Pesan Rahbar

Home » » Bukti (scan kitab) Pemalsuan Kitab Minhajussunnah annabawiyah (Ibnu Taymiyah) yang menafikan arah bagi Allah

Bukti (scan kitab) Pemalsuan Kitab Minhajussunnah annabawiyah (Ibnu Taymiyah) yang menafikan arah bagi Allah

Written By Unknown on Friday, 2 January 2015 | 11:45:00

Lenyapnya Teks Ibnu Taymiyyah Yang Menafikan Arah Bagi Allah


TIDAK HANYA AL-ASY’ARI, TEKS IBN TAIMIYYAH PUN LENYAP

Semoga kesalahan ini hanya kesalahan dipercetakan, bukan unsur kesengajaan. Dan semoga bermanfaat bagi ikhwah Salafi maupun ikhwah sarungan/tradisional dapat mengambil manfaat. Dan selalu memunculkan sikap kritis dan teliti dalam membaca Karya Para Ulama. Di bagian akhir catatan ini dicantumkan munaqasyah dengan perkataan Imam Abu Khanifah, Imam Sufyan Ibn ‘Uyainah, Imam Hammad Ibn Zaid, al-Hafizh Abu Ja’far al-Thahawi, al-Hafizh al-Khithabi, Imam Abu Muhammad al-Muzni (guru Imam al-Hakim), al-Hafizh al-Baihaqi dan al-Hafizh Ibn al-Jawzi.

Bermula dari bolak-balik buku karya Ibn Taimiyyah di kamar asrama; Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah, guna mencari bahan tugas akhir kuliah. Kejanggalan teks tiba-tiba terasa, pertama antara pembahasan sebelumnya agak terasa rancu dan tidak selaras dengan pembahasan setelahnya, kedua antara kata sebelum dengan sesudah terjadi jarak yang agak mencolok. Minhaj al-Sunnah ini adalah milik Perpustakaan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darussunnah.

Rasa penasaran itu membawa hasrat untuk memastikan hal ini. Sorenya langsung berangkat ke Perpustakaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Akhirnya kitab yang sama ditemukan, namun dengan cetakan berbeda. Cetakan yang dimiliki perpustakaan Darussunnah adalah Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah (sama dengan cetakan al-Ibanah yang kehilangan teks) 2 jilid font kecil, sementara yang dimiliki UIN adalah cetakan Mu’assasah Qurthubi 8 jilid font besar.

Sedikit rumit melakukan pencarian lantaran daftar isi tampil beda antara dua cetakan. Alhamdulillah hal yang dicari ditemukan. POSITIF, dengan perbandingan dua kitab, ternyata teks itu betul-betul hilang. Dengan analisa awal barangkali teks itu tidak banyak, namun fakta berkata lain.

Teks yang hilang (Ibn Taimiyyah membenarkan penafian Jihat -arah-) dalam kitab MinhĆ¢j al-Sunnah al-Nabawiyyah (dengan HĆ¢misy BayĆ¢n MuwĆ¢faqah SharĆ®h al-Ma‘qĆ»l li ShahĆ®h al-ManqĆ»l), cetakan DĆ¢r al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz.1, hal.217, (teks yang benar-benar panjang untuk dilenyapkan mencapai 210 kata, 833 huruf), na‘Ć»dzu billah;


Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah Cetakan Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah. Milik Perpustakaan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darussunnah.


Perhatikan Baris Ke Tiga Dari Atas (teks yang di dalam), dilingkari pensil. Di situlah posisi lenyapnya teks, antara kata Ų¹Ų§Ł„ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡dan kata ŁˆŲ„Ų°Ų§ ŁƒŲ§Ł†

Teksnya sebagai berikut;

ŁˆŁ†ŁŲ§Ų© لفظ الجهة ŁŠŲ°ŁƒŲ±ŁˆŁ† من أدلتهم أن الجهات ŁƒŁ„Ł‡Ų§ Ł…Ų®Ł„ŁˆŁ‚Ų© ŁˆŲ£Ł†Ł‡ ŁƒŲ§Ł† قبل الجهة ŁˆŲ£Ł†Ł‡ من قال ؄نه في جهة ŁŠŁ„Ų²Ł…Ł‡ Ų§Ł„Ł‚ŁˆŁ„ بقدم ؓيؔ من العالم أو أنه ŁƒŲ§Ł† Ł…Ų³ŲŖŲŗŁ†ŁŠŲ§ عن الجهة Ų«Ł… ŲµŲ§Ų± ŁŁŠŁ‡Ų§ ŁˆŁ‡Ų°Ł‡ Ų§Ł„Ų£Ł‚ŁˆŲ§Ł„ ŁˆŁ†Ų­ŁˆŁ‡Ų§ ؄نما ŲŖŲÆŁ„ على أنه Ł„ŁŠŲ³ في ؓيؔ من Ų§Ł„Ł…Ų®Ł„ŁˆŁ‚Ų§ŲŖ سواؔ سمى جهة أو لم ŁŠŲ³Ł… ŁˆŁ‡Ų°Ų§ Ų­Ł‚، ف؄نه سبحانه منزه عن أن تحيط به Ų§Ł„Ł…Ų®Ł„ŁˆŁ‚Ų§ŲŖ أو أن ŁŠŁƒŁˆŁ† مفتقرا ؄لى ؓيؔ منها العرؓ أو ŲŗŁŠŲ±Ł‡ ŁˆŁ…Ł† ظن من الجهال أنه Ų„Ų°Ų§ نزل ؄لى سماؔ Ų§Ł„ŲÆŁ†ŁŠŲ§ ŁƒŁ…Ų§ Ų¬Ų§Ų” Ų§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ« ŁŠŁƒŁˆŁ† العرؓ ŁŁˆŁ‚Ł‡ ŁˆŁŠŁƒŁˆŁ† Ł…Ų­ŲµŁˆŲ±Ų§ ŲØŁŠŁ† Ų·ŲØŁ‚ŲŖŁŠŁ† من العالم ŁŁ‚ŁˆŁ„Ł‡ مخالف ل؄جماع السلف مخالف Ł„Ł„ŁƒŲŖŲ§ŲØ ŁˆŲ§Ł„Ų³Ł†Ų© ŁƒŁ…Ų§ قد ŲØŲ³Ų· في Ł…ŁˆŲ¶Ų¹Ł‡ ŁˆŁƒŲ°Ł„Łƒ ŲŖŁˆŁ‚Ł من ŲŖŁˆŁ‚Ł في نفى Ų°Ł„Łƒ من أهل Ų§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ« ف؄نما Ų°Ł„Łƒ لضعف علمه بمعانى Ų§Ł„ŁƒŲŖŲ§ŲØ ŁˆŲ§Ł„Ų³Ł†Ų© ŁˆŲ£Ł‚ŁˆŲ§Ł„ السلف، ŁˆŁ…Ł† نفى الجهة وأراد ŲØŲ§Ł„Ł†ŁŁŠ ŁƒŁˆŁ† Ų§Ł„Ł…Ų®Ł„ŁˆŁ‚Ų§ŲŖ Ł…Ų­ŁŠŲ·Ų© به أو ŁƒŁˆŁ†Ł‡ مفتقرا Ų„Ł„ŁŠŁ‡Ų§ فهذا Ų­Ł‚، Ł„ŁƒŁ† عامتهم لا ŁŠŁ‚ŲŖŲµŲ±ŁˆŁ† على هذا ŲØŁ„ ŁŠŁ†ŁŁˆŁ† أن ŁŠŁƒŁˆŁ† ŁŁˆŁ‚ العرؓ Ų±ŲØ Ų§Ł„Ų¹Ų§Ł„Ł…ŁŠŁ† أو أن ŁŠŁƒŁˆŁ† Ł…Ų­Ł…ŲÆ صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… Ų¹Ų±Ų¬ به ؄لى الله أو أن يصعد Ų„Ł„ŁŠŁ‡ ؓيؔ ŁˆŁŠŁ†Ų²Ł„ منه ؓيؔ أو أن ŁŠŁƒŁˆŁ† Ł…ŲØŲ§ŁŠŁ†Ų§ للعالم ŲØŁ„ ŲŖŲ§Ų±Ų© ŁŠŲ¬Ų¹Ł„ŁˆŁ†Ł‡ لا Ł…ŲØŲ§ŁŠŁ†Ų§ ŁˆŁ„Ų§ Ł…Ų­Ų§ŁŠŲ«Ų§ ŁŁŠŲµŁŁˆŁ†Ł‡ بصفة Ų§Ł„Ł…Ų¹ŲÆŁˆŁ… ŁˆŲ§Ł„Ł…Ł…ŲŖŁ†Ų¹ وتارة ŁŠŲ¬Ų¹Ł„ŁˆŁ†Ł‡ حالا في ŁƒŁ„ Ł…ŁˆŲ¬ŁˆŲÆ أو ŁŠŲ¬Ų¹Ł„ŁˆŁ†Ł‡ وجود ŁƒŁ„ Ł…ŁˆŲ¬ŁˆŲÆ ŁˆŁ†Ų­Łˆ Ų°Ł„Łƒ Ł…Ł…Ų§ ŁŠŁ‚ŁˆŁ„Ł‡ أهل Ų§Ł„ŲŖŲ¹Ų·ŁŠŁ„ ŁˆŲ£Ł‡Ł„ Ų§Ł„Ų­Ł„ŁˆŁ„.


Teks ini terdapat dalam cetakan Mu’assasah Kordoba, cet.1, vol.1, hal.189.


Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah Cetakan Mu’assasah Qurthubi :


Teks yang diberi garis adalah teks yang lenyap.

Teks yang diberi garis adalah teks yang hilang…

“Kalangan yang menafikan lafaz al-Jihah (arah penjuru) menyebutkan -berdasarkan dalil-dalil mereka- bahwa semua al-JihĆ¢t (arah penjuru) adalah makhluk, sementara Allah telah ada sebelum adanya al-Jihah. Dan orang yang mengatakan bahwa Allah berada pada Jihat, sama artinya bahwa bagian dari alam ini ada sesuatu yang QadĆ®m (karena Jihat adalah Makhluk/HĆ¢dits), atau pada sisi lain dia mengatakan bahwa Allah sebelumnya tidak butuh Jihat yang kemudian Dia berjihat (hal ini sama dengan mengatakan Allah akan eksis bila ada Jihat, tentunya ini Bathil). Ungkapan-ungkapan ini dan lain sebagainya mengindikasikan bahwa Allah tidak berada pada sesuatupun (Ł„ŁŠŲ³ في ؓيئ) daripada makhluk-Nya, baik dengan menyebutkan Jihat atau tidak, INI BENAR.

Karena Allah subhanahu wa ta‘ala tidak diliputi oleh makhluk dan tidak membutuhkannya seumpama ‘Arasy atau selainnya (seperti langit, kursi). Jika ada kalangan tak terdidik mengira bahwa apabila Allah NuzĆ»l ke langit dunia -sebagaimana terdapat dalam hadis- lalu ‘Arasy berada di atas-Nya dan Dia berada di antara dua komponen alam (di antara langit dan ‘arasy, atau di antara bumi dan ‘arasy), maka dia telah menyelisihi konsensus kalangan salaf, al-Qur’an dan al-Sunnah, sebagaimana telah tertera di tempat (pembahasannya). Begitu juga sebagian ahli hadis ada yang bersikap tawaqquf dalam menafikan Jihat, hanyasaja hal itu lantaran tidak begitu mengetahui makna-makna al-Qur’an, al-Sunnah, dan statemen-statemen kalangan salaf (AllĆ¢hu A‘lam apa yang dimaksudkan oleh Ibn Taimiyyah dengan statemen ini bahwa ahli hadis tidak mengetahui).

