Oleh : Azis Anwar Fachrudin
Salah satu propaganda sektarian yang rentan mempertajam friksi di tubuh umat Islam ialah bahwa “Syiah bukan Islam”. Akhir-akhir ini, kampanye hitam itu cukup lantang disuarakan. Oleh sebagian kelompok dari kalangan Ahlus Sunnah, Syiah dianggap telah kafir; alias sudah berada di luar koridor agama Islam. Yang lebih memprihatinkan, vonis kafir itu dilancarkan dengan pukul rata tanpa merinci dulu keragaman di dalam Syiah.
Propaganda “Syiah bukan Islam” bukan semata klaim biasa. Ia berbahaya, sebab rawan membangkitkan misi “jihad” dan pencabutan nyawa. Sudah berabad-abad lamanya, kita tahu, pertengkaran Sunni-Syiah tak kunjung redam. Umat Islam tampaknya lebih mudah bertoleransi dengan agama lain ketimbang pada mazhab yang lahir dari pergolakan di tubuh umat Islam sendiri.
Banyak statemen dilancarkan untuk memojokkan Syiah, antara lain, dengan berbagai tuduhan yang, sedikit atau banyak, adalah klaim sepihak—klaim yang belum tentu dikonfirmasi oleh pendapat yang dinyatakan oleh ulama yang terakui (mu’tabar) dari kedua belah pihak.
Tulisan ini akan menjawab propaganda itu: Benarkah Syiah bukan Islam?
[ 1 ]
Pernah ada, dan sampai kini masih berlangsung, upaya pendekatan antar mazhab (at-taqrîb bain al-madzâhib). Upaya ini sudah bermula sejak tahun 1950-an. Penggagasnya ialah para ulama Al-Azhar waktu itu, dipimpin oleh Syaikh Mahmud Syaltut.
Upaya ini bertujuan untuk meminimalisasi ketegangan antar mazhab, rekonsiliasi Ahlus Sunnah-Syiah, sekaligus mengakui delapan mazhab yang sah sebagai bagian dari Islam. Delapan mazhab itu ialah: 4 mazhab Ahlus Sunnah (Hanafi, Maliki, Syafi’i, & Hanbali), 2 mazhab Syiah (Zaidiyah & Ja’fariyah-Imamiyah), mazhab Zhahiriyah, dan mazhab Ibadhiyyah (Khawarij). [Mengenai proyek taqrib ini, anda dapat dengan mudah mencari informasinya di google. Websitenya, antara lain, taghrib.org, atau search dengan kata kunci Arab: at-taqrib baina as-sunnah wa asy-syi’ah]
Kedelapan mazhab itu diakui pula oleh Syaikh Wahbah az-Zuhaily dalam karya ensiklopedisnya tentang fikih: Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu. Dikatakan oleh Syaikh Wahbah dalam penjelasannya di bagian-bagian awal, pada bab tentang fikih Imamiyyah:
“Fiqh Imamiyah, meski lebih dekat ke mazhab Syafi’i, ia tak berbeda dengan fiqh Ahlus-Sunnah dalam persoalan yang masyhur kecuali kira-kira terkait 17 masalah. Yang paling penting (dari perbedaan itu) adalah pembolehan nikah mut’ah. Perbedaan Syiah Imamiyah dengan Ahlus Sunnah tak lebih sebagaimana perbedaan mazhab-mazhab fiqh lainnya, seperti Hanafi dengan Syafi’i. Mazhab Imamiyah ini sampai sekarang menyebar di Iran dan Irak. Secara substantif, perbedaan Syiah-Imamiyah dengan Ahlus Sunnah tidak merujuk ke soal akidah atau fiqh, melainkan hanya pada aspek pemerintahan dan imamah.”
Sejak tahun 50-an, Syaikh Mahmud Syaltut sudah memfatwakan kebolehan beribadah dengan menggunakan mazhab Ja’fari (Syiah-Imamiyah). Diberitakan pula, bahwa Syaikhul Azhar Ahmad Thayyib saat ke Iran bermakmum salat kepada ulama Syiah (lihat di sini).
Ų“ŁŲ® Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ±: ŲŖŁŁŁŲ± Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ł Ų±ŁŁŲ¶ ŁŲ³ŁŁ Ų£ŲµŁŁ Ų®ŁŁŁŁ ŁŁ Ų§ŁŁŲ¬Ł Ų§ŁŲ£Ų“Ų±ŁŁŲ§Ł Ų“ŁŲ® Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ± Ų£ŲŁ ŲÆ Ų§ŁŲ·ŁŲØ: “Ų§ŁŁŲ§ ŁŁ ŁŲ¹ŲÆ Ų¹Ų±ŲØŲ§ ŲØŲ«ŁŲ§ŁŲ© Ų¹Ų±ŲØŁŲ© ŁŁŲ§ Ł Ų³ŁŁ ŁŁ ŲØŲ«ŁŲ§ŁŲ© Ų„Ų³ŁŲ§Ł ŁŲ© Ų®Ų§ŲµŲ© أ٠بعض Ų§ŁŲ£ŁŁŲ§Ų± Ų§ŁŲŖŲ§ŁŁŲ© ŲŖŲŖŲ®Ų·ŁŁŲ§”.ŁŁŁŲŖ Ų§ŁŲ“ŁŲ® Ų§ŁŲ·ŁŲØ Ų§ŁŁ Ų£ŁŁ “ŁُŲ®Ų·Ų· ŁŁŲŖŁŲ© Ų§ŁŁŁŁ ŁŲ±Ų§ŲÆ ŁŁŲ§ Ų§Ł ŲŖŁŲØŲ¹Ų« ŁŁ ŲØŁŲ§ŲÆ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł ŁŁ ŁŁŲŖ ŁŲŲŖŲ§Ų¬ ŁŁŁ Ų§ŁŁ ŁŲŲÆŲ© Ų§ŁŲ£Ł Ų© Ų§ŁŲ§Ų³ŁŲ§Ł ŁŲ© ŁŁŁ ŲÆŁŁŁŲ§”.ŁŲ£Ų¶Ų§Ł “ŁŲ°Ų§ ŁŁ Ų§ŁŁ ŁŁ ŁŲ§ŁŲ¶Ų±ŁŲ±Ł Ų§ŁŲ°Ł ŁŲتاج٠ŁŲØŲÆŁŁŁ ŁŲ§ ŁŲ³ŲŖŲ·ŁŲ¹ Ų§Ł ŁŲ±ŁŲ¹ Ų±Ų¤ŁŲ³ŁŲ§ ŁŁ ŁŁŁ Ł Ł Ų§ŁŲ£ŁŲ§Ł ”.ŁŲ±ŁŲ¶ Ų§ŁŲ“ŁŲ® Ų§ŁŲ·ŁŲØ Ų§Ł ŁŁŁŁ ŁŁŲ§Ł ŁŲ¶Ų§Ų¦ŁŲ§ŲŖ ŲŖŲŁŁ ŲØŁŁŲ± Ų§ŁŁ Ų³ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų©.ŁŲ£Ų¶Ų§Ł: “ŁŲ°Ų§ ŲŗŁŲ± Ł ŁŲØŁŁ ŁŁŲ§ ŁŲ¬ŲÆ ŁŁ Ł ŲØŲ±Ų±Ų§ً ŁŲ§ Ł Ł ŁŲŖŲ§ŲØ ŁŁŲ§ Ų³ŁŲ© ŁŁŲ§ Ų„Ų³ŁŲ§Ł ”.ŁŲŖŲ§ŲØŲ¹ ŲØŲ§ŁŁŁŁ “ŁŲŁ ŁŲµŁŁ ŁŲ±Ų§Ų” Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų©، ŁŁŲ§ ŁŁŲ¬ŲÆ Ų¹ŁŲÆ Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŲ±Ų¢Ł Ų¢Ų®Ų± ŁŁ Ų§ ŲŖŲ·ŁŁ Ų§ŁŲ“Ų§Ų¦Ų¹Ų§ŲŖ ŁŲ„ŁŲ§ Ł Ų§ ŲŖŲ±Ł Ų§ŁŁ Ų³ŲŖŲ“Ų±ŁŁŁ ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŲ£Ł Ų± ŁŁŲ°Ų§ ŲØŲ§ŁŁŲ³ŲØŲ© ŁŁŁ ŲµŁŲÆ Ų«Ł ŁŁ”.ŁŲ±ŲÆŲ§ Ų¹ŁŁ Ų³Ų¤Ų§Ł، رأ٠اŁŲ“ŁŲ® Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ± Ų§ŁŁ “ŁŲ§ ŁŁŲ¬ŲÆ Ų®ŁŲ§Ł ŲØŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŁ ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ł ŁŲ®Ų±Ų¬Ł Ł Ł Ų§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł Ų§ŁŁ Ų§ ŁŁ Ų¹Ł ŁŁŲ© Ų§Ų³ŲŖŲŗŁŲ§Ł Ų³ŁŲ§Ų³Ł ŁŁŲ°Ł Ų§ŁŲ®ŁŲ§ŁŲ§ŲŖ”، Ł Ų¹ŁŁŲ§ Ų§ŁŁ: “Ų³ŁŲ²ŁŲ± Ų§ŁŁŲ¬Ł Ų§Ų°Ų§ Ų°ŁŲØ Ų§ŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų±Ų§Ł”.ŁŁŲ§Ł: “Ų§ŁŲ„Ų²ŁŲ± ŁŲ§Ų¬ŲØŁ Ų§ŁŲ£ŁŁ Ų§ŁŲ¹Ł Ł Ų¹ŁŁ ŁŲŲÆŲ© Ų§ŁŲ£Ł Ų© Ų§ŁŲ§Ų³ŁŲ§Ł ŁŲ© ŁŁŲ°ŁŁ ŲŖŁŲŁŲÆ Ų§ŁŁ Ų³ŁŁ ŁŁ Ų¹ŁŁ Ų±Ų¤ŁŲ© Ł Ų¹ Ų§Ų®ŲŖŁŲ§Ł Ų§ŁŲ§Ų¬ŲŖŁŲ§ŲÆ”، Ł ŲØŲÆŁŲ§ Ų§Ų³ŲŖŲ¹ŲÆŲ§ŲÆŁ “ŁŲ²ŁŲ§Ų±Ų© أ٠٠ŁŲ§Ł اج٠ع ŁŁŁ Ų§ŁŁ Ų³ŁŁ ŁŁ Ł Ų¹ ŲØŲ¹Ų¶ŁŁ ŁŲ§ŁŁŲ¬Ł ŲØŲµŁŲ© Ų®Ų§ŲµŲ©”.ŁŁŁŲŖ Ų§ŁŁ Ų£ŁŁ ŁŲ§Ł ŁŁŁŁŲÆ Ų§ŁŲ¹Ų±Ų§ŁŁ Ų§ŁŲ°Ł زار٠٠ؤخراً “Ų³Ų¢ŲŖŁŁŁ ŁŲ£ŁŲ§ Ų£ŲØ ŁŁŲ³ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų©”.Ų§ŁŁ ŲµŲÆŲ±: Ų¬Ų±ŁŲÆŲ© Ų§ŁŁŁŲ§Ų± Ų§ŁŁŲØŁŲ§ŁŁŲ©
Syaikul Azhar Ahmad Thayyib pun menyatakan bahwa Syiah tidak kafir; Syiah adalah bagian dari Islam (lihat di sini).
Dr. Ahmad Thayyib : Syiah adalah Salah Satu Mazhab Islam
Al-Azhar adalah sebuah lembaga keilmuan tertua didunia islam dan menjadi rujukan permasalahan-permasalahan umat dunia saat ini. berbicara tentang Al-Azhar, maka tak lepas dari ulama-ulamanya. Dari sekian banyaknya ulama di Azhar, syeikh Ahmed Muhammad Ahmed El-Tayeb terpilih sebagai Grand Syeikh Universitas atau rektor Al-Azhar saat ini. Sebuah jabatan yang dianggap oleh sebagian umat islam sebagai otoritas tertinggi dalam pemikiran Islam Sunni dan fikih serta mempunyai pengaruh kuat dalam masyarakat Islam di seluruh dunia terutama bagi pengikut mazhab Asy’ariyah dan Maturidi.
Berikut ini adalah wawancara Channel Nil TV Mesir dengan Dr. Ahmaad Thayyib.
Wartawan: Bagaimana ajaran Syiah menurut Anda?
Dr. Thayyib: Tidak ada masalah dengan ajaran Syiah. 50 tahun lalu, Syaikh Syaltut berfatwa bahwa Syiah adalah mazhab kelima dalam Islam dan sama seprti mazhab-mazhab Islam yang lain.
T: Anak-anak kita akan menjadi Syiah. Apa tindakan kita?
J: Biar saja mereka menjadi Syiah. Apakah kita akan menyalahkan orang yang berpindah mazhab dari Hanafi ke Maliki? Mereka (yang menjadi Syiah) hanya berpindah dari mazhab keempat ke mazhab kelima.
T: Orang Syiah menjadi kerabat kita. Mereka menikah dengan anak-anak kita.
J: Apa masalahnya? Pernikahan antar mazhab itu dibolehkan.
T: Kabarnya Alquran mereka berbeda dengan Alquran kita.
J: Itu omong kosong. Tidak ada perbedaan antara Alquran kita dan mereka. Bahkan rasmul khat mereka sama dengan Alquran kita.
T: 23 ulama dari sebuah negara (Saudi) berfatwa bahwa Syiah adalah kafir dan rafidhi.
J: Hanya Al-Azhar yang bisa berfatwa untuk muslimin. Fatwa mereka (ulama Saudi) tidak kredibel.
T: Lalu bagaimana dengan perselisihan Syiah-Sunni yang dikemukakan mereka?
J: Perselisihan itu adalah politik luar negeri yang ingin memecah belah Syiah dan Sunni.
T: Saya punya pertanyaan serius. Syiah tidak menerima Abu Bakar dan Umar. Bagaimana bisa Anda menyebut mereka muslim?
J:Memang mereka tidak menerima. Tapi apakah meyakini Abu Bakar dan Umar termasuk prinsip agama Islam? Kisah tentang mereka berdua adalah kisah sejarah. Sejarah tidak berkaitan dengan prinsip akidah.
Wartawan yang terhenyak mendengar jawaban ini, lalu bertanya: Ada satu kritikan terhadap Syiah. Mereka berkata bahwa imam zaman mereka masih hidup semenjak 1000 tahun lalu.
J: Mungkin saja,kenapa tidak mungkin? Tapi tak ada alasan kita mesti berkeyakinan sama spt mereka.
T: Mungkinkah bocah berusia 8 tahun menjadi imam? Syiah meyakini bahwa bocah berusia 8 tahun menjadi imam.
J: Kalau bayi dalam buaian bisa menjadi nabi, tidak mengherankan bocah usia 8 tahun menjadi imam. Meski kita sebagai Ahlussunnah tidak meyakini hal ini. Tapi keyakinan ini tidak merusak keislaman mereka. Mereka tetap orang muslim.
Setelah mendengar wawancara di atas, Dr. Shojaei Fard,dosen ilmu mekanik di Universitas Elm va Shanat,berkata,”Wawancara ini sangat menarik untuk saya. Saya berusaha menghubungi Syaikh Thayyib untuk berterima kasih kepadanya. Melalui telpon saya berkata kepada beliau,”Anda membela Syiah dengan sangat baik. Bahkan seorang ulama Syiah pun mungkin tidak akan melakukan pembelaan serupa. Minimal dia akan bersikap hati-hati. Tapi Anda berani mengatakan bahwa keyakinan kepada Abu Bakar dan Umar bukan bagian dari prinsip Islam.
Syaikh Thayyib berkata,”Saat Ayatullah Khamenei menghadapi Amerika dengan teguh dan membuat mereka bertekuk lutut dalam masalah nuklir, dan di sisi lain, Sayyed Hasan Nasrullah melawan Zionis dengan berani dan mengalahkan merka dalam perang 33 hari, saya melihat mereka sebagai kebanggaan Islam. Amerika dan kawan-kawannya berniat mencitrakan mereka sebagai Syiah radikal dan menyebut Syiah sebagai rafidhi nonmuslim demi mengambil kebanggaan ini dari Dunia Islam. Supaya para pemuda kita merasa bahwa kebanggaan ini milik Islam, saya telah mengadakan 8 acara televisi untuk mengatakan bahwa Syiah adalah muslim, Syiah tidak berbeda dengan kita, dan Syiah adalah salah satu mazhab Islam.”
sumber : http://syiahindonesia.net/
Kalau Khawarij yang lebih potensial menimbulkan friksi di tubuh umat Islam saja masih dihukumi Islam, apalagi Syiah.
Banyak ulama Al-Azhar yang berbeda dengan sikap—maaf untuk tegas menyebut—Salafi-Wahabi dalam menghadapi Syiah (lihat di sini).
Ł ŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§Ų” Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ± Ł Ł Ų§ŁŲŖŁŲ±ŁŲØ ŲØŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų©ŲŁŁŁ Ų§ ŲØŲÆŲ£ŲŖ Ų§ŁŲ„Ų¹ŲÆŲ§ŲÆ ŁŁŲ°Ų§ Ų§ŁŁ ŁŲ¶ŁŲ¹ ŁŁŲŖ Ų¹ŁŁ Ų«ŁŲ© بأ٠؄جابات Ų§ŁŲŗŲ§ŁŲØŁŲ© Ų§ŁŲ¹ŲøŁ Ł Ł Ł Ų£Ų³Ų§ŲŖŲ°Ų© ŁŲ“ŁŁŲ® Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ± ŁŁ ŲŖŲ“ŁŁ ŲŗŁŁŁŁ، Ų°ŁŁ أ٠اŁŲ£Ų²ŁŲ± – Ł ŁŲ° Ų§ŁŲ®Ł Ų³ŁŁŲ§ŲŖ- ŁŲ§ŲÆ Ł Ų§ س٠٠بŁ"Ų§ŁŲŖŁŲ±ŁŲØ ŲØŁŁ Ų§ŁŁ Ų°Ų§ŁŲØ"ŁŁŲŖŁŲ¬Ų© ŁŲ°ŁŁ ŁŲ±Ų± ŲŖŲÆŲ±ŁŲ³ Ų§ŁŁŁŁ Ų§ŁŲ„Ł Ų§Ł Ł Ų§ŁŲ§Ų«ŁŁ عؓر٠(Ų§ŁŲ¬Ų¹ŁŲ±Ł) ŁŁ Ų¬Ų§Ł Ų¹Ų§ŲŖŁ ŁŁ Ų¹Ų§ŁŲÆŁ. ŁŁŲ«ŁŲ± Ł Ł Ų¹ŁŁ Ų§Ų” Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ± ŁŲ§ ŁŲ²Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŲÆ Ł ŁŁŁŁŁ ŲŲŖŁ ŲØŲ¹ŲÆ أ٠ŁŲ·Ų±Ų Ų¹ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲµŁŲµ Ų§ŁŲŖŁ ŲŖŲ¤ŁŲÆ Ų¬Ł ŁŲ Ų§ŁŁŁŲ± Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ł ŁŲ®Ų·ŁŲ±ŲŖŁ، ŁŁŁ ŁŲÆŲ§ŁŲ¹ŁŁ ع٠اŁŲ“ŁŲ¹Ų©، ŁŁŁŁŁŁŁ Ł Ł Ų§ŁŲ®ŁŲ§Ł. ŁŁŲŁ ŁŲ¹Ų±Ų¶ ŁŁ ŁŲ°Ł Ų§ŁŲ³Ų·ŁŲ±- ŁŁŁŲ£Ł Ų§ŁŲ© Ų§ŁŲ¹ŁŁ ŁŲ© ŁŲØŲÆŁŁ ŲŖŲÆŲ®Ł Ł Ł Ų¬Ų§ŁŲØŁŲ§- Ł ŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§Ų” Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ± Ų§ŁŁ Ų¤ŁŲÆŁŁ ŁŁŲŖŁŲ±ŁŲØ ŲØŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų©. ŁŁŁŁŲ§ ŁŁ ŁŲ¹ŲÆŁ Ų±Ų¤ŁŲ© Ł ŲŗŲ§ŁŲ±Ų© ŁŲØŲ¹Ų¶ Ų§ŁŲ£Ų³Ų§ŲŖŲ°Ų© Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ±ŁŁŁ Ų§ŁŲ°ŁŁ ŲŖŲ¹Ł ŁŁŲ§ ŁŁ Ų§ŁŁ ŁŲ¶ŁŲ¹ ŁŲ£ŲŲ§Ų·ŁŲ§ ŲØŲ¬ŁŲ§ŁŲØŁ ŁŁ Ł Ų«Ł Ų¬Ų§Ų”ŲŖ Ų±Ų¤ŁŲŖŁŁ Ł Ų¹Ų§Ų±Ų¶Ų© ŁŁŲŖŁŲ±ŁŲØ ŁŁŲ§Ų“ŁŲ© ŁŲ®Ų·ŁŲ±Ų© Ų§ŁŁŁŲ± Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ł ŁŲŖŁŲŗŁŁ Ł ŁŲ£Ł ŲŁŲ§Ų± Ł ŁŲ¶ŁŲ¹Ł Ł Ų¹ Ų§ŁŁŁŲ± Ų§ŁŲ³ŁŁ.** ŁŁ Ų§ŁŲØŲÆŲ§ŁŲ© ŁŲ±Ł Ų§ŁŲÆŁŲŖŁŲ± Ł ŲŁ ŲÆ Ų³ŁŲÆ Ų·ŁŲ·Ų§ŁŁ Ł Ų“ŁŲ® Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ±Ł Ų£ŁŁ ŁŲ§ ŁŲ±Ł ŲØŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŲ£Ł ŁŁ Ł Ł ŁŲ“ŁŲÆ Ų£Ł ŁŲ§ Ų„ŁŁ Ų„ŁŲ§ Ų§ŁŁŁ ŁŁŁ Ł Ų³ŁŁ ، ŁŲ£Ł Ų§ŁŲ®ŁŲ§Ł، Ų„Ł ŁُŲ¬ŲÆ، ŁŁŁ Ų®ŁŲ§Ł ŁŁ Ų§ŁŁŲ±ŁŲ¹ ŁŁŁŲ³ ŁŁ Ų§ŁŲ«ŁŲ§ŲØŲŖ ŁŲ§ŁŲ£ŲµŁŁ، ŁŲ§ŁŲ®ŁŲ§Ł Ł ŁŲ¬ŁŲÆ ŁŁ Ų§ŁŁŲ±ŁŲ¹ ŲØŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© Ų£ŁŁŲ³ŁŁ ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų£ŁŁŲ³ŁŁ ، ŁŁŲ§Ł Ų„Ł ŁŁ Ł Ł ŁŲŲ§ŁŁ Ų„Ų“Ų§Ų¹Ų© Ų§ŁŲ®ŁŲ§Ł ŲØŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ł Ų£Ų¬ŁŲ±، ŁŲ„ŁŁ ŁŲ¬ŲØ Ų¹ŁŁŁŲ§ Ų£Ł ŁŁŲ§Ų¬Ł ŁŲ°Ł Ų§ŁŁŲ¬Ł Ų© Ų§ŁŲ“Ų±Ų³Ų© Ų¶ŲÆ Ų§ŁŲÆŁŁ Ų§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł Ł، ŁŲ§ŁŲ£Ł Ų± Ų§ŁŲ£ŁŁ ŁŁ Ų¶Ų±ŁŲ±Ų© Ų§ŁŲ§Ų¹ŲŖŲµŲ§Ł ŲØŲŲØŁ Ų§ŁŁŁ Ų„Ł ŁŁ ŁŁŁ Ł Ł Ų£Ų¬Ł Ų§ŁŲÆŁŁ، ŁŲ¹ŁŁ Ų§ŁŲ£ŁŁ ٠٠أج٠اŁŲÆŁŁŲ§ Ų§ŁŲŖŁ ŁŁŲŖŁŁ ŁŁŁŲ§ Ų§ŁŲ¬Ł ŁŲ¹ Ų¹ŁŁ Ų·Ų§Ų¹Ų© Ų§ŁŁŁ. ŁŲ“ŁŲ® Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ± ŁŲ±Ł أ٠اŁŲŖŁŲ±ŁŲØ ŲØŁŁ Ų§ŁŁ Ų°Ų§ŁŲØ Ų£Ł Ų± Ų„ŁŲ¬Ų§ŲØŁ ŁŁŲ¬ŲØ Ų§ŁŲ³Ų¹Ł Ų„ŁŁŁ ŁŲŖŲ“Ų¬ŁŲ¹Ł ŁŲ£ŁŁ Ł Ł Ų®ŁŲ± Ų§ŁŲ£Ų¹Ł Ų§Ł ŁŁ Ł Ų§ŁŲŖŲ¹Ų§ŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲØŲ± ŁŲ§ŁŲŖŁŁŁ.ŁŁ ŲŖŲ¬Ų§ŁŲ² Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŲŖŲ±Ų§Ų«ŁŁ ؟** أ٠ا Ų§ŁŲ“ŁŲ® Ł ŲŁ ŁŲÆ Ų¹Ų§Ų“ŁŲ± Ł ŁŁŁŁ Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ± Ł ŁŁŁŁŁ: Ų§ŁŲ¹Ų§ŁŁ Ų§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł Ł ŁŁŲ§Ų¬Ł Ų§Ų³ŲŖŲ¹Ł Ų§Ų±Ų§ً ŁŁŁŲ§ً ŁŲ“ŁŁ ŁŁŲ³Ł ŁŲŖŁŲŖŁŲŖ ŁŲŲÆŲ© Ų§ŁŲ£Ł Ų© Ų§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł ŁŲ©، ŁŁŲŲ§ŁŁ Ų„Ų“Ų§Ų¹Ų© Ų§ŁŲ®ŁŲ§Ł Ł Ų§ ŲØŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŲŲŖŁ ŁŲ§ ŁŁŲŖŁŲŖŁŲ§ Ų„ŁŁ ŁŲ¶Ų§ŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŲ£Ų³Ų§Ų³ŁŲ©.ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ® Ł ŲŁ ŁŲÆ Ų¹Ų§Ų“ŁŲ± ŁŲ±Ł أ٠اŁŲŖŁŲ±ŁŲØ ŲØŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŁ ŁŁ أ٠ŁŲŲÆŲ« ŁŁŲ³ Ų¹ŁŁ Ų£Ų³Ų§Ų³ ŲŖŁŲ§Ų²Ł Ų£ŲŲÆ Ų§ŁŲ·Ų±ŁŁŁ ع٠ؓŁŲ” Ł Ł ŁŁŲ§Ų¹Ų§ŲŖŁ ŁŁŲ¢Ų®Ų±، ŁŲ„ŁŁ Ų§ Ų¹ŁŁ Ų£Ų³Ų§Ų³ Ų§ŁŲ„ŁŲ±Ų§Ų± ŲØŲ¬Ų§Ł Ų¹ŁŲ© Ų§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł ŁŁŲ·Ų±ŁŁŁ، ŁŲ§ŁŲ§ŲŲŖŲ±Ų§Ł Ų§ŁŁ ŲŖŲØŲ§ŲÆŁ، ŁŲ§Ų¹ŲŖŁ Ų§ŲÆ ŁŁŲ¬ Ų§ŁŲŁŲ§Ų± ŁŁ ŁŲ¶Ų§ŁŲ§ Ų§ŁŲ®ŁŲ§Ł، ŁŲŖŁŲ¹ŁŁ Ų§ŁŲŖŲ¹Ų§ŁŁ ŁŁ Ų®ŲÆŁ Ų© Ų§ŁŁ ŲµŁŲŲ© Ų§ŁŲ¹Ų§Ł Ų© ŁŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł ŁŲ§ŁŁ Ų³ŁŁ ŁŁ.ŁŁŁ ŁŲ±Ł أ٠٠ا Ų¹Ų±Ų¶ŁŲ§Ł Ų¹ŁŁ ŁŲ¶ŁŁŲŖŁ Ł Ł ŲŖŁŲ¬Ł Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų¹ŁŁ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ³ŲØŁŁ ŁŁŲµŲŲ§ŲØŲ© ŁŲŗŁŲ± Ų°ŁŁ Ł Ł Ų§ŁŁŲ¶Ų§ŁŲ§ Ų§ŁŁŲ§Ł Ų©، ŁŲ±Ł Ų£Ł Ų°ŁŁ ŁŲ§Ł Ł ŁŲ¬ŁŲÆŲ§ً ŁŁ ŲØŲ¹Ų¶ ŁŲŖŲØ Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŁ Ų§Ų¶ŁŁŁ ŁŲŖŲ±Ų§Ų«ŁŁ ، ŁŁŲÆ ŁŁŁŁ ŁŲ§ŲŖŲ¬Ų§ً ع٠اŁŲøŲ±ŁŁ Ų§ŁŲŖŁ ŁŲ§ŁŁŲ§ ŁŲ¹ŁŲ“ŁŁŁŲ§ Ų¢ŁŲ°Ų§Ł Ł Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹ ŁŲ§ŁŲ§Ų¶Ų·ŁŲ§ŲÆ، ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ§ŁŲ¹ Ų§ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų§ŁŲ¢Ł ŲØŲ¹ŁŲÆ Ų¹Ł Ł Ų«Ł ŁŲ°Ł Ų§ŁŲ£Ł ŁŲ±. ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų§ŁŲ„ŁŲ±Ų§ŁŁŁŁ Ł Ų«ŁŲ§ً ŁŁŲÆ Ų£ŲµŲØŲŲŖ Ų§ŁŲ³ŁŲ·Ų© ŲØŁŲÆ Ų¹ŁŁ Ų§Ų¦ŁŁ Ł ŁŲ° Ų±ŲØŲ¹ ŁŲ±Ł، ŁŲÆŁŁŲŖŁŁ Ł Ł Ų£ŁŁŁ ŲÆŁŁ Ų§ŁŁ ŁŲ·ŁŲ©، Ų„ŁŲ§ أ٠ŁŲ³Ų§Ų¦Ł Ų„Ų¹ŁŲ§Ł ŁŁ ، ŁŲ®Ų·ŲØ Ų¬Ł Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲŖŁ ŲŖŲØŲ« Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŁŲ§Ų”، ŁŲ£ŲŲ§ŲÆŁŲ« ŁŁŲ§ŲÆŲ§ŲŖŁŁ ، ŁŁ ŁŲŲµŁ ŁŁŁŲ§ Ų“ŁŲ” Ł Ł ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŁŲØŁŁ، ŲŲŖŁ Ų£ŁŲ§Ł Ų§ŁŲŲ±ŲØ Ų§ŁŲ¹Ų±Ų§ŁŁŲ© Ų§ŁŲ„ŁŲ±Ų§ŁŁŲ©.ŁŁŲ°ŁŁ Ų§ŁŲŲ§Ł ŲØŲ§ŁŁŲ³ŲØŲ© ŁŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŁ ŁŲØŁŲ§Ł، ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ© Ų§ŁŲ£ŲØŲ±Ų² ŁŁŲ§Ł، ŁŁ Ų¹ Ų§ŁŁŲµŲ± Ų§ŁŁŲØŁŲ± Ų§ŁŲ°Ł ŲŁŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲ¹ŲÆŁ Ų§ŁŲµŁŁŁŁŁ، Ų„ŁŲ§ أ٠ŁŲ³Ų§Ų¦Ł Ų„Ų¹ŁŲ§Ł ŁŁ ، Ł Ų«Ł ŁŲ¶Ų§Ų¦ŁŲ© "Ų§ŁŁ ŁŲ§Ų±"، ŁŁ ŁŲ±ŲµŲÆ Ų¹ŁŁŁŲ§ Ų“ŁŲ” Ł Ł Ų§ŁŲ„Ų³Ų§Ų”Ų© Ų„ŁŁ Ų§ŁŲ®ŁŁŲ§Ų”، ŁŲ£Ų¬ŁŲ§Ų” Ų§ŁŲµŲŲ§ŲØŲ©، ŁŲ£Ł ŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŁ Ų¤Ł ŁŁŁ.Ų„Ł ŁŁ Ų°ŁŁ ŲÆŁŲ§ŁŲ© ŁŲ§Ų¶ŲŲ© Ų¹ŁŁ ŲŖŲ¬Ų§ŁŲ² ŁŲ§ŁŲ¹ Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų§ŁŁ Ų¹Ų§ŲµŲ± ŁŁ Ų¤Ų§Ų®Ų°Ų§ŲŖ ŁŲ§ŁŲŖ ŲŖŲŲ³ŲØ Ų¹ŁŁ ŲØŲ¹Ų¶ŁŁ ŁŁ أز٠ŁŲ© ŲŗŲ§ŲØŲ±Ų©. ŁŁŲÆ ŁŁŁŁ ŁŁŲ§Ł Ų£ŁŲ±Ų§ŲÆ Ł ŁŁŁ Ł ŲŖŲ£Ų«Ų±ŁŁ ŲØŲØŲ¹Ų¶ Ų§ŁŲ¢Ų±Ų§Ų” ŁŲ§ŁŁ ŁŲ§ŁŁ Ų§ŁŲ³Ų§ŲØŁŲ©، ŁŁŁŁŁ ŁŲ§ ŁŲ“ŁŁŁŁ ŲŲ§ŁŲ© Ų¹Ų§Ł Ų©.Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ± Ų£ŁŲ± ŲŖŲÆŲ±ŁŲ³ Ų§ŁŁŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ł:** ŁŁŁŁ Ų§ŁŲÆŁŲŖŁŲ± Ų¹ŲØŲÆŲ§ŁŲµŲØŁŲ± Ł Ų±Ų²ŁŁ Ų§ŁŲ£Ł ŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų§Ł ŁŁŁ Ų¬ŁŲ³ Ų§ŁŲ£Ų¹ŁŁ ŁŁŲ“Ų¤ŁŁ Ų§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł ŁŲ©: ج٠ŁŲ¹ Ų§ŁŁ Ų³ŁŁ ŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų±ŲØ Ł Ų³ŲŖŁŲØŁŁŁ Ł ŲŁŁŁ ŲØŲ§ŁŁ Ų®Ų§Ų·Ų± ŁŁŁŲ³ Ų£Ł Ų§Ł ŁŁ Ų·Ų±ŁŁ ŲŗŁŲ± Ų„Ų¹Ų§ŲÆŲ© Ų„Ų¹Ł Ų§Ł Ł ŁŁŁŁ Ų§ŁŲ£Ł Ų© Ų§ŁŲ°Ł Ų£ŁŲÆ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł Ų§ŁŁŲ±ŁŁ . Ų„Ł Ų§ŁŁ Ų°ŁŲØ Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ł ŁŁ Ų£ŲŖŲØŲ§Ų¹ Ų£ŁŁŁŲ§Ų” ŁŁŁ ŲÆŁŁ ŁŲ£ŁŲøŁ Ų© ŁŁŲ§ ŁŁ ŁŁ Ų„Ų¬ŲØŲ§Ų±ŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲŖŲ®ŁŁ Ų¹Ł Ł Ų¶Ł ŁŁ Ų§ŁŁŁŲ± Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ł ŁŲ„ŁŲ±Ų§Ł Ų§ŁŲŖŁ ŲØŁŲŗŲŖ Ł Ł Ų§ŁŁŁŲ© Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ų³ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ¹Ų³ŁŲ±ŁŲ© ŁŲ§ŁŲŖŁ ŲŖŲ¬Ų¹ŁŁŲ§ ŲŖŲŖŲŲÆŁ Ų£Ł Ų±ŁŁŲ§ ŁŲŖŲ¤ŁŲÆ Ų£ŁŁŲ§ ŲŖŁ ŲŖŁŁ ŲµŁŲ§Ų±ŁŲ® ŲŖŲ¶Ų±ŲØ ŲØŁŲ§ Ų„Ų³Ų±Ų§Ų¦ŁŁ ŁŁŁ ŲÆŁŁŲ© Ų„Ų³ŁŲ§Ł ŁŲ© ŁŁŁŲ³ ŁŁŲ§ ŁŲøŁŲ± ŁŁ Ų§ŁŁ ŲŁŲ· Ų§ŁŲ¹Ų±ŲØŁ ŁŲ§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł Ł... ŁŁ Ł Ł Ų§ŁŲ¹ŁŁ أ٠أŁŲÆŁ ŁŲ°Ł Ų§ŁŁŁŲ© أ٠أŁŲ±Ų· ŁŁŁŲ§ ŁŲ£ŁŲÆŁŁŲ§ ŁŁŲ¹ŲÆŁ؟.. Ų§ŁŲ¹ŁŁ ŁŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ¶Ų¹ Ų§ŁŲ¬Ł ŁŲ¹ ŁŲÆŁ ŲØŁŲÆ Ų£Ų®ŁŁ ŁŁŁŁ ŁŁŲ© ŁŲ§ŲŲÆŲ©.ŁŁŲ¶ŁŁ ŲÆ. Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲµŲØŁŲ± Ł Ų±Ų²ŁŁ: ŁŁ Ų§ŁŲ®Ł Ų³ŁŁŲ§ŲŖ ŁŲ¹ŁŁ ŁŲÆ Ų§ŁŲ“ŁŲ® Ł ŲŁ ŲÆ ŲŖŁŁ Ų§ŁŲÆŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŁ ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ® Ł ŲŁ ŁŲÆ Ų“ŁŲŖŁŲŖ ŁŲ£Ų³Ų§ŲŖŲ°Ų© Ų£Ų¬ŁŲ§Ų” Ł Ł Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ± ŁŲ§Ł Ų¹ŲÆŲÆŁŁ ŁŲØŁŲ±Ų§، ŁŲ§ŁŁŲ§ ŁŲŖŲŲ§ŁŲ±ŁŁ ŁŁŲŖŲÆŲ§Ų±Ų³ŁŁ ŁŁŲ§Ų· Ų§ŁŲ®ŁŲ§Ł ŁŲ§ŁŲ§ŲŖŁŲ§Ł ŲØŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŲ§Ų³ŲŖŲ·Ų§Ų¹ŁŲ§ Ų§ŁŲŖŁŲ§ŁŁ ŁŁ ŁŲ«ŁŲ± Ł Ł Ų§ŁŁŲ¶Ų§ŁŲ§ ŁŁŲ°Ų§ ŁŲÆŁ Ų¹ŁŁ Ų§Ł Ų§ŁŲŖŁŲ§Ų±ŲØ Ł Ł ŁŁ، ŁŁ Ų¹ Ł Ų§ ŁŲ¹Ų§ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁ Ų£ŲµŲØŲ Ų§ŁŲŖŁŲ±ŁŲØ ŲØŁŁ Ų§ŁŁ Ų°ŁŲØŁŁ Ų¶Ų±ŁŲ±Ų© ŲŲŖŁ ŁŲ© أ٠ا٠٠٠ŁŲ±ŁŲÆ Ų£Ł ŁŲ²ŁŲ Ų§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł ŁŁŁ Ł Ł Ų§ŁŁŲ¬ŁŲÆ ŲØŁ Ł ŁŁŁ Ł Ł Ų³ŁŲ© ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų£ŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŲ±Ų¦ŁŲ³ ŲØŁŲ“ Ų£Ł ŁŁ Ł ŁŲÆŁ Ų© Ų§ŁŲŖŁ Ų§Ł Ų§ŲŖŁ ŁŁ Ų§ŁŁŁŲ§ŁŲ© Ų§ŁŲ«Ų§ŁŁŲ© ŁŁ Ų±Ų¦Ų§Ų³Ų© Ų§ŁŁŁŲ§ŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŁ ŲŖŲŲÆŲ© أ٠ŁŲ§ ŁŲÆŲ¹ Ų±Ų¬Ł ŲÆŁŁ ŁŁ Ų°ŁŁ ŁŁŲ§ Ų±Ų¬ŁŲ§ ŁŲر٠ؓرب Ų§ŁŲ®Ł Ų± أ٠ŁŲ·ŁŲØ Ł Ł Ų²ŁŲ¬ŲŖŁ Ų§ŁŲŲ¬Ų§ŲØ ŁŁŲ§Ł ŁŲ°Ų§ Ų¹ŁŁŲ§ً ŁŁŲ“Ų± ŲØŲ§ŁŲµŲŁ ŁŁŁŁ ŁŲŖŁ Ų³Ł ŲØŲ§ŁŁŲ¶Ų§ŁŲ§ Ų§ŁŲ®ŁŲ§ŁŁŲ© ŁŁŁ Ł Ł Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŁ Ł ŁŲØ Ų§ŁŲ±ŁŲ.ŁŁŲ¤ŁŲÆ ŲÆ. Ł Ų±Ų²ŁŁ Ų£ŁŁ Ų«ŲØŲŖ ŲØŲ§ŁŲÆŁŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ų·Ų¹ Ų£ŁŁ ŁŲ§ ŁŁŲ¬ŲÆ ŁŲÆŁ Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų§ŁŁ ŲŗŲ§ŁŁŁ ŁŲ±Ų¢Ł Ų®Ų§Ųµ ŲØŁŁ ŁŁŲ§ ŁŁŲ¬ŲÆ Ł Ų§ ŁŁŲ§Ł Ų¹ŁŁ.. Ł ŲµŲŁ ŁŲ§Ų·Ł Ų©.. ŁŁŁ ŲŗŁŲ± ŲµŲŁŲ. ŁŁŲ±Ł Ų£Ł Ų«Ł Ų§Ų± Ų¬ŁŁŲÆ Ų§ŁŲ¹ŁŁ Ų§Ų” ŁŁ Ų§ŁŲŖŁŲ±ŁŲØ ŲØŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŲµŁŲŖ Ų„ŁŁ ŲŲÆ Ų£ŁŁ Ų§Ų®ŲŖŁŲ± Ų§ŁŁ Ų°ŁŲØ Ų§ŁŲ¬Ų¹ŁŲ±Ł ŁŁŲÆŲ±Ų³ ŁŁ Ų¬Ų§Ł Ų¹Ų© Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ± ŁŲ„ŁŁ Ų§ŁŲ¢Ł ŁŲÆŲ±Ų³ ŲØŲ§ŁŁŲ¹Ł.ŁŁ Ų§ Ų£ŲµŲÆŲ± Ų§ŁŲ„Ł Ų§Ł Ų§ŁŲ£ŁŲØŲ± Ų§ŁŲ“ŁŲ® Ł ŲŁ ŁŲÆ Ų“ŁŲŖŁŲŖ ŁŁ Ų§ŁŲ³ŲŖŁŁŁŲ§ŲŖ ŁŲŖŁŁ Ų£Ų«Ų§Ų±ŲŖ Ų¬ŲÆŁŲ§ ŁŲØŁŲ±Ų§ ŁŲ£Ų¬Ų§Ų²ŲŖ Ų§ŁŁŲŖŁŁ Ų§ŁŲŖŲ¹ŲØŲÆ ŲØŁ Ų°ŁŲØ Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų§ŁŲ„Ł Ų§Ł ŁŲ© ŁŁŲÆ Ų¹Ų¶ŲÆ Ų§ŁŲ“ŁŲ® Ł ŲŁ ŲÆ Ų§ŁŲŗŲ²Ų§ŁŁ ŁŲ°Ł Ų§ŁŁŲŖŁŁ ŲØŲ±Ų£ŁŁ ŁŁŁŲ§ ŲŖŁŁŁ Ų§ŁŁŲŖŁŁ ŁŁ Ų§ ŁŲ±ŲÆŲŖ Ų¹ŁŁ ŁŲ³Ų§Ł Ų§ŁŲ“ŁŲ® Ł ŲŁ ŁŲÆ Ų“ŁŲŖŁŲŖ Ų„Ł "Ų§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł ŁŲ§ ŁŁŲ¬ŲØ Ų¹ŁŁ Ų£ŲŲÆ ٠٠أتباع٠اتباع Ł Ų°ŁŲØ Ł Ų¹ŁŁ ŲØŁ Ų„Ł ŁŁŁ Ł Ų³ŁŁ Ų§ŁŲŁ ŁŁ Ų£Ł ŁŁŁŲÆ Ł ŲØŲ§ŲÆŲ¦ Ų°Ł ŲØŲÆŲ” ٠أ٠٠ذŁŲØ Ł Ł Ų§ŁŁ Ų°Ų§ŁŲØ Ų§ŁŁ ŁŁŁŁŲ© ŁŁŁŲ§ ŲµŲŁŲŲ§ً ŁŲ§ŁŁ ŲÆŁŁŲ© Ų£ŲŁŲ§Ł ŁŲ§ ŁŁ ŁŲŖŲØŁŲ§ Ų§ŁŲ®Ų§ŲµŲ© ŁŁŁ Ł ŁŁŲÆ Ł Ų°ŁŲØŲ§ Ł Ł ŁŲ°Ł Ų§ŁŁ Ų°Ų§ŁŲØ Ų£Ł ŁŁŲŖŁŁ Ų„ŁŁ ŲŗŁŲ±Ł أ٠٠ذŁŲØ ŁŲ§Ł ŁŁŲ§ ŲŲ±Ų¬ Ų¹ŁŁŁ ŁŁ Ų“ŁŲ” Ł Ł Ų°ŁŁ. ŁŲ£Ł Ł Ų°ŁŲØ Ų§ŁŲ¬Ų¹ŁŲ±ŁŲ© Ų§ŁŁ Ų¹Ų±ŁŁŲ© ŲØŁ Ų°ŁŲØ Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų§ŁŲ„Ł Ų§Ł ŁŲ© Ų§ŁŲ§Ų«ŁŁ Ų¹Ų“Ų±ŁŲ© Ł Ų°ŁŲØ ŁŲ¬ŁŲ² Ų§ŁŲŖŲ¹ŲØŲÆ ŲØŁ Ų“Ų±Ų¹Ų§ ŁŲ³Ų§Ų¦Ų± Ł Ų°Ų§ŁŲØ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁّŲ© ŁŁŁŲØŲŗŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁ Ų³ŁŁ ŁŁ أ٠ŁŲ¹Ų±ŁŁŲ§ Ų°ŁŁ ŁŲ£Ł ŁŲŖŲ®ŁŲµŁŲ§ Ł Ł Ų§ŁŲ¹ŲµŲØŁŲ© ŲØŲŗŁŲ± Ų§ŁŲŁ ŁŁ Ų°Ų§ŁŲØ Ł Ų¹ŁŁŲ© ŁŁ Ų§ ŁŲ§Ł ŲÆŁŁ Ų§ŁŁŁ، ŁŁ Ų§ ŁŲ§ŁŲŖ Ų“Ų±ŁŲ¹ŲŖŁ ŁŁ Ų°ŁŲØ Ų£Ł Ł ŁŲµŁŲ±Ų© Ų¹ŁŁ Ł Ų°ŁŲØ، ŁŲ§ŁŁŁ Ł Ų¬ŲŖŁŲÆŁŁ Ł ŁŲØŁŁŁŁ Ų¹ŁŲÆ Ų§ŁŁŁ ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ ŁŲ¬ŁŲ² ŁŁ Ł ŁŁŲ³ Ų£ŁŁŲ§ ŁŁŁŲøŲ± ŁŲ§ŁŲ§Ų¬ŲŖŁŲ§ŲÆ ŲŖŁŁŁŲÆŁŁ ŁŲ§ŁŲ¹Ł Ł ŲØŁ Ų§ ŁŁŲ±Ų±ŁŁŁ ŁŁ ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ ŁŲ±Ł ŁŁ Ų°ŁŁ ŲØŁŁ Ų§ŁŲ¹ŲØŲ§ŲÆŲ§ŲŖ ŁŲ§ŁŁ Ų¹Ų§Ł ŁŲ§ŲŖ.ŁŲ°Ł Ų§ŁŁŲŖŁŁ ŁŲ§ŁŲŖ ŲØŁ Ų«Ų§ŲØŲ© Ų§ŁŲØŲ±ŁŲ§Ł Ų§ŁŲ°Ł Ų§ŁŁŲ¬Ų± ŁŲ£ŁŲ§Ł Ų§ŁŲÆŁŁŲ§ ŁŁŁ ŁŁŲ¹ŲÆŁŲ§ ŁŁŲ§Ų¬ŲŖ Ų§ŁŁŲ§Ų³ ŁŁ Ų§Ų¬ŲŖ Ų„ŁŁ ŲÆŲ±Ų¬Ų© أ٠اŁŲØŲ¹Ų¶ ŁŲ¬Ų£ Ų„ŁŁ Ų“ŁŁŲ® Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ± ŁŲ±Ų¬Ų§Ł Ų§ŁŲÆŁŁ ŁŁŲ¬ŲÆŁŲ§ ŁŲÆŁŁŁ Ų±Ų£ŁŲ§ Ų¢Ų®Ų±Ų§ ŁŁŲ§Ł Ł ŁŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŲ® Ł ŲŁ ŲÆ Ų§ŁŲŗŲ²Ų§ŁŁ Ų§ŁŲ°Ł ŁŁ ŁŲ®ŲŖŁŁ Ł Ų¹ Ų§ŁŲ“ŁŲ® Ų“ŁŲŖŁŲŖ ŁŲ£ŁŲÆŁ ŁŁ Ų§ŁŲ±Ų£Ł، ŲŁŲ« ŁŲ§Ł ŁŁ Ł Ų³Ų£ŁŁ Ų¹Ł ŁŁŁŁŲ© Ų„ŲµŲÆŲ§Ų± Ų“ŁŲ® Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ± ŁŲŖŁŲ§Ł بأ٠اŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ł Ų°ŁŲØ Ų„Ų³ŁŲ§Ł Ł ŁŲ³Ų§Ų¦Ų± Ų§ŁŁ Ų°Ų§ŁŲØ Ų§ŁŁ Ų¹Ų±ŁŁŲ©؟.. Ł Ų§Ų°Ų§ تعر٠ع٠اŁŲ“ŁŲ¹Ų©؟.. ŁŲ³ŁŲŖ Ų§ŁŲ³Ų§Ų¦Ł ŁŁŁŁŲ§، Ų«Ł Ų£Ų¬Ų§ŲØ ŁŲ§Ų¦ŁŲ§ "ŁŲ§Ų³ Ų¹ŁŁ ŲŗŁŲ± ŲÆŁŁŁŲ§". ŁŁŲ§Ł Ų§ŁŲ“ŁŲ® Ų§ŁŲŗŲ²Ų§ŁŁ ŁŁŲ±Ų¬Ł: ŁŁŁŁŁ Ų±Ų£ŁŲŖŁŁ ŁŲµŁŁŁ ŁŁŲµŁŁ ŁŁ ŁŁ Ų§ ŁŲµŁŁ ŁŁŲµŁŁ ŁŲ¹Ų¬ŲØ Ų§ŁŲ³Ų§Ų¦Ł ŁŁŲ§Ł "ŁŁŁ ŁŲ°Ų§؟"، ŁŁŲ§Ł Ų§ŁŲ“ŁŲ® "ŁŲ§ŁŲ£ŲŗŲ±ŲØ Ų£ŁŁŁ ŁŁŲ±Ų£ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł Ł Ų«ŁŁŲ§ ŁŁŲ¹ŲøŁ ŁŁ Ų§ŁŲ±Ų³ŁŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ Ł Ų«ŁŁŲ§ ŁŁŲŲ¬ŁŁ Ų„ŁŁ Ų§ŁŲØŁŲŖ Ų§ŁŲŲ±Ų§Ł ".Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŲ§ ŁŲ¹ŲøŁ ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł ŁŲ§ŁŲ³ŁŲ©:ŁŁŁŁ ŲÆ. Ų¬ŁŲ§Ł Ų¹ŁŲ¶ŁŁ Ų£Ų³ŲŖŲ§Ų° Ų§ŁŲŲÆŁŲ« ŲØŲ¬Ų§Ł Ų© Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ±: Ų„Ł Ų§ŁŲ“Ų±ŁŲ¹Ų© Ų§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł ŁŲ© ŲŖŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų±ŁŁŁŁ، Ų§ŁŲ±ŁŁ Ų§ŁŲ£ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł Ų§ŁŁŲ±ŁŁ ، ŁŲ§ŁŲ±ŁŁ Ų§ŁŲ«Ų§ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© Ų§ŁŁŲØŁŁŲ© Ų§ŁŁ Ų“Ų±ŁŲ©. ŁŁŲ°Ų§Ł Ų§ŁŲ£ŲµŁŲ§Ł ŁŲ§ ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲŖŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁ Ų§، Ų„Ų° ŲØŲÆŁŁŁŁ Ų§ ŁŲ§ Ł Ų¹ŁŁ ŁŁŲ“Ų±ŁŲ¹Ų© ŁŁŲ§ ŲŖŁŁŁ ŁŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł ŁŲ§Ų¦Ł Ų©. ŁŲ§ŁŁŲ±Ų¢Ł ŁŲ§ŁŲ³ŁŲ© ŁŁ Ų§ Ł ŲµŲÆŲ± Ų§ŁŲŖŁŁŁ Ų§ŁŲ°Ł ŁŲ¬ŲØ Ų§ŁŲ§Ų¹ŲŖŲ±Ų§Ł ŲØŁ Ų§ŲØŲŖŲÆŲ§Ų”ً ŁŁŲÆŲ®ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł . ŁŁŁŲ£Ų³Ł Ų§ŁŲ“ŲÆŁŲÆ ŁŁŲ§Ł Ų®ŁŲ§Ł Ų¬Ų°Ų±Ł ŲŁŁ ŁŲ°ŁŁ Ų§ŁŲ£ŲµŁŁŁ ŲØŁŁ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų©. ŁŲØŲ§ŁŁŲ³ŲØŲ© ŁŁŲ£ŲµŁ Ų§ŁŲ£ŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł Ų§ŁŁŲ±ŁŁ ، ŁŲØŁŁŁ Ų§ ŁŲ¬ŲÆ Ų§ŁŲŁŲ§ŁŲ© Ų§ŁŁŲ§Ł ŁŲ© Ł Ł Ų¬Ų§ŁŲØ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŲØŲ§ŁŁŲ±Ų¢Ł Ų§ŁŁŲ±ŁŁ ŁŲŖŲ¬ŁŁŲÆŁ ŁŲŖŁŲ§ŁŲŖŁ ŁŁŲ±Ų§Ų”Ų§ŲŖŁ ŁŲ¹ŁŁŁ Ł ŁŲŖŁŲ³ŁŲ±Ł، ŲŁŲ« ŁŁ Ų§ŁŁ Ų§ŲÆŲ© Ų§ŁŲ£Ų³Ų§Ų³ŁŲ© ŁŁŁ Ų·Ų§ŁŲØ Ų¹ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŁ ŲÆŲ§Ų±Ų³ ŁŲ§ŁŁ Ų¹Ų§ŁŲÆ ŁŲ§ŁŲ¬Ų§Ł Ų¹Ų§ŲŖ Ų§ŁŲÆŁŁŁŲ©، ŁŲ¬ŲÆ Ų£Ł Ų¹ŁŲ³ Ų°ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲµŲŁŲ Ų¹ŁŲÆ Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų©، ŁŁŁ ŁŲ§ ŁŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł ŁŲ¹ŁŁŁ ٠أ٠اŁŲŖŁ Ų§Ł ŲØŲ§Ų¹ŲŖŲ±Ų§Ł ŁŲ§ŲÆŲŖŁŁ Ų£ŁŁŲ³ŁŁ . ŁŁŁŲ§Ł Ų¹ŲÆŁ Ų§ŁŲŖŁ Ų§Ł Ł Ł Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŲØŲŖŁŲ§ŁŲ© ŁŲŖŲ¹ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł ŲŲŖŁ Ų¹ŁŁ Ł Ų³ŲŖŁŁ Ų§ŁŲ¬Ų§Ł Ų¹Ų§ŲŖ ŁŲ§ŁŲŁŲ²Ų§ŲŖ Ų§ŁŲ¹ŁŁ ŁŲ© Ų§ŁŲÆŁŁŁŲ©، ŁŲ¹ŁŁ Ų®Ų§Ł ŁŲ¦Ł Ł Ų±Ų“ŲÆ Ų§ŁŲ«ŁŲ±Ų© Ų§ŁŲ„ŁŲ±Ų§ŁŁŲ© ŁŁŁŁ: ( Ł Ł Ų§ ŁŲ¤Ų³Ł ŁŁ أ٠ب؄٠ŁŲ§ŁŁŲ§ ŲØŲÆŲ” Ų§ŁŲÆŲ±Ų§Ų³Ų© ŁŁ ŁŲ§ŲµŁŲŖŁŲ§ ŁŁŲ§ Ų„ŁŁ ŲŁŁ Ų§Ų³ŲŖŁŲ§Ł Ų„Ų¬Ų§Ų²Ų© Ų§ŁŲ„Ų¬ŲŖŁŲ§ŲÆ Ł Ł ŲÆŁŁ أ٠ŁŲ±Ų§Ų¬Ų¹ Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł ŁŁŁ Ł Ų±Ų© ŁŲ§ŲŲÆŲ© !!! ŁŁ Ų§Ų°Ų§ ŁŁŲ°Ų§ ؟ ŁŲ£Ł ŲÆŲ±ŁŲ³ŁŲ§ ŁŲ§ ŲŖŲ¹ŲŖŁ ŲÆ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł).ŁŁ Ł Ų§ ŁŲ²ŁŲÆ Ų§ŁŲ£Ł Ų± Ų³ŁŲ”ً أ٠اŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŲ¹ŲŖŁŲÆŁŁ ŲØŁŲ¬ŁŲÆ Ł ŲµŲŁ ŁŲÆŁŁŁ Ų§Ų³Ł Ł Ł ŲµŲŁ ŁŲ§Ų·Ł Ų© ŁŁŲ±ŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ ŁŁ ŁŲŖŲ§ŲØŁ " Ų§ŁŁŲ§ŁŁ " ع٠جعŁŲ± Ų§ŁŲµŲ§ŲÆŁ : ( ŁŲ„Ł Ų¹ŁŲÆŁŲ§ ŁŁ ŲµŲŁ ŁŲ§Ų·Ł Ų© Ų¹ŁŁŁŲ§ Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł ، ŁŲ§Ł : ŁŁŲŖ : ŁŁ Ų§ Ł ŲµŲŁ ŁŲ§Ų·Ł Ų© ؟ ŁŲ§Ł : Ł ŲµŲŁ ŁŁŁ Ł Ų«Ł ŁŲ±Ų¢ŁŁŁ ŁŲ°Ų§ Ų«ŁŲ§Ų« Ł Ų±Ų§ŲŖ، ŁŲ§ŁŁŁ Ł Ų§ŁŁŁ Ųر٠ŁŲ§ŲŲÆ Ł Ł ŁŲ±Ų¢ŁŁŁ ).ŁŁŲ¶ŁŁ ŲÆ. Ų¬ŁŲ§Ł Ų¹ŁŲ¶ŁŁ: Ų„Ł Ų¹ŁŁŲÆŲ© ŁŲØŲ§Ų± Ų¹ŁŁ Ų§Ų” Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŁ ŲŖŲŲ±ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł Ł Ų¹Ų±ŁŁŲ©، ŁŁ Ų¹ ŲŖŲØŲ±Ų¤ ŲØŲ¹Ų¶ Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŲøŲ§ŁŲ±ŁŲ§ Ł Ł Ų§ŁŁŁŁ ŲØŲŖŲŲ±ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł، Ų„ŁŲ§ Ų£ŁŁŲ§ ŁŲ±Ų§ŁŁ ŁŲ§ŁŲ²Ų§ŁŁŁ ŁŲ·ŲØŲ¹ŁŁ ŲŖŁŁ Ų§ŁŁŲŖŲØ Ų§ŁŁ ŲŲ“ŁŲ© ŲØŲ§ŁŲ±ŁŲ§ŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŲŖŁ ŲŖŁŁŁ ŲØŲ§ŁŲŖŲŲ±ŁŁ. ŁŁ Ų§ ŁŲ¹ŲøŁ Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų§ŁŲ¹ŁŁ Ų§Ų” Ų§ŁŁ ŲµŲ±ŲŁŁ ŲØŲ§ŁŁŁŁ ŲØŲ§ŁŲŖŲŲ±ŁŁ Ł Ų«Ł Ų§ŁŁŁŲ±Ł Ų§ŁŲ·ŲØŲ±Ų³Ł، ŁŲ³ŁŁŁ ŲØŁ ŁŁŲ³ Ų§ŁŁŁŲ§ŁŁ، ŁŁ ŲŁ ŲÆ Ų§ŁŁŁŲ¶ Ų§ŁŁŲ§Ų“Ų§ŁŁ، ŁŁ ŲŁ ŲÆ ŲØŲ§ŁŲ± Ų§ŁŁ Ų¬ŁŲ³Ł، ŁŁŁŲ³Ł Ų§ŁŲØŲŲ±Ų§ŁŁ، ŁŁŲ¹Ł Ų© Ų§ŁŁŁ Ų§ŁŲ¬Ų²Ų§Ų¦Ų±Ł. ŁŁŲ§Ų²Ų§Ł ŁŁŲ§Ł Ł Ł Ų¹ŁŁ Ų§Ų” Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų§ŁŁ Ų¹Ų§ŲµŲ±ŁŁ Ł Ł ŁŲµŲ±Ų ŲØŲ§ŁŲŖŲŲ±ŁŁ.ŁŁŲŖŲ³Ų§Ų”Ł ŲÆ. Ų¬ŁŲ§Ł Ų¹ŁŲ¶ŁŁ: Ų„Ų°Ų§ ŁŲ§Ł Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł Ų¹ŁŲÆ Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ł ŲŲ±ŁŲ§ً أ٠ŁŲ§ŁŲµŲ§ً ŁŁŁŁ ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ§Ų³ŲŖŁŲ§ŲÆ Ų„ŁŁŁ ؟!، ŁŁŁŁ ŁŲ®ŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł Ł Ł Ų§ŁŲ±ŁŁ Ų§ŁŲ³Ų§ŲÆŲ³ ŁŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł ؟، ŁŁŁŁ ŁŲŲŖŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł Ų¹ŁŁ Ų¢ŁŲ§ŲŖ ŲŖŲ®Ų§ŁŁ Ų¹ŁŁŲÆŲ© Ų§ŁŲ£Ų¦Ł Ų© ŲØŲ²Ų¹Ł ŁŁ ؟!.أ٠ا Ų§ŁŲ£ŲµŁ Ų§ŁŲ«Ų§ŁŁ ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© Ų§ŁŁŲØŁŁŲ© Ų§ŁŁ Ų“Ų±ŁŲ©- ŁŲ§ŁŁŁŲ§Ł ŁŁŲÆŁŲŖŁŲ± Ų¬ŁŲ§Ł Ų¹ŁŲ¶ŁŁ- ŁŲØŁŁŁ Ų§ ŁŲ¬ŲÆ Ų§ŁŲŖŁ Ų§Ł Ų§ً ŁŲØŁŲ±Ų§ً ŲØŲ§ŁŲ³ŁŲ©، ŁŲ¹ŁŁŁ Ł ŲµŲ·ŁŲ Ų§ŁŲŲÆŁŲ«، ŁŲ§ŁŲ¬Ų±Ų ŁŲ§ŁŲŖŲ¹ŲÆŁŁ، ŁŲŖŲ§Ų±ŁŲ® Ų§ŁŲ±Ų¬Ų§Ł، ŁŲŖŲ·ŲØŁŁ Ł Ų¹Ų§ŁŁŲ± Ų¹ŁŁ ŁŲ© ŲÆŁŁŁŲ© ŁŁ Ų¹Ų±ŁŲ© ŲµŲŲ© Ų§ŁŲŲÆŁŲ« Ų£Ų°ŁŁŲŖ Ų¹ŁŁ Ų§Ų” Ų§ŁŲŗŲ±ŲØ، ŲØŁŁŁ Ų§ ŁŲŲÆŲ« Ų°ŁŁ Ų¹ŁŲÆ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ¬ŲÆ Ų£Ł Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŲ§ ŁŲ¹Ł ŁŁŁ ŲØŁŲ§ Ų„ŁŲ§ ŁŁŁ Ų§ ŁŁŲ§ŁŁ Ł Ų°ŁŲØŁŁ .ŁŲ£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲÆŁŁŁ Ł ŁŁŲ¬ ŁŁ ŲŖŁŁŁ Ų§ŁŲ£ŲŲ§ŲÆŁŲ« ŁŲ®Ų¶Ų¹ŁŁ ŁŁ ŁŁ Ł Ų§ Ų¬Ų§Ų”ŁŁ Ł Ł Ų§ŁŲ£ŲŲ§ŲÆŁŲ« Ų¹Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ .. ŁŁŁ Ų§Ų°Ų§ ŁŲ§ ŁŁŲ¹Ł Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų°ŁŁ ؟.Ų§ŁŲ„Ł Ų§Ł Ų© Ų£ŁŲØŲ± Ų¹Ų§Ų¦Ł:ŁŲ±Ł ŲÆ. Ł ŲŁ ŲÆ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁ ŁŲ¹Ł Ų§ŁŲØŲ±Ł Ų§ŁŲ£Ų³ŲŖŲ§Ų° ŲØŲ¬Ų§Ł Ų¹Ų© Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ± Ų£ŁŁ ŁŲ§ ŁŁ ŁŁ أ٠ŁŲŲÆŲ« ŲŖŁŲ§Ų±ŲØ ŲØŁŁ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų·Ų§ŁŁ Ų§ ت٠س٠اŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŲØŲ¹ŁŁŲÆŲŖŁŁ ŁŁ Ų§ŁŲ„Ł Ų§Ł Ų© Ų§ŁŲŖŁ ŲŖŁŁŁ Ų¹ŁŲÆŁŁ ŲØŲ§ŁŁŲµ، Ų„Ų° ŁŲ¬ŲØ Ų£Ł ŁŁŲµ Ų§ŁŲ„Ł Ų§Ł Ų§ŁŲ³Ų§ŲØŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲ„Ł Ų§Ł Ų§ŁŁŲ§ŲŁ ŲØŲ§ŁŲ¹ŁŁ ŁŲ§ ŲØŲ§ŁŁŲµŁ، ŁŲ£Ł Ų§ŁŲ„Ł Ų§Ł Ų© Ł Ł Ų§ŁŲ£Ł ŁŲ± Ų§ŁŁŲ§Ł Ų© Ų§ŁŲŖŁ ŁŲ§ŁŲ¬ŁŲ² Ų£Ł ŁŁŲ§Ų±Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ Ų§ŁŲ£Ł Ų© ŁŁŲŖŲ±ŁŁŲ§ ŁŁ ŁŲ§ً ŁŲ±Ł ŁŁ ŁŲ§ŲŲÆ Ł ŁŁŁ Ų±Ų£ŁŲ§ً، ŲØŁ ŁŲ¬ŲØ Ų£Ł ŁŲ¹ŁŁ Ų“Ų®ŲµŲ§ً ŁŁ Ų§ŁŁ Ų±Ų¬ŁŲ¹ Ų„ŁŁŁ ŁŲ§ŁŁ Ų¹ŁَّŁ Ų¹ŁŁŁ. ŁŁŲ³ŲŖŲÆŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų°ŁŁ ŲØŲ£Ł Ų§ŁŁŲØŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ ŁŲÆ ŁŲµ Ų¹ŁŁ Ų„Ł Ų§Ł Ų© Ų¹ŁŁ Ł Ł ŲØŲ¹ŲÆŁ ŁŲµŲ§ً ŲøŲ§ŁŲ±Ų§ً ŁŁŁ ŲŗŲÆŁŲ± خ٠. ŁŁŲ²Ų¹Ł ŁŁ ŲØŲ£Ł Ų¹ŁŁŲ§ً ŁŲÆ ŁŲµ Ų¹ŁŁ ŁŁŲÆŁŁ Ų§ŁŲس٠ŁŲ§ŁŲŲ³ŁŁ .. ŁŁŁŲ°Ų§ .. ŁŁŁ Ų„Ł Ų§Ł ŁŲ¹ŁŁ Ų§ŁŲ„Ł Ų§Ł Ų§ŁŲ°Ł ŁŁŁŁ ŲØŁŲµŁŲ© Ł ŁŁ .. ŁŁŲ³Ł ŁŁŁŁ Ų§ŁŲ£ŁŲµŁŲ§Ų”. ŁŁŲŖŁŲ±Ų¹ ع٠ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŁ ŲØŲÆŲ£ Ų§ŁŲØŲ§Ų·Ł Ų¹ŲÆŲ© Ł ŲØŲ§ŲÆŲ¦ ŲØŲ§Ų·ŁŲ© أخر٠٠ث٠اŁŲ¹ŲµŁ Ų©، ŁŲ§ŁŲ¹ŁŁ ، ŁŲ®ŁŲ§Ų±Ł Ų§ŁŲ¹Ų§ŲÆŲ§ŲŖ، ŁŲ§ŁŲŗŁŲØŲ©، ŁŲ§ŁŲ±Ų¬Ų¹Ų©.ŁŲ§ŁŲ£Ų¦Ł Ų© Ų¹ŁŲÆŁŁ Ł Ų¹ŲµŁŁ ŁŁ ع٠اŁŲ®Ų·Ų£ ŁŲ§ŁŁŲ³ŁŲ§Ł، ŁŲ¹Ł Ų„ŁŲŖŲ±Ų§Ł Ų§ŁŁŲØŲ§Ų¦Ų± ŁŲ§ŁŲµŲŗŲ§Ų¦Ų±، ŁŁŁ Ų„Ł Ų§Ł Ł Ł Ų§ŁŲ£Ų¦Ł Ų© Ų£ُŁŲÆِŲ¹ Ų§ŁŲ¹ŁŁ Ł Ł ŁŲÆŁ Ų§ŁŲ±Ų³ŁŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ ŲØŁ Ų§ ŁŁŁ Ł Ų§ŁŲ“Ų±ŁŲ¹Ų©، ŁŁŁ ŁŁ ŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ً ŁŲÆŁŁŲ§ً ŁŁŲ§ŁŁŲ¬ŲÆ ŲØŁŁŁ ŁŲØŁŁ Ų§ŁŁŲØŁ Ł Ł ŁŲ±Ł Ų³ŁŁ Ų£ŁŁ ŁŲ§ŁŁŲŁ Ų„ŁŁŁ، ŁŁŲÆ Ų§Ų³ŲŖŁŲÆŲ¹ŁŁ Ų±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ Ų£Ų³Ų±Ų§Ų± Ų§ŁŲ“Ų±ŁŲ¹Ų© ŁŁŲØŁŁŁŲ§ ŁŁŁŲ§Ų³ Ł Ų§ŁŁŲŖŲ¶ŁŁ Ų²Ł Ų§ŁŁŁ .ŁŁŲ¬ŁŲ² أ٠تجر٠خŁŲ§Ų±Ł Ų§ŁŲ¹Ų§ŲÆŲ§ŲŖ Ų¹ŁŁ ŁŲÆ Ų§ŁŲ„Ł Ų§Ł ، ŁŁŲ³Ł ŁŁ Ų°ŁŁ Ł Ų¹Ų¬Ų²Ų©، ŁŲ„Ų°Ų§ ŁŁ ŁŁŁ ŁŁŲ§Ł ŁŲµ Ų¹ŁŁ Ų„Ł Ų§Ł Ł Ł Ų§ŁŲ„Ł Ų§Ł Ų§ŁŲ³Ų§ŲØŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ¬ŲØ Ų£Ł ŁŁŁŁ Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ Ų§ŁŲ„Ł Ų§Ł Ų© ŁŁ ŁŲ°Ł Ų§ŁŲŲ§ŁŲ© ŲØŲ§ŁŲ®Ų§Ų±ŁŲ©. ŁŁŲ±ŁŁ بأ٠اŁŲ²Ł Ų§Ł ŁŲ§ŁŲ®ŁŁ Ł Ł ŲŲ¬Ų© ŁŁŁ Ų¹ŁŁŲ§ً ŁŲ“Ų±Ų¹Ų§ً، ŁŁŲŖŲ±ŲŖŲØ Ų¹ŁŁ Ų°ŁŁ أ٠اŁŲ„Ł Ų§Ł Ų§ŁŲ«Ų§ŁŁ Ų¹Ų“Ų± ŁŲÆ ŲŗŲ§ŲØ ŁŁ Ų³Ų±ŲÆŲ§ŲØŁ ŁŁ Ų§ ŁŲ²Ų¹Ł ŁŁ ŁŲ£Ł ŁŁ ŲŗŁŲØŲ© صغر٠ŁŲŗŁŲØŲ© ŁŲØŲ±Ł، ŁŁŲ°Ų§ Ł Ł Ų£Ų³Ų§Ų·ŁŲ±ŁŁ . ŁŁŲ¹ŲŖŁŲÆŁŁ ŲØŲ£Ł Ųس٠اŁŲ¹Ų³ŁŲ±Ł Ų³ŁŲ¹ŁŲÆ ŁŁ Ų¢Ų®Ų± Ų§ŁŲ²Ł Ų§Ł Ų¹ŁŲÆŁ Ų§ ŁŲ£Ų°Ł Ų§ŁŁŁ ŁŁ ŲØŲ§ŁŲ®Ų±ŁŲ¬، ŁŁŁŁŁŁŁ ŲØŲ£ŁŁ ŲŁŁ Ų¹ŁŲÆŲŖŁ Ų³ŁŁ ŁŲ£ Ų§ŁŲ£Ų±Ų¶ Ų¹ŲÆŁŲ§ً ŁŁ Ų§ Ł ŁŲ¦ŲŖ Ų¬ŁŲ±Ų§ً ŁŲøŁŁ Ų§ً، ŁŲ³ŁŁŲŖŲµ Ł Ł Ų®ŲµŁŁ Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų¹ŁŁ Ł ŲÆŲ§Ų± Ų§ŁŲŖŲ§Ų±ŁŲ®.ŁŁŲ¶ŁŁ ŲÆ. Ł ŲŁ ŲÆ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŁ ŁŲ¹Ł Ų§ŁŲØŲ±Ł Ų£ŁŁ ŁŲ§ ŁŁ ŁŁ Ų£Ł ŁŁŲ¬Ų Ų£Ł ŲŖŁŲ±ŁŲØ Ų„Ų°Ų§ Ų£ŲµŲ± Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲ„ŁŁ Ų§Ł ŲØŁ ŲØŲÆŲ£ Ų§ŁŲŖŁŁŲ© Ų§ŁŲŖŁ ŁŲ¹ŲÆŁŁŁŲ§ Ų£ŲµŁŲ§ً Ł Ł Ų£ŲµŁŁ Ų§ŁŲÆŁŁ، ŁŁ Ł ŲŖŲ±ŁŁŲ§ ŁŲ§Ł ŲØŁ ŁŲ²ŁŲ© تر٠اŁŲµŁŲ§Ų©، ŁŁŁ ŁŲ§Ų¬ŲØŲ© ŁŲ§ŁŲ¬ŁŲ² Ų±ŁŲ¹ŁŲ§ ŲŲŖŁ ŁŲ®Ų±Ų¬ Ų§ŁŁŲ§Ų¦Ł ، ŁŁ Ł ŲŖŲ±ŁŁŲ§ ŁŲØŁ Ų®Ų±ŁŲ¬Ł Ų®Ų±Ų¬ Ų¹Ł ŲÆŁŁ Ų§ŁŁŁ ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ ŁŲ¹Ł ŲÆŁŁ Ų§ŁŲ„Ł Ų§Ł ŁŲ©. ŁŁ Ų§ ŲŖŁŁ Ų§ŁŁ ŲŖŲ¹Ų© ŲŲ¬Ų± Ų¹Ų«Ų±Ų© أ٠ا٠اŁŲŖŁŲ±ŁŲØ Ų§ŁŁ Ų²Ų¹ŁŁ ، ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŲ±ŁŁ بأ٠٠تعة Ų§ŁŁŲ³Ų§Ų” Ų®ŁŲ± Ų§ŁŲ¹Ų§ŲÆŲ§ŲŖ ŁŲ£ŁŲ¶Ł Ų§ŁŁŲ±ŲØŲ§ŲŖ Ł Ų³ŲŖŲÆŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų°ŁŁ ŲØŁŁŁŁ ŲŖŲ¹Ų§ŁŁ: ( ŁŁ Ų§ Ų§Ų³ŲŖŁ ŲŖŲ¹ŲŖŁ ŲØŁ Ł ŁŁŁ ŁŲ¢ŲŖŁŁŁ Ų£Ų¬ŁŲ±ŁŁ ŁŲ±ŁŲ¶Ų©) ŁŁŲÆ ŲŲ±ّŁ Ų§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł ŁŲ°Ų§ Ų§ŁŲ²ŁŲ§Ų¬ Ų§ŁŲ°Ł ŲŖŲ“ŲŖŲ±Ų· ŁŁŁ Ł ŲÆŲ© Ł ŲŲÆŁŲÆŲ© ŁŁŁ Ų§ Ų§Ų“ŲŖŲ±Ų· Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ¬ŁŲØ Ų§Ų³ŲŖŲŲ¶Ų§Ų± ŁŁŲ© Ų§ŁŲŖŲ£ŲØŁŲÆ، ŁŁŲ²ŁŲ§Ų¬ Ų§ŁŁ ŲŖŲ¹Ų© Ų¢Ų«Ų§Ų± Ų³ŁŲØŁŲ© ŁŲ«ŁŲ±Ų© Ų¹ŁŁ Ų§ŁŁ Ų¬ŲŖŁ Ų¹.ŁŁ Ł Ų§ŁŲ¹ŁŲ§Ų¦Ł Ų§ŁŲŖŁ ŁŲ±Ų§ŁŲ§ ŲÆ. Ų§ŁŲØŲ±Ł ŁŁ Ų·Ų±ŁŁ Ų§ŁŲŖŁŲ±ŁŲØ ŲØŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŁ Ł Ų³Ų£ŁŲ© Ų³ŲØ Ų§ŁŲµŲŲ§ŲØŲ©. ŁŁŁ Ų¹ŁŲÆŁŁ Ł ŲØŲÆŲ£ Ų§ŁŲØŲ±Ų§Ų”Ų©، ŲŁŲ« ŁŲŖŲØŲ±Ų£ŁŁ Ł Ł Ų§ŁŲ®ŁŁŲ§Ų” Ų§ŁŲ«ŁŲ§Ų«Ų© Ų£ŲØŁ ŲØŁŲ± ŁŲ¹Ł Ų± ŁŲ¹Ų«Ł Ų§Ł Ų±Ų¶ŁŲ§Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŁ ج٠ŁŲ¹Ų§ً ŁŁŁŲ¹ŲŖŁŁŁ ŲØŲ£ŁŲØŲ Ų§ŁŲµŁŲ§ŲŖ ŁŲ£ŁŁŁ - ŁŁ Ų§ ŁŲ²Ų¹Ł ŁŁ- Ų§ŲŗŲŖŲµŲØŁŲ§ Ų§ŁŲ®ŁŲ§ŁŲ© ŲÆŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§ŁŲ°Ł ŁŁ Ų£ŲŁ Ł ŁŁŁ ŲØŁŲ§، ŁŁ Ų§ ŁŲØŲÆŲ£ŁŁ ŲØŁŲ¹Ł Ų£ŲØŁŲØŁŲ± ŁŲ¹Ł Ų±- Ų±Ų¶Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ£Ų±Ų¶Ų§ŁŁ - ŲØŲÆŁ Ų§ŁŲŖŲ³Ł ŁŲ© ŁŁ ŁŁ أ٠ر Ų°Ł ŲØŲ§Ł، ŁŁŁ ŁŁŲ§ŁŁŁ ŁŲ°ŁŁ Ł Ł ŁŲ«ŁŲ± Ł Ł Ų§ŁŲµŲŲ§ŲØŲ© ŲØŲ§ŁŁŲ¹Ł، ŁŁŲ§ ŁŲŖŁŲ±Ų¹ŁŁ Ų¹Ł ŁŁŁ Ų£Ł Ų§ŁŁ Ų¤Ł ŁŁŁ Ų¹Ų§Ų¦Ų“Ų© Ų±Ų¶Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŲ§ ŲØŲ§ŁŲ·Ų¹Ł ŁŲ§ŁŁŲ¹Ł .Ų„Ł Ų§ŁŁŁ Ų³ŲØŲŲ§ŁŁ ŁŲŖŲ¹Ų§ŁŁ ŁŲ±Ų³ŁŁŁ ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ ŲØŁŁŲ§ Ł ŁŲ§ŁŲ© Ų§ŁŲµŲŲ§ŲØŲ© Ų§ŁŲ°ŁŁ ŁŲ“Ų±ŁŲ§ Ų§ŁŲÆŁŁ ŁŲŁ ŁŁŲ§ ŁŁŲ§Ų” Ų§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł ! Ų„ŁŲ§ أ٠اŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŲŖŁŁŁ ŁŁ ŲŁŁŁ : (Ų„Ł Ų§ŁŁŲ§Ų³ ŁŁŁŁ Ų§Ų±ŲŖŲÆŁŲ§ ŲØŲ¹ŲÆ Ų±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŲŗŁŲ± Ų£Ų±ŲØŲ¹Ų©). ŁŲŖŁŁŁŲ± ŁŁŲ¹Ł Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŲ£Ł Ų§ŁŁ Ų¤Ł ŁŁŁ Ų¹Ų§Ų¦Ų“Ų© ŁŲ§Ų¦Ł !! ŁŁŁŁ Ų§ŁŁ Ų¬ŁŲ³Ł: (Ų„ŁŁŲ§ ŁŲŖŲØŲ±Ų£ Ł Ł Ų§ŁŲ£ŲµŁŲ§Ł Ų§ŁŲ£Ų±ŲØŲ¹Ų© Ų£ŲØŁ ŲØŁŲ± ŁŲ¹Ł Ų± ŁŲ¹Ų§Ų¦Ų“Ų© ŁŲŁŲµŲ© .. ŁŲ£ŁŁŁ Ų“Ų± Ų®ŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁ ŁŲ¬Ł Ų§ŁŲ£Ų±Ų¶ ŁŲ£ŁŁ ŁŲ§ ŁŲŖŁ Ų§ŁŲ„ŁŁ Ų§Ł ŲØŲ§ŁŁŁ Ų„ŁŲ§ ŲØŲ¹ŲÆ Ų§ŁŲŖŲØŲ±Ų¤ Ł ŁŁŁ ).ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŲŖŲ±Ł Ł Ł Ų§ŁŁŁŲÆ ŁŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł أ٠ŁŲ£Ų®Ų°ŁŲ§ ŲŖŁŲ³ŁŲ±ŁŁ ŁŁŁŲ±Ų¢Ł ع٠أ٠ثا٠أب٠ŁŲ±ŁŲ±Ų© ŁŲ³Ł Ų±Ų© ŲØŁ Ų¬ŁŲÆŲØ ŁŲ£ŁŲ³ ŲØŁ Ł Ų§ŁŁ ŁŲŗŁŲ±ŁŁ Ł Ł Ł Ų£ŲŖŁŁŁŲ§ ŲµŁŲ§Ų¹Ų© Ų§ŁŲŖŁŁŁŁ ŁŲ§ŁŲÆŲ³ ŁŲ§ŁŁŲ°ŲØ ŁŲ§ŁŲ„ŁŲŖŲ±Ų§Ų” ŲŲ§Ų“Ų§ ŁŁŁ. ŁŁŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§Ų¤ŁŁ Ų„Ł ŲŖŲ¬ŁŁŲ² Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŲ¹Ł Ų§ŁŲ“ŁŲ®ŁŁ Ų£ŲØŁ ŲØŁŲ± ŁŲ¹Ł Ų± ŁŲ£ŲŖŲØŲ§Ų¹ŁŁ Ų§ ŁŲ„ŁŁ Ų§ ŁŲ¹ŁŁŲ§ Ų°ŁŁ Ų£Ų³ŁŲ© ŁŲ±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ ŁŲ§ŁŲŖŁŲ§Ų” ŁŲ£Ų«Ų±Ł !! ŁŲ„ŁŁŁ ŁŁŲ§Ų“Ł ŁŲÆ Ų£ŲµŲØŲŁŲ§ Ł Ų·Ų±ŁŲÆŁŁ Ł Ł ŲŲ¶Ų±Ų© Ų§ŁŁŲØŁ ŁŁ ŁŲ¹ŁŁŁŁ Ł Ł Ų§ŁŁŁ.Ł ŁŁŁ Ų„ŁŲ±Ų§Ł Ł Ł Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŁŲ¶ŲŁ:** ŁŁŁŁ ŲÆ. Ł ŲŁ ŲÆ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł ŁŁŁŲ± Ų§ŁŲ£Ų³ŲŖŲ§Ų° ŲØŲ¬Ų§Ł Ų¹Ų© Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ±: Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ“ŁŁŁŁ Ł Ų§ ŁŲ²ŁŲÆ Ų¹ŁŁ Ų¹Ų“Ų±ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŁ Ų§Ų¦Ų© Ł Ł Ų³ŁŲ§Ł Ų„ŁŲ±Ų§Ł ŲŲ³ŲØ ŲŖŁŲÆŁŲ±Ų§ŲŖ ŲŗŁŲ± رس٠ŁŲ©، ŲØŁŁŁ Ų§ ŲŖŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ·Ų§ŲŖ Ų§ŁŲ±Ų³Ł ŁŲ© Ų„ŁŁŁ ŁŲ§ ŁŲ“ŁŁŁŁ Ų£ŁŲ«Ų± Ł Ł ŲŖŲ³Ų¹Ų© ŁŁ Ų§ŁŁ Ų§Ų¦Ų© Ł Ł Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł Ų§ŁŲØŲ§ŁŲŗ Ų¹ŲÆŲÆŁŁ 65 Ł ŁŁŁŁ ŁŲ³Ł Ų©. ŁŁŁ Ł Ų¹ ŁŲ°Ł Ų§ŁŁŲ³ŲØŲ© Ł Ł ŁŁŲ¹ŁŁ Ł Ł ŲŖŁŁŁ Ų§ŁŁŲøŲ§Ų¦Ł Ų§ŁŁŁŲ§ŲÆŁŲ© ŁŲ§ŁŁ Ų³Ų¤ŁŁŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŁŲØŲ±Ł ŁŲ§ŁŁŲ²Ų§Ų±Ų© ŁŁŁŲ§ŲØŲ© Ų§ŁŁŲ²Ų±Ų§Ų” ŁŲ§ŁŲ³ŁŲ§Ų±Ų© ŁŲ¶ŁŲ§ Ų¹Ł ŁŁŲ§ŲÆŲ© Ų§ŁŁŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŁ Ų³ŁŲŲ© ŁŲ§ŁŁ Ų³Ų¤ŁŁŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŲ±Ų¦ŁŲ³ŁŲ© ŁŁ Ų§ŁŁŲ¶Ų§Ų”، ŲŁŲ« ŁŲ§ ŁŁŲ¬ŲÆ Ų³ŁŁ ŁŲ§ŲŲÆ ŁŁ Ł Ų¬ŁŲ³ Ų§ŁŁŲ²Ų±Ų§Ų” ŁŲ§ŁŁ ŁŲ§ŲµŲØ Ų§ŁŲ±Ų¦ŁŲ³ŁŲ© ŁŁ Ų§ŁŁŲ²Ų§Ų±Ų§ŲŖ ŁŲ§ŁŁ Ų¤Ų³Ų³Ų§ŲŖ Ų§ŁŁŲØŲ±Ł، ŁŁ Ų§ Ų£Ł Ų§ŁŁ ŲŲ§ŁŲøŁŁ ŁŲ±Ų¤Ų³Ų§Ų” Ų§ŁŲÆŁŲ§Ų¦Ų± Ų§ŁŲ±Ų³Ł ŁŲ© ŁŁ Ų§ŁŁ ŲÆŁ ŁŲ§ŁŁ ŲŲ§ŁŲøŲ§ŲŖ Ų§ŁŲŖŁ ŁŲ“ŁŁ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© Ų§ŁŲ£ŲŗŁŲØŁŲ© Ų§ŁŁ Ų·ŁŁŲ© ŁŁŁŲ§، ŁŁ ج٠ŁŲ¹Ų§ Ł Ł Ų§ŁŲ“ŁŲ¹Ų©.Ų„Ł Ų§ŁŲŁŁŁ Ų© Ų§ŁŲ„ŁŲ±Ų§ŁŁŲ© ŲŖŲ±ŁŲ¶ Ų§ŁŁ ŁŲ§ŁŁŲ© Ų¹ŁŁ Ų„ŁŲ“Ų§Ų” Ł Ų³Ų¬ŲÆ ŁŲ£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŁ Ų·ŁŲ±Ų§Ł Ų±ŲŗŁ Ų§ŁŲŖŁ Ų§Ų” Ł Ų§ ŁŲ²ŁŲÆ Ų¹ŁŁ ŁŲµŁ Ł ŁŁŁŁ Ł Ł Ų³ŁŲ§Ł Ų§ŁŲ¹Ų§ŲµŁ Ų© Ų„ŁŁ Ų§ŁŁ Ų°ŁŲØ Ų§ŁŲ³ŁŁ ŲØŁŁŁ Ų§ ŁŁŲ§Ł Ł Ų¹Ų§ŲØŲÆ ŁŁŁŲ§Ų¦Ų³ ŁŁŲ£ŁŁŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŲÆŁŁŁŲ© Ł Ų«Ł Ų§ŁŲ²Ų±Ų§ŲÆŲ“ŲŖŁŁŁ ŁŲ§ŁŁŁŁŲÆ ŁŲ§ŁŁŲµŲ§Ų±Ł ŁŁ Ų§ŁŲ¹Ų§ŲµŁ Ų©.ŁŁ ŁŲ° ŲØŲÆŲ§ŁŲ© Ų§ŁŲ«ŁŲ±Ų© ŁŲŲŖŁ Ų§ŁŁŁŁ ŲŖŁ Ų§Ų±Ų³ Ų§ŁŲŁŁŁ Ų© Ų§ŁŲ„ŁŲ±Ų§ŁŁŲ© Ų£ŲØŲ“Ų¹ Ų£ŁŁŲ§Ų¹ Ų§ŁŲøŁŁ ŁŲ§ŁŲŖŁ ŁŁŲ² Ų¶ŲÆ Ų¹ŁŁ Ų§Ų” ŁŲÆŲ¹Ų§Ų© ŁŲ“ŲØŲ§ŲØ ŁŁ Ų«ŁŁŁ ŁŲ£ŲØŁŲ§Ų” Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŁ Ł ŲØŁŁŁŲ§: أ٠اŁŲ“ŁŲ¹Ų© Ų£ŲŲ±Ų§Ų± ŁŁ ŁŲ“Ų± Ų¹ŁŲ§Ų¦ŲÆŁŁ ŁŁ Ł Ų§Ų±Ų³Ų© Ų·ŁŁŲ³ŁŁ ŁŲŖŲ£Ų³ŁŲ³ Ų§ŁŲ£ŲŲ²Ų§ŲØ ŁŲ§ŁŁ ŁŲøŁ Ų§ŲŖ ŁŁ ŲŁŁ Ų£ŁŁ ŁŁŲ³ ŁŲ£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© Ų“Ų¦ Ł Ł ŁŲ°Ł Ų§ŁŲŁŁŁ ŲØŁ ŁŁ ŁŲøŁŁ ŁŁ ŁŁŲ·Ų±ŲÆŁŁ ŁŁŲ³Ų¬ŁŁŁ ŁŁŁŲŖŁŁŁ.ŁŁŁ ŁŲ¹ أئ٠ة ŁŲ¹ŁŁ Ų§Ų” Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© Ł Ł Ų„ŁŁŲ§Ų” Ų§ŁŲÆŲ±ŁŲ³ ŁŁ Ų§ŁŁ ŲÆŲ§Ų±Ų³ ŁŲ§ŁŁ Ų³Ų§Ų¬ŲÆ ŁŲ§ŁŲ¬Ų§Ł Ų¹Ų§ŲŖ ŁŁŲ§ Ų³ŁŁ Ų§ Ų„ŁŁŲ§Ų” Ų§ŁŲÆŲ±ŁŲ³ Ų§ŁŲ¹ŁŲ§Ų¦ŲÆŁŲ©، ŲØŁŁŁ Ų§ ŁŲ£Ų¦Ł ŲŖŁŁ ŁŲÆŲ¹Ų§ŲŖŁŁ Ų§ŁŲŲ±ŁŲ© Ų§ŁŁ Ų·ŁŁŲ© ŁŁ ŲØŁŲ§Ł Ł Ų°ŁŲØŁŁ ŲØŁ Ų§ŁŲŖŲ¹ŲÆŁ Ų¹ŁŁ Ų¹ŁŁŲÆŲ© Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ©. ŁŁ Ų§ ŲŖŁŲ¶Ų¹ Ł Ų±Ų§ŁŲ² ŁŁ Ų³Ų§Ų¬ŲÆ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŲŖŲŲŖ Ų§ŁŁ Ų±Ų§ŁŲØŲ© Ų§ŁŲÆŲ§Ų¦Ł Ų©، ŁŁŲŖŲ¬Ų³Ų³ Ų±Ų¬Ų§Ł Ų§ŁŲ£Ł Ł ŁŲ£ŁŲ±Ų§ŲÆ Ų§ŁŲ§Ų³ŲŖŲ®ŲØŲ§Ų±Ų§ŲŖ Ų¹ŁŁ Ų¬ŁŲ§Ł Ų¹ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ§ Ų³ŁŁ Ų§ Ų£ŁŲ§Ł Ų§ŁŲ¬Ł Ų¹Ų© ŁŁ Ų±Ų§ŁŲØŲ© Ų§ŁŲ®Ų·ŲØ ŁŲ§ŁŲ£Ų“Ų®Ų§Ųµ Ų§ŁŲ°ŁŁ ŁŲŖŲ¬Ł Ų¹ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŁ Ų³Ų§Ų¬ŲÆ.ŁŁŲ¶ŁŁ ŲÆ. Ł ŲŁ ŲÆ Ų¹ŲØŲÆ Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł ŁŁŁŲ±: ؄٠ج٠ŁŲ¹ ŁŲ³Ų§Ų¦Ł Ų§ŁŲ„Ų¹ŁŲ§Ł ŁŲ§ŁŁŲ“Ų± ŁŲ§ŁŲ„Ų°Ų§Ų¹Ų© ŁŲ§ŁŲŖŁŁŲ²ŁŁŁ ŁŲ§ŁŁŲŖŲØ ŁŲ§ŁŲ¬Ų±Ų§Ų¦ŲÆ ŁŲ§ŁŁ Ų¬ŁŲ§ŲŖ Ų“ŁŲ¹ŁŲ© Ų§ŁŁ Ų°ŁŲØ ŁŁŲ§ ŁŁ ŁŁ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© Ų£ŁŲ§ Ł Ł ŲŖŁŁ Ų§ŁŁŲ³Ų§Ų¦Ł ŲØŁ ŲŖŲ³ŲŖŲ¹Ł Ł ŁŲ°Ł Ų§ŁŁŲ³Ų§Ų¦Ł ŁŲ¶Ų±ŲØŁŁ ŁŲ„Ų¶Ų¹Ų§ŁŁŁ . ŁŲØŲ§ŁŲ„Ų¶Ų§ŁŲ© ŁŲ°ŁŁ ŁŲŖŁ ŁŲÆŁ ŁŲ„ŲŗŁŲ§Ł Ų§ŁŁ Ų³Ų§Ų¬ŲÆ ŁŲ§ŁŁ ŲÆŲ§Ų±Ų³ ŁŲ§ŁŁ Ų±Ų§ŁŲ² Ų§ŁŲÆŁŁŁŲ© ŁŲ£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ©. ŁŁŲÆ ŲŖŁŲ±Ų· Ų§ŁŁŲøŲ§Ł Ų§ŁŲ„ŁŲ±Ų§ŁŁ ŁŁ Ų§Ų¹ŲŖŁŲ§Ł ŁŲ³Ų¬Ł Ų¹ŲÆŲÆ ŁŲØŁŲ± Ł Ł Ų§ŁŲ“ŁŁŲ® ŁŲ§ŁŲ¹ŁŁ Ų§Ų” Ų§ŁŲØŲ§Ų±Ų²ŁŁ ŁŲ·ŁŲØŲ© Ų§ŁŲ¹ŁŁ ŁŲ§ŁŲ“ŲØŲ§ŲØ Ų§ŁŁ ŁŲŖŲ²Ł ŁŁ ŲÆŁŁ Ų£ŁŁ Ų°ŁŲØ Ų£Ł Ų§Ų±ŲŖŁŲ§ŲØ Ų£ŁŲ© Ų¬Ų±ŁŁ Ų© ŁŁŲ· ŁŲ£ŁŁŁ Ł ŲŖŁ Ų³ŁŁŁ ŲØŲ¹ŁŁŲÆŲŖŁŁ Ų§ŁŲ„Ų³ŁŲ§Ł ŁŲ© ŁŁŲÆŲ§ŁŲ¹ŁŁ ع٠اŁŲŁ ŁŁŲ·Ų§ŁŲØŁŁ ŲØŲŁŁŁŁŁ Ų§ŁŲ“Ų±Ų¹ŁŲ©، ŁŁ Ų§ ŲŖŁŲ±Ų· Ų£ŁŲ¶Ų§ً ŁŁ Ų§ŲŗŲŖŁŲ§Ł أ٠اختطا٠ث٠؄عدا٠اŁŲ¹Ų“Ų±Ų§ŲŖ Ł Ł Ų§ŁŲ¹ŁŁ Ų§Ų” ŁŲ§ŁŲÆŲ¹Ų§Ų© Ų§ŁŲØŲ§Ų±Ų²ŁŁ ŁŲ§ŁŁ Ų¦Ų§ŲŖ ŲØŁ Ų§ŁŲ¢ŁŲ§Ł Ł Ł Ų§ŁŁ Ų«ŁŁŁŁ ŁŲ·ŁŲØŲ© Ų§ŁŲ¹ŁŁ ŁŲ§ŁŲ“ŲØŲ§ŲØ Ų§ŁŁ ŁŲŖŲ²Ł ŁŁ Ł Ł Ų£ŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ©.ŁŁŁŲ°Ų§ ŁŲ±Ł Ų£Ł Ł ŁŁŁ Ų¹ŁŁ Ų§Ų” Ų§ŁŲ£Ų²ŁŲ± Ų§ŁŲ“Ų±ŁŁ Ł Ł Ų§ŁŲŖŁŲ±ŁŲØ ŲØŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ© ŁŲ§ŁŲ“ŁŲ¹Ų© ŁŁŲ³ŁŲ§ ŁŁŁ Ų³ŁŲ§Ų” ، ŁŁŲÆ ŁŁŁŁŲ§ ŁŁŲ§ ŁŲµ Ł Ų§ Ų°ŁŲ±ŁŁ ŁŁ Ų§ŁŁ ŁŲ§ŲØŁŲ§ŲŖ Ų§ŁŲŖŁ Ų£Ų¬Ų±Ų§ŁŲ§ Ł ŁŁŲ¹ Ų§ŁŲØŁŁŲ© Ł Ų¹ŁŁ ، ŁŲ³Ų£Ł Ų§ŁŁŁ Ų£Ł ŁŲ±ŁŁŲ§ Ų§ŁŲŁ ŲŁŲ§ ŁŁŲ±Ų²ŁŁŲ§ Ų§ŲŖŲØŲ§Ų¹Ł ŁŁŲ±ŁŁŲ§ Ų§ŁŲØŲ§Ų·Ł ŲØŲ§Ų·ŁŲ§ ŁŁŲ±Ų²ŁŁŲ§ Ų§Ų¬ŲŖŁŲ§ŲØŁ ŁŁŲ“ŁŁ ŁŲØŁŲ§ŁŁ.
Banyak ulama Salafi-Wahabi yang menganggap Syiah sudah kafir, bukan lagi bagian dari Islam. Tapi ulama-ulama Al-Azhar tidak mengkafirkan Syiah; paling maksimal mereka menyatakan Syiah telah berbuat bid’ah dalam akidah, tentu saja dengan perspektif kredo Sunni (a.l. karena akidah kemaksuman Imam, raj’ah, ghaibah, bada’, dll.), tapi Syiah tetaplah masih berada dalam koridor Islam.
Proyek “taqrib” itu pernah pula dikukuhkan dalam Deklarasi Amman pada 2005. Deklarasi itu menghimpun wakil-wakil tiap negara dari seluruh dunia Islam, tak terkecuali dari Irak dan Iran. Wakil dari Indonesia saat itu, antara lain, ialah KH Hasyim Muzadi (Ketua PBNU saat itu). Dan jelas ternyatakan dalam deklarasi itu bahwa mazhab Syiah diakui sah sebagai bagian dari Islam. [Sila search di google tentang Deklarasi Amman, atau kunjungi websitenya di ammanmessage.com]
Deklarasi itu ditindaklanjuti lagi, untuk menyikapi konflik sektarian di Irak, dengan Dekrasi Mekkah pada 2006, dan Deklarasi Bogor, Indonesia, pada 2007.
[ 2 ]
Sebenarnya dalam batasan yang bagaimana seseorang bisa divonis kafir?
Saya akan mengambil pandangan ulama ortodoks: Imam Abu Hamid al-Ghazali dengan karyanya Fayshal at-Tafriqah. Tiada yang meragukan otoritas Al-Ghazali, kecuali segelintir saja dari kalangan Salafi. Al-Ghazali adalah ulama ortodoks Sunni-Asy’ari-Syafi’i; menjadi rujukan ajaran tasawuf Nahdlatul Ulama (NU), di samping Junaid al-Baghdadi.
Saya pernah mengulas tentang Fayshal at-Tafriqah itu di bagian lain di blog ini (rujuk ke tulisan ini: Mengkafirkan itu Tidak Mudah/Jangan mudah mengkafirkan sesama muslim). Saya ulas sedikit di sini beberapa poin penting darinya.
Jangan Mudah Mengkafirkan Sesama Muslim
Saat ini mudah sekali sebagian pihak memberi label kafir kepada mereka yang tidak sependapat, beda penafsiran dan juga beda pilihan politik. Ini seperti pengulangan sejarah kelam umat Islam yang gara-gara persoalan kepemimpinan selepas terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan kemudian terjadi perang antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah. Keduanya adalah sahabat Nabi yang harus kita hormati, namun gara-gara perbedaan politik ada sebagian pihak yang mengkafirkan salah satu atau keduanya. Muncul pula sejumlah hadits palsu hanya sekedar untuk mencaci atau mendukung salah satunya. Ayat suci direduksi menjadi alat politik.
Sepanjang sejarah kita saksikan betapa mudahnya sebagian pihak mengkafirkan muslim lainnya. Seolah mereka tidak takut dengan ancaman dari penggalan Hadits Nabi ini:
ŁَŁ َŁْ ŲÆَŲ¹َŲ§ Ų±َŲ¬ُŁًŲ§ ŲØِŲ§ŁْŁُŁْŲ±ِ Ų£َŁْ ŁَŲ§Łَ Ų¹َŲÆُŁَّ Ų§ŁŁَّŁِ ŁَŁَŁْŲ³َ ŁَŲ°َŁِŁَ Ų„ِŁَّŲ§ ŲَŲ§Ų±َ Ų¹َŁَŁْŁِ
“Barang siapa memanggil dengan sebutan kafir atau musuh Allah padahal yang bersangkutan tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh” (HR Bukhari-Muslim)
Berdasarkan prinsip kehati-hatian yang terkandung dalam Hadits di atas, maka para ulama berhati-hati untuk menjatuhkan vonis kafir kepada sesama Muslim.
Qadhi Iyad yang bermazhab Maliki menulis kitab yang sangat terkenal, yaitu al-Syifa bi ta’rif huquq al-Musthafa. Beliau menukil pendapat para ulama:
ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ų¶Ł Ų¹ŁŲ§Ų¶ Ų±ŲŁ Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹Ł Ų§ŁŲ¹ŁŁ Ų§Ų” Ų§ŁŁ ŲŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁ : ŁŲ¬ŲØ Ų§ŁŲ§ŲŲŖŲ±Ų§Ų² Ł Ł Ų§ŁŲŖŁŁŁŲ± ŁŁ Ų£ŁŁ Ų§ŁŲŖŲ£ŁŁŁ ŁŲ„Ł Ų§Ų³ŲŖŲØŲ§ŲŲ© ŲÆŁ Ų§Ų” Ų§ŁŁ ŲµŁŁŁ Ų§ŁŁ ŁŲŲÆŁŁ Ų®Ų·Ų±، ŁŲ§ŁŲ®Ų·Ų£ ŁŁ ŲŖŲ±Ł Ų£ŁŁ ŁŲ§ŁŲ± Ų£ŁŁŁ Ł Ł Ų§ŁŲ®Ų·Ų£ ŁŁ Ų³ŁŁ Ł Ųج٠ة Ł Ł ŲÆŁ Ł Ų³ŁŁ ŁŲ§ŲŲÆ.
“Wajib menahan diri dari mengkafirkan para ahli ta’wil karena sungguh menghalalkan darah orang yang shalat dan bertauhid itu sebuah kekeliruan. Kesalahan dalam membiarkan seribu orang kafir itu lebih ringan dari pada kesalahan dalam membunuh satu nyawa muslim.”
Kitab al-Syifa di atas diberi syarh (penjelasan) salah satunya oleh al-Mulla Ali al-Qari al-Harawi yang bermazhab Hanafi. Beliau memberi penjelasan sebagai berikut:
ŁŲ§Ł Ų¹ŁŁ Ų§Ų¤ŁŲ§ Ų„Ų°Ų§ ŁŲ¬ŲÆ ŲŖŲ³Ų¹Ų© ŁŲŖŲ³Ų¹ŁŁ ŁŲ¬ŁŲ§ ŲŖŲ“ŁŲ± Ų„ŁŁ ŲŖŁŁŁŲ± Ł Ų³ŁŁ ŁŁŲ¬Ł ŁŲ§ŲŲÆ Ų„ŁŁ Ų§ŲØŁŲ§Ų¦Ł Ų¹ŁŁ Ų„Ų³ŁŲ§Ł Ł ŁŁŁŲØŲŗŁ ŁŁŁ ŁŲŖŁ ŁŲ§ŁŁŲ§Ų¶Ł أ٠ŁŲ¹Ł ŁŲ§ ŲØŲ°ŁŁ Ų§ŁŁŲ¬Ł ŁŁŁ Ł Ų³ŲŖŁŲ§ŲÆ Ł Ł ŁŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ Ų§ŁŲ³ŁŲ§Ł Ų§ŲÆŲ±Ų¤ŁŲ§ Ų§ŁŲŲÆŁŲÆ Ų¹Ł Ų§ŁŁ Ų³ŁŁ ŁŁ Ł Ų§ Ų§Ų³ŲŖŲ·Ų¹ŲŖŁ ŁŲ„Ł ŁŲ¬ŲÆŲŖŁ ŁŁŁ Ų³ŁŁ Ł Ų®Ų±Ų¬Ų§ ŁŲ®ŁŁŲ§ Ų³ŲØŁŁŁ ŁŲ„Ł Ų§ŁŲ„Ł Ų§Ł ŁŲ£Ł ŁŲ®Ų·Ų¦ ŁŁ Ų§ŁŲ¹ŁŁ Ų®ŁŲ± ŁŁ ٠٠أ٠ŁŲ®Ų·Ų¦ ŁŁ Ų§ŁŲ¹ŁŁŲØŲ© Ų±ŁŲ§Ł Ų§ŁŲŖŲ±Ł Ų°Ł ŁŲŗŁŲ±Ł ŁŲ§ŁŲŲ§ŁŁ ŁŲµŲŲŁ
“Berkata para ulama kita jika terdapat 99 hal yg menguatkan kekafiran seorang Muslim, tetapi masih ada satu alasan yang menetapkan keislamannya maka sebaiknya Mufti dan Hakim beramal dengan satu alasan tersebut, dan ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW: ‘Hindarkanlah hukuman-hukuman pidana dari kaum muslimin semampu kalian, jika kalian mendapatkan jalan keluar bagi seorang muslim, maka pilihlah jalan itu. Karena sesungguhnya seorang pemimpin yang salah dalam memberi maaf itu lebih baik dari pada pemimpin yang salah dalam menghukum,’ sebagaimana diriwayatkan Imam Turmudzi dan lainnya dan Imam al-Hakim yang mensahihkannya.”
Dari penjelasan di atas terlihat jelas kehati-hatian para ulama. Meskipun ada sekian banyak bukti yang mengarah pada kekafiran saudara kita, namun jikalau masih terlihat satu saja alasan untuk menetapkan keislamannya, para ulama memilih satu alasan tersebut dan menahan diri untuk mengkafirkan orang tersebut. Lebih baik kita keliru menyatakan dia tetap Islam ketimbang kita keliru mengatakan dia kafir. Lebih baik kita keliru memaafkan dia ketimbang kita keliru menghukum orang yang tak bersalah.
Dalam masalah pidana yang tidak punya konsekuensi mengeluarkan orang dari keimanannya saja perlu kita carikan alasan agar pelakunya terbebas dari hukuman, apalagi mengkafirkan orang yang jika salah memvonisnya, maka konsekuensi di dunia sangatlah berat seperti dibunuh jika tidak mau taubat, hilangnya hak waris, fasakh pernikahannya, apalagi konsekuensi di akherat.
Ucapan senada juga sudah disampaikan oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali yang bermazhab Syafi’i dalam kitab al-Iqtishad fil i’tiqad
ŁŁŲ§Ł Ų£ŲØŁ ŲŲ§Ł ŲÆ Ų§ŁŲŗŲ²Ų§ŁŁ : ”ŁŲ§ŁŲ°Ł ŁŁŲØŲŗŁ Ų§ŁŲ§ŲŲŖŲ±Ų§Ų² Ł ŁŁ :”Ų§ŁŲŖŁŁŁŲ±” Ł Ų§ ŁŲ¬ŲÆ Ų„ŁŁŁ Ų³ŲØŁŁŲ§، ŁŲ„Ł Ų§Ų³ŲŖŲØŲ§ŲŲ© Ų§ŁŲÆŁ Ų§Ų” ŁŲ§ŁŲ£Ł ŁŲ§Ł Ł Ł Ų§ŁŁ ŲµŁŁŁ Ų„ŁŁ Ų§ŁŁŲØŁŲ©، Ų§ŁŁ ŲµŲ±ŲŁŁ ŲØŁŁŁ ŁŲ§ Ų„ŁŁ Ų„ŁŲ§ Ų§ŁŁŁ Ł ŲŁ ŲÆ Ų±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų®Ų·Ų£ٌ، ŁŲ§ŁŲ®Ų·Ų£ ŁŁ ŲŖŲ±Ł Ų£ŁŁِ ŁŲ§ŁŲ± ŁŁ Ų§ŁŲŁŲ§Ų© Ų£ŁŁŁ Ł Ł Ų§ŁŲ®Ų·Ų£ ŁŁ Ų³ŁŁ ŲÆŁ ٍ ŁŁ Ų³ŁŁ ”
“Agar menjaga diri dari mengkafirkan orang lain sepanjang menemukan jalan untuk itu. Sesungguhnya menghalalkan darah dan harta muslim yang shalat menghadap qiblat, yang secara jelas mengucapkan dua kalimat syahadat, itu merupakan kekeliruan. Padahal kesalahan dalam membiarkan hidup seribu orang kafir itu lebih ringan dari pada kesalahan dalam membunuh satu nyawa muslim”.
Rasulullah SAW juga bersabda: “tiga perkara yang merupakan dasar keimanan: menahan diri dari orang yang mengucapkan La Ilaha illallah, tidak mengkafirkannya karena suatu dosa, dan tidak mengeluarkannya dari keislaman karena sebuah amalan…” (HR Abu Dawud, nomor 2170)
Dibalik ucapan mengkafirkan orang lain itu sebenarnya tersembunyi perasaan bahwa saya lebih baik dari dia; saya lebih islami, lebih suci, dan lebih benar serta akan masuk surga ketimbang dia. Persoalannya darimana kita tahu bahwa amalan ibadah kita “yang banyak sekali itu” pasti diterima Allah dan dosa mereka “yang begitu banyak itu” tidak akan Allah ampuni?
Saya tidak tahu nasib saya kelak, bagaimana saya bisa begitu yakin dengan nasib orang lain. Anda pun juga demikian. Ini merupakan hak prerogatif Allah. Jangan sampai kita justru jatuh pada kesyirikan karena merasa dan bertindak seperti Allah yang menentukan keimanan orang lain. Semoga Allah mengampuni kita semua.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School
Sudah menjadi kesepakatan ulama Asy’ariyah (mazhab akidah yang diikuti mayoritas umat Islam): tidak boleh mengkafirkan ahlul-qiblah. Tidak boleh mengkafirkan orang yang memegangi kalimat syahadat (tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya). Diterangkan pula oleh Al-Ghazali, tidak boleh mengkafirkan mazhab yang tidak melanggar hal pokok (ushul) dalam agama yang mutawatir (teriwayat oleh banyak orang dan mustahil ada persekongkolan untuk berdusta).
Terhadap hal yang mutawatir inipun Al-Ghazali masih merinci, sebab bisa jadi yang mutawatir bagi Ahlus Sunnah, belum tentu mutawatir bagi Syiah. Karena itu, kata Al-Ghazali, perbedaan dalam kemutawatiran suatu statemen akidah, tak bisa dijadikan dasar untuk mengkafirkan.
Contoh dari hal yang layak untuk dikafirkan, menurut Al-Ghazali, misalnya kalau ada orang menyatakan bahwa kiblat yang menjadi arah salat bukanlah di Mekkah, sebab hal ini disepakati mutawatir lintas sekte. Misal lainnya, bila seseorang menyatakan bahwa Sayyidah ‘Aisyah telah berzina, padahal mutawatir dan termaktub di Al-Quran, belasan ayat yang membebaskan ‘Aisyah dari tuduhan zina.
Al-Ghazali pernah menulis satu kitab yang membantah akidah salah satu sekte Syiah. Judulnya: “Fadha’ih al-Bathiniyyah”. Buku ini ditulisnya untuk membantah klaim-klaim akidah Syiah-Ismailiyah (bukan Syiah-Imamiyah; yang mayoritas dalam Syiah sekarang). “Bathiniyah” waktu itu menjadi nama yang lazim tersemat ke Syiah-Ismailiyah (7 Imam), dan masuk kategori Syiah-ekstrem. Bahkan dalam menanggapi Bathiniyah pun Al-Ghazali masih memilah-milah, dan tampak sangat berhati-hati.
Al-Ghazali menerangkan bahwa meski Syiah mencaci Sahabat, dan itu dosa, ia tak menyatakan si pencaci itu kafir. Kata Al-Ghazali, “Kalau keliru dalam menisbatkan sifat pada Allah, sebagaimana terjadi dalam perdebatan antara Shifatiyyah dan Mu’atthilah, tidak dihukumi kafir, maka keliru dalam menisbatkan sifat kepada manusia lebih ringan hukumnya.”
Al-Ghazali amat mewanti-wanti agar umat Islam tidak tergesa-gesa menjatuhkan vonis kafir. Sebab vonis kafir itu berbahaya. Menurut fikih konservatif, vonis kafir bisa berujung pada status halal darahnya (ibâhah ad-dam). Konsekuensi takfir ialah pencabutan nyawa. Maka terang Al-Ghazali berkata: Kesalahan dalam membiarkan seratus kafir hidup, masih lebih ringan daripada kesahalan dalam menumpahkan darah seorang muslim. Kata al-Ghazali pula, kesalahan memasukkan orang ke dalam Islam, lebih ringan daripada kesalahan mengeluarkannya dari Islam.
Karena itu, sudah menjadi ajaran Ahlus Sunnah, untuk tak boleh tergesa-gesa mengkafirkan Syiah. Pengkafiran yang tergesa-gesa, apalagi menggeneralisasi semua Syiah apapun cabangnya adalah kafir, adalah bentuk kezaliman terhadap ajaran Ahlus Sunnah sendiri.
[ 3 ]
Tak sedikit perawi-perawi Syiah yang diambil hadisnya oleh Shahih Bukhari dan Muslim. Ini jelas menjadi fakta yang sulit dibantah: Kalau mereka bukan muslim, tentunya Al-Bukhari dan Muslim tak akan mengambil hadisnya.
Namun, ada sebagian pandangan menyatakan keberatan. Katanya, perawi-perawi di dua kitab hadis tersahih Ahlus Sunnah itu memang Syiah, namun Syiah dulu dengan sekarang berbeda. Syiah yang diambil hadisnya oleh Bukhari-Muslim hanya yang berpandangan bahwa Ali lebih unggul (afdhal) di atas Abu Bakar, Umar dan Utsman.
Namun klaim ini tidak sepenuhnya tepat. Sebab jika ada kelompok Islam yang mengunggulkan Ali di atas ketiga khalifah sebelumnya, tidak lantas menjadikannya Syiah. Sejarah Islam mencatat, dulu ada Mu’tazilah-Bashrah yang mengunggulkan Ali, tapi mereka memusuhi Syiah. Mu’tazilah-Bashrah ini berbeda pandangan dengan Mu’tazilah Baghdad.
Lepas dari hal itu, para perawi Syiah yang diambil hadisnya oleh al-Bukhari dan Muslim bukan sekedar Syiah saja. Ambil contoh sebagian dari perawi yang Syiah itu. Misalnya, Ubaydullah ibn Musa al-‘Absi. Kata Ibn Mandah, Ubaydullah ini seorang Syiah-Rafidhah, dan ia tidak mengizinkan orang bernama Mu’awiyah masuk ke rumahnya. Yang lain, misalnya Abbad ibn Ya’qub ar-Rawajini. Ia dinyatakan oleh Ibn Hajar sebagai Rafidhah juga.
Itu sekedar contoh, dan masih banyak yang lainnya. Misalnya, Abdul Malik ibn Ayan al-Kufi, Awf ibn Abi Jamilah al-A’rabi, Abdur Razaq as-Shan’ani, dll. Sebagian menyatakan, jumlah perawi Syiah yang terambil riwayat hadisnya di kitab hadis yang enam (al-kutub as-sittah) ada puluhan orang. Mereka bukan sekedar Syiah belaka, tapi juga Rafidhah (menolak kepemimpinan ketiga khalifah sebelum ‘Ali ibn Abi Thalib).
Data ini tegas menunjukkan, meski ke-Rafidhah-an dinyatakan oleh Ahlus Sunnah sebagai bid’ah, tapi mereka tetaplah bagian dari Islam. Jika mereka dikeluarkan dari Islam, entah ada berapa hadis Sunni yang akan hilang. Artinya, pengkafiran Syiah meniscayakan kerugian besar bagi rujukan hadis milik Ahlus Sunnah.
[ 4 ]
Tidak semua sekte Syiah itu sesat; sebagaimana tidak semua sekte di Ahlus Sunnah itu lurus seratus persen. Karena itu, kita mesti menghindari generalisasi. Sebab, penisbatan pandangan pada bukan orang yang menyatakannya adalah kezaliman.
Maka dari itu, tidak boleh menisbatkan pandangan sekte Syiah A, ke sekte Syiah B; tidak boleh menisbatkan pandangan Syiah-minoritas sebagai tolok ukur yang mewakili Syiah keseluruhan; tidak boleh menjadikan pandangan orang biasa, yang bukan ulamanya, sebagai representasi pandangan sekte itu.
Ini pun berlaku sama saat Syiah, misalnya, hendak menilai Ahlus Sunnah. Tidak bisa menjadikan pandangan Salafi-Wahabi misalnya, sebagai representasi Ahlus Sunnah. Di Indonesia, kita tak bisa menjadikan pandangan salah satu partai Islam, misalnya, sebagai representasi satu-satunya Ahlus Sunnah di Indonesia. Sekali lagi, generalisasi dalam menisbatkan pandangan adalah kezaliman.
Syiah itu sekte tertua yang lahir dari friksi umat Islam. Karena itu, perkembangan di dalamnya pasti terjadi. Kita tak bisa serta merta menyamakan bahwa Syiah saat ini adalah sama persis dengan Syiah masa lampau. Perubahan pandangan itu hal biasa. Bukan hanya di Syiah, di sisi Ahlus Sunnah pun begitu.
Pandangan Abu Hanifah dengan Hanafiyah bisa beda. Pandangan Al-Asy’ari dengan Asya’irah (pengikut Al-Asy’ari bisa beda). Bahkan pandangan As-Syafi’i di dalam dirinya sendiri antara saat beliau di Irak dengan di Mesir, bisa berbeda. Syiah pun demikian. Mainstream Syiah-Imamiyah terbagi jadi dua: Akhbari dan Ushuli (mirip Ahlul Hadits dan Ahlur Ra’yi dalam Ahlus Sunnah). Yang mayoritas di Syiah-Imamiyah adalah yang Ushuli.
Dalam hal menilai Syiah, saya memegangi statemen Syiah masa kini sesuai pernyataan buku “Buku Putih Mazhab Syiah: Menurut Para Ulamanya yang Muktabar” yang ditulis oleh tim Ahlul Bait Indonesia (ABI), terbitan 2012. Ini karena, penilaian yang adil adalah dengan mendasarkan pada klaim si “terdakwa”, bukan tuduhan musuhnya.
Ambil contoh tentang tuduhan bahwa menurut Syiah, Al-Quran yang ada sekarang ini telah mengalami distorsi (tahrif). Menurut pengakuan buku putih itu (halaman 34): “Jumhur ulama Syiah meyakini bahwa Al-Quran yang ada di tangan Muslim saat ini adalah satu-satunya Al-Quran.” Dikatakannya pula (masih di halaman 34): “Asal-muasal tuduhan tahrif terhadap Syiah diambil dari pandangan segelintir ulama Syiah dari kelompok Akhbari. Munculnya klaim tahrif itu diprakarsai kelompok Syiah-Akhbari, antara lain oleh Ni’matullah al-Jazairi dan Syaikh Nuri dengan kitabnya ‘Fashlul Khitab’.”
Di situ cukup terang, tuduhan dari sebagian kalangan Sunni tidak terkonfirmasi oleh pihak Syiah yang muktabar. Oleh karena itu, mari kita adil menilai. Dari dari bentuk keadilan menilai ialah kita tidak bisa serta merta menilai pandangan Syiah masa kini dengan hanya berdasar pada kitab induk hadis Syiah, seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini—yang biasanya disetarakan dengan Shahih Bukhari bagi Ahlus Sunnah. Sebab, tidak semua di Al-Kafi adalah sahih (al-Kulaini sendiri tak menisbati kitabnya dengan, misalnya, Shahih al-Kafi), sebagaimana tidak semua yang di Shahih Bukhari adalah sahih (padahal judul kitab itu ternisbati kata “Shahih”). Yang studi hadis tentu tahu hal ini.
Intinya, silakan baca buku itu, dan anda akan mendapati hal yang berbeda dari propaganda negatif yang selama ini menyebar tentang Syiah, padahal itu klaim dari segolongan saja. Poin saya dalam argumentasi ini ialah: hindarilah generalisasi; sebab generalisasi adalah bentuk kezaliman.
[ 5 ]
Ada setidaknya tiga poin yang selama ini disepakati dalam berbagai muktamar taqrib Sunnah-Syiah. Yakni: (1) Al-Quran harus sama—ini sudah dijelaskan di atas; (2) Tidak boleh mencela figur-figur yang dihormati oleh kedua belah pihak; (3) tidak boleh ada Syiahisasi di negeri-negeri Sunni; begitu pula sebaliknya.
Mencela figur-figur terhormat, baik dari Syiah yang mencela Sahabat, atau Sunni yang mencela para ulama Syiah masa kini, itu tentu haram. Jangankan mencela manusia, mencela sesembahan orang musyrik pun dilarang (lihat QS 6:108). Karena itu jelas, dan ini berlaku lintas sekte, bahwa mencela mazhab atau agama lain itu merusak ukhuwah. Rekonsiliasi Sunni-Syiah tiada akan terwujud jika Syiah, misalnya, masih mencaci Sahabat yang dihormati Sunni; atau orang Sunni misalnya, mencaci Ayatullah Khomeini.
Itulah asas taqrib. Dan, syukurlah, sebagian ulama Syiah kini sudah memfatwakan keharaman bagi orang Syiah untuk mencaci Sahabat yang dihormati Ahlus Sunnah. Di sini, kita tahu, perkembangan pendapat itu ada.
Tentang poin ketiga itu, yakni tiada bolehnya Syiahisasi atau Sunnahisasi di negeri yang berbeda mazhab, perkenankan saya untuk mengajukan kritik berikut.
Selama ini, argumen pelarangan penyebaran mazhab lain di negeri lain adalah karena penyebaran sekte itu, baik Sunnah ke negeri Syiah, atau Syiah ke negeri Sunni, akan menimbulkan friksi akut di masyarakat. Menurut saya, perpecahan, friksi, fragmentasi, dan sebagainya terjadi bukanlah karena keberadaan mazhab itu, tapi karena pengikut mazhabnya yang eksklusif dan tidak terbiasa dengan kritik dari kalangan yang beda aliran.
Jangankan antara Sunni dengan Syiah, di dalam Sunni sendiri pun tak jarang terjadi friksi antara mazhab-mazhabnya. Sampai kini, tidak bisa dimungkiri, terjadi pertengkaran hebat antara Sunni-Asy’ari-Maturidi dengan Sunni-Salafi-Wahabi. Pertengkaran bukan hanya di level ulamanya, tapi juga di akar rumput. Di Indonesia, Nahdhiyin menentang keras keberadaan Wahabi.
Perlu pula dicatat, saat Wahabi mensyirikkan amaliyah NU (tawassul, tabarruk, ziarah kubur, maulid Nabi, dll.), maka itu bukan lagi persoalan furu’ (cabangan), itu sudah ushul (pokok). Apalagi, kita tahu, syirik adalah dosa terbesar. Tentu naif kalau dinyatakan bahwa Wahabi mestinya dilarang beredar di Indonesia hanya dengan alasan keberadaan Wahabi menimbulkan friksi di masyarakat dan merusak ukhuwah Islam, bukan?
Lagipula, dalam catatan sejarah, pertengkaran sektarian bukan saja terjadi karena perbedaan soal ushul, melainkan juga furu’. Yaqut al-Hamawi dalam Mu’jam al-Buldan, bab entri huruf hamzah dan shad, tentang kejadian pada abad ke-5 H, menyatakan bahwa pada masa itu di Isfahan pernah terjadi fanatisme akut antara Hanafiyah dan Syafi’iyyah. Antara kedua mazhab itu terjadi peperangan cukup lama. (Waqad fasyĆ¢ al-kharĆ¢b fi hadza al-waqt wa qablahu fi nawĆ¢hĆ®hĆ¢ li katsrah al-fitan wa at-ta’asshub baina asy-syafi’iyyah wa al-hanafiyyah wa al-hurĆ»b al-muttashilah bain al-hizbain).
Masih di Mu’jam al-Buldan, bab entri huruf ra’ dan ya’, terjadi di Ray (Iran), pernah ada peperangan antara Hanafiyah dengan Syafi’iyah yang, karena kemenangan berada di tangan Syafi’iyah, kemudian penduduk Rustaq yang bermazhab Hanafi mendatangi Ray dengan membawa senjata dan bunuh-bunuhan pun terjadi.
Muhammad ibn Ismail as-Shan’ani di kitabnya, IrsyĆ¢d an-NuqqĆ¢d fi TaysĆ®r al-Ijtihad, pada bab Tawaqquf fi tashdĆ®q al-mukhbir hattĆ¢ taqĆ»m al-bayyinah, menuliskan bahwa Mula ‘Ali al-Qari berkata bahwa dulu pernah masyhur terjadi, bila ada Hanafi pindah ke mazhab Syafi’i maka akan dihukum; dan jika sebaliknya, maka tidak dipersoalkan (isytahara baina al-hanafiyyah anna al-hanafiy idza intaqala ilĆ¢ madzhab asy-syĆ¢fi’i yu’azzaru waidza kĆ¢na bi al-‘aksi fainnahu yukhla’u ‘alayh).
Sekali lagi, persoalan perpecahan di tubuh umat Islam bukanlah karena beda sekte semata. Lebih dari itu, friksi terjadi karena masing-masing pengikut mazhab tidak terbiasa dengan kritik dan mudah tegang hanya karena dipicu sentimen yang dibumbui panasnya tensi politik. Ini bukan berarti saya hendak membuka lebar ajaran Syiah disebar di negeri Sunni. Tentu saja, ajaran Syiah yang berisi cacian kepada Sahabat tidak bisa ditolerir. Caci-maki terhadap figur terhormat, dari agama manapun, adalah tindakan yang merusak persaudaraan.
[ 6 ]
Dulu di masa-masa ketika kredo Sunni dan Syiah belum “dibekukan” dalam kitab-kitab induk, hubungan Sunni-Syiah cukup damai. Keduanya terintegrasi dalam masyarakat.
Dalam hal ini saya merujuk ke ulasan yang pernah disampaikan Mukhtar as-Syinqiti, doktor bidang sejarah agama yang menulis disertasi tentang pengaruh Perang Salib terhadap friksi Sunni-Syiah. Anda bisa mencari makalahnya di websitenya (berbahasa Arab: shinqiti.net) dan kuliah-kuliahnya di Youtube (Misalnya, search dengan kata kunci Arab: as-sunnah wa asy-syĆ®’ah; baina at-tawĆ¢shul wa al-qathĆ®’ah) bisa dilihat videonya:
Dikatakannya, dulu di masa Abbasiyah, hubungan Sunni dan Syiah itu komunikatif (tawĆ¢shul), saling terbuka dan saling belajar. Tidak ada friksi sektarian dalam skala yang massif antara Sunni & Syiah. Di masa itu, Sunni & Syiah berintegrasi dalam masyarakat. Tak jarang, orang Sunni belajar di masjid Syiah, demikian pula sebaliknya. Muhaddits Ahlus Sunnah, Al-Hakim an-Naisaburi, misalnya, yang menulis Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, didaku sebagai ulama Syiah, sebab al-Hakim lah yang menulis kitab musthalah hadits yang diberikannya kepada murid-muridnya yang Syiah.
Di sisi lain, Sunni pun menyerap budaya Syiah. Muhammad Zaki Ibrahim dalam Fiqh as-Shalawat wa al-Mada’ih an-Nabawiyyah (2011: 103-105) menceritakan bahwa tradisi perayaan maulid Nabi dimulai oleh kalangan Syiah dari Dinasti Fathimiyah di Mesir. Tradisi maulid waktu itu digalakkan untuk membangkitkan semangat cinta Nabi dan Ahlul Bait, serta memperkokoh persatuan dan konsolidasi negara sebagai rival pemerintahan Sunni di Baghdad.
Melihat efek dari tradisi maulid itu, Sultan Muzhaffar ad-Din di Irbil (masih bawahan Abbasiyah Baghdad yang Sunni) ikut membudayakannya. Ia bahkan menggelontorkan lebih dari 1000 dinar sebagai hadiah bagi siapa saja yang mampu menyusun syair-syair pujian kepada Nabi (madah nabawiy). Sejak saat itu, tradisi maulid menjadi budaya populer dan semarak dilakukan di negara-negara kekhilafahan lainnya.
Tradisi maulid semakin berkembang ketika Shalahuddin al-Ayyubi memanfaatkan efek tradisi maulid itu. Shalahuddin berpandangan bahwa maulid bisa menjadi manifesto persatuan dan persaudaraaan (ukhuwwah) umat Islam. Untuk membangkitkan semangat juang prajuritnya, Shalahuddin mengadakan sayembara menggubah syair-syair madah. Salah satu karya besar yang lahir setelah itu adalah kitab Maulid al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far al-Barzanji, yang masih banyak dibaca hingga kini dan cukup sering didendangkan rutin mingguan oleh orang-orang NU.
Lebih dari itu, dulu tak sedikit di antara para khalif Abbasiyah yang mengambil menteri dari orang Syiah. Dinasti Fathimiyah, yang bermazhab Syiah-Ismailiyah, pun tak sedikit mengambil menteri dari orang Sunni. Para ilmuwan dan saintis yang mengabdi pada negara juga banyak yang lahir dari kelompok Syiah: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Miskawayh, Jabir ibn Hayyan, Ibn Sina, dll—karena itu, bila sekolompok umat Islam tak mengakui Syiah sebagai bagian dari Islam, maka mereka tak bisa mendaku penemuan para saintis itu sebagai sumbangsih Muslim kepada dunia.
Dalam hal ini berlaku hukum sejarah: Peradaban yang berkembang (izdihâr) ialah peradaban yang terbuka (infitâh), menyerap berbagai budaya, dan toleran pada perbedaan pandangan. Semakin peradaban tertutup, maka ia makin menuju fase kemunduran (inhithâth). Tiada peradaban yang berkembang hanya berdasar murni dari dirinya sendiri, tanpa ada kontak dengan peradaban, kebudayaan, dan pemikiran yang berbeda.
Di masa inklusivisme—Dr Mukhtar menyebutnya ‘ashr at-tawĆ¢shul wa al-infitĆ¢h—pernah terjadi integrasi Sunni-Syiah dalam masyarakat, dan hampir tiada friksi. Lalu, eksklusivisme—Dr Mukhtar menyebutnya dengan istilah ‘ashr at-ta’asshub wa al-qathĆ®’ah—menghinggapi hubungan Sunni-Syiah dengan ditandai oleh dua perkembangan sejarah. Pertama, saat pandangan Hanabilah mendominasi dunia Sunni dan, kedua, saat Mu’tazilah merasuk ke dunia Syiah.
Akar sengketa bermula pada awal-awal abad ke-5 H, sebagai imbas dari tragedi “mihnah”—yang menyeret Imam Ahmad ibn Hanbal ke dalam siksaan penjara. Tragedi itu menyisakan permusuhan akut antara Ahlul Hadits versus Mu’tazilah. Seiring dengan hegemoni Ahlul Hadits yang mengalahkan dominasi Ahlur Ra’yi di dunia Sunni, permusuhan pada Mu’tazilah menguat. Di sisi lain, Mu’tazilah terserap ke dalam Syiah. Jadilah Syiah bukan sekedar gerakan politik, melainkan menjadi mazhab akidah. Sejak itulah, Syiah sebagai ideologi menemukan bentuk yang sempurna. Di masa itu pula kemudian 4 kitab hadis induk Syiah mulai ditulis. (Empat kitab hadis induk Syiah itu muncul setelah Sunni-Syiah sudah mengalami fase separasi dan benih-benih permusuhan mulai tumbuh, sehingga tidak kecil kemungkinannya sentimen sektarian ikut merembes ke dalam kitab hadis Syiah itu)
Pada mulanya, sengketa terjadi hanya antara Hanabilah versus Syiah. Kitab-kitab tarikh yang menerangkan kejadian pada abad 5 H, kata Dr Mukhtar asy-Syinqithi, banyak menuliskan terjadinya fitnah antara Hanabilah versus Syiah.
Pada perjalanan selanjutnya, ringkas cerita, pandangan Hanabilah ini mendominasi dunia Sunni [Apalagi, saat permusuhan itu semakin diruncingkan oleh Ibn Taimiyyah, yang mengkritik keras Syiah melalui kitabnya “Minhaj as-Sunnah”, kemudian ajaran Ibn Taimiyah itu dihidupkan oleh Muhammad ibn Abdil Wahhab dan menjadi paham Salafi kini]. Di sisi Syiah-Imamiyah, gerakan politiknya semakin radikal seiring ideologi politik harakiy ala Syiah-Ismailiyah menjadi ideologi arus utama: oposisi setia terhadap Sunni. Sejak itu, Sunni dan Syiah terlibat sengketa tiada henti sampai sekarang.
Poin saya di sini adalah: sengketa akut Sunni-Syiah sangat tidak terlepas dari faktor sejarah politik. Tensi politik dalam sejarah masa lampau itu, sedikit maupun banyak, ikut mempengaruhi ajaran dan kredo yang kemudian merembes ke dalam kitab-kitab rujukan kedua mazhab tersebut.
Butuh usaha besar untuk menggali kembali sisi sejarah yang hilang; sejarah saat Sunni dan Syiah bisa berdampingan, berintegrasi; dan perbedaan pandangan tidak menjadi alasan untuk bermusuhan, justru jadi peluang untuk saling belajar; menerima dan memberi.
[ 7 ]
Data sejarah Nusantara menunjukkan bahwa Syiah sudah lama berada di bumi Indonesia. Salah satu tesis terkuat tentang muasal Islam di Nusantara ialah dari Gujarat & Persia yang, sedikit atau banyak, diwarnai oleh ajaran dan amaliyah Syiah.
Menurut Agus Sunyoto di buku Wali Songo, Islam mulai berkembang di India, salah satunya, dimotori oleh kalangan Alawiyyin yang lari dari kejaran penguasa Umayyah dan Abbasiyah. Pengaruh tradisi dan pemikiran Alawiyyin yang dianut orang-orang Persia terbawa ke India. Dari India, kemudian terbawa ke Nusantara.
Pengaruh Persia itu antara lain ada dalam sistem pengajaran al-Qur’an yang menggunakan istilah-istilah berbahasa Persia untuk menyebut harakat (vokal) dalam bahasa Arab, seperti jabar untuk fathah, jer untuk kasrah, dan pes (fesy) untuk dhammah. Generasi simbah saya masih ada yang mengeja al-Quran dengan jabar, jer, dan pes itu.
Pengaruh dalam bidang kesusastraan juga cukup besar. Ini muncul dalam karya terjemahan dari sastra Persia: Qissa-i-Emir Hamza (Hikayat Amir Hamzah, mengisahkan kepahlawanan Hamzah ibn Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad Saw), Qissah Insyiqaq al-Qamar (Hikayat Terbelahnya Bulan, salah satu mukjizat Nabi Muhammad Saw), Rawdhat al-Ahbab (Hikayat Nur Muhammad), Wafat Nameh (Hikayat Nabi Wafat), Qissah Wasiyyah al-Mustafa li Imam ‘Ali (Kisah Wasiat Nabi kepada Ali), Qissah Amir al-Mu`minin Hasan wa Husain (Kisah Amirul Mukminin Hasan dan Husain), Qissah i Ali Hanafiyah (Kisah Ali al-Hanafiyah [putra Ali ibn Abi Thalib dari istrinya, Khaulah, dari Bani Hanifah]), dan lain-lain. [Simaklah judul-judul karya itu; yang indikatif pada ajaran Syiah]
Konon, dulu juga pernah ada Kesultanan Perlak di Aceh—yang sezaman dengan masa Daulah Abbasiyah—yang bermazhab Syiah. Ada pula beberapa tradisi Syiah yang bertahan lama, mungkin sampai kini masih ada, yakni perayaan Asyuro dengan Tabot & bubur Asyuro—dan bulan Muharram pun lazim disebut orang Jawa dengan nama “Sasi Suro”. Adapula beberapa ajaran yang mirip—untuk tak dikatakan sama persis—antara Syiah dengan Ahlus Sunnah. Misalnya, tawassul, tabarruk, peringatan hari kematian, ziarah kubur, maulid Nabi, dan lain-lain.
Data sejarah ini menunjukkan bahwa sudah sejak lama Syiah menjadi bagian integral dalam Islam di Nusantara. Santri-santri Nahdliyin yang gemar shalawat pasti tahu bahwa syair “Ya Rasulallah Salamun ‘Alayk” yang biasa dibaca dalam Barzanji atau Diba’i menyebut imam-imam Syiah: dari ‘Ali ibn Abi Thalib sampai ‘Ali ar-Ridha. (Lihat mulai bagian syair: kam imĆ¢min ba’dahu khalafĆ»). Orang-orang NU yang gemar bershalawat tentu tahu kasidah-kasidah macam “Ya Zahra”, “Ya Ala Baitin Nabi”, “Birasulillah wal-Badawi”, “Li Khamsatun”, dll. [Sebagai misal, “Li Khamsatun” oleh anak-anak Syiah bisa dilihat Videonya:
“Li Khamsatun” oleh anak-anak NU bisa dilihat Videonya:
Kasidah-kasidah pujian kepada Ahlul Bait itu tak hanya didendangkan oleh Sunni, melainkan juga oleh Syiah. Kenyataan ini menunjukkan kebenaran ungkapan masyhur dari Gus Dur itu: NU adalah Syiah-kultural.
[ 8 ]
Makna “Syiah” dalam konsep Al-Quran (6:159 & 30:32) sebenarnya identik dengan golongan yang suka mencerai-beraikan agama (alladzina farraqĆ» dĆ®nahum wakĆ¢nĆ» syiya’an)–perlu dimengerti, istilah “Syiah” itu sendiri sebenarnya peyoratif; orang-orang Syi’i lebih suka menisbati diri mereka sendiri dengan nama Mazhab Ahlil-Bayt atau sekurang-kurangnya dengan Syi’atu ‘Ali. Hari ini ada sebagian umat Islam yang berusaha menghentikan upaya persatuan & rekonsiliasi Sunni-Syiah, atas dasar anggapan bahwa Syiah bukan Islam. Bisa jadi, justru para pemecah belah itulah yang lebih cocok dengan konsep “Syiah” dalam deskripsi Al-Quran. Artinya, mereka menjadi “Syiah” tanpa sadar.
Betapapun, persatuan itu lebih baik daripada perpecahan. Al-Quran menyatakan banyak ayat tentang perdamaian dan rekonsiliasi (ash-shulh): Wash-shulhu khair; Wa ashlihû dzâta baynikum, dll. Al-Quran melarang umat Islam berpecah belah: la tafarraqû.
Kita mesti mengakhiri sengketa panjang lebih dari satu milenium ini. Sungguh menarik ayat yang dikutip Syaikh Wahbah dalam salah satu Muktamar Taqrib: Tilka ummatun qad khalat, lahĆ¢ ma kasabat wa ‘alayha ma iktasabat. Mereka kaum yang telah lalu; bagi mereka apa yang mereka lakukan. Sejarah kelam mestinya kita tinggalkan, demi menatap masa depan yang lebih toleran terhadap perbedaan, bukan?
In urĆ®du illa al-ishlĆ¢h ma istatha’tu. WamĆ¢ tawfĆ®qĆ® illĆ¢ billĆ¢h.
(Liputan-Islam/Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)

















Post a Comment
mohon gunakan email