Info tentang Para Pembela Imam
Nama: Maitsam al-Tammar
Julukan: Abu Muslim, Abu Shaleh
Nasab: Orang Iran 150 H
Tempat Tinggal: Kufah
Tanggal dan Tempat Wafat: Dzulhijjah 60 H. Kufah
Bagaimana ia Syahid: Atas perintah Ibnu Ziyad untuk digantung
Tempat penguburan: Irak, Kufah
Aktifitas Sosial: Anggota kelompok Penjaga Al-Khamis
Salah seorang pembela dari: Imam Ali As, Imam Hasan As, Imam Husain As
Karya: Tafsir Al-Quran, sebuah Kitab dalam Hadis.
Maitsam al-Tammar al-Asadi al-Kufi (Bahasa Arab: میثم التمار الاسدی الکوفی) merupakan salah seorang sahabat Imam Ali As, Imam Hasan al-Mujtaba As dan Imam Husain As yang digantung sebelum peristiwa Karbala di Kufah atas perintah Ibnu Ziyad.
Dan mati syahid. Adapun mengenai rincian kehidupannya, laporan sejarah mengenai hal tersebut kurang jelas. Dia selama di Kufah menjual buah Kurma dan banyak keramat dan ramalan-ramalan dinisbatkan kepadanya.
Laporan Sejarah tentang Kehidupannya
Nasab dan Pekerjaan
Sebagian dari para peneliti kontemporer meyakini bahwa Maitsam adalah orang Iran.[1]
Namun karena dia adalah seorang budak untuk seorang wanita dari Bani Asad, dengan demikian ia dinisbahkan kepada kabilahnya. [2]
Imam Ali As membelinya dari seorang wanita dan membebaskannya dan ketika ditanya tentang namanya ia menjawab: Aku bernama Salim. Imam berkata kepadanya, Nabi yang mulia telah memberitahuku bahwa kedua orang tuamu yang non Arab memberi namamu Maitsam.
Maitsam membenarkan perkataan Imam Ali As dan merubah namanya menjadi Maitsam dan julukannya adalah Abu Salim. Panggilan lainnya adalah Abu Shaleh. [3]
Maitsam di pasar Kufah menjual Kurma dan karena ini ia digelari dengan Tammar. [4] dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa ia juga menjual harbuzeh (seperti timun bonteng) di sebuah tempat bernama Dar al-Rizq. [5]
Sebagian Dari Keistimewaan-keistimewaannya
Maitsam adalah seorang yang selalu siap untuk menjawab; [6] ketika ia berkata di dalam istana Ibnu Ziyad sebagai perwakilan para penjual di pasar Kufah, Ibnu Ziyad merasa terpana dan terpukau akan perkataan, ceramah dan kefasihannya. [7]
Pidato-pidatonya yang menentang pemerintahan Bani Umayah, telah menjadikannya sebagai musuh yang nyata bagi pemerintahan ini.
Maitsam telah meramal kematian Muawiyah[8] dan juga berkata tentang kabar kesyahidan Imam Husain As untuk seorang wanita Mekah, [9] ramalan lainnya adalah sebuah berita tentang penangkapannya oleh pihak kabilahnya dan kesyahidannya dengan perintah Ibnu Ziyad [10] dan juga pembebasan Mukhtar bin Abi Ubaidah al-Tsaqafi dari penjara. [11]
Adanya keistimewaan-keistimewaan ini dalam diri Maitsam telah menyebabkannya terhitung menjadi salah satu di antara para sahabat Imam Ali As [12] yang terpilih yang memiliki keistimewaan dan keutamaan yang tinggi. [13]
Sebagaimana yang dilaporkan oleh sebagian sejarawan bahwa Maitsam Tammar disebutkan sebagai salah satu dari kelompok al-Khamis. Kelompok ini adalah kumpulan orang-orang pemberani yang mengadakan perjanjian dengan Imam Ali As dalam peperangan yang siap membela dan bersama Imam sampai akhir hayat mereka. [14]
Anak Keturunan
Shaleh, Syuaib, Imran dan Hamzah adalah putra-putra Maitsam al-Tammar yang mana mereka tumbuh besar dengan wilayah kepemimpinan Ahlulbait dan hidup bersama mereka. Anak keturunan mereka pula menjadi pendukung dan sahabat-sahabat para Imam dan menjadi para perawi riwayat-riwayat Ahlulbait As. [15]
Di antaranya adalah Ali bin Ismail bin Syuaib bin Maitsam adalah termasuk dari para teolog Syiah Imamiah dan termasuk dari para penulis buku-buku teologi pertama. [16]
Kesyahidan
Berita Imam Tentang Kesyahidannya
Imam Ali As telah menjelaskan kepada Maitsam tentang bagaimana dia akan menjadi syahid, siapa pembunuhnya dan bagaimana nanti dia akan digantung di atas pohon kurma, semuanya itu telah ditunjukkan oleh Imam.
Dia diberitahu dan diberi kabar gembira bahwa pahala ketegaran dan pertahanannya di hadapan keinginan Ubaidillah bin Ziyad (yang ketika itu menjadi walikota Kufah) adalah bahwa kelak di akhirat nanti dia akan berada di samping Imam pada derajat yang pantas untuknya.
Dikatakan bahwa Maitsam di samping pohon kurma itu mendirikan salat dan bercakap-cakap dengannya. [17]
Maitsam menukilkan berita kesyahidannya yang ia dengar langsung dari Imam Ali As kepada orang-orang lain. [18]
salah satu di antaranya adalah dalam sebuah riwayat, dia dan Habib bin Mazahir ketika berada di tengah-tengah sekelompok kalangan mereka menjelaskan berita kesyadiannya, namun para khalayak yang hadir, mendustakannya dan mengejek mereka. [19]
Riwayat Pertama Tentang Kesyahidannya
Mengenai penangkapan dan pembunuhan Maitsam ada dua riwayat. Sebuah riwayat mengatakan bahwa Ibnu Ziyad diperintah oleh pihak Yazid bin Muawiyah, khalifah Umawi (60-64) untuk menggantung Maitsam –tergolong pribadi yang diketahui sebagai sahabat dan pendukung sejati Imam Ali As-.[20]
Untuk melaksanakan perintah ini, Maitsam setelah melaksanakan umroh, ketika ia dari Mekah menuju pulang ke Kufah, dia ditangkap oleh para pasukan Ibnu Ziyad.
Di dalam penjara, ia bertemu Mukhtar yang ketika itu dia juga merupakan seorang tahanan dan meramalkannya bahwa ia akan segera dibebaskan dari penjara. Ibnu Ziyad meminta kepada Uraif kepala kaum Maitsam supaya membawanya karena kalau tidak ia akan membunuhnya.
Tampaknya Ibnu Ziyad mengirimnya bersama dengan seratus pasukan berkuda dan mereka menangkap Maitsam di Qadisiyah (80 kilo meter dari Kufah) [21] dan membawanya ke Kufah.
Kemudian digantung sesuai dengan perintah Ibnu Ziyad. [22]
Riwayat Kedua Tentang Kesyahidannya (Pemotongan Lidah Maitsam)
Riwayat lainnya mengatakan, Maitsam sesuai dengan permohonan sebagian dari para penjual di pasar bersama mereka datang menghadap Ibnu Ziyad untuk mengadukan sikap perlakuan petugas amil pasar Kufah dan memintanya untuk memecat dan menggantinya.
Maitsam di sana berceramah dengan kata-kata yang sangat fasih. Amru bin Huraits, yang ditunjuk oleh Ubaidillah bin Ziyad sebagai Amir Kufah, beraliran Utsmani dan musuh Ahlulbait yang juga ketika itu hadir di majelis, menyebut Maitsam sebagai pembohong dan pendukung para pembohong.
Namun Maitsam memperkenalkan diri sebagai seorang yang jujur dan pendukung orang-orang yang jujur (Imam Ali As). Ibnu Ziyad menyuruh Maitsam untuk menyatakan kebenciannya kepada Ali berkata buruk tentangnya dan menggantikannya dengan menyatakan kecintaannya kepada Utsman dan berkata baik tentangnya.
Dia mengancam Maitsam, jika ia tidak melakukan apa yang diperintahkan kepadanya, maka kedua tangan dan kakinya akan dipotong dan kemudian digantung. Walaupun Maitsam dapat melakukan taqiah, namun hal itu tidak ia lakukan malah ia memilih untuk bersyahadat dan berkata bahwa Imam Ali telah memberitahukan kepadanya bahwa Ibnu Ziyad akan melakukan hal yang demikian dan akan memotong lidahnya.
Dengan mengikuti hal tersebut Ibnu Ziyad yang ingin memberikan gambaran dan anggapan bahwa kabar gaib itu hanya cerita dusta belaka maka ia hanya memerintahkan untuk memotong kedua kaki dan tangan Maitsam saja dan kemudian menggantungnya di samping rumah Amru bin Huraits.
Maitsam di atas kayu gantungan dengan suara yang keras dan lantang meminta kepada para penduduk untuk berkumpul di sekitarnya dan mendengarkan hadis-hadis yang menggandung tentang keajaiban dan keutamaan Imam Ali As.
Dia berbicara tentang fitnah-fitnah yang dilancarkan oleh Bani Umayah dan juga berkata tentang keutamaan-keutamaan Bani hasyim, Amru bin Huraits karena penjelasan dan pembeberan tentang penguasa dijabarkan oleh Maitsam dan melihat para penduduk berjubel mengelilinginya, bergegas ia pergi menghadap Ibnu Ziyad dan menyampaikan kepadanya apa yang terjadi.
Ibnu Ziyad karena takut semua rahasianya terbongkar, akhirnya ia memerintahkan supaya meletakkan kendali kekang di mulut Maitsam, dia adalah orang pertama dalam Islam yang diletakkan tali kekang dimulutnya. [23] dalam riwayat lain di katakana bahwa Amru bin Huraits –karena khawatir ketercondongan penduduk pada ucapan-ucapan Maitsam dan kemudian mereka mengadakan revolusi terhadap pemerintah- dia meminta Ibnu Ziyad supaya memerintahkan pemotongan lidahnya.
Ibnu Ziyad menyetujuinya dan mengirim salah satu penjaganya untuk melakukan hal ini dan Maitsam dengan mengingatkan hal ini bahwa Ibnu Ziyad tidak mampu mendustakan perkataan Imamnya Ali As mengenai pemotongan lidah , dan kedua tangan dan kakinya, sesaat setelah pemotongan lidahnya ia pun syahid. [24]
Kesyahidan Maitsam al-Tammar terjadi pada bulan Dzulhijjah tahun 60, sepuluh hari sebelum Imam Husain masuk ke kota Irak. [25]
Ibnu Ziyad mencegah penguburan jasadnya hingga beberapa orang dari para penjual kurma kota Kufah, pada malam hari, mengambil jasadnya sekaligus dengan kayu gantungannya dan menguburkannya di tengah-tengah parit di daerah kabilah Murad. [26]
Makam Maitsam al-Tammar di Kufah
Kuburan Maitsam
Tempat pemakaman Maitsam al-Tammar terletak beberapa ratus meter dari Masjid Kufah dan di sisi jalan asli antara Kufah dan Najaf.
Pada abad keempat ‘Addudaulah Dailami, membangun sebuah Kubah yang megah di atas kuburan Maitsam. Di abad ke tiga belas Hijriah, Syaikh Mula Ali putra Mirza Khalil Najafi Al Khalili (1226-1297 H) membuat bangunan untuk yang kedua kalinya.
Sayid ‘Athaillah Rumi (1321 M) tergolong dari para mujtahid Najaf Asyraf, membangun haram yang megah dan kubah yang besar untuk Maitsam, dan mendirikan aula di sampingnya. [27]
Pada tahun 1382 H. semua bangunan rusak, dan kemudian dibangun sebuah haram yang kokoh dan indah oleh Haji Muhammad Rasyad. Kemudian di atas kuburannya dibangun sebuah batasan dharih kecil yang di atasnya terdapat kubah berwarna biru.
Maitsam dan Para Imam As
Kedudukan Maitsam di kalangan Sahabat-sahabat Para Imam
Maitsam terhitung dari kalangan para sahabat tiga imam pertama Syiah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain; [28]
Namun kemasyuhrannya lebih menonjol disebabkan dia belajar dan mengabdi sebagai murid Imam Ali As. [29]
Maitsam sangat mencintai keluarga Ahlulbait Nabi Saw. [30]
Selain itu Ahlulbaitpun memberikan perhatian khusus kepadanya; menurut perkataan Ummu Salamah, istri Nabi, Rasulullah Saw berkali-kali menyebut Maitsam dengan baik dan memesan kepada Ali As tentangnya supaya memperhatikannya. [31]
Maitsam banyak menimba ilmu dan dari Imam Ali dan juga mengerti tentang rahasia-rahasia wasiat yang berkenaan dengan Ahlulbait dan Imam juga mengabarkannya tentang urusan-urusan gaib [32] dan merupakan rumusan sebuah kelompok dari kalangan para mukmin yang teruji sehingga mendapatkan kedudukan yang tinggi untuk berada di sisi Rasulullah dan Ahlulbaitnya. [33]
Masa Pengenalan dengan Imam
Tidak ada satu riwayatpun yang berkaitan dengan kehadiran Maitsam di dalam peperangan yang terjadi pada periode kepemerintahan Amirul Mukminin Ali As.
Dapat diduga bahwa dia di akhir-akhir kehidupan Imam Ali As mengenalnya. Riwayat-riwayat yang dinukil oleh Maitsam juga berkaitan dengan periode-periode akhir pemerintahan [Imam Ali As|Imam Ali As]].
Di antara riwayat-riwayat tersebut adalah riwayat yang menyebutkan tentang serangan para pengikut Muawiyah ke daerah kawasan Hit dan Anbar serta membunuh sebagian dari para wanita dan anak-anak di sana. [34]
Muawiyah ketika mengutuk Ali dan para sahabatnya, dia juga mengenang Maitsam dengan buruk dan mengutuknya. [35][36]
Setelah Imam Ali, Maitsam tergolong dari sahabat-sahabat yang setia Imam Hasan dan Imam Husain As. [37]
Imam Husain memiliki perhatian khusus terhadap Maitsam dan senantiasa menyebutnya dalam kebaikan. [38]
Pada tahun 60, sesaat sebelum kebangkitan Imam Husain dan tragedi Karbala, Maitsam berangkat menuju Mekah untuk menunaikan manasik umroh dan karena ia tidak menemukan Imam, ia datang menghadap Ummu Salamah dan menanyakan prihal Imam kepadanya dan Ummu Salamah memberitahu keadaan Imam kepadanya. Maitsam yang berniat pulang menuju Kufah, meminta kepadanya untuk menyampaikan salamnya kepada Imam dan berkata bahwa dia akan bertemu Imam di sisi Allah Swt. [39]
Karya-karya
Tafsir
Maitsam memiliki beberapa karya. Salah satu dari karya-karya tersebut adalah sebuah tafsir yang dia pelajari dari Ali As. [40] Dalam sebuah riwayat Maitsam, berkata yang ditujukan kepada Abdullah bin Abbas bahwa Imam Ali As telah mengajarkan takwil Al-Quran kepadanya; ketika Maitsam pergi berumroh, kepada Ibnu Abbas berkata segala hal yang dia inginkan berkaitan dengan tafsir Al-Quran, dapat dia tanyakan kepadanya.
Ibnu Abbas sangat menyambut tawaran tersebut dan kemudian mengambil kertas dan tinta dan menulis segala hal yang didikte oleh Maitsam kepadanya.
Karena Maitsam mengabarkan kepadanya tentang kesayhidannya atas perintah Ubaidillah bin Ziyad, ibnu Abbas menduga bahwa Maitsam mengabarkan hal ini kepadanya atas dasar ramalannya sendiri, dia tidak lagi mempercayainya dan ketika dia ingin merobek semua hal yang telah ia tulis, Maitsam mencegahnya dan meminta kepadanya untuk menjaga tafsiran tersebut dan jika segala hal yang telah ia kabarkan pada suatu hari tidak terjadi, maka lenyapkanlah.
Ibnu Abbas menerimanya dan setelah beberapa waktu berselang segala hal yang dikabarkan oleh Maitsam tentang hal-hal yang bakal terjadi, benar-benar terjadi. [41]
Hadis
Maitsam juga memiliki sebuah kitab hadis yang mana anak keturunannya menukil dari kitab tersebut dan sebagian dari riwayat-riwayat itu ada dalam beberapa referensi. [42]
hadis-hadis ini mencakup tema-tema seperti kecintaan dan kebencian kepada Ahlulbait As, keunggulan masjid Kufah daripada masjid al-Quds, empat kali mengaku berzinah muhson dan hukumannya dan penentuan pembunuh seorang remaja Arab Badui untuk keluarganya di tangan Ali As. [43]
Catatan Kaki:
1. Askari, Naqsye Aimmah dar ihyae din, jld.1, hlm. 131
2. Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.9; Mufid, al-Irsyad, jld.1, hlm.323; Najasyi, Rijal al-Najasyi, hlm. 14; Thusi, Rijal al-Thusi, hlm.81,224.
3. Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.82; Mufid, al-Irsyad, jld.1, hlm.323; Thabarsi, I’lam al-Wara, jld.1, hlm.341; Syadzan Qummi, Al-fadhail, hlm. 2-3 yang mana dia dijuluki dengan Abu Ja’far
4. Lihat: Ibnu Syhar Asyub, Manaqib Al Abi Thalib, jld.2, hlm.329.
5. Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.78.
6. Lihat: Mufid, al-Irsyad, jld.1, hlm.324.
7. Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.86.
8. Lihat: Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.80.
9. Ibnu Babuwaih, hlm.189-180.
10. Lihat: Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.80; Syarif Radhi, hlm. 54-55.
11. Mufid, al-Irsyad, jld.1, hlm.324; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jld.2, hlm. 293.
12. Ibnu Nadim, hlm. 223; Thusi, Al-Fehrest, hlm. 150.
13. Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.9; Mufid, Al-Ikhtishash, hlm.3; Agha Buzurg Tehrani, jld.2, hlm. 164.
14. Barqi, Kitab al-Rijal, hlm. 3-4; Mufid, Al-Ikhtishash, hlm.2-3.
15. Lihat: Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.80; Thusi, Rijal al-Thusi, hlm.81.
16. Lihat: Ibnu Nadim, hlm. 223; Thusi, 1417 hlm. 150; Dzahabi, Tarikh al-Islam wa wafayat al-masyahir wa al-‘Alam, hawadits 211-220, hlm. 316.
17. Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.83-84; Mufid, Al-Irsyad, jld. 1, hlm.323-324; Fatal Neisyaburi, Raudhatu al-Wa’izin, jld.2, hlm.288; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jld.2, hlm. 291-292.
18. Lihat: Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.81-84.
19. Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.78.
20. Mufid, al-Irsyad, jld.1, hlm.324-325.
21. Lihat: Yaqut Hamwi, di bawah “Qadisiyah”.
22. Khshibi, Al-Hidayah al-Kubra, hlm.133; Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.82-84; Syarif Radhi, hlm. 54-55.
23. Kulaini, jld.2, hlm.220;Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.84; Mufid, al-Irsyad, jld.1, hlm.304,324-325; Fatal Neisyaburi, Raudhatu al-Wa’izin, jld.2, hlm.288-289.
24. Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.87.
25.Mufid, al-Irsyad, jld.1, hlm.325; Thabarsi, I’lam al-Wara, jld.1, hlm.343.
26. Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.83.
27. Dairatul Ma’arif Tasyayu’, jld.1, hlm.112.
28. Thusi, Rijal al-Thusi, hlm. 81, 96, 105; Khu'i, Mu'jam Rijal al-Hadits, jld.20, hlm103.
29. Mufid, Al-Ikhtishash, hlm.3.
30. Kasyi, Rijal al-Kasyi, hlm.78.
31. Ibnu Hajar Asqalani, Al-Ishabah fi Tamyizi al-Shahabah, jld.6, hlm.317.
32. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jld.2, hlm. 291.
33. 'Imaduddin Thabari, Bisyaratu al-Musthafa lisyiati al-Murtadha, hlm. 236-237.
34. Lihat: Khashibi, hlm. 125, Dailami, Irsyadu al-Qulub, hlm.272-273.
35. Ibnu Thawus, hlm.51-52.
36. Ibnu Thawus, hlm.51-52.
37. Thusi, Rijal al-Thusi, hlm. 96, 105
38. Kasyi, Rijal al-kasyi, hlm.80
39. Kasyi, Rijal al-kasyi, hlm.80-81; Mufid, Al-Irsyad, jld.1, hlm.324; Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, jld.2, hlm. 292; Ibnu Hajar Asqalani, Al-Ishabah fi Tamyizi al-Shahabah, jld.6, hlm.317.
40. Agha Buzurg Tehrani, jld.4, hlm.317.
41. Kasyi, Rijal al-kasyi, hlm.81
42. Lihat: Thusi, Al-Amali, hlm.148, Ghaffar, Al-Kulaini dan Al-Kafi, hlm. 28.
43. Barqi, Kitab al-Mahasin, hlm. 309-310; Tsaqafi, Al-Gharat, jld.2, hlm.413-415; Thusi, Al-Amali, hlm.148, 246, 405-406, Syadzan Qummi, Al-Fadhail, hlm. 3-5.
Daftar Pustaka:
1. Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahjul Balaghah, cetakan, Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim, Cairo, 1378-1382 H.
2. Muhammad bin Ali Ibnu Babuwaih, Al-Amali, Qum, 1417 H.
3. Ahmad ibnu Hajar Asqalani, Al-Ishabah fi Tamyizi al-Shahabah, cetakan, Ali Muhammad Bejawi, Beirut, 1412 H/1992 M.
4. Muhammad Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Thalib, cetakan Muhammad Husain, cetakan Muhammad Husain Danish Ashtiyani dan Hashem Rasooli Mahallati, Qum, 1379 S.
5. Abdul Karim bin Thawus, Farhatu al-Ghura fi Ta'yiin Qabri Amiril Mukminin, cetakan Tahsin Al Syabib Musawi, Qum, 1419 H/1998 M.
6. Ibnu Nadim.
7. Al-Ikhtishash, dinisbahkan ke Muhammad bin Muhammad Mufid, cetakan Ali Akbar Ghaffari, Beirut, 1414 H/1993 M.
8. Ahmad bin Muhammad Barqi, Kitab Al-Rijal, cetakan Jalaluddin Muhaddis Armawi, Tehran, 1342 S.
9. Idem,Kitab Al-Mahasin, cetakan Jalaluddin Muhaddis Armawi, Tehran, 1330 S.
10. Ibrahim bin Muhammad Tsaqafi, Al-Gharat, cetakan Jalaluddin Muhaddis Armawi, Tehran, 1355 S.
11. Husain bin Ahmad Khashibi, Al-Hidayah al-Kubra, Beirut, 1411H./1991 M.
12. Sayid Abul Qasim Khu'i, Mu'jam Hadits al-Rijal wa Tafshil Thabaqat al-Ruwat, pusat penerbitan al-Tsaqafah al-Islamiyah, Qum, 1372.
13. Hasan bin Muhammad Dailami, Irsyad al-Qulub, Beirut, 1398 H/ 1978 M.
14. Muhammad bin Ahmad Dzahabi, Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-'Alam, Hawadits 211-220, cetakan Umar Abdussalam Tadammuri, Beirut, 1414 H/1993 M.
(Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Post a Comment
mohon gunakan email