Suasana damai dan kesucian lebaran di Gang Langgar, RT 30, Kelurahan Sungai Keledang, Samarinda Seberang, Kalimantan Timur, ternoda oleh sebuah kejadian brutal pada Jumat 8 Juli 2016 sekitar pukul 14.00 Wita. Dua pria yang membawa senjata tajam, Rusdi dan Mamad saling kejar-mengejar dalam perkelahian yang berdarah-darah.
Rusdi (29 tahun) yang sudah bersimbah darah memburu Mamad dengan membawa badik. Ia mengejar Mamad yang telah menyerang dan menikam dirinya terlebih dulu.
Namun luka parah di leher belakang dan lengan kiri yang terus mengeluarkan darah, membuat Rusdi tak sanggup mengejar Mamad lebih jauh. Akhirnya, Rusdi tergeletak dengan kedua kaki terlipat di lorong Gang Mujahidin yang jaraknya sekitar 10 meter dari rumahnya.
Mamad pun juga mengalami luka tak kalah parah. Mamad yang merupakan warga Harapan Baru, Loa Janan Ilir, terus berlari meski leher kirinya yang robek tak hentinya mengeluarkan darah.
Sobekan itu karena terkena sabetan badik Rusdi. Mamad kabur meninggalkan motor Yamaha Jupiter MX degan nomor KT 2855 MG.
Ceceran darah segar Mamad tampak di jalan gang hingga ke kawasan perbukitan di belakang pemukiman penduduk. Mamad lari ke hutan yang berdekatan dengan areal kuburan muslim untuk menghindari kejaran keluarga Rusdi.
Menyaksikan tubuh Rusdi tergeletak di jalan gang, salah seorang kakak wanita Rusdi menangis histeris menyaksikan adiknya sekarat.
Kakak Rusdi tak kuasa melihat adiknya yang sudah sekarat bersimbah darah
Dibantu warga, Rusdi langsung dilarikan ke RSUD AW Sjahranie menggunakan ambulans. Namun, nyawa Rusdi tak tertolong, ia tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Sudarsono menuturkan, motif perkelahian yang berujung tewasnya Rusdi belum bisa disimpulkan. "Masih kami dalami karena keluarga korban (keluarga Rusdi) agak tertutup. Apalagi lawan berkelahinya (Mamad) juga menderita luka parah," terang Sudarsono di TKP.
Polisi juga masih mendalami kebenaran adanya dua pelaku lainnya yang kabur ketika duel berdarah terjadi. "Kami mencari saksi yang benar-benar melihat perkelahian terjadi untuk memastikan jumlah pelakunya," kata Sudarsono.
Pertanyaan mengenai pemicu duel berdarah itu sulit terjawab lantaran keluarga Rusdi tertutup. Mereka tak mau memberi informasi kepada polisi maupun kepada para wartawan. Namun berbeda halnya dengan warga sekitar tempat tinggal keluarga Rusdi yang sepertinya sudah tahu penyebab perkelahian mematikan tersebut.
Salah satu warga sekitar, Yudi (60 tahun) yang sempat melerai perkelahian ini sempat berkomunikasi dengan Mamad. "Mereka berkelahi di samping dapur saya. Pelaku (Mamad) mengambil pisau di meja dapur saya untuk menyerang korban," tutur Yudi.
Melihat Rusdi dan Mamad berdarah-darah, Yudi berusaha merampas pisau yang dipegang Mamad. "Saya bilang ke pelaku dan korban (Rusdi), sudah jangan berkelahi, tapi mereka tak mau mendengar. Waktu saya coba rampas pisau itu pelaku mengatakan, “dia (korban/Rusdi) bawa kabur istri saya”," ucap Yudi menirukan perkataan Mamad kala berduel.
Yudi tak berhenti melerai hingga Mamad membuang pisau yang dipegangnya ke tanah lalu kabur ke arah hutan tak jauh dari tempat berduel. "Saya tidak kejar karena saya bantu korban yang tergeletak," ujar Yudi.
Yudi mengatakan bahwa ia mencium mencium aroma minuman keras dari mulut Mamad saat berduel dengan Rusdi. "Dia mabuk, tidak tahu kalau korban," kata Yudi yang juga dimintai keterangan polisi di TKP.
Keluarga yang ikut mendampingi jenazah Rusdi ke kamar mayat RSUD AW Sjahranie hanya menangis. Namun satu per satu keluarga dan kerabat Rusdi menjauh ketika dihampiri wartawan.
(JPNN/Memobee/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Post a Comment
mohon gunakan email