Pesan Rahbar

Home » » Menggali Rahasia Do'a Nabi khidir; Bab XII: Setan Hawa Nafsu

Menggali Rahasia Do'a Nabi khidir; Bab XII: Setan Hawa Nafsu

Written By Unknown on Thursday, 20 October 2016 | 21:13:00


Duhai Tuhanku, duhai Pemeliharaku, siapa lagi bagiku selain Engkau, yang kumohon agar melepaskan deritaku dan memperhatikan urusanku. Duhai Tuhanku, duhai Junjunganku, Engkau tetapkan hukum atasku, namun di situ aku ikuti hawa nafsuku dan tidak waspada terhadap tipuan (setan) musuhku, sehingga akupun terbujuk (rayuan setan) lantaran kecenderungan nafsuku, serta qadha dan qadharku―merupakan hasil usahaku sendiri―dengan dibantu olehnya (setan). Semuanya itu (hawa nafsu, setan, qadha dan qadhar) menyebabkan aku melanggar sebagian batas yang Kau tetapkan bagiu dan (ku)tentang sebagian perintah-Mu. Namun, Engkau memiliki hujah atas semua itu dan tidak ada hujah (alasan) bagiku (menolak) qadha-Mu yang berlaku padaku, (demikian pula) atas hukuman, dan bencana-Mu terhadapku.


Penafsiran Etimologis

Kata hukum memiliki arti hukuman atau tugas dan kewajiban. Sedangkan kata, hawâ memiliki arti kosong dan dapat pula berarti jatuh dari ketinggian dan binasa.

Namun, di sini kata hawâ dimaksudkan untuk kecenderungan manusia. Oleh karena itu, ia disebut dengan hawâ lantaran manusia akan dijatuhkan dan dibinasakannya. Ya, dalam dua kehidupan, manusia akan dibinasakannya.

Kata, ihtirâs memiliki arti menjauhi. Sedangkan kalimat as’adahu di sini memiliki arti memberikan bantuan kepadanya.

Kata hujjah adalah suatu perkara yang ada di antara hamba dan Tuannya. Dan ia merupakan argumen dan hasil dari suatu perbuatan, atau pernyataan Tuhan kepada hamba-Nya. Atau, ungkapan atau sikap seorang hamba terhadap Tuhan-Nya.

Kata qadha memiliki arti hukum atau ketetapan takwînî yang ditetapkan oleh Allah kepada hamba-Nya. Dan kalimat wa alzamanî hukmuka memiliki arti balasan dan hasil dari perbuatan, atau hasil putusan yang dikeluarkan oleh seorang hakim dalam menyikapi dua orang yang saling berselisih.

Kata balâ’ memiliki arti musibah atau hasil dari berbagai kejahatan yang pernah dilakukan.


Syarah dan Penjelasan

Pelanggaran (yang dilakukan) terhadap batas-batas yang telah Dia tetapkan bukanlah berdasarkan penentangan, dan bukan pula dalam kondisi normal, namun lantaran tekanan hawa nafsu dan nafsu ammârah setan, baik yang di dalam maupun yang di luar.

Di samping itu juga dinyatakan bahwa penguasaan hawa nafsu itu juga berdasarkan pada ketetapan dan ketentuan Allah, yang berdasarkan pada kehendak dan pilihan manusia itu sendiri. Kemudian, ia pun segera memohon pertolongan atas semua itu. Setelah semua pengakuan ini, semuannya berisi pernyataan bersalah dan penegasan bahwa semua kesalahan itu dilakukan bukan lantaran kesengajaan dan penentangan. Namun, ia tidak memiliki alasan (hujah) untuk pembenaran atas dirinya, sebab, semua perbuatan itu dilakukannya atas dasar pilihan, kehendak,dan kebebasan yang diberikan Allah kepadanya.


Penjelasan tentang Taklif (Tugas dan Kewajiban)

Tidak diragukan lagi bahwa taklîf merupakan kemurahan dan kelembutan Ilahi, karena (taklîf)―melaksanakan berbagai kewajiban dan meninggalkan berbagai perkara yang haram, yang akan memberikan dampak buruk―merupakan kebaikan bagi mukallaf (orang yang dibebani tugas dan kewajiban) itu sendiri. Sedangkan Mukallif (Pemberi tugas dan kawajiban, yaitu Allah Swt) selain Pencipta dan Pemelihara takwîniyyah (penciptaan), Dia juga merupakan Pencipta dan Pemelihara tasyrî’iyyah (syariat). Dan Dia telah mencurahkan kepada ciptaan-Nya berbagai karunia dan kenikmatan yang tidak berhingga. Dengan demikian, tugas dan kewajiban yang Dia bebankan kepada kita adalah agar kita dapat meraih kesempurnaan dan kebahagiaan yang abadi. Sebagaimana, seorang ibu yang lemah lembut, yang mengeluarkan perintah dan larangan terhadap anaknya, semata-mata agar anaknya meraih kebahagiaan.

Taklîf Ilahi, tidak lain adalah demi kebahagiaan kita oleh karena itu, Allah Swt mengutus kepada kita para nabi yang pandai dan sempurna, tidak melakukan keselahan dan dosa suci serta bersih dari berbagai kesalahan dan dosa, dan mereka itu dihiasi dengan akal yang sempurna dan akhlak yang mulia, mereka juga dilengkapi dengan mukjizat lalu mereka diperintahkan untuk terjun ke tengah masyarkat demi menyucikan, membimbing, dan mengajarkan kepada mereka berbagai kebaikan, agar mereka dapat mencapai maqâm liqa’ (persatuan), maqâm ‘ubûdiyyah (penghambaan), dan maqâm fanâ’ (peleburan).

Allah Swt berfirman:

Dialah yang mengutus di kalangan kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan hikmah (al-Sunah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (al-Jumu’ah: 2)

Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-Rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (al-Hadîd: 25)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (al-Dzariyat: 56)

Ringkasnya, pengutusan para nabi itu dan penurunan kitab-kitab serta “pemaksaan” para mukallaf untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya adalah untuk “menggiring” mereka agar meraih kebahagiaan di dua kehidupan―dunia dan akhirat―serta mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya petunjuk-Nya yang terang benderang dan berjalan di jalan-Nya yang lurus. Semua ini merupakan karunia, kemurahan, dan anugerah Allah yang tidak terbatas. Allah Swt berfirman:

Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungsuhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan yang keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (al-Mâidah: 15-16)

Selain itu, seandainya pun menjauhi perkara yang haram dan melaksanakan perkara yang wajib tidak memberikan suatu manfaat bagi hamba, maka ia tetap harus melaksanakanya karena itu adalah tugas dan kewajiban seorang hamba. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku tidak menyembah-Mu karena takut akan neraka-Mu dan tidak pula karena serakah terhadap surga-Mu, tetapi aku mendapati bahwa Engkau layak untuk disembah, maka aku pun menyembah-Mu.”

Dengan demikian, tidak sepatutnya manusia, dalam beribadah, mengharapkan imbalan atau merasa takut akan siksaan. Banyak riwayat dari Ahlul Bait yang menegaskan agar manusia menyadari posisinya sebagai seorang hamba dan mengakui bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan dalam mengemban tugas menjadi seorang hamba.

Imam Musa al-Kazhim berkata, “Perbanyaklah mengucapkan, ‘Ya Allah, janganlah Engkau golongkan aku sebagai mu’ârîn dan jangan pula Engkau keluarkan aku dari muqashshirîn.’” Perawi bertanya kepada beliau, “Saya mengetahui arti dari mu’ârîn, yaitu agama dititipkan kepadanya sebagai amanat kemudian Dia akan mengambilnya kembali, tetapi saya tidak mengetahui apa maksud dari muqashshirîn itu?” Beliau menjawab, “Hendaklah Anda merasa kurang sempurna dalam melaksanakan berbagai amal perbuatan yang diinginkan oleh Allah Azza wa Jalla; karena sesungguhnya semua manusia itu, dalam amal perbuatannya antara mereka dan Allah, adalah sangat kurang, kecuali mereka yang dijaga oleh Allah Azza wa Jalla.”