Dan orang yang menafikan Jihat dan bermaksud menafikan Allah diliputi oleh makhluk atau menafikan bahwa Allah membutuhkannya, MAKA INI ADALAH BENAR. Namun ada kalangan yang menafikan Jihat, tidak mencukupkan sampai disini (seperti Mu‘atthilah Mu‘tazilah), bahkan (secara muthlak) mereka menafikan fawqiyyah Tuhan semesta alam atas ‘Arasy, menafikan mi‘rajnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Nya, atau naik atau turunnya sesuatu dari-Nya (seperti turunnya rahmat), atau di antara mereka ada yang menafikan keberadaan Allah MubĆ¢yinan terhadap alam, bahkan terkadang mereka menjadikan Allah tidak MubĆ¢yin/MuhĆ¢yits (MufĆ¢riq -al-Mu‘jam al-WasĆ®th- atau MuqĆ¢bil *berhadapan), sehingga mereka mensifatinya dengan sifat ketiadaan dan kemustahilan.

Dan terkadang ada yang menjadikan-Nya menempati segala yang mawjĆ»d (seperti al-Murji’ah), atau mereka menjadikan Allah sebagai wujud dari segala wujud (seperti al-Muttahidah) dan lain sebagainya dari ungkapan-ungkapan Ahl al-Ta‘thĆ®l dan Ahl al-HulĆ»l”.

*Begitulah bagaimana Ibn Taimiyyah membenarkan penafian Jihat dari Allah, karena konsekuensi Jihat adalah keberadaan Allah diliputi oleh alam, karena jika Allah berjihat, sementara jihat adalah makhluk ciptaannya, maka ini adalah hulul, yaitu Allah berada pada jihat. Atau dengan ungkapan agak menipu logika seperti pada Azali Allah tidak berjihat, lalu setelah Dia menciptakan makhluk maka Dia berjihat. Benarlah apa yang diungkapkan Abu Ja‘far al-Thahawi;

لا ŲŖŲ­ŁˆŁŠŁ‡ الجهات الست

(Allah tidak diliputi enam penjuru; atas, bawah, depan, belakang, kanan dan kiri).

Manakala Allah bersifat BaqĆ¢’ (kekal), maka segala sifat-Nya pun turut kekal tanpa berubah Min BidĆ¢yatin LĆ¢ Awwala LahĆ¢ ilĆ¢ NihĆ¢yatin LĆ¢ Ƃkhira LahĆ¢. Sementara ada kalangan yang menganggap hal ini tidak logis dan sama saja mengatakan Allah itu tiada, karena semua wujud pasti ada jihat. Ungkapan ini adalah penganalogian Allah dengan makhluk, karena yang terbayang dalam benak mereka adalah keberadaan diri mereka berada pada jihat, dan mereka juga ingin mengatakan Allah berjihat seperti wujud mereka, konsekuensi hal ini adalah keberadaan hadd (batas) bagi Allah, maka cukuplah perkataan Imam ‘Ali

من زعم أن ؄لهنا Ł…Ų­ŲÆŁˆŲÆ فقد جهل الخالق Ų§Ł„Ł…Ų¹ŲØŁˆŲÆ

(siapa yang beranggapan bahwa Allah berbatas dimensi, dia tidak mengenal Allah sang pencipta yang maha disembah).

juga ungkapan Abu Ja‘far al-Thahawi:

ŁˆŲŖŲ¹Ų§Ł„Ł‰ عن Ų§Ł„Ų­ŲÆŁˆŲÆ ŁˆŲ§Ł„ŲŗŲ§ŁŠŲ§ŲŖ

(Allah maha suci dari batas dan batas akhir -dzat maupun sifat-).

*Ibn Taimiyyah menafikan konsekuensi nuzul yang berakibat keberadaan-Nya ada pada dua komponen alam yaitu ‘Arasy dan Langit ke 2,3,4,5,6 dan 7, karena langit dunia adalah langit pertama. Maka tidak sah jika nuzĆ»l Allah aadalah NuzĆ»l berpindah dari atas ke bawah, akan tetapi NuzĆ»l sebagaimana layaknya bagi Dzat Allah ta‘Ć¢lĆ¢. Jika turun cara makhluk adalah dari atas ke bawah, maka NuzĆ»l Allah tidak sebagaimana turunnya makhluk, karena turun dari atas ke bawah adalah ciri khas makhluk. Oleh karena itu Abu Ja‘far al-Thahawi berkata
من وصف الله بمعنى من معانى البؓر فقد كفر
(siapa yang menyifati Allah dengan sebuah makna atau ciri dari ciri-ciri makhluk, maka dia telah ingkar/fasiq).

Begitu juga al-HĆ¢fizh al-KhithĆ¢bĆ® (guru al-HĆ¢fizh al-HĆ¢kim) berkata bahwa Allah tidak disifati dengan bergerak, perpindah karena dua hal ini adalah ciri-ciri makhluk (Lihat al-Asma’ wa al-Shifat Baihaqi, cet.Darul Hadis, hal.446), al-Hafizh al-Baihaqi pun menegaskan bahwa turun dari atas ke bawah adalah ciri khas makhluk, karena bentuk ini adalah sebuah kayfiyyah, dan Allah maha suci dari segala kayfiyyah (al-Asma’ wa al-Shifat,hal.466).

Abu Hanifah ketika ditanya tentang NuzĆ»l, maka beliau jawab ŁŠŁ†Ų²Ł„ بلا كيف (Allah nuzul tanpa Kayf, lihat al-Asma’ wa al-Shifat, hal.447). Karena segala bentuk gerak adalah Kayf. Lebih dari itu Imam Hammad Ibn Zaid berkata Ł†Ų²ŁˆŁ„Ł‡ ؄قباله (al-IqbĆ¢l, lihat al-Asma’ wa al-Shifat, hal.447). Imam Abu Muhammad al-Muzni, juga guru Imam Hakim berkata:

Ų§Ł„Ł…Ų¬ŁŠŲ¦ ŁˆŲ§Ł„Ł†Ų²ŁˆŁ„ صفتان Ł…Ł†ŁŁŠŲŖŲ§Ł† عن الله تعالى من Ų·Ų±ŁŠŁ‚ Ų§Ł„Ų­Ų±ŁƒŲ© ŁˆŲ§Ł„Ų§Ł†ŲŖŁ‚Ų§Ł„ من Ų­Ų§Ł„ ؄لى Ų­Ų§Ł„، ŲØŁ„ هما صفتان من صفات الله تعالى بلا ŲŖŲ“ŲØŁŠŁ‡، جل الله تعالى عما ŁŠŁ‚ŁˆŁ„ المعطلة لصفاته ŁˆŲ§Ł„Ł…Ų“ŲØŁ‡Ų© بها Ų¹Ł„ŁˆŲ§ كبيرا

(datang dan turun adalah dua sifat yang ternafi dari Allah ta‘ala -jika dipahami- dengan bergerak dan berpindah dari suatu keadaan ke keadaan lain, akan tetapi keduanya adalah dua sifat dari sifat-sifat Allah ta‘ala tanpa Antropomorphism, maha suci Allah dari anggapan Mu‘atthilah (yang menafikan nuzul) dan dari anggapan Musyabbihah (yang mengatakan nuzul dengan bergerak dan berpindah, lihat al-Asma’ wa al-Shifat, hal.447). Inilah pendapat salaf yang telah dikuatkan oleh al-Baihaqi.

Munaqasyah;

Fawqiyyah

Al-Hafizh Ibn al-Jawzi menegaskan bahwa Fawqiyyah Allah ta‘ala adalah Fawqiyyah yang bukan Fawqiyyah Hissiyyah (fawqiyyah fisik/inderawi), karena al-Fawq dan al-‘Uluw pada Dzat Allah adalah ‘Uluw al-Martabah (al-HĆ¢fizh Ibn al-JawzĆ®, Daf‘u Syubhah al-TasybĆ®h bi Akuff al-TanzĆ®h bi man Yantahilu Madzhab al-ImĆ¢m Ahmad, al-Maktabah al-TawfĆ®qiyyah, hal.41). Fawqiiyah Hissiyyah adalah sebuah Hadd, JihĆ¢t, potensi Tahayyuz, Allah maha suci dari ciri khas makhluk.

Naiknya amalan shaleh
Al-Hafizh al-Baihaqi telah menuturkan, bahwa naiknya amal kebaikan adalah sebagai ibarat/istilah amalan itu diterima oleh Allah dengan baik. Sementara naiknya malaikat adalah ke tempat mereka di langit, kerena langit adalah tempat mereka. (lihat al-Asma’ wa al-Shifat, hal.425).

Mubâyin/Mujâwir
Al-Hafizh Ibn al-Jawzi menegaskan bahwa MubĆ¢yin & MujĆ¢wir (berhadapan antara Allah dan makhluk dengan Jihat dan MasĆ¢fah) mustahil bagi Zat Allah, karena dari sana Allah akan berbatas dan berjihat. (Lihat Daf‘u Syubhah al-TasybĆ®h bi Akuff al-TanzĆ®h bi man Yantahilu Madzhab al-ImĆ¢m Ahmad, hal.41).

———————

*Dapat disimpulkan, jika Allah tidak diliputi oleh JihĆ¢t, Masafah, Hadd, maka benarlah sikap Salafusshaleh; ketika muncul ayat IstiwĆ¢’, mereka tidak memaknainnya dengan duduk, Julus atau Istiqrar, namun IstiwĆ¢’ yang layak bagi keagungan Allah. Allah nuzul, tanpa menyerupai makhluk yang harus berpindah dari atas ke bawah, namun Allah nuzul sebagaimana yang tertera dalam nash. Dia tidak butuh bergerak. Maka jika ada nash2 mutasyabihat, hal yang harus dipahami oleh seorang muslim adalah ungkapan Sufyan Ibn‘Uyaynah;  ŲŖŁŲ³ŁŠŲ±Ł‡ ŲŖŁ„Ų§ŁˆŲŖŁ‡/قراؔته (tafsirnya adalah bacaan itu sendiri), tidak perlu dibuat ungkapan-ungkapan “dari atas ke bawah, duduk, bersemayam, dll”. Maka madzhab yang lebih benar adalah Madzhab Salaf, yaitu TafwĆ®dh, dan dengan tafwidh ini semua syubhat-syubhat Karramiyyah, Hisyamiyyah, Mujassimah, Musyabbihah, Hasyawiyyah akan terbantahkan. Namun jika ada sebagian kalangan yang mengingkari TafwĆ®dz, adakalanya mereka adalah Musyabbihah, adakalanya Mu‘atthilah.

Rasulullah bersabda;

 ŁˆŲ£Ł†ŲŖ الظاهر ŁŁ„ŁŠŲ³ ŁŁˆŁ‚Łƒ ؓيئ، ŁˆŲ£Ł†ŲŖ الباطن ŁŁ„ŁŠŲ³ ŲÆŁˆŁ†Łƒ ؓيئ

(Engkau maha Zhahir, maka tiada sesuatu pun di atas-Mu, Engkau maha Bathin, maka tiada sesuatu pun di bawah-Mu).

Al-Hafizh al-Baihaqi menjelaskan hadis ini; jika di atas maupun di bawah-Nya tiada sesuatu pun maka Allah tidaklah bertempat (al-Asma’ wa al-Shifat, hal.406). Seperti IstiwĆ¢’, tidak boleh dipahami dengan IstiqrĆ¢r atau menempati ‘Arasy.

Wajar Syeikh al-Albani membantah Syeikh Abu Zahrah ketika mengatakan bahwa Ibn Taimiyyah mengatakan bahwa Allah IstiwĆ¢’ dengan makna IstiqrĆ¢r, kata beliau;

ŁŲ£ŁŠŁ† رأيت ابن ŲŖŁŠŁ…ŁŠŲ© ŁŠŁ‚ŁˆŁ„ بالاستقرار على العرؓ علما بأنه أمر Ų²Ų§Ų¦ŲÆ على Ų§Ł„Ų¹Ł„Łˆ ŁˆŁ‡Łˆ Ł…Ł…Ų§ لم يرد به الؓرع ŁˆŁ„Ų°Ł„Łƒ Ų±Ų£ŁŠŁ†Ų§ مؤلفنا الحافظ Ų§Ł„Ų°Ł‡ŲØŁŠ قد Ų£Ł†ŁƒŲ± على ŲØŲ¹Ų¶ Ų§Ł„Ł‚Ų§Ų¦Ł„ŁŠŁ† بصفة Ų§Ł„Ų¹Ł„Łˆ Ų§Ł„ŲŖŲ¹ŲØŁŠŲ± عنها بالاستقرار.

Perhatikan bagaimana Syeikh al-Albani tidak menyetujui IstiqrĆ¢r, lihat (Muhammad NĆ¢shiruddĆ®n al-Albani, Mukhtashar al-‘Uluw, Beirut: al-Maktab al-IslamĆ®, cet.1, 1401H, hal.41).

“Tipuan logika musyabbihah; mengatakan Allah tiada berjihat sama saja mengatakan Allah tidak ada. Al-HĆ¢fizh Ibn al-Jawzi menjawab; Jika sebuah wujud dapat disifati dengan al-ittishĆ¢l dan al-InfishĆ¢l, maka engkau benar. Namun jika sebuah wujud tidak disifati dengan keduanya, maka tidak mesti sesuatu wujud itu menjadi tidak ada (Lihat Daf‘u Syubhah al-TasybĆ®h bi Akuff al-TanzĆ®h bi man Yantahilu Madzhab al-ImĆ¢m Ahmad, hal.43). Dapat kita contohkan tentang Ittishal dan Infishalnya dua sifat yang memang tidak dimiliki oleh sebuah wujud, seperti sebuah BATU. Kita katakan bahwa batu tidak dapat melihat, di lain sisi batu ini juga tidak buta. Apakah hal ini kita katakan sebuah kontradiksi sehingga batu itu menjadi mustahil adanya? Jawabannya tidak, kerena persoalan melihat dan kebutaan bukan sifat batu. Begitu juga jika dikatakan Allah tidak di luar maupun di dalam alam, karena luar dan dalam bukan dimensi dan sifat Allah. Lalu apakah ini sebuah kontradiksi? Jawabannya iya jika hal ini dinisbatkan kepada makhluk. Karena makhluk tidak terlepas dari dua dimensi ini atau pun salah satunya, karena pada hakikatnya makhluk adalah alam”.

*Sebelum Allah menciptakan alam, tidak ada istilah luar dan dalam karena Rasulullah bersabda:

ŁƒŲ§Ł† الله ŁˆŁ„Ł… ؓيئ قبله/ŲŗŁŠŲ±Ł‡

(Allah ada sejak azali, tiada sesuatupun sebelum-Nya/selain-Nya).

‘Ali ibn Abi Thalib berkata:

ŁƒŲ§Ł† الله ŁˆŁ„Ų§ Ł…ŁƒŲ§Ł†

(Allah ada sejak azali tanpa tempat).

Setelah Allah menciptakan alam, Dia tetap sebagaimana ada-Nya, sebagaimana ‘Ali bin Abi Thalib berkata:

ŁˆŁ‡Łˆ الآن على Ł…Ų§ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁƒŲ§Ł†

(Dia sekarang ada sebagaimana adanya -pada azali-).

Mari kita pahami, dan kita bedakan istilah ŲØŲ§Ł„نسبة ؄لى الله dan ŲØŲ§Ł„نسبة ؄لى Ų§Ł„Ł…Ų®Ł„ŁˆŁ‚.  Tidak adanya dimensi luar dan dalam sangat mustahil Bi al-Nisbah ilĆ¢ al-MakhlĆ»k. Namun ketiadaan keduanya tidak mustahil Bi al-Nisbah ilĆ¢ Allah subhĆ¢nahĆ» wa ta‘Ć¢lĆ¢, karena jika Allah tidak menghendaki adanya makhluk maka Allah akan tetap sebagaimana adanya, begitupun jika Allah menghendaki untuk melenyapkan alam, Dia akan tetap sebagaimana adanya tanpa Jihat, Ruang dan Waktu.

Dimensi luar dan dalam mengikut kepada makhluk, maka jika makhluk atau alam dilenyapkan oleh Allah, dua dimensi ini pun akan lenyap. Untuk pendekaan memahami ini, dalam Fiqh ada sebuah kaedah kulliyyah yang tidak menyentuh hal-hal juz’iyyah, yaitu kaedah ke empat yang berbunyi: التابع ŲŖŲ§ŲØŲ¹ (sesuatu yang mengikut, pasti mengikuti-yang diikuti-, lihat al-MawĆ¢hib al-Saniyyah), dalam hal ini dimensi luar maupun dalam adalah al-TĆ¢bi‘u, sedangkan status keduanya adalah sebagai TĆ¢bi‘un kepada alam. Dari sini dapat kita pahami perbedaan antara Khalik dengan Makhluk.
Ibnu ‘Abbas berkata,

 Ł„ŁŠŲ³ في Ų§Ł„ŲÆŁ†ŁŠŲ§ Ł…Ł…Ų§ في الجنة ؄لا الأسماؔ, 

dan nash lain

لا ŁŠŲ“ŲØŁ‡ ؓيٌؔ Ł…Ł…Ų§ في الجنة Ł…Ų§ في Ų§Ł„ŲÆŁ†ŁŠŲ§ ؄لاألأسماؔ

(tiada sesuatu pun perserupaan antara apa yang ada di dunia dengan apa yang ada di surga melaikan hanya nama).

Manakala antara sesama makhluk hanya ada perserupaan nama saja, maka antara khalik dan makhluk lebih utama untuk itu. Begitulah IstiwĆ¢’, NuzĆ»l, Wajah, Yad, ‘Ain. Jangan kita bersikap ghuluw dalam Itsbat, metode salaf adalah paling baik, yaitu menyerahkan maksudnya kepada Allah sembari mengimani, tanpa TakyĆ®f. Maka janganlah hendaknya kita mengharapkan agar AhwĆ¢l Allah serupa dengan kita, harus berjihat, berdimensi ruang dan waktu, Allah maha suci dari ini semua. Jangan kita mengkhianati Lisan yang berkata:

بلا كيف, بلا تكييف, وكيف عنه Ł…Ų±ŁŁˆŲ¹

namun pemahaman kita tetap memberikan Kaifiyyah kepada Allah meski tidak kita sadari. Apalagi jika Lisan kita sering mengucapkan firman Allah Ł„ŁŠŲ³ ŁƒŁ…Ų«Ł„Ł‡ ؓيئ, namun pada prakteknya pemahaman kita tetap memberikan Tasybiih kepada Allah meski tidak kita sadari. Sudah cukup kiranya kefasihan al-Qur’an yang menampilkan penafian perserupaan dengan menggunakan dua adat TasybĆ®h dalam ayat itu, yaitu Ų§Ł„ŁƒŲ§Ł dan Ł…Ų«Ł„, Semoga kita dapat diberi pemahaman oleh Allah subhanahu wa ta‘ala.

Amin

مهما تصورت ŲØŲØŲ§Ł„Łƒ فالله بخلاف Ų°Ł„Łƒ

Allahu A’lam


(Salafy-Tobat/Warkopmbahlalar/ABNS)
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita: