Tulisan ini sekedar meluruskan ulah beberapa situs yang membahas masalah ini. Dikatakan bahwa terdapat riwayat yang menyatakan sebelum khamar diharamkan Imam Ali termasuk sahabat yang meminum khamar bahkan disebutkan pula kalau beliau pernah memimpin shalat dan salah dalam membaca ayat Al Qur’an. Sebenarnya jika diteliti dengan baik maka akan diketahui kalau riwayat tersebut tidaklah tsabit. Riwayat soal ini mengandung pertentangan dimana hal itu kemungkinan berasal dari kelemahan salah satu perawinya.
Hadis Dengan Matan Yang Mudhtharib
ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ł Ų³ŲÆŲÆ Ų«ŁŲ§ ŁŲŁŁ Ų¹Ł Ų³ŁŁŲ§Ł Ų«ŁŲ§ Ų¹Ų·Ų§Ų” ŲØŁ Ų§ŁŲ³Ų§Ų¦ŲØ Ų¹Ł Ų£ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ±ŲŁ Ł Ų§ŁŲ³ŁŁ Ł Ų¹Ł Ų¹ŁŁ ŲØŁ Ų£ŲØŁ Ų·Ų§ŁŲØ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł أ٠رجŁŲ§ Ł Ł Ų§ŁŲ£ŁŲµŲ§Ų± ŲÆŲ¹Ų§Ł ŁŲ¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ±ŲŁ Ł ŲØŁ Ų¹ŁŁ ŁŲ³ŁŲ§ŁŁ Ų§ ŁŲØŁ أ٠تŲر٠اŁŲ®Ł Ų± ŁŲ£Ł ŁŁ Ų¹ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŁ ŲŗŲ±ŲØ ŁŁŲ±Ų£ ŁŁ ŁŲ§ Ų£ŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲ§ŁŲ±ŁŁ ŁŲ®ŁŲ· ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ²ŁŲŖ ŁŲ§ ŲŖŁŲ±ŲØŁŲ§ Ų§ŁŲµŁŲ§Ų© ŁŲ£ŁŲŖŁ Ų³ŁŲ§Ų±Ł ŲŲŖŁ ŲŖŲ¹ŁŁ ŁŲ§ Ł Ų§ ŲŖŁŁŁŁŁ
Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya dari Sufyan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Atha’ bin As Saaib dari Abu Abdurrahman As Sulami dari ‘Aliy bin Abi Thalib Alaihis Salam “bahwa ada seorang laki-laki dari golongan Anshar memanggilnya dan Abdurrahman bin ‘Auf kemudian ia memberi mereka khamar sebelum diharamkan. Kemudian Ali mengimami mereka dalam shalat maghrib dan membaca “qul yaa ayyuhal kaafiruun” dan ia pun salah dalam membacanya. Maka turunlah ayat “janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan” [Sunan Abu Dawud 2/350 no 3671].Riwayat ini sanadnya shahih sampai ke Athaa’ bin As Saaib. Musaddad bin Musarhad seorang yang tsiqat hafizh [At Taqrib 2/175]. Yahya bin Sa’id Al Qaththan seorang tsiqat mutqin hafizh imam qudwah [At Taqrib 2/303]. Sufyan bin Sa’id Ats Tsawri seorang tsiqat hafizh faqih ‘abid imam hujjah [At Taqrib 1/371]
ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ł ŲŁ ŲÆ ŲØŁ ŲØŲ“Ų§Ų± ŁŲ§Ł ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ±ŲŁ Ł ŁŲ§Ł ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų³ŁŁŲ§Ł Ų¹Ł Ų¹Ų·Ų§Ų” ŲØŁ Ų§ŁŲ³Ų§Ų¦ŲØ Ų¹Ł Ų£ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ±ŲŁ Ł Ų¹Ł Ų¹ŁŁ Ų£ŁŁ ŁŲ§Ł ŁŁ ŁŲ¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ±ŲŁ Ł ŁŲ±Ų¬Ł Ų¢Ų®Ų± Ų“Ų±ŲØŁŲ§ Ų§ŁŲ®Ł Ų± ، ŁŲµŁŁ ŲØŁŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ±ŲŁ Ł ŁŁŲ±Ų£ : ( ŁُŁْ ŁَŲ§ Ų£َŁُّŁَŲ§ Ų§ŁْŁَŲ§ŁِŲ±ُŁŁَ ) ŁŲ®ŁŲ· ŁŁŁŲ§ ، ŁŁŲ²ŁŲŖ : ” ŁŲ§ ŲŖŁŲ±ŲØŁŲ§ Ų§ŁŲµŁŲ§Ų© ŁŲ£ŁŲŖŁ Ų³ŁŲ§Ų±Ł
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyaar yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Atha’ bin As Saaib dari Abu Abdurrahman dari ‘Ali bahwa ia, Abdurrahman dan seorang laki-laki meminum khamar kemudian Abdurrahman memimpin mereka shalat dan membaca “qul yaa ayyuhal kaafiruun” dan ia pun salah dalam membacanya. Maka turunlah ayat “janganlah kamu shalat sedangkan kamu dalam keadaan mabuk” [Tafsir Ath Thabari 8/376 no 9524].Riwayat ini sanadnya shahih sampai ke Atha’ bin As Saaib. Muhammad bin Basyaar adalah seorang yang tsiqat [At Taqrib 2/58]. Abdurrahman bin Mahdi seorang yang tsiqat tsabit hafizh [At Taqrib 1/592]. Sufyan bin Sa’id Ats Tsawri seorang tsiqat hafizh faqih ‘abid imam hujjah [At Taqrib 1/371]
ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų£ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ Ł ŲŁ ŲÆ ŲØŁ ŁŲ¹ŁŁŲØ Ų§ŁŲŲ§ŁŲø Ų«ŁŲ§ Ų¹ŁŁ ŲØŁ Ų§ŁŲس٠ثŁŲ§ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ ŲØŁ Ų§ŁŁŁŁŲÆ Ų«ŁŲ§ Ų³ŁŁŲ§Ł ŁŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų£ŲØŁ Ų²ŁŲ±ŁŲ§ ŁŲŁŁ ŲØŁ Ł ŲŁ ŲÆ Ų§ŁŲ¹ŁŲØŲ±Ł Ų«ŁŲ§ Ų£ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ Ų§ŁŲØŁŲ“ŁŲ¬Ł Ų«ŁŲ§ Ų£ŲŁ ŲÆ ŲØŁ ŲŁŲØŁ Ų«ŁŲ§ ŁŁŁŲ¹ Ų«ŁŲ§ Ų³ŁŁŲ§Ł Ų¹Ł Ų¹Ų·Ų§Ų” ŲØŁ Ų§ŁŲ³Ų§Ų¦ŲØ Ų¹Ł Ų£ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ±ŲŁ Ł Ų§ŁŲ³ŁŁ Ł Ų¹Ł Ų¹ŁŁ Ų±Ų¶Ł Ų§ŁŁŁ ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ Ų¹ŁŁ ŁŲ§Ł ŲÆŲ¹Ų§ŁŲ§ رج٠٠٠اŁŲ£ŁŲµŲ§Ų± ŁŲØŁ أ٠تŲر٠اŁŲ®Ł Ų± ŁŲŖŁŲÆŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ±ŲŁ Ł ŲØŁ Ų¹ŁŁ ŁŲµŁŁ ŲØŁŁ Ų§ŁŁ ŲŗŲ±ŲØ ŁŁŲ±Ų§{ ŁŁ ŁŲ§ Ų£ŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲ§ŁŲ±ŁŁ } ŁŲ§ŁŲŖŲØŲ³ Ų¹ŁŁŁ ŁŁŁŲ§ ŁŁŲ²ŁŲŖ { ŁŲ§ ŲŖŁŲ±ŲØŁŲ§ Ų§ŁŲµŁŲ§Ų© ŁŲ£ŁŲŖŁ Ų³ŁŲ§Ų±Ł }
Telah menceritakan kepada kami ‘Abu Abdullah Muhammad bin Yaqub Al Hafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Walid yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Zakaria Yahya bin Muhammad Al ‘Anbari yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abu Abdullah Al Busyanji yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Athaa’ bin As Saaib dari Abu Abdurrahman As Sulami dari Ali radiallahu ta’alaanhu yang berkata “seorang laki-laki dari golongan anshar memanggil kami sebelum diharamkannya khamar. Kemudian ‘Abdurrahman bin ‘Auf mengimami mereka dalam shalat maghrib dan membaca “qul yaa ayyuhal kaafirun” kemudian ia salah dalam membacanya. Maka turunlah ayat “janganlah kamu shalat sedangkan kamu dalam