Dian Yulia Novi, tersangka teroris yang ditangklap polisi di Bekasi, Sabtu (10 Desember 2016), dalam wawancara dengan TvOne, Selasa, 13 Desember 2016. (Foto: TvOne)
Lembaga Daulat Bangsa mencatat bahwa perkembangan pola terorisme menunjukkan keterlibatan perempuan tidak lagi sebatas hanya menjadi simpatisan, melainkan sudah ada yang menjadi perencana dan pelaku aksi peledakan bom.
Hal itu dikemukakan Direktur Eksekutif Daulat Bangsa, M Sholehuddin, saat menjadi pemateri dalam kegiatan Rembuk Kebangsaan: Perempuan Pelopor Perdamaian di Bandung, Jawa Barat, pertengahan pekan ini. Sholehuddin juga mengemukakan faktor penyebab mengapa gejala semacam ini muncul.
Lembaga Daulat Bangsa (LDB) merupakan lembaga swadaya masyarakat yang banyak terlibat dalam pengkajian dan fasilitasi yang berkaitan dengan masalah sosial, ekonomi, hukum dan budaya dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.
Sholehuddin kemudian mengemukakan sejumlah temuan LDB terkait faktor penyebab kaum perempuan terlibat dalam perencanaan dan pelaku aksi peledakan bom.
Alasan pertama, menurutnya, adalah munculnya pola ikutan terhadap gejala yang terjadi terkait gerakan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
“Ini yang harus kita kritisi. Saya pernah mewawancarai seorang ulama asal Mesir yang menjadi ideolog ISIS. Dia mengaku sudah tobat, tapi di Indonesia ideologi itu masih dipakai,” ungkapnya.
Alasan kedua, dipilihnya perempuan menjadi pelaku terorisme, menurut Sholehuddin, karena semakin berkurangnya kaum laki-laki yang bersedia menjalani aksi tersebut akibat penindakan hukum oleh aparat keamanan.
“Menyikapi kondisi tersebut, kelompok pelaku terorisme mendorong perempuan yang sebelumnya hanya simpatisan untuk terjun menjadi pelaku,” ujarnya.
Untuk alasan ketiga, yang menurut Sholehuddin merupakan alasan paling utama, adalah daya efektivitas yang ada pada perempuan.
Dia mengungkapkan, hasil wawancaranya dengan Dian Yulia Novi alias Dian Bom Panci, perempuan yang ditangkap sebelum meledakkan bom panci di Istana Negara pada 2016 lalu menunjukkan dimanfaatkannya potensi yang ada pada perempuan, antara lain dalam mengelabuhi aparat keamanan.
“Dian itu setelah terpapar paham radikal, sehari-hari mengenakan cadar. Tapi saat berencana melakukan aksi peledakan bom di Istana Negara dia akan melepas cadarnya. Alasan lainnya wajar jika perempuan membawa panci, tapi pasti akan mudah dicurigai jika yang membawa adalah laki-laki,” urai Sholehuddin.
Alasan lain atau keempat, masih menurut Sholehuddin, berkaitan dengan kondisi psikologi. Perempuan disebutnya sebagai kelompok yang rentan terpengaruh pendiriannya.
“Lagi-lagi contohnya Dian Yulia Novi. Dia itu janda, kenal suaminya di media sosial, menjadi radikal dan mau melakukan aksi terorisme setelah dinikahi,” ujarnya.
Dijadikannya perempuan sebagai pelaku, kata Sholehuddin, harus disikapi negara bersama semua elemen masyarakat dengan aksi pencegahan terorisme oleh kaum perempuan juga.
Menurutnya, kaum perempuan memiliki banyak kelebihan untuk bisa dilibatkan dalam upaya pencegahan.
(Tribun-News/suaraislam/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Post a Comment
mohon gunakan email