WAHABi menuduh syi’ah sebagai KAUM PELAKNAT SAHABAT...
Ternyata syi’ah lebih dekat dengan NU daripada dengan wahabi.
NU berbeda akidah dengan wahabi ! ini bukti kongkret Akidah Wahabi adalah akidah Yahudi.
NU: Nahdliyin Tak Boleh Ikut Wahabi.
“Jangan sampai,” tegas Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siradj.
KH. Said Agil Siraj dan KH. Slamet Effendi Yusuf.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siradj, meminta kepada warga Nahdliyin agar tidak terseret gerakan Negara Islam Indonesia dan paham Wahabi.“Anak-anak Muslimat NU jangan sampai terlibat NII dan doktrin Wahabi yang antitahlil, antikubur (memegahkan kuburan). Jangan sampai. Jaga anak-anak, ya,” kata Said Aqil saat memberikan sambutan pada Kongres ke-16 Muslimat NU di Bandar Lampung, Kamis, 14 Juli 2011.
NU VS SALAFI WAHABI.
Konflik antara salafy dengan NU bukanlah konflik yang baru, namun sudah hampir mendarah daging. Warga NU baik di kota maupun pedesaan, baik yang liberal maupun yang tradisional, sepakat menolak segala bentuk pemahaman salafy, atau yang biasa mereka sebut sebagai “wahabi”.
Bukti kongkret Akidah Salafi – Wahabi adalah akidah Yahudi.
Bukti Kongkrit Akidah wahabi-salafi adalah Akidah Yahudi.
Para pembaca sekalian, mungkin banyak yang tidak mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya akidah wahabi-salafi, orang-orang awam pada umumnya hanya mengetahui bahwa akidah mereka menetapkan sifat-sifat Allah yang ada dalam al-Quran dan menghindari takwil karena takwil bagi mereka adalah perbuatan Yahudi.
Apalagi orang-orang yang telah menjadi doktrin mereka atau tertarik ajaran mereka sebab topeng yang mereka gunakan dengan slogan kembali pada Al-Quran dan Sunnah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan, maka sudah pasti akan melihat ajaran dan akidah mereka murni ajaran tauhid yang suci. Usaha keras untuk memberantas segala bentuk kesyirikan yang ada dan telah merata di seluruh permukaan bumi ini.
Tapi tidak bagi kaum muslimin yang memiliki pondasi Tauhid Ahlus sunnah waljama’ah, mereka akan mampu mengetahui dan melihat misi jahat yang diselipkan di belakang slogan itu. Seiring waktu berjalan, semakin terlihat, semakin terbongkar akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya, semakin tercium dan tampak persamaan akidah wahabi-salafi dan Yahudi. Mereka secara lahir menampakkan pada kaum muslimin permusuhan pada Yahudi, tapi secara sembunyi berteman akrab dengan Yahudi.
Pada kali ini, saya akan bongkar untuk pembaca akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya yaitu “ AKIDAH WAHABI-SALAFI ADALAH AKIDAH YAHUDI “. Tidak perlu saya mengambil sumber dari kitab-kitab para ulama ahlus sunnah yang menceritakan akidah wahabi. Jika saya nukil dari para ulama ahlu sunnah tentang perkataan tasybih dan tajsim mereka, maka mungkin mereka masih bisa menolak dan mengelak, mereka akan mengatakan itu fitnah dan tuduhan yang tak berdasar pada syaikh-syaikh kami, tapi saya akan tampilkan dengan bukti-bukti kuat akurat yang bersumber dari kitab-kitab karya ulama mereka sendiri yang sudah mereka cetak, terutama Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, ad-Darimi (bukan ad-Darimi sunni pengarang kitab sunan), Albani, Ibnu Utsaimin dan yang lainnya, Yang tak akan mampu mereka bantah.
Saya hanya menampilkan bukti-bukti kongkrit ini semata-mata hanya untuk suadara-saudaraku yang telah terpengaruh dengan akidah wahabi. Dan petunjuk hanyalah dari Allah Swt.
Jika masih ada wahabi yang membantah bukti dan penjelasan nyata ini, maka ibarat orang yang berusaha menutupi cahaya matahari yang terang benderang di sinag hari dengan segenggam tangannya.
1. Akidah Yahudi :
Di dalam naskah kitab Taurat yang sudah dirubah yang merupakan asas akidah Yahudi yang mereka namakan “ SAFAR AL-MULUK “ Al-Ishah 22 nomer : 19-20 disebutkan :
“ Dan berkata “ Dengarkanlah, ucapan Tuhan..aku telah melihat Tuhanku duduk di atas kursinya dan semua pasukan langit berdiri di hadapannya dari sebelah kanan dan kirinya “.
Dalam kitab mereka yang berjudul “ SAFAR AL-MAZAMIR “ Al-Ishah 47 nomer 8 disebutkan :
“ Allah duduk di atas kursi qudusnya “.
Akidah wahabi-salafi:
Di dalam kitab andalan wahabi-salafi yaitu Majmu’ al-Fatawa Ibnu Taimiyyah al-Harrani imam wahabi juz 4 halaman 374:
“ Sesungguhnya Muhammad Rasulullah didudukkan Allah di atas Arsy bersama Allah “.
Di dalam kitab “ Syarh Hadits an-Nuzul “ halaman 400 cetakan Dar al-‘Ashimah disebutkan bahwasanya Ibnu Taimiyyah berkata :
“ Semua hadits yang datang dari Nabi dengan lafadz qu’ud dan julus (duduk) bagi Allah seperti hadits Ja’far bin Abi Thalib dan hadits Umar, lebih utama untuk tidak disamakan dengan anggota tubuh manusia “.
Dalam halaman yang sama Ibnu Taimiyyah berkata :
“ Jika Allah duduk di atas kursi, maka terdengarlah suara suara saat duduk sebagaimana suara penunggang bintang tunggangan karena beratnya ”
Kitab tersebut dicetak di Riyadh tahun 1993, penerbit Dar al-‘Ashimah yang dita’liq oleh Muhammad al-Khamis.
Di dalam kitab ad-Darimi (bukan ulama sunni al-Hafdiz ad-Darimi pengarang hadits sunan) halaman 73 disebutkan :
“ Allah turun dari Arsy ke kursinya “
Kitab itu terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah yang dita’liq oleh Muhamamd Hamid al—Faqiy.
Kitab ad-Darimi (al-wahhabu) ini dipuji-puji oleh Ibnu Taimiyyah dan menganjurkannya untuk dipelajari, sebab inilah wahabi menjadi taqlid buta.
Tapi akidah mereka ini disembunyikan dan tidak pernah dipublikasikan ke khalayak umum.
Sekedar info : Lafadz duduk bagi Allah tidak pernah ada dalam al-Quran dan hadits.
2. Akidah Yahudi :
Di dalam naskah Taurat yang sudah ditahrif yang mereka namakan “ Safar at-Takwin Ishah pertama nomer : 26-28 disebutkan :
“ Allah berkata ; “ Kami buat manusia dengan bentuk dan serupa denganku…lalu Allah menciptakan manusia dengan bentuknya, dengan bentuk Allah, dia menciptakan laki-laki dan wanita “.
Akidah wahabi:
Di dalam kitab “ Aqidah ahlu Iman fii Khalqi Adam ‘ala shurati ar-Rahman “ karya Hamud bin Abdullah at-Tuajari syaikh wahabi, yang dicetak di Riyadh oleh penerbit Dar al-Liwa cetakan kedua, disebutkan dalam halama 16:
“ Berkata Ibnu Qathibah “ Lalu aku melihat di dalam Taurat : “ Sesungguhnya Allah ketika menciptakan langit dan bumi, Dia berkata : “ Kami ciptakan manusia dengan bentukku “.
Pada halaman berikutnya di halaman 17 disebutkan :
“ Di dalam hadits Ibnu Abbas : “ Sesungguhnya Musa ketika memukul batu untuk Bani Israil lalu keluar air dan berkata : “ Minumlah wahai keledai, maka Allah mewahyukan pada Musa “ Engkau telah mencela satu makhluk dari makhlukku yang Aku telah ciptakan mereka dengan rupaku, lalu engkau samakan mereka dengan keledai “ Musa terus ditegor oleh Allah “.
Naudzu billah dari pendustaan pada Allah dan pada para nabi-Nya.
Akidah Yahudi:
Disebutkan dalam kitab Yahudi yang mereka namakan “ Safar Khuruj “ ishah 19 nomer : 3-6 :
“ Maka Tuhan memanggil kami dari bukit….sekarang jika kalian mendengar suaraku dan menjaga janjiku “.
Akidah wahabi :
Di dalam kitab “ Fatawa al-Aqidah “ karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang dicetak Maktabah as-Sunnah cetakan pertama tahun 1992 di Mesir, pada halaman 72 Ibnu Utsaimin berkata :
“ Dalam hal ini dijelaskan adanya penetapan akan ucapan Allah Swt. Dan sesungguhnya ucapan Allah itu berupa huruf dan suara. Karena asli ucapan itu harus adanya suara. Maka jika dikatakan ucapan, maka sudah pasti ada suara “.
3. Akidah Yahudi:
Di dalam kitab taurat yang sudah ditahrif yang mereka namakan dengan “ SAFAR ISY’IYA “ Ishah 25 nomer 10, Yahudi berkata :
“ Sesungguhnya tangan Tuhan istiqrar / menetap di gunung ini “
Akidah wahabi:
Dalam kitab Fatawa al-Aqidah karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang diterbitkan oleh Maktabah as-Sunnah cetakan pertama halaman 90, al-Utsaimin berkata :
“ kesimpulannya, sesungguhnya kedua tangan Allah itu ada dua tanpa ragu lagi. Satu tangannya berlainan dari tangan satunya. Jika kita sifatkan tangan Allah dengan sebelah kiri, maka yang dimaksud bukanlah suatu hal yang kurang dari tangan kanannya “.
4 Akidah Yahudi:
Di dalam kitab Yahud “ Safar Mazamir “ Ishah 2 nomer : 4 disebutkan :
“ Yang tinggal di langit, Tuhan sedang tertawa “.
Akidah wahabi:
Di dalam kitab “ Syarh Hadits an-Nuzul “ cetakan Dar al-’Ashimah halaman 182, Ibnu Taimiyyah berkata :
“ Sesungguhnya Allah itu di atas langit dengan Dzatnya “.
Di dalam kitab “ Qurrah Uyun al-Muwahhidin “ karya Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab (cicit Muhammad bin Abdul wahhab), cetakan Maktabah al-Muayyad tahun 1990 cetakan pertama, halaman 263 disebutkan :
“ Sepakat kaum muslimin dari Ahlus sunnah bahwa sesungguhnya Allah beristiwa di Arsy dengan dzat-Nya…Allah beristiwa di atas Arsy secara hakekat bukan majaz “.
Dan masih segudang lagi akidah-akidah wahabi-salafi yang meyakiniTuhannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya sebagaimana akidah Yahudi.
Dan masih segudang lagi akidah-akidah wahabi-salafi yang meyakiniTuhannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya sebagaimana akidah Yahudi. Dan jika saya beberkan semuanya, maka akan menjadi lembaran yang sangat banyak. Cukup yang singkat sedikit ini membuktikan bahwa akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya adalah akidah Yahudi.
Menelanjangi Kesesatan Salafi Wahabi.
Judul: Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi
Penulis: Syaikh Idahram
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Cetakan: I, 2011
Tebal: 340 halaman, 13,5 x 20,5 cm
ISBN: 602-8995-02-3
Peresensi: Hairul Anam
Selama ini, kaum Salafi Wahabi selalu getol menyesatkan umat Islam yang tak selaras dengan ideologinya. Mereka cenderung melakukan beragam cara, terutama melalui tindakan-tindakan anarkis yang meresahkan banyak kalangan.
Padahal, ketika dilakukan kajian mendalam, justru Salafi Wahabi-lah yang sarat dengan pemahaman menyesatkan. Sesat karena berbanding terbalik dengan ajaran Islam yang terkandung di dalam hadis dan al-Qur’an. Setidaknya, buku ini memberikan gambaran jelas akan hal itu.
Buku berjudul Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi, ini secara komprehensif mengungkap kesesatan pemikiran para ulama yang menjadi panutan utama kaum Salafi Wahabi. Didalamnya dijelaskan betapa para ulama Salafi Wahabi itu menggerus otentisitas ajaran Islam, disesuaikan dengan kepentingan mereka. Terdapat tiga tokoh utama Salafi Wahabi: Ibnu Taimiyah al-Harrani, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, dan Muhammad Nashiruddin al-Albani. Pemikiran mereka nyaris tidak membangun jarak dengan kerancuan serta beragam penyimpangan.
Penyimpangan yang dilakukan Ibnu Taimiyah (soko guru Salafi Wahabi) ialah meliputi spirit menyebarkan paham bahwa zat Allah sama dengan makhluk-Nya, meyakini kemurnian Injil dan Taurat bahkan menjadikannya referensi, alam dunia dan makhluk diyakini kekal abadi, membenci keluarga Nabi, menghina para sahabat utama Nabi, melemahkan hadis yang bertentangan dengan pahamnya, dan masih banyak lagi lainnya.
Dalam pada itu, wajar manakala ratusan ulama terkemuka dari berbagai mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Ja’fari/Ahlul Bait, dan Syiah Itsna Asyariah) sepakat atas kesesatan Ibnu Taimiyah, juga kesesatan orang-orang yang mengikutinya, kaum Salafi Wahabi. Lihat di antaranya kitab al-Wahhabiyah fi Shuratiha al-Haqiqiyyah karya Sha’ib Abdul Hamid dan kitab ad-Dalil al-Kafi fi ar-Raddi ‘ala al-Wahhabi karya Syaikh Al-Bairuti. (hal. 90).
Sebagai penguat dari fenomena itu, terdapat ratusan tokoh ulama, ahli fikih dan qadhi yang membantah Ibnu Taimiyah. Para ulama Indonesia pun ikut andil dalam menyoroti kesesatan Ibnu Taimiyah ini, seperti KH Muhammad Hasyim Asy’ari (Rais ‘Am Nahdhatul Ulama dari Jombang Jawa Timur), KH. Abu al-Fadhl (Tuban Jawa Timur), KH. Ahmad Abdul Hamid (Kendal Jawa Tengah), dan ulama-ulama nusantara tersohor lainnya.
Pendiri Salafi Wahabi, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, juga membiaskan pemikiran yang membuat banyak umat Islam galau kehidupannya. Ragam nama dan pemikiran ulama yang menguak penyimpangannya dimunculkan secara terang-terangan dalam buku ini, dilengkapi dengan argumentasi yang nyaris tak bisa terpatahkan.
Dibanding Ibnu Taimiyah, sikap keberagamaan Abdul Wahab tak kalah memiriskan. Ada sebelas penyimpangan Abdul Wahab yang terbilang amat kentara. Yakni: Mewajibkan umat Islam yang mengikuti mazhabnya hijrah ke Najd, mengharamkan shalawat kepada Nabi, menafsirkan al-Qur’an & berijtihad semaunya, mewajibkan pengikutnya agar bersaksi atas kekafiran umat Islam, merasa lebih baik dari Rasulullah, menyamakan orang-orang kafir dengan orang-orang Islam, mengkafirkan para pengguna kata “sayyid”, mengkafirkan ulama Islam di zamannya secara terang-terangan, mengkafirkan imam Ibnu Arabi, Ibnu Sab’in dan Ibnu Faridh, mengkafirkan umat Islam yang tidak mau mengkafirkan, dan memuji kafir Quraisy-munafik-murtad tapi mencaci kaum Muslimin. (hal. 97-120).
Nasib Abdul Wahab tidak jauh beda dengan Ibnu Taimiyah; ratusan tokoh ulama sezaman dan setelahnya menyatakan kesesatannya. Di antara para ulama yang menyatakan hal itu adalah ulama terkenal Ibnu Abidin al-Hanafi di dalam kitab Radd al-Mukhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar. Juga Syaikh ash-Shawi al-Mishri dalam hasyiah-nya atas kitab Tafsir al-Jalalain ketika membahas pengkafiran Abdul Wahab terhadap umat Islam.
Searah dengan Ibnu Taimiyah dan Abdul Wahab, Muhammad Nashiruddin al-Albani melakukan tindakan yang membentur kemurnian ajaran Islam. Ia telah mengubah hadis-hadis dengan sesuatu yang tidak boleh menurut Ulama Hadis. Sehingga, sebagaimana diakui Prof Dr Muhammad al-Ghazali, al-Albani tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam menetapkan nilai suatu hadis, baik shahih maupun dhaif.
Selain ketiga ulama di atas, ada 18 ulama Salafi Wahabi yang juga diungkap dalam buku ini. Mereka telah menelorkan banyak karya dan memiliki pengaruh besar terhadap konstelasi pemikiran kaum Salafi Wahabi. Di samping itu, Syaikh Idahram juga menghimbau agar umat Islam mewaspadai terhadap tokoh Salafi Wahabi generasi baru. Mereka adalah anak murid para ulama Salafi Wahabi. Secara umum, mereka berdomisili di Saudi Arabia.
Menariknya, buku ini kaya perspektif. Referensi yang digunakannya langsung merujuk pada sumber utama. Data-datanya terbilang valid. Validitas data tersebut dapat dimaklumi, mengingat karya fenomenal ini berpangkal dari hasil penelitian selama sembilan tahun, mulai 2001 sampai 2010. Selamat membaca!
Ibnu Taimiyyah dan wahabi Menshahihkan Hadis mungkar (“Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”) dan mengunakannya untuk masalah aqidah.
Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”.Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan dinyatakan shahih oleh syaikh salafy wahabi dan syaikh salafy yang terkenal Ibnu Taimiyyah.
Takhrij Hadis Ibnu Abbas:
Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat Rabbku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”.
Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Asmaa’ was Shifaat no 938, Ibnu Ady dalam Al Kamil 2/260-261, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 13/55 biografi Umar bin Musa bin Fairuz, Adz Dzahabi dalam As Siyaar 10/113 biografi Syadzaan, Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 122, 123, 125, 126,127 ,129, dan 143 (dengan sedikit perbedaan pada lafaznya), Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 15. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Sedangkan yang meriwayatkan dari Hammad adalah Aswad bin Amir yakni Syadzaan (tsiqat dalam At Taqrib 1/102), Ibrahim bin Abi Suwaid (tsiqat oleh Abu Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil 2/123 no 377), Abdush Shamad bin Kaisan atau Abdush Shamad bin Hasan (shaduq oleh Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 6/51 no 272).
Hadis ini maudhu’ dengan sanad yang dhaif dan matan yang mungkar. Hadis ini mengandung illat
* Hammad bin Salamah, ia tidak tsabit riwayatnya dari Qatadah. Dia walaupun disebutkan sebagai perawi yang tsiqah oleh para ulama, dia juga sering salah karena kekacauan pada hafalannya sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 3 no 14 dan At Taqrib 1/238. Disebutkan dalam Syarh Ilal Tirmidzi 2/164 yang dinukil dari Imam Muslim bahwa Hammad bin Salamah banyak melakukan kesalahan dalam riwayatnya dari Qatadah. Oleh karena itu hadis Hammad bin Salamah dari Qatadah ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika menyendiri dan lafaznya mungkar.
* Tadlis Qatadah, Ibnu Hajar telah menyebutkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 92 sebagai mudallis martabat ketiga, dimana Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada martabat ketiga hadis perawi mudallis tidak dapat diterima kecuali ia menyebutkan penyimakannya dengan jelas. Dalam Tahrir At Taqrib no 5518 juga disebutkan bahwa hadis Qatadah lemah kecuali ia menyebutkan sama’ nya dengan jelas. Dalam hadis ini Qatadah meriwayatkan dengan ‘an ‘anah sehingga hadis ini lemah.
Kelemahan sanad hadisnya ditambah dengan matan yang mungkar sudah cukup untuk menyatakan hadis ini maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal no 15. Kemungkaran hadis ini juga tidak diragukan lagi bahkan diakui oleh Baihaqi dan Adz Dzahabi dalam As Siyaar. Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 13/55 menyatakan hadis ini maudhu’.
Ibnu Taimiyyah dan Syaikh wahabi ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas ini. Ibnu taymiyah dan wahabi dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis dengan lafal pemuda amrad dalam kitabnya Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290.
Dan ini penggalan kitab tersebut juz 7 hal 290 dimana Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadis Ru’yah dengan lafal pemuda amrad.
Tentu saja fenomena ini adalah keanehan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka begitu berani menshahihkan hadis tersebut bahkan mengecam orang yang mengingkarinya dan menggunakannya dalam masalah aqidah.
Inilah tuhan kaum hindu (dajjal kriting dari india ‘sami baba’) sama dengan tuhan yang dinanti nantikan oleh kaum mujasimmah wahabi:
tapi sayang sai baba sudah mampus.
AQIDAH WAHHABI: “ALLAH SERUPA DENGAN NABI ADAM”. (berbukti)
INILAH AKIDAH SESAT WAHHABI YANG DISEBARKAN OLEH WAHHABI SEKARANG :” ALLAH SERUPA, SAMA & SEPERTI NABI ADAM “.
DI ATAS ADALAH COVER MUKA DEPAN KITAB WAHHABI YANG BERJUDUL: “AQIDAH AHL IMAN FI KHOLQI ADAM ‘ALA SURATIR RAHMAN”.
DALAM KITAB WAHHABI TERSEBUT MEREKA MENDAKWA BAHAWA RUPA BENTUK GAYA DAN DIRI ALLAH ITU SAMA DAN SERUPA DENGAN BENTUK RUPA NABI ADAM. NA’UZUBILLAH.
INILAH BUKTI BAHAWA WAHHABI SEMEMANGNYA MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK SEDANGKAN TIADA SATU AYAT ATAU HADITH PUN YANG MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK DAN TIADA SATU NAS YANG SAHIH PUN MENYATAKAN “RUPA BENTUK ALLAH SERUPA DENGAN RUPA BENTUK NABI ADAM”.LIHATLAH PADA TAJUK KITAB TERSEBUT IANYA AMAT MENGERIKAN DAN JELAS WAHHABI MENYATAKAN “ALLAH SERUPA DENGAN MAKHLUK”.
Saya (husain ardilla) menyatakan: Inilah sejenis bukti pengakuan wahhabi sendiri yang diakui oleh pendokongnya bahawa akidah mereka sememangnya adalah Allah serupa dengan makhluk.
Ketahuilah bahawa akidah Islam sebenar Allah tidak menyerupai makhlukNya dan Allah tidak bersifat rupa paras mahupun rupa bentuk.Dan saya mengatakan akidah tersebut adalah ruh akidah Yahudi sendiri. Ini kerana Yahudi juga mendakwa Allah Berbentuk dan Allah mencipta manusia seperti rupa parasNya.
Lihat akidah yahudi tersebut di : http://www.arabicbible.com/bible/ot/gen/1.htm
Dalam kitab orang Yahudi berjudul Muqaddas Awwal Safar Takwin Al-Ishah Awwal 26 Yahudi mendakwa:
dan Yahudi juga mendakwa:
Kedua-dua akidah yahudi itu amat jelas menyatakan Allah mencipta manusia seperti rupa bentuk Allah. Wahhabi juga berakidah sedemikian. Subhanallah.
BIN BAZ AL-WAHHABI PADA KITAB TERSEBUT TELAH MEMUJI AKIDAH TAJSIM YANG MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK. (1)
BIN BAZ AL-WAHHABI AKIDAH TAJSIM (2)
DI ATAS ADALAH COP DAN PENGAKUAN DARI AL-WAHHABI ABDUL AZIZ BIN BAZ BAHAWA KITAB WAHHABI TADI YANG MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK DAN RUPA BENTUK ALLAH ITU SAMA DENGAN RUPA BENTUK NABI ADAM MERUPAKAN AKIDAH YANG DIBAWA OLEH KESEMUA WAHHABI TERMASUK KESEMUA WAHHABI DI MALAYSIA.
INI ISI KANDUNGAN KITAB WAHHABI TERSEBUT YANG JELAS MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK.
DI ATAS ADALAH ISI KANDUNGAN KITAB WAHHABI TADI YANG DIAKUI OLEH BIN BAZ AL-WAHHABI MENYATAKAN AKIDAH MEREKA BAHAWA ALLAH SERUPA DENGAN MANUSIA DAN SERUPA DENGAN SEGALA MAKHLUK-MAKHLUKNYA SERTA WAHHABI MENGUNAKAN HUJAH DARI YAHUDI KITAB TAURAT (MUHARRAFAH) YANG TELAH DITUKAR DAN DIUBAH. WAHHABI TIDAK MENGUNAKAN ALQURAN DAN HADITH TETAPI MENGUNAKAN KENYATAAN YAHUDI DALAM HAL ASAS AKIDAH. PERHATIKAN PADA LINE YANG TELAH DIMERAHKAN AMAT JELAS KESEMUA WAHHABI MENDAKWA ALLAH MENCIPTA MANUSIA SERUPA DENGAN DIRI ALLAH SENDIRI. INILAH AKIDAH MUJASSIMAH AL-YAHUDIYAH YANG DIHIDUPKAN OLEH AL-WAHHABIYAH.
semoga Allah memberi hidayah iman kepada Wahhabi.
2. Ibnu Taimiyyah dan wahabi Menshahihkan Hadis mungkar(“Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”) dan mengunakannya untuk masalah aqidah
Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”.Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan dinyatakan shahih oleh syaikh salafy wahabi dan syaikh salafy yang terkenal Ibnu Taimiyyah.
Takhrij Hadis Ibnu Abbas:
Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat Rabbku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”.
Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Asmaa’ was Shifaat no 938, Ibnu Ady dalam Al Kamil 2/260-261, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 13/55 biografi Umar bin Musa bin Fairuz, Adz Dzahabi dalam As Siyaar 10/113 biografi Syadzaan, Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 122, 123, 125, 126,127 ,129, dan 143 (dengan sedikit perbedaan pada lafaznya), Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 15. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas.
Sedangkan yang meriwayatkan dari Hammad adalah Aswad bin Amir yakni Syadzaan (tsiqat dalam At Taqrib 1/102), Ibrahim bin Abi Suwaid (tsiqat oleh Abu Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil 2/123 no 377), Abdush Shamad bin Kaisan atau Abdush Shamad bin Hasan (shaduq oleh Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 6/51 no 272).
Hadis ini maudhu’ dengan sanad yang dhaif dan matan yang mungkar. Hadis ini mengandung illat
* Hammad bin Salamah, ia tidak tsabit riwayatnya dari Qatadah. Dia walaupun disebutkan sebagai perawi yang tsiqah oleh para ulama, dia juga sering salah karena kekacauan pada hafalannya sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 3 no 14 dan At Taqrib 1/238. Disebutkan dalam Syarh Ilal Tirmidzi 2/164 yang dinukil dari Imam Muslim bahwa Hammad bin Salamah banyak melakukan kesalahan dalam riwayatnya dari Qatadah. Oleh karena itu hadis Hammad bin Salamah dari Qatadah ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika menyendiri dan lafaznya mungkar.
* Tadlis Qatadah, Ibnu Hajar telah menyebutkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 92 sebagai mudallis martabat ketiga, dimana Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada martabat ketiga hadis perawi mudallis tidak dapat diterima kecuali ia menyebutkan penyimakannya dengan jelas. Dalam Tahrir At Taqrib no 5518 juga disebutkan bahwa hadis Qatadah lemah kecuali ia menyebutkan sama’ nya dengan jelas. Dalam hadis ini Qatadah meriwayatkan dengan ‘an ‘anah sehingga hadis ini lemah.
Kelemahan sanad hadisnya ditambah dengan matan yang mungkar sudah cukup untuk menyatakan hadis ini maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal no 15. Kemungkaran hadis ini juga tidak diragukan lagi bahkan diakui oleh Baihaqi dan Adz Dzahabi dalam As Siyaar. Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 13/55 menyatakan hadis ini maudhu’.
Ibnu Taimiyyah dan Syaikh wahabi ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas ini. Ibnu taymiyah dan wahabi dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis dengan lafal pemuda amrad dalam kitabnya Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290.
Dan ini penggalan kitab tersebut juz 7 hal 290 dimana Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadis Ru’yah dengan lafal pemuda amrad.
Tentu saja fenomena ini adalah keanehan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka begitu berani menshahihkan hadis tersebut bahkan mengecam orang yang mengingkarinya dan menggunakannya dalam masalah aqidah.
Anda jangan terperanjat jika kami katakan akidah Salafi Wahabi itu sangat mirip dengan akidah Yahudi dan Nasrani. Benarkah demikian? Mari kita buktikan bersama!
Akidah tajsim dan tasybih telah menggelincirkan Salafi Wahabi hingga pada suatu keyakinan bahwa Allah seperti sosok seorang pemuda , berambut ikal , bergelombang dan mengenakan baju berwarna merah. Klaim ini dikatakan oleh Ibnu Abu Ya’la dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah. Abu Ya’la mendasarkan pernyataan itu kepada hadits berikut:
“Dari Ikrimah: bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah melihat Tuhanku SWT berupa seorang pemuda berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah.” (Ibnu Abu Ya’la: Thabaqat al-Hanabilah, jilid 2, halaman 39).
Sungguh keji pengaruh riwayat palsu di atas. Riwayat-riwayat palsu produk pikiran Yahudi itu kini berhasil membodohi akal pikiran para pengikut Salafi Wahabi, sehingga mereka menerima keyakinan seperti itu. Tidak diragukan lagi, hadits semacam ini adalah kisah-kisah Israiliyat yang bersumber dari orang-orang Bani Israil.
Salafi Wahabi memperjelas hadits di atas dengan hadits lain yang bercerita tentang Allah duduk di atas kursi emas, beralaskan permadani yang juga terbuat dari emas, dalam sebuah taman hijau. Singgasana (Arsy) Allah dipikul oleh empat malaikat dalam rupa yang berbeda-beda, yaitu seorang lelaki, singa, banteng dan burung elang. Keyakinan aneh semacam ini dipaparkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid wa Itsbat Shifat ar-Rab.
Siapakah Ibnu Khuzaimah? Dia adalah salah seorang ulama ahli hadits yang banyak dipakai oleh Salafi Wahabi untuk dijadikan referensi. Namun setelah semakin matang dalam pengembaraan intelektualnya, Ibnu Khuzaimah menyesali diri telah menulis kitab tersebut, seperti dikisahkan oleh al-Hafidz al-Baihaqi dalam kitab al-Asma wa ash-Shifat hal. 267.
Walaupun begitu, soko guru Salafi Wahabi, yaitu Ibnu Taimiyah tetap mengatakan bahwa Ibnu Khuzaimah adalah ”Imamnya Para Imam” karena menurutnya telah banyak meriwayatkan hadits-hadits ’shahih’ tetang hakikah Dzat Tuhan (padahal yang sebenarnya hadits-hadits itu kenal dengan nuansa tasybih dan hikayat Israiliyat). Oleh karena itu, ketika mengomentari sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Taimiyah berkata :
”Hadits ini telah diriwayatkah oleh ’Imamnya Para Imam’ yaitu Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid yang telah ia syaratkan untuk tidak berhujjah di dalamnya melainkan dengan hadits-hadits yang dinukil oleh perawi adil dari perawi adil lainnya, sehingga bersambung kepada Nabi SAW” (Ibnu Taimiyah: Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah, Jilid 3, hal. 192).
Maka tak heran jika Ibnu Taimiyah pun berkeyakinan sama buruknya, seperti dalam Majmu’ Fatawa j. 4, h. 374, Ibn Taimiyah berkata “Para ulama yang diridlai oleh Allah dan para wali-Nya telah menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad didudukan oleh Allah di atas ‘arsy bersama-Nya”.
Awalnya Ibnu Khuzaimah sangat meyakini bahwa seluruh hadits yang ia muat di dalam kitabnya adalah shahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebab menurut pengakuannya ia telah meriwayatkanya dengan sanad bersambung melalui para periwayat yang adil dan terpercaya. Demikian sebagaimana ia tegaskan di awal kitab tersebut dan juga tertulis di cover depan kitab at-Tauhid tersebut.
Gambar dibawah ini adalah scan teks tentang keyakinan tasybih dari Kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983, halaman 198.
AQIDAH WAHHABI ‘ALLAH DUDUK’ = AQIDAH YAHUDI DAN NASRANI.
Ketahuilah bahwa aqidah yg dibawa oleh Wahhabi adalah aqidah yang bersumberkan dari Yahudi dan Kristiani yang coba diserapkan dalam masyarakat islam demi memecahbelah umat islam dan bertujuan agar umat islam menjadi Yahudi dan Nasoro, kemudian bersenang-senanglah Iblis bersama mereka di neraka kelak!
Inilah Yahudi dengan kerjasama penuh dari Wahhabiyah dalam menyesatkan umat islam di tanah air kita ini :
- Akidah ” Allah Duduk” Adalah Akidah Yahudi.
Dalam kitab Yahudi Safar Al-Muluk Al-Ishah 22 Nomor 19-20, Yahudi menyatakan akidah kufur di dalamnya :
“Berkata : Dengarkanlah engkau kata-kata Tuhan,telah ku lihat Tuhan duduk di atas kursi dan ke semua tentera langit berdiri di sekitarnya kanan dan kiri” .
- Ibnu Taimiah ikut Membantu Yahudi Menyebarkan Akidah Yahudi ” Allah Duduk ”
Dalam kitab Ibnu Taimiah Majmu Fatawa Jilid 4 / 374 :
“Sesungguhnya Muhammad Rasulullah, Tuhannya mendudukkannya diatas arasy bersamaNya”.
Tidak cukup dengan itu Ibnu Taimiah turut mengunakan lafaz kufur Yahudi demi men-yahudikan umat islam :
Dalam Kitab Ibnu Taimiyah berjudul Syarh Hadith Nuzul cetakan Darul Asimah :
” Apabila Tuhan duduk di atas kursi maka akan terdengarlah bunyi seperti kursi baru diduduki”.
Lihatlah! Yahudi berkata Allah Duduk…Ibnu Taimiyah berkata Allah Duduk.
TAPI AL-QURAN DAN HADIST NABI YANG SHAHIH TIDAK PERNAH MENYATAKAN ALLAH DUDUK.
Kalau kita lihat dalam website Kristiani : http://www.hesenthisword.com/lessons/lesson5.htm
lihat pada :
Kristiani berkata pada nomor 7 :
“Allah Duduk Di atas Kursi Yang Tinggi”.
Wahhabi Turut Membantu Menghidupkan Kekufuran Kristian Dengan Memalsukan Hadith Nabi:
DALAM KITAB WAHHABI : FATHUL MAJID SYARH KITAB AT-TAUHID KARANGAN ABDUR RAHMAN BIN HASAN AAL AS-SYEIKH DISOHIHKAN OLEH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ CETAKAN PERTAMA TAHUN 1992 BERSAMAAN 1413 MAKTABAH DARUL FAIHA DAN MAKTABAH DARUL SALAM.
Cetakan ini pada hal 356 yg tertera kenyatan kufur yg dianut oleh Wahhabi sebagai hadis ( pd hakikatnya bukan hadis Nabi ) adalah tertera dalam bahasa arabnya berbunyi:
” IZA JALASA AR-ROBBU ‘ALAL KURSI “.
” Apabila Telah Duduk Tuhan Di Atas Kursi “.
TETAPI AL-QURAN DAN HADITH SHAHIH TIDAK PERNAH MENYATAKAN DEMIKIAN !
Perlu diketahui, Imam asy-Syafi’I pun terang-terangan menyatakan kekufuran bagi orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.
Ibn al Mu’allim al Qurasyi (W. 725 H) menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih …fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn (W. 462 H) bahwa al Imam asy-Syafi’I menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).
Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).
Untuk lebih jelasnya kami tuliskan ulang hadits Israiliyat yang sudah menjadi bagian dari keyakinan kaum Salafi Wahabi itu sebagai berikut :
….. Abdullah ibnu Umar ibnu al-Khaththab mengutus seseorang untuk menemui Ibnu Abbas menanyainya, ”Apakah Muhammad SAW melihat Tuhannya?” Maka Abdullah ibnu Abbas mengutus seseorang kepadanya untuk menjawab, ”Ya, benar. Ia melihatnya.” Abdullah ibnu Umar meminta pesuruhnya kembali kepada Ibnu Abbas untuk menanyakannya, ”Bagaimana ia melihat-Nya?”. Ibnu Abbas menjawab melalui utusannya itu, ’Da melihat-Nya berada di sebuah taman hijau, dibawah-Nya terdapat hamparan permadani emas , Dia duduk di atas kursi terbuat dari emas yang dipikul oleh empat malaikat; malaikat berupa seorang laki-laki, malaikat berupa banteng, malaikat berupa burung elang, dan malaikat berupa singa.” (Ibnu Khuzaimah: Kitab at-Tauhid, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983 M, hal. 198).
Pembaca yang budiman, Ketika kami menggabungkan hadits Abu Ya’la yang telah lalu dan hadits Ibnu Khuzaimah ini (dimana keduanya telah menjadi dogma Salafi Wahabi), kami sungguh sangat terperanjat!. Kami menjumpai adanya kesamaan antara dogma Salafi Wahabi itu dengan dogma Nashrani, dalam hal ini gambar Tuhan milik mereka. Sebuah gambar yang mengilustrasikan tentang hakikat Tuhan mereka, Yesus Kristus.
Lukisan itu sama persis dengan apa yang digambarkan oleh Salafi Wahabi, yaitu: seorang pemuda , berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah, sedang duduk di atas kursi emas di taman hijau dibawah-Nya hamparan permadani emas yang dipikul oleh empat malaikat berupa seorang laki-laki, banteng (sapi hutan), burung elang, dan singa.
Dibawah ini gambaran milik umat Kristiani tentang Yesus Kristus, silahkan Anda bandingkan dengan hadits Ya’la dan Ibnu Khuzaimah yang direkomendasikan oleh Salafi Wahabi untuk diyakini oleh setiap pengikutnya:
Perhatikanlah gambar milik kaum Nashrani di atas, tidak ada bedanya sama sekali dengan apa yang diajarkan oleh Salafi Wahabi tentang jati diri Tuhan. Apakah ajaran Salafi Wahabi tadi (yang mereka klaim berasal dari hadits shahih) adalah hasil copy paste dari ajaran orang-orang Yahudi dan Nashrani ini? Kenapa ini bisa terjadi? Karena akidah Salafi Wahabi berasal dari hadits-hadits palsu Israiliyat, yakni karangan orang-orang Bani Israil yang telah Allah sesatkan.
Oleh karenanya, sudah selayaknya kita meragukan dogma tajsim dan tasybih kaum Salafi Wahabi, sebag tajsim dan tasybih itu sangat diwanti-wanti dan dilarang dalam Islam. Terkadang, kaum Salafi Wahabi masih saja mengelak dan memutar kata dari tuduhan tajsim ini. Namun, jika yang demikian bukan tajsim, lalu yang bagaimana lagi yang dinamakan tajsim? Berhati-hatilah wahai umat Islam dari mengikuti faham mereka ini agar kita tidak terperosok dalam kemusyrikan dan kekafiran.
Namun sayangnya, semakin mereka dikritik, maka akan semakin keras menentang (mungkin karena memang seperti itulah watak asli mereka). Mereka merasa paling benar. Nyata-nyata mereka yang keliru, tetapi malah mereka yang bersikap lebih keras kepada umat Islam yang coba meluruskan, lalu menudingkan tuduhan kafir. Dalam buku mereka, Halaqat Mamnu’ah karangan Hisyam al-Aqqad dinyatakan:
”Barang siapa yang menafsirkan kata istawa dengan istawla (menguasai), maka dia kafir.”
Dari pemaparan ringkas di atas, Anda dapat mengerti bagaimana kualitas akal pikiran sebagian ulama Mujassimah yang menjadi rujukan Salafi Wahabi. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Ibnu al-Jauzi mensifati mereka sebagai para ahli hadits dungu. Adakah kedunguan yang melebihi kedunguan kaum yang sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk di sebuah kursi yang dipikul oleh empat malaikat dalam rupa berbeda-beda, sesekali meyakini bahwa Allah SWT bersemayam di atas Arasy-Nya yang ditegakkan di atas punggung delapan ekor banteng yang mengapung di atas air di sebuah rumah di atas langit ketujuh, dan sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk berselonjor sambil meletakkan salah satu kaki-Nyadi atas kaki-Nya yang lain? Itu semua adalah hadits-hadits palsu buatan Bani Israil yang dikenal riwayat-riwayat Israiliyat. Masihkah Salafi Wahabi tidak menyadarinya, melainkan malah menganggap dirinya yang paling benar?. La haula wa la quwwata ill billah. Semoga Allah mengilhamkan kepada kita kemurnian akidah dan kesucian keyakinan tentang sifat-sifat-Nya yang Maha Suci serta kematangan logika.
Aqidah Wahabi Menyamai Aqidah Yahudi dan Nasrani.
Aqidah Wahabi Menyamai Aqidah Yahudi dan Nasrani,
yaitu mereka mengatakan bahwa Allah SWT Duduk seperti Duduknya Makhluq.
Ketahuilah bahwa aqidah yg dibawa oleh Wahhabi adalah aqidah yang bersumberkan dari Yahudi dan Kristiani yang coba diserapkan dalam masyarakat islam demi memecahbelah umat islam dan bertujuan agar umat islam menjadi Yahudi dan Nasoro, kemudian bersenang-senanglah Iblis bersama mereka di neraka kelak!
Inilah Yahudi dengan kerjasama penuh dari Wahhabiyah dalam menyesatkan umat islam di tanah air kita ini :
- Akidah ” Allah Duduk” Adalah Akidah Yahudi.
Dalam kitab Yahudi Safar Al-Muluk Al-Ishah 22 Nomor 19-20, Yahudi menyatakan akidah kufur di dalamnya :
“Berkata : Dengarkanlah engkau kata-kata Tuhan,telah ku lihat Tuhan duduk di atas kursi dan ke semua tentera langit berdiri di sekitarnya kanan dan kiri” .
- Ibnu Taimiah ikut Membantu Yahudi Menyebarkan Akidah Yahudi ” Allah Duduk ”
Dalam kitab Ibnu Taimiah Majmu Fatawa Jilid 4 / 374:
“Sesungguhnya Muhammad Rasulullah, Tuhannya mendudukkannya diatas arasy bersamaNya”.
Tidak cukup dengan itu Ibnu Taimiah turut mengunakan lafaz kufur Yahudi demi men-yahudikan umat islam :
Dalam Kitab Ibnu Taimiyah berjudul Syarh Hadith Nuzul cetakan Darul Asimah :
” Apabila Tuhan duduk di atas kursi maka akan terdengarlah bunyi seperti kursi baru diduduki”.
Lihatlah! Yahudi berkata Allah Duduk…Ibnu Taimiyah berkata Allah Duduk.
TAPI AL-QURAN DAN HADIST NABI YANG SHAHIH TIDAK PERNAH MENYATAKAN ALLAH DUDUK.
Kalau kita lihat dalam website Kristiani : http://www.hesenthisword.com/lessons/lesson5.htm
lihat pada :
Kristiani berkata pada nomor 7 :
“Allah Duduk Di atas Kursi Yang Tinggi”.
Wahhabi Turut Membantu Menghidupkan Kekufuran Kristian Dengan Memalsukan Hadith Nabi :
DALAM KITAB WAHHABI : FATHUL MAJID SYARH KITAB AT-TAUHID KARANGAN ABDUR RAHMAN BIN HASAN AAL AS-SYEIKH DISOHIHKAN OLEH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ CETAKAN PERTAMA TAHUN 1992 BERSAMAAN 1413 MAKTABAH DARUL FAIHA DAN MAKTABAH DARUL SALAM.
Cetakan ini pada hal 356 yg tertera kenyatan kufur yg dianut oleh Wahhabi sebagai hadis ( pd hakikatnya bukan hadis Nabi ) adalah tertera dalam bahasa arabnya berbunyi:
” IZA JALASA AR-ROBBU ‘ALAL KURSI “.
” Apabila Telah Duduk Tuhan Di Atas Kursi “.
TETAPI AL-QURAN DAN HADITH SHAHIH TIDAK PERNAH MENYATAKAN DEMIKIAN !
Perlu diketahui, Imam asy-Syafi’I pun terang-terangan menyatakan kekufuran bagi orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.
Ibn al Mu’allim al Qurasyi (W. 725 H) menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih …fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn (W. 462 H) bahwa al Imam asy-Syafi’I menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).
Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).
PBNU : Syiah, Hanya Perbedaan Cara Pandang.
- Slamet Effendy Yusuf, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengatakan, kelompok aliran Syiah tidaklah bertentangan dengan Islam. Syiah dalam Islam diakui sebagai bagian aliran beberapa mazhab yang ada. Meskipun kata dia, Syiah memiliki beberapa perbedaan terkait cara pandang.
“MUI dalam rekomendasi pada 1984 menyatakan Syiah itu bagian dari mazhab dalam Islam, karena itu memang didalam mazhab, ada perbedaan-perbedaan tentang beberapa pandangan,” kata Slamet kepada wartawan, Senin (2/1).
Beberapa perbedaan dalam cara pandang antara lain terkait hadis dan imamah.“Seperti pandangan terhadap hadis, kalau Sunni, semua hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabiin, oke. Sementara Syi’ah tidak. Soal Imamah di Sunni tidak mewajibkan tapi di Syiah mewajibkan, Terjemahan dalam solat antara Sunni dan Syiah ada perbedaan,” ujarnya.Slamet yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).
(Berbagai-Sumber-lain/Syiah-Ali/ABNS)
Ternyata syi’ah lebih dekat dengan NU daripada dengan wahabi.
NU berbeda akidah dengan wahabi ! ini bukti kongkret Akidah Wahabi adalah akidah Yahudi.
NU: Nahdliyin Tak Boleh Ikut Wahabi.
“Jangan sampai,” tegas Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siradj.
KH. Said Agil Siraj dan KH. Slamet Effendi Yusuf.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siradj, meminta kepada warga Nahdliyin agar tidak terseret gerakan Negara Islam Indonesia dan paham Wahabi.“Anak-anak Muslimat NU jangan sampai terlibat NII dan doktrin Wahabi yang antitahlil, antikubur (memegahkan kuburan). Jangan sampai. Jaga anak-anak, ya,” kata Said Aqil saat memberikan sambutan pada Kongres ke-16 Muslimat NU di Bandar Lampung, Kamis, 14 Juli 2011.
NU VS SALAFI WAHABI.
Konflik antara salafy dengan NU bukanlah konflik yang baru, namun sudah hampir mendarah daging. Warga NU baik di kota maupun pedesaan, baik yang liberal maupun yang tradisional, sepakat menolak segala bentuk pemahaman salafy, atau yang biasa mereka sebut sebagai “wahabi”.
Bukti kongkret Akidah Salafi – Wahabi adalah akidah Yahudi.
Bukti Kongkrit Akidah wahabi-salafi adalah Akidah Yahudi.
Para pembaca sekalian, mungkin banyak yang tidak mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya akidah wahabi-salafi, orang-orang awam pada umumnya hanya mengetahui bahwa akidah mereka menetapkan sifat-sifat Allah yang ada dalam al-Quran dan menghindari takwil karena takwil bagi mereka adalah perbuatan Yahudi.
Apalagi orang-orang yang telah menjadi doktrin mereka atau tertarik ajaran mereka sebab topeng yang mereka gunakan dengan slogan kembali pada Al-Quran dan Sunnah dan menjauhi segala bentuk kesyirikan, maka sudah pasti akan melihat ajaran dan akidah mereka murni ajaran tauhid yang suci. Usaha keras untuk memberantas segala bentuk kesyirikan yang ada dan telah merata di seluruh permukaan bumi ini.
Tapi tidak bagi kaum muslimin yang memiliki pondasi Tauhid Ahlus sunnah waljama’ah, mereka akan mampu mengetahui dan melihat misi jahat yang diselipkan di belakang slogan itu. Seiring waktu berjalan, semakin terlihat, semakin terbongkar akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya, semakin tercium dan tampak persamaan akidah wahabi-salafi dan Yahudi. Mereka secara lahir menampakkan pada kaum muslimin permusuhan pada Yahudi, tapi secara sembunyi berteman akrab dengan Yahudi.
Pada kali ini, saya akan bongkar untuk pembaca akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya yaitu “ AKIDAH WAHABI-SALAFI ADALAH AKIDAH YAHUDI “. Tidak perlu saya mengambil sumber dari kitab-kitab para ulama ahlus sunnah yang menceritakan akidah wahabi. Jika saya nukil dari para ulama ahlu sunnah tentang perkataan tasybih dan tajsim mereka, maka mungkin mereka masih bisa menolak dan mengelak, mereka akan mengatakan itu fitnah dan tuduhan yang tak berdasar pada syaikh-syaikh kami, tapi saya akan tampilkan dengan bukti-bukti kuat akurat yang bersumber dari kitab-kitab karya ulama mereka sendiri yang sudah mereka cetak, terutama Ibnu Taimiyyah, Muhammad bin Abdul Wahhab, ad-Darimi (bukan ad-Darimi sunni pengarang kitab sunan), Albani, Ibnu Utsaimin dan yang lainnya, Yang tak akan mampu mereka bantah.
Saya hanya menampilkan bukti-bukti kongkrit ini semata-mata hanya untuk suadara-saudaraku yang telah terpengaruh dengan akidah wahabi. Dan petunjuk hanyalah dari Allah Swt.
Jika masih ada wahabi yang membantah bukti dan penjelasan nyata ini, maka ibarat orang yang berusaha menutupi cahaya matahari yang terang benderang di sinag hari dengan segenggam tangannya.
1. Akidah Yahudi :
Di dalam naskah kitab Taurat yang sudah dirubah yang merupakan asas akidah Yahudi yang mereka namakan “ SAFAR AL-MULUK “ Al-Ishah 22 nomer : 19-20 disebutkan :
Ł ŁŲ§Ł ŁŲ§Ų³Ł
Ų¹ Ų„Ų°Ų§ً ŁŁŲ§Ł
Ų§ŁŲ±ŲØ ŁŲÆ Ų±Ų£ŁŲŖ Ų§ŁŲ±ŲØ Ų¬Ų§ŁŲ³Ų§ Ų¹ŁŁ ŁŲ±Ų³ŁŁ Ł ŁŁ Ų¬ŁŲÆ Ų§ŁŲ³Ł
Ų§Ų” ŁŁŁŁ ŁŲÆŁŁ Ų¹Ł ŁŁ
ŁŁŁ Ł Ų¹Ł ŁŲ³Ų§Ų±Ł
“ Dan berkata “ Dengarkanlah, ucapan Tuhan..aku telah melihat Tuhanku duduk di atas kursinya dan semua pasukan langit berdiri di hadapannya dari sebelah kanan dan kirinya “.
Dalam kitab mereka yang berjudul “ SAFAR AL-MAZAMIR “ Al-Ishah 47 nomer 8 disebutkan :
Ų§ŁŁŁ Ų¬ŁŲ³ Ų¹ŁŁ ŁŲ±Ų³Ł ŁŲÆŲ³Ł
“ Allah duduk di atas kursi qudusnya “.
Akidah wahabi-salafi:
Di dalam kitab andalan wahabi-salafi yaitu Majmu’ al-Fatawa Ibnu Taimiyyah al-Harrani imam wahabi juz 4 halaman 374:
Ų„Ł Ł
ŲŁ
ŲÆŲ§ Ų±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ¬ŁŲ³Ł Ų±ŲØŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų±Ų“ Ł
Ų¹Ł
“ Sesungguhnya Muhammad Rasulullah didudukkan Allah di atas Arsy bersama Allah “.
Di dalam kitab “ Syarh Hadits an-Nuzul “ halaman 400 cetakan Dar al-‘Ashimah disebutkan bahwasanya Ibnu Taimiyyah berkata :
ŁŁ
Ų§ Ų¬Ų§Ų”ŲŖ ŲØŁ Ų§ŁŲ£Ų«Ų§Ų± Ų¹Ł Ų§ŁŁŲØŁ Ł
Ł ŁŁŲø Ų§ŁŁŲ¹ŁŲÆ Ł Ų§ŁŲ¬ŁŁŲ³ ŁŁ ŲŁ Ų§ŁŁŁ ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ ŁŲŲÆŁŲ« Ų¬Ų¹ŁŲ± ŲØŁ Ų£ŲØŁ Ų·Ų§ŁŲØ Ł ŲŲÆŁŲ« Ų¹Ł
Ų± Ų£ŁŁŁ Ų£Ł ŁŲ§ ŁŁ
Ų§Ų«Ł ŲµŁŲ§ŲŖ Ų£Ų¬Ų³Ų§Ł
Ų§ŁŲ¹ŲØŲ§ŲÆ
“ Semua hadits yang datang dari Nabi dengan lafadz qu’ud dan julus (duduk) bagi Allah seperti hadits Ja’far bin Abi Thalib dan hadits Umar, lebih utama untuk tidak disamakan dengan anggota tubuh manusia “.
Dalam halaman yang sama Ibnu Taimiyyah berkata :
Ų„Ų°Ų§ Ų¬ŁŲ³ ŲŖŲØŲ§Ų±Ł Ł ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų³Ł Ų³Ł
Ų¹ ŁŁ Ų£Ų·ŁŲ· ŁŲ£Ų·ŁŲ· Ų§ŁŲ±ŲŁ Ų§ŁŲ¬ŲÆŁŲÆ
“ Jika Allah duduk di atas kursi, maka terdengarlah suara suara saat duduk sebagaimana suara penunggang bintang tunggangan karena beratnya ”
Kitab tersebut dicetak di Riyadh tahun 1993, penerbit Dar al-‘Ashimah yang dita’liq oleh Muhammad al-Khamis.
Di dalam kitab ad-Darimi (bukan ulama sunni al-Hafdiz ad-Darimi pengarang hadits sunan) halaman 73 disebutkan :
ŁŲØŲ· Ų§ŁŲ±ŲØ Ų¹Ł Ų¹Ų±Ų“Ł Ų„ŁŁ ŁŲ±Ų³ŁŁ
“ Allah turun dari Arsy ke kursinya “
Kitab itu terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah yang dita’liq oleh Muhamamd Hamid al—Faqiy.
Kitab ad-Darimi (al-wahhabu) ini dipuji-puji oleh Ibnu Taimiyyah dan menganjurkannya untuk dipelajari, sebab inilah wahabi menjadi taqlid buta.
Tapi akidah mereka ini disembunyikan dan tidak pernah dipublikasikan ke khalayak umum.
Sekedar info : Lafadz duduk bagi Allah tidak pernah ada dalam al-Quran dan hadits.
2. Akidah Yahudi :
Di dalam naskah Taurat yang sudah ditahrif yang mereka namakan “ Safar at-Takwin Ishah pertama nomer : 26-28 disebutkan :
Ł ŁŲ§Ł Ų§ŁŁŁ ŁŲ¹Ł
Ł Ų§ŁŲ„ŁŲ³Ų§Ł Ų¹ŁŁ ŲµŁŲ±ŲŖŁŲ§ Ų¹ŁŁ Ų“ŲØŁŁŲ§… ŁŲ®ŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų§ŁŲ„ŁŲ³Ų§Ł Ų¹ŁŁ ŲµŁŲ±ŲŖŁ Ų¹ŁŁ ŲµŁŲ±Ų© Ų§ŁŁŁ Ų®ŁŁŁ Ų°ŁŲ±Ų§ Ł Ų£ŁŲ«Ł Ų®ŁŁŁŁ
“ Allah berkata ; “ Kami buat manusia dengan bentuk dan serupa denganku…lalu Allah menciptakan manusia dengan bentuknya, dengan bentuk Allah, dia menciptakan laki-laki dan wanita “.
Akidah wahabi:
Di dalam kitab “ Aqidah ahlu Iman fii Khalqi Adam ‘ala shurati ar-Rahman “ karya Hamud bin Abdullah at-Tuajari syaikh wahabi, yang dicetak di Riyadh oleh penerbit Dar al-Liwa cetakan kedua, disebutkan dalam halama 16:
ŁŲ§Ł Ų§ŲØŁ ŁŲŖŁŲØŲ©: ŁŲ±Ų£ŁŲŖ ŁŁ Ų§ŁŲŖŁŲ±Ų§Ų©: Ų„Ł Ų§ŁŁŁ ŁŁ
Ų§ Ų®ŁŁ Ų§ŁŲ³Ł
Ų§Ų” Ł Ų§ŁŲ£Ų±Ų¶ ŁŲ§Ł: ŁŲ®ŁŁ ŲØŲ“Ų±Ų§ ŲØŲµŁŲ±ŲŖŁŲ§
“ Berkata Ibnu Qathibah “ Lalu aku melihat di dalam Taurat : “ Sesungguhnya Allah ketika menciptakan langit dan bumi, Dia berkata : “ Kami ciptakan manusia dengan bentukku “.
Pada halaman berikutnya di halaman 17 disebutkan :
Ł ŁŁ ŲŲÆŁŲ« Ų§ŲØŁ Ų¹ŲØŲ§Ų³: Ų„Ł Ł
ŁŲ³Ł ŁŁ
Ų§ Ų¶Ų±ŲØ Ų§ŁŲŲ¬Ų± ŁŲØŁŁ Ų„Ų³Ų±Ų§Ų¦ŁŁ ŁŲŖŁŲ¬Ų± Ł ŁŲ§Ł: Ų§Ų“Ų±ŲØŁŲ§ ŁŲ§ ŲŁ
ŁŲ± ŁŲ£ŁŲŁ Ų§ŁŁŁ Ų„ŁŁŁ: Ų¹Ł
ŲÆŲŖ Ų„ŁŁ Ų®ŁŁ Ł
Ł Ų®ŁŁŁ Ų®ŁŁŲŖŁŁ
Ų¹ŁŁ ŲµŁŲ±ŲŖŁ ŁŲŖŲ“ŲØŁŁŁ
ŲØŲ§ŁŲŁ
ŁŲ± ، ŁŁ
Ų§ ŲØŲ±Ų ŲŲŖŁ Ų¹ŁŲŖŲØ
“ Di dalam hadits Ibnu Abbas : “ Sesungguhnya Musa ketika memukul batu untuk Bani Israil lalu keluar air dan berkata : “ Minumlah wahai keledai, maka Allah mewahyukan pada Musa “ Engkau telah mencela satu makhluk dari makhlukku yang Aku telah ciptakan mereka dengan rupaku, lalu engkau samakan mereka dengan keledai “ Musa terus ditegor oleh Allah “.
Naudzu billah dari pendustaan pada Allah dan pada para nabi-Nya.
Akidah Yahudi:
Disebutkan dalam kitab Yahudi yang mereka namakan “ Safar Khuruj “ ishah 19 nomer : 3-6 :
ŁŁŲ§ŲÆŲ§Ł Ų§ŁŲ±ŲØ Ł
Ł Ų§ŁŲ¬ŲØŁ … ŁŲ§ŁŲ¢Ł Ų„Ł Ų³Ł
Ų¹ŲŖŁ
ŁŲµŁŲŖŁ Ł ŲŁŲøŲŖŁ
Ų¹ŁŲÆŁ
“ Maka Tuhan memanggil kami dari bukit….sekarang jika kalian mendengar suaraku dan menjaga janjiku “.
Akidah wahabi :
Di dalam kitab “ Fatawa al-Aqidah “ karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang dicetak Maktabah as-Sunnah cetakan pertama tahun 1992 di Mesir, pada halaman 72 Ibnu Utsaimin berkata :
ŁŁ ŁŲ°Ų§ Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ Ų§ŁŁŁŁ ŁŁŁ Ł Ų£ŁŁ ŲØŲر٠٠صŁŲŖ ، ŁŲ£Ł Ų£ŲµŁ Ų§ŁŁŁŁ ŁŲ§ ŲØŲÆ Ų£Ł ŁŁŁŁ ŲØŲµŁŲŖ ŁŲ„Ų°Ų§ Ų£Ų·ŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŁŁŲ§ ŲØŲÆ Ų£Ł ŁŁŁŁ ŲØŲµŁŲŖ
“ Dalam hal ini dijelaskan adanya penetapan akan ucapan Allah Swt. Dan sesungguhnya ucapan Allah itu berupa huruf dan suara. Karena asli ucapan itu harus adanya suara. Maka jika dikatakan ucapan, maka sudah pasti ada suara “.
3. Akidah Yahudi:
Di dalam kitab taurat yang sudah ditahrif yang mereka namakan dengan “ SAFAR ISY’IYA “ Ishah 25 nomer 10, Yahudi berkata :
ŁŲ£Ł ŁŲÆ Ų§ŁŲ±ŲØ ŲŖŲ³ŲŖŁŲ± Ų¹ŁŁ ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŲ¬ŲØŁ
“ Sesungguhnya tangan Tuhan istiqrar / menetap di gunung ini “
Akidah wahabi:
Dalam kitab Fatawa al-Aqidah karya Muhammad bin Shalih al-Utsaimin yang diterbitkan oleh Maktabah as-Sunnah cetakan pertama halaman 90, al-Utsaimin berkata :
Ł Ų¹ŁŁ ŁŁ ŁŲ„Ł ŁŲÆŁŁ Ų³ŲØŲŲ§ŁŁ Ų§Ų«ŁŲŖŲ§Ł ŲØŁŲ§ Ų“Ł ، Ł ŁŁ ŁŲ§ŲŲÆŲ© ŲŗŁŲ± Ų§ŁŲ£Ų®Ų±Ł ، Ł Ų„Ų°Ų§ ŁŲµŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲÆ Ų§ŁŲ£Ų®Ų±Ł ŲØŲ§ŁŲ“Ł
Ų§Ł ŁŁŁŲ³ Ų§ŁŁ
Ų±Ų§ŲÆ Ų£ŁŁŲ§ Ų£ŁŁŲµ Ł
Ł Ų§ŁŁŲÆ Ų§ŁŁŁ
ŁŁ
“ kesimpulannya, sesungguhnya kedua tangan Allah itu ada dua tanpa ragu lagi. Satu tangannya berlainan dari tangan satunya. Jika kita sifatkan tangan Allah dengan sebelah kiri, maka yang dimaksud bukanlah suatu hal yang kurang dari tangan kanannya “.
4 Akidah Yahudi:
Di dalam kitab Yahud “ Safar Mazamir “ Ishah 2 nomer : 4 disebutkan :
Ų§ŁŲ³Ų§ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ³Ł
ŁŲ§ŲŖ ŁŲ¶ŲŁ Ų§ŁŲ±ŲØ
“ Yang tinggal di langit, Tuhan sedang tertawa “.
Akidah wahabi:
Di dalam kitab “ Syarh Hadits an-Nuzul “ cetakan Dar al-’Ashimah halaman 182, Ibnu Taimiyyah berkata :
Ų£Ł Ų§ŁŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŲ³Ł
ŁŲ§ŲŖ ŲØŲ°Ų§ŲŖŁ
“ Sesungguhnya Allah itu di atas langit dengan Dzatnya “.
Di dalam kitab “ Qurrah Uyun al-Muwahhidin “ karya Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab (cicit Muhammad bin Abdul wahhab), cetakan Maktabah al-Muayyad tahun 1990 cetakan pertama, halaman 263 disebutkan :
Ų£Ų¬Ł
Ų¹ Ų§ŁŁ
Ų³ŁŁ
ŁŁ Ł
Ł Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© Ų¹ŁŁ Ų£Ł Ų§ŁŁŁ Ł
Ų³ŲŖŁ Ų¹ŁŁ Ų¹Ų±Ų“Ł ŲØŲ°Ų§ŲŖŁ…Ų§Ų³ŲŖŁŁ Ų¹ŁŁ Ų¹Ų±Ų“Ł ŲØŲ§ŁŲŁŁŁŲ© ŁŲ§ ŲØŲ§ŁŁ
Ų¬Ų§Ų²
“ Sepakat kaum muslimin dari Ahlus sunnah bahwa sesungguhnya Allah beristiwa di Arsy dengan dzat-Nya…Allah beristiwa di atas Arsy secara hakekat bukan majaz “.
Dan masih segudang lagi akidah-akidah wahabi-salafi yang meyakiniTuhannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya sebagaimana akidah Yahudi.
Dan masih segudang lagi akidah-akidah wahabi-salafi yang meyakiniTuhannya dengan sifat-sifat makhluk-Nya sebagaimana akidah Yahudi. Dan jika saya beberkan semuanya, maka akan menjadi lembaran yang sangat banyak. Cukup yang singkat sedikit ini membuktikan bahwa akidah wahabi-salafi yang sesungguhnya adalah akidah Yahudi.
Menelanjangi Kesesatan Salafi Wahabi.
Judul: Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi
Penulis: Syaikh Idahram
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Cetakan: I, 2011
Tebal: 340 halaman, 13,5 x 20,5 cm
ISBN: 602-8995-02-3
Peresensi: Hairul Anam
Selama ini, kaum Salafi Wahabi selalu getol menyesatkan umat Islam yang tak selaras dengan ideologinya. Mereka cenderung melakukan beragam cara, terutama melalui tindakan-tindakan anarkis yang meresahkan banyak kalangan.
Padahal, ketika dilakukan kajian mendalam, justru Salafi Wahabi-lah yang sarat dengan pemahaman menyesatkan. Sesat karena berbanding terbalik dengan ajaran Islam yang terkandung di dalam hadis dan al-Qur’an. Setidaknya, buku ini memberikan gambaran jelas akan hal itu.
Buku berjudul Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi, ini secara komprehensif mengungkap kesesatan pemikiran para ulama yang menjadi panutan utama kaum Salafi Wahabi. Didalamnya dijelaskan betapa para ulama Salafi Wahabi itu menggerus otentisitas ajaran Islam, disesuaikan dengan kepentingan mereka. Terdapat tiga tokoh utama Salafi Wahabi: Ibnu Taimiyah al-Harrani, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, dan Muhammad Nashiruddin al-Albani. Pemikiran mereka nyaris tidak membangun jarak dengan kerancuan serta beragam penyimpangan.
Penyimpangan yang dilakukan Ibnu Taimiyah (soko guru Salafi Wahabi) ialah meliputi spirit menyebarkan paham bahwa zat Allah sama dengan makhluk-Nya, meyakini kemurnian Injil dan Taurat bahkan menjadikannya referensi, alam dunia dan makhluk diyakini kekal abadi, membenci keluarga Nabi, menghina para sahabat utama Nabi, melemahkan hadis yang bertentangan dengan pahamnya, dan masih banyak lagi lainnya.
Dalam pada itu, wajar manakala ratusan ulama terkemuka dari berbagai mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Ja’fari/Ahlul Bait, dan Syiah Itsna Asyariah) sepakat atas kesesatan Ibnu Taimiyah, juga kesesatan orang-orang yang mengikutinya, kaum Salafi Wahabi. Lihat di antaranya kitab al-Wahhabiyah fi Shuratiha al-Haqiqiyyah karya Sha’ib Abdul Hamid dan kitab ad-Dalil al-Kafi fi ar-Raddi ‘ala al-Wahhabi karya Syaikh Al-Bairuti. (hal. 90).
Sebagai penguat dari fenomena itu, terdapat ratusan tokoh ulama, ahli fikih dan qadhi yang membantah Ibnu Taimiyah. Para ulama Indonesia pun ikut andil dalam menyoroti kesesatan Ibnu Taimiyah ini, seperti KH Muhammad Hasyim Asy’ari (Rais ‘Am Nahdhatul Ulama dari Jombang Jawa Timur), KH. Abu al-Fadhl (Tuban Jawa Timur), KH. Ahmad Abdul Hamid (Kendal Jawa Tengah), dan ulama-ulama nusantara tersohor lainnya.
Pendiri Salafi Wahabi, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, juga membiaskan pemikiran yang membuat banyak umat Islam galau kehidupannya. Ragam nama dan pemikiran ulama yang menguak penyimpangannya dimunculkan secara terang-terangan dalam buku ini, dilengkapi dengan argumentasi yang nyaris tak bisa terpatahkan.
Dibanding Ibnu Taimiyah, sikap keberagamaan Abdul Wahab tak kalah memiriskan. Ada sebelas penyimpangan Abdul Wahab yang terbilang amat kentara. Yakni: Mewajibkan umat Islam yang mengikuti mazhabnya hijrah ke Najd, mengharamkan shalawat kepada Nabi, menafsirkan al-Qur’an & berijtihad semaunya, mewajibkan pengikutnya agar bersaksi atas kekafiran umat Islam, merasa lebih baik dari Rasulullah, menyamakan orang-orang kafir dengan orang-orang Islam, mengkafirkan para pengguna kata “sayyid”, mengkafirkan ulama Islam di zamannya secara terang-terangan, mengkafirkan imam Ibnu Arabi, Ibnu Sab’in dan Ibnu Faridh, mengkafirkan umat Islam yang tidak mau mengkafirkan, dan memuji kafir Quraisy-munafik-murtad tapi mencaci kaum Muslimin. (hal. 97-120).
Nasib Abdul Wahab tidak jauh beda dengan Ibnu Taimiyah; ratusan tokoh ulama sezaman dan setelahnya menyatakan kesesatannya. Di antara para ulama yang menyatakan hal itu adalah ulama terkenal Ibnu Abidin al-Hanafi di dalam kitab Radd al-Mukhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar. Juga Syaikh ash-Shawi al-Mishri dalam hasyiah-nya atas kitab Tafsir al-Jalalain ketika membahas pengkafiran Abdul Wahab terhadap umat Islam.
Searah dengan Ibnu Taimiyah dan Abdul Wahab, Muhammad Nashiruddin al-Albani melakukan tindakan yang membentur kemurnian ajaran Islam. Ia telah mengubah hadis-hadis dengan sesuatu yang tidak boleh menurut Ulama Hadis. Sehingga, sebagaimana diakui Prof Dr Muhammad al-Ghazali, al-Albani tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam menetapkan nilai suatu hadis, baik shahih maupun dhaif.
Selain ketiga ulama di atas, ada 18 ulama Salafi Wahabi yang juga diungkap dalam buku ini. Mereka telah menelorkan banyak karya dan memiliki pengaruh besar terhadap konstelasi pemikiran kaum Salafi Wahabi. Di samping itu, Syaikh Idahram juga menghimbau agar umat Islam mewaspadai terhadap tokoh Salafi Wahabi generasi baru. Mereka adalah anak murid para ulama Salafi Wahabi. Secara umum, mereka berdomisili di Saudi Arabia.
Menariknya, buku ini kaya perspektif. Referensi yang digunakannya langsung merujuk pada sumber utama. Data-datanya terbilang valid. Validitas data tersebut dapat dimaklumi, mengingat karya fenomenal ini berpangkal dari hasil penelitian selama sembilan tahun, mulai 2001 sampai 2010. Selamat membaca!
Ibnu Taimiyyah dan wahabi Menshahihkan Hadis mungkar (“Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”) dan mengunakannya untuk masalah aqidah.
Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”.Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan dinyatakan shahih oleh syaikh salafy wahabi dan syaikh salafy yang terkenal Ibnu Taimiyyah.
Takhrij Hadis Ibnu Abbas:
Ų«ŁŲ§ ŲŁ
Ų§ŲÆ ŲØŁ Ų³ŁŁ
Ų© ع٠ŁŲŖŲ§ŲÆŲ© ع٠عŁŲ±Ł
Ų© ع٠ب٠عباس ŁŲ§Ł ŁŲ§Ł Ų±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų±Ų£ŁŲŖ Ų±ŲØŁ Ų¬Ų¹ŲÆŲ§ Ų§Ł
Ų±ŲÆ Ų¹ŁŁŁ ŲŁŲ© Ų®Ų¶Ų±Ų§Ų”
Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat Rabbku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”.
Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Asmaa’ was Shifaat no 938, Ibnu Ady dalam Al Kamil 2/260-261, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 13/55 biografi Umar bin Musa bin Fairuz, Adz Dzahabi dalam As Siyaar 10/113 biografi Syadzaan, Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 122, 123, 125, 126,127 ,129, dan 143 (dengan sedikit perbedaan pada lafaznya), Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 15. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Sedangkan yang meriwayatkan dari Hammad adalah Aswad bin Amir yakni Syadzaan (tsiqat dalam At Taqrib 1/102), Ibrahim bin Abi Suwaid (tsiqat oleh Abu Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil 2/123 no 377), Abdush Shamad bin Kaisan atau Abdush Shamad bin Hasan (shaduq oleh Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 6/51 no 272).
Hadis ini maudhu’ dengan sanad yang dhaif dan matan yang mungkar. Hadis ini mengandung illat
* Hammad bin Salamah, ia tidak tsabit riwayatnya dari Qatadah. Dia walaupun disebutkan sebagai perawi yang tsiqah oleh para ulama, dia juga sering salah karena kekacauan pada hafalannya sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 3 no 14 dan At Taqrib 1/238. Disebutkan dalam Syarh Ilal Tirmidzi 2/164 yang dinukil dari Imam Muslim bahwa Hammad bin Salamah banyak melakukan kesalahan dalam riwayatnya dari Qatadah. Oleh karena itu hadis Hammad bin Salamah dari Qatadah ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika menyendiri dan lafaznya mungkar.
* Tadlis Qatadah, Ibnu Hajar telah menyebutkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 92 sebagai mudallis martabat ketiga, dimana Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada martabat ketiga hadis perawi mudallis tidak dapat diterima kecuali ia menyebutkan penyimakannya dengan jelas. Dalam Tahrir At Taqrib no 5518 juga disebutkan bahwa hadis Qatadah lemah kecuali ia menyebutkan sama’ nya dengan jelas. Dalam hadis ini Qatadah meriwayatkan dengan ‘an ‘anah sehingga hadis ini lemah.
Kelemahan sanad hadisnya ditambah dengan matan yang mungkar sudah cukup untuk menyatakan hadis ini maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal no 15. Kemungkaran hadis ini juga tidak diragukan lagi bahkan diakui oleh Baihaqi dan Adz Dzahabi dalam As Siyaar. Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 13/55 menyatakan hadis ini maudhu’.
Ibnu Taimiyyah dan Syaikh wahabi ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas ini. Ibnu taymiyah dan wahabi dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis dengan lafal pemuda amrad dalam kitabnya Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290.
Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah.
Dan ini penggalan kitab tersebut juz 7 hal 290 dimana Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadis Ru’yah dengan lafal pemuda amrad.
Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290.
Tentu saja fenomena ini adalah keanehan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka begitu berani menshahihkan hadis tersebut bahkan mengecam orang yang mengingkarinya dan menggunakannya dalam masalah aqidah.
Inilah tuhan kaum hindu (dajjal kriting dari india ‘sami baba’) sama dengan tuhan yang dinanti nantikan oleh kaum mujasimmah wahabi:
tapi sayang sai baba sudah mampus.
AQIDAH WAHHABI: “ALLAH SERUPA DENGAN NABI ADAM”. (berbukti)
INILAH AKIDAH SESAT WAHHABI YANG DISEBARKAN OLEH WAHHABI SEKARANG :” ALLAH SERUPA, SAMA & SEPERTI NABI ADAM “.
DI ATAS ADALAH COVER MUKA DEPAN KITAB WAHHABI YANG BERJUDUL: “AQIDAH AHL IMAN FI KHOLQI ADAM ‘ALA SURATIR RAHMAN”.
DALAM KITAB WAHHABI TERSEBUT MEREKA MENDAKWA BAHAWA RUPA BENTUK GAYA DAN DIRI ALLAH ITU SAMA DAN SERUPA DENGAN BENTUK RUPA NABI ADAM. NA’UZUBILLAH.
INILAH BUKTI BAHAWA WAHHABI SEMEMANGNYA MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK SEDANGKAN TIADA SATU AYAT ATAU HADITH PUN YANG MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK DAN TIADA SATU NAS YANG SAHIH PUN MENYATAKAN “RUPA BENTUK ALLAH SERUPA DENGAN RUPA BENTUK NABI ADAM”.LIHATLAH PADA TAJUK KITAB TERSEBUT IANYA AMAT MENGERIKAN DAN JELAS WAHHABI MENYATAKAN “ALLAH SERUPA DENGAN MAKHLUK”.
Saya (husain ardilla) menyatakan: Inilah sejenis bukti pengakuan wahhabi sendiri yang diakui oleh pendokongnya bahawa akidah mereka sememangnya adalah Allah serupa dengan makhluk.
Ketahuilah bahawa akidah Islam sebenar Allah tidak menyerupai makhlukNya dan Allah tidak bersifat rupa paras mahupun rupa bentuk.Dan saya mengatakan akidah tersebut adalah ruh akidah Yahudi sendiri. Ini kerana Yahudi juga mendakwa Allah Berbentuk dan Allah mencipta manusia seperti rupa parasNya.
Lihat akidah yahudi tersebut di : http://www.arabicbible.com/bible/ot/gen/1.htm
Dalam kitab orang Yahudi berjudul Muqaddas Awwal Safar Takwin Al-Ishah Awwal 26 Yahudi mendakwa:
ŁŲ®ŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų§ŁŲ§ŁŲ³Ų§Ł Ų¹ŁŁ ŲµŁŲ±ŲŖŁ
dan Yahudi juga mendakwa:
Ų¹ŁŁ ŲµŁŲ±Ų© Ų§ŁŁŁ Ų®ŁŁ
Kedua-dua akidah yahudi itu amat jelas menyatakan Allah mencipta manusia seperti rupa bentuk Allah. Wahhabi juga berakidah sedemikian. Subhanallah.
BIN BAZ AL-WAHHABI PADA KITAB TERSEBUT TELAH MEMUJI AKIDAH TAJSIM YANG MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK. (1)
BIN BAZ AL-WAHHABI AKIDAH TAJSIM (2)
DI ATAS ADALAH COP DAN PENGAKUAN DARI AL-WAHHABI ABDUL AZIZ BIN BAZ BAHAWA KITAB WAHHABI TADI YANG MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK DAN RUPA BENTUK ALLAH ITU SAMA DENGAN RUPA BENTUK NABI ADAM MERUPAKAN AKIDAH YANG DIBAWA OLEH KESEMUA WAHHABI TERMASUK KESEMUA WAHHABI DI MALAYSIA.
INI ISI KANDUNGAN KITAB WAHHABI TERSEBUT YANG JELAS MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK.
DI ATAS ADALAH ISI KANDUNGAN KITAB WAHHABI TADI YANG DIAKUI OLEH BIN BAZ AL-WAHHABI MENYATAKAN AKIDAH MEREKA BAHAWA ALLAH SERUPA DENGAN MANUSIA DAN SERUPA DENGAN SEGALA MAKHLUK-MAKHLUKNYA SERTA WAHHABI MENGUNAKAN HUJAH DARI YAHUDI KITAB TAURAT (MUHARRAFAH) YANG TELAH DITUKAR DAN DIUBAH. WAHHABI TIDAK MENGUNAKAN ALQURAN DAN HADITH TETAPI MENGUNAKAN KENYATAAN YAHUDI DALAM HAL ASAS AKIDAH. PERHATIKAN PADA LINE YANG TELAH DIMERAHKAN AMAT JELAS KESEMUA WAHHABI MENDAKWA ALLAH MENCIPTA MANUSIA SERUPA DENGAN DIRI ALLAH SENDIRI. INILAH AKIDAH MUJASSIMAH AL-YAHUDIYAH YANG DIHIDUPKAN OLEH AL-WAHHABIYAH.
semoga Allah memberi hidayah iman kepada Wahhabi.
2. Ibnu Taimiyyah dan wahabi Menshahihkan Hadis mungkar(“Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”) dan mengunakannya untuk masalah aqidah
Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”.Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan dinyatakan shahih oleh syaikh salafy wahabi dan syaikh salafy yang terkenal Ibnu Taimiyyah.
Takhrij Hadis Ibnu Abbas:
Ų«ŁŲ§ ŲŁ
Ų§ŲÆ ŲØŁ Ų³ŁŁ
Ų© ع٠ŁŲŖŲ§ŲÆŲ© ع٠عŁŲ±Ł
Ų© ع٠ب٠عباس ŁŲ§Ł ŁŲ§Ł Ų±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų±Ų£ŁŲŖ Ų±ŲØŁ Ų¬Ų¹ŲÆŲ§ Ų§Ł
Ų±ŲÆ Ų¹ŁŁŁ ŲŁŲ© Ų®Ų¶Ų±Ų§Ų”
Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat Rabbku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”.
Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Asmaa’ was Shifaat no 938, Ibnu Ady dalam Al Kamil 2/260-261, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 13/55 biografi Umar bin Musa bin Fairuz, Adz Dzahabi dalam As Siyaar 10/113 biografi Syadzaan, Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 122, 123, 125, 126,127 ,129, dan 143 (dengan sedikit perbedaan pada lafaznya), Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 15. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas.
Sedangkan yang meriwayatkan dari Hammad adalah Aswad bin Amir yakni Syadzaan (tsiqat dalam At Taqrib 1/102), Ibrahim bin Abi Suwaid (tsiqat oleh Abu Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil 2/123 no 377), Abdush Shamad bin Kaisan atau Abdush Shamad bin Hasan (shaduq oleh Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 6/51 no 272).
Hadis ini maudhu’ dengan sanad yang dhaif dan matan yang mungkar. Hadis ini mengandung illat
* Hammad bin Salamah, ia tidak tsabit riwayatnya dari Qatadah. Dia walaupun disebutkan sebagai perawi yang tsiqah oleh para ulama, dia juga sering salah karena kekacauan pada hafalannya sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 3 no 14 dan At Taqrib 1/238. Disebutkan dalam Syarh Ilal Tirmidzi 2/164 yang dinukil dari Imam Muslim bahwa Hammad bin Salamah banyak melakukan kesalahan dalam riwayatnya dari Qatadah. Oleh karena itu hadis Hammad bin Salamah dari Qatadah ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika menyendiri dan lafaznya mungkar.
* Tadlis Qatadah, Ibnu Hajar telah menyebutkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 92 sebagai mudallis martabat ketiga, dimana Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada martabat ketiga hadis perawi mudallis tidak dapat diterima kecuali ia menyebutkan penyimakannya dengan jelas. Dalam Tahrir At Taqrib no 5518 juga disebutkan bahwa hadis Qatadah lemah kecuali ia menyebutkan sama’ nya dengan jelas. Dalam hadis ini Qatadah meriwayatkan dengan ‘an ‘anah sehingga hadis ini lemah.
Kelemahan sanad hadisnya ditambah dengan matan yang mungkar sudah cukup untuk menyatakan hadis ini maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal no 15. Kemungkaran hadis ini juga tidak diragukan lagi bahkan diakui oleh Baihaqi dan Adz Dzahabi dalam As Siyaar. Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 13/55 menyatakan hadis ini maudhu’.
Ibnu Taimiyyah dan Syaikh wahabi ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas ini. Ibnu taymiyah dan wahabi dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis dengan lafal pemuda amrad dalam kitabnya Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290.
Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah.
Dan ini penggalan kitab tersebut juz 7 hal 290 dimana Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadis Ru’yah dengan lafal pemuda amrad.
Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290
Tentu saja fenomena ini adalah keanehan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka begitu berani menshahihkan hadis tersebut bahkan mengecam orang yang mengingkarinya dan menggunakannya dalam masalah aqidah.
Anda jangan terperanjat jika kami katakan akidah Salafi Wahabi itu sangat mirip dengan akidah Yahudi dan Nasrani. Benarkah demikian? Mari kita buktikan bersama!
Akidah tajsim dan tasybih telah menggelincirkan Salafi Wahabi hingga pada suatu keyakinan bahwa Allah seperti sosok seorang pemuda , berambut ikal , bergelombang dan mengenakan baju berwarna merah. Klaim ini dikatakan oleh Ibnu Abu Ya’la dalam kitab Thabaqat al-Hanabilah. Abu Ya’la mendasarkan pernyataan itu kepada hadits berikut:
ع٠عŁŲ±Ł
Ų© Ų§َŁ Ų§ŁŲ±Ų³ŁŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁّŁ
ŁŲ§Ł: Ų±Ų§َŁŲŖ Ų±ŲØŁ Ų¹Ų²ّ ŁŲ¬Łّ Ų“َŲ§ŲØŲ§ Ų§Ł
Ų±ŲÆ Ų¬Ų¹ŲÆ ŁŲ·Ų· Ų¹ŁŁŁ ŲŁŲ© ŲŁ
Ų±Ų§Ų”
“Dari Ikrimah: bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Aku telah melihat Tuhanku SWT berupa seorang pemuda berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah.” (Ibnu Abu Ya’la: Thabaqat al-Hanabilah, jilid 2, halaman 39).
Sungguh keji pengaruh riwayat palsu di atas. Riwayat-riwayat palsu produk pikiran Yahudi itu kini berhasil membodohi akal pikiran para pengikut Salafi Wahabi, sehingga mereka menerima keyakinan seperti itu. Tidak diragukan lagi, hadits semacam ini adalah kisah-kisah Israiliyat yang bersumber dari orang-orang Bani Israil.
Salafi Wahabi memperjelas hadits di atas dengan hadits lain yang bercerita tentang Allah duduk di atas kursi emas, beralaskan permadani yang juga terbuat dari emas, dalam sebuah taman hijau. Singgasana (Arsy) Allah dipikul oleh empat malaikat dalam rupa yang berbeda-beda, yaitu seorang lelaki, singa, banteng dan burung elang. Keyakinan aneh semacam ini dipaparkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid wa Itsbat Shifat ar-Rab.
____________________________
214 Ų§ŁŲŖŁŲŁŲÆ ŁŲ§ŁŲ¹ŁŁŲÆŲ© >> Ų§ŁŲŖŁŲŁŲÆ ŁŲ„Ų«ŲØŲ§ŲŖ ŲµŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŲ±ŲØ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł (ŲŖ: Ų§ŁŲ“ŁŁŲ§Ł)
Ų¹ŁŁŲ§Ł Ų§ŁŁŲŖŲ§ŲØ: Ų§ŁŲŖŁŲŁŲÆ ŁŲ„Ų«ŲØŲ§ŲŖ ŲµŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŲ±ŲØ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł (ŲŖ: Ų§ŁŲ“ŁŁŲ§Ł)
Ų§ŁŁ
Ų¤ŁŁ: Ł
ŲŁ
ŲÆ ŲØŁ Ų„Ų³ŲŲ§Ł ŲØŁ Ų®Ų²ŁŁ
Ų© Ų£ŲØŁ ŲØŁŲ±
Ų§ŁŁ
ŲŁŁ: Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ¹Ų²ŁŲ² ŲØŁ Ų„ŲØŲ±Ų§ŁŁŁ
Ų§ŁŲ“ŁŁŲ§Ł
ŲŲ§ŁŲ© Ų§ŁŁŁŲ±Ų³Ų©: ŲŗŁŲ± Ł
ŁŁŲ±Ų³
Ų§ŁŁŲ§Ų“Ų±: ŲÆŲ§Ų± Ų§ŁŲ±Ų“ŲÆ - Ų§ŁŲ±ŁŲ§Ų¶
Ų³ŁŲ© Ų§ŁŁŲ“Ų±: 1414 - 1994
Ų¹ŲÆŲÆ Ų§ŁŁ
Ų¬ŁŲÆŲ§ŲŖ: 2
Ų±ŁŁ
Ų§ŁŲ·ŲØŲ¹Ų©: 5
Ų¹ŲÆŲÆ Ų§ŁŲµŁŲŲ§ŲŖ: 1115
Ų§ŁŲŲ¬Ł
(ŲØŲ§ŁŁ
ŁŲ¬Ų§): 13
ŁŁŲ±Ų³ Ų§ŁŁŲŖŲ§ŲØ: ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ł
Ł Ų®ŲØŲ± Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŁ Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ Ų§ŁŁŁŲ³ ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł Ų¹ŁŁ Ł
Ų«Ł Ł
ŁŲ§ŁŁŲ© Ų§ŁŲŖŁŲ²ŁŁ Ų§ŁŲ°Ł ŲØŁŁ Ų§ŁŲÆŁŲŖŁŁ Ł
Ų³Ų·ŁŲ±، ŁŁŁ Ų§ŁŁ
ŲŲ§Ų±ŁŲØ ŁŲ§ŁŁ
Ų³Ų§Ų¬ŲÆ ŁŲ§ŁŲØŁŁŲŖ ŁŲ§ŁŲ³ŁŁ Ł
ŁŲ±ŁŲ”
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ Ų§ŁŲ¹ŁŁ
ŁŁŁ Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§ ŲŖŲØŲ§Ų±ŁŲŖ Ų£Ų³Ł
اؤ٠ŁŲ¬Ł Ų«ŁŲ§Ų¤Ł ŲØŲ§ŁŁŲŁ Ų§ŁŁ
ŁŲ²Ł Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŲØŁ Ų§ŁŁ
ŲµŲ·ŁŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
، Ų§ŁŲ°Ł ŁŁŲ±Ų£ ŁŁ Ų§ŁŁ
ŲŲ§Ų±ŁŲØ ŁŲ§ŁŁŲŖŲ§ŲŖŁŲØ Ł
Ł Ų§ŁŲ¹ŁŁ
Ų§ŁŲ°Ł ŁŁ Ł
Ł Ų¹ŁŁ
Ų§ŁŲ¹Ų§Ł
، ŁŲ§ ŲØŁŁŁ Ų§ŁŲ£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų§ŁŲŖŁ ŁŁ Ł
Ł ŁŁŁ Ų¹ŁŁ
Ų§ŁŲ®Ų§Ųµ، Ų¶ŲÆ ŁŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŁ
ŁŲ© Ų§ŁŁ
Ų¹Ų·ŁŲ© Ų§ŁŲ°ŁŁ ŁŲ§ ŁŲ¤Ł
ŁŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ ŁŲ¬Ł Ų§ŁŁŁ Ų§ŁŲ°Ł ŁŲµŁŁ ŲØŲ§ŁŲ¬ŁŲ§Ł ŁŲ§ŁŲ„ŁŲ±Ų§Ł
ŁŁ ŁŁŁŁ: ŁŁŲØŁŁ ŁŲ¬Ł Ų±ŲØŁ Ų°Ł Ų§ŁŲ¬ŁŲ§Ł ŁŲ§ŁŲ„ŁŲ±Ų§Ł
، ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŁŲ§Ł Ų„Ų°Ų§ Ų£ŁŁŁ Ų§ŁŁŁ Ł
Ų§ ŁŲÆ ŁŲ¶Ł Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ§Ł Ł
Ł
Ų§ ŁŲÆ Ų®ŁŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŁŁŁŲ§Ų” ŁŲ§ ŁŁŲØŁŲ§Ų”، ج٠ربŁŲ§، Ų¹Ł Ų£Ł ŁŁŁŁ Ų“ŁŲ” Ł
ŁŁ Ł
Ł
Ų§ ŁŁ Ł
Ł ŲµŁŲ§ŲŖ Ų°Ų§ŲŖŁ، ŁŲ§Ł Ų§ŁŁŁ Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§:
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ł
Ł Ų£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų§ŁŁŲØŁ Ų§ŁŁ
ŲµŲ·ŁŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŁ Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ Ų§ŁŁŲ¬Ł ŁŁŁ Ų¬Ł Ų«ŁŲ§Ų¤Ł، ŁŲŖŲØŲ§Ų±ŁŲŖ Ų£Ų³Ł
Ų§Ų¤Ł، Ł
ŁŲ§ŁŁŲ© ŁŁ
Ų§ ŲŖŁŁŁŲ§ Ł
Ł Ų§ŁŲŖŁŲ²ŁŁ Ų§ŁŲ°Ł ŁŁ ŲØŲ§ŁŁŁŁŲØ Ł
ŲŁŁŲø، ŁŲØŁŁ Ų§ŁŲÆŁŲŖŁŁ Ł
ŁŲŖŁŲØ، ŁŁŁ Ų§ŁŁ
ŲŲ§Ų±ŁŲØ ŁŲ§ŁŁŲŖŲ§ŲŖŁŲØ Ł
ŁŲ±ŁŲ”
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± ŲµŁŲ±Ų© Ų±ŲØŁŲ§ ج٠ŁŲ¹ŁŲ§ ŁŲµŁŲ© Ų³ŲØŲŲ§ŲŖ ŁŲ¬ŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ Ų±ŲØŁŲ§ Ų£Ł ŁŁŁŁ ŁŲ¬Ł Ų±ŲØŁŲ§ ŁŁŲ¬Ł ŲØŲ¹Ų¶ Ų®ŁŁŁ، ŁŲ¹Ų² Ų£ŁŲ§ ŁŁŁŁ ŁŁ ŁŲ¬Ł، Ų„Ų° Ų§ŁŁŁ ŁŲÆ Ų£Ų¹ŁŁ
ŁŲ§ ŁŁ Ł
ŲŁŁ
ŲŖŁŲ²ŁŁŁ Ų£Ł ŁŁ ŁŲ¬ŁŲ§، Ų°ŁŲ§Ł ŲØŲ§ŁŲ¬ŁŲ§Ł ŁŲ§ŁŲ„ŁŲ±Ų§Ł
، ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŁŲ§Ł
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų±ŁŁŲŖ Ų¹Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
: ŲŖŲ£ŁŁŁŲ§ ŲØŲ¹Ų¶ Ł
Ł ŁŁ
ŁŲŖŲŲ± Ų§ŁŲ¹ŁŁ
Ų¹ŁŁ ŲŗŁŲ± ŲŖŲ£ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲŖŁ Ų¹Ų§ŁŁ
Ų§ Ł
Ł Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŁ ŁŲ§ŁŲŗŲØŲ§ŁŲ©، ŲŁ
ŁŁŁ
Ų§ŁŲ¬ŁŁ - ŲØŁ
Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲ®ŲØŲ± - Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŁŁ ŲØŲ§ŁŲŖŲ“ŲØŁŁ، ج٠ŁŲ¹ŁŲ§ Ų¹Ł Ų£Ł ŁŁŁŁ ŁŲ¬Ł Ų®ŁŁ Ł
Ł Ų®ŁŁŁ Ł
Ų«Ł ŁŲ¬ŁŁ، Ų§ŁŲ°Ł ŁŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ ŲØŲ§ŁŲ¬ŁŲ§Ł ŁŲ§ŁŲ„ŁŲ±Ų§Ł
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ Ų§ŁŲ¹ŁŁ ŁŁŁ Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§ Ų¹ŁŁ Ł
Ų§ Ų«ŲØŲŖŁ Ų§ŁŲ®Ų§ŁŁ Ų§ŁŲØŲ§Ų±Ų¦ ŁŁŁŲ³Ł ŁŁ Ł
ŲŁŁ
ŲŖŁŲ²ŁŁŁ، ŁŲ¹ŁŁ ŁŲ³Ų§Ł ŁŲØŁŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
، ŁŲ§Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŁŲØŁŁ ŁŁŲ ŲµŁŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ: ŁŲ§ŲµŁŲ¹ Ų§ŁŁŁŁ ŲØŲ£Ų¹ŁŁŁŲ§ ŁŁŲŁŁŲ§، ŁŁŲ§Ł Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§: ŲŖŲ¬Ų±Ł ŲØŲ£Ų¹ŁŁŁŲ§: ŁŁŲ§Ł Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŁ Ų°ŁŲ± Ł
ŁŲ³Ł ŁŲ£ŁŁŁŲŖ
ŲØŲ§ŲØ Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ Ų§ŁŲ³Ł
Ų¹ ŁŲ§ŁŲ±Ų¤ŁŲ© ŁŁŁ Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§ Ų§ŁŲ°Ł ŁŁ ŁŁ
Ų§ ŁŲµŁ ŁŁŲ³Ł: Ų³Ł
ŁŲ¹ ŲØŲµŁŲ±، ŁŁ
Ł ŁŲ§Ł Ł
Ų¹ŲØŁŲÆŁ ŲŗŁŲ± Ų³Ł
ŁŲ¹ ŲØŲµŁŲ±، ŁŁŁ ŁŲ§ŁŲ± ŲØŲ§ŁŁŁ Ų§ŁŲ³Ł
ŁŲ¹ Ų§ŁŲØŲµŁŲ±، ŁŲ¹ŲØŲÆ ŲŗŁŲ± Ų§ŁŲ®Ų§ŁŁ Ų§ŁŲØŲ§Ų±Ų¦، Ų§ŁŲ°Ł ŁŁ Ų³Ł
ŁŲ¹ ŲØŲµŁŲ±، ŁŲ§Ł Ų§ŁŁŁ ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ: ŁŁŲÆ Ų³Ł
Ų¹ Ų§ŁŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŲ°ŁŁ ŁŲ§ŁŁŲ§ Ų„Ł Ų§ŁŁŁ ŁŁŁŲ± ŁŁŲŁ Ų£ŲŗŁŁŲ§Ų”،
ŲØŲ§ŲØ Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ł
Ł Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų¹ŁŁ ŲŖŲ«ŲØŁŲŖ Ų§ŁŲ³Ł
Ų¹ ŁŲ§ŁŲØŲµŲ± ŁŁŁ، Ł
ŁŲ§ŁŁŲ§ ŁŁ
Ų§ ŁŁŁŁ Ł
Ł ŁŲŖŲ§ŲØ Ų±ŲØŁŲ§، Ų„Ų° Ų³ŁŁŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų„Ų°Ų§ Ų«ŲØŲŖŲŖ ŲØŁŁŁ Ų§ŁŲ¹ŲÆŁ ع٠اŁŲ¹ŲÆŁ Ł
ŁŲµŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁ ŁŲ§ ŲŖŁŁŁ Ų£ŲØŲÆŲ§ Ų„ŁŲ§ Ł
ŁŲ§ŁŁŲ© ŁŁŲŖŲ§ŲØ Ų§ŁŁŁ، ŲŲ§Ų“Ų§ ŁŁŁ Ų£Ł ŁŁŁŁ Ų“ŁŲ” Ł
ŁŁŲ§ Ų£ŲØŲÆŲ§ Ł
Ų®Ų§ŁŁŲ§ ŁŁŲŖŲ§ŲØ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ Ų§ŁŁŲÆ ŁŁŲ®Ų§ŁŁ Ų§ŁŲØŲ§Ų±Ų¦ ج٠ŁŲ¹ŁŲ§ ŁŲ§ŁŲØŁŲ§Ł: Ų£Ł Ų§ŁŁŁ ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ ŁŁ ŁŲÆŲ§Ł، ŁŁ
Ų§ Ų£Ų¹ŁŁ
ŁŲ§ ŁŁ Ł
ŲŁŁ
ŲŖŁŲ²ŁŁŁ Ų£ŁŁ Ų®ŁŁ Ų¢ŲÆŁ
Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł
ŲØŁŲÆŁŁ ŁŲ§Ł Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŲ„ŲØŁŁŲ³: Ł
Ų§ Ł
ŁŲ¹Ł أ٠تسجد ŁŁ
Ų§ Ų®ŁŁŲŖ ŲØŁŲÆŁ ŁŁŲ§Ł Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§ ŲŖŁŲ°ŁŲØŲ§ ŁŁŁŁŁŲÆ ŲŁŁ ŁŲ§ŁŁŲ§: ŁŲÆ Ų§ŁŁŁ Ł
ŲŗŁŁŁŲ© , ŁŁŲ°ŲØŁŁ
ŁŁ Ł
ŁŲ§ŁŲŖŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ł
Ł Ų³ŁŲ© Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų¹ŁŁ Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ ŁŲÆ Ų§ŁŁŁ Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§ Ł
ŁŲ§ŁŁŲ§ ŁŁ
Ų§ ŲŖŁŁŁŲ§ Ł
Ł ŲŖŁŲ²ŁŁ Ų±ŲØŁŲ§ ŁŲ§ Ł
Ų®Ų§ŁŁŲ§ ŁŲÆ ŁŲ²Ł Ų§ŁŁŁ ŁŲØŁŁ، ŁŲ£Ų¹ŁŁ ŲÆŲ±Ų¬ŲŖŁ، ŁŲ±ŁŲ¹ ŁŲÆŲ±Ł Ų¹Ł Ų£Ł ŁŁŁŁ Ų„ŁŲ§ Ł
Ų§ ŁŁ Ł
ŁŲ§ŁŁ ŁŁ
Ų§ Ų£ŁŲ²Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ł
Ł ŁŲŁŁ ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų£ŲŁ
ŲÆ ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆŲ© Ų§ŁŲ¶ŲØŁ، ŁŲ§Ł: Ų«ŁŲ§ ŲŁ
Ų§ŲÆ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± ŁŲµŲ© Ų«Ų§ŲØŲŖŲ© ŁŁ Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ ŁŲÆ Ų§ŁŁŁ Ų¬Ł Ų«ŁŲ§Ų¤Ł ŲØŲ³ŁŲ© ŲµŲŁŲŲ© Ų¹Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŲØŁŲ§ŁŲ§ Ų£Ł Ų§ŁŁŁ Ų®Ų· Ų§ŁŲŖŁŲ±Ų§Ų© ŲØŁŲÆŁ ŁŁŁŁŁ
Ł Ł
ŁŲ³Ł، ŁŲ„Ł Ų±ŲŗŁ
ŲŖ Ų£ŁŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŁ
ŁŲ©
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų³ŁŲ© Ų«Ų§ŁŲ«Ų© ŁŁ Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ Ų§ŁŁŲÆ ŁŁŁ Ų§ŁŲ®Ų§ŁŁ Ų§ŁŲØŲ§Ų±Ų¦ ŁŁŲŖŲØ Ų§ŁŁŁ ŲØŁŲÆŁ Ų¹ŁŁ ŁŁŲ³Ł Ų£Ł Ų±ŲŁ
ŲŖŁ ŲŖŲŗŁŲØ ŲŗŲ¶ŲØŁ، ŁŁŁ ŁŲ°Ł Ų§ŁŲ£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų§ŁŲŖŁ ŁŲ°ŁŲ±ŁŲ§ ŁŁ ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŲØŲ§ŲØ Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ ŲµŁŲŖŁŁ ŁŲ®Ų§ŁŁŁŲ§ Ų§ŁŲØŲ§Ų±Ų¦، Ł
Ł
Ų§ Ų«ŲØŲŖŁŲ§ Ų§ŁŁŁ ŁŁŁŲ³Ł ŁŁ Ų§ŁŁŁŲ Ų§ŁŁ
ŲŁŁŲø ŁŲ§ŁŲ„Ł
Ų§Ł
Ų§ŁŁ
ŲØŁŁ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŁŁŲ³ ŁŲ§ŁŁŲÆ Ų¬Ł
ŁŲ¹Ų§ ŁŲ„Ł Ų±ŲŗŁ
ŲŖ Ų£ŁŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų³ŁŲ© Ų±Ų§ŲØŲ¹Ų© Ł
ŲØŁŁŲ© ŁŁŲÆŁ Ų®Ų§ŁŁŁŲ§ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł Ł
Ų¹ Ų§ŁŲØŁŲ§Ł: Ų£Ł ŁŁŁ ŁŲÆŁŁ، ŁŁ
Ų§ Ų£Ų¹ŁŁ
ŁŲ§ ŁŁ Ł
ŲŁŁ
ŲŖŁŲ²ŁŁŁ، Ų£ŁŁ Ų®ŁŁ Ų¢ŲÆŁ
ŲØŁŲÆŁŁ، ŁŁŁ
Ų§ Ų£Ų¹ŁŁ
ŁŲ§ Ų£Ł ŁŁ ŁŲÆŁŁ Ł
ŲØŲ³ŁŲ·ŲŖŁŁ، ŁŁŁŁ ŁŁŁ ŁŲ“Ų§Ų”
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų³ŁŲ© Ų®Ų§Ł
Ų³Ų© ŲŖŲ«ŲØŲŖ Ų£Ł ŁŁ
Ų¹ŲØŁŲÆŁŲ§ ŁŲÆŲ§ ŁŁŲØŁ ŲØŁŲ§ ŲµŲÆŁŲ© Ų§ŁŁ
Ų¤Ł
ŁŁŁ Ų¹Ų² Ų±ŲØŁŲ§ ŁŲ¬Ł Ų¹Ł Ų£Ł ŲŖŁŁŁ ŁŲÆŁ ŁŁŲÆ Ų§ŁŁ
Ų®ŁŁŁŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± ŲµŁŲ© Ų®ŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¢ŲÆŁ
Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł
ŁŲ§ŁŲØŁŲ§Ł Ų§ŁŲ“Ų§ŁŁ Ų£ŁŁ Ų®ŁŁŁ ŲØŁŲÆŁŁ، ŁŲ§ ŲØŁŲ¹Ł
ŲŖŁŁ، Ų¹ŁŁ Ł
Ų§ Ų²Ų¹Ł
ŲŖ Ų§ŁŲ¬ŁŁ
ŁŲ© Ų§ŁŁ
Ų¹Ų·ŁŲ©، Ų„Ų° ŁŲ§ŁŲŖ: Ų„Ł Ų§ŁŁŁ ŁŁŲØŲ¶ ŲØŁŲ¹Ł
ŲŖŁ Ł
Ł Ų¬Ł
ŁŲ¹ Ų§ŁŲ£Ų±Ų¶ ŁŲØŲ¶Ų© , ŁŁŲ®ŁŁ Ł
ŁŁŲ§ ŲØŲ“Ų±Ų§، ŁŁŲ°Ł Ų§ŁŲ³ŁŲ© Ų§ŁŲ³Ų§ŲÆŲ³Ų© ŁŁ Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ Ų§ŁŁŲÆ ŁŁŲ®Ų§ŁŁ Ų§ŁŲØŲ§Ų±Ų¦ ج٠ŁŲ¹ŁŲ§
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų³ŁŲ© Ų³Ų§ŲØŲ¹Ų© ŲŖŲ«ŲØŲŖ ŁŲÆ Ų§ŁŁŁ ŁŲ§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł ŁŲÆ Ų§ŁŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ¹ŁŁŲ§، ŁŁ
Ų§ Ų£Ų®ŲØŲ± Ų§ŁŁŁ ŁŁ Ł
ŲŁŁ
ŲŖŁŲ²ŁŁŁ: ŁŲÆ Ų§ŁŁŁ ŁŁŁ Ų£ŁŲÆŁŁŁ
، ŁŲ®ŲØŲ± Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų£ŁŲ¶Ų§: " أ٠ŁŲÆ Ų§ŁŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ¹ŁŁŲ§ " Ų£Ł ŁŁŁ ŁŲÆ Ų§ŁŁ
Ų¹Ų·Ł , ŁŲ§ŁŁ
Ų¹Ų·Ł Ų¬Ł
ŁŲ¹Ų§
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų³ŁŲ© Ų«Ų§Ł
ŁŲ© ŲŖŲØŁŁ ŁŲŖŁŲ¶Ų: أ٠ŁŲ®Ų§ŁŁŁŲ§ ج٠ŁŲ¹ŁŲ§ ŁŲÆŁŁ ŁŁŲŖŲ§ŁŁ
Ų§ ŁŁ
ŁŁŲ§Ł، ŁŁŲ§ ŁŲ³Ų§Ų± ŁŲ®Ų§ŁŁŁŲ§ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł، Ų„Ų° Ų§ŁŁŲ³Ų§Ų± Ł
Ł ŲµŁŲ© Ų§ŁŁ
Ų®ŁŁŁŁŁ، ŁŲ¬Ł Ų±ŲØŁŲ§ Ų¹Ł Ų£Ł ŁŁŁŁ ŁŁ ŁŲ³Ų§Ų±، Ł
Ų¹ Ų§ŁŲÆŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų£Ł ŁŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł: ŲØŁ ŁŲÆŲ§Ł Ł
ŲØŲ³ŁŲ·ŲŖŲ§Ł , Ų£Ų±Ų§ŲÆ Ų¹Ų² Ų°ŁŲ±Ł ŲØŲ§ŁŁŲÆŁŁ، Ų§ŁŁŲÆŁŁ , ŁŲ§ Ų§ŁŁŲ¹Ł
ŲŖŁŁ ŁŁ
Ų§
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų³ŁŲ© ŲŖŲ§Ų³Ų¹Ų© ŲŖŲ«ŲØŲŖ ŁŲÆ Ų§ŁŁŁ Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§ ŁŁŁ Ų„Ų¹ŁŲ§Ł
Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų£Ł Ų§ŁŁŁ ŲŗŲ±Ų³ ŁŲ±Ų§Ł
Ų© Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŲ© ŲØŁŲÆŁ ŁŲ®ŲŖŁ
Ų¹ŁŁŁŲ§
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų³ŁŲ© Ų¹Ų§Ų“Ų±Ų© ŲŖŲ«ŲØŲŖ ŁŲÆ Ų§ŁŁŁ ŁŁŁ Ų„Ų¹ŁŲ§Ł
Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų£Ł
ŲŖŁ ŁŲØŲ¶ Ų§ŁŁŁ Ų§ŁŲ£Ų±Ų¶ ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų©، ŁŲ·ŁŁ ج٠ŁŲ¹ŁŲ§ Ų³Ł
Ų§ŁŲ§ŲŖŁ ŲØŁŁ
ŁŁŁ، Ł
Ų«Ł Ų§ŁŁ
Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲ°Ł ŁŁ Ł
Ų³Ų·ŁŲ± ŁŁ Ų§ŁŁ
ŲµŲ§ŲŁ، Ł
ŲŖŁŁ ŁŁ Ų§ŁŁ
ŲŲ§Ų±ŁŲØ، ŁŲ§ŁŁŲŖŲ§ŲŖŁŲØ , ŁŲ§ŁŲ¬ŲÆŁŲ±
ŲØŲ§ŲØ ŲŖŁ
Ų¬ŁŲÆ Ų§ŁŲ±ŲØ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŁŲ³Ł Ų¹ŁŲÆ ŁŲØŲ¶ŲŖŁ Ų§ŁŲ£Ų±Ų¶ ŲØŲ„ŲŲÆŁ ŁŲÆŁŁ، ŁŲ·ŁŁ Ų§ŁŲ³Ł
Ų§Ų” ŲØŲ§ŁŲ£Ų®Ų±Ł، ŁŁŁ
Ų§ ŁŁ
ŁŁŲ§Ł ŁŲ±ŲØŁŲ§، ŁŲ§ Ų“Ł
Ų§Ł ŁŁ ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ Ų±ŲØŁŲ§ ع٠صŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŁ
Ų®ŁŁŁŁŁ، ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© Ų§ŁŲŲ§ŲÆŁŲ© Ų¹Ų“Ų±Ų© ŁŁ ŲŖŲ«ŲØŁŲŖ ŁŲÆŁ Ų®Ų§ŁŁŁŲ§ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲ³ŁŲ© Ų§ŁŲ«Ų§ŁŁŲ© Ų¹Ų“Ų±Ų© ŁŁ Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ ŁŲÆŁ Ų±ŲØŁŲ§ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŁŁ Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ų§ŁŁŁ ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ Ų„ŁŁ
Ų§ ŁŁŲØŲ¶ Ų§ŁŲ£Ų±Ų¶ ŲØŁŲÆŁ ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų©، ŲØŲ¹ŲÆ Ł
Ų§ ŁŲØŲÆŁ ŁŁŲ§ ŁŲŖŲµŁŲ± Ų§ŁŲ£Ų±Ų¶ Ų®ŲØŲ²Ų© ŁŲ£ŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŲ©، ŁŲ£Ł Ų§ŁŁŁ ŁŁŲØŲ¶ŁŲ§ ŁŁŁ Ų·ŁŁ ŁŲŲ¬Ų§Ų±Ų© , ŁŲ±Ų¶Ų±Ų¶ , ŁŲŁ
Ų£Ų© , ŁŲ±Ł
Ł , ŁŲŖŲ±Ų§ŲØ
ŲØŲ§ŲØ Ų§ŁŲ³ŁŲ© Ų§ŁŲ«Ų§ŁŲ«Ų© Ų¹Ų“Ų±Ų© ŁŁ Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ ŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŁŁ Ų„Ų¹ŁŲ§Ł
Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
أ٠ŁŲÆŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲØŲ³Ų·Ų§Ł ŁŁ
Ų³ŁŲ” Ų§ŁŁŁŁ ŁŁŲŖŁŲØ ŲØŲ§ŁŁŁŲ§Ų± , ŁŁŁ
Ų³ŁŲ” Ų§ŁŁŁŲ§Ų± ŁŁŲŖŁŲØ ŲØŲ§ŁŁŁŁ ŲŲŖŁ ŲŖŲ·ŁŲ¹ Ų§ŁŲ“Ł
Ų³ Ł
Ł Ł
ŲŗŲ±ŲØŁŲ§
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų„Ł
Ų³Ų§Ł Ų§ŁŁŁ ŲŖŲØŲ§Ų±Ł ŁŲŖŲ¹Ų§ŁŁ Ų§Ų³Ł
Ł ŁŲ¬Ł Ų«ŁŲ§Ų¤Ł Ų§ŁŲ³Ł
Ų§ŁŲ§ŲŖ ŁŲ§ŁŲ£Ų±Ų¶ ŁŁ
Ų§ Ų¹ŁŁŁŲ§ Ų¹ŁŁ أصابع٠ج٠ربŁŲ§ Ų¹Ł Ų£Ł ŲŖŁŁŁ Ų£ŲµŲ§ŲØŲ¹Ł ŁŲ£ŲµŲ§ŲØŲ¹ Ų®ŁŁŁ، ŁŲ¹Ł أ٠ŁŲ“ŲØŁ Ų“ŁŲ” Ł
Ł ŲµŁŲ§ŲŖ Ų°Ų§ŲŖŁ ŲµŁŲ§ŲŖ Ų®ŁŁŁ، ŁŁŲÆ Ų£Ų¬Ł Ų§ŁŁŁ ŁŲÆŲ± ŁŲØŁŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų¹Ł Ų£Ł ŁŁŲµŁ Ų§ŁŲ®Ų§ŁŁ Ų§ŁŲØŲ§Ų±Ų¦ ŲØŲŲ¶Ų±ŲŖŁ ŲØŁ
Ų§ ŁŁŲ³ Ł
Ł ŲµŁŲ§ŲŖŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ Ų§ŁŲ£ŲµŲ§ŲØŲ¹ ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł Ł
Ł Ų³ŁŲ© Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŁŁŲ§ ŁŁ ŁŲ§ ŲŁŲ§ŁŲ© ع٠غŁŲ±Ł، ŁŁ
Ų§ Ų²Ų¹Ł
ŲØŲ¹Ų¶ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŁ ŁŲ§ŁŲ¹ŁŲ§ŲÆ Ų£Ł Ų®ŲØŲ± Ų§ŲØŁ Ł
Ų³Ų¹ŁŲÆ ŁŁŲ³ ŁŁ Ł
Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
, ŁŲ„ŁŁ
Ų§ ŁŁ Ł
Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŲÆ، ŁŲ£ŁŁŲ± Ų£Ł ŁŁŁŁ Ų¶ŲŁ Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
، ŲŖŲµŲÆŁŁŲ§
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ Ų§ŁŲ±Ų¬Ł ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŲ„Ł Ų±ŲŗŁ
ŲŖ Ų£ŁŁŁ Ų§ŁŁ
Ų¹Ų·ŁŲ© Ų§ŁŲ¬ŁŁ
ŁŲ©، Ų§ŁŲ°ŁŁ ŁŁŁŲ±ŁŁ ŲØŲµŁŲ§ŲŖ Ų®Ų§ŁŁŁŲ§ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł Ų§ŁŲŖŁ Ų£Ų«ŲØŲŖŁŲ§ ŁŁŁŲ³Ł ŁŁ Ł
ŲŁŁ
ŲŖŁŲ²ŁŁŁ , ŁŲ¹ŁŁ ŁŲ³Ų§Ł ŁŲØŁŁ Ų§ŁŁ
ŲµŲ·ŁŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŲ§Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŲ°ŁŲ± Ł
Ų§ ŁŲÆŲ¹Ł ŲØŲ¹Ų¶ Ų§ŁŁŁŲ§Ų± Ł
Ł ŲÆŁŁ Ų§ŁŁŁ: Ų£ŁŁŁ
Ų£Ų±Ų¬Ł ŁŁ
Ų“ŁŁ ŲØŁŲ§، Ų£Ł
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§Ų³ŲŖŁŲ§Ų” Ų®Ų§ŁŁŁŲ§ Ų§ŁŲ¹ŁŁ Ų§ŁŲ£Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŲ¹Ų§Ł ŁŁ
Ų§ ŁŲ“Ų§Ų”، Ų¹ŁŁ Ų¹Ų±Ų“Ł ŁŁŲ§Ł ŁŁŁŁ، ŁŁŁŁ ŁŁ Ų“ŁŲ” Ų¹Ų§ŁŁŲ§ ŁŁ
Ų§ Ų£Ų®ŲØŲ± Ų§ŁŁŁ Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§ ŁŁ ŁŁŁŁ: Ų§ŁŲ±ŲŁ
Ł Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų±Ų“ Ų§Ų³ŲŖŁŁ، ŁŁŲ§Ł Ų±ŲØŁŲ§ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł: Ų„Ł Ų±ŲØŁŁ
Ų§ŁŁŁ Ų§ŁŲ°Ł Ų®ŁŁ Ų§ŁŲ³Ł
Ų§ŁŲ§ŲŖ ŁŲ§ŁŲ£Ų±Ų¶ ŁŁ Ų³ŲŖŲ© Ų£ŁŲ§Ł
Ų«Ł
Ų§Ų³ŲŖŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų±Ų“ ŁŁŲ§Ł ŁŁ ŲŖŁŲ²ŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŁ Ų§ŁŲ³Ł
Ų§Ų” ŁŁ
Ų§ Ų£Ų®ŲØŲ±ŁŲ§ ŁŁ Ł
ŲŁŁ
ŲŖŁŲ²ŁŁŁ ŁŲ¹ŁŁ ŁŲ³Ų§Ł ŁŲØŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł
، ŁŁŁ
Ų§ ŁŁ Ł
ŁŁŁŁ
ŁŁ ŁŲ·Ų±Ų© Ų§ŁŁ
Ų³ŁŁ
ŁŁ، Ų¹ŁŁ
Ų§Ų¦ŁŁ
ŁŲ¬ŁŲ§ŁŁŁ
، Ų£ŲŲ±Ų§Ų±ŁŁ
ŁŁ
Ł
Ų§ŁŁŁŁŁ
، Ų°ŁŲ±Ų§ŁŁŁ
ŁŲ„ŁŲ§Ų«ŁŁ
، ŲØŲ§ŁŲŗŁŁŁ
ŁŲ£Ų·ŁŲ§ŁŁŁ
، ŁŁ Ł
Ł ŲÆŲ¹Ų§ Ų§ŁŁŁ Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§: ŁŲ„ŁŁ
Ų§ ŁŲ±ŁŲ¹ Ų±Ų£Ų³Ł Ų„ŁŁ Ų§ŁŲ³Ł
Ų§Ų”
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų§ŁŁ
Ų«ŲØŲŖŲ© Ų£Ł Ų§ŁŁŁ Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§ ŁŁŁ ŁŁ Ų“ŁŲ” ŁŲ£ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ³Ł
Ų§Ų”، ŁŁ
Ų§ Ų£Ų¹ŁŁ
ŁŲ§ ŁŁ ŁŲŁŁ Ų¹ŁŁ ŁŲ³Ų§Ł ŁŲØŁŁ، Ų„Ų° ŁŲ§ ŲŖŁŁŁ Ų³ŁŲŖŁ Ų£ŲØŲÆŲ§ Ų§ŁŁ
ŁŁŁŁŲ© Ų¹ŁŁ ŲØŁŁŁ Ų§ŁŲ¹ŲÆŁ ع٠اŁŲ¹ŲÆŁ Ł
ŁŲµŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁ Ų„ŁŲ§ Ł
ŁŲ§ŁŁŲ© ŁŁŲŖŲ§ŲØ Ų§ŁŁŁ ŁŲ§ Ł
Ų®Ų§ŁŁŲ© ŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲÆŁŁŁ Ų¹ŁŁ أ٠اŁŲ„ŁŲ±Ų§Ų± ŲØŲ£Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŁ Ų§ŁŲ³Ł
Ų§Ų” Ł
Ł Ų§ŁŲ„ŁŁ
Ų§Ł
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų«Ų§ŲØŲŖŲ© Ų§ŁŲ³ŁŲÆ ŲµŲŁŲŲ© Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų±ŁŲ§ŁŲ§ Ų¹ŁŁ
Ų§Ų” Ų§ŁŲŲ¬Ų§Ų² ŁŲ§ŁŲ¹Ų±Ų§Ł Ų¹Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŁ ŁŲ²ŁŁ Ų§ŁŲ±ŲØ Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§ Ų„ŁŁ Ų§ŁŲ³Ł
Ų§Ų” Ų§ŁŲÆŁŁŲ§ ŁŁ ŁŁŁŲ©، ŁŲ“ŁŲÆ Ų“ŁŲ§ŲÆŲ© Ł
ŁŲ± ŲØŁŲ³Ų§ŁŁ، Ł
ŲµŲÆŁ ŲØŁŁŲØŁ، Ł
Ų³ŲŖŁŁŁ ŲØŁ
Ų§ ŁŁ ŁŲ°Ł Ų§ŁŲ£Ų®ŲØŲ§Ų± Ł
Ł Ų°ŁŲ± ŁŲ²ŁŁ Ų§ŁŲ±ŲØ Ł
Ł ŲŗŁŲ± أ٠ŁŲµŁ Ų§ŁŁŁŁŁŲ©، ŁŲ£Ł
Ų£ŲØŁŲ§ŲØ Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ ŲµŁŲ© Ų§ŁŁŁŲ§Ł
ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± ŲŖŁŁŁŁ
Ų§ŁŁŁ ŁŁŁŁ
Ł Ł
ŁŲ³Ł Ų®ŲµŁŲµŁŲ© Ų®ŲµŁ Ų§ŁŁŁ ŲØŁŲ§ Ł
Ł ŲØŁŁ Ų§ŁŲ±Ų³Ł ŲØŲ°ŁŲ± آ٠Ł
Ų¬Ł
ŁŲ© ŲŗŁŲ± Ł
ŁŲ³Ų±Ų©، ŁŲ³Ų±ŲŖŁŲ§ Ų¢ŁŲ§ŲŖ Ł
ŁŲ³Ų±Ų§ŲŖ ŁŲ§Ł Ų£ŲØŁ ŲØŁŲ±: ŁŲØŲÆŲ£ ŲØŲ°ŁŲ± ŲŖŁŲ§ŁŲ© Ų§ŁŲ¢Ł Ų§ŁŁ
Ų¬Ł
ŁŲ© ŲŗŁŲ± Ų§ŁŁ
ŁŲ³Ų±Ų©، Ų«Ł
ŁŲ«ŁŁ ŲØŲ¹ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲŖŁŁŁŁŁ ŲØŲ§ŁŲ¢ŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŁ
ŁŲ³Ų±Ų§ŲŖ Ų§ŁŲ£ŲÆŁŲ© Ł
Ł Ų§ŁŁŲŖŲ§ŲØ: ŁŲ§Ł Ų§ŁŁŁ ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ: " ŲŖŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ų§ŁŁŁ Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§ ŁŁŁ
Ł
ŁŲ³Ł Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł
Ł
Ł ŁŲ±Ų§Ų” ŲŲ¬Ų§ŲØ Ł
Ł ŲŗŁŲ± Ų£Ł ŁŁŁŁ ŲØŁŁ Ų§ŁŁŁ ŲŖŲØŲ§Ų±Ł ŁŲŖŲ¹Ų§ŁŁ ŁŲØŁŁ Ł
ŁŲ³Ł Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł
Ų±Ų³ŁŁ ŁŲØŁŲŗŁ ŁŁŲ§Ł
Ų±ŲØŁ، ŁŁ
Ł ŲŗŁŲ± Ų£Ł ŁŁŁŁ Ł
ŁŲ³Ł Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł
ŁŲ±Ł Ų±ŲØŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŁ ŁŁŲŖ ŁŁŲ§Ł
Ł Ų„ŁŲ§Ł
ŲØŲ§ŲØ ŲµŁŲ© ŲŖŁŁŁ
Ų§ŁŁŁ ŲØŲ§ŁŁŲŁ ŁŲ“ŲÆŲ© Ų®ŁŁ Ų§ŁŲ³Ł
Ų§ŁŲ§ŲŖ Ł
ŁŁ، ŁŲ°ŁŲ± ŲµŲ¹Ł Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³Ł
Ų§ŁŲ§ŲŖ ŁŲ³Ų¬ŁŲÆŁŁ
ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł
ŲØŲ§ŲØ Ł
Ł ŲµŁŲ© ŲŖŁŁŁ
Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŲØŲ§ŁŁŲŁ ŁŲ§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł ŁŁŲ§Ł
Ų±ŲØŁŲ§ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŲ§ ŁŲ“ŲØŁ ŁŁŲ§Ł
Ų§ŁŁ
Ų®ŁŁŁŁŁ، ŁŲ£Ł ŁŁŲ§Ł
Ų§ŁŁŁ ŁŁŲ§Ł
Ł
ŲŖŁŲ§ŲµŁ، ŁŲ§ Ų³ŁŲŖ ŲØŁŁŁ، ŁŁŲ§ Ų³Ł
ŲŖ، ŁŲ§ ŁŁŁŲ§Ł
Ų§ŁŲ¢ŲÆŁ
ŁŁŁ Ų§ŁŲ°Ł ŁŁŁŁ ŲØŁŁ ŁŁŲ§Ł
ŁŁ
Ų³ŁŲŖ ŁŲ³Ł
ŲŖ، ŁŲ§ŁŁŲ·Ų§Ų¹ Ų§ŁŁŁŲ³ أ٠اŁŲŖŲ°Ų§ŁŲ±، أ٠اŁŲ¹Ł، Ł
ŁŲ²Ł Ų§ŁŁŁ Ł
ŁŲÆŲ³ Ł
Ł Ų°ŁŁ Ų£Ų¬Ł
Ų¹
ŲØŲ§ŲØ ŲµŁŲ© ŁŲ²ŁŁ Ų§ŁŁŲŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŲ§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£ŁŁ ŁŲÆ ŁŲ§Ł ŁŲ³Ł
Ų¹ ŲØŲ§ŁŁŲŁ ŁŁ ŲØŲ¹Ų¶ Ų§ŁŲ£ŁŁŲ§ŲŖ، ŲµŁŲŖŲ§ ŁŲµŁŲµŁŲ© Ų§ŁŲ¬Ų±Ų³ ŁŲ§Ł Ų£ŲØŁ ŲØŁŲ±: ŁŲÆ ŁŁŲŖ Ų£Ł
ŁŁŲŖ ŲØŲ¹Ų¶ طر٠اŁŲ®ŲØŲ± ŁŁ ŁŲŖŲ§ŲØ ŲµŁŲ© ŁŲ²ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł
ŲØŲ§ŲØ Ų„Ł Ų§ŁŁŁ Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§ ŁŁŁŁ
Ų¹ŲØŲ§ŲÆŁ ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų© Ł
Ł ŲŗŁŲ± ŲŖŲ±Ų¬Ł
Ų§Ł ŁŁŁŁ ŲØŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŲØŁŁ Ų¹ŲØŲ§ŲÆŁ ŲØŲ°ŁŲ± ŁŁŲø Ų¹Ų§Ł
Ł
Ų±Ų§ŲÆŁ Ų®Ų§Ųµ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± ŲØŲ¹Ų¶ Ł
Ų§ ŁŁŁŁ
ŲØŁ Ų§ŁŲ®Ų§ŁŁ ج٠ŁŲ¹ŁŲ§ Ų¹ŲØŲ§ŲÆŁ Ł
Ł
Ų§ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų£Ł Ų§ŁŁŁ ŁŁŁŁ
ŁŁ
ŲØŁ Ł
Ł ŲŗŁŲ± ŲŖŲ±Ų¬Ł
Ų§Ł ŁŁŁŁ ŲØŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų²ŁŲ² Ų§ŁŲ¹ŁŁŁ
ŁŲØŁŁ Ų¹ŲØŲ§ŲÆŁ ŁŲ§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŁŁŁ
Ų§ŁŁŲ§ŁŲ± ŁŲ§ŁŁ
ŁŲ§ŁŁ Ų£ŁŲ¶Ų§ ŲŖŁŲ±ŁŲ±Ų§ ŁŲŖŁŲØŁŲ®Ų§
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų§ŁŲ“Ų§ŁŁ ŁŲµŲŲ© Ł
Ų§ ŲŖŲ±Ų¬Ł
ŲŖŁ ŁŁŲØŲ§ŲØ ŁŲØŁ ŁŲ°Ų§ Ų„Ł Ų§ŁŁŁ Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§ ŁŁŁŁ
Ų§ŁŁŲ§ŁŲ± ŁŲ§ŁŁ
ŁŲ§ŁŁ ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų© ŲŖŁŲ±ŁŲ±Ų§ ŁŲŖŁŲØŁŲ®Ų§ ŁŲ°ŁŲ± Ų„ŁŲ±Ų§Ų± Ų§ŁŁŲ§ŁŲ± ŁŁ Ų°ŁŁ Ų§ŁŁŁŲŖ ŲØŁŁŲ±Ł ŁŁ Ų§ŁŲÆŁŁŲ§، ŁŁŁ Ų„ŁŲ±Ų§Ų±Ł: Ų£ŁŁ ŁŁ
ŁŁŁ ŁŲøŁ ŁŁ Ų§ŁŲÆŁŁŲ§ Ų£ŁŁ Ł
ŁŲ§Ł Ų±ŲØŁ ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų©، ŁŁ
Ł ŁŲ§Ł ŲŗŁŲ± Ł
Ų¤Ł
Ł ŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų§ŁŁŲ±Ł ŲØŁŁ ŁŁŲ§Ł
Ų§ŁŁŁ ŲŖŲØŲ§Ų±ŁŲŖ Ų£Ų³Ł
اؤ٠ŁŲ¬Ł Ų«ŁŲ§Ų¤Ł Ų§ŁŁ
Ų¤Ł
Ł Ų§ŁŲ°Ł ŁŲÆ Ų³ŲŖŲ± Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ų°ŁŁŲØŁ ŁŁ Ų§ŁŲÆŁŁŲ§ ŁŁŁ ŁŲ±ŁŲÆ Ł
ŲŗŁŲ±ŲŖŁŲ§ ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ¢Ų®Ų±Ų© , ŁŲØŁŁ ŁŁŲ§Ł
Ų§ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ§ŁŲ± Ų§ŁŲ°Ł ŁŲ§Ł ŁŁ Ų§ŁŲÆŁŁŲ§ ŲŗŁŲ± Ł
Ų¤Ł
Ł ŲØŲ§ŁŁŁ Ų§ŁŲ¹ŲøŁŁ
, ŁŲ§Ų°ŲØŲ§ Ų¹ŁŁ Ų±ŲØŁ، Ų¶Ų§ŁŲ§ Ų¹Ł Ų³ŲØŁŁŁ , ŁŲ§ŁŲ±Ų§ ŲØŲ§ŁŲ¢Ų®Ų±Ų©
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ł
Ł ŁŲŖŲ§ŲØ Ų±ŲØŁŲ§ Ų§ŁŁ
ŁŲ²Ł Ų¹ŁŁ ŁŲØŁŁ Ų§ŁŁ
ŲµŲ·ŁŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŁ
Ł Ų³ŁŲ© ŁŲØŁŁŲ§ Ł
ŲŁ
ŲÆ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ł ŲØŁŁ ŁŁŲ§Ł
Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł Ų§ŁŲ°Ł ŲØŁ ŁŁŁŁ Ų®ŁŁŁ ŁŲØŁŁ Ų®ŁŁŁ Ų§ŁŲ°Ł ŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŲ§Ł
Ł ŁŁŁŁŁ , ŁŲ§ŁŲÆŁŁŁ Ų¹ŁŁ ŁŲØŲ° ŁŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŁ
ŁŲ© Ų§ŁŲ°ŁŁ ŁŲ²Ų¹Ł
ŁŁ Ų£Ł ŁŁŲ§Ł
Ų§ŁŁŁ Ł
Ų®ŁŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ł
Ł Ų§ŁŲ£ŲÆŁŲ© Ų§ŁŲŖŁ ŲŖŲÆŁ Ų¹ŁŁ Ų£Ł Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł ŁŁŲ§Ł
Ų§ŁŁŁ Ų§ŁŲ®Ų§ŁŁ، ŁŁŁŁŁ ŲŗŁŲ± Ł
Ų®ŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁ
Ų§ Ų²Ų¹Ł
ŲŖ Ų§ŁŁŁŲ±Ų© Ł
Ł Ų§ŁŲ¬ŁŁ
ŁŲ© Ų§ŁŁ
Ų¹Ų·ŁŲ©
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŁŲøŲ± Ų„ŁŁŁ Ų¬Ł
ŁŲ¹ Ų§ŁŁ
Ų¤Ł
ŁŁŁ ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų© ŲØŲ±ŁŁ
ŁŁŲ§Ų¬Ų±ŁŁ
ŁŲ„Ł Ų±ŲŗŁ
ŲŖ Ų£ŁŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŁ
ŁŲ© Ų§ŁŁ
Ų¹Ų·ŁŲ© Ų§ŁŁ
ŁŁŲ±Ų© ŁŲµŁŲ§ŲŖ Ų®Ų§ŁŁŁŲ§ ج٠ذŁŲ±Ł
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ų¬Ł
ŁŲ¹ Ų£Ł
Ų© Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŲØŲ±ŁŁ
ŁŁŲ§Ų¬Ų±ŁŁ
، Ł
Ų¤Ł
ŁŁŁ
ŁŁ
ŁŲ§ŁŁŁŁ
، ŁŲØŲ¹Ų¶ Ų£ŁŁ Ų§ŁŁŲŖŲ§ŲØ ŁŲ±ŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų© ŁŲ±Ų§Ł ŲØŲ¹Ų¶ŁŁ
Ų±Ų¤ŁŲ© Ų§Ł
ŲŖŲŲ§Ł، ŁŲ§ Ų±Ų¤ŁŲ© Ų³Ų±ŁŲ± ŁŁŲ±Ų، ŁŲŖŁŲ°Ų° ŲØŲ§ŁŁŲøŲ± ŁŁ ŁŲ¬Ł Ų±ŲØŁŁ
Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł Ų°Ł Ų§ŁŲ¬ŁŲ§Ł ŁŲ§ŁŲ„ŁŲ±Ų§Ł
ŁŁŲ°Ł Ų§ŁŲ±Ų¤ŁŲ©: ŁŲØŁ Ų£Ł ŁŁŲ¶Ų¹
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų„Ł Ų¬Ł
ŁŲ¹ Ų§ŁŁ
Ų¤Ł
ŁŁŁ ŁŲ±ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų© Ł
Ų®ŁŁŲ§ ŲØŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŲ°ŁŲ± ŲŖŲ“ŲØŁŁ Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŲØŲ±Ų¤ŁŲ© Ų§ŁŁŁ
Ų±، Ų®Ų§ŁŁŁŁ
، Ų°ŁŁ Ų§ŁŁŁŁ
ŲØŁ
Ų§ ŁŲÆŲ±Ł Ų¹ŁŁŁ، ŁŁ Ų§ŁŲÆŁŁŲ§ Ų¹ŁŲ§ŁŲ§ ŁŁŲøŲ±Ų§ ŁŲ±Ų¤ŁŲ©
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ų±Ų¤ŁŲ© Ų§ŁŁŁ Ų§ŁŲŖŁ ŁŲ®ŲŖŲµ ŲØŁŲ§ Ų£ŁŁŁŲ§Ų¤Ł ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų© ŁŁ Ų§ŁŲŖŁ Ų°ŁŲ± ŁŁ ŁŁŁŁ: ŁŲ¬ŁŁ ŁŁŁ
Ų¦Ų° ŁŲ§Ų¶Ų±Ų© Ų„ŁŁ Ų±ŲØŁŲ§ ŁŲ§ŲøŲ±Ų© ŁŁŁŲ¶Ł ŲØŁŲ°Ł Ų§ŁŁŲ¶ŁŁŲ© Ų£ŁŁŁŲ§Ų¤Ł Ł
Ł Ų§ŁŁ
Ų¤Ł
ŁŁŁ، ŁŁŲŲ¬ŲØ Ų¬Ł
ŁŲ¹ Ų£Ų¹ŲÆŲ§Ų¦Ł Ų¹Ł Ų§ŁŁŲøŲ± Ų„ŁŁŁ Ł
Ł Ł
Ų“Ų±Ł ŁŁ
ŲŖŁŁŲÆ ŁŁ
ŲŖŁŲµŲ± ŁŁ
ŲŖŁ
Ų¬Ų³ ŁŁ
ŁŲ§ŁŁ، ŁŁ
Ų§ Ų£Ų¹ŁŁ
ŁŁ ŁŁŁŁ ŁŁŲ§ Ų„ŁŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲ£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų§ŁŁ
Ų£Ų«ŁŲ±Ų© ŁŁ Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ Ų±Ų¤ŁŲ© Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų®Ų§ŁŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų²ŁŲ² Ų§ŁŲ¹ŁŁŁ
Ų§ŁŁ
ŲŲŖŲ¬ŲØ ع٠أبصار ŲØŲ±ŁŲŖŁ، ŁŲØŁ Ų§ŁŁŁŁ
Ų§ŁŲ°Ł ŲŖŲ¬Ų²Ł ŁŁŁ ŁŁ ŁŁŲ³ ŲØŁ
Ų§ ŁŲ³ŲØŲŖ ŁŁŁ
Ų§ŁŲŲ³Ų±Ų© ŁŲ§ŁŁŲÆŲ§Ł
Ų© ŁŲ°ŁŲ± Ų§Ų®ŲŖŲµŲ§Ųµ Ų§ŁŁŁ ŁŲØŁŁ Ł
ŲŁ
ŲÆŲ§ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŲØŲ§ŁŲ±Ų¤ŁŲ© ŁŁ
Ų§ Ų®Ųµ ŁŲØŁŁ Ų„ŲØŲ±Ų§ŁŁŁ
ŲØŲ§ŁŲ®ŁŲ©،
Ų£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ ŲØŁ Ł
Ų³Ų¹ŁŲÆ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų±ŁŁŲŖ ع٠عائؓة Ų±Ų¶Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŲ§ ŁŁ Ų„ŁŁŲ§Ų± Ų±Ų¤ŁŲ© Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŲŖŲ³ŁŁŁ
Ų§ ŁŲØŁ ŁŲ²ŁŁ Ų§ŁŁ
ŁŁŲ© ŲØŲ§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
، Ų„Ų° Ų£ŁŁ ŁŲØŁŲŖŁŲ§ Ł
Ł Ų§ŁŲµŲŲ§ŲØŲ© ŁŲ§ŁŲŖŲ§ŲØŲ¹Ų§ŲŖ ŁŲ§ŁŲŖŲ§ŲØŲ¹ŁŁ ŁŁ
Ł ŲØŲ¹ŲÆŁŁ
Ų„ŁŁ Ł
Ł Ų“Ų§ŁŲÆŁŲ§ Ł
Ł Ų§ŁŲ¹ŁŁ
Ų§Ų” Ł
Ł Ų£ŁŁ Ų¹ŲµŲ±ŁŲ§، ŁŁ
ŁŲ®ŲŖŁŁŁŲ§ ŁŁŁ
ŁŲ“ŁŁŲ§ ŁŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ Ų¶ŲŁ Ų±ŲØŁŲ§ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŲØŁŲ§ ŲµŁŲ© ŲŖŲµŁ Ų¶ŲŁŁ، ج٠ثŁŲ§Ų¤Ł، ŁŲ§ ŁŁŲ§ ŁŲ“ŲØŁ Ų¶ŲŁŁ ŲØŲ¶ŲŁ Ų§ŁŁ
Ų®ŁŁŁŁŁ، ŁŲ¶ŲŁŁŁ
ŁŲ°ŁŁ، ŲØŁ ŁŲ¤Ł
Ł ŲØŲ£ŁŁ ŁŲ¶ŲŁ، ŁŁ
Ų§ Ų£Ų¹ŁŁ
Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŁŲ³ŁŲŖ ع٠صŁŲ© Ų¶ŲŁŁ Ų¬Ł ŁŲ¹ŁŲ§، Ų„Ų° Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł Ų§Ų³ŲŖŲ£Ų«Ų± ŲØŲµŁŲ© Ų¶ŲŁŁ، ŁŁ
ŁŲ·ŁŲ¹ŁŲ§ Ų¹ŁŁ Ų°ŁŁ، ŁŁŲŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų£ŲØŁŲ§ŲØ Ų“ŁŲ§Ų¹Ų© Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų§ŁŲŖŁ ŁŲÆ Ų®Ųµ ŲØŁŲ§ ŲÆŁŁ Ų§ŁŲ£ŁŲØŁŲ§Ų” Ų³ŁŲ§Ł، ŲµŁŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ
ŁŲ£Ł
ŲŖŁ، ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŲÆŁŁ ŲŗŁŲ±Ł Ł
Ł Ų§ŁŲ£ŁŲØŁŲ§Ų” ŲµŁŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ
، ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© ŲØŲ¹Ų¶ Ų£Ł
ŲŖŁ ŁŲØŲ¹Ų¶ Ų£Ł
ŲŖŁ، Ł
Ł
Ł ŁŲÆ Ų£ŁŲØŁŲŖŁŁ
Ų®Ų·Ų§ŁŲ§ŁŁ
ŁŲ°ŁŁŲØŁŁ
ŁŲ£ŲÆŲ®ŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲ§Ų±،
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© Ų§ŁŲŖŁ Ų®Ųµ Ų§ŁŁŁ ŲØŁŲ§ Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŲÆŁŁ ŲŗŁŲ±Ł Ł
Ł Ų§ŁŲ£ŁŲØŁŲ§Ų” ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ
ŁŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© Ų§ŁŲ£ŁŁŁ Ų§ŁŲŖŁ ŁŲ“ŁŲ¹ ŲØŁŲ§ ŁŲ£Ł
ŲŖŁ، ŁŁŲ®ŁŲµŁŁ
Ų§ŁŁŁ Ł
Ł Ų§ŁŁ
ŁŁŁ Ų§ŁŲ°Ł ŁŲÆ Ų¬Ł
Ų¹ŁŲ§ ŁŁŁ، ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų©، Ł
Ų¹ Ų§ŁŲ£ŁŁŁ، ŁŁŲÆ ŲÆŁŲŖ Ų§ŁŲ“Ł
Ų³ Ł
ŁŁŁ
، ŁŲ¢Ų°ŲŖŁŁ
ŁŲ£ŲµŲ§ŲØŁŁ
Ł
Ł Ų§ŁŲŗŁ
ŁŲ§ŁŁŲ±ŲØ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲÆŁŁŁ أ٠ŁŲ°Ł Ų§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© Ų§ŁŲŖŁ ŁŲµŁŁŲ§ Ų£ŁŁŲ§ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų§ŲŖ ŁŁ Ų§ŁŲŖŁ ŁŲ“ŁŲ¹ ŲØŁŲ§ Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŁŁŲ¶Ł Ų§ŁŁŁ ŲØŁŁ Ų§ŁŲ®ŁŁ ŁŲ¹ŁŲÆŁŲ§ ŁŲ£Ł
Ų±Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł أ٠ŁŲÆŲ®Ł Ł
Ł ŁŲ§ ŲŲ³Ų§ŲØ Ų¹ŁŁŁ Ł
Ł Ų£Ł
ŲŖŁ Ų§ŁŲ¬ŁŲ© Ł
Ł Ų§ŁŲØŲ§ŲØ Ų§ŁŲ£ŁŁ
Ł، ŁŁŁ Ų£ŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ų³ ŲÆŲ®ŁŁŲ§ Ų§ŁŲ¬ŁŲ© Ł
Ł Ų§ŁŁ
Ų¤Ł
ŁŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł ŁŲ°Ł Ų§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© Ų§ŁŲŖŁ Ų°ŁŲ±ŲŖ Ų£ŁŁŲ§ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų§ŲŖ Ų„ŁŁ
Ų§ ŁŁ ŁŲØŁ Ł
Ų±ŁŲ± Ų§ŁŁŲ§Ų³ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲµŲ±Ų§Ų· ŲŁŁ ŲŖŲ²ŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŲ©، ŁŲ„Ł Ų§ŁŁŁ ŁŲ§Ł: ŁŲ£Ų²ŁŁŲŖ Ų§ŁŲ¬ŁŲ© ŁŁŁ
ŲŖŁŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł ŁŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų“ŁŲ§Ų¹Ų§ŲŖ ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų© ŁŁ Ł
ŁŲ§Ł
ŁŲ§ŲŲÆ ŁŲ§ŲŲÆŲ© ŲØŲ¹ŲÆ Ų£Ų®Ų±Ł، Ų£ŁŁŁŲ§: Ł
Ų§ Ų°ŁŲ± ŁŁ Ų®ŲØŲ± Ų£ŲØŁ Ų²Ų±Ų¹Ų©، ع٠أب٠ŁŲ±ŁŲ±Ų© Ų±Ų¶Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁ، ŁŲ®ŲØŲ± Ų§ŲØŁ Ų¹Ł
Ų±، ŁŲ§ŲØŁ Ų¹ŲØŲ§Ų³ ŁŁŁ Ų“ŁŲ§Ų¹ŲŖŁ ŁŲ£Ł
ŲŖŁ ŁŁŲ®ŁŲµŁŲ§ Ł
Ł Ų°ŁŁ Ų§ŁŁ
ŁŁŁ، ŁŁŁŲ¹Ų¬Ł Ų§ŁŁŁ ŲŲ³Ų§ŲØŁŁ
ŁŁŁŲ¶Ł ŲØŁŁŁŁ
، Ų«Ł
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų£ŁŁ Ų“Ų§ŁŲ¹ ŁŲ£ŁŁ Ł
Ų“ŁŲ¹، ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų© ŁŁŁŁ ŲÆŁŲ§ŁŲ© Ų£Ł ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų© ŁŲÆ ŁŲ“ŁŲ¹ ŲØŲ¹ŲÆ ŁŲØŁŁŲ§ ŲŗŁŲ±Ł Ų¹ŁŁ Ł
Ų§ Ų³Ų£ŲØŁŁŁ ŲØŲ¹ŲÆ Ų°ŁŁ، Ų„Ł Ų“Ų§Ų” Ų§ŁŁŁ، Ų„Ų° ŲŗŁŲ± Ų¬Ų§Ų¦Ų² ŁŁ Ų§ŁŁŲŗŲ© Ų£Ł ŁŁŲ§Ł Ų£ŁŁ ŁŁ
Ų§ ŁŲ§ Ų«Ų§ŁŁ ŁŁ ŲØŲ¹ŲÆ ŁŁŲ§ Ų«Ų§ŁŲ«
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų“ŲÆŲ© Ų“ŁŁŲ© Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŲ±Ų£ŁŲŖŁ ŁŲ±ŲŁ
ŲŖŁ ŲØŲ£Ł
ŲŖŁ ŁŁŲ¶Ł Ų“ŁŁŲŖŁ Ų¹ŁŁ Ų£Ł
ŲŖŁ، Ų¹ŁŁ Ų“ŁŁŲ© Ų§ŁŲ£ŁŲØŁŲ§Ų” ŲµŁŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŁŁ ŁŲ³ŁŲ§Ł
Ł Ų¹ŁŁŁŁ
، Ų¹ŁŁ Ų£Ł
Ł
ŁŁ
Ų„Ų° Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł Ų£Ų¹Ų·Ł ŁŁ ŁŲØŁ ŲÆŲ¹ŁŲ© ŁŲ¹ŲÆ Ų„Ų¬Ų§ŲØŲŖŁŲ§، ŁŲ¬Ų¹Ł ŁŁ ŁŲØŁ Ł
ŁŁŁ
ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ł
Ų³Ų£ŁŲŖŁ ŁŲ£Ų¹Ų·Ł Ų³Ų¤ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲÆŁŁŲ§، ŁŲ£Ų®Ų±
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲÆŁŁŁ Ų¹ŁŁ ŲµŲŲ© Ł
Ų§ Ų£ŁŁŲŖ ŁŁŁŁ ŁŲÆŲ¹Ł ŲØŁŲ§ أ٠Ł
Ų¹ŁŲ§ŁŲ§ ŁŲÆ ŲÆŲ¹Ų§ ŲØŁŲ§ Ų¹ŁŁ Ł
Ų§ ŲŁŁŲŖŁ ع٠اŁŲ¹Ų±ŲØ Ų£ŁŁŲ§ ŲŖŁŁŁ: ŁŁŲ¹Ł ŁŁ Ł
ŁŲ¶Ų¹: ŁŲ¹Ł
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ł
Ų§ ŁŲ§Ł Ł
Ł ŲŖŲ®ŁŁŲ± Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŲØŁŁ Ł
ŲŁ
ŲÆŲ§ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŲØŁŁ Ų„ŲÆŲ®Ų§Ł ŁŲµŁ Ų£Ł
ŲŖŁ Ų§ŁŲ¬ŁŲ© ŁŲØŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© ŁŲ§Ų®ŲŖŲ§Ų± Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŲ£Ł
ŲŖŁ Ų§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© Ų„Ų° ŁŁ Ų£Ų¹Ł
ŁŲ£ŁŲ«Ų± ŁŲ£ŁŁŲ¹ ŁŲ£Ł
ŲŖŁ Ų®ŁŲ± Ų§ŁŲ£Ł
Ł
Ł
Ł Ų„ŲÆŲ®Ų§Ł ŲØŲ¹Ų¶ŁŁ
Ų§ŁŲ¬ŁŲ©
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲÆŁŁŁ Ų¹ŁŁ أ٠اŁŲ£ŁŲØŁŲ§Ų”، ŁŲØŁ ŁŲØŁŁŲ§ Ł
ŲŁ
ŲÆ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
، ŁŲ¹ŁŁŁŁ
Ų£Ų¬Ł
Ų¹ŁŁ Ų„ŁŁ
Ų§ ŲÆŲ¹Ų§ ŲØŲ¹Ų¶ŁŁ
ŁŁŁ
Ų§ ŁŲ§Ł Ų§ŁŁŁ Ų¬Ų¹Ł ŁŁŁ
Ł
Ł Ų§ŁŲÆŲ¹ŁŲ© Ų§ŁŁ
Ų¬Ų§ŲØŲ© Ų³Ų£ŁŁŁŲ§ Ų±ŲØŁŁ
، ŁŲÆŲ¹Ų§ ŲØŲ¹Ų¶ŁŁ
ŲØŲŖŁŁ Ų§ŁŲÆŲ¹ŁŲ©، Ų¹ŁŁ ŁŁŁ
Ł، ŁŁŁŁŁŁŲ§ ŁŁ Ų§ŁŲÆŁŁŲ§، ŁŲ§ŁŲÆŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų£ŁŁ ŁŁ
ŁŁŁ Ų£ŲŲÆ Ł
ŁŁŁ
أرأ٠بأŁ
ŲŖŁ،
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± ŁŁŲøŲ© Ų±ŁŁŲŖ Ų¹Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŁ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© ŲŲ³ŲØŲŖ Ų§ŁŁ
Ų¹ŲŖŲ²ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ®ŁŲ§Ų±Ų¬ ŁŁŲ«ŁŲ± Ł
Ł Ų£ŁŁ Ų§ŁŲØŲÆŲ¹ ŁŲŗŁŲ±ŁŁ
ŁŲ¬ŁŁŁŁ
ŲØŲ§ŁŲ¹ŁŁ
ŁŁŁŲ© Ł
Ų¹Ų±ŁŲŖŁŁ
ŲØŲ£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų£ŁŁŲ§ ŲŖŲ¶Ų§ŲÆ ŁŁŁ Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų¹ŁŲÆ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© Ų£ŁŁŲ§ ŁŁŁ Ł
Ų³ŁŁ
، ŁŁŁŲ³ŲŖ ŁŁ
Ų§
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲÆŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų£Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų„ŁŁ
Ų§ Ų£Ų±Ų§ŲÆ ŲØŲ§ŁŁŲØŲ§Ų¦Ų± ŁŁ ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŁ
ŁŲ¶Ų¹ Ł
Ų§ ŁŁ ŲÆŁŁ Ų§ŁŲ“ر٠Ł
Ł Ų§ŁŲ°ŁŁŲØ Ų„Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŲÆ Ų£Ų®ŲØŲ± أ٠اŁŲ“ر٠أŁŲØŲ± Ų§ŁŁŲØŲ§Ų¦Ų±، ŁŁ
Ų¹ŁŁ ŁŁŁŁ: " ŁŲ£ŁŁ Ų§ŁŁŲØŲ§Ų¦Ų± Ł
Ł Ų£Ł
ŲŖŁ " Ų„ŁŁ
Ų§ Ų£Ų±Ų§ŲÆ Ų£Ł
ŲŖŁ Ų§ŁŲ°ŁŁ Ų£Ų¬Ų§ŲØŁŁ ŁŲ¢Ł
ŁŁŲ§ ŲØŁ ŁŲŖŲ§ŲØŁŲ§ Ų¹Ł
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ų“ŁŲ§Ų¹Ų© Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų§ŁŲŖŁ Ų°ŁŲ±ŲŖ Ų£ŁŁŲ§ ŁŲ£ŁŁ Ų§ŁŁŲØŲ§Ų¦Ų± ŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ł
Ų§ ŲŖŲ£ŁŁŲŖŁ، ŁŲ£ŁŁŲ§ ŁŁ
Ł ŁŲÆ Ų£ŲÆŲ®Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± Ł
Ł ŲŗŁŲ± Ų£ŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ų±، ŁŲ§ŁŲ°ŁŁ ŁŁ
Ų£ŁŁŁŲ§ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ®ŁŁŲÆ ŁŁŁŲ§، ŲØŁ ŁŁŁŁ
Ł
Ł Ų£ŁŁ Ų§ŁŲŖŁŲŁŲÆ Ų§Ų±ŲŖŁŲØŁŲ§ Ų°ŁŁŲØŲ§ ŁŲ®Ų·Ų§ŁŲ§ ŁŲ£ŲÆŲ®ŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲ§Ų± ŁŁŲµŁŲØŁŁ
Ų³ŁŲ¹Ų§ Ł
ŁŁŲ§
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų„Ų±Ų¶Ų§Ų” Ų§ŁŁŁ ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ ŁŲØŁŁ Ł
ŲŁ
ŲÆŲ§ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų© Ł
Ų±Ų© ŲØŲ¹ŲÆ أخر٠ŲŲŖŁ ŁŁŲ± ŲØŲ£ŁŁ ŁŲÆ Ų±Ų¶Ł ŲØŁ
Ų§ ŁŲÆ Ų£Ų¹Ų·Ł ŁŁ Ų£Ł
ŲŖŁ Ł
Ł Ų§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų©
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ł
Ł ŁŲ¶Ų§Ų” Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł، Ų„Ų®Ų±Ų§Ų¬ŁŁ
Ł
Ł Ų£ŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ų± Ł
Ł Ų£ŁŁ Ų§ŁŲŖŁŲŁŲÆ ŲØŲ§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© ŁŲµŁŲ±ŁŁ ŁŁŁŲ§ ŁŲŁ
Ų§ ŁŁ
ŁŲŖŁŁ
Ų§ŁŁŁ ŁŁŁŲ§ Ų„Ł
Ų§ŲŖŲ© ŁŲ§ŲŲÆŲ©، Ų«Ł
ŁŲ¤Ų°Ł ŲØŲ¹ŲÆ Ų°ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© ŁŲµŁŲ© Ų„ŲŁŲ§Ų” Ų§ŁŁŁ Ų„ŁŲ§ŁŁ
، ŲØŲ¹ŲÆ Ų„Ų®Ų±Ų§Ų¬ŁŁ
Ł
Ł Ų§ŁŁŲ§Ų±، ŁŁŲØŁ ŲÆŲ®ŁŁŁŁ
Ų§ŁŲ¬ŁŲ© ŲØŁŁŲøŲ© Ų¹Ų§Ł
Ų© Ł
Ų±Ų§ŲÆŁŲ§ Ų®Ų§Ųµ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł ŁŲ¤ŁŲ§Ų” Ų§ŁŲ°ŁŁ Ų°ŁŲ±ŁŲ§ ŁŁ ŁŲ°Ł Ų§ŁŲ£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų£ŁŁŁ
ŁŲ®Ų±Ų¬ŁŁ Ł
Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± ŁŁŲÆŲ®ŁŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŲ©، Ų„ŁŁ
Ų§ ŁŲ®Ų±Ų¬ŁŁ Ł
Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± ŲØŲ§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© ŁŁ Ų®ŲØŲ± Ų§ŲØŁ Ų¹ŁŁŲ©، Ų£Ų°Ł ŲØŲ§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© ŁŲ¬ŁŲ” ŲØŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲÆŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų£Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų„ŁŁ
Ų§ Ų£Ų±Ų§ŲÆ ŲØŁŁŁŁ ŁŁŲµŁŲ±ŁŁ ŁŲŁ
Ų§، Ų£Ł Ų£ŲØŲÆŲ§ŁŁŁ
Ų®ŁŲ§ ŲµŁŲ±ŁŁ
ŁŲ¢Ų«Ų§Ų± Ų§ŁŲ³Ų¬ŁŲÆ Ł
ŁŁŁ
، Ų„Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŲŲ±Ł
Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ų± Ų£ŁŁ Ų£Ų«Ų± Ų§ŁŲ³Ų¬ŁŲÆ Ł
Ł Ų£ŁŁ Ų§ŁŲŖŁŲŁŲÆ ŲØŲ§ŁŁŁ، ŁŁŲ¹ŁŲ° ŲØŁ Ł
Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± ŁŲ¹Ų°Ų§ŲØŁŲ§
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ł
Ł ŁŲ¶Ł Ų§ŁŁŁ Ų„Ų®Ų±Ų§Ų¬ŁŁ
Ł
Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± Ł
Ł Ų£ŁŁ Ų§ŁŲŖŁŲŁŲÆ Ų§ŁŲ°ŁŁ ŁŁŲ³ŁŲ§ ŲØŲ£ŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ų±، Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ®ŁŁŲÆ ŁŁŁŲ§، ŁŁ
ŁŲŖŁŁ ŁŁŁŲ§ Ų„Ł
Ų§ŲŖŲ© ŁŲ§ŲŲÆŲ©، ŲŖŁ
ŁŲŖŁŁ
Ų§ŁŁŲ§Ų± Ų„Ł
Ų§ŲŖŲ© Ų«Ł
ŁŲ®Ų±Ų¬ŁŁ Ł
ŁŁŲ§، ŁŁŲÆŲ®ŁŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŲ©، ŁŲ§ Ų£ŁŁŁ
ŁŁŁŁŁŁ Ų£ŲŁŲ§Ų” ŁŲ°ŁŁŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų°Ų§ŲØ، ŁŁŲ£ŁŁ
ŁŁ Ł
Ł ŲŲ± Ų§ŁŁŲ§Ų± ŲŲŖŁ ŁŲ®Ų±Ų¬ŁŲ§
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų®ŲØŲ± Ų±ŁŁ Ų¹Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŁ Ų„Ų®Ų±Ų§Ų¬ Ų“Ų§ŁŲÆ Ų£Ł ŁŲ§ Ų„ŁŁ Ų„ŁŲ§ Ų§ŁŁŁ Ł
Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± Ų£ŁŲ±Ł أ٠ŁŲ³Ł
Ų¹ ŲØŁ ŲØŲ¹Ų¶ Ų§ŁŲ¬ŁŲ§Ł، ŁŁŲŖŁŁŁ
أ٠ŁŲ§Ų¦ŁŁ ŲØŁŲ³Ų§ŁŁ، Ł
Ł ŲŗŁŲ± ŲŖŲµŲÆŁŁ ŁŁŲØ، ŁŲ®Ų±Ų¬ Ł
Ł Ų§ŁŁŲ§Ų±، Ų¬ŁŁŲ§ ŁŁŁŲ© Ł
Ų¹Ų±ŁŲ© ŲØŲÆŁŁ Ų§ŁŁŁ، ŁŲ£ŲŁŲ§Ł
Ł، ŁŁŲ¬ŁŁŁ ŲØŲ£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŲ“ŁŲ¹ ŁŁŲ“Ų§ŁŲÆ ŁŁŁ ŲØŲ§ŁŲŖŁŲŁŲÆ Ų§ŁŁ
ŁŲŲÆ ŁŁŁ ŲØŁŲ³Ų§ŁŁ Ų„Ų°Ų§ ŁŲ§Ł Ł
Ų®ŁŲµŲ§ ŁŁ
ŲµŲÆŁŲ§ ŲØŲ°ŁŁ ŲØŁŁŲØŁ، ŁŲ§ ŁŁ
Ł ŲŖŁŁŁ Ų“ŁŲ§ŲÆŲŖŁ ŲØŲ°ŁŁ Ł
ŁŁŲ±ŲÆŲ© Ų¹Ł ŲŖŲµŲÆŁŁ Ų§ŁŁŁŲØ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų®ŲØŲ± ŲÆŲ§Ł Ų¹ŁŁ ŲµŲŲ© Ł
Ų§ ŲŖŲ£ŁŁŲŖ Ų„ŁŁ
Ų§ ŁŲ®Ų±Ų¬ Ł
Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± Ų“Ų§ŁŲÆ Ų£Ł ŁŲ§ Ų„ŁŁ Ų„ŁŲ§ Ų§ŁŁŁ، Ų„Ų°Ų§ ŁŲ§Ł Ł
ŲµŲÆŁŲ§ ŲØŁŁŲØŁ ŲØŁ
Ų§ Ų“ŁŲÆ ŲØŁ ŁŲ³Ų§ŁŁ Ų„ŁŲ§ Ų£ŁŁ ŁŁŁ Ų¹Ł Ų§ŁŲŖŲµŲÆŁŁ ŲØŲ§ŁŁŁŲØ ŲØŲ§ŁŲ®ŁŲ±، ŁŲ¹Ų§ŁŲÆ ŲØŲ¹Ų¶ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŲ§ŲÆ ŁŲ§ŁŲ¹ŁŲ§ŲÆ، ŁŲ§ŲÆŲ¹Ł أ٠ذŁŲ± Ų§ŁŲ®ŁŲ± ŁŁ ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŲ®ŲØŲ± ŁŁŲ³ ŲØŲ„ŁŁ
Ų§Ł ŁŁŲ© Ų¹ŁŁ
ŲØŲÆŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ¬Ų±Ų£Ų©
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲ£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų§ŁŁ
ŲµŲ±ŲŲ© Ų¹Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų£ŁŁ ŁŲ§Ł: " Ų„ŁŁ
Ų§ ŁŲ®Ų±Ų¬ Ł
Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± Ł
Ł ŁŲ§Ł ŁŁ ŁŁŲØŁ ŁŁ Ų§ŁŲÆŁŁŲ§ Ų„ŁŁ
Ų§Ł " ŲÆŁŁ Ł
Ł ŁŁ
ŁŁŁ ŁŁ ŁŁŲØŁ ŁŁ Ų§ŁŲÆŁŁŲ§ Ų„ŁŁ
Ų§Ł Ł
Ł
Ł ŁŲ§Ł ŁŁŲ± ŲØŁŲ³Ų§ŁŁ ŲØŲ§ŁŲŖŁŲŁŲÆ، Ų®Ų§ŁŁŲ§ ŁŁŲØŁ Ł
Ł Ų§ŁŲ„ŁŁ
Ų§Ł Ł
Ų¹ Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų§ŁŁŲ§Ų¶Ų Ų£Ł Ų§ŁŁŲ§Ų³ ŁŲŖŁŲ§Ų¶ŁŁŁ ŁŁ Ų„ŁŁ
Ų§Ł
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ų§ŁŁ
ŁŲ§Ł
Ų§ŁŲ°Ł ŁŲ“ŁŲ¹ ŁŁŁ Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŲ£Ł
ŲŖŁ ŁŁ Ų§ŁŁ
ŁŲ§Ł
Ų§ŁŁ
ŲŁ
ŁŲÆ Ų§ŁŲ°Ł ŁŲ¹ŲÆŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŁ ŁŁŁŁ: عس٠أ٠ŁŲØŲ¹Ų«Ł Ų±ŲØŁ Ł
ŁŲ§Ł
Ų§ Ł
ŲŁ
ŁŲÆŲ§ ŁŁŲ°Ł Ų§ŁŁŁŲøŲ© Ų¹ŁŲÆŁ Ł
Ł Ų§ŁŲ¬ŁŲ³ Ų§ŁŲ°Ł ŁŲ§Ł ŲØŲ¹Ų¶ Ų§ŁŲ¹ŁŁ
Ų§Ų”: عس٠Ł
Ł Ų§ŁŁŁ ŁŲ§Ų¬ŲØ، ŁŲ§ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲ“Ł ŁŲ§ŁŲ§Ų±ŲŖŁŲ§ŲØ Ł
Ł
Ų§ ŁŲ¬ŁŲ² أ٠ŁŲ§
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲÆŁŁŁ أ٠جŁ
ŁŲ¹ Ų§ŁŲ£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų§ŁŲŖŁ ŲŖŁŲÆŁ
Ų°ŁŲ±Ł ŁŁŲ§ Ų„ŁŁ ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŁ
ŁŲ¶Ų¹ ŁŁ Ų“ŁŲ§Ų¹Ų© Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŁ Ų„Ų®Ų±Ų§Ų¬ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲŖŁŲŁŲÆ Ł
Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± Ų„ŁŁ
Ų§ ŁŁ Ų£ŁŁŲ§Ųø Ų¹Ų§Ł
Ų© Ł
Ų±Ų§ŲÆŁŲ§ Ų®Ų§Ųµ ŁŁŁŁ: Ų£Ų®Ų±Ų¬ŁŲ§ Ł
Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± Ł
Ł ŁŲ§Ł ŁŁ ŁŁŲØŁ ŁŲ²Ł ŁŲ°Ų§ Ł
Ł Ų§ŁŲ„ŁŁ
ا٠أ٠Ł
Ų¹ŁŲ§Ł ŲØŲ¹Ų¶ Ł
Ł ŁŲ§Ł ŁŁ ŁŁŲØŁ ŁŲÆŲ± Ų°ŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ų§ŁŲµŲÆŁŁŁŁ ŁŲŖŁŁŁ Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų© Ų«Ł
Ų³Ų§Ų¦Ų± Ų§ŁŲ£ŁŲØŁŲ§Ų” ŲµŁŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŁŁ ŁŲ³ŁŲ§Ł
Ł Ų¹ŁŁŁŁ
Ų£Ų¬Ł
Ų¹ŁŁ، ŁŲŖŁŁŁ Ų§ŁŲµŲÆŁŁŁŁ، Ų«Ł
Ų§ŁŲ“ŁŲÆŲ§Ų” ŁŲŖŁŁŁ Ų§ŁŲ£ŁŲØŁŲ§Ų” Ų¹ŁŁŁŁ
Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł
Ų„Ł ŲµŲ Ų§ŁŲŲÆŁŲ«
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± ŁŲ«Ų±Ų© Ł
Ł Ų“ŁŲ¹ ŁŁ Ų§ŁŲ±Ų¬Ł Ų§ŁŁŲ§ŲŲÆ Ł
Ł ŁŲ°Ł Ų§ŁŲ£Ł
Ų© Ł
Ų¹ Ų§ŁŲÆŁŁŁ Ų¹ŁŁ ŲµŲŲ© Ł
Ų§ Ų°ŁŲ±ŲŖ ŁŲØŁ أ٠ŁŲ“ŁŲ¹ ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų© ŲŗŁŲ± Ų§ŁŲ£ŁŲØŁŲ§Ų” Ų¹ŁŁŁŁ
Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ł
Ų§ ŁŲ¹Ų·Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł Ł
Ł ŁŲ¹Ł
Ų§ŁŲ¬ŁŲ© ŁŁ
ŁŁŁŲ§ ŲŖŁŲ¶ŁŲ§ Ł
ŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł، ŁŲ³Ų¹Ų© Ų±ŲŁ
ŲŖŁ Ų¢Ų®Ų± Ł
Ł ŁŲ®Ų±Ų¬ Ł
Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± ŁŁŲÆŲ®Ł Ų§ŁŲ¬ŁŲ© Ł
Ł
Ł ŁŲ®Ų±Ų¬ Ł
Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± ŲŲØŁŲ§ ŁŲ²ŲŁŲ§ ŁŲ§ Ł
Ł ŁŲ®Ų±Ų¬ Ł
ŁŁŲ§ ŲØŲ§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© ŲØŲ¹ŲÆŁ
Ų§ Ł
ŲŲ“ŲŖŁŁ
Ų§ŁŁŲ§Ų± ŁŲ£Ł
Ų§ŲŖŁŁ
ŁŲµŲ§Ų±ŁŲ§ ŁŲŁ
Ų§ ŁŲØŁ أ٠ŁŲ®Ų±Ų¬Ł Ų§ŁŁŁ ŲØŲŖŁŲ¶ŁŁ ŁŁŲ±Ł
Ł ŁŲ¬ŁŲÆŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ų§ŁŲ±Ų¬Ł Ų§ŁŲ°Ł Ų°ŁŲ±ŁŲ§ ŲµŁŲŖŁ ŁŲ®ŲØŲ±ŁŲ§ Ų£ŁŁ Ų¢Ų®Ų± Ų£ŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ų± Ų®Ų±ŁŲ¬Ų§ Ł
Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± Ł
Ł
Ł ŁŲ®Ų±Ų¬ Ł
Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± Ų²ŲŁŲ§ ŁŲ§ Ł
Ł
Ł ŁŲ®Ų±Ų¬ ŲØŲ§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© ŁŁŁ Ų¢Ų®Ų± Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŲ© ŲÆŲ®ŁŁŲ§ Ų§ŁŲ¬ŁŲ© ŁŲ£Ł Ł
Ł ŁŲ®Ų±Ų¬ ŲØŲ§ŁŲ“ŁŲ§Ų¹Ų© ŁŲÆŲ®ŁŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŲ© ŁŲØŁŁ، ŁŲ£Ł ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŁŲ§ŲŲÆ ŁŲØŁŁ ŲØŲ¹ŲÆŁŁ
ŲØŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŲ© ŁŲ§ŁŁŲ§Ų± Ų«Ł
ŁŲÆŲ®ŁŁ Ų§ŁŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲØŁŲ§Ł Ų£Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± Ų„ŁŁ
Ų§ ŲŖŲ£Ų®Ų° Ł
Ł Ų£Ų¬Ų³Ų§ŲÆ Ų§ŁŁ
ŁŲŲÆŁŁ ŁŲŖŲµŁŲØ Ł
ŁŁŁ
Ų¹ŁŁ ŁŲÆŲ± Ų°ŁŁŲØŁŁ
ŁŲ®Ų·Ų§ŁŲ§ŁŁ
ŁŲŁŲØŲ§ŲŖŁŁ
Ų§ŁŲŖŁ ŁŲ§ŁŁŲ§ Ų§Ų±ŲŖŁŲØŁŁŲ§ ŁŁ Ų§ŁŲÆŁŁŲ§ Ł
Ų¹ Ų§ŁŲÆŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų¶ŲÆ ŁŁŁ Ł
Ł Ų²Ų¹Ł
Ł
Ł
Ł ŁŁ
ŁŲŖŲŲ± Ų§ŁŲ¹ŁŁ
ŁŁŲ§ ŁŁŁ
Ų£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų£Ł Ų§ŁŁŲ§Ų± ŁŲ§ ŲŖŲµŁŲØ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲŖŁŲŁŲÆ ŁŁŲ§ ŲŖŁ
Ų³ŁŁ
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų±ŁŁŲŖ Ų¹Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
، Ų«Ų§ŲØŲŖŲ© Ł
Ł Ų¬ŁŲ© Ų§ŁŁŁŁ Ų¬ŁŁ Ł
Ų¹ŁŲ§ŁŲ§ ŁŲ±ŁŲŖŲ§Ł: ŁŲ±ŁŲ© Ų§ŁŁ
Ų¹ŲŖŲ²ŁŲ©، ŁŲ§ŁŲ®ŁŲ§Ų±Ų¬ ŁŲ§ŲŲŖŲ¬ŁŲ§ ŲØŁŲ§، ŁŲ§ŲÆŲ¹ŁŲ§ أ٠Ł
Ų±ŲŖŁŲØ Ų§ŁŁŲØŁŲ±Ų© Ų„Ų°Ų§ Ł
Ų§ŲŖ ŁŲØŁ Ų§ŁŲŖŁŲØŲ© Ł
ŁŁŲ§ Ł
Ų®ŁŲÆ ŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ų±، Ł
ŲŲ±Ł
Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŲ§Ł ŁŲ§ŁŁŲ±ŁŲ© Ų§ŁŲ£Ų®Ų±Ł: Ų§ŁŁ
Ų±Ų¬Ų¦Ų© ŁŁŲ±ŲŖ ŲØŁŲ°Ł Ų§ŁŲ£Ų®ŲØŲ§Ų±
Ų„Ų¹ŁŲ§Ł
Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
ŲŲ±Ł
Ų§Ł Ų§ŁŲ¬ŁŲ© ŁŁ
Ų±ŲŖŁŲØ ŲØŲ¹Ų¶ Ų§ŁŲ°ŁŁŲØ ŁŲ§ŁŲ®Ų·Ų§ŁŲ§ Ł
Ł Ų§ŁŲ°Ł ŁŁŲ³ ŲØŁŁŲ±، ŁŁŲ§ ŁŲ²ŁŁ Ų§ŁŲ„ŁŁ
Ų§Ł ŲØŲ£Ų³Ų±Ł، ŁŁŲ§ Ų¹ŁŁ Ł
Ų§ ŲŖŲŖŁŁŁ
Ł Ų§ŁŲ®ŁŲ§Ų±Ų¬، ŁŲ§ŁŁ
Ų¹ŲŖŲ²ŁŲ©
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų«Ų§ŲØŲŖŲ© Ų§ŁŲ³ŁŲÆ ŲµŲŁŲŲ© Ų§ŁŁŁŲ§Ł
ŁŲÆ ŁŲŲ³ŲØ ŁŲ«ŁŲ± Ł
Ł Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁŁ Ų£ŁŁŲ§ Ų®ŁŲ§Ł ŁŲ°Ł Ų§ŁŲ£Ų®ŲØŲ§Ų±، Ų§ŁŲŖŁ ŁŲÆŁ
ŁŲ§ Ų°ŁŲ±ŁŲ§، ŁŲ§Ų®ŲŖŁŲ§Ł Ų£ŁŁŲ§ŲøŁŲ§، ŁŁŁŲ³ŲŖ Ų¹ŁŲÆŁŲ§ Ł
Ų®Ų§ŁŁŲ© ŁŲ³Ų± Ł
Ų¹ŁŲ§ŁŲ§ ŁŁŲ¤ŁŁ ŲØŁŁ Ų§ŁŁ
Ų±Ų§ŲÆ Ł
Ł ŁŁ Ł
ŁŁŲ§ ŲØŲ¹ŲÆ Ų°ŁŲ±ŁŲ§ Ų§ŁŲ£Ų®ŲØŲ§Ų± ŲØŲ£ŁŁŲ§ŲøŁŲ§، Ų„Ł Ų§ŁŁŁ ŁŁŁ ŁŲ°ŁŁ ŁŲ“Ų§Ų”Ł
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų±ŁŁŲŖ Ų£ŁŲ¶Ų§ ŁŁ ŲŲ±Ł
Ų§Ł Ų§ŁŲ¬ŁŲ© Ų¹ŁŁ Ł
Ł Ų§Ų±ŲŖŁŲØ ŲØŲ¹Ų¶ Ų§ŁŁ
عاص٠اŁŲŖŁ ŁŲ§ ŲŖŲ²ŁŁ Ų§ŁŲ„ŁŁ
ا٠بأسر٠ŁŲ¬ŁŁ Ł
Ų¹ŁŲ§ŁŲ§ Ų§ŁŁ
Ų¹ŲŖŲ²ŁŲ©، ŁŲ§ŁŲ®ŁŲ§Ų±Ų¬، ŁŲ£Ų²Ų§ŁŁŲ§ Ų§Ų³Ł
Ų§ŁŁ
Ų¤Ł
٠ع٠Ł
Ų±ŲŖŁŲØŁŲ§ ŁŁ
Ų±ŲŖŁŲØŁ ŲØŲ¹Ų¶ŁŲ§ Ų£ŁŲ§ Ų°Ų§ŁŲ±ŁŲ§ ŲØŲ£Ų³Ų§ŁŁŲÆŁŲ§ ŁŁ
ŲØŁŁ Ł
Ų¹Ų§ŁŁŁŲ§، ŁŁ
Ų¤ŁŁ ŲØŁŁ Ł
Ų¹Ų§ŁŁŁŲ§ ŁŁ
Ų¹Ų§ŁŁ Ų§ŁŲ£Ų®ŲØŲ§Ų± Ų§ŁŲŖŁ ŁŲÆŁ
ŁŲ§
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ų§ŁŲÆŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų£Ł ŁŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŁŁ Ų§ŁŲ°Ł Ų£ŲŁŲ§ŁŁ
Ų«Ł
ŁŁ
ŁŲŖŁŁ
Ų«Ł
ŁŲŁŁŁŁ
ŁŁŲ³ ŁŁŁŁ Ų£Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŲŁŁ Ų§ŁŲ„ŁŲ³Ų§Ł Ų£ŁŲ«Ų± Ł
Ł Ł
Ų±ŲŖŁŁ Ų¹ŁŁ أ٠Ł
٠ادع٠Ł
Ł
Ł Ų£ŁŁŲ± Ų¹Ų°Ų§ŲØ Ų§ŁŁŲØŲ±، ŁŲ²Ų¹Ł
Ų£Ł Ų§ŁŁŁ ŁŲ§ ŁŲŁŁ Ų£ŲŲÆŲ§ ŁŁ Ų§ŁŁŲØŲ± ŁŲØŁ ŁŁŁ
Ų§ŁŁŁŲ§Ł
Ų©، Ų§ŲŲŖŲ¬Ų§Ų¬Ų§ ŲØŁŁŁŁ: Ų±ŲØŁŲ§ Ų£Ł
ŲŖŁŲ§ Ų§Ų«ŁŲŖŁŁ ŁŲ£ŲŁŁŲŖŁŲ§
ŲØŲ§ŲØ Ų°ŁŲ± Ł
ŁŲ¶Ų¹ Ų¹Ų±Ų“ Ų§ŁŁŁ Ų¹Ų² ŁŲ¬Ł ŁŲØŁ Ų®ŁŁ Ų§ŁŲ³Ł
Ų§ŁŲ§ŲŖ
ŁŁŁŲŁ ŁŁ Ų§ŁŲ£ŲØŁŲ§ŲØ Ų§ŁŲŖŁ ŁŲÆŁ
ŁŲ§ Ų°ŁŲ±ŁŲ§ ŁŁ ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŁŲŖŲ§ŲØ
ŲŖŲ§Ų±ŁŲ® Ų„Ų¶Ų§ŁŲŖŁ: 15 / 10 / 2008
Ų“ŁŁŲÆ: 12279 Ł
Ų±Ų©
Ų§ŁŲŖŲŁ
ŁŁ Ų§ŁŁ
ŲØŲ§Ų“Ų±: Ų§Ų¶ŲŗŲ· ŁŁŲ§ (ŁŲ³Ų®Ų© ŁŁŲ“Ų§Ł
ŁŲ© ŲŗŁŲ± Ł
ŁŲ§ŁŁŲ© ŁŁŁ
Ų·ŲØŁŲ¹) _______________________________________________
Siapakah Ibnu Khuzaimah? Dia adalah salah seorang ulama ahli hadits yang banyak dipakai oleh Salafi Wahabi untuk dijadikan referensi. Namun setelah semakin matang dalam pengembaraan intelektualnya, Ibnu Khuzaimah menyesali diri telah menulis kitab tersebut, seperti dikisahkan oleh al-Hafidz al-Baihaqi dalam kitab al-Asma wa ash-Shifat hal. 267.
Walaupun begitu, soko guru Salafi Wahabi, yaitu Ibnu Taimiyah tetap mengatakan bahwa Ibnu Khuzaimah adalah ”Imamnya Para Imam” karena menurutnya telah banyak meriwayatkan hadits-hadits ’shahih’ tetang hakikah Dzat Tuhan (padahal yang sebenarnya hadits-hadits itu kenal dengan nuansa tasybih dan hikayat Israiliyat). Oleh karena itu, ketika mengomentari sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Taimiyah berkata :
”Hadits ini telah diriwayatkah oleh ’Imamnya Para Imam’ yaitu Ibnu Khuzaimah dalam Kitab at-Tauhid yang telah ia syaratkan untuk tidak berhujjah di dalamnya melainkan dengan hadits-hadits yang dinukil oleh perawi adil dari perawi adil lainnya, sehingga bersambung kepada Nabi SAW” (Ibnu Taimiyah: Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah, Jilid 3, hal. 192).
Maka tak heran jika Ibnu Taimiyah pun berkeyakinan sama buruknya, seperti dalam Majmu’ Fatawa j. 4, h. 374, Ibn Taimiyah berkata “Para ulama yang diridlai oleh Allah dan para wali-Nya telah menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad didudukan oleh Allah di atas ‘arsy bersama-Nya”.
Awalnya Ibnu Khuzaimah sangat meyakini bahwa seluruh hadits yang ia muat di dalam kitabnya adalah shahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebab menurut pengakuannya ia telah meriwayatkanya dengan sanad bersambung melalui para periwayat yang adil dan terpercaya. Demikian sebagaimana ia tegaskan di awal kitab tersebut dan juga tertulis di cover depan kitab at-Tauhid tersebut.
Gambar dibawah ini adalah scan teks tentang keyakinan tasybih dari Kitab at-Tauhid karya Ibnu Khuzaimah, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983, halaman 198.
AQIDAH WAHHABI ‘ALLAH DUDUK’ = AQIDAH YAHUDI DAN NASRANI.
Ketahuilah bahwa aqidah yg dibawa oleh Wahhabi adalah aqidah yang bersumberkan dari Yahudi dan Kristiani yang coba diserapkan dalam masyarakat islam demi memecahbelah umat islam dan bertujuan agar umat islam menjadi Yahudi dan Nasoro, kemudian bersenang-senanglah Iblis bersama mereka di neraka kelak!
Inilah Yahudi dengan kerjasama penuh dari Wahhabiyah dalam menyesatkan umat islam di tanah air kita ini :
- Akidah ” Allah Duduk” Adalah Akidah Yahudi.
Dalam kitab Yahudi Safar Al-Muluk Al-Ishah 22 Nomor 19-20, Yahudi menyatakan akidah kufur di dalamnya :
ŁŲ§Ł ŁŲ§Ų³Ł
Ų¹ Ų„Ų°Ų§ً ŁŁŲ§Ł
Ų§ŁŲ±ŲØ ŁŲÆ Ų±Ų£ŁŲŖ Ų§ŁŲ±ŲØ Ų¬Ų§ŁŲ³ًŲ§ Ų¹ŁŁ ŁŲ±Ų³ŁŁ Ł ŁŁ Ų¬ŁŲÆ Ų§ŁŲ³Ł
Ų§Ų” ŁŁŁŁ ŁŲÆŁŁ Ų¹ŁŁŁ
ŁŁŁ Ł Ų¹Ł ŁŲ³Ų§Ų±Ł
“Berkata : Dengarkanlah engkau kata-kata Tuhan,telah ku lihat Tuhan duduk di atas kursi dan ke semua tentera langit berdiri di sekitarnya kanan dan kiri” .
- Ibnu Taimiah ikut Membantu Yahudi Menyebarkan Akidah Yahudi ” Allah Duduk ”
Dalam kitab Ibnu Taimiah Majmu Fatawa Jilid 4 / 374 :
Ų„Ł Ł
ŲŁ
ŲÆًŲ§ Ų±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ¬ŁŲ³Ł Ų±ŲØŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų±Ų“ Ł
Ų¹Ł
“Sesungguhnya Muhammad Rasulullah, Tuhannya mendudukkannya diatas arasy bersamaNya”.
Tidak cukup dengan itu Ibnu Taimiah turut mengunakan lafaz kufur Yahudi demi men-yahudikan umat islam :
Dalam Kitab Ibnu Taimiyah berjudul Syarh Hadith Nuzul cetakan Darul Asimah :
Ų„Ų°Ų§ Ų¬ŁŲ³ ŲŖŲØŲ§Ų±Ł Ł ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų³Ł Ų³ُŁ
ِŲ¹ ŁŁ Ų£Ų·ŁŲ· ŁŲ£Ų·ŁŲ· Ų§ŁŲ±َّŲŁ Ų§ŁŲ¬ŲÆŁŲÆ
” Apabila Tuhan duduk di atas kursi maka akan terdengarlah bunyi seperti kursi baru diduduki”.
Lihatlah! Yahudi berkata Allah Duduk…Ibnu Taimiyah berkata Allah Duduk.
TAPI AL-QURAN DAN HADIST NABI YANG SHAHIH TIDAK PERNAH MENYATAKAN ALLAH DUDUK.
Kalau kita lihat dalam website Kristiani : http://www.hesenthisword.com/lessons/lesson5.htm
lihat pada :
Ų¹Ų§Ų“Ų±Ų§: Ų°ŁŲ± Ų¹ŁŁ Ł
Ų§ ŁŲ±ŲÆ Ų¹Ł Ų§ŁŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ¹ŁŲÆ Ų§ŁŁŲÆŁŁ
Kristiani berkata pada nomor 7 :
“Ų§ŁŁŁ Ų¬Ų§ŁŲ³ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų³Ł Ų§ŁŲ¹Ų§ŁŁ” (Ų§Ų“ 6 :1-10) .
“Allah Duduk Di atas Kursi Yang Tinggi”.
Wahhabi Turut Membantu Menghidupkan Kekufuran Kristian Dengan Memalsukan Hadith Nabi:
DALAM KITAB WAHHABI : FATHUL MAJID SYARH KITAB AT-TAUHID KARANGAN ABDUR RAHMAN BIN HASAN AAL AS-SYEIKH DISOHIHKAN OLEH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ CETAKAN PERTAMA TAHUN 1992 BERSAMAAN 1413 MAKTABAH DARUL FAIHA DAN MAKTABAH DARUL SALAM.
Cetakan ini pada hal 356 yg tertera kenyatan kufur yg dianut oleh Wahhabi sebagai hadis ( pd hakikatnya bukan hadis Nabi ) adalah tertera dalam bahasa arabnya berbunyi:
” IZA JALASA AR-ROBBU ‘ALAL KURSI “.
” Apabila Telah Duduk Tuhan Di Atas Kursi “.
TETAPI AL-QURAN DAN HADITH SHAHIH TIDAK PERNAH MENYATAKAN DEMIKIAN !
Perlu diketahui, Imam asy-Syafi’I pun terang-terangan menyatakan kekufuran bagi orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.
Ibn al Mu’allim al Qurasyi (W. 725 H) menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih …fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn (W. 462 H) bahwa al Imam asy-Syafi’I menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).
Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).
Untuk lebih jelasnya kami tuliskan ulang hadits Israiliyat yang sudah menjadi bagian dari keyakinan kaum Salafi Wahabi itu sebagai berikut :
ع٠عبد Ų§ŁŁŁ Ų¹Ł
Ų± ŲØŁ Ų§ŁŲ®Ų·Ų§ŲØ ŲØŲ¹Ų« Ų§ŁŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ ŲØŁ Ų§ŁŲ¹ŲØّŲ§Ų³ ŁŲ³Ų§ŁŁ: ŁŁ Ų±Ų§Ł Ł
ŲŁ
ّŲÆ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
Ų±ŲØّŁ؟ ŁŲ§Ų±Ų³Ł Ų§ِŁŁŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ ŲØŁ Ų§ŁŲ¹ŲØّŲ§Ų³: Ų§Ł ŁŲ¹Ł
. ŁŲ±ŲÆّ Ų¹ŁŁŁ Ų¹ŲØŲÆŲ§ŁŁŁ ŲØŁ Ų¹Ł
Ų± Ų±Ų³ŁŁŁ: Ų§Ł ŁŁŁ Ų±Ų§Ł؟ ŁŲ§Ł: ŁŲ§Ų±Ų³Ł Ų§ŁّŁ Ų±Ų§Ł ŁŁ Ų±ŁŲ¶Ų© Ų®Ų¶Ų±Ų§Ų” ŲÆŁŁŁ ŁِŲ±Ų§Ų“ Ł
Ł Ų°ŁŲØ Ų¹ŁŁ ŁŲ±Ų³Ł Ł
Ł Ų°ŁŲØ ŁŲŁ
ŁŁ Ų§Ų±ŲØŲ¹Ų© Ł
Ł Ų§ŁŁ
ŁŲ§ŁŁŲ©، Ł
ŁŁ ŁŁ ŲµŁŲ±Ų© Ų±Ų¬Ł، Ł Ł
ŁŁ ŁŁ ŲµŁŲ±Ų© Ų«ŁŲ± ŁŁ
ŁŁ ŁŁ ŲµŁŲ±Ų© ŁŲ³Ų±، ŁŁ
ŁŁ ŁŁ ŲµŁŲ±Ų© Ų§Ų³ŲÆ
….. Abdullah ibnu Umar ibnu al-Khaththab mengutus seseorang untuk menemui Ibnu Abbas menanyainya, ”Apakah Muhammad SAW melihat Tuhannya?” Maka Abdullah ibnu Abbas mengutus seseorang kepadanya untuk menjawab, ”Ya, benar. Ia melihatnya.” Abdullah ibnu Umar meminta pesuruhnya kembali kepada Ibnu Abbas untuk menanyakannya, ”Bagaimana ia melihat-Nya?”. Ibnu Abbas menjawab melalui utusannya itu, ’Da melihat-Nya berada di sebuah taman hijau, dibawah-Nya terdapat hamparan permadani emas , Dia duduk di atas kursi terbuat dari emas yang dipikul oleh empat malaikat; malaikat berupa seorang laki-laki, malaikat berupa banteng, malaikat berupa burung elang, dan malaikat berupa singa.” (Ibnu Khuzaimah: Kitab at-Tauhid, tahkik Muhammad Khalil Harras, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, Lebanon 1403 H./1983 M, hal. 198).
Pembaca yang budiman, Ketika kami menggabungkan hadits Abu Ya’la yang telah lalu dan hadits Ibnu Khuzaimah ini (dimana keduanya telah menjadi dogma Salafi Wahabi), kami sungguh sangat terperanjat!. Kami menjumpai adanya kesamaan antara dogma Salafi Wahabi itu dengan dogma Nashrani, dalam hal ini gambar Tuhan milik mereka. Sebuah gambar yang mengilustrasikan tentang hakikat Tuhan mereka, Yesus Kristus.
Lukisan itu sama persis dengan apa yang digambarkan oleh Salafi Wahabi, yaitu: seorang pemuda , berambut ikal bergelombang mengenakan pakaian merah, sedang duduk di atas kursi emas di taman hijau dibawah-Nya hamparan permadani emas yang dipikul oleh empat malaikat berupa seorang laki-laki, banteng (sapi hutan), burung elang, dan singa.
Dibawah ini gambaran milik umat Kristiani tentang Yesus Kristus, silahkan Anda bandingkan dengan hadits Ya’la dan Ibnu Khuzaimah yang direkomendasikan oleh Salafi Wahabi untuk diyakini oleh setiap pengikutnya:
Perhatikanlah gambar milik kaum Nashrani di atas, tidak ada bedanya sama sekali dengan apa yang diajarkan oleh Salafi Wahabi tentang jati diri Tuhan. Apakah ajaran Salafi Wahabi tadi (yang mereka klaim berasal dari hadits shahih) adalah hasil copy paste dari ajaran orang-orang Yahudi dan Nashrani ini? Kenapa ini bisa terjadi? Karena akidah Salafi Wahabi berasal dari hadits-hadits palsu Israiliyat, yakni karangan orang-orang Bani Israil yang telah Allah sesatkan.
Oleh karenanya, sudah selayaknya kita meragukan dogma tajsim dan tasybih kaum Salafi Wahabi, sebag tajsim dan tasybih itu sangat diwanti-wanti dan dilarang dalam Islam. Terkadang, kaum Salafi Wahabi masih saja mengelak dan memutar kata dari tuduhan tajsim ini. Namun, jika yang demikian bukan tajsim, lalu yang bagaimana lagi yang dinamakan tajsim? Berhati-hatilah wahai umat Islam dari mengikuti faham mereka ini agar kita tidak terperosok dalam kemusyrikan dan kekafiran.
Namun sayangnya, semakin mereka dikritik, maka akan semakin keras menentang (mungkin karena memang seperti itulah watak asli mereka). Mereka merasa paling benar. Nyata-nyata mereka yang keliru, tetapi malah mereka yang bersikap lebih keras kepada umat Islam yang coba meluruskan, lalu menudingkan tuduhan kafir. Dalam buku mereka, Halaqat Mamnu’ah karangan Hisyam al-Aqqad dinyatakan:
Ł
Ł ŁŲ³ّŲ± Ų§ِŲ³ŲŖŁŁ ŲØŲ§Ų³ŲŖŁŁŁ ŁŁŁ ŁŲ§ŁŲ±
”Barang siapa yang menafsirkan kata istawa dengan istawla (menguasai), maka dia kafir.”
Dari pemaparan ringkas di atas, Anda dapat mengerti bagaimana kualitas akal pikiran sebagian ulama Mujassimah yang menjadi rujukan Salafi Wahabi. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Ibnu al-Jauzi mensifati mereka sebagai para ahli hadits dungu. Adakah kedunguan yang melebihi kedunguan kaum yang sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk di sebuah kursi yang dipikul oleh empat malaikat dalam rupa berbeda-beda, sesekali meyakini bahwa Allah SWT bersemayam di atas Arasy-Nya yang ditegakkan di atas punggung delapan ekor banteng yang mengapung di atas air di sebuah rumah di atas langit ketujuh, dan sesekali meyakini bahwa Allah SWT duduk berselonjor sambil meletakkan salah satu kaki-Nyadi atas kaki-Nya yang lain? Itu semua adalah hadits-hadits palsu buatan Bani Israil yang dikenal riwayat-riwayat Israiliyat. Masihkah Salafi Wahabi tidak menyadarinya, melainkan malah menganggap dirinya yang paling benar?. La haula wa la quwwata ill billah. Semoga Allah mengilhamkan kepada kita kemurnian akidah dan kesucian keyakinan tentang sifat-sifat-Nya yang Maha Suci serta kematangan logika.
Aqidah Wahabi Menyamai Aqidah Yahudi dan Nasrani.
Aqidah Wahabi Menyamai Aqidah Yahudi dan Nasrani,
yaitu mereka mengatakan bahwa Allah SWT Duduk seperti Duduknya Makhluq.
Ketahuilah bahwa aqidah yg dibawa oleh Wahhabi adalah aqidah yang bersumberkan dari Yahudi dan Kristiani yang coba diserapkan dalam masyarakat islam demi memecahbelah umat islam dan bertujuan agar umat islam menjadi Yahudi dan Nasoro, kemudian bersenang-senanglah Iblis bersama mereka di neraka kelak!
Inilah Yahudi dengan kerjasama penuh dari Wahhabiyah dalam menyesatkan umat islam di tanah air kita ini :
- Akidah ” Allah Duduk” Adalah Akidah Yahudi.
Dalam kitab Yahudi Safar Al-Muluk Al-Ishah 22 Nomor 19-20, Yahudi menyatakan akidah kufur di dalamnya :
ŁŲ§Ł ŁŲ§Ų³Ł
Ų¹ Ų„Ų°Ų§ً ŁŁŲ§Ł
Ų§ŁŲ±ŲØ ŁŲÆ Ų±Ų£ŁŲŖ Ų§ŁŲ±ŲØ Ų¬Ų§ŁŲ³ًŲ§ Ų¹ŁŁ ŁŲ±Ų³ŁŁ Ł ŁŁ Ų¬ŁŲÆ Ų§ŁŲ³Ł
Ų§Ų” ŁŁŁŁ ŁŲÆŁŁ Ų¹ŁŁŁ
ŁŁŁ Ł Ų¹Ł ŁŲ³Ų§Ų±Ł
“Berkata : Dengarkanlah engkau kata-kata Tuhan,telah ku lihat Tuhan duduk di atas kursi dan ke semua tentera langit berdiri di sekitarnya kanan dan kiri” .
- Ibnu Taimiah ikut Membantu Yahudi Menyebarkan Akidah Yahudi ” Allah Duduk ”
Dalam kitab Ibnu Taimiah Majmu Fatawa Jilid 4 / 374:
Ų„Ł Ł
ŲŁ
ŲÆًŲ§ Ų±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ¬ŁŲ³Ł Ų±ŲØŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų±Ų“ Ł
Ų¹Ł
“Sesungguhnya Muhammad Rasulullah, Tuhannya mendudukkannya diatas arasy bersamaNya”.
Tidak cukup dengan itu Ibnu Taimiah turut mengunakan lafaz kufur Yahudi demi men-yahudikan umat islam :
Dalam Kitab Ibnu Taimiyah berjudul Syarh Hadith Nuzul cetakan Darul Asimah :
Ų„Ų°Ų§ Ų¬ŁŲ³ ŲŖŲØŲ§Ų±Ł Ł ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų³Ł Ų³ُŁ
ِŲ¹ ŁŁ Ų£Ų·ŁŲ· ŁŲ£Ų·ŁŲ· Ų§ŁŲ±َّŲŁ Ų§ŁŲ¬ŲÆŁŲÆ
” Apabila Tuhan duduk di atas kursi maka akan terdengarlah bunyi seperti kursi baru diduduki”.
Lihatlah! Yahudi berkata Allah Duduk…Ibnu Taimiyah berkata Allah Duduk.
TAPI AL-QURAN DAN HADIST NABI YANG SHAHIH TIDAK PERNAH MENYATAKAN ALLAH DUDUK.
Kalau kita lihat dalam website Kristiani : http://www.hesenthisword.com/lessons/lesson5.htm
lihat pada :
Ų¹Ų§Ų“Ų±Ų§: Ų°ŁŲ± Ų¹ŁŁ Ł
Ų§ ŁŲ±ŲÆ Ų¹Ł Ų§ŁŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ¹ŁŲÆ Ų§ŁŁŲÆŁŁ
Kristiani berkata pada nomor 7 :
“Ų§ŁŁŁ Ų¬Ų§ŁŲ³ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų³Ł Ų§ŁŲ¹Ų§ŁŁ” (Ų§Ų“ 6 :1-10) .
“Allah Duduk Di atas Kursi Yang Tinggi”.
Wahhabi Turut Membantu Menghidupkan Kekufuran Kristian Dengan Memalsukan Hadith Nabi :
DALAM KITAB WAHHABI : FATHUL MAJID SYARH KITAB AT-TAUHID KARANGAN ABDUR RAHMAN BIN HASAN AAL AS-SYEIKH DISOHIHKAN OLEH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ CETAKAN PERTAMA TAHUN 1992 BERSAMAAN 1413 MAKTABAH DARUL FAIHA DAN MAKTABAH DARUL SALAM.
Cetakan ini pada hal 356 yg tertera kenyatan kufur yg dianut oleh Wahhabi sebagai hadis ( pd hakikatnya bukan hadis Nabi ) adalah tertera dalam bahasa arabnya berbunyi:
” IZA JALASA AR-ROBBU ‘ALAL KURSI “.
” Apabila Telah Duduk Tuhan Di Atas Kursi “.
TETAPI AL-QURAN DAN HADITH SHAHIH TIDAK PERNAH MENYATAKAN DEMIKIAN !
Perlu diketahui, Imam asy-Syafi’I pun terang-terangan menyatakan kekufuran bagi orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.
Ibn al Mu’allim al Qurasyi (W. 725 H) menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih …fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn (W. 462 H) bahwa al Imam asy-Syafi’I menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).
Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).
PBNU : Syiah, Hanya Perbedaan Cara Pandang.
- Slamet Effendy Yusuf, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengatakan, kelompok aliran Syiah tidaklah bertentangan dengan Islam. Syiah dalam Islam diakui sebagai bagian aliran beberapa mazhab yang ada. Meskipun kata dia, Syiah memiliki beberapa perbedaan terkait cara pandang.
“MUI dalam rekomendasi pada 1984 menyatakan Syiah itu bagian dari mazhab dalam Islam, karena itu memang didalam mazhab, ada perbedaan-perbedaan tentang beberapa pandangan,” kata Slamet kepada wartawan, Senin (2/1).
Beberapa perbedaan dalam cara pandang antara lain terkait hadis dan imamah.“Seperti pandangan terhadap hadis, kalau Sunni, semua hadis yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabiin, oke. Sementara Syi’ah tidak. Soal Imamah di Sunni tidak mewajibkan tapi di Syiah mewajibkan, Terjemahan dalam solat antara Sunni dan Syiah ada perbedaan,” ujarnya.Slamet yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).
(Berbagai-Sumber-lain/Syiah-Ali/ABNS)

















Post a Comment
mohon gunakan email