keadaan mabuk” [Mustadrak Ash Shahihain Al Hakim juz 4 no 7220].Riwayat ini sanadnya shahih sampai ke Atha’ bin As Saaib. Abu ‘Abdullah Muhammad bin Yaqub bin Yusuf Asy Syaibani seorang imam hafizh mutqin hujjah [As Siyaar 15/466 no 263]. Ali bin Hasan bin Musa Al Hilaliy seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/690]. ‘Abdullah bin Walid seorang yang tsiqat ma’mun dan hafizh diantara sahabat Ats Tsawri [Mausu’ah Qaul Daruquthni no 1991]. Sufyan bin Sa’id Ats Tsawri seorang tsiqat hafizh faqih ‘abid imam hujjah [At Taqrib 1/371]
Ų£Ų®ŲØŲ±ŁŲ§ Ł ŲŁ ŲÆ ŲØŁ Ų¹ŁŁ ŲØŁ ŲÆŲŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŲØŲ§ŁŁ ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų£ŲŁ ŲÆ ŲØŁ Ųاز٠اŁŲŗŁŲ§Ų±Ł ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų£ŲØŁ ŁŲ¹ŁŁ ŁŁŲØŁŲµŲ© ŁŲ§ŁŲ§ ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų³ŁŁŲ§Ł Ų¹Ł Ų¹Ų·Ų§Ų” ŲØŁ Ų§ŁŲ³Ų§Ų¦ŲØ Ų¹Ł Ų£ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ±ŲŁ Ł Ų¹Ł Ų¹ŁŁ Ų±Ų¶Ł Ų§ŁŁŁ ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ Ų¹ŁŁ ŁŲ§Ł ŲÆŲ¹Ų§ŁŲ§ رج٠٠٠اŁŲ£ŁŲµŲ§Ų± ŁŲØŁ ŲŖŲŲ±ŁŁ Ų§ŁŲ®Ł Ų± ŁŲŲ¶Ų±ŲŖ ŲµŁŲ§Ų© Ų§ŁŁ ŲŗŲ±ŲØ ŁŲŖŁŲÆŁ Ų±Ų¬Ł ŁŁŲ±Ų£ { ŁŁ ŁŲ§ Ų£ŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲ§ŁŲ±ŁŁ } ŁŲ§ŁŲŖŲØŲ³ Ų¹ŁŁŁ ŁŁŲ²ŁŲŖ { ŁŁŲ§ ŲŖŁŲ±ŲØŁŲ§ Ų§ŁŲµŁŲ§Ų© ŁŲ£ŁŲŖŁ Ų³ŁŲ§Ų±Ł ŲŲŖŁ ŲŖŲ¹ŁŁ ŁŲ§ Ł Ų§ ŲŖŁŁŁŁŁ }
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Ali bin Duhaim Asy Syaibani yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hazm Al Ghifariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim dan Qabishah yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Athaa’ bin As Saaib dari Abu Abdurrahman dari ‘Ali radiallahu ta’ala anhu yang berkata “seorang laki-laki dari golongan anshar memanggil kami sebelum diharamkannya khamar, kemudian waktu shalat maghrib tiba seorang laki-laki menjadi imam dan membaca “qul yaa ayyuhal kaafirun” dan ia salah dalam membacanya. Maka turunlah ayat “dan janganlah kamu shalat sedangkan kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan” [Mustadrak Ash Shahihain Al Hakim juz 2 no 3199].Riwayat ini sanadnya shahih sampai ke Atha’ bin As Saaib. Muhammad bin Ali bin Duhaim Asy Syaibani atau Ibnu Duhaim seorang syaikh tsiqat musnad fadhl muhaddis kufah [As Siyaar 16/36 no 23]. Ahmad bin Hazim Al Ghifariy Ibnu Abi Gharazah seorang Imam hafizh shaduq [As Siyar 13/239 no 120]. Abu Nu’aim Fadhl bin Dukain seorang yang tsiqat tsabit [At Taqrib 2/11]. Qabishah bin Uqbah seorang yang shaduq [Al Jarh Wat Ta’dil 7/126 no 722]. Sufyan bin Sa’id Ats Tsawri seorang tsiqat hafizh faqih ‘abid imam hujjah [At Taqrib 1/371].
ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų¹ŲØŲÆ ŲØŁ ŲŁ ŁŲÆ ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ±ŲŁ Ł ŲØŁ Ų³Ų¹ŲÆ ع٠أب٠جعŁŲ± Ų§ŁŲ±Ų§Ų²Ł ع٠عطاؔ ŲØŁ Ų§ŁŲ³Ų§Ų¦ŲØ Ų¹Ł Ų£ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ±ŲŁ Ł Ų§ŁŲ³ŁŁ Ł Ų¹Ł Ų¹ŁŁ ŲØŁ Ų£ŲØŁ Ų·Ų§ŁŲØ ŁŲ§Ł ŲµŁŲ¹ ŁŁŲ§ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ±ŲŁ Ł ŲØŁ Ų¹ŁŁ Ų·Ų¹Ų§Ł Ų§ ŁŲÆŲ¹Ų§ŁŲ§ ŁŲ³ŁŲ§ŁŲ§ Ł Ł Ų§ŁŲ®Ł Ų± ŁŲ£Ų®Ų°ŲŖ Ų§ŁŲ®Ł Ų± Ł ŁŲ§ ŁŲŲ¶Ų±ŲŖ Ų§ŁŲµŁŲ§Ų© ŁŁŲÆŁ ŁŁŁ ŁŁŲ±Ų£ŲŖ ŁŁ Ų£ŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲ§ŁŲ±ŁŁ ŁŲ§ Ų£Ų¹ŲØŲÆ Ł Ų§ ŲŖŲ¹ŲØŲÆŁŁ ŁŁŲŁ ŁŲ¹ŲØŲÆ Ł Ų§ ŲŖŲ¹ŲØŲÆŁŁ ŁŲ§Ł ŁŲ£ŁŲ²Ł Ų§ŁŁŁ ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ { ŁŲ§ Ų£ŁŁŲ§ Ų§ŁŲ°ŁŁ Ų¢Ł ŁŁŲ§ ŁŲ§ ŲŖŁŲ±ŲØŁŲ§ Ų§ŁŲµŁŲ§Ų© ŁŲ£ŁŲŖŁ Ų³ŁŲ§Ų±Ł ŲŲŖŁ ŲŖŲ¹ŁŁ ŁŲ§ Ł Ų§ ŲŖŁŁŁŁŁ }
Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Sa’d dari Abu Ja’far Ar Raziiy dari Athaa’ bin As Saaib dari Abu Abdurrahman As Sulamiy dari ‘Ali bin Abi Thalib yang berkata “Abdurrahman bin ‘Auf membuatkan makanan untuk kami kemudian ia mengundang kami dan memberi kami khamar kemudian kami meminumnya. Ketika waktu shalat tiba, mereka menjadikanku sebagai imam dan aku membaca “katakanlah hai orang-orang kafir aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah dan kami menyembah apa yang kalian sembah”. Maka Allah SWT menurunkan ayat “hai orang-orang yang beriman janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan” [Sunan Tirmidzi 5/238 no 3026].Riwayat ini sanadnya shahih sampai Abu Ja’far Ar Raziiy. ‘Abd bin Humaid adalah seorang yang tsiqat hafizh [At Taqrib 1/627]. ‘Abdurrahman bin Sa’d disini kemungkinan adalah ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Sa’d Ad Dasytakiy seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/577]. Abu Ja’far Ar Raziy adalah seorang yang shaduq tetapi hafalannya buruk [At Taqrib 2/376] dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama seperti Ibnu Ma’in, Ibnu Madini, Ibnu Ammar Maushulli, Ibnu Sa’ad, Abu Hatim, Al Hakim dan Ibnu Abdil Barr [At Tahdzib juz 12 no 221].
ŲŲÆŲ«ŁŲ§ Ł ŲŁ ŲÆ ب٠ع٠ار Ų«ŁŲ§ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ±ŲŁ Ł ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁŁ ŲØŁ Ų³Ų¹ŲÆ Ų§ŁŲÆŲ“ŲŖŁŁ Ų«ŁŲ§ Ų£ŲØŁ Ų¬Ų¹ŁŲ± ع٠عطاؔ ŲØŁ Ų§ŁŲ³Ų§Ų¦ŲØ Ų¹Ł Ų£ŲØŁ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ±ŲŁ Ł Ų§ŁŲ³ŁŁ Ł Ų¹Ł Ų¹ŁŁ ŲØŁ Ų£ŲØŁ Ų·Ų§ŁŲØ ŁŲ§Ł : ŲµŁŲ¹ ŁŁŲ§ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ±ŲŁ Ł ŲØŁ Ų¹ŁŁ Ų·Ų¹Ų§Ł Ų§ ŁŲÆŲ¹Ų§ŁŲ§ ŁŲ³ŁŲ§ŁŲ§ Ł Ł Ų§ŁŲ®Ł Ų± ŁŲ§Ų®Ų°ŲŖ Ų§ŁŲ®Ł Ų± Ł ŁŲ§ ŁŲŲ¶Ų±ŲŖ Ų§ŁŲµŁŲ§Ų© ، ŁŁŲÆŁ ŁŲ§ ŁŁŲ§ŁŲ§ ، ŁŲ§Ł : ŁŁŲ±Ų§ : ŁŁ ŁŲ§ Ų§ŁŁŲ§ Ų§ŁŁŲ§ŁŲ±ŁŁ Ų§Ų¹ŲØŲÆ Ł Ų§ ŲŖŲ¹ŲØŲÆŁŁ ŁŁŲŁ ŁŲ¹ŲØŲÆ Ł Ų§ ŲŖŲ¹ŲØŲÆŁŁ ŁŲ§Ł : ŁŲ£ŁŲ²Ł Ų§ŁŁŁ ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ ŁŲ§ Ų§ŁŁŲ§ Ų§ŁŲ°ŁŁ Ų§Ł ŁŁŲ§ ŁŲ§ ŲŖŁŲ±ŲØŁŲ§ Ų§ŁŲµŁŲ§Ų© ŁŲ£ŁŲŖŁ Ų³ŁŲ§Ų±Ł ŲŲŖŁ ŲŖŲ¹ŁŁ ŁŲ§ Ł Ų§ ŲŖŁŁŁŁŁ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Ammar yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Sa’d Ad Dasytakiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abu Ja’far dari Athaa’ bin As Saaib dari Abu Abdurrahman dari Ali bin Abi Thalib yang berkata “Abdurrahman bin ‘Auf membuatkan makanan untuk kami kemudian ia mengundang kami dan memberi kami khamar kemudian kami meminumnya. Ketika waktu shalat tiba, mereka menjadikan fulan sebagai imam dan ia membaca “katakanlah hai orang-orang kafir aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah dan kami menyembah apa yang kalian sembah”. Maka Allah SWT menurunkan ayat “hai orang-orang yang beriman janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan” [Tafsir Ibnu Abi Hatim 3/958 no 5352].Riwayat ini sanadnya shahih sampai Abu Ja’far Ar Raziy. Muhammad bin ‘Ammar bin Al Harits seorang yang shaduq tsiqat [Al Jarh Wat Ta’dil 8/43 no 198]. ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Sa’d Ad Dasytakiy seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/577]. Abu Ja’far Ar Raziy adalah seorang yang shaduq tetapi hafalannya buruk [At Taqrib 2/376]. Pertentangan riwayat Abu Ja’far ini bisa jadi disebabkan oleh Abu Ja’far Raziy sendiri tetapi pendapat yang rajih disini kekacauan matan tersebut berasal dari Atha’ bin As Saib karena hal yang sama juga terjadi dalam riwayat Sufyan dari Atha’ bin As Saaib. Atha’ bin As Saaib adalah seorang yang shaduq tetapi mengalami ikhtilath sebelum wafatnya [At Taqrib 1/675].
Ulasan Singkat
Sebagian orang yang mengaku salafy hanya mengutip riwayat Abu Dawud seraya menyatakan shahih padahal keseluruhan riwayat tersebut mengandung pertentangan yang nyata. Riwayat Abu Dawud menyebutkan kalau yang menjadi imam dan salah membaca ayat adalah Ali bin Abi Thalib tetapi dalam riwayat Ath Thabari dan Al Hakim disebutkan kalau yang menjadi imam dan salah membaca ayat adalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf dan dalam riwayat Al Hakim yang lain disebutkan kalau yang menjadi imam dan salah membaca ayat adalah seorang laki-laki yang namanya tidak disebutkan oleh Imam Ali. Semua riwayat ini adalah dari Sufyan dari Athaa’ bin As Saib dari ‘Abu Abdurrahman dari Ali.
Dalam riwayat Tirmidzi dan Ibnu Abi Hatim disebutkan kalau yang mengundang dan memberi minum khamar adalah Abdurrahman bin ‘Auf. Ini adalah riwayat Abu Ja’far Ar Raziy dari Athaa’ bin As Saaib dari Abu Abdurrahman dari Ali. Hal ini bertentangan dengan riwayat Sufyan dimana yang mengundang dan memberi minum khamar adalah seorang laki-laki dari golongan Anshar. Riwayat Abu Ja’far sendiri juga bertentangan dimana dalam riwayat Tirmidzi disebutkan kalau yang menjadi imam adalah Ali bin Abi Thalib sedangkan dalam riwayat Ibnu Abi Hatim yang menjadi imam adalah seorang laki-laki yang tidak disebutkan namanya oleh Imam Ali.
Semua pertentangan ini kemungkinan berasal dari Athaa’ bin As Saaib. Dia seorang yang tsiqat atau shaduq hanya saja dikatakan ia mengalami ikhtilath atau kekacauan hafalan sebelum wafatnya. Dan memang disebutkan kalau diantara yang meriwayatkan darinya sebelum ikhtilath adalah Sufyan Ats Tsawri. Dengan dasar ini maka ada yang menyatakan kalau riwayat tersebut shahih dan bebas dari cacat ikhtilath.
Tentu saja hujjah seperti ini tertolak karena hadis riwayat Sufyan dari Athaa’ bin As Saaib sudah terbukti mengandung pertentangan atau mudhtharib. Dan kekacauan ini hanya bisa dijelaskan berasal dari ikhtilathnya Athaa’ bin As Saaib karena semua hadis riwayat Sufyan yang bertentangan itu berasal dari Athaa’ bin As Saaib. Jadi hadis ini menjadi bukti kalau Sufyan juga pernah meriwayatkan hadis setelah Athaa’ bin As Saaib mengalami ikhtilath. Hal ini masih memungkinkan dan pernah terjadi pada perawi lain dimana Syu’bah dan Hammad bin Salamah termasuk yang meriwayatkan sebelum Athaa’ bin As Saaib mengalami ikhtilath tetapi disebutkan pula kalau Syu’bah pernah meriwayatkan hadis setelah Athaa’ ikhtilath dan Hammad bin Salamah juga pernah mendengar hadis dari Athaa’ setelah ia mengalami ikhtilath. Kesimpulan: hadis ini dhaif karena matannya mudhtharib dan kemungkinan berasal dari ikhtilath Atha’ bin As Saaib.
Catatan Tambahan
Ada catatan singkat yang perlu saya sebutkan. Tulisan ini bukanlah pembelaan atas nama syiah. Kalau memang situs salafy atau hakekat.com mau membantah syiah atau mencela keyakinan syiah maka itu adalah urusan mereka sendiri dengan syiah. Walaupun bagi saya itu terkesan naĆÆf, bagaimana mungkin mereka mau menyudutkan syiah dengan riwayat dalam kitab yang bukan menjadi pegangan syiah. Dan seharusnya mereka para pengikut salafy yang suka menuduh kami rafidhah itu memperhatikan bagaimana metode tulisan salafiyun tersebut.
Kalau memang menampilkan riwayat kesalahan sahabat seperti yang pernah kami lakukan bisa dikatakan rafidhah maka situs salafy dan hakekat.com itu juga layak menyandang gelar rafidhah. Lha mereka juga sama, menampilkan riwayat kesalahan sahabat Ali dengan judul “shalat sambil mabuk”. Kami pribadi tidak ada masalah dengan berbagai hadis keutamaan ataupun hadis kesalahan berbagai sahabat. Yang kami permasalahkan cuma tuduhan syiah rafidhah kepada blog ini padahal tidak ada satupun bukti dalam tulisan kami yang menunjukkan kami seorang syiah rafidhah. Tentu bagi yang menuduh maka harus mengajukan bukti jika tidak ada bukti maka akui saja kalau anda sedang berdusta.
Salam Damai
(Islam-Quest/Syiahali/ABNS)






Post a Comment
mohon gunakan email