Daftar Isi Nusantara Angkasa News Global

Advertising

Lyngsat Network Intelsat Asia Sat Satbeams

Meluruskan Doa Berbuka Puasa ‘Paling Sahih’

Doa buka puasa apa yang biasanya Anda baca? Jika jawabannya Allâhumma laka shumtu, maka itu sama seperti yang kebanyakan masyarakat baca...

Pesan Rahbar

Showing posts with label TOKOH. Show all posts
Showing posts with label TOKOH. Show all posts

Mengenal Syeikh Yusuf Al Makassari, Pahlawan Dua Bangsa


Macassar, nama kota kecil di Afrika Selatan, adalah tempat pengasingan dan peristirahatan terakhir pahlawan nasional Syeikh Yusuf Al-Makassari. Dinamakan seperti itu sebagai bentuk penghormatan atas segala jasa dan pengorbanan Syeikh Yusuf yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan.

Syeikh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani adalah seorang ilmuwan, sufi, penulis, dan komandan perang abad 17. Lahir dalam lingkungan kerajaan Gowa pada 1626, ia dinamai Muhammad Yusuf oleh Sultan Alauddin yang berkuasa saat itu—dan juga saudara ibunya. Ibunya bernama Aminah dan sang ayah bernama Abdullah.

Sejak kecil, Syeikh Yusuf sudah ditempa dengan pelajaran berbasis Al-Quran. Kala itu masyarakat Bugis sudah mengenal agama Islam dan, di Gowa, Islam bahkan dijadikan agama resmi kerajaan.

Menginjak usia 15 tahun, Syeikh Yusuf mulai mempelajari ilmu tasawwuf pada Syeikh Jalaludin Al-Aidit dan memperdalam ilmu Al-Qurannya pada Daeng ri Tasammang di Cikoang. Keduanya adalah ulama terkenal kala itu.

Belum puas, ia dibawa orang tuanya ke pondok pesantren Bontoala yang didirikan ulama dari Yaman, lalu kembali ke Cikoang beberapa tahun. Kembali dari Cikoang, Syeikh Yusuf menikahi putri Sultan Gowa, lalu setelah 18 tahun, ia berencana menuntut ilmu di Jazirah Arab.

Menumpangi kapal dagang, beliau singgah di kerajaan Banten dan bersahabat dengan Pangeran Surya, anak Sultan Mufahir Mahmud. Ia lalu melanjutkan perjalanan ke Aceh. Di sini Syekh Yusuf kembali berguru pada Syekh Nuruddin Ar-Raniri dan mendapat ijasah tarekat Qadiriyyah.

Usai dari Aceh, ia pergi ke Sri Lanka untuk mencapai Najd—sekarang Arab Saudi. Sebelum sampai Makkah, ia mampir di Yaman untuk berguru pada dua Syeikh besar di sana dan mendapat ijasah tarekat Naqsyabandi dan Baalawiyah.

Memasuki musim haji, beliau pergi ke Makkah lalu menziarahi pusara Rasulullah Saw di Madinah. Di Madinah, ia kembali melanjutkan studinya pada ulama terkenal Syeikh Ibrahim Hasan bin Syihabuddin dan mendapat ijasah tarekat Syattariyah.

Belum selesai, ia mendapat gelar terakhirnya, ijasah tarekat Khalwatiyah dari gurunya di Damaskus, Syam—sekarang Suriah.

Berkat keluasan wawasannya dari pengembaraan mencari ilmu, ajarannya laku di tengah masyarakat Bugis. Ia menyampaikan ajaran lewat murid-murid dari Bugis yang berziarah ke Mekkah.

Ajaran Syeikh Yusuf menitikberatkan pada kesucian batin dan pengendalian hawa nafsu. Para muridnya diharuskan melepaskan keinginan menunjukan kemewahan duniawi. Namun, tidak serta-merta mencampakkan kehidupan dunia begitu saja. Ia berpandangan kehidupan dunia haruslah dimanfaatkan dalam pencapaian kesempurnaan menuju Tuhan. Hawa nafsu harus bisa dikendalikan dan ditunggangi. Dengan ini Syeikh Yusuf mengajarkan murid-muridnya kebebasan, dengan menjadikan Tuhan sebagai pusat cita-cita dalam menjalani hidup. Inilah salah satu pokok ajaran beliau yang memberi sumbangsih pada model Islam Nusantara, tanpa menyingkirkan budaya-budaya lokal tapi memanfaatkannya untuk tujuan Islami.

Setelah kembali ke tanah airnya, Kerajaan Gowa terlibat pertempuran dengan penjajah Belanda dan mengalami kekalahan. Ia lalu pindah ke Kerajaan Banten, dan diangkat menjadi mufti kerajaan oleh sahabat lamanya, Pangeran Surya—saat itu sudah jadi Sultan.

Di Banten pengaruhnya makin luas dan memiliki banyak sekali murid di berbagai kota, termasuk 400 orang pengikut setianya asal Makassar. Pada periode ini, Kerajaan Banten menjadi pusat pendidikan Islam di Nusantara.

Pada 1682, kerajaan Banten terlibat perang dengan Belanda, namun kalah. Melihat pengaruhnya, pihak Belanda menangkap Syeikh Yusuf dan diasingkan ke Sri Lanka.

Di Sri Lanka, semangat Syeikh Yusuf belum padam. Ia aktif menyebarkan ajaran Islam sambil terus menjalin komunikasi dengan murid-murid di Nusantara, melalui para peziarah yang menuju Mekkah.

Sadar pengaruhnya masih kuat, 1693 Belanda kembali melempar Syeikh Yusuf ke tempat yang lebih jauh, di Afrika Selatan.

Tak hanya bergerak sebagai ulama dengan menghidupkan komunitas Islam di Afrika, beliau juga dikenal sebagai pejuang kesetaraan melawan rasisme kulit putih di Afrika pada masa itu. Bahkan saking vokal perjuangannya, Nelson Mandela sebagai presiden Afrika pada tahun 1994 mencatatnya sebagai ‘Salah Seorang Putra Afrika Terbaik’ dan ‘Pejuang Kemanusiaan’.

Lebih jauh, Februari 2009, Presiden Thabo Mbeki memberi penghargaan Oliver Thambo—sebuah gelar pahlawan nasional Afrika Selatan—yang diserahkan melalui tiga ahli warisnya. Penyerahan penghargaan ini disaksikan langsung Wakil Presiden Jusuf Kala saat itu. Indonesia sendiri lebih awal, pada November 1995, menyematkan gelar pahlawan nasional pada Syekh Yusuf.

Mengakhiri perjuangannya menegakkan keadilan dan nilai Islam, Syeikh Yusuf meninggal pada 1699 di usia 72 tahun di Cape Town. Meski meninggal di Afrika, masih jadi perdebatan di mana sesungguhnya beliau dimakamkan. Anda bisa menemukan makan Syeikh Yusuf di Macassar Faure-Afrika Selatan, Lakiung-Gowa, Banten, Palembang, Sri Lanka, dan Talango-Madura, dan masyarakat setempat yakin bahwa daerahnya adalah tempat peristirahatan terakhir guru besar Islam tersebut.

Saat ini nama beliau dikenang lewat karya tulisnya yang berjumlah puluhan.

(Islam-Indonesia/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Kisah Paman Nabi Saw, Hamzah


PEMIMPIN PARA SYAHID


Abu Jahal

Hamzah mendaki bukit-bukit sambil melihat-lihat kota Makkah. Kudanya yang kuat menapaki bukit yang berpasir. Keduanya berderap sepanjang perbukitan. Hamzh mengamati pemandangan yang indah.

Langit begitu biru dan cerah. Bukit disinari oleh cahaya matahari, sehingga butiran pasir tampak berkilauan oleh sinar matahari.

Hamzah sedang berpikir tentang misi Nabi Muhammad saw. Hatinya terpaut bersama Nabi Muhammad saw. Dalam hatinya ia berujar, "Sesungguhnya tiada Tuhan kecuali Allah. Latta, Uza, dan Munat hanyalah batu berhala. Manusia membuat berhala-berhala itu dengan tangannya sendiri. Jadi, mengapa mereka menyembahnya?"

Nabi Muhammad saw. sedang duduk di atas batu di suatu jalan menuju Masa antara Bukit Shafa dan Marwah. Seperti biasanya, beliau saw. sedang merenung. Beliau saw. selalu memikirkan umatnya dan mereka yang tidak percaya padanya serta berpikir tentang misi Ilahiahnya.

Di dekat jalan menuju Masa terdapat sebuah rumah. Rumah tersebut memiliki teras di atasnya, sehingga dapat melihat jalan yang ada di bawahnya. Dua gadis gadis kecil sedang duduk di teras tersebut. Mereka melihat Nabi Muhammad saw. sedang berpikir sambil memandangi langit serta gunung-gunung.

Pada saat itu, Abu Jahal dan beberapa kawannya dari Makkah muncul. Mereka sedang tertawa terbahak-bahak.

Abu Jahal melihat ke arah Nabi Muhammad saw., matanya memancarkan kedengkian. Ia inginmengolok-ngolok Nabi Muhammad saw. lalu berteriak," Lihat tukang sihir ini! Lihatlah kegilaannya! Dan tidak tertawa seperti kita ! Dia hanya diam saja!"

Orang-orang bodoh itu tertawa. Tawa iblis mereka membahana ke angkasa," Ha....ha...ha...ha..."

Kedua gadis kecil tersebut sedih melihat apa yang sedang terjadi. Mereka melihat Abu Jahal terus-menerus mengelilingi Nabi Muhammad saw. sambil tertawa dan melakukan tindakan bodoh.

Abu Jahal menangambil segenggam debu. Kemudian ia meletakkan debu itu di atas kepala Nabi saw. Debu itu pun mengotori wajah Nabi dan pakaiannya.

Abu Jahal dan kawan-kawannya lalu tertawa terbahak-bahak. Namun Nabi Muhammad saw. tetap diam. Beliau merasa sedih.

Dua gadis kecil tadimersakan kesedihan dan penderitaan Nabi Muhammad saw. Abu Jahal dan teman-temannya kemudian pergi. Setelah mereka pergi, Nabi Muhammad saw. berdiri. Beliau membersihkan kepala, wajah, dan pakaiannya dari debu. Kemudian beliau beranjak pulang.

Kedua gadis kecil itu memutuskan untuk memberitahu Hamzah tentang kejadian tersebut, sehingga mereka menunggu kedatangan Hamzah.

Dari kejauhan terlihat Hamzah muncul. Ia sedang menuruni bukit dengan menunggangi kuda pirangnya.

Kedua gadis kecil tadi berteriak,"Hamzah kemari!"

Salah seorang gadis kecil itu berkata kepada saudara perempuannya,"Ayo kita beri tahu beliau !"

Gadis kecil itu memanggil," Abu Amar (Hamzah) !"

Hamzah kemudian menghentikan kudanya dan melihat kearah gadis kecil itu. Gadis kecil itu berkata dengan nada sedih, "Abu Amar, Abu Jahal telah menganiaya keponakanmu, Muhammad."

Hamzh bertanya," Menganiaya bagaimana ?"

Gadis kecil itu menjawab, " Mereka menjumpainya di jalan kemudian mengganggunya dengan menaburkan debu di atas kepalanya."

Hamzah pun marah. Ia lalu memacu kudanya. Hamzah pergi menuju Ka'bah. Biasanya ia selalu menyapa orang ketika melewati mereka apabila ia pulang berburu. Tapi kali ini ia begitu marah atas kejadian yang menimpa Nabi Muhammad saw., sehingga ia tidak menyapa siapa pun dan langsung pergi menuju Abu Jahal.

Hamzah melompat ke atas kudanya bagaikan singa. Ia mengangkat busurnya dan dan memukulkannya ke kepala Abu Jahal. Abu Jahal merasa takut ketika ia melihat Hamzah begitu marah. Lalu Abu Jahal berkata dengan lirih, "Abu Amar, dia (Muhammad) telah menghina Tuhan kita dan menyesatkan pikiran kita."

Hamzah berseru dengan marah," Balas aku jika kau mampu !"

Seruang kebenaran membahana di sekeliling Ka'bah. Hamzah berkata dengan lantang, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul Allah."

Hamzah memandang Abu Jahal dengan marah dan kemudian berkata," Mengapa kau menganiayanya ? Tidak tahukah kamu bahwa akau mengikuti Agamanya ?"

Abu Jahal menundukkan kepalanya dan terdiam. Orang-orang bodoh yang bersamanyatadi melarikan diri dengan ketakutan.

Hamzah lalu memeluk Nabi Muhammad saw. sambil menangis. Nabi pun merasa bahagia saat pamannya, Hamzah, menjadi Muslim. Beliau saw. memberinya gelar Singa Allah dan Singa Rasul-Nya.


Hari Kelahiran Hamzah

Hamzah dilahirkan pada tahun 570 M, yaitu pada Tahun Gajah. Selain sebagai paman, ia juga merupakan saudara angkat Nabi Muhammad saw., Karena seorang wanita yang bernama Thuaibah telah menyusui mereka berdua.

Hamzah adalah seorang yang berani dan kuat. Ia menjadi Muslim pada tahun kedua misi kenabian Nabi Muhammad saw.

Orang-orang tahu bahwa Hamzah mengikuti ajaran Islam. Hal ini membuat umat Muslim menjadi bahagia. Namun kaum kafir menjadi sedih.

Sebagai umat Muslim yang menyembunyikan keislaman mereka karena takut pada kaum kafir Quraisy. Namun, pada saat Hamzah menjadi Muslim, sebuah era baru dimulai, para pengikut Nabi saw. menjadikuat sehingga kaum kafir Quraisy menjadi takut pada kaum Muslim.


Tahun Kesembilan Misi Kenabian

Sembilan tahun sudah misi Nabi Muhammad saw. berlangsung. Jumlah pengikut Islam pun meningkat.

Umar bin Khaththab menjadi resah karenanya.

Suatu Hari, dia membawa pedangnya untuk membunuh Nabi Muhammad saw. Dia bertanya tentang Nabi. Lalu ada yang memberi tahu Umar," Muhammad bersama sahabat-sahabatnya ada di sebuah rumah dekat bukit Shafa."

Kemudian Umar pergi untuk mencari Nabi saw. dalam perjalanan menuju bukit Shafa, seorang lelaki dari sukunya yang bernama Naim berpapasan dengannya dan bertanya, "Kau akan pergi kemana,Umar ?"

Dengan kasar, Umar menjawab," Aku akan membunuh Muhammad karena orang ini telah mengganggu agama kita."

Umar tidak mengetahui bahwa Naim pun sebenarnya telah menjadi Muslim. Kemudia ia berkata kepada Umar," Jika engkau menyakiti Muhammad, maka bani Hasyim (keluarga Nabisaw.) tidak akan membiarkanmu hidup. Di samping itu, saudara perempuanmu dan suaminya pun telah percaya pada ajaran Islam."

Dengan marah Umar berkata,"Apa?saudara perempuanku Fathimah?"

Umar lalu pergi ke rumah Fathimah. Ketika ia berhenti di depan pintu, ia mendengar seseorang membaca Alquran.

Kalam Ilahi sangatlah mengagumkan:

" Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Thahaa, Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu menjadi susah."

Umar kemudian mengetuk pintu dan memasuki rumah. Saudara perempuannya itu segera menyembunyikan lembaran Alquran yang dibacanya, karena Umar bermaksud untuk menyobeknya. Umar lalu memukul saudara perempuannya itu, sehingga darah pun membasahi wajahnya.

Umar merasa menyesal. Kemudian dia pun pergi.

Nabi Muhammad saw. dan beberapa sahabatnya sedang berada di sebuah rumah di dekat Bukit Shafa. Beliau sedang mengajarkan kepada mereka Alquran dan hikmah. Beliau sedang membacakan beberapa firman Allah.

Pada saat yang bersamaan, mereka mendengar seseorang mengetuk pintu dengan keras. Seorang Muslim lalu berdiri. Dia mengintip melalui lubang pintu.

Hamzah bertanya,"Siapa itu?"

Orang itu menjawab," Itu adalah Umar yang sedang mengusung pedang."

Hamzah berkata," Jangan takut. Buka saja pintunya. Bila dia menginginkan kebaikan, maka kita berikan kebaikan itu. Dan bila dia menginginkan kejahatan, maka kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri."

Hamzah pun lalu berdiri. Dia membukakan pintu dan bertanya," Umar, apa maumu?"

Umar pun menjawab," Aku datang untuk mengakui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah !"

Dengan bahagia Nabi Muhammad saw. berkata,"Maha besar Allah!"

Kaum Muslim ikut berbahagia dengan masuknya Umar ke dalam Islam.


Hijrah

Masyarakat Yatsrib (Madinah) merupakan bagian dari suku Khazraj dan suku Aus. Mereka berjanji kepada Nabi Muhammad saw. untuk mendukung Islam dengan jiwa, raga, dan harta mereka.

Karena suku Quraisy sering menyakiti kaum Muslim, Nabi Muhammad saw. memerintahkan kepada kaum Muslim untuk hijrah ke Yatsrib.

Kemudian secara diam-diam, kaum Muslim meninggalkan Makkah, satu demi satu, atau kelompok demi kelompok. Hamzah bin Abdul Muththalib pun ikut berhijrah.

Muhajirin (orang-orang yang berhijrah) dan para pendukung (Anshar) yang ada di Yatsrib dengan bersemangat menunggu hijrahnya Nabi Muhammad saw. Mereka menantikan kedatangan beliau.


Pengorbanan

Para penyembah berhala memutuskan untuk membunuh Nabi Muhammad saw. Malaikat Jibril turun dari langi untuk menyampaikan rencana jahat kaum kafir.

Kemudian Rasulullah saw. meminta sepupunya, Ali bin Abi Thalib, untuk tidur di ranjangnya agar beliau saw. dapat hijrah ke Yatsrib dengan aman.

Ali bertanya kepada Nabi Muhammad saw., "Ya Rasulullah, apakah engkau akan aman?"

Nabi Muhammad saw. menjawab," Ya!"

Ali ikut berbahagia ketika Nabi Muhammad saw. dapat hijrah dengan aman. Dia tidak memikirkan dirinya sendiri ketika kaumkafir menyerang rumah Nabi Muhammad saw.

Malaikat Jibril turun dari langit dengan membacakan ayat suci Alquran berikut:"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah"

Maksud ayat ini adalah ada seseorang yang berani mengorbankan dirinya untuk menyenangkan Allah Yang Mahamulia. Ayat ini memuji perilaku Ali dan pengorbanannya.

Nabi Muhammad saw. tiba di Yatsrib. Setibanya Nabi di Yatsrib, kaum Muslim menamai kota itu Madinah al Munawwarah (kota yang diterangi cahaya).


Di Makkah

Kaum kafir di Makkah menyerang rumah-rumah kaum Muslim dan menjarahnya. Muhajirin sedih mendengar berita itu.

Nabi Muhammad saw. memutuskan untuk mengirim beberapa kelompok Muslim untuk menghukum kaum Quraisy yang merupakan para pedagang itu.

Pada bulan Ramadhan, tahun pertama setelah hijriah, Nabi Muhammad saw. memanggil Hamzah, yang bergelar Singa Allah, dan memberi Hamzah bendera pertama dalam sejarah Islam.

Nabi Muhammad saw. memerintahkan Hamzah untuk membawa kelompoknya, tiga puluh Muhajirin, ke pesisir pantai di mana kafilah pedagang Makkah tersebut biasa lewat.

Hamzah menemukan Abu Jahal di suatu wilayah yang bernama Ais.

Tiga ratus pasukan menyertai Abu Jahal, yaitu sepuluh kali lipat dibandingkan pasukan Muslim.

Tetapi Hamzah dan kelompoknya tidaklah merasa gentar. Mereka siap bertempur melawan mereka.

Namun Majdi bin Amr al Jahni, yang mempunyai hubungan baik dengan kaum Quraisy dan Muslim, datang kepada mereka untuk mencegah terjadinya pertempuran.

Hamzah merasa bangga karena beliau adalah orang pertama yang menerima bendera Islam dari Rasulullah saw. Sehubungan dengan hal itu, ia mengucapkan bait puisi yang indah:

Dengan printah Rasulullah, sebuah bendera berkibar di atasku.

Bendera itu belum pernah berkibar sebelum aku (mengibarkannya).

Bendera itu memiliki kemenangan dari pemilik martabat.

Kekasih Allah yang tindakannya adalah sebaik-baik tindakan.

Kemudian ia mengabadikan pertikaiannya dengan Abu Jahal dalam puisinya:

Dimalam hari, ketika kaum kafir berbaris, mereka berjumlah banyak.

Dan kami semua merupakan pemanas air yang mendidihkannya.

Karena kemarahan kawan-kawannya.

Dan ketika kita saling melihat satu sama lain,

Mereka menjadikan unta mereka berlutut dan membelenggunya.

Dan kami mengetahui jarak sasaran panah.

Dan kami berkata pada mereka:

Pendukung kami adalah jubah Allah.

Namun kalian tidak memiliki jubah apa pun melainkan kesesatan.

Inilah Abu Jahal yang telah menjadi penghasut dengan tidak adil.

Maka, merugilah ia (Abu Jahal).

Dan Allah menggagalkan rencana jahat Abu Jahal.

Kami hanyalah terdiri dari tiga puluh prajurit,

Sedang mereka berjumlah tiga ratus.


Bersama Nabi Muhammad saw.

Dalam penyerangan yang terjadi di Ash Shira, Nabi Muhammad saw. memimpin, sedang Hamzah bin Abdul Muththalib memegang bendera.

Pasukan Islam berhasil menghalau para pedagang Quraisy.

Kafilah Quraisy mengumumkan perang dagang melawan kaum Muslim. Lalu mereka menyerang rumah-rumah kaum Muslim yang hijrah dari Makkah ke Madinah. Mereka semakin meningkatkan penyerangannya melawan kaum muslim di mana pun juga.

Sementara itu, suku Quraisy mendesak suku-suku Arab lainnya untuk menyerang Madinah.

Nabi Muhammad saw. menghendaki dihukumnya kaum Quraisy. Beliau berpendapat bahwa cara yang terbaik untuk menghukum mereka adalah dengan menghalau kafilah pedagang pergi menuju Syam.

Hamzah ikut serta dengan Nabi Muhammad saw. dalam setipa penyerangan.


Perang Badar

Nabi Muhammad saw. mendengar bahwa sekelompok kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan datang kembali dari Syam ke Makkah. Nabi Muhammad saw. kemudian memerintahkan kaum Muslim untuk menghadapi kafilah dagang tersebut.

Pada 12 Ramadhan tahun ke- 2 H, Nabi Muhammad saw. dengan 313 orang Muhajirin dan Anshar pergi meninggalkan Madinah.

Abu Sufyan mendengar pergerakan dan tujuan kaum Muslim yang akan menghadapi kafilah tersebut. Ia pun dengan segera mengirim seseorang untuk memberitahu suku Quraisy tentang keadaan yang berbahaya ini.

Abu Jahal mendapati bahwa tindakan kaum Muslim tadi merupakan kesempatan yang baik untuk menghancurkan Islam dan Umatnya. Lalu ia mulai mendesak kaum Quraisy agar menyerang kaum Muslim. Dia beserta pemimpin Quraisy mengerahkan 950 pasukan. Abu Jahal memimpin pasukannya dan menyerang sumber mata air Badar, tempat pasukan Muslim berkemah.

Pada 17 Ramadhan, dua kubu kekuatan datang bersamaan. Kaum kafir memukul-mukul genderang. Namun kaum Muslim tetap mengingat dan memuji kebesaran Allah.

Malaikat Jibril turun dari langit dan membacakan ayat berikut: " Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya."

Nabi Muhammad saw. mengajak kaum kafir Quraisy untuk berdamai. Namun Abu Jahal menolaknya. Dia pikir dai mampu menghancurkan Islam karena pasukannya berjumlah tiga kali lipat pasukan Muslim.

Dua pasukan bersiap-siap untuk bertempur. Salah satu orang kafir berkata," Muhammad, biarkan orang-orang pemberanimu keluar dan bertarung melawan kami."

Lalu Nabi Muhammad saw. berkata,"Ubaidah bin al Harits, Hamzah bin Abdul Muththalib, dan Ali bin Abi Thalib, berdiri !"

Mereka bergerak dengan sigap. Mereka telah siap mati di jalan Allah.

Ubaidah berdiri di hadapan lawannya, Uthbah bin Rabiah.

Ali berdiri di hadapan Walid bin Uthbah.

Hamzah berdiri di hadapan Shaibah bin Rabiah.

Kemudian perang pertama pun dalam sejarah Islam pecah.

Dengan segera, Hamzah melumpuhkan lawannya. Ali membunuh musuh Islam. Ubaidah memukul lawannya, namun lawannya balas memukul. Sehingga dia terjatuh ke tanah. Kemudian Hamzah dan Ali membunuh Uthbah. Kemudian mereka membawa Ubaidah ke kemah untuk mengobati luka-lukanya.

Ketika pahlawan kaum-kaum kafir berjatuhan satu per satu, Abu Jahal memerintahkan pasukannya agar melancarkan serangan.

Kaum Muslim menghadapi serangan tersebut dengan semangat yang dipenuhi oleh keoercayaan dan keyakinannya terhadap Allah,sehinggaAllah menghadiakan kaum muslim sebuah kemenangan.

Abu Jahal beserta pemimpin kaum kafirmengalami kekalahan. Merka pun melarikan diri karena ketakutan.


Pembalasan dendam

Penduduk Mekkah mendengar kabar tentang kekalahan kaum kafir quraisy. Kaum wanitanya meatapi kematian kaum kafir yang terbunuh. Namun Hindun, istri Abu Sufyan, tetap diam.

Orang-orang berkata kepada Hindun, "Mengapa engkau tidak menagisi saudaramu, ayahmu, dan pamanmu?"

Hindun berkata, "Aku tak menagisi mereka, sebagaimana Muhammad dan para sahabatnya tidak menangisi kesialan kita."

Hindun memikirkan cara untuk membalaskan dendamnya terhadap Nabi Muhammad saw., atau Ali bin Abi Thalib, atau Hamzah bin Abdul Muththalib.

Hindun mendesak kaum kafir agar membalaskan dendamnya pada mereka. Tiga ribu pasukan kafir telah siap. Hindun binti Uthbah, istri Abu Sufyan, ada diantara pasukan tersebut. Terdapat empat belas wanita lain bersamanya. Mereka memukul genderang.

Di kota Makkah, terdapat seorang budak yang kuat bernama Wahsyi. Hindun pergi menemuinya. Dia berjanji padanya akan memberikan banyak emas dan uang apabila Wahsyi dapat membunuh Nabi Muhammad saw., atau Ali bin Abi Thalib, atau Hamzah bin Abdul Muththalib.

Wahsyi berkata,"Aku tak mampu mengalahkan Muhammad karena sahabatnya berada di sekelilingnya. Aku tak mampu mengalahkan Ali karena ia sangat waspada. Aku mungkin dapat membunuh Hamzah karena kemarahan mampu membutakannya."

Hindun memberikan emas kepada Wahsyi sebagai uang muka. Dia selalu memandangi tombak yang disiapkan oleh Wahsyi untuk membunuh Hamzah.

Kaum kafir tiba di Al Abwa (suatu daerah dekat Madinah tempat Aminah, Ibunda Nabi Muhammad saw., disemayamkan lima puluh tahun sebelumnya).

Hindun ingin menggali makam Aminah. Namun para pemimpin Quraisy menolak hal itu karena orang Arab tidak pernah menggali kuburan orang mati.

Nabi Muhammad saw. memimpin pasukan Muslim. Abu Sufyan memimpin pasukan kafir.

Nabi Muhammad saw. memerintahkan empat puluh pemanah terampil untuk tetap tinggal di kaki bukit Al Aianain untuk melindungi pasukan Islam. Beliau memerintahkan mereka agar tidak meninggalkan posisinya.

Kaum kafir mulai menyerang kaum Muslim. Utsman bin Abi Thalhah, pemegang bendera kaum kafir, berada paling depan.

Hindun dan beberapa orang wanita mengelilingi lelaki itu. Mereka memukul-mukul genderang dan memberi semangat kepada para prajurit kafir untuk berjuang.

Mereka melantunkan syair berikut:

Kami adalah putri-putri Thariq, berjalan di atas bantal.

Bagaikan jalannya butir pasir yang berkilauan.

Kejantanan berada di persimpangan.

Mutiara-mutiara mengalungi leher-leher.

Jikalau engkau maju, kami akan memelukmu.

Dan jikalau engkaumelarikan diri,

Kami akan mengabaikanmu.

Dan pengabaian kami akan menyedihkan.

Hamzah berteriak dengan lantang," Akulah putra pembawa air pada musim ziarah."

Hamzah menyerang pembawa bendera. Dia memukul dan memotong tangannya. Maka pembawa bendera itu pun mundur. Kemudian, saudaranya menggantikannya membawa bendera itu.

Pasukan Islam menyerang kaum kafir dengan gencar. Orang-orang yang membawa bendera kafir satu per satu jatuh ke tanah.

Ketika orang-orang pembawa bendera itu berjatuhan ketanah, pasukan kafir pun menjadi gentar. Mereka pun lari tunggang-langgang.

Pasukan Islam mengejar musuh yang melarikan diri itu. Para pemanah lupa akan perintah Nabi saw. dan kemudian meninggalkan kaki gunung untuk mengumpulkan barang rampasan. Maka, garis pertahanan islam pun lowong.

Di bawah pimpinan Khalid bin Walid, kaumkafir kemudian mengepung pasukan Islam. Kekagetan membuat pasukan Muslim berada dalam kekacauan.

Wahsyi memegang tombak panjang dan mencari-cari Hamzah. Tak ada yang dipikirkannya kecuali hasrat untuk membunuh Hamzah.

Sepanjang pertempuran itu, Wahsyi bersembunyi di balik batu besar sambil memperhatikan Hamzah.

Ketika Hamzah sedang sibuk bertempur, Wahsyi melontarkan tombaknya ke tubuh paman Rasul ini. Tombaknya melukai perut Hamzah.

Hamzah berusaha melawan Wahsyi. Namun akhirnya ia syahid.

Wahsyi berlari dengan cepat untuk memberi tahu Hindun tentang apa yang telah dilakukannya.

Hindun tampak gembira. Dia memberikannya emas kepada Wahsyi dan berkata,"Aku akan memberimu sepuluh dinar sesampainya kita di Makkah."

Dengan tergesa-gesa, Hindun mendatangi jasad Hamzah. Dia lalu memotong telinga dan hidung Hamzah untuk dijadikan kalung. Lalu ian menghunjamkan belati keperut Hamzah dan menyobeknya. Dia mengambil hati Hamzah dengan kejam dan memakannya seperti seekor anjing.

Kemudian datanglah Abu sufyan, ia menusukkan tombaknya keseluruh tubuh Hamzah!


Para pemimpin Syahid

Kaum kafir menarik pasukannya dari medan perang. Nabi Muhammad saw. beserta para sahabat turun dari bukit untuk kemudian menguburkan para syahid.

Nabi Muhammad saw. menanyakan kepada para sahabatnya tempat di mana Hamzah syahid.

Al Harits berkata,"Aku tahu tempatnya."

Nabi Muhammad saw. meminta Harits untuk menunjukkan jenazah Hamzah.

Seorang pria pergi mencari jenazah Hamzah. Dia menemukan jasad Hamzah telah tercabik-cabik, sehingga dia enggan mengatakan kepada Nabi Muhammad saw. tentang kondisi jenazah itu.

Nabi Muhammad saw. memerintahkan Ali untuk mencari jasad Hamzah. Ali pun menemukan jasad itu. Namun, beliau tidak mengatakan keadaan Hamzah karena dia tidak ingin Nabi Muhammad saw. bersedih.

Nabi Muhammad saw. kemudian mencari jasad Hamzah sendiri. Beliau menemukan keadaan Hamzah dalam keadaan yamg menyedihkan.

Nabi Muhammad saw. berlinang air mata ketika beliau melihat apa yang telah mereka (kaum kafir) lakukan pada tubuh Hamzah. Bahkan serigala pun tidak berbuat seprti apa yang telah Hindun dan Abu Sufyan perbuat.

Nabi Muhammad saw. sangat murka, kemudian beliau berkata," Paman, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu. Engkau telah berbuat kebajikan, senantiasa menjaga hubungan silaturahmi dengan saudara-saudaramu."

Kemudian turunlah Jibril dan membacakan beberapa ayat suci Alquran: "Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang bersabar."

Nabi Muhammad saw. pun akhirnya memaafkan mereka yang telah menyakiti Hamzah. Beliau saw. telah bersabar. Beliau mencegah kaum Muslim dari membalas dendam.

Nabi Muhammad saw. mengambil jubahnya dan menutupi jasad Hamzah seraya berkata," Paman, sang Singa Allah, Singa Rasul-Nya, pelaku kebajikan, penghapus kekhawatiran, panglima Rasulullah, dan penyelamat bagi wajahnya."

Shafiyah, saudara perempuan Hamzah dan bibi Nabi Muhammad saw., pergi bersama Fathimah az Zahra, putri Rasulullah., untuk menengok keadaan Nabi saw.

Ali bin Abi Thalib berpapasan dengan Shafiyah dan berkata," Bibi, kembalilah!"

Ali tidak ingin Shafiyah melihat keadaan Hamzah. Tapi Shafiyah berkata," Aku tak akan kembali sampai aku melihat Rasulullah."

Dari kejauhan, Nabi Muhammad saw. melihatnya, sehingga beliau memerintahkan anak Shafiyah, Zubair, untuk tidak mengizinkannya melihat saudaranya, Hamzah, yang telah syahid.

Zubair mendekati Shafiyah dan berkata," Ibu, kembalilah!" Shafiyah lalu berkata, "Tidak, sampai aku bertemu Rasulullah."

keselamatannya, ia bertanya tentang Hamzah," Dimana saudaraku?"

Nabi Muhammad saw. tetap terdiam, sehingga Shafiyah mengetahui bahwa saudaranya itu telah syahid. Kemudian ia bersama Fathimah az Zahra menangisi kepergiaan Hamzah.

Nabi Muhammad saw. berusaha menghibur mereka," Berbahagialah ! Jibril telah memberitahuku bahwa Hamzah telah disejahterakan dengan menjadi Singa Allah dan Singa Rasul-Nya di langit."

Bukit Uhud berdiri sebagai saksi atas keberanian Hamzah, pemimpin para syahid, dan penumpas kekafiran.[]

(Alhassanain/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

Kisah Allamah Thabathabai


Tidak ada seorangpun di dunia yang selalu hidup nyaman tanpa pernah menghadapi masalah dan kesulitan. Orang bijak mengatakan, jika dalam kehidupan engkau hanya meniru gaya hidup orang lain dan mengikuti apa yang dilakukan kebanyakan orang, maka tak akan ada sisi kehidupannya yang bisa dibanggakan. Sebagian pakar pendidikan meyakini bahwa setiap manusia punya karakter, bakat dan potensi khas dirinya yang harus ia aktualisasikan. Jarang ada orang yang mampu mengaktualisasikan potensi dan bakat alamiahnya dengan baik. Salah satu yang berhasil dalam hal ini adalah Allamah Sayid Mohammad Hossein Thabathabai. Beliau adalah ulama besar yang mampu melahirkan perubahan fundamental pada dunia pemikiran. Tak syak, Allamah layak masuk ke dalam jajaran ilmuan dan ulama Islam yang paling menonjol di dunia modern.

Allamah Sayid Mohammad Hossein Thabathabai adalah mufassir besar, filosof teras atas dan sufi yang arif. Beliau getol memarakkan dunia pemikiran filsafat dan irfan serta aktif dalam mengajar tafsir al-Quran. Selain menulis banyak buku, beliau juga mendidik murid-murid yang di kemudian hari menjadi tokoh dan ilmuan besar Islam seperti Ayatullah Murtadha Muthahhari yang membentengi Islam dari serangan pemikiran-pemikiran asing dan ateis.

Meski sudah banyak buku dan makalah yang ditulis untuk mengenalkan sosok ulama besar ini, namun belum ada yang bisa mengungkap kepribadian agung yang namanya akan selalu abadi di dunia pemikiran dan tafsir al-Quran ini.

Allamah Thabathabai terlahir dengan nama Mohammad Hossein di keluarga yang taat di kota Tabriz, barat laut Iran pada penghujung bulan Dzulhijjah tahun 1321 Hijriah bertepatan dengan tahun 1904 Masehi. Di Tabriz, keluarga Thabathabai dikenal sebagai keluarga terpandang dari keturunan Nabi Saw. Beliau adalah keturunan Sirajuddin Abdul Wahhab yang dikenal karena perannya yang berhasil menghentikan peperangan besar antara Iran dan pemerintahan Ottoman pada tahun 920 Hijriah.

Sejak usia lima tahun Sayid Mohammad Hossein Thabathabai sudah kehilangan kasih sayang ibundanya yang wafat meninggalkannya untuk selama-lamanya. Derita itu lengkap saat berusia sembilan tahun dengan wafatnya ayah beliau. Sejak itulah, Sayid Mohammad Hossein hanya hidup bersama adik lak-lakinya. Namun demikian, Allah Swt tak pernah membiarkan hamba-Nya hidup tanpa pengawasan. Perlindungan dan inayah Allah ibarat atap yang selalu menaungi hidupnya.

Mengenai masa-masa sulit itu, Allamah bercerita, "Sejak kanak-kanak, aku sudah merasakan derita menjadi anak yatim. Tapi Allah Swt berkenan memberikan anugerah-Nya kepada kami. Dia telah memudahkan urusan ekonomi untuk kami. Pengemban wasiat ayahku menjalankan wasiat beliau, mengasuh aku dan adikku dan memperlakukan kami dengan perlakuan akhlak Islam."

Allamah Thabathabai mengawali jenjang pendidikannya dengan belajar al-Quran, bahasa Persia dan pelajaran-pelajaran yang umumnya didapatkan anak-anak seusianya. Periode itu berlangsung selama enam tahun sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Mengenai jenjang pendidikan ini, beliau bercerita:
"Pada mulanya ketika masih belajar ilmu Sharaf, aku tidak bernafsu untuk melanjutkan sekolah. Karena itu semua yang diajarkan di kelas tidak bisa aku cerna dengan baik. Empat tahun berlalu begitu saja. Tapi Allah Swt menurunkan inayah-Nya kepadaku dan mengubah diri ini sehingga aku berubah menjadi orang yang tidak bisa lepas dari belajar dan selalu haus untuk memperoleh kesempurnaan. Sejak saat itu sampai proses pendidikanku berakhir yang kurang lebih berlangsung selama 17 tahun aku tak pernah merasa letih dan jenuh dari belajar, menelaah dan berpikir…

Kutinggalkan semua persahabatan dengan orang-orang yang bukan ahli ilmu. Akupun merasa cukup dengan makan, tidur dan kehidupan ala kadarnya, dan sisa waktu kugunakan untuk belajar. Sering aku lewatkan malam sampai pagi dengan belajar dan membaca, khususnya di musim panas. Setiap hari, pelajaran besok pagi sudah aku pelajari malam sebelumnya sehingga saat berada di kelas, aku sudah menguasai pelajaran yang disampaikan guru. Aku selalu berusaha memecahkan masalah pelajaran dengan cara apapun. Karena itu, di kelas, tak ada pertanyaan yang aku sampaikan kepada guru berkenaan dengan pelajaran."

Dengan keuletan dan ketekunan yang tiada tara, Sayid Mohammad Hossein Thabathabai mempelajari fiqih, ushul, filsafat dan ilmu kalam dengan berguru kepada para ulama di kota kelahirannya. Selain mengasah otak dengan tekun belajar, beliau juga berhasil menguasai seni tulis dan kaligrafi. Tahun 1925, Sayid Mohammad Hossein yang baru berusia 21 tahun sudah menguasai berbagai ilmu keislaman.

Melihat kecerdasan dan ketekunannya, Sayid Mohammad Hossein dianjurkan oleh guru-gurunya untuk melanjutkan pendidikan di kota Najaf. Di kota itu dia bisa berguru kepada para ulama besar di hauzah ilmiah Najaf. Di Najaf, beliau bertemu dengan sufi dan arif besar Ayatullah Sayid Ali Qadhi Thabathabai. Melihat pemuda yang haus ilmu itu, sang alim menasehatinya, untuk menyertakan tahdzibun nafs atau penyucian jiwa dalam proses belajar. Nasehat dan bimbingan ruhani Ayatullah Qadhi sangat membekas pada diri dan jiwa Sayid Mohammad Hossein. Di situlah, pemuda yang kelak menjadi ulama besar ini mulai meniti jalan suluk dan irfan.

Allamah Thabathabai berada di Najaf selama sebelas tahun. Selama itu, beliau berguru kepada para ulama untuk melengkapi pendidikannya di berbagai disiplin ilmu Islam. Dari sekian banyak guru, pengaruh Ayatollah Qadhi pada diri Allamah sangat besar. Mengenai gurunya ini, Allamah mengatakan, "Apa yang aku punya kudapatkan dari almarhum Qadhi."

Tahun 1935, Allamah Thabathabai kembali ke Iran karena masalah ekonomi yang melilit keluarganya di Tabriz. Beliau terpaksa meninggalkan Najaf dan kembali ke kampung halamannya untuk bertani di ladang peninggalan ayahnya. Semua itu dilakukan demi membantu perekonomian keluarga. Namun jauh dari dunia ilmu sangat menyiksa Allamah. Pada tahun 1946, beliau pergi ke kota Qom. Di kota inilah beliau menyewa sebuah kamar untuk diri dan keluarganya demi memulai satu periode kehidupan yang sangat sederhana. Meski hidup sulit, namun berada di lingkungan hauzah ilmiah Qom memberinya kesempatan emas untuk ikut memarakkan dunia keilmuan disana.

Allamah mencermati kekosongan yang ada di lingkungan hauzah ilmiah Qom dan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Muslim. Pada tahap berikutnya, beliau membuka kelas pengajaran filsafat dan tafsir al-Quran. Dua cabang ilmu itu sengaja beliau pilih karena panggilan tugas dan kewajiban yang dirasakannya. Berkat ketulusan dan keuletannya, beliau berhasil merampungkan karya besarnya di bidang tafsir al-Quran yaitu kitab tafsir al-Mizan. Sementara, dalam mengajar filsafat beliau mendapatkan kendala besar karena adanya penentangan dari sebagian kalangan akan materi pelajaran ini. Namun berkat kesopanan dirinya dan dukungan para ulama besar, satu persatu rintangan berhasil disingkirkan. Kelas-kelas pelajaran filsafat yang dibuka oleh Allamah menjadi pusat penempaan pemikiran. Kelas itulah yang mencetak para ilmuan pemikiran seperti Ayatullah Muthahhari. Di forum-forum filsafat itu, pemikiran filsafat Barat khususnya marxisme dan materialisme menjadi bahan kajian dan kritik.

Nama Allamah Thabathabai sebagai ilmuan dan filosof dikenal bukan hanya di Iran tapi juga di manca negara. Banyak pemikir Barat yang datang ke Iran untuk bertemu dan mengadakan dialog dengan ulama besar ini, di antaranya adalah Henry Corbin, cendekiawan besar asal Perancis.

Akhirnya pada tanggal 15 November 1981, rakyat Iran dan dunia keilmuan dikejutkan oleh berita duka wafatnya Allamah Sayid Mohammad Hossein Thabathabai. Prosesi pemakaman ulama, mufassir, filosof dan sufi besar ini dihadiri oleh ribuan orang termasuk para ulama dan cendekiawan hauzah dan universitas.
Sebagian orang tak ubahnya bagai pelita benderang yang menerangi dan memberi kehangatan bagi orang lain. Orang-orang seperti ini tak pernah mengenal kata lesu, bodoh, dan jumud. Mereka ibarat mentari yang memberi kehidupan dan menyuburkan bunga dan tanaman. Allamah Sayid Mohammad Hossein Thabathabai adalah salah satu figur yang menerangi umat manusia dengan cahaya keilmuan dan makrifatnya. Beliau bukan hanya filsuf dan mufassir besar dunia Islam, tapi juga memberi keteladanan kepada masyarakat dan umat lewat budi pekerti, perangai dan perbuatannya.

Hubungan Allamah dengan istri, anak-anak, masyarakat dan para ulama mengandung pelajaran yang sangat berharga. Beliau mementaskan kehidupan seorang insan mulia yang sebenarnya di depan umat.
Allamah Sayid Mohammad Hossein Thabathabai, ulama yang saleh dan arif ini melewatkan setiap malam untuk beribadah dan bermunajat dengan Tuhannya sampai tiba waktu subuh. Di bulan Ramadhan, sejak terbenamnya matahari hingga waktu sahur beliau asyik beribadah. Mulutnya tak pernah berhenti berzikir dan perhatiannya selalu tertuju kepada Sang Khaliq.

Aktivitas keilmuan yang menyita banyak waktunya tak membuat ulama yang bersahaja dan tulus ini lupa akan tawasul kepada Nabi Saw dan Ahlul Bait AS. Menurut beliau, semua keberhasilan yang berhasil dicapainya adalah berkat bimbingan manusia-manusia suci itu dan tawasul kepada mereka. Ketika nama Nabi atau salah seorang maksum disebut, ekspresi wajah beliau menunjukkan rasa hormat kepada nama itu, terlebih kepada Imam Mahdi af. Beliau menyebut Nabi Saw dan Fatimah Zahra as sebagai manusia-manusia agung dengan kedudukan maknawi yang tak terbayangkan.

Putri Allamah Thabathabai saat menceritakan akhlak ayahnya mengatakan, "Beliau benar-benar mempraktekkan akhlak Nabi Saw di dalam rumah. Beliau tak pernah marah. Kami tak pernah mendengar suara beliau yang tinggi. Meski lemah lembut tapi beliau tegas. Ayah sangat memperhatikan shalat di awal waktu… Tak pernah beliau menolak memberi kepada orang yang memerlukan. Beliau sangat disiplin dan semua pekerjaan dilakukannya dengan rapi dan terprogram. Sebab, ayah meyakini bahwa tertib dan disiplin akan membantu meninggikan jiwa seseorang. Di rumah, beliau tidak melimpahkan pekerjaan pribadinya kepada orang lain. Meski sangat sibuk, setiap hari beliau selalu menyisihkan waktu satu jam di siang hari untuk bersama keluarga. Allamah sangat penyayang kepada anak-anaknya terutama kepada anak perempuan. Menurut beliau, anak perempuan adalah nikmat dan hadiah Ilahi yang sangat berharga. Di rumah, beliau membaca al-Quran dengan suara keras supaya anak-anak terbiasa mendengar bacaan wahyu Allah…"

Putri Allamah melanjutkan, "Ayah memperlakukan ibuku dengan penuh hormat dan kasih sayang. Seakan beliau selalu merindukan ibuku. Tak pernah aku melihat mereka bertengkar. Mereka berdua benar-benar seperti dua sahabat yang akrab. Mengenai ibuku, ayah mengatakan, ‘Tanpa dukungannya aku tak akan bisa menulis buku dan mengajar... Ketika aku sedang berpikir atau menulis, istriku tak pernah mengajakku berbicara agar tidak membuyarkan konsentrasiku. Untuk menghilangkan keletihanku, setiap jam dia mengetuk pintu kamarku dan membawakan secangkir teh untukku… Dialah yang membuatku berhasil. Dia benar-benar sahabatku… Setengah dari pahala setiap buku yang kutulis adalah miliknya."

Ketika istrinya jatuh sakit tahun 1965, Allamah tak mengizinkannya bangkit dari pembaringan untuk melakukan pekerjaan rumah. Putri Allamah bercerita, "27 hari sebelum wafatnya, ibuku jatuh sakit. Selama itu, ayah meliburkan semua kegiatannya untuk dengan setia menemani ibu dan merawatnya."

Salah satu sifat menonjol yang ada pada orang-orang saleh dan bertakwa adalah tawadhu dan rendah hati. Kerendahan hati Allamah nampak dari caranya berjalan dan pakaiannya yang sangat sederhana. Meski terkenal dan sangat dihormati oleh masyarakat tapi beliau tetap menempatkan diri seperti orang lain dan tak segan berdiri di antrian untuk membeli roti. Salah seorang murid beliau menceritakan, "30 tahun lamanya aku menyertai Allamah. Beliau sangat peduli dengan siapa saja yang menunjukkan minat belajar. Dengan semua santri, beliau sangat ramah sehingga masing-masing merasa sebagai orang yang paling dekat dengan beliau."
Budi pekerti dan perangainya yang luhur menarik hati semua orang. Allamah tak pernah merasa dirinya unggul di atas orang lain. Beliau bahkan tak pernah menyebut penemuan ilmiahnya sebagai hasil pemikirannya sendiri. Salah seorang murid beliau mengatakan, "Allamah menerangkan hasil penemuan ilmiahnya dengan bahasa yang sangat sederhana sehingga kami menyangkanya sebagai masalah yang biasa. Tapi setelah merujuk dan menelaah buku-buku di bidang ini kami baru sadar bahwa apa yang disampaikan Allamah ternyata buah pemikiran beliau sendiri."

Dalam mengajar dan berhubungan dengan murid-muridnya, Allamah tak pernah bersikap kasar. Kata-katanya selalu lembut. Beliau bahkan tak suka disebut ‘guru' oleh murid-muridnya. Dalam kaitan ini beliau mengatakan, "Aku tidak menyukai sebutan itu. Sebab kita berkumpul di sini untuk bersama-sama dan saling membantu memahami hakikat dan ilmu Islam."

Ayatullah Javadi Amoli, salah seorang ulama besar Iran dan murid Allamah Thabathabai yang menonjol menceritakan,"Tahun 1971, ketika hendak menunaikan ibadah haji, aku mendatangi Allamah untuk meminta restu. Kepada beliau aku meminta nasehat yang bisa menjadi bekal dalam perjalanan ini. Beliau menyebutkan ayat al-Quran, Fadzkuruunii adzkurkum, yaitu, ‘Ingatlah Aku maka Aku akan selalu mengingat kalian'. Lalu beliau berkata, ‘Jika Allah mengingat manusia, maka Dia akan membebaskannya dari kebodohan. Jika dia menghadapi kebuntuan Allah akan membukakan jalan baginya. Jika dia menemukan masalah dalam akhlak, Allah yang memiliki Asmaul Husna dan sifat-sifat yang mulia akan mengingatnya."

Salah seorang tokoh Marxisme yang masuk Islam setelah berdialog dengan Allamah Thabathabai mengatakan, "Allamah Thabathabai telah menjadikanku insan yang bertauhid. Kami berdialog selama delapan jam. Beliau telah membuat seorang komunis menjadi orang yang beragama dan seorang marxis menjadi insan yang bertauhid. Beliau mendengar berbagai kata hinaan dari orang kafir tapi tak terusik dan tak terbawa emosi."

Suatu hari seorang ulama di hauzah ilmiah Qom memuji kitab tafsir al-Mizan karya Allamah Thabathabai di depan beliau. Allamah melirik ulama itu dan mengatakan, "Jangan kau puji seperti itu. Aku takut pujianmu membuatku senang sehingga menghilangkan keikhlasan dan niat mendekatkan kepada Allah."
Salah seorang ulama menyodorkan makalah ilmiah kepada Allamah untuk mendapat koreksian beliau. Setelah menelaah makalah itu, Allamah berkata, "Mengapa kau menulis doa untuk dirimu sendiri ‘Ya Allah beri aku taufik memahami ayat-ayat Ilahi? Mengapa kau tidak menyertakan orang lain di jamuan Ilahi?"
Sejak lama, Allamah mempunyai hubungan yang erat dan akrab dengan Imam Khomeini. Beliau mendukung penuh gerakan revolusi Islam di Iran. Allamah tak pernah melalaikan masalah politik. Beliau merasa tersiksa dengan kondisi yang ada di masa sebelum revolusi dan sangat membenci rezim Pahlevi. Suatu ketika pemerintah AS mengundang Allamah untuk mengajar filsafat Timur di negara itu. Washington meminta Shah untuk menyampaikan undangan tersebut. Shah bahkan menjanjikan gelar doktor honorer untuk ulama ini. Namun Allamah dengan tegas menolak undangan AS dan menampik pemberian gelar doktoral dari Shah. Jawaban itu membuat istana berang, dan Allamahpun ditekan. Menghadapi tekanan, Allamah Thabathabai mengatakan, "Aku tak pernah takut menghadapi Shah dan tak akan pernah bersedia menerima pemberian gelar doktoral darinya."

Kelebihan lain yang ada pada diri Allamah adalah jiwa seninya yang menggelora dan tersalurkan lewat puisi. Beliau banyak meninggalkan karya-karya puisi diantaranya Mara Tanha Bord, Payam-e Nasim, dan Honar-e Eshq.

Ilmu merupakan bekal paling penting dalam kehidupan yang memberi manusia kekuatan dan kemampuan. Untuk memperoleh ilmu dan menyingkap tabir-tabir rahasia alam, para ilmuan telah menanggung jerih payah dan bekerja tanpa mengenal lelah.Allamah Sayid Mohammad Hossein Thabathabai adalah salah satu ilmuan pemikir yang telah bersusah payah dan menanggung banyak kesulitan dalam menimba ilmu dan mengembangkan pemikirannya.

Allamah Thabathabai sangat menghargai pemikiran, dan beliau juga suka berpikir. Beliau sendiri mengatakan, "Setiap hari aku menghabiskan masa enam jam sehari untuk makan, tidur dan ibadah. 18 jam sisanya kugunakan untuk berpikir. Terkadang di tengah berpikir aku terlelap tidur. Saat terjaga, kulanjutkan berpikir dari saat terlelap."

Islam menganjurkan umatnya untuk berpikir. Nabi Saw dalam sebuah hadis menyebutkan bahwa berpikir sesaat lebih utama dari ibadah selama tujuh puluh tahun. Al-Quran al-Karim dalam banyak ayat sucinya juga menyeru manusia untuk berpikir. Berpikir akan alam penciptaan akan menambah pengetahuan manusia dan membawanya menuju ke arah kesempurnaan maknawiyah.

Meski sangat mementingkan perenungan dan pemikiran, Allamah Thabathabai menyatakan bahwa berpikir saja tidak cukup membawa manusia kepada kesempurnaan dan kesejahteraan hakiki. Sebab, manusia harus terlebih dahulu mengikuti ajaran kitabullah dan Sunnah Nabi Saw. Allamah mengatakan, "Hikmah yang tidak mengajak kepada syariat bukan hikmah yang hakiki." Karena itu, beliau tidak menyukai orang yang secara lahirnya suci namun asing dari perenungan dan tidak pula orang yang logis dan gemar berargumentasi tapi tidak patuh kepada ajaran agama.

Menurut Allamah, agama dan akal selalu berjalan beriringan. Namun demikian, ketika pendekatan nalar tak mampu mengungkap masalah agama, hakikat ajaran agama harus diterima dengan lapang dada dan penuh kepasrahan. Sebab, agama datang dari Yang Maha Mengetahui dan Akal Yang Tak Terbatas. Kegemaran kepada masalah pemikiran mendorong Allamah Thabathabai untuk menyelami ilmu pemikiran khususnya filsafat. Filfasat mengajak manusia untuk menenungkan alam dan terbang di alam pemikiran.

Selain pakar filsafat Islam, Allamah Sayid Mohammad Hossein Thabathabai juga menguasai filsafat Barat dan mengenal dengan baik pemikiran para filsuf Barat. Menurutnya, filsafat adalah salah satu alat terbaik untuk memahami ayat-ayat al-Quran dan hadis dengan lebih baik. Karena itu, beliau meyakini bahwa filsafat sangat berhubungan dengan agama. Allamah bisa disebut sebagai filsuf Muslim pertama yang mengkomparasikan filsafat Islam dengan filsafat materialis. Sebab, sebelum beliau, jarang ditemukan filsuf yang menguasai filsafat Islam dan Barat sekaligus. Berkat usahanya, filsafat hidup kembali di dunia keilmuan. Bisa dikata bahwa Allamah adalah filsuf yang membuka lembaran baru dalam sejarah filsafat Islam.

Allamah Thabathabai meyakini bahwa antara agama dan filsafat Ilahiyah bukan hanya tak ada pertentangan tapi justeru ada hubungan yang tak terpisahkan antara keduanya. Beliau mengatakan, "Adalah kezaliman besar ketika orang memisahkan antara filsafat ilahi dan agama Ilahi… Adakah jalan untuk memperoleh pengetahuan kecuali dengan berargumentasi dan berdalil? Jika satu-satunya jalan menuju pengetahuan adalah dengan berargumentasi dan berdalil, bagaimana mungkin para nabi menyeru manusia kepada hal yang bertentangan dengan fitrah dan naluri mereka dan mengajak mereka untuk menerima apa saja tanpa dalil?" Allamah melanjutkan, "Yang benar adalah bahwa metode para nabi dalam mengajak manusia kepada kebenaran tidak terpisah dari argumentasi dan logika."

Menurut Allamah, pelajar agama mesti membekali diri dengan filsafat dan mantiq untuk membantunya memahami agama dengan baik. Salah seorang murid Allamah mengatakan, "Di sekolah agama ada kepercayaan umum bahwa seorang pelajar lebih baik mempelajari dengan hadis-hadis dari para maksumin terlebih dahulu sebelum belajar filsafat. Tapi Allamah berpandangan lain. Menurut beliau, hadis-hadis banyak mengandung masalah logika yang mendalam dan argumentasi filsafat. Bagaimana orang bisa memasuki lautan hadis yang luas dan dalam tanpa terlebih dahulu mempelajari filsafat dan mantiq yang mengasah otak dan akal manusia?"

Dapat dikata bahwa ada dua hal yang mendorong Allamah mementingkan filsafat. Pertama, karena filsafat membantu memahami hakikat agama dengan lebih baik, dan kedua, menjawab serangan kritik para pemikir materialis terhadap Islam. Mengenai hal ini, Allamah menceritakan, "Ketika tiba di kota Qom, kau melihat bahwa masyarakat kita perlu mengenal Islam dari sumber-sumber aslinya yang dengan masyarakat bisa membela ajaran agama. Karena itu, di lingkungan hauzah kita harus punya mata pelajaran yang membekali santri dan pelajar agama dengan kemampuan berargumentasi logis sehingga bisa membela hakikat ajaran agama dan menjawab kritik yang ada. Tak ada jalan untuk mewujudkannya kecuali dengan filsafat."

Allamah punya metode yang mendasar dalam mengajarkan filsafat. Salah satu karya besar beliau di bidang filsafat adalah buku "Ushul Falsafeh va Raveshe Realism'. Buku ini menjelaskan filsafat Islam secara singkat tapi padat. Selain memaparkan filsafat Islam, buku ini juga menjelaskan pandangan para pemikir besar Eropa. Buku tersebut diberi penjalasan secara panjang lebar oleh salah satu murid Allamah yang menonjol, yaitu Syahid Muthahhari. Penjelasan itu sekaligus membuat buku karya Allamah ini menjadi salah satu karya ilmiah besar.

Henry Corbin, pemikir dan filsuf Perancis tertarik memperdalam filsafat Timur setelah membaca ‘Hikmah al-Isyraq' karya Suhrawardi. Ketika mendengar tentang keberadaan ulama dan filsuf Islam bernama Allamah Thabathabai di Iran, Corbin datang ke Iran untuk menemui sang ulama. Dia menanyakan banyak hal kepada Allamah, khususnya tentang ajaran Islam. Lewat Henry Corbin, Allamah mengenalkan Islam ke dunia Barat. Dalam hal ini, beliau mengatakan, "Adalah kemurahan Allah yang telah mengenalkan ajaran Islam ke dunia lewat ilmuan ini." Yang dimaksud adalah Henry Corbin. Corbin dan timnya, menerbitkan majalah di Perancis yang mengenalkan Islam dan mazhab Syiah ke dunia Barat.

Suatu hari Allamah terlibat pembicaraan dengan Henry Corbin. Kepadanya beliau mengatakan, "Dalam ajaran Islam, seluruh tempat di dunia ini tanpa kecuali adalah tempat ibadah. Jika seseorang ingin melaksanakan shalat, berdoa atau bersujud dia bisa melakukannya di mana saja. Tapi dalam ajaran Kristen tidak demikian. Orang Kristen harus melakukan ibadah di tempat yang khusus dan di waktu yang khusus pula. Karena itu jika seorang penganut agama Kristen menghadapi kondisi spiritual yang mengajaknya untuk beribadah, misalnya di tengah malam, apa yang bisa dilakukannya? Dia harus menunggu hari Minggu ketika pintu gereja terbuka. Ini berarti terputusnya hubungan manusia dengan Tuhannya." Corbin membenarkan kata-kata Allamah dan mengatakan, "Kritik ini tepat. Alhamdulillah agama Islam telah menjaga hubungan antara manusia dengan Tuhannya kapanpun dan di manapun juga."

Allamah Thabathabai dalam filsafat sosial dan politik Islam punya pandangan yang menarik. Mengenai pemerintahan yang kejam dan despotik, beliau mengatakan, "Rezim kekuasaan yang bobrok melahirkan kekacauan dan kebejatan di tengah masyarakat manusia. Orang yang baik akan terpaksa harus terjun ke tengah medan untuk memperbaiki kondisi dan menyingkirkan rezim penguasa itu. Dan ini adalah misi para nabi dan wali yang paling suci dan penting. Fakta inilah yang bisa dilihat dari sejarah kehidupan manusia-manusia agung itu."

Allamah meyakini bahwa keadilan sosial dan interaksi yang sehat antara manusia serta penghormatan kepada martabat manusia hanya bisa terwujud di bawah naungan hukum Ilahi. Terkait masa kegaiban Imam Maksum Allamah beliau meyakini kepemimpinan Islami seorang fakih sebagai satu keharusan. Masalah ini dikupas oleh beliau dalam bukunya berjudul ‘Risalah al-Wilayah'.

Salah satu kelebihan yang ada pada diri Allamah Thabathabai adalah penguasaannya atas berbagai bidang ilmu. Ketekunan dalam belajar telah membawanya menjadi salah satu ulama dan tokoh besar. Selain filsafat Islam dan Barat, beliau juga menguasai pendapat berbagai mazhab dan agama lain. dalam diskusi dengan para tokoh berbagai mazhab dan agama Allamah selalu menguasai medan pembicaraan. Beliau bahkan cukup piawai dalam menafsirkan teks-teks rujukan utama agama-agama dan mazhab-mazhab lain.

Salah seorang murid Allamah menceritakan, "Selain kedalaman ilmunya terkait agama dan budaya Islam, ada satu hal yang sangat mengagumkan bagiku pada diri Allamah Thabathabai, yaitu kelapangan hati beliau untuk mendengar semua pendapat. Beliau dengan seksama mendengarkan perkataan orang. Allamah sangat peduli dengan ilmu. Mungkin pengalaman yang kami dapatkan bersama beliau tak bisa ditemukan di tempat lain. Bersama beliau kami mempelajari terjemahan Injil, Upanishad Hindu, Sutta Budha dan Tao Te Ching. Beliau menafsirkan kitab-kitab itu sedemikian mendalam seakan ikut terlibat dalam penulisannya."

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi Saw bersabda, "Tuntutlah ilmu walaupun sampai di negeri Cina." Penyebutan negeri Cina adalah untuk menunjukkan tempat terjauh yang mesti didatangi untuk mengejar ilmu. Artinya, lewat hadis ini Nabi Saw mendorong umatnya untuk menimba ilmu dengan menanggung segala kesulitan dan kesusahan. Allamah setiap hari selalu memperkaya diri dengan ilmu lewat penelaahannya pada pemikiran agama-agama lain. Beliau menguasai ajaran agama-agama Asia Timur. Beliau meyakini bahwa kebenaran yang murni ada pada al-Quran. Meski demikian, agama-agama yang lain pun juga tak kosong dari kebenaran dan hakikat. Karena itu beliau menghormati ajaran agama-agama lain.

Kecintaannya yang luar biasa kepada kitab suci al-Quran telah mendorong ulama besar ini untuk menulis kitab tafsir al-Mizan, sebuah kitab tafsir yang sangat mendalam. Metode penulisannya adalah menafsirkan ayat dengan bantuan ayat lain. Faker Meibadi, salah satu murid Allamah menyebut metode khas tafsir ini sebagai keistimewaan al-Mizan seraya mengatakan, "Tafsir al-Mizan ditulis dengan metode al-Quran dengan al-Quran, metode yang mengikuti cara para Imam Maksum as menafsirkan kitab suci ini. Dengan cara ini Allamah menghidupkan kembali metode penafsiran para Imam di zaman ini."

Meski menggunakan metode menafsirkan ayat dengan ayat lain, tapi Allamah juga tidak melupakan hadis-hadis dari Nabi dan Ahli Bait dalam al-Mizan. Mengenai metode Ahli Bait dalam menafsirkan al-Quran, Allamah mengatakan, "Meskipun al-Quran menegaskan bahwa Nabi Saw dan Ahli Bait as adalah penjelas dan penafsir makna dan kandungan al-Quran, tapi metode yang mereka gunakan adalah menafsirkan al-Quran dengan al-Quran dan inilah yang diajarkan al-Quran sendiri. Dari banyak riwayat dapat kita fahami bahwa dalam menafsirkan al-Quran Nabi dan Ahlul Bait hanya menggunakan ayat-ayat al-Quran saja."

Allamah dalam tafsir al-Mizan membahas banyak hal terkait masalah-masalah kontemporer dan ideologi-ideologi masa kini secara mendalam. Beliau menyebut berbagai kritik yang datang dari Timur dan Barat terhadap Islam lalu menjawabnya dengan sempurna. Singkatnya, tafsir al-Mizan adalah kitab tafsir yang menjadikan al-Quran sebagai poros bahasan dan landasan dalam menafsirkan ayat-ayat Ilahi. Kitab ini juga menyebutkan berbagai pandangan dan pemikiran yang ada lalu menjelaskan mana yang benar dan mana yang salah.

Syahid Muthahhari terkait kitab al-Mizan mengatakan, "Dalam menulis tafsirnya, Allamah Thabathabai mendapat inayah dan ilham dari Allah."

Allamah sendiri menjelaskan, "Ada satu fakta dalam Al-Quran yang tidak terbantahkan yaitu bahwa setiap kali seorang manusia masuk ke dalam naungan kepasrahan dan wilayah Ilahi dia akan semakin mendekat ke lembah kesucian dan keagungan. Saat itu pintu-pintu langit akan terbuka baginya dan dia akan mampu melihat hakikat di balik ayat-ayat Allah dan nur Ilahi yang tak bisa disaksikan oleh orang lain."
Kitab tafsir ini juga membahas masalah akhlak dan irfan secara mendalam. Dengan ungkapan-ungkapan yang singkat tapi padat, Allamah mengajak pembaca kepada penyucian diri dan liqaullah. Al-Mizan membahas pula masalah sastra dan tata bahasa Arab dengan detil. Tak heran jika pembaca tak merasa bahwa penulisnya adalah seorang berkebangsaan Iran, bukan penulis Arab.

Selain tafsir al-Mizan, Allamah Thabathabai juga meninggalkan banyak tulisan berbobot lainnya. Diantaranya adalah Bidayatul Hikmah. Buku ini mengajarkan dasar-dasar filsafat. Bidayatul Hikmah menjadi buku panduan pelajaran filsafat di hauzah ilmiah dan perguruan tinggi di Iran. Setelah buku ini, santri atau mahasiswa bisa melanjutkan pendidikan filsafat dengan mempelajari Nihayatul Hikmah yang juga ditulis oleh Allamah. Kitab kedua ini membahas filsafat lebih mendalam dari kitab Bidayatul Hikmah.

Allamah juga menulis buku ushul fiqih yaitu Hasyiyah atau catatan untuk kitab Kifayatul Ushul. Buku beliau yang lain adalah ‘Shie dar Islam' yang sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, ‘Kholase-ye Taalim-e Islam' dan ‘Ravabet-e Ejtemai'e Islam'. dalam upaya mengenalkan agama Islam secara singkat beliau menulis buku Amuzesh'e Din yang mengulas apa saja yang berhubungan dengan Islam dan hal-hal yang paling mendasar dalam agama ini. Ada pula buku-buku lainnya yang membahas tentang teologi seperti Rasail Tauhidiyah terdiri atas 26 risalah yang membahas tentang ketuhanan, sifat Allah dan perbuatan Allah. Allamah juga meninggalkan menulis kumpulan puisi yang ditulisnya dalam bahas Persia. Selain itu beliau juga menulis buku tentang sejarah biografi Nabi Saw berjudul Sunan al-Nabi dan buku akhlak berjudul Lubbul Lubab yang merupakan kumpulan materi pelajaran akhlak beliau.

Allamah Thabathabai adalah sosok ulama yang menguasai ilmu fikih, ushul, matematika dan astronomi secara mendalam. Beliau belajar matematika dari ulama Najaf bernama Sayid Abul Qasim Khonsari yang dikenal sebagai pakar matematika di zaman itu. Dalam tata bahasa dan sastra Arab, Allamah punya kepandaian yang luar biasa. Selain itu, beliau juga tergolong sebagai arsitek Islam yang ulung. Sejumlah bangunan dan gedung dibuat dengan rancangan beliau. Ketika tiba di kota Qom, Allamah masuk ke madrasah Hujjatiyah. Pengurus Hujjatiyah berencana melakukan perluasan sekolah agama tersebut yang saat itu tergolong kecil dengan bangunannya yang sangat sederhana. Menurut rencana Hujjatiyah akan diperluas dengan sejumlah kamar, kelas, perpustakaan dan masjid.

Banyak insinyur dan arsitek dari Tehran dan sejumlah kota lainnya yang mengajukan rancangan bangunan. Tak ada satupun yang menarik hati pengurus madrasah. Akhirnya, Allamah Thabathabai membuat denah bangunan dengan rancangannya. Melihat denah dan rancangan bangunan itu, pengurus Hujjatiyah menyatakan setuju. Akhirnya, Madrasah atau pusat sekolah agama itupun di bangun berdasarkan rancangan Allamah Thabathabai. Beliau pula yang menjadi pengawas pembangunannya.

Ayatullah Javadi Amoli, salah seorang murid Allamah yang paling menonjol mengatakan, "Allamah Thabathabai memiliki ruh dan spiritualitas yang sangat tinggi. Ketika masuk ke pembahasan tentang Allah, nampak sekali beliau tenggelam dalam suasana spiritual yang mengagumkan." Apa yang dikatakan oleh Ayatollah Javadi diakui oleh banyak ulama. Mereka mengagumi keadaan spiritual Allamah Thabathabai yang sangat istimewa. Dalam hal irfan, beliau sangat menguasai kitab al-Futuhat al-Makkiyah karya Ibnu Arabi.
Tentang Allamah Thabathabai, Ayatullah al-Udzma Khamenei mengatakan, "Paras maknawiyah Allamah Thabathabai menampilkan gambaran seorang manusia berbobot dengan iman kuat dan irfan hakiki yang diiringi dengan ilmu yang luas dan mendalam. Kombinasi semua itu pada diri Allamah membuktikan bahwa Islam bisa menggabungkan antara gelora cinta yang dalam dengan logika yang kuat pada diri seorang ulama."

Biografi Sayid Qutub


Biografi singkat seorang tokoh ternama Islam, Sayid Qutub:

Bagian Pertama:

Desa Mushe

Secara geografis, desa Mushe terletak di salah satu dataran tinggi Mesir dan di tepi sungai Nil yang mengalir deras. Desa tersebut diapit dua bukit yang tak begitu tinggi dan juga dikelilingi lahan pertanian. Dekatnya jarak antara sungai Nil dan lahan pertanian serta pengairan yang tak pernah henti membuat desa tersebut dipenuhi kebun-kebun hijau. Penduduk desa dengan mudahnya dapat memetik berbagai buah dan sayuran dari kebun-kebun tersebut. Desa yang subur, yang kekayaannya tak dapat dihitung dengan jari-jari penduduknya.

Budaya Setempat

Kebanyakan penduduk desa adalah Muslim. Sebagian kecil dari mereka beragama Kristen. Terdapat sebuah biara kuno yang terletak di kaki bukit dan berjarak sekitar 5 km dari desa yang disebut dengan biara Mushe. Tetapi orang-orang Kristen di desa itu jarang yang pergi ke biara tersebut karena jauhnya jarak yang harus ditempuh. Oleh karena itu mereka membangun gereja di dalam desa sebagai tempat beribadah.

Kondisi Ekonomi-Sosial

Desa Mushe adalah desa yang kaya, bersih dan maju. Jika dibandingkan dengan desa-desa di sekitarnya, desa Mushe memiliki kelebihan tersendiri. Rata-rata setiap keluarga di desa itu memiliki tanah pertanian. Mereka hidup dengan layak, sejahtera dan tercukupi. Suasana social cukup baik. Mereka selalu menunjukkan keramahan, kasih sayang, dan selalu menolong terhadap sesama. Tidak pernah terlihat perpecahan dan permusuhan di antara mereka, semuanya hidup dengan akur dan damai.

Orang Tua

Haji Qutub Ibrahim adalah kepala silsilah keluarga besar Qutub; ia mulai menjadi pembesar keluarga sepeninggal ayahnya. Salah satu kriterianya yang sangat terkenal adalah suka memberi. Keterikatan dengan agama dan martabat keluarga yang tinggi yang menjadi alasan kebaikan-kebaikannya. Ia selalu memberi sampai ia menjual ladang dan rumahnya sendiri. Satu lagi kriteria sang ayah yang selalu dikenang oleh Sayid Qutub adalah kerendahan hatinya. Sayid Qutub meulis:
“Orang-orang yang bekerja untuk ayahku selalu memanggilnya dengan sebutan sayyidi (tuanku). Ayah sangat bersedih dan berkata, “Yang lebih kecil panggil aku ammi al haji (paman haji) dan yang lebih besar panggil aku al haji (haji).”

Setiap tahun ia selalu memiliki kebiasaan yang sama; di hari-hari Idul Fitri, Idul Adha, Asyura, 15 Sya’ban, hari Isra’ Mi’raj dan bulan Ramadhan ia mengumpulkan warga di rumahnya untuk mengkhatamkan Al Qur’an dan setelah itu dihidangkan makanan-makanan yang lezat untuk mereka.
Adapun kegiatan politik beliau, ia adalah anggota Hizbul Liwa’ Mesir dan rumahnya adalah markas perkara politik desa.

Dalam peristiwa revolusi tahun 1919 M. beliau termasuk orang yang membentuk perkumpulan-perkumpulan politik baik secara rahasia atau terbuka dan juga mengarahkan masyarakat setempat untuk terwujudnya revolusi.

Ibu Sayid Qutub adalah perempuan mulia yang berasal dari keluarga terpandang. Sebelum menikah dengan Haji Ibrahim, ia tinggal di Kairo. Kedua saudaranya adalah dosen di Universitas Al Azhar dan memiliki wewenang-wewenang tinggi. Salah satu kriteria ibu Sayid Qutub yang terkenal adalah, ia sangat suka mendengarkan tilawah Quran. Oleh karenanya ia membawa Sayid Qutub ke madrasah Qurani untuk mempelajari Al Quran dan bertilawah untuk ibunya.
Ibu Sayid Qutub meninggal di desa Mushe pada tahun 1940 M.[1]

Bagian Kedua:

Keluarga Pecinta Jihad

Haji Qutub Ibrahim menikah dua kali. Yang pertama menghasilkan seorang anak perempuan dan yang kedua tiga anak perempuan dan dua lelaki. Ketika anak-anaknya sudah besar, semuanya pernah mengalami pahitnya penjara karena bersengketa dengan pemerintah waktu itu. Anak-anak Haji Ibrahim dari pernikahan kedua adalah:

1. Nafisah

Lahir di desa Mushe. Setelah ia dewasa menikah dengan seorang pemuda yang bernama Bakr bin Syafi’. Mereka kemudian dikaruniai dua putera bernama Raf’at dan ‘Azmi.
Saat Sayid Qutub dipenjara karena usahanya menegakkan Islam, Nafisah, Raf’at dan ‘Azmi juga dipenjara bersamanya; mereka dianiaya dalam penjara. Tak lama kemudian Nafisah dibebaskan, namun Raf’at dan ‘Azmi tetap tinggal. Pemerintah dengan licik meminta Raf’at membunuh Sayid Qutub dengan hadiah kebebasan dari penjara, tapi ia tidak menurutinya. Akhirnya ia disiksa lebih berat dari sebelumnya hingga meninggal. Adapun ‘Azmi, akhirnya ia dibebaskan di kemudian hari.[2]

2. Aminah

Ia lebih muda dari Sayid Qutub. Ia juga lahir di desa Mushe. Sangat menguasai sastra Arab dan pandai menciptakan syair-syair indah. Bersama dengan saudaranya, Sayid, ia bekerja sama dalam menulis buku Al Atyaful Arba’ah.

Sayid Qutub pernah menulis tentangnya bahwa ia adalah seorang perempuan yang tenang. Ia adalah seorang penyair yang kekayaan intelektualnya lebih dari kesuastraannya. Ia tenggelam dalam harapan-harapan masa depan yang tak pernah tergapai dan juga masa lalu.

Aminah sangat pandai menulis cerita. Ia pernah menulis sebuah buku yang berjudul Fi Tiyaril Miyah (Di Tengah Ombak). Buku tersebut memiliki dua belas cerita, Ia menghadiahkan bukunya kepada dua saudaranya, Sayid dan Muhammad Qutub.

Sebagaimana halnya saudara dan saudarinya yang lain, karena kedekatannya dengan Sayid Qutub, Aminah juga sempat dipenjara dan merasakan siksaan-siksaan pedih. Lalu ia terbebaskan dari penjara. Sejak itu, ia lebih tangguh dari sebelumnya. Ia menulis buku yang berjudul Fit Tariq yang perhatiannya terhadap masalah-masalah Islam tertulis lebih jelas dalam buku tersebut.

Dalam pembukaan bukunya ia menulis:
“Buku ini aku beri judul Fit Tariq. Ini adalah buku kumpulan kisah-kisah keduaku. Ini adalah karya pertamaku yang berusaha menunjukkan kisah-kisah suci dan manusiawi. Mengandung cerita-cerita islami dan penuh keimanan.”

Pada tahun 1954 M. Aminah menikah dengan salah satu anggota Ikhwanul Muslimin yang bernama Kamal Assananiri. Pada suatu hari suaminya mendapat tuduhan bekerja sama dengan Ikhwanul Muslimin dan dijebloskan ke dalam penjara. Kamal Assananiri berniat untuk menceraikan istrinya agar sang istri tidak mengkhawatirkan keadaan suaminya dan juga masa depan dirinya sendiri. Namun Aminah menolak keinginannya.

Ia menunjukkan kesetiaannya terhadap sang suami.Kamal Assananiri meninggal dunia pada tahun 1981 M. dalam penjara. Kepedihan Aminah akan kematian suaminya telukis dalam 20 bait-bait syairnya yang ia kumpulkan menjadi sebuah buku yang berjudul Rasail Ilas Syahid (Surat-Surat untuk Sang Syahid) kemudian mencetaknya.[3]

3. Hamidah

Ia adalah anak paling akhir. Ia tak kalah dengan kakaknya dalam bidang sastra. Ia juga bekerja sama dengan Sayid Qutub dalam menulis buku Al Atyaful Arba’ah. Banyak makalahnya yang ia tulis dan dicetak dalam dua majalah Al Muslimun dan Ikhwanul Muslimin. Sebagaimana saudara dan saudarinya yang lain, karena ia juga berjiwa reformis, ia dijatuhi hukuman penjara selama 10 tahun dan mengalami siksaan berat di dalamnya.
Setelah 6 tahun di penjara, ia dibebaskan dan menikah dengan Doktor Hamdi Mas’ud lalu mereka berhijrah ke Perancis. Mereka tinggal di Perancis dengan meneruskan perjuangan-perjuangan sebelumnya. Bersama Zainab Al Ghazali ia membentuk jaringan Akhwatul Muslimin.[4]

4. Sayid Qutub

Ia lahir di tempat yang sama pada tahun 1919 M. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di kampung halaman kemudian melanjutkannya di Kairo. Sejak kecil ia sudah pandai berbahasa Inggris. Di Universitas Al Azhar ia belajar di bidang Ilmu Pendidikan. Setelah duduk di bangku kuliah selama 4 tahun dan mendapatkan gelar sarjananya, ia mendapatkan sebuah jabatan di Kementrian Pendidikan Mesir. Pada tahun 1954 M. ia bersama beberapa kerabatnya dituduh bekerja sama dengan Ikhwanul Muslimin dan mereka dimasukkan ke dalam penjara. Tidak ada hukuman lain yang dijatuhkan kepadanya, oleh karena itu kemudian ia dibebaskan. Setelah bebas dari penjara, ia sibuk mengurus penerbitan Darun Nasyr. Untuk kedua kalinya ia dijebloskan ke dalam penjara karena dituduh mencetak buku-buku Sayid Qutub. Ia mendapatkan siksaan yang berat dalam penjara sehingga banyak orang mengira ia telah meninggal dunia. Oleh karena itu ia dijuluki dengan sang syahid. Padahal ia masih tetap hidup. Setelah tujuh tahun bersabar merasakan siksa, ia dibebaskan dari penjara. Lalu ia berhijrah ke Saudi Arabia dan sibuk mengajar di Jami’atul Mulk Abdul Aziz.­­­­­­ Muhammad Qutub menikah pada usia 50 tahun dan dikaruniai beberapa anak. Puteranya yang pertama bernama Usamah. Perlu diketahui bahwa hingga saat ini Muhammad Qutub masih hidup dan tinggal di Saudi Arabia sibuk mengajar dan menulis.

Karya-Karya Muhammad Qutub

Muhammad Qutub memiliki banyak karya tulis dalam bidang keagamaan. Seperti: Al Insan Bainal Maddiyah Wal Islam (Manusia dalam Pandangan Materialisme dan Islam), Syubahat Haulal Islam (Syubhat-Syubhat Seputar Islam), Fin Nafs Wal Mujtama’, Qabasat Minar Rasul, Ma’raqatut Taqalid, Manba’ut Tarbiah Al Islamiyah, Manba’ul Fannil Islami, Attathawur Wa At Tsubat Fil Hayatil Basyariyah… (dan masih banyak lagi—pent.)

Banyak sekali buku-buku ilmuan dunia Arab ini yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, seperti bahasa Parsi. Di antaranya seperti: Kemanusiaan di Ambang Dua Jalan, Jahiliyah Abad 20, Metode Pendidikan Islami, Individu dan Sosial, Kritikan Terhadap Freud dan Freudisime… (dan masih banyak lagi—pent.)

Pemikiran Muhammad Qutub

Salah seorang yang paling berpengaruh bagi pemikiran Muhammad Qutub adalah saudaranya, Sayid Qutub. Sayid Qutub begitu berpengaruh bagi Muhammad Qutub sehingga Sayid dapat disebut sebagai guru bagi saudaranya. Oleh karena itu Muhammad Qutub mirip dengan saudaranya dalam pertentangannya terhadap penjajahan dan merasa kecewa dengan perpecahan Muslimin dalam menghadapi tipu daya musuh Islam.
Mengenai pluralisme (keterpisahan agama dengan politik) Muhammad Qutub menulis:
“Penjajahan telah mencacah belah negeri-negeri umat Islam dan menciptakan perpecahan di antara mereka. Agama diasingkan dari permasalahan-permasalahan penting kehidupan sehari-hari dan setiap upaya untuk menegakkan agama selalu diperangi. Program-program pendidikan telah dirancang sedemikian rupa sehingga setiap pemuda kita asing dari sumber-sumber agama. Pemuda-pemuda kita dididik dan dibesarkan dengan budaya barat agar mereka menjauh dari agama. Para penjajah berhasil menjalankan semua program mereka. Tapi di Amerika sendiri, di tengah-tengah masyarakat berkulit hitam, terwujud sebuah kebangkitan islam yang pengikutnya mencapai dua ratus lima puluh ribu orang[5] bahkan lebih.”[6]

Masa Kecil dan Pendidikannya

Sayid Qutub lahir pada tanggal 9/10/1906 M. di desa Mushe, atau juga dikenal dengan desa Abdul Fattah, provinsi Asyuth, Mesir.

Setelah melalui masa kecilnya, kedua orang tua Sayid Qutub berencana memasukkannya sekolah. Tapi Sayid Qutub tidak punya keinginan untuk masuk sekolah, ia lebih suka tinggal di rumah. Akhirnya pada tahun 1912 M. dengan dorongan orang tuanya ia mau masuk sekolah. Pertama kali ia menginjakkan kakinya di sekolah, pada hari itu juga ia melihat seorang pengawas sekolah—yang dulunya bekerja sebagai tentara—sedang memukuli muridnya. Dengan melihat suasana itu Sayid Qutub lari dan pulang ke rumah. Ibu Sayid Qutub yang ingin sekali anaknya pergi sekolah meminta suaminya, Haji Ibrahim, untuk menasehati anaknya agar mau kembali ke sekolah. Sang ayah dengan lemah lembut menasehati anaknya dan pada akhirnya Sayid Qutub mau kembali ke sekolah.

Di desa ada seorang syaikh yang mengajar anak-anak kecil membaca dan menghafal Al Qur’an dengan cara tradisional. Dengan berjalannya waktu, apa lagi dengan dibangunnya sekolahan-sekolahan moderen, kebanyakan orang tua tidak membawa anak-anaknya ke madrasah tradisional (dalam bahasa Parsi disebut dengan Maktab Khane) itu. Tapi sebagian orang juga ada yang merasa benci terhadap sekolahan-sekolahan moderen dan menganggapnya bertentangan dengan Al Qur’an dan pelajaran-pelajarannya. Saat Sayid Qutub duduk di bangku kelas dua sekolah dasar, syaikh yang juga teman dekat Haji Ibrahim datang dan meminta agar anaknya dipindahkan dari sekolah dasar ke Maktab Khane agar menghafal Al Qur’an dan mempelajari pelajaran-pelajaran agama. Haji Ibrahim berjanji kepadanya bahwa esok pagi ia akan mengirimkan anaknya kepada syaikh. Keesokan hari Sayid Qutub sesuai dengan nasehat ayahnya pergi ke Maktab Khane. Namun tak lama di sana Sayid Qutub tidak betah dan rindu dengan sekolahan dan teman-teman sekelasnya. Oleh karena itu ia kembali lagi ke sekolah. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa jika banyak orang mengira sekolahan bertentangan dengan Al Qur’an, maka ia harus membuktikan bahwa ia bias sekolah dan juga bisa menghafal Al Qur’an. Atas dasar tekat ini sejak kelas dua sekolah dasar ia mulai menghafalkan Al Qur’an dan berhasil mengafalkan seluruh Al Qur’an saat berusia sepuluh tahun.
Sejak kecil Sayid Qutub adalah orang yang sangat teliti. Ia tidak mudah menerima omongan orang sebelum ia ketahui kebenarannya. Ia sendiri pernah berkata:
“Pada suatu hari datang seorang alim dari Universitas Al Azhar ke desa kami untuk berdakwah. Setiap malam ia di atas minbar berceramah seputar tafsir. Pada suatu malam, saat ia menerangkan tafsir surah Al Kahfi, ia membaca ayat:

ذَالِکَ مَا کُنَّا نَبغِ

aku bertanya, “Wahai syaikh, mengapa huruf ya’ dihapus padahal tidak ada jazim-nya?”

Sejak kecil ia sangat mencintai buku dan suka membaca sampai ia dikenal sebagai kutu buku. Ada seseorang yang bernama Amu Shaleh; ia adalah penjual buku yang selalu datang ke desa setiap hari Jumat. Kebiasaan Sayid Qutub adalah, pada hari Jumat ia meminta uang dari ayahnya lalu berlari membeli buku dari Amu Shaleh. Terkadang saat ayah Sayid Qutub sedang tidak memiliki uang untuk diberikan kepada anaknya, Sayid meskipun tidak mampu membeli buku, ia meminjam buku dari Amu Shaleh lalu dikembalikan pada hari Jumat berikunya.

Bagitu ia gemar membaca sehingga ia sampai menghafal beberapa buku sejarah dan buku-buku syair seperti buku milik Tsabit Al Jarjawi.

Buku yang ia kumpulkan menjadi perpustakaan pribadinya. Saat itu bukunya masih berjumlah 25 jilid. Tetapi perpustakaan kecil itulah satu satunya perpustakaan di desa.
Sayid menyelesaikan sekolah dasarnya selama enam tahun dan lulus pada tahun 1918 M. dengan penuh keberhasilan dan nilai yang bagus.

Ayah Sayid Qutub termasuk anggot Wathanil Liwa’. Oleh karenanya setiap minggu di rumahnya diadakan perkumpulan dan dibahaslam permasalahan-permasalahan penting seputar Mesir dan bahkan dunia. Sayid Qutub selalu mengikuti perkumpulan itu dan bekerja sama dengan orang-orang yang lebih tua darinya. Pada peristiwa revolusi tahun 1919 M. ia bersama ayahnya berpidato di depan khalayak umum untuk memberi semangat dan dorongan berjihad; padahal saat itu umur Sayid Qutub masih 13 tahun.
Sayid Qutub selama dua tahun tidak dapat meneruskan jenjang pendidikannya akibat beberapa dampak yang timbul dari revolusi Mesir.

Menuju Kairo

Pada tahun 1920 M. Sayid Qutub pergi ke Kairo guna meneruskan pendidikannya. Di kota itu ia tinggal di rumah pamannya yang bernama Ahmad Husain Utsman; ia adalah dosen di Universitas Al Azhar dan seorang penulis surat kabar. Lalu akhirnya pada tahun 1922 M. ia masuk di Pusat Pendidikan Abdul Aziz Kairo.

Pusat Pendidikan Abdul Aziz Kairo berada di bawah pengawasan Kementrian Pendidikan Mesir. Di sana para pelajar dididik untuk menjadi guru-guru berbakat untuk dapat mengajar di kemudian hari di sekolah-sekolah dasar. Sayid Qutub menyelesaikan pendidikannya di situ selama tiga tahun, dan pada tahun 1924 M. ia mendapatkan sertifikat pengajaran yang dapat digunakan untuk mengajar di sekolah dasar.

Pada saat itu juga sebenarnya Sayid Qutub sudah bisa mengajar, namun ia lebih cenderung untuk meneruskan pendidikannya yang lebih tinggi. Pada tahun 1925 M. ia masuk ke Madrasah Darul Ulum dan menggali ilmu di situ selama empat tahun. Pada tahun 1929 ia lulus dan pada tahun itu juga ia mengikuti ujian untuk masuk ke jenjang yang lebih tinggi dan pada akhirnya diterima untuk masuk di Universitas Darul Ulum.
Saat Sayid Qutub seorang mahasiswa, pimpinan tertinggi Universitas pada waktu itu adalah Toha Husain. Sayid Qutub dengan penuh berani mengutarakan kritikan-kritikannya mengenai sistim pembelajaran kampusnya. Ia masih muda dan terbukti ucapan-ucapannya tidak begitu dihiraukan. Namun dengan berani ia berkata kepada Toha Husain:
“Jika enkau menyerahkan manajemen kampus kepadaku, aku akan melakukan banyak upaya dalam rangka peningkatan keilmuan di sini. Sebagai contoh, aku akan memperluas ajaran bahasa Arab dan ilmu-ilmu keagamaan; memperpanjang masa studi yang mulanya empat tahun menjadi enam tahun; mewajibkan pelajaran bahasa Inggris bagi setiap mahasiswa, karena aku memiliki keyakinan bahwa jika seorang mahasiswa tidak menguasai bahasa Inggris, maka ia akan tertinggal oleh pembahasan-pembahasan penting masa kini.”

Sikap Sayid Qutub sangat menakjubkan jika dilihat betapa muda usianya namun sudah berfikiran seperti ini.
Ia tidak seperti mahasiswa-mahasiswa lainnya yang malas belajar dan tertekan dengan pelajaran. Sayid Qutub dengan penuh semangat menjalani hari-harinya di kampus. Ia tidak pernah melewatkan diskusi-diskusi dengan para dosen; baik seputar masalah sosial, ekonomi, dan masalah-masalah penting lainnya. Oleh sebab itu para dosen di kampus terkagum-kagum akan semangat Sayid Qutub dan mereka bahagia karenanya.
Pada tahun 1932 M., ketika Sayid Qutub berada pada tahun ajaran ketiga, rektor universitas mengadakan sebuah konferensi dimana Sayid Qutub berpidato di dalamnya. Dalam konferensi itu Sayid Qutub membacakan makalahnya (makalah sastra) yang berjudul Mahammatus Sya’ir Fil Hayah, Syi’rul Jailil Hadhir. Seusai pidatonya, salah satu dosennya yang bernama Muhammad Mahdi Allam berkata:
“Seandainya aku tidak memiliki murid selain Sayid Qutub saja, aku sudah merasa cukup, puas dan bahagia. Aku yakin ia pembawa amanat ilmu dan adab. Keberanian dan lantang suaranya membuatku tertarik kagum. Sifatnya ini lah yang membuatnya menjadi orang yang kita sukai. Ia adalah kebanggaan Darul Ulum.”

Rekan-Rekan Kuliah

Ada beberapa rekan kuliah Sayid Qutub yang mungkin menarik disebutkan di sini:

Sa’id Allubban
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Darul Ulum, ia menjadi pimpinan Universitas Darul Ulum dan kemudian menjadi Menteri Pendidikan.

Muhammad Ibrahim jabr
Ia adalah seorang guru yang kemudian menjadi kepala sekolah. Ia termasuk sahabat karib Sayid Qutub yang sangat dihormati.

Fayid Alamdusi
Seorang ahli sastra, penyair, penulis, ahli sejarah Mesir. Ia telah menulis beberapa judul buku seputar sejarah Mesir dan tokoh-tokoh Muslim.

Abdul Aziz Atiq
Ia juga seorang sastrawan, penyair, penulis, juga kritikus. Diwan Atiq yang pengantarnya ditulis oleh Sayid Qutub adalah salah satu karyanya.
Di kampus itu lah Sayid Qutub memulai aktifitas-aktifitas sosial dan politik. Sebelumnya ia mendapatkan beberapa informasi dari pamannya mengenai Partai Wafd. Oleh karenanya ia menjadi anggota partai itu dan tulisan-tulisannya banyak yang dicetak oleh media penerbitan partai tersebut.

Pada tahun 1932 M. Sayid Qutub mendapatkan gelar sarjananya di Universitas Darul Ulum dalam bidang Sastra Arab dan pada tahun itu juga ia ikut serta dalam pembentukan suatu serikat yang disebut dengan Jamaah Darul Ulum. Salah satu tujuan dibentuknya kelompok yang anggotanya dipilih dari beberapa alumni Darul Ulum adalah menjaga dan mengawasi perkembangan sastra dan bahasa Arab. Tak lama kemudian mereka menerbitkan majalah dengan nama Darul Ulum.

Sayid Qutub pada tahun 1933 M. berkhidmat kepada kementrian pendidikan dan menjadi seorang guru di salah satu sekolah dasar yang bernama Madrasah Dawudiyah Mesir.

Ia juga mengajar di beberapa sekolah lainnya seperti Dimyath, Bani Sawif, dan Madrasah Ibtidai Halwan. Setelah enam tahun mengajar, ia bekerja sebagai pegawai negeri di Kantor Pusat Kementrian Pendidikan Mesir. Di sana ia meneruskan pekerjaannya sampai pada tahun 1948 M.


REFERENSI:
[1] Materi di atas adalah terjemahan dan rangkuman dari kitab yang berjudul At Thiflu fil Qaryah karya Sayid Qutub.
[2] As Syahid Sayid Qutub Minal Milad ilal Istisyhad, halaman 42.
[3] As Syahid Sayid Qutub Minal Milad ilal Istisyhad.
[4] Ibid, halaman 44.
[5] Kini jumlah mereka bahkan mencapai angka satu juta.
[6] Aya Ma Mosalman Hastim, halaman 22.

Mengenal Imam Syafi’i


Abu Abdillah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i yang kemudian terkenal dengan nama Imam asy-Syafi’i adalah pendiri dan pemimpin Mazhab Syafi’i dan Imam ketiga dalam mazhab Ahlusunnah. Nasab beliau sampai kepada Hasyim bin Abdul Muthalib kemenakan dari Hasyim bin ‘Abdu Manaf yang dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama Syafi’ bin Saib yang hidup sezaman dengan Rasulullah saw.

Kebanyakan ahli sejarah mencatat bahwa Imam Syafi’i dilahirkan di kota Gaza, Palestina, namun ada juga yang berpendapat bahwa beliau lahir di Asqalan. Ada juga yang mengatakan Imam Syafi’i lahir pada tahun 150 H di Yaman dimana pada tahun ini wafat pula seorang ulama besar Ahlusunnah yang bernama Imam Abu Hanifah.

Sejak kecil Syafi’i telah kehilangan ayahnya. Kala itu beliau diasuh dan dibesarkan oleh ibunya dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan serba kekurangan. Imam Syafi’i mempelajari fikih dan hadis ketika di Mekkah dan untuk beberapa waktu beliau juga belajar syair, sastra bahasa (lughat) dan nahwu di Yaman. Sampai pada suatu waktu atas saran Mus’ab bin Abdullah bin Zubair, beliau pergi ke Madinah untuk menekuni ilmu hadis dan fikih. Diusianya yang relatif muda (sekitar 20 tahunan), beliau telah belajar kepada Imam Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki.


Imam Syafi’i menuturkan masa lalunya seperti ini: Sewaktu saya belajar, guru saya mengajarkan kepada saya tentang Al-Qur’an dan saya pun menghafalnya. Saya ingat waktu itu guru saya pernah berkata: ‘Tidak halal bagi saya sekiranya mengambil imbalan dari kamu.” Dengan alasan tersebut, akhirnya saya meninggalkan guru tersebut. Sejak itu saya mengumpulkan potongan tembikar, kulit dan pelepah kurma yang agak besar sebagai sarana yang saya pakai untuk menuliskan hadis. Akhirnya, saya pergi ke Mekkah. Aku tinggal bersama kabilah Hudail yang terkenal dengan kefasihannya selama 17 tahun. Setiap kali mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain, aku pun mengikuti jejak mereka. Saat aku pulang ke Mekkah, aku telah menguasai banyak sekali disiplin ilmu. Waktu itu aku bertemu dengan salah seorang pengikut Zubair lalu salah seorang dari mereka berkata kepadaku: “Sangat berat bagiku melihat Anda yang begitu jenius dan fasih namun Anda tidak mempelajari fikih.” Tak lama setelah itu, mereka membawaku ke tempat Imam Malik.

Saya telah memiliki buku “Al-Muwatho’” Imam Malik dan cuma dalam waktu sembilan hari aku telah mempelajarinya. Kemudian saya pergi ke Madinah untuk belajar dan menghadiri majlis taklim Imam Malik.”
Imam Syafi’i tetap tinggal di kota Madinah sampai saat wafatnya Malik bin Anas. Kemudian beliau pergi ke Yaman dan beliau menghabiskan aktivitasnya di sana. Penguasa Yaman pada waktu itu seorang yang zalim dan bekerja sama dengan pemerintahan Harun ar-Rasyid, Khalifah Abassiyah. Dalam kondisi seperti itu, penguasa menangkap Imam Syafi’i dengan alasan dikhawatirkan beliau akan memberontak bersama Alawiyyin (keturunan Ali bin Abi Thalib) lalu beliau dibawa kepada Harun ar-Rasyid, tetapi Harun ar-Rasyid membebaskannya.

Muhammad bin Idris untuk beberapa waktu pergi ke Mesir dan kemudian pada tahun 195 H beliau mendatangi Bagdad dan mengajar disana. Setelah dua tahun tinggal di Bagdad, beliau kembali ke Mekkah. Tak lama setelah itu, beliau pergi lagi ke kota Baghdad dan dalam waktu yang cukup singkat tinggal di Bagdad. Pada tahun 200 H di penghujung bulan Rajab di usia 54 tahun beliau meninggal dunia di Mesir. Tempat pemakamannya di Bani Abdul Hakam berdekatan dengan makamnya para syuhada dan menjadi tempat ziarah kaum Muslimin, khususnya kalangan Ahlusunnah.
Salah satu murid Imam Syafi’i yang terkenal adalah Ahmad bin Hanbal, pendiri Mazhab Hanbali.

Karya-karya Imam Syafi’i
Imam Syafi’i memiliki banyak sekali karya berharga, di antaranya adalah:
1. Al-Umm
2. Musnad as-Syafi’i
3. As-Sunnan
4. Kitab Thaharah
5. Kitab Istiqbal Qiblah
6. Kitab Ijab al-jum’ah
7. Sholatul ‘Idain
8. Sholatul Khusuf
9. Manasik al Kabir
10. Kitab Risalah Jadid
11. Kitab Ikhtilaf Hadist
12. Kitab Syahadat
13. Kitab Dhahaya
14. Kitab Kasril Ard

Berhubung pusat pengajaran beliau berada di kota Bagdad dan Kairo, maka melalui dua kota tersebut secara perlahan Mazhab Syafi’i disebarkan oleh murid-muridnya ke negeri-negeri Islam lainnya, seperti Syam, Khurasan dan Mawara’u Nahr. Tetapi pada abad ke-5 dan ke-6 terjadi konflik keras antara para pengikut Syafi’i dan pengikut Hanafi di Bagdad dan juga pengikut Syafi’i dan Hanafi di Isfahan. Begitu juga para pengikut Syafi’i sempat bentrok dengan dengan para pengikut Syiah dan Hanafi pada zaman Yaqut dimana setelah itu mereka menguasai kota Rei.

Mazhab Syafi’i lebih dikenal dengan perpanduan antara ahli qiyas dan ahli hadis. Mazhab Syafi’i sekarang tersebar di Mesir, Afrika Timur, Afrika Selatan, Arab Saudi bagian Barat dan Selatan, Indonesia, sebagian dari Palestina dan sebagian dari Asia Tengah, khususnya kawasan Kurdistan.
Di antara ulama-ulama pengikut Mazhab Syafi’i yang terkenal adalah: Nasai’, Abu Hasan Asy’ari, Abu Ishaq Shirazi, Imamul Haramain, Abu Hamid Ghazali, dan Imam Rafi’i.

Jejak Islam di Sulawesi Selatan; Menemukan Jejak Syekh Jamaluddin al Husaini

Makam Sayyid Jamaluddin Al Akbar Al Husaini di Wajo. Sayang, makam ini kini tak terawat sama sekali, padahal beliau adalah salah satu penyebar Islam yang paling awal di Sulawesi Selatan

Oleh: Mubarak Idrus*

Sejarah masuknya Islam di Sulawesi Selatan hampir pasti selalu dikaitkan dengan datangnya tiga ulama dari Minangkabau; Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro dan Datuk ri Patimang. Ini dapat dimaklumi karena titik pijaknya adalah ketika Islam secara resmi diakui sebagai agama negara oleh kerajaan Gowa. Kalau ini dijadikan dasar pijakan, maka Islam datang ke Sulawesi Selatan pada tahun 1605 setelah kedatangan tiga orang ulama tersebut.

Tetapi kalau titik pijaknya adalah kedatangan para sayyid atau cucu turunan dari nabi maka jejak-jejak keislaman di Sulawesi Selatan sudah ada jauh sebelum itu yaitu pada tahun 1320 dengan kedatangan sayyid pertama di Sulawesi Selatan yakni Sayyid Jamaluddin al-Akbar Al-Husaini.


Siapa Jamaluddin al-Akbar al-Husaini? Dia adalah cucu turunan nabi atau ahl al-bayt yang pertama kali datang ke Sulawesi Selatan. Dia juga merupakan kakek kandung dari empat ulama penyebar Islam di Jawa yang lebih dikenal dengan wali songo yaitu Sayyid Maulana Malik Ibrahim, Sayyid Ainul Yaqin atau Sunan Giri, Sayyid Raden Rahmatullah atau Sunan Ampel dan Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Padahal memelihara peninggalan para 'auliya Allah sama dengan meninggikan ayat-ayat Allah

Seperti dijelaskan oleh salah seorang ulama yang tergabung dalam Rabithatul Ulama (RU), cikal bakal NU di Sulawesi Selatan, KH. S. Jamaluddin Assagaf dalam bukunya, Kafaah dalam Perkawinan dan Dimensi Masyarakat Sulsel bahwa Jamaluddin al-Akbar al-Husaini datang dari Aceh atas undangan raja Majapahit, Prabu Wijaya. Setelah menghadap Prabu Wijaya, ia beserta rombongannya sebanyak 15 orang kemudian melanjutkan perjalanannya ke Sulawesi Selatan, tepatnya di Tosora kabupaten Wajo melalui pantai Bojo Nepo kabupaten Barru. Kedatangan Jamaluddin al-Husaini di Tosora Wajo diperkirakan terjadi pada tahun 1320. Tahun ini kemudian dianggap sebagai awal kedatangan Islam di Sulawesi Selatan.

Kiai Jamaluddin lalu mengutip keterangan dari kitab Hadiqat al-Azhar yang ditulis Syekh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fattany, mufti kerajaan Fathani (Malaysia) bahwa dari isi daftar yang diperoleh dari Sayyid Abd. Rahman al-Qadri, Sultan Pontianak dinyatakan bahwa raja di negeri Bugis yang pertama-tama masuk Islam bernama La Maddusila, raja ke 40 yang memerintah pada tahun 800 H/1337 M. Sayangnya tidak dijelaskan di daerah Bugis mana dia memerintah dan siapa yang mengislamkan. Namun penulis kitab tersebut menduga bahwa tidaklah mustahil bila yang mengislamkan raja yang dimaksud adalah Sayyid Jamaluddin al-Husaini. Mengingat kedatangan ulama tersebut di daerah Bugis persis dengan masa pemerintahan raja itu. (KH. S. Jamaluddin Assagaf, tt: 26).

Keterangan serupa juga diberikan oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bahwa sebelum para wali songo yang dipimpin oleh Sunan Ampel menduduki Majapahit, Sayyid Jamaluddin al-Husaini yang mula-mula tinggal di daerah Cepu Bojonegoro telah lebih dulu masuk ke ibukota Majapahit dan kemudian mendapat tanah perdikan. Dengan kemampuan yang tinggi dalam mengorganisasikan pertanian, Jamaluddin al-Husaini berhasil menolong banyak orang Majapahit yang akhirnya masuk Islam. Dari situ ia naik ke gunung Kawi. Kemudian melanjutkan perjalanannya ke Sengkang, ibukota kabupaten Wajo saat ini (Abdurrahman Wahid, 1998: 161).

Lalu mengapa nama Jamaluddin al-Husaini tak pernah ditemukan jejaknya dalam sejarah. Padahal perannya cukup penting dalam proses islamisasi di Sulawesi Selatan. Bahkan sebelum para wali songo menyebarkan Islam di Jawa, Jamaluddin al-Husaini telah memulainya dan konon wali songo sempat berguru kepadanya. Nah, ketika Datuk ri Bandang hendak memenuhi undangan raja Gowa untuk menyebarkan Islam di kerajaannya, terlebih dahulu meminta pertimbangan gurunya Sayyid Ainul Yaqin atau Sunan Giri. Sang guru tentu saja gembira mengingat agama Islam telah di bawa lebih dahulu oleh kakeknya, Sayyid Jamaluddin al-Husaini pada tahun 1320 M di daerah Bugis Sulawesi Selatan (KH. Jamaluddin, op. cit: 31).

Boleh jadi karena Jamaluddin al-Husaini tidak pernah bersentuhan langsung dengan kerajaan Gowa-Tallo yang diketahui merupakan salah satu kerajaan yang terbesar saat itu di Sulawesi Selatan sehingga proses islamisasi di Sulawesi Selatan tidak dikaitkan dengan dirinya. Yang jelas, sejarah Islamisasi di Sulawesi Selatan sesungguhnya tidaklah tunggal.

Yang menarik kemudian, dalam beberapa versi “resmi” tentang masuknya Islam di kerajaan Gowa-Tallo disebutkan bahwa sebelum Datuk ri Bandang tiba di Tallo, raja Tallo Sultan Abdullah diberitakan telah memeluk Islam dan yang mengislamkan adalah nabi sendiri. Konon nabi menampakkan dirinya dan menemui Sultan Abdullah. Nabi lalu menuliskan kalimat syahadatain lalu meminta kepada sang raja untuk memperlihatkan kepada tamunya yang datang dari jauh. Setelah tamunya datang ke Tallo, Sultan pun menemui tamu itu yang tak lain adalah Datuk ri Bandang. Dia lalu memperlihatkan tulisan yang ada di tangannya kepada tamunya. Tamu itu pun heran. Ternyata, Islam sudah ada di sini sebelum kami datang, kata sang tamu. Lalu raja mengisahkan hal ihwal pertemuannya dengan nabi. Karena itu, ada ungkapan yang berbunyi mangkasaraki nabbiya. Ungkapan tersebut menyatakan bahwa nabi telah menampakkan dirinya di Makassar. Dan asal-usul dinamakannya daerah ini dengan Makassar besar kemungkinan dari ungkapan tersebut. Sayangnya oleh beberapa sejarawan seperti J. Noorduyn yang menulis tentang Islamisasi di Makassar, cerita ini dianggap dongeng dan harus berhati-hati mengutipnya (Noorduyn, 1972: 31).

Ini kemudian menjadi menarik karena bukan sekedar perbedaan pendapat mengenai sejarah islamisasi di Nusantara atau Sulawesi secara khusus. Tapi bagaimana akar polarisasi keberagamaan sampai pada nalar agama, itu bisa dilacak dari proses islamisasi itu. Misalnya, ada perbedaan model dakwah yang dikembangkan oleh Jamaluddin al-Husaini dengan Datuk ri Bandang dkk. Ketika tiba di Tosora Wajo, dia dan para pengikutnya justru tidak mendakwahkan Islam. Sayyid Jamaluddin justru mengadakan pencak silat secara tertutup dengan para pengikutnya. Masyarakat sekitar pun ingin mengetahui pertemuan apa gerangan yang diadakan tiap sore itu. Akhirnya tersiarlah kabar bahwa yang dilakukan tamu-tamu itu adalah permainan langka yang dalam bahasa Bugis berarti suatu permainan gerakan yang bisa menjadi pembelaan diri bila mendapatkan serangan musuh. Karena yang memainkan permainan langka itu orang Arab (keturunan Arab) sehingga masyarakat setempat menamainya dengan langka arab.

Masyarakat pun kemudian memohon menjadi anggota agar dapat ikut dalam permainan langka itu. Karena permainan latihan berlanjut hingga malam hari, selepas magrib, Sayyid Jamaluddin dan rombongannya shalat. Masyarakat setempat yang ikut latihan juga turun shalat meskipun sekedar sebagai latihan. Meskipun pada akhirnya peserta latihan itu banyak yang mengucapkan syahadatain.

Masjid yang sedianya dibangun di areal pemakaman, namun terbengkalai

Belakangan, arena latihan yang bernama langka arab menjadi langkara. Kata ini yang kemudian menjadi langgara, lalu berubah menjadi mushallah dan masjid. (KH. Jamaluddin, op. cit: 28). Berbeda dengan Datuk ri Bandang dkk, ketika datang ke Makassar, sistem dakwah yang dikembangkan selain mengajarkan syahadatain mereka langsung mengajarkan sembahyang lima waktu, puasa ramadhan dan melarang perbuatan dosa besar seperti zina, menyembah berhala, membunuh, mencuri dan minum khamar. Dua tahun setelah kedatangan Datuk ri Bandang dkk diadakanlah shalat jum’at di masjid kerajaan Tallo setelah diumumkannya oleh raja Gowa bahwa agama Islam adalah agama resmi yang dianut kerajaan. (Ibid: 35).

Islam yang dikembangkan oleh Datuk ri Bandang dkk inilah yang di kemudian hari lekat dengan negara. Dan memang dalam sejarah mainstream, hampir semua penyebar atau pendakwah Islam dekat dengan kerajaan.
Wali songo pun sangat akrab dengan kerajaan. Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro dan Datuk ri Patimang adalah orang-orang yang akrab dengan kerajaan. Karena itu, dapat dimaklumi kalau nalar keislaman yang dikembangkan oleh para pengikutnya adalah nalar-nalar negara. Jadi agama ya sekaligus negara. Dan nalar keislaman yang dikembangkan ini yang nantinya melahirkan nalar atau praktik keagamaan yang formalistik dan “tidak ramah” pada budaya setempat. Bahkan hancurnya beberapa aliran tarekat diduga karena dibabat habis oleh tokoh agama yang mengembangkan nalar formalistik yang berkolaborasi dengan kekuasaan.

Lain halnya dengan yang dikembangkan oleh Sayyid Jamaluddin al-Husaini atau yang seperti beliau. Hampir semua penganjur Islam model terakhir ini menjaga jarak dengan kekuasaan. Mereka pun tidak mendapat ruang dalam sejarah. Mereka adalah orang-orang yang sesat. Lihat saja bagaimana Hamzah Fansuri yang dianggap sesat oleh Ar-Raniri karena dianggap menyebarkan paham wihdatul wujud. Hak serupa dialami Siti Jenar, Syekh Mutamakkin dsb. Mereka adalah orang yang dianggap sesat oleh ulama-ulama kerajaan saat itu. Begitu pun di Sulawesi. Sebutlah misalnya Latola seorang wali di Desa Samaenre Pinrang, kecamatan Mattiro Sompe, yang bergelar Ipua Walie Pallipa Putewe Matinroe Massiku’na (Tuan Wali yang Bersarung Putih Dan Yang Tidur dengan berbaring pada sikutnya), oleh orang-orang luar dianggap sebagai biang keladi kemusyrikan dan bid’ah di desa tersebut. Padahal dia penganjur Islam yang justru dianggap wali oleh penduduk setempat. Atau Sayyid Jamaluddin al-Husaini yang sama sekali tidak dikenal dalam sejarah sebagai penganjur Islam. Padahal, perannya sangat vital karena tokoh ini adalah penyebar Islam generasi pertama. Tidak hanya di Sulawesi Selatan tapi justru wali songo pernah berguru kepadanya.

Ada yang menarik dari proses islamisasi di Luwu. Sebelum Datuk ri Patimang sampai di Luwu untuk mengislamkan raja Luwu, dia lebih dahulu singgah di daerah Bua. Di daerah itu, Datuk ri Patimang mengadakan singkarume atau dialog tentang Islam dengan Madika Bua Tandi Pau, pemimpin adat daerah Bua dan beberapa anggota hadat lainnya. Dalam singkarume itu Madika Bua memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis tentang apa itu Islam. Bahkan Madika Bua mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya oleh Datuk ri Patimang dianggap pertanyaan waliyullah tingkat ketiga.

Akhirnya Datuk Sulaiman atau Datuk ri Patimang mengakui bahwa Madika Bua sesungguhnya telah Islam. Setelah dialog, Madika Bua dan Datuk ri Patimang saling uji kesaktian dan tidak satu pun ada yang kalah atau menang. Tapi pada akhirnya Madika Bua mau mengucapkan syahadatain dan mengikuti Datuk ri Patimang. Setelah Madika Bua mengucapkan syahadatain, barulah Madika Bua bersama Datuk ri Patimang menghadap ke raja Luwu untuk mengislamkan raja Luwu. Nah, jangan-jangan, Madika Bua mendapatkan pengetahuan keislamannya dari Jamaluddin al-Husaini. (SS-Jib)

*Penulis; Staf Divisi Agama dan Kebudayaan Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel.

Masjid Sayyid Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra di Jalan Masjid Tua, Desa Teroja,Kacamatan Manjeuleng, Kabupaten Wajo, Propensi Sulawesi Selatan.

Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Amir Abdullah bin Abdul Malik Azmatkhan adalah anak ke-1 dari Al-Imam Ahmad Syah Jalaluddin Azmatkhan, dia adalah seorang Raja Ke-4 di Kesultanan Islam Nasarabad India Lama, naik tahta setelah wafatnya sang ayah, yaitu pada tahun 1310 M.

NASAB LENGKAP

Nasab lengkapnya adalah Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalaluddin bin Amir Abdullah  bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammul Faqih bin Muhammad Shohib Marbath bin Ali Khali' Qasam bin Alwi Shohib Bait Jubair bin Muhammad Maula Ash-Shouma'ah bin Alwi Al-Mubtakir bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja'far Shodiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib Wa Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad.  

JABATAN

Sayyid Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra adalah Raja/ Sultan Ke-4 Kesultanan Islam Nasarabad India Lama, sekaligus muballigh yang bekeliling hingga ke Nusantara.  

NAMA GELAR HUSAIN JAMALUDDIN AKBAR JUMADIL KUBRO
  1. Sayyid Husain Jamaluddin
  2. Syekh Maulana Akbar
  3. Syekh Maulana Jumadil Kubra I
  4. Syekh Maulana Jumadil Kubra Wajo
  5. Maulana Jamaluddin Akbar Gujarat
  6. Sayyid Husain Jamaluddin Al-Akbar Jumadil Kubra

NAMA ISTERI HUSAIN JAMALUDDIN AKBAR JUMADIL KUBRO


Al-Imam Maulana Husain Jamaluddin Jumadil Kubro dikenal sebagai seorang muballigh terkemuka, di mana sebagian besar penyebar Islam di Nusantara (Wali Songo), berasal dari keturunannya. Beliau dilahirkan pada tahun 1270 M di negeri Nasarabad, dan wafat di Wajo tahun 1453 M. Jadi usianya 183 tahun.

Syekh Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra, beliau tercatat memiliki isteri 9 orang (pada tahun yang berbeda-beda), yaitu :

1. Amira Fathimah binti Amir Husain bin Muhammad Taraghay (Pendiri Dinasti Timuriyyah, Raja Uzbekistan, Samarkand), (Menikah tahun 1295 M), melahirkan 5 anak. yaitu: Ibrahim Zainuddin Al-Akbar As-Samarqandiy (Ibrahim Asmoro) saat berdakwah di Samarqand (yaitu antara tahun 1295M-1308 M), Ibrahim Zainuddin Asmaraqandi lahir tahun 1297 M. kemudian lahir putra-putra yang lain yaitu: Pangeran Pebahar As-Samarqandiy (lahir di Samarkan 1300 M), Fadhal As-Samarqandiy (Sunan Lembayung) (lahir di Samarqand tahun 1302 M), Sunan Kramasari As-Samarqandiy (Sayyid Sembahan Dewa Agung) (lahir di Samarkand pada tahun 1305 M), Syekh Yusuf Shiddiq As-Samarqandiy (lahir di Samarkand pada tahun 1307 M), 

2. Puteri Nizamul Muluk bin Sultan Nizamul Muluk dari Delhi (India) (menikah tahun 1309 M), Pernikahan ini dilakukan saat Maulana Husain Jamaluddin kembali dari dakwahnya dari Samarkand ke India, dari isteri ini memiliki 3 anak yaitu: Maulana Muhammad Jumadil Kubra (lahir di Nasarabad India, tahun 1311 M), Maulana Muhammad 'Ali Akbar (lahir di Nasarabad, tahun 1312 M), Maulana Muhammad Al-Baqir (Syekh Subaqir, Lahir di Nasarabad India, tahun 1314 M), Syaikh Maulana Wali Islam (lahir di Nasarabad, tahun 1317 M)

3. Lalla Fathimah binti Hasan bin Abdullah Al-Maghribi Al-Hasani (Morocco) (Menikah tahun 1319 M), pernikahan ini dilakukan Husain Jamaluddin saat adanya hubungan diplomatik antara Kesultanan India dengan Kerajaan Marokko, dari pernikahan ini memiliki 1 anak yaitu: Maulana Muhammad Al-Maghribi (lahir di Maghrib (Morocco), tahun 1321 M)

4. Fathimah binti Hasan At-Turabi bin 'Ali bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam Al-Hadrami Al-Husaini (menikah tahun 1323 M) melahirkan seorang anak laki-laki bernama Maulana Ibrahim Al-Hadrami Azmatkhan (leluhur Azmatkhan di Yaman) lahir di Hadramaut pada tahun 1325 M.

5. Puteri Linang Cahaya binti Raja Sang Tawal/ Sultan Baqi Syah/ Sultan Baqiuddin Syah (Malaysia)/ Raja Langka suka (menikah pada tahun 1350 M), melahirkan 1 anak, yaitu: Puteri Siti Aisyah (Putri Ratna Kusuma) (lahir pada tahun 1351 M) yang kemudian menjadi isteri Syeikh Khalid Al Idrus (Adipati Jepara)

6. Puteri Ramawati binti Sultan Zainal Abidin I Diraja Champa (Menikah tahun 1355 M) memiliki 1 anak laki-laki, yang diberi nama Ibrahim Zainuddin Asghar Champa yang bergelar Sultan Zainal Abidin II Diraja Champa (lahir di Champa, tahun 1357 M).

7. Puteri Syahirah atau Puteri Selindung Bulan (Putri Saadong II) binti Sultan Baki Shah ibni al-Marhum Sultan Mahmud, Raja of Chermin dari Kelantan Malaysia (menikah tahun 1390M), melahirkan 2 anak. yaitu Sayyid 'Ali Nurul Alam bin Husain Jamadi al-Kubra, alias Pateh Arya Gajah Mada. Perdana Mantri of Kelantan-Majapahit II menjabat antara 1432-1467 M (lahir pada tahun 1402 M) dan Sayyid Muhammad Kebungsuan alias (Prabhu Anum/Udaya ning-Rat/Bhra Wijaya) lahir pada tahun 1410 M.

8. Puteri Jauhar binti Raja Johor Malaysia, menikah tahun 1399 M melahirkan 2 anak. yaitu 'Abdul Malik (lahir di Johor, 1404 M) dan Sultan Berkat Zainul Alam (lahir di Johor, tahun 1406 M).

9. Pada tahun 1411 Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra menikah dengan Putri Raja Batara Gowa Tuminanga ri Paralakkenna (Raja Gowa Sulawesi Selatan), dan melahirkan beberapa anak, yaitu : 1. Sayyid Hasan Jumadil Kubra lahir tahun 1413 M (Menjadi Syekh Mufti Kesultanan Gowa, tahun 1453 M, bertepatan dengan wafatnya Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra, dan wafat tahun 1591 M, berusia 138 tahun). 2. Sayyid Husain Jumadil Kubra Al-Asghar, lahir tahun 1443 M.

* Sayyid Hasan Jumadil Kubra bin Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra, menikah dengan Sepupunya yaitu Puteri Tunggal Halimah binti I Tepukaraeng Daeng Parabbung Tuni Pasulu (Raja Gowa, berkuasa 1590 -1593), melahirkan:
1. Sultan Gowa Islam Pertama (I Mangari Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tuminanga ri Gaukanna), kemudian ia melahirkan putera bernama:
2. Sultan Gowa Islam Kedua (I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiyung Sultan Malikussaid Tuminanga ri Papang Batuna), kemudian ia melahirkan putera bernama:
3. Sultan Gowa Islam Ketiga (I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape Sultan Hasanuddin Tuminanga ri Balla'pangkana) , bergelar SULTAN HASANUDDIN alias AYAM JANTAN DARI TIMUR, (PAHLAWAN NASIONAL). Dan keturunannya sampai sekarang terdata di Kitab Al-Mausu'ah Li Ansabi Al-Imam Al-Husaini.

* Adapun Sayyid Husain Jumadil Kubra Al-Asghar, lahir tahun 1443 M, Pada tahun 1473 M menikah dengan Puteri Wajo binti La Tadampare Puangrimaggalatung (Raja Wajo), pada tahun 1483 M melahirkan putera bernama Sulaiman alias Dato Sulaiman (Qadhi & Mufti Kesultanan Wajo Pertama). Dato Sulaiman ini keturunannya banyak di Wajo dan di Pasuruan dan Bangil, Jawa timur.

NAMA ANAK HUSAIN JAMALUDDIN AKBAR JUMADIL KUBRA

Sayyid Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra Azmatkhan memiliki 19 anak dari 9 isteri, yaitu:
  1. Ibrahim Zainuddin Asmaraqandi lahir tahun 1297 M. 
  2. Pangeran Pebahar As-Samarqandiy (lahir di Samarkan 1300 M), 
  3. Fadhal As-Samarqandiy (Sunan Lembayung) (lahir di Samarqand tahun 1302 M), 
  4. Sunan Kramasari As-Samarqandiy (Sayyid Sembahan Dewa Agung) (lahir di Samarkand pada tahun 1305 M), 
  5. Syekh Yusuf Shiddiq As-Samarqandiy (lahir di Samarkand pada tahun 1307 M), 
  6. Maulana Muhammad Jumadil Kubra (lahir di Nasarabad India, tahun 1311 M), 
  7. Maulana Muhammad 'Ali Akbar (lahir di Nasarabad, tahun 1312 M), 
  8. Maulana Muhammad Al-Baqir (Syekh Subaqir, Lahir di Nasarabad India, tahun 1314 M), 
  9. Syaikh Maulana Wali Islam (lahir di Nasarabad, tahun 1317 M)
  10. Maulana Muhammad Al-Maghribi (lahir di Maghrib (Morocco), tahun 1321 M)
  11. Maulana Ibrahim Al-Hadrami Azmatkhan (leluhur Azmatkhan di Yaman) lahir di Hadramaut pada tahun 1325 M.
  12. Puteri Siti Aisyah (Putri Ratna Kusuma) (lahir pada tahun 1351 M) yang kemudian menjadi isteri Syeikh Khalid Al Idrus (Adipati Jepara)
  13. Ibrahim Zainuddin Asghar Champa yang bergelar Sultan Zainal Abidin II Diraja Champa (lahir di Champa, tahun 1357 M)
  14. Sayyid 'Ali Nurul Alam bin Husain Jamadi al-Kubra, (bergelar Maulana 'Abdul Malik Israil / Sultan Qanbul) alias Pateh Arya Gajah Mada. Perdana Mantri of Kelantan-Majapahit II menjabat antara 1432-1467 M (lahir pada tahun 1402 M) 
  15. 'Abdul Malik (lahir di Johor, 1404 M) d
  16. Sultan Berkat Zainul Alam (lahir di Johor, tahun 1406 M)
  17. Sayyid Muhammad Kebungsuan alias (Prabhu Anum/Udaya ning-Rat/Bhra Wijaya) lahir pada tahun 1410 M.
  18. Sayyid Hasan Jumadil Kubra lahir tahun 1413 M (Menjadi Syekh Mufti Kesultanan Gowa, tahun 1453 M, bertepatan dengan wafatnya Sayyid Husain Jamaluddin Jumadil Kubra, dan wafat tahun 1591 M, berusia 138 tahun). 
  19. Sayyid Husain Jumadil Kubra Al-Asghar, lahir tahun 1443 M.
WAFAT
Sayyid Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra Azmatkhan meninggal dunia tahun 1453 M dan dimakamkan di hadapan masjid beliau di Jalan Masjid Tua, Desa Teroja,Kacamatan Manjeuleng, Kabupaten Wajo, Propensi Sulawesi Selatan.

Makam Sayyid Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra Azmatkhan

Makam Sayyid Husain Jamaluddin Akbar Jumadil Kubra Azmatkhan

DAFTAR PUSTAKA:
As-Sayyid Shohibul Faroji Azmatkhan, Al-Mausuu'ah Li Ansaab Itrati Al-Imam Al-Husaini, Jakarta: Penerbit.Madawis, Cetakan 1, 2011.

Terkait Berita: