Pesan Rahbar

Home » , , , , , , , , , , , , » Musuh Islam sebenarnya saat ini bukan hanya Yahudi, Nasrani, Komunis tetapi juga sesame muslim sendiri. Kebanyakan dari golongan muslim yang menghancurkan Islam, mereka tidak menyadari bahwa tindakannya hanya akan menghancurkan Islam itu sendiri. Berkumpul bersama mereka, berdiskusi, atau bahkan hanya melihat mereka, dapat membawa kegelapan dihati kita.. Berdebat dengan salafi nashibi

Musuh Islam sebenarnya saat ini bukan hanya Yahudi, Nasrani, Komunis tetapi juga sesame muslim sendiri. Kebanyakan dari golongan muslim yang menghancurkan Islam, mereka tidak menyadari bahwa tindakannya hanya akan menghancurkan Islam itu sendiri. Berkumpul bersama mereka, berdiskusi, atau bahkan hanya melihat mereka, dapat membawa kegelapan dihati kita.. Berdebat dengan salafi nashibi

Written By Unknown on Friday 23 January 2015 | 19:53:00

Salafi Wahabi pelanjut misi sesat kaum Nawashib!


Tidak ada kebencian terhadap keluarga suci Nabi Muhammad saw. yang ditampakkan kelompok yang mengaku Muslim melebihi kebencian kaum Nawâshib, baik al Bakriyyah al Utsmaniyyah maupun kaum Khawârij. Sejarah mencatat bahwa tidak sedikit dari mereka yang menyelinap di tengah-tengah umat Islam dengan menyembunyikan identitas mereka sesungguhnya, namun demikian kebusukan akidah dan jiwa mereka sulit mereka sembunyikan, sebab sepandai-pandai seorang menyembunyikan bangkai pasti suatu saat, cepat atau lambat akan tercium juga baunya! Kebusukan mental dan jiwa mereka akan tercium melalui kata-kata yang terlontar atau sikap sinis yang tampak dari mereka.
————————————————————
Kebencian kepada Imam Ali as. adalah bukti kuat kemunafikan.
Dalam banyak hadis, Nabi menyabdakan:
Imam Muslim dan lainnya meriwayatkan dari Zirr ibn Hubaisy, ia berkata, “Aku mendengar Ali as. bersabda:

وَ الذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ و بَرَأَ النَّسَمَةَ إنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِيِّ الأُمِّيْ أَنَّهُ : لاَ يُحِبُّنِيْ إلاَّ مُؤْمِنٌ ولاَ يُبْغِضُنِيْ إلا مُنافِقُ.

“Demi Dzat Yang membelah biji-bijian dan menciptakan makhluk bernyawa, ini adalah ketetapan Nabi yang Ummi kepadaku bahwa tiada mencintaiku kecuali mukmin dan tiada membenciku kecuali munafik.”[1]

Allah SWT akan membongkar kedok kemunafikan mereka melalui apa yang terlontar dari mulut-mulut mereka yang mencerminkan kebusukan hati mereka. Allah berfirman:

أَمْ حَسِبَ الَّذينَ في قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغانَهُمْ * وَ لَوْ نَشاءُ لَأَرَيْناكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسيماهُمْ وَ لَتَعْرِفَنَّهُمْ في لَحْنِ الْقَوْلِ وَ اللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمالَكُمْ.

“Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka.* Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (QS. Muhammad [47]:29-30).

Imam Jalaluddin as Suyuthi meriwayatkan dalam tafsir ad Durr al Mantsûr-nya [2] ketika menafsirkan ayat di atas beberapa hadis di antaranya:
Ibnu ‘Asâkir dan Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id al Khudri ra. ia berkata tentang ayat:

وَ لَتَعْرِفَنَّهُمْ في لَحْنِ الْقَوْلِ

“Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka”
Ia berkata: “Dengan kebenciannya kepada Ali ibn Abi Thalib.”
Dan kaum munafik adalah penghuni tetap neraka Jahannam.
Allah berfirman:

إِنَّ الْمُنافِقينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَ لَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصيراً إِلاَّ الَّذينَ تابُوا وَ أَصْلَحُوا وَ اعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَ أَخْلَصُوا دينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنينَ وَ سَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنينَ أَجْراً عَظيماً.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.* Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (QS. An Nisâ’[4]:145-146).

Ulama Islam Telah Membongkar Kemunafikan Kaum Nawâshib!

Para ulama Islam, baik Sunni maupun Syi’ah telah membongkar kedok kemunafikan dan penyimpangan kaum Nawâshib. Mereka bukan Sunni apalagi Syi’ah! Ulama Sunni sendiri menolak jika mereka digolongkan sebagai Ahlusunnah! Lebih dari itu, mereka adalah kelompok terkecam!

Beberapa abad silam ajaran menyimpang dan kesesatan kaum Nawâshib mulai dihidupkan dan disebar-luaskan kembali oleh Ibnu Taimiyah dan murid-murid setiapnya seperti Ibnu Qayyim, adz Dzahabi dkk. Dan kini tonggak obor estafet itu direbut oleh kaum Salafiyah Wahabiyah.

Dengan semangat berkobar-kobar mereka bangkit menghidupkan kembali dan menyebar-luaskan kesesatan kaum Nawâshib dengan berkedok ajaran sesat mereka adalah ajaran Ahlusunnah wa al Jama’ah. Aktifitas mereka juga tertuju kepada pendha’ifan dan menvonis maudhû’/ palsu hadis-hadis keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait Nabi saw. dengan berbagai alasan yang mengada-ngada. Di samping yang tidak mereka lewatkan adalah membela mati-matian musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as., seperti Mu’awiyah. Yazid, Amr ibn al ‘Âsh dkk.

Seperti telah kami singgung bahwa di antara cara licik dan licin mereka adalah mempoles pandangan sesat kaum Nawâshib sebagai yang mewakili pandangan Sunni. Dalam rangka ini mereka tidak segan-segan memalsu atas nama tokoh-tokoh Salaf!

Blog Nawâshib: haulasyiah menurunkan artikel berjudul: ( ISYARAT RASULULLAH ABU BAKAR SEBAGAI KHALIFAH, bantahan syubuhat syi’ah ke 5 ) untuk menghidupkan kembali kesesatan pandangan kaum Nawâshib yang telah setangan terkubur itu. Di dalamnya oleh Ustadz Muh. Umar as Sewed berkata:
“Para ulama telah berbeda pendapat tentang bagaimana pengangkatan Abu Bakar ash-Shidiq sebagai khalifah. Apakah pengangkatan tersebut ditentukan dengan nash secara langsung dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam atau dilakukan dengan musyawarah antara kaum muslimin. Sebagian ulama berpendapat bahwa pengangkatan beliau sebagai khalifah ada lah hasil dari musyawarah dari kaum muslimin ketika itu.
Sedangkan Hasan al-Bashri dan sebagian para ulama dari kalangan ahlul hadits berpendapat bahwa terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah adalah dengan nash yang samar dan isyarat dari rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam”. (Lihat Syarh Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 471).

Ibnu Jakfari berkata:
Apa yang ia katakan itu tidak berdasar dan hanya kaum Nawashib lah yang meyakini keyakinan seperti itu. Umat Islam selain Nawâshib hanya meyakini salah satu dari dua opsi dalam masalah kekhilifahan sepeninggal Nabi Muhammad saw:
* Nabi telah menunjuk Imam Ali as. sebagai Imam dan Khalifah sepeninggal beliau secara langsung dengan penunjukan terang dan tegas! (Baca: http://www.facebook.com/profile.php?id=1155794121&v=app_2347471856&ref=profile#!/note.php?note_id=412397671140)

* Nabi saw, tidak menunjuk siapa-siapa. Abu Bakar dipilih oleh kaum Muslim saat itu berdasarkan musyawarah/baiat. Tidak ada penunjukan atasnya sama sekali.

Yang meyakini adanya menunjukan hanya kaum Nawâshib. Mereka tidak segan-segan memalsu banyak hadis atas nama Nabi Muhammad saw. untuk menandingi hadis-hadis keutamaan dan penujukan Imam Ali as., yang kemudian hadis-hadis palsu itu mereka sebar-luaskan di tengah-tangah umat Islam!

Ahlusunnah Sepakat Tidak Ada Nash Penujukan Atas Abu Bakar!

Hal mendasar yang akan membubarkan angan-angan kaum Nawâshib, seperti pendiri sekte sempalan Wahhabiyah dan para mukallidnya dalam hal ini adalah: bahwa termasuk hal yang telah disepakati para pembesar ulama Ahlusunnah adalah bahwa Nabi saw. tidak pernah menujuk siapa Khalifah sepeninggal beliau saw.

Ada sebuah stitmen penting dan mendasar yang disampaikan Umar –selaku Khalifah kedua- ketika ia diminta para sahabat untuk menunjuk seorang Khalifah yang akan mengantikan posisinya setalah mati nanti, maka ia berkata, ”Jika aku tidak menunjuk seorang pengganti maka ketahuilah bahwa Rasulullah juga tidak menunjuk seorang pengganti dan jika aku menunjuk maka Abu Bakar telah menunjuk.” [3]

Dan di saat-saat terakhir menjelang kematiannya, ketika ada yang mengatakan kepadanya, “Jangan Anda biarkan umat Muhammad tanpa pengembala, tunjuklah seorang pemimpin!” Umar ibn al Khaththâb menjawab, “Jika aku membiarkan maka ketahuilah bahwa orang yang lebih baik dariku (Rasulullah saw. maksudnya) telah membiarkan dan jika aku menunjuk seorang pengganti maka sesungguhnya seorang yang juga lebih baik dariku (Abu Bakar maksudnya) telah menunjuk.” [4]

Selain bukti di atas, Anda dapat menemukan bagaimana Abu Bakar -selaku Khalifah pertama- juga berandai-andai jika ia dahulu bertanya kepada Rasulullah saw. siapa yang berhak atas jabatan kekhalifahan ini dan apakah kaum Anshar memiliki hak untuk menjabat atau tidak? Abu Bakar berkata, “Saya ingin andai dahulu aku bertanya kepada Rasulullah untuk siapa perkara (khilafah) ini sehingga ia tidak direbut oleh seorang pun yang bukan ahlinya? Aku ingin andai aku bertanya, apakah orang-orang Anshar mempunyai hak dalam perkara ini?” [5]

Al hasil, banyak sekali bukti akan hal itu, akan tetapi jika Anda hanya mau patuh dan mendengar ucapan ulama, maka kami akan sebutkan pernyataan tegas seorang tokoh tersohor Ahlusunnah di bawah ini.
Ketika berusaha menegakkan bukti keabsahan Khilafah Abu Bakar, Imam al Qusyji mewakili pandangan Ahlusunnah mengatakan demikian, Al Maqshad Keempat tentang Imam (Khalifah) yang haq sepeninggal Rasulullah saw.. menurut kami (Ahlusunnah) adalah Abu Bakar, sedangkan menurut Syi’ah adalah Ali as.
Dalil kami adalah dua:
Pertama: Cara penunjukan seorang Imam (Khalifah) bisa dengan nash (penunjuan langsung) bisa dengan ijmâ’. Adapun nash sama sekali tidak ada, seperti akan dijelaskan nanti, sedangankan ijmâ’ tidak terjadi untuk selain Abu Bakar secara aklamasi…. “[6]

Mungkin Ustadz as Sewed kurang mengenal dan tidak akrab dengan buku-buku teologi Ahlusunnah Asy’ariyyah yang ditulis para ulama dan tokoh mereka, sebab bisa jadi sang Ustadz mulia hanya akrab dengan kitab-kitab kaum Nawâshib dan musuh-musuh Ahlusunnah Asy’ariyah seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, adz Dzahabi, Ibnu Abdil Wahhab, Abdul Aziz ibn Bâz dan Ibnu Utsaimin CS. yang menggolongkan Asya’ariyah termasuk kelompok sesat!

Hanya Kaum Nawâshib Yang Meyakini Penunjukan Abu Bakar Sebagai Khalifah!
Jika demikian, lalu kelompok manakan yang meyakini keyakinan sesat seperti itu?
Keterangan ulama Ahlusunnah di bawah ini akan menjawabnya. Perhatikan!

Dalam kitab al Mawâqif dan Syarahnya ditegaskan:

الإمام الْحقُّ بعد النبي (ص) أبو بكر، ثبتَتْ إمامتُهُ بالإجماعِ وَ إنْ تَوقَّفَ بعضُهم … و لَم ينُصَّ رسول اللهِ (ص) علَى أحَدٍ خِلافًا لِلْبَكْرِيَّةِ، فَإنهم زَعَمُوا النصَّ على أبِي بكر…. إِمَّا نَصًّا جَلِيًّا و إما نَصًّا خَفِيًّا، و الْحقُّ عِنْدَ الْجُمهور نَفْيُهُما

“Imam (Khalifah) yang benar/haq sepeninggal Nabi saw. adalah Abu Bakar. Keimamahannya telah tetap dengan dasar ijmâ’, walaupun ada sebagian orang sahabat menahan diri tentangnya (tidak mengakuinya) [7]

… Rasulullah saw. tidak menunjuk seorang pun, berbeda dengan kaum al Bakriyah, mereka mengaku adanya nash (penunjukan) atas Abu Bakar…. Baik nash terang maupun nash samar. Dan yang benar adalah pendapat Jumhur yaitu tidak adanya nash dari dua bentuk tersebut!“.[8]

Pernyataaan serupa juga ditegaskan oleh al Munnâwi dalam Faidhul Qadîr -nya.[9]

Maka jelaslah sekarang bahwa kaum Nawâshib (al Bakriyah) lah di balik kesesatan pandangan yang ditegakkan di atas hadis-hadis palsu itu.

Jika demikian, dari hidangan siapakah as Sewed dan kaum Nawâshib modern menelan fitnah tersebut?
Bukti di bawh ini akan memperjelas bahwa tidak lain mereka menelan fitnah ini dari gembong kaun Nawâshib abad pertengahan yang kini selalu menjadi andalan dan rujukan utama mereka… Dia tidak lain adalah Ibnu Taimyah, hamba sesat lagi menyesatkan seperti ditegaskan para ulama Ahlusunnah!
Ketika Allamah al Hilli (semoga rahmat Allah meliputinya) dalam kitab Minhâj al Karâmah-nya mengatakan bahwa dalam pandangan Ahlusunnah diyakini bahwa Nabi saw. tidak menunjuk siapa-siapa, Ibnu Taimiyah bangkit membantah dengan mengatakan:
“Tidak benar pendapat itu sebagai pendapat seluruh Ahlusunnah. akan tetapi ada beberapa kelompok dari Ahlusunnah yang berpendapat bahwa imamah (khilafah) Abu Bakar telah tetap berdasarkan nash.” [10]

Apa yang dikatakan Ibnu Taimyah di atas jelaslah palsu! Ibnu Tamiyah jelas-jelas memalsu keterangan adanya kelompok-kelompok di dalam tubuh Ahlusunnah yang menyakini adanya nash penunjukan atas Abu Bakar! Sebab Ahlusunnah sepakat tidak adanya nash penunjukan atas Abu Bakar!

Dan dengan demikian terbongkarlah sudah kedok sok Sunni yang sedang dilakonkan kaum Nawâshib seperti as Sewed Sc… sebab terbukti sekarang bahwa sumber rujukan pemalsuan data tersebut adalah Ibnu Taimiyah; seorang yang telah dikecam bahkan divonis sesat dan munafik oleh banyak ulama Sunni.

Tentang Ibnu Tamiyah; Imam kaum Salafiyah Nawâshib yang satu ini, al Hâfidz Ibnu Hajar al Asqallâni berkata:

ومنهم من ينسبه الى الزندقة، لقوله ان النبي لا يستغاث به، وان في ذلك تنقيصا و منعا من تعظيم النبي، ومنهم من ينسبه الى النفاق لقوله في علي ما تقدم، ولقوله انه كان مخذولا حيثما توجه، وانه حاول الخلافة مرار فلم يحصلها، انما قتاله للرئاسة لا للديانة.

“Dan di antara ulama Islam ada yang menisbatkannya (Ibnu Taimiyah) kepada kakafiran karena ucapannya bahwa Nabi tidak layak diistighatsai. Ucapan itu adalah penghinaan dan larangan untuk mangagungkan Nabi. Dan di antara ulama ada yang menisbatkannya kepada kemunafikan karena ucapannya yang lalu dan ucapannya bahwa Ali selalu dihinakan Allah kemanapun ia menuju. Dan ia (Ali) terus-menerus merusaha merebut Khilafah tetapi tidak pernah berhasil. Ali berperang hanya untuk merebut kekuasaan bukan untuk menegakkkan agama.”

Dengan demikian, akan lebih jujur jika kaum Salafiyah Nawâshib tidak berbicara mengatas-namakan Ahlusunnah wa Al Jama’ah, sebab mereka bukan Ahlusunnah! Mereka adalah Nawâshib!

Jika Benar Demikian Berarti Hasan Bashri Bukan Sunni Dia Nâshibi!

Seperti telah disinggung bahwa kaum Nawâshib tak segan-segan memalsu atas nama tokoh-tokoh penting generasi pendahulu untuk menipu kaum awam bahwa kesesatan mereka sebenarnya berlebel “Salafi” yang diambil dari pandangan kaum Salaf Shaleh!

Dalam kasus ini nama Hasan al Bashri; seorang tokoh ternama generasi tabi’în mereka bawa-bawa!
Jika benar apa yang mereka sebutkan, pastilah Hasan al Bashri bukan seorang Sunni atau yang boleh dan layak ditokohkan oleh Ahlusunnah, sebab dengan pandangannya itu ia tergolong al Bakriyah! Apakah itu yang hendak disimpulkan oleh kaum Nawâshib?

Penutup:
Untuk sementara kami cukupkan tanggapan kami atas ustadz as Sewed, semoga dalam kesempatan lain kami kembali membuktikan penyimpangan dan kesalahan kaum Nawâshib; musuh-musuh Ahlulbait as. dan Syi’ah setia mereka. Amin..

Wa Shallallahu ‘Alâ Sayyidina Muhammad Wa Âlihi ath Thâhirîn.
_____________________________________________________________________
[1] Hadis telah diriwayatkan oleh:
1) Imam Muslim dalam Shahihnya
2) An Nasa’i dalam Sunannya dengan dua jalur dan dalam Khashâishnya dengan tiga jalur: hadis 95,96 dan 97, yang semuanya sahih berdasarkan komentar Abu Ishaq al Hawaini (korektor kitab Khashâish), terbitan Saudi Arabia.
3) At Turmudzi dalam Sunannya, Manâqibu Ali, bab 95 (Tuhfatu al Ahwadzi,10/239-230) dan ia berkata: “Hadis ini hasan sahih.”
4) Ibnu Mâjah dalam Shahihnya, bab Fadhlu Ali ibn Abi Thalib ra.,1/42, hadis114. Ia hadis pertama dalam bab itu.
5) Ibnu Abi ‘Âshim dalam kitab Sunnahnya,2/598.
6) Abu Nu’aim dalam Hilyatu al Awliyâ’, 4/185 dari tiga jalur dari Adiy ibn Tsâbit dari Zirr, kemudian ia berkata, “Hadis ini muttafaqun ‘alaih (disepakati kesahihannya)”. Setelahnya ia menyebutkan banyak ulama yang meriwayatkan dari Adiy.
7) Al Muttaqi al Hindi dalam Kanz al ‘Umâlnya, 6/394 dan ia berkata, “Hadis ini telah dikeluarkan oleh Al Humaidi, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad ibn Hanbal, Al Adani, At Turmudzi, An Nasa’i, Ibnu Mâjah, Ibnu Hibbân, Abu Nu’aim dan Ibnu Abi ‘Âshim.
[2] Ad Durr al Mantsûr,6/54.
[3] Baca Shahih Bukhari,9/100, pada Kitabu al Ahkâm, Bab al Istikhlâf dan Shahih Muslim, 3/1454 bab al Istikhlâf wa tarkihi, Hilyah al Auliyâ’,1\44, as Sunan al Kubrâ, 8\149 dll.
[4] Murûj adz Dzahab; as Mas’udi,:2\253. Dâr al Fikr.
[5] Tarikh ath Thabari:4\53dan al Iqd al Farîd,2\254.
[6] Al Mawâqif Fi Ilmi al Kalâm; Qadhi ‘Adhududdîn Abdurahman ibn Ahmad al Îji:400. cet. ‘Alamul Kotob, Bairut.
[7] Seperti Sa’ad ibn Ubadah –seorang tokoh sentral kaun Anshar dan putra-putranya yang hingga wafat secara mesterius ia tetap menolak mengakui kekhalifahan Abu Bakar. Demikian juga dengan Siti Fatimah –putri kesayangan Nabi saw. dn istri Imam Ali as. hingga beliau wafat tetap menolak mengakui keabsahan kekhalifahan Abu Bakar! Sebagian kaum Nâwashib tidak segan-segan menyerang dan menghujat serta menuduh Sa’ad sebagai rajulun sû’ (seorang yang busuk) lagi munafik. Sedang tentang Siti Faitmah as. saya tidak mengetahui hingga saat ini bagaimana sikap kaum Salafiyah Nawâshib terhadap beliau as.? Apakah mereka juga menvonisnya mati jahiliah sebab tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar? Atau mereka akan mengada-ngada kepalsuan dengan mengatakan bahwa Fatimah adalah orang wanita pertama yang membaiat dan mengakui serta merestui kekhalifahan Abu Bakar!!
[8] Syarah al Mawâqif,8/354.
[9] Faidhul Qadîr,2/56, ketika menerangkan hadis nomer:1318-1310. terbitan Dâr al Ma’rifah. Bairut-Lebanon.
[10] Minhâj as Sunnah; mIbnu Taimyah,1/487.


Musuh Islam sebenarnya saat ini bukan hanya Yahudi, Nasrani, Komunis tetapi juga sesame muslim sendiri. Kebanyakan dari golongan muslim yang menghancurkan Islam, mereka tidak menyadari bahwa tindakannya hanya akan menghancurkan Islam itu sendiri. Berkumpul bersama mereka, berdiskusi, atau bahkan hanya melihat mereka, dapat membawa kegelapan dihati kita. Berdebat dengan mereka adalah tindakan yang terburuk.

Dibalik perhatian mereka yang baik terhadap ibadah mereka, dan hanya Allah swt dan nabi saw yang mengetahuinya, mereka tak dapat menolong diri mereka sendiri untuk menjadi korban dari ibadahnya sendiri. Muslim yang tumbuh dalam lingkungan islam dan semenjak kecil dalam didikan sekolah Islam hingga ketingak universitas, kurikulum agama islam yang mereka pelajari berdasarkan akidah yang akan menghancurkan Islam itu sendiri.

Media massa, televisi, radio , surat kabar, walaupun merupakan program yang sangat relijius, juga artikel mereka di surat kabar merupakan hal yang sangat mendistorsikan pemahaman keislaman. Dan hal ini tak dapat mengangkat citra islam bahkan membuat perpecahan dikalangan umat Islam sendiri. Tetapi mereka masih mengatakan hal itu sesuatu yang islami.

Jangan harapkan mereka, kecuali keburukan saja dari golongan seperti ini. Allah swt telah menuliskan bimbingan dan epetance, bahwa hanya dengan rasa memiliki kepada nabi saw melalui barakah Awliya, mereka dapat menghitung kehidupannya dan melalui pandangan ampunan dan meletakan mereka dibawah sayap intercession.

Dalam pandangan saya, saya hanya melihat satu cara bagaimana menghadapi mereka di Amerika dan didunia barat, dan hal itu adalah dengan cara menjauh dari mereka dan mengingatkan masyarakat tentang mereka. Seorang Syaikh yang saya ketahui mengatakan kepada para murid-muridnya untuk menjauhi mereka, mereka adalah musuh sesungguhnya bagi Islam, dan berbicara dengan mereka akan membawa kegelapan pada hati, bahkan pada seluruh sisa umur kehidupan mereka. Dan butuh waktu seratus tahun untuk membersihkan racun dari hati akibat racun dari ibadah mereka.

Bagaimana cara mengenali mereka?
Disini ada beberapa elemen dasar ciri-ciri mereka sehingga kita dapat menghindari mereka dalam kehidupan didunia maupun diakherat nanti. Insya Allah. Satu-satunya harapan untuk Islam di bumi ini adalah…
Salat mereka tidak sesuai dari salah satu daripada umunya mazhab dalam islam. Khususnya ketika mereka mengangkat tangan mereka setelah ruku dan menyilangkan tangan mereka diantara ruku dan sujud.

Cara mereka ketika Tashahhud (ketika duduk tahiyat) dan menggerakan jari telunjuk mereka terus menerus selama tasahud tersebut. Pemahaman mereka terhadap sunah Mustafa, hadist Nabi saw, sangat kontradiksi dengan seluruh mazhab meskipun mereka menggunakan hadist yang sama yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi saw menggerakkan telunjuknya ketika tashahud. Beberapa mazhab hanya menggerakkan tangan sekali saja, kecuali mazhab Maliki dalam seluruh tashahud tetapi hanya menggerakkan kekiri dan kekanan tidak keatas dan kebawah. Mereka membuat cara yang baru dengan menggerakn telunjuk kesegala arah yang sangat bertentangan dengan cara-cara yang disebutkan dalam mazhab.

Mereka tidak pernah melakuakan Shalat Israq, 2 rakaat sunah setelah matahari terbit, Bila hal ini masih belum cukup untuk mengenali tanda-tanda mereka dan menghindari berkumpul bersama mereka bahkan menjauh dari mereka, maka ada beberapa cirri-ciri mereka lainnya seperti disebutkan dibawah ini.

Mereka berkata, bahwa sholat mereka hanya mengikuti Qur’an dan sunah saja. Berarti kehidupan Islam yang dibangun muslim selama lebih dari 13 abad, sebelum faham mereka muncul pada tahun 1930 an mereka katakan tidak mengikuti Qur’an dan Sunah. Tetapi mereka juga mengatakan kembali kepada sunah adalah keharusan, jangan dengarkan para Imam mazhab atau ulama islam lainnya, siapapun mereka.

Mayoritas muslim akan berpegangan pada Ulama Besar Islam dijaman awal yang mengatakan, “Jika kalian melihat apa yang saya katakan dan hal itu bertentangan dengan sunah Nabi saw, maka abaikan apa yang saya katakan, dan ikuti sunah saja”. Kata-kata ini menggambarkan betapa rendah hatinya ulama besar jaman awal yang tidak ingin menonjolkan diri, tetapi saat ini mereka menghantam saja. Mereka tidak memperhatikan , bahwa Imam yang mengatakan hal ini juga mengatakan, “Jika Nabi saw meninggalkan ku meski hanya satu malam, saya akan menganggap diriku sebagai hipokrit”. Ini adalah ucapan Abu Hanifa Ibn Numan, mudah-mudahan Allah merahmatinya.

Mereka juga berkata,”Mereka adalah manusia biasa dan kita juga manusia”. Kita tahu saat ini yang mereka tak tahu. Yang paling moderat diantara mereka adalah mereka yang tidak berbicara negative mengenai para Imam mazhab, meskipun demikian mereka tetap tidak mengikuti kebiasaan Imam para Madzhab tsb. Mereka mengikuti cara mereka sendiri berdasarkan buku terkenal Sifat Salat Nabi saw, oleh Nasrudin al Albani, Albani bahkan tidak pernah bisa membuktikan bahwa ia telah mendapat Ijazah untuk mengajar dari gurunya.

Satu dari argument terburuk mereka, adalah bertanya mengenai dalil dari Al-Quran dan Sunah yang menjadi pedoman para Ulama Besar tadi. Mereka tidak mengerti bahwa Al-Quran dan Sunah adalah pilar yang mana antara lainnya terbukti termasuk juga Qiyas, Ijma. Dan juga yang tak kalah pentingnya adalah Maaruf, atau berdasarkan pendapat orang yang memiliki moral yang baik dan setuju bahwa amalan tersebut adalah baik.

Jika kalian bertanya kepada mereka mengenai kebiasaan muslim di seluruh dunia memperingati hari kelahiran atau Maulid Nabi, maka mereka akan mengatakan Bid’ah.

Masjid-masjid mereka hanya memiliki dinding yang putih saja, padahal rumah dan kantor mereka penuh hiasan kaligrafi. Tak perlu bertanya kepada mereka mengapa demikian, karena mereka tak akan menjawabnya. Mereka mungkin saja sangat dermawan dan kaya, tetapi berhati-hatilah apa yang mereka katakan dibelakang kalian jika kalian mengatakan bahwa kalian adalah murid dari Syaikh ini. Itu adalah salah satu dosa terbesar dalam pandangan mereka jika kalian memiliki Syaikh.

Mereka mungkin memaafkan kalian jika kalian tak tahu ilmu agama, tetapi mereka tak akan memaafkan kalian jika kalian mempelajari agama melalui seorang Mursyid. Mereka lebih memilih belajar melalui buku, video tape atau melalui universitas mereka.

Poin terakhir dalam bagian ini adalah interpretasi literal mereka dalam sebuah hadis Nabi saw seperti, “Apa yang terdapat di bawah engkel adalah neraka!. Disisi lain mereka cenderung untuk mencari interpretasi sendiri, tetapi paling obvious dari hadist kewalian”, “Aku akan menjadi mata baginya bagi apa yang dilihatnya, menjadi pendengarannya ketika ia mendengar, menjadi tangannya untuk memegang, dan menjadi kakinya dimana ia melangkah”. Pernah saya katakan hadist ini kepada seorang teman di perpustakaan Islamic Center dan satu dari mereka yang duduk disebelahku berkata, “Ini adalah Hululiya!”. Saya tak dapat menahan berkata, “Jika Nabi saw berkata ini adalah hululiya maka saya hululiya.”


Ayatullah Ali Khamenei berkisah: Saya bersama Hashemi Rafsanjani dan seorang lainnya bergerak dari Tehran menuju kota Qom untuk menghadap Imam Khomeini guna menanyakan perihal apa yang harus kita perbuat terhadap para mata-mata yang ditangkap dari kedutaan besar Amerika Serikat. Apakah mereka tetap kita tahan atau kita bebaskan saja. Apalagi pemerintahan sementara saat itu terus menyebarkan pernyataan-pernyataan miring terkait para tahanan tersebut.

Ketika kami sampai di Qom dan menghadap Imam Khomeini, teman-teman menjelaskan keadaan yang sebenarnya dan menambahkan bahwa sejumlah media memberikan tanggapan yang beragam, dan Amerika Serikat juga tak ketinggalan melakukan propaganda, begitu juga pejabat pemerintah memberikan pernyataan yang lain. Setelah berpikir sejenak, Imam Khomeini kemudian bertanya, “Apakah kalian takut kepada Amerika?” Kami menjawab, “Tidak.” Imam melanjutkan dengan mengatakan bahwa tahan saja mata-mata tersebut.

Begitulah, orang akan melihat betapa Imam Khomeini tidak dibuat gentar oleh kedigdayaan lahir dan imperium yang memiliki segalanya. Keberanian dan ketidakgentaran menghadapi kekuatan materi pada diri beliau bersumber dari kepribadian besar dan kearifan beliau. Keberanian yang penuh perhitungan berbeda dengan keberanian yang membabi buta. Contohnya, seorang anak kecil tidak takut pada orang yang kuat dan juga tidak takut terhadap hewan buas. Orang yang kuat juga tidak mengenal rasa takut. Hanya saja manusia terkadang melakukan kesalahan dan tidak menyadari kekuatan yang sebenarnya.
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita: