menunjukkan (dengan kata-kata dan tindakan) bahwa benda-benda pahatan mereka itu pada dasarnya tidak akan mendatangkan kegunaan dan bahaya bagi siapa pun. Ketika kemudian raja jadi-jadian membakarnya, Raja Diraja menyelamatkannya. Api yang panas pun terasa sejuk olehnya. Selanjutnya, dengan lantang Ibrahim berkata: “Aku akan pergi menghadap Tuhanku; pasti Dia akan memberikan petunjuk kepadaku!” (QS 37: 99)

Allah kemudian memerintahkannya untuk membersihkan Rumah Allah (baitullah) dari kemusyrikan. Dalam usianya yang sudah lanjut, dibantu anaknya, Ismail, Ibrahim memugar Ka’bah dan membersihkannya dari simbol-simbol kemusyrikan. Pemugaran itu terdiri dari berbagai upacara simbolis yang kemudian diabadikan dalam ritual ibadah haji.

Salah satu upacara yang dilakukan Nabi Ibrahim adalah wuquf di Arafah. Dalam bahasa Arab, wuquf artinya berdiam diri dan menghentikan gerak fisik, untuk sejenak menyatu dengan Sang Pencipta. Dan Arafah yang berarti pengakuan (confession) adalah bukit tempat Nabi Ibrahim melakukan penjarakan dan penjedaan (disengagement) dnegan lingkungan semu dunia materi. Terbanglah ia ke pelukan Ilahi, bercengkerama dengan Sang Kekasih, dan bermanja-manja dengan Sang Pencipta. Dalam keheningan sahara, suara lirih Nabi Ibrahim bergema memenuhi angkasa. Seiring dengan untaian talbiyah (labbaika allahumma labbaik…), munajat Nabi Ibrahim bergerak naik ke langit, menembus batas-batas ruang dan bergabung dengan tasbih dan tahmid para malaikat pemikul Arsy.

Ribuan tahun setelah itu, cucu Nabi Ibrahim yang saleh, Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib, menjalani upacara yang sama. Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa Al Husein pada sore hari Arafah keluar dari kemahnya dengan badan merunduk penuh khidmat dan berjalan pelan-pelan menuju bukit Arafah. Dia membawa seluruh keluarganya. Di sana, dia menghadap kiblat dan mulai berdoa. Tangannya menengadah ke langit layaknya seorang pengemis.

“Segala puji bagi Allah yang keputusan-Nya pasti berlaku dean pemberian-Nya tak pernah berlalu. Tiada ciptaan seperti ciptaan-Nya. Mahapemurah lagi Mahaleluasa … Pendengar semua doa, Penolak semua bencana, Peninggi semua derajat, Pemusnah semua durjana… Dialah Mahapendengar, Mahamelihat, Mahalembut, Mahatahu, dan Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berharap…”

Setelah panjang lebar mengalunkan puji-pujian, dengan nada yang lebih gigih Al-Husein mulai memohon:

“Ya Allah, buatlah aku takut kepada-Mu seolah (sedang) melihat-Mu. Bahagiakanlah aku dengan ketakwaan kepada-Mu, dan jangan sengsarakan aku dengan kemaksiatan kepada-Mu. Pilihkanlah untukku apa yang telah menjadi ketentuan-Mu dan berkatilah aku dalam (menjalankan semua) ketentuan-Mu, sehingga tak lagi aku ingin menyegerakan apa yang Kau tunda dan menunda apa yang Kau segerakan.

Ya Allah, jadikanlah kekayaanku di dalam jiwaku. Tanamkan keyakinan di dalam hatiku, hadirkan keikhlasan di dalam tindakanku, pancarkan cahaya di dalam penglihatanku, bashirah (mata hati) di dalam agamaku…”

Ditingkahi suara amin dan isak tangis sanak keluarga dan sahabat-sahabat yang melingkar di sekelilingnya, Al Husein kemudian melanjutkan:

“Tuhanku, akulah orang yang fakir saat (aku merasa) kaya, bagaimana aku tidak (merasa) fakir saat (aku benar-benar) fakir. Tuhanku, akulah orang bodoh saat (aku merasa) pandai, bagaimana aku tidak (merasa) bodoh saat (aku benar-benar) bodoh…

Ilahi, Kau sifati Diri-Mu dengan kelembuatan dan belas kasih kepada diriku sebelum adanya kelemahanku, maka apa (mungkin) Kau cegah aku dari keduanya setelah adanya kelemahanku. Sungguh merugi orang yang berpaling dari-Mu! Mengapa mesti mengharap kepada selain-Mu, padahal Kau tak pernah berhenti (melimpahkan) kebaikan? Mengapa mesti meminta kepada selain-Mu, padahal Kau tak pernah meninggalkan kebiasaan memberi? Wahai yang memberikan rasa lezat keintiman kepada para kekasih-Nya, sehingga semua jadi tertunduk di hadapan-Nya, sehingga semua jadi meminta ampun kepada-Nya… Engkaulah yang memulai kebaikan sebelum para hamba memohon, bermurah dengan pemberian sebelum para hamba memohon, bermurah denagn pemberian sebelum ada yang meminta.”

(Al-Hassanain/Islamic-Sources/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Faktor-Faktor Pemersatu Umat Dalam Sirah Rasulullah


Makna persatuan umat Islam adalah bahwa seluruh Muslim saling bersanding di samping tetap menjaga keyakinan mazhab masing-masing serta lebih menekankan pada sisi kolektif dalam agama Islam seperti al-Quran, Rasulullah dan kiblat yang satu, serta menghindari segala bentuk perselisihan mazhab, politik maupun ras yang akan menyebabkan pengenduran umat Islam. Tidak diragukan lagi bahwa sejarah kehidupan Rasullah dapat menjelaskan dan mendefinisikan dengan sempurna prinsip serta parameter untuk menciptakan persatuan dalam kondisi dunia Islam saat ini. Perjalanan hidup beliau, memiliki berbagai dimensi yang dapat dibahas.

Rasulullah Saw, menilai persatuan umat Islam sebagai strategi fundamental kekuatan Muslim di setiap waktu dan tempat, dan untuk mewujudkannya beliau telah melakukan berbagai upaya tanpa henti. Sedemikian rupa sehinga kekuatan dan kemuliaan masyarakat Islam yang baru terlahir di masa risalah itu, merupakan hasil dari bimbingan dan upaya persatuan Rasulullah Saw. Dari dimensi poiltik, sosial dan budaya Rasulullah Saw, kita memahami bahwa persatuan bukan hanya terjadi antarumat Islam saja melainkan keselarasan seluruh masyarakat Islam yang di dalamnya juga terdapat kelompok-kelompok non-Muslim. Ini menjadi prioritas upaya Rasulullah Saw. Imam Ali as dalam hal ini mengatakan, “Rasulullah Saw memperbaiki jurang sosial dengan persatuan dan mendekatkan jarak-jarak (dalam masyarakat).” (Nahjul Balaghah, khutbah 231)

Dalam mewujudkan persatuan umat Islam, Rasulullah menggunakan strategi ideologi, akhlak, politik dan budaya. Pemberantasan pemikiran syirik dan non-Tauhid serta menggantikannya dengan perspektif Tauhid, membuka peluang bagi terwujudnya persatuan ideologi pada masa itu. Upaya beliau mampu mengikis benturan-benturan keyakinan dan mengubahnya menjadi persatuan identitas pemikiran yang terpadu.

Dengan menekankan pada ketauhidan khususnya pada fakta bahwa risalah yang diemban beliau merupakan kelanjutan dari agama Nabi Ibrahim as, Rasulullah Saw telah memanfaatkan kapasitas masyarakat di masa itu untuk mewujudkan persatuan pemikiran. Dalam masyarakat jahiliyah ketika itu, sekelompok Arab masih meyakini risalah ketauhidan yang dibawa oleh Nabi Ibrahim Hanif. Penggunaan kata dan makna “hanif” untuk agama Islam oleh Rasulullah Saw, adalah metode briliant beliau untuk menciptakan ikatan antara Islam dan agama Nabi Ibrahim.

Dewasa ini, Muslim juga mampu memanfaatkan kapasitas besar dari ideologi mereka yaitu keimanan pada ketauhidan dan poros-poros ketauhidan untuk menciptakan persatuan. Jika makna sejati ketauhidan dipahami dengan baik oleh umat Muslim, maka akan tercipta kerukunan serta keselarasan terindah dan terkokoh. Di bawah naungan perspektif ini, pemberantasan dan perlawanan terhadap manifestasi kezaliman dan kefasadan di dunia secara otomatis akan menjadi prioritas program dunia Islam.

Salah satu di antara poin penting dalam keselarasan masyarakat Islam di masa risalah Rasulullah Saw adalah akhlak mulia beliau. Para ahli sejarah mengakui bahwa apa yang membuat Rasulullah Saw menguasai hati rakyat adalah akhlak dan kemuliaan pribadi beliau khususnya dalam berinteraksi dengan masyarakat. Budi luhur, keramahan, kasih sayang kepada fakir miskin dan orang-orang papa, serta menghindari kesombongan dan haus kekuasaan, merupakan di antara nilai-nilai luhur, yang membuat Rasulullah Saw dicintai masyarakat. Dengan kata lain, wujud beliau menjadi poros keselerasan dan kekompakan umat Muslim. Rasulullah tidak menggunakan kekuasaan dan posisinya sebagai sarana untuk menakut-nakuti atau mengancam masyarakat. Beliau adalah pemimpin yang sangat perhatian, penuh kasih sayang dan pemaaf.

Contoh nyata sifat pemaaf Rasulullah Saw adalah pemaafan beliau kepada seluruh warga Mekkah. Setelah menaklukkan kota Mekkah, Rasullah Saw memaafkan warga Mekkah yang telah melakukan berbagai kejahatan terhadap beliau dan juga para sahabat. Padahal ketika itu, Rasulullah Saw memiliki kekuatan yang telah sampai pada puncaknya untuk membalas dendam.

Pada hari penaklukan kota Mekkah, Rasulullah Saw bersabda, “Muslim adalah saudara Muslim, dia tidak berbuat jahat kepada saudaranya, tidak menghinanya dan tidak mengkhianatinya. Adalah tugas umat Muslim untuk saling mengikat hubungan dan saling membantu yang memerlukan bantuan dan saling mengasihi.”

Dengan demikian, akhlak penuh pesona Rasulullah Saw, merupakan faktor penting dalam meredam perselisihan dan menjadi strategi sangat berharga untuk mewujudkan persatuan hati umat. Namun sayangnya, sekarang sebagian besar negara Islam tidak memiliki pemimpin yang adil, peduli dan dapat dipercaya, yang justru menciptakan jurang antarumat Islam. Masalah ini, menciptakan berbagai masalah dan tantangan serius dari dalam tubuh umat Islam. Salah satu masalah seriusnya adalah degradasi kekuatan umat Islam dalam menghadapi ancaman musuh dan juga membuka peluang bagi penyusupan kelompok-kelompok menyimpang seperti gerakan Takfiri yang sekarang sedang menebar kejahatan di dunia Islam sendiri.

Rasulullah Saw menggunakan posisi dan kekuatannya serta manajemen dan perenungannya, untuk mencerabut akar perselisihan dalam masyarakat Islam. Salah satu masalah yang dihadapi masyarakat Madinah adalah banyaknya kabilah dan kelompok yang hidup di kota itu. Masing-masing kabilah saling memiliki perselisihan dan masalah. Dengan menempatkan Tauhid sebagai poros dan menciptakan keyakinan yang kolektif dalam masyarakat, Rasulullah Saw mampu mendekatkan hubungan antarkabilah dan kelompok yang sebelumnya saling berseteru. Karena umat Muslim harus patuh kepada Allah Swt dan Rasulullah Saw.

Kondisi politik Arab Saudi sebelum Islam menunjukkan bahwa tidak ada kekuasaan politik terpadu dan rapi di jazirah itu. Yang ada saat itu adalah berbagai kabilah yang memiliki pemimpin masing-masing dan karena tidak memiliki ketertiban hukum dan politik, masyarakat jahiliyah Arab saat itu terjebak dalam kekacauan dan perselisihan. Membangun sebuah pemerintahan merupakan salah satu faktor penting dalam mewujudkan persatuan Islam dan pembentukan umat yang satu, karena tanpa pemerintahan dan bimbingan politik dari seorang pemimpin, persatuan juga tidak akan terwujud. Era 10 tahun risalah Rasulullah Saw di kota Madinah merupakan bukti nyata dalam hal ini. Masuknya Rasulullah Saw ke kota Madinah bersama dengan penandatanganan perjanjian antarkelompok yang mengawali upaya perwujudan persatuan dalam masyarakat Islam. Salah satu perjanjian penting adalah kesepakatan yang ditandatangani Rasulullah dengan seluruh kabilah dan kelompok yang ada di kota itu. Ini menjadi manajemen terbaik untuk mewujudkan persatuan mengingat kesepakatan tersebut akan menjamin keamanan dan kepentingan seluruh kelompok baik Muslim maupun non-Muslim. Selain itu, kesepakatan tersebut menjadi mukadimah terbentuknya persatuan politik dan pemerintahan. Hak-hak kaum Kristen dan Yahudi yang hidup dalam masyarakat Islam, dihormati oleh Rasulullah. Mereka tidak berulah di hadapan umat Islam dan mereka dapat tetap mempertahankan keyakinan mereka. Pada suatu hari, Rasulullah Saw kepada masyarakat Muslim bersabda: “Jika ada orang non-Muslim yang berlindung kepada kalian, maka siapkan semua sarana kenyamanannya dan sampaikan makanan ruhnya dengan ajaran Islam. Mungkin dia akan menemukan hakikat dan memeluk Islam. Jika dia memeluk Islam maka dia akan menjadi saudaramu, dan jika tidak, maka dia tetap terhormat dalam perlindunganmu.”

(Irib-Indonesia/Islamic-Sources/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Kisah Cinta Nabi Muhammad Saaw


Kali ini saya akan membagikan sebuah kisah cinta yang sejati.
Anda mungkin pernah mendengar kisah cinta Qais dan Laila atau kisah cinta Romeo dan Juliet ataukah Laila dan Majnun ?

Apakah kisah cinta seperti itu yang dikatakan sebagai kisah cinta sejati ? Seperti yang sahabat ketahui bahwa kisah cinta mereka tidaklah berakhir di pelaminan bahkan rela mati demi cintanya.

Lalu, cinta seperti apakah yang dikatakan sebagai cinta sejati. Cinta sejati antara dua insan adalah cinta yang terus abadi dalam setelah pernikahan yang berlandaskan atas kecintaan mereka kepada Sang Pemilik Cinta yaitu Allah ‘Azza Wa Jalla. Walaupun salah satu meninggal, namun cinta sejati ini terus saja abadi. Kisah cinta siapakah yang begitu indah ini ?

Kisah cinta yang paling indah ini siapa lagi yang memilikinya kalau bukan kisah cinta Junjungan kita, Muhammad Saw kepada Khadijah ra.

Sungguh sebuah cinta yang mengaggumkan, cinta yang tetap abadi walaupun Khadijah telah meninggal. Setahun setelah Khadijah meninggal, ada seorang wanita shahabiyah yang menemui Rasulullah Saw.
Wanita ini bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah ? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan besar.”
Sambil menangis Rasulullah Saw menjawab, “Masih adakah orang lain setelah Khadijah?”

Kalau saja Allah tidak memerintahkan Muhammad Saw untuk menikah, maka pastilah Beliau tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Nabi Muhammad Saw menikah dengan Khadijah layaknya para lelaki. Sedangkan pernikahan-pernikahan setelah itu hanya karena tuntutan risalah Nabi Saw, Beliau tidak pernah dapat melupakan istri Beliau ini walaupun setelah 14 tahun Khadijah meninggal.

Pada masa penaklukan kota Makkah, orang-orang berkumpul di sekeliling Beliau, sementara orang-orang Quraisy mendatangi Beliau dengan harapan Beliau mau memaafkan mereka, tiba-tiba Beliau melihat seorang wanita tua yang datang dari jauh. Beliau langsung meninggalkan kerumunan orang ini. Berdiri dan bercakap-cakap dengan wanita itu. Beliau kemudian melepaskan jubah Beliau dan menghamparkannya ke tanah. Beliau duduk dengan wanita tua itu.

Aisyah bertanya, “Siapa wanita yang diberi kesempatan, waktu, berbicara, dan mendapat perhatian penuh Nabi Saw ini?”

Nabi menjawab, “Wanita ini adalah teman Khadijah.”

“Kalian sedang membicarakan apa, ya Rasulullah?” tanya Aisyah

“Kami baru saja membicarakan hari-hari bersama Khadijah.”

Mendengar jawaban Beliau ini, Aisyah pun merasa cemburu. “Apakah engkau masih mengingat wanita tua ini (Khadijah), padahal ia telah tertimbun tanah dan Allah telah memberikan ganti untukmu yang lebih baik darinya?”
“Demi Allah, Allah tidak pernah menggantikan wanita yang lebih baik darinya. Ia mau menolongku di saat orang-orang mengusirku. Ia mau mempercayaiku di saat orang-orang mendustakanku.”

Aisyah merasa bahwa Rasulullah Saw marah. “Maafkan aku, ya Rasulullah.” “Mintalah maaf kepada Khadijah, baru aku akan memaafkanmu.” (Hadits ini diriwayatkan Bukhari dari Aisyah)

(Padhydhy-Web/Islamic-Sources/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Sikap Ali bin Abi Thalib Terhadap Khalifah dan Kekhalifahan Yang Ada


Imam Ali bin Abi Thalib as sendiri mendukung para khalifah waktu itu, tapi kenapa kalian (orang-orang syi’ah) menolak kekhalifah mereka?

Sikap Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as terhadap para khalifah dapat ditinjau dari dua sudut:

Pengakuan secara resmi terhadap kekhalifahan mereka.
Kerjasama dengan pemerintahan mereka dalam menyelasaikan masalah keagamaan dan kendala politik.

Dua sudut tinjau ini mesti dipisahkan. Dan tentu saja sikap Amirul Mukminin Ali as dalam hal pertama adalah negatif atau menolak keabsahan khilafah mereka, sedangkan sikap beliau dalam hak kedua adalah positif atau membantu mereka untuk menyelesaikan berbagai persoalan agama dan politik.

Terkait bukti akan sikap negatif beliau dalam hal pertama, perlu diperhatikan bahwa:

Pertama-tama, bagaimana mungkin Amirul Mukminin Ali as mengakui kesahan khilafah mereka sementara dari sisi Allah Swt beliau dilantik sebagai khalifah dan pemimpin umat Islam, khususnya pelantikan yang terjadi di Ghadir Khum? Khilafah, imamah, atau kepemimpinan beliau adalah hukum samawi (hukum langit) dan keputusan Ilahi yang tidak ada satu pihak pun yang berhak mengubahnya selain Allah Swt. Al-Qur’an mensinyalir:

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki mukmin dan tidak -pula¬bagi perempuan mukmin apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan – yang lain- tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab [33]: 36)

Kedudukan Amirul Mukminin Ali as sebagai imam, khalifah dan pemimpin bukanlah hak pribadi yang beliau sendiri berhak untuk berpaling darinya, melainkan ketetapan Ilahi yang tidak ada satu pihak pun yang berhak untuk mengubahnya. Namun demikian, bila kondisi tidak mendukung pihak terlantik untuk melaksanakan ketetapan itu maka asas maslahat menuntut dia untuk diam dan tidak sekali-kali menuntut dia untuk mendudukkan orang lain di posisinya.

Kedua, sejarah Saqifah dan penelitian tentang riwayat hidup Amirul Mukminin Ali as menunjukkan bahwa dalam tekanan yang paling kuat sekali pun beliau tetap tidak mengulurkan tangannya untuk berbaiat kepada khalifah-khalifah semasa hidupnya.

Di dalam salah satu suratnya, Muawiyah menuliskan kepada Amirul Mukminin Ali as, “Engkaulah orang yang ditarik paksa untuk berbaiat seperti unta yang diikat.” Pernyataan ini membuktikan bahwa tekanan yang beliau alami untuk berbaiat telah sampai pada titik beliau diseret dari rumahnya secara paksa untuk melakukan baiat kepada khalifah di masjid.

Dalam jawaban surat itu, Amirul Mukminin Ali as tidak menolak realitas kebiadaban orang-orang itu terhadap dirinya, bahkan beliau menekankan bahwa itu salah satu bukti keteraniayaan dirinya. Beliau menuliskan, ‘Kamu katakan bahwa mereka menyeretku seperti unta yang terikat untuk melakukan baiat. Aneh sekali! Sumpah demi Allah Swt, dengan kata-kata itu kamu sebenarnya ingin mencelaku, tapi secara tidak sadar kamu sedang memujiku. Kamu sebenamya ingin mempermalukanku, tapi ternyata (dengan kata-kata itu) kamu sendiri yang dipermalukan. Bagi seorang muslim, keteraniayaan bukanlah cela selama dia tidak bimbang dalam hal agamanya dan tidak meragukan keyakinannya.’[1]

Ketiga, Bukhari dalam bab “Maghazi“ meriwayatkan sebuah hadis dengan sanad yang sampai kepada Aisyah bahwa, ‘Fathimah putri Nabi Saw mengutus seseorang kepada Abu Bakar untuk menuntut agar tiga halnya (haknya) dikembalikan:
1. Warisan dia dari Rasulullah Saw.
2. Tanah Fadak.
3. Apa yang tersisa dari khumus ghanimah Perang Khaibar.

Menanggapi tuntutan itu, Abu Bakar mengatakan, ‘Aku dengar Rasulullah Saw bersabda, ‘Kami tidak mewariskan, -sedangkan- apa yang kami tinggalkan adalah sedekah.’ Padahal, tanggungan hidup keluarga Nabi Saw ditunaikan dengan harta itu.’ Sampai kemudian dia (Aisyah) mengatakan, ‘Fathimah murka terhadap sikap negatif Abu Bakar, dia meninggalkannya dan sejak itu dia tidak lagi berbicara dengannya, dan dia tidak bertahan hidup lebih dari enam bulan setelah wafatnya Nabi Saw.’

Ketika Fathimah sa meninggal, suami beliau Amirul Mukminin Ali as menguburkannya malam hari dan tidak memberitahu Abu Bakar perihal kematian beliau. Dan selama beliau (Fathimah sa) hidup, Amirul Mukminin Ali as tidak pernah berbaiat kepada Abu Bakar.[2]

Hadis di atas membuktikan bahwa selama enam bulan Amirul Mukminin Ali as beserta istrinya menolak untuk berbaiat kepada khalifah. Seandainya kekhalifahan Abu Bakar itu sah dan memenuhi persyaratan, lalu kenapa putri Nabi Muhammad Saw Fathimah Zahra sa meninggal dunia dalam keadaan murka kepadanya dan kenapa suami beliau Amirul Mukminin Ali as juga selama enam bulan menolak untuk berbaiat kepadanya?!

Di sini terdapat kontradiksi dalam pandangan Ahli Sunnah; karena, para sejarawan sepandangan bahwa putri Nabi Muhammad Saw Fathimah Zahra sa sama sekali tidak berbaiat kepada khalifah, bahkan sampai akhir hayatnya beliau tidak mau berbicara dengannya. Lebih dari itu, mereka juga menyatakan bahwa selama putri Nabi Saw hidup maka suami beliau Amirul Mukminin Ali as juga tidak berbaiat dengan khalifah Abu Bakar, dan baru setelah enam bulan dari awal kejadian Saqifah beliau berbaiat -secara paksa- dengannya.[3]

Di sisi lain kita melihat kitab-kitab hadis Shohih dan Musnad dari kalangan Ahli Sunnah sendiri meriwayatkan bahwa barangsiapa yang tidak berbaiat kepada imam (pemimpin atau khalifah yang sah) pada zamannya maka dia mati dalam keadaan jahiliyah. Muslim di dalam kitab Shohih meriwayatkan, “Barangsiapa mati tanpa baiat kepada imam maka dia mati jahiliyah.”[4] Ahmad bin Hanbal juga di dalam kitab Musnad meriwayatkan, “Barangsiapa mati tanpa mengenal imamnya, maka dia mati seperti orang-orang jahiliyah.”[5]

Sekarang, bagaimana kita dapat membenarkan dua hal tersebut di atas? Dari satu sisi, rida Siti Fathimah Zahra sa putri Rasulullah Saw adalah tolok ukur rida Allah Swt dan murkanya adalah tolok ukur murka Allah Swt, di samping itu beliau juga merupakan penghulu para wanita alam semesta.[6] maka sudah barang tentu orang yang berkarakteristik seperti ini adalah orang yang suci atau maksum. Di sisi lain, Siti Fathimah Zahra sa putri Nabi Saw ini tidak berbaiat kepada khalifah Abu Bakar dan beliau meninggal dunia bertemu Tuhannya dalam keadaan tanpa baiat kepada khalifah tersebut.

Selanjutnya, kontradiksi ini bisa diselesaikan dengan salah satu dari dua cara: yang pertama adalah kita katakan bahwa kematian Siti Fathimah Zahra sa putri Nabi Saw yang merupakan tolok ukur rida dan murka Allah Swt serta penghulu para wanita surga mati dalam keadaan jahiliyah karena tidak berbaiat kepada imam pada zamannya -naudzu billah-. Yang kedua adalah kita katakan bawha khalifah yang memimpin pada masa hidupnya bukanlah imam yang sah pada zamannya, melainkan dia telah merebut tampuk kekhalifahan secara tidak sah, sedangkan imam yang sah pada zaman itu adalah imam yang dilantik oleh Allah Swt melalui nabi-Nya di Ghadir Khum, dan sejak hari pertama dari pelantikan itu Siti Fathimah Zahra sa telah berbaiat kepadanya, bahkan selama nyawa masih berada di tubuhnya beliau tidak pemah berhenti mendukung imam sah yang telah beliau baiat.

Keempat, kata-kata Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as sendiri telah berulangkali menunjukkan bahwa beliau sampai akhir hayatnya tetap meyakini dirinya sebagai imam atau khalifah Allah Swt yang sah, dan sesungguhnnya kekhalifahan adalah hak beliau yang tidak boleh diganggu-gugat tapi pada kenyataan telah dirampas oleh orang lain. Dalam hal ini, selain pidato populer beliau yang disebut dengan Pidato Syiqsyiqiyah, pemyataan-pemyataan lain beliau juga membuktikan terjadinya perampasan kekhalifahan oleh orang lain. Di sini, kami hanya akan menukil sebagian kecil dari pemyataan beliau:

A. ‘Sumpah demi Allah! Sejak hari wafatnya Rasulullah Saw sampai sekarang, hakku yang pasti telah dirampas.’[7]
B. ‘Di tengah perkumpulan, ada seorang yang berkata kepadaku, ‘Hai putara Abu Thalib! Engkau orang yang serakah terhadap kekhalifahan.’ Aku katakan kepadanya, ‘Bahkan kalianlah yang serakah, kalian lebih jauh dari Nabi Saw sedangkan aku adalah orang yang paling dekat dengan beliau baik dari sisi ruh maupun tubuh. Aku hanya menuntut hakku, sedangkan kalian ingin memisahkanku dari hakku yang pasti dan menghalangiku darinya. Mana lebih serakah orang yang menuntut haknya dan orang yang merebut hak orang lain tersebut?’ Begitu aku gugurkan dia dengan bukti yang kuat di hadapan hadirin maka dia baru sadar dan tidak punya jawaban apa-apa untuk dia sampaikan.’[8]

Tidak diketahui siapa si pemrotes itu dan kapan protes itu dia lontarkan. Ibnu Abil Hadid mengatakan, ‘Si pemrotes itu adalah Sa’ad bin Waqash, dan itu terjadi pada hari Syura.’ Kemudian dia mengatakan, ‘Tapi kelompok Imamiyah punya pandangan bahwa si pemrotes itu adalah Abu Ubaidah Jarrah, dan itu terjadi pada hari Saqifah.’

Selanjutnya Amirul Mukminin Ali as berkata, ‘Ya Allah! aku adukan kezaliman Quraisy dan para pendukung mereka kepada-Mu. Mereka telah memutus silaturahmi denganku dan melecehkan kedudukan muliaku. Mereka melakukan kesepakatan dalam hal yang merupakan hak istimewaku, dan mereka bangkit melawanku.’[9]

Sampai di sini jelas sekali bahwa Amirul Mukminin Ali as tidak pemah berdamai dengan para khalifah dalam hal imamah dan khilafah, senantiasa beliau menyampaikan keteraniayaannya dan memberitahukan generasi setelahnya tentang hakikat yang sebenarnya terjadi.

Hal kedua yang menjadi sudut tinjauan kita di sini adalah kerjasama Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as dengan badan kekhalifahan atau pemerintah dalam persoalan agama dan politik serta penyelesaian terhadap berbagai kendala yang dihadapi oleh para khalifah. Terang saja sikap beliau dalam hal ini betul-betul positif. Di dalam salah satu suratnya beliau menjelaskan alasan kerjasama beliau dengan badan pemerintah saat itu. Berikut ini kami akan menukil terjemahan surat beliau:

‘Sumpah demi Allah! Tidak pernah aku membayangkan sebelumnya bahwa bangsa Arab sepeninggal Rasulullah Saw akan memalingkan urusan imamah dan kepemimpinan dari Ahli Bait suci beliau -dan mendudukkannya di tempat lain-, mereka telah menjauhkan kepemimpinan itu dariku! Satu-satunya hal yang menyakitkanku adalah perkumpulan orang-orang di sekitar Fulan … dimana mereka berbaiat kepadanya. Aku letakkan tangan di atas tanganku sampai-sampai aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ada sekelompok orang yang berpaling dari Islam dan ingin menghancurkan agama Nabi Muhammad Saw. -Di sinilah- Aku khawatir jika aku tidak membela Islam dan orang-orang muslim niscaya aku akan menyaksikan keretakan dan kehancuran dalam Islam, dimana bencana ini bagiku lebih besar daripada bencana melepas kekhalifahan dan pemerintahan terhadap kalian; karena, masa ini adalah masa pendek kehidupan dunia yang cepat lalu dan berakhir, seperti fatamorgana yang lekas hilang dan laksana awan yang cepat berhamburan. Karena itu, aku bangkit demi menolak jangan sampai hal-hal yang lebih buruk itu terjadi, sehingga kebatilan pun tersingkirkan dan agama tetap tegak kuat.’[10]

Surat ini menerangkan secara gamblang bahwa meskipun Amirul Mukminin Ali as mengkritik badan khilafah dan pemerintahan pada zamannya, beliau tetap bekerjasama dengan mereka sampai batas-batas yang memungkinkan dan beliau senantiasa menyelesaikan kendala keilmuan serta politik mereka dengan cara yang sebaik-baiknya.


Catatan :

[1] Nahj Al-Balaghoh, surat no. 28.

[2] Shohih Bukhari, Bab Ghozwah Khaibar, hadis no. 4241.

[3] Shohih Bukhari, Kitab Fardhu Khumus, hadis no. 3093.

[4] Shohih Muslim, Bab Amarah, hal. 58, hadis no. 88.

[5] Musnad Ahmad, jld. 2, hal. 96.

[6] Mustadrok Hakim, jld. 3, hal. 156.

[7] Nahj Al-Balaghoh, pidato no. 6.

[8] Ibid., pidato no. 172.

[9] Bihar Al-Anwar, jld. 29, hal. 605.

[10] Nahj Al-Balaghoh, surat no. 62.

(Islamic-Sources/Al-Hassanain/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Keterzaliman Fathimah Az-Zahra, Kenyataan Sejarah Yang Tidak Bisa Ditolak


DR. Isham Imad, salah seorang muballigh Yaman yang sebelumnya berpemahaman Wahabi namun setelah mengenal mazhab Syiah dan mempelajarinya dengan lebih detail iapun menyatakan diri beralih mazhab. Dalam wawancara dengannya beliau berkata, “Kemenangan revolusi rakyat Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini rahimahullah telah menyebabkan lebih dari satu juta orang di Yaman beralih menganut mazhab Syiah, dan hal tersebut menunjukkan bukti betapa besarnya pengaruh revolusi Islam Iran di kawasan ini.”

DR. Isham Imad, pernah menimba ilmu di beberapa universitas di Arab Saudi, yang kemudian kembali ke tanah airnya dan menjadi muballigh Wahabi. Sama halnya pada umumnya muballigh Wahabi diapun turut menganggap Syiah sebagai ajaran sesat dan keluar dari Islam. Namun interaksi dan ketekunannya dalam mempelajari perbandingan antar mazhab justru mengantarkannya pada hidayah, tidak hanya berubah mengakui Syiah sebagai mazhab yang sah dalam Islam bahkan juga beralih ke mazhab Syiah sebagai pilihannya dalam menjalankan Islam. Tidak tanggung-tanggung cendekiawan muslim Yaman tersebut bahkan sampai memperdalam keyakinan Syiahnya dengan menimba ilmu di Hauzah Ilmiah Qom Iran sampai mencapai doktoralnya dan dikenal sebagai ahli dalam bidang rijal, hadits dan tarikh.

DR. Isham Imad dalam penjelasannya mengatakan, dalam kebangkitan rakyat Yaman, umat Syiah Zaidiyah dan umat Syiah Itsna Asy’ari satu sama lain bersatu dan saling mengokohkan dan bekerjasama dengan umat Sunni sehingga pemamahan takfiri tidak memiliki pengaruh di Yaman. “Saya menjadi saksi, akan betapa meluasnya dakwah Syiah di Yaman ini. Semakin hari, jumlah pengikut Syiah semakin bertambah, dan dakwah Syiah hari ini semakin baik dan diterima masyarakat dari waktu-waktu sebelumnya.” Ungkapnya.

“Penduduk Yaman lebih dari 30 juta orang, dan diantara penduduknya memeluk keyakinan Syiah Zaidiyah dan Itsna Asy’ari, dan menariknya setelah kebangkitan Islam di Iran yang dipelopori Imam Khomeini lebih dari satu juta penduduk Yaman beralih kemazhab Syiah, dan jelas hal tersebut menunjukkan betapa besarnya pengaruh revolusi tersebut di Negara-negara kawasan.” Tambahnya lagi.

Cendekiawan Yaman tersebut kembali melanjutkan, “Tidak bisa dipungkiri pengaruh Arab Saudi terhadap Yaman juga tidak sedikit. Bahkan dalam tahun-tahun terakhir ini, Yaman termasuk dalam target Arab Saudi untuk diwahabisasikan. Orang-orang terpelajar Yaman di biayai dan dididik di Arab Saudi dan sekembalinya akan menjadi muballigh dan da’i-da’i Wahabi. Saya lahir dan besar dalam lingkungan keluarga yang berpemahaman Wahabi. Ayah saya Syaikh Abdur Rahman al ‘Imad dikenal sebagai ulama Wahabi. Rumah ayah saya di Yaman adalah pusat penyebaran pemahaman Wahabi dan banyak dari warga Yaman mengenal dan mempelajari pemahaman Wahabi di rumah ayah saya.”

“Sejak berumur 6 tahun saya sudah mempelajari aqidah Wahabi di bawah bimbingan ayah saya dan sampai umur 30 tahun saya menjadi muballigh Wahabi yang banyak berceramah tentang keyakinan Wahabi di banyak tempat di Yaman. Saya menyelesaikan pendidikan universitas saya di Arab Saudi namun setelah mempelajari mazhab Syiah dengan telaten dan jujur saya kemudian beralih menjadi muballigh Syiah. Hari ini saya dikenal sebagai guru, penulis dan muballigh mazhab Ja’fari dan saya merasa bahagia menjadi bagian dari dakwah hak ini.” Jelasnya.

Dalam lanjutan penjelasannya, doktor ahli dibidang hadits dan sejarah tersebut mengatakan, “Kelompok Wahabi berusaha menisbahkan Syiah dengan sesuatu yang tidak sepatutnya melalui media-media elektronik, kitab, majalah-majalah dan media cetak. Mereka menampilkan wajah Syiah secara negatif, dalam gerakan ini mereka telah menggelontorkan banyak dana untuk mencari titik kelemahan, permasalahan dan melemparkan pandangan tidak berdasar menurut selera mereka.”

“Dengan menyebarkan propaganda, berbagai tekanan, mereka berusaha menghambat mazhab Syiah supaya asas akidah dan idealisme ajaran ini tidak tersebar dalam komunitas masyarakat berilmu, kalangan terdidik yang berpikiran bebas dan terbuka.” Tambahnya.

“Dimasa pendidikan saya, dan ketika sibuk melakukan tahkik [penelitian] atas kitab Jahiz yang dikarang salah seorang ulama besar Ahlus Sunnah, saya menemukan frase dari tulisan beliau yang mempertanyakan mengapa umat Islam tidak membela hak Sayyidah Fatimah putri Nabi pasca wafatnya Rasulullah Saw. Dan fakta tersebut tidak bisa ditolak bahwa dalam literatur ahlus sunnah sendiri terdapat riwayat yang menukil permintaan Sayyidah Fatimah yang tidak mengizinkan Abu Bakar dan Umar untuk menyertai proses pemakaman jenazahnya. Awalnya saya berpikir, perbuatan Fatimah Az Zahra tersebut kekanak-kanakan dan tidak menunjukkan kebesaran jiwanya sebagai putri Nabi, namun setelah menyelidikinya secara mendalam bahwa ada pesan yang tersirat dari permintaan Sayyidah Fatimah tersebut, barulah saya paham hakikat yang sebenarnya.”

“Dalam penelitian saya, saya menemukan kalimat yang menarik dari Imam Fakhruddin al Razi, yang saat membacanya, membuat saya yakin bahwa kebenaran bersama Sayyidah Fatimah as. Kalimatnya adalah, ‘Aku heran, dengan adanya fakta ayat dan sabda Nabi mengenai warisan, dan penegasan dari Nabi sendiri bahwa perlunya seseorang untuk berusaha meninggalkan warisan harta dan tanah namun bagaimana mungkin Rasulullah Saw sendiri tidak mewariskan apapun untuk anak perempuannya?”


Keterzaliman Fathimah Az-Zahra, Kenyataan Sejarah yang Tidak Bisa Ditolak

DR. Isham Imad berkata, “Dalam riwayat kita temukan, pada suatu hari, seorang sahabat datang kepada Rasulullah dan berkata: Aku mewakafkan seluruh hartaku. Rasulullah Saw tidak senang dengan pernyataan tersebut dan berkata: Engkau mempunyai hak mewakafkan satu per tiga dari hartamu. Nabi Saw melarang sahabatnya untuk mewakafkan seluruh hartanya, karena menginginkan sahabat menyisakan warisan untuk keluarganya. Sekarang bagaimana mungkin Rasulullah Saw bersabda bahwa yang ditinggalkan beliau hanya sedekah, dan tidak sedikitpun warisan untuk keluarganya?”

“Menurut pandangan seluruh manusia yang berakal, sekiranya seseorang itu ingin mewakafkan hartanya, pertama sekali dia akan menyadari akan keberadaan dan hak anak-anaknya, bukannya memikirkan sahabat-sahabatnya yang tidak ada sangkutpautnya sama sekali dengan harta warisan, kecuali dalam keadaan anak-anaknya belum mampu menjaga harta dan tanah warisan.”

“Dengan keberadaan Rasulullah Saw selaku penghulu manusia-manusia yang berakal dan berpikir rasional, bagaimana mungkin baginda berkata kepada khalifah pertama bahwa harta yang diwariskannya adalah sedekah dan baginda tidak menyampaikan demikian kepada anak perempuannya sendiri? Awalnya saya berkata, mungkin Fathimah belum mampu menjaga harta, namun ketika saya teliti dan saya temukan Rasulullah Saw memperkenalkan Fathimah Az-Zahra sebagai wanita yang paling sempurna pengetahuannya. Oleh karena itu mustahil baginda tidak menceritakannya kepada keluarganya sendiri.”

“Saya membaca kata-kata Fakhrudin Al-Razi dengan penuh keheranan, keterzaliman Fathimah Az-Zahra merupakan faktor paling penting yang mendorong saya kepada Syiah, dan saya menceritakan perkara ini dalam artikel yang saya tulis ‘Peranan Fathimah Az-Zahra dalam pengertian yang mendalam’.

“Sebuah kitab yang ditulis oleh ulama Ahli Sunnah yang sudah masuk Syiah berjudul ‘akhirnya aku temui hidayah dengan cahaya Fathimah as’, beliau berkata, aku masuk Syiah setelah membaca khutbah Fathimah Az-Zahra as. Dan kenyataan-kenyataan yang serupa tidak sedikit. Bagi pihak Wahabi hakikat Fathimah Az-Zahra terlalu sulit untuk diungkapkan, karena hal tersebut dapat menggoyahkan keyakinan mereka.” Jelas DR. Isham Imad. DR. Isham Imad dalam lanjutan penjelasannya menyebutkan, setelah beralih ke mazhab Syiah, beliau menjawab dan membantah buku-bukunya sendiri yang sebelumnya telah ditulisnya di masa beliau masih Wahabi dan melancarkan kebencian dan permusuhan terhadap Syiah. Beliau mengungkapkan bahwa dikalangan keluarganya bukan beliau sendiri yang beralih ke Syiah, saudara laki-lakinya Hasan al ‘Imad juga telah memantapkan hati bermazhab Syiah dan sementara menimba ilmu di kota Qom. Demikian pula dengan tiga saudara perempuannya yang lain.

(ABNA/Islamic-Sources/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Terkait Berita: