Korelasi Perbuatan dan Struktur Jiwa
Ibnu Sina dalam penjelasannya tentang pengaruh perbuatan dalam jiwa dan ruh manusia, mengatakan, "Seluruh perbuatan yang dilakukan oleh manusia merupakan serangkaian aksi dan kualitas yang bergabung dengan jiwa manusia, karena ruh dan jiwa manusia "berada" di sisi badan dan pengaruh gerakan dan perbuatan lahiriah badan terhadapa jiwa merupakan sebuah persoalan yang pasti. Sekarang, apabila aksi dan kualitas prilaku tersebut telah terserap di dalam jiwa manusia, maka jiwa setelah berpisah dengan badan, tetap memiliki karakteristik dan sifatnya semula persis seperti ketika dia masih berada bersama badan. Akan tetapi karakteristik dan sifat dari perbuatan-perbuatan buruk badan yang telah menjadi bagian dari ruh, akan muncul sebagaimana sebuah penyakit parah yang terjadi sebagai pengaruh dari kelalaian jiwa dalam mengatur badan, yang hal ini kemudian menyebabkannya terkena siksaan, terazab dengan api barzakh yang panasnya melebihi api jasmani."[1]
Jadi, setiap perbuatan dan prilaku yang dilakukan oleh manusia akan memberikan pengaruh pada jiwa dan ruhnya, yang kemudian secara bertahap hal ini akan memberi bentuk dan karakteristik pada jiwa tersebut. Pada persoalan ini kami akan menukilkan sebuah misal yang telah terbukti secara ilmiah.
Untuk pertama kalinya seorang anak yang terlibat dalam kasus pencurian kecil-kecilan, dengan secara sembunyi-sembunyi dan sangat hati-hati dia telah mengambil sejumlah uang dari dompet seseorang. Apabila kita amati tingkah laku anak ini dengan seksama, maka kita akan menemukan wajah, tingkah dan gerakan-gerakan tidak wajar yang menghikayahkan gejolak yang terjadi di dalam jiwanya. Akan tetapi, apabila dia melakukan hal ini untuk kedua kalinya, gejolak jiwa yang semula tetap senantiasa ada, akan tetapi dengan kualitas yang lebih rendah, tidak separah pada kejadian pertama. Demikian seterusnya, apabila dia secara terus menerus mengulangi perbuatannya, secara bertahap perbuatan mencuri sudah merupakan hal yang biasa baginya, dia akan melakukannya tanpa sedikitpun memiliki rasa takut ataupun gelisah. Semakin banyak dia melakukan aksi pencurian, yang berarti akan semakin menambah keahliannya dalam bidang ini, dia akan mendapatkan hasil yang semakin banyak pula, lama-kelamaan perbuatannya akan mengarahkannya pada perampokan bank dan pembunuhan, sedemikian sehingga ketika tidak berhasil melakukan pembunuhan dia akan merasa gelisah dan gagal. Sekarang yang harus diperhatikan, "pencabut nyawa" ini yang tidak lain adalah si anak yang ketika mencuri beberapa ratus rupiah diliputi dengan ketakutan dan gejolak jiwa yang luar biasa, tetapi sekarang, dia telah berubah menjadi sosok yang mampu membunuh dan merenggut nyawa orang lain dengan perasaan yang sangat tenang.
Perubahan yang sangat ajaib ini, merupakan sebuah hasil dari perbuatan dosa, maksiat, dan pelanggaran-pelanggaran moral yang dia lakukan secara berulang-ulang.
Jadi, amal dan perbuatan manusia, secara bertahap dan alami akan memberikan bentuk kepribadian baginya. Sebenarnya, setiap manusia akan membentuk dirinya dengan amal dan perbuatannya. Dalam salab satu hadits, Imam Shadiq as bersabda, di dalam hati setiap mukmin terdapat sebuah titik putih yang secara bertahap karena pengaruh amal dan perbuatannya, akan berubah menjadi gelap dan menghitam. Ketika warna hitam telah melingkupi dirinya, maka manusia tersebut akan menjadi bagian dari ayat, "Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup, dan bagi mereka siksa yang Amat berat".[2]
Perbuatan dan prilaku harian memberikan refleksi-refleksi yang khas bagi jiwa manusia dan memakaikan "baju" pada jiwa yang tak lain adalah badan barzakh bagi manusia, yaitu dengan amal dan perbuatan, manusia akan membentuk badan barzakhnya. Manusia ketika terlahir ke dunia, sama sekali tidak memiliki peran dalam membentuk fakultas diri dan juga cantik atau buruknya, dan Sang Maha Pencipta telah mensketsa semua ini untuknya. Jadi, manusia terlahir ke dunia tanpa memiliki interfensi dan campur tangan serta pengawasan mengenai bentuk dirinya. Akan tetapi, ketika hendak meninggalkan dunia, dia memiliki bentuk dan wajah yang terbentuk karena campur tangannya dan bisa dikatakan bahwa bentuk tersebut merupakan hasil dari perbuatan dan prilaku manusia di dunia. Ghibah, mencela, berbohong, dan memandang non-mahram, akan meninggalkan warna hitam di dalam kalbu manusia dan menghilangkan cahaya dan sinar kalbu tersebut. Secara bertahap, dikarenakan pengaruh berkumpulnya perbuatan-perbuatan tersebut, akan muncul figure dan bentuk pada jiwa, dan akan menciptakan manusia dalam bentuk yang sesuai dengan akhlak dan tingkah laku yang telah dihasilkannya. Imam Khomeini ra beberapa kali mengutarakan masalah ini dalam kitabnya Cihil Hadits dimana ia mengisyaratkan bahwa amal dan perbuatan manusia akan memberikan bentuk pada diri manusia, dan orang-orang yang memiliki mata barzakh mampu melihat begitu banyak wajah-wajah dan bentuk-bentuk barzakh manusia.
Dalam sebuah hadits dinukilkan, seorang sahabat Imam ketika berada di Mekkah berkata kepada Imam Sajjad As, "Betapa banyaknya para haji", Imam As mengoreksi perkataan tersebut dan bersabda, "Betapa banyak orang yang melakukan ibadah haji tapi betapa sedikitnya haji"[3]. Pada poin inilah Allah swt berfirman, "Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya"[4]. Tentunya satu-satunya jalan untuk tidak terjebak oleh tipuan setan ini adalah kembali ke jalan yang benar dan menemukan jalan serta kebiasaan hidup dengan melakukan hubungan dan komunikasi tiada putus dengan Sang Maha Pencipta, dan inilah satu-satunya jalan yang mampu membersihkan hati yang telah berkarat dan gelap lalu menghiasinya dengan kesucian penghambaan kepada Sang Tuhan.
Kehidupan manusia, sebagaimana kualitas kematian manusia (hidup pasca mati) merupakan sebuah jalan yang sangat sensitif. Apabila manusia berbahagia dan beruntung dalam kehidupannya, maka dia juga akan bahagia dan beruntung pasca kematiannya. Sebagian manusia akan meninggal dalam keadaan insani, akan tetapi tak jarang yang meninggalkan dunia ini dengan keadaan layaknya seekor hewan. Dengan alasan inilah, Para Imam Ahlulbait memerintahkan memilih bentuk kematian yang baik dan bahagia.
Mula Sadra mengatakan bahwa, "Manusia adalah substansi-substansi yang berbeda dan mandiri", yakni setiap amal dan prilaku yang dilakukan oleh manusia akan membentuk hakikat dirinya. Tak satupun manusia memiliki kualitas yang sama dalam setiap prilaku dan perbuatannya, oleh karena itu tidak satupun manusia memiliki hakikat wujud yang sama dan sederajat.
Jika akhir seluruh perbuatan manusia sedemikian sensitifnya dan senantiasa beriringan dengan bahaya besar seperti ini, berarti membutuhkan kehati-hatianyang sangat cermat, dan selayaknyalah kita tidak melepaskan diri kita lalu mengorbankan diri kita pada hal-hal yang kabur, kehidupan yang kosong, penuh khayalan, tipuan, penampakan lahiriah dan jahil terhadap hakikat eksistensi alam. Poin yang penting untuk mendapatkan perhatian adalah bahwa hendaklah manusia mengetahui hakikat dirinya. Di manakah tempat ia berada? Bagaimanakah melaksanakan kewajiban secara benar?
Kesempurnaan Tertinggi
Ibnu Sina mendefinisikan kesempurnaan manusia sebagai berikut, "Seorang arif yang berpengetahuan dan telah sampai pada tingkatan kesucian, ketika dia telah terlepas dari pengaruh materi yang dihasilkan karena berdampingan dengan badan dan telah berhasil menjauhkan diri dari keterikatannya, dia akan berjalan dengan ikhlas dan suci ke arah alam qudus dan akan bersuluk bersama dengan kecintaan abadi pada tingkatan tertinggi kesempurnaan, dan akan merasakan kelezatan-kelezatan yang lebih tinggi dari seluruh kelezatan, sebagaimana yang telah kami singgung pada pembahasan sebelumnya. Jangan menyangka bahwa kelezatan-kelezatan semacam ini tidak akan mungkin dirasakan di alam materi dan kita akan tetap tidak mampu memilikinya hingga jiwa tetap berada di tubuh, ketahuilah bahwa mereka yang telah sampai pada alam suci non-materi, alam akal, dan telah menyaksikan alam jabarut telah menyaksikan jamaliyah Ilahi dan mengecap tingkatan tertinggi kelezatan tersebut, karena meskipun mereka masih terkait dengan badan dan jasmani akan tetapi hati mereka tidak disibukkan oleh usuran dunia dan tidak terpengaruh oleh, penyaksian-penyaksian jamaliyah alam qudus tersebut telah membuat mereka menolehkan muka dari segala sesuatu".[5]
Imam Husein As pada hari Asyura, setelah mengucapkan kata perpisahan dengan para perempuan Ahlulbait dan anak-anak, langsung menuju ke medan perang seakan tidak pernah melihat peristiwa sebelumnya dan seakan telinganya tidak mendengar jeritan dan teriakan para perempuan dan anak-anak, hal ini karena beliau adalah seorang sosok yang mempunyai hubungan erat dengan alam malakuti dan telah tenggelam dalam kecintaan alam jabarut sehingga seakan telah lalai dari segala sesuatu selain Allah.
Almarhum Ayatullah Bahauddin menukilkan dengan berkata, ketika Imam Khomeni Ra datang ke kota Qom ia mendatangi rumahku. Di sana beliau berkata, Aku merasakan segala sesuatu berada di telapak tanganku dan aku berada digenggaman kodrat Ilahi. Lalu Ayatullah Bahauddin menambahkan bahwa kami juga melihat gerak dan diamnya sosok agung ini seluruhnya Ilahi dan apa yang beliau katakan adalah benar.
Ya, apabila cahaya dari malakut alam memancar kepada wali Allah, maka dalam sesaat api akan melahap keterikatan dunia dan membakar seluruh akar-akar pengaruh dunia serta akan mengubah selera manusia terhadap lahiriah-lahiriah dunia menjadi pahit dan akan mengarahkannya keharibaan Ilahi. Tentunya mereka juga memanfaatkan aspek-aspek duniawi akan tetapi bukan karena kebergantungannya padanya, melainkan karena dunia merupakan media gerak ke arah yang yang lebih tinggi dan seluruh dimensi-dimensi dunia ini harus kita manfaatkan untuk mencapai tujuan yang lebih suci dan tinggi.
Keburukan dalam Kehidupan Manusia
Pada masalah ini ada beberapa hal yang perlu dibahas, yaitu:
Pertama, apakah keburukan terdapat di alam?
Kedua, apabila keburukan terdapat di alam, bagaimana hal ini bisa terpancar dari Allah yang merupakan Sumber Kebaikan?
Ketiga, apabila terdapat keburukan di alam, lalu apakah perannya dalam mekanisme kehidupan manusia?
Pembahasan pertama, keburukan mutlak sama sekali tidak terdapat di alam, melainkan apa yang bisa dikenali dan disebutkan sebagai keburukan adalah peristiwa yang merupakan kemestian alami dari dunia materi ini, realitas di alam ini saling berbenturan dimana kadangkala keberadaan yang satu menuntut ketiadaan yang lainnya, meskipun keberadaan keduanya akan membawa ribuan pengaruh yang bermanfaat, dan mungkin bisa dikatakan bahwa dengan ketiadaan keduanya akan begitu banyak kerugian yang akan dirasakan oleh manusia.
Sebagai contoh, api meskipun kadangkala mampu melahap rumah dan fasilitas hidup lainnya, akan tetapi kita mengetahui bahwa kehidupan manusia tidak akan bisa bertahan tanpa adanya api, karena api merupakan kebutuhan prinsipil dalam kehidupan manusia. Jadi, kita tidak bisa mengatakan api sebagai sesuatu yang buruk secara mutlak, meskipun banyak kejadian-kejadian yang menghikayatkan bahwa api mampu melahap dan membakar bahkan kadangkala lebih dari satu kota dalam satu waktu sekaligus. Demikian pula halnya dengan air, tanah, angin, dan sebagainya, bisa jadi merupakan sumber peristiwa-peristiwa yang mengerikan, akan tetapi tidak satupun dari realitas alam ini yang buruk mutlak.
Penjelasan kedua, dengan melihat penjelasan pertama maka jawaban untuk persoalan kedua akan menjadi jelas. Tuhan mewujudkan api, tanah, air, dan sumber-sumber alam lainnya tidak lain sebagai rahmat dan kemuliaan-Nya, sedemikian hingga apabila unsur-unsur alam tersebut tidak tercipta, maka realitas yang bernama alam dunia tidak akan pernah terwujud secara eksternal.
Penjelasan ketiga, Allah swt telah menciptakan alam dunia ini sedemikian rupa dimana dasar penciptaannya terletak pada adanya saling benturan dan pertempuran. Dunia ini begitu sempit dan kecil, dan Allah menciptakan dunia ini sebagai kehidupan yang sulit bagi manusia untuk memberikan pemahaman kepadanya bahwa dunia ini bukanlah tempat kehidupan abadi, sebagaimana sabda Amirul Mukminin Imam Ali As dalam Nahjul Balaghah, "Sesungguhnya Aku menciptakanmu untuk akhirat bukan untuk dunia"
Sesungguhnya manusialah yang harus belajar dari adanya konflik-konflik, dan memerangi seluruh kesulitan dan berdiri tegak dalam menghadapi benturan-benturan yang menghadangnya, harus senantiasa tinggal pada batas garis yang lurus dan membentuk dirinya dengan usaha untuk tetap bertahan. Tidak seharusnya dia menyerah pada gelombang badai yang menyerang dari dalam dan dari luar manusia, dan pertahanan laksana gunung agung dalam kepribadian manusialah yang seharusnya menampar gelombang tersebut untuk mengembalikannya pada kedudukannya semua dan dia semantiasa tegak dan berdiri di atas kakinya dan menambah kekuatan dan keagungannya.
Dia harus bersyukur dan memuji Allah swt yang telah memberikan taufik-Nya dengan segala kelebihan-kelebihannya dan mengetahui kedudukannya dan tidak menyerah pada gelombang yang hangar bingar yang menampakkan diri pada permukaan eksternal dalam mekanisme keberadaannya, melainkan dia mengetahui kedalaman samudra yang sangat tenang dan menyerahkan ketenangan hatinya kepadanya dan dia akan mengubah dirinya menjadi lebih agung dari samudera dan lebih kokoh dari gunung-gunung, bahkan tinggi dari langit-langit. Dan konflik-konflik inilah yang akan membuat dan membentuk manusia semakin kuat dan memiliki peran sebagai pembentuk yang abadi.
Konklusi Makrifat Jiwa
Dalam mekanisme penciptaan, setiap maujud senantiasa berhadapan dengan hidayah dan petunjuk yang beragam dimana kelanjutannya adalah gerak menuju ke arah tujuan dan maksud yang telah tertentu. Gerak dan petunjuk ini, begitu cermatnya sehingga setiap ilmuwan yang mempunyai spesialisasi dalam sebuah bidang khusus, dengan pandangannya yang cermat terhadap tema-tema spesialisasinya akan mampu menganalisa garis geraknya, dan dia akan mengamatinya dengan sangat teliti dari tahapan awal hingga tujuan terakhir, kemudian akan menyimpulkan dengan baik bahwa hidayah takwini (tata-cipta) Ilahi, melingkupi setiap detik dari langkah-langkahnya dan memenuhi seluruh partikel-partikel wujudnya.
Tiga masalah penting, gerak, hidayah, dan spesifikasi telah ditentukan untuk seluruh maujud dan makhluk-makhluk dunia penciptaan. Almarhum Alamah Thabathabai[6] sepakat bahwa setiap gerak dari yang kecil hingga yang sangat besar dari mekanisme eksistensi, apabila diperhadapkan dengan titik tujuannya seakan telah terdapat garis yang terlukis disana, dan setiap manusia yang berfikir, mampu mengantisipasi dari permulaan setiap maujud hingga batas garis akhirnya. Sebagaimana yang telah kami katakan sebelumnya, Allah swt telah menciptakan mekanisme mendetail ini dalam bentuk kecil maupun besar, dan hidayah itu sendiri bertanggung jawab terhadap lingkaran wujud. Al-Quran dalam penjelasannya mengenai masalah ini berfirman, "Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk"[7] dan juga berfirman, "Musa berkata: "Tuhan Kami ialah (tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk"[8], dan Dia juga menciptakan paling baiknya bentuk, lalu Dia memberikan hidayah kepada seluruhnya dalam garis yang teratur. Ustadz Allamah Thabathabai dalam tafsir al-Mizan, menjabarkan tema yang sama di bawah ayat tersebut dengan mengatakan bahwa dunia penciptaan merupakan paling baiknya mekanisme dan berada dalam kepengaturan Ilahi, tidak ada sesuatupun yang akan terwujud tanpa adanya tujuan dan maksud dan setiap gerak akan berjalan ke arah kesempurnaan dengan perhitungan yang khusus, sebagaimana yang difirmankan dalam al-Quran, "Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarnya".[9]
Ya, ini merupakan kaidah yang berlaku di antara seluruh eksistensi dan manusia pun tidak terkecualikan dari kaidah agung ini, bahkan bisa dikatakan bahwa mekanisme struktur manusia memiliki kelebihan yang menakjubkan dimana hal ini telah disusun dan dibentuk untuk bergerak ke derajat dan tujuan tertinggi, sebuah tujuan yang tak ada satu eksistensi yang mampu bergerak ke arahnya kecuali eksistensi manusia yang luar biasa ini.
Banyak hadits dan ayat-ayat yang memperkenalkan bahwa tujuan dan maksud penciptaan manusia berada pada tingkatan paling tinggi dan paling menakjubkan dari segala keberadaan, sebuah tujuan yang sesuai dengan kualitas penciptaan manusia. Pada hari penciptaannya, malaikat diperintahkan untuk bersujud kepadanya, seakan para malaikat pada permulaannya hanya memperhatikan dimensi kemateriannya, mereka melihat manusia tidak layak untuk diciptakan, oleh karena itu mereka berkata kepada Allah, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"[10]. Mereka tidak memperhatikan dimensi malakuti manusia yang "Dan Aku tiupkan ke dalamnya ruh", dan mereka tidak mengetahui bahwa manusia adalah sebuah eksistensi yang dalam penciptaannya terdapat interfensi dari alam materi hingga alam malakut, dari asfalus-safilin hingga a'la 'aliyyin dan aspek malakutinya bersumber dari ruh Ilahi.
Manusia merupakan percampuran dari seluruh hakikat alam yang berlainan, mulai dari tahapan materi pertama hingga derajat tertinggi malakuti berbaur di dalam dirinya, yaitu dia berjalan dari materi pertama hingga tingkatan tumbuhan, dan dari alam hewan hingga kesempurnaan insani, semuanya menyatu dalam wujudnya dan dia mengetahui seluruh informasi alam. Sementara eksistensi-eksistensi lain tidaklah demikian.
Dengan alasan inilah, sehingga manusia mampu menjadi pengajar para malaikat dan kita melihat bahwa al-Quran menjelaskan tentang kelemahan malaikat serta pengakuan mereka terhadap ketidaktahuan mereka, dan para malaikat mengatakan, "Mereka menjawab: "Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana"[11], dengan demikian mereka berkewajiban bersujud di hadapan manusia, dan malaikat yang menemukan kebersatuan dengan jiwa manusia mendapatkan ilmu pengetahuan dan kesempurnaan yang begitu banyak. Manusia yang berada dalam tingkatan pertumbuhannya pun melakukan hubungannya dengan malaikat non-materi dan bisa jadi malah akan bisa melampauinya.
Meskipun manusia memiliki kedudukan tinggi dan agung, akan tetapi perjalanan geraknya tidak pernah tanpa penghalang, para setan duduk manis untuk menggoda manusia dan mendorongnya ke arah jurang yang terjal. Dia berusaha dengan usaha penuh untuk menghancurkan dan menggagalkan manusia. Oleh karena itu, manusia dalam sepanjang kehidupannya, berada dalam sebuah medan perlawanan yang riil, dan tentunya dalam pergumulan dan perlawanan inilah akan tersedia media bagi pertumbuhan manusia, karena jika hanya ada gerak satu arah dan tidak ada gerak ke arah yang berlawanan serta perjalanan yang bertentangan, maka pertumbuhan dan kesempurnaan tidak akan pernah terwujud. Dengan alasan inilah sehingga Tuhan senantiasa mengingatkan kepada manusia dari makar dan tipuan musuh dan penggoda manusia ini, dan menyarankan kepada mereka untuk memusatkan kekuatan dan konsentrasinya dalam geraknya menuju mekanisme alam malakuti dan alam suci Ilahi. Hindarkan diri kalian dari pengaruh materialisme. Jangan jual diri kalian dengan kelezatan-kelezatan inderawi. Letakkan seluruh fakultas dan kecenderungan kalian untuk mencapai kesempurnaan, dan dalam perjalanan ini jangan sekali-sekali berhenti pada satu derajat.
Allah Swt mendorong manusia untuk melintasi perjalanan ini dan memberi janji-janji yang agung kepada mereka, dan berfirman, "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main, dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui"[12].
Pada ayat yang lain Alllah Swt berfirman, "Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai Balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan"[13].
Jika sebagian dari kelezatan-kelezatan batin, lebih penting dan lebih diprioritaskan dari syahwat, perut, dan seluruh instink, maka yakin bahwa kelezatan-kelezatan malakuti pasti tidak akan bisa dikomparasikan dengan kelezatan-kelezatan material. Para psikolog modern pun membahas sebagian dari masalah ini dan mengatakan bahwa antara kelezatan-kelezatan jasmani dan jiwa terdapat perbedaan yang sangat tajam. Di antaranya adalah bahwa kelezatan-kelezatan jasmani, berkaitan dengan anggota-anggota badan tertentu, misalnya berhubungan dengan penglihatan, pendengaran atau penciuman, akan tetapi kelezatan-kelezatan ruh tidak seperti ini, kelezatan jenis ini lebih bersifat mencakup dan meliputi seluruh wujud manusia. Seperti kelezatan seorang ilmuwan setelah menemukan masalah-masalah ilmiah.
Selain itu, kelezatan jasmani, membutuhkan penggerak dari luar, seperti pemandangan yang indah, suara yang merdu, dan …, akan tetapi kelezatan ruh, muncul dari persepsi internal manusia, seperti pemahaman masalah ilmiah atau perasaan menang. Yang lainnya adalah, kelezatan-kelezatan inderawi seperti perasa, pendengaran, dan penglihatan tidak akan bertahan lama dan akan cepat mengalami kerusakan, akan tetapi kelezatan ruh bertahan lama. Sebagaimana sakit-sakit jasmani yang bisa disembuhkan, akan tetapi penyakit ruh tidak dengan mudah bisa disembuhkan. Sebagaimana dikatakan bahwa luka yang disebabkan oleh lidah lebih dalam dari luka yang disebabkan oleh pedang.
Jadi, menjadi jelas bahwa selain kelezatan-kelezatan jasmani, terdapat kelezatan-kelezatan lain yang lebih kuat, yang tak lain adalah kelezatan-kelezatan ruh dan jiwa. Sekarang bisa diketahui bahwa apabila kelezatan-kelezatan akal ini dimanfaatkan, maka hasilnya sama sekali tidak bisa dikomparasikan dengan kelezatan-kelezatan jasmani dan khayalan. Adalah sama sekali tidak benar pernyataan para materialistis yang mengatakan bahwa orang yang tidak terpenuhi kebutuhan makan, tidur, dan instinknya maka dia adalah orang yang malang dan tidak beruntung. Apakah kelezatan maknawi, spiritual, dan Ilahi yang dimiliki oleh para malaikat bisa dibandingkan dengan kelezatan-kelezatan rendah binatang? Apakah persepsi dari tingkatan syuhud, sifat, dan asma Tuhan bisa diperhadapkan dengan rasa segenggam gula, sepotong roti, atau pemandangan yang indah? Tidak sama sekali. Karena perbedaan keduanya terletak dari tingkatan hewan hingga manusia sempurna yang lebih mempunyai kedudukan lebih tinggi dari para malaikat. Apabila seseorang kebingungan dalam batasan ini, maka dia telah keluar dari fitrah insani. Pada dasarnya harus dikatakan bahwa perbedaan antara kelezatan yang satu dengan yang lainnya tergantung pada kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing. Kelezatan yang dihasilkan dari mengunyah segenggam gula atau sepotong makanan yang lezat, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan kelezatan yang dihasilkan dari penemuan atas sebuah masalah-masalah ilmiah atau penyaksian malakuti, syuhud, atau interaksi dengan asma dan sifat-sifat Ilahi.
Oleh karena itu, manusia sempurna yang telah terbimbing, terhidayahi dan bergerak secara lurus dan istiqomah, tidak lain sebagaimana yang telah diisyarahkan oleh Ibnu Sina dalam bab ke delapan kitab Isyarat, yang mengatakan, "Kesempurnaan mutlak manusia terletak pada pancaran manifestasi suci Tuhan di dalam dirinya dan dia tetap dalam kesempurnaan kemuliaan dan kelezatan Ilahi dengan kebersamaan Tuhan".[14]
Catatan Penutup
Ilmu dan pengetahuan yang tanpa diiringi dengan pengamalan atasnya tidak akan terlalu bermanfaat bagi manusia. Manusia yang menyimpan banyak ilmu dan telah menjadi sebuah perpustakaan luas yang menyimpan ratusan ilmu dan pengetahuan, apabila seluruh ilmu itu belum menyatu dengan hakikat manusia, maka ratusan ilmu itu tidak akan mampu menjaga manusia dari kesalahan dan kekeliruan. Pemilik ilmu-ilmu ini tak ubahnya seperti masyarakat awam, kepribadiannya bukan kepribadian orang yang berilmu, karena ilmu-ilmu itu tidak menyatu dengan jiwanya, ilmu-ilmu itu hanya merupakan kumpulan formulasi yang tersimpan dan terkumpul di dalam benak dan ingatannya.
Ketika seorang alim memanfaatkan ilmunya dan menjadikan ilmu itu sebagai makanan wujudnya sehingga menyatu dengan hakikat jiwanya, maka sesungguhnya ia telah membentuk dirinya sebagai pribadi yang berilmu. Maka seluruh gerak dan diam orang semacam ini menunjukkan pada keilmuannya, dan makan, tidur, berjalan, bercakap, dan seluruh perilakunya, berbeda dengan orang awam. Hakikat wujudnya adalah ilmu, sebagaimana yang dikatakan oleh para filosof, "Jiwa manusia telah menyatu dan meliputi seluruh indera lahiriah dan indera batiniah yang dimilikinya, jiwanya telah mencakup alam akal, alam khayal, dan alam materi dan mampu mengontrol seluruh kecenderungan-kecenderungan wujudnya. Sekarang karena ia telah menjadi menusia hakiki, maka kelezatan akal tidak hanya dirasakan pada wilayah indera tertentu, tetapi kelezatan akal ini telah meliputi seluruh wujudnya. Dengan demikian, wujud manusia ini telah menyatu dengan ilmu, akal, dan seluruh kesempurnaan. Pada tahapan ini, sosok manusia sempurna ini akan terlindung dari segala keburukan dunia ini dan tidak akan terjebak dengan kemewahan dan tipu dayanya. Dia menjalani kehidupannya dengan tenang, bahagia, dan tidak merasakan sedikitpun kekhawatiran.
Ibnu Sina dalam kitab Isyarat mengatakan, "Jiwanya telah disibukkan dengan alam suci malakuti dan seakan-akan ia tidak berada di alam materi lagi dan pengaruh-pengaruh duniawi telah menghilang darinya". Kemudian ibnu Sina melanjutkan, "Dia memiliki wajah yang riang, lapang, dan senantiasa tersenyum, karena hatinya telah tertambat pada Tuhan dan dia melihat segala sesuatu sebagai manifestasi Tuhan". Tentu saja apa yang dikatakan oleh filosof agung ini merupakan sebuah hikayat yang berhubungan dengan alam non-materi dan mustahil terkait dengan alam materi ini. Apa yang mungkin dicapai di alam materi ini, hanyalah gambaran-gambaran dari hakikat, makrifat-makrifat, dan realitas-realitas alam tinggi non-materi yang didapat dari manusia yang telah melakukan perjalanan spiritual (seir suluk). Mereka yang telah memilih alam materi sebagai tempat tinggalnya dan tidak terlepas dari pengaruhnya, tidak akan mampu melihat manifestasi dan tajalii Tuhan di balik benda-benda yang ada di alam ini. Penyaksian manifestasi Ilahi ini menuntut kesucian jiwa dari segala pengaruh materi. Realitas Suci tak berhingga itu hanya dapat "ditampung" dalam hati mukmin yang telah disucikan dari segala realitas wujud selain Wajah Suci Tuhan.
D. Pengenalan Manusia Perspektif Islam
Mukadimah
Para filosof Islam menyepakati bahwa manusa merupakan hasil penciptaan yang paling sempurna. Dia memiliki seluruh kesempurnaan dan seluruh tahapan maujud. Yaitu di dalam maujud ini ditemukan seluruh kesempurnaan dari alam unsur hingga alam non-materi (mujarrad) dan dengan ibarat lain, substansi manusia merupakan cermin dan gambaran dari seluruh tahapan eksistensi. Dia juga memiliki seluruh kesempurnaan alam natural, sebagaimana bisa dikatakan:
1. Seluruh unsur-unsur yang merupakan pembentuk seluruh substansi maujud beraktifitas di dalam badan manusia;
2. Contoh yang terdapat di dalam mekanisme alam natural dari yang bersifat empiris, terbagi, dan terkomposisi, aktif di dalam tubuh manusia;
3. Manusia memiliki seluruh kesempurnaan botani. Yaitu apa yang terdapat di dalam mekanisme botani seperti berkembang, tumbuh, penyerapan, dan pencernaan nutrisi, di dalam wujud manusia muncul dalam bentuk yang lebih sempurna dan lebih mendetail. Para ilmuwan alam Islam mengatakan bahwa tumbuhan memiliki rangkaian fakultas khusus dalam dirinya, yang seluruhnya adalah sebagai berikut: 1. Fakultas tumbuh, 2. Fakultas mencerna, 3. Fakultas menarik, 4. Fakultas menolak, dan 5. Fakultas penyerapan. Dalam fakultas penyerapan terdapat empat fakultas lainnya, yaitu: a. alat pencernaan, b. liver, c. kapiler, d. organ tubuh. Setelah mengalami proses pencernaan di dalam alat pencernaan, makanan akan muncul dalam bentuk dimana melalui enzim (kelenjar yang terdapat pada alat pencernaan) yang bisa dicerna dan setelah menyerahkannya kepada liver dan akan merubahnya menjadi darah, pada tahapan ketiga akan mengalir ke dalam kapiler, dan pada tahapan keempat akan berbentuk dalam nutrisi untuk perbaikan di dalam perangkat organ. Fakultas lain, 6. Fakultas kawin yang merupakan pembentuk nutfah, 7. Perangkat berkembang biak, 8. Perangkat pembentuk.
Fakultas Hewani
Manusia juga memiliki kesempurnaan hewani. Fakultas-fakultas hewani ini yang terdapat pada seluruh tahapan wujud hewan secara sempurna juga ada dalam diri manusia. Fakultas-fakultas tersebut antara lain: 1. ruh bukhari (berbentuk seperti uap), 2. ruh nafsani (psychic spirit), 3. ruh tabiat (natural soul), dan 4. ruh hewani (animal spirit).
Fakultas Insani
Secara umum manusia mempunyai dua fakultas, yaitu fakultas eksternal dan internal. Lalu fakultas eksternal dibagi lagi menjadi lima bagian: penglihatan, pendengaran, perasa, penciuman, dan peraba. Tentunya para psikolog kontemporer menambahkan indera keenam dan indera tersebut adalah indera yang bertanggung jawab terhadap perbandingan ukuran. Sementara fakultas internal manusia antara lain:
1. Indera musytarak (common sense), indera ini bisa diibaratkan sebagaimana kolam kecil dimana sungai-sungai kecil mengalir ke arahnya dan seluruh air berkumpul di dalam kolam kecil tersebut, yaitu seluruh bentuk-bentuk yang ditransmisikan ke otak oleh panca indera di atas berkumpul di indera pusat ini;
2. Fakultas khayal (representative faculty), fakultas ini merupakan penyimpan seluruh bentuk-bentuk dan gudang seluruh gambaran. Salah satu keistimewaan dari indera khayal ini adalah hanya memahami bentuk-bentuk partikular saja;
3. Fakultas estimasi (wahm, estimative faculty) , yang mempersepsikan makna-makna partikular, seperti makna persahabatan, permusuhan, dan lain sebagainya;
4. Fakultas hafalan (faculty of memory), fakultas ini yang mengarsipkan dan merekam seluruh bentuk-bentuk dan makna-makna partikular dan setelah berlangsungnya waktu, fakultas ini mampu menghadirkan kembali bentuk-bentuk dan makna-makna tersebut;
5. Fakultas imajinasi (mutakhayyilah, imagingal faculty), fakultas ini mampu mengkomposisikan atau memisahkan makna-makna dan bentuk-bentuk yang berbeda, dan dari pemisahan serta pengkomposisian tersebut akan memunculkan begitu banyak realitas lain;
6. Fakultas akal dan rasio (faculty intellectual), fakultas ini yang mempersepsikan makna-makna universal;
7. Fakultas berpikir (mufakkirah, faculty of thought), dengan fakultas ini bentuk-bentuk rasionalitas menjadi realitas yang empirik dan memiliki kemampuan membentuk argumentasi dan burhan untuk persoalan-persoalan yang tak jelas.
Manusia dalam Al-Quran
Al-Quran secara tegas mengisyaratkan terhadap dua dimensi manusia yaitu dimensi materi (Sesungguhnya Aku menciptakan manusia dari tanah) dan dimensi non-materi (dan Aku tiupkan di dalamnya dari ruh-Ku), setelah itu untuk dimensi non-materi di dalam al-Quran diletakkan beberapa tingkatan dan derajat. Tingkatan pertama, "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur"[15]. Ini tak lain adalah tingkatan fakultas murni yang dalam lembaran wujud manusia belum sampai pada tahapan aktual, dan tidak ada sesuatupun yang dia ketahui. Akan tetapi untuk manusia ini, telah diletakkan fakultas yang tiada akhir yang mampu bergerak ke arah tak terbatas sehingga menjadi khalifah Tuhan di atas muka bumi. Berfirman, "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi"[16] Dari dari hal ini, di antara seluruh ciptaan alam, Tuhan memberikan kemulian khusus dan kedudukan yang istimewa, berfirman, "Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam …"[17] Demikianlah al-Quran menganggap bahwa struktur wujud manusia merupakan struktur yang terbaik dari seluruh struktur ciptaan-Nya, dan Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya".[18] Tuhan senantiasa memberitahukan tentang kemuliaan dan ketinggian manusia atas seluruh makhluk, dan hendaklah manusia mengetahui bahwa terdapat nilai yang sangat berharga dalam dirinya, dimana dunia dan seluruh isinya tidak ada harganya sama sekali buatnya. Tuhan memberikan kerendahan derajad kepada orang-orang yang hanya menumpahkan perhatiannya kepada dunia ini, kepada Nabi-Nya Allah berfirman, "Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi"[19].
Poin yang menarik di sini adalah bahwa sebenarnya dunia tidaklah kecil dan tak berharga, melainkan manusia telah sampai pada batasan kemuliaan kesuciannya sehingga menurut pandangan Tuhan, seluruhnya adalah untuk manusia dan tidak ada sesuatupun yang layak menduduki ketinggian nilai manusia dan menusia tak layak menjual dirinya kepada selain-Nya. Mengenai hal ini Allah berfirman, "Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu"[20]. Dalam al-Quran, jiwa manusia merupakan dimensi permanen dan abadi yang setelah hancurnya badan di dalam kubur masih tetap hidup dan akan melewati kehidupan barzakhnya, "Dan di hadapan mereka ada barzakh, sampai pada hari mereka dibangkitkan"[21], dan pada ayat lainnya berfirman, "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki"[22]. Dalam al-Quran difirmankan bahwa hari ketika seluruh manusia dibangkitkan, pada masing-masing mereka akan diperintahkan untuk membacakan lembaran jiwanya sendiri, Allah berfirman, "Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu"[23]. Tuhan juga meletakkan manusia sebagai sebuah hakikat yang abadi dan berfirman bahwa manusia setelah hari perhitungan akan menjalani kehidupan abadinya. Di dalam al-Quran terdapat ayat yang berbunyi, "Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran) mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya"[24].
Demikian juga, mengenai orang-orang yang berbuat baik, Allah berfirman, "Mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka"[25]. Al-Quran pun meletakkan tingkatan dan derajat untuk jiwa non-materi manusia, tingkatan pertamanya adalah jiwa ammarah yang terkadang jiwa berbuat baik dan buruk, kekuatan ini akan menjadi aktual dan bertindak untuk memenuhi keinginannya dan apapun yang diinginkannya dia akan berusaha untuk ke arahnya. Kadangkala manusia terjerumus ke dalam keinginan palsu dan senantiasa mengikuti apa yang menjadi keinginannya dan memalingkan diri hal-hal yang tak tersirat. Oleh karena itu, al-Quran menukilkan perkataan Nabi Yusuf as yang mengatakan, "Sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku"[26]. Apabila manusia menempatkan dirinya pada wilayah penyembahan Tuhan, maka perintah Tuhan akan meliputi dan menapasi realitas kehidupannya dan jiwa manusia akan tersinari dengan iman yang bergerak secara rasional dan dalam naungan Ilahi. Pada tahapan ini, jiwa manusia berada pada derajat jiwa lawwamah yang dengannya ia dapat melihat kejelekan dan keburukan dengan jelas, dan apabila manusia terjerumus dalam dosa pada tingkatan ini, maka dia akan sangat terhina dan tersiksa karena menentang hukum fitrahnya.
Al-Quran sedemikian memperhatikan tingkatan jiwa lawwamah ini sehingga bersumpah, "Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)"[27] yaitu bahwa jiwa lawwamah telah diletakkan di sisi hari kiamat dan terdapat dua sumpah di dalamnya. Tentunya terdapat kesesuaian yang sangat antara hari kiamat dengan jiwa lawwamah.
Salah satu karakteristik dari jiwa lawwamah adalah penentuannya terhadap baik dan buruk dimana Tuhan mengilhami nafsu ini supaya mengetahui tolok ukur dari keburukan, kebaikan, dan keindahan prilaku. Masalah ini merupakan hal paling rumit dalam persoalan filsafat akhlak khususnya di kalangan teolog dan pemikir barat.
Setelah tahapan ini, manusia kan sampai pada jiwa mutmainnah (tenang) yang merupakan paling tingginya kedudukan jiwa dimana para manusia sempurna berjalan ke arah ini. Berkaitan dengan jiwa suci dan mulia ini, dalam al-Quran Allah Swt berfirman, "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya"[28]. Mereka ini adalah orang-orang yang dalam seluruh kehidupannya, tidak melihat adanya sedikitpun kerugian. Apapun yang terjadi atau akan terjadi dan segala takdir yang telah tertulis seluruhnya berada di bawah pengaturan Sang Hakim yang tidak menginginkan sesuatupun selain kebaikan, mashlahat dan nikmat. Jiwa mutmainnah memahami dan mengetahui bahwa seluruh keteraturan dan mekanisme alam berada di bawah lingkup Tuhan dimana tidak ada sebutirpun yang akan berpindah dari tempatnya kecuali dengan iradah dan kehendak-Nya. Dari sinilah, sehingga para pesuluk senantiasa ridha dan bahagia dengan takdir-Nya.
Catatan Kaki:
[1] . Syarh Isyarat wa Tanbihat, Khawjah Nashiruddin Thusi, bab delapan, hal. 350.
[2] . Qs. Al-Baqarah:7.
[3] . Ikhtishash Syeikh al-Mufid, hal. 313; Mustadrak al-Wasail, jilid 1, hal. 157.
[4] . Qs. Al-Mudatsir: 38.
[5] . Syarh al-Isyarat wa at-Tanbihat, Khawjah Nashiruddin Thusi, jilid 3, hal. 353.
[6] . Rujuklah: Al-Mizan, jilid 14, hal. 166-167.
[7] . Qs. Al-A'la: 3.
[8] . Qs. Thahaa: 50.
[9] . Qs. Yasiin: 40.
[10] . Qs. Al-Baqarah: 30.
[11] . Qs. Al-Baqarah: 32.
[12] . Qs. Al-Ankabut: 64.
[13] . Qs. As-Sajdah: 17.
[14] . Syarh al-Isyarat wa at-Tanbihat, jilid 3, hal. 345.
[15] . Qs. An-Nahl: 78.
[16] . Qs. Al-Baqarah: 30.
[17] . Qs. Al-Israa: 70
[18] . Qs. At-Tiin: 4.
[19] . Qs. An-Najm: 29.
[20] . Qs. Al-Baqarah: 29.
[21] . Qs. Al-Mukminuun: 100.
[22] . Qs. Ali-Imran: 169.
[23] . Qs. Al-Israa: 14.
[24] . Qs. Al-Baqarah: 257.
[25] . Qs. Anbiyaa: 102.
[26] . Qs. Yusuf: 53.
[27] . Qs. Al-Qiyamah: 1-2.
[28] . Qs. Al-Fajr: 27-28.
(Al-Hassanain/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Post a Comment
mohon gunakan email