Pesan Rahbar

Home » » Kiai Ridwan, Sang Pencipta Lambang NU dan Pejuang Kemerdekaan RI

Kiai Ridwan, Sang Pencipta Lambang NU dan Pejuang Kemerdekaan RI

Written By Unknown on Thursday, 3 March 2016 | 02:33:00


Namanya masih tercatat dalam sejarah dokumen besar Nahdlatul Ulama (NU).

Pria kelahiran kampung Carikan Gang I, Praban, Kelurahan Alun-alun Contong, Kecamatan Bubutan, Surabaya, pada tahun 1884 itu adalah Sang pencipta lambang NU. Putra sulung dari enam bersaudara dari pasangan Kiai Abdullah dan Nyai Marfu’ah asal Cirebon Jawa barat itu mengenyam pendidikan Sekolah Dasar di negeri Kincir Angin, Belanda. Ia tergolong sebagai murid yang pintar dan cerdas, sehingga orang Belanda ingin mengadopsinya.

Setamat pendidikan dasarnya, ia kembali ke Indonesia dan nyantri di beberapa Pesantren di antaranya di Pesantren Syaikhuna Mbah Kholil Bangkalan. Setelah menyantri ia melanjutkan belajarnya di Tanah Suci Mekkah, Arab Saudi. Bahkan sempat dua kali, pertama dari tahun 1901 sampai tahun 1904, dan yang kedua dari tahun 1911 sampai tahun 1912. Pada tahun 1912 inilah, ia pulang ke Tanah Air dan menetap di Surabaya, Jawa Timur.

Pria bernama lengkap KH. Ridwan Abdullah mengajar di Madrasah Nahdhatul Wathan – lembaga pendidikan yang didirikan oleh Kiai Wahab Chasbullah pada tahun 1916 dan aktif dalam kelompok diskusi Tashwirul Afkar (1918) – di mana dua lembaga inilah yang menjadi embrio lahirnya NU. Ketika NU sudah diresmikan, ia aktif di Cabang Surabaya dan pada Muktamar NU ke-2 di Hotel Peneleh, Surabaya, tanggal 9 Oktober 1927, lambang NU ciptaan Kiai Ridhwan diresmikan hingga sekarang.

Kiai Ridwan juga dikategorikan sebagai Kiai intelektual ketika itu. Pergaulannya dengan tokoh nasionalis seperti Bung Karno, Dr. Sutomo, dan H.O.S Tjokroaminoto cukup erat. Apalagi, tempat tinggal para tokoh bangsa itu mereka tidak berjauhan dengan rumahnya, di Bubutan, Surabaya, Jawa Timur.

Dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia (RI), Kiai Ridhwan Abdullah ikut bergabung dalam barisan Sabilillah. Pengorbanannya tidak sedikit, seorang puteranya yang menjadi tentara Pembela Tanah Air (PETA) gugur di medan perang. Pada tahun 1948, beliau ikut berperang mempertahankan kemerdekaan RI dan pasukannya terpukul mundur sampai ke Jombang.

Di antara salah satu jasa besar perjuangan Kiai Ridhwan, yaitu termasuk salah seorang yang mengusulkan agar para syuhada yang gugur dalam pertempuran 10 Nopember 1945 dimakamkan di depan Taman Hiburan Rakyat (THR). Tempat inilah yang kemudian dikenal dengan Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.

(Empat-Pilar-MPR/ABNS)
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita:

Index »

KULINER

Index »

LIFESTYLE

Index »

KELUARGA

Index »

AL QURAN

Index »

SENI

Index »

SAINS - FILSAFAT DAN TEKNOLOGI

Index »

SEPUTAR AGAMA

Index »

OPINI

Index »

OPINI

Index »

MAKAM SUCI

Index »

PANDUAN BLOG

Index »

SENI