Pesan Rahbar

Home » » Sejarah Islam Menunjukkan Kehidupan Damai Orang-orang Yahudi dan Umat Kristen di Kawasan Islam

Sejarah Islam Menunjukkan Kehidupan Damai Orang-orang Yahudi dan Umat Kristen di Kawasan Islam

Written By Unknown on Thursday, 20 August 2015 | 14:06:00


Para penganut antar mazhab Islam sejak berabad-abad lalu saling memiliki koeksistensi dengan para pengikut agama samawi dan sejarah Islam menunjukkan kehidupan damai orang-orang Yahudi dan umat Kristen di kawasan Islam.

Hamid al-Najdi, peneliti dan penulis Irak, seorang dosen jenjang doktor Ulumul Quran universitas London dan penulis dua buku Al-Quran, Rahasia Angka dalam Al-Quran dan Keajaiban Ilmiah dalam Al-Quran, saat wawancara dengan IQNA, dengan menjelaskan hal ini mengatakan, faktor perpecahan tidak muncul dengan sendirinya dan ada orang yang mewujudkannya. Ada faktor-faktor yang jika  para penjajah menghendakinya, maka mereka akan menciptakannya dan dengan perantara itu mereka memunculkan perpecahan di kalangan kaum muslimin.

Kehidupan Damai Yahudi dan Umat Kristen di Kawasan Islam
Dia menegaskan, mazhab-mazhab Islam sejak berabad-abad silam memiliki koeksistensi dengan para penganut agama samawi lainnya. sejarah Islam menunjukkan kehidupan damai Yahudi dan umat Kristen di kawasan Islam.

Lebih lanjut Al-Najdi mengungkapkan, kaum muslimin sejak awal pemerintahan Islam dan kemenangannya saling hidup bersama dalam satu negara besar, dimana negara terakhirnya adalah imperatur besar Utsmani, meskipun dengan segala kesalahan yang ada dalam pemerintahan, kaum muslimin berada di bawah panji Islam dan tauhid serta hidup dalam kedamaian.

Proses Pembagian Antar Muslim adalah Sebuah Proses Sejarah
Dia menegaskan, setelah perang dunia pertama, negara Islam ini terpecah menjadi beberapa bagian dan sejak saat itu perpecahan sudah marak di kalangan kaum muslimin. Adanya perpecahan di kalangan umat Islam dimulai dengan pembagian geografis dan setelah itu menyebar ke tendensi etnis dan mazhab sebagai akibat dari proses penciptaan perpecahan di kalangan kaum muslimin adalah sebuah proses sejarah.

Al-Quran Menyebut Syirik sebagai al-Zulm al-Adzim
Pakar Al-Quran asal Irak yang tinggal di London terkait bagaimana melawan perpecahan dengan perantara ajaran-ajaran Al-Quran mengatakan, hal yang paling berbahaya menurut Al-Quran adalah syirik, dimana Al-Quran mengenalkannya dengan ibarat al-Zulm al-Adzim (Kezaliman yang Besar).

Dia dengan mengisyaratkan sebuah contoh menambahkan, Bani Israil berpaling dari menyembah Allah dan melakukan kesyirikan saat ketidakhadiran Nabi Musa (As), mereka menyembah anak sapi dan saat Nabi Musa (As) kembali, maka Nabi Musa meminta pertanggung jawaban Nabi Harun (As), mengapa kamu tidak memberitahukanku dan menurut cerita Al-Quran, Nabi Harun dalam jawabannya mengatakan, "Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku): "Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku.” (Q.S. Thaha: 94).

Nabi Harun (As) bahkan sangat menghendaki persatuan dan jangan sampai perpecahan terjadi di antara mereka, meski dengan kesyirikan Bani Israil, namun lantas kenapa sekarang ini kaum muslimin tidak menghendaki persatuannya dengan adanya persamaan sesembahan dan pokok agama.

Dosen Ulumul Quran jenjang doktor Universitas London dengan mengisyaratkan bahwa Nabi Harun (As) berusaha untuk menjaga persatuan Bani Israil, setelah Bani Israil melakukan kesyirikan dalam ketiadaan nabi Musa, mengatakan, perpecahan dikalangan kaum muslimin bukan dalam batas kesyirikan, namun kita juga melihat bahwa perpecahan dan kemajemukan telah mendominasi antar mereka.

Dia dengan mengisyaratkan perpecahan di kalangan muslim bukan dalam tahap dimana karenanya harus mengorbankan persatuannya, menegaskan, pengikut mazhab Islam manakah yang tidak menyembah selain Allah? dan tidak bersyahadat atas keesaan Allah, risalah rasul-Nya (Saw)?

Dosen jenjang doktor universitas London lebih lanjut mengungkapkan, pendekatan Al-Quran dalam ranah persatuan muslim sangatlah gamblang dan jelas dan slogan “Inna Hazihi Ummatukum Ummatan Wahidah wa Ana Rabbukum Fa’budun  “Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku” (Q.S. Al-Anbiya’: 92) menceritakan akan pendekatan Ilahi ini.

Nasibi, Musuh Syiah dan Ahlussunnah
Dia mengungkapkan, Syiah dan Ahlussunnah dengan semua tendensi dan mazhab cabangnya adalah muslim, dan hanya orang Nasibi saja yang bermasalah dengan realita ini, yang memusuhi Syiah dan juga Ahlussunnah.
“Nasibi adalah musuh Ahlulbait (As) dan termasuk Khawarij, karena kebenaran Ahlulbait (As) di kalangan Syiah dan Ahlussunnah adalah hal yang telah disepakati dan tidak ada perselisihan dikalangan kaum muslimin tentang masalah ini,” ucapnya.

Berpegang pada Al-Quran dan Ahlulbait (As); Solusi Penting Perealisasian Persatuan
Dia terkait solusi praktis untuk sampai kepada persatuan kaum muslimin menegaskan, solusi yang menjamin persatuan kaum muslimin adalah hanya berpegang pada Al-Quran dan Ahlulbait (As).

“Jika kaum muslimin berpegang teguh pada Al-Quran dan Ahlulbait, maka masalah persatuan mereka juga akan terselesaikan, dan tanpa dua poros mendasar persatuan ini, perealisasiannya adalah hal yang mustahil dan tidak akan terjadi,” tambahnya.

Dia dengan mengisyaratkan hadis Tsaqalain, Innî Târikun fîkum al-Tsaqalain, ma in Tamassaktum bihima lan Tadhillu – Kitaballah wa Itrati Ahla Baiti wa Innahuma lan Yaftariqa hatta Yarida Alayya al-Haudh, mengungkapkan, sebagian mengatakan bahwa Rasulullah Saw mengisyaratkan Al-Quran dan sunnah, sebagai ganti dari Al-Quran dan Itrah, dimana hal ini merupakan hal yang benar-benar keliru; karena hadis Tsaqolain yang menegaskan pada Al-Quran dan sunnah tidak dituturkan dalam referensi-referensi kredibel Ahlussunnah.

Al-Najdi mengungkapkan, Imam Malik dalam sebuah tempat mengatakan, yang dinukilkan dari Rasulullah, bahwasanya beliau berkata demikian (hadis tsaqalain dengan menegaskan Al-Quran dan sunnah) dan hadis ini adalah majhul (tidak diketahui sumbernya) dan matruk (terputus sanadnya).

Menurut penuturan Hamid al-Najdi, hadis Al-Quran dan sunnah tidak terdapat dalam kutubus sittah (Sahih Bukhari, Muslim, Sunan Abu Daud, Shahih Tirmizi, Sunan Ibn Majah, Shahih Nasa’i) dan kesimpulan hadis tersebut adalah majhul dan matruk.

(IQNA/ABNS)
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita:

  • Doa Tahlil Yang Allah Mengagungkan Diri-Nya
  • Para Penentang Pembangunan Masjid di Australia Menggelar Demo
  • Imam Masjid Al-Aqsha Ceritakan Kegigihan Mempertahankan Masjid
  • Protes Dalai Lama Untuk Mengaitkan Terorisme Dengan Islam
  • Gaza: Pejabat Hamas Dibunuh Dengan Empat Peluru di Kepalanya
  • Pertemuan Para Penulis Arab Tentang Al-Quds di Damaskus
  • Serangan Nice, Trump: Ini Adalah Perang
  • 2 Tersangka Teroris ISIS Tewas di Ibukota Saudi
  • Ada Yang Lucu Nih! Kalo AHOK Menang Pilgub DKI 2017, Kami Rela Bunuh Diri Massal
Index »

KULINER

Index »

LIFESTYLE

Index »

KELUARGA

Index »

AL QURAN

Index »

SENI

Index »

SAINS - FILSAFAT DAN TEKNOLOGI

Index »

SEPUTAR AGAMA

Index »

OPINI

Index »

OPINI

Index »

MAKAM SUCI

Index »

PANDUAN BLOG

Index »

SENI