Sudah lama sekali kami ingin menuliskan
pembahasan masalah ini secara khusus. Alhamdulillah, akhirnya niat itu
terwujudkan dalam tulisan sederhana ini. Bagi para pembaca yang terbiasa
berdiskusi atau memperhatikan tulisan para salafy akan menemukan bahwa
sebagian da’i mereka dan pengikutnya menyatakan Ibnu Hibban dan Al Ijliy adalah ulama yang tasahul dalam tautsiq perawi sehingga tidak bisa dijadikan pegangan.
Adapun mengenai Ibnu Hibban maka memang
benar Beliau bertasahul dalam kitabnya Ats Tsiqat. Hanya saja hakikat
tasahul Ibnu Hibban tidaklah seperti yang dipahami oleh para salafiy
tersebut. Mereka menerapkannya secara mutlak sehingga berkesan kitab Ats
Tsiqat menjadi tidak ada gunanya kecuali hanya sebagian perawi dimana
Ibnu Hibban menyatakan dengan jelas lafaz pujiannya. Padahal pendapat
yang benar, tasahul tersebut memerlukan perincian yang Insya Allah akan
dibahas dalam tulisan khusus.
Disini kami akan membahas secara khusus
mengenai Al Ijliy. Berbeda dengan Ibnu Hibban, Al Ijliy tidak pernah
mengakui atau menyebutkan sesuatu dalam kitabnya yang mengindikasikan
bahwa ia bertasahul dalam tautsiq. Dan tidak pula ternukil dari kalangan
ulama mutaqaddimin ahli naqd yang menyatakan bahwa Al Ijliy bertasahul.
Hanya sebagian ulama muta’akhirin yang membuat tuduhan bahwa Al Ijliy
tasahul dalam tautsiq diantaranya Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al
Mu’allimiy, Syaikh Al Albaniy, Syaikh Muqbil bin Haadiy Al Wadi’iy dan
selainnya yang mengikuti mereka.
Kedudukan Al Ijliy Dalam Ilmu Rijal dan Hadis.
Berikut keterangan mengenai Al Ijliy dan kedudukannya yang kami ambil dari kitab Tarikh Baghdaad Al Khatiib,
Ų£ŲŁ ŲÆ ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ ŲØŁ ŲµŲ§ŁŲ ŲØŁ Ł Ų³ŁŁ ، Ų£ŲØŁ Ų§ŁŲس٠اŁŲ¹Ų¬ŁŁ ŁŁŁŁ Ų§ŁŲ£ŲµŁ، ŁŲ“Ų£ ŲØŲØŲŗŲÆŲ§ŲÆ ŁŲ³Ł Ų¹ ŲØŁŲ§ ŁŲØŲ§ŁŁŁŁŲ©، ŁŲØŲ§ŁŲØŲµŲ±Ų©، ŁŲŲÆŲ« ŲØŁŲ§ ع٠ؓبابة Ų§ŲØŁ Ų³ŁŲ§Ų±، ŁŁ ŲŁ ŲÆ ŲØŁ Ų¬Ų¹ŁŲ± ŲŗŁŲÆŲ±، ŁŲ§ŁŲŲ³ŁŁ ŲØŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲ¬Ų¹ŁŁ، ŁŲ£ŲØŁ ŲÆŲ§ŁŲÆ Ų§ŁŲŁŲ±Ł، ŁŲ£ŲØŁ Ų¹Ų§Ł Ų± Ų§ŁŲ¹ŁŲÆŁ، ŁŁ ŲŁ ŲÆ، ŁŁŲ¹ŁŁ Ų§ŲØŁŁ Ų¹ŲØŁŲÆ Ų§ŁŲ·ŁŲ§ŁŲ³Ł، ŁŲ¬Ł Ų§Ų¹Ų© ŁŲŁŁŁ . ŁŁŲ§Ł ŲÆŁŁŲ§ ŲµŲ§ŁŲŲ§، Ų§ŁŲŖŁŁ Ų„ŁŁ ŲØŁŲÆ Ų§ŁŁ ŲŗŲ±ŲØ، ŁŲ³ŁŁ Ų·Ų±Ų§ŲØŁŲ³ – ŁŁŁŲ³ŲŖ ŲØŲ£Ų·Ų±Ų§ŲØŁŲ³ Ų§ŁŲ“Ų§Ł – ŁŲ§ŁŲŖŲ“Ų± ŲŲÆŁŲ«Ł ŁŁŲ§Ł. Ų±ŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŲØŁŁ Ų£ŲØŁ ŲµŲ§ŁŲ، ŁŲ°ŁŲ± Ų£ŁŁ س٠ع Ł ŁŁ ŁŁ Ų³ŁŲ© Ų³ŲØŲ¹ ŁŲ®Ł Ų³ŁŁ ŁŁ Ų§Ų¦ŲŖŁŁ
Ahmad bin ‘Abdullah bin Shaalih bin
Muslim, Abu Hasan Al Ijliy, ia berasal dari Kufah, tumbuh di Baghdaad
dan mendengar [hadis] disana dan di Kufah, dan Bashrah ia menceritakan
hadis dari Syababah bin Sawaar, Muhammad bin Ja’far Ghundaar, Husain bin
Aliy Al Ja’fiy, Abu Dawud Al Hafariy, Abu ‘Aamir Al ‘Aqadiy, Muhammad
dan Ya’la keduanya anak Ubaid Ath Thanafisiy, dan jama’ah seperti
mereka. Ia seorang yang baik agamanya,
kemudian pindah ke negri Maghrib dan menetap di Tharablus [bukan
Tharaablus di Syaam] dan menyebarkan hadisnya di sana. Telah
meriwayatkan darinya anaknya Abu Shalih dan disebutkan bahwa ia
mendengar darinya pada tahun 257 H. [Tarikh Baghdaad Al Khatiib 4/436 no
2222].
Ų£Ų®ŲØŲ±ŁŲ§ ŲŁ Ų²Ų© ŲØŁ Ł ŲŁ ŲÆ ŲØŁ Ų·Ų§ŁŲ± Ų§ŁŲÆŁŲ§Ł ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų§ŁŁŁŁŲÆ ŲØŁ ŲØŁŲ± Ų§ŁŲ£ŁŲÆŁŲ³Ł. ŁŲ§Ł ŁŲ§Ł Ų£ŲØŁ Ų§ŁŲŲ³Ł Ų£ŲŁ ŲÆ ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ ŲØŁ ŲµŲ§ŁŲ Ų§ŁŁŁŁŁ Ł Ł Ų£Ų¦Ł Ų© Ų£ŲµŲŲ§ŲØ Ų§ŁŲŲÆŁŲ« Ų§ŁŲŁŲ§Ųø Ų§ŁŁ ŲŖŁŁŁŁ، Ł Ł Ų°ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų¹ ŁŲ§ŁŲ²ŁŲÆ،
Telah mengabarkan kepada kami Hamzah
bin Muhammad bin Thaahir Ad Daqaaq yang berkata telah menceritakan
kepada kami Waliid bin Bakr Al Andalusiy yang berkata Abu
Hasan Ahmad bin ‘Abdullah bin Shalih Al Kuufiy termasuk dari kalangan
Imam ahli hadis yang hafizh dan mutqin, dan termasuk orang yang wara’
zuhud. [Tarikh Baghdaad Al Khatiib 4/436 no 2222].
Riwayat Al Khatib di atas sanadnya shahih sampai Walid bin Bakr Al Andalusiy:
- Hamzah bin Muhammad bin Thaahir seorang yang shaduq [Tarikh Baghdaad 8/180 no 4310].
- Walid bin Bakr Al Andalusiy seorang yang tsiqat lagi amiin [Tarikh Baghdaad 13/455 no 7322].
Kemudian Walid melanjutkan dengan membawakan atsar dari ‘Abbas Ad Duuriy yang memuji Al Ijliy,
ŁŲ§Ł Ų§ŁŁŁŁŲÆ: ŁŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų¹ŁŁ ŲØŁ Ų£ŲŁ ŲÆ ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų£ŲØŁ Ų§ŁŲ¹Ų±ŲØ ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ł Ų§ŁŁ ŲØŁ Ų¹ŁŲ³Ł ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų¹ŲØŲ§Ų³ ŲØŁ Ł ŲŁ ŲÆ Ų§ŁŲÆŁŲ±Ł Ų¹Ł Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ ŲØŁ ŲµŲ§ŁŲ Ų§ŁŲ¹Ų¬ŁŁ ŁŲ§Ł Ł Ų§ŁŁ ŲØŁ Ų¹ŁŲ³Ł ŁŁŁŲŖ ŁŲ¹ŲØŲ§Ų³ Ų§ŁŲÆŁŲ±Ł: Ų£Ł ŁŁ Ų§ŲØŁŲ§ Ų¹ŁŲÆŁŲ§ ŲØŲ§ŁŁ ŲŗŲ±ŲØ، ŁŁŲ§Ł: Ų£ŲŁ ŲÆ؟ ŁŁŲŖ ŁŲ¹Ł . ŁŲ§Ł Ų¹ŲØŲ§Ų³: Ų„ŁŲ§ ŁŁŲ§ ŁŲ¹ŲÆŁ Ł Ų«Ł Ų£ŲŁ ŲÆ ŲØŁ ŲŁŲØŁ، ŁŁŲŁŁ ŲØŁ Ł Ų¹ŁŁ
Walid berkata dan telah menceritakan
kepada kami Aliy bin Ahmad yang berkata telah menceritakan kepada kami
Abul ‘Arab yang berkata telah menceritakan kepada kami Malik bin Iisa
yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abbaas bin Muhammad Ad
Duuriy dari ‘Abullah bin Shalih Al Ijliy. Malik bin Iisa berkata maka
aku berkata kepada Abbas Ad Duuriy “bahwasanya ia memiliki anak di sisi
kami di Maghrib”. [Abbaas] berkata “Ahmad?”. Aku berkata “benar”.
‘Abbaas berkata “sesungguhnya kami menganggapnya seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in” [Tarikh Baghdaad Al Khatiib 4/436 no 2222].
Atsar di atas sanadnya jayyid hingga
‘Abbas Ad Duuriy. Sanad ini merupakan lanjutan dari sanad sebelumnya
yaitu dari Hamzaah bin Muhammad dari Walid bin Bakr. Adapun keterangan
perawi lainnya sebagai berikut:
- Aliy bin Ahmad adalah Aliy bin Ahmad bin Zakariya Ath Tharablusiy, seorang yang shalih dimana penduduk Tharablus mengambil fiqh dan hadis darinya [Ad Diibaaj Al Mazhab Ibnu Farhuun 2/103].
- Abul ‘Arab adalah Muhammad bin Ahmad bin Tamiim, ia telah dinyatakan shalih tsiqat oleh Abu ‘Abdullah Al Kharaath [Tartiib Al Madarik Qadhiy Iyaadh 5/324].
- Malik bin Iisa Al Qafshiy seorang Imam Kabiir banyak ulama Andalus yang datang kepadanya [Tarikh Al Islam Adz Dzahabiy 23/174]. Abul ‘Arab menyatakan bahwa ia seorang yang alim dalam ilmu hadis, Ilal dan Rijal [Tartiib Al Madarik Qadhiy Iyaadh 5/124].
- Abbas bin Muhammad Ad Duuriy seorang imam hafizh tsiqat sebagaimana dikatakan Adz Dzahabiy [As Siyaar Adz Dzahabiy 12/523].
Ų£Ų®ŲØŲ±ŁŲ§ ŲŁ Ų²Ų© ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų§ŁŁŁŁŲÆ ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų¹ŁŁ ŲØŁ Ų§ŲŁ ŲÆ ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ł ŲŁ ŲÆ ŲØŁ Ų§ŲŁ ŲÆ ŲØŁ ŲŖŁ ŁŁ Ų§ŁŲŲ§ŁŲø ŁŲ§Ł س٠عت Ų§ŲŁ ŲÆ ŲØŁ Ł ŲŗŁŲ« Ł ŲŗŲ±ŲØŁ Ų«ŁŲ© ŁŁŁŁ سئ٠ŁŲŁŁ ŲØŁ Ł Ų¹ŁŁ ع٠أب٠اŁŲŲ³Ł Ų§ŲŁ ŲÆ ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ ŲØŁ ŲµŲ§ŁŲ ŲØŁ Ł Ų³ŁŁ ŁŁŲ§Ł ŁŁ Ų«ŁŲ© ŲØŁ Ų«ŁŲ© ŲØŁ Ų«ŁŲ© ŁŲ§Ł Ų§ŁŁŁŁŲÆ ŁŲ§ŁŁ Ų§ ŁŲ§Ł ŁŁŁ ŁŲŁŁ ŲØŁ Ł Ų¹ŁŁ ŲØŁŲ°Ł Ų§ŁŲŖŲ²ŁŁŲ© ŁŲ£ŁŁ Ų¹Ų±ŁŁ ŲØŲ§ŁŲ¹Ų±Ų§Ł ŁŲØŁ Ų®Ų±ŁŲ¬ Ų§ŲŁ ŲÆ ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ Ų„ŁŁ Ų§ŁŁ ŲŗŲ±ŲØ ŁŁŲ§Ł ŁŲøŁŲ±Ł ŁŁ Ų§ŁŲŁŲø Ų„ŁŲ§ Ų£ŁŁ ŲÆŁŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ³Ł ŁŁŲ§Ł Ų®Ų±ŁŲ¬Ł Ų„ŁŁ Ų§ŁŁ ŲŗŲ±ŲØ Ų£ŁŲ§Ł Ł ŲŁŲ© Ų§ŲŁ ŲÆ ŲØŁ ŲŁŲØŁ ŁŲ£ŲŁ ŲÆ ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŲÆŁ ŁŁ Ų·ŁŲØ Ų§ŁŲŲÆŁŲ« ŁŲ§Ų¹ŁŁ Ų„Ų³ŁŲ§ŲÆŲ§ ŁŲ§Ų¬Ł Ų¹ŁŲÆ Ų£ŁŁ Ų§ŁŁ ŲŗŲ±ŲØ ŁŁ Ų§ŁŁŲÆŁŁ ŁŲ§ŁŲŲÆŁŲ« ŁŲ±Ų¹Ų§ ŁŲ²ŁŲÆŲ§ Ł Ł Ł ŲŁ ŲÆ ŲØŁ Ų„Ų³Ł Ų§Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲØŲ®Ų§Ų±Ł ŁŁŁ ŁŲ«ŁŲ± Ų§ŁŲŲÆŁŲ« Ų®Ų±Ų¬ Ł Ł Ų§ŁŁŁŁŲ© ŁŲ§ŁŲ¹Ų±Ų§Ł ŲØŲ¹ŲÆ Ų§Ł ŲŖŁŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲŲÆŁŲ« Ų«Ł ŁŲ²Ł Ų£Ų·Ų±Ų§ŲØŁŲ³ Ų§ŁŲŗŲ±ŲØ
Telah mengabarkan kepada kami Hamzah
yang berkata telah menceritakan kepada kami Waliid yang berkata telah
menceritakan kepada kami Aliy bin Ahmad yang berkata telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Tamiim Al Hafizh yang berkata aku
mendengar Ahmad bin Mughiits penduduk Maghrib yang tsiqat mengatakan Yahya
bin Ma’in ditanya tentang Abul Hasan Ahmad bin ‘Abdullah bin Shaalih
bin Muslim. Maka ia berkata “seorang yang tsiqat bin tsiqat bin tsiqat.
Walid berkata Sesungguhnya perkataan Yahya bin Ma’in dengan tazkiyah
[penilaian yang bersih] ini karena ia telah mengenalnya di Iraaq sebelum
Ahmad bin ‘Abdullah pergi ke Maghrib. Dan ia [Al Ijliy] sepadan
dengannya [Ibnu Ma’in] dalam masalah hafalan hanya saja ia lebih muda.
Ia [Al Ijliy] pergi ke Maghrib pada masa fitnah terhadap Ahmad bin
Hanbal. Dan Ahmad bin ‘Abdullah ini lebih
terdahulu dalam menuntut ilmu hadis, lebih tinggi sanadnya, lebih agung
di sisi penduduk Maghrib dalam masalah hadis wara’ dan zuhud dibanding
Muhammad bin Ismail Al Bukhariy, dan ia banyak meriwayatkan
hadis, keluar dari Kufah dan Iraq setelah mendalami hadis kemudian
menetap di Tharablus Barat [Tarikh Baghdaad Al Khatiib 4/437 no 2222].
Riwayat Al Khatib di atas sanadnya jayyid sampai Yahya bin Ma’in. Berikut keterangan para perawinya,
- Hamzah bin Muhammad bin Thaahir seorang yang shaduq [Tarikh Baghdaad 8/180 no 4310].
- Walid bin Bakr Al Andalusiy seorang yang tsiqat lagi amiin [Tarikh Baghdaad 13/455 no 7322].
- Aliy bin Ahmad adalah Aliy bin Ahmad bin Zakariya Ath Tharablusiy, seorang yang shalih dimana penduduk Tharablus mengambil fiqh dan hadis darinya [Ad Diibaaj Al Mazhab Ibnu Farhuun 2/103].
- Muhammad bin Ahmad bin Tamiim, ia telah dinyatakan shalih tsiqat oleh Abu ‘Abdullah Al Kharaath [Tartiib Al Madarik Qadhiy Iyaadh 5/324].
- Ahmad bin Mughiits disebutkan dalam sanad Al Khatib di atas bahwa ia seorang penduduk Maghrib yang tsiqat.
Berdasarkan keterangan dari Al Khatib di
atas maka dapat dikatakan bahwa Al Ijli adalah seorang Imam hafizh
mutqin tsiqat dan ia dianggap seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin
Ma’in. Hal ini seperti yang dinyatakan Ibnu Nashiruddin Ad Dimasyiq,
ŁŲ§Ł Ų§ŲØŁ ŁŲ§ŲµŲ± Ų§ŁŲÆŁŁ ŁŲ§Ł Ų„Ł Ų§Ł Ų§ ŲŲ§ŁŲøŲ§ ŁŲÆŁŲ© Ł Ł Ų§ŁŁ ŲŖŁŁŁŁ ŁŁŲ§Ł ŁŲ¹ŲÆ ŁŲ£ŲŁ ŲÆ ŲØŁ ŲŁŲØŁ ŁŁŲŁ ŲØŁ Ł Ų¹ŁŁ ŁŁŲŖŲ§ŲØŁ ŁŁ Ų§ŁŲ¬Ų±Ų ŁŲ§ŁŲŖŲ¹ŲÆŁŁ ŁŲÆŁ Ų¹ŁŁ Ų³Ų¹Ų© ŲŁŲøŁ ŁŁŁŲ© باع٠اŁŲ·ŁŁŁ
Ibnu Naashiruddiin berkata “Ia [Al
Ijliy] seorang Imam hafizh teladan, termasuk orang yang mutqin dan ia
dianggap seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in, dan kitabnya dalam Jarh wat Ta’dil menunjukkan keluasan hafalannya dan kekuatan penelitiannya” [Syadzraatu Adz Dzahab Ibnu ‘Imaad Al Hanbaliy 2/140].
Adz Dzhabiy dalam biografi Al Ijliy menyatakan bahwa ia seorang Imam Hafizh zuhud dan memuji kitabnya dalam Jarh wat Ta’dil,
ŁŁŁ Ł ŲµŁŁ Ł ŁŁŲÆ ŁŁ ” Ų§ŁŲ¬Ų±Ų ŁŲ§ŁŲŖŲ¹ŲÆŁŁ ” ، Ų·Ų§ŁŲ¹ŲŖŁ ، ŁŲ¹ŁŁŲŖ Ł ŁŁ ŁŁŲ§Ų¦ŲÆ ŲŖŲÆŁ Ų¹ŁŁ ŲŖŲØŲر٠باŁŲµŁŲ¹Ų© ، ŁŲ³Ų¹Ų© ŲŁŲøŁ
Ia [Al Ijliy] memiliki kitab yang
sangat bermanfaat dalam Jarh wat Ta’dil, aku telah menelitinya dan
mengambil darinya banyak faidah yang menunjukkan keahlian pembuatannya dan keluasan hafalannya [As Siyar Adz Dzahabiy 12/507].
Ash Shafadiy dalam kitabnya Al Waafiy bil Wafiyaat juga memberikan pujian yang tinggi kepada Al Ijliy dan kitabnya,
Ų£ŲŁ ŲÆ ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ ŲØŁ ŲµŲ§ŁŲ Ų£ŲØŁ Ų§ŁŲŲ³Ł Ų§ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų¬ŁŁ Ų§ŁŲŲ§ŁŲø Ų§ŁŲ²Ų§ŁŲÆ ŁŲ²ŁŁ Ų·Ų±Ų§ŲØŁŲ³ Ų§ŁŲŗŲ±ŲØ Ų±ŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŲØŁŁ ŲµŲ§ŁŲ ŲØŁ Ų£ŲŁ ŲÆ ŁŲŖŲ§ŲØŁ ŁŁ Ų§ŁŲ¬Ų±Ų ŁŲ§ŁŲŖŲ¹ŲÆŁŁ ŁŁŁ ŁŲŖŲ§ŲØ Ł ŁŁŲÆ ŁŲÆŁ Ų¹ŁŁ Ų„Ł Ų§Ł ŲŖŁ ŁŲ³Ų¹Ų© ŲŁŲøŁ
Ahmad bin ‘Abdullah bin Shalih Abu
Hasan Al Kuufiy Al Ijlii seorang hafizh yang zuhud, tinggal di Tharablus
barat, telah meriwayatkan darinya anaknya Shalih bin Ahmad kitabnya dalam Jarh Wat Ta’dil dan itu adalah kitab yang sangat bermanfaat yang menunjukkan keimamannya dan keluasan hafalannya [Al Waafiy bil Wafiyaat Ash Shafadiy 7/51].
Kesimpulannya adalah baik di kalangan
ulama mutaqaddimin dan muta’akhirin, Al Ijliy memiliki kedudukan yang
tinggi lagi terpuji seperti Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in
kemudian kitabnya dalam Jarh wat Ta’dil telah diakui sebagai kitab yang
banyak memiliki manfaat dan menunjukkan keluasan hafalan dan kekuatan
penelitiannya. Tidak ada satupun diantara mereka yang menunjukkan bahkan
mengisyaratkan adanya tasahul Al Ijliy dalam kitabnya tersebut.
Ulama Yang Menyatakan Al Ijliy Tasahul.
Salah satu ulama yang menyatakan Al Ijliy
tasahul dalam tautsiq adalah Syaikh Mu’allimiy dalam kitabnya At
Tankiil dan Anwar Al Kasyifah, ia berkata:
Ł Ų§ŁŲ¹Ų¬ŁŁ ŁŲ±ŁŲØ Ł ŁŁ ŁŁ ŲŖŁŲ«ŁŁ Ų§ŁŁ Ų¬Ų§ŁŁŁ Ł Ł Ų§ŁŁŲÆŁ Ų§Ų”
Dan Al Ijliy serupa dengannya [Ibnu Hibban] dalam mentautsiq orang-orang majhul dari kalangan terdahulu [At Tankiil 1/66].
ŁŲŖŁŲ«ŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų¬ŁŁ ŁŲ¬ŲÆŲŖŁ ŲØŲ§ŁŲ§Ų³ŲŖŁŲ±Ų§Ų” ŁŲŖŁŲ«ŁŁ Ų§ŲØŁ Ųبا٠أ٠أŁŲ³Ų¹
Dan tautsiq Al Ijliy aku dapatkan
dengan penelitian, seperti tautsiq Ibnu Hibban atau lebih luas darinya
[Anwar Al Kasyifah hal 72].
Kemudian hal ini juga dinyatakan oleh Syaikh Al Albaniy dalam kitabnya Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, ia berkata:
Ų§ŁŲ¹Ų¬ŁŁ Ł Ų¹Ų±ŁŁ ŲØŲ§ŁŲŖŲ³Ų§ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲŖŁŲ«ŁŁ ŁŲ§ŲØŁ ŲŲØŲ§Ł ŲŖŁ Ų§Ł Ų§ً ŁŲŖŁŲ«ŁŁŁ Ł Ų±ŲÆŁŲÆ Ų„Ų°Ų§ Ų®Ų§ŁŁ Ų£ŁŁŲ§Ł Ų§ŁŲ£Ų¦Ł Ų© Ų§ŁŁ ŁŲ«ŁŁ ŲØŁŁŲÆŁŁ ŁŲ¬Ų±ŲŁŁ
Al Ijliy dikenal tasahul dalam
tautsiq seperti Ibnu Hibban secara sempurna maka tautsiqnya ditolak jika
bertentangan dengan perkataan para imam yang terpercaya dengan kritikan
dan jarh mereka [Silsilah Al Ahadits Ash Shahiihah 2/218-219 no 633].
Pernyataan mereka berdua ini diikuti oleh
para ulama ahli hadis dari kalangan salafy seperti Syaikh Muqbil bin
Hadiy, Syaikh Abdullah Al Sa’ad, dan yang lainnya.
Pembahasan dan Bantahan Tuduhan Tasahul Terhadap Al Ijliy.
Apa sebenarnya alasan sebagian ulama yang
menyatakan Al Ijliy tasahul dalam tautsiq?. Penelitian apakah yang
dimaksud mereka?. Sebelumnya sudah pernah kami katakan bahwa dalam
kitabnya Al Ijliy tidak seperti Ibnu Hibban yang menyebutkan syarat
keadilan perawi dimana Ibnu Hibban beranggapan jika seorang perawi tidak
diketahui jarh-nya maka ia adil. Syarat inilah yang membuat Ibnu Hibban
dikenal tasahul dalam tautsiq. Jadi tidak ada bukti yang ternukil dari
Al Ijliy bahwa ia tasahul dalam tautsiq.
Oleh karena itu penelitian yang dimaksud
ulama seperti Al Mu’allimiy di atas tidak lepas dari kemungkinan yaitu
adanya sebagian perawi yang mendapat tautsiq dari Al Ijliy kemudian
ternyata sebagian perawi tersebut dinyatakan majhul atau dhaif oleh
ulama-ulama hadis yang lain.
Apakah hal ini menjadi bukti cukup untuk
menyatakan Al Ijliy sebagai tasahul?. Jawabannya tidak, hakikat
permasalahan ini adalah sama seperti kasus yang terjadi pada ulama-ulama
lain seperti Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Abu Hatim, Nasa’i dan
yang lainnya [hanya berbeda kuantitasnya]. Terkadang mereka menyatakan
perawi tertentu dengan tautsiq padahal perawi tersebut dinyatakan majhul
atau dicacatkan oleh ulama lain. Perselisihan jarh dan ta’dil di
kalangan para ulama adalah perkara yang ma’ruf.
Seandainya para pengikut salafiy membaca
dengan baik apa yang dikatakan Al Muallimiy dalam At Tankiil maka mereka
tidak akan sembarangan taklid kepadanya. Karena faktanya Al Mu’allimiy
tidak mengkhususkan perkataan itu kepada Al Ijliy tetapi juga kepada
Yahya bin Ma’in dan Nasa’iy.
ŁŲ§ŁŲ¹Ų¬ŁŁ ŁŲ±ŁŲØ Ł ŁŁ ŁŁ ŲŖŁŲ«ŁŁ Ų§ŁŁ Ų¬Ų§ŁŁŁ Ł Ł Ų§ŁŁŲÆŁ Ų§Ų” ŁŁŲ°ŁŁ Ų§ŲØŁ Ų³Ų¹ŲÆ ŁŲ§ŲØŁ Ł Ų¹ŁŁ ŁŲ§ŁŁŲ³Ų§Ų¦Ł ŁŲ¢Ų®Ų±ŁŁ ŲŗŁŲ±ŁŁ Ų§ ŁŁŲ«ŁŁŁ Ł Ł ŁŲ§Ł Ł Ł Ų§ŁŲŖŲ§ŲØŲ¹ŁŁ Ų£Ł Ų£ŲŖŲØŲ§Ų¹ŁŁ Ų„Ų°Ų§ ŁŲ¬ŲÆŁŲ§ Ų±ŁŲ§ŁŲ© Ų£ŲŲÆŁŁ Ł Ų³ŲŖŁŁŁ Ų© ŲØŲ£Ł ŁŁŁŁ ŁŁ ŁŁŁ Ų§ ŁŲ±ŁŁ Ł ŲŖŲ§ŲØŲ¹ أ٠٠ؓاŁŲÆ ، ŁŲ„Ł ŁŁ ŁŲ±ŁŲ§ Ų¹ŁŁ Ų„ŁŲ§ ŁŲ§ŲŲÆ ŁŁŁ ŁŲØŁŲŗŁŁ Ų¹ŁŁ Ų„ŁŲ§ ŲŲÆŁŲ« ŁŲ§ŲŲÆ
Dan Al Ijliy
serupa dengannya [Ibnu Hibban] dalam mentautsiq orang-orang majhul dari
kalangan terdahulu, dan demikian pula Ibnu Sa’ad, Ibnu Ma’in dan Nasa’iy
dan selain mereka yang menyatakan tsiqat orang yang termasuk
tabiin atau pengikut tabiin jika mereka menemukan riwayat salah seorang
dari mereka [tabiin atau pengikut tabiin] lurus, memiliki mutaba’ah atau
syahid, dan sesungguhnya tidak meriwayatkan darinya kecuali satu orang
dan tidak disampaikan darinya kecuali satu hadis [At Tankiil 1/66]
Dan faktanya memang benar terdapat
sekelompok perawi yang dinyatakan tsiqat oleh Yahya bin Ma’in ternyata
tidak dikenal atau dikatakan majhul oleh ulama lain. Begitu pula
terdapat sekelompok perawi yang dinyatakan tsiqat oleh Nasa’iy tetapi
tidak dikenal atau dinyatakan majhul oleh ulama lain. Apakah fakta ini
menjadi bukti kuat bahwa Yahya bin Ma’in dan Nasa’iy tasahul dalam
tautsiq?. Tidak ada ulama mutaqaddimin dan ahli naqd yang menyatakan
demikian kepada Ibnu Ma’in dan Nasa’iy. Tidak masalah bagi seorang ulama
sekaliber Al Mu’allimiy berpendapat karena tugas seorang peneliti dan
penuntut ilmu adalah menganalisis setiap dasar dari pendapat ulama
sesuai dengan kaidah ilmiah. Perkataan Al Mu’allimiy tersebut benar
tetapi hal itu tidak menjadi bukti kalau Al Ijliy tasahul dalam tautsiq
karena perkara yang sama juga terjadi pada ulama lain seperti Yahya bin
Ma’in dan Nasa’iy dan mereka tidak dinyatakan tasahul karena hal ini.
Di atas telah disebutkan bahwa Al Ijliy
dikenal sebagai hafizh tsiqat mutqin yang dianggap seperti Ahmad bin
Hanbal dan Yahya bin Ma’in bahkan kitabnya dalam Jarh wat Ta’dil
membuktikan ketelitian dan keluasan hafalannya. Oleh karena itu
kedudukan tautsiq Al Ijliy tidaklah berbeda dengan kedudukan tautsiq
Ahmad bin Hanbal dan Yahya bin Ma’in.
Tuduhan tasahul terhadap Al Ijliy justru
akan berkesan menjadikan kitab Al Ijliy dalam Jarh wat Ta’dil menjadi
tidak berguna. Mengapa kami katakan demikian?. Ambil contoh Al
Mu’allimiy walaupun ia sendiri menyatakan Ibnu Hibban tasahul dalam
tautsiq tetapi ia juga menerima tautsiq Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats
Tsiqat dengan lafaz yang sharih seperti “mustaqim al hadits” atau
“tsabit” atau “mutqin”. Kalau Al Mu’allimiy menuduh Al Ijliy tasahul
sama seperti Ibnu Hibban maka bagaimana cara ia menerapkan tuduhannya
pada Al Ijliy mengingat Al Ijliy menyatakan dengan sharih [jelas] lafaz
tautsiq dalam kitabnya
Persyaratan seperti apa yang akan
dikemukakan bahkan lebih mungkin Al Mu’allimiy akan menganggap tautsiq
Al Ijliy dengan lafaz sharih tersebut tidak ada nilainya sebagaimana ia
mengisyaratkan bahwa tasahul Al Ijliy lebih luas atau lebih berat dari
Ibnu Hibban. Bukankah konsekuensinya kitab Al Ijliy dimana ia menyatakan
tautsiq kepada para perawinya menjadi tidak bisa dipakai. Tentu saja
konsekuensi seperti ini tertolak dengan dasar kedudukan Al Ijliy yang
tinggi dalam ilmu hadis dan kitabnya dalam Jarh wat Ta’dil yang telah
dipuji menunjukkan keluasan hafalan dan penelitiannya.
Bukti lain yang membantah tuduhan tasahul
terhadap Al Ijliy adalah para ulama telah berhujjah dengan tautsiqnya
yang menyendiri terhadap perawi hadis. Diantara ulama tersebut adalah
Adz Dzahabiy, Ibnu Hajar dan Ibnu Taimiyyah.
Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Iqtidhaa’
Sirathal Mustaqiim telah berhujjah dengan hadis yang didalam sanadnya
terdapat perawi dimana Ibnu Taimiyyah hanya menukil tautsiq dari Al
Ijliy,
ŁŲ£Ł Ų§ Ų£ŲØŁ Ł ŁŁŲØ Ų§ŁŲ¬Ų±Ų“Ł ŁŁŲ§Ł ŁŁŁ Ų£ŲŁ ŲÆ ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų¬ŁŁ ŁŁ Ų«ŁŲ© ŁŁ Ų§ Ų¹ŁŁ ŲŖ Ų£ŲŲÆŲ§ Ų°ŁŲ±Ł ŲØŲ³ŁŲ” ŁŁŲÆ س٠ع Ł ŁŁ ŲŲ³Ų§Ł ŲØŁ Ų¹Ų·ŁŲ©
Adapun Abu Muniib Al Jurasyiy maka berkata tentangnya Ahmad bin ‘Abdullah Al Ijliy bahwa ia tsiqat
dan aku tidak mengetahui seorang pun yang menyebutnya dengan keburukan,
sungguh telah mendengar darinya Hasan bin ‘Athiyah [Iqtidhaa’ Sirathal
Mustaqiim, Ibnu Taimiyyah 1/237].
Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya mengatakan bahwa hadis tersebut sanadnya jayyid.
Maka hal ini membuktikan bahwa di sisi Ibnu Taimiyyah, tautsiq Al Ijliy
diterima. Seandainya di sisi Ibnu Taimiyyah tautsiq Al Ijliy tasahul
maka ia tidak akan menjadikannya sebagai hujjah seperti yang ia
tunjukkan dalam kitabnya.
Adz Dzahabiy dalam kitabnya Mizan Al
I’tidal juga menjadikan perkataan Al Ijliy sebagai hujjah dan tidak
menganggapnya tasahul, ia pernah berkata dalam biografi Hujjayyah bin
Adiy Al Kindiy,
ŁŲ§Ł Ų£ŲØŁ ŲŲ§ŲŖŁ Ų“ŲØŁ Ł Ų¬ŁŁŁ، ŁŲ§ ŁŲŲŖŲ¬ ŲØŁ ŁŁŲŖ: Ų±ŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲŁŁ ، ŁŲ³ŁŁ Ų© ŲØŁ ŁŁŁŁ، ŁŲ£ŲØŁ Ų„Ų³ŲŲ§Ł، ŁŁŁ ŲµŲÆŁŁ Ų„Ł Ų“Ų§Ų” Ų§ŁŁŁ ŁŲÆ ŁŲ§Ł ŁŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų¬ŁŁ Ų«ŁŲ©
Abu Hatim berkata “ia seperti majhul,
tidak bisa berhujjah dengannya”. [Adz Dzahabiy] aku berkata “telah
meriwayatkan darinya Al Hakam, Salamah bin Kuhail dan Abu Ishaaq dan ia shaduq insya Allah sungguh telah berkata tentangnya Al Ijliy “tsiqat” [Al Mizan Adz Dzahabiy juz 1 no 1759].
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa Adz
Dzahabiy membantah perkataan majhul dari Abu Hatim dengan berpegang pada
tautsiq Al Ijliy. Hal ini adalah bukti jelas dari Adz Dzahabiy bahwa ia
tidak menganggap Al Ijliy tasahul dalam tautsiq. Contoh lain adalah
sebagai berikut:
- Adz Dzahabi dalam Al Mizan biografi Abdullah bin Farukh At Taimiy mengutip Abu Hatim yang berkata majhul. Adz Dzahabi membantahnya dengan berkata “ia shaduq masyhur telah meriwayatkan darinya jama’ah dan Al Ijli menyatakan ia tsiqat” [Mizan Al Itidal juz 2 no 4505]. Adz Dzahabiy hanya mengutip tautsiq dari Al Ijli dan dalam Al Kasyf ia berkata “tsiqat” [Al Kasyf no 2906].
- Adz Dzahabi dalam Al Mizan biografi ‘Abdurrahman bin Maisarah Al Himshiy mengutip pernyataan Al Ijli “tsiqat” dan Ibnu Madini berkata “majhul” [Mizan Al Itidal juz 2 no 4986]. Adz Dzahabiy hanya mengutip tautsiq dari Al Ijli kemudian ia menyimpulkan dalam Al Kasyf tentang ‘Abdurrahman bin Maisarah bahwa ia tsiqat [Al Kasyf no 3327].
Ibnu Hajar juga tidak memandang Al Ijliy
tasahul dalam tautsiq. Buktinya adalah ia telah menyatakan perawi
sebagai tsiqat dalam At Taqrib padahal tidak ternukil tautsiq
terhadapnya selain tautsiq Al Ijliy sebagaimana yang ia nukil dalam At
Tahdzib.
ŲŖ (Ų§ŁŲŖŲ±Ł Ų°Ł) ŲŁŲµ ب٠ع٠ر ŲØŁ Ų¹ŲØŁŲÆ Ų§ŁŲ·ŁŲ§ŁŲ³Ł Ų§ŁŁŁŁŁ. Ų±ŁŁ Ų¹Ł Ų²ŁŁŲ± ŲØŁ Ł Ų¹Ų§ŁŁŲ© ŁŲ¹ŁŁ Ų¹ŁŁ ŲØŁ Ų§ŁŁ ŲÆŁŁŁ ŁŁ ŲŁ ŁŲÆ ŲØŁ ŲŗŁŁŲ§Ł. ŁŁŲŖ: ŁŲ§Ł Ų§ŁŲ¹Ų¬ŁŁ ŁŁŁŁ Ų«ŁŲ© ŁŁŲ§Ł Ų§ŁŲÆŲ§Ų±ŁŲ·ŁŁ Ų£ŁŲ¶Ų§ Ų±ŁŁ Ų¹Ł Ł Ų§ŁŁ Ų±ŁŁ Ų¹ŁŁ Ų£ŁŲ¶Ų§ Ų“Ų¹ŁŲØ ŲØŁ Ų£ŁŁŲØ Ų§ŁŲµŲ±ŁŁŁŁŁ
[perawi Sunan Tirmidzi] Hafsh bin
‘Umar bin Ubaid Ath Thanafisiy Al Kuufiy, meriwayatkan dari Zuhair bin
Mu’awiyah, telah meriwayatkan darinya Aliy bin Madiiniy dan Mahmuud bin
Ghailan. [Ibnu Hajar] aku berkata Al Ijliy berkata “orang kufah yang tsiqat”. Daruquthniy
berkata “ia meriwayatkan dari Malik dan telah meriwayatkan darinya
Syu’aib bin Ayuub Ash Shariifiiniy” [Tahdzib At Tahdzib juz 2 no 715].
Perhatikan dalam biografi Hafsh bin Umar
bin Ubaid Ath Thanafisiy, Ibnu Hajar hanya mengutip tautsiq Al Ijliy.
Kemudian apa yang Ibnu Hajar simpulkan dalam At Taqrib,
ŲŁŲµ ب٠ع٠ر ŲØŁ Ų¹ŲØŁŲÆ Ų§ŁŲ·ŁŲ§ŁŲ³Ł Ų§ŁŁŁŁŁ Ų«ŁŲ© Ł Ł Ų§ŁŲ¹Ų§Ų“Ų±Ų© ŲŖ
Hafsih bin ‘Umar bin Ubaid Ath Thanafisiy orang kufah yang tsiqat, termasuk thabaqat kesepuluh, perawi Sunan Tirmidzi [Taqrib At Tahdzib 1/227].
Contoh lain adalah Ibnu Hajar menyebutkan
dalam At Tahdzib biografi Ummul Aswad Al Khuza’iyah salah seorang
perawi Ibnu Majah, Ibnu Hajar hanya mengutip Al Ijli yang menyatakan ia
tsiqat [At Tahdzib juz 12 no 2912]. Kemudian Ibnu Hajar berkata dalam At
Taqrib “tsiqat” [At Taqrib 2/664].
Syubhat Para Pengingkar.
Bukti-bukti di atas adalah bukti yang
kuat dan tidak mengandung kemungkinan berbeda halnya dengan para
pengikut salafiy yang ketika ingin menuduh Al Ijliy tasahul mereka
membawakan bukti dimana Adz Dzahabiy menyatakan perawi sebagai majhul
dalam kitabnya dan perawi tersebut telah ditsiqatkan Al Ijliy dalam
kitabnya Ma’rifat Ats Tsiqat. Contohnya perawi yang bernama Umarah bin Hadiid
disebutkan Adz Dzahabiy bahwa ia majhul [Al Mizan juz 3 no 6020] dan Al
Ijliy menyebutkan bahwa ia tsiqat [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1324].
Hal ini tidak membuktikan apa-apa, hanya
membuktikan perbedaan pandangan antara Al Ijliy dan Adz Dzahabiy, bisa
pula dijelaskan bahwa Adz Dzahabiy tidak mengetahui kalau Umarah bin
Hadiid tersebut dinyatakan tsiqat oleh Al Ijliy dan kenyataannya dalam
Al Mizan Adz Dzahabiy tidak menukil tautsiq Al Ijliy terhadap Umarah bin
Hadiid. Mungkin kalau ia mengetahui tautsiq Al Ijliy maka ia akan
berpandangan lain seperti yang kami tunjukkan bahwa Adz Dzahabiy
termasuk ulama yang berpegang pada tautsiq Al Ijliy.
Atau dalam kasus Ibnu Hajar dimana
terdapat perawi yang bernama Manshuur bin Sa’iid Al Kalbiy dimana Ibnu
Hajar menukil Ali bin Madiniy yang berkata “majhul aku tidak
mengenalnya”. Al Ijliy berkata “tsiqat” dan Ibnu Khuzaimah berkata “aku
tidak mengenalnya” [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 10 no 538] dan dalam At
Taqrib Ibnu Hajar menyatakan bahwa dia mastuur [At Taqrib Ibnu Hajar
2/214].
Apakah ini menunjukkan bahwa Ibnu Hajar
menganggap Al Ijliy tasahul sehingga tautsiqnya tidak dijadikan hujjah?.
Jawabannya tidak, duduk perkaranya disini adalah di sisi Ibnu Hajar
ternukil pendapat yang berselisih antara yang menyatakan majhul dan yang
menyatakan tsiqat dan disini Ibnu Hajar merajihkan yang mengatakan
majhul. Kasus seperti ini tidak terkhusus pada tautsiq Al Ijliy. Silakan
lihat biografi Abdullah bin Khalid bin Sa’iid bin Abi Maryam dimana
Ibnu Hajar berkata:
ŁŁŲŖ Ų°ŁŲ±Ł ŲØŁ Ų“Ų§ŁŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ«ŁŲ§ŲŖ ŁŁŲ§Ł ŁŲ§Ł Ų£ŲŁ ŲÆ ŲØŁ ŲµŲ§ŁŲ Ų«ŁŲ© Ł Ł Ų£ŁŁ Ų§ŁŁ ŲÆŁŁŲ© ŁŁŲ§Ł Ų§ŁŲ£Ų²ŲÆŁ ŁŲ§ ŁŁŲŖŲØ ŲŲÆŁŲ«Ł ŁŁŲ§Ł ŲØŁ Ų§ŁŁŲ·Ų§Ł Ł Ų¬ŁŁŁ Ų§ŁŲŲ§Ł
[Ibnu Hajar] aku berkata Ibnu Syahin menyebutkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata Ahmad bin Shalih [Al Mishriy] berkata “tsiqat dari penduduk Madinah”. Al Azdiy berkata “tidak ditulis hadisnya”. Ibnu Qaththaan berkata “majhul hal” [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 5 no 336].
Ibnu Hajar menukil tautsiq dari Ahmad bin
Shalih Al Mishriy dan Ibnu Syahiin yang menyebutkannya dalam Ats
Tsiqat. Tetapi Ibnu Hajar tetap menyatakan ia mastuur,
Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ ŲØŁ Ų®Ų§ŁŲÆ ŲØŁ Ų³Ų¹ŁŲÆ ŲØŁ Ų£ŲØŁ Ł Ų±ŁŁ Ų§ŁŁ ŲÆŁŁ Ų£ŲØŁ Ų“Ų§ŁŲ± Ų§ŁŲŖŁŁ Ł Ł ŁŁŲ§ŁŁ Ł Ų³ŲŖŁŲ± ŲŖŁŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŲ£Ų²ŲÆŁ Ł Ł Ų§ŁŲŖŲ§Ų³Ų¹Ų© ŲÆ
‘Abdullah bin Khaalid bin Sa’iid bin Abi Maryam Al Madiniy Abu Syaakir At Taimiy maula mereka, mastuur, Al Azdiy membicarakannya, termasuk thabaqat kesembilan, perawi Abu Dawud [At Taqrib Ibnu Hajar 1/488].
Apakah pernyataan mastuur terhadap
Abdullah bin Khalid menunjukkan bahwa di sisi Ibnu Hajar tautsiq Ahmad
bin Shalih Al Mishriy tasahul sehingga tidak dianggap?. Jawabannya
tidak, hal ini hanya menunjukkan bahwa Ibnu Hajar lebih merajihkan
pendapat yang mengatakan majhul. Kemudian contoh lain adalah perawi
Qudamah bin Wabrah dimana dalam At Tahdzib Ibnu Hajar berkata:
ŁŲ§Ł Ų£ŲØŁ ŲŲ§ŲŖŁ Ų¹Ł Ų£ŲŁ ŲÆ ŁŲ§ ŁŲ¹Ų±Ł ŁŁŲ§Ł Ł Ų³ŁŁ ŁŁŁ ŁŲ§ŲŁ ŲÆ ŁŲµŲ ŲŲÆŁŲ« س٠رة ٠٠تر٠اŁŲ¬Ł Ų¹Ų© ŁŁŲ§Ł ŁŲÆŲ§Ł Ų© ŁŲ±ŁŁŁ ŁŲ§ ŁŲ¹Ų±ŁŁ ŁŁŲ§Ł Ų¹Ų«Ł Ų§Ł Ų§ŁŲÆŲ§Ų±Ł Ł Ų¹Ł Ų§ŲØŁ Ł Ų¹ŁŁ Ų«ŁŲ© ŁŁŲ§Ł Ų§ŁŲØŲ®Ų§Ų±Ł ŁŁ ŁŲµŲ س٠اع٠٠٠س٠رة ŁŲ°ŁŲ±Ł Ų§ŲØŁ ŲŲØŲ§Ł ŁŁ Ų§ŁŲ«ŁŲ§ŲŖ ŁŁŲŖ ŁŁŲ§Ł Ų§ŲØŁ Ų®Ų²ŁŁ Ų© ŁŁ ŲµŲŁŲŁ ŁŲ§ Ų£ŁŁ Ų¹ŁŁ س٠اع ŁŲŖŲ§ŲÆŲ© Ł Ł ŁŲÆŲ§Ł Ų© ŁŁŲ³ŲŖ أعر٠ŁŲÆŲ§Ł Ų© ŲØŁ ŁŲØŲ±Ų© ŲØŲ¹ŲÆŲ§ŁŲ© ŁŁŲ§ Ų¬Ų±Ų ŁŁŲ§Ł Ų§ŁŲ°ŁŲØŁ ŁŲ§ ŁŲ¹Ų±Ł
Abu Hatim berkata
dari Ahmad “tidak dikenal”. Muslim berkata “dikatakan kepada Ahmad
“shahih hadis Samurah barang siapa meninggalkan Jum’at”, maka Ahmad
berkata “Qudamah yang meriwayatkannya aku tidak mengenalnya”. Utsman Ad
Darimiy berkata dari Ibnu Ma’in “tsiqat”. Bukhariy berkata “tidak shahih
pendengarannya dari Samurah”. Dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats
Tsiqat. [Ibnu Hajar] aku berkata “Ibnu Khuzaimah berkata dalam
Shahih-nya “aku tidak menemukan sima’ Qatadah dari Qudamah dan aku tidak
mengenal Qudamah bin Wabrah tentang ‘adalahnya dan tidak juga jarh. Adz
Dzahabiy berkata “tidak dikenal” [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 8 no 653].
Perhatikan apa yang ditulis Ibnu Hajar
dalam At Tahdzib, ia menukil tautsiq dari Ibnu Ma’in dan menukil ulama
lain yang menyatakan majhul. Kemudian Ibnu Hajar merajihkan pendapat
yang menyatakan majhul. Ibnu Hajar dalam At Taqrib berkata mengenai
Qudamah bin Wabrah majhul [At Taqrib Ibnu Hajar 1/454]. Apakah
pernyataan majhul Ibnu Hajar menunjukkan bahwa di sisinya tautsiq Ibnu
Ma’in itu tidak dianggap karena Ibnu Ma’in tasahul?. Jawabannya tidak,
hal ini hanya menunjukkan bahwa Ibnu Hajar lebih merajihkan pendapat
yang mengatakan majhul.
Seharusnya para pengikut salafiy itu
lebih cerdas dalam memilih bukti. Jika ingin menunjukkan bahwa Ibnu
Hajar menganggap tautsiq Al Ijliy tasahul maka yang harus ditunjukkan
adalah perawi yang hanya dinukil Ibnu Hajar tautsiq Al Ijliy dalam At
Tahdzib kemudian dalam At Taqrib ia menyatakan majhul atau mastuur.
Adapun contoh di atas jika digabungkan
dengan contoh yang kami bawakan sebagai bukti maka mungkin hanya
menunjukkan bahwa di sisi Ibnu Hajar tautsiq Al Ijliy bisa dijadikan hujjah jika tidak ada pendapat yang menyelisihinya. Hakikatnya jauh sekali perbedaannya dengan orang-orang yang menganggap Al Ijliy tasahul.
Kesimpulan:
Mereka yang menyatakan Al Ijliy tasahul
dalam tautsiq tidak memiliki bukti kuat selain taklid pada ulama mereka
tanpa memperhatikan bahwa hujjah ulama mereka disini tidaklah kuat. Al
Ijliy adalah imam hafizh tsiqat yang kedudukannya seperti Ahmad bin
Hanbal dan Yahya bin Ma’in. Tidak ada bukti dari Al Ijliy bahwa ia
tasahul dan tidak ada bukti dari ulama mutaqaddimin bahwa Al Ijliy
tasahul dalam tautsiq. Bahkan para ulama muta’akahirin seperti Ibnu
Hajar, Adz Dzahabiy dan Ibnu Taimiyyah telah berhujjah dengan tautsiq Al
Ijliy yang menyendiri. Semua ini adalah hujjah yang membatalkan tuduhan
tasahul terhadap Al Ijliy.





Post a Comment
mohon gunakan email