Jika sesetengah (bukannya semua) sahabat Nabi Muhammad Saw diterangkan oleh al-Quran sebagai orang yang lari dari medan perang (Uhud dan Hunain), munafik, meninggalkan Nabi ketika khutbah Jumaat dan sebagainya, maka bagaimanakah pula sikap sahabat/kaum Nabi Musa as.?
Al-Quran dalam Surah al-Maidah ayat 20-26 menjelaskan sikap mereka seperti berikut:
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka (setelah kamu diperhamba oleh Firaun dan orang-orangnya), dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain”. QS. al-Mai’dah (5) : 20.
Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina- Baitul Muqaddis) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. QS. al-Mai’dah (5) : 21.
Mereka berkata: “Wahai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.” QS. al-Mai’dah (5) : 22.
Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.QS. al-Mai’dah (5) : 23.
Mereka berkata: “Wahai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu (berperang) bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.QS. al-Mai’dah (5) : 24.
Berkata Musa: “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku (Nabi Harun). Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”. QS. al-Mai’dah (5) : 25.
Allah berfirman: ” (Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” QS. al-Mai’dah (5) : 26.
Kesimpulannya:
1. Sebagian sahabat Nabi Musa (Bani Israil) telah ingkar dengan arahan Nabi Musa supaya memasuki tanah suci Palestin kerana takut berperang.
2. Mereka yang ingkar itu mengarahkan Nabi Musa agar berperang bersama Tuhan manakala mereka hanya menunggu sahaja.
3. Mereka disifatkan sebagai sahabat/kaum yang fasiq oleh al-Quran.
4. Akibat ingkar dengan arahan Nabi Musa mereka disesatkan oleh Allah swt selama 40 tahun di tengah padang pasir Tiih (sekarang terletak di wilayah Mesir).
Justeru itu, sebagian sahabat Nabi Musa yang ingkar dengan arahannya bukanlah sahabat yang layak dijadikan contoh dan mereka bukanlah sahabat yang adil.
Kini Umat Mengkhianati Sang Imam as.!
Pengkhiatan itu begitu menyakitkan…. Karena ia akan membawa kesengsaraan dunia akhirat …. Pengkhianatan yang akan menghalangi sang Imam meberikan bimbingan keselamatan dan menghindarkan mereka dari kebinasaan… Karenanya, Imam Ali as. berulang kali mengatakan:
Ų„ŁّŁ Ł Ł ّŲ§ Ų¹ŁŲÆ Ų„ŁŁّ Ų§ŁŁŲØŁ (ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ¢ŁŁ ŁŲ³ŁŁ ) Ų£Łّ Ų§ŁŲ§ُŁ ّŲ© Ų³ŲŖŲŗŲÆŲ± ŲØŁ ŲØŲ¹ŲÆŁ
“Termasuk yang dijanjikan Nabi kepadaku bahwa umat akan mengkhianatiku sepeninggal beliau.”.
Sumber Hadis:
Hadis ini telah diriwayatkan dan dishahihkan al Hakim dan adz Dzahabi. Ia berkata:
ŲµŲŁŲ Ų§ŁŲ§Ų³ŁŲ§ŲÆ
“Hadis ini sahih sanadnya.”
Adz Dzahabi pun menshahihkannya. Ia berkata:
ŲµŲŁŲ
“Hadis ini shahih.” [1]
Sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, al Bazzâr, ad Dâruquthni, al Khathib al Baghdâdi, al Baihaqi dkk.
Nabi saw. Mengabarkan Bahwa Umat Akan Menuangkan Kedengkian Mereka Kepada Imam Ali as.
Pengkhianatan itu akan mereka tuangkan dalam bentuk dendam kusumat terlaknat ke atas Imam Ali as. dan Ahlulbait Nabi saw. sepeninggal beliau.
Demikianlah, mereka yang memendam dendam kusumat dan kebencian kepada Nabi saw. akan menuangkannya kepada Imam Ali as., dan puncaknya akan mereka lakukan sepeninggal Nabi saw.
Kenyataan itu telah diberitakan Nabi saw. kepada Ali as. Para ulama meriwayatkan banyak hadis tentangnya, di antaranya adalah hadis di bawah ini:
Imam Ali as. berkata:
ŲØŁŁŲ§ Ų±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ (ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ
) Ų¢Ų®Ų° ŲØŁŲÆŁ ŁŁŲŁ ŁŁ
Ų“Ł ŁŁ ŲØŲ¹Ų¶ Ų³ŁŁ Ų§ŁŁ
ŲÆŁŁŲ©، Ų„Ų° Ų£ŲŖŁŁŲ§ Ų¹ŁŁ ŲŲÆŁŁŲ©، ŁŁŁŲŖ: ŁŲ§ Ų±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ Ł
Ų§ Ų£ŲŲ³ŁŁŲ§ Ł
Ł ŲŲÆŁŁŲ© ! ŁŁŲ§Ł: Ų„Łّ ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁّŲ© Ų£Ųس٠Ł
ŁŁŲ§، Ų«Ł
ّ Ł
Ų±Ų±ŁŲ§ ŲØŲ£ُŲ®Ų±Ł ŁŁŁŲŖ: ŁŲ§ Ų±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ Ł
Ų§ Ų£ŲŲ³ŁŁŲ§ Ł
Ł ŲŲÆŁŁŲ© ! ŁŲ§Ł: ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁّŲ© Ų£Ųس٠Ł
ŁŁŲ§، ŲŲŖّŁ Ł
Ų±Ų±ŁŲ§ ŲØŲ³ŲØŲ¹ ŲŲÆŲ§Ų¦Ł، ŁŁّ Ų°ŁŁ Ų£ŁŁŁ Ł
Ų§ Ų£ŲŲ³ŁŁŲ§ ŁŁŁŁŁ: ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ¬ŁّŲ© Ų£Ųس٠Ł
ŁŁŲ§، ŁŁŁ
ّŲ§ Ų®ŁŲ§ ŁŁ Ų§ŁŲ·Ų±ŁŁ Ų§Ų¹ŲŖŁŁŁŁ Ų«Ł
ّ Ų£Ų¬ŁŲ“ ŲØŲ§ŁŁŲ§ً، ŁŁŲŖ: ŁŲ§ Ų±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ Ł
Ų§ ŁŲØŁŁŁ ؟ ŁŲ§Ł: Ų¶ŲŗŲ§Ų¦Ł ŁŁ ŲµŲÆŁŲ± Ų£ŁŁŲ§Ł
ŁŲ§ ŁŲØŲÆŁŁŁŲ§ ŁŁ Ų„ŁŲ§ّ Ł
Ł ŲØŲ¹ŲÆŁ، ŁŲ§Ł: ŁŁŲŖ ŁŲ§ Ų±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŁ Ų³ŁŲ§Ł
Ų© Ł
Ł ŲÆŁŁŁ ؟ ŁŲ§Ł: ŁŁ Ų³ŁŲ§Ł
Ų© Ł
Ł ŲÆŁŁŁ
“Ketika Rasulullah saw. memegang tanganku, ketika itu kami sedang berjalan-jalan di sebagian kampong kota Madinah, kami mendatangi sebuah kebun, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah alangkah indahnya kebun ini!’ Maka beliau bersabda, ‘Untukmu di surga lebih indah darinya.’ Kemudian kami melewati tujuh kebun, dan setiap kali aku mengatakannya, ‘Alangkah indahnya’ dan nabi pun bersabda, ‘Untukmu di surga lebih indah darinya.’ Maka ketika kami berda di tempat yang sepi, Nabi saw. memelukku dan sepontan menangis. Aku berkata, ‘Wahai Rrasulullah, gerangan apa yang menyebabkan Anda menangis?’ Beliau menjawab, ‘Kedengkian-kedengkian yang ada di dada-dada sebagian kaum yang tidak akan mereka tampakkan kecuali setelah kematianku.’ Aku berkata, ‘Apakah dalam keselamatan dalam agamaku?’ Beliau menjawab, ‘Ya. Dalam keselamatan agamamu.’”.
Sumber Hadis:
Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la, al BazzĆ¢r dengan sanad shahih, al Hakim dan adz Dzahabi dan mereka menshahihkannya,[2] Ibnu HibbĆ¢n dkk. [3]
Ia juga disebutkan oleh asy Syablanji dalam kitab Nûr al Abshârnya:88
Jadi jelaslah bagi kita apa yang sedang dialami oleh Imam Ali as. dari sebagian umat ini!
Imam Ali as. Mengeluhkan Pengkhianat Sahabat Dari Suku Quraisy dan Para Pendukungnya.
Dalam banyak pernyataannya, Imam Ali as. mengeluhkan kedengkian, kejahatan dan pengkhianatan tokoh-tokoh suku Quraisy terhadap Nabi saw. yang kemudian, ketika mereka tidak mendapatkan jalan untuk meluapkannya kepada beliau saw., mereka meluapkan dendanm kusumat kekafiran dan kemunafikan kepadanya as.
Di bawah ini akan saya sebutkan sebuah kutipan pernyataan beliau as. tersebut.
Ų§ŁŁŁŁ
ّ Ų„ŁّŁ Ų£Ų³ŲŖŲ¹ŲÆŁŁ Ų¹ŁŁ ŁŲ±ŁŲ“، ŁŲ„ŁّŁŁ
Ų£Ų¶Ł
Ų±ŁŲ§ ŁŲ±Ų³ŁŁŁ (ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ¢ŁŁ ŁŲ³ŁŁ
) Ų¶Ų±ŁŲØŲ§ً Ł
Ł Ų§ŁŲ“Ų± ŁŲ§ŁŲŗŲÆŲ±، ŁŲ¹Ų¬Ų²ŁŲ§ Ų¹ŁŁŲ§، ŁŲُŁŲŖ ŲØŁŁŁŁ
ŁŲØŁŁŁŲ§، ŁŁŲ§ŁŲŖ Ų§ŁŁŲ¬ŲØŲ© ŲØŁ ŁŲ§ŁŲÆŲ§Ų¦Ų±Ų© Ų¹ŁŁّ، Ų§ŁŁŁŁ
ّ Ų§ŲŁŲø ŲŲ³ŁŲ§ًŁŲŲ³ŁŁŲ§ً، ŁŁŲ§ ŲŖŁ
ŁّŁ ŁŲ¬Ų±Ų© ŁŲ±ŁŲ“ Ł
ŁŁŁ
Ų§ Ł
Ų§ ŲÆŁ
ŲŖ ŲŁّŲ§ً، ŁŲ„Ų°Ų§ ŲŖŁŁّŁŲŖŁŁ ŁŲ£ŁŲŖ Ų§ŁŲ±ŁŁŲØ Ų¹ŁŁŁŁ
ŁŲ£ŁŲŖ Ų¹ŁŁ ŁŁّ Ų“ŁŲ” Ų“ŁŁŲÆ
“Ya Allah, aku memohon dari Mu agar melawan Quraisy, karena mereka telah memendam bermacam sikpa jahat dan pengkhianatan kepada Rasul-Mu saw., lalu mereka lemah dari meluapkannya, dan Engkau menghalang-halangi mereka darinya, maka dicicipkannya kepadaku dan dialamatkannya ke atasku. Ya Allah peliharalah Hasan dan Husain, jangan Engkau beri kesempatan orang-orang durjana dari Quraisy itu membinasakan keduanya selagi aku masih hidup. Dan jika Engkau telah wafatkan aku, maka Engkau-lah yang mengontrol mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu.”[4]
Coba Anda perhatikan pernyataan Imam Ali as. di atas, bagaimana dendam dan pengkhianatan Quraisy terhadap Nabi saw. akan mereka luapkan kepadanya! Dan di dalamnya juga terdapat penegasan bahwa mereka tidak segan-segan akan menghabisi nyawa bocah-bocah mungil kesayangan Rasulullah saw.; Hasan dan Husain as. yang akan meneruskan garis keturunan kebanian sebagai melampiasan dendam mereka kepada Nabi saw.!
Dalam salah sebuah pidatonya yang lain, Imam Ali as. mempertegas hal tersebut, beliau berkata:
ŁŁŲ§Ł ŁŲ§Ų¦Ł: Ų„ŁّŁ ŁŲ§ Ų§ŲØŁ Ų£ŲØŁ Ų·Ų§ŁŲØ Ų¹ŁŁ ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŲ§Ł
Ų± ŁŲŲ±ŁŲµ، ŁŁŁŲŖ: ŲØŁ Ų£ŁŲŖŁ
Ł ŁŲ§ŁŁŁ Ł Ų£ŲŲ±Ųµ ŁŲ£ŲØŲ¹ŲÆ، ŁŲ£ŁŲ§ Ų£Ų®Ųµ ŁŲ£ŁŲ±ŲØ، ŁŲ„ŁّŁ
Ų§ Ų·ŁŲØŲŖ ŲŁّŲ§ً ŁŁ ŁŲ£ŁŲŖŁ
ŲŖŲŁŁŁŁ ŲØŁŁŁ ŁŲØŁŁŁ، ŁŲŖŲ¶Ų±ŲØŁŁ ŁŲ¬ŁŁ ŲÆŁŁŁ، ŁŁŁ
Ų§ ŁŲ±ّŲ¹ŲŖŁ ŲØŲ§ŁŲŲ¬Ų© ŁŁ Ų§ŁŁ
ŁŲ§ Ų§ŁŲŲ§Ų¶Ų±ŁŁ ŁŲØّ ŁŲ£ŁŁ ŲØŁŲŖ ŁŲ§ ŁŲÆŲ±Ł Ł
Ų§ ŁŲ¬ŁŲØŁŁ ŲØŁ.
Ų§ŁŁŁŁ Ų„ŁŁ Ų§Ų³ŲŖŲ¹ŲÆŁŁ Ų¹ŁŁ ŁŲ±ŁŲ“ ŁŁ Ł Ų£Ų¹Ų§ŁŁŁ ، ŁŲ§ŁŁŁ ŁŲ·Ų¹ŁŲ§ Ų±ŲŁ Ł، ŁŲµŲŗّŲ±ŁŲ§ Ų¹ŲøŁŁ Ł ŁŲ²ŁŲŖŁ، ŁŲ£Ų¬Ł Ų¹ŁŲ§ Ų¹ŁŁ Ł ŁŲ§Ų²Ų¹ŲŖŁ أ٠راً ŁŁ ŁŁ، Ų«Ł ŁŲ§ŁŁŲ§: Ų£ŁŲ§ Ų„Łَّ ŁŁ Ų§ŁŲŁ Ų£Łْ ŲŖŲ£Ų®Ų°Ł ŁŁŁ Ų§ŁŲŁ Ų£Ł ŲŖŲŖŲ±ŁŁ .
Ų§ŁŁŁŁ Ų„ŁŁ Ų§Ų³ŲŖŲ¹ŲÆŁŁ Ų¹ŁŁ ŁŲ±ŁŲ“ ŁŁ Ł Ų£Ų¹Ų§ŁŁŁ ، ŁŲ§ŁŁŁ ŁŲ·Ų¹ŁŲ§ Ų±ŲŁ Ł، ŁŲµŲŗّŲ±ŁŲ§ Ų¹ŲøŁŁ Ł ŁŲ²ŁŲŖŁ، ŁŲ£Ų¬Ł Ų¹ŁŲ§ Ų¹ŁŁ Ł ŁŲ§Ų²Ų¹ŲŖŁ أ٠راً ŁŁ ŁŁ، Ų«Ł ŁŲ§ŁŁŲ§: Ų£ŁŲ§ Ų„Łَّ ŁŁ Ų§ŁŲŁ Ų£Łْ ŲŖŲ£Ų®Ų°Ł ŁŁŁ Ų§ŁŲŁ Ų£Ł ŲŖŲŖŲ±ŁŁ .
“Ada seorang berkata, ‘Hai putra Abu, Sesungguhnya engkau rakus terhadap urusan (Kekhalifahan) ini!’ Maka aku berkata, “Demi Allah, kalian-lah yang lebih rakus dan lebih jauh, adapun aku lebih khusus dan lebih dekat. Aku hanya meminta hakku, sedangkan kalian menghalang-halangiku darinya, dan menutup wajahku darinya. Dan ketika aku bungkam dia dengan bukti di hadapan halayak ramai yang hadir, ia terdiam, tidak mengerti apa yang harus ia katakan untuk membantahku.
Ya Allah, aku memohon pertolongan-Mu atas Quraisy dan sesiapa yang membela mereka, karena sesungguhnya mereka telah memutus tali kekerabatanku, menghinakan keagungan kedudukanku dan bersepakat merampas sesuatu yang menjadi hakku. Mereka berkata, ‘Ketahuilah bahwa adalah hak kamu untuk menuntut dan hak kamu pula untuk dibiarkan.”[5]
Coba Anda perhatikan pengkhianatan apa yang mereka lakukan… ketika Imam Ali as. berusaha mengambil kembali hak beliau yang mereka rampas, jusretu mereka menuduhnya rakus dan gila kekuasaan… sementara mereka yang merampas haknya merasa benar dan menjalanlan apa yang seharusnya mereka lakukan! Karenanya, kemudian beliau membungkam mulut khianat mereka dengan hujjah yang tak terbantahkan….
Referensi:
[1] Mustadrak al Hakim,3/140 dan 142.
[2] Al Mustadrak,3/139 hanya saja bagian akhir radaksi hadis ini terpotong, sepertinya ada “tangan-tangan terampil” yang sengaja menyensor hadis di atas.
[3]Teks hadis di atas sesuai dengan yang terdapat Majma’ az ZawĆ¢id,9/118.
[4] Syarah Nahjul Balaghhah, 20/298.
[5] Nahjul Balaghah, kuthbah ke.172.
(Syiahali/Jakfari/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)






Post a Comment
mohon gunakan email