Pesan Rahbar

Home » , , , , , , , , , , , » Anggapan Akidah Sunni seperti N.U Sama dengan wahabi salafi, Sangat Rancu & Menyesatkan

Anggapan Akidah Sunni seperti N.U Sama dengan wahabi salafi, Sangat Rancu & Menyesatkan

Written By Unknown on Saturday, 21 February 2015 | 21:15:00


Jumat, 06 Januari 2012 10:53 Redaksi
E-mail Cetak PDF


Sesungguhnya, akidah kita umat Islam tidak sama dengan akidah wahabi salafi. Jelas, wahabi salafi itu merupakan induk kesesatan. Jadi anggapan akidah Sunni sama dengan akidah wahabi adalah sebuah kerancuan yang luar biasa. Ini penipuan yang nyata.

“Meski kelak suatu saat, ada kerja sama antara umat Islam dengan kalangan wahabidi dalam memerangi kemiskinan dan keterbelakangan, bukan berarti akidahnya sama,” ujar Ustadz Husain Ardilla.

Seorang tokoh NU sendiri, seperti Gusdur  (almarhum), pernah merasa gusar terhadap sikap sejumlah intelektual dan ulama yang memposisikan wahabi  sama saja dengan Sunni, padahal mereka itu tidak tahu banyak soal wahabi.

Perbedaan akidah itu jelas, jika menyimak doktrin tentang :

Aqidah Wahabi yang Menyamai Aqidah Yahudi dan Nasrani

Aqidah Wahabi Menyamai Aqidah Yahudi dan Nasrani,
yaitu mereka mengatakan bahwa Allah SWT Duduk seperti Duduknya Makhluq.

Ketahuilah bahwa aqidah yg dibawa oleh Wahhabi adalah aqidah yang bersumberkan dari Yahudi dan Kristiani yang coba diserapkan dalam masyarakat islam demi memecahbelah umat islam dan bertujuan agar umat islam menjadi Yahudi dan Nasoro, kemudian bersenang-senanglah Iblis bersama mereka di neraka kelak!

Inilah Yahudi dengan kerjasama penuh dari Wahhabiyah dalam menyesatkan umat islam di tanah air kita ini :

– Akidah ” Allah Duduk” Adalah Akidah Yahudi
Dalam kitab Yahudi Safar Al-Muluk Al-Ishah 22 Nomor 19-20, Yahudi menyatakan akidah kufur di dalamnya :

قال فاسمع Ų„Ų°Ų§ً ŁƒŁ„Ų§Ł… الرب قد رأيت الرب جالسًŲ§ على ŁƒŲ±Ų³ŁŠŁ‡ و ŁƒŁ„ جند السماؔ ŁˆŁ‚ŁˆŁ Ł„ŲÆŁŠŁ‡ Ų¹Ł†ŁŠŁ…ŁŠŁ†Ł‡ و عن ŁŠŲ³Ų§Ų±Ł‡

“Berkata : Dengarkanlah engkau kata-kata Tuhan,telah ku lihat Tuhan duduk di atas kursi dan ke semua tentera langit berdiri di sekitarnya kanan dan kiri” .

– Ibnu Taimiah ikut Membantu Yahudi Menyebarkan Akidah Yahudi ” Allah Duduk ” :
Dalam kitab Ibnu Taimiah Majmu Fatawa Jilid 4 / 374 :

؄ن Ł…Ų­Ł…ŲÆًŲ§ Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله ŁŠŲ¬Ł„Ų³Ł‡ ربه على العرؓ معه

“Sesungguhnya Muhammad Rasulullah, Tuhannya mendudukkannya diatas arasy bersamaNya”.

Tidak cukup dengan itu Ibnu Taimiah turut mengunakan lafaz kufur Yahudi demi men-yahudikan umat islam :

Dalam Kitab Ibnu Taimiyah berjudul Syarh Hadith Nuzul cetakan Darul Asimah :

Ų„Ų°Ų§ جلس تبارك و تعالى على Ų§Ł„ŁƒŲ±Ų³ŁŠ Ų³ُŁ…ِŲ¹ له أطيط كأطيط الرَّŲ­Ł„ Ų§Ł„Ų¬ŲÆŁŠŲÆ

artinya: ” Apabila Tuhan duduk di atas kursi maka akan terdengarlah bunyi seperti kursi baru diduduki”.

Lihatlah! Yahudi berkata Allah Duduk…Ibnu Taimiyah berkata Allah Duduk.

TAPI AL-QURAN DAN HADIST NABI YANG SHAHIH TIDAK PERNAH MENYATAKAN ALLAH DUDUK.

Kalau kita lihat dalam website Kristiani : http://www.hesenthisword.com/lessons/lesson5.htm
lihat pada :

Ų¹Ų§Ų“Ų±Ų§: ذكر عنه Ł…Ų§ ورد عن الله في العهد Ų§Ł„Ł‚ŲÆŁŠŁ…

Kristiani berkata pada nomor 7 :

“الله جالس على Ų§Ł„ŁƒŲ±Ų³ŁŠ Ų§Ł„Ų¹Ų§Ł„ŁŠ” (Ų§Ų“ 6 :1-10) .

artinya: “Allah Duduk Di atas Kursi Yang Tinggi”.

Wahhabi Turut Membantu Menghidupkan Kekufuran Kristian Dengan Memalsukan Hadith Nabi :
DALAM KITAB WAHHABI : FATHUL MAJID SYARH KITAB AT-TAUHID KARANGAN ABDUR RAHMAN BIN HASAN AAL AS-SYEIKH DISOHIHKAN OLEH ABDUL AZIZ BIN ABDULLAH BIN BAZ CETAKAN PERTAMA TAHUN 1992 BERSAMAAN 1413 MAKTABAH DARUL FAIHA DAN MAKTABAH DARUL SALAM.

Cetakan ini pada hal 356 yg tertera kenyatan kufur yg dianut oleh Wahhabi sebagai hadis ( pd hakikatnya bukan hadis Nabi ) adalah tertera dalam bahasa arabnya berbunyi:

” IZA JALASA AR-ROBBU ‘ALAL KURSI “.

Artinya : ” Apabila Telah Duduk Tuhan Di Atas Kursi “.

TETAPI AL-QURAN DAN HADITH SHAHIH TIDAK PERNAH MENYATAKAN DEMIKIAN !

Perlu diketahui, Imam asy-Syafi’I pun terang-terangan menyatakan kekufuran bagi orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.
Ibn al Mu’allim al Qurasyi (W. 725 H) menyebutkan dalam karyanya Najm al Muhtadi menukil perkataan al Imam al Qadli Najm ad-Din dalam kitabnya Kifayah an-Nabih …fi Syarh at-Tanbih bahwa ia menukil dari al Qadli Husayn (W. 462 H) bahwa al Imam asy-Syafi’I menyatakan kekufuran orang yang meyakini bahwa Allah duduk di atas ‘arsy dan tidak boleh shalat (makmum) di belakangnya.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

Wahabi Menyebarkan Aqidah Rancu dan Memfitnah Imam Syafi’i

Wahabi Menyebarkan Aqidah Rancu dan Memfitnah Imam Syafi’i R.A.
Kembali kepada Alquran dan Hadits yang Sahih dengan pemahaman Salafusshalih, dan jangan lupa yang sahih pula. Sebab jika mengambil sebuah Hadits saja hanya boleh yang sahih-sahih saja dan harus membuang hadits-hadits yang Dlo,if di tempat sampah, kenapa dalam mengambil perkataan ‘Ulama tidak begitu memperdulikan jalur periwayatan atau sanadnya, sehingga banyak sekali menyebar kekacauan Aqidah yang mengatasnamakan Imam Syafi,i, IMAM MALIK, Imam Ibnu Hanbal atau Imam Abu Khanifah?

Mereka yang terkenal dalam dunia persilatan Internet dengan pedang bermata duanya Bid’ah dan Syirik adalah yang di kenal dengan nama besar Wahhabi – Salafy memang lihay memainkan jurus kambing hitam dan taktik meminjam tenaga lawan dan langkah tipuan Dengan Membawa Nama Para Imam demi membela dan menyebarkan kekacauan aqidah tajsimnya, beberapa hal di antaranya tidak malu-malu menyebarkan dan berdusta dengan menyandarkan perkataan dari Imam Syafi,i

” Ų±ŁˆŁ‰ ؓيخ ال؄سلام أبو الحسن Ų§Ł„Ł‡ŁƒŲ§Ų±ŁŠ ، ŁˆŲ§Ł„Ų­Ų§ŁŲø أبو Ł…Ų­Ł…ŲÆ Ų§Ł„Ł…Ł‚ŲÆŲ³ŁŠ ب؄سنادهم ؄لى أبي ثور وأبي ؓعيب ŁƒŁ„Ų§Ł‡Ł…Ų§ عن ال؄مام Ł…Ų­Ł…ŲÆ بن ؄دريس Ų§Ł„Ų“Ų§ŁŲ¹ŁŠ ناصر Ų§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ« رحمه الله قال: Ų§Ł„Ł‚ŁˆŁ„ في السنة Ų§Ł„ŲŖŁŠ أنا Ų¹Ł„ŁŠŁ‡Ų§ ورأيت أصحابنا Ų¹Ł„ŁŠŁ‡Ų§ أهل Ų§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ« Ų§Ł„Ų°ŁŠŁ† Ų±Ų£ŁŠŲŖŁ‡Ł… وأخذت عنهم Ł…Ų«Ł„ Ų³ŁŁŠŲ§Ł† ŁˆŁ…Ų§Ł„Łƒ ŁˆŲŗŁŠŲ±Ł‡Ł…Ų§ الاقرار بالؓهادة أن لا ؄له ؄لا الله ŁˆŲ£Ł† Ł…Ų­Ł…ŲÆŲ§ Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله ، ŁˆŲ£Ł† الله تعالى على عرؓه في سمائه ŁŠŁ‚Ų±ŲØ من خلقه كيف Ų“Ų§Ų” ŁˆŲ£Ł† الله ŁŠŁ†Ų²Ł„ ؄لى السماؔ Ų§Ł„ŲÆŁ†ŁŠŲ§ كيف Ų“Ų§Ų” “

“ Syaikhul Islam Abu Hasan Al-Hakary meriwayatkan dan Al-Hafidz Abu Muhammad Al-Muqoddasi dengan isnad mereka kepada Abu Tsaur dan Abu Syu’aib, keduanya dari imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I, Nashirul hadits Rh, beliau berkata “ Pendapat di dalam sunnah yang aku pegang dan juga para sahabatku dari Ahli hadits yang telah aku saksikan dan aku ambil dari mereka seperti Sufyan, Malik dan selain keduanya adalah pengakuan dengan syahadah bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt, Muhammad adalah utusan Allah dan sesungguhnya Allah Swt di atas Arsy-Nya di dalam langit-Nya yang mendekat kepada makhluk-Nya kapan saja DIA kehendaki, dan sesungguhnya Allah turun ke langit dunia kapan saja DIA kehendaki “. (Mukhtashor Al-‘uluw halaman : 176).

Coba Anda Perhatikan Perkataan ini dari sisi sanadnya:
1. Al-Hafidz Adz-Dzahaby di dalam kitabnya MIZAN AL-I’TIDAL juz : 3 halaman : 112 berkata :

أبي الحسن Ų§Ł„Ł‡ŁƒŲ§Ų±ŁŠ : Ų£Ų­ŲÆ Ų§Ł„ŁƒŲ°Ų§ŲØŁŠŁ† Ų§Ł„ŁˆŲ¶Ų§Ų¹ŁŠŁ†

“ Abu Al-Hasan Al-Hakkari adalah salah satu orang yang suka berdusta dan sering memalsukan ucapan “

2. Abul Al-Qosim bin Asakir juga berkata :

قال أبو القاسم بن عساكر : لم ŁŠŁƒŁ† Ł…ŁˆŲ«ŁˆŁ‚Ų§ً به

“ Dia (Abu Al-Hasan) orang yang tidak dapat dipercaya “

3. Ibnu Najjar berkata :

ŁˆŁ‚Ų§Ł„ ابن النجار : متهم بوضع Ų§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ« وتركيب Ų§Ł„Ų£Ų³Ų§Ł†ŁŠŲÆ

“ Dia dicurigai memalsukan hadits dan menyusun-nysun sanad “

4. Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam kitab LISAN AL-MIZAN juz : 4 halaman : 159 berkata :

ŁˆŁƒŲ§Ł† الغالب على Ų­ŲÆŁŠŲ«Ł‡ الغرائب ŁˆŲ§Ł„Ł…Ł†ŁƒŲ±Ų§ŲŖ ، وفي Ų­ŲÆŁŠŲ«Ł‡ أؓياؔ Ł…ŁˆŲ¶ŁˆŲ¹Ų©

“ Kebanyakan hadits yg diriwayatkannya adalah ghorib dan mungkar dan juga terdapat hadits-hadits palsunya “.

5. Ibrahim bin Muhammad Ibn Sibth bin Al-Ajami di di dalam kitabnya Al-Kasyfu Al-Hatsits juz ; 1 halaman : 184 :

ŁˆŁ‡Łˆ كذاب وضاع

“ Dia adalah seorag yang suaka berdusta dan suka memalsukan hadits”

Dan perhatikan pula dari sisi masanya:
Mereka (wahhaby salafy) mengaku atsar tersebut diriwayatkan oleh Abu Syu’aib dari imam Syafi’i. Benarkah ??

Ini sebuah kedustaan yang nyata karena di dalam kitab-kitab tarikh / Sejarah bahwasanya Abu Syu’aib ini dilahirkan dua tahun setelah wafatnya imam Syafi’i, sebagaimana disebutkan dalam kitab TARIKH AL-BAGHDADI juz : 9 halaman : 436…

Sekarang bagaimanakah aqidah imam syafi’i yang sebenarnya tentang Istiwa Allah Swt ?

Berikut ini perkataan-perkataan imam Syafi’i yang kami nukil dari kitab-kitab yang mu’tabar dan dari riwayat-riwayat yang tsiqoh :

1. Ketika imam Syafi’I ditanya tentang makna ISTAWA dalam al-Quran beliau menjawab :

“ ؔامنت بلا ŲŖŲ“ŲØŁŠŁ‡ ŁˆŲµŲÆŁ‚ŲŖ بلا ŲŖŁ…Ų«ŁŠŁ„ ŁˆŲ§ŲŖŁ‡Ł…ŲŖ Ł†ŁŲ³ŁŠ في Ų§Ł„Ų„ŲÆŲ±Ų§Łƒ ŁˆŲ£Ł…Ų³ŁƒŲŖ عن Ų§Ł„Ų®ŁˆŲ¶ ŁŁŠŁ‡ ŁƒŁ„ Ų§Ł„Ų„Ł…Ų³Ų§Łƒ”

Ų°ŁƒŲ±Ł‡ ال؄مام Ų£Ų­Ł…ŲÆ Ų§Ł„Ų±ŁŲ§Ų¹ŁŠ في ( البرهان Ų§Ł„Ł…Ų¤ŁŠŲÆ) (Ųµ 24) ŁˆŲ§Ł„Ų„Ł…Ų§Ł… ŲŖŁ‚ŁŠ Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ† Ų§Ł„Ų­ŲµŁ†ŁŠ في (دفع ؓبه من ؓبه ŁˆŲŖŁ…Ų±ŲÆ ) (Ųµ 18) ŁˆŲŗŁŠŲ±Ł‡Ł…Ų§ كثير.

“ Aku mengimani istiwa Allah tanpa memberi penyerupaan dan aku membenarkannya tanpa melakukan percontohan, dan aku mengkhawatirkan nafsuku di dalam memahaminya dan aku mencegah diriku dari memperdalam persoalan ini dengan sebenar-benarnya pencegahan “
Ini telah disebutkan oleh imam Ahmad Ar-Rifa’i di dalam kitab “ Al-Burhan Al-Muayyad “ (Bukti yang kuat) halaman ; 24.

Juga telah disebutkan oleh imam Taqiyyuddin Al-Hishni di dalam kitab Daf’u syibhi man syabbaha wa tamarroda halaman : 18. Di dalam kitab ini juga pada halaman ke 56 disebutkan bahwa imam Syafi’I berkata :

ؔامنت ŲØŁ…Ų§ Ų¬Ų§Ų” عن الله على Ł…Ų±Ų§ŲÆ الله ŁˆŲØŁ…Ų§ Ų¬Ų§Ų” عن Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله على Ł…Ų±Ų§ŲÆ Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله

“ Aku beriman dengan apa yang datang dari Allah Swt sesuai maksud Allah Swt, dan beriman dengan apa yang datang dari Rasulullah Saw menurut maksud Rasulullah Saw “.

Syaikh Salamah Al-Azaami dan selainnya mengomentari ucapan imam syafi’I tsb :

ŁˆŁ…Ų¹Ł†Ų§Ł‡ لا على Ł…Ų§ قد تذهب Ų„Ł„ŁŠŁ‡ Ų§Ł„Ų£ŁˆŁ‡Ų§Ł… ŁˆŲ§Ł„ŲøŁ†ŁˆŁ† من Ų§Ł„Ł…Ų¹Ų§Ł†ŁŠ Ų§Ł„Ų­Ų³ŁŠŲ© ŁˆŲ§Ł„Ų¬Ų³Ł…ŁŠŲ© Ų§Ł„ŲŖŁŠ لا تجوز في Ų­Ł‚ الله تعالى.

“ Maknanya adalah bukan seperti yang terlitas oleh pikiran dan persangkaan dari makna fisik dan jisim yang tidak boleh bagi haq Allah Swt “

Dan masih banyak lagi yang lainnya.

2. Ketika imam Syafi’i ditanya tentang sifat Allah Swt, beliau menjawab :

Ų­Ų±Ų§Ł… على Ų§Ł„Ų¹Ł‚ŁˆŁ„ أن ŲŖŁ…Ų«Ł„ الله تعالى ŁˆŲ¹Ł„Ł‰ Ų§Ł„Ų£ŁˆŁ‡Ų§Ł… أن ŲŖŲ­ŲÆ ŁˆŲ¹Ł„Ł‰ Ų§Ł„ŲøŁ†ŁˆŁ† أن تقطع ŁˆŲ¹Ł„Ł‰ Ų§Ł„Ł†ŁŁˆŲ³ أن تفكر ŁˆŲ¹Ł„Ł‰ الضمائر أن تعمق ŁˆŲ¹Ł„Ł‰ Ų§Ł„Ų®ŁˆŲ§Ų·Ų± أن تحيط ؄لا Ł…Ų§ وصف به نفسه – أي الله على لسان Ł†ŲØŁŠŁ‡ صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… –

Ų°ŁƒŲ±Ł‡ Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ® ابن جهبل في رسالته انظر طبقات Ų§Ł„Ų“Ų§ŁŲ¹ŁŠŲ© Ų§Ł„ŁƒŲØŲ±Ł‰ Ų¬ 9/40 في Ł†ŁŁŠ الجهة عن الله Ų§Ł„ŲŖŁŠ Ų±ŲÆ ŁŁŠŁ‡Ų§ على ابن ŲŖŁŠŁ…ŁŠŲ©.

“Haram bagi akal membuat perumpamaan, Haram bagi pemikiran membuat batasan, dan haram bagi prasangka untuk membuat statemen, dan Haram juga bagi Jiwa untuk memikirkan (Dzat, perbuatan dan sifat-sifat) Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan haram bagi hati untuk memperdalam, dan Haram bagi lintasan-lintasan hati untuk meliputi, kecuali apa yang telah Allah sifati sendiri atas lisan nabi-Nya Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam” (Telah disebutkan oleh syaikh Ibnu Jahbal di dalam Risalahnya, lihatlah Thobaqot Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra juz : 9 halaman : 40 tentang menafikan arah dari Allah Swt sebagai bantahan atas Ibnu Taimiyyah).

3. Di dalam kitab Ittihaafus saadatil muttaqin juz : 2 halaman ; 24, imam Syafi’I berkata :

؄نه تعالى ŁƒŲ§Ł† ŁˆŁ„Ų§ Ł…ŁƒŲ§Ł† فخلق Ų§Ł„Ł…ŁƒŲ§Ł† ŁˆŁ‡Łˆ على صفة Ų§Ł„Ų£Ų²Ł„ŁŠŲ© ŁƒŁ…Ų§ ŁƒŲ§Ł† قبل خلقه Ų§Ł„Ł…ŁƒŲ§Ł†َ لا يجوز Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ Ų§Ł„ŲŖŲŗŁŠŁŠŲ±ُ في ذاته ŁˆŁ„Ų§ Ų§Ł„ŲŖŲØŲÆŁŠŁ„ في صفاته”

“ Sesungguhnya Allah Ta’ala ada dan tanpa tempat, lalu Allah menciptakan tempat dan Allah senantiasa dalam shifat ‘AzaliNya (tidak berubah) sebagaimana wujud-Nya sebelum menciptakan tempat. Mustahil bagi Allah perubahan di dalam Dzat-Nya dan juga perpindahan di dalam sifat-sifat-Nya”

4. Di dalam kitab Syarh Al-Fiqhu Al-Akbar halaman : 52, imam Syafi’I berkata yang merupakan keseluruhan pendapat beliau tentang Tauhid :

من انتهض لمعرفة مدبره فانتهى ؄لى Ł…ŁˆŲ¬ŁˆŲÆ ŁŠŁ†ŲŖŁ‡ŁŠ Ų„Ł„ŁŠŁ‡ ŁŁƒŲ±Ł‡ ŁŁ‡Łˆ مؓبه ŁˆŲ„Ł† اطمأن ؄لى العدم الصرف ŁŁ‡Łˆ Ł…Ų¹Ų·Ł„ ŁˆŲ„Ł† اطمأن Ł„Ł…ŁˆŲ¬ŁˆŲÆ واعترف بالعجز عن Ų„ŲÆŲ±Ų§ŁƒŁ‡ ŁŁ‡Łˆ Ł…ŁˆŲ­ŲÆ

“ Barangsiapa yang berantusias untuk mengetahui Allah Sang Maha Pengatur-Nya hingga pikirannya sampai pada hal yang wujud, maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dgn makhluq). Dan jika ia merasa tenang dengan suatu hal yang tiada, maka ia adalah mu’aththil (meniadakan sifat Allah Swt). Dan jika ia merasa tenang pada kwujudan Allah Swt dan mengakui ketidak mampuan untuk memahaminya, maka ia adalah MUWAHHID (orang yang mengesakan Allah Swt) “

Sungguh imam Syafi’I begitu jeli dan luas pemahamannya akan hal ini, beliau sungguh telah mengambil dari ayat-ayat Allah Swt dalam Al-Quran :

- {Ł„َيْŲ³َ كَŁ…ِŲ«ْŁ„ِهِ Ų“َىٌؔ } [سورة Ų§Ł„Ų“ŁˆŲ±Ł‰]

“ Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai Allah “

- فَلاَ ŲŖَŲ¶ْŲ±ِŲØُواْ Ł„ِŁ„ّهِ الأَŁ…ْŲ«َŲ§Ł„َ } [سورة النحل]

“ Janganlah kalian membuat perumpamaan-perumpoamaan bagi Allah Swt “

- :{هَŁ„ْ ŲŖَŲ¹ْŁ„َŁ…ُ Ł„َهُ Ų³َŁ…ِيًّŲ§ } [سورة Ł…Ų±ŁŠŁ…]

“ Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia ? “

Semua ini membuktikan bahwa imam Syafi’i r.a mensucikan Allah Swt dan sifat-sifat-Nya dari apa yang terlintas dalam pikiran berupa makna-makna jisim / fisik seperti duduk, dibatasi dengan arah, tempat, gerakan dan diam serta yang semisalnya dan inilah aqidah Ahlus sunnah wal jama’ah.
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita: