Perpecahan dan perbedaan pendapat di kalangan negara-negara Arab yang bergabung sebagai koalisi dalam menginvasi Yaman menjadi tanda-tanda kekalahan mereka.
Seperti yang diberitakan oleh surat kabar Al-Waght, setelah berlalu enam bulan sejak Arab Saudi menginvasi Yaman bersama sekutu-sekutunya, kini terlihat mereka tidak berhasil mendapatkan apa yang mereka harapkan sebelumnya.
Kekuatan tekat rakyat Yaman untuk mempertahankan tanah air dan kehormatan mereka membuat koalisi Arab kelelahan dan merasa putus asa. Terlebih lagi kini mereka terlihat mulai berpecah belah dan kehilangan kekuatan. Ditambah dengan serangan roket mematikan Yaman terhadap pangkalan militer koalisi Arab di Ma’rab yang menewaskan sejumlah besar pasukan mereka dan menciutkan nyali mereka, itu semua menjadi pertanda bahwa kini mereka berada di ambang kegagalan dan kehancuran.
Ketika minggu lalu Mesir dan Sudan mendustakan isu bergabungnya negara-negara itu dengan koalisi Arab untuk menginvasi Yaman, tersingkaplah kekonyolan media-media Arab dengan propaganda-propaganda mereka. Terbukti negara-negara yang bergabung dalam koalisi Arab tidak saling bersatu dan tak semuanya mematuhi Arab Saudi.
Media-media yang disuap oleh rezim keluarga Sa’ud mengiming-imingi negara-negara Arab lainnya untuk ikut serta dan bergabung dalam invasi Yaman. Namun tidak seperti yang diharapkan, sebagian besar warga negara-negara Arab menentang ajakan tersebut, bahkan mengkutuk sikap Arab Saudi terhadap Yaman.
Media-media masa juga sempat menyingkap konflik antara Arab Saudi dengan Emirat, yang tentunya membuat Arab Saudi sendiri menjadi kesal karenanya; salah satunya kasus Abu Dhabi yang menerbitkan peta baru dengan menggariskan sebagian wilayah Arab Saudi sebagai miliknya.
Sebenarnya konflik Arab Saudi dengan Emirat sudah berlangsung sejak lama, sekitar tahun 1971, di mana Arab Saudi merasa gembira dengan mundurnya pasukan Inggris dari Teluk Persia, hingga kini Arab Saudi masih belum mengakui kedaulatan Emirat secara resmi.
Selain itu Arab Saudi juga merasa kesal dengan pemerintah Kuwait yang tidak mau menjawab ajakannya untuk bergabung menginvasi Yaman, padahal Arab Saudi pernah mendukung Kuwait dalam berperang melawan Saddam Husain.
Lambat laun semakin terlihat tanda-tanda perpecahan di antara negara-negara Arab sendiri yang merupakan pertanda kehancuran dan kekalahan mereka.
(Shabestan/ABNS)
Post a Comment
mohon gunakan email