Pesan Rahbar

Apakah Nabi Saww Pernah Lupa Dalam Shalat

Written By Unknown on Friday, 23 January 2015 | 17:41:00


Oleh: Mohammad Habri Zen

Hadits Lupa di Dalam Kitab “Al-Faqih”.
Didalam Ilmu kalam, menisbatkan sifat lupa kepada nabi saww adalah sesuatu yang mustahil, bahkan dalam segala hal nabi saww tidak pernah lupa, sebab kalau nabi saw pernah lupa dalam sesaat saja, berarti dimungkinkan pula nabi saww pernah lupa dalam menyampaikan wahyu Tuhannya, dan hal itu berhubungan dengan masalah aqidah  yang harus ditolak. Dilain hal ulama besar Syiah seperti Syeikh Shaduq ra pernah mengatakan didalam kitab manla yahdhuruhu alfaqih, dengan mengutip riwayat mengenai shalat, bahwa nabi saww pernah shalat qadha subuh dan lupa didalam shalat dan melakukan sujud sahwi bahkan ekstremnya, orang yang tidak mempercayai nabi saww pernah lupa salah satu ciri dari ghulu.[1]

Riwayat yang dibawa Syeikh Shaduq adalah  :

ŁˆŲ±ŁˆŁ‰ الحسن بن Ł…Ų­ŲØŁˆŲØ عن Ų§Ł„Ų±ŲØŲ§Ų·ŁŠ، عن سعيد الاعرج قال: ” سمعت Ų£ŲØŲ§ عبدالله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ السلام ŁŠŁ‚ŁˆŁ„: ؄ن الله تبارك ŁˆŲŖŲ¹Ų§Ł„Ł‰ أنام Ų±Ų³ŁˆŁ„Ł‡ صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ¢Ł„Ł‡ عن صلاة الفجر حتى طلعت الؓمس، Ų«Ł… قام فبدأ فصلى Ų§Ł„Ų±ŁƒŲ¹ŲŖŁŠŁ† Ų§Ł„Ł„ŲŖŁŠŁ† قبل الفجر، Ų«Ł… صلى الفجر، ŁˆŲ£Ų³Ł‡Ų§Ł‡ في صلاته فسلم في Ų±ŁƒŲ¹ŲŖŁŠŁ† Ų«Ł… وصف Ł…Ų§ قاله ذو Ų§Ł„Ų“Ł…Ų§Ł„ŁŠŁ† و ؄نما فعل Ų°Ł„Łƒ به Ų±Ų­Ł…Ų© لهذه الامة لئلا يعير الرجل المسلم Ų„Ų°Ų§ Ł‡Łˆ نام عن صلاته أو سها ŁŁŠŁ‡Ų§ ŁŁŠŁ‚Ų§Ł„: قد Ų£ŲµŲ§ŲØ Ų°Ł„Łƒ Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ¢Ł„Ł‡.

Al-Husein Ibn MahbĆ»b meriwayatkan dari ArribĆ¢thi, dari Sa’Ć®d al-A’rĆ¢j berkata : Aku mendengar Aba Abdillah as bersabda: Sesungguhnya Allah Swt menidurkan Rasulullah saww sampai terbit matahari dan nabi saww dalam keadaan belum shalat shubuh, kemudian rasul saww bangun dan melaksanakan shalat dua rakaat (nafilah) sebelum shalat shubuh (qadha), kemudian melaksanakan shalat (qadha) Shubuh, dan Dia Swt juga membuat rasul saww lupa dalam shalatnya dengan memberi salam setelah rakaat kedua (dalam empat rakaat), kemudian yang mengingatkannya adalah dzu as-syimalain, hal itu terjadi untuk dijadikan rahmat bagi ummat ini (nabi saw), supaya tidak ada seorang lelaki muslim dihina karena ketiduran dan belum melaksanakan shalatnya atau lupa didalam shalatnya, dan dikatakan padanya bawa telah menimpa hal itu kepada rasulullah saww juga.[2]

Kemudian Syeikh Shaduq ra dalam hal ini membedakan antara sahw (lupa) dengan Isha (Melupakan-butuh objek), karena kalau  sahw (lupa) dinisbatkan kepada orang yang lalai karena pengaruh syaetan, sedangkan yang terjadi pada nabi bukanlah lupa dalam makna demikian tetapi Allah Swt secara langsung membuat lupa (isha’) nabi dalam hal itu, dan hal ini tidak diakibatkan oleh lalai atau pengaruh syaetan karena

 Ų„ِنَّŁ…Ų§ Ų³ُŁ„ْطانُهُ Ų¹َŁ„َى Ų§Ł„َّŲ°ŁŠŁ†َ يَŲŖَوَŁ„َّوْنَهُ  

(Sesungguhnya kekuasaan setan hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukanya dengan Allah)[3]

dan nabi tidaklah berwala kepada syaetan. Begitu pula penulis sekaligus menjawab permasalahan yang menyatakan bahwa kalau nabi pernah lupa maka dimungkinkan nabi saww pernah lupa dalam menyampaikan wahyu tabligh dan risalah, dengan jawabannya yaitu : hal itu terjadi kalau makna lupa adalah disebabkan karena lalai, tetapi hal ini berbeda bukan karena hal itu tetapi karena Allah yang membuat nabi lupa (isha’), dilain hal beliau mengatakan bahwa shalat adalah hal yang musytarak selain nabipun melakukannya sedangkan wahyu, tidaklah demikian karena merupakan hal yang khusus dan mustahil menisbatkan lupa dalam masalah wahyu tabligh kepada ummat.

Syeikh Mufid ra Menolak Pendapat Syeikh Shaqud ra
Sebagian ulama menerima pendapat Syeikh Shaduq mengenai isha nabi saww tsubutan (alam kemungkinan) bukan itsbĆ¢tan (alam dalil), sebagian lagi menolak sepenuhnya baik itu sahwi maupun isha karena bertolak belakang dengan dalil aqli dan naqli kemaksuman nabi secara mutlak, terutama Syeikh Mufid didalam risalahnya ‘adam sahwi an-nabi saww, yang mengatakan bahwa isha pun tidak mungkin terjadi, yang mana Syeikh Mufid berkeyakinan bahwa hadits tersebut adalah hadits ahad yang tidak bisa dijadikan pegangan bagi permasalahan aqidah, dan juga beliau menambahkan bahwa hadits tersebut memiliki banyak permasalahan terutama dalam isi hadits tersebut, kadang menceritakan nabi saww lupa dalam shalat dzuhur sebagian riwayat dalam shalat ashar sebagian lagi dalam shalat isya,[4] dan juga hadits itu bertolak belakang dengan aqidah kemaksuman nabi saww. Sebagian Ulama seperti Alamah Jawadi Amuli dan ulama lainnya mengatakan kalau terjadi taarudh permasalahan naqliah dan aqliah yang sudah tsabit dalam permasalahan aqidah maka yang naqli itulah yang harus ditakwil bukan yang aqli.

Bagaimanapun pertentangan Ulama terhadap pernyataan Syeikh Shaduq ra dan riwayat yang diambilnya, sepanjang yang saya teliti hadits yang dibawa Syeikh Shaduq bisa dikatakan hadits sahih kalau perawinya yang bernama RibĆ¢thi bukanlah Al-Hasan ibn RibĆ¢thi Al-Bijli, karena nama itu adalah majhul belum ada keterangan didalam kitab-kitab rijal, sedangkan kalau yang dimaksud adalah Ali Ibn Al-Hasan Ibn Ar-RibĆ¢thi maka dia adalah seorang imami yang tsiqah[5]. Oleh sebab itu dikarenakan nama musytarak yang ada dalam riwayat man la yahdhuruhu alfaqih  tidak bisa dijadikan pegangan untuk mengitsbatkan kesahihan riwayat tersebut.

Isykal Pernyataan Syeikh Mufid ra
Syeikh Mufid mengatakan bahwa permasalahan lupa yang dinisbatkan kepada nabi saww adalah hadits ahad, hal tersebut jikalau dinisbatkan hanya kepada kitab “Al-Faqih” bisa dibenarkan tetapi kalau kita lihat didalam kitab-kitab lainnya seperti Al-KĆ¢fi dan Istibshar maka kita akan menemukan hadits serupa yang lebih dari satu dengan kualitas sahih. Bahkan Syarif Murtadha (Ali Ibn Husein Musawi) didalam Al-MasĆ¢il An-NĆ¢shiriyyĆ¢t menjadikan hadits yang serupa sebagai dalil dalam fiqihnya mengenai sujud sahwi.[6]

Walapun sebenarnya hadits lain mengenai lupa didalam shalat dan sujud sahwi yang tidak dinisbatkan kepada Nabipun banyak jumlahnya.

Kita dapat melihat beberapa hadits sebagai contoh didalam Al-kafi sebagai berikut:

Ł…ُŲ­َŁ…َّŲÆُ ŲØْنُ يَŲ­ْيَى Ų¹َنْ Ų£َŲ­ْŁ…َŲÆَ ŲØْنِ Ł…ُŲ­َŁ…َّŲÆِ ŲØْنِ Ų¹ِيسَى Ų¹َنْ Ų¹ُŲ«ْŁ…َانَ ŲØْنِ Ų¹ِيسَى Ų¹َنْ Ų³َŁ…َŲ§Ų¹َŲ©َ ŲØْنِ Ł…ِهْŲ±َانَ Ł‚َŲ§Ł„َ Ł‚َŲ§Ł„َ Ų£َŲØُو Ų¹َŲØْŲÆِ اللهِ (Ų¹): …فَŲ„ِنَّ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„َ اللهِ (Ųµ) ŲµَŁ„َّى ŲØِالنَّŲ§Ų³ِ الظُّهْŲ±َ Ų±َكْŲ¹َŲŖَيْنِ Ų«ُŁ…َّ Ų³َهَŲ§ فَŲ³َŁ„َّŁ…َ فَŁ‚َŲ§Ł„َ Ł„َهُ Ų°ُو الِّؓŁ…َŲ§Ł„َيْنِ يَŲ§ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„َ اللهِ Ų£َ نَŲ²َŁ„َ فِي الصَّلاةِ Ų“َيْ‏Ų”ٌ فَŁ‚َŲ§Ł„َ وَŁ…َŲ§ Ų°َاكَ Ł‚َŲ§Ł„َ Ų„ِنَّŁ…َŲ§ ŲµَŁ„َّيْŲŖَ Ų±َكْŲ¹َŲŖَيْنِ فَŁ‚َŲ§Ł„َ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„ُ اللهِ (Ųµ) Ų£َŲŖَŁ‚ُŁˆŁ„ُŁˆŁ†َ Ł…ِŲ«ْŁ„َ Ł‚َوْŁ„ِهِ Ł‚َŲ§Ł„ُوا نَŲ¹َŁ…ْ فَŁ‚َŲ§Ł…َ (Ųµ) فَŲ£َŲŖَŁ…َّ ŲØِهِŁ…ُ الصَّلاةَ وَŲ³َŲ¬َŲÆَ ŲØِهِŁ…ْ‏ Ų³َŲ¬ْŲÆَŲŖَيِ السَّهْوِ …

Berkata Abu Abdillah as: …Sesungguhnya rasulullah saww pernah shalat dzhuhur berjamaah dua rakaat, karena lupa, kemuadian memberi salam akhir, kemudian Dzu As-Syimalain berkata wahai rasulullah saw, apakah ada yang kurang didalam shalat anda, Rasul menjawab : memang apa yang terjadi? Dzu As-Syimalain berkata sesungguhnya anda telah shalat dua rakaat, kemudian Rasul Saww bertanya kepada yang lainnya : apakah kalian melihat benar apa yang dia katakan , mereka berkata : betul, kemudian rasulullah saww, meneruskan shalatnya lalu melaksanakan sujud sahwi…[7]

Ł…ُŲ­َŁ…َّŲÆُ ŲØْنُ يَŲ­ْيَى Ų¹َنْ Ų£َŲ­ْŁ…َŲÆَ ŲØْنِ Ł…ُŲ­َŁ…َّŲÆِ ŲØْنِ Ų¹ِيسَى Ų¹َنْ Ų¹َŁ„ِيِّ ŲØْنِ النُّŲ¹ْŁ…َانِ Ų¹َنْ Ų³َŲ¹ِيدٍ الأَŲ¹ْŲ±َŲ¬ِ Ł‚َŲ§Ł„َ Ų³َŁ…ِŲ¹ْŲŖُ Ų£َŲØَŲ§ Ų¹َŲØْŲÆِ اللهِ (Ų¹) يَŁ‚ُŁˆŁ„ُ ŲµَŁ„َّى Ų±َŲ³ُŁˆŁ„ُ اللهِ (Ųµ) Ų«ُŁ…َّ Ų³َŁ„َّŁ…َ فِي Ų±َكْŲ¹َŲŖَيْنِ فَŲ³َŲ£َŁ„َهُ Ł…َنْ Ų®َŁ„ْفَهُ يَŲ§ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„َ اللهِ Ų£َŲ­َŲÆَŲ«َ فِي الصَّلاةِ Ų“َيْ‏Ų”ٌ Ł‚َŲ§Ł„َ وَŁ…َŲ§ Ų°َŁ„ِكَ Ł‚َŲ§Ł„ُوا Ų„ِنَّŁ…َŲ§ ŲµَŁ„َّيْŲŖَ Ų±َكْŲ¹َŲŖَيْنِ فَŁ‚َŲ§Ł„َ Ų£َكَŲ°َŁ„ِكَ يَŲ§ Ų°َŲ§ Ų§Ł„ْيَŲÆَيْنِ وَكَانَ يُŲÆْŲ¹َى Ų°َŲ§ الِّؓŁ…َŲ§Ł„َيْنِ فَŁ‚َŲ§Ł„َ نَŲ¹َŁ…ْ فَŲØَنَى Ų¹َŁ„َى ŲµَŁ„َŲ§ŲŖِهِ فَŲ£َŲŖَŁ…َّ الصَّلاةَ Ų£َŲ±ْŲØَŲ¹Ų§ً وَŁ‚َŲ§Ł„َ Ų„ِنَّ اللهَ هُوَ Ų§Ł„َّŲ°ِي Ų£َنْŲ³َاهُ Ų±َŲ­ْŁ…َŲ©ً للأُŁ…َّŲ©ِ …

Berkata Sa’Ć®d Al-A’rĆ¢j aku mendengar Aba Abdillah as bersabda : Rasulullah melakukan salam setelah dua rakaat, kemudian dibelakangnya bertanya : wahai rasulullah saww apakah terjadi kekurangan didalam shalat? Rasul saww menjawab : apa yang terjadi?, mereka berkata : anda telah shalat dua rakaat, rasul saww bertanya : apakah hal itu benar wahai Dzulyadain, yang mana dipanggil Dzu as-Syimalain, dia berkata betul, kemudian rasul saww meneruskan shalatnya dan menyempurnakan shalatnya menjadi empat rakaat, kemudian Imam as bersabda: Sesungguhnya Allah Swt lah yang melupakan nabi saww sebagai rahmat bagi umat…[8]

Kedua hadits tersebut dan masih ada lagi hadits serupa lainnya dalam bab yang sama didalam Alkafi dengan sanad sahih begitu pula didalam Tahdzib Al-Ahkam didalam bab ahkam As-Sahwi fi As-Shalat dengan sanad sahih pula, walaupun isi dari riwayat tersebut banyak ditemukan permasalahan diantaranya bertolak belakang dengan riwayat sahih lainnya.

Ta’arudh Hadits
Riwayat-riwayat yang sahih yang menceritakan mengenai kejadian lupa didalam shalat yang dinisbatkan kepada nabi saww bertolak belakang isi kandungannya dengan banyak riwayat sahih lainnya semisal riwayat didalam tahdzib:

Ų¹َنْهُ Ų¹َنْ Ų£َŲ­ْŁ…َŲÆَ ŲØْنِ Ł…ُŲ­َŁ…َّŲÆٍ Ų¹َنِ Ų§Ł„ْŲ­َŲ³َنِ ŲØْنِ Ł…َŲ­ْŲØُوبٍ Ų¹َنْ Ų¹َŲØْŲÆِ اللَّهِ ŲØْنِ ŲØُكَيْŲ±ٍ Ų¹َنْ Ų²ُŲ±َŲ§Ų±َŲ©َ Ł‚َŲ§Ł„َ Ų³َŲ£َŁ„ْŲŖُ Ų£َŲØَŲ§ Ų¬َŲ¹ْفَŲ±ٍ Ų¹ هَŁ„ْ Ų³َŲ¬َŲÆَ Ų±َŲ³ُŁˆŁ„ُ اللَّهِ Ųµ-‌Ų³َŲ¬ْŲÆَŲŖَيِ السَّهْوِ Ł‚َŲ·ُّ فَŁ‚َŲ§Ł„َ Ł„َŲ§ وَ Ł„َŲ§ يَŲ³ْŲ¬ُŲÆُهُŁ…َŲ§ فَŁ‚ِŁŠŁ‡ٌ
‌Ł‚َŲ§Ł„َ Ł…ُŲ­َŁ…َّŲÆُ ŲØْنُ Ų§Ł„ْŲ­َŲ³َنِ Ų§Ł„َّŲ°ِي Ų£ُفْŲŖِي ŲØِهِ Ł…َŲ§ ŲŖَŲ¶َŁ…َّنَهُ هَŲ°َŲ§ Ų§Ł„ْŲ®َŲØَŲ±ُ فَŲ£َŁ…َّŲ§ Ų§Ł„ْŲ£َŲ®ْŲØَŲ§Ų±ُ Ų§Ł„َّŲŖِي Ł‚َŲÆَّŁ…ْنَاهَŲ§ Ł…ِنْ Ų£َنَّ النَّŲØِيَّ Ųµ Ų³َهَŲ§ فَŲ³َŲ¬َŲÆَ فَŲ„ِنَّهَŲ§ Ł…ُوَافِŁ‚َŲ©ٌ Ł„ِŁ„ْŲ¹َŲ§Ł…َّŲ©ِ وَ Ų„ِنَّŁ…َŲ§ Ų°َكَŲ±ْنَاهَŲ§ Ł„ِŲ£َنَّ Ł…َŲ§ ŲŖَŲŖَŲ¶َŁ…َّنَهُ Ł…ِنَ Ų§Ł„ْŲ£َŲ­ْكَŲ§Ł…ِ Ł…َŲ¹ْŁ…ُŁˆŁ„ٌ ŲØِهَŲ§ Ų¹َŁ„َى Ł…َŲ§ ŲØَيَّنَّاهُ

Darinya (Muhammad ibn Ali Ibn Mahbub), dari Ahmad ibn Muhammad dari Al-Hasan ibn MahbĆ»b dari Abdillah ibn Bukair dari ZurĆ¢rah berkata : aku bertanya Aba Ja’far as apakah Rasulullah saww pernah melaksanakan dua sujud sahwi (karena lupa) sekali saja, Imam as menjawab tidak , dan tidak pula pernah seorang Faqih (orang alim) melaksanakan dua sujut (sahwi) itu.

Muhammad Ibn Al-Hasan (Syeikh Thûsi) yang mana berfatwa dengan kandungan riwayat tersebut (menolak sahwi nabi) adapun riwayat yang mengatakan nabi lupa kemudian melaksanakan sujud sahwi adalah riwayat yang sesuai dengan pendapat mazhab âmmah dan kami menyebutkan riwayat ini karena kandungannya berlaku didalam ahkam seperti yang telah kami jelaskan. (dari sanalah tidak bisa diambil kesimpulan bahwa nabi pernah lupa) [9]

Hadits ini adalah sahih seluruh perawinya tsiqah imamiah, dan kandungannya bertolak belakang dengan hadits sahih lain yang telah disebutkan diatas, karena riwayat ini menolak sedikitpun bahwa nabi pernah lupa dan melakukan sujud sahwi,  adapun mengenai sifat nabi saww yang tak pernah lupa bahkan nabi saww mengetahui khabar langit dan bumi, sehingga tidak mungkin nabi bertanya kepada dzulyadain atau lainnya mengenai sesuatu yang nabi saww tidak ketahui dari lupanya. Riwayat tersebut disebutkan didalam riwayat sahih semisal riwayat dalam al-kĆ¢fi berikut ini :

 Ų¹ŲÆŁ‡ من اصحابنا، عن احمدبن Ł…Ų­Ł…ŲÆ عن Ų¹Ł„ŁŠ بن حديد، عن سماعه بن مهران قال :کنت عند ابي عبدالله و عنده جماعه من Ł…ŁˆŲ§Ł„ŁŠŁ‡، فقال: اعرفوا العقل و Ų¬Ł†ŁˆŲÆŁ‡ و الجهل و Ų¬Ł†ŁˆŲÆŁ‡ ŲŖŁ‡ŲŖŲÆŁˆ…فقال Ų§ŲØŁˆŲ¹ŲØŲÆŲ§Ł„Ł„Ł‡: ان الله خلق العقل …Ų«Ł… جعل للعقل خمسه و Ų³ŲØŲ¹ŁŠŁ† جندا فکان Ł…Ł…Ų§ اعطي الله العقل من الخمسه و Ų§Ł„Ų³ŲØŲ¹ŁŠŁ† الجند Ų§Ł„Ų®ŁŠŲ± و جعل ضده الؓر…ŁˆŲ§Ł„Ų¹Ł„Ł… و ضده الجهل و Ų§Ł„ŲŖŲ³Ł„ŁŠŁ… و ضده الؓک و التذکر و ضده Ų§Ł„Ų³Ł‡Łˆ و الحفظ و ضده Ų§Ł„Ł†Ų³ŁŠŲ§Ł†…فلا ŲŖŲ¬ŲŖŁ…Ų¹ هذا الخصال کلها من اجناد العقل الا في Ł†ŲØŁŠ اووصي او Ł…ŁˆŁ…Ł† قد امتحن الله قلبه Ł„Ł„Ų§ŁŠŁ…Ų§Ł† …

Dari beberapa sahabat kamidari Ahmad ibn Muhammad dari Ali ibn Hadid, dari SamĆ¢’ah ibn MihrĆ¢n berkata : ketika aku bersama Abu Abdillah as dan disekitarnya sekumpulan para pengikutnya, Imam as bersabda : jelaskanlah oleh kalian mengenai akal dan tentaranya, kebodohan dan tentaranya pula anda akan memperoleh petunjuk…Abu Abdillah as bersabda : sesungguhnya Allah menciptakan akal… kemudian menjadikan akal tujuh puluh lima tentara, dan yang diberikan oleh Allah Swt dengan tujuh puluh lima tentara kebaikan dan menjadikan pula lawannya kejelekan, Ilmu lawannya Kebodohan, yakin (kepatuhan) lawannya keraguan, tadzakkur lawannya sahw (lupa),  hapalan lawannya nisyĆ¢n (lupa)… tidaklah terkumpul seluruh tentara akal (kebaikan) tersebut kepada seorangpun kecuali pada nabi, dan washinya atau mukmin yang telah Allah Swt uji mereka hatinya dengan keimanan…[10]

Hadits tersebut adalah sahih sanad, adapun iddat min ashhâbina (beberapa sahabat kami) pun muktabar ketsiqatannya mereka adalah Ali Ibn Ibrahim, Ali Ibn Muhammad Ibn abdillah, Ahmad Ibn Abdillah ibn Umayyah, Ali Ibn Hasan yang meriwayatkan dari Ahmad ibn Muhammad Albarqi.[11]

Isi dari hadits tersebut  secara jelas menerangkan bahwa tazdzakur dan Hifz yang merupakan lawan dari lupa ada pada nabi dan washinya, sehingga tidak mungkin nabi memiliki sifat lupa (nisyĆ¢n/sahw).
Dan masih banyak lagi hadits sahih lainnya yang menjelaskan hal yang serupa baik dengan manthuqnya atau mafhumnya yang menyatakan nabi tidak pernah lupa sedikitpun dan mengetahui urusan langit dan bumi.
Dan dari kedua belah kubu riwayat yang menyatakan nabi pernah lupa dan kubu lain yang menyebutkan nabi tak pernah lupa mengalami ta’Ć¢rudh, dan bagaimanakah kita menyelesaikan hal itu semua serta mencari jalan keluarnya?

Solusi permasalahan hadits yang muta’Ć¢ridĆ¢n (yang saling bertolak belakang)
Dari sanalah kita tidak bisa melihat riwayat hanya dari minhaj sanadi saja tetapi harus dilihat dari minhaj madhmƻni, minhaj sanadi mengatakan kalau sanadnya sahih maka riwayat tersebut menjadi hujjah, sedangkan kita melihat diantara hadits secara sanad sahih terdapat madhmun (isi hadits) yang bertolak belakang seperti yang disebutkan diatas, oleh sebab itu mana yang harus kita pilih karena kedua-duanya hujjah menurut minhaj sanadi, tetapi kalau kita melihat minhaj Madhmƻni, kita bisa melihat rujukan isi dan kandungannya yang bertolak belakang tadi dan mencari solusi lain dari pelajaran ushul fiqih.

Kalau kedua hadits tersebut sanad sahih, dan secara isi bertolak belakang maka hal itu terjadi ta’Ć¢rudh, atau didalam istilah Sayyid Syahid Baqir Shadrra “At-TanĆ¢fi baina almadlĆ»lain, wa lamma kĆ¢na ad-dalil hua al-ja’l fattanĆ¢fi almuhaqqiq littaĆ¢rudh hua attanĆ¢fi baina al-ja’lain…”[12] bahkan ditambahkan didalamnya adalah taarudh diantara dua ja’l ( lisan dalil), yang mana didalam pembahasan kita kali ini adalah diantara dua kubu riwayat (dalil) diatas.

Disebutkan pula didalam ushul bahwa ta’Ć¢rudh diantara dua dalil tersebut ada yang mustaqir ada yang ghair mustaqir. Ta’Ć¢rudh gheir mustaqir adalah at-taĆ¢rudh alladzi yumkinu ‘ilĆ¢juhu bita’dĆ®l dilĆ¢lah ahad ad-dalilain, wa ta’wĆ®luha binahwin yansajim ma’a ad-dalĆ®l al-Ć¢khar[13] (ta’arudh yang mana dimungkinkan untuk dicarikan solusinya dengan mensinkronkan salah satu dalil dengan dalil lainnya, dan mentakwilkan yang sesuai dengan dalil lainnya. Sedangkan yang mustaqir tidak mungkin ditemukan solusi dengan cara mensinkronkan salah satu dalil dengan dalil lainnya. Ta’arudh gheir mustaqir bisa diambil solusi dengan cara al-jam’ al-‘urfi, maksudnya secara pandangan uruf bisa dicarikan solusinya baik itu dengan mencari salah satu dalil yang lebih dzahir (adzhar) dari yang dzahir, atau yang muqayyad dari yang muthlaq atau yang khas dari yang amm. Sedangkan kalau kita kembali lagi kedalam masalah kedua kubu dalil mengenai nabi pernah lupa atau tidak maka kita bisa meneliti bahwa kedua kubu hadits tersebut tidak bisa ditemukan dengan cara al-jam al-urfi, bahkan kedua kubu tersebut jelas-jelas masuk dalam kategori ta’arudh mustaqir. Lalu apa yang harus kita lakukan kalau memang hadits itu adalah taarudh mustaqir?
Didalam pembahasan Ushul dikatakan bahwa kalau mengalami ta’arudh mustaqir maka yang terjadi adalah tasĆ¢quth kila ad-dalilain (jatuh kedua dalil tersebut), tetapi dikatakan pula oleh Sayyid Shadr ra bahwa dengan adanya dalil yang khusus menunjukkan tarjĆ®h (salah satu dalil maka tidak terjadi tasaqut kila ad-dalilain[14]. Riwayat khusus tersebut diantaranya:

Ų„Ų°Ų§ ورد Ų¹Ł„ŁŠŁƒŁ… Ų­ŲÆŁŠŲ«Ų§Ł† مختلفان ŁŲ§Ų¹Ų±Ų¶ŁˆŁ‡Ł…Ų§ على كتاب الله، فما ŁˆŲ§ŁŁ‚ كتاب الله ŁŲ®Ų°ŁˆŁ‡، ŁˆŁ…Ų§ خالف كتاب الله فردّŁˆŁ‡، ف؄ن لم ŲŖŲ¬ŲÆŁˆŁ‡Ł…Ų§ في كتاب الله ŁŲ§Ų¹Ų±Ų¶ŁˆŁ‡Ł…Ų§ على Ų£Ų®ŲØŲ§Ų± العامة, فما ŁˆŲ§ŁŁ‚ أخبارهم ŁŲ°Ų±ŁˆŁ‡ و Ł…Ų§ خالف أخبارهم ŁŲ®Ų°ŁˆŁ‡.

Imam Shadiq as bersabda : JIkalau kalian menemukan dua hadits yang bertolak belakang maka rujuklah keduanya pada kitabullah, dan hadits yang sesuai dengan kitabullah maka ambillah, dan yang tidak sesuai maka tinggalkanlah, jikalau kalian tidak menemukan didalam kitabullah maka rujukalah keduanya pada hadits-hadits (mazhab) ‘ammah, yang sesuai dengan akhbar mereka maka tinggalkanlah yang tidak sesuai maka ambillah.[15]

Dari sanalah kita bisa merujuk kepada ayat alquran, sedangkan secara sarih Alquran banyak yang menerangkan ayat mengenai kemaksuman nabi, kalau kita mengambil  makna ithlaq  dari makna maksum yang meliputi juga maksum dari lupa dan salah. Tetapi kalaupun ayat-ayat tersebut mendapatkan permasalahan dengan ayat lainnya dan tidak bisa ditemukan kesimpulan akhir maka kita merujuk pada langkah kedua yaitu merujuk kepada hadits-hadits dari mazhab ammah, dan sudah dipastikan bahwa hadits yang menceritakan bahwa nabi saww pernah lupa sesuai dengan riwayat yang terdapat dalam mazhab Ammah, oleh sebab itulah maka kita mengambil riwayat yang tidak sesuai dengan mazhab tersebut yaitu riwayat yang menolak bahwa nabi pernah lupa, serta menjadikan riwayat yang sesuai dengan mazhab ammah adalah riwayat dalam kondisi taqiah. Kesimpulannya bahwa riwayat yang bisa kita pegang adalah riwayat yang mengatakan bahwa nabi sedikitpun tidak pernah lupa dan salah.

Adapun permasalahan ghulu yang dikatakan oleh Syeikh Shaduq maka hal itu tidak tepat, sebab hal itu tidak termasuk ghulu, dan juga banyak riwayat sahih yang menegaskan dalil mengenai ketiadaan lupa bagi nabi saww. Walaupun hukum ghulu seperti menganggap nabi tuhan atau imam maksum tuhan maka hal itu haram didalam mazhab syiah. Dan menafikan lupa dari rasul saww tidaklah termasuk kategori atau mishdaq dari ghulu seperti yang dikatakan banyak dari para ulama syiah sekalipun.


Rujukan:
[1] Syeikh Shaduq, Man la Yahdhuruhu Al-Faqih, Jilid-1, hal. 359, bab Ahkam As-sahwi fi As-Shalat, Cet. Islami
[2] Idem, hadits ke-1031.
[3] An-Nahl:100
[4] Syeikh Mufid, Adam Sahw An-Nabi Saww, hal 22-23, Maktabah Syamilah
[5] Rijal An-Najâsyi, hal251, Khulashah Al-Hilli, hal.100
[6] Syarif Murtadha, Al-Masâil An-Nâshiriyyât, hal 236, cet. Râbithah as-tsaqafiah,
[7] Al-Kulaini, Al-KĆ¢fi, jilid ke-6, hal.259, bab Man takallama fi As-Shalat, cetakan darul hadits.
[8] Al-Kulaini, Al-KĆ¢fi, jilid ke-6, hal.284, bab Man takallama fi As-Shalat, cetakan darul hadits
[9] Syeikh Thûsi, Tahdzîb Al-Ahkâm, jilid ke-2, hal.351, bab Ahkam As-Sahwi, Cet. Dar Al-Kitab al-Islami
[10] Al-Kulaini, Al-KĆ¢fi,jilid ke-1, hal.42, kitab al-‘ali wa al-jahli, cet. DĆ¢rulhadits
[11] Al-Hilli, Al-Kulâshah, hal.272 al-fâidah at-tsâlitsah.
[12] Sayyid Shadr, DurĆ»s fi ‘Ilmi Al-UshĆ»l, al-halaqah ats-tsĆ¢litsah, hal. 542, Muassasah An-Nasyr Al-IslĆ¢mi, 1430
[13] Idem, hal.452
[14] Sayyid Shadr, DurĆ»s fi ‘Ilmi Al-UshĆ»l, al-halaqah ats-tsĆ¢niah, hal.462, Muassasah An-Nasyr Al-IslĆ¢mi, 1430
[15] Sayyid Shadr, Duruf fi DurĆ»s fi ‘Ilmi Al-UshĆ»l, al-halaqah ats-tsĆ¢niah, hal.462, Muassasah An-Nasyr Al-IslĆ¢mi, 1430, yang mengutip hadits dari alwasail jilid ke 18, bab ke-9 dari bab sifat alqĆ¢dhi, hadits ke-29
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita: