Daftar Isi Nusantara Angkasa News Global

Advertising

Lyngsat Network Intelsat Asia Sat Satbeams

Meluruskan Doa Berbuka Puasa ‘Paling Sahih’

Doa buka puasa apa yang biasanya Anda baca? Jika jawabannya Allâhumma laka shumtu, maka itu sama seperti yang kebanyakan masyarakat baca...

Pesan Rahbar

Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts
Showing posts with label Al-Qur'an. Show all posts

Allah SWT Selalu Menuruti Kehendak Sayyidina Umar… Penguasa bani Umayyah dan bani Abbas tak henti-henti berusaha ngotot menampilkan Sayyidina Umar sebagai sosok pribadi agung yang selalu disanjung Allah SWT


Allah SWT Selalu Menuruti Kehendak Sayyidina Umar.

Penguasa bani Umayyah dan bani Abbas tak henti-henti berusaha ngotot menampilkan Sayyidina Umar sebagai sosok pribadi agung yang selalu disanjung Allah SWT….dan diserahi tugas mengontrol, mengarahkan dan  menegur bahkan memerintah dan melarang Nabi pilihan-Nya Muhammad saw. setiap kali beliau melanggar atau menyebrang dari jalan Allah!

Setiap kali Nabi mulia saw. menyalahi Sayyidina Umar dan tidak menuruti kehendaknya, Allah segera mengutus Jibril membawa ayat teguran pedas bahkan tidak jarang juga disertai ancaman keras akan menyiksa beliau saw.

Kisah-kisah konyol pengagungan Sayyidina Umar yang disertai penghinaan kepada Nabi mulia saw. itu disebut oleh ulama Ahlusunnah dengan istilah muwafaqâtu Umar/kesesuaian Umar dengan Allah atau keserasian kehendak Allah dengan apa yang dimaukan Umar!

Para ulama Ahlusunnah begitu antusis membangun keyakinan dan juga hukum atas nama Islam dengan mendasarkannya kepada riwayat-riwayat muwafaqâtu Umar kendati riwayat-riwayat tentangnya adalah palsu –seperti telah dibuktikan para ulama dan juga sangat menghina Nabi saw. dan sangat membahayakan keyakinan akan kesucian Al Qur’an sebagai wahyu Allah yang diturunkan atas Nabi pilihan-Nya…. Namun kecintaan mereka kepada Sayiidina Umar telah membutakan mata hati dan menulikan telinga serta mematikan sikap sensitifitas mereka demi membela kehormatan Nabi mulia Muhammad saw.

Dalam kesemptan ini, saya tidak akan menyibutkkan Anda dengan meneliti riwayat-riwayat muwafaqâtu Umar yang konyol itu… tetapi saya ajak Anda menyaksikan bagaimana para ulama Ahlusunnah itu sedemikian rupa menyanjung Sayyidina Umar sehingga apapun yang ia lakukan selalu dilegalkan dan didukung serta disembadani Allah SWT… apa yang menjadi kegemaran Sayyidina Umar, Allah pasti segera menurunkan Jibril-Nya untuk membawakan ayat Al Qur’an melegalkan yang yang menajdi kegemaran Sayyidina Umar… tidak terkecuali kegemarannya dalam melampiasakan syahwat birahinya di ranjang dengan istri terkasihnya… Allah segera menurunkan ayat A Qur’an untuk memberkahi gaya sek Sayyidina Umar yang kata ulama Ahlusunnah, semua gerak-gerikn dan tutur katanya menjadi cerminan kehendal Allah dan Allah selalu mengawalnya dengan dua malaikat yang membimibingnya kepada kebeikan dan kebenaran sejati…

Umar Gemar Mendatangi Istrinya dari Belakang Dan Allah pun Segera Mendukungnya!
Sampai-sampai untuk gaya sek dan senggama kegemaran Sayyidina Umar pun terpaksa Allah segera menurunkan ayat suci Al Qur’an-Nya untuk menurutinya… Allah tidak ingin mengecewakan Sayyidina Umar!

Jalaluddin as Suyuthi meriwayatkan dari Imam Ahmad, Abdu ibn Humaid, at Turmduzi dan ia menilainya sebagai hadis hasan, an Nasa’i, Abu Ya’la, Ibnu Jarir ath Thabari, Ibnu al Mundzir, Ibnu Abi Hâtim, Ibnu Hibbân, ath Thabarani, dan al Kharâithi dalam kitab Masâwi’ul Akhlâq, al Baihaqi dalam Sunan-nya dan adh Dhiyâ’ al Maqdisi dalam al Mukhtârah-nya dari sahabat Ibnu Abbas ra. ia berkata, “Umar datang menemui Rasulullah saw. dan berkata, ’Wahai Rasulullah, aku telah celaka.’ Apa yang menyebabkamu celaka? Tanya Nabi saw. Umar menjawab, ‘Aku balik tungganganku[1] tadi malam (maksudnya aku datangi ia dari belakang).

Nabi terdiam tidak memjawabnya. Maka segera Allah mewahyukan kepada rasul-Nya ayat:

ِنِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَ قَدِّمُواْ لِأَنْفُسِكُمْ وَ اتَّقُوا اللهَ وَ اعْلَمُوْا أَنَّكُمْ مُّلاَقُوْهُ وَ بَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ

Istri-istrimu adalah ladang (benih) kalian. Maka, datangilah ladang kalian itu kapan pun dan di mana pun kalian kehendaki, dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk diri kalian. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kalian kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.(QS. Al Baqarah;223).

Nabi saw. bersabda, “Datangi istrimu dari depan atau dari belakang tetapi hindarinya lubang dubur dan di saat ia dating bulan.”[2]

Tentunya setelah itu Sayyidina Umar menjadi legah dan tidak lagi gelisah serta dihantui rasa takut melakukannya lagi sebab ternyata Allah pun segera melegalkan apa yang menjagi kegemaran beliau ra.
Demikianlah Anda saksikan bagaimana Allah segera menurunkan ayat yang melegalkan kegemaran sayyidina Umar dan mengusir kegelisahannya… dan karena beliau adalah seorang dari Khulafa’ Rasyidin yang wajib diikuti dan yang sunnahnya disejajarkan dengan sunnah Nabi mulia saw., maka adalah sunnah juga beriqtidâ’/meneladani Sayyidina Umar dalam segala urusan termasuk yang satu ini…. sebagai bukti kesetiaan kepada beliau ra.


Referensi:
[1] Kata al Mubarakfûri, Sayyidina Umar memilih kata tersebut sebagai kata pinjam untuk menunjuk istrinya. Maksudnya Umar ia mendatangi istrinya dari belakang walaupun ia memasukkannya di qubul. Pemaknaan itu baik, walaupun terus terang tidak ada bukti dari teks itu sendiri… sebab teksnya mengatakan bahwa sayyidina Umar membalik tunggangannya, tidak ada sebutan bahwa ia berhubungan badan dengan mendatangi istrinya di lubang depan… Lagi pula jika ia ia yang lakukan, mestinya ia tidak perlu khawatir dan takut celaka… sebab ia sah-sah saja. Allah A’lam. Namun yang pasti apa yang dilakukan sayyidina Umar ini telah membawa keberkahan dengan diturunkannya ayat yang menjelaskan hukum  masalah ini…. Dan kita pun mengerti bepata besar perhatian Allah sehingga apa yang menjadi kegemaram Sayyidina Umar segera dilegalkan secara syar’i.
[2] Tafsir ad Durr al Mantsûr,1/469. Baca juga keterangan al Mubarakfûri dalam Tuhfah al Ahwadzi, syarah at Turmudzi,8/323-324, pada hadis dengan nomer 4064.

Al Qur’an diturunkan secara bertahap


Al Qur’an adalah kumpulan ayat-ayat dan surat-surat yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw sebelum dan sesudah hijrahnya beliau.

Seiring dengan terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu, diturunkan sebuah ayat, sekumpulan ayat, atau satu surah kepada nabi. Peristiwa-peristiwa itulah yang disebut dengan Asbabun Nuzul (sebab-sebab diturunkannya ayat Al Qur’an) yang mana sangat penting bagi kita untuk memahami maksud ayat yang sebenarnya. Hal ini yang membuat Al Qur’an berbeda dengan kitab-kitab langit lainnya yang diturunkan sekaligus.

Beberapa di antara hikmah diturunkannya Al Qur’an sedemikian rupa adalah agar umat Islam selalu merasa mendapatkan perhatian khusus dari Tuhan, sehingga ayat demi ayat Al Qur’an dapat tertanam dengan kuat di hati umat-Nya.

Benarkah Imamah tidak dibahas oleh Al-Qur’an


Kalau saja imamah termasuk pokok agama, lalu kenapa Al-Qur’an tidak membicarakannya?
Bukan hal yang diragukan lagi bahwa kepemimpinan umat sepeninggal Rasulullah Saw membutuhkan sosok yang besar dan mulia, siapa pun orang yang netral dan bijaksana pasti mengakui hal ini, dan ternyata tidak seperti yang dibayangkan oleh si penggugat; kepemimpinan umat atau imamah telah dijelaskan oleh Al-Qur’an secara global.

Ayat-ayat yang menjelaskan imamah atau kepemimpinan umat adalah:

1. Ayat Wilayah
Allah Swt. berfirman:
Hanya sesungguhnya pemimpin kalian adalah Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan membayar zakat dalam keadaan mereka ruku’.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 55).

Banyak sekali mufasir Al-Qur’an dan ahli hadis yang meriwayatkan sya’nun nuzul ayat ini, ‘Suatu ketika, ada pengemis masuk masjid dan minta bantuan, tapi tak seorang pun yang memberinya sesuatu, sampai kemudian Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as yang sedang dalam keadaan ruku’ mengisyaratkan jari-jari bercincinnya ke arah pengemis supaya dia ambil cincinnya untuk memenuhi kebutuhannya, maka si pengemis maju dan melepas cincin beliau lantas pergi.’

Ketika itu Nabi Muhammad Saw mendapat berita akan kejadian tersebut, dan ketika itu pula beliau berdoa kepada Allah Swt, ‘Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menentukan menteri untuk Musa dari keluarganya, tentukanlah pula menteri bagiku dari Ahli Baitku (keluargaku).’ Saat itu juga malaikat pembawa wahyu turun dan menyampaikan ayat di atas kepada beliau.’

Selain ulama Syi’ah, setidaknya 66 ahli hadis dan ahli kalam terkemuka dari kalangan Ahli Sunnah juga telah meriwayatkan sya’nun nuzul ini dalam kitab mereka dengan perbedaan yang tidak berarti. Peneliti temama Allamah Amini menyebutkan referensi periwayatan itu di dalam kitab berharganya Al-Ghodir.[1]

Sekarang, mari kita merenungkan bersama bagaimana ayat ini mengungkapkan masalah imamah atau kepemimpinan:
Kata ‘waliy’ dalam ayat ini berarti pemimpin atau orang yang memegang kendali urusan, itulah kenapa bapak dan hakim atau pemerintah juga disebut dengan ‘wali’ : Al-abu waliyu al-thifl; artinya, bapak adalah wali anaknya. Al-hakim waliyu al-qoshir; artinya, hakim atau pemerintah adalah wali orang yang tak mampu. Dan mengingat bahwa pokok pembahasan sekarang adalah ‘wali orang-orang yang beriman’, maka sudah barang tentu yang dimaksud dengan wali adalah imam, pemimpin dan pemerintah. Bahkan, indikasi-indikasi yang meliputi ayat ini, begitu pula sya’nun nuzulnya merupakan bukti nyata bahwa yang dimaksud dengan kata ‘waliy’ di sini adalah pemimpin.

Indikasi itu antara lain:
1. Jika memang yang dimaksud dengan kata ‘waliy’ dalam kalimat (ولیکم الله) bukan kepemimpinan, tapi bermakna seperti ‘pecinta’ atau ‘penolong’, maka tidak ada alasan yang benar untuk membatasi faktanya hanya pada tiga; Allah Swt, Rasulullah Saw, dan orang mukmin yang memberikan zakat atau sedekahnya dalam keadaan ruku’, karena semua orang yang beriman adalah pecinta, teman, penolong, dan pendukung satu sama yang lain, sehingga pembatasannya hanya pada tiga pihak itu sama sekali tidak bisa dibenarkan.
2. Secara literal, ayat ini menunjukkan hanya tiga yang punya hak wilayah atas umat Islam. Dengan demikian, tidak bisa tidak pihak yang berhak wilayah bukanlah pihak yang berada di bawah wilayahnya. Jika ‘waliy’ dalam ayat ini diartikan dengan pemimpin dan wilayah dengan kepemimpinan terhadap urusan umat Islam maka dua pihak itu jelas terpisah satu dari yang lain, tapi jika kata itu diartikan dengan kawan, pecinta, atau penolong maka dua pihak yang tertera dalam ayat ini tidak lebih dari satu dan tak terpisahkan satu dari yang lain, karena semua orang yang beriman adalah kawan, pecinta dan penolong satu sama yang lain.
3. Seandainya yang dimaksud dengan kata ‘waliy’ dalam ayat ini adalah kawan, pecinta atau penolong maka semestinya ayat ini cukup menyebutkan kalimat orang-orang yang Beriman” dan tidak perlu menambahkan kalimat yang mendirikan shalat dan membayar zakat dalam keadaan mereka ruku”, karena di tengah masyarakat yang beriman setiap orang merupakan kawan, pecinta dan penolong satu sama yang lain; baik mereka membayar zakat dalam keadaan ruku’ atau pun tidak.
Berdasarkan keterangan di atas, maksud yang sesungguhnya dari ayat ini adalah apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah Saw, ‘Wahai Ali, setelahku engkau adalah wali (pemimpin) bagi setiap orang yang beriman.’[2]

Kalimat ‘setelahku’ dalam hadis nabawi ini juga membuktikan bahwa yang dimaksud dengan kata ‘wali’ adalah pemimpin dan pemerintah dalam urusan agama serta dunia, bukan pecinta atau penolong; karena, jika yang dimaksud dengan kata ‘wali’ adalah pecinta atau penolong maka itu tidak terbatas pada masa kepergian Rasulullah Saw.

2. Ayat Aulil Amri.
Ayat Wilayah bukan satu-satunya ayat Al-Qur’an yang menerangkan masalah imamah dan wilayah. Contoh lain dari ayat yang menjelaskan masalah ini adalah Ayat Ulil Amri. Allah Swt. berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Ulil Amri dari kalian.” (QS. Al-Nisa’ [4]: 59).

Ulil Amri berarti para pemimpin, dan di dalam ayat ini menunjukkan makna kepemimpinan sejumlah orang yang ketaatan pada mereka bersandingan dengan ketaatan pada Allah Swt dan Rasul Saw.
Fakhrur Razi di dalam kitab tafsimya punya penjelasan yang menarik sekali. Dia mengatakan, ‘Mengingat bahwa Ulil Amri di sini disandingkan dengan Allah Swt dan Rasul Saw, maka tidak mau tidak orang yang menduduki posisi ini adalah orang yang suci dari dosa dan kesalahan; karena, -selain karena bersandingan dengan dua pihak yang suci dari dosa dan kesalahan (Allah Swt dan Rasul Saw) maka para pemimpin itu juga harus suci dari dosa dan kesalahan- ketaatan yang diwajibkan dalam ayat ini bersifat mutlak dan tanpa syarat, maka para pemimpin yang dimaksud dalam ayat ini juga harus orang yang suci dari dosa dan kesalahan, dan jika tidak demikian maka seharusnya ketaatan itu dibatasi, tapi ternyata Al-Qur’an mewajibkan ketaatan itu tanpa batas dan catatan apa pun.[3]

Sebagaimana yang sudah jelas, dua Ayat Wilayah dan Ayat Ulil Amri menjelaskan masalah imamah atau kepemimpinan secara independen. Pada saat yang sama, ada juga ayat Al-Qur’an yang secara langsung dan terpisah tidak memaparkan masalah imamah, tapi sya’nun nuzulnya membuktikan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan masalah imamah dan kepemimpinan. Seperti Ayat Ikmal.

3. Ayat Ikmal
Allah Swt berfirman:
Pada hari ini orang-orang kafir putus asa dari agama kalian maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku, pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Aku lengkapi nikmat-Ku atas kalian serta telah Aku ridai Islam sebagai agama bagi kalian.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 3).

Para mufasir dan sejumlah ahli hadis menyebutkan bahwa ayat ini turun pada waktu Haji Wada’ Nabi Muhammad Saw, dan tepatnya di Hari Ghadir Khum, yaitu hari ketika Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as dilantik sebagai imam sepeninggal beliau.[4]

Berdasarkan tiga ayat di atas, kiranya itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaan apakah masalah imamah, wilayah atau kepemimpinan telah dijelaskan dalam Al-Qur’an ataukah tidak. Terang saja Al-Qur’an tidak mungkin mengabaikan masalah yang sangat penting ini.

Referensi:
[1] Al-Ghodir, jld. 3, hal. 156-162.
[2] Mustadrok Al-Hakim, jld. 3, hal. 111; Musnad A[!mad,jld. 4, hal. 437.
[3] Mafatih Al-Ghoib (Tafsir Fakhrur Razi), jld. 10, hal. 144.
[4] Al-Dur Al-Mantsur, jld. 2, hal. 298; Fath Al-Qadir, jld. 2, hal. 57; Yanabi’ Al-Mawaddah, hal. 120; Tafsir Al-Munir, jld. 6, hal. 463; Allamah Amini di dalam kitab Al-Ghodir menyebutkan sedikitnya 16 referensi otentik yang meriwayatkan bahwa ayat ini turun di Hari Ghadir Khum. Lihat: Al-Ghodir, jld. 1, hal. 447-458.
[Ja’far Subhani]

Apa gunanya seorang Imam jika ia ghaib?


Oleh: Ja’far Subhani

Apa gunanya kegaiban Imam Mahdi af bagi umat manusia?
Menurut Al-Qur’an, ada dua macam wali Allah Swt; pertama adalah wali yang tampak dan masyarakat mengenalinya secara langsung, dan kedua adalah wali yang gaib atau tidak tampak yang tidak dikenali secara langsung oleh masyarakat, dia ada di tengah mereka tapi pada saat yang sama mereka tidak menyadari kehadiran itu.

Di dalam surat Al-Kahfi, keberadaan dua macam wali itu telah diterangkan secara bersamaan; yang pertama adalah Musa bin Imran dan yang kedua adalah orang yang beliau sertai untuk sementara waktu dalam perjalanan darat serta laut, dia dikenal dengan nama Khidir. Wali Allah Swt bahkan tidak dikenali oleh Nabi Musa as, Allah Swt yang kemudian membimbing beliau untuk mengenalinya dan menimba ilmu darinya. Al-Qur’an menyebutkan:
Mereka menemukan seorang hamba dari hamba-hamba Kami (Khidir) yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari Kami dan yang telah Kami ajarkan kepadanya suatu ilmu dari sisi Kami. Musa berkata kepadanya, ‘Bolehkah aku mengikut engkau agar engkau ajarkan kepadaku sebagian yang telah diajarkan kepadamu, sebagai ptunjuk?” (QS. Al-Kahfi [18]: 65-66).

Setelah itu, Al-Qur’an menjelaskan berapa pekerjaan berharga yang dilakukan oleh wali Allah Swt tersebut dan menunjukkan bagaimana masyarakat tidak mengenalinya, tapi pada saat yang sama mereka mendapatkan basil dan berkah keberadaannya.[1]

Perihal Imam Mahdi af juga seperti halnya wali Allah Swt yang diikuti oleh Nabi Musa as, sama-sama tidak dikenali oleh umat manusia tapi pada saat yang sama menjadi sumber pekerjaan-pekerjaan yang sangat berharga bagi mereka semua. Karena itu, kegaiban beliau bukan berarti keterpisahaan beliau dari masyarakat, melainkan -seperti yang tertera di dalam hadis-hadis para manusia suci as- beliau laksana matahari di balik awan; mata kepala tidak melihatnya tapi pada saat yang sama ia tetap memberikan cahaya dan kehangatan kepada penduduk bumi.[2]

Rasulullah Saw bersabda, ‘Memang benar, sumpah demi Allah Swt yang telah mengutusku sebagai nabi! Umat manusia mendapat keuntungan darinya dan dari cahaya wilayahnya pada masa gaib sebagaimana mereka mendapat keuntungan dari matahari kala berada di balik awan.’[3]

Sinar spiritual wujud Imam Mahdi af yang berada di balik awan gaib mempunyai dampak yang besar sekali, jadi walau pun tidak terjadi pembelajaran, pendidikan dan pembimbingan secara langsung tapi dampak-dampak itu menunjukkan hikmah keberadaannya di sana. Dampak tersebut antara lain:
  1. Penjagaan Agama Allah Swt
Lalu zaman dan campur aduk kecenderungan serta pemikiran pribadi dengan masalah keagamaan, begitu pula kecondongan pada aliran-aliran yang menyimpang dan kelancangan tangan-tangan perusak terhadap ajaran-ajaran samawi lambat laun akan mengikis kesejatian dari ajaran dan undang-undang Ilahi serta memutarbalikkannya.

Air jernih yang mengalir dari langit wahyu lama-lama keruh dan kotor akibat jalur otak-otak yang dilaluinya. Cahaya yang terang benderang ini juga akan terkesan redup karena melewati kaca-kaca pemikiran yang gelap gulita. Singkat kata, akibat perangkaian dan pemangkasan yang dilakukan oleh orang-orang yang berpikiran dangkal maka seringkali kita sangat kesulitan untuk merekognasi dan mengenali masalah yang sebenamya.

Karena itu, bukankah signifikan sekali keberadaan seseorang di tengah umat Islam yang akan menjaga ajaran Islam sebagaimana aslinya untuk orang-orang masa depan?!

Kita tahu bersama bahwa setiap yayasan penting memiliki kotak anti bakar tempat penyimpanan dokumen-dokumen penting dan penjagaannya dari tangan-tangan pencuri serta lahapan api, karena nilai dan kehormatan yayasan itu tergantung pada penjagaan dokumen-dokumen tersebut.

Hati Imam Mahdi af dan ruh mulia beliau adalah kotak penjaga dokumen-dokumen agama Allah Swt yang sejati dan selamat dari distorsi, sehingga bukti-bukti Allah Swt dan tanda-tanda-Nya tidak sampai hilang dan padam. Ini hanya satu dari sekian banyak dampak keberadaan beliau.
  1. Pembinaan Para Penanti Yang Sadar
Tidak seperti yang dibayangkan oleh sebagian orang, hubungan Imam Mahdi af di masa gaib dengan umat tidak sepenuhnya terputus, bahkan sebagaimana telah diterangkan oleh hadis-hadis Islam ada segelintir orang dengan kesiapan paling tinggi yang punya hubungan dengan beliau, mereka itu rahasia penuh gairah kerinduan pada Allah Swt dan hati penuh iman serta keikhlasan yang luar biasa dalam rangka mereali sasikan cita-cita reformasi dunia.

Gaibnya Imam Mahdi af bukan berarti beliau menjadi semacam ruh gaib atau cahaya misterius, bahkan beliau mempunyai kehidupan yang alami dan tenang, tapi beliau secara tidak dikenal berlalu lalang di tengah umatnya. Beliau seleksi hati-hati manusia yang siap lalu meningkatkan kesiapan mereka lebih dari sebelumnya. Orang-orang yang berpotensi pasti meraih taufik dan kebahagiaan ini sesuai dengan tingkat kesiapan masing-masing. Sebagian dari mereka berhubungan dengan beliau hanya sejenak, sebagian lagi berhari-hari, dan sebagian yang lain bahkan sampai bertahun-tahun.

Seperti para pengendara pesawat yang terbang tinggi sampai ke atas awan, orang-orang itu terbang tinggi dengan sayap ilmu dan takwa sehingga tidak ada lagi tabir yang menghalangi sampainya pancaran cahaya matahari, sementara orang lain berada dalam kegelapan dan cahaya redup di bawah awan.

Memang demikianlah yang sebenamya. Orang berharap matahari turun ke bawah awan agar dia dapat melihatnya. Tentu saja harapan semacam ini kesalahan yang besar dan anggapan yang menyimpang. Kitalah yang seharusnya meningkatkan diri dan terbang lebih tinggi daripada awan sehingga dapat merasakan pancaran cahaya matahari.

Ala kulli hal, pembinaan para penanti ini juga salah satu hikmah di balik gaibnya Imam Mahdi af.
  1. Pengaruh Ruhani Yang Tersembunyi
Seperti telah kita ketahui bersama, matahari mempunyai pancaran jelas yang apabila dianalisis maka kita akan melihat tujuh warna. Di samping itu, ia juga mempunyai pancaran yang tak terlihat disebut dengan radiasi ultra violet dan radiasi infra merah. Sama halnya dengan itu, pemimpin samawi, baik seorang nabi atau imam, selain melakukan pembinaan undang-undang syariat -melalui ucapan, tindakan, pembelajaran dan pendidikan reguler- dia juga melakukan pembinaan ruhani melalui ilfiltrasi maknawi ke dalam hati dan pikiran manusia, hal itu bisa juga disebut sebagai pembinaan cipta atau pembinaan secara eksistensial. Dalam pembinaan yang terakhir ini, tidak ada lagi huruf, kata, kalimat, ucapan atau pun perbuatan, yang efektif di sini hanyalah gravitasi internal.

Wujud penuh berkah Imam Mahid af di balik awan gaib juga mempunyai dampak semacam ini, melalui pancaran cahayanya yang kuat dan luas beliau menarik hati-hati yang siap, baik jauh maupun dekat, dengan itu beliau membina mereka sampai menjadi manusia yang sempuma. Kita melihat kutub magnetik bumi dengan mata kepala, tapi pengaruhnya tampak pada jarum-jarum kompas yang menjadi panduan bagi kapal, pesawat di udara, dan lain-lain di sahara serta angkasa. Berkah gelombang ini dirasakan di seluruh penjuru bumi, sehingga jutaan musafir dapat menempuh perjalanannya sampai tujuan. Kendaraan-kendaraan besar dan kecil terselamatkan berkat panduan jarum-jarum yang kelihatan kecil ini.

Dengan demikian, kenapa heran jika keberadaan penuh berkah Imam Mahdi af pada masa gaib memberi hidayah kepada pikiran dan jiwa yang dekat maupun jauh dengan gelombang-gelombang gravitasinya serta menyelamatkan mereka dari kebingungan? Tentunya jangan lupa bahwa gelombang-gelombang magnetik bumi tidak berpengaruh pada besi-besi yang tidak berharga, melainkan berpengaruh hanya pada jarum-jarum lembut yang sensitif dan mempunyai karakteristik feromagnetik serta kesesuaian dengan kutub pengirim gelombang magnetik. Maka itu, hati-hati yang berhubungan dengan Imam Mahdi af dan mempunyai kesesuaian tertentu dengan beliau pasti terkena daya tarik ruhani beliau.

Dampak-dampak keberadaan penuh berkah Imam Mahdi af sangatlah banyak dan tidak mungkin untuk dijelaskan dalam kesempatan yang terbatas sekali. Di sini kami cukupkan sampai sekian, dan Alhamdulillah para peneliti muslim telah menjelas kannya secara panjang lebar dalam karya tulis mereka, kami sarankan kepada yang berrninat untuk menelaahnya.

Referensi:
[1] Lihat: QS. Al-Kahfi (18): 71-82.
[2] Kamal Al-Din, Syaikh Shaduq, bah 45, hadis no. 4, hal. 485.
[3] Bihar Al-Anwar, jld. 52, hal. 93 dinukil dari kitab di atas.

Mengenal Dokter Penyakit Batin


Sumber :
Buku : taubat dalam naungan kasih sayang
Karya : Ayatullah Husein Ansariyan

Dosa adalah penyakit batin. Orang-orang yang berdosa harus memahami bahwa dosa yang melekat pada dirinya tersebut, pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang bersifat alami. Artinya, sebagaimana penyakit-penyakit lahiriah manusia yang timbul dikarenakan faktor-faktor eksternal tertentu, dosa yang merupakan sebuah penyakit, juga muncul pada diri manusia dikarenakan faktor-faktor eksternal tertentu.

Sebagaimana seorang yang sakit, guna meraih kesembuhan, ia harus pergi ke dokter untuk mendapatkan resep dan obat bagi penyakitnya tersebut, maka seseorang yang terjangkit penyakit batin (jatuh dalam dosa), maka baginya juga terdapat para dokter ahli di bidang tersebut, dimana dengan mengikuti anjuran dan instruksi dari para dokter tersebut, maka sang pasien yang terjangkit penyakit batin juga akan meraih kesembuhan, seberapapun berat dan parahnya penyakit tersebut. Para dokter ahli di bidang ini adalah Allah Swt, Rasulullah saw, para imam maksum as, dan ulama.

Resep obat dari Allah Swt adalah al-Quran, dan resep dari Rasulullah saw, para Imam maksum as, dan ulama adalah hadis-hadis, nasihat-nasihat, dan berbagai hikmah. Rasulullah saw, dalam sabdanya yang ditujukan kepada orang-orang berdosa, mengatakan, “Wahai kalian yang berdosa, kalian adalah orang-orang yang sakit, dan Tuhan penguasa alam adalah dokternya. Kesembuhan dan kebaikan orang yang sakit terletak pada anjuran dan apa yang diperintahkan oleh sang dokter, bukan yang disukai dan sesuai keinginan orang yang sakit.”.

Dinukil dari buku taubat dalam naungan kasih sayang, karya Ayatullah Husein Ansariyan.

Masjid Baru di Kameron Resmi Dibuka


Sebuah masjid baru yang terletak di sebuah kota di barat daya Kameron resmi dibuka. Pembukaan resmi masjid yang bernama Dar al-Sa’adat ini dilakukan oleh Asosiasi Kemanusiaan Turki.

Peresmian masjid dihadiri oleh para pejabat setempat, anggota Asosiasi Kemanusiaan Turki, dan warga setempat.

Acara peresmian dibuka dengan pembacaan ayat-ayat Qurani. Mereka juga menggelar salat Zhuhur berjamaah di masjid ini.

Masjid yang terletak di desa Makura ini dibangun di atas tanah seluas 100 meter persegi. Di samping digunakan sebagai tempat salat, masjid ini juga akan dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan budaya dan sosial.

Thomas Alva Edison dengan menemukan listrik ia telah memberikan kontribusi terbaik kepada umat manusia; milyaran manusia memanfaatkan temuan tersebut. Akan tetapi seorang ruhani yang hanya membaca al-Qur’an di salah satu sudut masjid dan belajar Fikih ata






Terkadang orang-orang di luar berkata, misalnya, Thomas Alva Edison dengan menemukan listrik ia telah memberkan kontribusi terbaik dan terbesar kepada umat manusia; milyaran manusia memanfaatkan temuan tersebut. Akan tetapi seorang ruhani hanya dengan membaca al-Qur'an di salah satu sudut masjid dan belajar fikih atau filsafat atau menyampaikan pelajaran tafsir, apa pengaruhnya bagi masyarakat? Atau mereka berkata, seorang ruhani hanya duduk, menyampaikan pelajaran dan paling maksimal menulis sebuah risalah Fikih. Kontribusi apa yang telah ia lakukan untuk masyarakat? Namun lihatlah seorang pastor alangkah besarnya sumbangsih yang mereka lakukan untuk umat manusia. Alangkah banyaknya orang-orang sakit memperoleh kesembuhan dan masih banyak tindakan kemanusiaan lainnya. Kira-kira jawaban apa yang harus diberikan dalam menghadapi ucapan-ucapan seperti ini?

Jawaban Global:
Dalam klasifikasi ilmu, dari sudut pandang kedudukan dan tingkatan, tingkatan pertama adalah ilmu-ilmu Ilahi. Ilmu-ilmu Ilahi adalah ilmu-ilmu yang marak dipelajari di seminari-seminari dan hauzah-hauzah ilmiah. Kemudian setelah itu, giliran ilmu-ilmu lainnya.

Menurut hemat kami, pekerjaan-pekerjaan kaum ruhaniawan, dosen-dosen, guru-guru dan cendekiawan ilmu-ilmu humaniora tentu lebih tinggi kontribusinya (keilmuan) dari kontribusi yang hanya berdimensi material (meski pekerjaan mereka juga tetap mengandung nilai); karena kebutuhan-kebutuhan mental, psikologikal dan spiritual manusia lebih prioritas daripada kebutuhan-kebutuhan material.

Pekerjaan kaum ruhaniawan adalah mengerangka dan membangun dimensi mental dan spiritual manusia dan masyarakat. Apabila sebuah komunitas mengalami kemajuan yang sangat pesat dari sudut pandang material, namun pada sisi moral dan spiritual berada pada derajat sedimenter dan rendah, tentu sangat tidak berharga. Dan boleh jadi produk-produk material yang mereka ciptakan alih-alih mendatangkan manfaat malah menimbulkan bencana bagi masyarakat. Karena itu, jenis perkerjaan para alim dan cendekiawan tentu berbeda satu sama lain. Dan kita harus secara proporsional menilai mereka berdasarkan jenis pekerjaannya masing-masing.

Jawaban Detil:
Kebutuhan-kebutuhan manusia terdiri dari dua jenis, kebutuhan material dan kebutuhan spiritual. Setiap orang atau kelompok dengan memperhatikan kemampuan, minat dan bakatnnya, masing-masing memilih dua bidang kebutuhan ini. Dengan melakukan penelitian dan usaha dalam bidang tersebut mereka memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Sebagaimana yang Anda ketahui bahwa dalam klasifikasi ilmu, dari sudut pandang kedudukan dan tingkatan, tingkatan pertama adalah ilmu-ilmu Ilahi. Ilmu-ilmu Ilahi adalah ilmu-ilmu yang marak dipelajari di seminari-seminari dan hauzah-hauzah ilmiah. Kemudian setelah itu, giliran ilmu-ilmu lainnya.

Menurut hemat kami, pekerjaan-pekerjaan kaum ruhaniawan, dosen-dosen, guru-guru dan cendekiawan ilmu-ilmu humaniora tentu lebih tinggi kontribusinya (keilmuan) dari kontribusi yang hanya berdimensi material (meski pekerjaan mereka juga tetap mengandung nilai); karena kebutuhan-kebutuhan mental, psikologikal dan spiritual manusia lebih prioritas daripada kebutuhan-kebutuhan material.

Apabila sebuah komunitas mengalami kemajuan yang sangat pesat dari sudut pandang material, namun pada sisi moral dan spiritual berada pada derajat sedimenter dan rendah, tentu tidak akan ada nilai dan harganya. Dan boleh jadi produk-produk material yang mereka ciptakan alih-alih mendatangkan manfaat malah menimbulkan bencana bagi masyarakat. Karena itu, jenis perkerjaan para alim dan cendekiawan tentu berbeda satu sama lain. . Dan kita harus secara proporsional menilai mereka berdasarkan jenis pekerjaannya masing-masing.

Sebagaimana yang Anda ketahui bahwa para nabi datang untuk mengobati pelbagai penyakit mental, moral dan spiritual masyarakat, "Nabi Saw adalah tabib yang berkelana yang telah menyiapkan obat-obatannya dan memanaskan peralatannya. Beliau menggunakannya bilamana timbul keperluan untuk menyembuhkan hati yang buta, telinga yang tuli, dan lidah yang kelu. Beliau menyelamatkan manusia dari kematian spiritual."[1]

Al-Qur'an dalam hal ini menyatakan, "Wa man ahyâha fakannama ahyânnâsa jami'ân." "Barang siapa yang memelihara kehidupan seseorang maka seolah-olah ia telah menghidupkan seluruh manusia." (Qs. Al-Maidah [5]:32).

Yang dimaksud dengan "menghidupkan" (ahyâ) pada ayat ini bukanlah, "menghidupkan satu manusia hidup atau menghidupkan seorang manusia yang telah mati, melainkan yang dimaksud adalah menghidupkan dalam kebiasaan orang-orang berakal. Tatkala dokter mengobati sebuah penyakit atau menyelamatkan seseorang supaya tidak tenggelam atau melepaskan seorang tawanan dari tangan musuh, orang-orang berakal berkata bahwa ia telah menghidupkan seseorang (atau berkata memberikan hak hidup kepadanya).

Allah Swt juga dalam firman-Nya menggunakan ungkapan-ungkapan misalnya membimbing kepada kebenaran sebagai "ahyâ" (menghidupkan) dan menyatakan,"Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia." (Qs. Al-An'am [6]:122)[2]

Apabila demikian adanya sebagaimanya yang telah mengemuka dalam pertanyaan maka dapat diambil kesimpulan bahwa ayah dan ibu yang mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan baik, para guru dan dosen juga yang sibuk dengan ilmu-ilmu humaniora tentu mereka tidak melakukan pekerjaan baik dan memberikan kontribusi berharga kepada masyarakat. Orang-orang yang melakukan kebaikan dan memberikan kontribusi berharga hanyalah orang-orang yang mempersembahkan sesuatu dari sisi material saja dan mengabaikan sisi-sisi lainnya. Tentu saja penilaian seperti ini tidak dapat dibenarkan.

Karena itu, pekerjaan kaum ruhaniawan harus ditinjau dan dianalisa dari sisi risalah dan tugas kaum ruhaniawan, tidak seperti penilaian sebagian orang, karena kalau demikian adanya, harus dikatakan (naudzubillah) bahwa para nabi Ilahi, para imam, para guru, arif besar juga tidak melakukan pekerjaan positif dan tidak memberikan kontribusi berharga kepada masyarakat; karena mereka hanya membenahi sisi moral dan spiritual masyarakat.

Referensi:
[1]. Nahj al-Balâghah, hal. 156, Fitnah Bani Umayyah.
[2]. Sayid Muhammad Husain Thabathabai, al-Mizân, terjemahan Persia oleh Sayid Musawi Hamadani, jil. 5, hal. 317, Intisyarat Islami, Qum.

Imam Jawad dan Keridhaan Allah Swt


Setiap Imam dari Ahlul Bait as di setiap zamannya merupakan sosok termulia dan terpandai. Mereka memiliki metode berbeda untuk menyampaikan ajaran suci Rasulullah. Kepatuhan kepada Allah Swt merupakan landasan hidup para Imam Ahlul Bait. Oleh karena itu, mereka sangat peka terhadap masalah seperti keadilan, menyelamatkan manusia dari penyembahan selain Allah dan meluruskan hubungan pribadi serta sosial.

Meski para Imam dalam sejumlah masalah kecil tidak berhasil mendirikan pemerintahan, namun dalam pandangan mereka kekuasaan dan pangkat hanya sarana untuk menegakkan keadilan, hak, menghancurkan kebatilan dan menegakkan agama Tuhan. Namun mengingat para Imam di setiap prilakunya merupakan manifestasi nilai-nilai luhur kemanusiaan dan moral maka secara tidak langsung kharisma mereka menempati setiap lubuk hati manusia.

Imam Jawad as dilahirkan pada tahun 195 Hijriah di kota Madinah. Imam Jawad as sejak kecil hingga menginjak usia remaja telah dikenal akan keilmuan, kefasihan, kesabaran dan ketakwaan. Beliau memiliki kecerdasan dan cara penyampaian yang lugas. Meskipun usianya masih muda belia, tapi dari sisi keilmuan dan keutamaan beliau telah disejajarkan dengan tokoh-tokoh masa itu. Dalam sejarah disebutkan, saat musim haji sekitar 80 orang ahli fiqih dari Baghdad dan kota-kota lain menuju Madinah untuk bertemu dengan Imam Jawad as. Mereka mencecar Imam dengan pelbagai pertanyaan ilmiah, namun Imam Jawad as dengan tenang dan mantap menjawab semua yang ditanyakan. Kejadian ini memupuskan segala keraguan yang selama ini menggelayut benak mereka.

Imam Jawad as hidup sezaman dengan dua khalifah Bani Abbasiah, Makmun dan Mu`tashim al-Abbasi. Sementara itu, pemerintahan Bani Abbasiah terkenal menyimpang dari ajaran Islam. Mereka hanya menampilkan keislaman secara zahir. Di saat yang sama pemerintahan Bani Abbasiah juga memiliki program terencana untuk mengubah ajaran suci Islam. Sementara itu, sikap anti dan penentangan yang ditunjukkan Imam Jawad terhadap pemerintah berkuasa mendapat reaksi luas. Sikap Imam ini juga menjadi sebab kehidupan beliau senantiasa menghadapi rongrongan dari penguasa.

Imam Jawad seperti para Imam Ahlul Bait lainnya tidak tinggal diam menyaksikan kezaliman dan penyimpangan yang dilakukan penguasa Abbasyiah. Kebenaran terus disampaikan Imam meski kepada masyarakat dalam kondisi yang sesulit apapun. Keberanian, ketegasan dan perlawanan beliau terhadap kezaliman penguasa membuat Bani Abbasyiah tak mampu membiarkan beliau untuk bebas bergerak dan membiarkannya terus hidup. Oleh karena itu, penguasa Bani Abbasiah meneror Imam Jawad di usia yang relatif muda, 25 tahun.

Salah satu usaha penting Imam di bidang budaya adalah meriwayatkan hadis sahih dari Rasulullah dan para Imam Ahlul Bait serta menjelaskannya kepada umat Islam. Kita pun kini menyaksikan warisan tak ternilai dari Imam Jawad berupa hadis dan petuah-petuah suci beliau. Selain meriwayatkan hadis, Imam Jawad juga aktif di tengah-tengah masyarakat menyebarkan budaya dan ajaran Islam. Imam juga tak kenal lelah memberikan petunjuk soal ekonomi dan kebutuhan pemikiran umat.

Di antara metode yang ditempuh Imam Jawad untuk melaksanakan perintah Allah adalah menciptakan relasi kuat antara manusia dan al-Quran. Menurut beliau ayat-ayat suci al-Quran harus merata di tengah masyarakat dan umat Islam di setiap ucapan serta prilakunya mencontoh ajaran al-Quran. Imam menandaskan bahwa mencari kerelaan Allah merupakan kunci kebahagiaan manusia. Dengan bersandar pada ajaran al-Quran, Imam menekankan kerelaan dan keridhaan Allah di atas segala sesuatu. Di ayat ke 72 Surat Taubah, Allah Swt menjelaskan bahwa kerelaan-Nya bagi seorang mukmin lebih utama dari segala sesuatu termasuk surga.

Imam Jawad as meminta masyarakat untuk senantiasa memikirkan kerelaan Allah Swt. Dalam hal ini beliau memberikan wejangan kepada umat Islam. Beliau bersabda, "Tiga hal dapat mengantarkan manusia kepada ridha Allah; banyaknya istighfar, keramah-tamahan dan banyak bersedekah. Tiga hal jika dimiliki oleh seseorang, ia tidak akan menyesal; tidak terburu-buru, bermusyawarah dan bertawakal kepada Allah ketika ia sudah mengambil keputusan".

Salah satu nikmat Ilahi bagi manusia adalah beristighfar dan bertaubat. Taubat dan istighfar merupakan salah satu pintu dari pintu-pintu Ilahi bagi hambaNya. Dengan bertaubat, dosa-dosa yang ada tersapu bersih dan manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri serta memperbaiki kesalahannya dengan melakukan perbuatan bajik. Oleh karena itu, dalam bertaubat manusia dilarang bermain-main. Taubat harus dilakukan dengan serius, karena penyesalan membawa beban di pundak manusia.

Istighfar berarti meminta pengampunan. Artinya manusia meminta Allah mengampuni kesalahannya dan mengharap dirinya masuk dalam rahmat Ilahi. Imam Ali as terkait hal ini berkata," Di alam ini terdapat dua sarana untuk menyelamatkan manusia dari siksaan Allah. Pertama adalah keberadaan Rasulullah yang terputus dengan wafatnya beliau. Namun sarana kedua kekal hingga hari Kiamat. Sarana itu adalah istighfar. Oleh karena itu, berpegang teguhlah dengan istighfar dan jangan sekali-kali kalian lepas.

Istighfar dapat menjadi perantara untuk menyingkirkan azab dunia dan akhirat yang ditimbulkan oleh perbuatan jelek manusia. Salah satu dampak dari istighfar menurut al-Quran adalah mencegah azab Ilahi, pengampunan dosa serta menambah rizki, kesejahteraan dan usia. Sikap ramah, menurut Imam Jawad dapat menuntun manusia mencapai keridhaan Allah. Di metode pertama (istighfar) Imam menjelaskan hubungan antara seorang hamba dan Tuhan. Metode kedua dan ketiga mengajarkan manusia bagaimana berinteraksi dengan sesamanya. Artinya keridhaan Allah dapat dicapai seseorang dengan melayani dan mengabdi kepada sesamanya.

Pastinya sifat ramah tamah membuat seseorang menjadi tawadhu (rendah hati) dan tidak congkak, karena kesombongan membuat seseorang tak segan-segan berlaku zalim kepada sesamanya. Metode ketiga menurut Imam Jawad untuk mencapai keridhaan Tuhan adalah bersedekah. Imam Jawad sendiri terkenal karena kedermawanannya sehingga dijuluki al-Jawad. Dengan demikian beliau sendiri telah memberi contoh kepada umatnya dan tidak sekedar menganjurkan.

Infak dan sedekah banyak disinggung dalam al-Quran. Ibarat ini disebut al-Quran setelah shalat yang merupakan ibadah paling urgen bagi manusia. Dengan demikian menurut Imam Jawad penghambaan memiliki dua sayap. Sayap pertama, interaksi dengan Allah dan sayap kedua interaksi dengan sesama manusia dengan penuh tawadhu. Sifat tawadhu pada diri manusia dapat dipupuk dengan membiasakan diri memberi sedekah dan berinfak.

Setiap manusia berhak mengeluarkan hartanya dengan berinfak di jalan Allah. Namun demikian jangan sampai manusia memaksakan diri sehingga dirinya malah mendapat kesulitan. Infak dan berbuat baik dengan segala bentuknya khususnya bersedekah merupakan salah satu jalan bagi manusia untuk mencapai keridhaan Allah Swt. Karena manusia dengan kerelaannya mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Orang seperti ini telah melepas keterikatan dirnya dengan materi demi keridhaan Allah.

Nasihat Imam Husein as: Jangan Permalukan Dirimu


Imam Husein as berkata:

"Betapa memalukan bagi seseorang ketika engkau melihatnya menjatuhkan dirinya dari maqam yang tinggi ke posisi yang rendah. Ia begitu berharap melakukan perbuatan yang tidak patut dan tidak suka melakukan perbuatan baik." (Diwan al-Imam al-Husein as, hal 18)

Manusia merupakan ciptaan Allah Swt yang paling mulia. Allah menganugerahkan nikmat paling besar seperti akal kepada manusia. Allah juga mengirim para nabi untuk membimbing manusia. Dengan memanfaatkan dua nikmat ini; akal dan nabi, manusia dapat mencapai kesempurnaan dan meraih maqam yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari para malaikat serta memanfaatkan nikmat-nikmat Allah yang tak terhingga di surga.

Betapa memalukannya bila manusia menghinakan dirinya dengan menjatuhkan dirinya dari maqam yang tinggi ini ke posisi yang rendah dengan mengikuti hawa nafsunya. Siapa saja yang telah tertawan oleh hawa nafsunya akan terlihat bermalas-malasan dalam berbuat baik. Sebaliknya, mereka begitu berharap untuk melakukan perbuatan buruk.

Sedemikian buruknya orang yang mengikuti hawa nafsunya, sehingga posisi mereka lebih rendah dari binatang, seperti yang disebut dalam al-Quran.

Sumber: Pandha-ye Emam Hossein.

Mutiara Hikmah dari Imam Hasan Askari as


Imam Hasan al-Askari as, putra Imam Ali al-Hadi, dilahirkan pada 8 Rabiul Akhir tahun 232 Hijriah di kota Madinah. Beliau memangku tugas imamah pada usia 22 tahun, setelah ayahnya meneguk cawan syahadah. Di usia yang masih sangat muda itu, beliau mendapat mandat Ilahi untuk menjadi pelita hidayah bagi umat manusia. Julukan al-Askari yang beliau sandang merujuk pada suatu tempat yang bernama Askar, di dekat kota Samarra, Irak. Ibu Imam Askari bernama Haditsa, meski ada juga yang menyebut ibu beliau bernama Susan atau Salil. Setelah sang ayah wafat, Imam Hasan Askari as hidup selama 6 tahun, dan sepanjang itulah masa kepemimpinannya.

Kelahiran manusia-manusia suci dari Ahlul Bait Nabi as senantiasa membawa keberkahan dan kemuliaan bagi umat Islam. Ahlul Bait as adalah insan-insan mulia yang menjadi teladan dan lentera bagi umat manusia dalam merajut jalan kebenaran. Salah satu misi global Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Baitnya adalah menyampaikan dan mengawal ajaran agama dan pemikiran-pemikiran Islam. Rasul Saw dan para penerus misi beliau telah mengemban tugas tersebut sesuai dengan kondisi sulit di masa itu. Mereka semua memikul dua tugas utama yaitu, memberi petunjuk dan pencerahan kepada masyarakat, dan memperingatkan mereka akan pemikiran-pemikiran menyimpang.

Imam Askari as sepanjang hidupnya tidak pernah alpa memerangi kezaliman dan penindasan di tengah masyarakat. Imam Askari as senantiasa berada dalam pengawasan para penguasa Dinasti Abbasiyah, karena adanya riwayat-riwayat dari Nabi Saw yang menguatkan bahwa Imam Mahdi as – sang juru selamat – akan terlahir ke dunia sebagai putra Imam Askari as. Oleh karena itu, para penguasa merasa takut akan kemunculannya yang akan memenuhi dunia ini dengan keadilan.

Meski menghadapi kondisi sulit, Imam Askari as berhasil menyebarluaskan nilai-nilai dan pemikiran murni Islam di tengah masyarakat. Pernyataan rasional dan argumentatif Imam Askari as dalam menjawab berbagai ketimpangan dan penyimpangan, membuktikan bahwa beliau memiliki program komprehensif untuk menyebarkan kebenaran Islam. Imam Askari as aktif menghalau pemikiran-pemikiran sesat yang menyerang masyarakat Islam pada masa itu. Beliau mengambil sikap tegas dan jelas terhadap berbagai kelompok dan mazhab pemikiran seperti, sufisme, ghulat, politeisme, dan pemikiran-pemikiran sesat lainnya.

Imam Askari as menilai pengabdian tulus kepada masyarakat sebagai dimensi dari iman dan selalu menekankan kepada para pengikutnya untuk berlaku baik dan terpuji. Banyak ayat al-Quran juga menyebut kata amal shaleh setelah kata iman. Oleh karena itu, Imam Askari as menganggap pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu contoh dari beramal shaleh. Beriman kepada Allah Swt dan mengabdi kepada manusia merupakan dua dasar untuk membangun masyarakat yang sehat. Kitab suci al-Quran juga sangat menekankan manusia untuk saling membantu dalam kebaikan dan ketaqwaan. Sebaliknya, Allah Swt melarang manusia untuk saling menolong dalam melakukan perbuatan dosa dan maksiat.

Di antara nilai-nilai luhur Islam adalah memberi perhatian kepada sesama, bekerjasama dalam kebaikan, dan mengabdikan diri untuk masyarakat. Dari berbagai ayat dan riwayat terlihat jelas bahwa tidak ada perbuatan lain – setelah menunaikan kewajiban – seperti berbuat baik dan mengabdi kepada masyarakat, yang akan mendekatkan seseorang kepada Allah Swt. Oleh sebab itu, para nabi dan imam maksum senantiasa mengabdikan dirinya untuk masyarakat dan membantu mereka dalam kebaikan. Imam Askari as berkata, "Dua perkara yang tidak ada sesuatu pun yang lebih tinggi darinya yaitu, beriman kepada Allah dan berbuat baik kepada sesama."

Imam Askari as selalu menekankan kepada para pengikutnya untuk bersikap jujur, membersihkan diri dan beramal shaleh. Hal ini beliau lakukan demi menjaga ajaran suci Islam. Imam menyadari sepenuhnya usaha memperdalam dan menyebarkan ajaran Islam terletak pada penerapan nilai-nilai Islam itu sendiri. Karena ketika iman dan amal saling berhubungan dengan kokoh, maka pengaruhnya pun semakin kuat. Oleh karena itu, Imam Askari as menekankan kepada para pengikutnya untuk mengoreksi diri dan tidak memandang remeh dosa.

Dalam perspektif Imam Askari as, para pengikut sejati Ahlul Bait as adalah mereka yang bersikap seperti para pemimpin agamanya dalam menjalankan ajaran Ilahi dan meninggalkan larangannya serta mengabdi kepada sesama. Ketika mendefinisikan kata Syiah, Imam Askari as berkata, "Para pengikut dan Syiah Ali adalah mereka yang memprioritaskan saudara-saudara seiman dari dirinya meskipun ia sendiri butuh."

Memperhatikan pentingnya pengabdian kepada masyarakat, Imam Askari as juga mengingatkan para ulama dan intelektual untuk tidak melupakan tanggung jawab besar itu. Beliau as berkata, "Kelompok ulama dan intelektual pengikut kami yang berusaha memberi pencerahan dan mengatasi masalah para pecinta kami, pada hari kiamat mereka akan tiba di padang mahsyar dengan memakai mahkota kemuliaan dan cahaya mereka menerangi semua tempat dan semua penduduk mahsyar memperoleh manfaat darinya."

Imam Askari as menyerukan kepada umat Islam untuk berakhlak mulia di tengah masyarakat. Beliau berkata, "Allah Swt senantiasa mengingatkan agar bertakwa dan jadilah keindahan bagi kami dengan amalmu. Kami bahagia, jika salah seorang dari kalian bersikap wara dan jujur, menjalankan amanah dan berbuat baik kepada orang lain."

Selain berbuat baik kepada sesama, perintah lain yang sangat ditekankan Islam dalam Quran dan Sunnah Rasul adalah berfikir. Kekuatan pemikiran adalah anugerah Allah Swt yang hanya diberikan kepada manusia. Berbagai kemajuan sains dan teknologi merupakan berkah nikmat akal dan pemikiran. Dengan kemampuan besar ini, manusia mampu menyingkap berbagai rahasia alam semesta.Terkait hal ini, Imam Askari as berkata, "Ibadah bukan dilihat dari banyaknya shalat dan puasa, namun berfikir dan beribadah kepada Tuhan."

Berikut ini kami sajikan ucapan penuh hikmah dari Imam Askari as pada hari syahadahnya, "Saya berwasiat kepada kalian untuk bertakwa dalam agama, berusaha demi Allah semata, jujur, bersikap amanah dan berbuat baik dengan tetangga. Bertakwalah kepada Allah dan jadilah hiasan kami. Perbanyaklah zikir kepada Allah, mengingat mati, membaca al-Quran dan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Karena bersalawat kepada Nabi Muhammad Saw memiliki sepuluh kebaikan. Bila ada di antara kalian yang bertakwa dalam agamanya, jujur dalam ucapannya, amanah dan berakhlak mulia terhadap masyarakat, maka orang yang seperti ini dapat dikatakan sebagai pengikut kami. Perbuatan seperti ini yang membuatku gembira dan membuatku meminta kalian untuk konsisten. Aku menyerahkan kalian kepada Allah dan salam buat kalian."       

Imam Askari diracun dan syahid pada 8 Rabiul Awwal 260 Hijriah. Beliau dimakamkan di samping ayahnya, Imam Ali al-Hadi as, di kota Samarra, Irak. Berikut ini, kami sajikan dua mutiara hikmah dari Imam Hasan Askari as, "Tidak ada kemuliaan bagi orang yang meninggalkan kebenaran, dan tidak ada kehinaan bagi orang yang mengamalkannya." "Seluruh keburukan telah terkumpul dalam satu rumah, dan kuncinya adalah dusta."

Ketika Imam Ali as dan Sayidah Fathimah as Bercanda


Salman al-Farisi mengisahkan:
"Suatu hari Sayidah Fathimah az-Zahra as mendatangi ayahnya.

Ketika Nabi Saw melihat mata Sayidah Fathimah as, anaknya, beliau menyaksikan ada sisa air mata yang menggantung di pelupuk matanya. Akhirnya beliau menanyakan apa penyebab tangisannya.

Sayidah Fathimah az-Zahra menjawab, ‘Ayah, kemarin ada kejadian antara aku dan suamiku, Ali bin Abi Thalib as. Pada waktu itu kami tengah berbicara dan diselingi dengan candaan. Saya mengucapkan sebuah kalimat dengan niat bercanda, tapi kemudian ucapan itu membuat hati suamiku sedih.

Karena merasa suamiku sedih, saya sangat menyesali apa yang kuucapkan kepadanya. Aku telah meminta maaf kepadanya dan merelakanku.

Suamiku menerima permintaan maafku dan kembali terlihat gembira, lalu tertawa lagi denganku. Saya merasa ia telah merelakanku. Tapi saat ini saya masih khawatir, jangan sampai Allah Swt murka dan tidak merelakanku.'

Begitu mendengar kisah yang disampaikan Sayidah Fathimah as, Nabi Saw berkata, ‘Anakku, kerelaan dan kegembiraan suamimu sama seperti kerelaan dan kegembiraan Allah Swt. Kemarahan dan kesedihan suamimu menjadi sebab kemarahan dan kesedihan Allah Swt.'

Setelah itu beliau berkata, ‘Setiap perempuan yang beribadah kepada Allah Swt dan memuji-Nya seperti Sayidah Maryam, tapi suaminya tidak rela kepadanya, maka ibadah dan perbuatannya tidak akan diterima oleh Allah Swt.

Anakku! Ketahuilah bahwa perbuatan paling baik adalah menaati suami, tentu saja dalam hal-hal yang tidak dilarang Islam dan al-Quran.

Anakku! Setiap perempuan yang menanggung semua kesulitan di rumah dan mengelola segala urusan rumah demi ketenangan dan kesejahteraan anggota keluarga, maka ia akan menjadi ahli surga."

Catatan:
1. Ihqaq al-Haq, jilid 19, hal 112-113.

Filsafat dari Nama Rasulullah Saw


Ketika Rasuulluh Saw belum dilahirkan, nabi-nabi terdahulu, mulai Nabi Adam sampai Nabi Isa telah memberi kabar kepada umatnya akan datangnya nabi akhir zaman dengan ciri-ciri yang tertentu. Yaitu, dilahirkan di kota Makkah, hijrah di kota Madinah dan wafatnya juga di kota Madinah, dan kekuasaannya membentang sampai di kota Syam. Nama Rasulullah Saw kalau di Kitab Injil adalah Ahmad. Allah berfirman
"Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata." (QR. As-Shaf : 6).

Perlu diketahui, bahwa nama yang dikemukam oleh Nabi Isa tadi, itu bukan sekedar nama. Akan tetapi merupakan pemberian dari Allah Swt yang tentunya ada makna yang terkandung. Di dalam nama Ahmad jika ditulis dengan huruf Arab tanpa dipisah-pisah ada filsuf tentang adanya gerakan salat. Huruf alif (ا) menunjukan simbol tentang orang yang berdiri. Huruf ha (ح) menggambarkan tentang orang yang sedang rukuk. Huruf mim (م) menggambarkan tentang orang yang sedang sujud. Huruf dal (د)  menunjukan gambaran orang yang sedang duduk tahiyat salat.

Selain makna tersebut, ada juga makna yang tersembunyi di balik nama Ahmad. Yaitu, secara Gramatika Arab, kata Ahmad itu termasuk sighat mubalaghah (bentuk yang mempunyai arti banyak) dari kata Hamdu (memuji). Jadi, bisa diambil kesimpulan bahwa Nabi Ahmad, nama dari Nabi Muhammad Saw mempunyai arti orang yang paling banyak memuji Allah. 

Nabi Muhammad Saw bersabda, “Aku adalah Ahmad tanpa mim (م)” Ahmad tanpa mim (م) akan mempunyai arti Ahad (Esa), yang merupakan sifat Allah yang sangat unik. Mim (م) yang merupakan simbol personafikasi dan manifestasi Allah dalam diri Nabi Muhammad Saw pada hakikatnya adalah bayangan Ahad yang ada di alam semesta. Mim adalah wasilah antara makhluk dengan Khaliqnya. Mim adalah jembatan yang menghubungkan para kekasih Allah dengan sang kekasihnya yang mutlak. Dengan kata lain, Nabi Muhammad Saw merupakan mediator antara makhluk dengan Allah Swt. 

Menurut Iqbal, "Muhammad benar-benar berfungsi “mim” yang  “membumikan” Allah dalam kehidupan manusia. Dialah “Zahir”nya Allah; dialah Syafi’ (yang memberikan syafaat, pertolongan dan rekomendasi) antara makhluk dengan Tuhannya. Ketika anda ingin merasakan kehadiran Allah dalam diri anda, hadirkan Muhammad. Ketika anda ingin disapa oleh Allah, sapalah Muhammad. Ketika anda ingin dicintai Allah, cintailah Muhammad. Qul inkuntum tuhibbunallah fat tabi’uni yuhbibkumullah, “Apabila kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku (Muhammad) kelak Allah akan cinta kepada kalian.” Kepada orang seperti inilah kita diwajibkan cinta, berkorban dan bermohon untuk selalu bersamanya, di dunia dan akhirat. Sebab seperti kata Nabi, “Setiap orang akan senantiasa bersama orang yang dicintainya.”

Selain nama Ahmad, Rasulullah Saw juga mempunyai nama Muhammad. Nama ini pemberian dari kakeknya, Abdul Muthalib. Nama ini diilhami atas  harapan besar  Abdul Muthalib agar kelak cucunya ini dipuji oleh makhluk seantero dunia karena sifatnya yang terpuji. Adapun nama tersebut kalau ditinjau secara Gramatika Arab berstatus sebagai Isim Maful (obyek) dari asal kata Hammada. Menurut kiai Maksum bin Ali dalam kitab Amsilatut Tasrifiyah menyebutkan bahwa penambahan tasdid mempunyai faidah Taksir (banyak). Jadi, artinya adalah orang yang banyak dipuji. Sebab semua makhluk di dunia ini memuji Rasulullah Saw dengan membaca shalawat untuknya. Allah berfirman, ”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab :56).

Yang heboh lagi, dari nama Muhammad, di situ ada makna yang terkandung. Yaitu, jika kita mau mengangan-angan kerangka huruf Muhammad apabila ditulis dengan hurup Arab ternyata menunjukan kerangka manusia. Sebab, mim (م) yang bundar dari kata Muhammad (محمد) itu menunjukan kepala manusia, karena kepala manusia itu bundar. Huruf  ha (ح) kalau kita dobelkan menjadi dua akan menunjukan dua tangan manusia. Huruf  mim (م) yang kedua menunjukan tentang perut manusia. Huruf dal (د) menunjukan kedua kaki manusia.

Selain itu, ada juga makna-makna yang tersembunyi lagi. Yaitu, huruf mim menunjukan kata Minnah yang berarti anugerah. Sebab, Allah memberi anugerah kepada Rasulullah Saw dengan anugerah yang sangat luar biasa melebihi apa yang telah diberikan kepada yang lainnya. Huruf ha menunjukan kata Hubbun (cinta). Sebab, Allah mencintai Nabi Muhammad Saw dan umatnya melebihi cintanya kepada nabi-nabi yang lain beserta umatnya. Huruf mim yang kedua menunjukan kata Maghfirah yang berarti ampunan. Sebab, Allah mengampuni segala dosa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, baik yang sudah lampau atau yang akan datang. Nabi Muhammad Saw adalah nabi yang maksum (terjaga dari melakukan dosa). Adapun jika disandarkan untuk umatnya, maka  Allah akan mengampuni dosa-dosa umat Nabi Muhammad Saw jikalau mereka mau bertaubat. Tidak seperti umat-umat terdahulu yang apabila melakukan dosa langsung mendapat siksa dan teguran dari Allah. Huruf dal menunjukan kata Dawaamuddin. Artinya, abadinya agama Islam. Sebab, agama Islam akan tetap ada sampai akhir zaman. Apabila agama Islam sudah lenyap karena ditinggal oleh manusia, maka tunggulah kehancuran dunia ini.

Kesimpulan dari semua ini adalah, kalau orang itu sudah mengaku agamanya Islam, maka kerjakanlah salat. Sebab, salat merupakan tiang agama dan merupakan ajaran nabi-nabi terdahulu yang disempurnakan oleh Nabi Muhammad Saw. Jika seseorang sudah menjalankan salat dan ajaran Islam yang lainnya, maka dia termasuk orang yang bertaqwa yang akan dimasukkan Allah ke dalam surga-Nya. Karena umat Nabi Muhammad Saw yang masuk ke surga itu akan dirupakan manusia. Mengapa demikian? Ini kembalinya kepada keagungan nama Nabi Muhammad saw yang menunjukkan kerangka manusia. Apabila  manusia masih berbentuk manusia, maka dia tidak akan masuk neraka. Adapun mengenai orang kafir, ada ulama yang berpendapat bahwa mereka di neraka itu berwujud babi.

*Penulis Adalah Esais dan ketua Website PP. Al Anwar Sarang Rembang Jateng asal Pati.
Disadur dari:  www.nu.or.id

Wawancara IQNA dengan Cendekiawan Terkemuka Tunisia: Imperialisme Global dan Ketidaksadaran Akar Berbagai Konflik Antara Syiah dan Ahlus Sunnah


TUNISIA - Akar konflik antara Syiah dan Ahlus Sunnah harus dicari dari dua faktor eksternal (Imperialisme dan kekuatan-kekuatan global) dan internal (tidak adanya pengenalan dan ketidaksadaran antar mazhab).
Husein Qasim, cendekiawan muslim dan peneliti terkemuka Tunisia saat wawancara dengan IQNA, dengan menjelaskan hal ini mengatakan, Imperialisme dan upaya penjajahan dan kekuatan-kekuatan global untuk menciptakan konflik dan perpecahan di kalangan kaum muslimin termasuk faktor eksternal perselisihan dan konflik di kalangan umat Islam.

“Banyak sekali para pengikut mazhab-mazhab Islam tidak memiliki pengenalan terhadap doktrin dan ajaran-ajaran mazhab selainnya dan mereka dalam banyak kondisi tidak mengindahkan persamaan-persamaan penting, seperti Al-Quran Al-Karim, satu kiblat dan Rasulullah (Saw) dan mereka fokus terhadap masalah-masalah perselisihan kecil, yang menjadi sumber perselisihan dan konflik,” tambahnya.

Cendekiawan Islam Tunisia ini menjelaskan, kami sekarang ini menyaksikan bahwa sebagian orang dan kelompok-kelompok ekstrem menisbatkan dirinya kepada Ahlus Sunnah, karena pemikiran dan opini yang salah dan penyelewengan mereka melakukan pembunuhan terhadap para pengikut mazhab Syiah dan menganggap orang-orang Syiah sebagai kafir, Atheis dan telah keluar dari lingkup agama Islam.

Dia dengan menegaskan bahwa Syiah dan Ahlus Sunnah memiliki satu sumber, mengatakan, mazhab Syiah dan Ahlus Sunnah berasal dari satu muara, yaitu agama suci Islam; karena mereka memiliki Tuhan, Rasulullah (Saw), syariat, kiblat dan Al-Quran mereka satu.

Husein Qasim dalam kelanjutan wawancaranya menegaskan, para pengikut mazhab Islam dengan memperhatikan persamaan-persamaan penting yang mereka miliki, maka tidak ada justifikasi sama sekali untuk memperhatikan konflik dan perpecahan di kalangan mereka dan tidak semestinya terpengaruh di balik propaganda-propaganda gerakan dan kelompok algojo yang berafiliasi dengan arogansi, kekuatan-kekuatan global dan Imperialisme serta menganggap dirinya sebagai musuh selainnya dan melakukan pembunuhan selainnya, dengan tanpa memiliki pengetahuan satu sama lainnya.

“Umat Islam khususnya para remaja sekarang ini sangat membutuhkan sekali pengetahuan dan pemahaman keyakinan dan ideologi satu sama lain dan sangat penting sekali menjauhkan para remaja dari ketergelinciran dalam masalah-masalah partikel perselisihan yang dicari oleh arogansi dunia, karena Imperialisme senantiasa mencari penebaran benih perpecahan dalam tubuh kaum muslimin,” ucapnya.

Husein Qasim terkait terjeratnya perselisihan antara Syiah dan Ahlus Sunnah menegaskan, ketika kami berbicara tentang perpecahan mazhab, sejatinya perselisihan ini tidak ada, namun itu adalah segenggam ilusi dan tidak ada seorang pun dapat mengatakan kaum muslimin saling berselisih, meskipun dalam sebagian waktu mereka berupaya menonjolkan perselisihan yang ada diantara kaum muslimin dan pelbagai mazhab mereka sebagai perselisihan mazhab, namun jika sedikit kita renungkan masalah-masalah tersebut, maka kita akan memahami bahwa perselisihan yang muncul dikalangan umat Islam adalah perselisihan politik dan tidak terkait dengan agama dan mazhab.

Dia menganggap perselisihan kaum muslimin sifatnya dangkal dan seperti perselisihan dalam memilih pakaian. “Kita harus menghilangkan perselisihan-perselisihan ini dan meluruskan citra Syiah dan Ahlus Sunnah dan merintangi pembunuhan satu sama lainnya,” ucapnya.

Cendekiawan dan peneliti terkemuka Tunisia ini mengungkapkan, para pemikir dan cendekiawan dunia Islam memiliki kewajiban dengan menjelaskan ajaran toleransi Islam dan ajaran-ajaran agama suci ini yang berlandaskan interaksi dan saling menghormati, moderat mencegah menggunakan para pengikut mazhab-mazhab Islam untuk melakukan kekerasan dan menutup jalan untuk menuju penyelewengan dan mengajak umat Islam menuju jalan benar dan jalan lurus, yaitu menjaga persatuan dan empati.

Dia menegaskan, adapun pembunuhan, konflik, perselisihan di dunia Islam yang kita saksikan sekarang ini bersumber dari kebodohan, kesesatan dan konspirasi arogansi dunia, karena tindakan-tindakan radikal ini sama sekali tidak berkaitan dengan Islam dan ajaran-ajarannya.

Husein Qasim menganggap akar semua konflik di masyarakat Islam adalah konspirasi-konspirasi Amerika dan Zionis dan dia menegaskan peran penting media-media dunia Islam guna melawan konspirasi dan muslihat para musuh-musuh Islam.

Foto- Foto Pembukaan Musabaqoh Darul Quran Imam Ali (As) Ke-8






Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?


Saya menggauli (berulang kali) seorang gadis dan saya tahu bahwa ia telah menikah dengan pria lainnya. Apa hukum dari perbuatan ini dan apa yang saya harus lakukan untuk bertaubat?
Jawaban Global
Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan menebus kesalahan-kesalahannya yang telah lalu, maka harapan pengampunan dari sisi Tuhan sangat besar.

Karena itu, apabila Anda menginginkan keselamatan dengan harapan terhadap maaf dan ampunan Ilahi maka segeralah bertaubat. Anda tidak perlu mengabarkan kepada orang lain, cukuplah Anda dan Tuhan Anda yang mengetahui perbuatan tersebut.

Kebanyakan para marja taklid memandang bahwa berzina dengan wanita seperti ini akan menyebabkan keharaman abadi bagi pria yang berzina dengannya.
Jawaban Detil
Berzina dan menjalin hubungan gelap dengan wanita merupakan salah satu keburukan besar sosial yang mengakibatkan banyak kerugian yang tidak dapat ditebus dalam masyarakat. Atas dasar itu, Islam memandangnya sebagai perbuatan haram dan melawannya dengan sengit. Allah Swt dalam al-Qur’an berfirman, Dan janganlah kalian mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.(Qs. Al-Isra [17]:32).

Dalam penjelasan singkat dan padat terdapat tiga poin penting yang disinggung pada ayat ini:
Pertama, tidak disebutkan bahwa Anda jangan berzina, melainkan dinyatakan bahwa jangan mendekat kepada amalan yang memalukan ini. Pernyataan redaksi ini di samping merupakan stressing terhadap kedalaman perbuatan ini juga merupakan isyarat subtil bahwa kontaminasi perbuatan zina biasanya memiliki pendahuluan-pendahuluan sehingga manusia secara perlahan mendekatinya, budaya telanjang, kondisi tanpa hijab, buku-buku berbau porno,  film-film beradegan kekerasan seksual, koran dan majalah, night club masing-masing merupakan pendahuluan bagi perbuatan tercela ini.

Demikian juga, berdua-duaan dengan orang asing (pria dan wanita non-mahram berdua-duaan di satu tempat sepi) merupakan faktor yang dapat menimbulkan was-was sehingga orang terseret untuk melakukan perbuatan zina.

Di samping itu, ketika orang-orang muda meninggalkan lembaga perkawinan, mempersulit tanpa dalil di antara kedua belah mempelai, kesemuanya merupakan faktor-faktor “yang mendekatkan kepada zina” yang dilarang pada ayat di atas dengan satu kalimat singkat. Demikian juga pada riwayat-riwayat Islam masing-masing dari yang disebutkan ini secara terpisah juga dilarang.

Kedua, kalimat “innahu kana fâhisyatan” yang mengandung tiga penegasan (inna, penggunaan bentuk kalimat lampau dan redaksi “fâhisyatan”) semakin menandaskan dosa ini.
Ketiga, kalimat, “sa’a sabila” (perbuatan zina merupakan perbuatan keji dan jalan buruk) menjelaskan kenyataan ini bahwa amalan ini merupakan jalan yang melapangkan keburukan-keburukan lainnya di dalam masyarakat.


Pengaruh Buruk Zina dalam Sabda Para Maksum
Rasulullah Saw bersabda, “Zina mengandung kerugian-kerugian duniawi dan ukhrawi. Kerugian di dunia: hilangnya cahaya dan keindahan manusia, kematian yang dekat, terputusnya rezeki. Adapun kerugian di akhirat, tidak berdaya, mendapatkan kemurkaan Tuhan pada waktu perhitungan dan keabadian dalam neraka.

Diriwayatkan dari Rasulullah Saw yang bersabda, “Tatkala zina telah merajalela maka kematian mendadak juga akan semakin banyak. Janganlah berzina, sehingga istri-istrimu juga tidak ternodai dengan perbuatan zina. Barang siapa yang melanggar kehormatan orang lain maka kehormatannya juga akan dilanggar. Sebagaimana engkau memperlakukan orang engkau akan diperlakukan.”[1]

Imam Ali bin Abi Thalib As dalam sebuah hadis bersabda, “Aku mendengar dari Rasulullah Saw bersabda, “Pada zina terdapat enam efek buruk, tiga bagiannya di dunia dan tiga bagian lainnya di akhirat. Adapun pengaruh buruknya di dunia, pertama, akan mengambil cahaya dan keindahan dari manusia. Memutuskan rezeki, mempercepat kematian manusia. Adapun pengaruh buruknya di akhirat, kemurkaan Tuhan, kesukaran dalam perhitungan dan masuknya ke dalam neraka.”[2]

Ali memandang bahwa meninggalkan perbuatan zina akan menyebabkan kokohnya institusi keluarga dan meninggalkan perbuatan liwat (sodomi) adalah faktor terjaganya generasi manusia.

Dalam sebuah sabda Imam Ridha As telah dinyatakan sebagian keburukan zina di antaranya:
1. Terjadinya pembunuhan dengan pengguguran janin.
2. Kacaunya sistem kekeluargaan dan kekerabatan.
3. Terabaikannya pendidikan anak-anak.
4. Hilangnya warisan.

Karena pengaruh buruk dan jelek lainnya yang membuat Islam sangat mencela perbuatan zina dan memandangnya sebagai dosa besar. Namun apabila manusia melakukan perbuatan buruk ini khususnya berzina dengan wanita bersuami dan kemudian menyesali perbuatan tersebut dengan sebenarnya serta menyatakan taubat dan berjanji tidak akan mengulanginya maka jalan dan pintu taubat akan terbuka lebar baginya.
Al-Qur’an dalam mencirikan ‘ibadurrahman (hamba-hamba sejati Tuhan), salah satu ciri mereka adalah tidak melakukan perbuatan zina. Firman Tuhan, Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah, tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia menerima siksa yang sangat pedih, akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka Allah akan mengganti kejahatan mereka dengan kebaikan, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang; . dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia kembali kepada Allah dengan sebenarnya. (Qs. Al-Furqan [25]:68-71).

Pada ayat lainnya, Al-Qur’an memperkenalkan orang-orang bertakwa, Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Balasan mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. (Qs. Ali Imran [3]:135-136).

Disebutkan dalam sebuah riwayat muktabar, “Seorang pemuda menangis dan bersedih hati datang ke hadirat Rasulullah Saw dan berkata bahwa ia takut kepada kemurkaan Tuhan.
Rasulullah Saw bersabda, “Apakah engkau telah melakukan syirik?” Jawabnya, “Tidak.”
Sabdanya, “Apakah engkau telah menumpahkan darah seseorang yang tidak berdosa?”
Katanya, “Tidak.”
Sabdanya, “Allah Swt akan mengampuni dosamu berapa pun besarnya.”
Katanya, “Dosaku lebih besar dari langi dan bumi, arasy dan kursi Tuhan.”
Sabdanya, “Apakah dosamu lebih besar dari Tuhan?” Katanya, “Tidak, Allah Swt lebih besar dari segalanya.”

Sabdanya, “Pergilah (Bertobatlah) sesungguhnya Allah Swt Mahabesar dan mengampuni dosa besar.” Kemudian Rasulullah Saw bersabda lagi, “Katakanlah sebenarnya dosa apa yang telah kau lakukan?”
Katanya, “Wahai Rasulullah Saw, saya merasa malu mengatakannya kepada Anda.”

Sabdanya, “Ayo katakanlah apa yang telah kau lakukan?” Katanya, “Tujuh tahun saya membongkar kuburan dan mengambil kafan orang-orang mati hingga suatu hari tatkala saya membongkar kubur dan mendapatkan jasad seorang putri dari kaum Anshar kemudian saya telanjangi lalu hawa nafsu menguasai diriku…. (kemudian pemuda itu menjelaskan apa yang dilakukannya).. Ketika ucapan pemuda itu sampai di sini Rasulullah Saw bersedih luar biasa dan bersabda, “Keluarkanlah orang fasik ini dan berpaling kepada pemuda itu dan bersabda, “Alangkah dekatnya engkau kepada neraka?” Pemuda itu keluar dan menangis sejadi-jadinya, mengalihkan pandangannya ke sahara dan berkata, “Wahai Tuhan Muhammad! Apabila Engkau menerima taubatku maka kabarkanlah kepada Rasul-Mu dan apabila tidak demikian maka turunkanlah api dari langit dan membakarku serta melepaskanku dari azab akhirat. (Setelah itu) Di sinilah utusan wahyu Ilahi turun kepada Rasulullah Saw dan membacakan ayat, “Qul Yaa Ibâdiyalladzi asrafû…” bagi Rasulullah Saw.[3]  

Katakanlah (Wahai Rasul), “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Isra [17]:53)

Dengan demikian apabila Anda menginginkan keselamatan dengan harapan terhadap ampunan dan maaf ilahi maka segeralah bertaubat.  Anda tidak perlu harus mengabarkan orang lain atas apa yang terjadi. Cukup Anda dan Tuhan Andalah yang tahu apa yang telah Anda lakukan.

Sesuai dengan pandangan (fatwa) kebanyakan marja agung taklid yang memfatwakan keharaman abadi bagi wanita ini untuk menikah dengan orang yang telah berzina dengannya. Dan bahkan apabila wanita tersebut telah menerima talak dari suaminya, pria yang sebelumnnya berzina dengannya tidak dapat menikah dengannya (selamanya).[4]


[1]. Silahkan lihat, Tafsir Nur, Muhsin Qira’ati, jil. 8, hal. 193, Cetakan Kesebelas, Intisyarat Markaz Farhanggi Darsha-ye Qur’an, Teheran, 1383.  
[2]. Tafsir Nemune, Makarim Syirazi, jil. 12, hal. 102, Cetakan Pertama, Intisyarat-e Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1373.  
[3]. Ibid, jil. 19, hal. 507.  
[4]. Taudhi al-Masâil (al-Muhassyâ li al-Imâm Khomeini), jil. 2, hal. 471. Masalah 2403, 2402, 2401. 

Al-Quran menyeru manusia untuk berpikir


Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran.

Akal dan pikiran merupakan karunia paling mulia yang diberikan Allah Swt kepada manusia.  Orang-orang yang tidak berpikir dan menolak untuk menghamba kepada Tuhan, dipandang sebagai mahkluk yang lebih buruk daripada binatang.[1] Akal dalam pandangan al-Quran dan riwayat, bukanlah semata-mata akal kalkulatif dan logika Aristotelian. Keduanya meski dapat menjadi media bagi akal namun tidak mencakup semuanya.

Karena itu, berulang kali al-Quran menyebutkan bahwa kebanyakan orang tidak berpikir, atau tidak menggunakan akalnya; sementara kita tahu bahwa kebanyakan manusia melakukan pekerjaannya dengan berhitung dan kalkulatif pada seluruh urusannya.

Memandang sama akal dan berpikir kalkulatif merupakan sebuah kesalahan epistemologis.  Bahkan melakukan komparasi dan memiliki kemampuan berhitung semata-mata merupakan salah satu media permukaan akal yang lebih banyak berurusan pada masalah angka-angka dan kuantitas.

Namun untuk mencerap realitas-realitas segala sesuatu, baik dan buruk, petunjuk dan kesesatan, kesempurnaan dan kebahagiaan, dan lain sebagainya diperlukan cahaya yang disebut sebagai sebuah anasir Ilahi yang terpendam dalam diri manusia. Anasir ini adalah akal dan fitrah manusia dalam artian sebenarnya. Sebagaimana sesuai dengan sabda Imam Ali As bahwa nabi-nabi diutus adalah untuk menyemai khazanah akal manusia.[2]

Dalam Islam, akal dan agama[3] adalah satu hakikat tunggal dan sesuai dengan sebagian riwayat, dimanapun akal berada maka agama akan selalu mendampingi,[4] tidak ada jarak yang terbentang antara iman dan kekurufan kecuali dengan kurangnya akal.[5]

Menggunakan pikiran dan akal dapat digunakan di jalan benar dan tepat apabila digunakan  dalam rangka ibadah dan penghambaan. Imam Shadiq As ditanya tentang apakah akal itu?” Imam Shadiq As menjawab, “Sesuatu yang dengannya Tuhan disembah dan surga diraih.”[6]

Berdasarkan hal ini, harap diperhatikan, berpikir dalam al-Quran tidak serta merta bermakna menggunakan akal yang dikenal secara terminologis.  Tatkala al-Quran menyeru untuk berpikir dan merenung dalam rangka penghambaan yang lebih serta terbebas dari belenggu kegelapan dan kesilaman jiwa, boleh jadi merupakan salah satu tanda berpikir dan berasionisasi.

Dalam pandangan ini, kedudukan akal dan pikiran sedemikian tinggi dan menjulang sehingga Allah Swt dalam al-Quran, tidak sekali pun menyuruh hamba-Nya untuk tidak berpikir atau menempuh jalan secara membabi buta.[7]

Menurut Allamah Thabathabai, Allah Swt dalam al-Quran menyeru manusia sebanyak lebih dari tiga ratus kali untuk menggunakan dan memberdayakan anugerah pemberian Tuhan ini,[8] dimana ayat-ayat ini dapat diklasifikasikan secara ringkas sebagaimana berikut:
  1. Mencela secara langsung manusia yang tidak mau berpikir:
Pada kebanyakan ayat al-Quran, Allah Swt menghukum manusia disebabkan karena mereka tidak berpikir. Dengan beberapa ungkapan seperti, “afalâ ta’qilun”, “afalâ tatafakkarun”, “afalâ yatadabbaruna al-Qur’ân”,[9] Allah Swt mengajak mereka untuk berpikir dan menggunakan akalnya.
  1. Ajakan untuk berpikir dalam pembahasan-pembahasan tauhid:
Allah Swt menggunakan ragam cara untuk mengajak manusia berpikir tentang keesaan Allah Swt; seperti pada ayat, “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arasy dari apa yang mereka sifatkan.” (Qs. Al-Anbiya [21]:22)[10] dan “Katakanlah, “Mengapa kamu menyembah selain dari Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudarat kepadamu dan tidak (pula) mendatangkan manfaat bagimu? Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Maidah [5]:76) serta ayat-ayat yang menyinggung tentang kisah Nabi Ibrahim As dalam menyembah secara lahir matahari, bulan dan bintang-bintang, semua ini dibeberkan sehingga manusia-manusia jahil dapat tergugah pikirannya terkait dengan ketidakmampuan tuhan-tuhan palsu.[11] Dengan demikian, Allah Swt mengajak manusia untuk merenungkan dan memikirkan ucapan dan ajakan para nabi, “Apakah mereka tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila? Ia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata (yang bertugas mengingatkan umat manusia terhadap tugas-tugas mereka). “(Qs. Al-A’raf [7]:184); “Katakanlah, “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikit pun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagimu sebelum (menghadapi) azab yang keras.” (Qs. Al-Saba [34]:46)
  1. Penciptaan langit-langit dan bumi serta aturan yang berkuasa atas seluruh makhluk:
Mencermati langit dan bumi serta keagungannya, demikian juga aturan yang berlaku pada unsur-unsur alam natural, merupakan salah satu jalan terbaik untuk memahami keagungan Peciptanya. Allah Swt dengan menyeru manusia untuk memperhatikan dan mencermati fenomena makhluk, sejatinya mengajak mereka untuk berpikir tentang Pencipta makhluk-makhluk tersebut. Misalnya pada ayat, “Dia-lah yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu. Kemudian Dia (berkehendak) menciptakan langit, lalu Dia menjadikannya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. Al-Baqarah [2]:29)[12]dan “Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana dia diciptakan.” (Qs. Al-Ghasiyah [88]:17)
  1. Penalaran terhadap adanya hari Kiamat:
Inti keberadaan hari Kiamat dan bahwa Allah Swt Mahakuasa untuk membangkitkan manusia setelah kematian mereka didasarkan argumen-argumen rasional. Pada kebanyakan ayat al-Quran, kemungkinan adanya hari Kiamat dinyatakan dalam bentuk ajakan untuk berpikir pada contoh-contoh yang serupa; seperti datangnya para wali manusia,[13]  hidupnya kembali bumi dan tumbuh-tumbuhan,[14] kisah hidupnya burung-burung sebuah jawaban atas permintaan Nabi Ibrahim AS,[15] kisah Ashabul Kahfi,[16]kisah Nabi Uzair[17] dan masih banyak contoh lainnya.
  1. Isyarat terhadap sifat-sifat Allah Swt:
Pada kebanyakan ayat al-Quran dengan menyinggung sebagian sifat Allah Swt, manusia diajak untuk berpikir tentang Allah Swt dan tentang amalan perbuatan mereka. Sifat-sifat seperti, Qadir, Malik, Sami’dan Bashir dengan baik menunjukkan atas isyarat ini. Seperti, “Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang gaib?” (Qs. Al-Taubah [9]:78)[18] dan ayat-ayat dimana Allah Swt memperkenalkan dirinya sebagai saksi atas amalan-amalan kita, seperti, “Katakanlah, “Hai ahli kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah? Padahal Allah Maha Menyaksikan apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Ali Imran [3]:98)[19] jelas bahwa ayat-ayat ini tengah membahas tentang prinsip-prinsip akidah; seperti tauhid, kenabian, ma’ad dan keadilan Ilahi. Ayat-ayat ini adalah ayat-ayat rasional yang termaktub dalam al-Quran. Karena prinsip-prinsip akidah bertitik tolak dari pembahasan-pembahasan rasional yang harus ditetapkan dengan berpikir dan menggunakal akal. Taklid dalam hal ini tidak dibenarkan.
  1. Menjelaskan ragam kisah dan azab yang diturunkan akibat dosa-dosa kaum-kaum terdahulu:
Harap diperhatikan menjelaskan kisah-kisah kaum terdahulu yang disampaikan dalam al-Quran, bukan dimaksudkan untuk sekedar menjelaskan satu kisah atau kisah yang membuat manusia larut di dalamnya, melainkan sebuah pelajaran berharga untuk umat selanjutnya. Atau dengan menelaah nasib dan peristiwa yang menimpa mereka, manusia seyogyanya berpikir tentang akhir dan pengaruh amalan perbuatan mereka sehingga dapat menuntun manusia untuk tidak melakukan perbuatan yang sama; seperti kisah Nabi Yusuf,[20]  kisah yang sarat dengan pelajaran wanita-wanita para nabi,[21] azab-azab yang turun untuk kaum Ad, Tsamud dan Luth.[22]
  1. Menjelaskan mukjizat-mukjizat para nabi:
Jalan terbaik untuk menetapkan kebenaran seorang nabi dan klaim risalah yang dibawanya dari sisi Allah Swt adalah mukjizat. Mukjizat hanya dapat menetapkan klaim kenabian seorang nabi tatkala hal itu berada di luar kemampuan dan kekuatan manusia; karena itu demonstrasi mukjizat merupakan sebuah ajakan nyata kepada manusia untuk berpikir sehingga manusia dengan berpikir terhadap ketidakmampuannya dan kekuatan mukjizat ia beriman kepada ucapan-ucapan para nabi; seperti mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw, al-Quran yang akan tetap abadi selamanya dan manusia dengan berpikir dan ber-tafakkur pada ayat-ayatnya dapat meraih iman pada kebenaran nabi pamungkas,[23] dan mukjizat-mukjizat agung yang diriwayatkan dari para nabi ulul azmi.[24]
  1. Tantangan dalam al-Quran:
Salah satu contoh ajakan dan seruan al-Quran untuk berpikir adalah tantangan kepada orang-orang kafir untuk menghadirkan seperti ayat-ayat al-Quran. Tatkala manusia mencari kebenaran, mereka menjumpai ketidakmampuan orang-orang kafir sepanjang tahun ini, mereka beriman kepada kebenaran al-Quran dan pembawa pesannya; seperti ayat, “Dan jika kamu (tetap) meragukan Al-Qur'an yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah (paling tidak) satu surah saja yang semisal dengan Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah (untuk melakukan hal itu), jika kamu orang-orang yang benar.” (Qs. Al-Baqarah [2]:23)[25]
  1. Mencela taklid buta:
Pada kebanyakan ayat al-Quran, orang-orang kafir untuk mencari pembenaran atas tindakannya menyembah berhala, tidak mau berpikir dan sebagai gantinya menjadikan taklid buta dari datuk-datuknya sebagai pembenar atas perbuatan-perbuatan mereka. Allah Swt mencela mereka karena tidak mau memanfaatkan kemampuan akal dan menyeru mereka untuk berpikir dan merenung dalam masalah-masalah akidah; misalnya pada ayat,  “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan oleh Allah”, mereka menjawab, “(Tidak)! Tetapi, kami hanya mengikuti apa yang telah kami temukan dari (perbuatan-perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga) meskipun nenek moyang mereka itu tidak memahami suatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk?” (Qs. Al-Baqarah [2]:170)[26] sebagaimana Allah Swt mencela Ahlulkitab disebabkan akidah-akidah batil dan taklid buta mereka, “Katakanlah, “Hai ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat sebelum (kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (Qs. Al-Maidah [5]:77)
  1. Meminta argumentasi di hadapan ucapan-ucapan tak berguna:
Tatkala Allah Swt di hadapan ucapan-ucapan tak berguna dan tidak benar sebagian manusia, menuntut dalil dan burhan, dan dengan lugas meminta seluruh manusia untuk tidak mengikut sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentangnya;[27] artinya Allah Swt menginginkan seluruh manusia menjadikan akalnya sebagai panglima untuk memutuskan di hadapan pelbagai khurafat dan hal-hal nonsense dan meminta argumentasi dari mereka; seperti, “Dan mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata, “Sekali-kali tidak akan pernah masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.” Demikian itu (hanyalah) angan-angan kosong mereka belaka. Katakanlah, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Qs. Al-Baqarah [2]:111)[28] Demikian juga para nabi meminta argumentasi di hadapan klaim-klaim kosong seperti, “Apakah engkau tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan)? Ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku adalah Dzat yang dapat menghidupkan dan mematikan.” Orang itu berkata, “Saya juga dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah matahari itu dari barat.” Lalu, orang yang kafir itu terdiam (seribu bahasa); dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” Qs. Al-Baqarah [2]:258)
  1. Menggunakan penyerupaan dan permisalan dalam memotivasi dan mencela manusia:
 Allah Swt pada kebanyakan ayat mengajak manusia untuk berpikir dengan menggunakan penyerupaan sehingga ia mau merenung atas apa perbuatanya; seperti, “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (Qs. Al-Ankabut [29]:41)[29]
  1. Mengingatkan pelbagai nikmat:
Allah Swt dalam al-Quran dengan mengingatkan pelbagai nikmat, meminta manusia untuk menjauhi sikap angkuh dan memuja diri serta tidak melupakan kedudukan penghambaan dan ibadah. Metode mengajak berpikir seperti ini kebanyakan digunakan untuk kaum Bani Israel; seperti, “Wahai Bani Isra’il, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwa Aku telah mengutamakan kamu atas segala umat.” (Qs. Al-Baqarah [2]:47 & 122) dan Tanyakan kepada Bani Isra’il, “Berapa banyakkah tanda-tanda (kebenaran) nyata yang telah Kami berikan kepada mereka.” Dan barang siapa yang merubah nikmat Allah setelah nikmat itu datang kepadanya, sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya” &  Demikianlah Allah menjelaskan kepadamu ayat-ayat-Nya supaya kamu merenungkan. (Qs. Al-Baqarah [2]:211 & 242) dan pada hari kiamat akan menjadi hari tatkala seluruh anugerah ini akan ditanya.”[30]
  1. Membandingkan antara manusia dengan memperhatikan pikiran dan perbuatannya:
Tatkala seorang berakal melakukan perbandingan antara dua hal, pada hakikatnya ingin menjelaskan tipologi dan pengaruh positif dan negative masing-masing dari dua hal yang dibandingkan. Membandingkan antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir juga merupakan seruan nyata Allah Swt kepada manusia untuk berpikir dan berenung, sehingga manusia yang berpikir dapat menimbang akibat orang-orang beriman dan orang-orang kafir, kemudian menemukan jalannya; seperti ayat,“Sesungguhnya telah ada tanda (dan pelajaran) bagimu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali lipat jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (Qs. Ali Imran [3]:13)[31] 
  1. Menuntaskan hujjah:
Tatkala mengirimkan pelbagai mukjizat, ayat-ayat, dan tanda-tandanya yang beragam, Tuhan telah menuntaskan hujjah bagi para hamba-Nya dan memberikan kepada mereka janji-janji pahala dan azab, pada hakikatnya mereka diseur untuk berpikir dan berenung sehingga manusia mau menimbang segala yang dilakukan dan dikerjakannya. Para nabi juga tidak mendatangi para umatnya kecuali menuntaskan hujjat dengan pelbagai dalil, argument dan tanda-tanda, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata” (Qs. Hud [11]:96) tatkala mereka menolak untuk menjadi hamba, tidak akan diampuni, “Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu menjadikan anak sapi (sebagai sembahan) setelah ia pergi, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim & Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) setelah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran yang nyata, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. Al-Baqarah [2]:92 & 209)[32]seluruh hujjah tidak terkhusus untuk para pendosa saja, melainkan mencakup seluruh nabi, “Dan sebagaimana (Kami telah menurunkan kitab kepada para nabi sebelum kamu), Kami (juga) telah menurunkan Al-Qur’an itu (kepadamu) sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak memiliki pelindung dan penolak pun dari (siksa) Allah.” (Qs. Al-Ra’d [13]:37)[33]
Pada akhirnya, al-Quran mendeskripsikan kondisi orang-orang yang enggan berpikir dan tidak mau mendengarkan ucapan-ucapan para nabi dan imam, “Dan mereka berkata, “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Qs. Al-Mulk [67]:10)[34] dan karena mereka memiliki akal dan mereka sendiri dapat memberikan penilaian, maka Allah Swt, dengan menyerahkan catatan amalan akan meminta mereka menilai sendiri atas apa saja yang telah mereka kerjakan.[35]


Referensi:
[1].  “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun.” (Qs. Al-Anfal [8]:22)
[2].  Nahj al-Balâgha, (Subhi Shaleh), hal. 43, Intisyarat Hijrat, Qum, 1414 H.
[3]. Akal dan Agama, 4910; Hubungan Akal dan Agama, 12105.  
[4]. Kulaini, al-Kâfi, jil, 1, hal. 10, Diedit oleh Ghaffari dan Akhundi, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1407 H.  
[5]. Ibid, hal. 28.
[6]. Ibid, hal. 11.  
[7]. Untuk telaah lebih jauh silahkan lihat jawaban 26661 yang terdapat pada site ini.   
[8]. Sayid Muhammad Husain Thabathabai, al-Mizân, jil. 3, hal. 57, Daftar Intisyarat Islami, Qum, 1417 H.  
[9].  “Apakah kalian tidak berpikir” redaksi kalimat ini dan redaksi kalimat yang serupa digunakan sebanyak 20 kali dalam al-Quran.  
[10]. Dan ayat-ayat serupa pada surah al-Mukminun “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya. Kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” [23]:91)  
[11]. “Ketika malam telah menjadi gelap, ia melihat sebuah bintang (seraya) berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, ia berkata, “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala ia melihat bulan terbit, ia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, ia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhan-ku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, ia berkata, “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Tatkala matahari itu telah terbenam, ia berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” (Qs. Al-An’am [6]:76-78)  
[12]. Dan ayat-ayat lainnya seperti (Qs. Yunus [10]:5); (Qs. Al-Mulk [67]:3 & 4); (Qs. Al-Baqarah [2]:3 & 4); (Qs. Al-Mukminun [23]:69 & 80) dan seterusnya; Allah Swt pada ayat 190 surah Ali Imran menyebut orang-orang yang memikirkan tanda-tanda Ilahi sebagai “ulul albab” yaitu orang-orang yang berpikir.
[13].  “Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya, “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (Qs. Al-Kahf [18]:37); “Hai manusia, jika kamu ragu tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sebagiannya berbentuk dan sebagian yang lain tidak berbentuk, agar Kami jelaskan kepadamu (bahwa Kami Maha Kuasa atas segala sesuatu), dan Kami tetapkan dalam rahim (ibu) janin yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, supaya (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah ia ketahui. Dan (dari sisi lain) kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, bumi itu hidup dan tumbuh subur dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (Qs. Al-Hajj [22]:5)  
[14]. “Dan Dia-lah yang mengirim angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati (pada hari kiamat), mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (Qs. Al-A’rafa [7]:57); (Qs. Al-Rum [30]:50); (Qs. Fathir [35]:9) dan lain sebagainya.  
[15]. (Qs. Al-Baqarah [2]:260)
[16]. (Qs. Al-Kahf [18]:9-25)  
[17]. (Qs. Al-Baqarah [2]:259)
[18]. (Qs. Al-Taubah [9]:78); (Qs. Al-Baqarah [2]:96 & 107)   
[19]. (Qs. Ali Imran [3]:98); (Qs. Al-Nisa [4]:33 & 166)  
[20]. Surah Yusuf mengulas kisah ini secara rinci.  
[21].  (Qs. Al-Tahrim [66]:4, 10 dan 11)  
[22]. Seperti ayat-ayat, (Qs. Al-Fushilat [41]:13-17) dan (Qs. Al-A’raf [7]:80-84)
[23]. Mukjizat Rasulullah SAW lainnya pada (Qs. Al-Isra [17]:1 & 88); (Qs. Al-Qamar []:1)
[24]. Mukjizat-mukjizat Nabi Nuh As pada (Qs. Al-Ankabut [29]:15); Mukjizat-mukjizat Nabi Ibrahim As pada (Qs. Al-Anbiya [21]:69); Mukjizat-mukjizat Nabi Musa As pada (Qs. Thaha [20]:17-20) dan (Qs. Al-Qashash [28]:32) dan (Qs. Al-Baqarah [2]:50); Mukjizat-mukjizat Nabi Isa As pada (Qs. Al-Maidah [5]:110)  
[25]. Dan ayat-ayat lainya seperti (Qs. Yunus [10]:38) dan (Qs. Hud [11]:13)
[26]. Dan seperti ayat-ayat (Qs. Al-Maidah [5]:53 & 54); (Qs. Al-Syua’ara [26]:74); (Qs. Al-Zukhruf [43]:23)  
[27]. (Qs. Al-Isra [17]:36)   
[28]. Ketika Allah Swt berfirman kepada Rasul-Nya, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, mereka akan ditimpa siksa disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Qs. Al-An’am [6]:49)
[29]. Dan ayat-ayat lainnya seperti (Qs. Al-Jumu’ah []:5); (Qs. Al-Baqarah [2]:26, 171, 261, dan 265); (Qs. Ali Imran [3]:118) dan (Qs. Al-A’raf [7]:176)  
[30].   “Kemudian pada hari itu kamu pasti akan ditanyai tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (Qs. Al-Takatsur [102]:8)
[31].  (Qs. Al-Maidah [5]:50); (Qs. Al-An’am [6]:50); (Qs. Hud [11]:24); demikian juga perbandingan orang-orang mujahid dan orang-orang yang tidak berjihad pada surah al-Nisa:95)
[32].  (Qs. Al-Nisa [4]:153); (Qs. Al-Maidah [5]:32)  
[33].   Demikian juga “(Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan seluruh ayat (bukti) kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) itu, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak (berhak) mengikuti kiblat mereka, dan sebagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebagian yang lain. Dan jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Baqarah [2]:145)
[34].  Jelas bahwa yang dimaksud dengan mendengarkan di sini bukanlah taklid buta, melainkan mendengarkan berdasarkan pemikiran dan perenungan.
[35].  Menyinggung ayat “Adapun orang-orang yang menerima kitab (amal)nya dengan tangan kanan, maka dia berkata (lantaran bahagia dan bangga), “Ambillah, bacalah kitabku (ini) & Adapun orang yang menerima kitab (amal)nya dengan tangan kiri, maka dia berkata, “Wahai alangkah baiknya kiranya kitabku ini tidak diberikan kepadaku.” (Qs. Al-Haqqa [69]: 19 & 25 ).

Terkait Berita: