Pesan Rahbar

Home » , » Keutamaan Bulan Ramadhan

Keutamaan Bulan Ramadhan

Written By Unknown on Monday, 6 June 2016 | 03:05:00


Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada sebaik-baik dan seutama-utama makhluk ciptaan-Nya, Muhammad saw, dan juga kepada keluarganya yang suci serta para nabi dan para rasul lainnya.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang diberkati, dan bulan yang penuh dengan keagungan.Jika Anda menginginkan kebaikan dunia maka mintalah pada bulan Ramadhan ini. Pada bulan ini Allah SWT menurunkan rahmat dan memberikan janji untuk mengabulkan dan memperkenankan doa.

Demikian juga jika Anda menginginkan akhirat maka mintalah pada bulan ini.

Kita membaca di dalam Al-Qur’an al-Karim bahwa orang-orang yang berpuasa diseru oleh Allah SWT tatkala mereka memasuki surga,

“(Kepada mereka dikatakan), ‘Makan dan minumlah kamu dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu. ‘” (QS. al-Haqqah: 24)

Ketaatan melaksanakan puasa Ramadhan diganti dengan kenikmatan surga, dan kata-kata “Makan dan minumlah kamu” merupakan upah yang disediakan oleh bulan Ramadhan bagi Anda.

Jika Anda menginginkan kesempurnaan akhlak dan spiritual, maka Anda dapat menempuh jarak perjalanan lima puluh tahun hanya dalam sebulan ini, bahkan mungkin hanya satu hari, satu malam, atau bahkan hanya sejam di bulan ini.

Allah SWT telah berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. ” (QS: al-Baqarah: 183)


Jenis-jenis Puasa

Puasa dibagi kepada tiga jenis.; Diharapkan para pemuda yang mulia memberikan perhatian kepada hal ini:


1. Puasa Syariat

Yang dimaksud dengan puasa syariat ialah puasa perut. Yaitu menjauhi hal-hal yang membatalkan puasa (al-mufthirat), sebagai: mana yang dijelaskan di dalam risalah-risalah amaliyyah. Barangsiapa yang berpegang teguh kepada yang demikian (yaitu menjauhi hal-hal yang membatalkan puasa) maka tidak ada qada dan kafarah atasnya, dan tentu dia akan memperoleh manfaat dunia dan pahala akhirat. Akan tetapi puasa jenis ini tidak akan mewujudkan faidah-faidah lain yang diharapkan. Inilah yang dinamakan dengan puasa syariat atau puasa kebanyakan manusia.


2. Puasa Akhlak.

Yaitu disamping perut berpuasa juga seluruh anggota tubuh lainnya ikut berpuasa. Seperti mata, telinga, tangan dan kaki. Puasa jenis ini dinamakan juga dengan puasa dari berbagai hal dari yang diharamkan, dari berbagai hal yang dibenci dan dari berbagai yang syubhat.

Di dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa orang yang berdusta di bulan Ramadhan, atau mengumpat seseorang, atau menuduh seseorang atau menyakiti seseorang dengan lidahnya maka puasanya batal.

Zar’ah berkata, “Saya bertanya tentang seorang laki-laki yang berdusta di bulan Ramadhan. Saya dijawab, ‘Orang itu harus berbuka dan harus meng-qada puasanya’ Saya bertanya, “Dusta apa yang telah mengharuskan dia membatalkan puasanYa?, Saya di jawab, “Dia telah berdusta atas Allah dan Rasul-Nya.¹

Seseorang yang benar-benar berpuasa mempunyai doa yang mustajab ketika berbuka. Jika anggota tubuh seseorang berpuasa sebagaimana perutnya berpuasa maka dia akan bisa mencapai derajat yang tinggi pada hari-hari terakhir dari bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Rasulullah saw mendengar seorang wanita tengah mencaci maki tetangganya sementara dia sedang dalam keadaan berpuasa, maka Rasulullah saw pun menyuruh wanita itu memakan makanan. Rasulullah saw berkata kepada wanita itu, “Makan lah.” Wanita itu menjawab, “Saya sedang puasa.” Rasulullah saw berkata, “Bagaimana mungkin engkau berpuasa sementara engkau mencaci maki tetanggamu. Sesungguhnya puasa bukanlah hanya dari makan dan minum.”²

Pada sebuah riwayat yang lain disebutkan bahwa Rasulullah saw menganjurkan orang-orang yang berpuasa untuk meminta izin kepadanya tatkala berbuka. Pada waktu berbuka, datanglah seorang laki-laki tua untuk meminta izin berbuka kepada Rasulullah bagi dirinya dan bagi kedua anak perempuannya.

Rasulullah saw berkata kepada laki-laki tua itu, “Engkau berpuasa, sekarang pergi dan berbuka lah; akan tetapi kedua anak perempuanmu tidaklah berpuasa.”

Laki-laki tua itu berkata kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, saya yakin mereka berdua berpuasa.” Rasulullah saw menjawab, “Pergi dan katakanlah kepada keduanya supaya mereka ke belakang (dan berilah mereka sebuah bejana yang lebar mulutnya).” Ketika laki-laki tua itu melaksanakan apa yang diminta oleh Rasulullah saw, maka keluarlah dua potong daging dari mulut kedua anak perempuannya itu. Laki-laki tua itu pun keheranan karena kedua anak perempuannya tidak makan daging, sementara daging yang keluar itu sangat busuk baunya. Ketika laki-laki tua itu bertanya kepada Rasulullah saw tentang sebabnya? Rasulullah saw berkata, “Tidakkah engkau membaca bahwa Al-Qur’an al-Karim mengatakan,

“Sesungguhnya orang yang mengumpat berarti dia telah memakan daging bangkai. Sesungguhnya kedua anak perempuan
ini, meskipun mereka berdua berpuasa namun mereka mengumpat manusia.”³

Al-Qur’an al-Karim berkata,

“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”

(QS. al-Hujurat: 12)

Janganlah Anda mengumpat, karena mengumpat adalah berarti memakan daging orang yang sudah mati. Selama Anda tidak menyukai daging orang yang sudah mati maka jauhilah perbuatan mengumpat, dan janganlah Anda membuka aib seseorang dengan cara mengumpatnya.


2. Puasa Akhlak

Jenis puasa yang kedua ini dinamakan dengan puasa akhlak.

Karena pada jenis puasa ini, di samping seseorang berpuasa perutnya dia juga berusaha supaya anggota-anggota tubuhnya yang lain ikut berpuasa.

Kita memohon taufik kepada Allah SWT dan bertawasul kepada para Imam yang suci dan Sayidah Fatimah Zahra as, supaya orang-orang yang berpuasa diberikan kemampuan untuk melaksanakan puasa akhlak, di samping puasa syariat.

Jika di bulan Ramadhan seseorang bercengkrama dengan istrinya (mula’abah) melalui pandangannya, dan tidak menjaga mata, telinga dan lisannya, dan begitu juga anggota-anggota tubuhnya yang lain, mungkin saja dia dapat memenuhi puasa syariatnya, akan tetapi jelas dia tidak berhasil mencapai derajat takwa, derajat doa mustajab dan juga kesempurnaan akhlak dan perilaku.


3. Puasa Irfan

Adapun puasa jenis ketiga, yang merupakan jenis puasa yang “amat, sulit,.,,yaitu puasa kaum arifin (bentuk jamak irfan,kaum sufi — peny). Pada puasa jenis ini, di samping seseorang harus berpuasa perutnya dan juga seluruh anggota tubuhnya, maka hatinya pun harus berpuasa. Namun, dari apa saja hati harus berpuasa? .

Yaitu hati harus berpuasa dari lintasan-lintasan pikiran yang buruk dan sifat-sifat yang tercela.

Artinya, meskipun sifat-sifat tercela ada di dalam hati namun puasa mencegahnya untuk tidak menyala. Sehingga dengan begitu penyakit hasud tidak menyala, penyakit kikir tidak menyala, penyakit buruk sangka tidak menyala, dan demikian juga penyakit sombong tidak menyala.

Dengan kata lain, bahwa hati berpuasa dari memberikan perahatian kepada selain Allah SWT. Manakala seorang irfan maka tidak ada di dalam hatinya selain Allah SWT.

Sesungguhnya puasa jenis ini bukanlah puasa untuk kita, akan tetapi seseorang yang berhasil melakukan puasa syariat dan puasa akhlak maka dia akan bisa sampai kepada kedudukan ini pada akhir bulan Ramadhan yang mulia.

Jika seseorang – terutama para pemuda-bersikeras untuk bisa sampai kepada derajat kejernihan dan kesucian hati dan berusaha supaya tidak ada yang berkuasa atas hatinya selain Allah SWT, maka dia akan bisa sampai kepada derajat tersebut.

Puasa di bulan Ramadhan diwajibkan untuk tujuan ini. Puasa bulan Ramadhan diwajibkan dengan tujuan supaya seseorang maju selangkah demi selangkah, pada hari pertama, hari kedua, hari kesepuluh, hari kelima belas, pada malam-malam lailatul qadar, dan setelah malam-malam lailatul qadar, sehingga manakala dia memperhatikan dengan seksama dia dapat melihat bahwa kehendak perut dan kehendak seluruh anggota tubuhnya yang lain berada di tangannya, dan begitu juga lintasan-lintasan pikiran yang buruk telah terkikis dari hatinya.


Demikian juga halnya dengan sifat-sifat tercela, meskipun tidak tercabut dari akarnya namun kini telah berada di bawah kendalinya

Berhala demi berhala telah hancur dari dalam hatinya. Kini hatinya sepenuhnya telah menjadi milik Allah, dan Allah SWT menerangi hatinya, serta dia telah sampai kepada derajat kesucian dan kejernihan hati.

Sehingga pada akhir bulan Ramadhan dia telah mencapai derajat sebagaimana yang digambarkan oleh Al-Qur’an al-Karim,

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dan mengingat Allah. ” (QS. an-Nur: 37)

Seseorang yang berpuasa di bulan Ramadhan harus melangkah ke depan selangkah demi selangkah, dengan memanfaatkan cahaya wilayah dan cahaya puasa, sehingga dengan begitu perutnya berpuasa dan begitu juga anggota-anggota tubuhnya yang lain. Dan dengan demikian, mudah-mudahan Allah SWT meraih tangannya sehingga pada akhir bulan Ramadhan, dia bisa sampai ke tempat kesempurnaan. Dan, ini adalah sesuatu yang mungkin. Betapa banyak orang yang telah mampu menempuh jarak perjalanan lima puluh tahun hanya dalam sejam, atau bahkan hanya dalam sekejap.


Keutamaan dan Kerendahan Akhlak

Saya memutuskan pada tahun ini untuk berbicara tentang masalah akhlak-akhlak yang utama dan akhlak-akhlak yang tercela, yaitu dengan cara menjelaskan salah satu akhlak yang utama pada satu hari, dengan disertai penjelasan bagaimana cara memperolehnya dan bagaimana menanamkannya ke dalam hati; dan pada hari yang lain menjelaskan salah satu akhlak yang tercela, dengan disertai penjelasan bagimana cara mengobatinya, dan juga dengan menyebutkan hadis-hadis yang berkaitan dengannya.

Dengan pertolongan Allah SWT dan perhatian dari Baqiyyatullah as pada hari ini saya memulai dengan membahas akhlak utama yang pertama:


Referensi:
1.al-Bihar, jilid 96,hal 276, riwayat 23, bab 32.
2. Furu’ Al-Hadi, jilid 4, hal 87,bab Adab ash-Sha’im.
3. al-Bihar, jilid 96,hal 293 dan 294.


Sumber : MEMBENTUK PRIBADI MENGUATKAN ROHANI
Penerbit :LENTERA

(Mahdi-News/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita:

  • Muhammad bin Hasan bin Furukh Ash-Shaffar (Permulaan Abad ke-3 – 290 H)
  • Peringati Nuzulul Qur’an, Jokowi Ingatkan Dua Hal
Index »

KULINER

Index »

LIFESTYLE

Index »

KELUARGA

Index »

AL QURAN

Index »

SENI

Index »

SAINS - FILSAFAT DAN TEKNOLOGI

Index »

SEPUTAR AGAMA

Index »

OPINI

Index »

OPINI

Index »

MAKAM SUCI

Index »

PANDUAN BLOG

Index »

SENI