Pesan Rahbar

Home » , , , , , » PERBANDINGAN MAZHAB DALAM ISLAM

PERBANDINGAN MAZHAB DALAM ISLAM

Written By Unknown on Sunday, 26 October 2014 | 13:24:00


"Aku meminta izin untuk berjumpa dengan Imam Ja'far ash Shadiq", begitu Abu Hanifah memulai kisahnya. "tetapi dia tidak memperkenalkanku. Kebetulan datanglah rombongan orang Kofah meminta izin, dan akupun masuk bersama mereka. Setelah aku berada disisinya, aku berkata:

- Wahai putra Rasulullah, alangkah baiknya jika Anda menyuruh orang pergi ke Kofah dan melarang penduduknya mengecam sahabat Rasulullah saw. Aku lihat disana lebih dari 10.000 orang mengecam sahabat.

+ Mereka tidak akan menerima laranganku.
- Siapa yang berani menolak Anda, padahal Anda putra Rasulullah?
+ Anda orang pertama yang tidak menerima perintahku. Anda masuk tanpa seizinku. Duduk tanpa perintahku. Berbicara tidak sesuai dengan pendapatku. Telah sampai padaku bahwa anda menggunakan qiyas.

- Benar.
+ Celaka anda, hai Nu'man. Orang yang pertama menggunakan qiyas ialah Iblis, ketika Allah menyuruhnya sujud kepada Adam. Lalu dia menolak dan berkata: "Engkau ciptakan aku dari api dan Engkau ciptakan ia dari tanah". Hai Nu'man mana yang lebih besar (dosanya), membunuh atau berzina?

- Membunuh
+ Tetapi mengapa Allah menetapkan dua orang saksi untuk pembunuhan dan empat orang untuk zina. Anda gunakan qiyas disini?
- Tidak

+ Mana yang lebih besar najisnya, kencing atau air mani?
- Kencing
+ Mengapa, untuk kencing diperintahkan wudhuk, tetapi untuk mani diperintahkan mandi. Anda juga gunakan qiyas disini?

- Tidak
+ Mana lebih besar, Shalat atau Shaum?
- Shalat
+ Kenapa wanita haid harus mengkadha shaumnya tetapi tidak harus mengkadha shalatnya. Anda juga gunakan qiyas disini?

- Tidak
+ Mana yang lebih lemah, wanita atau pria
- Wanita
+ Mengapa Allah berikan warisan dua bagian bagi pria dan satu bagian bagi wanita. Apakah anda juga pakai qias disini?
- Tidak

Dialog kita cukupkan sampai disini saja. Menurut riwayat, Imam Abu Hanifah - mujtahid besar Ahlus Sunnah ini - kemudian berguru kepada Imam Jakfar ash Shadiq, imam ke enam dalam mazhab "Syiah Imamiah 12". Terkenal ucapan Abu Hanifah: "Laula sanatan, lahalaka Nu'man" (bila tidak ada dua tahun bersama Ja'far, akan celakalah Nu'man). Yang berguru kepada Imam Ja'far bukan saja Abu Hanifah, juga Malik bin Anas, Yahya bin Sa'id, Sufyaniun, Ibnu Juraih, Syu'bah dan Ayyub as Sajastani. Tentang gurunya Malik berkata: "Tidak ada yang dilihat mata, yang didengar telinga, lebih utama dari Imam Ja'far ash Shadiq dalam hal keutamaannya, ilmunya, ibadahnya dan wara'nya".

ISLAM AGAMA TAUHID
Kepada Malik berguru Imam Syafi'i, kepada Syafi'i berguru Imam Hanbali. Secara singkat, mazhab-mazhab besar ini semuanya bersumber kepada sumber yang sama. Namun kenapa terjadi perpecahan diantara pengikut mereka? Mengapa pengikut Syafi'i menentang pengikut Abu Hanifah? Mengapa pengikut Hanbali mengecam pengikut Syafi'i? Mengapa ahlus Sunnah mengkafirkan Syi'ah? Bukankah itu bermakna pengikut dari mazhab empat mengkafirkan gurunya? Bagaimana mungkin itu boleh terjadi? Apanya yang salah? Renungkanlah saudaraku (Angku di Awe Geutah, Tampokdjok, Acheh - Sumatra)

Sumber:
1. Abdul Halim Jundi, Al Imam Ja'far ash Shadiq. Kiro: Majlisul 'ala (tanpa tahun)
2. Lihat komentar Ibnu Hajar tentang Ja'far dalam As Sawaiq al Muhriqah, Kairo: Maktabah al Qahirah, 1385.

Menisbatkan sesuatu kepada suatu mazhab tidak cukup hanya dengan bukti nukilan dari kitab mazhab tersebut.

Nama Allah Digunakan Untuk Beristinja’ : Kedustaan Terhadap Syi’ah
Sungguh mengherankan betapa banyak orang-orang yang membuat kedustaan atas nama Syi’ah. Kami heran hilang kemana kejujuran dan objektivitas dalam mencari kebenaran. Tidak setuju terhadap Syi’ah bukan berarti bisa leluasa berbuat dusta. Masih suatu kewajaran jika dengan alasan tertentu anda para pembaca tidak menyukai orang atau mazhab tertentu tetapi jika anda membuat kedustaan terhadapnya atau memfitnahnya dengan tuduhan dusta maka itu sangat tidak wajar.
________________________________
Berikut Perkataan Wahabi:

Nama Allah Digunakan Untuk Beristinja Oleh Syiah.

Tatkala para syiah membakar Al Quran karena kebencian mereka terhadap Al Quran, maka itu bukanlah suatu yang mengagetkan jika syiah yang melakukannya. Jangankan membakar Al Quran karena kebencian, merekapun membolehkan untuk istinja (membersihkan kemaluan dan dubur setelah buang air, baca: cebok) dengan sesuatu yang terdapat nama Allah.
Kami bukanlah bicara dengan fitnahan, melainkan kami berbicara dengan bukti dari kitab mereka sendiri. Mereka memang luar biasa dalam memainkan syariat Allah. Dan mereka lebih luar biasa lagi dalam menghina Allah subhanahu wa ta’ala, nama Allah digunakan oleh mereka untuk membersihkan kotoran (baca: tahi) mereka.  Dan sangat disayangkan jika mereka menisbatkannya kepada para imam, mereka menisbatkan riwayatnya kepada para imam. Naudzubillah min dzaalik.
Mana buktinya ?? Thoyyib, para ikhwah silahkan simak riwayat ini. Disebutkan dalam kitab mereka "Wasail Asy Syiah" milik "Al Amili":

عن أبي عبدالله ( Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ السلام ) قال: ŁƒŲ§Ł† نقؓ Ų®Ų§ŲŖŁ… أبي: العزة لله Ų¬Ł…ŁŠŲ¹Ų§، ŁˆŁƒŲ§Ł† في ŁŠŲ³Ų§Ų±Ł‡، ŁŠŲ³ŲŖŁ†Ų¬ŁŠ بها، ŁˆŁƒŲ§Ł† نقؓ Ų®Ų§ŲŖŁ… Ų£Ł…ŁŠŲ± Ų§Ł„Ł…Ų¤Ł…Ł†ŁŠŁ† ( Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ السلام ): Ų§Ł„Ł…Ł„Łƒ لله، ŁˆŁƒŲ§Ł† في ŁŠŲÆŁ‡ Ų§Ł„ŁŠŲ³Ų±Ł‰، ŁŠŲ³ŲŖŁ†Ų¬ŁŠ بها
“Dari Abi Abdillah alaihissalam, dia berkata: Ukiran cincin bapakku (Muhammad Al Baqir) adalah “Al Izzah LILLAH Jami’an”, dan cincin itu ada di tangan kirinya dia beristinja’ (baca: cebok) dengannya. Dan ukiran cincin Amiril mu’minin (Ali bin Abi Thalib) adalah “Al Mulku LILLAH”, dan cincin ini ada ditangan kirinya dia beristinja’ dengannya” Wasa’il Asy Syiah 24/10
Lihat bagaimana para syiah menghinakan Allah. Mereka membolehkan untuk membersihkan kotoran mereka dengan sesuatu yang terdapat nama Allah di dalamnya. Kehinaan apa lagi yang lebih keji dari pada kehinaan mereka ??
Maka kami tidak akan ragu akan kekafiran syiah yang menghinakan Allah seperti ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Ł‚ُŁ„ْ Ų£َŲØِاللهِ وَŲ”َايَŲ§ŲŖِهِ وَŲ±َŲ³ُŁˆŁ„ِهِ كُنتُŁ…ْ ŲŖَŲ³ْŲŖَهْŲ²ِŲ”ُŁˆŁ†َ . لاَŲŖَŲ¹ْŲŖَŲ°ِŲ±ُوا Ł‚َŲÆْ كَفَŲ±ْŲŖُŁ… ŲØَŲ¹ْŲÆَ Ų„ِŁŠŁ…َانِكُŁ…ْ Ų„ِن نَّŲ¹ْفُ Ų¹َن Ų·َŲ§Ų¦ِفَŲ©ٍ Ł…ِّŁ†ŁƒُŁ…ْ نُŲ¹َŲ°ِّŲØْ Ų·َŲ§Ų¦ِفَŲ©ً ŲØِŲ£َنَّهُŁ…ْ كَانُوا Ł…ُŲ¬ْŲ±ِŁ…ِŁŠŁ†َ
“Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?". Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema'afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa” QS At Taubah 65-66
Mereka diatas kekufuran dan bagi mereka adalah laknat Allah subhanahu wa ta’ala. Allahu subhanahu wa ta’ala berfirman:
Ų„ِنَّ Ų§Ł„َّŲ°ِŁŠŁ†َ يُŲ¤ْŲ°ُŁˆŁ†َ اللَّهَ وَŲ±َŲ³ُŁˆŁ„َهُ Ł„َŲ¹َنَهُŁ…ُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَŲ§ وَالآخِŲ±َŲ©ِ وَŲ£َŲ¹َŲÆَّ Ł„َهُŁ…ْ Ų¹َŲ°َŲ§ŲØًŲ§ Ł…ُهِŁŠŁ†ًŲ§
“Sesungguhnya orang-orang yang menghina Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan” QS Al Ahzab: 57
Dan orang yang menghina Allah subhanahu wata’ala adalah kafir dan harus dibunuh dan ini menurut ijma’ kesepakatan ulama kaum muslimin. Ishaq bin rahawih berkata:
أجمع Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁˆŁ† على أن من Ų³ŲØ الله أو Ų³ŲØ Ų±Ų³ŁˆŁ„Ł‡ صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… أو دفع ؓيئا Ł…Ł…Ų§ أنزل الله Ų¹Ų² ŁˆŲ¬Ł„ أو قتل Ł†ŲØŁŠŲ§ من Ų£Ł†ŲØŁŠŲ§Ų” الله Ų¹Ų² ŁˆŲ¬Ł„: "أنه كافر ŲØŲ°Ł„Łƒ ŁˆŲ§Ł† ŁƒŲ§Ł† مقرا ŲØŁƒŁ„ Ł…Ų§ أنزل الله" قال Ų§Ł„Ų®Ų·Ų§ŲØŁŠ: "لا أعلم Ų£Ų­ŲÆŲ§ من Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ† اختلف في وجوب قتله
“Kaum muslimin berijma’ bahwasanya orang yang yang menghina Allah dan RasulNya shallallahu alaihi wa sallam atau menolak sesuatu dari apa yang Allah turunkan atau membunuh seorang nabi dari nabi-nabi Allah azza wa jalla: maka dia adalah kafir karena hal tersebut walaupun dia meyakini setiap apa yang Allah turunkan. Al Khottobi berkata: Aku tidak mengetahui seseorang dari muslimin yang berselisih tentang kewajiban untuk membunuhnya” Ash Sharim Al Maslul Hal. 4.
Disebutkan juga dalam kitab ini (Ash Sharim Al Maslul):
ف؄ن الناس Ł…Ų¬Ł…Ų¹ŁˆŁ† على أن من Ų³ŲØ الله تعالى من Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ† ŁŠŁ‚ŲŖŁ„
“Sesungguhnya manusia berijma bahwasanya seseorang yang menghina Allah ta’ala maka dia dibunuh” Ash Sharim Al Maslul Hal. 546.
Disebutkan juga pada halaman yang sama:
ف؄ن ŁƒŲ§Ł† مسلما وجب قتله بال؄جماع لأنه ŲØŲ°Ł„Łƒ كافر Ł…Ų±ŲŖŲÆ وأسوأ من Ų§Ł„ŁƒŲ§ŁŲ± ف؄ن Ų§Ł„ŁƒŲ§ŁŲ± ŁŠŲ¹ŲøŁ… الرب ŁˆŁŠŲ¹ŲŖŁ‚ŲÆ أن Ł…Ų§ Ł‡Łˆ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ من Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ† الباطل Ł„ŁŠŲ³ باستهزاؔ بالله ŁˆŁ„Ų§ Ł…Ų³ŲØŲ© له
“Dan jika dia (yang menghina Allah) dahulunya adalah seorang muslim maka dia wajib dibunuh secara ijma’, karena dia menjadi kafir dan murtad karena perihal tersebut. Dan dia lebih buruk dari orang kafir, karena sesungguhnya orang kafir mengagungkan Rabb dan dia meyakini apa yang ada dalam agama bathil tersebut tidak ada penghinaan terhadap Allah dan celaan untukNya”
Begitulah, betapa hinanya agama syiah la’natullah alaihim. Fallahul musta’aan wa alaihit tuqlaan. 

PenulisMuhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel
alamiry.net (Kajian Al Amiry)


Anda diperkenankan untuk menyebarkan, re-publikasi, copy-paste atau mencetak artikel yang ada di alamiry.net dengan menyertakan alamiry.net sebagai sumber artikel.


Ikuti status kami dengan menekan tombol like pada halaman FB Muhammad Abdurrahman Al Amiry , dan tombol follow pada akun Twitter @abdr_alamiry
 
____________________________________

Jawaban kami:
Pembaca akan melihat betapa rendah kualitas tulisannya yang hanya berupa kata-kata hinaan dan dusta [diantaranya bahwa Syi’ah membenci dan membakar Al Qur’an]. Kemudian ia menampilkan riwayat yang ia jadikan bukti atas judul tulisannya. Adapun kata hinaan dan dusta yang ia lontarkan hanya menunjukkan kerendahan akhlak dirinya maka kami akan berfokus pada bukti riwayat yang ia bawakan bahwa Syi’ah membolehkan beristinja’ dengan sesuatu yang terdapat nama Allah.

Penulis tersebut membawakan riwayat dalam kitab Wasa’il Syi’ah. Sebelum membahas riwayat tersebut, perlu pembaca ketahui bahwa menisbatkan sesuatu kepada suatu mazhab tidak cukup hanya dengan bukti nukilan dari kitab mazhab tersebut. Contoh sederhana,
  1. Apakah dengan adanya hadis kisah Gharaniq dalam kitab hadis mazhab Ahlus Sunnah maka bisa dikatakan bahwa itulah keyakinan Ahlus Sunnah?
  2. Apakah dengan adanya riwayat sebagian sahabat meminum kotoran dan darah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam kitab hadis Ahlus Sunnah maka bisa dikatakan bahwa itulah keyakinan Ahlus Sunnah?.
Jawabannya tidak. Mengapa demikian? Karena bisa jadi riwayat-riwayat yang ada dalam kitab mazhab tersebut ternyata kedudukannya dhaif berdasarkan kaidah keilmuan di sisi mazhab tersebut. Oleh karena itu perlu diteliti apakah nukilan tersebut shahih atau tidak berdasarkan kaidah ilmu. Hal ini berlaku baik dalam mazhab Ahlus Sunnah maupun dalam mazhab Syi’ah. Orang yang serampangan menukil tanpa mengerti kaidah ilmu hanya menunjukkan kebodohan yang akan berakhir pada kedustaan. Itulah yang terjadi pada penulis rendah tersebut.

Riwayat yang ia jadikan bukti kami kutip dari kitab Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy yaitu riwayat berikut:

فأما Ł…Ų§ Ų±ŁˆŲ§Ł‡ Ų£Ų­Ł…ŲÆ بن Ł…Ų­Ł…ŲÆ عن Ų§Ł„ŲØŲ±Ł‚ŁŠ عن ŁˆŁ‡ŲØ بن ŁˆŁ‡ŲØ عن أبي Ų¹ŲØŲÆ الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ السلام قال: ŁƒŲ§Ł† نقؓ Ų®Ų§ŲŖŁ… أبي (العزة لله Ų¬Ł…ŁŠŲ¹Ų§) ŁˆŁƒŲ§Ł† في ŁŠŲ³Ų§Ų±Ł‡ ŁŠŲ³ŲŖŁ†Ų¬ŁŠ بها، ŁˆŁƒŲ§Ł† نقؓ Ų®Ų§ŲŖŁ… Ų£Ł…ŁŠŲ± Ų§Ł„Ł…Ų¤Ł…Ł†ŁŠŁ† Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ السلام (Ų§Ł„Ł…Ł„Łƒ لله) ŁˆŁƒŲ§Ł† في ŁŠŲÆŁ‡ Ų§Ł„ŁŠŲ³Ų±Ł‰ ŁˆŁŠŲ³ŲŖŁ†Ų¬ŁŠ بها

Maka adapun riwayat Ahmad bin Muhammad dari Al Barqiy dari Wahb bin Wahb dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] yang berkata “Ukiran cincin ayahku adalah [Al ‘Izzah Lillaah Jamii’an] dan cincin itu ada di tangan kirinya, ia beristinja’ dengannya. Ukiran cinci Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] adalah [Al Mulk Lillaah] dan itu ada di tangan kirinya, ia beristinja’ dengannya [Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy 1/48].

Riwayat ini berdasarkan kaidah ilmu Rijal dalam mazhab Syi’ah kedudukannya dhaif jiddaan karena di dalam sanadnya terdapat Wahb bin Wahb. Berikut keterangan ulama Rijal Syi’ah tentangnya:

ŁˆŁ‡ŲØ بن ŁˆŁ‡ŲØ بن Ų¹ŲØŲÆ الله بن زمعة بن Ų§Ł„Ų£Ų³ŁˆŲÆ بن المطلب بن Ų£Ų³ŲÆ بن Ų¹ŲØŲÆ العزى أبو Ų§Ł„ŲØŲ®ŲŖŲ±ŁŠ Ų±ŁˆŁ‰ عن أبي Ų¹ŲØŲÆ الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ السلام، ŁˆŁƒŲ§Ł† كذابا

Wahb bin Wahb bin ‘Abdullah bin Zam’ah bin Al Aswad bin Muthallib bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza, Abu Bakhtariy meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] dan dia seorang pendusta [Rijal An Najasyiy hal 430 no 1155].

ŁˆŁ‡ŲØ بن ŁˆŁ‡ŲØ، أبو Ų§Ł„ŲØŲ®ŲŖŲ±ŁŠ، Ų¹Ų§Ł…ŁŠ المذهب، ضعيف

Wahb bin Wahb, Abu Bakhtariy, bermazhab ahlus sunnah, seorang yang dhaif [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 256].

ŁˆŁ‡ŲØ بن ŁˆŁ‡ŲØ ŁˆŁ‡Łˆ ضعيف Ų¬ŲÆŲ§ عند Ų£ŲµŲ­Ų§ŲØ Ų§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ«

Wahb bin Wahb dan ia dhaif jiddan di sisi ahli hadis [Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy 9/77].

Sudah jelas riwayat ini tidak bisa dijadikan hujjah di sisi mazhab Syi’ah karena perawinya dhaif dan pendusta di sisi mazhab Syi’ah. Tulisan saudara penulis itu memang rendah dan tidak berguna karena ia berhujjah dengan riwayat yang dhaif di sisi Syi’ah untuk mendustakan mazhab Syi’ah. Ia bahkan mengatakan Syi’ah sebagai agama yang hina dengan bersandar pada riwayat ini. Dan telah terbukti dalam pembahasan di atas bahwa penulis tersebut yang lebih pantas untuk dikatakan hina karena tuduhannya.

Ada baiknya kami mengulangi hakikat diri kami untuk mencegah orang-orang awam [dan termasuk penulis rendah tersebut] menuduh yang bukan-bukan terhadap kami. Kami bukan seorang pengikut mazhab Syi’ah tetapi kami tidak suka jika seseorang berbuat nista dan dusta terhadap mazhab Syi’ah. Silakan siapapun mengkritik Syi’ah tetapi berhujjahlah dengan kaidah ilmu yang ilmiah.

Kedudukan Al-Quran dalam Mazhab Islam Syiah.

Pertemuan Guru Besar Tafsir Al-Qur’an di Qom Iran

Pertemuan Guru Besar Tafsir Al-Qur’an di Qom Iran



Tahrif quran sudah menjadi isu yang sengaja dilemparkan oleh sebagian golongan kepada mazhab ahlulbait as, isu yang masih hangat di masyarakat dan tanpa disadari menjadi sebuah doktrin bagi sebagian golongan untuk menyudutkan mazhab lainnya tanpa didasari dalil-dalil yang jelas.


Ayatullah Sayyid Milani Mengatakan bahwa Alquran adalah penjelas segala sesuatu dan juga penjelas bagi dirinya (quran). Ayatullah Ja’far Subhani mengatakan Alquran adalah asas bagi syariat Islam, dan sunnah nabawiah yang menjadi qarinah baginya, Alquran adalah cahaya yang jelas untuk dirinya dan menerangi selainnya dan Alquran seperti Matahari yang menyinari sekelilingnya. Allah SWT berfirman didalam surat Al-Isra 9 :

Ų„ِنَّ هذَŲ§ Ų§Ł„ْŁ‚ُŲ±ْآنَ يَهْدي Ł„ِŁ„َّتي‏ هِيَ Ų£َŁ‚ْوَŁ…ُ وَ يُŲØَŲ“ِّŲ±ُ Ų§Ł„ْŁ…ُŲ¤ْŁ…ِŁ†ŁŠŁ†َ Ų§Ł„َّŲ°ŁŠŁ†َ يَŲ¹ْŁ…َŁ„ُŁˆŁ†َ الصَّŲ§Ł„ِŲ­Ų§ŲŖِ Ų£َنَّ Ł„َهُŁ…ْ Ų£َŲ¬ْŲ±Ų§ً كَبيراً

Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka memiliki pahala yang besar.

Allah berfirman didalam surat Annahl ayat 89:

وَ نَŲ²َّŁ„ْنا Ų¹َŁ„َيْكَ Ų§Ł„ْكِŲŖŲ§ŲØَ ŲŖِŲØْŁŠŲ§Ł†Ų§ً Ł„ِكُŁ„ِّ Ų“َيْ‏Ų”ٍ وَ هُدىً وَ Ų±َŲ­ْŁ…َŲ©ً وَ ŲØُŲ“ْرى‏ Ł„ِŁ„ْŁ…ُŲ³ْŁ„ِŁ…ŁŠŁ†َ

Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Al-Qur’an) ini untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
Dan juga secara jelas Allah menjadikan Quran sebagai pembeda antara Haq dan Bathil surat Al-Furqan ayat pertama:

ŲŖَŲØŲ§Ų±َكَ Ų§Ł„َّذي نَŲ²َّŁ„َ Ų§Ł„ْفُŲ±ْقانَ Ų¹َلى‏ Ų¹َŲØْŲÆِهِ Ł„ِيَكُŁˆŁ†َ Ł„ِŁ„ْŲ¹Ų§Ł„َŁ…ŁŠŁ†َ نَذيراً

Maha Agung nan Abadi Dzat yang telah menurunkan al-FurqĆ¢n (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.
Tahrif quran sudah menjadi isu yang sengaja dilemparkan oleh sebagian golongan kepada mazhab ahlulbait as, isu yang masih hangat di masyarakat dan tanpa disadari menjadi sebuah doktrin bagi sebagian golongan untuk menyudutkan mazhab lainnya tanpa didasari dalil-dalil yang jelas, berikut ini penjelasan dan pengenalan mengenai apa itu tahrif dan penjelasan ulama syiah dalam menolak keberadaan tahrif didalam Alquran.

A. Makna Takhrif dan Pembagiannya.
Tahrif secara lughawi : Tafsirulkalam ‘alagheiri wajhin /harrafa assyai ‘an wajhi (menyelewengkan sesuatu pada arah tertentu) Seperti dalam al-Qur’an ayat Annisa : 46;

يُŲ­َŲ±ِّفُŁˆŁ†َ Ų§Ł„ْكَŁ„ِŁ…َ Ų¹َنْ Ł…َواضِŲ¹ِهِ

Mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya.

Attabarsi mengatakan : Yufassiruunaha ‘ala gheiri ma unzilat ( menafsirkan sesuatu selain apa yang diturunkan).

Secara Istilah ada beberapa bentuk dalam memahami tahrif :
Tahrif maknawi : tahrif madlul kalam atau yufassiru ‘ala wajhin yuwafiqu ra’yu almufassir sawaun awafiqu alwaqi’ am la ( menafsirkan pada bentuk tertentu yang sesuai dengan Ra’yu mufassir baik itu sesuai dengan yang sebenarnya atau tidak) .

Bentuk tahrif ini banyak dilakukan oleh sebagian mufassir sehingga jauh dari makna yang sebenarnya. Mazhab Syiah meyakini bahwa Allah SWT menurunkan ayat tidak sendiri atau tidak telanjang tanpa penjelasan, akan tetapi berikut takwil dan tafsir ayat tersebut secara terperinci, seperti didalam hadits dan qaul para ulama Syiah. Sehingga seperti yang dikatakan Syeikh Mufid bahwa tangan-tangan orang dzalim inilah yang hendak menghapus dan menyembunyikan keterangan yang jelas berupa tafsir dan takwil alquran tersebut, bukan menghilangkan ayat Alquran, tetapi penjelasannya.

Tahrif Qira’ah:
Perubahan Harakat , huruf dengan masih terjaga keutuhan Quran , seperti membaca Yathhuran atau yathhuranna , yang satu menggunakan nun khafifah yang lain menggunakan tsaqilah.
Perubahan Lahjah/dialek , seperti lahjah Hijaz berbeda dengan lahjah iraq dan iran bahkan dengan libanon dan di daerah sekitarnya, semisal : Qaf , sebagian mengucapkan dengan Gaf.

Tahrif Perubahan Kata:
Seperti kata “asra’u” dengan “Amdhu” , dan “Alhakim” dengan “Al’adil” Tahrif seperti ini tidak terjadi di dalam Alquran. Walaupun sebagian hadits didalam mazhab Suni menceritakan perubahan itu.
Tahrif penambahan, pengurangan kalimat dan ayat:
Tahrif sejenis inipun tidak terjadi didalam Alquran, walaupun ada keterangan hadits dhaif baik itu dalam literatur mazhab Suni ataupun Syiah. tahrif perubahan kata dan penambahan serta pengurangan kalimat atau ayat inilah yang akan dibahas pada pembahasan kita kali ini.

Dalil Ketiadaan Tahrif Al-Qur’an
a) Dalil dari ayat Alquran
  1. Ayat al Hifdz
Ų„ِنَّŲ§ نَŲ­ْنُ نَŲ²َّŁ„ْنَŲ§ الذِّكْŲ±َ وَ Ų„ِنَّŲ§ Ł„َهُ Ł„َحافِŲøُŁˆŁ†َ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr ayat-9).

“Adzikr” yang dimaksud disini adalah Alquran.
Dan dilam ayat ini terdapat makna janji Allah SWT sendirilah yang menjaga keaslian Alquran itu sendiri.
  1. Ayat Nafi al Bathil
Ų„ِنَّ Ų§Ł„َّŲ°ŁŠŁ†َ كَفَŲ±ُوا ŲØِالذِّكْŲ±ِ Ł„َŁ…َّŲ§ Ų¬Ų§Ų”َهُŁ…ْ وَ Ų„ِنَّهُ Ł„َكِŲŖŲ§ŲØٌ Ų¹َزيزٌ لا يَŲ£ْŲŖŁŠŁ‡ِ Ų§Ł„ْŲØŲ§Ų·ِŁ„ُ Ł…ِنْ ŲØَيْنِ يَŲÆَيْهِ وَلا Ł…ِنْ Ų®َŁ„ْفِهِ ŲŖَنْŲ²ŁŠŁ„ٌ Ł…ِنْ Ų­َŁƒŁŠŁ…ٍ Ų­َŁ…ŁŠŲÆٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka juga tidak tersembunyi dari Kami), dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia.
Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (Alfushilat : 41-42)

Makna Addzikr disini adalah Alquran, dan “Adzikr” dikatakan “Al-kitab al’aziz”, jadi makna Addzikr disini adalah Quran. Al-bĆ¢thil berlawanan dengan Al-haq (kebenaran), dan Alquran Adalah kebenaran dalam lafadz dan maknanya atau makna-maknanya, serta hukumnya yang abadi, pengetahuannya bahkan dasar-dasarnya sesuai dengan fitrah manusia. Seperti yang dikatakan Syeikh Thabarsi dalam Majma Al-bayan mengenai ayat ini ,dikatakan : Alquran tidak ada hal yang tanaqudh (kontradiktif) dalam lafadznya tidak ada kebohongan dalam khabarnya, tidak ada yang ta’arudh (berlawanan), tidak ada penambahan dan pengurangan. Sehingga pantaslah kalau ayat Alquran ini saling menjelaskan yang satu dengan yang lainnya.
  1. Ayat Jam’ul Qur’an dan Qiraatnya
لا ŲŖُŲ­َŲ±ِّكْ ŲØِهِ Ł„ِسانَكَ Ł„ِŲŖَŲ¹ْŲ¬َŁ„َ ŲØِهِ Ų„ِنَّ Ų¹َŁ„َيْنا Ų¬َŁ…ْŲ¹َهُ وَ Ł‚ُŲ±ْآنَهُ فَŲ„ِŲ°Ų§ Ł‚َŲ±َŲ£ْناهُ فَŲ§ŲŖَّŲØِŲ¹ْ Ł‚ُŲ±ْآنَهُ Ų«ُŁ…َّ Ų„ِنَّ Ų¹َŁ„َيْنا ŲØَŁŠŲ§Ł†َهُ

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu karena tergesa-gesa ingin (membaca) Al-Qur’an. Karena mengumpulkan dan membacanya adalah tanggungan Kami. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, penjelasannya adalah (juga) tanggungan Kami.” (Al-Qiyamah : 17-19).

Allah SWT lah yang menjaga , mengumpulkan, membacanya, dan menjelaskannya juga.
Disinilah yang diyakini mazhab Syiah Bahwa Wahyu itu bukan hanya Ayat alquran yang ada di tangan kita tetapi meliputi juga wahyu penjelasan, takwil, dan keterangan-keterangan lainnya kepada nabi saww yang bukan termasuk ayat seperti Alquran yang ada pada tangan kita, sehingga dalam hal ini Imam Ali as menuliskannya secara lengkap dalam Qurannnya yang makruf dikenal sebagai Quran Ali yang diperintahkan oleh Rasulullah saww. Sehingga banyak yang keliru memahami Quran Ali disini. Quran Ali memang memiliki banyak ayat tetapi bukan ayat seperti yang ada didepan kita, tetapi ayat-ayat penjelasan secara terperinci, meliputi asbab annuzul, tafsir, takwil, dan keterangan penjelasan lainnya yang dinamakan didalam sebagai riwayat sebagai ayat sehingga berjumlah 17000 ayat. Tetapi bukanlah ayat Alquran secara asas, hanya ayat penjelasan, tafsir, takwilnya.

b). Dalil riwayat dari orang-orang Maksum as
  1. Hadits Ghadir
Semisal dalam kitab Alihtijaj 1/60 Syeikh Attabarsi:

(Ł…Ų¹Ų§Ų“Ų± الناس) تدبروا القرآن ŁˆŲ§ŁŁ‡Ł…ŁˆŲ§ Ų¢ŁŠŲ§ŲŖŁ‡ ŁˆŲ§Ł†ŲøŲ±ŁˆŲ§ ؄لى Ł…Ų­ŁƒŁ…Ų§ŲŖŁ‡ ŁˆŁ„Ų§ تتبعوا متؓابهه، ŁŁˆŲ§Ł„Ł„Ł‡ لن ŁŠŲØŁŠŁ† Ł„ŁƒŁ… Ų²ŁˆŲ§Ų¬Ų±Ł‡ ŁˆŁ„Ų§ يوضح Ł„ŁƒŁ… ŲŖŁŲ³ŁŠŲ±Ł‡ ؄لا Ų§Ł„Ų°ŁŠ أنا Ų¢Ų®Ų° ŲØŁŠŲÆŁ‡ ŁˆŁ…ŲµŲ¹ŲÆŁ‡ ؄لى – ŁˆŲ“Ų§Ų¦Ł„ بعضده – ŁˆŁ…Ų¹Ł„Ł…ŁƒŁ… ؄ن من ŁƒŁ†ŲŖ Ł…ŁˆŁ„Ų§Ł‡ فهذا Ų¹Ł„ŁŠ Ł…ŁˆŁ„Ų§Ł‡، ŁˆŁ‡Łˆ Ų¹Ł„ŁŠ بن أبي طالب Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ السلام أخي ووصيي،

Di dalam peristiwa Ghadir Khum yang makruf pada tanggal 18 Julhijjah
Nabi saww bersabda : Wahai kaum manusia sekalian, pelajarilah Alquran, dan fahamilah ayat-ayatnya, dan lihatlah pada ayat Muhkamah janganlah mengikuti yang mutasyabihah, dan Allah tidak akan menjelaskankan makna bathinnya dan menerangkan tafsirnya kecuali aku yang mengangkat tangannya dan yang mengangkat lengannya, dan yang menunjukkan kamu sesungguhnya barangsiapa yang Aku Maulanya maka ali Maulanya juga dan dia Ali ibn Abi thalib as saudaraku dan washiku.

Hadits Ghadir merupakah hadits fauqu mutawatir di kalangan umat Islam. Dan saya sengaja mengambil sebuah contoh hadits ghadir dari mazhab syiah yang menunjukkan keterjagaan Quran dari tahrif . Dikatakan disana bahwa perintah mentadabbur quran dan memahaminya dan melihat yang muhkamah bukan mutasyabihah melazimkan bahwa Alquran pada saat itu telah terkumpul tersusun, tidak ada perubahan.
  1. Hadits Tsaqalain
Hadits Ini juga merupakan hadits mutawatir di kalangan umat Islam :

Ų„Ł†ŁŠ تارك ŁŁŠŁƒŁ… Ų§Ł„Ų«Ł‚Ł„ŁŠŁ† كتاب الله و عترتي أهل Ų§Ł„ŲØŁŠŲŖŁŠ، Ł…Ų§ ؄ن ŲŖŁ…Ų³ŁƒŲŖŁ… بهما لن ŲŖŲ¶Ł„ŁˆŲ§ بعدي Ų£ŲØŲÆŲ§ً…

Rasulullah saww bersabda : Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian semua dua pusaka yang berat yang pertama Kitabullah dan kedua itrati Ahlulbaiti , yang berpegangteguh padanya maka tidak akan tersesatkan selama-lamanya setelahku…

Keterangan :
- Perintah Tamassuk (berpegang teguh) adalah far’u (bagian) dari wujud Alquran di tangan almutamassikin (orang yang berpegang teguh), jadi sesuatu yang mustahil perintah berpegang teguh kepada Quran yang tidak wujud atau tidak diyakini keutuhannya dari kurang atau lebihnya ayat atau surat dalam Alquran.
  1. Hadits yang menjelaskan bahwa Qur’an kuat rukunnya
Imam Ali as berkata :

و كتاب الله ŲØŁŠŁ† Ų§ŲøŁ‡Ų§Ų±ŁƒŁ… ناطق لا يعيا لسانه، و بيت لا تهدم Ų£Ų±ŁƒŲ§Ł†Ł‡، و Ų¹Ų²ّ لا تهزم Ų£Ų¹ŁˆŲ§Ł†Ł‡

Dan kitabullah yang hadir padamu yang Nathiq tidak lelah lidahnya, dan rumah yang tidak roboh rukun (tiangnya), dan mulia tidak terputus pertolongannya. ( khutbah 133 nahjul balaghah)
  1. Hadits Perintah untuk merujuk kepada al-Qur’an
Perintah untuk merujuk pada quran ,dan hadits yang sesuai dengannya telah dipakai dan yang tidak sesuai dengan quran harus ditinggalkan, merupakan bukti yang sangat jelas tentang ketiadaan tahrif dalam alquran. Hal ini melazimkan Alquran sebagai pokok asas untuk merujuk, dan asas melazimkan keaslian dan keutuhannya, Karena bagaimana mungkin memerintahkan untuk merujuk kepada Quran sedangkan yang menjadi sumber nya diragukan keasliaannya, hal ini mustahil.

Ł…Ų­Ł…ŲÆ بن ŁŠŲ¹Ł‚ŁˆŲØ: عن Ų¹Ł„ŁŠ بن Ų„ŲØŲ±Ų§Ł‡ŁŠŁ…، عن Ų£ŲØŁŠŁ‡، عن Ų§Ł„Ł†ŁˆŁŁ„ŁŠ، عن Ų§Ł„Ų³ŁƒŁˆŁ†ŁŠ، عن أبي عبدالله (Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ السلام) قال: «Ł‚Ų§Ł„ Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله (صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ و آله): ؄ن على ŁƒŁ„ Ų­Ł‚ Ų­Ł‚ŁŠŁ‚Ų©، و على ŁƒŁ„ صواب Ł†ŁˆŲ±Ų§، فما ŁˆŲ§ŁŁ‚ كتاب الله ŁŲ®Ų°ŁˆŁ‡، و Ł…Ų§ خالف كتاب الله ŁŲÆŲ¹ŁˆŁ‡». ( Ų§Ł„ŁƒŲ§ŁŁŠ 1: 55/ 1)

“Muhammad Ibn Ya’qĆ»b berkata : dari Ali Ibn IbrĆ¢hĆ®m dari ayahnya dari An-Naufali dari As-Saukani, dari Abu Abdillah bersabda : Rasulullah saww bersabda : Sesungguhnya dari segala hal yang benar adalah sebuah hakikah kebenaran, dan dari segala pahala adalah cahaya, dan apa-apa yang sesuai dengan kitabullah maka ambillah dan yang bertolak belakang dengan kitabullah tinggalkanlah”.

Ł‚ŁˆŁ„ ال؄مام الصادق Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ السّلام: «Ų„Ų°Ų§ ورد Ų¹Ł„ŁŠŁƒŁ… Ų­ŲÆŁŠŲ«Ų§Ł† مختلفان ŁŲ£Ų¹Ų±Ų¶ŁˆŁ‡Ł…Ų§ على كتاب اللّه، فما ŁˆŲ§ŁŁ‚ كتاب اللّه ŁŲ®Ų°ŁˆŁ‡، و Ł…Ų§ خالف كتاب اللّه فردّŁˆŁ‡ …» (ŁˆŲ³Ų§Ų¦Ł„ Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© : 18:84)

“Perkataan Imam As-SĆ¢diq as : Jikalau datang kepadamu dua hadits yang berbeda maka rujuklah kepada kitabullah , mana yang sesuai dengan Quran maka ambillah dan yang tidak sesuai tolaklah”.
Isi dari hadits tersebut tidak lain dari perintah merujuk kepada Alquran maka hadits yang tidak sesuai dengan Quran maka tinggalkanlah dan yang sesuai ambillah, bahkan ditegaskan bahwa yang sesuai dengan Quran itu dariku (Maksumin as) dan yang tidak sesuai itu bukan dariku.

Hadits semodel ini banyak di dalam literatur Syiah, saya menuliskan sebagian hanya sebagai sebuah gambaran saja.
  1. Anjuran Imam Maksum as untuk mengkhatamkan Qur’an
من Ų®ŲŖŁ… القرآن ŲØŁ…ŁƒŲ© من جمعة ؄لى جمعة و أقل من Ų°Ł„Łƒ ، و خنمه في ŁŠŁˆŁ… الجمعة، كتب الله له الأجر و الحسنات من أوّŁ„ جمعة ŁƒŲ§Ł†ŲŖ ؄لى Ų¢Ų®Ų± جمعة ŲŖŁƒŁˆŁ† ŁŁŠŁ‡Ų§، و ؄ن Ų®ŲŖŁ… في Ų³Ų§Ų¦Ų± Ų§Ł„Ų£ŁŠŲ§Ł… ŁŁƒŲ°Ł„Łƒ.

Imam Baqir as berkata : Barangsiapa yang mengkhatam Alquran di Mekkah dari hari Jumat ke hari Jumat lagi atau lebih sedikit dari itu, dan mengkhatamnya di hari Jumat, Allah SWT menuliskannya pahala (yang banyak) dan kebaikan ( yang berlimpah) dari awal jum’at sampai akhir Jum’at. Dan yang mengkhatam di hari lainnyapun seperti demikian (pahalanya) juga.

Khatam Quran menunjukkan Alquran telah ada dan terkumpul seperti yang ada sekarang. Karena Khatam melazimkan membaca dari awalnya sampai akhirnya, karena kalau adanya tahrif berupa kurang ayat maka tidak bisa dikatakan “khatam” kalau dikatakan adanya penambahan ayat, maka tidak ada wujudnya dan yang wujud di tangan syiah dari zaman Imam Ali as ataupun di zaman Imam Baqir as sekalipun sama dengan muslimin lainnya, lalu bagaimana bisa dikatakan adanya tahrif kurang dan tambah di dalam mazhab Syiah?
  1. Dalil kitab yang ada ditangan kaum muslimin sudah lengkap
كتاب Ų±ŲØŁƒŁ… ŁŁŠŁƒŁ…، Ł…ŲØŁŠŁ†Ų§ً حلالح و حرامه و فرائضه و فضائله و ناسخه و Ł…Ł†Ų³ŁˆŲ®Ł‡….

Kitab yang ada di tanganmu (kaum Muslim), penjelas halal dan haramnya , fardhu dan fadhailnya, nasikh dan mansukhnya…

Menjelaskan kesempurnaan alquran yang ada di tangan muslimin (Nahjulbalaghah , khutbah 1:23)
  1. Surat Imam Ridha as
Perlu kita ketahui bahwa Imam Ridha as adalah Imam ke delapan di zaman kekhalifahan zalim Abbasiah Al-makmun yang bukan syiahnya.

ŁˆŲ£Ł† Ų¬Ł…ŁŠŲ¹ Ł…Ų§ Ų¬Ų§Ų” به Ł…Ų­Ł…ŲÆ بن الله Ł‡Łˆ الحق Ų§Ł„Ł…ŲØŁŠŁ† ŁˆŲ§Ł„ŲŖŲµŲÆŁŠŁ‚ به ŁˆŲØŲ¬Ł…ŁŠŲ¹ من مضى قبله من رسل الله ŁˆŲ£Ł†ŲØŁŠŲ§Ų¦Ł‡ ŁˆŲ­Ų¬Ų¬Ł‡ ŁˆŲ§Ł„ŲŖŲµŲÆŁŠŁ‚ ŲØŁƒŲŖŲ§ŲØŁ‡ الصادق Ų§Ł„Ų¹Ų²ŁŠŲ² Ų§Ł„Ų°ŁŠ (لا ŁŠŲ£ŲŖŁŠŁ‡ الباطل من ŲØŁŠŁ† ŁŠŲÆŁŠŁ‡ ŁˆŁ„Ų§ من خلفه ŲŖŁ†Ų²ŁŠŁ„ Ų­ŁƒŁŠŁ… Ų­Ł…ŁŠŲÆ) ŁˆŲ£Ł†Ł‡ Ų§Ł„Ł…Ł‡ŁŠŁ…Ł† على Ų§Ł„ŁƒŲŖŲØ ŁƒŁ„Ł‡Ų§، ŁˆŲ£Ł†Ł‡ Ų­Ł‚ من فاتحته ؄لى خاتمته نؤمن ŲØŁ…Ų­ŁƒŁ…Ł‡ ŁˆŁ…ŲŖŲ“Ų§ŲØŁ‡Ł‡ ŁˆŲ®Ų§ŲµŁ‡ ŁˆŲ¹Ų§Ł…Ł‡ ŁˆŁˆŲ¹ŲÆŁ‡ ŁˆŁˆŲ¹ŁŠŲÆŁ‡ ŁˆŁ†Ų§Ų³Ų®Ł‡ ŁˆŁ…Ł†Ų³ŁˆŲ®Ł‡ ŁˆŁ‚ŲµŲµŁ‡ ŁˆŲ£Ų®ŲØŲ§Ų±Ł‡ لا ŁŠŁ‚ŲÆŲ± Ų£Ų­ŲÆ من Ų§Ł„Ł…Ų®Ł„ŁˆŁ‚ŁŠŁ†، أن يأتي بمثله ŁˆŲ£Ł† Ų§Ł„ŲÆŁ„ŁŠŁ„ بعده ŁˆŲ§Ł„Ų­Ų¬Ų© على Ų§Ł„Ł…Ų¤Ł…Ł†ŁŠŁ†

Imam Ridha as berkata : Sesungguhnya Jami’ (seluruh) apa yang diturunkan Muhammad ibn abdillah adalah Haqqul mubin, dan membenarkan dengannya seluruh (kitab ) sebelumnya dari utusan Allah SWT dan para nabi-Nya, dan yang menjadi hujjah (keasliannya) dan membenarkannya adalah Kitabullah Assadiq alaziz ayat- Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Dan Hujjah ayat tersebut menjaga seluruh kitab ( quran) seluruhnya (kandungannya), dan Alquran benar dari mulai Fatihahnya sampai akhirnya , kami mengimani Almuhkamah dan mutasyabihah, alkhashah dan ‘amah , janji dan ancamannya, nasikh dan mansukhnya, kisah dan akhbarnya, tidak ada seorangpun dari makhluk yang mampu membuat sepertinya, dan dalil setelahnya serta Hujjah bagi orang Mukmin.
-sangat jelas pernyataan Imam Ridha as membenarkan Quran yang ada di tangan Makmun yang bukan syiahnya.
  1. Peintah mengumpulkan Qur’an di masa Nabi Saw
Perlu diketahui para Ulama syiah dengan analisa yang terperinci dan detail berkesimpulan bahwa Quran telah tersusun di jaman Nabi saww seperti sekarang ini, karena banyak dalil yang menunjukkan hal itu, baik itu di dalam kitab-kitab mazhab Syiah ataupun Suni. Dan yang setelahnya adalah ikhtilaf dalam masalah qiraah, seperti yang dilakukan penyatuan qiraah di zaman Utsman bin Affan – jadi Khalifah Utsman bukanlah menyusun al-quran tetapi menyatukan qiraahnya dan kesepakatan tulisan dalam huruf seperti titik dan harakat, sebagian berpendapat urutan suratnya-,walaupun setelahnya masih terjadi perbedaan yang mencapai qiraah tujuh sebagian mengatakan sampai sepuluh.

Ų¹Ł„ŁŠ بن Ų§Ł„Ų­Ų³ŁŠŁ†، عن Ų£Ų­Ł…ŲÆ بن أبي Ų¹ŲØŲÆ الله، عن Ų¹Ł„ŁŠ بن Ų§Ł„Ų­ŁƒŁ… عن سيف، عن
أبي بكر Ų§Ł„Ų­Ų¶Ų±Ł…ŁŠ، عن أبي Ų¹ŲØŲÆ الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ السلام قال: ؄ن Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡
ŁˆŲ¢Ł„Ł‡ قال Ł„Ų¹Ł„ŁŠ: يا Ų¹Ł„ŁŠ القرآن خلف فراؓي في المصحف ŁˆŲ§Ł„Ų­Ų±ŁŠŲ± ŁˆŲ§Ł„Ł‚Ų±Ų§Ų·ŁŠŲ³ ŁŲ®Ų°ŁˆŁ‡ ŁˆŲ§Ų¬Ł…Ų¹ŁˆŁ‡ ŁˆŁ„Ų§ ŲŖŲ¶ŁŠŲ¹ŁˆŁ‡ ŁƒŁ…Ų§ ضيعت Ų§Ł„ŁŠŁ‡ŁˆŲÆ Ų§Ł„ŲŖŁˆŲ±Ų§Ų©، فانطلق Ų¹Ł„ŁŠ فجمعه في ثوب أصفر، Ų«Ł… Ų®ŲŖŁ… Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ في ŲØŁŠŲŖŁ‡ ….

dari Abi Abdillah as, Rasul saww bersabda kepada Ali as : 
Wahai Ali Alquran yang ada dibalik tilam/kasur, didalam mushhaf dan kain serta kertas, ambillah dan kumpulkanlah janganlah kau telantarkannya /menghilangkannya seperti orang-orang Yahudi menelantarkan/menghilangkan tauratnya, maka bersegeralah Ali untuk mengumpulkannya dan menyusunnya di dalam kain yang kuat (dijilid) yang kuning, kemudian menyelesaikannya di rumahnya. (Alamah majlisi -Biharulanwar 89/48).

Penyusunan dan pengumpulan Quran di zaman rasulullah saww banyak tertulis di dalam kitab rujukan umat Islam, sebagian dari hadits Suni seperti yang dinukil Al-khawarizmi di dalam kitab Al-manaqib dari Ali ibn Ribah sesungguhnya Ali ibn Abi thalib as dan ibn Ka’ab mengumpulkan dan menyusun Alquran Alkarim di zaman rasulullah saww.

c). Pernyataan para ulama Syiah Syeikh Shaduq (wafat-318 H)
Kitab Ali’tiqad 59-60;

اعتقادنا أن القرآن Ų§Ł„Ų°ŁŠ أنزله الله على Ł†ŲØŁŠŁ‡ Ł…Ų­Ł…ŲÆ صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ و آله Ł‡Łˆ Ł…Ų§ ŲØŁŠŁ† Ų§Ł„ŲÆŁŲŖŁŠŁ† و Ł‡Łˆ Ł…Ų§ في أيدي الناس Ł„ŁŠŲ³ بأكثر من Ų°Ł„Łƒ ، ŁˆŁ…ŲØŁ„Ųŗ Ų³ŁˆŲ±Ł‡ عند الناس Ł…Ų§Ų¦Ų© و Ų£Ų±ŲØŲ¹ Ų¹Ų“Ų±Ų© سورة ، ŁˆŲ¹Ł†ŲÆŁ†Ų§ أن الضحى ŁˆŲ£Ł„Ł… نؓرح سورة واحدة ŁˆŁ„Ų„ŁŠŁ„Ų§Ł ŁˆŲ£Ł„Ł… ŲŖŲ± كيف سورة واحدة ، ŁˆŁ…Ł† نسب Ų„Ł„ŁŠŁ†Ų§ أنا Ł†Ł‚ŁˆŁ„ أكثر من Ų°Ł„Łƒ ŁŁ‡Łˆ كاذب “

Keyakinan Kami bahwa Quran yang diturunkan Allah kepada nabinya Muhammad saww dan quran itu diantara dua sisi, dan dia yang ada di tangan manusia (sekarang) yang tidak ada lebih dari hal itu yaitu yang berjumlah 114 surat, dan di kita(syiah) , surat dhuha dan alam nasyrah dianggap satu surah, dan alilaf dengan alam tara kaifa dianggap satu surah, dan yang menuduh kita lebih dari demikian maka hal itu bohong.
Syeikh Mufid ( wafat 413 H).

Kitab Awailul Almaqalat , hal 54 – 56;

ŁˆŁ‚ŲÆ قال جماعة من اهل الامامة : انه لم ŁŠŁ†Ł‚Ųµ من ŁƒŁ„Ł…Ų© ŁˆŁ„Ų§ من آية ŁˆŁ„Ų§ من سورة ..) الخ .. لتعلم مدى ŁƒŲ°ŲØŁ‡ ŁˆŲÆŲ¬Ł„Ł‡

Dan berkata ulama Jamaah dari Ahli Imamah (Syiah) : bahwa sesungghunya Quran tidak ada kurang dari kalimat dan tidak pula dari ayat dan tidak pula dari surah ….sampai kamu tahu siapa yang membohonginya dan menipunya. (orang yang mengatakan adanya tahrif) Syeikh Murtadha ( wafat 436 H).

Risalah aljwabiah alula;

لأن القرآن Ł…Ų¹Ų¬Ų²Ų© Ų§Ł„Ł†ŲØŁˆŲ© ŁˆŁ…Ų£Ų®Ų° Ų§Ł„Ų¹Ł„ŁˆŁ… Ų§Ł„Ų“Ų±Ų¹ŁŠŲ© ŁˆŲ§Ł„Ų§Ų­ŁƒŲ§Ł… Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ†ŁŠŲ©’ ŁˆŲ¹Ł„Ł…Ų§Ų” Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ† قد ŲØŁ„ŲŗŁˆŲ§ في حفظه ŁˆŲ­Ł…Ų§ŁŠŲŖŁ‡ Ų§Ł„ŲŗŲ§ŁŠŲ© حتى عرفوا ŁƒŁ„ Ų“Ų¦ اختلف ŁŁŠŁ‡ اعرابه ŁˆŁ‚Ų±Ų§Ų”ŲŖŁ‡.. فكيف يجوز ان ŁŠŁƒŁˆŁ† Ł…ŲŗŁŠŲ±Ų§ً أو
Ł…Ł†Ł‚ŁˆŲµŲ§ً Ł…Ų¹ Ų§Ł„Ų¹Ł†Ų§ŁŠŲ© الصادقة ŁˆŲ§Ł„Ų¶ŲØŲ· Ų§Ł„Ų“ŲÆŁŠŲÆ ! ŁˆŁ‚Ų§Ł„ : ان القران ŁƒŲ§Ł† على عهد Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله (Ųµ) Ł…Ų¬Ł…ŁˆŲ¹Ų§ً مؤلفاً على Ł…Ų§ Ł‡Łˆ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡
الآن ..)

… Sesungguhnya Quran sebuah mukjizah , yang meliputi ilmu-ilmu Syar’iyyah dan Ahkam diniyyah, dan Ulama Muslimin telah banyak menghapalnya dan menjaganya sampai dimana mereka mengetahui segala kekeliruan ( kalau terjadi) didalamnya pada i’rabnya dan bacaannya, dan bagaimana bisa Quran itu terdapat perubahan atau kekurangan sedangkan banyak yang menjaganya dan menghapalnya dengan sangat banyaknya , maka dia berkata : sesungguhnya Quran di zaman rasulullah saww telah terkumpul , ditulis seperti sekarang ini.

Syeikh Thaifah -Syeikh Thusi ( 460 H)-syeikh thaifah adalah ulama ijma’ yang penting didalam mazhab Syiah.

Albayan fi tafsir Quran juz 1 hal 3:

أما Ų§Ł„ŁƒŁ„Ų§Ł… في Ų²ŁŠŲ§ŲÆŲŖŁ‡ ŁˆŁ†Ł‚ŲµŲ§Ł†Ł‡ فمّŁ…Ų§ Ł„Ų§ŁŠŁ„ŁŠŁ‚ به ‘لأن Ų§Ł„Ų²ŁŠŲ§ŲÆŲ© ŁŁŠŁ‡
مجمع على بطلانها’

Dan pernyataan dalam ziadah ( lebih ) dan kurang dari quran tidak layak karena kelebihan (ziadah) adalah secara sepakat merupakan sebuah kebathilan. Syeikh Tabarsi (548 H).

(Ų§Ł…Ų§ Ų§Ł„Ų²ŁŠŲ§ŲÆŲ© فمجمع على بطلانها’ ŁˆŲ§Ł…Ų§ Ų§Ł„Ł‚ŁˆŁ„ ŲØŲ§Ł„Ł†Ł‚ŁŠŲµŲ© ŁŲ§Ł„ŲµŲ­ŁŠŲ­ من مذهب أصحابنا Ų§Ł„Ų§Ł…Ų§Ł…ŁŠŲ© خلافه .

Ziadah (kelebihan) dan kekurangan ayat (didalam Alquran) secara ijma adalah bathil maka yang betul dalam mazhab Imamiah (syiah) adalah tidak sependapat dengannya (dengan kekurangan dan kelebihan)
( Majma Al-bayan juz 1 hal 15) Sayyid Ali ibn Thawus Alhilli ( 663 H).

؄نَ رأي ال؄مامة Ł‡Łˆ Ų¹ŲÆŁ… Ų§Ł„ŲŖŲ­Ų±ŁŠŁ

Sesungguhnya pandangan Syiah Imamiah adalah ketiadaan tahrif Quran ( Sa’du AsSu’ud 144) Alamah Hilli (728 H).

جعل Ų§Ł„Ł‚ŁˆŁ„ ŲØŲ§Ł„ŲŖŲ­Ų±ŁŠŁ Ł…ŲŖŁ†Ų§ŁŁŠŲ§ً Ł…Ų¹ ضرورة تواتر القرآن ŲØŁŠŁ† Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ†

Anggapan Tahrif berlawanan dengan dharuriyat tawatur Alquran diantara muslimin
( Ajwibah Al-Masail Al-Muhawiah 121) Almaula Muhaqiq Ahmad Ardabili (993 H).

جعل العلم ŲØŁ†ŁŁŠ Ų§Ł„ŲŖŲ­Ų±ŁŠŁ ضرورياً من المذهب .

Telah sampai tinggkatan al-‘ilm (qath’i) terhadap penafian tahrif adalah kedaruriatan Mazhab (syiah)
(Majma Alfaidah jilid 2 hal 218) Sayyid Nurullah Tastari Al-Mustasyhid (1029 H).

Ł…Ų§ نسب الى Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© Ų§Ł„Ų§Ł…Ų§Ł…ŁŠŲ© من Ų§Ł„Ł‚ŁˆŁ„ ŲØŁˆŁ‚ŁˆŲ¹ Ų§Ł„ŲŖŲŗŁŠŁŠŲ± في القرآن Ł„ŁŠŲ³ Ł…Ł…Ų§ قال به Ų¬Ł…Ł‡ŁˆŲ± Ų§Ł„Ų§Ł…Ų§Ł…ŁŠŲ©’ انما قال به Ų“Ų±Ų°Ł…Ų© Ł‚Ł„ŁŠŁ„Ų© منهم لااعتداد بهم ŁŁŠŁ…Ų§ ŲØŁŠŁ†Ł‡Ł…

Barangsiapa yang menisbatkan kepada syiah mengenai pendapat adanya perubahan dalam Quran bukanlah pendapat Jumhur Imamiah (syiah) ,mereka yang mengatakan perubahan hanyalah segolongan kecil dari mereka dikarenakan keyakinan mereka dengan apa yang ada diantara mereka ( Akhbariun)
(Kitab Mashaib An-Nashaib atau Al-Ala’ Arrahman 1/25) Al-Maula Muhaddits Muhammad ibn Hasan Feidz Al-kasyani (1090 H).

: (على هذا لم ŁŠŲØŁ‚ لنا Ų§Ų¹ŲŖŁ…Ų§ŲÆ بالنص Ų§Ł„Ł…ŁˆŲ¬ŁˆŲÆ’ ŁˆŁ‚ŲÆ قال تعالى :{ وَŲ§ِنهُ Ł„ŁƒŲŖŲ§ŲØ Ų¹َزيز لا يَŲ£ŲŖŁŠŁ‡ِ الباطل من ŲØŁŠŁ† ŁŠŲÆŁŠŁ‡ ŁˆŁ„Ų§ من Ų®َلفه} ŁˆŁ‚Ų§Ł„ :{ ŁˆŲ„Ł†Ų§ نَحنُ نَزلنَŲ§ الذِكرَ ŁˆŲ„Ł†Ų§ لهُ Ł„َحافِŲøŁˆŁ†}. وأيضاً ŁŠŲŖŁ†Ų§ŁŁ‰ Ł…Ų¹ روايات العرض على القرآن . فما ŲÆŁ„ على ŁˆŁ‚ŁˆŲ¹ Ų§Ł„ŲŖŲ­Ų±ŁŠŁ مخالف Ł„ŁƒŲŖŲ§ŲØ الله وتكذيب له فيجب رده ŁˆŲ§Ł„Ų­ŁƒŁ… بفساده أو ŲŖŲ£ŁˆŁŠŁ„Ł‡ .

Setelah meriwayatkan sebuah hadits mengenai tahrif…. terhadap hal itu tidak ada bagi kita keyakinan (taharif) dikarenakan adanya nash Quran, Allah berfirman :
sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia, Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya.

dan firman allah Ta’ala :
Sesungguhnya kami yang menurunkan Alquran dan kamilah yang menjaganya.
Dan juga berlawanan dengan riwayat-riwayat mengenai Quran , oleh sebab hadits apa saja saja yang menunjukkan tahrif quran berlawanan dengan Kitabullah dan merupakan suatu kedustaan dan maka wajib bagi kita untuk menolaknya dan menghukuminya dengan kefasidan, atau dengan menak’wilnya. (tafsir ShĆ¢fi jilid 1 hal 33).

Syeikh Muhammad Ibn Hasan Hurr Al-Amili (1104 H);

: ؄ن من ŲŖŲŖŲØŲ¹ الاخبار وتفحص Ų§Ł„ŲŖŁˆŲ§Ų±ŁŠŲ® ŁˆŲ§Ł„Ų¢Ų«Ų§Ų± علم -علماً Ł‚Ų·Ų¹ŁŠŲ§ً- بأن القرآن قد بلغ أعلى ŲÆŲ±Ų¬Ų§ŲŖ Ų§Ł„ŲŖŁˆŲ§ŲŖŲ±’ ŁˆŲ£Ł† آلآلف الصحابة ŁƒŲ§Ł†ŁˆŲ§ ŁŠŲ­ŁŲøŁˆŁ†Ł‡ ŁˆŁŠŲŖŁ„ŁˆŁ†Ł‡’ ŁˆŲ£Ł†Ł‡ ŁƒŲ§Ł† على عهد Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله (Ųµ) Ł…Ų¬Ł…ŁˆŲ¹Ų§ً مؤلفاً

Sesungguhnya barangsiapa yang menelusuri akhbar (rwiayat) dan meneliti Tarikh , dan atsar , telah diketahui – dengan ilmu Qath’i-sesungguhnya Quran telah mencapai yang paling tinggi derajatnya pada tingkatan mutawatir dan ribuan dari shahabat menghapal quran dan membacanya dan hal itu pada zaman rasulullah saww telah terkumpul dan tertulis quran tersebut ( Al-fushul Al-Muhimmah fi ta’lif Al-Ummah hal 166) Syeikh Ja’far kabir Kasyiful Ghitha (1228 H).

ŁƒŲ°Ł„Łƒ جعله من ضرورة المذهب ŲØŁ„ Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ† ŁˆŲ§Ų¬Ł…Ų§Ų¹ المسلمن واخبار Ų§Ł„Ł†ŲØŁŠ ŁˆŲ§Ł„Ų£Ų¦Ł…Ų© Ų§Ł„Ų·Ų§Ł‡Ų±ŁŠŁ† .

…oleh sebab itu menjadikannya (penolakan tahrif) dari daruriat Mazhab (syiah) bahkan agama (Islam umumnya) dan Ijma Muslimin serta Akhbar dari Nabi saww dan Imam suci as. ( Kasyifulghtha , kitabulquran min Ashalat hal 298).

Syeikh Muhammad ibn Husein Kasyiful ghitha ( 1373 H);

جعل رفض Ų§Ų­ŲŖŁ…Ų§Ł„ Ų§Ł„ŲŖŲ­Ų±ŁŠŁ أصلاً من Ų§ŲµŁˆŁ„ المذهب .اصل Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© ŁˆŲ§ŲµŁˆŁ„Ł‡Ų§

Penolakan terhadap kemungkinan Tahrif adalah bagian dari Ushul Mazhab , hal itu merupakan keaslian Syiah dan ushulnya.

Dan masih banyak lagi pernyataan ulama mutaqaddimin (terdahulu) ….
Ulama Mutaakkhirin sudah jelas dengan ijma’ nya menolak tahrif quran diantaranya :
Sayyid Khui;

؄نَ من يدَعي Ų§Ł„ŲŖŲ­Ų±ŁŠŁ ŁŠŲ®Ų§Ł„Ł بداهة العقل

(sesungguhnya yang beranggapan adanya tahrif maka berlawanan dengan kebadihiahan aqal ) (Al-Bayan fi tafsir Al-quran : 220).

Imam Khumaeni;

ŁˆŲ§Ł„Ų¢Ł† وبعد أن Ų£ŲµŲØŲ­ŲŖ ŲµŁˆŲ±ŲŖŁ‡ Ų§Ł„ŁƒŲŖŲØŁŠŲ© في Ł…ŲŖŁ†Ų§ŁˆŁ„Ł†Ų§ ŲØŲ¹ŲÆ أن نزلت بلسان Ų§Ł„ŁˆŲ­ŁŠ على Ł…Ų±Ų§Ų­Ł„ ŁˆŁ…Ų±Ų§ŲŖŲØ من ŲÆŁˆŁ† زيادة أو نقصان ŁˆŲ­ŲŖŁ‰ Ł„Łˆ حرف واحد.

Dan sekarang setelah menjadi bentuk secara kitabiah dan kita menerimanya setelah turun dengan lisan wahyu para tahapan dan susunan tanpa adanya lebih dan kurang walalupun satu huruf pun. Alquran annaql akbar 1/66 dan puluhan para maraji mutaakhirin dalam kitabnya dan fatwanya masing-masing.

Kesimpulan : Alquran merupakan Kitab Tsiql Akbar (pusaka besar) yang terjamin keasliannya Dengan dalil yang mutawatir dan kuat Alquran yang sekarang sama dengan di zaman nabi saww, bahkan ditegaskan bahwa Alquran telah tersusun dan terkumpul sejak zaman Nabi saw. Hadits-hadits yang mengandung tahrif adalah hadits dhaif (lemah) dan sangat jarang. Hadits-hadits lemah tersebut terdapat didalam litelatur Suni dan Syiah dan para ulama telah sepakat dalam penolakan hadits tersebut. Hadits-hadits yang mengandung tahrif bertolak belakang dengan dhahir kitab Alquran Quran Ali bukanlah quran yang berbeda dengan Quran yang ada ditangan muslimin sekarang, akan tetapi perbedaan terletak pada adanya keterangan penjelasan, takwil dan tafsir didalam Quran Ali. Alquran syiah sama dengan alquran muslimin umumnya.
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita: