Pesan Rahbar

Home » » Metode Ahlulbait as Dalam Mendidik Pengikut Setia

Metode Ahlulbait as Dalam Mendidik Pengikut Setia

Written By Unknown on Thursday 12 October 2017 | 14:03:00


Imam Al-Baqir a.s. berkata: “Demi Allah, kita tidak memiliki keterlepasan dari Allah SWT. Namun, tidak juga ada qarabah (kekeluargaan) antara kita dengan Allah. Kita juga tidak memlliki hujjah (argumentasi atas kebaikan yang telah kita lakukan untuk Allah SWT, penj). Allah tidak didekati kecuali dengan ketaatan. Untuk mereka yang taat di antara kalian, wilayah (kepemimpinan) kami akan berguna baginya. Mereka yang membangkang, wilayah kami tak berguna baginya”

Para Imam Ahlul-Bait sangat memperhatikan kualitas sahabat, pengikut, dan murid-murid yang mereka didik dari sisi akidah, akhlak, hukum-hukum, serta pemahaman mereka tentang agama.

“Aku sangat membenci jika ada seorang meninggal, sementara ada perkara dari Rasul SAWW yang belum ia laksanakan”.

Para Imam Ahlul-Bait sangat memperhatikan kualitas sahabat, pengikut, dan murid-murid yang mereka didik dari sisi akidah, akhlak, hukum-hukum, serta pemahaman mereka tentang agama.

Mereka mengarahkan yang demikian demi mewujudkan manusia muslim seutuhnya seperti yang dikehendaki oleh kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya SAWW; agar manusia dapat menggenggam obor hidayah dan ajakan menuju Islam; dapat menyinari manusia-manusia lain, dengan sinar ilmu dan amal; memimpin, untuk kembali memegang erat hukum-hukum Allah SWT.

Sehingga terwujud sebuah arus Islam bangkit untuk mengubah dan melakukan perbaikan sosial, setelah periode ketika oknum-oknum tertentu telah beraksi sewenang-wenang dalam merusak dan menyelewengkan agama.

Kita dapat melihat dengan jelas hakikat ini dalam sikap dan akhlak mereka, as. Itu dapat kita lihat pada wasiat, pesan, dan pendidikan ~misalnya Abi’l Ja’far Muhammad Al-Baqir a.s.terhadap murid-muridnya. Beliau menepis subhah yang muncul pada zaman beliau yang menyatakan bahwa cukuplah kecintaan terhadap AhlulBait as. bagi seorang muslim. Ia tidak perlu lagi mengerjakan kewajiban dan taklif yang ada.

Beliau menjelaskan standar yang sesungguhnya menjadi ajaran Ahlul-Bait as. bahwa umat Islam wajib mengikuti mereka dijalan itu. Jalan itu adalah jalan ilmu, akidah akhlaq, dan penerapan apa yang dihidangkan oleh Al-Qur‘an dan disampaikan oleh Nabi Muhammad SAWW.


Imam Al-Baqir a.s., menjelaskan demikian:
“Demi Allah, kita tidak memiliki keterlepasan dari Allah SWT. Namun, tidak juga ada qarabah (kekeluargaan) antara kita dengan Allah. Kitajuga tidak memlliki hujjah (argumentasi atas kebaikan yang telah kita lakukan untuk Allah SWT, penj). Allah tidak didekati kecuali dengan ketaatan. Untuk mereka yang taat di antara kalian, wilayah (kepemimpinan) kami akan berguna baginya. Mereka yang membangkang, wilayah kami tak berguna baginya”

‘Amr bin sa’id bin Hilal meriwayatkan:
“Kukatakan kepada Abi Ja’far:
“Semoga aku dijadikan jaminan bagimu. Sesungguhnya aku tidak akan melihatmu kecuali dalam beberapa tahun. Maka, berpesanlah kepadaku, niscaya aku laksanakan pesanmu itu”.

Beliau berkata:
“Aku wasiatkan kepadamu ketakwaan kepada Allah, wara’ (menjauhi hal yang subhat) dan ijtihad (berusaha mencari ilmu agama). Ketahuilah, tanpa ijtihad, wara’ tiada berguna”

Imam J a’far bin Muhammad ash-Shadiq berpesan kepada salah seorang sahabat beliau bemama aba Usamah. Kami membawakan cuplikan dari pesan tersebut:
“..Maka, bertakwalah kepada Allah. Jadilah kalian hiasan (bagi kami Ahlul-B ait), bukan corengan. Sambungkanlah kepada kami segala rasa kasih sayang. Iauhkan dari kami segala keburukan. Tidak semua yang diucapkan tentang kami, (kami) seperti itu adanya. Bagi kami, terdapat hak dalam kitab Allah. Kami berkeluarga dengan Nabi SAWW.

Kami disucikan oleh Allah. Baik dan bersih kelahiran kami. Tiada yang mengaku seperti itu selain kami, kecuali pendusta Perbanyaklah mengingat Allah, mengingat kematian, membaca Al-Qur’an, dan bershalawat atas Nabi SAWW. Sesungguhnyabagi setiap shalawat atas Nabi, ada sepuluh hadanah”.

Imam Ash-Shadiq a.s., berpesan kepada seorang sahabat bernama Ismail bin Ammar:
“Aku berpesan kepadamu tentang ketakwaan kepada Allah SWT, wara’, kejujuran dalam bertutur mengembalikan amanat, beretika dengan tetangga, dan memperbanyak sujud. Tentang itulah Muhammad SAWW memerintah kami”.

Hisyam bin Salim berkata: “Aku mendengar Aba ‘Abdillah berkata kepada Hamran:
“Lihatlah ke arah mereka yang berada di bawahmu. J angan engkau melihat mereka yang berada di atasmu. Itu akan menyebabkan engkau merasa cukup (qand ‘ah) dengan apa yang telah dibagikan untukmu. Itu juga mengurangi rasa ingin meminta tambahan dan’ Allah SWT. Ketahuilah, amalan bersambung yang didasari keyakinan lebih baik dari amalan bersambung yang tidak didasari keyakinan.

“Ketahuilah, tiada wara’ yang lebih berguna dari pada menjauhi apa-apa yang telah diharamkan oleh Allah SWT dan menjauhi penganiayaan terhadap muslim’m, atau mengumpat mereka Tiada hal lebih layak diucapkan kecuali dengan akhlak yang balk. Tiada harta lebih bermanfaat dari pada perasaan cukup dengan sedikit yang sudah mencukupi, Dan, tiada kebodohan lebih pahit dari pada ujub”.

Imam Shodiq meriwayatkan dari Rasulullah saww tentang sifat orang-orang beriman:
“Orang beriman adalah orang yang keburukannya membuat ia sedih, sementara kebaikannya mebuat ia senang”.,

Ahlul-Bait ingin mewujudkan dan mengembangkan sifat-sifat ini pada masing-masing orang Islam. Inilah standar mereka dalam mendidik masyarakat muslim Inilah ajakan mereka bagi umat Muhammad SAWW, yaitu komitmen terhadap Al-Qur’an dan sunnah Rasul SAWW.

Lalu, apakah yang menahan seorang muslim hingga tidak mau benaung di bawah panji mereka, mengikuti pesan mereka, atau mendengarkan peringatan mereka?


Referensi:

Buku “Ahlulbait, Nama-nama yang terlupakan: Telaah atas Fenomena, Metode dan Posisi Kesejahteraan Keluarga Nabi Muhammad saww” oleh Lajnah At Ta’lif Muassasah Al-Balagh

(Syiah-Menjawab/Tebyan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita: