Pesan Rahbar

Home » » Menggali Rahasia Do'a Nabi khidir; Bab XVI: Menanggung Siksaan

Menggali Rahasia Do'a Nabi khidir; Bab XVI: Menanggung Siksaan

Written By Unknown on Thursday, 20 October 2016 | 20:37:00


Dan Engkau mengetahui kelemahanku dalam menanggung bencana, sedikit dari bencana dan siksa dunia serta kejelekan yang menimpa penghuninya, padahal semua bencana dan kejelekan itu singkat masanya, sebentar lalunya, (dan) pendek usianya.

Maka, apakah mungkin aku sanggup menanggung bencana akhirat dan kejelakan hari akhir, yang besar bencananya, yang panjang masanya, dan kekal menetapnya, serta tidak diringankan bagi orang yang menanggungnya ? Sebab semuanya tidak terjadi kecuali lantaran murka-Mu dan (karena) balasan dan amarah-Mu. Inilah yang bumi dan langit pun tak sanggup memikulnya. Wahai Tuanku, bagaimana mungkin aku (menanggungnya), padahal aku hamba-Mu yang lemah, rendah, hina, malang, dan papa.


Penafsiran Etimologis

Kata makârih adalah bentuk jamak dari kata makrûh yang memiliki arti sesuatu yang tidak disukai atau dibenci.

Kata intiqâm berasal dari kata niqmah, dan memiliki arti pelaksanaan pembalasan. Oleh karena itu, niqmah memiliki arti ‘uqûbah (pembalasan buruk).

Kata sakhata memiliki arti tidak menyenangkan.

Kata miskîn berasal dari kata sukûn (ketenangan), dan di sini memiliki arti kefakiran dan kehinaan. Kata miskîn digunakan untuk seseorang yang sama sekali tidak memiliki suatu apapun dan kondisinya lebih buruk dari fakir. Kata mustkin berarti menampakkan kehinaan, kerendahan, kondisi buruk, dan kehidupan yang sulit.


Syarah dan Penjelasan

Dalam bagian doa ini, Zat yang dipinta (mad’uw) adalah Tuhan yang Mahaperkasa, yang merasa gusar terhadap hamba- hamba-Nya yang berbuat dosa dan akan memberikan balasan yang setimpal atas perbuatan dosanya itu. Dia akan memperlakukan hamba yang berdosa itu dengan keras dan kasar, dan siksaan-Nya amatlah berat, sehingga tidak satupun di antara makhluk yang sanggup menahan siksa-Nya. Balasan, siksaan, dan azab ini sedemikian besar dan dahsyat lantaran bersumber dari Zat yang Mahabesar dan Mahaagung.

Sedangkan sesuatu yang diminta dari-Nya (mad’uwun lahu) adalah kebebasan dari neraka dan pengampunan atas segala dosa dan kesalahan. Sedangkan sesuatu yang dijadikan sebagai sumpah dalam meminta dan memohon (mad’uwun bihi) adalah ungkapan, “Wahai Tuanku, bagaimana (mungkin) aku menanggungnya...”

Argumen dan dalil yang diungkapkan pada doa ini adalah ketidakmampuan untuk menanggung beban berbagai pembalasan dan siksaan. Dan dalil ini tidak ubahnya semacam dalil atau alasan yang dikeluarkan oleh seorang budak atau hamba sahaya kepada tuannya. Tidak adanya daya dan kekuatan untuk menjalankan pekerjaan merupakan suatu alasan bagi seorang budak. Demikian pula kefakiran, kemiskinan, dan kebangkrutan merupakan sebuah alasan ketidakmampuan dalam membayar hutang-hutang.

Semua ini menunjukkan bahwa sang hamba tengah bertobat dan berusaha untuk kembali kepada Allah Swt dengan berharap agar Dia sudi mengampuni semua dosa dan kesalahan tersebut. Ini sebagaimana tercantum dalam ayat suci-Nya bahwa Dia akan mengabulkan permohonan ampun hamba-hamba-Nya. Tidak diragukan lagi Allah Swt tidak akan mengingkari janji.

Dari berbagai kalimat yang ada dalam ungkapan doa ini, kita dapat menarik suatu kesimpulan bahwa siksaan akhirat sangatlah berat dan pedih. Dalam berbagai riwayat, hal ini ditegaskan secara berulang kali. Allah Swt berfirman:

Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah[17] semua yang ada di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. (al-Zumar: 68)

Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka terkejutlah segala yang ada di langit dan segala yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. (al-Naml: 87)

(yaitu) di hari ketika ditiup sangkakala, dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram. (Thâhâ: 102)

Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusukannya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya. (al-Hajj: 1-2)

Dan golongan kiri, siapakah golongan kiri itu. Dalam (siksaan) angin yang amat panas dan air panas yang mendidih, dan dalam naungan asap yang hitam. Tidak dan tidak menyenangkan. Sesungguhnya mereka sebelumnya hidup bermewah-mewah. Dan mereka terus menerus mengerjakan dosa yang besar. Dan mereka selalu mengatakan, “Apakah apabila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami akan dibangkitkan kembali? Apakah nenek moyang kami yang terdahulu (dibangkitkan pula)?” Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang kemudian benar-benar akan dikumpulkan di waktu tertentu pada hari yang dikenal. Kemudian sesungguhnya kamu, hai orang yang sesat lagi mendustakan, benar-benar akan memakan pohon zaqum dan kamu akan memenuhi perutmu dengannya. Sesudah itu kamu akan meminum air yang sangat panas. Maka kamu meminumnya seperti unta yang sangat haus. Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan. (al-Wâqi’ah: 41-56)

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (al-Nisâ’: 14)

Kata “kekal” dalam ayat ini memiliki arti “dalam waktu yang cukup lama” karena orang-orang beriman yang melakukan pelanggaran dan masuk ke dalam neraka tidak akan kekal berada di dalamnya, tetapi orang-orang yang tidak berimanlah yang akan kekal di dalamnya. Dan inilah perbedaan antara muslim dan kafir yang berbuat dosa. Allah Swt berfirman:

Sesungguhnya di neraka Jahanam itu ada tempat mengintai, menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui balas, mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya, mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal. (al-Wâqi’ah: 21- 26)

Namun para penghuni surga, mereka sama sekali tidak akan merasakan ketakutan dan kekhawatiran sebagaimana para penghuni neraka. Allah Swt berfirman:

Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata), “Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu.” (al-Anbiya’: 103)

Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman dan tenteram daripada kejutan yang dahsyat pada hari itu. (al-Naml: 89)

Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka ia berkata (kepada teman-temannya) “Ambillah, bacalah kitabku (ini).” Sesungguhnya aku yakin, bahwa aku akan menemui perhitungan terhadap diriku. Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi, dekat buah-buahannya, (kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan enak disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” [18] (al- Hâqqah: 19-24)

Mereka tidak mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal menikmati apa yang diingini oleh mereka. (al-Anbiyâ’: 102)

Dan ada (pula) bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam. (al-Wâqi’ah: 22-26)

Inilah sekelumit penjelasan mengenai neraka dengan berbagai musibah dan bencana yang ada di dalamnya, serta surga dengan berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya.

Kami memohon kepada Allah agar menganugerahkan kepada kita surga, khususnya surga Ridhwan, dan menjauhkan kita dari berbagai siksaan api neraka.


Referensi:

17. Di sini kata shaq berarti kematian. Namun nampaknya dalam ayat ini berarti ketakutan dan kecemasan.
18. Disebutkan bahwa yang dimaksud dengan al-ayyâm al-khâliyyah adalah hari-hari yang di dalamnya dilaksanakan ibadah puasa.

(Sadeqin/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita:

Index »

KULINER

Index »

LIFESTYLE

Index »

KELUARGA

Index »

AL QURAN

Index »

SENI

Index »

SAINS - FILSAFAT DAN TEKNOLOGI

Index »

SEPUTAR AGAMA

Index »

OPINI

Index »

OPINI

Index »

MAKAM SUCI

Index »

PANDUAN BLOG

Index »

SENI