Apabila membicarakan salah satu bentuk contoh toleransi dan persaudaraan antar umat beragama yang guyub dan rukun, maka kisah ini adalah salah satu contoh nyata.
Di Semarang terdapat sebuah lokasi yang sangat terkenal bagi umat Katholik yaitu Gua Maria Kerep Ambarawa yang menjadi lokasi ziarah rohani umat Katholik.
Pengunjung bisa datang kapan pun untuk melakukan wisata rohani ke situs tersebut. Namun yang paling ramai adalah pada bulan Mei dan Oktober ketika memperingati bulan Maria.
Sejak diresmikan, gua ini selalu ramai didatangi peziarah. Biasanya umat Katholik berziarah ke Gua Maria pada pekan kedua setiap bulannya. Jumlah pengunjung rata-rata pada pekan kedua tersebut mencapai 8.000 orang.
Jika mengunjungi tempat ini, pengunjung akan memasuki area parkir yang luas dan disambut jejeran lapak-lapak kecil dengan langgam bangunan yang unik. Di dalamnya berjajar patung Yesus dan Bunda Maria dalam segala ukuran, dari yang mini hingga seukuran tinggi orang dewasa. Bergantungan rosario warna-warni, gelang-gelang berbandul salib yang biasa dijadikan buah tangan.
Sesuatu yang sangat menarik adalah ketika seorang netizen mengunggah sebuah foto seorang ibu berjilbab yang berprofesi sebagai pedagang pernak-pernik di lokasi wisata religi tersebut. Seperti yang diceritakan oleh Inne Nathalia, melalui akun Facebooknya.
“Perkenalkan, nama ibu ini adalah ibu Rina. Sudah 20 tahun berjualan rosario dan benda-benda rohani di komplek Gua Maria Kerep, Ambarawa. Benda2 rohani Katolik ia ambil dari berbagai daerah. Kepada saya, ibu Rina bahkan fasih menjelaskan fungsi dan arti doa dan beberapa rosario/aksesoris lainnya.” tulis Ine.
Inne juga memberikan penjelasan bahwa dari hasil berjualan benda-benda rohani umat Katholik tersebut, Ibu Rina mampu menyekolahkan anak-anaknya.
Ibu Rina berfoto di depan lapak jualannya
“Dari berjualan, ibu Rina telah menyekolahkan anaknya. Anak pertamanya bahkan sudah lulus kuliah dan kerja di Tangerang. Begitu saya tanya apa ibu Rina merasa keberatan jualan benda-benda rohani agama lain dari yang ia anut, dia menjawab sama sekali tidak keberatan dan merasa senang bisa membantu umat Katolik”.
Inne terkesan dengan hal itu, baginya ini bentuk hubungan baik, meski beda keyakinan tetapi tidak membuat saling benci.
“Nah, kisah ibu Rina ini hanya satu contoh dari sekian banyak penghargaan keragaman perbedaan beribadah tanpa ada saling nyinyir, sikut bahkan penuh kebencian.” lanjutnya.
Bahkan, Ibu Rina malahan bukan satu-satunya perempuan Muslim yang berdagang di area tersebut.
“PS: sebelum masuk Gua Maria Kerep, saya juga sempat membeli bunga mawar dari seorang ibu berjilbab yang jualan di depan Gua Maria Kerep, khusus untuk membantu umat Katolik beribadah. Adem, yah, gaes kalo begini!” pungkasnya.
Postingan ini disambut baik oleh para netizen lainnya. Akun Natalia Ririh berkomentar “Inne, Ambarawa itu kotaku hehe…sebagian besar pedagang di komplek gua Maria Kerep non Kristiani. Dulu, ada pedagang yang pernah berujar “rejeki gua maria bukan punya orang Katholik saja”. Gitu. Selamat berwisata & ziarah ya”.
Ini bukti bahwa gambaran toleransi seperti ini mendapat respon positif bagi masyarakat Indonesia. Ini adalah bentuk hubungan baik antar pemeluk agama tanpa pernah harus saling membenci, tetapi saling membutuhkan. Satu sama lain bisa mendapatkan manfaat.
(Oke-Zone/Semarang-Coret/Memobee/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Post a Comment
mohon gunakan email