Daftar Isi Nusantara Angkasa News Global

Advertising

Lyngsat Network Intelsat Asia Sat Satbeams

Meluruskan Doa Berbuka Puasa ‘Paling Sahih’

Doa buka puasa apa yang biasanya Anda baca? Jika jawabannya Allâhumma laka shumtu, maka itu sama seperti yang kebanyakan masyarakat baca...

Pesan Rahbar

Showing posts with label Jawa. Show all posts
Showing posts with label Jawa. Show all posts

Mengenai Biografi Singkat Syekh Siti Jenar


Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M di lingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban Larang waktu itu, yang sekarang lebih dikenal sebagai Astana Japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yang multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.

Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dengan kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah.
Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yang dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala yang berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yang mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yang diakui Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing.


Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyat jelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]…

Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan bangsawan setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg saat itu, dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa.

Syekh Siti Jenar yg memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh ‘Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh ‘Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana ‘Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yang berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dgn kota Tarim di Hadramaut.

Syekh ‘Abdul Malik adalah putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal Syekh ‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yang semua keturunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam. Syekh ‘Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yang bersama keluarganya pindah dari Tarim ke India. Jika diurut ke atas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilah yang ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yang menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yg sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke Kamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana.

Adapun Syekh Maulana ‘Isa atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di Malaka. Syekh Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahamad dan Syekh Datuk Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yang kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka yang sedang dilanda kemelut kekuasaan pada akhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dengan sebutan Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil.

Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di Tanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yg sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban, besama-sama dgn ulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru dua bulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat.
 
Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yang sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi.
Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yang saat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu itu.

Saat itu Cirebon dgn Padepokan Giri Amparan Jatinya yang diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dengan sepenuh hati, disertai dengan pendidikan otodidak bidang spiritual.

Nasab Syekh Siti Jenar Bersambung Sampai ke Rasulullah saw diakui oleh Rabithah Azmatkhan
Abdul Jalil Syeikh Siti Jenar bin
1. Datuk Shaleh bin
2. Sayyid Abdul Malik bin
3. Sayyid Syaikh Husain Jamaluddin atau Jumadil Qubro atau Jamaluddin Akbar Al-Khan (Gujarat, India) bin
4. Sayyid Ahmad Shah Jalal atau Ahmad Jalaludin Al-Khan bin
5. Sayyid Abdullah AzhmatKhan (India) bin
6. Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-Muhajir AzhmatKhan (Nasrabad) bin
7. Sayyid Alawi Ammil Faqih (Hadhramaut, Yaman) bin
8. Muhammad Sohib Mirbath (lahir di Hadhramaut, Yaman dimakamkan di Oman) bin
9. Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin
10. Sayyid Alawi Ats-Tsani bin
11. Sayyid Muhammad Sohibus Saumi’ah bin
12. Sayyid Alawi Awwal bin
13. Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin
14. Ahmad al-Muhajir (Hadhramaut, Yaman ) bin
15. Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi (Basrah, Iraq) bin
16. Sayyid Muhammad An-Naqib bin
17. Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin
18. Sayyidina Ja’far As-Sodiq (Madinah, Saudi Arabia) bin
19. Sayyidina Muhammad Al Baqir bin
20. Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin {menikah dengan (34.a) Fathimah binti (35.a) Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Tholib, kakak Imam Hussain} bin
21. Al-Imam Sayyidina Hussain bin
(22.a) Imam Ali bin (23.a)Abu Tholib dan (22.b) Fatimah Az-Zahro binti (23.b) Muhammad SAW

(Serat She Siti Jenar Ki Sasrawijaya; Atja, Purwaka Tjaruban Nagari (Sedjarah Muladjadi Keradjan Tjirebon), Ikatan Karyawan Museum, Jakarta, 1972; P.S. Sulendraningrat, Purwaka Tjaruban Nagari, Bhatara, Jakarta, 1972; H. Boedenani, Sejarah Sriwijaya, Terate, Bandung, 1976; Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani Syaikh Syekh Siti Jenar dan Sang Pembaharu, LkiS, yogyakarta, 2003-2004; Sartono Kartodirjo dkk, [i]Sejarah Nasional Indonesia, Depdikbud, Jakarta, 1976; Babad Banten; Olthof, W.L., Babad Tanah Djawi. In Proza Javaansche Geschiedenis, ‘s-Gravenhage, M.Nijhoff, 1941; raffles, Th.S., The History of Java, 2 vol, 1817).

SIAPAKAH SYEH SITI JENAR


Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Sayyid Hasan ’Ali Al-Husaini, dilahirkan di Persia, Iran. Kemudian setelah dewasa mendapat gelar Syaikh Abdul Jalil. Dan ketika datang untuk berdakwah ke Caruban, sebelah tenggara Cirebon. Dia mendapat gelar Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Lemah Brit.
Syaikh Siti Jenar adalah seorang sayyid atau habib keturunan dari Rasulullah Saw. Nasab lengkapnya adalah Syekh Siti Jenar [Sayyid Hasan ’Ali] bin Sayyid Shalih bin Sayyid ’Isa ’Alawi bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Khan bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan bin Sayyid 'Alwi 'Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath bin Sayyid 'Ali Khali Qasam bin Sayyid 'Alwi Shohib Baiti Jubair bin Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma'ah bin Sayyid 'Alwi al-Mubtakir bin Sayyid 'Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid 'Isa An-Naqib bin Sayyid Muhammad An-Naqib bin Sayyid 'Ali Al-'Uraidhi bin Imam Ja'far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam 'Ali Zainal 'Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.
Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran. Sejak kecil ia berguru kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an usia 12 tahun.
Kemudian ketika Syaikh Siti Jenar berusia 17 tahun, maka ia bersama ayahnya berdakwah dan berdagang ke Malaka. Tiba di Malaka ayahnya, yaitu Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti Malaka oleh Kesultanan Malaka dibawah pimpinan Sultan Muhammad Iskandar Syah. Saat itu. Kesultanan Malaka adalah di bawah komando Khalifah Muhammad 1, Kekhalifahan Turki Utsmani.
Akhirnya Syaikh Siti Jenar dan ayahnya bermukim di Malaka.
Kemudian pada tahun 1424 M, Ada perpindahan kekuasaan antara Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih [ayah Siti Jenar] kepada Syaikh Syamsuddin Ahmad.
Pada akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad.
Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk menggantikannya sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman bin ’Affan. Di antara murid-murid Syaikh Siti Jenar adalah: Muhammad Abdullah Burhanpuri, Ali Fansuri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdul Ra’uf Sinkiliy, dan lain-lain.
KESALAHAN SEJARAH TENTANG SYAIKH SITI JENAR YANG MENJADI FITNAH adalah:
1. Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Sejarah ini bertentangan dengan akal sehat manusia dan Syari’at Islam. Tidak ada bukti referensi yang kuat bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Ini adalah sejarah bohong. Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang akrab dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….
2. “Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak berdasar alias ngawur. Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon Jawa. Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in Haalikun Illa Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat Allah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.
3. Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb. Syaikh Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri halaman 19 membantahnya, ia berkata, “Saya berguru kepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan sholat sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada manusia biasa. Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir “Allah..Allah..Allah” dan membaca Shalawat nabi, tidak pernah ia putus puasa Daud, Senin-Kamis, puasa Yaumul Bidh, dan tidak pernah saya melihat dia meninggalkan sholat Jum’at”.
4. Beberapa penulis telah menulis bahwa kematian Syaikh Siti Jenar, dibunuh oleh Wali Songo, dan mayatnya berubah menjadi anjing. Bantahan saya: “Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, seorang cucu Rasulullah. Sungguh amat keji dan biadab, seseorang yang menyebut Syaikh Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis menuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih. Dalam teori Antropologi atau Biologi Quantum sekalipun. Manusia lahir dari manusia dan akan wafat sebagai manusia. Maka saya meluruskan riwayat ini berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya kewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat akan melaksanakan sholat shubuh.
5. Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong. Tidak memiliki literatur primer. Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambahi, agar kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film atau sinetron. Bantahan saya: Wali Songo adalah penegak Syari’at Islam di tanah Jawa. Padahal dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh membunuh seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah. Tidaklah mungkin 9 waliyullah yang suci dari keturunan Nabi Muhammad akan membunuh waliyullah dari keturunan yang sama.” Tidak bisa diterima akal sehat.
 
 
Penghancuran sejarah ini, menurut ahli Sejarah Islam Indonesia (Azyumardi Azra) adalah ulah Penjajah Belanda, untuk memecah belah umat Islam agar selalu bertikai antara Sunni dengan Syi’ah, antara Ulama’ Syari’at dengan Ulama’ Hakikat. Bahkan Penjajah Belanda telah mengklasifikasikan umat Islam Indonesia dengan Politik Devide et Empera [Politik Pecah Belah] dengan 3 kelas:
1. Kelas Santri [diidentikkan dengan 9 Wali].
2. Kelas Priyayi [diidentikkan dengan Raden Fattah, Sultan Demak].
3. Kelas Abangan [diidentikkan dengan Syaikh Siti Jenar].

Sumber:  http://ahlulbaitnabisaw.blogspot.com/2014/08/siapakah-syeh-siti-jenar.html

Jawa di bawah Kekaisaran Perancis

 William V
 
Pada akhir abad ke 18, tepatnya pada tahun 1785, terjadi kerusuhan di Negeri Belanda antara kelompok “Orangists” yang mengingkan langgengnya kekuasaan William V dan kelompok “Patriot” yang menginginkan tegaknya demokrasi di pemerintahan, kelompok ini sangat terpengaruh dan terinspirasi dengan revolusi di Amerika. Namun demikian kedudukan William V sangat kuat karena didukung oleh Kerajaan Inggris yang kemudian meminta bantuan sekutunya di Eropa, Prusia, untuk membantu mengatasi kerusuhan yang terjadi dan menangkapi orang-orang “Patriot”. Karena kejadian tersebut hampir sekitar 40.000 anggota “Patriot” melarikan diri ke Perancis.
 Tahun 1789 pecahlah Revolusi Perancis dan kemudian berujung kepada aneksasi Perancis ke Negeri Belanda pada tahun 1795. Pasukan Perancis tidak menemui banyak kesulitan mengalahkan Belanda bahkan William V pun melarikan diri ke Inggris. Kemenangan Perancis atas Belanda sekaligus mendukung kaum “Patriot” untuk membuat sistem pemerintahan baru yang sejiwa dengan revolusi Perancis. Pada tahun yang sama kaum “Patriot” medirikan “Republik Batavia”.

Tetapi pada tahun 1806, Napoleon Bonaparte merubah “Republik Batavia” menjadi “Kerajaan Hollandia” sebagai kerajaan satelit bagi Perancis dengan menempatkan adiknya Louis Bonaparte sebagai rajanya. Karena Louis Bonaparte tidak begitu cakap memimpin Hollandia, maka pada bulan Juli tahun 1810, Napoleon menurunkan saudaranya itu dan menggabungkan Hollandia dengan Kekaisaran Perancis.

Kabar penggabungan Hollandia dengan Kekaisaran Perancis terdengar oleh Gubernur Jenderal Daendles di Pulau Jawa (Herman Willem Daendles tiba di Pulau Jawa pada Januari 1808) pada Januari 1811, kemudian ia memutuskan untuk segera menaikkan bendera Perancis di gedung-gedung pemerintah di Batavia.

“Periode Perancis” di Jawa tepatnya hanya berlangsung tujuh bulan, yaitu dari Februari hingga Agustus 1811.
Pada dasarnya saat itu Kekaisaran Perancis hanya memiliki satu koloni saja di nusantara, yaitu Pulau Jawa, yang menurut Benard de Saxe Weimar Eisenbach adalah, “Satu-satunya yang tegak di Samudera Hindia seperti menantang kekuasaan Inggris”. Sementara itu koloni-koloni yang lain telah jatuh ke tangan Inggris sebagai akibat perpanjangan dari perperangan Perancis dan Inggris di Benua Eropa, diantaranya :
(a) Ambon jatuh ke tangan Inggris pada tanggal 19 Februari 1810
(b) Menado pada tanggal 24 Juni 1810
(c) Ternate pada tanggal 26 Agustus 1810
(d) dan lainnya.

Inggris sendiri mendarat di Cilincing pada Agustus 1811 di bawah pimpinan Jenderal Sir Auchmuty. Tentara Belanda mundur sampai ke Striswijk (Salemba) serta Meester Cornelis (Jatinegara) dan akhirnya pasukan Kekaisaran Perancis itu menyerah setelah pertempuran di sekitar daerah Kramat.. Kekuasaan Kekaisaran Perancis di Pulau Jawa secara resmi berakhir pada tanggal 13 September 1811.

Pada tahun 1839, M. Mijer menuliskan, “Suatu kesalahan politik yang dilakukan Daendles yang tidak dapat dimaafkan adalah kepercayaannya yang terlalu berlebihan terhadap keampuhan dan jiwa besar Kaisar Perancis. Kalau saja ia mempertahankan pulau itu untuk negerinya sendiri, dia akan mendapatkan kejayaan yang abadi dimata rekan-rekannya, dimata generasi penerus …”

Pustaka :
(1) Orang Indonesia & Orang Perancis. Bernard Dorleans. Kepustakaan Populer Gramedia. 2006.
(2) http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_Netherlands

Haidar Bagir : Diponegoro Ternyata Menganut Paham Wahdatul Wujud


Jakarta – Intelektual Muslim dan pendiri Mizan Group, Haidar Bagir menilai pahlawan nasional Pangeran Diponegoro sebagai seorang penganut paham Wahdatul Wujud.

Hal itu diungkapkan Haidar saat memberikan materi dalam seminar bartajuk ‘Agama, Politik, dan Keserasian Sosial dalam Perspektif Perbandingan’ yang digelar Akademi Jakarta di Hotel Gren Alia Cikini, Rabu 10 Desember 2014.

Haidar beralasan, penilaianya atas paham fakta Wahdatul Wujud yang dianut Pangeran Diponegoro didasarkan rekam jejak sang Pangeran yang diungkap oleh sejarawan Peter Carey dalam bukunya ‘Destiny: The Life of Prince Diponegoro of Yogyakarta, 1785-1855′.

“Di situ Carey menjelaskan, Diponegoro ternyata menganut paham sufisme wahdatul wujud,” kata Haidar.
Semasa hidupnya, lanjut Haidar, Pangeran Diponegoro sering membaca kitab ‘Al Tuhfah Al Mursalah ila Ruhin Nabiy’ yang merupakan karangan tokoh sufi asal India, Muhammad Ibn Fadhilah al Burhanpuri.
Kitab tersebut, menurut Haidar, menjadi salah satu sumber ajaran wahdatul wujud yang banyak dianut umat Islam di Indonesia pada masa lalu. Saat itu umat Islam Indonesia menempuh spiritualisme dan mistisisme sebagai sebuah upaya mencapai kesempurnaan.

“Kitab itu dulu telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Jawa. Kandungan dari kitab itu memengaruhi pemikiran Pangeran Diponegoro dalam melakukan gerakan politiknya,” ujar Haidar.
Wahdatul wujud adalah paham yang menempuh kesadaran eksistensi. Paham ini melihat eksistensi atau wujud secara bergradasi. Bahkan, beberapa kalangan sufi meyakini bahwa orang yang menguasai kesadaran tersebut mampu menyerap kemuliaan dari Tuhan.

Dalam kamus Bahasa Jawa, konsep pemahaman semacam ini dikenal dengan istilah ‘manunggaling kawula Gusti’. Ajaran ini berkembang pesat di Indonesia terutama di tanah Jawa. Beberapa tokoh sufi yang dipengaruhi oleh ajaran ini antara lain Ibnu Arabi, Syekh Siti Jenar, dan Hamzah Fansuri.
“Selain Pangeran Diponegoro, Ayatollah Khomeini juga seorang pengikut tasawuf Wahdatul Wujud,” kata Haidar lagi.

Peranakan Tionghoa di Bangka-Belitung

Penambang timah Tionghoa di Manggar Belitung, 1903. Foto: KITLV.

Sama-sama berasal dari Guangdong dan datang karena timah, peranakan Tionghoa di Bangka berbeda dengan Belitung.
OLEH: YUDI ANUGRAH NUGROHO

KEBERADAAN Tionghoa di Bangka-Belitung karena timah –Bangka berasal dari bahasa Sanskerta, vanka, artinya timah. Penambangan timah di Bangka dimulai pada abad ke-18 oleh keluarga Tionghoa dari Guangdong, Lim Tiau Kian. Sementara di Belitung, penambangan dimulai perusahaan Belanda Gemeenschappelijke Mijnbouw Maatschappij Billiton (GMB) pada 1852.

Menurut sejarawan Myra Sidharta dalam diskusi bertajuk “Jejak Langkah Kaum Peranakan Indonesia, Silang Budaya Negri China dan Nusantara,” di Kunstkring Paleis, Jakarta Pusat, (28/11), meski sama-sama berasal dari daerah Guangdong (Kanton) Tiongkok Selatan, peranakan Tionghoa di Bangka dan Belitung memiliki perbedaan.

Orang Tionghoa di Bangka didatangkan pada awal abad ke-18 ketika pertambangan resmi dibuka. Mereka umumnya tidak membawa istri sehingga menikahi penduduk bumiputera, baik Bangka, Jawa maupun Bali. Maka, menurut Myra, Tionghoa di Bangka adalah “masyarakat peranakan sebenarnya, yaitu darah campuran Tionghoa dan pribumi.” Jumlah Tionghoa muslim cukup besar, bahkan ada kuburan khusus untuk mereka di dekat kota Mentok.

Sedangkan Tionghoa di Belitung datang pada pertengahan abad ke-19 beserta istri-istri mereka. Mereka menjadi “peranakan berdasarkan orientasi hidup.” Contohnya, ada perempuan yang menggantikan pakaian Tionghoanya dengan pakaian bumiputera. Mereka mengganti baju kurung dengan kebaya, celana dengan sarung. “Di zaman dahulu wanita mengunyah sirih. Dewasa ini mereka makan durian dan petai,” kata Myra.
Perbedaan terbesar dalam bahasa. Di Bangka, peranakan Tionghoa berbahasa Melayu-Bangka yang khas bercampur kata-kata dialek Hakka. Di Belitung, peranakan Tionghoa berbahasa Hakka murni yang dibagi dalam “bahasa ibu” dan “bahasa ayah.” Kaum perempuan berbahasa ibu dengan nada khas dan bercampur bahasa Melayu. Lelaki berbahasa ayah atau Hakka murni; jika berbicara dengan bahasa ibu dianggap aneh. Dewasa ini bahasa Hakka terancam punah. Anak-anak kecil di Belitung bisa bahasa Hakka namun ketika pindah ke Jakarta jarang mau menggunakannya karena malu atau pergaulan.

Di luar perbedaan itu, dalam hal kuliner, Tionghoa di Bangka dan Belitung umumnya sama. Keduanya membedakan masakan totok dan peranakan. Makanan juga disesuaikan untuk kebutuhan sehari-hari, ritual, perayaan, perkawinan, dan kematian.

Loro Jonggrang Si Gadis Semampai

Arca Durga Mahisasuramardini alias Loro Jonggrang di candi Siwa dalam kompleks Candi Prambanan. Foto: Gunawan Kartapranata/wikimedia.org.

Loro Jonggrang merujuk kepada arca Durga Mahisasuramardini di candi Siwa dalam kompleks Candi Prambanan.
OLEH: HENDRI F. ISNAENI

SONTAK mendadak nama Loro Jonggrang, perempuan dalam legenda rakyat Jawa, mencuat jadi bahan perbincangan di sosial media. Muasalnya karena Taufik Ridho, Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera dan anggota Timses Prabowo-Hatta, kepleset ucap soal Loro Jonggrang saat memberikan pernyataan seputar persiapan sidang gugatan kepada KPU di Mahkamah Konstitusi.

“Ini kan tidak bisa dilakukan seperti Roro Jonggrang membuat Tangkuban Perahu (hanya butuh waktu semalam),” tegasnya berkilah soal waktu mempersiapkan bukti-bukti gugatan KPU, dikutip liputan6.com (4/8).

Loro Jonggrang bukan tokoh dalam legenda Sangkuriang yang menciptakan gunung Tangkuban Perahu. Legenda Tangkuban Perahu berasal dari Tatar Priangan yang mengisahkan tentang Dayang Sumbi, ibu kandung Sangkuriang, yang mengajukan syarat berat untuk menggagalkan keinginan anaknya mengawini dirinya.

Loro Jonggrang adalah tokoh utama dalam cerita rakyat Jawa yang beralur kurang lebih sebagai berikut: Loro Jonggrang, putri semata wayang Ratu dan Raja Boko dari Kerajaan Medang Kamulan, tersohor karena kecantikannya dan hendak diperistri oleh banyak pangeran.

Ketika Bandung Bondowoso, salah satu pangeran yang ingin menyuntingnya, mengajukan diri, Raja Boko mengatakan harus mengalahkannya terlebih dulu. Sang raja terbunuh. Loro Jonggrang tak sudi menikah dengan pembunuh ayahnya, apa daya dia takut menolak Bandung Bondowoso secara terang-terangan. Lalu, dia mengajukan syarat: bila Bandung Bondowoso berhasil membangun seribu candi dalam semalam, dia boleh menikahinya.

Bandung Bondowoso menyanggupinya dan nyaris berhasil karena ayahnya membantu dengan sepasukan jin. Atas saran seorang dayangnya, Loro Jonggrang memukul lesung penumbuk padi, sehingga ayam jago berkokok. Pasukan jin yang mengira fajar akan merekah langsung kabur karena takut cahaya matahari.
Bandung Bondowoso gagal menyelesaikan seribu candi. Dia naik pitam karena tahu muslihat Loro Jonggrong. Dia mengutuk sang putri menjadi batu. Berkat kemurahan hati Dewa Siwa, Loro Jonggrang menjadi sebuah arca.

Menurut Roy Jordan dalam Memuji Prambanan, Loro Jonggarang yang berarti “Gadis Semampai” merujuk pada arca Durga Mahisasuramardini yang terletak di bilik sebelah utara dari candi induk, yaitu candi Siwa di kompleks Candi Prambanan di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Candi Prambanan dibangun pada paruh kedua abad ke-9 atau permulaan abad ke-10 sebagai persembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu: Brahma, Wishnu, dan Siwa. Karena arca Durga berada di candi induk, kompleks Candi Prambanan biasa disebut Candi Loro Jonggrang.
Di masa lalu, arca Durga, memikat luar biasa para penduduk setempat. Ini terlihat dari rupa-rupa sesajen berupa dupa, beras, bebungaan atau uang, bahkan kambing-kambing yang masih hidup.

“Daya pikatnya juga terbukti dari bagian dada dan pinggul arca itu yang berkilauan, yang disebabkan oleh elusan kasih para pemujanya,” tulis Jordan. “Lucunya, karena elusan-elusan ini beberapa pengunjung asing terdahulu…malah menduga dada itu terbuat dari lempengan logam atau merupakan bagian dari sebuah arca logam yang bersinar cemerlang di antara tumpukan bebatuan.”

C.A. Lons, pegawai VOC, kali pertama berkunjung ke reruntuhan Candi Prambanan pada 1733 dan melaporkannya sebagai “kuil-kuil Brahmana” tanpa perincian lebih lanjut. Keterangan dan sketsa pertama puing-puing Candi Loro Jonggarang ditemukan dalam buku History of Java karya Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Sir Stamford Raffles. Judul sketsa karya J. Mitan pada 1815 itu berbunyi “candi induk di Jongrangan.”

“Dalam nama Jongrangan ini kita dapat mengenal nama lokal lainnya yang lebih populer untuk kompleks percandian itu, yaitu Loro Jonggarang,” tulis Jordan. John Crawfurd, residen Yogyakarta yang diangkat Raffles, mengenali “candi Jongrangan” sebagai kuil Siwa. Raffles menyebut candi-candi itu sebagai tempat suci agama Buddha.

J.W. IJzerman, ketua perkumpulan arkeologis amatir setempat, melakukan pembersihan pertama kompleks candi itu pada 1885. “Usaha-usahanya tampaknya menegaskan bahwa Loro Jonggrang adalah sebuah candi Saiva (Siwa, red) dan bukan sebuah tempat suci Buddhis,” tulis Jordan.

Pemugaran kali pertama dilakukan oleh arsitek muda, De Haan. Selain terkendala pemotongan anggaran, tragisnya dia meninggal pada 1930. Penggantinya, Van Romondt juga terhambat oleh pembatasan anggaran. Pemugaran tertunda karena pecah Perang Dunia II disusul perang kemerdekaan Indonesia.

Pemugaran candi induk, yaitu candi Siwa, di mana arca Durga atau Loro Jonggrang berada, yang dimulai pada 1918 baru tuntas pada 1953 dan diresmikan Presiden Sukarno. Sedangkan candi Brahma diresmikan pada 1987 dan candi Wishnu pada 1991 sekaligus dinyatakan oleh UNESCO, badan PBB yang menangani pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan; sebagai warisan dunia (world heritage).

Ada Jepang di Belakang PKS


Dalam 3,5 tahun masa pendudukannya, Jepang ambil begitu banyak kekayaan negeri ini, mulai sayuran sampai asinan.
OLEH: HENDRI F. ISNAENI

BEBERAPA bulan setelah menduduki Jawa, balatentara Jepang membutuhkan banyak dukungan logistik, tak terkecuali sayuran. Untuk keperluan itulah Jepang mendirikan Pertaroehan dan Keloearan Sajoeran-sajoeran (Penyimpanan dan Distribusi Sayur-sayuran-Red) pada pengujung 1942 di Lembang, Bandung. Suratkabar Tjahaja menyingkatnya menjadi PKS. Organisasi yang mengatur hasil pertanian itu langsung di bawah pengawasan bagian pertanian balatentara Dai Nippon di Jawa.

Suratkabar Tjahaja, 7 November 1942, menurunkan berita tentang dua maklumat PKS yang diterbitkan tak lama setelah pembentukannya. Maklumat kesatu berbunyi, pertama, tanaman sayuran-sayuran di Lembang Gun akan dipasrahkan untuk keperluan Balatentara Dai Nippon, yang mana pengelolaannya dipasrahkan pada Dai Nippon Peratoeran Keboen PKS Lembang Gun. Kedua, Semua sayuran-sayuran yang baik harus dimasukkan pada Dai Nippon Peratoeran Keboen PKS Lembang Gun. Ketiga, sayuran-sayuran yang kurang baik, sebelum dijual ke luar, lebih dahulu harus mendapat ijin Dai Nippon Peratoeran Keboen PKS Lembang Gun atau Poesat Penjoealan di Bandung. Keempat, siapa yang tidak menurut pada undang-undang ini, berarti mengganggu keamanan Balatentara Dai Nippon dan akan mendapat hukuman yang berat. 

Menurut Aiko Kurasawa dalam bukunya Mobilisasi dan Kontrol: Studi Tentang Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1942-1945 kegiatan ekonomi Jepang di Jawa diarahkan untuk upaya perang Jepang. Produksi bahan makanan untuk memasok pasukan militer diberi prioritas utama. Meskipun Jawa telah bisa menopang dirinya sendiri dalam hal bahan makanan pokok di zaman Belanda, keadaan ini tidak bisa berlangsung di bawah pendudukan Jepang karena meningkatnya tuntutan yang dikenakan atas produksi bahan makanan di pulau Jawa.

“Selama pendudukan Jepang, slogan ‘Melipatgandakan Hasil’ diulang terus menerus dan sering muncul di surat kabar, teater, dan film-film. Dengan slogan ini, petani ditempatkan di bawah tekanan keras militer Jepang untuk memuaskan semua tenaga mereka bagi ‘Pelipatgandaan Hasil’,” tulis Aiko.

Propaganda Jepang itu, untuk sementara waktu, bisa berjalan secara sukses karena didukung oleh peraturan yang keras dan bersifat memaksa. Setiap pelanggaran yang dilakukan oleh rakyat, tak segan-segan Jepang menjatuhkan hukuman berat, bahkan sampai hukuman mati. Dalam soal PKS, Jepang pun memberlakukan yang sama, seperti tertera dalam maklumat kedua yang berbunyi, “Dipermaklumkan bahwa barang siapa yang menyiarkan kabar yang bukan-bukan, ataupun mempercakapkan yang tidak benar tentang PKS atau pengurus dan pegawainya, akan dianggap sebagai menyiarkan kabar bohong yang merusak keamanan rakyat dan Balatentara, dan akan dihukum berat. Bilamana ada sesuatu hal janganlah bersembunyi-sembunyi atau menyiarkan yang tidak-tidak, melainkan hendaklah dikemukakan pada pengurus atau lain-lain yang berwajib.”

Kedua maklumat tersebut mulai berlaku sejak hari Rabu 26 Hachigatsu 2602 (26 September 1942-Red.) ditandatangani tiga petinggi sekaligus yang mengatasnamakan Pembesar Balatentara Dai Nippon di Indonesia. Mereka adalah ketua bagian Nodzohan (pertanian-Red) balatentara Dai Nippon, Pengurus Nodzohan Lembang, dan Ketua I PKS Raden Djajakoesoemah.

“Tadi malam telah diadakan malam pembukaan Pusat PKS di Logeweg 20 Bandung. Acara ini dihadiri oleh orang-orang terkemuka, baik dari Balatentara Jepang maupun dari pihak Indonesia,” tulis Tjahaja, 16 November 1942.

Tepat pada pukul 20:00 malam, acara dibuka oleh ketua Bandung Kentyo (Kabupaten Bandung-Red) dengan mengucapkan selamat dan terima kasih atas kedatangan hadirin dan kemudian menerangkan maksud dan tujuan berdirinya PKS. Pembentukan PKS, menurut ketua, ditujukan untuk memenuhi pasokan sayur baik untuk keperluan Balatentara Jepang maupun kepentingan khalayak umum. Organisasi itu juga bertujuan supaya kaum tani mendapat perlindungan yang sempurna.

Dalam kesempatan itu K. Nakatuka pemimpin umum urusan PKS turut menyampaikan keterangan tentang maksud dan tujuan pendirian PKS. Dia pun berharap agar PKS mendapat hasil yang memuaskan di dalam aktivitasnya.

Sementara itu Kolonel K. Tanaka dari pihak Balatentara Jepang menyampaikan rasa syukur dan gembiranya atas pembentukkan organisasi pertanian itu. “Umumnya, bangsa Asia memang selalu mementingkan pertanian,” kata dia. Tanaka berharap agar balatentara Jepang dan bangsa Indonesia bersedia bekerjasama demi kemajuan dua bangsa yang bersaudara itu.

Sambutan terakhir disampaikan oleh Ir. Soezaja dari Nodzohan Lembang. “Dia membentangkan tentang usaha yang telah dijalankan oleh PKS untuk mencapai cita-citanya yang baik itu,” tulis Tjahaja, 16 November 1942.

Setelah semua sambutan selesai, acara dilanjutkan dengan jamuan makan sederhana sambil mendengarkan kecapi-orkes.

Harian Tjahaja edisi 21 November 1942 memberitakan berbagai kemajuan yang dicapai PKS. Menurut koran itu, sejak didirikan sampai dengan 10 November 1942, PKS telah berhasil menjual sayuran sebanyak 1268.843 kilogram, 83.344 kilogram buah-buahan, dan 46.408 kilogram bumbu-bumbu dengan jumlah pendapatan f.123.469,87. Bahkan, PKS telah mempunyai empat cabang, yakni di Cianjur, Bandung, Garut, dan Tanjungsari (Sumedang). Untuk buah-buahan PKS banyak mendatangkannya dari daerah Sumedang dan kedelai didatangkan dari Garut.

Tak hanya itu, organisasi pengepul dan penyuplai hasil pertanian ini pun melebarkan sayapnya. Di tiap-tiap Syuu (karesiden-Red) didirikan cabang PKS. Berdasarkan laporan Tjahaja, 21 Desember 1942, di Priangan Syuu telah didirikan beberapa cabang di antaranya di Lembang, Garut, Pangalengan, Sindanglaya, dan lain-lain. Daerah tersebut sudah dikenal sejak lama sebagai sentra penghasil sayur-sayuran di Jawa Barat. Seiring pesatnya perkembangan PKS, mereka pun menguasai produsen makanan berbahan baku sayuran di tingkat hilir seperti pabrik asinan di Lembang, Bandung. Suratkabar Tjahaja melaporkan, “Dalam bulan November dihasilkan lebih dari 50 ton asinan untuk keperluan Balatentara.”

Gerak PKS memang sangat agresif. Organisasi itu pun merambah ke distribusi minyak tanah, minyak kelapa, dan rokok. “Yang biasanya penjualan minyak tanah, minyak kelapa, dan rokok dilakukan para Lurah di Lembang, sekarang diusahakan oleh PKS dimulai di Lembang,” tulis Tjahaja, 26 Januari 1943.

Meski hanya 3,5 tahun, pendudukan Jepang di Indonesia telah meninggalkan luka mendalam bagi rakyat Indonesia. Jepang melakukan eksploitasi sumberdaya alam dan manusia. Para petani diperas untuk menyediakan pangan untuk keperluan militer Jepang dalam peperangan. Jepang juga mengerahkan penduduk Indonesia untuk dijadikan romusha. Dan, gadis-gadis pun dipaksa jadi jugun ianfu, pemuas nafsu serdadu Jepang. Lengkaplah sudah penderitaan rakyat Indonesia akibat pendudukan Jepang.

Apakah Orang Jawa Keturunan Yahudi? Apakah Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman

OPINI | 05 October 2012 | 18:25 Dibaca: 25630    Komentar: 74    7
Oleh : margono dwi susilo

 Pendidikan : SD-SMP-SMA di Sukoharjo Jawa Tengah; STAN-Prodip Keuangan lulus tahun 1996; FHUI lulus tahun 2002; Magister Managemen dari STIMA-IMMI tahun 2005; Pekerjaan : Kementerian Keuangan DJKN


Saya masih ragu, karena itu, judul di atas saya beri tanda tanya. Bermula dari sebuah buku karangan KH Fahmi Basya, ahli matematika Qur’an Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, berjudul Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman terbitan Zaituna dan PT. Ufuk Publishing, cetakan I Agustus 2012. 

Materi dalam buku tersebut menurut pengakuan penulis bukan hasil kerja sehari dua hari, tetapi telah melalui penelitian 33 tahun dan revisi puluhan kali. Berbagai fragmen tulisan ini telah diposting di internet dengan nama flying book. Penulis memang tidak main-main, dan menyatakan bahwa kesimpulannya berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an. Pertama yang mengagetkan saya dan juga pembaca lain adalah statement beliau yang mengatakan bahwa Nabi Sulaiman adalah anak Nabi Daud dari seorang perempuan Jawa. Sulaiman adalah satu-satunya nabi yang mempunyai nama depan SU. Dan SU menurut Kyai Haji kelahiran Padang ini adalah identik dengan orang Jawa, seperti Sukarno, Suharto, Supriyono dan seterusnya. Dengan kata lain Sulaiman adalah nabi dari suku Jawa, dan tidak menutup kemungkinan Dawud atau Sulaiman akhirnya menurunkan suku bangsa Jawa sekarang ini. Jawa adalah keturunan Yahudi. Spekalusai yang berkembang istilah “Jawa” berasal dari “Jews”.

Dengan menggunakan ilmu ciptaan sendiri yang diberi nama “matematika islam/qur’an” KH Fahmi Basya mengklaim bahwa Borobudur adalah warisan Nabi Allah Sulaiman dengan demikian milik kaum muslim sedunia. Bagaimana cara kerja matematika islam ini. Rumit sekali dan cenderung “otak-atik-gathuk” menurut pepatah Jawa. Coba perhatikan.

Proses pengklaiman borobudur tidak dimulai dari data arkeologis tetapi dari matematika islam, dimulai dari QS.71 : 15. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Alloh menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat. Pernyataan langit tujuh itu memberitahukan ada lingkaran dengan jari-jari (R) = 7. Dari ilmu matematika dasar kita tahu bahwa 7K=22d, dan d=2R. Dengan matematika pula kita akhirnya tahu bahwa Keliling lingkaran (K) adalah 44. Sebuah lingkaran dengan K = 44 akan terwakili oleh bujur sangkar dengan sisi 11, bukankah 11 X 4 =44. Artinya ada transformasi dari lingkaran berjari-jari 7 menjadi bujur sangkar bersisi 11. Perhatikan angka 11 dan 7. Bukalah QS.11:7, disana tersebut “Dan adalah Arsy-Nya atas air”. Ingat dengan baik kata Arsy ini.

Selanjutnya kita kembali ke lingkaran berjari-jari 7 yang bertransformasi menjadi bujur sangkar bersisi 11. Bujur sangkar ini jika diubah menjadi kubus bersisi 11 maka ia akan mempunyai volume sebesar 11X11X11 = 1331. Dengan terilhami oleh QS.21:30 yang menerangkan bahwa bumi dan langit itu dulunya satu lalu dipisahkan oleh Alloh, maka KH Fahmi Basya berusaha memisahkan kode 1331 tadi menjadi dua bilangan, yaitu 1046 dan 285. Ingat bahwa 1046 + 285 = 1331. Himpunan 1046 ini menurut beliau adalah kode Alif-Lam-Mim.

Jika anda teliti Al-Qur’an maka akan ada 6 surat Al-Qur’an yang diawali ayat “Alif-Lam-Mim”, yaitu surat ke 2, 3, 29, 30, 31 dan 32. Total jumlah karakter Alif, Lam dan Mim dari ke-6 surat tersebut adalah 19.874, dan jika angka ini dibagi dengan 19 akan didapat angka 1046 (kode alif-lam-mim). Terus bagaimana dengan angka 285? Jika balok himpunan 1046 diletakkan di atas piramida 285 maka ia akan berubah menjadi piramida 286. Mengapa angka 285 menjadi 286? Menurut beliau karena “Alif-Lam-Mim” melambangkan ayat pertama dari QS.Albaqorah, sedangkan 285 adalah ayat selebihnya. Ketika balok alif-lam-mim jatuh ke bumi (piramida 285) di langit terjadi bilangan 1045. (terus terang saya tidak paham kalimat terakhir ini.)

Bagaimana memahami piramida 285 atau 286 ini? Piramida ini terdiri dari 286 balok yang disusun menjadi 5 tingkat plus satu balok puncak. Dasar piramida disusun dari 121 balok (112), lantai dua disusun dari 81 balok (92), lantai tiga disusun dari 49 balok (72), lantai empat terdiri dari 25 balok (52), lantai lima terdiri dari 9 balok (32) dan lantai 6 (puncak) terdiri dari 1 balok besar. Lihatlah bahwa 121+81+49+25+9+1 = 286. Dan piramida 286 ini oleh KH Fahmi Basya dianggap sebagai simbol bagian atas Borobudur (Arupa Dhatu) dengan balok puncak sebagai stupa terbesar, dengan demikian stupa puncak Borobudur adalah Alif-Lam-Mim menurut matematika islam. Benarkah? Nanti kita bahas.

Dengan mengutak-atik Qur’an Surat Saba dan An-Naml, KH Fahmi Basya berani berspekulasi bahwa bagian atas Borobudur (Arupa Dhatu/ranah kesenyapan) dahulu adalah Arsy (singgasana/istana) di istana Ratu Boko (Istana Ratu Saba), yang dengan ilmu Kitab dipindahkan/ditransformasikan ke bagian Rupa Dhatu (ranah rupa-rupa wujud) Candi Borobudur dengan kecepatan hanya sekejapan mata. Bukti utama yang diajukan adalah bahwa saat ini istana Ratu Boko memang hilang dan tinggal pondasinya saja.

Spekulasi ini berlanjut dengan klaim bahwa Borobudur adalah peninggalan nabi Sulaiman yang pengerjaannya oleh manusia dan Jin (dalam bukunya tersebut diatas peran Jin sangat dominan). Untuk mendukung klaim ini penulis mengajukan argumen bahwa relief candi begitu halus sehingga mustahil itu hasil pahatan manusia. Untuk menguatkan argumen ini diajukan ayat-ayat Al-Qur’an yang mengisahkan Sulaiman mempunyai kaum baik dari golongan manusia, jin dan burung-burung. Lebih jauh Kyai kita ini menjelaskan bahwa teknik penciptaan relief dan patung di Borobudur adalah dengan melunakan batu, bukan pahatan, karena hanya Jin yang sanggup mengatasi batu yang lunak (meleleh karena panas). Benarkah? Tahan dulu pendapat anda.

Untuk mendukung klaim-klaim tersebut beliau mengajukan bukti bahwa Saba itu benar-benar di Pulau Jawa. Selama ini para mufasir Al-Qur’an menafsirkan bahwa Saba itu letaknya di negeri Yaman. Padahal menurut beliau bukti-bukti bahwa Saba ada di Yaman sangat tidak mencukupi dari sudut pandang arkeologis. Coba buka QS.34:15, terjemahannya menurut beliau adalah “Dan sungguh adalah untuk Saba pada tempat mereka ada ayat, dua hutan sebelah kanan dan kiri.” Perhatikan kata SABA dan HUTAN. Hutan dalam bahasa jawa kono adalah WANA, sedangkan SABA adalah tempat berkumpul. Dari kata WANA dan SABA akan terbentuk nama tempat yaitu WANASABA, atau sekarang WONOSOBO, sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang memang sangat dekat dengan komplek istana Ratu Boko yang diklaim sebagai istana ratu Saba/Bilqis. Juga diajukan hipotesis bahwa Kabupaten Sleman di Yogyakarta berasal dari kata Sulaiman. Kepulauan Solomon di lautan pasifik juga ada kaitannya dengan nabi Sulaiman.

Lebih jauh Kyai Fahmi Basya mengajukan argumen tambahan bahwa berdasarkan QS.27 : 29-30 Nabi Sulaiman pernah berkirim surat dengan kurir seekor burung kepada ratu Bilqis di negeri Saba. Surat tersebut menurut Al-Qur’an diawali dengan “Bismillahirrahmaanirrahim”. Untuk menunjukkan kekuasaan dan kejayaan maka surat tersebut terbuat dari lempengan emas, dan surat berlempeng emas ini ditemukan di kolam pemandian istana Ratu Boko. Jika ini benar tentu merupakan bukti sahih bahwa Borobudur dan reruntuhan istana Ratu Boko benar ada kaitan dengan nabi Sulaiman. Tetapi sayangnya beliau tidak menjelaskan lebih lanjut perihal surat tersebut, kapan ditemukan, siapa penemunya, apakah pendapat para pakar arkeologi tentang inskripsi emas tersebut, hanya sekedar menampilkan fotonya saja.

BEBERAPA KEBERATAN.

Tentang Nabi Sulaiman adalah keturunan Jawa karena ia satu-satunya nabi yang menggunakan nama SU pantas diajukan keberatan. Bolehlah saya katakan itu kebetulan saja. Kita harus melacak apakah orang-orang Jawa sudah lazim menggunakan nama SU sejak zaman kuno, sezaman dengan Borobudur. Mengingat Sulaiman adalah Raja maka kita harus menampilkan nama-nama Raja Jawa (atau bangsawan atau orang terkenal) yang dikenal dalam sejarah. Referensi untuk hal ini sangatlah banyak, saya menyebutkan sekedar contoh nama-nama raja tersebut (Era Mataram Hindu sampai Majapahit) : Aji Saka, Shima, Indrawarman, Sanjaya, Panangkaran, Syailendra, Panunggalan, Warak, Garung, Pikatan, Kayuwangi, Watuhumalang, Dyah Wawa, Tulodong, Daksa, Balitung, Mpu Sindok, Airlangga, Dharmawangsa Teguh, Jayabhaya, Tunggul Ametung, Arok, Dedes, Ndok, Lohgawe, Gandring, Prapanca, Anusapati, Tohjaya, Kebo Ijo, Ranggawuni, Wijaya, Nambi, Kebo Anabrang, Gajah Mada, Hayam Wuruk, Tribuana Tunggadewi, Suhita dan seterusnya. Kita lihat bahwa pada Zaman kuno nama dengan awalan SU belum lazim digunakan oleh orang Jawa. Sebagai perkecualian mungkin nama Raja Majapahit Suhita, tetapi nama ini baru muncul pada abad 15, tujuh abad setelah Borobudur.

Untuk memperluas cakupan, ada baiknya kita lihat nama-nama Jawa yang sering ditampilkan dalam naskah Jawa Kuno, seperti Kakawin atau Kidung, misalnya :Kakawin Arjunawiwaha, kita bisa sebut nama-nama seperti Niwatakawaca, Muka, Supraba, Arjuna, Matali, Menaka, Tilotama, Urvasi, Kanwa. Dalam Kakawin Hariwangsa : Jayabhaya, Bhoma, Kangsa, Kalayawana, Rukmini, Bismaka, Karawira, Kesari, Priyambada, Jarasandha, Rukma. Selanjutnya Kakawin Ghatotkacasrya menampilkan nama-nama, yaitu : Bhupala Jayakerta, Madaharsa, Ksiti Sendari, Abimanyu, Jurudyah, Sudarpana, Laksmana Mandrakumara, Bajradanta.

Selanjutnya dalam Kakawin Smaradahana kita menemukan nama-nama seperti Panuluh, Manmatha, Dharmaja, Uma, Wrespati, Nilarudraka, Ratih, Gana, Kumara, Namusti, Ratnawati, Kameswara, Basadawa, Ratnawali, Kiranaratu dan Udayana.Kakawin Sumanasantaka, menampilkan nama Tarnawindu, Harini, Widharba, Indumati, Citrarata, Jayawaspa, Pratipa, Susena, Anggada, Pandya dan Awintinatha.Kakawin Siwaratrikalpa menampilkan Tanakung, Lubdhaka dan Citragupta.

Dari sekedar contoh nama-nama tokoh Jawa diatas (baik yang historis maupun fiksi) dapat disimpulkan bahwa nama dengan awalan SU tidak menjadi pilihan utama di jaman kuno. Memang kita bisa sebutkan nama-nama yang memakai SU, seperti Sumbadra, Subali, Sugriwa, Sumantri, tetapi sudah selayaknya pembaca maklum itu adalah nama tokoh pewayangan (Mahabarata dan Ramayana) India, jadi bukan tipikal Jawa.

Pertanyaannya, sejak kapan orang jawa ramai-ramai menggunakan nama SU? Tentu tidak ada kepastian. Tetapi bolehlah dibuat hipotesis bahwa nama dengan SU mulai populer sejak abad 18, tatkala raja Mataram Islam mulai menggunakan gelar SUSUHUNAN dan menanggalkan gelar Sultan. SU artinya mulia/baik/unggul, sedangkan SUHUNAN (SUNAN) adalah gelar bagi wali islam. Susuhunan berarti raja yang mengungguli para Sunan. Memang pada waktu itu pengaruh Sunan sangat kuat sehingga seorang raja sekalipun perlu menggunakan rekayasa linguistik berupa gelar-gelar yang serba unggul. Sejak periode itu (abad 19 dan 20) terjadi banjir nama orang Jawa dengan awalan SU, yang paling terkenal Sukarno (lebih baik/unggul dari satria Karno), Suharto (unggul dalam hal harta), Supriyono (unggul melebihi pria umumnya) dan seterusnya.

Apa maknanya jika dikaitkan dengan pendapat KH Fahmi Basya terkait dengan Nabi Sulaiman sebagai orang Jawa? Dapatlah dipastikan bahwa beliau tidak memahami sejarah jawa kuno dan terjebak pada fenomena Jawa masa kini. Justru saya meyakini bahwa diabad 21 ini orang Jawa sudah sedikit yang memberikan nama anaknya dengan awalan SU. Nama bayi abad-21 sangat terpengaruh Arab dan Barat. Dengan demikian pendapat bahwa Sulaiman adalah orang Jawa harus ditolak.

Keberatan lain terkait dengan penggunaan matematika islam untuk mengklaim Borobudur dan Istana Ratu Boko. Prinsip dalam Al-Qur’an jelas, yaitu mudah dipahami, jikapun ada ayat yang tidak jelas tentu dicari penjelasannya pada hadist Nabi, dalam hal ini tidak dilakukan sama sekali. Jikapun seandainya Alloh SWT hendak mewahyukan bahwa Borobudur itu dibangun oleh Nabi Sulaiman, apakah perlu dengan cara yang rumit, aneh dan berliku-liku seperti matematikanya KH Fahmi Basya? Tidak mungkin, itu bertentangan dengan prinsip pewahyuan.

Hipotesis bahwa Saba ada di Jawa dan terkait dengan Wanasaba (Wonosobo) menurut saya terlalu gegabah. Coba perhatikan lagi ayat yang QS.34:15, terjemahannya menurut beliau adalah “Dan sungguh adalah untuk Saba pada tempat mereka ada ayat, dua hutan sebelah kanan dan kiri.” Kalau kita baca teks arabnya maka yang dimaksud hutan itu adalah “jannah”. Para ulama sepakat bahwa kata jannah dalam ayat ini tidak bisa diartikan sebagai hutan, tetapi kebun, diayat lainnya bahkan diartikan surga. Beda sekali pengertian antara hutan dan kebun. Kita lihat bahwa beliau melakukan penterjemahan sekedar untuk mendukung pendapatnya. Dengan demikian haruslah ditolak.

Benarkah surat lempengan emas nabi Sulaiman pernah ditemukan di bekas kolam Istana Ratu Boko di Jawa Tengah? Lempengan emas itu memang ada, tetapi bukan berbahasa Ibrani, Aramaic atau Arab, tetapi Jawa Kuno, bunyinya “Om Rudra ya namah swaha,” jika diartikan memang sejajar dengan Bismillahirrahmanirrahiim. Apakah ini surat Sulaiman seperti maksud Al-Qur’an? Jelas tidak. Perhatikan ada kata-kata “RUDRA”, nama ini adalah istilah untuk Wisnu, dewa dalam trimurti. Apakah mungkin seorang nabi membuat kata pembuka surat yang jelas-jelas bertentangan dengan misi kenabian? Kesimpulannya, inskripsi emas itu adalah peninggalan hindu Jawa, dan tidak terkait dengan Nabi Sulaiman apalagi Al-Qur’an.

BIARKAN BOROBUDUR MENCERITAKAN DIRINYA SENDIRI.

Harus diakui bahwa kapan Borobudur dibangun dan oleh siapa tetaplah hipotesis. Pendapat terkuat mengatakan ia dibangun pada abad ke-8 masehi oleh dinasti Syailendra pada periode Mataram Hindu, diselesaikan pada masa Raja Samarattungga atau Pramodyawardani. Tetapi sekali lagi ini tetap hipotesis. Sungguh, untuk menentukan Borobudur itu bangunan bersifat apa, tidak terlalu sulit, karena bentuk, langgam, cerita relief, stupa dan patung-patung dapat menceritakan nyaris semuanya.

Dalam liturgi agama Budha dikenal istilah mapradaksina, yaitu ziarah dengan cara berjalan searah jarum jam, dimulai dari pintu timur Borobudur. Daksina artinya timur. Jika anda melakukan pradaksina sambil membaca relief yang tertera, tingkat demi tingkat, maka akan didapat cerita yang runut, yang telah dipecahkan oleh para pakar sebelumnya. Borobudur terdiri dari tiga tingkat, Kama Dhatu (ranah hawa nafsu), Rupa Dhatu (ranah rupa-rupa wujud), dan Arupa Dhatu (ranah keheningan batin). Relief diukir pada bagian Rupa Dhatu, kecuali relief tentang Karmawibhangga (kitab sebab-akibat/karma) yang diukir pada Kama Dhatu. Sedangkan Arupa Dhatu berhiaskan stupa-stupa kecil dan stupa besar di puncaknya.

Relief yang diukir sudah bisa dipecahkan oleh para pakar arkeologi dan filologi, misal pada bagian Rupa Dhatu tingkat I diukir relief cerita Lalitawistara, Jataka dan Awadana. Tingkat II, III dan IV diukir relief Gandawyuha, Jataka dan Awadana. Sekedar penjelasan Lalitawistara merupakan penggambaran riwayat Sang Budha (walau tidak lengkap) dimulai dari turunnya Sang Budha dari surga Tushita dan berakhir dengan khotbah pertama di Banares India. Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Budha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Sidharta, berisi penonjolan sikap terpuji. Sedangkan Gandawyuha adalah cerita seorang yang bernama Sudhana yang berkelana mencari pencerahan sejati, digambarkan dalam 460 pigura yang dipahat berdasarkan kitab Budha aliran Mahayana yang berjudul Gandawyuha dan Bhadracari.

Yang hendak saya tegaskan disini adalah, apakah pengarang buku Borobudur dan Peninggalan Nabi Sulaiman ini telah berhasil memecahkan bahwa relief itu bukan Lalitawistara, Jataka, Awadana, Gandawyuha dan seterusnya? Hipotesis baru hendaknya dimulai dengan mematahkan yang lama. Ternyata sama sekali tidak. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa beliau ini bukan ahli jawa kuno, arkeologi dan filologi mumpuni, sehingga tidak kompeten untuk memunculkan hipotesis baru.

Patung-patung yang berjumlah 504 juga telah menjelaskan dirinya sendiri, ia adalah patung budhis dengan mudra (sikap duduk) yang telah dikenal luas oleh masyarakat Budha, yaitu bhumisparsa mudra, wara mudra, dhyana mudra, abhya mudra, witarka mudra dan sebagainya. Pengarang buku juga tidak membahas esensi patung ini. Juga, apakah mungkin seorang nabi justru memerintahkan membuat patung sedahsyat di Borobudur? Dari segi rasa dan pandangan mata sepintas saja, orang muslim, kristen, dan yahudi bisa memahami itu adalah patung budhis. Sama sekali tidak muncul kesan yang cukup bahwa Borobudur bernuansa biblikal apalagi quranik.

Alih-alih menganalisis dan membantah apa yang sudah nyata, justru beliau mencari-cari dan memaksakan ayat-ayat Al-Qur’an agar selaras dengan klaimnya. Ini berbahaya. Berpotensi merendahkan Al-Qur’an sekedar sebagai kitab sejarah murahan atau matematika ghaib. Wallahualam.


  • You, Abdul Aziz Basyaruddin and Popo like this.
  • Tochix Älska Aiba silahkan kasih masukan2nya ya…biar lebih tercerahkan..\m/
  • Fafa Moezthofa terlampau tdk percaya jg gegabah…
  • Abdul Aziz Basyaruddin Om Rudra ya namah swaha,” jika diartikan memang sejajar dengan Bismillahirrahmanirrahiim, kalimat sengaja sy kutip dari pajenengan krn ini adalah clue yg menyambungkan makna asli dari surat “SOLOMON”, sementara Alqur’an sendiri sebenarnya bukan kitab yg berbahasa “ARAB PASARAN” sbgmn dipahami saat ini, melainkan dari bhs A’RAB yg makna substansinya adalah “BAHASA ASLI” atau “NATURAL LANGUAGE”, tentu ini akan bersambung dg makna substansi bahasa “JAWA” yakni “ORIGIN” hingga seorang Prof jebolan Oxford menyebut “BANGSA JAWA” sbg “ORIGIN SPECIES”, yakni asal usul bangsa2 di dunia, juga asal usul bahasa2 di dunia. Tanda “NEGERI SABA” dalam Alqur’an adalah “JANNAH” yg artinya “SORGA”, ini juga menunjuk bahwa negeri Saba itu adalah “ATLANTIS” yg juga artinya “SORGA”, sementara Rafles dalam bukunya “THE HISTORY OF JAVA” menyebut Jawa berasal dari kata “JAWAWUT” sbg penanda bhw negeri ini merupakan asal usul padi2n, sbg salah satu ciri negeri “ATLANTIS” versi Plato, dan nenek moyang kita menyebut negeri ini dg sebutan “NUSWANTARA” berasal dari kata NUSWA dan ANTARA, nuswa artinya tempat yg menyenangkan (sorga), sedang antara artinya tempat pertemuan, makna ini berimpit dg kata “SABA” dalam Alqur’an yg artinya “TEMPAT PERTEMUAN”, inilah negeri tempat bertemunya bangsa2, tempat bertemunya peradaban, dimana dalam kitab suci pendeta Mesir Kuno “THE EGYPTIAN BOOK OF THE DEAD” disebutkan bhw nenek moyang para “PHARAOH” adalah Nusantara yg mereka juluki “THE LAND OF GOD”, itulah “THE PROMISED LAND” yg di cari2 Bani Israel selama ribuan tahun, sementara kita sendiri seperti orang pikun selalu menyebut kata “JAWA DWIPA” berulang-ulang tanpa mengerti makna sebenarnya, cukuplah dg menyebut “TANAH JAWA” titik, padahal “JAWA” disini apabila diambil dari makna filosofi huruf Jawa bahwa semua huruf Jawa apabila dipangku akan mati kecuali huruf “JA” dan “WA”, maka Jawa mempunyai arti “YANG TAK PERNAH MATI”, itulah salah satu sifat Allah dalam Alqur’an : “HAYYU” – “YAHYU”, bhs Ibraninya “YAHWE – JAHWE – JAHWA – JAWA – JEHOVA, dari sini maka kita tidak salah apabila menyebut Tanah Jawa itu adalah “TANAH JEHOVA – TANAH TAOHAN” atau “THE LAND OF GOD” sebagaimana para pembesar Mesir menyebut tanah nenek moyang mereka, sumonggo !
  • Hermono Susanto Setuju dengan Abdul Aziz Basyaruddin
    Dan saya ingin menambahi: silahkan cek di hirarki “language family” section pada link berikut http://en.wikipedia.org/wiki/Kawi_language
    Dari paparan section itu saja dapat kita ketahui bahwahttp://en.wikipedia.org/wiki/Old_Javanese adalah moyang dari bahasahttp://en.wikipedia.org/wiki/Austronesian_languages
  • Hermono Susanto Solomon/Sulaiman AS adalah seorang Nabi yang terkenal dengan berbagai mukjizat yang dianugerahi oleh Allah SWT. Silahkan cek langsung dari ensiklopedia bangsa Yahudi inihttp://www.jewishencyclopedia.com/articles/13842-solomon…
    Dan beliau juga terkenal akan kemampuannya untuk travel antar dimensi ruang dan waktu [kesampingkan dahulu tentang kendaraan Abraham/Nabi Ibrahim AS yang selanjutnya menjadi kendaraan Nabi Muhammad SAW, Bouraq]. Dan, karena segala sesuatunya adalah berpedomankan dengan “Laa Hawla wa Laa Quwwata illaa Bi-llaah”; maka, segala kemungkinan dapat saja terjadi dengan bantuan Allah SWT.
  • Hermono Susanto Adakah hubungannya kultur Jawa dengan Solomon/Sulaiman AS?
    Silahkan unduh ebook berisi mantra-mantra yang ada di Nusantara inihttp://www.scribd.com/…
    Dimana buku ini dibuat oleh Lau Soon Wah, yang merupakan seorang okultis. Selanjutnya silahkan menuju bab ke simbol yang gambarnya seperti pada cover account FB saya tersebut. Dan dari bab itu juga disebutkan bahwa simbol tersebut adalah simbol kuno yang telah dipakai oleh masyarakat pada waktu silam, yang merupakan simbol derivasian dari Solomon.
  • Hermono Susanto Selanjutnya, adakah hubungan antara Borobudur dengan Solomon/Sulaiman AS?
    Saya tinggal di Yogyakarta, dan sejak dari simbah saya pun, terdapat suatu folklore yang diceritakan secara turun-temurun, bahwa di Indonesia terdapat banyak candi-candi yang belum ‘ditemukan’, yang dalam pembuatannya dibantu oleh bangsa Jin [untuk hal satu ini, sudah menjadi rahasia umum].
    Sementara, Solomon/Sulaiman AS terkenal mukjizatnya dapat mengendalikan bangsa Jin [ini sumber tambahan selain dari ensiklopedia diatashttp://id.wikipedia.org/wiki/Mukjizat_Sulayman]Dan, sedikit menyinggung tentang Swastika Nazi, selain seperti yang diceritakan disini http://en.wikipedia.org/wiki/Swastika tentang pemakaian lambang tersebut; Swastika Nazi memiliki kemiringan beberapa derajat, yang berartikan [berniat] untuk penguasan global, dengan “Deutschland über Alles” sebagai motto mereka. Yang mana, intinya ialah tidak boleh ada bangsa yang lebih tinggi daripada ras bangsa Arya. Makanya, Yahudi yang merupakan bangsa pilihan Tuhan pun, haruslah tunduk kepada mereka.Lantaran mempunyai ambisi yang ingin menguasai dunia, maka tidak tanggung-tanggung segala daya upaya dikerahkan untuk membabat habis lawan dari Sang Fuhrer, hingga segala sesuatu yang berhubungan dengan bangsa Yahudi pun harus dimusnahkan. Sementara, dipikirnya Borobudur adalah suatu bangunan yang ada korelasinya dengan bangsa Yahudi [ingat, Solomon/Sulaiman AS adalah Jews], tidak luput dalam rencana yang akan dihancurkan. Toh walaupun tidak secara eksplisit, dapat disimak di situs buatan fans fanatik Nazi ini http://www.patriot.dk/aryan1.html
  • Hermono Susanto Simak juga situs dari para periset-periset yang sungguh-sungguh sangatlah ‘selo’ ini, yang sedikit mengupas tentang candi-candi di dunia http://www.bibliotecapleyades.net/…/esp_atlantida_4a.htm
  • Hermono Susanto Tambahan dari page orang Ceko ini, yang menyatakan kesamaan candi Hindu dengan Kuil Sulaimanhttp://www.facebook.com/photo.php?fbid=399707376819432
  • Hermono Susanto Tambahan http://www.facebook.com/…/10150535314231328
    Dan saya rasa, kenapa nama Fatima disebutkan di ‘prasasti’ tersebut, nanti di kemudian hari erat kaitannya denganhttp://en.wikipedia.org/wiki/Three_Secrets_of_F%C3%A1tima dimana terdapat banyak nubuat-nubuat tentang apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Wallahu A’lam.
  • Tochix Älska Aiba waaw….patut dipelajari lagi brrti..thanx master2
  • So’ol di jaman nabi sulaiman islam belum ada ,agama tauhidnya adalah sanata dharma,orang hindustan mengadopsi sanata dharma jadi hindu.hindu yg skrng udah bnyak mengalami perubahan spt halnya nasrani.
  • Tochix Älska Aiba oya..??bisa dikasih sumbernya masbro..??..kalo nyebut Tuhan ttp ALLAH kan..??
  • So’ol tuhan memiliki banyak nama ,alllah ,illah sang hyang tunggal,sang hyang widi ,om dll,kebenaran itu adalah satu ttp mereka menyebutku dgn banyak nama
  • Tochix Älska Aiba em, gitu..jd Nabi Sulaiman, borobudur dan candiboko ..relatif benar
  • Hermono Susanto Di dalam The Book of Revelation 1:8, “l am the Alpha and the Omega, the Beginning and the End.”
    Sementara, beberapa Asmaul Husna, Tuhan YME menyatakan diri dengan (ada) nama Al-’Awwal [The First (Alpha)] dan Al-’Akhir [The Last (Omega)].

7 hours ago · Unlike · 3

AMIR HAMZAH DAN RELEVANSI SASTRA MELAYU

Oleh: Prof.Dr. Abdul Hadi W.M.
            
Amir  Hamzah telah sering dibahas dan dibicarakan.  Apa sumbangan   penyair   ini   bagi   perkembangan   bahasa   dan kesusastraan   Indonesia   modern   dan   apa   arti   penting kepenyairannya  bagi  kita sekarang? Mungkin salah  satu  cara untuk   memahaminya   ialah  dengan   melihat   kreativitasnya menghidupkan kembali sistem sastra Melayu dalam konteks budaya dan zaman baru.
            
Apabila kita membaca karya-karyanya secara mendalam dan membandingkan  dengan puisi-puisi Melayu klasik terbaik,  akan tampak  bahwa  di belakang kepenyairannya  terbentang  sejarah panjang  gagasan  sastra yang sangat  berbeda  dengan  gagasan  modernisme yang dilontarkan oleh Sutan Takdir Alisyahbana  dan Chairil  Anwar.  Perbedaan tersebut terutama  tercermin  dalam gambaran  dunia  (weltanschaung)  dan  wawasan  estetik   yang mendasari  sistem sastra masing-masing. Ini  tidak  semata-mata disebabkan  perbedaan  pengalaman dan latar  belakang  sosial, melainkan  disebabkan terutama oleh pandangan  terhadap  agama dan kebudayaan.
            
Kesusastraan Melayu, sebagaimana kesusastraan Jawa bagi kebudayaan  Jawa, sangat penting karena ia  merupakan  fundasi utama  kebudayaan Melayu. Ia juga sangat penting  dan  relevan karena  merupakan  faktor utama perkembangan  agama  Islam  dirantau  ini,  suatu agama yang pemeluknya dalam  awal  sejarah kedatangan bangsa Eropah merupakan penentang dan rival  sengit bagi penjajah Portugis dan Belanda.
            
Karya-karya  Melayu klasik selama lebih dua  abad  juga menjadi model dan sumber ilham kesusastraan bercorak Islam  di daerah-daerah  Nusantara lain seperti Jawa dan  Sunda.  Bahasa yang  digunakan  sebagai  medianya  pula  dijadikan  asas  dan merupakan asal-usul bahasa persatuan bangsa kita, yakni bahasa Indonesia.  Karena itu dalam membicarakan sejarah  bahasa  dan kesusastraan  Indonesia serta sejarah pemikiran keagamaan  dan kebudayaan,  tidaklah  sepatutnya kita  melupakan  tokoh-tokoh seperti  Hamzah Fansuri, Nuruddin Raniri, Syamsudin Pasai  dan Raja Ali Haji.
             
Gambaran  Dunia. Penulis-penulis Melayu memandang  alam semesta  sebagai sebuah kitab agung yang indah,  sebuah  karya sastra.  Sang  Pencipta menjelmakan  dunia  dari  Perbendaharaan pengetahuan-Nya  yang tersembunyi (kanz makhfiy).  Ia,  dunia, ditulis   dengan  Kalam  Tuhan  pada  Lembaran   yang   sangat terpelihara  (lawhul  mahfudz)  (Braginsky  1993:1).   Pribadi manusia,  dengan  wujud  zahir dan  batinnya,  juga  merupakan sebuah  kitab, sebuah karya sastra.     Keseluruhan  hikmah  alam semesta direkamkan  ke  dalam diri  atau pribadi manusia setelah diringkas  dan  dipadatkan. Hikmah-hikmah tersebut hadir sebagai ayat-ayat-Nya yang  penuh rahasia  dan patut direnungkan oleh mereka  yang  berkeinginan mengenal hakekat dirinya dan Tuhannya, sebagaimana  dinyatakan oleh Imam al-Ghazali (Ihya’ Ulumuddin dan Kimya-i Saadah)
            
Selaras dengan gambaran tersebut, karya sastra mestilah dibentuk  menyerupai  pribadi  manusia.  Ungkapan  zahir  atau bentuk luar karya sastra, sebagaimana tubuh manusia dan  wujud alam, hendaknya memberi bayangan tentang kehadiran rahasia dan keberadaan  Tuhan.  Gejala-gejala  alam,   peristiwa-peristiwa kemanusiaan  dan  sejarah, keindahan yang tak  tepermanai  dan berbagai-bagai  di alam syahadah merupakan  manifestasi  cinta Tuhan  dan  pengetahuan-Nya yang tidak  terhingga.
            
Semua  itu dihadirkan agar dikenal dan dijadikan  jalan kenaikan.  Ini sesuai dengan prinsip metafisika atau  ontologi Sufi:  ‘yang  banyak’ merupakan  manifestasi  keindahan  Yang Satu,  yakni  cinta dan pengetahuan-Nya. ‘Yang  banyak’  tidak terbebas dari pengetahuan Tuhan, sebab ‘yang banyak’  diliputi oleh pengetahuan-Nya, dan tidak terbebas pula dari  cinta-Nya, yakni al-rahman dan al-rahim-Nya. Karena itu penulis-penulis

Melayu selalu memulai karangannya dengan ucapan Basmalah  atau puji-pujian kepada Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Cara meresapi dan memahami hakekat penciptaan ini ialah melalui  peresapan  kalbu,  atau  melalui  `ishq  (cinta)  dan pemahaman   spiritual,  yaitu   ma`rifah.   Perkatan-perkataan berahi,  rindu,  mabuk,  takjub, lena,  leka,  gharib,  asyik, karib, tamasya dan lain-lain — yang sering kita jumpai  dalam karya-karya  penyair Melayu — merujuk kepada  keadaan-keadaan rohani  yang  dialami seorang asyik dan  ahli  makrifat  dalam perjalanannya menuju Yang Satu.

Wawasan  estetik. Karena ‘yang banyak’,  yaitu  gejala-gejala  alam dan kehidupan manusia, berakar dalam  pengetahuan Yang  Satu,  maka pengalaman zahir  (empiris)  dan  pengalaman sejarah dapat dijadikan tangga naik  menuju  Yang Satu,  Yang Gaib dan Transenden itu. Gubahan puisi atau  nazam –  berupa susunan majaz (bahasa figuratif)  yang  strukturnya kompleks, terdiri dari imej-imej simbolik, kias dan metafor — berfungsi  sebagai tangga naik menuju kebenaran dan  keindahan hakiki.

Kebenaran  dan keindahan hakiki inilah  yang  merupakan makna-makna  yang  diturunkan  seorang  penyair  dalam  nazam. Ungkapan  puitik atau nazam sebagai bentuk luar karya  sastra, yang di situ pembaca dapat merasakan pengalaman estetik  penuh pesona,  disebut  surah.  Surah berarti  gambar,  contoh  atau salinan  dari  contoh yang ada dalam  dunia  makna-makna  atau gagasan-gagasan.

Fungsi  surah ialah sebagai tangga naik  menuju  makna. Bahasa  puisi,  seperti dikatakan   al-Jurjani  seorang  tokoh strukturalisme  Arab  klasik  abad ke-11,  adalah  makna  yang menurunkan makna-makna. Pembaca puisi yang arif akan menerobos keindahan  ungkapan zahir dan naik ke alam makna-makna.  Tema-tema   cinta  yang  sering  disajikan  penulis  Melayu   tidak selamanya merujuk kepada pengalaman cinta biasa, cinta profan.

Ia  disajikan  sebagai  tangga naik menuju  cinta  yang  lebih tinggi: mistikal, kerohanian, ketuhanan. Sebagian besar sajak-sajak Amir Hamzah berisi tangga naik seperti itu. Efek moral dan psikologis. Setiap karya sastra  ditulis dengan  tujuan  memberi  efek moral  dan  psikologis  tertentu kepada   pembacanya.  Penulis-penulis  Melayu   pada   umumnya mengharapkan  karyanya  dapat   mendorong  pembaca   meneladan perbuatan  baik tokoh-tokoh yang diceritakannya.  Dalam  puisi yang  bernafas keagamaan efek moral dan psikologis yang  ingin dicapai ialah supaya pembaca berkeinginan melakukan perjalanan spiritual  sehingga  hampir  dengan  Yang  Satu.  Ini   tampak misalnya dalam sajak Amir Hamzah “Berdiri Aku”.

Penyair  mula-mula menggambarkan gerak-gerak alam  atau gejala  pergerakan alam dengan memberikan  pembayang  terhadap kehadiran rahasia Tuhan dan keluarbiasaan keindahan-Nya. Camar yang  menepis  buih,  bakau yang mengurai  puncak,  ubur  yang terkembang,   warna  keemasan  air  laut  dan   pelangi   yang memabukkan elang sehingga burung ini leka (fana) — semua  itu memberi   gambaran  bahwa  gejala-gejala   alam   membayangkan keindahan Sang Pencipta.

 Ungkapan-ungkapan seperti ‘mengurai puncak’, ‘berjulang datang’, ‘mengempas emas’, ‘memuncak sunyi’, ‘sayap tergulung’ dan  lain-lain mengisyaratkan bahwa keindahan  yang  berbagai-bagai  di alam syahadah ini sebenarnya merupakan  tangga  naik  menuju  Yang Hakiki. Keindahan Yang Satu, yang tampak di  alam syahadah  dan  hadir  sebagai  ayat-ayat-Nya,  dapat   membawa pembaca  merasa rindu, leka (fana’), takjub,  gharib  (asing), mabuk (sukr) dan hanyut dalam keindahan dan kebesaran-Nya.

                       Berdiri aku di senja senyap
                       Camar melayang menepis buih
                       Melayah bakau mengurai puncak
                       Berjulang datang ubur terkembang
       
                       Angin pulang menyejuk bumi
                       Menepuk teluk mengempas emas
                       Lari ke gunung memuncak sunyi
                       Berayun alun di atas alas
       
                       Benang raja mencelup ujung
                       Naik marak mengorak corak
                       Elang leka sayap tergulung
                       Dimabuk warna berarak-arak
       
                       Dalam rupa maha sempurna
                       Rindu sendu mengharu kalbu
                       Ingin datang merasa sentosa
                       Mencecap hidup bertentu tuju
       
Memang  kerinduan para penulis Melayu  adalah  mencapai semacam   keadaan  fana’,  leka,  lampus  atau  hanyut   dalam keindahan  Yang  Satu. Setelah fana ia akan  kudus  dan  baqa’ (hidup   kekal)  dalam  Yang  Abadi:  “Ingin   datang   merasa sentosa/Mencecap hidup bertentu tuju”. Ini bukan eskapisme dan bukan  kefanaan yang menimbulkan kepasifan buta, tetapi  suatu pencerahan yang menimbulkan gairah ketuhanan. Pada  gilirannya gairah  ketuhanan,  yang  disebut Rumi  sebagai  `isyq  (cinta berahi), menumbuhkan sikap moral dan pandangan kerohanian yang positif, di samping keteguhan pribadi dan rasa percaya diri.

Oleh  sebab itu Rumi mengatakan bahwa  cinta  merupakan asas  dan  sumbu suatu peradaban dan kebudayaan.  Tanpa  cinta  suatu  peradaban dan kebudayaan akan rapuh dan runtuh.  Cinta, dalam arti yang luas dan hakiki, membentang dari Cinta  kepada Tuhan, Nabi, sesama insan, umat, bangsa, tanah air,  keluarga, lawan jenis, anak istri, kampung halaman, pekerjaan, keadilan, hukum, tradisi intelektual dan nilai-nilai kebudayaan –  yang semua itu merupakan bagian dari diri kita.

Relevansi  kesusastraan Melayu bagi kita  sekarang  ini tampak   pada  gambaran  dunia,  wawasan  estetik  dan   pesan kerohaniannya.  Penulis-penulis Melayu berbeda  dari  penulis-penulis  Jawa  Kuno dan modern dalam  menempatkan  diri  dalam kehidupan.  Penulis-penulis  Jawa Kuno memandang  diri  mereka sebagai  Mpu yang memiliki kekuatan spiritual berkat yoga  dan tapa bratanya, sehingga disanjung dan disegani  masyarakatnya, dan mendapat pujian dari raja-raja dan kaum bangsawan. Penulis modern  memandang dirinya sebagai Ahasveros yang  dikutuk  dan disumpahi  Eros (dewa Cinta) dan akhirnya  menjadi  pengembara yang terasing dari Tuhan dan manusia lain.

Penulis-penulis  Melayu memandang diri  mereka  sebagai faqir,  dagang  atau anak hulubalang (yang  tidak  takut  pada  tombak  Jawa, kata Hamzah Fansuri). Amir Hamzah menyebut  diri sebagai ‘musafir lata’, yang artinya kurang lebih sama  dengan anak dagang. Sering pula mereka menyebut diri talib (pencari), salik (penempuh jalan kerohanian), syawqi (perindu Tuhan)  dan asyik  (pencinta yang berahi seperti Majenun).  Seorang  faqir adalah  dia yang sangat memerlukan Tuhan (faqr),  sebab  hanya Tuhan yang maha kaya dan berkelimpahan (fadl), sedang  manusia sebenarnya  tidak  memiliki  apa-apa (faqir)  dan  karena  itu sangat memerlukan Dia.

Kalau   seorang  penulis  ialah  seorang  salik,   maka karyanya  merupakan suluk atau jalan kerohanian.  Di  dalamnya terdapat    terminal-terminal    atau    perhentian-perhentian spiritual.  Terminal  terakhir ialah  kekariban  (uns)  dengan Tuhan. Kekariban dilambangkan dengan sampainya seorang pencari  di  puncak  gunung  mistis  atau  kosmis,  yaitu  gunung  Qaf. Sebagaimana  dinyatakan  oleh Amir Hamzah  dalam  baris  akhir sajak  “Hanya Satu”: “Serupa Musa di puncak  Tursina”.

Karya-karya  Melayu klasik penuh dengan uraian  tentang perjalanan  ke gunung, sebagaimana karya-karya  penulis  Jawa. Ini juga kita jumpai dalam  karya mutakhir seperti  Khotbah Di Atas  Bukit  novel Kuntowijoyo. Atau  sajak  Sutardji  Calzoum Bachri  “Para  Peminum”. Karya-karya Amir  Hamzah  dalam  Buah Rindu dan Nyanyi Sunyi, bahkan juga Setanggi Timur,  merupakan dokumen pencarian dan perjalanan kerohanian Amir Hamzah menuju Yang Satu. Ia adalah suluk mengarungi ‘tujuh lembah’ nya `Attar (Mantiq  al-Tayr).  Dalam perjalanan mengarungi  tujuh  lembah kerohanian itu penyair tidak sekali dua kali mengalami godaan, konflik dan lain sebagainya. Di lembah terakhir, iaitu  lembah cinta   dan  fana`  penyair  menemukan  dirinya  yang   sejati. Sebagaimana dilukiskan dalam sajak “Padamu Jua”:

                      Habis kikis
                      Segala cintaku hilang terbang
                      Pulang kembali aku padamu
                      Seperti dahulu
      
                    Kaulah kandil gemerlap
                      Pelita jendela di malam gelap
                      Melambai pulang pelahan
                      Sabar setia selalu
       
Ali Usman al-Hujwiri (abad ke-11 M) dalam bukunya Kasyf al-Mahjub  menyatakan  bahwa  inti  penghayatan  agama   ialah pertemuan  dan  percakapan rahasia antara manusia  dan  Tuhan. Pengalaman   pertama  manusia  bertemu  dan  bercakap   dengan Tuhannya   ialah  pada  Hari  Alastu,  ketika  manusia   belum diturunkan  ke  dunia dan rohnya belum dirakit  pada  tubuhnya yang  dibuat dari lempung Adam. Seperti dinyatakan  dalam  al-Qur’an  (7:172), “Alastu bi rabbikum? Qalu  bala  syahidna…” (Bukankah Aku Tuhanmu? Ya, aku bersaksi!”).

Pengalaman  primordial di Hari Alastu tertanam jauh  di lubuk  kalbu manusia, di suatu tempat yang disebut sirr  Allah (rahasia  Tuhan). Di sinilah locus percakapan  manusia  dengan Tuhan. Di sinilah rumah primordial atau asali manusia,  tempat seorang   asyik  (yang  insaf  bahwa  cinta  profan   bersifat sementara) “Pulang kembali aku padamu/ seperti dahulu”. Karena tempat tersebut sangat tersembunyi, seperti pelita yang berada dalam  relung  kaca  di tempat  jauh,  tidak  mudah  seseorang menembusnya.      Tetapi  dalam momen-momen tertentu pengalaman  religi dan mistis, kesadaran atau kerinduan Hari Alastu dapat  timbul kembali.  Sebagaimana  bait pertama sajak Amir  dapat  dirujuk pada al-Qur’an dan konsep penyair-penyair sufi Melayu  tentang Hari  Alastu,  demikian pula bait kedua sajak  tersebut.  Image ‘kandil gemerlap’ dapat dikaitkan dengan ‘pelita dalam misykat yang menyala dengan sendirinya’ (Surah an-Nur).

Memang  terdapat banyak ungkapan simbolik  Amir  Hamzah dapat dirujuk pada ayat-ayat al-Qur’an dan puisi-puisi penyair sufi  Melayu  seperti  Hamzah  Fansuri.  Saya  cukup  menyebut ungakapan-ungkapan  dalam  sajak  Amir  Hamzah  “Padamu   Jua” misalnya seperti dalam bait-bait berikut:
                      
 Engkau cemburu
                       Engkau ganas
                       Mangsa aku dalam cakarmu
                       Bertukar tangkap dengan lepas
       
                       Nanar aku, gila sasar
                       Sayang berulang padamu jua
                       Engkau pelik menarik ingin
                       Serupa dara di balik tirai

Bandingkan  dengan  ungkapan dalam  syair-syair  Hamzah Fansuri seperti berikut:
                       
Tauhidmu yogya kau pasang
                       Supaya kasih mahbub yang larang
                      
           Kerjanya berbuat hajib
                       Berlindung di dalam talib
                       Mahbub nin hikmatnya ghalib
                       Di tengah padang terlalu galib
                  
                       Rumahnya bertukar-tukar
                       Jalannya berputar-putar
                       Manikam di mulut ular
                       Mendapat dia terlalu sukar

Nyatalah  bahwa  sajak-sajak Amir  Hamzah  bukan  sajak percintaan  biasa. Kepenyairannya mempunyai  pertalian  dengan tradisi sastra Sufi di Alam Melayu Nusantara. Kepenyairannya   jelas  revelan  bagi   kita   sekarang. Terutama    apabila   kita   kaitkan   dengan    berkembangnya kecenderungan akan sastra keagamaan yang berakar dalam tradisi sastra  Melayu  Nusantara. Amir Hamzah  memberi  teladan  yang benar.  Dia  telah berhasil menunjukkan  bahwa  sastra  Melayu berkembang  pada  zaman  keemasannya  karena  didasarkan  pada sistem  sastra  yang universal. Sistem  tersebut  tidak  hanya berkaitan dengan masalah estetik sastra atau seni, tetapi juga berhubungan   erat  pandangan  dunia  (worldview)  yang   juga  mendasari  perkembangan  bahasa,  pemikiran intelektual dan kebudayaan Melayu Nusantara secara keseluruhan.   Persoalannya bagi  penulis-penulis  sekarang ini ialah  bagaimana  menggali lebih   jauh   sistem   sastra   yang   universal   itu   dan mentransformasikan  ke  dalam iklim kehidupan Alaf  ke-3  yang penuh dengan tantangan.
                                                                                   

 Jakarta 29 November 1999


Bacaan: 
Abdul Hadi W. M..  Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan   Puisi-puisinya. Bandung:     Mizan, 1995.
V.   I.   Braginsky.  The  System  of   Classical   Malay Literature. Leiden: KITLV Press,   1993.
Md. Salleh Yaapar. Mysticism and Poetry: A  Hermeneutical Reading  of the Poems of       Amir Hamzah.  Kuala  Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1995.
AMIR HAMZAH


DAN RELEVANSI SASTRA MELAYU

Oleh: Dr. Abdul Hadi W.M.

Amir  Hamzah telah sering dibahas dan dibicarakan.  Apa sumbangan   penyair   ini   bagi   perkembangan   bahasa   dan kesusastraan   Indonesia   modern   dan   apa   arti   penting kepenyairannya  bagi  kita sekarang? Mungkin salah  satu  cara untuk   memahaminya   ialah  dengan   melihat   kreativitasnya menghidupkan kembali sistem sastra Melayu dalam konteks budaya dan zaman baru.

Apabila kita membaca karya-karyanya secara mendalam dan membandingkan  dengan puisi-puisi Melayu klasik terbaik,  akan tampak  bahwa  di belakang kepenyairannya  terbentang  sejarah panjang  gagasan  sastra yang sangat  berbeda  dengan  gagasan  modernisme yang dilontarkan oleh Sutan Takdir Alisyahbana  dan Chairil  Anwar.  Perbedaan tersebut terutama  tercermin  dalam gambaran  dunia  (weltanschaung)  dan  wawasan  estetik   yang mendasari  sistem sastra masing-masing. Ini  tidak  semata-mata disebabkan  perbedaan  pengalaman dan latar  belakang  sosial, melainkan  disebabkan terutama oleh pandangan  terhadap  agama dan kebudayaan.

Kesusastraan Melayu, sebagaimana kesusastraan Jawa bagi kebudayaan  Jawa, sangat penting karena ia  merupakan  fundasi utama  kebudayaan Melayu. Ia juga sangat penting  dan  relevan karena  merupakan  faktor utama perkembangan  agama  Islam  dirantau  ini,  suatu agama yang pemeluknya dalam  awal  sejarah kedatangan bangsa Eropah merupakan penentang dan rival  sengit bagi penjajah Portugis dan Belanda.

Karya-karya  Melayu klasik selama lebih dua  abad  juga menjadi model dan sumber ilham kesusastraan bercorak Islam  di daerah-daerah  Nusantara lain seperti Jawa dan  Sunda.  Bahasa yang  digunakan  sebagai  medianya  pula  dijadikan  asas  dan merupakan asal-usul bahasa persatuan bangsa kita, yakni bahasa Indonesia.  Karena itu dalam membicarakan sejarah  bahasa  dan kesusastraan  Indonesia serta sejarah pemikiran keagamaan  dan kebudayaan,  tidaklah  sepatutnya kita  melupakan  tokoh-tokoh seperti  Hamzah Fansuri, Nuruddin Raniri, Syamsudin Pasai  dan Raja Ali Haji.

Gambaran  Dunia. Penulis-penulis Melayu memandang  alam semesta  sebagai sebuah kitab agung yang indah,  sebuah  karya sastra.  Sang  Pencipta menjelmakan  dunia  dari  Perbendaharaan pengetahuan-Nya  yang tersembunyi (kanz makhfiy).  Ia,  dunia, ditulis   dengan  Kalam  Tuhan  pada  Lembaran   yang   sangat terpelihara  (lawhul  mahfudz)  (Braginsky  1993:1).   Pribadi manusia,  dengan  wujud  zahir dan  batinnya,  juga  merupakan sebuah  kitab, sebuah karya sastra.     Keseluruhan  hikmah  alam semesta direkamkan  ke  dalam diri  atau pribadi manusia setelah diringkas  dan  dipadatkan. Hikmah-hikmah tersebut hadir sebagai ayat-ayat-Nya yang  penuh rahasia  dan patut direnungkan oleh mereka  yang  berkeinginan mengenal hakekat dirinya dan Tuhannya, sebagaimana  dinyatakan oleh Imam al-Ghazali (Ihya’ Ulumuddin dan Kimya-i Saadah).

Selaras dengan gambaran tersebut, karya sastra mestilah dibentuk  menyerupai  pribadi  manusia.  Ungkapan  zahir  atau bentuk luar karya sastra, sebagaimana tubuh manusia dan  wujud alam, hendaknya memberi bayangan tentang kehadiran rahasia dan keberadaan  Tuhan.  Gejala-gejala  alam,   peristiwa-peristiwa kemanusiaan  dan  sejarah, keindahan yang tak  tepermanai  dan berbagai-bagai  di alam syahadah merupakan  manifestasi  cinta Tuhan  dan  pengetahuan-Nya yang tidak  terhingga.

Semua  itu dihadirkan agar dikenal dan dijadikan  jalan kenaikan.  Ini sesuai dengan prinsip metafisika atau  ontologi Sufi:  ‘yang  banyak’ merupakan  manifestasi  keindahan  Yang Satu,  yakni  cinta dan pengetahuan-Nya. ‘Yang  banyak’  tidak terbebas dari pengetahuan Tuhan, sebab ‘yang banyak’  diliputi oleh pengetahuan-Nya, dan tidak terbebas pula dari  cinta-Nya, yakni al-rahman dan al-rahim-Nya.

Karena itu penulis-penulis Melayu selalu memulai karangannya dengan ucapan Basmalah  atau puji-pujian kepada Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Cara meresapi dan memahami hakekat penciptaan ini ialah melalui  peresapan  kalbu,  atau  melalui  `ishq  (cinta)  dan pemahaman   spiritual,  yaitu   ma`rifah.   Perkatan-perkataan berahi,  rindu,  mabuk,  takjub, lena,  leka,  gharib,  asyik, karib, tamasya dan lain-lain — yang sering kita jumpai  dalam karya-karya  penyair Melayu — merujuk kepada  keadaan-keadaan rohani  yang  dialami seorang asyik dan  ahli  makrifat  dalam perjalanannya menuju Yang Satu.

Wawasan  estetik. Karena ‘yang banyak’,  yaitu  gejala-gejala  alam dan kehidupan manusia, berakar dalam  pengetahuan Yang  Satu,  maka pengalaman zahir  (empiris)  dan  pengalaman sejarah dapat dijadikan tangga naik  menuju  Yang Satu,  Yang Gaib dan Transenden itu. Gubahan puisi atau  nazam –  berupa susunan majaz (bahasa figuratif)  yang  strukturnya kompleks, terdiri dari imej-imej simbolik, kias dan metafor — berfungsi  sebagai tangga naik menuju kebenaran dan  keindahan hakiki.

Kebenaran  dan keindahan hakiki inilah  yang  merupakan makna-makna  yang  diturunkan  seorang  penyair  dalam  nazam. Ungkapan  puitik atau nazam sebagai bentuk luar karya  sastra, yang di situ pembaca dapat merasakan pengalaman estetik  penuh pesona,  disebut  surah.  Surah berarti  gambar,  contoh  atau salinan  dari  contoh yang ada dalam  dunia  makna-makna  atau gagasan-gagasan.

Fungsi  surah ialah sebagai tangga naik  menuju  makna. Bahasa  puisi,  seperti dikatakan   al-Jurjani  seorang  tokoh strukturalisme  Arab  klasik  abad ke-11,  adalah  makna  yang menurunkan makna-makna. Pembaca puisi yang arif akan menerobos keindahan  ungkapan zahir dan naik ke alam makna-makna.  Tema-tema   cinta  yang  sering  disajikan  penulis  Melayu   tidak selamanya merujuk kepada pengalaman cinta biasa, cinta profan.

Ia  disajikan  sebagai  tangga naik menuju  cinta  yang  lebih tinggi: mistikal, kerohanian, ketuhanan. Sebagian besar sajak-sajak Amir Hamzah berisi tangga naik seperti itu. Efek moral dan psikologis. Setiap karya sastra  ditulis dengan  tujuan  memberi  efek moral  dan  psikologis  tertentu kepada   pembacanya.  Penulis-penulis  Melayu   pada   umumnya mengharapkan  karyanya  dapat   mendorong  pembaca   meneladan perbuatan  baik tokoh-tokoh yang diceritakannya.  Dalam  puisi yang  bernafas keagamaan efek moral dan psikologis yang  ingin dicapai ialah supaya pembaca berkeinginan melakukan perjalanan spiritual  sehingga  hampir  dengan  Yang  Satu.  Ini   tampak misalnya dalam sajak Amir Hamzah “Berdiri Aku”.

Penyair  mula-mula menggambarkan gerak-gerak alam  atau gejala  pergerakan alam dengan memberikan  pembayang  terhadap kehadiran rahasia Tuhan dan keluarbiasaan keindahan-Nya. Camar yang  menepis  buih,  bakau yang mengurai  puncak,  ubur  yang terkembang,   warna  keemasan  air  laut  dan   pelangi   yang memabukkan elang sehingga burung ini leka (fana) — semua  itu memberi   gambaran  bahwa  gejala-gejala   alam   membayangkan keindahan Sang Pencipta.

Ungkapan-ungkapan seperti ‘mengurai puncak’, ‘berjulang datang’, ‘mengempas emas’, ‘memuncak sunyi’, ‘sayap tergulung’ dan  lain-lain mengisyaratkan bahwa keindahan  yang  berbagai-bagai  di alam syahadah ini sebenarnya merupakan  tangga  naik  menuju  Yang Hakiki. Keindahan Yang Satu, yang tampak di  alam syahadah  dan  hadir  sebagai  ayat-ayat-Nya,  dapat   membawa pembaca  merasa rindu, leka (fana’), takjub,  gharib  (asing), mabuk (sukr) dan hanyut dalam keindahan dan kebesaran-Nya.

                       Berdiri aku di senja senyap
                       Camar melayang menepis buih
                       Melayah bakau mengurai puncak
                       Berjulang datang ubur terkembang
       
                       Angin pulang menyejuk bumi
                       Menepuk teluk mengempas emas
                       Lari ke gunung memuncak sunyi
                       Berayun alun di atas alas
       
                       Benang raja mencelup ujung
                       Naik marak mengorak corak
                       Elang leka sayap tergulung
                       Dimabuk warna berarak-arak
       
                       Dalam rupa maha sempurna
                       Rindu sendu mengharu kalbu
                       Ingin datang merasa sentosa
                       Mencecap hidup bertentu tuju
       
 Memang  kerinduan para penulis Melayu  adalah  mencapai semacam   keadaan  fana’,  leka,  lampus  atau  hanyut   dalam keindahan  Yang  Satu. Setelah fana ia akan  kudus  dan  baqa’ (hidup   kekal)  dalam  Yang  Abadi:  “Ingin   datang   merasa sentosa/Mencecap hidup bertentu tuju”. Ini bukan eskapisme dan bukan  kefanaan yang menimbulkan kepasifan buta, tetapi  suatu pencerahan yang menimbulkan gairah ketuhanan. Pada  gilirannya gairah  ketuhanan,  yang  disebut Rumi  sebagai  `isyq  (cinta berahi), menumbuhkan sikap moral dan pandangan kerohanian yang positif, di samping keteguhan pribadi dan rasa percaya diri.
Oleh  sebab itu Rumi mengatakan bahwa  cinta  merupakan asas  dan  sumbu suatu peradaban dan kebudayaan.  Tanpa  cinta  suatu  peradaban dan kebudayaan akan rapuh dan runtuh.  Cinta, dalam arti yang luas dan hakiki, membentang dari Cinta  kepada Tuhan, Nabi, sesama insan, umat, bangsa, tanah air,  keluarga, lawan jenis, anak istri, kampung halaman, pekerjaan, keadilan, hukum, tradisi intelektual dan nilai-nilai kebudayaan –  yang semua itu merupakan bagian dari diri kita.

Relevansi  kesusastraan Melayu bagi kita  sekarang  ini tampak   pada  gambaran  dunia,  wawasan  estetik  dan   pesan kerohaniannya.  Penulis-penulis Melayu berbeda  dari  penulis-penulis  Jawa  Kuno dan modern dalam  menempatkan  diri  dalam kehidupan.  Penulis-penulis  Jawa Kuno memandang  diri  mereka sebagai  Mpu yang memiliki kekuatan spiritual berkat yoga  dan tapa bratanya, sehingga disanjung dan disegani  masyarakatnya, dan mendapat pujian dari raja-raja dan kaum bangsawan. Penulis modern  memandang dirinya sebagai Ahasveros yang  dikutuk  dan disumpahi  Eros (dewa Cinta) dan akhirnya  menjadi  pengembara yang terasing dari Tuhan dan manusia lain.

Penulis-penulis  Melayu memandang diri  mereka  sebagai faqir,  dagang  atau anak hulubalang (yang  tidak  takut  pada  tombak  Jawa, kata Hamzah Fansuri). Amir Hamzah menyebut  diri sebagai ‘musafir lata’, yang artinya kurang lebih sama  dengan anak dagang. Sering pula mereka menyebut diri talib (pencari), salik (penempuh jalan kerohanian), syawqi (perindu Tuhan)  dan asyik  (pencinta yang berahi seperti Majenun).  Seorang  faqir adalah  dia yang sangat memerlukan Tuhan (faqr),  sebab  hanya Tuhan yang maha kaya dan berkelimpahan (fadl), sedang  manusia sebenarnya  tidak  memiliki  apa-apa (faqir)  dan  karena  itu sangat memerlukan Dia.

Kalau   seorang  penulis  ialah  seorang  salik,   maka karyanya  merupakan suluk atau jalan kerohanian.  Di  dalamnya terdapat    terminal-terminal    atau    perhentian-perhentian spiritual.  Terminal  terakhir ialah  kekariban  (uns)  dengan Tuhan. Kekariban dilambangkan dengan sampainya seorang pencari  di  puncak  gunung  mistis  atau  kosmis,  yaitu  gunung  Qaf. Sebagaimana  dinyatakan  oleh Amir Hamzah  dalam  baris  akhir sajak  “Hanya Satu”: “Serupa Musa di puncak  Tursina”.

Karya-karya  Melayu klasik penuh dengan uraian  tentang perjalanan  ke gunung, sebagaimana karya-karya  penulis  Jawa. Ini juga kita jumpai dalam  karya mutakhir seperti  Khotbah Di Atas  Bukit  novel Kuntowijoyo. Atau  sajak  Sutardji  Calzoum Bachri  “Para  Peminum”. Karya-karya Amir  Hamzah  dalam  Buah Rindu dan Nyanyi Sunyi, bahkan juga Setanggi Timur,  merupakan dokumen pencarian dan perjalanan kerohanian Amir Hamzah menuju Yang Satu. Ia adalah suluk mengarungi ‘tujuh lembah’ nya `Attar (Mantiq  al-Tayr).  Dalam perjalanan mengarungi  tujuh  lembah kerohanian itu penyair tidak sekali dua kali mengalami godaan, konflik dan lain sebagainya. Di lembah terakhir, iaitu  lembah cinta   dan  fana`  penyair  menemukan  dirinya  yang   sejati. Sebagaimana dilukiskan dalam sajak “Padamu Jua”:
          Habis kikis
                      Segala cintaku hilang terbang
                      Pulang kembali aku padamu
                      Seperti dahulu
      
                    Kaulah kandil gemerlap
                      Pelita jendela di malam gelap
                      Melambai pulang pelahan
                      Sabar setia selalu
       
 Ali Usman al-Hujwiri (abad ke-11 M) dalam bukunya Kasyf al-Mahjub  menyatakan  bahwa  inti  penghayatan  agama   ialah pertemuan  dan  percakapan rahasia antara manusia  dan  Tuhan. Pengalaman   pertama  manusia  bertemu  dan  bercakap   dengan Tuhannya   ialah  pada  Hari  Alastu,  ketika  manusia   belum diturunkan  ke  dunia dan rohnya belum dirakit  pada  tubuhnya yang  dibuat dari lempung Adam. Seperti dinyatakan  dalam  al-Qur’an  (7:172), “Alastu bi rabbikum? Qalu  bala  syahidna…” (Bukankah Aku Tuhanmu? Ya, aku bersaksi!”).

Pengalaman  primordial di Hari Alastu tertanam jauh  di lubuk  kalbu manusia, di suatu tempat yang disebut sirr  Allah (rahasia  Tuhan). Di sinilah locus percakapan  manusia  dengan Tuhan. Di sinilah rumah primordial atau asali manusia,  tempat seorang   asyik  (yang  insaf  bahwa  cinta  profan   bersifat sementara) “Pulang kembali aku padamu/ seperti dahulu”. Karena tempat tersebut sangat tersembunyi, seperti pelita yang berada dalam  relung  kaca  di tempat  jauh,  tidak  mudah  seseorang menembusnya.Tetapi  dalam momen-momen tertentu pengalaman  religi dan mistis, kesadaran atau kerinduan Hari Alastu dapat  timbul kembali.  Sebagaimana  bait pertama sajak Amir  dapat  dirujuk pada al-Qur’an dan konsep penyair-penyair sufi Melayu  tentang Hari  Alastu,  demikian pula bait kedua sajak  tersebut.  Image ‘kandil gemerlap’ dapat dikaitkan dengan ‘pelita dalam misykat yang menyala dengan sendirinya’ (Surah an-Nur).

Memang  terdapat banyak ungkapan simbolik  Amir  Hamzah dapat dirujuk pada ayat-ayat al-Qur’an dan puisi-puisi penyair sufi  Melayu  seperti  Hamzah  Fansuri.  Saya  cukup  menyebut ungakapan-ungkapan  dalam  sajak  Amir  Hamzah  “Padamu   Jua” misalnya seperti dalam bait-bait berikut:

                       Engkau cemburu
                       Engkau ganas
                       Mangsa aku dalam cakarmu
                       Bertukar tangkap dengan lepas
       
                       Nanar aku, gila sasar
                       Sayang berulang padamu jua
                       Engkau pelik menarik ingin
                       Serupa dara di balik tirai

Bandingkan  dengan  ungkapan dalam  syair-syair  Hamzah Fansuri seperti berikut:
                      
 Tauhidmu yogya kau pasang
                       Supaya kasih mahbub yang larang
                      
           Kerjanya berbuat hajib
                       Berlindung di dalam talib
                       Mahbub nin hikmatnya ghalib
                       Di tengah padang terlalu galib
                  
                       Rumahnya bertukar-tukar
                       Jalannya berputar-putar
                       Manikam di mulut ular
                       Mendapat dia terlalu sukar

Nyatalah  bahwa  sajak-sajak Amir  Hamzah  bukan  sajak percintaan  biasa. Kepenyairannya mempunyai  pertalian  dengan tradisi sastra Sufi di Alam Melayu Nusantara. Kepenyairannya   jelas  revelan  bagi   kita   sekarang. Terutama    apabila   kita   kaitkan   dengan    berkembangnya kecenderungan akan sastra keagamaan yang berakar dalam tradisi sastra  Melayu  Nusantara. Amir Hamzah  memberi  teladan  yang benar.  Dia  telah berhasil menunjukkan  bahwa  sastra  Melayu berkembang  pada  zaman  keemasannya  karena  didasarkan  pada sistem  sastra  yang universal. Sistem  tersebut  tidak  hanya berkaitan dengan masalah estetik sastra atau seni, tetapi juga berhubungan   erat  pandangan  dunia  (worldview)  yang   juga  mendasari  perkembangan  bahasa,  pemikiran intelektual dan kebudayaan Melayu Nusantara secara keseluruhan.   Persoalannya bagi  penulis-penulis  sekarang ini ialah  bagaimana  menggali lebih   jauh   sistem   sastra   yang   universal   itu   dan mentransformasikan  ke  dalam iklim kehidupan Alaf  ke-3  yang penuh dengan tantangan.

Jakarta 29 November 1999

Bacaan: 
Abdul Hadi W. M..  Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan   Puisi-puisinya. Bandung:     Mizan, 1995.
V.   I.   Braginsky.  The  System  of   Classical   Malay Literature. Leiden: KITLV Press,   1993.
Md. Salleh Yaapar. Mysticism and Poetry: A  Hermeneutical Reading  of the Poems of       Amir Hamzah.  Kuala  Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1995.

Terkait Berita: