Pesan Rahbar

Home » , » Lewat Festival, Budaya Panji Hidup Kembali

Lewat Festival, Budaya Panji Hidup Kembali

Written By Unknown on Monday 7 August 2017 | 13:42:00


Sering orang bilang anak-anak zaman sekarang kurang memperhatikan kebudayaan. Pernyataan itu tidak semuanya benar. Ada banyak anak merindukan dan keingintahuan mereka untuk mencari hal itu masih kuat. Anak-anak senang belajar sejarah itu dengan caranya sendiri.

Demikian pernyataan Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid saat membuka Seminar Budaya Panji, “Mengembangkan Potensi Sastra dan Budaya Panji di Panggung Dunia”, di Museum Wayang, Kota Tua Jakarta, Sabtu (5/8/2017) kemarin.

Menariknya, ini terlihat dalam acara seminar sastra kebanyakan pesertanya berasal dari kalangan pelajar sekolah menengah atas dan mahasiswa. Mereka dari Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Para pelajar sangat antuasias mendengarkan pembicara hingga diskusi usai.

Seminar menghadirkan pembicara Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, Prof. Roger Tol dari Universitas Leiden Belanda, Prof.Dr. Nooriah Mohamed dari University Sains Islam Malaysia, Prof. Dr. I Made Bandem, seniman akademisi Bali, Dwi Cahyono, pendiri Museum Panji Malang.

Hilmar Farid menambahkan, seminar ini membicarakan kemungkinan mengembangkan Panji kebudayaan ini di tingkat nasional dan internasional itu seperti apa. Bagaimana memperkenalkan ceritanya kembali, dan memperkenalkan sosok-sosoknya.

“Kita sudah punya ide dengan aplikasi digital yang akan kita jalankan. Seperti Wayang Beber. Ada cerita anak SMP yang menyadur cerita lama dengan rasa kekinian, itu yang kita harapkan. Anak-anak muda menjadikan Panji sebagai bagian menyusun menyadur pengembangan ceritanya dengan apa yang dirasakan sekarang, kekinian.”

“Cerita Panji memiliki keunikan karena pengarangnya banyak, dengan berbagai versi dan diwarnai dengan budaya daerah serta disampaikan kembali dalam berbagai bahasa daerah di berbagai daerah di sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara,” jelas Hilmar.

Keunikan dan kepopuleran Panji menjadi inspirasi munculnya bentuk seni lain seperti tari, wayang, topeng, maupun seni rupa. Akan tetapi kisah Panji sudah mulai dilupakan orang seiring dengan perkembangan zaman.

“Oleh karena itu sangat baik untuk mengangkat kisah ini sebagai upaya untuk membangkitkan kembali sekaligus merevitalisasi budaya Panji.”

“Perhelatan ini mengambil tema “Kebangkitan Budaya Panji” di mana di dalamnya terkandung semangat untuk menggelorakan kisah Panji sebagai warisan budaya penguat identitas kawasan. Perhelatan festival ini juga sebagai upaya mengangkat kearifan lokal Nusantara dan membangun karakter bangsa dengan menggali nilai-nilai kepahlawanan yang terdapat dalam cerita Panji sekaligus sebagai media untuk mempromosikan budaya bangsa,” papar Hilmar.

Sementara, Pengamat Budaya sekaligus penggagas dan pembicara kunci dalam Seminar Sastra dan Budaya Panji, Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro menjelaskan, cerita Panji mengisahkan percintaan dan peperangan antara kerajaan Jenggala dan Panjalu. Sebelum pecah, Jenggala dan Panjalu merupakan satu kerajaan besar bernama Panjalu (Kediri) yang dipimpin oleh Airlangga, berkuasa pada 1042-1222 di Jawa Timur. Kisah Panji dengan tokoh sentral Inu Kertapati dan Galuh Chandrakirana memiliki banyak versi dan tersebar hingga ke wilayah Asia Tenggara.

“Oleh karena begitu luar biasa keunikan satra dan budaya Panji, Perpustakaan Nasional bersama dengan Malaysia, Kamboja, British Library, dan Leiden Universiteit telah mendaftarkan naskah Panji sebagai Ingatan Kolektif Dunia untuk kategori naskah kuno atau Memory of the World di UNESCO yang hasilnya akan diketahui Oktober 2017 mendatang,” ungkap Wardiman.

Pembicara lain Prof. Dr. Nooriah Mohamed mengatakan, membicarakan teori tentang perkembangan Panji banyak sarjana di luar Indonesia yang membicarakannya, seperti Rassers, Ras, Teeuw dan Robinson.

“Malah di Malaysia cerita Panji turut dijadikan penelitian ilmiah oleh Harun Mat Piah dan Abd Rahman Kaeh yang meneliti Panji Jayeng Kusuma dan Panji Narawangsa,” kata Nooriah yang fasih berbahasa Jawa halus.

Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian Gelaran Budaya Panji. Gelaran ini telah dilaksanakan sejak 2014 menjadikan budaya dan sastra sebagai unsur penting keberlangsungan ASEAN serta telah mendeklarasikan dirinya menjadi komunitas.

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita: