Konferensi internasional Islam; Rahmatan Lil Alamin akan diselenggarakan 13 – 16 Oktober 2015, di Jakarta.
Menurut laporan IQNA, seperti dikutip dari situs Organisasi Kebudayaan dan Komunikasi Islam, acara pembukaan pameran internasional Islam’ Rahmatan lil Alamin diselenggarakan di gedung pusat Nahdhatul Ulama (NU), Indonesia, dengan dihadiri oleh KH. Ma’ruf Amin, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), Prof. Aqil Siradj, ketua lembaga ini, Zulkifli Hasan, Pemimpin MPR RI, para pembesar organisasi ini, para ulama dan duta negara, seperti duta dan konsultan kebudayaan Iran di Indonesia.
Dalam acara ini diintroduksikan bahwa konferensi internasional Islam Rahmatan Lil Alamin juga diselenggarakan tanggal 13 – 16 Oktober 2015, di Jakarta.
Kabar ini disampaikan oleh Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, ketua komite penyelenggara konferensi ini dalam pidatonya dalam acara pembukaan dan menegaskan, dalam rangka mendakwahkan Islam sebagai rahmat bagi semesta, pada tanggal 13 Oktober 2015, Organisasi Islam NU menyelenggarakan aktivitas pameran kebudayaan –Islam internasional 2015, di Jakarta dan juga dua seminar ilmiah dengan topik “Memperkuat sistem ekonomi dan keuangan Islam untuk dunia” dan “Gerakan radikal terorisme menciderai Islam Rahmatan Lil Alamin”.
“Proses ini dikarenakan memenuhi niat presiden Jokowi, dalam pembukaan konferensi Asia – Afrika ke-60, tentang pentingnya menciptakan sebuah sistem ekonomi baru dan upaya untuk mencegah radikalisme, praktek radikal dan terorisme,” ungkapnya.
Prof. Dr. H. Mansyur Ramly menyebut 80% masjid Indonesia terkait dengan NU. “Dalam laporan 4 tahun lalu, jumlah masjid dari pihak manajemen masjid Indonesia, disebutkan bahwa jumlah masjid dan musalla di Indonesia kurang lebih mencapai satu juta 305 ribu, sedangkan 80% nya terkait NU,” imbuhnya.
Dia menegaskan, namun dengan ini semua, mayoritas masjid yang ada tidaklah aktif. Sebagian alasannya adalah kembali pada dua problem mendasar; pertama tingkat pendidikan para pengurus masjid sangatlah rendah, dengan kata lain, mereka hanya mendapat ijazah SMA dan kedua program-program masjid untuk masyarakat yang terbentuk dari pelbagai tingkat tidaklah menarik. Disamping itu, semua program diumumkan oleh para pengurus, dan jarang sekali direkomendasikan oleh masyarakat masjid tersebut. Dengan demikian, para penanggung jawab yayasan manajemen masjid memikirkan kenapa program-program masjid tidak diprogram sesuai dengan kebutuhan masyarakat? Dan apa saja yang dibutuhkan oleh jamaah?
Demikian juga, Prof. Dr. H. Mansyur Ramly mengatakan, pameran Islam; Rahmatan Lil Alamin diselenggarakan guna menunjukkan dua masalah:
1- Urgensitas dunia yang kosong dari kekerasan, yang menjamin kehidupan damai, aman dan keamanan bagi manusia, khususnya kaum muslimin.
2- Urgensitas menghidupkan kembali masjid-masjid dengan program-program tersebut, khususnya di era globalisasi.
Dia dengan mengisyaratkan penyelenggaraan dua seminar dengan topik, “Dunia Kosong dari Kekerasan” dan “Sistem Ekonomi Islam”, di Jakarta, mengatakan, para penceramah terkemuka yang diundang di bagian “Dunia kosong dari kekerasan” adalah Kyai Mustofa Bisri, Eks Ketua Dewan NU; Kyai Aqil Siradj, Ketua NU; Lauren Booth dari Inggris; Drs. H. Saud Usman Nasution, Ketua BNPT; Mohammad Hasan Zamani dari Iran, sedangkan dalam bagian “Ekonomi Islam” adalah, Muliaman Darmansyah Haddad, ketua dewan direktur komisi pelayanan keuangan Indonesia; Muhammad Syafii Antonio, salah seorang pengurus keuangan dan perbankan Islam di Indonesia dan Prof. Rodney Wilson ketua universitas ekonomi Islam Turki, dari Universitas Birmingham dan Misbahi Muqaddam dari Iran.
Kelanjutan acara ini adalah ceramah Prof. Aqil Siradj, Ketua NU Indonesia, Zulkifli Hasan, Ketua Majelis MPR Indonesia, Kyai H. Ma’ruf Amin, Ketua Dewan Eksekutif.
(IQNA/ABNS)
Post a Comment
mohon gunakan email