Daftar Isi Nusantara Angkasa News Global

Advertising

Lyngsat Network Intelsat Asia Sat Satbeams

Meluruskan Doa Berbuka Puasa ‘Paling Sahih’

Doa buka puasa apa yang biasanya Anda baca? Jika jawabannya Allâhumma laka shumtu, maka itu sama seperti yang kebanyakan masyarakat baca...

Pesan Rahbar

Showing posts with label Imam Al Gazali. Show all posts
Showing posts with label Imam Al Gazali. Show all posts

Nahi Munkar yang Benar Menurut Penjelasan Habib Ali Al Jufri


Nahi munkar dan amar ma’ruf, banyak dari umat Islam yang menjalankan perintah ini justru merusak citra ajaran Islam. Berikut ini adalah Penjelasan Tentang Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar yang benar menurut ajaran Nabi Muhammad saw, dipaparkan secara jelas oleh Al-Habib Ali Al-Jufriy dari Yaman.

Imam al-Ghazali Ra. mengatakan bahwa ada 3 sifat yang harus diterapkan dalam beramar ma’ruf nahi munkar. Tanpa 3 sifat ini, amar ma’ruf nahi munkasulit terwujud. Ketiga sifat itu ialah:
1. Ilmu: Yaitu hendaknya para da’i memiliki ilmu (mengetahui) tentang apa yang dia ajak kepadanya atau larang darinya. Bisa jadi ia mengajak kepada sesuatu yang disangka baik padahal itu buruk, atau melarang sesuatu yang sepatutnya tidak ia larang. Hal ini tidak layak terjadi. Oleh karena itu hendaknya ilmu lebih diutamakan daripada amal, termasuk dalam amar ma’ruf nahi munkar.
2. Wara’: Yaitu hendaknya berdakwah itu bukan ditujukan untuk mencari kedudukan atau kehormatan, menunjukkan kekuatan jasmani dan ruhani, atau yang lainnya. Sifat wara’ yaitu kita beramal hanya karena Allah Swt.
3. Akhlak Mulia: Ini merupakan kunci dari ketiga sifat ini. Tanpa akhlak mulia, amar ma’ruf nahi munkar tidak akan berkesan, sekalipun da’i adalah seorang yang berilmu dan wara’. Salah satu bentuk akhlak mulia ialah bersabar. Bersabar merupakan sifat yang sangat penting dikala amar ma’ruf nahi munkar dibalas dengan celaan dan cacian.

Terdapat sebuah ungkapan dari Ibnu Taimiyah dalam hal bersabar ketika beramar ma’ruf nahi munkar. Beliau mengatakan: “Jika kamu tidak bersabar, kamu akan mendapatkan 2 hal:
a. Kemungkinan kamu akan berhenti dalam mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemunkaran, hal seperti ini sudah banyak terjadi.
b. Pelaku kemunkaran melakukan kemunkaran yang lebih buruk lagi daripada kemunkaran yang pernah kamu cegah. Na’udzu billah.

Mengenai hal ini, terdapat sebuah hadits Nabi Saw., ketika suatu saat beliau menyaksikan ada seorang badui yang tidak tahu apa-apa memasuki Masjid Nabi lalu kencing di salah satu bagian masjid.
Para sahabat yang juga mengetahuinya marah dan ingin segera melemparkannya keluar dari masjid. Namun tidak demikian sikap Nabi Saw., beliau bersabda kepada para sahabat: “Jangan, janganlah engkau menghentikan kencingnya.”

Lalu Nabi Saw. membiarkan badui tadi menyelesaikan kencingnya sedangkan para sahabat masih menahan marah. Setelah usai menunaikan hajatnya, Nabi Saw. menghampiri badui tadi. Beliau Saw. bersabda dengan penuh kelembutan: “Wahai orang badui, sesungguhnya masjid ini rumah Allah dan bangunan untuk beribadah dan berdzikir, ia tidak dibangun untuk perkara ini (menunaikan hajat).”

Melihat kelembutan Nabi Saw, si badui tadi lantas berdoa: “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati orang-orang yang bersama kami (para sahabat).”
Nabi Saw. kemudian bersabda: “Jangan kamu mempersempit rahmat Allah yang luas itu.”

Nabi Saw. lalu memerintahkan para sahabat mengambil seember air untuk mengguyur air kencing tersebut. Beliau Saw. bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk membuat kemudahan, dan tidak diutus untuk membuat kesulitan.” (HR. al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan yang lainnya).

Begitulah contoh pelaksanaan nahi munkar yang proporsional, nabi Muhammad tidak marah kepada orang yang tidak mengerti apa kesalahannya.


( Islam Institute – MusliMediaNews -  Ustadz Sya’roni As Samfuriy )

Berikut ini penjelasan beliau, silahkan menyimaknya langsung dari Habib Al Al Jufriy :

Video: 3 sifat amar ma'ruf dan nahi mungkar : al-Habib Ali al-Jufri.


https://www.youtube.com/watch?feature=player_detailpage&v=tKP_ARA9-sY

KROPAK MAULANA MALIK IBRAHIM TEKS ISLAM TERTUA DI JAWA

Oleh: Prof.Dr. Abdul Hadi W. M..
  
Teks Islam awal yang memberikan gambaran cukup jelas dan rinci tentang ajaran Islam yang diajarkan kepada penduduk Nusantara ialah risalah yang disebut Kropak Jawa. Kropak ini adalah naskah kuna terdiri dari 23 lembar lontar berukuran 40 X 3.5 cm, ditulis menggunakan aksara Jawa Madya. Karena bahasa Jawa Madya yang digunakan sama dengan yang dipakai dalam kitab Pararaton.,Drewes menetapkan bahwa kitab ini berasal dari awal abad ke-15 M.  Perjalanan kropak ini hingga ditemukan kembali, dan kemudian ditransiliterasikan ke dalam tulisan Latin, sangatlah panjang.


Kropak ini dibawa oleh pelaut-pelaut Belanda dari pelabuhan Sedayu dekat Tuban menuju Eropah pada tahun 1585 M. Selama lebih kurang 300 tahun ia disimpan di Perpustakaan Museum Ferrara, Italia. Karena tidak ada yang memberi perhatian terhadap naskah ini, pada tahun 1962 fotokopi naskah ini bersama-sama transliterasinya oleh J Soegiarto dikirim ke Leiden. Sampai sekarang naskah ini dan transliterasinya disimpan di Perpustakaan Museum Leiden dengan no. code MS Cod. Or. 10811. Di Leiden naskah ini dikaji dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris oleh G. W. J. Drewes di bawah judul An Early Javanese Code of Muslim Ethics (The Hague: Martinus Nijhoff, 1978).

Drewes menisbahkan isi buku itu sebagai ajaran Maulana Malik Ibrahim (w. 1414 M). Ini didasarkan pada kenyataan bahwa teks itu ditulis dalam bahasa Jawa Madya seperti Pararaton yang juga ditulis pada masa yang sama. Alasan lain ialah karena pengarang buku menyebut dirinya khalifah, sebutan yang di Jawa lazim diberikan kepada seorang ulama, pemimpin spiritual dan sekaligus imam mesjid agung. Maulana Malik Ibrahim adalah imam masjid agung, sekaligus ulama dan pemimpin kerohanian.

Judul risalah yang dimuat dalam naskah ini sama dengan judul risalah Imam al-Ghazali Bidayat al-Hidayah (Menjelang Hidayah ). Tetapi versi Maulana Malik Ibrahim adalah ringkasan dan tidak semua yang diajarkan Imam al-Ghazali dikemukakan. Namun demikian buku ini penting dikaji karena memperlihatkan bahwa sejak awal Islam yang diajarkan di pulau Jawa bukan Islam sinkretik sebagaimana disangkakan olehpara orientalis. Sejak awal  Islam yang diajarkan kepada orang  Jawa adalah murni mazhab Syafii. Aliran kalam atau teologinya Asyari dan paham tasawufnya berorientasi kepada ajaran Imam al-Ghazali.

Maulana Malik Ibrahim memulai risalahnya dengan Basmalah dan menguraikan tiga baju utama ajaran Islam yaitu atinggal dunya (zuhud), memilih pergaulan yang baik dan mengambil jarak dengan orang ramai. Yaitu agar tidak terlalu terpengaruh. Apalagi waktu risalah itu ditulis, orang Islam masih minoritas. Selanjutnya dikemukakan bahwa benteng orang beriman adalah berada di mesjid, shalat lima waktu sehari, dan mengaji al-Quran. Benteng seorang mukmin ada tiga juga  yaitukanaat (puas), tidak tidur malam (atangi ing wengi), dan menyepi. Buah merasa puas ialah hati menjadi terang; buah tak tidur malam atau tirakat ialah memperoleh pencerahan; dan buah menyepi ialah mudah memecahkan persoalan dunia. Kemudian diterangkan apa bentengnya setan. Bentengnya setan adalah tidur banyak. Rumahnya setan adalah orang yang memanjakan perut. Dan santapan setan adalah orang yang gemar makanan haram. Semua itu menurut Maulana Malik Ibrahim merupakan jalan mengenal Allah, dan menghindar dari ketidakpatuhan.

Ia menyebut dirinya klalifah dan mengaku bahwa apa yang dia ajarkan diambil dari kitab Imam al-Ghazali Bidayat al-Hidayah. Tetapi isinya diperluas dengan keterangan yang ada di dalam kitab fiqih seperti Masadullah, Mosabeh Mafatehdan Rawdat al-`UlamaRawdat al-`ulama adalah karangan al-Zandawaisiti (w. 923 M) berisi kumpulan pedoman etika yang dicukil dari al-Qur’an, Hadis dan ucapan para sufi (Drewes hal 6). Adapun kitab Masabeh Mafateh mungkin adalah Kitab Mafatih al-raja’ fi sharh Masabih al-Diya, karangan al-Wasiti (w. 1394 M). Jadi merupakan buku yang masih baru ketika Maulana Malik Ibrahim menulis risalahnya.

Adalah menarik bahwa Maulana Malik Ibrahim pada bagian permulaan risalahnya mengutip hadis apokaliptik, “Apan wontenandikanira baginda rasulullah alehi salam, hadis qudsi: Ingin tembe lamun aparek jaman ari kiyamat, sakehing pandita mukmin wong saleh sami padem, gumanti bida’ah, akatah kaliwat-liway katahipun, angriridung agama Islam, akatah ujaripun salah, seset atawa kupur, mapan kawor sakatahing mukmin…” (Pada akhir zaman, ketika hari kiamat akan tiba,  ulama sejati dan orang taat pada ajaran agama akan lenyap dan diganti orang yang suka berbuat bidaah yang menyebabnya rancunya ajaran Islam bercampur dengan ajaran keliru dan sesat).

Bahwa ketika buku ini ditulis, orang Islam masih minoritas dapat dirujuk pada keterangan Tome Pires yang mengunjungi Sedayu, tempat ditemukannya buku itu, pada tahun 1515 M.  Menurut musafir Portugis itu kendati bupati Sedayu kala itu telah memeluk Islam, tetapi penduduk masih banyak menganut agama Hindu.  Isi buku itu tampaknya sejalan dengan penelitian Syed M. Naquib al-Attas yang mengatakan bahwa pada tahap awal penyebaran Islam yang diutamakan ialah pengajaran fiqih, pengantar tasawuf dan ilmu kalam. Dari kutipan bagian awal dari risalah ini jelas sekali bahwa tasawuf yang diajarkan adalah bukan tasawuf yang mendalam dan etika yang diajarkan bersifat praktis.

Buku Imam al-Ghazali sendiri terdiri dari tiga bab, secara umum membahas soal kepatuhan kepada perintah agama, cara-cara menghindarkan diri dari dosa dan berhubungan dengan Allah dan manusia. Dalam bab I dibahas masalah berkenaan dengan ketaatan, cara-cara terbaik mengenai bangun dan tidur, aturan berwudhu, cara yang terpuji pergi ke mesjid, cara mengimami shalat bersama dan menjadi makmum, aturan puasa Ramadhan dan lain-lain. Bab II membahas cara-cara menghindar dari dosa-dosa tubuh. Dikatakan ini merupakan jalan penting yang harus dilalui sebelum seseorang memasuki jalan keruhyanian dan agama. Dalam bab ini juga dikemukakan mengenai dosa-dosa jiwa, termasuk suka pamer dan sombong. Akan tetapi dalam Kropak Maulana Malik Ibrahim pemaparannya lebih disederhanakan. Namun Maulana Malik Ibrahim sepakat dengan Imam al-Ghazali yang mengatakan bahwa seorang Muslim harus senantiasa bersabar menghadapi ujian Tuhan, selalu gembira dalam menghadapi takdir dan yakin penuh akan kekuasaan Tuhan, sebab hanya Tuhan yang wajib dipatuhi.

Meskipun mengemukakan pentingnya zuhd (atinggal dunya), dan pentingnya kesabaran serta penyerahan penuh kepada kekuasaan Tuhan, tidak berarti yang diajarkan adalah sikap pasif dalam kehidupan. Ajaran zuhud yang dikemukakan tidak pula dimaksudkan agar seorang beriman melarikan diri dari kenyataan. Dalam uraian selanjutnya malah dikemukakan bahwa seorang Muslim sangat dianjurkan bekerja keras dan berikhtiar, menuntut ilmu dan mencari rezeki yang halal. Menurut Maulana Malik Ibrahim, Islam adalah agama pikiran dan tindakan, bukan semata agama yang mengatur peribadatan. Mengetahui kewajiban agama tanpa mengamalkan  pertanda bekunya hati dan jiwa. Tanda lain seorang yang hatinya mati dan terkunci ialah dapat membaca kitab suci, namun tidak mau menghayati dan menghidupkan ajaran kitab suci melalui perilaku, pemikiran dan perkataan. Menurutnya lagi Islam terdiri dari tiga perkara: menjadi Muslim, kemudian mukmin atau beriman, dan sesudah itu saleh. Menjadi muslim menaati kewajiban yang disarankan dalam rukun Islam yang lima, dan menjadi mukmin ialah mengenal enam rukun iman.

Seperti buku Imam al-Ghazali Bidayat al-Hidayah yang merupakan ringkasan dari kitab Ihya `Ulumuddin, risalah Maulana Malik Ibrahim syarat dengan petunjuk dalam menempuh jalan keruhanian atau ilmu suluk.  Misalnya ketika dia menguraikan syarat-syarat untuk menjadi orang mencapai ilmu makrifat.  Dikatakan pertama-tama harus tobat dari dosa besar dan kecil, mengembalikan barang yang diperoleh secara tak halal. Seorang penempuh jalan keruhanian menuntut ilmu yang bisa dia amalkan dan memperbanyak ibadah dibanding bicara. Dalam keadaan apa pun jangan lupa kepada Tuhan. Mempelajari ilmu tasawuf pula harus dari seorang guru yang mumpuni. Tidak boleh minum sebelum haus dan tidak boleh makan sebelum lapar. Mengendalikan marah dan sabar adalah keharusan yang tak boleh ditinggalkan.

Telah dikemukakan bahwa salah satu rujukan Maulana Malik Ibrahim ioalah kitabMasadullah. Buku ini tampak asing dan bukan tidak mungkin yang dimaksud adalah salah satu pasal dalam Bidayat al-Hidayah.  Ini tampak pada nukilan doa Nabi Isa a.s., yang juga dijumpai dalam kitab Imam al-Ghazali. Terjemahan doa lebih kurang sebagai berikut:

            Ya Allah, janganlah musuhku sampai menguasaiku!
            Janganlah sahabatku berbuat buruk terhadapku
            Janganlah kemalangan sampai menimpa urusan agamaku
            Janganlah dunia ini menjadi tumpuan ilmuku!
            Dan janganlah siapa pun yang akan menyakitiku
            Dapat berkuasa atasku karena dosa-dosaku.

Hal menarik lagi ialah bahwa dari risalah pendek ini kita jumpa 122 kata serapan dari bahasa Arab dan Persia. Terdapat pula beberapa perkataan yang diserap dari bahasa Melayu. Jumlah kata-kata serapan dari bahasa Arab dan Persia sebanyak itu cukup besar untuk ukuran sebuah risalah pendek. Ini juga membuktikan bahwa pada awal abad ke-15 M sebenarnya proses islamisasi bahasa dan kebudayaan Jawa sudah berlangsung dengan deras, menyentuh persoalan seperti pandangan hidup (way of life), gambaran dunia (Weltanschauung), sistem nilai, etika, ethos kerja, dan lain sebagainya. Pada waktu bersamaan kita juga menyaksikan banyak istilah konseptual keagamaan dan spiritualitas Islam diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Misalnya istilah khalwah dityerjemahkan alinggih dhewe, i`tikaf diterjemahkan alunggwing masjid, istilah uzlah atau firaq min al-nas diiterjemahkanandoh waking wong akeh, istilah zamm al-dunya diterjemahkan angina dunia, dan lain sebagainya. Cukup menarik pula bahwa ajaran tasawuf yang dikemukakan dalam risalah ini  terdapat juga ringkasannya dalam Babad Banten..

Melalui pemaparan ini jelas sekali tampak bahwa sendi utama terbentuknya kebudayaan Islam di Nusantara adalah syariat dan tasawuf. Tidak salah jika kelak muncul pepatah “Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah”. Ungkapan ini dapat dirujuk pula pada kenyataan bahwa Islam yang disebarkan di Nusantara adalah Islam sebagaimana yang ditafsirkan oleh ahli-ahli tasawuf. Sejak awal kitab Imam al-Ghazali seperti Bidayat al-Hidayah dan Ihya `Ulumuddin memainkan peranan penting dalam pembentukan tradisi intelektual dan spiritual Islam. Tetapi kitab Jawa yang lebih luas dalam memberikan gambaran tentang ajaran Islam seperti apa yang dikembangkan di Nusantara akan tampak dalam risalah tasawuf Hamzah Fansuri dan Sunan Bonang.

Terkait Berita: