Pesan Rahbar

Home » » Jangan Jadikan Kaum Buta Agama Sebagai Rujukan Akidahmu!

Jangan Jadikan Kaum Buta Agama Sebagai Rujukan Akidahmu!

Written By Unknown on Thursday, 3 March 2016 | 15:43:00


Dusta dan kebodohan adalah ciri khas pada mufti dan masyâikh Salafy Wahhâbi… Klaim-klaim palsu adalah senjata unggulan para pengawal mazhab kejahilan dan haus darah yang satu ini. Dan yang tidak kalah khasnya adalah “suci dan bersihnya” muka mereka dari rasa malu, sehingga tidak sedikit pun masuk dalam pertimbangan mereka bahwa dusta dan kepalsuan klaim mereka kelak akan terbongkar dan mereka akan dipermalukan. Rasa malu, al hayâ’u minal îmân/rasa malu itu sebagian dari iman. Tapi sayangnya, kata yang satu ini telah terhapus dari kamus besar mereka…. Sehingga sulit bagi mereka mengerti apa itu malu?

Mufti Besar Kerajaan Wahhâbi Arab Saudi; Abdul Aziz bin al Bâz adalah salah satu dari masyâikh Salafy Wahhâbi yang laling berani memamerkan kejahilan dan tidak pernah melek menatap cahaya kebenaran… Ia hanya hidup dalam gelapnya kebutaan akidah dan pemikiran!

Dalam salah satu fatwanya yang sangat memalukan karena ia memamerkan puncak kejahilan dan kebutaan pemikirannya, di samping juga membuktikan kedegilan dan pengingkarannya kepada fakta-fakta akidah tak terbantahkan, Bin Bâz berfatwa demikian tentang Ta’wil:

إنّ تأويل النصوص الواردة في القران والسنة في صفات الله جلّ وعلا (يقول ابن باز على زعمه) هو خلاف ما أجمع عليه المسلمون من لدن الصحابة والتابعين ومن سار على نهجهم إلى يومنا هذا

“Sesungguhnya menakwil nash-nash yang datang dalam Al Qur’an dan Sunnah tentang sifat-sifat Allah -Jalla wa Alâ- adalah MENYALAHI APA-APA YANG DI IJMA’KAN KAUM MUSLIMIN SEJAK ZAMAN PARA SAHABAT, PARA TABI’ÎN DAN SEMUA YANG BERJALAN DI ATAS JALAN MEREKA HINGGA HARI INI.” (Fatwa dengan no. 19606, tanggal 24/4/1418H)


Abu Salafy:

Kami tidak mengerti Ijma’ apa yang sedang dinukil si Mufti agung Wahhábi yang satu ini?! Apakah ia buta dari melihat apa yang ditegaskan Imam Nawawi dalam syarah Shahih Muslim menukil dari Qadhi ‘Iyâdh sebagaimana di bawah ini:

لا خلاف بين المسلمين قاطبةً فقيههم ومحدثهم ومتكلمهم ونظارهم ومقلدهم أن الظواهر الواردة بذكر الله تعالى في السماء كقوله تعالى : ” أأمنتم من في السماء ” ونحوه ليست على ظاهرها بل متأولة عند جميعهم. انتهى بحروفه.

“Tidak diperselisihkan di antara seluruh kaum Muslimin, baik para fukaha’, para muhaddis dan para pakar teologi Islam serta para peneliti maupun mukallid bahwa dzahir nash-nash yang datang menyebut Allah -Ta’alâ- di langit, seperti firman Allah: ” Apakah kalian merasa aman dari Tuhan yang di langit.” dan semisalnya bahwa maknanya bukan sesuai teks dzahirnya. MENURUT MEREKA SEMUA IA DITAKWIL.” (Baca Syarah Shahih Muslim, 5/24. Cet. Dàr al Fikr-Beirut)


Abu Salafy:

Ini Ijmâ’nya Ahlusunnah tentang tetapnya TAKWIL. Adapun ijma’ yang diklaim Bin Bâz tidak adanya takwil maka ia adalah ijmanya kaum Mujassimah Musyabbihah! Persis yang pernah dipekikkan oleh jongos Wahhabi yang bernama Firanda (dan telah kami bantah habis dalam blog ini: https://abusalafy.wordpress.com/?s=tuhan+tidak+dilangit)!
_______________________________
Perhatikanlah catatan Ini

1. Membongkar Kepalsuan Syubhat Ustadz Firanda Dalam Buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (1)
2. Membongkar Kepalsuan Syubhat Ustadz Firanda Dalam Buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (2)
3. Membongkar Kepalsuan Syubhat Ustadz Firanda Dalam Buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (3)
4. Membongkar Kepalsuan Syubhat Ustadz Firanda Dalam Buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (4)
5. Membongkar Kepalsuan Syubhat Ustadz Firanda Dalam Buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (5)
6.
7.
8.
9. Membongkar Kepalsuan Syubhat Ustadz Firanda Dalam Buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (9)

***

1. Membongkar Syubhat Kaum Mujassimah (1)
***

1. Tanggapan Atas Ustadz Firanda dalam buku: Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya (1) 
2. Tanggapan Atas Ustadz Firanda dalam buku: Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya (2)
3. Tanggapan Atas Ustadz Firanda dalam buku: Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya (3)
4. Tanggapan Atas Ustadz Firanda dalam buku: Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya (4)
5. Tanggapan Atas Ustadz Firanda dalam buku “Ketinggian Allah Di Atas Makhluk-Nya” (5)

_______________________________

Terlepas dari itu, anehnya Bin Bâz sendiri dalam kesempatan lain melakukan takwil terhadap ayat sifat! Perhatikan apa yang ia katakan -sebagaimana dimuat dalam majalah al Haj, edisi bulan Jumadil Ula tahun 1415 H., pada halaman:74. Ia menakwil ayat yang berbunyi:

و هو معكم اينما كنتم

“Dan Dia (Allah) bersama kalian di manapun kalian berada.”



Di sini Bin Bâz Mufti agung Wahhâbi menakwilkan kebersamaan Allah dengan hamba-hamba-Nya itu dengan pengetahuan-Nya!

Bukankah aneh sikap Bin Bâz kali ini?! Sedang meniru jejak siapa ia menakwil ayat sifat?! Sementara seluruh kaum. muslimin sejak masa para sahabat, tabi’în dan semua yang mengikuti jejak mereka hingga hari ini tidak ada yang menakwil! Tidak ada yang membenarkan takwil!


Di sini kami hanya mengingatkan teman-teman Salafy Wahhâbi hati-hati mengikuti orang buta dalam urusan agama! Masih banyak ulama yang melek agama mengapa harus memilih yang buta agama?!


Penutup

Terlepas dari itu semua kami hanya prihatin kepada nasib Mufti agung rujukan kaum Salafy Wahhâbi -yang hampir dinabikan ini- kelak di hari akhir, karena Allah telah berfirman dalam kitab suci-Nya -yang menurut beliau ayat-ayatnya tidak boleh ditakwil! Ia harus dimaknai apa adanya sesuai dengan dzahir nashnya:

و من كان في هذه اعمى فهو في الآخرة اعمى و أضل سبيلا

“Dan barang siapa di dunia ini ia BUTA maka di akhirat nanti ia juga BUTA dan lebih sesat jalannya.” (QS. Al Isra’; 72)

Maaf wahai Tuan Bin Bâz sesuai dengan fatwamu kami tidak berani manakwil ayat Ini! Maafkan kami!

Wassalam.

Sumber: Abusalafy

(Abu-salafy/ABNS)
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita:

Index »

KULINER

Index »

LIFESTYLE

Index »

KELUARGA

Index »

AL QURAN

Index »

SENI

Index »

SAINS - FILSAFAT DAN TEKNOLOGI

Index »

SEPUTAR AGAMA

Index »

OPINI

Index »

OPINI

Index »

MAKAM SUCI

Index »

PANDUAN BLOG

Index »

SENI