Pesan Rahbar

Home » » Menggali Rahasia Do'a Nabi khidir; Bab III: Merunduk di Hadapan-Nya

Menggali Rahasia Do'a Nabi khidir; Bab III: Merunduk di Hadapan-Nya

Written By Unknown on Thursday, 20 October 2016 | 22:26:00


Dan dengannya (kekutatan itu) merunduk segala sesuatu, dan dengannya pula merendah segala sesuatu.


Penafsiran Etimologis

Kata khushû’ (merunduk) sebagian besar digunakan untuk mengungkapakan suatu kondisi yang terdapat dalam hati kata ini juga digunakan untuk mengungkapakan kondisi yang sama pada segal sesuatu.

Sadangkan kata al-dzul memiliki arti merendah dan juga dapat diartikan menyerahkan leher atau memasrahkan diri. Namun, pengertian semacam ini (yang terakhir) cukup jarang digunakan tatkala segala sesuatu pada zatnya adalah miskin dan lemah, maka tidak salah jika kata itu diartikan dengan menyerahkan leher tersebut. Meskipun arti yang pertama (merendah) jauh lebih tepat.

Dalam pada itu seakan akan telah terjadi pengulangan kata merunduk dan merendah namun dalam pengulangan itu terdapat manfaat yang tersembunyi. Kita juga dapat menyaksikan dengan jelas adanya berbagai pengulangan kata dalam ayat al-Quran. Pengulangan sendiri sebetulnya bukanlah sesuatu yang membosankan; justru semakin memberikan (makna bagi) pendidikan akhlak.

Ya, pendidikan akhlak tidak akan memperoleh hasil (yang memadai) jika tidak dilakukan secara berulang-ulang. Doa sendiri merupakan pengulangan, namun tidak seperti pengulangan yang terjadi pada selainnya. Sebab, pengulangan dalam doa adalah pengulangan kata-kata kepada sang Kekasih, sang Penerima curahan dan ungkapan hati.

Oleh karena itu, pengulangan tersebut sama sekali tidak berarti pengulangan biasa. Jika seorang hamba mengucapkan, “Ya Allah” sebanyak 1.000 kali, maka itu bukan berarti pengulangan (biasa) yang membosankan. Ayat di bawah ini adalah sebuah argumen yang kuat untuk menjelaskan hakikat tersebut. Allah berfirman:

Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa, “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun-daunan) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.” (Thâhâ: 18)

(Di sini Nabi Musa as memberikan rincian tentang manfaat tongkatnya; sesuatu yang tidak diperlukan bagi Allah yang Maha Mengetahui,―peny.)


Syarah dan Penjelasan

Merunduk dan merendahnya berbagai benda kepada Allah Swt memiliki bermacam-macam arti:

1. Merunduk dan merendah takwînî (secara penciptaan). Ini telah kita bahas dan telah saya nyatakan bahwa Allah Swt adalah Mahamandiri; segala sesuatu selain Dia bersandar dan bergantung kepada-Nya.

2. Merunduk dan merendah ‘ubûdî (secara penghambaan).

Merunduk dan merendahkan diri ini, pabila (dilakukan) di hadapan Allah Swt, adalah sebuah kebanggaan, bahkan merupakan kebanggaan tertinggi dan teragung bagi seorang hamba. Dan ini merupakan tujuan dari penciptaan. Sedangkan meruduk dan merendahkan diri kepada selain Allah adalah sesuatu yang amat hina dan tercela. Oleh karena itu, Islam berulang kali mengeluarkan larangan untuk merunduk dan merendahkan diri di hadapan selain Allah.

Merunduk dan merendahan juga terdapat pada berbagai ciptaan-Nya. Allah Swt berfirman:

Semua yang berada di langit dan bumi, bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran-Nya). Dan Dialah yang Mahaperkasa lagi Mahabijak. (al-Hadîd: 1)

Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. (al-Jumu’ah: 1)

Penegasan tersebut senantiasa disebutkan secara berulang dalam ayat-ayat al-Quran; baik dalam bentuk kala-lampau (madhi) yang menunjukkan penegasan dan kejadian yang telah terjadi, maupun dalam bentuk kala-kini dan kala-akanan (mudhari’) yang menunjukkan adanya sebuah potensi penghambaan pada berbagai penciptaan. Allah berfirman:

Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersamanya (Daud). (Sabâ’: 10)

Dan tak ada satupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. (Isrâ’: 44).

Betapa indahnya ungkapan penyair ini:

Kami adalah mendengar, melihat, dan sadar
Atas kalian yang bukan muhrim, kami diam

Atas pendapat menyatakan bahwa tidak benar jika yang dimaksud dengan bertasbih itu adalah bertasbih secara takwînî (penciptaan). Jelas, perkataan dan pendapat semacam ini muncul lantaran kurangnya ketelitian orang yang mengeluarkan pendapat tersebut. Padahal, orang-orang yang memiliki kedekatan dengan Allah, mampu mengetahui dan menyaksikan dengan sangat jelas bentuk tasbih semua ciptaan itu, sebagaimana tercantum dalam firman Allah: Hai gunung- gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersamannya (Daud) dan dalam firman-Nya yang lain: tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Pendapat tersebut juga bertentangan dengan kedua ayat ini. Selain itu, tasbih takwînî merupakan hal yang amat jelas bagi pelajar pemula.

Ringkasnya, menurut pendapat dan filsafat Islam, berbagai ciptaan ini senatiasa bertasbih guna memuji kebesaran Allah. Benar bahwa manusia―yang segala sesuatu ini diciptakan untuk kepentingannya dan ia merupakan tujuan utama periciptaan ini serta layak untuk mendapatkan pujian dan sanjungan―dapat berubah mertjadi sosok yang menyimpang dari fitrahnya lantaran kelalaian, kecongkakan, dan kesombongannya, sehingga menjadi wujud nyata firman Allah ini:

Sesungguhnya binatang yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak menggunakan akal pikirannya. (al-Anfâl: 22)

Benar, ia memiliki lisan untuk mengucapkan tasbih, tetapi ia membisu. Ia memiliki telinga yang dapat mendengarkan tasbih, tetapi ia menuli. Dan ia memiliki mata yang dapat digunakan untuk melihat tanda-tanda keagungan Allah, tetapi ia membuta. Alhasil, ia memiliki hati, tetapi tidak merasakan (apa-apa), tak ubahnya binatang melata, bahkan lebih buruk lagi. Mengapa demikian? Sebab, binatang-binatang itu senantiasa bertasbih kepada Allah, sementara ia telah membisu―kita berlindung kepada Allah dari dosa yang paling buruk ini. Allah berfirman:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, merekamempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (al-A’râf: 179)

Sungguh malang manusia senacam ini, yang berbagai ciptaan dalam tubuhnya (anggota dan organ tubuhnya) senantiasa mengucapkan tasbih, tidak ubahnya seperti makhluk hidup―bukan hanya darah saja, namun seluruh anggota tubuhnya―sementara ia lalai akan semua itu.

Ya, (mereka) merunduk dan merendah secara paksa (jabrî), dalam artian bahwa itu merupakan sebuah aktivitas yang telah dipastikan dan dipaksakan, sehingga (mereka) akan menjalankan ketentuan tersebut. Dengan demikian, seluruh ciptaan yang ada di alam ini merunduk dan merendahkan diri dihadapan Allah; tidak akan melanggar dan menentang perintah yang telah digariskan serta ditentukan Allah atasnya. Allah berfirman:

...padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang ada di langit dan bumi, baik dengan suka rela maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan. (Âli Imrân: 83)

Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” keduanya menjawab, “Kami akan datang dengan suka hati.” (Fushshilat: 11)

Boleh jadi, kata dengan suka rela dan maupun terpaksa merupakan sebuan penegasan terhadap suatu perkara yang mau tidak mau harus dikerjakan. Buti mengenai hal itu adalah firman Allah Swt:

Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka rela (kemauan sendiri) taupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayang di waktu pagi dan petang hari. (al-Ra’d:15)

Lebih dari itu, dapat diambil kesimpulan bahwa sel-sel darah yang ada pada tubuh seorang Kafir yang membangkang tetap dapat berkembang dan hidup dengan baik. Berbagai organ pada tubuh orang tersebut tetap beraktivitas sebagaimana mestinya dari semuanya mau tidak mau harus menjalankan aktivitasnya masing-masing. Oleh karena itu. tidak ada perbedaan antara aktivitas organ tubuh yang ada pada diri Rasul saww dengan yang ada pada tubuh Abu Jahal yang terkutuk. Jika demikian, dapatkah kita katakan bahwa sel-sel yang ada pada tubuh kedua insan itu memiliki kedudukan yang sama persis dalam melakukan aktivitasnya? Sama sekali tidak mungkin seperti itu. [2]

Semua itu berkaitan dengan selain manusia. Adapun berkaitan dengan manusia, telah kami katakan bahwa manusia menjalankan aktivitasnya berdasarkan pada kebebasan dalam berkehendak. Oleh karena itu, jika ia menundukkan kepala di hadapan Allah Swt dan melaksanakan tugas serta kewajiban yang telah ditentukan Allah kepadanya, maka dengan kehendak dan kebebasannya itulah ia melakukan semua itu. Dan dengan kebebasan itu pula ia meraih perkembangan dan kesempurnaan. Namun, jika tidak merendahkan diri, tidak mematuhi, dan tidak menjalankan apa yang telah ditetapkan dan diwajibkan atas dirinya, maka di akhirat kelak ia akan menjadi hina dan tak berguna.

Betapa indah ungkapan yang menyatakan bahwa manusia itu diciptakan untuk merendah dan menghinakan diri di hadapan Allah Swt. Karenanya, jika ia tidak melaksanakan tujuan penciptaan dirinya, maka ia akan dijungkalkan ke dalam neraka Jahanam. Allah berfirman:

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan (pada saat itu) mereka dalam keadaan sejahtera. (al-Qalam: 42)

Selain itu, betapa banyak kehinaan dan kerendahan yang mereka rasakan di dunia ini. Dalam sejarah pun kita dapat menyaksikan orang-orang yang semacam itu. Misal, Namrud, Abrahah, bani Umayyah, bani Abbas, dan lain-lain.

Allah Swt adalah Mahasabar, tetapi nyawa Namrud dicabut dengan perantaraan seekor nyamuk dan Abrahah serta bala tentaranya dihancurkan dengan perantaraan binatang yang amat lemah. Begitu pula dengan berbagai pemerintahan lalim lainnya.


Referensi:

2. Maksudnya adalah bahwa sel-sel dan orang yang ada pada tubuh Abu Jahal yang terkutuk―seseorang yang membang kan terhadap perintah Allah―mau tidak mau harus menjalankan tugas dan fungsinya dalam tubuh. Sedangkan sel-sel dan orang yang ada dalam tubuh suci Rasul saww akan melakukan semua aktivitas dan tugasnya dengan penuh semangat tugas dan aktivitas sel serta orang dalam tubuh Abu Jahal hanya sebatas menjalankan ibadah dan melaksanakan kewajiban. Sementara aktivitas yang dijalankan oleh sel-sel dan organ dalam tubuh Rasul saww merupakan maqâm yang agung dan merupakan sebuah kemuliaan di sisi Allah.

(Sadeqin/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita:

Index »

KULINER

Index »

LIFESTYLE

Index »

KELUARGA

Index »

AL QURAN

Index »

SENI

Index »

SAINS - FILSAFAT DAN TEKNOLOGI

Index »

SEPUTAR AGAMA

Index »

OPINI

Index »

OPINI

Index »

MAKAM SUCI

Index »

PANDUAN BLOG

Index »

SENI