Pesan Rahbar

Home » » Menggali Rahasia Do'a Nabi khidir; Bab XVIII: Menggapai Puncak Makrifat

Menggali Rahasia Do'a Nabi khidir; Bab XVIII: Menggapai Puncak Makrifat

Written By Unknown on Thursday, 20 October 2016 | 20:17:00


Demi kemuliaan-Mu, Wahai Tuanku, Pelindungku, aku bersumpah dengan tulus, sekiranya Engkau biarkan aku berbicara di sana, di tengah penghuninya, aku akan menangis (dengan) tangisan mereka yang menyimpan harapan; aku (akan) menjerit (dengan) jeritan mereka yang memohon pertolongan; aku akan merintih (dengan) rintihan orang yang berkekurangan.

Sungguh, aku akan menyeruh-Mu, di manakah Engkau, wahai Pelindung kaum mukminin, wahai, Puncak harapan kaum ‘ârif, wahai Penolong kaum yang memohon pertolongani, wahai Kekasih hati orang-orang yang benar, wahai Tuhan seru sekalian alam.


Penafsiran Etimologis

Kata dhajjah dan shurâkh, memiliki arti jeritan. Oleh karena itu, tatkala jeritan diiringi dengan rintihan, ia disebut dengan dhajjah, dan jika diiringi dengan permohonan dan permintaan tolong, ia disebut dengan shurâkh.

Kata walî memiliki arti tuan dan pemelihara.

Kata ‘irfân adalah mengetahui dengan perantaraan salah satu indera lahir atau batin. Perbedaan antara ‘irfân dan ilmu adalah bahwa ilmu merupakan sebuah pengetahuan sebagai efek dan pengaruh dari berbagai hal, yang kemudian tersimpan dalam akal. Sementara, seorang ‘ârif billâh (mengenal Allah dengan sebenar-benarnya) adalah ibarat seseorang yang dalam keadaan haus kemudian minum air. Di sini, ia mengetahui, memahami, dan merasakan kesegaran meminum air. Akan tetapi, terkadang kata ‘irfân digunakan dalam arti ilmu, dan ini memerlukan pembahasan yang cukup panjang.

Kata shidq merupakan lawan dari kata bohong; dan kata shâdiqîn, yang sering kita jumpai dalam al-Quran, ditujukan kepada sekelompok mukmin yang, dari sisi niat, pembicaraan, dan perbuatan, bersifat jujur. Oleh karena itu, dalam penafsiran firman Allah: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. [23] Dan juga penafsiran ayat: Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul( Nya) mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih, Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [24] Dalam berbagai riwayat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan shâdiqîn dan shiddîqqîn itu adalah para imam suci Ahlul Bait.

Penyebutan kata shiddîqqîn dalam ayat al-Quran dan pengungkapan kata shâdiqîn setelah kata ‘ârifîn pada kalimat doa ini, merupakan sebentuk penegasan terhadap riwayat di atas, Di sini, perlu diperhatikan bahwa para imam suci merupakan perwujudan sempurna dari sifat tersebut, tetapi bukan berarti bahwa sifat itu hanya terbatas untuk mereka saja.

Kata ‘âlamîn (ciptaan-ciptaan) merupakan bentuk jamak dari kata âlam. Dan âlam adalah sesuatu yang dengannya menghasilkan ilmu; ini mencakup berbagai wujud, baik yang materi maupun non-materi. Sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah: Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Pada ayat ini dijelaskan bahwa Allah adalah Tuhan dan sesembahan bagi seluruh ciptaan, sebagaimana juga tercantum dalam doa ini.


Syarah dan Penjelasan Umum

Kalimat-kalimat berikut merupakan “ancaman” dari hamba yang ‘ârif dan âsyiq, yang ditujukan kepada Sang Pemelihara dan Kekasihnya. Setelah pecinta mengadukan Kekasihnya kepada Sang Kekasih itu sendiri, ia sekarang mengancam-Nya dengan menggunakan citarasa (dzauq) ‘irfani, yang hanya mampu dirasakan secara khusus oleh para ‘ârif. (Nada) “ancaman” sebagai berikut:

Wahai Pelindung kaum mukminin!

Wahai Puncak harapan kaum ‘ârif!

Wahai Penolong kaum yang memohon pertolongan!

Wahai Kekasih hati orang-orang yang benar!

Wahai Tuhan seru sekalian alam!

“Ancaman” yang ia berikan adalah bahwa ia akan mengatakan kepada para penghuni neraka bahwa dirinya telah disiksa dan dimasukkan ke dalam api oleh Pelindungnya, Tuhannya, dan Penolongnya. Ini merupakan sebuah “ancaman” yang benar-benar serius, dan merupakan “ancaman” yang bagus. Ungkapan di bawah ini merupakan bagian dari doa Abu Hamzah al-Tsimali, yang berisikan “ancaman” yang serupa:

“Wahai Tuhanku dan Tuanku! Demi kemuliaan-Mu dan kebesaran-Mu. Sekiranya Engkau menuntutku atas dosa-dosaku, maka aku akan menuntut-Mu dengan ampunan-Mu. Dan sekiranya Engkau menuntutku atas kekikiranku, maka aku akan menuntut-Mu dengan kedermawanan-Mu. Sekiranya Engkau memasukkanku ke dalam neraka, maka aku akan memberitahu para penghuni neraka tentang kecintaanku kepada-Mu.”

“Wahai Tuhanku dan Tuanku! Jika Engkau tidak mengampuni melainkan para kekasih-Mu dan orang yang menaati-Mu, lantas kepada siapakah kan berlindung orang-orang yang berdosa? Jika sekiranya Engkau tidak memuliakan kecuali mereka yang patuh saja, lalu kemanakah kan meminta pertolongan orang-orang yang durhaka?”

“Wahai Tuhanku! Pabila Engkau memasukkan aku ke dalam neraka, maka itu akan menggembirakan musuh-musuh-Mu; dan jika Engkau memasukkan aku ke dalam surga, maka itu akan menggembirakan Nabi-Mu. Dan aku bersumpah demi Allah bahwa kegembiraan Nabi-Mu itu lebih Engkau sukai ketimbang kegembiraan musuh-musuh-Mu.”


Pembicaraan Manusia pada Hari Kiamat

Kini, marilah kita memasuki pembahasan tentang kata-kata yang terdapat dalam bagian doa Kumail ini. Di antara ungkapan Imam Ali dalam doa ini adalah, “Sekiranya Engkau biarkan aku berbicara di sana...”

Di sini jelaslah bahwa manusia, pada hari kiamat nanti, masing-masing tidaklah sama dalam hal berbicara; sebagian mampu berbicara dan sebagian lain tidak. Al-Quran membenarkan masalah ini. Allah Swt berfirman:

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka;. dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksian lah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (Yâsîn: 6)

Ini adalah hari, yang mereka tidak dapat berbicara. (al-Mursalât: 35)

(Ingatlah) suatu hari (ketika) tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya dan bagi tiap-tiap diri disempurnakan (balasan) perbuatan yang telah dilakukannya, sedang mereka tidak dirugikan. (al- Nahl: 111)

Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), ia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu, “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka.” Allah berfirman, “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.” Dan berkata orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang zalim. (al-A’râf: 38-39)

Persesuaian antara ayat yang menyatakan (bahwa manusia) dapat berbicara dan yang menyatakan tidak dapat berbicara adalah sebagai berikut:

Hari kiamat nanti tidaklah sama dengan hari yang ada di dunia ini. Sekarang ini, apapun yang diinginkan manusia dapat segera ia ucapkan dengan lisannya. Namun, di sana, berbicara hanya (dapat dilakukan) semata-mata dengan seizin Allah. Yang dapat dijadikan sebagai bukti dan argumen dari persesuaian tersebut adalah firman Allah Swt.:

Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (Hûd: 105)

Akan tetapi, ada sebagian ayat yang berisikan penjelasan sebagai berikut:

Dan (ingatlah), hari ketika Kami menghimpun mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik, “Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dahulu kamu katakan (sekutu-sekutu Kami)?” Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan, “Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.” Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri dan hilanglah dari mereka sembahan- sembahan yang dahulu mereka ada-adakan. (al- An’âm: 24)

Atau ayat yang berbunyi:

(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah, lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka telah beriman) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa sesungguhnya (sumpah itu) ada gunanya. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta. (al-Mujâdilah: 18)

Di sini ada pula berbagai pendapat yang menyatakan bahwa hal itu merupakan izin bagi mereka untuk berbicara.

Sementara, berkenaan dengan firman Allah: ...kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik... (al-An’âm: 24), ada kemungkinan bahwa pembicaraan mereka berupa perwujudan amal perbuatan (tajassum al-a’mâl). Dalam arti bahwa perbuatan mereka di dunia telah mengubah karakter dan kepribadiannya, sehingga pada hari kiamat dirinya berubah menjadi seorang pembohong. Dan dikarenakan telah memiliki kebiasaan berbohong, maka mereka sama sekali tidak dapat berkata jujur dan benar. Selain itu, lantaran telah terbiasa bersikap sombong dan angkuh, maka mereka pun tidak mampu bersujud dan menundukkan kepala. Allah Swt berfirman:

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa. (al-Qalam: 42)

Adapun mengenai firman Allah:

Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin oleh Tuhan yang Maha Pemurah; dan mengucapkan kata yang benar. (al- Naba’: 38)

Nampaknya, isi kalimat ini menunjukkan bahwa kata ganti (dhamîr) dalam kalimat lâ yatakallamûna (mereka tidak berkata-kata) adalah kembali kepada ruh dan para malaikat, bukan kepada orang-orang yang ada di padang Mahsyar.

Alhasil, ada kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan al-rûh adalah Ahlul Bait, sebagaimana yang tercantum dalam sebuah riwayat dari Imam Musa al-Kazhim, di mana beliau menjelaskan tentang penyebab ayat itu secara lahiriah menunjuk pada pembahasan ini. Yakni, mereka tidak akan berbicara kecuali pembicaraan yang baik dan benar.


Wilâyah

Sesuai dengan yang biasa digunakan oleh para ahli bahasa, kata ini memiliki arti kedekatan. Para ahli bahasa menyebutkan bahwa kata wilâyah yang ada pada ayat itu memiliki 70 arti, namun nampaknya seluruh arti itu memiliki arti kedekatan. Oleh karena itu, pada dasarnya, kata ini hanya memiliki satu arti saja yaitu kedekatan. Meskipun demikian, selain arti itu, terdapat pula tiga arti lain, yaitu:


1. Kecintaan (mahabbah)

Dalam hal ini, kita dapat merujuk pada firman Allah:

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka mencintai sebagian yang lain; mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. (al-Taubah: 71)

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir sebagai walî (sahabat karib) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu). (Ali ‘Imrân: 28)

Rasulullah saww, setelah mengangkat Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) pada (peristiwa) Ghadir Khum, bersabda, “Ya Allah! Cintailah orang yang mencintainya, dan musuhilah orang yang memusuhinya, dan hinakanlah orang yang menghinakannya.”

Mengatakan bahwa kata wilâyah yang terdapat dalam al- Quran bukan memiliki arti kecintaan adalah pendapat yang tidak benar dan tidak kuat. Dalam masalah ini terdapat pembahasan yang cukup panjang lebar dan telah kami bahas dalam buku kami yang berjudul Wilâyah al-Faqîh. Di situ dipaparkan secara panjang lebar bahwa kata wilâyah tersebut juga memiliki arti kecintaan.


2. Pembuat hukum dan undang-undang (musyarri’)

Dalam fikih, ini disebut dengan wilâyah tasyri’îyyah. Jelas bahwa wilâyah ini secara substansial adalah khusus untuk Tuhan dan Sang Pencipta alam beserta isinya. Mengapa demikian? Sebab, Dia adalah Tuhan takwinî (Pencipta alam semesta) dan juga Tuhan tasyri’î (Pencipta hukum dan undang-undang). Allah Swt berfirman:

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. (al- An’âm: 62)

Setiap manusia yang mengeluarkan suatu hukum yang bertentangan dengan hukum yang telah diturunkan Allah sama saja dengan mengingkari ketuhanan tasyri’î. Allah Swt berfirman:

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (al-Mâidah: 44, 45, 47) .

Alhasil, Rasulullah saww dan para imam suci Ahlul Bait, memiliki hak untuk menentukan hukum dan undang-undang. Mengapa demikian? Sebab, mereka telah diberi wewenang oleh Allah. Allah Swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya) dan ulil amri di antara kamu. (al- Nisâ’: 59)

Begitu juga, seorang fakih (ahli fikih) yang memenuhi syarat, memiliki wewenang untuk mengeluarkan suatu hukum; ini merupakan wewenang yang diberikan oleh para imam suci Ahlul Bait kepadanya. Imam Mahdisemoga Allah menyegerakan kemunculannyaberkata, “Dan adapun berbagai perkara yang terjadi, maka merujuklah kalian kepada para periwayat hadis kami, karena mereka itu adalah hujah kami bagi kalian dan kami adalah hujah Allah.”

Dan pembahasan ini masih dapat terus berlanjut; siapa saja yang menginginkan pembahasan ini secara lebih luas dan mendalam, hendaklah merujuk kepada ahlinya.


3. Ketua (za’âmah)

Dalam bahasa Persia disebut dengan sarparast. Ini memiliki dua bagian: takwînî (penciptaan) dan tasyri’î (hukum syariat); masing-masing terbagi menjadi tiga bagian.
1. Memiliki arti pengelolaan dan pemeliharaan.
2. Memiliki arti menghukumi dan mengadili.
3. Pemimpin dan imam.

Secara substansial, keenam bentuk wilâyah tersebut semata-mata adalah milik Allah Swt, kemudian, Dia menyerahkannya kepada Rasulullah saww dan para imam suci.

Allah Swt berfirman:

Sesungguhnya pemimpin (walî) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan tunduk (kepada Allah). (al-Mâidah: 55)

Kemudian, para imam suci Ahlul Bait menyerahkan kepemimpinan tasyri’î ini kepada para fakih yang memenuhi syarat. Imam Husain bersabda, “Pelaksanaan berbagai perkara ada di tangan ulama, dan mereka adalah pemegang amanat atas halal dan haram.”

Pembahasan tentang ini sangatlah panjang lebar dan memerlukan perincian yang berada di luar pembahasan kita, lebih-lebih pembahasan tentang wilâyah takwîniyyah. Siapapun yang menghendaki untuk mengetahui secara lebih mendalam pembahasan ini, silakan merujuk pada buku yang telah kami sebutkan.

Ringkasan pembahasan ini adalah bahwa Allah Swt merupakan Wali bagi mukminin, dengan berbagai macam arti yang ada pada kata wilâyah. Dia Swt adalah Teman dan Sahabat orang-orang yang beriman, sebagaimana ditegaskan ayat berikut:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu.” (Âli ‘Imrân: 31)

Dia Swt adalah Musyarri’ kaum mukmin, Pemimpin, dan Pemelihara mereka. Ini sebagaimana ditegaskan firman-Nya:

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (al-Baqarah: 257)


Puncak Harapan Kaum ‘Ârif

Allah Swt merupakan Puncak harapan kaum ‘ârif, bahkan dapat dikatakan bahwa seorang ‘ârif tidak akan memikirkan dan mengingat selain Dia. Semua pengetahuannya adalah mengenai Dia Swt. Bahkan dapat dikatakan bahwa inilah tujuan utama penciptaan.

Pembicaraan mengenai masalah ini sangatlah panjang lebar dan tidak akan mampu dimuat buku ini. Oleh karena itu, di sini kami hanya akan mencukupkan pembahasan dengan menukil pernyataan Sulthân al-Muhaqqiqîn (penghulu para pengkaji) dan Nâshir al-Millah wa al-Dîn (penolong agama) (Khajah Nashiruddin al-Thusi)semoga Allah merahmati-nya.

Dalam hal itu, beliau berkata, “Peringkat makrifatullah (mengenal Allah) adalah sama dengan peringkat dalam mengetahui dan mengenal api; sebagaimana pengetahuan minimal tentang api berasal dari pendefinisian. Banyak yang mengatakan bahwa di alam ini terdapat sebuah benda yang pabila ia menyentuh sesuatu yang lain, maka sesuatu itu akan musnah. Makrifatullah semacam ini pula. Di antara bentuk makrifat adalah makrifat para muqallid (yang bertaklid), di mana mereka membenarkan dan mengikuti fatwa para mujtahid (yang berijtihad) tanpa mengetahui hujah dan alasannya.”

“Lebih tinggi dari itu adalah makrifat (pengetahuan, pengenalan) seseorang terhadap asap yang muncul dari api. Ia tidak akan meragukan bahwa pastilah terdapat api. Makrifat semacam ini dalam makrifatullah adalah makrifat para pemikir dan filosof. Lebih tinggi dari itu adalah seseorang yang merasakan langsung panasnya api. Makrifat semacam ini pada tahapan makrifatullah adalah peringkat makrifat orang suci, yang hatinya menjadi kuat dan tenang lantaran dipenuhi dengan zikir (mengingat dan menyebut) nama Allah.”

“Peringkat yang lebih tinggi lagi dari itu adalah orang yang dirinya terbakar dalam api. Peringkat semacam inidalam tahapan makrifatullahadalah makrifat mereka yang telah mampu menyaksikan langsung (syuhûd) dan menyatu dengan Allah. lni merupakan peringkat tertinggi, di mana kita semua berharap sudilah kiranya Allah membimbing kita menuju peringkat makrifat tersebut.”

Kaum ‘ârif menyebut tiga peringkat terakhir initanpa menghitung peringkat pertamadengan ‘ilmu al-yaqîn, ‘ainu al-yaqîn, dan haqqu al-yaqîn.

Sedangkan yang dimaksud dengan peringkat tertinggi adalah tatkala makrifatullah membakar dan memusnahkan apa saja yang ada dalam hatinya, selain Allah. Oleh karena itu, orang semacam ini tidak mengenal dan merasakan selain keberadaan Allah; apalagi keberadaan dirinya sendiri. Allah adalah Pelindung dan yang Menguasai hatinya. Dengan demikian, orang semacam ini, dalam mengenal Zat Allah, adalah ibarat seseorang yang berada dalam keadaan dahaga, yang kemudian meneguk air. Di sini, ia mengetahui, memahami, dan merasakan langsung rasa segar dalam menikmati air. Betapa indah ungkapan syair ini:

Bayangan-Mu ada di mataku dan zikir-Mu senantiasa di bibirku

Tempat-Mu ada di hatiku, lalu di manakah yang tidak ada diri-Mu

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Kecintaan-Nya adalah api yang membakar segalanya.” Betapa indah syair ini:

Alangkah indahnya api yang menyala dalam hati

Yang membakar segalana selain al-Haq

Itulah maksud dari ungkapan doa beliau, “Wahai Kekasih hati orang-orang yang benar.” Mengapa demikian? Sebab, jika makrifat seseorang benar, maka di dalam hatinya tidak akan ada yang lain selain kecintaan kepada Allah, dan ia tidak akan mencintai yang lain selain Allah. Dengan demikian, Allah adalah satu-satunya yang ia cintai dan kasihi.


Tuhan Seru Sekalian Alam

Berdasarkan al-Quran, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa Allah Swt merupakan sesembahan dari segala sesuatu. Semua ciptaan yang ada (senantiasa) bertasbih dengan memuji dan menyucikan Allah. Allah Swt berfirman:

Semua yang berada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran-Nya). Dan Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijak. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah yang Awal dan yang Akhir; yang Dhahir dan yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (al-Hadîd: 1-3)

Tasbih berbagai ciptaan yang ada, berulang kali disebutkan di bagian awal berbagai surat yang terdapat dalam al-Quran; dan surat ini (al-Hadîd) merupakan salah satu di antara surat-surat tersebut. Dalam surat ini disebutkan bahwa penyebab dari bertasbihnya berbagai ciptaan yang ada adalah Qayyumiyah (kemahaberdirisendirian) Allah, dengan dinyatakan sedemikian rupa bahwa segala sesuatu yang ada ini memiliki kebergantungan kepada Allah; tidak ada sebuah keberadaan pun yang keberadaannya bebas dan merdeka, melainkan Allah Swt. Allah adalah yang Awal dan yang Akhir, yang Nyata dan yang Tersembunyi. Segala yang selain Dia adalah kebatilan belaka dan sarna sekali tidak memiliki kebebasan dan kemerdekaan. Sebuah syair menyatakan:

Ketahuilah, sesungguhnya apa-apa yang selain Allah adalah kebatilan

Dan setiap kenikmatan tidak mustahil pasti akan musnah

Namun, berdasarkan kebergantungan segala yang ada kepada keberadaan-Nya yang hakiki, dari slsi ini, yakni yala al-Rabbî (sisi pandang ketuhanan), maka segala sesuatu adalah wujud yang hakiki dan memiliki ilmu, perasaan, kekuatan, dan kehendak.

Dengan kata lain, tatkala yang dipandang adalah substansi segala ciptaan, maka keberadaan semuanya adalah nihil, tidak ada, dan musnah. Ini adalah yala al-khalqî (dari sisi ciptaan). Namun, tatkala dipandang dari sisi hubungan ciptaan itu dengan Allah Swt, maka semuanya menjadi berarti, memiliki keberadaan, perasaan, ilmu, kehendak, dan kekuatan. Inilah yala al-Rabbî.

Setelah itu, jelaslah bahwa semuanya bertasbih dan memuji Pencipta alam semesta. Al-Quran pun secara jelas menyinggung masalah ini:

Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. (al-Isrâ’: 44)

Sebuah syair menyatakan:

Kami mendengar, melihat, dan sadar

Dengan kalian yang bukan muhrim, kami diam

Di sini, kami tidak akan membahas lebih panjang lagi masalah ini, dan akan dilanjutkan dalam pembahasan berikutnya.


Referensi:

23. Al-Taubah: 119.
24. Al-Nisâ : 69.

(Sadeqin/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita:

Index »

KULINER

Index »

LIFESTYLE

Index »

KELUARGA

Index »

AL QURAN

Index »

SENI

Index »

SAINS - FILSAFAT DAN TEKNOLOGI

Index »

SEPUTAR AGAMA

Index »

OPINI

Index »

OPINI

Index »

MAKAM SUCI

Index »

PANDUAN BLOG

Index »

SENI