Dimanakah surah Al-Rum itu diturunkan? Di Mekkah atau di Madinah?
Pertanyaan:
Mengapa surah Al-Rum
disebut sebagai surah Makkiyah? Sementara dalam Sunan Al-Tirmidzi
disebutkan bahwa surah ini diturunkan setelah hijrah Rasulullah Saw ke
Madinah?
Jawaban Global:
Kebanyakan mufasir dan ulama Ulum al-Qur’an baik dari kalangan Sunni
dan Syiah meyakini bahwa surah Al-Rum itu adalah surah Makkiyah
(diturunkan di Mekkah)[1] kecuali ayat 17 dan 18 surah ini yang diturunkan di Madinah.[2]
Adapun riwayat yang disinggung dalam pertanyaan disebutkan di salah satu kitab sahih Ahlusunnah yang menyatakan bahwa surah Al-Rum adalah surah Madaniyah.
Adapun riwayat yang disinggung dalam pertanyaan disebutkan di salah satu kitab sahih Ahlusunnah yang menyatakan bahwa surah Al-Rum adalah surah Madaniyah.
Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Said:
“Tatkala kaum Muslim ikut serta dalam perang Badar pasukan Romawi juga menang atas pasukan Persia. Kemudian orang-orang beriman takjub lalu turunlah ayat yang menyatakan: Ų§ŁŁ ŲŗŁŲØَŲŖِ Ų§ŁŲ±ُّŁŁ (Alif LĆ¢m MĆ®m. Telah dikalahkan bangsa Romawi) hingga ŲØِŁَŲµْŲ±ِ Ų§ŁŁَّŁِ “(karena pertolongan Allah).”[3]
Selanjutnya Tirmidzi berkata: “Nashr bin Ali membaca awal surah Al-Rum dengan “ghalabat” (dalam bentuk aktif [ma’lum]). “
Demikian juga Tirmidzi menilai hadis ini sebagai hadis gharib dan hasan.[4]
Riwayat yang dalam pandangan Tirmidzi sendiri merupakan gharib; bersumber dari perbedaan bacaan yang dibaca dalam bentuk aktif yang dalam hal ini menjelaskan kemenangan orang-orang Roma setelah hijrah bukan kekalahan mereka sebelum hijrah!
Namun riwayat ini tidak begitu banyak memiliki pendukung. Ibnu Asyur – salah seorang mufasir Ahlusunnah pada abad keempat belas - berkata:
“Hal demikian, adalah ucapan yang tidak ada seorang pun yang mengikutinya.[5] Demikian juga tiada seorang pun mufasir Ahlusunah yang menerima ucapan ini.”[6]
Atas dasar itu, sesuai dengan riwayat dan bacaan masyhur yang memandang ayat “ghulibat” - dibaca secara passif – dapat disimpulkan bahwa surah Al-Rum adalah surah Makkiyah dan sejalan dengan peristiwa-peristiwa sejarah.
[1]. Muhammad bin Hasan, Syaikh Thusi, al-TibyĆ¢n fi Tafsir al-Qur’Ć¢n, jil. 8, hal. 227, Beirut, Dar al-Ihya al-Turats al-‘Arabi, Tanpa Tahun; Fadhl bin Hasan Thabarsi, Majma’ al-BayĆ¢n fi Tafsir al-Qur’Ć¢n, jil. 8, hal. 459, Nasir Khusruw, Cetakan Ketiga, Tehran, 1372 S; Muhammad bin Umar Fakhrrurazi, MafĆ¢tih al-Ghaib, jil. 25, hal. 79, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Cetakan Ketiga, Beirut 1420; Sayid Mahmud Alusi, Ruh al-Ma’Ć¢ni fi Tafsir al-Qur’Ć¢n al-Azhim, jil. 11, hal. 18, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Cetakan Pertama, Beirut, 1414 H; Abul Qasim Muhammad bin Muhammad Nuwairi, Syarh Thayyibah al-Nasyr fi al-QirĆ¢’ah, jil. 2, hal. 503, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Cetakan Pertama, Beirut, 1424 H.
[2]. Al-TibyĆ¢n fi Tafsir al-Qur’Ć¢n, jil. 8, hal. 227; Majma’ al-BayĆ¢n fi Tafsir al-Qur’Ć¢n, jil. 8, hal. 459; Abdullah bin Umar Baidhawi, AnwĆ¢r al-Tanzil wa AsrĆ¢r al-Ta’wil, jil. 4, hal. 201, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Cetakan Pertama, Beirut, 1418 H.
[3]. “Alif
Lâm Mîm. Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat dan
mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun (lagi).
Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka kalah dan menang itu).
Dan di hari itu orang-orang yang beriman bergembira (lantaran suatu
kemenangan yang lain). Karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Rum [30]:1-5) Muhammad bin Isa Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi,
Riset dan annotasi: Ahmad Muhammad Syakir, Muhammad Fuad Abdul Baqi,
jil. 5, hal. 343, Syarkah Maktabah wa Mathba’ Mustafa al-Babi al-Halabi,
Cetakan Kedua, Mesir, 1395. Silahkan lihat, Abdur-Rahman, Ibn Abi
Hatim, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Riset oleh: As’ad Muhammad al-Thayyib, jil. 9, hal. 3087, Maktabah Nizar Mustafa al-Baz, Cetakan Ketiga, Arab Saudi, 1419 H.
«Ų¹َŁْ Ų£َŲØِŪ Ų³َŲ¹ِŪŲÆٍ، ŁَŲ§Łَ: ŁَŁ
َّŲ§ Ś©َŲ§Łَ ŪَŁْŁ
ُ ŲØَŲÆْŲ±ٍ ŲøَŁَŲ±َŲŖِ
Ų§ŁŲ±ُّŁŁ
ُ Ų¹َŁَŁ ŁَŲ§Ų±ِŲ³َ ŁَŲ£َŲ¹ْŲ¬َŲØَ Ų°َŁِŚ©َ Ų§ŁŁ
ُŲ¤ْŁ
ِŁِŪŁَ ŁَŁَŲ²َŁَŲŖْ: "Ų§ŁŁ
ŲŗُŁِŲØَŲŖِ Ų§ŁŲ±ُّŁŁ
ُ" - Ų„ِŁَŁ ŁَŁْŁِŁِ – "ŪَŁْŲ±َŲُ Ų§ŁŁ
ُŲ¤ْŁ
ِŁُŁŁَ ŲØِŁَŲµْŲ±ِ
Ų§ŁŁَّŁِ" ŁَŲ§Łَ: ŁَŁَŲ±ِŲَ Ų§ŁŁ
ُŲ¤ْŁ
ِŁُŁŁَ ŲØِŲøُŁُŁŲ±ِ Ų§ŁŲ±ُّŁŁ
ِ Ų¹َŁَŁ ŁَŲ§Ų±ِŲ³َ».
[4]. Ibid.
«ŁَŲ°َŲ§ ŲَŲÆِŪŲ«ٌ ŲَŲ³َŁٌ ŲŗَŲ±ِŪŲØٌ Ł
ِŁْ ŁَŲ°َŲ§ Ų§ŁŁَŲ¬ْŁِ، Ś©َŲ°َŲ§ ŁَŲ±َŲ£َ ŁَŲµْŲ±ُ ŲØْŁُ Ų¹َŁِŪٍّ "ŲŗَŁَŲØَŲŖِ Ų§ŁŲ±ُّŁŁ
ُ"»
[5]. Muhammad bin Thahir, Ibnu Asyur, al-Tahrir wa al-Tanwir, jil. 9, hal. 5, Muassaah al-Tarikh, Cetakan Pertama, Tanpa Tahun.
«Ł ŁŲ°Ų§ ŁŁŁ ŁŁ
Ūتابع٠أŲŲÆ».
[6]. Silahkan lihat, Muhammad Tsanaullah Mazhhari, al-Tafsir al-Mazhhari, jil. 7, hal. 221, Maktabah Rusydiyah, Pakistan, 1412 H.






Post a Comment
mohon gunakan email