Selama periode Perang Dingin, Suriah termasuk salah satu negara bulan bagi Uni Sovyet di kawasan Timur Tengah. Keluarga Asad memiliki hubungan dekat dengan Moskow. Hubungan dekat ini akhirnya mengizinkan Moskow membangun sebuah kamp militer di Tartus yang terletak di perairan Laut Mediterania. Kamp ini adalah satu-satunya kamp Uni Sovyet di perairan ini.
Pertanyaan yang muncul adalah apakah Rusia mempertahankan Asad hanya dengan alasan supaya kamp angkata lautnya di Tartus tidak runtuh?
Jawaban pertanyaan di atas negatif. Dalam perundingan yang telah dilakukan antara Moskow dan negara-negara Arab penentang Basyar Asad membuktikan bahwa Moskow bisa mempertahankan kamp militer Tartus. Akan tetapi, ini bukanlah seluruh peristiwa yang ada.
Sekarang ini, Moskow sedang menurunkan pasukan seragam hijau di tanah Suriah. Pesawat-pesawat pengangkut barang Rusia melalui langit Tehran dan Iraq untuk mencapai tanah Suriah.
Tehran pun mendukung tindakan Moskow di Suriah ini. Sepertinya, perang melawan kelompok teroris Daʻisy dengan model Barat telah mengalami kekalahan. Untuk itu, sekarang garis Timur harus memasuki medan perang ini secara lebih serius.
Dalam pada itu, lantaran banyak kepentingan bersama, Iran dan Rusia telah berubah menjadi dua negara sekutu secara natural. Tentu, negara-negara Arab dan Barat sangat tidak menyetujui hal ini.
Negara-negara Arab memang mengambil sikap dia dalam menghadapi Moskow. Akan tetapi, sikap diam ini sangat memiliki makna. Hal ini mungkin Moskow telah menjelaskan kebijakan Rusia pada saat bertemu dengan para petinggi Mesir dan Arab Saudi.
(Shabestan/ABNS)
Post a Comment
mohon gunakan email