Penjelasan mengenai Hawa Nafsu

Sebagian besar perkata yang menyebabkim kerugian adalah nafsu ammârah dan kecederungan hati, setan dan perkara yang dinampakkan indah oleh setan. Oleh karena itu, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib mengisyaratkan perkara-perkara ini dalam kalimat yang beliau ucapkan dalam doa yang mulia.

Al-Quran amat mencela tuntutan dan keinginan hawa nafsu, dan menyatakan bahwa hal itu adalah kesesatan dan kezaliman. Allah Swt berfirman:

Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. (al-An’âm: 119)

Maka jika mereka tidak menjawab (ajakanmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (al-Qashâsh: 50)

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat sesuai dengan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah lagi yang akan memberikan petunjuk sesudah Allah (membiarkan sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (al-Jâtsiah: 23)

Dan berulang kali Rasulullah saww dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib memperingatkan kita, “Sesungguhnya yang paling saya takutkan pada diri kalian ada dua perkara: mengikuti hawa nafsu dan angan-angan panjang. Adapun mengikuti hawa nafsu akan menghalangi (Anda dari) kebenaran, dan adapun angan-angan panjang akan (menjadikan Anda) melupakan akhirat.”

Alhasil, Allah Swt berfirman:

Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat (tinggal)nya. (al-Nâziât: 37-41)

Adapun nafsu ammârah, sekalipun secara substansial adalah “kejahatan” sebagaimana firman Allah: ...karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, tetapi nafsu itu sendiri tak ubahnya seperti air yang jika dijaga dan dikelola akan mendatangkan manfaat yang besar. Namun, jika tidak dijaga dan dikelola, ia akan mendatangkan bahaya yang besar.

Oleh karena itu, nafsu ammârah dapat memicu manusia dalam meraih kesempurnaan, jika manusia memang memiliki potensi untuk berada di sisi Tuhannya. Sebab, nafsu ammârah―sisi kebinatangan manusia―tak ubahnya semacam hewan tunggangan bagi ruh. Di sini, manusia harus menjaga keseimbangan tunggangannya itu sehingga dapat memperoleh manfaat darinya. Sementara, berkaitan dengan perkara yang dibuat indah oleh setan dengan tujuan untuk menyesatkan manusia, al-Quran menukil (perkataan setan yang hina):

Iblis berkata, “Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (al-Hijr: 39),

Dan yang dimaksud dengan menghias dan merias agar kebatilan dan perbuatan dosa nampak seakan-akan indah dan menarik adalah sebagaimana yang terjadi pada Nabi Adam as. Allah Swt berfirman:

Hai Adam tingallah kamu dan isterimu di dalam surga serta makanlah (buah-buahan) di mana saja kamu sukai, dan janganlah kamu mendekati pohon ini, lalu kamu akan termasuk orang-orang yang zalim. Maka setan membisikkan (pikiran jahat) kepada keduanya untuk menampakkan kepada mereka apa yang tertutup dari (tubuh) mereka yaitu auratnya dan setan berkata, “Tuhanmu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam sorga).” Dan setan bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya saya termasuk orang yang memberi nasihat bagimu,” maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu dengan tipu daya. (al-A’râf: 19-22)

...dan setan itu mengatakan, “Aku benar-benar akan mengambil di antara hamba-hamba Engkau sebagian yang sudah ditentukan (untukku). Dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka mengubahnya.” Barangsiapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. (al-Nisâ’: 118-119)

Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (al-Baqarah: 268)

Dalam ayat yang lain, Allah menukil perkataan setan yang terkutuk:

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang, dari kanan dan dari kiri. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (kepada Engkau). (al-A’râf: 16)

Dalam tafsir Majma’ al-Bayân disebutkan riwayat dari Imam Muhammad al-Baqir, (yang mengatakan bahwa setan menjelaskan) bahwa yang dimaksud “menyerang mereka dari muka” adalah ia membuat mereka memandang akhirat sebagai sesuatu yang tidak bernilai dan tidak berarti. Sedangkan maksud “menyerang mereka dari belakang” adalah ia memerintahkan kepada mereka untuk mengumpulkan harta dan ia tidak akan membiarkan mereka mengeluarkan harta yang wajib, sehingga harta tersebut dapat dinikmati oleh ahli waris. Sedangkan maksud, “menyerang mereka dari kanan” adalah bahwa ia merusak agama mereka dengan menampakkan sebagai keindahan berbagai dosa dan perkara yang syubhah (meragukan). Sedangkan maksud “menyerang mereka dari kiri” adalah bahwa ia menjadikan hati mereka terikat erat dengan hawa nafsu.

Inilah berbagai bentuk upaya setan dalam menyesatkan manusia. Selanjutnya kita akan memasuki pembahasan setan dalam bentuk hawa nafsu yang ada dalam manusia.


Setan Hawa Nafsu

Sekalipun setan hawa nafsu yang terdap dalam diri manusia merupakan kejahatan, namun itu merupakan kelembutan Allah yang tersembunyi. Mengapa demikian? Sebab, sekalipun nafsu ammârah yang ada dalam diri manusia merupakan setan yang terpendam dalam jiwa, namun usaha manusia dalam mencapai kesempurnaan lahiriah adalah dengan perantaraan keberadaan setan lahirih, sementara, kesempurnaan manusia secara batiniah juga dengan perantaraan keberadaan setan batiniah, yaitu nafsu ammârah.

Masalah ini dijelaskan oleh Allah Swt, dalam firman-Nya bahwa ujian dan cobaan atas manusia merupakan sebuah perkara yang mesti dan niscaya. Allah Swt berfirman:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami beriman,” sedang mereka tidak diuji, lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelumnya, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta. (al-Ankabût: 2-3)

Di sini, maksud pengetahuan Allah adalah pengetahuan terhadap berbagai sikap dan perbuatan manusiaatas peristiwa yang menimpa mereka, yang semua itu merupakan ujian dan cobaan. Allah Swt berfirman:

Dan sesungguhnya Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mehgucapkan, “Innâ lillâhi wa inna ilaihi râji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (al-Baqarah: 155-157)

Nampaknya, cobaan dan ujian ini bukan sebagaimana ujian yang diberikan oleh seorang guru terhadap muridnya, tetapi seperti pengujian kemurnian emas, dengan dilebur sehingga menjadi jelas berapa nilai karatnya. Ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Musa al-Kazhim dalam al-Kâfî, “Kalian akaa dididihkan sebagaimana emas dididihkan, dan kalian akan dimurnikan sebagaimana emas dimurnikan.” (Yakni unsur tembaga dipisahkan dari emas)

Dapat dikatakan bahwa ujian dan cobaan yang tercantum dalam al-Quran adalah dikarenakan dua perkara. Pertama, untuk memisahkan antara yang jujur dan bohong, sehingga diketahui dengan jelas siapa orang yang benar-benar berusaha keras dan siapa yang hanya bermalas-malasan, siapakah orang yang beriman dan siapakah orang yang ingkar.

Kedua, ujian dan cobaan diperlukan oleh manusia dalam upayanya mencapai kesempurnaan. Sebab, dengan ujian dan cobaan itu akan dapat diketahui dengan jelas tingkat keteguhan dan kesempurnaan iman, kesabaran, dan ketabahan (seseorang) dalam menghadapi kemaksiatan. Sekiranya bukan lantaran musibah dan bencana, sama sekali tidak akan diketahui wujud keteguhan dan ketabahan manusia dan sama sekali tidak akan ada usaha untuk meraih kesempurnaan.

Jika bukan lantaran bisikan dan rayuan nafsu ammârah dan setan, maka tidak akan ada artinya mengontrol dan membatasi kecenderungan yang ada dalam diri, dan tidak akan ada pula usaha untuk meraih kesempurnaan.

Dari sisi inilah dapat dikatakan bahwa di alam ini tidak sesuatu pun yang merupakan keburukan. Apa saja yang dianggap sebagai buruk, pada dasarnya adalah baik, atau minimal, keberadaannya, di alam ini merupakan kebaikan bagi alam ini.


Penjelasan tentang Upaya dan Perbuatan Setan

Usaha dan perbuatan setan itu tidak lain hanyalah bisikan dan rayuan semata. Ini sebagaimana yang telah kita ketahui bersama pada penjelasan yang terdapat-dalam ayat al-Quran. Selain itu manusia juga mendapatkan bisikan dan petunjuk rahmâni yang datangnya dari maikat serta petunjuk yang datangnya dari akal dan fitrah.

Lebih dari itu, manusia mendapatkan bimbingan dan petunjuk melalui pengutusan para nabi dan pengiriman kitab-kitab samawi. Selain itu, Allah juga mengingatkan manusia dalam berbagai firman-Nya bahwa setan itu adalah musuh yang nyata peringatan semacam ini juga tercantum dalam kitab-kitab terdahulu. Dalam al-Quran juga disebutkan peringatan ini, di hari pertama (kehadiran manusia) dalam bentuk perjanjian dan kesepakatan antara manusia dengan Allah. Allah Swt berfirman:

Bukankan Aku telah berjanji kepadamu, hai Bani Adam, supaya kamu tidak menyembah setan?

Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu. (Yâsîn: 60)

Oleh karena itu, setelah perjanjian ini, siapa saja yang masih tetap mengikuti ajakan dan rayuan setan, ia layak mendapatkan celaan dan cercaan. Ini sebagaimana pada hari kiamat nanti setan akan berkata kepada para pengikutnya:

Dan berkatalah setan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, kecuali (sekadar) menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, akan tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamu pun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapatkan siksaan yang pedih. (Ibrahim: 22)


Penjelasan tentang Qadha

Permasalahan ini telah dibahas secara luas dalam mukadimah pembahasan ini, tetapi yang perlu lebih dijelaskan adalah permasalahan yang ada pada kalimat doa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, serta qadha dan qadharku yang merupakan hasil usahaku sendiri dengan dibantu olehnya (setan). Semuanya itu (hawa nafsu, setan, qadha dan qadhar) menyebabkan aku melanggar sebagian batas yang Kau tetapkan bagiku dan (ku)tentang sebagian perintah-Mu. Kemudian beliau melanjutkannya dengan kalimat, “Namun bagi-Mu segala pujiku atas semuanya itu dan tidak ada hujah (alasan) bagiku (menolak) qadha-Mu yang berlaku padaku, (demikian pula) atas hukuman (tugas) dan ujian-Mu terhadapku.”


Macam-macam Bentuk Qadha dan Qadar

Manusia memiliki jenis qadha dan qadar yang ia sama sekali tidak memiliki kehendak, kebebasan, dan pilihan dalam menentukan qadha dan qadar tersebut. Qadha dan qadar semacam ini disebut dengan qadha dan qadar hatmî (pasti) atau jabrî (dipaksakan). Ini sebagaimana kematiannya yang pasti, atau aliran darah yang ada dalam tubuhnya, dan berbagai perkara yang semacamnya.

Ada jenis lain dari qadha dan qadar yang didasarkan pada kebebasan, kehendak, dan pilihan manusia. Qadha dan qadar semacam ini disebut dengan qadha dan qadar mu’allaq (bergantung), ikhtiyarî (berdasarkan pada kehendak), dan ghairu hatmî (tidak pasti). Sebagaimana, seorang yang sakit, bila ingin sembuh, harus minum obat, ataupun jika seseorang meminum racun, maka ia telah melakukan bunuh diri.

Oleh karena itu, dalam berbagai perumpamaan semacam itu, sembuh dari sakit, kematian seseorang lantaran meminum racun, merupakan qadha dan qadarnya. Namun, berdasarkan pada pilihan dan kebendaknya sendiri, jika ia meminum obat, maka qadha dan qadarnya adalah bahwa ia akan menjadi sehat, dan jika ia meminum racun maka qadha dan qadarnya adalah bahwa ia akan mati.

Kebahagiaan dan kesengsaraan seseorang berdasarkan pada qadha dan qadar semacam itu pula. Yakni, manusia itu sendirilah yang akan meraih kebahagiaan dengan cara menjauhi berbagai perbuatan haram dan melaksanakan berbagai kewajiban. Dalam hal ini, ia juga mertilliki kebebasan dan pilihan untuk melakukan berbagai perbuatan sesuka hatinya; meninggalkan tugas dan kewajiban atau mengerjakan berbagai perbuatan yang diharamkan Allah. Dengan begitu, qadha dan qadarnya adalah kesengsaraan yang ia pilih dan tentukan sendiri.

Oleh karena itu, seseorang yang menghambakan diri kepada setan, ia akan berada di bawah kekuasaan setan, dan ini merupakan qadha dan qadarnya akan tetapi seorang yang menghambakan diri kepada Allah maka ia tidak akan dikuasai oleh setan dan ini juga merupakan qadha dan qadarnya sebagian ayat al-Quran telah menyinggung masalah ini di antaranya:

Sesungguhnya hamba-hamba-ku tida ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (al-Hijr: 42)

Sesungguhnya kekuasaannya hanya terhadap orang-orang yang mengambilnya sebagai pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (al-Nahl: 100)

Oleh karena itu, siapa saja yang menjadikan setan sebagai pemimpinnya, ia telah mengikuti kehendak dan kemauan setan. Nafsu ammârah dan setan saling bekerja sama dalam mewujudkan qadha dan qadar ini, dan ini merupakan qadha dan qadar berdasarkan pada pillhan manusia sendiri. Dan siapa saja yang menghambakan diri kepada Allah, maka ia akan mengikuti seruan akal, nurani, batin, para nabi dan kitab-kitab samawî, dan semua itu akan membantu terwujudnya qadha dan qadar ini. Dan qadha dan qadar ini merupakan qadha dan qadar yang pilih bagi dirinya sendiri.

Karenanya, siapa saja yang berbuat sesuka hatinya dan tennakan tipuan setan maka ia tidak lagi memiliki hujuh untuk mengatakan bahwa qadha dan qadarlah yang telah menentukan semua itu. Akan tetapi Allah Swt memilki hujuh untuk mengatakan bahwa sekalipun terjadinya perkara itu merupakan hasil dari qadha dan qadar, tetapi bukankah qadha dan qadar itu sendiri berdasarkan pada pilihan, kehendak, dari kebebasan Anda?!


Penjelasan tentang Hukm (Hukuman) dan Balâ’ (Bencana) Ilahi atas Dosa-dosa

Ini merupakan peringatan dan tanda bahaya bagi para pelaku dosa. Sebagaimana yang tercantum dalam pengetahuan Islam yang sangat tinggi, balasan atas amal perbuatan itu ada tiga macam:

Pertama, hukuman dan hukum balas (qishâsh). Tak diragukan lagi bahwa hukuman semacam ini akan menjadi semakin berat jika dosa dan kesalahannya semakin berat. Oleh karena itu, jika seorang melanggar lalu lintas, ia akan mendapatkan denda hukuman beberapa Rial, atau mendekam beberapa hari di dalam penjara. Namun, jika seseorang melakuan pembunuhan maka hukumannya adalah dibunuh juga. Berkaitan dengan sanksi palanggaran undang-undang harus benar benar memperhatikan hukuman yang pantas bagi para pelanggar.

Kedua, pengaruh alamiah terhadap setiap perbuatan yang masyarakat awam biasa menyebutnya hukum karma. Karena itu jika seseorang melakukan perbuatan keji terlebih jika perbuatan keji tersebut berhubungan dengan hak masyarakat, maka ia akan merasakan dampak dan pengaruh duniawinya. Sedangkan jika seseorang melakukan perbuatan yang baik dan terpuji, maka ia akan mersakan belasan baik dalam kehidupan dunia ini sebagaimana ditegaskan oleh firman Allah:

Hai manusia sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri. (Hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi. Kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Yûnus: 23)

Siapapun yang mengerjakan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepdanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (al-Nahl: 97)

Ini sebagaimana meminum racun dan bunuh diri. Sekalipun sifatnya hanya sekejap saja; namun dampak alamiahnya adalah ia akan mati untuk selamanya dan kehidupan keluarganya akan senantiasa berada dalam kesusahan dan penderitaan. Dan seseorang yang berjuang keras dan mengorbankan apa yang ia miliki demi menuntut ilmu ataupun mencari harta, dampak alamiahnya adalah bahwa kehidupannya di masa datang akan berkecukupan dan keluarganya pun akan ikut merasakan kebahagiaan.

Ketiga, dampak dari perbuatan itu akan dirasakan dalam kehidupan di akhirat. Ini bukan sebagaimana pada bentuk pertama maupun bentuk kedua, namun dampak di akhirat ini adalah dampak nyata (‘ainî), yaitu penyatuan diri dengan amal perbuatan atau yang biasa disebut dengan tajassum al-‘amal. Dari berbagai ayat al-Quran dan riwayat dapat diketahui dengan jelas masalah ini. Amal perbuatanitu menjadi identitas manusia itu sendiri. Allah Swt berfirman:

...yaitu hari (ketika) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. (al-Naba’: 18)

Yakni, kalian akan datang dalam bermacam-macam bentuk. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis nabawi bahwa manusia akan dibangkitkan dalam sepuluh bentuk: sebagian kelompok berbentuk monyet, sebagian, lagi berbentuk babi, sebagian berbentuk anjing, dan seterusnya. Allah Swt berfirman:

Orang-orang yang berdosa dikenal dengan wajah-wajahnya, lalu dipegang ubun-ubun dan kakinya. (al-Rahman: 41)

Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu, dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka Jahanam. (al-Isrâ’: 97)

Di kala itu, tiap-tiap diri merasakan pembalasan dari apa yang telah dikerjakannya dahulu. (Yunus: 30)

Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan nafas dan menariknya (dengan merintih). (Hud: 106) [10]

Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan kami adalah orang-orang yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.”

Allah berfirman, “Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.” (al-Mu’minûn: 106-108) [11]

Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (di mukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengannya (amal yang telah berwujud) ada jarak yang jauh dan panjang; dan Allah memperingatkan kamu terhadap, siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. (Ali ‘Imrân: 30)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang- orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.

Mereka itulah orang-orang yang fasik. (al-Hasyr: 18-19)

...dan apabila surga didekatkan, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya. (al-Takwîr: 11-12)

Dan masih banyak lagi ayat yang berisikan pembahasan semacam ini.

Diceritakan bahwa Qais bin ‘Ashim berkata kepada Rasulullah saww, “Saya tinggal di tengah padang pasir. Dengan demikian maka saya tidak dapat senantiasa berada di samping Anda. Berilah saya nasihat yang dapat senantiasa saya amalkan.” Rasulullah saww bersabda, “Anda memiliki pendamping yang senantiasa menyertai Anda dan sama sekali tidak akan berpisah dengan Anda. Jika Anda mati, ia tetap hidup. Oleh karena itu, jika ia mulia, maka akan menyebabkan kemuliaan dan keagungan Anda, dan jika ia hina dan tercela, maka akan menyakitkan Anda, dan ia akan dikumpulkan (pada hari kiamat) bersama Anda dan Anda juga akan dimintai pertanggungjawaban atasnya.”

Qais bin ‘Ashim meminta agar permasalahan ini diungkapkan dalam bentuk syair, lalu Hassan bin Tsabit mengungkapkannya dalam sebuah syair:

Pilihlah perbuatan yang menyertaimu karena
Kawan seorang dalam kubur adalah amal perbuatannya
Dan setelah mati kamu harus menghitungnya
Untuk diterima pada hari dimana seorang diseru
Jika kamu sibuk dengan sesuatu maka janganlah
Kamu menyibukkan diri dengan yang bukan diridhai Allah
Tidak ada yang menemani manusia setelah kematiannya
Dan sebelumnya, melainkan yang pernah diperbuatnya
Ketahuilah bahwa manusia itu lemah bagi keluarganya
Tinggal dengan mereka hanya sekejap, lalu meninggalkannya

Dengan demikian, setiap orang dituntut untuk lebih memperhatikan amal perbuatannya ketimbang yang lain. Dalam berbagai hadis nabawi dan riwayat juga disebutkan:

“Dunia itu adalah lahan bercocok tanam untuk akhirat.”
“Akhirat itu adalah amal perbuatan kalian yang dikembalikan kepada kalian.”

Alhasil, amal perbuatan di dunia ini pasti akan menyertai setiap pelakunya dalam keadaan jelas dan nyata. Bahkan dapat dikatakan bahwa dalam dunia ini pun dapat disaksikan bentuk nyatanya. Bagi mereka yang memiliki basyirah (matahati), maka akan dapat memandang bentuk nyata dari amal perbuatan tersebut. Dan di akhirat nanti, dikarenakan manusia akan memiliki pandangan yang tajam, mereka akan dapat menyaksikan dengan jelas bentuk dan wujud dari amal perbuatannya. Allah Swt berfirman:

...maka Kami singkapkan daripadamu tutupan (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (Qâf: 22)

Dalam ayat yang lain, al-Quran menjelaskan kenyataan ini:

Dan (bagi) tiap-tiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (al-Isrâ’: 13-14)

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, dalam kalimat doanya, mengatakan, “(Demikian pula) alas hukuman (tugas) dan ujian-Mu terhadapku.”

Dengan demikian, atas sanggahan yang dilontarkan oleh (Bertrand) Russel dan orang-orang sepertinya yang terkenal sebagai ahli filsafatsekalipun mereka tidak memiliki “aroma” filsafat dan irfânyang mempertanyakan bagaimana mungkin Allah Swt menyiksa hamba-Nya dengan siksaan yang amat pedih hanya lantaran mereka telah melakukan dosa yang ringan saja, maka jawabannya adalah bahwa siksaan Allah Swt bukan bersifat ketetapan yang datang dari Allah secara sepenuhnya, sehingga kemudian (pantas) dijadikan sebagai sasaran bagi sanggahan mereka, namun siksaan itu merupakan amal perbuatan mereka sendiri yang berbentuk nyata dan menyatu dengan diri mereka.

Ada pertanyaan semacam itu yang diajukan kepada Imam Ja’far al-Shadiq, dan beliau memberikan jawaban seperti di atas pula. Imam al-Shadiq menjawab sebagai berikut, “Sesungguhnya Allah mengekalkan penghuni neraka di dalam neraka lantaran niat mereka sewaktu berada di dunia bahwa jika mereka dikekalkan di dunia, maka mereka akan tetap bermaksiat kepada Allah. Dan Allah mengekalkan para penghuni surga di dalam surga lantaran niat mereka selama di dunia bahwa jika mereka dikekalkan dalam kehidupan dunia, maka mereka akan tetap menaati Allah. Dan dikarenakan niat itulah maka mereka kekal di dalamnya.”

Kemudian Imam Ja’far al-Shadiq membacakan ayat ini: Katakanlah, “Tiap-tiap orang berbuat menurut caranya sendiri.” (al-Isrâ’: 84)

Al-Quran, dalam berbagai ayatnya, juga memberikan jawaban atas sanggahan yang dilontarkan oleh orang-orang semacam Russel. Allah Swt berfirman:

Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang dikerjakannya sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya. (al-Baqarah: 281)

Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan neraka berkata, “Aduhai celaka kami. Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka menyaksikan apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun. (al-Kahfi: 49)

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula. (al-Zalzalah: 7-8)


Referensi:

10. Karena kata zafir (mengeluarkan nafas) dan syahîq (menarik nafas), juga biasa disebutkan untuk keledai, maka dapat diketahui secara jelas bahwa pada hari kiamat nanti bentuk mereka adalah keledai.
11. Dari ayat ini dapat diketahui bahawa mereka dikumpulkan dalam bentuk anjing, sehingga mereka mendapatkan jawaban semacam itu.

(Sadeqin/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita:

Index »

KULINER

Index »

LIFESTYLE

Index »

KELUARGA

Index »

AL QURAN

Index »

SENI

Index »

SAINS - FILSAFAT DAN TEKNOLOGI

Index »

SEPUTAR AGAMA

Index »

OPINI

Index »

OPINI

Index »

MAKAM SUCI

Index »

PANDUAN BLOG

Index »

SENI