Pesan Rahbar

Home » , , , , , , , , » Kedudukan Tautsiq Al Ijliy : Bantahan Atas Tuduhan Tasahul

Kedudukan Tautsiq Al Ijliy : Bantahan Atas Tuduhan Tasahul

Written By Unknown on Tuesday, 21 October 2014 | 21:02:00

Sudah lama sekali kami ingin menuliskan pembahasan masalah ini secara khusus. Alhamdulillah, akhirnya niat itu terwujudkan dalam tulisan sederhana ini. Bagi para pembaca yang terbiasa berdiskusi atau memperhatikan tulisan para salafy akan menemukan bahwa sebagian da’i mereka dan pengikutnya menyatakan Ibnu Hibban dan Al Ijliy adalah ulama yang tasahul dalam tautsiq perawi sehingga tidak bisa dijadikan pegangan.

Adapun mengenai Ibnu Hibban maka memang benar Beliau bertasahul dalam kitabnya Ats Tsiqat. Hanya saja hakikat tasahul Ibnu Hibban tidaklah seperti yang dipahami oleh para salafiy tersebut. Mereka menerapkannya secara mutlak sehingga berkesan kitab Ats Tsiqat menjadi tidak ada gunanya kecuali hanya sebagian perawi dimana Ibnu Hibban menyatakan dengan jelas lafaz pujiannya. Padahal pendapat yang benar, tasahul tersebut memerlukan perincian yang Insya Allah akan dibahas dalam tulisan khusus.
Disini kami akan membahas secara khusus mengenai Al Ijliy. Berbeda dengan Ibnu Hibban, Al Ijliy tidak pernah mengakui atau menyebutkan sesuatu dalam kitabnya yang mengindikasikan bahwa ia bertasahul dalam tautsiq. Dan tidak pula ternukil dari kalangan ulama mutaqaddimin ahli naqd yang menyatakan bahwa Al Ijliy bertasahul. Hanya sebagian ulama muta’akhirin yang membuat tuduhan bahwa Al Ijliy tasahul dalam tautsiq diantaranya Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’allimiy, Syaikh Al Albaniy, Syaikh Muqbil bin Haadiy Al Wadi’iy dan selainnya yang mengikuti mereka.

Kedudukan Al Ijliy Dalam Ilmu Rijal dan Hadis.
Berikut keterangan mengenai Al Ijliy dan kedudukannya yang kami ambil dari kitab Tarikh Baghdaad Al Khatiib,

Ų£Ų­Ł…ŲÆ بن Ų¹ŲØŲÆ الله بن صالح بن مسلم، أبو الحسن Ų§Ł„Ų¹Ų¬Ł„ŁŠ كوفي الأصل، نؓأ ŲØŲØŲŗŲÆŲ§ŲÆ ŁˆŲ³Ł…Ų¹ بها ŁˆŲØŲ§Ł„ŁƒŁˆŁŲ©، ŁˆŲØŲ§Ł„ŲØŲµŲ±Ų©، وحدث بها عن Ų“ŲØŲ§ŲØŲ© ابن سوار، ŁˆŁ…Ų­Ł…ŲÆ بن جعفر غندر، ŁˆŲ§Ł„Ų­Ų³ŁŠŁ† بن Ų¹Ł„ŁŠ Ų§Ł„Ų¬Ų¹ŁŁŠ، ŁˆŲ£ŲØŁ‰ داود Ų§Ł„Ų­ŁŲ±ŁŠ، ŁˆŲ£ŲØŁ‰ Ų¹Ų§Ł…Ų± Ų§Ł„Ų¹Ł‚ŲÆŁŠ، ŁˆŁ…Ų­Ł…ŲÆ، ŁˆŁŠŲ¹Ł„Ł‰ Ų§ŲØŁ†ŁŠ عبيد Ų§Ł„Ų·Ł†Ų§ŁŲ³ŁŠ، ŁˆŲ¬Ł…Ų§Ų¹Ų© Ł†Ų­ŁˆŁ‡Ł…. ŁˆŁƒŲ§Ł† ŲÆŁŠŁ†Ų§ صالحا، انتقل ؄لى بلد المغرب، ŁˆŲ³ŁƒŁ† طرابلس – ŁˆŁ„ŁŠŲ³ŲŖ بأطرابلس الؓام – ŁˆŲ§Ł†ŲŖŲ“Ų± Ų­ŲÆŁŠŲ«Ł‡ Ł‡Ł†Ų§Łƒ. Ų±ŁˆŁ‰ عنه ابنه أبو صالح، وذكر أنه سمع منه في سنة Ų³ŲØŲ¹ ŁˆŲ®Ł…Ų³ŁŠŁ† ŁˆŁ…Ų§Ų¦ŲŖŁŠŁ†

Ahmad bin ‘Abdullah bin Shaalih bin Muslim, Abu Hasan Al Ijliy, ia berasal dari Kufah, tumbuh di Baghdaad dan mendengar [hadis] disana dan di Kufah, dan Bashrah ia menceritakan hadis dari Syababah bin Sawaar, Muhammad bin Ja’far Ghundaar, Husain bin Aliy Al Ja’fiy, Abu Dawud Al Hafariy, Abu ‘Aamir Al ‘Aqadiy, Muhammad dan Ya’la keduanya anak Ubaid Ath Thanafisiy, dan jama’ah seperti mereka. Ia seorang yang baik agamanya, kemudian pindah ke negri Maghrib dan menetap di Tharablus [bukan Tharaablus di Syaam] dan menyebarkan hadisnya di sana. Telah meriwayatkan darinya anaknya Abu Shalih dan disebutkan bahwa ia mendengar darinya pada tahun 257 H. [Tarikh Baghdaad Al Khatiib 4/436 no 2222].

أخبرنا Ų­Ł…Ų²Ų© بن Ł…Ų­Ł…ŲÆ بن طاهر الدقاق حدثنا Ų§Ł„ŁˆŁ„ŁŠŲÆ بن بكر Ų§Ł„Ų£Ł†ŲÆŁ„Ų³ŁŠ. قال ŁƒŲ§Ł† أبو الحسن Ų£Ų­Ł…ŲÆ بن Ų¹ŲØŲÆ الله بن صالح Ų§Ł„ŁƒŁˆŁŁŠ من أئمة Ų£ŲµŲ­Ų§ŲØ Ų§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ« الحفاظ Ų§Ł„Ł…ŲŖŁ‚Ł†ŁŠŁ†، من ذوي Ų§Ł„ŁˆŲ±Ų¹ ŁˆŲ§Ł„Ų²Ł‡ŲÆ،

Telah mengabarkan kepada kami Hamzah bin Muhammad bin Thaahir Ad Daqaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Waliid bin Bakr Al Andalusiy yang berkata Abu Hasan Ahmad bin ‘Abdullah bin Shalih Al Kuufiy termasuk dari kalangan Imam ahli hadis yang hafizh dan mutqin, dan termasuk orang yang wara’ zuhud. [Tarikh Baghdaad Al Khatiib 4/436 no 2222].

Riwayat Al Khatib di atas sanadnya shahih sampai Walid bin Bakr Al Andalusiy:
  1. Hamzah bin Muhammad bin Thaahir seorang yang shaduq [Tarikh Baghdaad 8/180 no 4310].
  2. Walid bin Bakr Al Andalusiy seorang yang tsiqat lagi amiin [Tarikh Baghdaad 13/455 no 7322].
Kemudian Walid melanjutkan dengan membawakan atsar dari ‘Abbas Ad Duuriy yang memuji Al Ijliy,

قال Ų§Ł„ŁˆŁ„ŁŠŲÆ: ŁˆŲ­ŲÆŲ«Ł†Ų§ على بن Ų£Ų­Ł…ŲÆ حدثنا أبو العرب حدثنا Ł…Ų§Ł„Łƒ بن Ų¹ŁŠŲ³Ł‰ حدثنا Ų¹ŲØŲ§Ų³ بن Ł…Ų­Ł…ŲÆ Ų§Ł„ŲÆŁˆŲ±ŁŠ عن Ų¹ŲØŲÆ الله بن صالح Ų§Ł„Ų¹Ų¬Ł„ŁŠ قال Ł…Ų§Ł„Łƒ بن Ų¹ŁŠŲ³Ł‰ فقلت لعباس Ų§Ł„ŲÆŁˆŲ±ŁŠ: أن له ابنا عندنا بالمغرب، فقال: Ų£Ų­Ł…ŲÆ؟ قلت نعم. قال Ų¹ŲØŲ§Ų³: ؄نا ŁƒŁ†Ų§ نعده Ł…Ų«Ł„ Ų£Ų­Ł…ŲÆ بن حنبل، ŁˆŁŠŲ­ŁŠŁ‰ بن Ł…Ų¹ŁŠŁ†

Walid berkata dan telah menceritakan kepada kami Aliy bin Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul ‘Arab yang berkata telah menceritakan kepada kami Malik bin Iisa yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abbaas bin Muhammad Ad Duuriy dari ‘Abullah bin Shalih Al Ijliy. Malik bin Iisa berkata maka aku berkata kepada Abbas Ad Duuriy “bahwasanya ia memiliki anak di sisi kami di Maghrib”. [Abbaas] berkata “Ahmad?”. Aku berkata “benar”. ‘Abbaas berkata “sesungguhnya kami menganggapnya seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in” [Tarikh Baghdaad Al Khatiib 4/436 no 2222].

Atsar di atas sanadnya jayyid hingga ‘Abbas Ad Duuriy. Sanad ini merupakan lanjutan dari sanad sebelumnya yaitu dari Hamzaah bin Muhammad dari Walid bin Bakr. Adapun keterangan perawi lainnya sebagai berikut:
  1. Aliy bin Ahmad adalah Aliy bin Ahmad bin Zakariya Ath Tharablusiy, seorang yang shalih dimana penduduk Tharablus mengambil fiqh dan hadis darinya [Ad Diibaaj Al Mazhab Ibnu Farhuun 2/103].
  2. Abul ‘Arab adalah Muhammad bin Ahmad bin Tamiim, ia telah dinyatakan shalih tsiqat oleh Abu ‘Abdullah Al Kharaath [Tartiib Al Madarik Qadhiy Iyaadh 5/324].
  3. Malik bin Iisa Al Qafshiy seorang Imam Kabiir banyak ulama Andalus yang datang kepadanya [Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 23/174]. Abul ‘Arab menyatakan bahwa ia seorang yang alim dalam ilmu hadis, Ilal dan Rijal [Tartiib Al Madarik Qadhiy Iyaadh 5/124].
  4. Abbas bin Muhammad Ad Duuriy seorang imam hafizh tsiqat sebagaimana dikatakan Adz Dzahabiy [As Siyaar Adz Dzahabiy 12/523].

أخبرنا Ų­Ł…Ų²Ų© حدثنا Ų§Ł„ŁˆŁ„ŁŠŲÆ حدثنا على بن Ų§Ų­Ł…ŲÆ حدثنا Ł…Ų­Ł…ŲÆ بن Ų§Ų­Ł…ŲÆ بن ŲŖŁ…ŁŠŁ… الحافظ قال سمعت Ų§Ų­Ł…ŲÆ بن Ł…ŲŗŁŠŲ« مغربى ثقة ŁŠŁ‚ŁˆŁ„ سئل ŁŠŲ­ŁŠŁ‰ بن Ł…Ų¹ŁŠŁ† عن أبى الحسن Ų§Ų­Ł…ŲÆ بن Ų¹ŲØŲÆ الله بن صالح بن مسلم فقال Ł‡Łˆ ثقة بن ثقة بن ثقة قال Ų§Ł„ŁˆŁ„ŁŠŲÆ ŁˆŲ§Ł†Ł…Ų§ قال ŁŁŠŁ‡ ŁŠŲ­ŁŠŁ‰ بن Ł…Ų¹ŁŠŁ† بهذه Ų§Ł„ŲŖŲ²ŁƒŁŠŲ© لأنه عرفه بالعراق قبل خروج Ų§Ų­Ł…ŲÆ بن Ų¹ŲØŲÆ الله ؄لى المغرب ŁˆŁƒŲ§Ł† Ł†ŲøŁŠŲ±Ł‡ في الحفظ ؄لا أنه ŲÆŁˆŁ†Ł‡ في السن ŁˆŁƒŲ§Ł† Ų®Ų±ŁˆŲ¬Ł‡ ؄لى المغرب Ų£ŁŠŲ§Ł… محنة Ų§Ų­Ł…ŲÆ بن حنبل ŁˆŲ£Ų­Ł…ŲÆ بن Ų¹ŲØŲÆ الله هذا اقدم في طلب Ų§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ« ŁˆŲ§Ų¹Ł„Ł‰ ؄سنادا ŁˆŲ§Ų¬Ł„ عند أهل المغرب في Ų§Ł„Ł‚ŲÆŁŠŁ… ŁˆŲ§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ« ورعا ŁˆŲ²Ł‡ŲÆŲ§ من Ł…Ų­Ł…ŲÆ بن Ų„Ų³Ł…Ų§Ų¹ŁŠŁ„ Ų§Ł„ŲØŲ®Ų§Ų±ŁŠ ŁˆŁ‡Łˆ كثير Ų§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ« Ų®Ų±Ų¬ من Ų§Ł„ŁƒŁˆŁŲ© ŁˆŲ§Ł„Ų¹Ų±Ų§Ł‚ ŲØŲ¹ŲÆ ان تفقه في Ų§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ« Ų«Ł… نزل أطرابلس الغرب

Telah mengabarkan kepada kami Hamzah yang berkata telah menceritakan kepada kami Waliid yang berkata telah menceritakan kepada kami Aliy bin Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Tamiim Al Hafizh yang berkata aku mendengar Ahmad bin Mughiits penduduk Maghrib yang tsiqat mengatakan Yahya bin Ma’in ditanya tentang Abul Hasan Ahmad bin ‘Abdullah bin Shaalih bin Muslim. Maka ia berkata “seorang yang tsiqat bin tsiqat bin tsiqat. Walid berkata Sesungguhnya perkataan Yahya bin Ma’in dengan tazkiyah [penilaian yang bersih] ini karena ia telah mengenalnya di Iraaq sebelum Ahmad bin ‘Abdullah pergi ke Maghrib. Dan ia [Al Ijliy] sepadan dengannya [Ibnu Ma’in] dalam masalah hafalan hanya saja ia lebih muda. Ia [Al Ijliy] pergi ke Maghrib pada masa fitnah terhadap Ahmad bin Hanbal. Dan Ahmad bin ‘Abdullah ini lebih terdahulu dalam menuntut ilmu hadis, lebih tinggi sanadnya, lebih agung di sisi penduduk Maghrib dalam masalah hadis wara’ dan zuhud dibanding Muhammad bin Ismail Al Bukhariy, dan ia banyak meriwayatkan hadis, keluar dari Kufah dan Iraq setelah mendalami hadis kemudian menetap di Tharablus Barat [Tarikh Baghdaad Al Khatiib 4/437 no 2222].

Riwayat Al Khatib di atas sanadnya jayyid sampai Yahya bin Ma’in. Berikut keterangan para perawinya,
  1. Hamzah bin Muhammad bin Thaahir seorang yang shaduq [Tarikh Baghdaad 8/180 no 4310].
  2. Walid bin Bakr Al Andalusiy seorang yang tsiqat lagi amiin [Tarikh Baghdaad 13/455 no 7322].
  3. Aliy bin Ahmad adalah Aliy bin Ahmad bin Zakariya Ath Tharablusiy, seorang yang shalih dimana penduduk Tharablus mengambil fiqh dan hadis darinya [Ad Diibaaj Al Mazhab Ibnu Farhuun 2/103].
  4. Muhammad bin Ahmad bin Tamiim, ia telah dinyatakan shalih tsiqat oleh Abu ‘Abdullah Al Kharaath [Tartiib Al Madarik Qadhiy Iyaadh 5/324].
  5. Ahmad bin Mughiits disebutkan dalam sanad Al Khatib di atas bahwa ia seorang penduduk Maghrib yang tsiqat.
Berdasarkan keterangan dari Al Khatib di atas maka dapat dikatakan bahwa Al Ijli adalah seorang Imam hafizh mutqin tsiqat dan ia dianggap seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in. Hal ini seperti yang dinyatakan Ibnu Nashiruddin Ad Dimasyiq,

قال ابن ناصر Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ† ŁƒŲ§Ł† Ų„Ł…Ų§Ł…Ų§ حافظا Ł‚ŲÆŁˆŲ© من Ų§Ł„Ł…ŲŖŁ‚Ł†ŁŠŁ† ŁˆŁƒŲ§Ł† يعد ŁƒŲ£Ų­Ł…ŲÆ بن حنبل ويحي بن Ł…Ų¹ŁŠŁ† ŁˆŁƒŲŖŲ§ŲØŁ‡ في الجرح ŁˆŲ§Ł„ŲŖŲ¹ŲÆŁŠŁ„ ŁŠŲÆŁ„ على Ų³Ų¹Ų© حفظه ŁˆŁ‚ŁˆŲ© باعه Ų§Ł„Ų·ŁˆŁŠŁ„

Ibnu Naashiruddiin berkata “Ia [Al Ijliy] seorang Imam hafizh teladan, termasuk orang yang mutqin dan ia dianggap seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, dan kitabnya dalam Jarh wat Ta’dil menunjukkan keluasan hafalannya dan kekuatan penelitiannya” [Syadzraatu Adz Dzahab Ibnu ‘Imaad Al Hanbaliy 2/140].

Adz Dzhabiy dalam biografi Al Ijliy menyatakan bahwa ia seorang Imam Hafizh zuhud dan memuji kitabnya dalam Jarh wat Ta’dil,

ŁˆŁ„Ł‡ مصنف Ł…ŁŁŠŲÆ في ” الجرح ŁˆŲ§Ł„ŲŖŲ¹ŲÆŁŠŁ„ ” ، طالعته ، ŁˆŲ¹Ł„Ł‚ŲŖ منه فوائد ŲŖŲÆŁ„ على تبحره بالصنعة ، وسعة حفظه

Ia [Al Ijliy] memiliki kitab yang sangat bermanfaat dalam Jarh wat Ta’dil, aku telah menelitinya dan mengambil darinya banyak faidah yang menunjukkan keahlian pembuatannya dan keluasan hafalannya [As Siyar Adz Dzahabiy 12/507].

Ash Shafadiy dalam kitabnya Al Waafiy bil Wafiyaat juga memberikan pujian yang tinggi kepada Al Ijliy dan kitabnya,

Ų£Ų­Ł…ŲÆ بن Ų¹ŲØŲÆ الله بن صالح أبو الحسن Ų§Ł„ŁƒŁˆŁŁŠ Ų§Ł„Ų¹Ų¬Ł„ŁŠ الحافظ الزاهد Ł†Ų²ŁŠŁ„ طرابلس الغرب Ų±ŁˆŁ‰ عنه ابنه صالح بن Ų£Ų­Ł…ŲÆ ŁƒŲŖŲ§ŲØŁ‡ في الجرح ŁˆŲ§Ł„ŲŖŲ¹ŲÆŁŠŁ„ ŁˆŁ‡Łˆ كتاب Ł…ŁŁŠŲÆ ŁŠŲÆŁ„ على ؄مامته وسعة حفظه

Ahmad bin ‘Abdullah bin Shalih Abu Hasan Al Kuufiy Al Ijlii seorang hafizh yang zuhud, tinggal di Tharablus barat, telah meriwayatkan darinya anaknya Shalih bin Ahmad kitabnya dalam Jarh Wat Ta’dil dan itu adalah kitab yang sangat bermanfaat yang menunjukkan keimamannya dan keluasan hafalannya [Al Waafiy bil Wafiyaat Ash Shafadiy 7/51].

Kesimpulannya adalah baik di kalangan ulama mutaqaddimin dan muta’akhirin, Al Ijliy memiliki kedudukan yang tinggi lagi terpuji seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in kemudian kitabnya dalam Jarh wat Ta’dil telah diakui sebagai kitab yang banyak memiliki manfaat dan menunjukkan keluasan hafalan dan kekuatan penelitiannya. Tidak ada satupun diantara mereka yang menunjukkan bahkan mengisyaratkan adanya tasahul Al Ijliy dalam kitabnya tersebut.

Ulama Yang Menyatakan Al Ijliy Tasahul.
Salah satu ulama yang menyatakan Al Ijliy tasahul dalam tautsiq adalah Syaikh Mu’allimiy dalam kitabnya At Tankiil dan Anwar Al Kasyifah, ia berkata:

و Ų§Ł„Ų¹Ų¬Ł„ŁŠ Ł‚Ų±ŁŠŲØ منه في ŲŖŁˆŲ«ŁŠŁ‚ Ų§Ł„Ł…Ų¬Ų§Ł‡ŁŠŁ„ من القدماؔ

Dan Al Ijliy serupa dengannya [Ibnu Hibban] dalam mentautsiq orang-orang majhul dari kalangan terdahulu [At Tankiil 1/66].

ŁˆŲŖŁˆŲ«ŁŠŁ‚ Ų§Ł„Ų¹Ų¬Ł„ŁŠ ŁˆŲ¬ŲÆŲŖŁ‡ بالاستقراؔ ŁƒŲŖŁˆŲ«ŁŠŁ‚ ابن حبان أو أوسع

Dan tautsiq Al Ijliy aku dapatkan dengan penelitian, seperti tautsiq Ibnu Hibban atau lebih luas darinya [Anwar Al Kasyifah hal 72].

Kemudian hal ini juga dinyatakan oleh Syaikh Al Albaniy dalam kitabnya Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, ia berkata:

Ų§Ł„Ų¹Ų¬Ł„ŁŠ Ł…Ų¹Ų±ŁˆŁ بالتساهل في Ų§Ł„ŲŖŁˆŲ«ŁŠŁ‚ ŁƒŲ§ŲØŁ† حبان ŲŖŁ…Ų§Ł…Ų§ً ŁŲŖŁˆŲ«ŁŠŁ‚Ł‡ Ł…Ų±ŲÆŁˆŲÆ Ų„Ų°Ų§ خالف Ų£Ł‚ŁˆŲ§Ł„ الأئمة Ų§Ł„Ł…ŁˆŲ«ŁˆŁ‚ بنقدهم ŁˆŲ¬Ų±Ų­Ł‡Ł…

Al Ijliy dikenal tasahul dalam tautsiq seperti Ibnu Hibban secara sempurna maka tautsiqnya ditolak jika bertentangan dengan perkataan para imam yang terpercaya dengan kritikan dan jarh mereka [Silsilah Al Ahadits Ash Shahiihah 2/218-219 no 633].

Pernyataan mereka berdua ini diikuti oleh para ulama ahli hadis dari kalangan salafy seperti Syaikh Muqbil bin Hadiy, Syaikh Abdullah Al Sa’ad, dan yang lainnya.

Pembahasan dan Bantahan Tuduhan Tasahul Terhadap Al Ijliy.
Apa sebenarnya alasan sebagian ulama yang menyatakan Al Ijliy tasahul dalam tautsiq?. Penelitian apakah yang dimaksud mereka?. Sebelumnya sudah pernah kami katakan bahwa dalam kitabnya Al Ijliy tidak seperti Ibnu Hibban yang menyebutkan syarat keadilan perawi dimana Ibnu Hibban beranggapan jika seorang perawi tidak diketahui jarh-nya maka ia adil. Syarat inilah yang membuat Ibnu Hibban dikenal tasahul dalam tautsiq. Jadi tidak ada bukti yang ternukil dari Al Ijliy bahwa ia tasahul dalam tautsiq.
Oleh karena itu penelitian yang dimaksud ulama seperti Al Mu’allimiy di atas tidak lepas dari kemungkinan yaitu adanya sebagian perawi yang mendapat tautsiq dari Al Ijliy kemudian ternyata sebagian perawi tersebut dinyatakan majhul atau dhaif oleh ulama-ulama hadis yang lain.

Apakah hal ini menjadi bukti cukup untuk menyatakan Al Ijliy sebagai tasahul?. Jawabannya tidak, hakikat permasalahan ini adalah sama seperti kasus yang terjadi pada ulama-ulama lain seperti Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Abu Hatim, Nasa’i dan yang lainnya [hanya berbeda kuantitasnya]. Terkadang mereka menyatakan perawi tertentu dengan tautsiq padahal perawi tersebut dinyatakan majhul atau dicacatkan oleh ulama lain. Perselisihan jarh dan ta’dil di kalangan para ulama adalah perkara yang ma’ruf.

Seandainya para pengikut salafiy membaca dengan baik apa yang dikatakan Al Muallimiy dalam At Tankiil maka mereka tidak akan sembarangan taklid kepadanya. Karena faktanya Al Mu’allimiy tidak mengkhususkan perkataan itu kepada Al Ijliy tetapi juga kepada Yahya bin Ma’in dan Nasa’iy.

ŁˆŲ§Ł„Ų¹Ų¬Ł„ŁŠ Ł‚Ų±ŁŠŲØ منه في ŲŖŁˆŲ«ŁŠŁ‚ Ų§Ł„Ł…Ų¬Ų§Ł‡ŁŠŁ„ من القدماؔ ŁˆŁƒŲ°Ł„Łƒ ابن Ų³Ų¹ŲÆ ŁˆŲ§ŲØŁ† Ł…Ų¹ŁŠŁ† ŁˆŲ§Ł„Ł†Ų³Ų§Ų¦ŁŠ ŁˆŲ¢Ų®Ų±ŁˆŁ† ŲŗŁŠŲ±Ł‡Ł…Ų§ ŁŠŁˆŲ«Ł‚ŁˆŁ† من ŁƒŲ§Ł† من Ų§Ł„ŲŖŲ§ŲØŲ¹ŁŠŁ† أو أتباعهم Ų„Ų°Ų§ وجدوا رواية أحدهم Ł…Ų³ŲŖŁ‚ŁŠŁ…Ų© بأن ŁŠŁƒŁˆŁ† له ŁŁŠŁ…Ų§ يروي Ł…ŲŖŲ§ŲØŲ¹ أو مؓاهد ، ŁˆŲ„Ł† لم يروا عنه ؄لا واحد ŁˆŁ„Ł… ŁŠŲØŁ„ŲŗŁ‡Ł… عنه ؄لا حديث واحد

Dan Al Ijliy serupa dengannya [Ibnu Hibban] dalam mentautsiq orang-orang majhul dari kalangan terdahulu, dan demikian pula Ibnu Sa’ad, Ibnu Ma’in dan Nasa’iy dan selain mereka yang menyatakan tsiqat orang yang termasuk tabiin atau pengikut tabiin jika mereka menemukan riwayat salah seorang dari mereka [tabiin atau pengikut tabiin] lurus, memiliki mutaba’ah atau syahid, dan sesungguhnya tidak meriwayatkan darinya kecuali satu orang dan tidak disampaikan darinya kecuali satu hadis [At Tankiil 1/66]
Dan faktanya memang benar terdapat sekelompok perawi yang dinyatakan tsiqat oleh Yahya bin Ma’in ternyata tidak dikenal atau dikatakan majhul oleh ulama lain. Begitu pula terdapat sekelompok perawi yang dinyatakan tsiqat oleh Nasa’iy tetapi tidak dikenal atau dinyatakan majhul oleh ulama lain. Apakah fakta ini menjadi bukti kuat bahwa Yahya bin Ma’in dan Nasa’iy tasahul dalam tautsiq?. Tidak ada ulama mutaqaddimin dan ahli naqd yang menyatakan demikian kepada Ibnu Ma’in dan Nasa’iy. Tidak masalah bagi seorang ulama sekaliber Al Mu’allimiy berpendapat karena tugas seorang peneliti dan penuntut ilmu adalah menganalisis setiap dasar dari pendapat ulama sesuai dengan kaidah ilmiah. Perkataan Al Mu’allimiy tersebut benar tetapi hal itu tidak menjadi bukti kalau Al Ijliy tasahul dalam tautsiq karena perkara yang sama juga terjadi pada ulama lain seperti Yahya bin Ma’in dan Nasa’iy dan mereka tidak dinyatakan tasahul karena hal ini.
Di atas telah disebutkan bahwa Al Ijliy dikenal sebagai hafizh tsiqat mutqin yang dianggap seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in bahkan kitabnya dalam Jarh wat Ta’dil membuktikan ketelitian dan keluasan hafalannya. Oleh karena itu kedudukan tautsiq Al Ijliy tidaklah berbeda dengan kedudukan tautsiq Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in.
Tuduhan tasahul terhadap Al Ijliy justru akan berkesan menjadikan kitab Al Ijliy dalam Jarh wat Ta’dil menjadi tidak berguna. Mengapa kami katakan demikian?. Ambil contoh Al Mu’allimiy walaupun ia sendiri menyatakan Ibnu Hibban tasahul dalam tautsiq tetapi ia juga menerima tautsiq Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats Tsiqat dengan lafaz yang sharih seperti “mustaqim al hadits” atau “tsabit” atau “mutqin”. Kalau Al Mu’allimiy menuduh Al Ijliy tasahul sama seperti Ibnu Hibban maka bagaimana cara ia menerapkan tuduhannya pada Al Ijliy mengingat Al Ijliy menyatakan dengan sharih [jelas] lafaz tautsiq dalam kitabnya
Persyaratan seperti apa yang akan dikemukakan bahkan lebih mungkin Al Mu’allimiy akan menganggap tautsiq Al Ijliy dengan lafaz sharih tersebut tidak ada nilainya sebagaimana ia mengisyaratkan bahwa tasahul Al Ijliy lebih luas atau lebih berat dari Ibnu Hibban. Bukankah konsekuensinya kitab Al Ijliy dimana ia menyatakan tautsiq kepada para perawinya menjadi tidak bisa dipakai. Tentu saja konsekuensi seperti ini tertolak dengan dasar kedudukan Al Ijliy yang tinggi dalam ilmu hadis dan kitabnya dalam Jarh wat Ta’dil yang telah dipuji menunjukkan keluasan hafalan dan penelitiannya.

Bukti lain yang membantah tuduhan tasahul terhadap Al Ijliy adalah para ulama telah berhujjah dengan tautsiqnya yang menyendiri terhadap perawi hadis. Diantara ulama tersebut adalah Adz Dzahabiy, Ibnu Hajar dan Ibnu Taimiyyah.

Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Iqtidhaa’ Sirathal Mustaqiim telah berhujjah dengan hadis yang didalam sanadnya terdapat perawi dimana Ibnu Taimiyyah hanya menukil tautsiq dari Al Ijliy,

ŁˆŲ£Ł…Ų§ أبو Ł…Ł†ŁŠŲØ Ų§Ł„Ų¬Ų±Ų“ŁŠ فقال ŁŁŠŁ‡ Ų£Ų­Ł…ŲÆ بن Ų¹ŲØŲÆ الله Ų§Ł„Ų¹Ų¬Ł„ŁŠ Ł‡Łˆ ثقة ŁˆŁ…Ų§ علمت Ų£Ų­ŲÆŲ§ Ų°ŁƒŲ±Ł‡ بسوؔ ŁˆŁ‚ŲÆ سمع منه حسان بن عطية

Adapun Abu Muniib Al Jurasyiy maka berkata tentangnya Ahmad bin ‘Abdullah Al Ijliy bahwa ia tsiqat dan aku tidak mengetahui seorang pun yang menyebutnya dengan keburukan, sungguh telah mendengar darinya Hasan bin ‘Athiyah [Iqtidhaa’ Sirathal Mustaqiim, Ibnu Taimiyyah 1/237].

Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya mengatakan bahwa hadis tersebut sanadnya jayyid. Maka hal ini membuktikan bahwa di sisi Ibnu Taimiyyah, tautsiq Al Ijliy diterima. Seandainya di sisi Ibnu Taimiyyah tautsiq Al Ijliy tasahul maka ia tidak akan menjadikannya sebagai hujjah seperti yang ia tunjukkan dalam kitabnya.
Adz Dzahabiy dalam kitabnya Mizan Al I’tidal juga menjadikan perkataan Al Ijliy sebagai hujjah dan tidak menganggapnya tasahul, ia pernah berkata dalam biografi Hujjayyah bin Adiy Al Kindiy,

قال أبو Ų­Ų§ŲŖŁ… ؓبه Ł…Ų¬Ł‡ŁˆŁ„، لا يحتج به قلت: Ų±ŁˆŁ‰ عنه Ų§Ł„Ų­ŁƒŁ…، ŁˆŲ³Ł„Ł…Ų© بن ŁƒŁ‡ŁŠŁ„، وأبو Ų„Ų³Ų­Ų§Ł‚، ŁˆŁ‡Łˆ ŲµŲÆŁˆŁ‚ ؄ن Ų“Ų§Ų” الله قد قال ŁŁŠŁ‡ العجلى ثقة

Abu Hatim berkata “ia seperti majhul, tidak bisa berhujjah dengannya”. [Adz Dzahabiy] aku berkata “telah meriwayatkan darinya Al Hakam, Salamah bin Kuhail dan Abu Ishaaq dan ia shaduq insya Allah sungguh telah berkata tentangnya Al Ijliy “tsiqat” [Al Mizan Adz Dzahabiy juz 1 no 1759].

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa Adz Dzahabiy membantah perkataan majhul dari Abu Hatim dengan berpegang pada tautsiq Al Ijliy. Hal ini adalah bukti jelas dari Adz Dzahabiy bahwa ia tidak menganggap Al Ijliy tasahul dalam tautsiq. Contoh lain adalah sebagai berikut:
  1. Adz Dzahabi dalam Al Mizan biografi Abdullah bin Farukh At Taimiy mengutip Abu Hatim yang berkata majhul. Adz Dzahabi membantahnya dengan berkata “ia shaduq masyhur telah meriwayatkan darinya jama’ah dan Al Ijli menyatakan ia tsiqat” [Mizan Al Itidal juz 2 no 4505]. Adz Dzahabiy hanya mengutip tautsiq dari Al Ijli dan dalam Al Kasyf ia berkata “tsiqat” [Al Kasyf no 2906].
  2. Adz Dzahabi dalam Al Mizan biografi ‘Abdurrahman bin Maisarah Al Himshiy mengutip pernyataan Al Ijli “tsiqat” dan Ibnu Madini berkata “majhul” [Mizan Al Itidal juz 2 no 4986]. Adz Dzahabiy hanya mengutip tautsiq dari Al Ijli kemudian ia menyimpulkan dalam Al Kasyf tentang ‘Abdurrahman bin Maisarah bahwa ia tsiqat [Al Kasyf no 3327].
Ibnu Hajar juga tidak memandang Al Ijliy tasahul dalam tautsiq. Buktinya adalah ia telah menyatakan perawi sebagai tsiqat dalam At Taqrib padahal tidak ternukil tautsiq terhadapnya selain tautsiq Al Ijliy sebagaimana yang ia nukil dalam At Tahdzib.

ŲŖ (Ų§Ł„ŲŖŲ±Ł…Ų°ŁŠ) حفص بن عمر بن عبيد Ų§Ł„Ų·Ł†Ų§ŁŲ³ŁŠ Ų§Ł„ŁƒŁˆŁŁŠ. Ų±ŁˆŁ‰ عن Ų²Ł‡ŁŠŲ± بن Ł…Ų¹Ų§ŁˆŁŠŲ© ŁˆŲ¹Ł†Ł‡ Ų¹Ł„ŁŠ بن Ų§Ł„Ł…ŲÆŁŠŁ†ŁŠ ŁˆŁ…Ų­Ł…ŁˆŲÆ بن ŲŗŁŠŁ„Ų§Ł†. قلت: قال Ų§Ł„Ų¹Ų¬Ł„ŁŠ كوفي ثقة ŁˆŁ‚Ų§Ł„ Ų§Ł„ŲÆŲ§Ų±Ł‚Ų·Ł†ŁŠ أيضا Ų±ŁˆŁ‰ عن Ł…Ų§Ł„Łƒ Ų±ŁˆŁ‰ عنه أيضا ؓعيب بن أيوب Ų§Ł„ŲµŲ±ŁŠŁŁŠŁ†ŁŠ

[perawi Sunan Tirmidzi] Hafsh bin ‘Umar bin Ubaid Ath Thanafisiy Al Kuufiy, meriwayatkan dari Zuhair bin Mu’awiyah, telah meriwayatkan darinya Aliy bin Madiiniy dan Mahmuud bin Ghailan. [Ibnu Hajar] aku berkata Al Ijliy berkata “orang kufah yang tsiqat”. Daruquthniy berkata “ia meriwayatkan dari Malik dan telah meriwayatkan darinya Syu’aib bin Ayuub Ash Shariifiiniy” [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 715].

Perhatikan dalam biografi Hafsh bin Umar bin Ubaid Ath Thanafisiy, Ibnu Hajar hanya mengutip tautsiq Al Ijliy. Kemudian apa yang Ibnu Hajar simpulkan dalam At Taqrib,

حفص بن عمر بن عبيد Ų§Ł„Ų·Ł†Ų§ŁŲ³ŁŠ Ų§Ł„ŁƒŁˆŁŁŠ ثقة من العاؓرة ŲŖ

Hafsih bin ‘Umar bin Ubaid Ath Thanafisiy orang kufah yang tsiqat, termasuk thabaqat kesepuluh, perawi Sunan Tirmidzi [Taqrib At Tahdzib 1/227].

Contoh lain adalah Ibnu Hajar menyebutkan dalam At Tahdzib biografi Ummul Aswad Al Khuza’iyah salah seorang perawi Ibnu Majah, Ibnu Hajar hanya mengutip Al Ijli yang menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 12 no 2912]. Kemudian Ibnu Hajar berkata dalam At Taqrib “tsiqat” [At Taqrib 2/664].

Syubhat Para Pengingkar.
Bukti-bukti di atas adalah bukti yang kuat dan tidak mengandung kemungkinan berbeda halnya dengan para pengikut salafiy yang ketika ingin menuduh Al Ijliy tasahul mereka membawakan bukti dimana Adz Dzahabiy menyatakan perawi sebagai majhul dalam kitabnya dan perawi tersebut telah ditsiqatkan Al Ijliy dalam kitabnya Ma’rifat Ats Tsiqat. Contohnya perawi yang bernama Umarah bin Hadiid disebutkan Adz Dzahabiy bahwa ia majhul [Al Mizan juz 3 no 6020] dan Al Ijliy menyebutkan bahwa ia tsiqat [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1324].

Hal ini tidak membuktikan apa-apa, hanya membuktikan perbedaan pandangan antara Al Ijliy dan Adz Dzahabiy, bisa pula dijelaskan bahwa Adz Dzahabiy tidak mengetahui kalau Umarah bin Hadiid tersebut dinyatakan tsiqat oleh Al Ijliy dan kenyataannya dalam Al Mizan Adz Dzahabiy tidak menukil tautsiq Al Ijliy terhadap Umarah bin Hadiid. Mungkin kalau ia mengetahui tautsiq Al Ijliy maka ia akan berpandangan lain seperti yang kami tunjukkan bahwa Adz Dzahabiy termasuk ulama yang berpegang pada tautsiq Al Ijliy.
Atau dalam kasus Ibnu Hajar dimana terdapat perawi yang bernama Manshuur bin Sa’iid Al Kalbiy dimana Ibnu Hajar menukil Ali bin Madiniy yang berkata “majhul aku tidak mengenalnya”. Al Ijliy berkata “tsiqat” dan Ibnu Khuzaimah berkata “aku tidak mengenalnya” [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 10 no 538] dan dalam At Taqrib Ibnu Hajar menyatakan bahwa dia mastuur [At Taqrib Ibnu Hajar 2/214].

Apakah ini menunjukkan bahwa Ibnu Hajar menganggap Al Ijliy tasahul sehingga tautsiqnya tidak dijadikan hujjah?. Jawabannya tidak, duduk perkaranya disini adalah di sisi Ibnu Hajar ternukil pendapat yang berselisih antara yang menyatakan majhul dan yang menyatakan tsiqat dan disini Ibnu Hajar merajihkan yang mengatakan majhul. Kasus seperti ini tidak terkhusus pada tautsiq Al Ijliy. Silakan lihat biografi Abdullah bin Khalid bin Sa’iid bin Abi Maryam dimana Ibnu Hajar berkata:

قلت Ų°ŁƒŲ±Ł‡ بن Ų“Ų§Ł‡ŁŠŁ† في الثقات ŁˆŁ‚Ų§Ł„ قال Ų£Ų­Ł…ŲÆ بن صالح ثقة من أهل Ų§Ł„Ł…ŲÆŁŠŁ†Ų© ŁˆŁ‚Ų§Ł„ Ų§Ł„Ų£Ų²ŲÆŁŠ لا يكتب Ų­ŲÆŁŠŲ«Ł‡ ŁˆŁ‚Ų§Ł„ بن القطان Ł…Ų¬Ł‡ŁˆŁ„ الحال

[Ibnu Hajar] aku berkata Ibnu Syahin menyebutkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata Ahmad bin Shalih [Al Mishriy] berkata “tsiqat dari penduduk Madinah”. Al Azdiy berkata “tidak ditulis hadisnya”. Ibnu Qaththaan berkata “majhul hal” [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 5 no 336].

Ibnu Hajar menukil tautsiq dari Ahmad bin Shalih Al Mishriy dan Ibnu Syahiin yang menyebutkannya dalam Ats Tsiqat. Tetapi Ibnu Hajar tetap menyatakan ia mastuur,

Ų¹ŲØŲÆ الله بن خالد بن سعيد بن أبي Ł…Ų±ŁŠŁ… Ų§Ł„Ł…ŲÆŁ†ŁŠ أبو ؓاكر Ų§Ł„ŲŖŁŠŁ…ŁŠ Ł…ŁˆŁ„Ų§Ł‡Ł… Ł…Ų³ŲŖŁˆŲ± ŲŖŁƒŁ„Ł… ŁŁŠŁ‡ Ų§Ł„Ų£Ų²ŲÆŁŠ من التاسعة ŲÆ

‘Abdullah bin Khaalid bin Sa’iid bin Abi Maryam Al Madiniy Abu Syaakir At Taimiy maula mereka, mastuur, Al Azdiy membicarakannya, termasuk thabaqat kesembilan, perawi Abu Dawud [At Taqrib Ibnu Hajar 1/488].

Apakah pernyataan mastuur terhadap Abdullah bin Khalid menunjukkan bahwa di sisi Ibnu Hajar tautsiq Ahmad bin Shalih Al Mishriy tasahul sehingga tidak dianggap?. Jawabannya tidak, hal ini hanya menunjukkan bahwa Ibnu Hajar lebih merajihkan pendapat yang mengatakan majhul. Kemudian contoh lain adalah perawi Qudamah bin Wabrah dimana dalam At Tahdzib Ibnu Hajar berkata:

قال أبو Ų­Ų§ŲŖŁ… عن Ų£Ų­Ł…ŲÆ لا يعرف ŁˆŁ‚Ų§Ł„ مسلم Ł‚ŁŠŁ„ لاحمد يصح حديث سمرة من ترك الجمعة فقال قدامة ŁŠŲ±ŁˆŁŠŁ‡ لا نعرفه ŁˆŁ‚Ų§Ł„ عثمان Ų§Ł„ŲÆŲ§Ų±Ł…ŁŠ عن ابن Ł…Ų¹ŁŠŁ† ثقة ŁˆŁ‚Ų§Ł„ Ų§Ł„ŲØŲ®Ų§Ų±ŁŠ لم يصح سماعه من سمرة ŁˆŲ°ŁƒŲ±Ł‡ ابن حبان في الثقات قلت ŁˆŁ‚Ų§Ł„ ابن Ų®Ų²ŁŠŁ…Ų© في ŲµŲ­ŁŠŲ­Ł‡ لا أقف على سماع قتادة من قدامة ŁˆŁ„Ų³ŲŖ أعرف قدامة بن وبرة بعدالة ŁˆŁ„Ų§ Ų¬Ų±Ų­ ŁˆŁ‚Ų§Ł„ Ų§Ł„Ų°Ł‡ŲØŁŠ لا يعرف

Abu Hatim berkata dari Ahmad “tidak dikenal”. Muslim berkata “dikatakan kepada Ahmad “shahih hadis Samurah barang siapa meninggalkan Jum’at”, maka Ahmad berkata “Qudamah yang meriwayatkannya aku tidak mengenalnya”. Utsman Ad Darimiy berkata dari Ibnu Ma’in “tsiqat”. Bukhariy berkata “tidak shahih pendengarannya dari Samurah”. Dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [Ibnu Hajar] aku berkata “Ibnu Khuzaimah berkata dalam Shahih-nya “aku tidak menemukan sima’ Qatadah dari Qudamah dan aku tidak mengenal Qudamah bin Wabrah tentang ‘adalahnya dan tidak juga jarh. Adz Dzahabiy berkata “tidak dikenal” [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 8 no 653].

Perhatikan apa yang ditulis Ibnu Hajar dalam At Tahdzib, ia menukil tautsiq dari Ibnu Ma’in dan menukil ulama lain yang menyatakan majhul. Kemudian Ibnu Hajar merajihkan pendapat yang menyatakan majhul. Ibnu Hajar dalam At Taqrib berkata mengenai Qudamah bin Wabrah majhul [At Taqrib Ibnu Hajar 1/454]. Apakah pernyataan majhul Ibnu Hajar menunjukkan bahwa di sisinya tautsiq Ibnu Ma’in itu tidak dianggap karena Ibnu Ma’in tasahul?. Jawabannya tidak, hal ini hanya menunjukkan bahwa Ibnu Hajar lebih merajihkan pendapat yang mengatakan majhul.

Seharusnya para pengikut salafiy itu lebih cerdas dalam memilih bukti. Jika ingin menunjukkan bahwa Ibnu Hajar menganggap tautsiq Al Ijliy tasahul maka yang harus ditunjukkan adalah perawi yang hanya dinukil Ibnu Hajar tautsiq Al Ijliy dalam At Tahdzib kemudian dalam At Taqrib ia menyatakan majhul atau mastuur.
Adapun contoh di atas jika digabungkan dengan contoh yang kami bawakan sebagai bukti maka mungkin hanya menunjukkan bahwa di sisi Ibnu Hajar tautsiq Al Ijliy bisa dijadikan hujjah jika tidak ada pendapat yang menyelisihinya. Hakikatnya jauh sekali perbedaannya dengan orang-orang yang menganggap Al Ijliy tasahul.

Kesimpulan:
Mereka yang menyatakan Al Ijliy tasahul dalam tautsiq tidak memiliki bukti kuat selain taklid pada ulama mereka tanpa memperhatikan bahwa hujjah ulama mereka disini tidaklah kuat. Al Ijliy adalah imam hafizh tsiqat yang kedudukannya seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in. Tidak ada bukti dari Al Ijliy bahwa ia tasahul dan tidak ada bukti dari ulama mutaqaddimin bahwa Al Ijliy tasahul dalam tautsiq. Bahkan para ulama muta’akahirin seperti Ibnu Hajar, Adz Dzahabiy dan Ibnu Taimiyyah telah berhujjah dengan tautsiq Al Ijliy yang menyendiri. Semua ini adalah hujjah yang membatalkan tuduhan tasahul terhadap Al Ijliy.
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita: