Pesan Rahbar

Home » » Syiah Bagian Dari Islam

Syiah Bagian Dari Islam

Written By Unknown on Thursday, 12 February 2015 | 20:31:00


Oleh : Azis Anwar Fachrudin

Salah satu propaganda sektarian yang rentan mempertajam friksi di tubuh umat Islam ialah bahwa “Syiah bukan Islam”. Akhir-akhir ini, kampanye hitam itu cukup lantang disuarakan. Oleh sebagian kelompok dari kalangan Ahlus Sunnah, Syiah dianggap telah kafir; alias sudah berada di luar koridor agama Islam. Yang lebih memprihatinkan, vonis kafir itu dilancarkan dengan pukul rata tanpa merinci dulu keragaman di dalam Syiah.

Propaganda “Syiah bukan Islam” bukan semata klaim biasa. Ia berbahaya, sebab rawan membangkitkan misi “jihad” dan pencabutan nyawa. Sudah berabad-abad lamanya, kita tahu, pertengkaran Sunni-Syiah tak kunjung redam. Umat Islam tampaknya lebih mudah bertoleransi dengan agama lain ketimbang pada mazhab yang lahir dari pergolakan di tubuh umat Islam sendiri.

Banyak statemen dilancarkan untuk memojokkan Syiah, antara lain, dengan berbagai tuduhan yang, sedikit atau banyak, adalah klaim sepihak—klaim yang belum tentu dikonfirmasi oleh pendapat yang dinyatakan oleh ulama yang terakui (mu’tabar) dari kedua belah pihak.

Tulisan ini akan menjawab propaganda itu: Benarkah Syiah bukan Islam?

[ 1 ]
Pernah ada, dan sampai kini masih berlangsung, upaya pendekatan antar mazhab (at-taqrîb bain al-madzâhib). Upaya ini sudah bermula sejak tahun 1950-an. Penggagasnya ialah para ulama Al-Azhar waktu itu, dipimpin oleh Syaikh Mahmud Syaltut.

Upaya ini bertujuan untuk meminimalisasi ketegangan antar mazhab, rekonsiliasi Ahlus Sunnah-Syiah, sekaligus mengakui delapan mazhab yang sah sebagai bagian dari Islam. Delapan mazhab itu ialah: 4 mazhab Ahlus Sunnah (Hanafi, Maliki, Syafi’i, & Hanbali), 2 mazhab Syiah (Zaidiyah & Ja’fariyah-Imamiyah), mazhab Zhahiriyah, dan mazhab Ibadhiyyah (Khawarij). [Mengenai proyek taqrib ini, anda dapat dengan mudah mencari informasinya di google. Websitenya, antara lain, taghrib.org, atau search dengan kata kunci Arab: at-taqrib baina as-sunnah wa asy-syi’ah]


Kedelapan mazhab itu diakui pula oleh Syaikh Wahbah az-Zuhaily dalam karya ensiklopedisnya tentang fikih: Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu. Dikatakan oleh Syaikh Wahbah dalam penjelasannya di bagian-bagian awal, pada bab tentang fikih Imamiyyah:

“Fiqh Imamiyah, meski lebih dekat ke mazhab Syafi’i, ia tak berbeda dengan fiqh Ahlus-Sunnah dalam persoalan yang masyhur kecuali kira-kira terkait 17 masalah. Yang paling penting (dari perbedaan itu) adalah pembolehan nikah mut’ah. Perbedaan Syiah Imamiyah dengan Ahlus Sunnah tak lebih sebagaimana perbedaan mazhab-mazhab fiqh lainnya, seperti Hanafi dengan Syafi’i. Mazhab Imamiyah ini sampai sekarang menyebar di Iran dan Irak. Secara substantif, perbedaan Syiah-Imamiyah dengan Ahlus Sunnah tidak merujuk ke soal akidah atau fiqh, melainkan hanya pada aspek pemerintahan dan imamah.”

Sejak tahun 50-an, Syaikh Mahmud Syaltut sudah memfatwakan kebolehan beribadah dengan menggunakan mazhab Ja’fari (Syiah-Imamiyah). Diberitakan pula, bahwa Syaikhul Azhar Ahmad Thayyib saat ke Iran bermakmum salat kepada ulama Syiah (lihat di sini).


ؓيخ الأزهر: تكفير Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© Ł…Ų±ŁŁˆŲ¶ وسوف Ų£ŲµŁ„ŁŠ خلفهم في النجف الأؓرف


قال ؓيخ الأزهر Ų£Ų­Ł…ŲÆ Ų§Ł„Ų·ŁŠŲØ: “اننا لم نعد Ų¹Ų±ŲØŲ§ بثقافة عربية ŁˆŁ„Ų§ Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ† بثقافة Ų„Ų³Ł„Ų§Ł…ŁŠŲ© Ų®Ų§ŲµŲ© أن ŲØŲ¹Ų¶ Ų§Ł„Ų£ŁŁƒŲ§Ų± التافهة تتخطفنا”.
ŁˆŁ„ŁŲŖ Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ® Ų§Ł„Ų·ŁŠŲØ الى أنه “يُŲ®Ų·Ų· لفتنة Ų§Ł„ŁŠŁˆŁ… يراد لها ان تنبعث في بلاد أهل ال؄سلام في ŁˆŁ‚ŲŖ نحتاج ŁŁŠŁ‡ الى وحدة الأمة Ų§Ł„Ų§Ų³Ł„Ų§Ł…ŁŠŲ© Ł„ŁƒŁ„ ŲÆŁˆŁ„Ł‡Ų§”.

وأضاف “هذا Ł‡Łˆ المهم ŁˆŲ§Ł„Ų¶Ų±ŁˆŲ±ŁŠ Ų§Ł„Ų°ŁŠ نحتاجه ŁˆŲØŲÆŁˆŁ†Ł‡ لا Ł†Ų³ŲŖŲ·ŁŠŲ¹ ان نرفع Ų±Ų¤ŁˆŲ³Ł†Ų§ في ŁŠŁˆŁ… من Ų§Ł„Ų£ŁŠŲ§Ł…”.

ورفض Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ® Ų§Ł„Ų·ŁŠŲØ ان ŁŠŁƒŁˆŁ† Ł‡Ł†Ų§Łƒ فضائيات ŲŖŲ­ŁƒŁ… بكفر Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ† Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų©.

وأضاف: “هذا غير Ł…Ł‚ŲØŁˆŁ„ ŁˆŁ„Ų§ نجد له Ł…ŲØŲ±Ų±Ų§ً لا من كتاب ŁˆŁ„Ų§ سنة ŁˆŁ„Ų§ ؄سلام”.

وتابع ŲØŲ§Ł„Ł‚ŁˆŁ„ “نحن Ł†ŲµŁ„ŁŠ وراؔ Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų©، فلا يوجد عند Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© قرآن Ų¢Ų®Ų± ŁƒŁ…Ų§ تطلق الؓائعات ŁˆŲ„Ł„Ų§ Ł…Ų§ ترك Ų§Ł„Ł…Ų³ŲŖŲ“Ų±Ł‚ŁˆŁ† هذا الأمر فهذا بالنسبة لهم صيد Ų«Ł…ŁŠŁ†”.

وردا على Ų³Ų¤Ų§Ł„، رأى Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ® الأزهر انه “لا يوجد خلاف ŲØŁŠŁ† Ų§Ł„Ų³Ł†ŁŠ ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹ŁŠ ŁŠŲ®Ų±Ų¬Ł‡ من ال؄سلام انما Ł‡ŁŠ Ų¹Ł…Ł„ŁŠŲ© استغلال سياسي لهذه الخلافات”، معلنا انه: “سيزور النجف Ų§Ų°Ų§ ذهب الى العراق”.

ŁˆŁ‚Ų§Ł„: “ال؄زهر ŁˆŲ§Ų¬ŲØŁ‡ Ų§Ł„Ų£ŁˆŁ„ العمل على وحدة الأمة Ų§Ł„Ų§Ų³Ł„Ų§Ł…ŁŠŲ© ŁˆŁƒŲ°Ł„Łƒ توحيد Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ† على رؤية Ł…Ų¹ اختلاف الاجتهاد”، Ł…ŲØŲÆŁŠŲ§ استعداده “Ł„Ų²ŁŠŲ§Ų±Ų© أي Ł…ŁƒŲ§Ł† اجمع ŁŁŠŁ‡ Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ† Ł…Ų¹ بعضهم ŁˆŲ§Ł„Ł†Ų¬Ł بصفة Ų®Ų§ŲµŲ©”.

ŁˆŁ„ŁŲŖ الى أنه قال Ł„Ł„ŁˆŁŲÆ Ų§Ł„Ų¹Ų±Ų§Ł‚ŁŠ Ų§Ł„Ų°ŁŠ زاره Ł…Ų¤Ų®Ų±Ų§ً “Ų³Ų¢ŲŖŁŠŁƒŁ… ŁˆŲ£Ł†Ų§ Ų£ŲØ للسنة ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų©”.

المصدر: جريدة النهار Ų§Ł„Ł„ŲØŁ†Ų§Ł†ŁŠŲ©

Syaikul Azhar Ahmad Thayyib pun menyatakan bahwa Syiah tidak kafir; Syiah adalah bagian dari Islam (lihat di sini).


Dr. Ahmad Thayyib : Syiah adalah Salah Satu Mazhab Islam

Al-Azhar adalah sebuah lembaga keilmuan tertua didunia islam dan menjadi rujukan permasalahan-permasalahan umat dunia saat ini. berbicara tentang Al-Azhar, maka tak lepas dari ulama-ulamanya. Dari sekian banyaknya ulama di Azhar, syeikh Ahmed Muhammad Ahmed El-Tayeb terpilih sebagai Grand Syeikh Universitas atau rektor Al-Azhar saat ini. Sebuah jabatan yang dianggap oleh sebagian umat islam sebagai otoritas tertinggi dalam pemikiran Islam Sunni dan fikih serta mempunyai pengaruh kuat dalam masyarakat Islam di seluruh dunia terutama bagi pengikut mazhab Asy’ariyah dan Maturidi.

Berikut ini adalah wawancara Channel Nil TV Mesir dengan Dr. Ahmaad Thayyib.

Wartawan: Bagaimana ajaran Syiah menurut Anda?

Dr. Thayyib: Tidak ada masalah dengan ajaran Syiah. 50 tahun lalu, Syaikh Syaltut berfatwa bahwa Syiah adalah mazhab kelima dalam Islam dan sama seprti mazhab-mazhab Islam yang lain.

T: Anak-anak kita akan menjadi Syiah. Apa tindakan kita?

J: Biar saja mereka menjadi Syiah. Apakah kita akan menyalahkan orang yang berpindah mazhab dari Hanafi ke Maliki? Mereka (yang menjadi Syiah) hanya berpindah dari mazhab keempat ke mazhab kelima.

T: Orang Syiah menjadi kerabat kita. Mereka menikah dengan anak-anak kita.

J: Apa masalahnya? Pernikahan antar mazhab itu dibolehkan.

T: Kabarnya Alquran mereka berbeda dengan Alquran kita.

J: Itu omong kosong. Tidak ada perbedaan antara Alquran kita dan mereka. Bahkan rasmul khat mereka sama dengan Alquran kita.

T: 23 ulama dari sebuah negara (Saudi) berfatwa bahwa Syiah adalah kafir dan rafidhi.

J: Hanya Al-Azhar yang bisa berfatwa untuk muslimin. Fatwa mereka (ulama Saudi) tidak kredibel.

T: Lalu bagaimana dengan perselisihan Syiah-Sunni yang dikemukakan mereka?

J: Perselisihan itu adalah politik luar negeri yang ingin memecah belah Syiah dan Sunni.

T: Saya punya pertanyaan serius. Syiah tidak menerima Abu Bakar dan Umar. Bagaimana bisa Anda menyebut mereka muslim?

J:Memang mereka tidak menerima. Tapi apakah meyakini Abu Bakar dan Umar termasuk prinsip agama Islam? Kisah tentang mereka berdua adalah kisah sejarah. Sejarah tidak berkaitan dengan prinsip akidah.

Wartawan yang terhenyak mendengar jawaban ini, lalu bertanya: Ada satu kritikan terhadap Syiah. Mereka berkata bahwa imam zaman mereka masih hidup semenjak 1000 tahun lalu.

J: Mungkin saja,kenapa tidak mungkin? Tapi tak ada alasan kita mesti berkeyakinan sama spt mereka.

T: Mungkinkah bocah berusia 8 tahun menjadi imam? Syiah meyakini bahwa bocah berusia 8 tahun menjadi imam.

J: Kalau bayi dalam buaian bisa menjadi nabi, tidak mengherankan bocah usia 8 tahun menjadi imam. Meski kita sebagai Ahlussunnah tidak meyakini hal ini. Tapi keyakinan ini tidak merusak keislaman mereka. Mereka tetap orang muslim.

Setelah mendengar wawancara di atas, Dr. Shojaei Fard,dosen ilmu mekanik di Universitas Elm va Shanat,berkata,”Wawancara ini sangat menarik untuk saya. Saya berusaha menghubungi Syaikh Thayyib untuk berterima kasih kepadanya. Melalui telpon saya berkata kepada beliau,”Anda membela Syiah dengan sangat baik. Bahkan seorang ulama Syiah pun mungkin tidak akan melakukan pembelaan serupa. Minimal dia akan bersikap hati-hati. Tapi Anda berani mengatakan bahwa keyakinan kepada Abu Bakar dan Umar bukan bagian dari prinsip Islam.

Syaikh Thayyib berkata,”Saat Ayatullah Khamenei menghadapi Amerika dengan teguh dan membuat mereka bertekuk lutut dalam masalah nuklir, dan di sisi lain, Sayyed Hasan Nasrullah melawan Zionis dengan berani dan mengalahkan merka dalam perang 33 hari, saya melihat mereka sebagai kebanggaan Islam. Amerika dan kawan-kawannya berniat mencitrakan mereka sebagai Syiah radikal dan menyebut Syiah sebagai rafidhi nonmuslim demi mengambil kebanggaan ini dari Dunia Islam. Supaya para pemuda kita merasa bahwa kebanggaan ini milik Islam, saya telah mengadakan 8 acara televisi untuk mengatakan bahwa Syiah adalah muslim, Syiah tidak berbeda dengan kita, dan Syiah adalah salah satu mazhab Islam.”

sumber : http://syiahindonesia.net/

Kalau Khawarij yang lebih potensial menimbulkan friksi di tubuh umat Islam saja masih dihukumi Islam, apalagi Syiah.

Banyak ulama Al-Azhar yang berbeda dengan sikap—maaf untuk tegas menyebut—Salafi-Wahabi dalam menghadapi Syiah (lihat di sini).


Ł…ŁˆŁ‚Ł علماؔ الأزهر من Ų§Ł„ŲŖŁ‚Ų±ŁŠŲØ ŲØŁŠŁ† السنة ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų©

Ų­ŁŠŁ†Ł…Ų§ ŲØŲÆŲ£ŲŖ ال؄عداد لهذا Ų§Ł„Ł…ŁˆŲ¶ŁˆŲ¹ ŁƒŁ†ŲŖ على ثقة بأن Ų„Ų¬Ų§ŲØŲ§ŲŖ Ų§Ł„ŲŗŲ§Ł„ŲØŁŠŲ© العظمى من Ų£Ų³Ų§ŲŖŲ°Ų© وؓيوخ الأزهر لن تؓفي ŲŗŁ„ŁŠŁ„ŁŠ، Ų°Ł„Łƒ أن الأزهر – منذ Ų§Ł„Ų®Ł…Ų³ŁŠŁ†Ų§ŲŖ- قاد Ł…Ų§ Ų³Ł…ŁŠ ŲØŁ€"Ų§Ł„ŲŖŁ‚Ų±ŁŠŲØ ŲØŁŠŁ† المذاهب"ŁˆŁ†ŲŖŁŠŲ¬Ų© Ł„Ų°Ł„Łƒ قرر تدريس الفقه Ų§Ł„Ų„Ł…Ų§Ł…ŁŠ الاثنى عؓري (Ų§Ł„Ų¬Ų¹ŁŲ±ŁŠ) في جامعاته ŁˆŁ…Ų¹Ų§Ł‡ŲÆŁ‡. وكثير من علماؔ الأزهر لا ŁŠŲ²Ų§Ł„ŁˆŁ† عند Ł…ŁˆŁ‚ŁŁ‡Ł… حتى ŲØŲ¹ŲÆ أن نطرح Ų¹Ł„ŁŠŁ‡Ł… Ų§Ł„Ł†ŲµŁˆŲµ Ų§Ł„ŲŖŁŠ تؤكد Ų¬Ł…ŁˆŲ­ Ų§Ł„ŁŁƒŲ± Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹ŁŠ ŁˆŲ®Ų·ŁˆŲ±ŲŖŁ‡، فهم ŁŠŲÆŲ§ŁŲ¹ŁˆŁ† عن Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų©، ŁˆŁŠŁ‚Ł„Ł„ŁˆŁ† من الخلاف. ŁˆŁ†Ų­Ł† نعرض في هذه Ų§Ł„Ų³Ų·ŁˆŲ±- ŁˆŁ„Ł„Ų£Ł…Ų§Ł†Ų© Ų§Ł„Ų¹Ł„Ł…ŁŠŲ© ŁˆŲØŲÆŁˆŁ† تدخل من جانبنا- Ł…ŁˆŁ‚Ł علماؔ الأزهر Ų§Ł„Ł…Ų¤ŁŠŲÆŁŠŁ† Ł„Ł„ŲŖŁ‚Ų±ŁŠŲØ ŲØŁŠŁ† السنة ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų©. Ł„ŁƒŁ†Ł†Ų§ لم نعدم رؤية Ł…ŲŗŲ§ŁŠŲ±Ų© لبعض الأساتذة Ų§Ł„Ų£Ų²Ł‡Ų±ŁŠŁŠŁ† Ų§Ł„Ų°ŁŠŁ† ŲŖŲ¹Ł…Ł‚ŁˆŲ§ في Ų§Ł„Ł…ŁˆŲ¶ŁˆŲ¹ وأحاطوا ŲØŲ¬ŁˆŲ§Ł†ŲØŁ‡ ŁˆŁ…Ł† Ų«Ł… Ų¬Ų§Ų”ŲŖ Ų±Ų¤ŁŠŲŖŁ‡Ł… Ł…Ų¹Ų§Ų±Ų¶Ų© Ł„Ł„ŲŖŁ‚Ų±ŁŠŲØ وكاؓفة Ł„Ų®Ų·ŁˆŲ±Ų© Ų§Ł„ŁŁƒŲ± Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹ŁŠ ŁˆŲŖŁ„ŲŗŁŠŁ…Ł‡ Ł„Ų£ŁŠ حوار Ł…ŁˆŲ¶ŁˆŲ¹ŁŠ Ł…Ų¹ Ų§Ł„ŁŁƒŲ± Ų§Ł„Ų³Ł†ŁŠ.

** في Ų§Ł„ŲØŲÆŲ§ŁŠŲ© ŁŠŲ±Ł‰ Ų§Ł„ŲÆŁƒŲŖŁˆŲ± Ł…Ų­Ł…ŲÆ سيد Ų·Ł†Ų·Ų§ŁˆŁŠ Ł€ ؓيخ الأزهرـ أنه لا فرق ŲØŁŠŁ† السنة ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© ŁˆŲ£Ł† ŁƒŁ„ من ŁŠŲ“Ł‡ŲÆ أن لا ؄له ؄لا الله ŁŁ‡Łˆ مسلم، ŁˆŲ£Ł† الخلاف، ؄ن وُŲ¬ŲÆ، ŁŁ‡Łˆ خلاف في Ų§Ł„ŁŲ±ŁˆŲ¹ ŁˆŁ„ŁŠŲ³ في Ų§Ł„Ų«ŁˆŲ§ŲØŲŖ ŁˆŲ§Ł„Ų£ŲµŁˆŁ„، ŁˆŲ§Ł„Ų®Ł„Ų§Ł Ł…ŁˆŲ¬ŁˆŲÆ في Ų§Ł„ŁŲ±ŁˆŲ¹ ŲØŁŠŁ† السنة أنفسهم ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© أنفسهم، ŁˆŁ‚Ų§Ł„ ؄ن ŁƒŁ„ من ŁŠŲ­Ų§ŁˆŁ„ Ų„Ų“Ų§Ų¹Ų© الخلاف ŲØŁŠŁ† السنة ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© Ł…Ų£Ų¬ŁˆŲ±، ŁˆŲ„Ł†Ł‡ يجب Ų¹Ł„ŁŠŁ†Ų§ أن Ł†ŁˆŲ§Ų¬Ł‡ هذه الهجمة الؓرسة Ų¶ŲÆ Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ† Ų§Ł„Ų„Ų³Ł„Ų§Ł…ŁŠ، فالأمر الأهم Ł‡Łˆ ضرورة الاعتصام ŲØŲ­ŲØŁ„ الله ؄ن لم ŁŠŁƒŁ† من أجل Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ†، فعلى الأقل من أجل Ų§Ł„ŲÆŁ†ŁŠŲ§ Ų§Ł„ŲŖŁŠ ŁŠŁ„ŲŖŁ‚ŁŠ ŁŁŠŁ‡Ų§ Ų§Ł„Ų¬Ł…ŁŠŲ¹ على Ų·Ų§Ų¹Ų© الله. وؓيخ الأزهر ŁŠŲ±Ł‰ أن Ų§Ł„ŲŖŁ‚Ų±ŁŠŲØ ŲØŁŠŁ† المذاهب أمر ؄يجابي ويجب Ų§Ł„Ų³Ų¹ŁŠ Ų„Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲŖŲ“Ų¬ŁŠŲ¹Ł‡ لأنه من خير الأعمال ŁˆŁ…Ł† Ų§Ł„ŲŖŲ¹Ų§ŁˆŁ† على البر ŁˆŲ§Ł„ŲŖŁ‚ŁˆŁ‰.


هل تجاوز Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© تراثهم؟

** أما Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ® Ł…Ų­Ł…ŁˆŲÆ عاؓور Ł€ ŁˆŁƒŁŠŁ„ الأزهر Ł€ ŁŁŠŁ‚ŁˆŁ„: العالم Ų§Ł„Ų„Ų³Ł„Ų§Ł…ŁŠ ŁŠŁˆŲ§Ų¬Ł‡ استعماراً Ł‚ŁˆŁŠŲ§ً ŁŠŲ“ŁƒŁ„ نفسه Ł„ŲŖŁŲŖŁŠŲŖ وحدة الأمة Ų§Ł„Ų„Ų³Ł„Ų§Ł…ŁŠŲ©، ŁˆŁŠŲ­Ų§ŁˆŁ„ Ų„Ų“Ų§Ų¹Ų© الخلاف Ł…Ų§ ŲØŁŠŁ† السنة ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© حتى لا ŁŠŁ„ŲŖŁŲŖŁˆŲ§ ؄لى Ł‚Ų¶Ų§ŁŠŲ§Ł‡Ł… Ų§Ł„Ų£Ų³Ų§Ų³ŁŠŲ©.

ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ® Ł…Ų­Ł…ŁˆŲÆ عاؓور ŁŠŲ±Ł‰ أن Ų§Ł„ŲŖŁ‚Ų±ŁŠŲØ ŲØŁŠŁ† السنة ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© ŁŠŁ…ŁƒŁ† أن يحدث Ł„ŁŠŲ³ على Ų£Ų³Ų§Ų³ تنازل Ų£Ų­ŲÆ Ų§Ł„Ų·Ų±ŁŁŠŁ† عن ؓيؔ من قناعاته للآخر، ŁˆŲ„Ł†Ł…Ų§ على Ų£Ų³Ų§Ų³ ال؄قرار ŲØŲ¬Ų§Ł…Ų¹ŁŠŲ© ال؄سلام Ł„Ł„Ų·Ų±ŁŁŠŁ†، ŁˆŲ§Ł„Ų§Ų­ŲŖŲ±Ų§Ł… المتبادل، ŁˆŲ§Ų¹ŲŖŁ…Ų§ŲÆ نهج Ų§Ł„Ų­ŁˆŲ§Ų± في Ł‚Ų¶Ų§ŁŠŲ§ الخلاف، ŁˆŲŖŁŲ¹ŁŠŁ„ Ų§Ł„ŲŖŲ¹Ų§ŁˆŁ† في Ų®ŲÆŁ…Ų© المصلحة العامة لل؄سلام ŁˆŲ§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ†.

ŁˆŁ‡Łˆ ŁŠŲ±Ł‰ أن Ł…Ų§ عرضناه على ŁŲ¶ŁŠŁ„ŲŖŁ‡ من تهجم Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© على أهل السنة ŁˆŲ³ŲØŁ‡Ł… للصحابة وغير Ų°Ł„Łƒ من Ų§Ł„Ł‚Ų¶Ų§ŁŠŲ§ الهامة، ŁŠŲ±Ł‰ أن Ų°Ł„Łƒ ŁƒŲ§Ł† Ł…ŁˆŲ¬ŁˆŲÆŲ§ً في ŲØŲ¹Ų¶ كتب Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© ŁˆŁ…Ų§Ų¶ŁŠŁ‡Ł… ŁˆŲŖŲ±Ų§Ų«Ł‡Ł…، ŁˆŁ‚ŲÆ ŁŠŁƒŁˆŁ† ناتجاً عن Ų§Ł„ŲøŲ±ŁˆŁ Ų§Ł„ŲŖŁŠ ŁƒŲ§Ł†ŁˆŲ§ ŁŠŲ¹ŁŠŲ“ŁˆŁ†Ł‡Ų§ Ų¢Ł†Ų°Ų§Łƒ من القمع ŁˆŲ§Ł„Ų§Ų¶Ų·Ł‡Ų§ŲÆ، Ł„ŁƒŁ† Ų§Ł„ŁˆŲ§Ł‚Ų¹ Ų§Ł„ŁŲ¹Ł„ŁŠ Ł„Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© الآن بعيد عن Ł…Ų«Ł„ هذه Ų§Ł„Ų£Ł…ŁˆŲ±. ŁŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© Ų§Ł„Ų„ŁŠŲ±Ų§Ł†ŁŠŁˆŁ† مثلاً ŁˆŁ‚ŲÆ Ų£ŲµŲØŲ­ŲŖ السلطة بيد علمائهم منذ Ų±ŲØŲ¹ قرن، ŁˆŲÆŁˆŁ„ŲŖŁ‡Ł… من Ų£Ł‚ŁˆŁ‰ ŲÆŁˆŁ„ المنطقة، ؄لا أن ŁˆŲ³Ų§Ų¦Ł„ ؄علامهم، وخطب جمعهم Ų§Ł„ŲŖŁŠ ŲŖŲØŲ« على Ų§Ł„Ł‡ŁˆŲ§Ų”، وأحاديث Ł‚ŁŠŲ§ŲÆŲ§ŲŖŁ‡Ł…، لم ŁŠŲ­ŲµŁ„ ŁŁŠŁ‡Ų§ ؓيؔ من هذا Ų§Ł„Ł‚ŲØŁŠŁ„، حتى Ų£ŁŠŲ§Ł… الحرب Ų§Ł„Ų¹Ų±Ų§Ł‚ŁŠŲ© Ų§Ł„Ų„ŁŠŲ±Ų§Ł†ŁŠŲ©.

ŁˆŁƒŲ°Ł„Łƒ الحال بالنسبة Ł„Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© في لبنان، ŁˆŁ‡Ł… Ų§Ł„Ł‚ŁˆŲ© الأبرز Ł‡Ł†Ų§Łƒ، ŁˆŁ…Ų¹ النصر Ų§Ł„ŁƒŲØŁŠŲ± Ų§Ł„Ų°ŁŠ Ų­Ł‚Ł‚ŁˆŁ‡ على Ų§Ł„Ų¹ŲÆŁˆ Ų§Ł„ŲµŁ‡ŁŠŁˆŁ†ŁŠ، ؄لا أن ŁˆŲ³Ų§Ų¦Ł„ ؄علامهم، Ł…Ų«Ł„ فضائية "المنار"، لم يرصد Ų¹Ł„ŁŠŁ‡Ų§ ؓيؔ من ال؄ساؔة ؄لى الخلفاؔ، ŁˆŲ£Ų¬Ł„Ų§Ų” الصحابة، ŁˆŲ£Ł…Ł‡Ų§ŲŖ Ų§Ł„Ł…Ų¤Ł…Ł†ŁŠŁ†.

؄ن في Ų°Ł„Łƒ دلالة واضحة على تجاوز ŁˆŲ§Ł‚Ų¹ Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© المعاصر لمؤاخذات ŁƒŲ§Ł†ŲŖ ŲŖŲ­Ų³ŲØ على بعضهم في أزمنة ŲŗŲ§ŲØŲ±Ų©. ŁˆŁ‚ŲÆ ŁŠŁƒŁˆŁ† Ł‡Ł†Ų§Łƒ أفراد منهم Ł…ŲŖŲ£Ų«Ų±ŁŠŁ† ŲØŲØŲ¹Ų¶ الآراؔ ŁˆŲ§Ł„Ł…ŁˆŲ§Ł‚Ł السابقة، Ł„ŁƒŁ†Ł‡Ł… لا ŁŠŲ“ŁƒŁ„ŁˆŁ† حالة Ų¹Ų§Ł…Ų©.


الأزهر أقر تدريس الفقه Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹ŁŠ:

** ŁŠŁ‚ŁˆŁ„ Ų§Ł„ŲÆŁƒŲŖŁˆŲ± Ų¹ŲØŲÆŲ§Ł„ŲµŲØŁˆŲ± Ł…Ų±Ų²ŁˆŁ‚ Ų§Ł„Ų£Ł…ŁŠŁ† العام للمجلس الأعلى Ł„Ł„Ų“Ų¤ŁˆŁ† Ų§Ł„Ų„Ų³Ł„Ų§Ł…ŁŠŲ©: Ų¬Ł…ŁŠŲ¹ Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ† ŁˆŁƒŁ„ العرب مستقبلهم Ł…Ų­ŁŁˆŁ بالمخاطر ŁˆŁ„ŁŠŲ³ أمامهم Ų·Ų±ŁŠŁ‚ غير Ų„Ų¹Ų§ŲÆŲ© ؄عمال Ł…ŁŁ‡ŁˆŁ… الأمة Ų§Ł„Ų°ŁŠ أكد Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ القرآن Ų§Ł„ŁƒŲ±ŁŠŁ…. ؄ن المذهب Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹ŁŠ له Ų£ŲŖŲØŲ§Ų¹ Ų£Ł‚ŁˆŁŠŲ§Ų” ŁˆŁ„Ł‡ ŲÆŁˆŁ„ ŁˆŲ£Ł†ŲøŁ…Ų© ŁˆŁ„Ų§ ŁŠŁ…ŁƒŁ† ؄جبارهم Ų¹Ł„ŁŠ Ų§Ł„ŲŖŲ®Ł„ŁŠ عن Ł…Ų¶Ł…ŁˆŁ† Ų§Ł„ŁŁƒŲ± Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹ŁŠ ŁŲ„ŁŠŲ±Ų§Ł† Ų§Ł„ŲŖŁŠ بلغت من Ų§Ł„Ł‚ŁˆŲ© Ų§Ł„Ų³ŁŠŲ§Ų³ŁŠŲ© ŁˆŲ§Ł„Ų¹Ų³ŁƒŲ±ŁŠŲ© ŁˆŲ§Ł„ŲŖŁŠ تجعلها تتحدي Ų£Ł…Ų±ŁŠŁƒŲ§ وتؤكد أنها ŲŖŁ…ŲŖŁ„Łƒ صواريخ ŲŖŲ¶Ų±ŲØ بها Ų„Ų³Ų±Ų§Ų¦ŁŠŁ„ ŁˆŁ‡ŁŠ ŲÆŁˆŁ„Ų© Ų„Ų³Ł„Ų§Ł…ŁŠŲ© ŁˆŁ„ŁŠŲ³ لها Ł†ŲøŁŠŲ± في Ų§Ł„Ł…Ų­ŁŠŲ· Ų§Ł„Ų¹Ų±ŲØŁŠ ŁˆŲ§Ł„Ų„Ų³Ł„Ų§Ł…ŁŠ... هل من العقل أن أهدم هذه Ų§Ł„Ł‚ŁˆŲ© أو أفرط ŁŁŠŁ‡Ų§ ŁˆŲ£Ł‡ŲÆŁŠŁ‡Ų§ Ł„Ł„Ų¹ŲÆŁˆ؟.. العقل ŁŠŁ‚ŁˆŁ„ لا ŁˆŁ†Ł‚ŁˆŁ„ Ł„ŁŠŲ¶Ų¹ Ų§Ł„Ų¬Ł…ŁŠŲ¹ ŁŠŲÆŁ‡ بيد Ų£Ų®ŁŠŁ‡ Ł„Ł†ŁƒŁ† Ł‚ŁˆŲ© واحدة.

ويضيف ŲÆ. Ų¹ŲØŲÆ Ų§Ł„ŲµŲØŁˆŲ± Ł…Ų±Ų²ŁˆŁ‚: في Ų§Ł„Ų®Ł…Ų³ŁŠŁ†Ų§ŲŖ ŁˆŲ¹Ł„ŁŠ يد Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ® Ł…Ų­Ł…ŲÆ ŲŖŁ‚ŁŠ Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ† Ų§Ł„Ł‚Ł…Ł†ŁŠ ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ® Ł…Ų­Ł…ŁˆŲÆ Ų“Ł„ŲŖŁˆŲŖ وأساتذة أجلاؔ من الأزهر ŁƒŲ§Ł† عددهم كبيرا، ŁƒŲ§Ł†ŁˆŲ§ ŁŠŲŖŲ­Ų§ŁˆŲ±ŁˆŁ† ŁˆŁŠŲŖŲÆŲ§Ų±Ų³ŁˆŁ† نقاط الخلاف ŁˆŲ§Ł„Ų§ŲŖŁŲ§Ł‚ ŲØŁŠŁ† السنة ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© واستطاعوا Ų§Ł„ŲŖŁ„Ų§Ł‚ŁŠ في كثير من Ų§Ł„Ł‚Ų¶Ų§ŁŠŲ§ ŁˆŁ‡Ų°Ų§ ŁŠŲÆŁ„ Ų¹Ł„ŁŠ ان التقارب Ł…Ł…ŁƒŁ†، ŁˆŁ…Ų¹ Ł…Ų§ Ł†Ų¹Ų§Ł†ŁŠŁ‡ Ų§Ł„ŁŠŁˆŁ… Ų£ŲµŲØŲ­ Ų§Ł„ŲŖŁ‚Ų±ŁŠŲØ ŲØŁŠŁ† Ų§Ł„Ł…Ų°Ł‡ŲØŁŠŁ† ضرورة Ų­ŲŖŁ…ŁŠŲ© أمام من يريد أن يزيح ال؄سلام ŁƒŁ„Ł‡ من Ų§Ł„ŁˆŲ¬ŁˆŲÆ بمن ŁŁŠŁ‡ من سنة وؓيعة ألم ŁŠŁ‚Ł„ Ų§Ł„Ų±Ų¦ŁŠŲ³ بوؓ أن في مقدمة اهتماماته في Ų§Ł„ŁˆŁ„Ų§ŁŠŲ© Ų§Ł„Ų«Ų§Ł†ŁŠŲ© في Ų±Ų¦Ų§Ų³Ų© Ų§Ł„ŁˆŁ„Ų§ŁŠŲ§ŲŖ المتحدة أن لا يدع رجل ŲÆŁŠŁ† له ذقن ŁˆŁ„Ų§ رجلا ŁŠŲ­Ų±Ł… Ų“Ų±ŲØ الخمر أو ŁŠŲ·Ł„ŲØ من Ų²ŁˆŲ¬ŲŖŁ‡ الحجاب ŁˆŁƒŲ§Ł† هذا علناً ŁˆŁ†Ų“Ų± بالصحف فكيف Ł†ŲŖŁ…Ų³Łƒ ŲØŲ§Ł„Ł‚Ų¶Ų§ŁŠŲ§ Ų§Ł„Ų®Ł„Ų§ŁŁŠŲ© ŁˆŁƒŁ„ من السنة ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© في مهب Ų§Ł„Ų±ŁŠŲ­.

ويؤكد ŲÆ. Ł…Ų±Ų²ŁˆŁ‚ أنه Ų«ŲØŲŖ ŲØŲ§Ł„ŲÆŁ„ŁŠŁ„ القاطع أنه لا يوجد Ł„ŲÆŁŠ Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© Ų§Ł„Ł…ŲŗŲ§Ł„ŁŠŁ† قرآن Ų®Ų§Ųµ بهم ŁˆŁ„Ų§ يوجد Ł…Ų§ ŁŠŁ‚Ų§Ł„ عنه.. مصحف فاطمة.. ŁŁ‡Łˆ غير صحيح. ŁˆŁŠŲ±Ł‰ أن Ų«Ł…Ų§Ų± Ų¬Ł‡ŁˆŲÆ العلماؔ في Ų§Ł„ŲŖŁ‚Ų±ŁŠŲØ ŲØŁŠŁ† السنة ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© ŁˆŲµŁ„ŲŖ ؄لى Ų­ŲÆ أنه اختير المذهب Ų§Ł„Ų¬Ų¹ŁŲ±ŁŠ Ł„ŁŠŲÆŲ±Ų³ في Ų¬Ų§Ł…Ų¹Ų© الأزهر ŁˆŲ„Ł„ŁŠ الآن يدرس بالفعل.

ŁƒŁ…Ų§ Ų£ŲµŲÆŲ± ال؄مام Ų§Ł„Ų£ŁƒŲØŲ± Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ® Ł…Ų­Ł…ŁˆŲÆ Ų“Ł„ŲŖŁˆŲŖ في Ų§Ł„Ų³ŲŖŁŠŁ†ŁŠŲ§ŲŖ فتوي Ų£Ų«Ų§Ų±ŲŖ جدلا كبيرا وأجازت Ų§Ł„ŁŲŖŁˆŁŠ التعبد بمذهب Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© Ų§Ł„Ų„Ł…Ų§Ł…ŁŠŲ© ŁˆŁ‚ŲÆ Ų¹Ų¶ŲÆ Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ® Ł…Ų­Ł…ŲÆ Ų§Ł„ŲŗŲ²Ų§Ł„ŁŠ هذه Ų§Ł„ŁŲŖŁˆŁŠ ŲØŲ±Ų£ŁŠŁ‡ ŁŁŠŁ‡Ų§ ŲŖŁ‚ŁˆŁ„ Ų§Ł„ŁŲŖŁˆŁŠ ŁƒŁ…Ų§ وردت Ų¹Ł„ŁŠ لسان Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ® Ł…Ų­Ł…ŁˆŲÆ Ų“Ł„ŲŖŁˆŲŖ ؄ن "ال؄سلام لا يوجب Ų¹Ł„ŁŠ Ų£Ų­ŲÆ من أتباعه Ų§ŲŖŲØŲ§Ų¹ مذهب Ł…Ų¹ŁŠŁ† ŲØŁ„ ؄ن Ł„ŁƒŁ„ مسلم الحق في أن ŁŠŁ‚Ł„ŲÆ Ł€ ŲØŲ§ŲÆŲ¦ ذي ŲØŲÆŲ” Ł€ أي مذهب من المذاهب Ų§Ł„Ł…Ł†Ł‚ŁˆŁ„Ų© نقلا صحيحاً ŁˆŲ§Ł„Ł…ŲÆŁˆŁ†Ų© Ų£Ų­ŁƒŲ§Ł…Ł‡Ų§ في ŁƒŲŖŲØŁ‡Ų§ الخاصة ŁˆŁ„Ł…Ł† قلد مذهبا من هذه المذاهب أن ŁŠŁ†ŲŖŁ‚Ł„ Ų„Ł„ŁŠ ŲŗŁŠŲ±Ł‡ أي مذهب ŁƒŲ§Ł† ŁˆŁ„Ų§ Ų­Ų±Ų¬ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ في ؓيؔ من Ų°Ł„Łƒ. ŁˆŲ£Ł† مذهب Ų§Ł„Ų¬Ų¹ŁŲ±ŁŠŲ© Ų§Ł„Ł…Ų¹Ų±ŁˆŁŲ© بمذهب Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© Ų§Ł„Ų„Ł…Ų§Ł…ŁŠŲ© Ų§Ł„Ų§Ų«Ł†ŁŠ عؓرية مذهب يجوز التعبد به Ų“Ų±Ų¹Ų§ كسائر مذاهب أهل السنّŲ© ŁŁŠŁ†ŲØŲŗŁŠ Ų¹Ł„ŁŠ Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ† أن يعرفوا Ų°Ł„Łƒ ŁˆŲ£Ł† ŁŠŲŖŲ®Ł„ŲµŁˆŲ§ من Ų§Ł„Ų¹ŲµŲØŁŠŲ© بغير الحق لمذاهب Ł…Ų¹ŁŠŁ†Ų© فما ŁƒŲ§Ł† ŲÆŁŠŁ† الله، ŁˆŁ…Ų§ ŁƒŲ§Ł†ŲŖ Ų“Ų±ŁŠŲ¹ŲŖŁ‡ لمذهب أو Ł…Ł‚ŲµŁˆŲ±Ų© Ų¹Ł„ŁŠ مذهب، ŁŲ§Ł„ŁƒŁ„ Ł…Ų¬ŲŖŁ‡ŲÆŁˆŁ† Ł…Ł‚ŲØŁˆŁ„ŁˆŁ† عند الله ŲŖŲ¹Ų§Ł„ŁŠ يجوز لمن Ł„ŁŠŲ³ أهلا للنظر ŁˆŲ§Ł„Ų§Ų¬ŲŖŁ‡Ų§ŲÆ ŲŖŁ‚Ł„ŁŠŲÆŁ‡Ł… ŁˆŲ§Ł„Ų¹Ł…Ł„ ŲØŁ…Ų§ ŁŠŁ‚Ų±Ų±ŁˆŁ†Ł‡ في فقههم ŁˆŁ„Ų§ فرق في Ų°Ł„Łƒ ŲØŁŠŁ† العبادات ŁˆŲ§Ł„Ł…Ų¹Ų§Ł…Ł„Ų§ŲŖ.

هذه Ų§Ł„ŁŲŖŁˆŁ‰ ŁƒŲ§Ł†ŲŖ ŲØŁ…Ų«Ų§ŲØŲ© Ų§Ł„ŲØŲ±ŁƒŲ§Ł† Ų§Ł„Ų°ŁŠ انفجر ŁˆŲ£Ł‚Ų§Ł… Ų§Ł„ŲÆŁ†ŁŠŲ§ ŁˆŁ„Ł… ŁŠŁ‚Ų¹ŲÆŁ‡Ų§ ŁˆŁ‡Ų§Ų¬ŲŖ الناس ŁˆŁ…Ų§Ų¬ŲŖ Ų„Ł„ŁŠ ŲÆŲ±Ų¬Ų© أن البعض لجأ Ų„Ł„ŁŠ ؓيوخ الأزهر ŁˆŲ±Ų¬Ų§Ł„ Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ† Ł„ŁŠŲ¬ŲÆŁˆŲ§ Ł„ŲÆŁŠŁ‡Ł… رأيا Ų¢Ų®Ų±Ų§ ŁˆŁƒŲ§Ł† منهم Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ® Ł…Ų­Ł…ŲÆ Ų§Ł„ŲŗŲ²Ų§Ł„ŁŠ Ų§Ł„Ų°ŁŠ لم ŁŠŲ®ŲŖŁ„Ł Ł…Ų¹ Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ® Ų“Ł„ŲŖŁˆŲŖ ŁˆŲ£ŁŠŲÆŁ‡ في Ų§Ł„Ų±Ų£ŁŠ، حيث قال لمن سأله عن كيفية Ų„ŲµŲÆŲ§Ų± ؓيخ الأزهر ŁŲŖŁˆŲ§Ł‡ بأن Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© مذهب Ų„Ų³Ł„Ų§Ł…ŁŠ كسائر المذاهب Ų§Ł„Ł…Ų¹Ų±ŁˆŁŲ©؟.. Ł…Ų§Ų°Ų§ تعرف عن Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų©؟.. فسكت السائل Ł‚Ł„ŁŠŁ„Ų§، Ų«Ł… Ų£Ų¬Ų§ŲØ قائلا "ناس Ų¹Ł„ŁŠ غير ŲÆŁŠŁ†Ł†Ų§". فقال Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ® Ų§Ł„ŲŗŲ²Ų§Ł„ŁŠ للرجل: ŁˆŁ„ŁƒŁ†ŁŠ Ų±Ų£ŁŠŲŖŁ‡Ł… ŁŠŲµŁ„ŁˆŁ† ŁˆŁŠŲµŁˆŁ…ŁˆŁ† ŁƒŁ…Ų§ Ł†ŲµŁ„ŁŠ ŁˆŁ†ŲµŁˆŁ… وعجب السائل ŁˆŁ‚Ų§Ł„ "كيف هذا؟"، فقال Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ® "ŁˆŲ§Ł„Ų£ŲŗŲ±ŲØ أنهم ŁŠŁ‚Ų±Ų£ŁˆŁ† القرآن مثلنا ŁˆŁŠŲ¹ŲøŁ…ŁˆŁ† Ų§Ł„Ų±Ų³ŁˆŁ„ ŲµŁ„ŁŠ الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… مثلنا ŁˆŁŠŲ­Ų¬ŁˆŁ† Ų„Ł„ŁŠ Ų§Ł„ŲØŁŠŲŖ الحرام".

Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© لا ŁŠŲ¹ŲøŁ…ŁˆŁ† القرآن ŁˆŲ§Ł„Ų³Ł†Ų©:

ŁŠŁ‚ŁˆŁ„ ŲÆ. جلال Ų¹ŁˆŲ¶ŁŠŁ† Ų£Ų³ŲŖŲ§Ų° Ų§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ« ŲØŲ¬Ų§Ł…Ų© الأزهر: ؄ن Ų§Ł„Ų“Ų±ŁŠŲ¹Ų© Ų§Ł„Ų„Ų³Ł„Ų§Ł…ŁŠŲ© ŲŖŁ‚ŁˆŁ… على Ų±ŁƒŁ†ŁŠŁ†، Ų§Ł„Ų±ŁƒŁ† Ų§Ł„Ų£ŁˆŁ„ Ł‡Łˆ القرآن Ų§Ł„ŁƒŲ±ŁŠŁ…، ŁˆŲ§Ł„Ų±ŁƒŁ† Ų§Ł„Ų«Ų§Ł†ŁŠ Ł‡Łˆ السنة Ų§Ł„Ł†ŲØŁˆŁŠŲ© المؓرفة. ŁˆŁ‡Ų°Ų§Ł† الأصلان لا ŁŠŁ…ŁƒŁ† Ų§Ł„ŲŖŁ‡Ų§ŁˆŁ† ŁŁŠŁ‡Ł…Ų§، Ų„Ų° ŲØŲÆŁˆŁ†Ł‡Ł…Ų§ لا معنى Ł„Ł„Ų“Ų±ŁŠŲ¹Ų© ŁˆŁ„Ų§ ŲŖŁ‚ŁˆŁ… لل؄سلام قائمة. فالقرآن ŁˆŲ§Ł„Ų³Ł†Ų© هما Ł…ŲµŲÆŲ± Ų§Ł„ŲŖŁ„Ł‚ŁŠ Ų§Ł„Ų°ŁŠ يجب الاعتراف به Ų§ŲØŲŖŲÆŲ§Ų”ً Ł„Ł„ŲÆŲ®ŁˆŁ„ في ال؄سلام. ŁˆŁ„Ł„Ų£Ų³Ł Ų§Ł„Ų“ŲÆŁŠŲÆ Ł‡Ł†Ų§Łƒ خلاف جذري Ų­ŁˆŁ„ Ł‡Ų°ŁŠŁ† Ų§Ł„Ų£ŲµŁ„ŁŠŁ† ŲØŁŠŁ† أهل السنة ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų©. فبالنسبة للأصل Ų§Ł„Ų£ŁˆŁ„ ŁˆŁ‡Łˆ القرآن Ų§Ł„ŁƒŲ±ŁŠŁ…، ŁŲØŁŠŁ†Ł…Ų§ نجد Ų§Ł„Ų­ŁŲ§ŁˆŲ© Ų§Ł„ŁƒŲ§Ł…Ł„Ų© من جانب أهل السنة بالقرآن Ų§Ł„ŁƒŲ±ŁŠŁ… ŁˆŲŖŲ¬ŁˆŁŠŲÆŁ‡ ŁˆŲŖŁ„Ų§ŁˆŲŖŁ‡ ŁˆŁ‚Ų±Ų§Ų”Ų§ŲŖŁ‡ ŁˆŲ¹Ł„ŁˆŁ…Ł‡ ŁˆŲŖŁŲ³ŁŠŲ±Ł‡، حيث Ł‡Łˆ المادة Ų§Ł„Ų£Ų³Ų§Ų³ŁŠŲ© Ł„ŁƒŁ„ طالب علم في المدارس ŁˆŲ§Ł„Ł…Ų¹Ų§Ł‡ŲÆ ŁˆŲ§Ł„Ų¬Ų§Ł…Ų¹Ų§ŲŖ Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ†ŁŠŲ©، نجد أن عكس Ų°Ł„Łƒ Ł‡Łˆ Ų§Ł„ŲµŲ­ŁŠŲ­ عند Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų©، فهم لا ŁŠŁˆŁ„ŁˆŁ† القرآن ŁˆŲ¹Ł„ŁˆŁ…Ł‡ أي اهتمام باعتراف قادتهم أنفسهم. ŁŁ‡Ł†Ų§Łƒ Ų¹ŲÆŁ… اهتمام من Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© ŲØŲŖŁ„Ų§ŁˆŲ© ŁˆŲŖŲ¹Ł„Ł… القرآن حتى على Ł…Ų³ŲŖŁˆŁ‰ الجامعات ŁˆŲ§Ł„Ų­ŁˆŲ²Ų§ŲŖ Ų§Ł„Ų¹Ł„Ł…ŁŠŲ© Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ†ŁŠŲ©، ŁˆŲ¹Ł„ŁŠ Ų®Ų§Ł…Ł†Ų¦ŁŠ Ł…Ų±Ų“ŲÆ Ų§Ł„Ų«ŁˆŲ±Ų© Ų§Ł„Ų„ŁŠŲ±Ų§Ł†ŁŠŲ© ŁŠŁ‚ŁˆŁ„: ( Ł…Ł…Ų§ يؤسف له أن ŲØŲ„Ł…ŁƒŲ§Ł†Ł†Ų§ ŲØŲÆŲ” الدراسة ŁˆŁ…ŁˆŲ§ŲµŁ„ŲŖŁ†Ų§ لها ؄لى Ų­ŁŠŁ† استلام Ų„Ų¬Ų§Ų²Ų© ال؄جتهاد من ŲÆŁˆŁ† أن نراجع القرآن ŁˆŁ„Łˆ Ł…Ų±Ų© واحدة !!! لماذا Ł‡ŁƒŲ°Ų§ ؟ لأن ŲÆŲ±ŁˆŲ³Ł†Ų§ لا ŲŖŲ¹ŲŖŁ…ŲÆ على القرآن).

ŁˆŁ…Ł…Ų§ يزيد الأمر سوًؔ أن Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© ŁŠŲ¹ŲŖŁ‚ŲÆŁˆŁ† بوجود مصحف Ł„ŲÆŁŠŁ‡Ł… اسمه مصحف فاطمة فيروي Ų§Ł„ŁƒŁ„ŁŠŁ†ŁŠ في ŁƒŲŖŲ§ŲØŁ‡ " Ų§Ł„ŁƒŲ§ŁŁŠ " عن جعفر الصادق : ( ŁˆŲ„Ł† عندنا لمصحف فاطمة Ų¹Ł„ŁŠŁ‡Ų§ السلام، قال : قلت : ŁˆŁ…Ų§ مصحف فاطمة ؟ قال : مصحف ŁŁŠŁ‡ Ł…Ų«Ł„ Ł‚Ų±Ų¢Ł†ŁƒŁ… هذا ثلاث Ł…Ų±Ų§ŲŖ، ŁˆŲ§Ł„Ł„Ł‡ Ł…Ų§ŁŁŠŁ‡ حرف واحد من Ł‚Ų±Ų¢Ł†ŁƒŁ…).

ويضيف ŲÆ. جلال Ų¹ŁˆŲ¶ŁŠŁ†: ؄ن Ų¹Ł‚ŁŠŲÆŲ© كبار علماؔ Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© في تحريف القرآن Ł…Ų¹Ų±ŁˆŁŲ©، ŁˆŁ…Ų¹ ŲŖŲØŲ±Ų¤ ŲØŲ¹Ų¶ Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© ŲøŲ§Ł‡Ų±ŁŠŲ§ من Ų§Ł„Ł‚ŁˆŁ„ بتحريف القرآن، ؄لا أننا نراهم Ł„Ų§ŁŠŲ²Ų§Ł„ŁˆŁ† ŁŠŲ·ŲØŲ¹ŁˆŁ† ŲŖŁ„Łƒ Ų§Ł„ŁƒŲŖŲØ Ų§Ł„Ł…Ų­Ų“ŁˆŲ© ŲØŲ§Ł„Ų±ŁˆŲ§ŁŠŲ§ŲŖ Ų§Ł„ŲŖŁŠ ŲŖŁ‚ŁˆŁ„ ŲØŲ§Ł„ŲŖŲ­Ų±ŁŠŁ. ŁƒŁ…Ų§ ŁŠŲ¹ŲøŁ… Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© العلماؔ Ų§Ł„Ł…ŲµŲ±Ų­ŁŠŁ† ŲØŲ§Ł„Ł‚ŁˆŁ„ ŲØŲ§Ł„ŲŖŲ­Ų±ŁŠŁ Ł…Ų«Ł„ Ų§Ł„Ł†ŁˆŲ±ŁŠ Ų§Ł„Ų·ŲØŲ±Ų³ŁŠ، ŁˆŲ³Ł„ŁŠŁ… بن Ł‚ŁŠŲ³ Ų§Ł„Ł‡Ł„Ų§Ł„ŁŠ، ŁˆŁ…Ų­Ł…ŲÆ Ų§Ł„ŁŁŠŲ¶ Ų§Ł„ŁƒŲ§Ų“Ų§Ł†ŁŠ، ŁˆŁ…Ų­Ł…ŲÆ باقر Ų§Ł„Ł…Ų¬Ł„Ų³ŁŠ، ويوسف Ų§Ł„ŲØŲ­Ų±Ų§Ł†ŁŠ، ŁˆŁ†Ų¹Ł…Ų© الله Ų§Ł„Ų¬Ų²Ų§Ų¦Ų±ŁŠ. ŁˆŁ„Ų§Ų²Ų§Ł„ Ł‡Ł†Ų§Łƒ من علماؔ Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© Ų§Ł„Ł…Ų¹Ų§ŲµŲ±ŁŠŁ† من يصرح ŲØŲ§Ł„ŲŖŲ­Ų±ŁŠŁ.

ŁˆŁŠŲŖŲ³Ų§Ų”Ł„ ŲÆ. جلال Ų¹ŁˆŲ¶ŁŠŁ†: Ų„Ų°Ų§ ŁƒŲ§Ł† القرآن عند Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© محرفاً أو ناقصاً فكيف ŁŠŁ…ŁƒŁ† الاستناد Ų„Ł„ŁŠŁ‡ ؟!، وكيف ŁŠŲ®Ł„Łˆ القرآن من Ų§Ł„Ų±ŁƒŁ† السادس لل؄سلام؟، وكيف يحتوي القرآن على آيات تخالف Ų¹Ł‚ŁŠŲÆŲ© الأئمة بزعمهم ؟!.

أما الأصل Ų§Ł„Ų«Ų§Ł†ŁŠ ŁˆŁ‡Łˆ السنة Ų§Ł„Ł†ŲØŁˆŁŠŲ© المؓرفة- ŁˆŲ§Ł„ŁƒŁ„Ų§Ł… Ł„Ł„ŲÆŁƒŲŖŁˆŲ± جلال Ų¹ŁˆŲ¶ŁŠŁ†- ŁŲØŁŠŁ†Ł…Ų§ نجد اهتماماً كبيراً بالسنة، ŁˆŲ¹Ł„ŁˆŁ… مصطلح Ų§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ«، ŁˆŲ§Ł„Ų¬Ų±Ų­ ŁˆŲ§Ł„ŲŖŲ¹ŲÆŁŠŁ„، وتاريخ الرجال، ŁˆŲŖŲ·ŲØŁŠŁ‚ Ł…Ų¹Ų§ŁŠŁŠŲ± Ų¹Ł„Ł…ŁŠŲ© ŲÆŁ‚ŁŠŁ‚Ų© لمعرفة ŲµŲ­Ų© Ų§Ł„Ų­ŲÆŁŠŲ« أذهلت علماؔ الغرب، ŲØŁŠŁ†Ł…Ų§ يحدث Ų°Ł„Łƒ عند السنة نجد أن Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© لا ŁŠŲ¹Ł…Ł„ŁˆŁ† بها ؄لا ŁŁŠŁ…Ų§ ŁŠŁˆŲ§ŁŁ‚ مذهبهم.

فأهل السنة Ł„ŲÆŁŠŁ‡Ł… منهج في ŲŖŁ„Ł‚ŁŠ Ų§Ł„Ų£Ų­Ų§ŲÆŁŠŲ« ŁŠŲ®Ų¶Ų¹ŁˆŁ† له ŁƒŁ„ Ł…Ų§ جاؔهم من Ų§Ł„Ų£Ų­Ų§ŲÆŁŠŲ« عن Ų§Ł„Ł†ŲØŁŠ صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… .. فلماذا لا ŁŠŁŲ¹Ł„ Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© Ų°Ł„Łƒ ؟.

ال؄مامة أكبر عائق:

ŁŠŲ±Ł‰ ŲÆ. Ł…Ų­Ł…ŲÆ Ų¹ŲØŲÆ المنعم Ų§Ł„ŲØŲ±ŁŠ الأستاذ ŲØŲ¬Ų§Ł…Ų¹Ų© الأزهر أنه لا ŁŠŁ…ŁƒŁ† أن يحدث تقارب ŲØŁŠŁ† أهل السنة ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© طالما ŲŖŁ…Ų³Łƒ Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© ŲØŲ¹Ł‚ŁŠŲÆŲŖŁ‡Ł… في ال؄مامة Ų§Ł„ŲŖŁŠ ŲŖŁƒŁˆŁ† عندهم بالنص، Ų„Ų° يجب أن ŁŠŁ†Ųµ ال؄مام السابق على ال؄مام اللاحق ŲØŲ§Ł„Ų¹ŁŠŁ† لا ŲØŲ§Ł„ŁˆŲµŁ، ŁˆŲ£Ł† ال؄مامة من Ų§Ł„Ų£Ł…ŁˆŲ± الهامة Ų§Ł„ŲŖŁŠ Ł„Ų§ŁŠŲ¬ŁˆŲ² أن ŁŠŁŲ§Ų±Ł‚ Ų§Ł„Ł†ŲØŁŠ صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… الأمة ŁˆŁŠŲŖŲ±ŁƒŁ‡Ų§ هملاً ŁŠŲ±Ł‰ ŁƒŁ„ واحد منهم رأياً، ŲØŁ„ يجب أن ŁŠŲ¹ŁŠŁ† Ų“Ų®ŲµŲ§ً Ł‡Łˆ Ų§Ł„Ł…Ų±Ų¬ŁˆŲ¹ Ų„Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ§Ł„Ł…Ų¹ŁˆَّŁ„ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡. ŁˆŁŠŲ³ŲŖŲÆŁ„ŁˆŁ† على Ų°Ł„Łƒ بأن Ų§Ł„Ł†ŲØŁŠ صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… قد نص على Ų„Ł…Ų§Ł…Ų© Ų¹Ł„ŁŠ من بعده نصاً ظاهراً ŁŠŁˆŁ… غدير خم. ŁˆŁŠŲ²Ų¹Ł…ŁˆŁ† بأن Ų¹Ł„ŁŠŲ§ً قد نص على ŁˆŁ„ŲÆŁŠŁ‡ الحسن ŁˆŲ§Ł„Ų­Ų³ŁŠŁ† .. ŁˆŁ‡ŁƒŲ°Ų§ .. ŁŁƒŁ„ Ų„Ł…Ų§Ł… ŁŠŲ¹ŁŠŁ† ال؄مام Ų§Ł„Ų°ŁŠ ŁŠŁ„ŁŠŁ‡ بوصية منه .. ŁˆŁŠŲ³Ł…ŁˆŁ†Ł‡Ł… Ų§Ł„Ų£ŁˆŲµŁŠŲ§Ų”. ويتفرع عن هذا المبدأ الباطل Ų¹ŲÆŲ© Ł…ŲØŲ§ŲÆŲ¦ باطلة أخرى Ł…Ų«Ł„ العصمة، ŁˆŲ§Ł„Ų¹Ł„Ł…، ŁˆŲ®ŁˆŲ§Ų±Ł‚ العادات، ŁˆŲ§Ł„ŲŗŁŠŲØŲ©، ŁˆŲ§Ł„Ų±Ų¬Ų¹Ų©.

فالأئمة عندهم Ł…Ų¹ŲµŁˆŁ…ŁˆŁ† عن الخطأ ŁˆŲ§Ł„Ł†Ų³ŁŠŲ§Ł†، ŁˆŲ¹Ł† ؄قتراف Ų§Ł„ŁƒŲØŲ§Ų¦Ų± ŁˆŲ§Ł„ŲµŲŗŲ§Ų¦Ų±، ŁˆŁƒŁ„ Ų„Ł…Ų§Ł… من الأئمة Ų£ُودِŲ¹ العلم من لدن Ų§Ł„Ų±Ų³ŁˆŁ„ صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… ŲØŁ…Ų§ ŁŠŁƒŁ…Ł„ Ų§Ł„Ų“Ų±ŁŠŲ¹Ų©، ŁˆŁ‡Łˆ ŁŠŁ…Ł„Łƒ علماً Ł„ŲÆŁ†ŁŠŲ§ً ŁˆŁ„Ų§ŁŠŁˆŲ¬ŲÆ ŲØŁŠŁ†Ł‡ ŁˆŲØŁŠŁ† Ų§Ł„Ł†ŲØŁŠ من فرق Ų³ŁˆŁ‰ أنه Ł„Ų§ŁŠŁˆŲ­Ł‰ Ų„Ł„ŁŠŁ‡، ŁˆŁ‚ŲÆ Ų§Ų³ŲŖŁˆŲÆŲ¹Ł‡Ł… Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… Ų£Ų³Ų±Ų§Ų± Ų§Ł„Ų“Ų±ŁŠŲ¹Ų© Ł„ŁŠŲØŁŠŁ†ŁˆŲ§ للناس Ł…Ų§ŁŠŁ‚ŲŖŲ¶ŁŠŁ‡ زمانهم.

ويجوز أن تجري Ų®ŁˆŲ§Ų±Ł‚ العادات على يد ال؄مام ، ŁˆŁŠŲ³Ł…ŁˆŁ† Ų°Ł„Łƒ Ł…Ų¹Ų¬Ų²Ų©، و؄ذا لم ŁŠŁƒŁ† Ł‡Ł†Ų§Łƒ نص على Ų„Ł…Ų§Ł… من ال؄مام السابق Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ وجب أن ŁŠŁƒŁˆŁ† Ų„Ų«ŲØŲ§ŲŖ ال؄مامة في هذه الحالة بالخارقة. ŁˆŁŠŲ±ŁˆŁ† بأن الزمان Ł„Ų§ŁŠŲ®Ł„Łˆ من Ų­Ų¬Ų© لله عقلاً وؓرعاً، ويترتب على Ų°Ł„Łƒ أن ال؄مام Ų§Ł„Ų«Ų§Ł†ŁŠ Ų¹Ų“Ų± قد ŲŗŲ§ŲØ في سردابه ŁƒŁ…Ų§ ŁŠŲ²Ų¹Ł…ŁˆŁ† ŁˆŲ£Ł† له غيبة صغرى وغيبة ŁƒŲØŲ±Ł‰، ŁˆŁ‡Ų°Ų§ من Ų£Ų³Ų§Ų·ŁŠŲ±Ł‡Ł…. ŁˆŁŠŲ¹ŲŖŁ‚ŲÆŁˆŁ† بأن حسن Ų§Ł„Ų¹Ų³ŁƒŲ±ŁŠ سيعود في Ų¢Ų®Ų± الزمان عندما ŁŠŲ£Ų°Ł† الله له ŲØŲ§Ł„Ų®Ų±ŁˆŲ¬، ŁˆŁŠŁ‚ŁˆŁ„ŁˆŁ† بأنه Ų­ŁŠŁ† Ų¹ŁˆŲÆŲŖŁ‡ Ų³ŁŠŁ…Ł„Ų£ الأرض عدلاً ŁƒŁ…Ų§ ملئت جوراً ŁˆŲøŁ„Ł…Ų§ً، ŁˆŲ³ŁŠŁ‚ŲŖŲµ من Ų®ŲµŁˆŁ… Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© على Ł…ŲÆŲ§Ų± Ų§Ł„ŲŖŲ§Ų±ŁŠŲ®.

ويضيف ŲÆ. Ł…Ų­Ł…ŲÆ Ų¹ŲØŲÆ المنعم Ų§Ł„ŲØŲ±ŁŠ أنه لا ŁŠŁ…ŁƒŁ† أن ŁŠŁ†Ų¬Ų­ أي ŲŖŁ‚Ų±ŁŠŲØ Ų„Ų°Ų§ Ų£ŲµŲ± Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© على Ų§Ł„Ų„ŁŠŁ…Ų§Ł† ŲØŁ…ŲØŲÆŲ£ Ų§Ł„ŲŖŁ‚ŁŠŲ© Ų§Ł„ŲŖŁŠ ŁŠŲ¹ŲÆŁˆŁ†Ł‡Ų§ أصلاً من Ų£ŲµŁˆŁ„ Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ†، ŁˆŁ…Ł† ŲŖŲ±ŁƒŁ‡Ų§ ŁƒŲ§Ł† بمنزلة ترك الصلاة، ŁˆŁ‡ŁŠ واجبة Ł„Ų§ŁŠŲ¬ŁˆŲ² رفعها حتى يخرج القائم، فمن ŲŖŲ±ŁƒŁ‡Ų§ قبل Ų®Ų±ŁˆŲ¬Ł‡ Ų®Ų±Ų¬ عن ŲÆŁŠŁ† الله تعالى ŁˆŲ¹Ł† ŲÆŁŠŁ† Ų§Ł„Ų„Ł…Ų§Ł…ŁŠŲ©. ŁƒŁ…Ų§ تقف المتعة Ų­Ų¬Ų± Ų¹Ų«Ų±Ų© أمام Ų§Ł„ŲŖŁ‚Ų±ŁŠŲØ Ų§Ł„Ł…Ų²Ų¹ŁˆŁ…، ŁŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© ŁŠŲ±ŁˆŁ† بأن Ł…ŲŖŲ¹Ų© النساؔ خير العادات ŁˆŲ£ŁŲ¶Ł„ القربات Ł…Ų³ŲŖŲÆŁ„ŁŠŁ† على Ų°Ł„Łƒ ŲØŁ‚ŁˆŁ„Ł‡ تعالى: ( فما Ų§Ų³ŲŖŁ…ŲŖŲ¹ŲŖŁ… به منهن ŁŲ¢ŲŖŁˆŁ‡Ł† Ų£Ų¬ŁˆŲ±Ł‡Ł† فريضة) ŁˆŁ‚ŲÆ Ų­Ų±ّŁ… ال؄سلام هذا Ų§Ł„Ų²ŁˆŲ§Ų¬ Ų§Ł„Ų°ŁŠ ŲŖŲ“ŲŖŲ±Ų· ŁŁŠŁ‡ Ł…ŲÆŲ© Ł…Ų­ŲÆŁˆŲÆŲ© ŁŁŠŁ…Ų§ Ų§Ų“ŲŖŲ±Ų· أهل السنة وجوب Ų§Ų³ŲŖŲ­Ų¶Ų§Ų± Ł†ŁŠŲ© Ų§Ł„ŲŖŲ£ŲØŁŠŲÆ، ŁˆŁ„Ų²ŁˆŲ§Ų¬ المتعة Ų¢Ų«Ų§Ų± Ų³Ł„ŲØŁŠŲ© كثيرة على المجتمع.

ŁˆŁ…Ł† Ų§Ł„Ų¹ŁˆŲ§Ų¦Ł‚ Ų§Ł„ŲŖŁŠ ŁŠŲ±Ų§Ł‡Ų§ ŲÆ. Ų§Ł„ŲØŲ±ŁŠ في Ų·Ų±ŁŠŁ‚ Ų§Ł„ŲŖŁ‚Ų±ŁŠŲØ ŲØŁŠŁ† السنة ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© Ł‡ŁŠ مسألة Ų³ŲØ الصحابة. فهم عندهم Ł…ŲØŲÆŲ£ البراؔة، حيث ŁŠŲŖŲØŲ±Ų£ŁˆŁ† من الخلفاؔ الثلاثة أبو بكر ŁˆŲ¹Ł…Ų± ŁˆŲ¹Ų«Ł…Ų§Ł† Ų±Ų¶ŁˆŲ§Ł† الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡Ł… Ų¬Ł…ŁŠŲ¹Ų§ً ŁˆŁŠŁ†Ų¹ŲŖŁˆŁ‡Ł… بأقبح الصفات لأنهم - ŁƒŁ…Ų§ ŁŠŲ²Ų¹Ł…ŁˆŁ†- اغتصبوا الخلافة ŲÆŁˆŁ† Ų¹Ł„ŁŠ Ų§Ł„Ų°ŁŠ Ł‡Łˆ Ų£Ų­Ł‚ منهم بها، ŁƒŁ…Ų§ ŁŠŲØŲÆŲ£ŁˆŁ† بلعن أبوبكر ŁˆŲ¹Ł…Ų±- رضي الله عنهم ŁˆŲ£Ų±Ų¶Ų§Ł‡Ł… - ŲØŲÆŁ„ Ų§Ł„ŲŖŲ³Ł…ŁŠŲ© في ŁƒŁ„ أمر ذي ŲØŲ§Ł„، ŁˆŁ‡Ł… ŁŠŁ†Ų§Ł„ŁˆŁ† ŁƒŲ°Ł„Łƒ من كثير من الصحابة باللعن، ŁˆŁ„Ų§ ŁŠŲŖŁˆŲ±Ų¹ŁˆŁ† عن Ł†ŁŠŁ„ أم Ų§Ł„Ł…Ų¤Ł…Ł†ŁŠŁ† Ų¹Ų§Ų¦Ų“Ų© رضي الله عنها بالطعن ŁˆŲ§Ł„Ł„Ų¹Ł† .

؄ن الله سبحانه ŁˆŲŖŲ¹Ų§Ł„Ł‰ ŁˆŲ±Ų³ŁˆŁ„Ł‡ صلى الله Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ ŁˆŲ³Ł„Ł… ŲØŁŠŁ†Ų§ Ł…ŁƒŲ§Ł†Ų© الصحابة Ų§Ł„Ų°ŁŠŁ† Ł†Ų“Ų±ŁˆŲ§ Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ† ŁˆŲ­Ł…Ł„ŁˆŲ§ Ł„ŁˆŲ§Ų” ال؄سلام ! ؄لا أن Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© ŲŖŁ‚ŁˆŁ„ في حقهم : (؄ن الناس ŁƒŁ„Ł‡Ł… ارتدوا ŲØŲ¹ŲÆ Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله غير Ų£Ų±ŲØŲ¹Ų©). وتكفير ŁˆŁ„Ų¹Ł† Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© لأم Ų§Ł„Ł…Ų¤Ł…Ł†ŁŠŁ† Ų¹Ų§Ų¦Ų“Ų© قائم!! ŁŠŁ‚ŁˆŁ„ Ų§Ł„Ł…Ų¬Ł„Ų³ŁŠ: (؄ننا نتبرأ من الأصنام الأربعة أبو بكر ŁˆŲ¹Ł…Ų± وعائؓة وحفصة .. ŁˆŲ£Ł†Ł‡Ł… Ų“Ų± خلق الله على ŁˆŲ¬Ł‡ الأرض ŁˆŲ£Ł†Ł‡ لا ŁŠŲŖŁ… Ų§Ł„Ų„ŁŠŁ…Ų§Ł† بالله ؄لا ŲØŲ¹ŲÆ التبرؤ منهم ).

ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© ترى من Ų§Ł„ŁƒŁŠŲÆ لل؄سلام أن يأخذوا ŲŖŁŲ³ŁŠŲ±Ł‡Ł… للقرآن عن أمثال أبي Ł‡Ų±ŁŠŲ±Ų© ŁˆŲ³Ł…Ų±Ų© بن جندب ŁˆŲ£Ł†Ų³ بن Ł…Ų§Ł„Łƒ ŁˆŲŗŁŠŲ±Ł‡Ł… ممن Ų£ŲŖŁ‚Ł†ŁˆŲ§ صناعة Ų§Ł„ŲŖŁ„ŁŁŠŁ‚ ŁˆŲ§Ł„ŲÆŲ³ ŁˆŲ§Ł„ŁƒŲ°ŲØ ŁˆŲ§Ł„Ų„ŁŲŖŲ±Ų§Ų” Ų­Ų§Ų“Ų§ لله. ŁˆŁŠŁ‚ŁˆŁ„ علماؤهم ؄ن تجويز Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© لعن Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ®ŁŠŁ† أبي بكر ŁˆŲ¹Ł…Ų± ŁˆŲ£ŲŖŲØŲ§Ų¹Ł‡Ł…Ų§ ف؄نما ŁŲ¹Ł„ŁˆŲ§ Ų°Ł„Łƒ أسوة Ł„Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله ŁˆŲ§Ł‚ŲŖŁŲ§Ų” لأثره !! ف؄نهم ŁˆŁ„Ų§Ų“Łƒ قد أصبحوا Ł…Ų·Ų±ŁˆŲÆŁŠŁ† من Ų­Ų¶Ų±Ų© Ų§Ł„Ł†ŲØŁŠ ŁˆŁ…Ł„Ų¹ŁˆŁ†ŁŠŁ† من الله.


Ł…ŁˆŁ‚Ł Ų„ŁŠŲ±Ų§Ł† من السنة ŁŠŁŲ¶Ų­Ł‡:

** ŁŠŁ‚ŁˆŁ„ ŲÆ. Ł…Ų­Ł…ŲÆ Ų¹ŲØŲÆ السلام Ł†ŁˆŁŠŲ± الأستاذ ŲØŲ¬Ų§Ł…Ų¹Ų© الأزهر: أهل السنة ŁŠŲ“ŁƒŁ„ŁˆŁ† Ł…Ų§ يزيد على Ų¹Ų“Ų±ŁŠŁ† في المائة من Ų³ŁƒŲ§Ł† Ų„ŁŠŲ±Ų§Ł† Ų­Ų³ŲØ ŲŖŁ‚ŲÆŁŠŲ±Ų§ŲŖ غير Ų±Ų³Ł…ŁŠŲ©، ŲØŁŠŁ†Ł…Ų§ ŲŖŁ‚ŁˆŁ„ السلطات Ų§Ł„Ų±Ų³Ł…ŁŠŲ© ؄نهم لا ŁŠŲ“ŁƒŁ„ŁˆŁ† أكثر من ŲŖŲ³Ų¹Ų© في المائة من Ų§Ł„Ų³ŁƒŲ§Ł† البالغ عددهم 65 Ł…Ł„ŁŠŁˆŁ† نسمة. ŁˆŁ‡Ł… Ł…Ų¹ هذه النسبة Ł…Ł…Ł†ŁˆŲ¹ŁˆŁ† من ŲŖŁˆŁ„ŁŠ Ų§Ł„ŁˆŲøŲ§Ų¦Ł Ų§Ł„Ł‚ŁŠŲ§ŲÆŁŠŲ© ŁˆŲ§Ł„Ł…Ų³Ų¤ŁˆŁ„ŁŠŲ§ŲŖ Ų§Ł„ŁƒŲØŲ±Ł‰ ŁƒŲ§Ł„ŁˆŲ²Ų§Ų±Ų© ŁˆŁ†ŁŠŲ§ŲØŲ© Ų§Ł„ŁˆŲ²Ų±Ų§Ų” ŁˆŲ§Ł„Ų³ŁŲ§Ų±Ų© فضلا عن Ł‚ŁŠŲ§ŲÆŲ© Ų§Ł„Ł‚ŁˆŲ§ŲŖ المسلحة ŁˆŲ§Ł„Ł…Ų³Ų¤ŁˆŁ„ŁŠŲ§ŲŖ Ų§Ł„Ų±Ų¦ŁŠŲ³ŁŠŲ© في القضاؔ، حيث لا يوجد Ų³Ł†ŁŠ واحد في مجلس Ų§Ł„ŁˆŲ²Ų±Ų§Ų” ŁˆŲ§Ł„Ł…Ł†Ų§ŲµŲØ Ų§Ł„Ų±Ų¦ŁŠŲ³ŁŠŲ© في Ų§Ł„ŁˆŲ²Ų§Ų±Ų§ŲŖ ŁˆŲ§Ł„Ł…Ų¤Ų³Ų³Ų§ŲŖ Ų§Ł„ŁƒŲØŲ±Ł‰، ŁƒŁ…Ų§ أن Ų§Ł„Ł…Ų­Ų§ŁŲøŁŠŁ† ورؤساؔ Ų§Ł„ŲÆŁˆŲ§Ų¦Ų± Ų§Ł„Ų±Ų³Ł…ŁŠŲ© في المدن ŁˆŲ§Ł„Ł…Ų­Ų§ŁŲøŲ§ŲŖ Ų§Ł„ŲŖŁŠ ŁŠŲ“ŁƒŁ„ أهل السنة Ų§Ł„Ų£ŲŗŁ„ŲØŁŠŲ© المطلقة ŁŁŠŁ‡Ų§، هم Ų¬Ł…ŁŠŲ¹Ų§ من Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų©.

؄ن Ų§Ł„Ų­ŁƒŁˆŁ…Ų© Ų§Ł„Ų„ŁŠŲ±Ų§Ł†ŁŠŲ© ترفض Ų§Ł„Ł…ŁˆŲ§ŁŁ‚Ų© على ؄نؓاؔ Ł…Ų³Ų¬ŲÆ لأهل السنة في طهران Ų±ŲŗŁ… انتماؔ Ł…Ų§ يزيد على نصف Ł…Ł„ŁŠŁˆŁ† من Ų³ŁƒŲ§Ł† العاصمة ؄لى المذهب Ų§Ł„Ų³Ł†ŁŠ ŲØŁŠŁ†Ł…Ų§ Ł‡Ł†Ų§Łƒ Ł…Ų¹Ų§ŲØŲÆ ŁˆŁƒŁ†Ų§Ų¦Ų³ Ł„Ł„Ų£Ł‚Ł„ŁŠŲ§ŲŖ Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ†ŁŠŲ© Ł…Ų«Ł„ Ų§Ł„Ų²Ų±Ų§ŲÆŲ“ŲŖŁŠŁŠŁ† ŁˆŲ§Ł„ŁŠŁ‡ŁˆŲÆ ŁˆŲ§Ł„Ł†ŲµŲ§Ų±Ł‰ في العاصمة.

ŁˆŁ…Ł†Ų° بداية Ų§Ł„Ų«ŁˆŲ±Ų© ŁˆŲ­ŲŖŁ‰ Ų§Ł„ŁŠŁˆŁ… ŲŖŁ…Ų§Ų±Ų³ Ų§Ł„Ų­ŁƒŁˆŁ…Ų© Ų§Ł„Ų„ŁŠŲ±Ų§Ł†ŁŠŲ© Ų£ŲØŲ“Ų¹ Ų£Ł†ŁˆŲ§Ų¹ الظلم ŁˆŲ§Ł„ŲŖŁ…ŁŠŁŠŲ² Ų¶ŲÆ علماؔ ودعاة وؓباب ŁˆŁ…Ų«Ł‚ŁŁŠ ŁˆŲ£ŲØŁ†Ų§Ų” أهل السنة ŁˆŁ…Ł† ŲØŁŠŁ†Ł‡Ų§: أن Ų§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© Ų£Ų­Ų±Ų§Ų± في نؓر عقائدهم ŁˆŁ…Ł…Ų§Ų±Ų³Ų© Ų·Ł‚ŁˆŲ³Ł‡Ł… وتأسيس الأحزاب ŁˆŲ§Ł„Ł…Ł†ŲøŁ…Ų§ŲŖ في Ų­ŁŠŁ† أنه Ł„ŁŠŲ³ لأهل السنة Ų“Ų¦ من هذه Ų§Ł„Ų­Ł‚ŁˆŁ‚ ŲØŁ„ هم ŁŠŲøŁ„Ł…ŁˆŁ† ŁˆŁŠŲ·Ų±ŲÆŁˆŁ† ŁˆŁŠŲ³Ų¬Ł†ŁˆŁ† ŁˆŁŠŁ‚ŲŖŁ„ŁˆŁ†.

ŁˆŁŠŁ…Ł†Ų¹ أئمة ŁˆŲ¹Ł„Ł…Ų§Ų” أهل السنة من ؄لقاؔ Ų§Ł„ŲÆŲ±ŁˆŲ³ في المدارس ŁˆŲ§Ł„Ł…Ų³Ų§Ų¬ŲÆ ŁˆŲ§Ł„Ų¬Ų§Ł…Ų¹Ų§ŲŖ ŁˆŁ„Ų§ Ų³ŁŠŁ…Ų§ ؄لقاؔ Ų§Ł„ŲÆŲ±ŁˆŲ³ Ų§Ł„Ų¹Ł‚Ų§Ų¦ŲÆŁŠŲ©، ŲØŁŠŁ†Ł…Ų§ لأئمتهم ŁˆŲÆŲ¹Ų§ŲŖŁ‡Ł… Ų§Ł„Ų­Ų±ŁŠŲ© المطلقة في ŲØŁŠŲ§Ł† مذهبهم ŲØŁ„ Ų§Ł„ŲŖŲ¹ŲÆŁŠ على Ų¹Ł‚ŁŠŲÆŲ© أهل السنة. ŁƒŁ…Ų§ توضع Ł…Ų±Ų§ŁƒŲ² ŁˆŁ…Ų³Ų§Ų¬ŲÆ أهل السنة ŲŖŲ­ŲŖ المراقبة الدائمة، ويتجسس Ų±Ų¬Ų§Ł„ الأمن وأفراد الاستخبارات على Ų¬ŁˆŲ§Ł…Ų¹ أهل السنة لا Ų³ŁŠŁ…Ų§ Ų£ŁŠŲ§Ł… الجمعة ŁˆŁ…Ų±Ų§Ł‚ŲØŲ© الخطب ŁˆŲ§Ł„Ų£Ų“Ų®Ų§Ųµ Ų§Ł„Ų°ŁŠŁ† ŁŠŲŖŲ¬Ł…Ų¹ŁˆŁ† في المساجد.

ويضيف ŲÆ. Ł…Ų­Ł…ŲÆ Ų¹ŲØŲÆ السلام Ł†ŁˆŁŠŲ±: ؄ن Ų¬Ł…ŁŠŲ¹ ŁˆŲ³Ų§Ų¦Ł„ ال؄علام ŁˆŲ§Ł„Ł†Ų“Ų± ŁƒŲ§Ł„Ų„Ų°Ų§Ų¹Ų© ŁˆŲ§Ł„ŲŖŁ„ŁŲ²ŁŠŁˆŁ† ŁˆŲ§Ł„ŁƒŲŖŲØ ŁˆŲ§Ł„Ų¬Ų±Ų§Ų¦ŲÆ ŁˆŲ§Ł„Ł…Ų¬Ł„Ų§ŲŖ ؓيعية المذهب ŁˆŁ„Ų§ ŁŠŁ…Ł„Łƒ أهل السنة أيا من ŲŖŁ„Łƒ Ų§Ł„ŁˆŲ³Ų§Ų¦Ł„ ŲØŁ„ تستعمل هذه Ų§Ł„ŁˆŲ³Ų§Ų¦Ł„ لضربهم ŁˆŲ„Ų¶Ų¹Ų§ŁŁ‡Ł…. ŁˆŲØŲ§Ł„Ų„Ų¶Ų§ŁŲ© Ł„Ų°Ł„Łƒ ŁŠŲŖŁ… هدم ŁˆŲ„ŲŗŁ„Ų§Ł‚ المساجد ŁˆŲ§Ł„Ł…ŲÆŲ§Ų±Ų³ ŁˆŲ§Ł„Ł…Ų±Ų§ŁƒŲ² Ų§Ł„ŲÆŁŠŁ†ŁŠŲ© لأهل السنة. ŁˆŁ‚ŲÆ تورط النظام Ų§Ł„Ų„ŁŠŲ±Ų§Ł†ŁŠ في اعتقال ŁˆŲ³Ų¬Ł† Ų¹ŲÆŲÆ كبير من Ų§Ł„Ų“ŁŠŁˆŲ® ŁˆŲ§Ł„Ų¹Ł„Ł…Ų§Ų” Ų§Ł„ŲØŲ§Ų±Ų²ŁŠŁ† ŁˆŲ·Ł„ŲØŲ© العلم ŁˆŲ§Ł„Ų“ŲØŲ§ŲØ Ų§Ł„Ł…Ł„ŲŖŲ²Ł…ŁŠŁ† ŲÆŁˆŁ† Ų£Ł†ŁŠ ذنب أو ارتكاب أية Ų¬Ų±ŁŠŁ…Ų© فقط لأنهم Ł…ŲŖŁ…Ų³ŁƒŁˆŁ† ŲØŲ¹Ł‚ŁŠŲÆŲŖŁ‡Ł… Ų§Ł„Ų„Ų³Ł„Ų§Ł…ŁŠŲ© ŁˆŁŠŲÆŲ§ŁŲ¹ŁˆŁ† عن الحق ŁˆŁŠŲ·Ų§Ł„ŲØŁˆŁ† ŲØŲ­Ł‚ŁˆŁ‚Ł‡Ł… Ų§Ł„Ų“Ų±Ų¹ŁŠŲ©، ŁƒŁ…Ų§ تورط أيضاً في Ų§ŲŗŲŖŁŠŲ§Ł„ أو اختطاف Ų«Ł… Ų„Ų¹ŲÆŲ§Ł… العؓرات من العلماؔ ŁˆŲ§Ł„ŲÆŲ¹Ų§Ų© Ų§Ł„ŲØŲ§Ų±Ų²ŁŠŁ† ŁˆŲ§Ł„Ł…Ų¦Ų§ŲŖ ŲØŁ„ الآلاف من Ų§Ł„Ł…Ų«Ł‚ŁŁŠŁ† ŁˆŲ·Ł„ŲØŲ© العلم ŁˆŲ§Ł„Ų“ŲØŲ§ŲØ Ų§Ł„Ł…Ł„ŲŖŲ²Ł…ŁŠŁ† من أهل السنة.

ŁˆŁ‡ŁƒŲ°Ų§ نرى أن Ł…ŁˆŁ‚Ł علماؔ الأزهر Ų§Ł„Ų“Ų±ŁŠŁ من Ų§Ł„ŲŖŁ‚Ų±ŁŠŲØ ŲØŁŠŁ† السنة ŁˆŲ§Ł„Ų“ŁŠŲ¹Ų© Ł„ŁŠŲ³ŁˆŲ§ ŁŁŠŁ‡ سواؔ ، ŁˆŁ‚ŲÆ نقلنا هنا نص Ł…Ų§ Ų°ŁƒŲ±ŁˆŁ‡ في المقابلات Ų§Ł„ŲŖŁŠ أجراها Ł…ŁˆŁ‚Ų¹ Ų§Ł„ŲØŁŠŁ†Ų© معهم ، نسأل الله أن ŁŠŲ±ŁŠŁ†Ų§ الحق حقا ŁˆŁŠŲ±Ų²Ł‚Ł†Ų§ اتباعه ŁˆŁŠŲ±ŁŠŁ†Ų§ الباطل باطلا ŁˆŁŠŲ±Ų²Ł‚Ł†Ų§ اجتنابه ŁˆŁƒŲ“ŁŁ‡ ŁˆŲØŁŠŲ§Ł†Ł‡.

Banyak ulama Salafi-Wahabi yang menganggap Syiah sudah kafir, bukan lagi bagian dari Islam. Tapi ulama-ulama Al-Azhar tidak mengkafirkan Syiah; paling maksimal mereka menyatakan Syiah telah berbuat bid’ah dalam akidah, tentu saja dengan perspektif kredo Sunni (a.l. karena akidah kemaksuman Imam, raj’ah, ghaibah, bada’, dll.), tapi Syiah tetaplah masih berada dalam koridor Islam.

Proyek “taqrib” itu pernah pula dikukuhkan dalam Deklarasi Amman pada 2005. Deklarasi itu menghimpun wakil-wakil tiap negara dari seluruh dunia Islam, tak terkecuali dari Irak dan Iran. Wakil dari Indonesia saat itu, antara lain, ialah KH Hasyim Muzadi (Ketua PBNU saat itu). Dan jelas ternyatakan dalam deklarasi itu bahwa mazhab Syiah diakui sah sebagai bagian dari Islam. [Sila search di google tentang Deklarasi Amman, atau kunjungi websitenya di ammanmessage.com]


Deklarasi itu ditindaklanjuti lagi, untuk menyikapi konflik sektarian di Irak, dengan Dekrasi Mekkah pada 2006, dan Deklarasi Bogor, Indonesia, pada 2007.


[ 2 ]
Sebenarnya dalam batasan yang bagaimana seseorang bisa divonis kafir?

Saya akan mengambil pandangan ulama ortodoks: Imam Abu Hamid al-Ghazali dengan karyanya Fayshal at-Tafriqah. Tiada yang meragukan otoritas Al-Ghazali, kecuali segelintir saja dari kalangan Salafi. Al-Ghazali adalah ulama ortodoks Sunni-Asy’ari-Syafi’i; menjadi rujukan ajaran tasawuf Nahdlatul Ulama (NU), di samping Junaid al-Baghdadi.

Saya pernah mengulas tentang Fayshal at-Tafriqah itu di bagian lain di blog ini (rujuk ke tulisan ini: Mengkafirkan itu Tidak Mudah/Jangan mudah mengkafirkan sesama muslim). Saya ulas sedikit di sini beberapa poin penting darinya.


Jangan Mudah Mengkafirkan Sesama Muslim

Saat ini mudah sekali sebagian pihak memberi label kafir kepada mereka yang tidak sependapat, beda penafsiran dan juga beda pilihan politik. Ini seperti pengulangan sejarah kelam umat Islam yang gara-gara persoalan kepemimpinan selepas terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan kemudian terjadi perang antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah. Keduanya adalah sahabat Nabi yang harus kita hormati, namun gara-gara perbedaan politik ada sebagian pihak yang mengkafirkan salah satu atau keduanya. Muncul pula sejumlah hadits palsu hanya sekedar untuk mencaci atau mendukung salah satunya. Ayat suci direduksi menjadi alat politik.

Sepanjang sejarah kita saksikan betapa mudahnya sebagian pihak mengkafirkan muslim lainnya. Seolah mereka tidak takut dengan ancaman dari penggalan Hadits Nabi ini:

 ‎وَŁ…َنْ ŲÆَŲ¹َŲ§ Ų±َŲ¬ُŁ„ًŲ§ ŲØِŲ§Ł„ْكُفْŲ±ِ Ų£َوْ Ł‚َŲ§Ł„َ Ų¹َŲÆُوَّ اللَّهِ وَŁ„َيْŲ³َ كَŲ°َŁ„ِكَ Ų„ِŁ„َّŲ§ Ų­َŲ§Ų±َ Ų¹َŁ„َيْهِ

“Barang siapa memanggil dengan sebutan kafir atau musuh Allah padahal yang bersangkutan tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh” (HR Bukhari-Muslim)

Berdasarkan prinsip kehati-hatian yang terkandung dalam Hadits di atas, maka para ulama berhati-hati untuk menjatuhkan vonis kafir kepada sesama Muslim.

Qadhi Iyad yang bermazhab Maliki menulis kitab yang sangat terkenal, yaitu al-Syifa bi ta’rif huquq al-Musthafa. Beliau menukil pendapat para ulama:

 ‎ŁˆŁ†Ł‚Ł„ Ų§Ł„Ł‚Ų§Ų¶ŁŠ عياض رحمه الله عن العلماؔ Ų§Ł„Ł…Ų­Ł‚Ł‚ŁŠŁ† Ł‚ŁˆŁ„Ł‡Ł…: ‎يجب الاحتراز من Ų§Ł„ŲŖŁƒŁŁŠŲ± في أهل Ų§Ł„ŲŖŲ£ŁˆŁŠŁ„ ف؄ن Ų§Ų³ŲŖŲØŲ§Ų­Ų© ŲÆŁ…Ų§Ų” Ų§Ł„Ł…ŲµŁ„ŁŠŁ† Ų§Ł„Ł…ŁˆŲ­ŲÆŁŠŁ† Ų®Ų·Ų±، ŁˆŲ§Ł„Ų®Ų·Ų£ في ترك ألف كافر Ų£Ł‡ŁˆŁ† من الخطأ في سفك محجمة من ŲÆŁ… مسلم واحد.

“Wajib menahan diri dari mengkafirkan para ahli ta’wil karena sungguh menghalalkan darah orang yang shalat dan bertauhid itu sebuah kekeliruan. Kesalahan dalam membiarkan seribu orang kafir itu lebih ringan dari pada kesalahan dalam membunuh satu nyawa muslim.”

Kitab al-Syifa di atas diberi syarh (penjelasan) salah satunya oleh al-Mulla Ali al-Qari al-Harawi yang bermazhab Hanafi. Beliau memberi penjelasan sebagai berikut:

قال علماؤنا Ų„Ų°Ų§ وجد ŲŖŲ³Ų¹Ų© ŁˆŲŖŲ³Ų¹ŁˆŁ† ŁˆŲ¬Ł‡Ų§ تؓير ؄لى تكفير مسلم ŁˆŁˆŲ¬Ł‡ واحد ؄لى ابقائه على ؄سلامه ŁŁŠŁ†ŲØŲŗŁŠ Ł„Ł„Ł…ŁŲŖŁŠ ŁˆŲ§Ł„Ł‚Ų§Ų¶ŁŠ أن ŁŠŲ¹Ł…Ł„Ų§ ŲØŲ°Ł„Łƒ Ų§Ł„ŁˆŲ¬Ł‡ ŁˆŁ‡Łˆ مستفاد من Ł‚ŁˆŁ„Ł‡ Ų¹Ł„ŁŠŁ‡ السلام ادرؤوا Ų§Ł„Ų­ŲÆŁˆŲÆ عن Ų§Ł„Ł…Ų³Ł„Ł…ŁŠŁ† Ł…Ų§ Ų§Ų³ŲŖŲ·Ų¹ŲŖŁ… ف؄ن ŁˆŲ¬ŲÆŲŖŁ… للمسلم Ł…Ų®Ų±Ų¬Ų§ ŁŲ®Ł„ŁˆŲ§ Ų³ŲØŁŠŁ„Ł‡ ف؄ن ال؄مام لأن يخطئ في Ų§Ł„Ų¹ŁŁˆ خير له من أن يخطئ في Ų§Ł„Ų¹Ł‚ŁˆŲØŲ© Ų±ŁˆŲ§Ł‡ Ų§Ł„ŲŖŲ±Ł…Ų°ŁŠ ŁˆŲŗŁŠŲ±Ł‡ ŁˆŲ§Ł„Ų­Ų§ŁƒŁ… ŁˆŲµŲ­Ų­Ł‡

“Berkata para ulama kita jika terdapat 99 hal yg menguatkan kekafiran seorang Muslim, tetapi masih ada satu alasan yang menetapkan keislamannya maka sebaiknya Mufti dan Hakim beramal dengan satu alasan tersebut, dan ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW: ‘Hindarkanlah hukuman-hukuman pidana dari kaum muslimin semampu kalian, jika kalian mendapatkan jalan keluar bagi seorang muslim, maka pilihlah jalan itu. Karena sesungguhnya seorang pemimpin yang salah dalam memberi maaf itu lebih baik dari pada pemimpin yang salah dalam menghukum,’ sebagaimana diriwayatkan Imam Turmudzi dan lainnya dan Imam al-Hakim yang mensahihkannya.”

Dari penjelasan di atas terlihat jelas kehati-hatian para ulama. Meskipun ada sekian banyak bukti yang mengarah pada kekafiran saudara kita, namun jikalau masih terlihat satu saja alasan untuk menetapkan keislamannya, para ulama memilih satu alasan tersebut dan menahan diri untuk mengkafirkan orang tersebut. Lebih baik kita keliru menyatakan dia tetap Islam ketimbang kita keliru mengatakan dia kafir. Lebih baik kita keliru memaafkan dia ketimbang kita keliru menghukum orang yang tak bersalah.

Dalam masalah pidana yang tidak punya konsekuensi mengeluarkan orang dari keimanannya saja perlu kita carikan alasan agar pelakunya terbebas dari hukuman, apalagi mengkafirkan orang yang jika salah memvonisnya, maka konsekuensi di dunia sangatlah berat seperti dibunuh jika tidak mau taubat, hilangnya hak waris, fasakh pernikahannya, apalagi konsekuensi di akherat.

Ucapan senada juga sudah disampaikan oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali yang bermazhab Syafi’i dalam kitab al-Iqtishad fil i’tiqad

ŁˆŁ‚Ų§Ł„ أبو Ų­Ų§Ł…ŲÆ Ų§Ł„ŲŗŲ²Ų§Ł„ŁŠ : ‎”ŁˆŲ§Ł„Ų°ŁŠ ŁŠŁ†ŲØŲŗŁŠ الاحتراز منه :”Ų§Ł„ŲŖŁƒŁŁŠŲ±” Ł…Ų§ وجد Ų„Ł„ŁŠŁ‡ Ų³ŲØŁŠŁ„Ų§، ف؄ن Ų§Ų³ŲŖŲØŲ§Ų­Ų© الدماؔ ŁˆŲ§Ł„Ų£Ł…ŁˆŲ§Ł„ من Ų§Ł„Ł…ŲµŁ„ŁŠŁ† ؄لى القبلة، Ų§Ł„Ł…ŲµŲ±Ų­ŁŠŁ† ŲØŁ‚ŁˆŁ„ لا ؄له ؄لا الله Ł…Ų­Ł…ŲÆ Ų±Ų³ŁˆŁ„ الله Ų®Ų·Ų£ٌ، ŁˆŲ§Ł„Ų®Ų·Ų£ في ترك ألفِ كافر في Ų§Ł„Ų­ŁŠŲ§Ų© Ų£Ł‡ŁˆŁ† من الخطأ في سفك ŲÆŁ…ٍ لمسلم”

“Agar menjaga diri dari mengkafirkan orang lain sepanjang menemukan jalan untuk itu. Sesungguhnya menghalalkan darah dan harta muslim yang shalat menghadap qiblat, yang secara jelas mengucapkan dua kalimat syahadat, itu merupakan kekeliruan. Padahal kesalahan dalam membiarkan hidup seribu orang kafir itu lebih ringan dari pada kesalahan dalam membunuh satu nyawa muslim”.

Rasulullah SAW juga bersabda: “tiga perkara yang merupakan dasar keimanan: menahan diri dari orang yang mengucapkan La Ilaha illallah, tidak mengkafirkannya karena suatu dosa, dan tidak mengeluarkannya dari keislaman karena sebuah amalan…” (HR Abu Dawud, nomor 2170)

Dibalik ucapan mengkafirkan orang lain itu sebenarnya tersembunyi perasaan bahwa saya lebih baik dari dia; saya lebih islami, lebih suci, dan lebih benar serta akan masuk surga ketimbang dia. Persoalannya darimana kita tahu bahwa amalan ibadah kita “yang banyak sekali itu” pasti diterima Allah dan dosa mereka “yang begitu banyak itu” tidak akan Allah ampuni?

Saya tidak tahu nasib saya kelak, bagaimana saya bisa begitu yakin dengan nasib orang lain. Anda pun juga demikian. Ini merupakan hak prerogatif Allah. Jangan sampai kita justru jatuh pada kesyirikan karena merasa dan bertindak seperti Allah yang menentukan keimanan orang lain. Semoga Allah mengampuni kita semua.

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia – New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School


Sudah menjadi kesepakatan ulama Asy’ariyah (mazhab akidah yang diikuti mayoritas umat Islam): tidak boleh mengkafirkan ahlul-qiblah. Tidak boleh mengkafirkan orang yang memegangi kalimat syahadat (tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan-Nya). Diterangkan pula oleh Al-Ghazali, tidak boleh mengkafirkan mazhab yang tidak melanggar hal pokok (ushul) dalam agama yang mutawatir (teriwayat oleh banyak orang dan mustahil ada persekongkolan untuk berdusta).

Terhadap hal yang mutawatir inipun Al-Ghazali masih merinci, sebab bisa jadi yang mutawatir bagi Ahlus Sunnah, belum tentu mutawatir bagi Syiah. Karena itu, kata Al-Ghazali, perbedaan dalam kemutawatiran suatu statemen akidah, tak bisa dijadikan dasar untuk mengkafirkan.

Contoh dari hal yang layak untuk dikafirkan, menurut Al-Ghazali, misalnya kalau ada orang menyatakan bahwa kiblat yang menjadi arah salat bukanlah di Mekkah, sebab hal ini disepakati mutawatir lintas sekte. Misal lainnya, bila seseorang menyatakan bahwa Sayyidah ‘Aisyah telah berzina, padahal mutawatir dan termaktub di Al-Quran, belasan ayat yang membebaskan ‘Aisyah dari tuduhan zina.

Al-Ghazali pernah menulis satu kitab yang membantah akidah salah satu sekte Syiah. Judulnya: “Fadha’ih al-Bathiniyyah”. Buku ini ditulisnya untuk membantah klaim-klaim akidah Syiah-Ismailiyah (bukan Syiah-Imamiyah; yang mayoritas dalam Syiah sekarang). “Bathiniyah” waktu itu menjadi nama yang lazim tersemat ke Syiah-Ismailiyah (7 Imam), dan masuk kategori Syiah-ekstrem. Bahkan dalam menanggapi Bathiniyah pun Al-Ghazali masih memilah-milah, dan tampak sangat berhati-hati.

Al-Ghazali menerangkan bahwa meski Syiah mencaci Sahabat, dan itu dosa, ia tak menyatakan si pencaci itu kafir. Kata Al-Ghazali, “Kalau keliru dalam menisbatkan sifat pada Allah, sebagaimana terjadi dalam perdebatan antara Shifatiyyah dan Mu’atthilah, tidak dihukumi kafir, maka keliru dalam menisbatkan sifat kepada manusia lebih ringan hukumnya.”

Al-Ghazali amat mewanti-wanti agar umat Islam tidak tergesa-gesa menjatuhkan vonis kafir. Sebab vonis kafir itu berbahaya. Menurut fikih konservatif, vonis kafir bisa berujung pada status halal darahnya (ibâhah ad-dam). Konsekuensi takfir ialah pencabutan nyawa. Maka terang Al-Ghazali berkata: Kesalahan dalam membiarkan seratus kafir hidup, masih lebih ringan daripada kesahalan dalam menumpahkan darah seorang muslim. Kata al-Ghazali pula, kesalahan memasukkan orang ke dalam Islam, lebih ringan daripada kesalahan mengeluarkannya dari Islam.

Karena itu, sudah menjadi ajaran Ahlus Sunnah, untuk tak boleh tergesa-gesa mengkafirkan Syiah. Pengkafiran yang tergesa-gesa, apalagi menggeneralisasi semua Syiah apapun cabangnya adalah kafir, adalah bentuk kezaliman terhadap ajaran Ahlus Sunnah sendiri.


[ 3 ]
Tak sedikit perawi-perawi Syiah yang diambil hadisnya oleh Shahih Bukhari dan Muslim. Ini jelas menjadi fakta yang sulit dibantah: Kalau mereka bukan muslim, tentunya Al-Bukhari dan Muslim tak akan mengambil hadisnya.

Namun, ada sebagian pandangan menyatakan keberatan. Katanya, perawi-perawi di dua kitab hadis tersahih Ahlus Sunnah itu memang Syiah, namun Syiah dulu dengan sekarang berbeda. Syiah yang diambil hadisnya oleh Bukhari-Muslim hanya yang berpandangan bahwa Ali lebih unggul (afdhal) di atas Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Namun klaim ini tidak sepenuhnya tepat. Sebab jika ada kelompok Islam yang mengunggulkan Ali di atas ketiga khalifah sebelumnya, tidak lantas menjadikannya Syiah. Sejarah Islam mencatat, dulu ada Mu’tazilah-Bashrah yang mengunggulkan Ali, tapi mereka memusuhi Syiah. Mu’tazilah-Bashrah ini berbeda pandangan dengan Mu’tazilah Baghdad.

Lepas dari hal itu, para perawi Syiah yang diambil hadisnya oleh al-Bukhari dan Muslim bukan sekedar Syiah saja. Ambil contoh sebagian dari perawi yang Syiah itu. Misalnya, Ubaydullah ibn Musa al-‘Absi. Kata Ibn Mandah, Ubaydullah ini seorang Syiah-Rafidhah, dan ia tidak mengizinkan orang bernama Mu’awiyah masuk ke rumahnya. Yang lain, misalnya Abbad ibn Ya’qub ar-Rawajini. Ia dinyatakan oleh Ibn Hajar sebagai Rafidhah juga.

Itu sekedar contoh, dan masih banyak yang lainnya. Misalnya, Abdul Malik ibn Ayan al-Kufi, Awf ibn Abi Jamilah al-A’rabi, Abdur Razaq as-Shan’ani, dll. Sebagian menyatakan, jumlah perawi Syiah yang terambil riwayat hadisnya di kitab hadis yang enam (al-kutub as-sittah) ada puluhan orang. Mereka bukan sekedar Syiah belaka, tapi juga Rafidhah (menolak kepemimpinan ketiga khalifah sebelum ‘Ali ibn Abi Thalib).

Data ini tegas menunjukkan, meski ke-Rafidhah-an dinyatakan oleh Ahlus Sunnah sebagai bid’ah, tapi mereka tetaplah bagian dari Islam. Jika mereka dikeluarkan dari Islam, entah ada berapa hadis Sunni yang akan hilang. Artinya, pengkafiran Syiah meniscayakan kerugian besar bagi rujukan hadis milik Ahlus Sunnah.


[ 4 ]
Tidak semua sekte Syiah itu sesat; sebagaimana tidak semua sekte di Ahlus Sunnah itu lurus seratus persen. Karena itu, kita mesti menghindari generalisasi. Sebab, penisbatan pandangan pada bukan orang yang menyatakannya adalah kezaliman.

Maka dari itu, tidak boleh menisbatkan pandangan sekte Syiah A, ke sekte Syiah B; tidak boleh menisbatkan pandangan Syiah-minoritas sebagai tolok ukur yang mewakili Syiah keseluruhan; tidak boleh menjadikan pandangan orang biasa, yang bukan ulamanya, sebagai representasi pandangan sekte itu.

Ini pun berlaku sama saat Syiah, misalnya, hendak menilai Ahlus Sunnah. Tidak bisa menjadikan pandangan Salafi-Wahabi misalnya, sebagai representasi Ahlus Sunnah. Di Indonesia, kita tak bisa menjadikan pandangan salah satu partai Islam, misalnya, sebagai representasi satu-satunya Ahlus Sunnah di Indonesia. Sekali lagi, generalisasi dalam menisbatkan pandangan adalah kezaliman.

Syiah itu sekte tertua yang lahir dari friksi umat Islam. Karena itu, perkembangan di dalamnya pasti terjadi. Kita tak bisa serta merta menyamakan bahwa Syiah saat ini adalah sama persis dengan Syiah masa lampau. Perubahan pandangan itu hal biasa. Bukan hanya di Syiah, di sisi Ahlus Sunnah pun begitu.

Pandangan Abu Hanifah dengan Hanafiyah bisa beda. Pandangan Al-Asy’ari dengan Asya’irah (pengikut Al-Asy’ari bisa beda). Bahkan pandangan As-Syafi’i di dalam dirinya sendiri antara saat beliau di Irak dengan di Mesir, bisa berbeda. Syiah pun demikian. Mainstream Syiah-Imamiyah terbagi jadi dua: Akhbari dan Ushuli (mirip Ahlul Hadits dan Ahlur Ra’yi dalam Ahlus Sunnah). Yang mayoritas di Syiah-Imamiyah adalah yang Ushuli.

Dalam hal menilai Syiah, saya memegangi statemen Syiah masa kini sesuai pernyataan buku “Buku Putih Mazhab Syiah: Menurut Para Ulamanya yang Muktabar” yang ditulis oleh tim Ahlul Bait Indonesia (ABI), terbitan 2012. Ini karena, penilaian yang adil adalah dengan mendasarkan pada klaim si “terdakwa”, bukan tuduhan musuhnya.

Ambil contoh tentang tuduhan bahwa menurut Syiah, Al-Quran yang ada sekarang ini telah mengalami distorsi (tahrif). Menurut pengakuan buku putih itu (halaman 34): “Jumhur ulama Syiah meyakini bahwa Al-Quran yang ada di tangan Muslim saat ini adalah satu-satunya Al-Quran.” Dikatakannya pula (masih di halaman 34): “Asal-muasal tuduhan tahrif terhadap Syiah diambil dari pandangan segelintir ulama Syiah dari kelompok Akhbari. Munculnya klaim tahrif itu diprakarsai kelompok Syiah-Akhbari, antara lain oleh Ni’matullah al-Jazairi dan Syaikh Nuri dengan kitabnya ‘Fashlul Khitab’.”

Di situ cukup terang, tuduhan dari sebagian kalangan Sunni tidak terkonfirmasi oleh pihak Syiah yang muktabar. Oleh karena itu, mari kita adil menilai. Dari dari bentuk keadilan menilai ialah kita tidak bisa serta merta menilai pandangan Syiah masa kini dengan hanya berdasar pada kitab induk hadis Syiah, seperti Al-Kafi karya Al-Kulaini—yang biasanya disetarakan dengan Shahih Bukhari bagi Ahlus Sunnah. Sebab, tidak semua di Al-Kafi adalah sahih (al-Kulaini sendiri tak menisbati kitabnya dengan, misalnya, Shahih al-Kafi), sebagaimana tidak semua yang di Shahih Bukhari adalah sahih (padahal judul kitab itu ternisbati kata “Shahih”). Yang studi hadis tentu tahu hal ini.

Intinya, silakan baca buku itu, dan anda akan mendapati hal yang berbeda dari propaganda negatif yang selama ini menyebar tentang Syiah, padahal itu klaim dari segolongan saja. Poin saya dalam argumentasi ini ialah: hindarilah generalisasi; sebab generalisasi adalah bentuk kezaliman.


[ 5 ]
Ada setidaknya tiga poin yang selama ini disepakati dalam berbagai muktamar taqrib Sunnah-Syiah. Yakni: (1) Al-Quran harus sama—ini sudah dijelaskan di atas; (2) Tidak boleh mencela figur-figur yang dihormati oleh kedua belah pihak; (3) tidak boleh ada Syiahisasi di negeri-negeri Sunni; begitu pula sebaliknya.

Mencela figur-figur terhormat, baik dari Syiah yang mencela Sahabat, atau Sunni yang mencela para ulama Syiah masa kini, itu tentu haram. Jangankan mencela manusia, mencela sesembahan orang musyrik pun dilarang (lihat QS 6:108). Karena itu jelas, dan ini berlaku lintas sekte, bahwa mencela mazhab atau agama lain itu merusak ukhuwah. Rekonsiliasi Sunni-Syiah tiada akan terwujud jika Syiah, misalnya, masih mencaci Sahabat yang dihormati Sunni; atau orang Sunni misalnya, mencaci Ayatullah Khomeini.

Itulah asas taqrib. Dan, syukurlah, sebagian ulama Syiah kini sudah memfatwakan keharaman bagi orang Syiah untuk mencaci Sahabat yang dihormati Ahlus Sunnah. Di sini, kita tahu, perkembangan pendapat itu ada.

Tentang poin ketiga itu, yakni tiada bolehnya Syiahisasi atau Sunnahisasi di negeri yang berbeda mazhab, perkenankan saya untuk mengajukan kritik berikut.

Selama ini, argumen pelarangan penyebaran mazhab lain di negeri lain adalah karena penyebaran sekte itu, baik Sunnah ke negeri Syiah, atau Syiah ke negeri Sunni, akan menimbulkan friksi akut di masyarakat. Menurut saya, perpecahan, friksi, fragmentasi, dan sebagainya terjadi bukanlah karena keberadaan mazhab itu, tapi karena pengikut mazhabnya yang eksklusif dan tidak terbiasa dengan kritik dari kalangan yang beda aliran.

Jangankan antara Sunni dengan Syiah, di dalam Sunni sendiri pun tak jarang terjadi friksi antara mazhab-mazhabnya. Sampai kini, tidak bisa dimungkiri, terjadi pertengkaran hebat antara Sunni-Asy’ari-Maturidi dengan Sunni-Salafi-Wahabi. Pertengkaran bukan hanya di level ulamanya, tapi juga di akar rumput. Di Indonesia, Nahdhiyin menentang keras keberadaan Wahabi.

Perlu pula dicatat, saat Wahabi mensyirikkan amaliyah NU (tawassul, tabarruk, ziarah kubur, maulid Nabi, dll.), maka itu bukan lagi persoalan furu’ (cabangan), itu sudah ushul (pokok). Apalagi, kita tahu, syirik adalah dosa terbesar. Tentu naif kalau dinyatakan bahwa Wahabi mestinya dilarang beredar di Indonesia hanya dengan alasan keberadaan Wahabi menimbulkan friksi di masyarakat dan merusak ukhuwah Islam, bukan?

Lagipula, dalam catatan sejarah, pertengkaran sektarian bukan saja terjadi karena perbedaan soal ushul, melainkan juga furu’. Yaqut al-Hamawi dalam Mu’jam al-Buldan, bab entri huruf hamzah dan shad, tentang kejadian pada abad ke-5 H, menyatakan bahwa pada masa itu di Isfahan pernah terjadi fanatisme akut antara Hanafiyah dan Syafi’iyyah. Antara kedua mazhab itu terjadi peperangan cukup lama. (Waqad fasyĆ¢ al-kharĆ¢b fi hadza al-waqt wa qablahu fi nawĆ¢hĆ®hĆ¢ li katsrah al-fitan wa at-ta’asshub baina asy-syafi’iyyah wa al-hanafiyyah wa al-hurĆ»b al-muttashilah bain al-hizbain).

Masih di Mu’jam al-Buldan, bab entri huruf ra’ dan ya’, terjadi di Ray (Iran), pernah ada peperangan antara Hanafiyah dengan Syafi’iyah yang, karena kemenangan berada di tangan Syafi’iyah, kemudian penduduk Rustaq yang bermazhab Hanafi mendatangi Ray dengan membawa senjata dan bunuh-bunuhan pun terjadi.

Muhammad ibn Ismail as-Shan’ani di kitabnya, IrsyĆ¢d an-NuqqĆ¢d fi TaysĆ®r al-Ijtihad, pada bab Tawaqquf fi tashdĆ®q al-mukhbir hattĆ¢ taqĆ»m al-bayyinah, menuliskan bahwa Mula ‘Ali al-Qari berkata bahwa dulu pernah masyhur terjadi, bila ada Hanafi pindah ke mazhab Syafi’i maka akan dihukum; dan jika sebaliknya, maka tidak dipersoalkan (isytahara baina al-hanafiyyah anna al-hanafiy idza intaqala ilĆ¢ madzhab asy-syĆ¢fi’i yu’azzaru waidza kĆ¢na bi al-‘aksi fainnahu yukhla’u ‘alayh).

Sekali lagi, persoalan perpecahan di tubuh umat Islam bukanlah karena beda sekte semata. Lebih dari itu, friksi terjadi karena masing-masing pengikut mazhab tidak terbiasa dengan kritik dan mudah tegang hanya karena dipicu sentimen yang dibumbui panasnya tensi politik. Ini bukan berarti saya hendak membuka lebar ajaran Syiah disebar di negeri Sunni. Tentu saja, ajaran Syiah yang berisi cacian kepada Sahabat tidak bisa ditolerir. Caci-maki terhadap figur terhormat, dari agama manapun, adalah tindakan yang merusak persaudaraan.


[ 6 ]
Dulu di masa-masa ketika kredo Sunni dan Syiah belum “dibekukan” dalam kitab-kitab induk, hubungan Sunni-Syiah cukup damai. Keduanya terintegrasi dalam masyarakat.

Dalam hal ini saya merujuk ke ulasan yang pernah disampaikan Mukhtar as-Syinqiti, doktor bidang sejarah agama yang menulis disertasi tentang pengaruh Perang Salib terhadap friksi Sunni-Syiah. Anda bisa mencari makalahnya di websitenya (berbahasa Arab: shinqiti.net) dan kuliah-kuliahnya di Youtube (Misalnya, search dengan kata kunci Arab: as-sunnah wa asy-syĆ®’ah; baina at-tawĆ¢shul wa al-qathĆ®’ah) bisa dilihat videonya:


Dikatakannya, dulu di masa Abbasiyah, hubungan Sunni dan Syiah itu komunikatif (tawĆ¢shul), saling terbuka dan saling belajar. Tidak ada friksi sektarian dalam skala yang massif antara Sunni & Syiah. Di masa itu, Sunni & Syiah berintegrasi dalam masyarakat. Tak jarang, orang Sunni belajar di masjid Syiah, demikian pula sebaliknya. Muhaddits Ahlus Sunnah, Al-Hakim an-Naisaburi, misalnya, yang menulis Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, didaku sebagai ulama Syiah, sebab al-Hakim lah yang menulis kitab musthalah hadits yang diberikannya kepada murid-muridnya yang Syiah.

Di sisi lain, Sunni pun menyerap budaya Syiah. Muhammad Zaki Ibrahim dalam Fiqh as-Shalawat wa al-Mada’ih an-Nabawiyyah (2011: 103-105) menceritakan bahwa tradisi perayaan maulid Nabi dimulai oleh kalangan Syiah dari Dinasti Fathimiyah di Mesir. Tradisi maulid waktu itu digalakkan untuk membangkitkan semangat cinta Nabi dan Ahlul Bait, serta memperkokoh persatuan dan konsolidasi negara sebagai rival pemerintahan Sunni di Baghdad.

Melihat efek dari tradisi maulid itu, Sultan Muzhaffar ad-Din di Irbil (masih bawahan Abbasiyah Baghdad yang Sunni) ikut membudayakannya. Ia bahkan menggelontorkan lebih dari 1000 dinar sebagai hadiah bagi siapa saja yang mampu menyusun syair-syair pujian kepada Nabi (madah nabawiy). Sejak saat itu, tradisi maulid menjadi budaya populer dan semarak dilakukan di negara-negara kekhilafahan lainnya.

Tradisi maulid semakin berkembang ketika Shalahuddin al-Ayyubi memanfaatkan efek tradisi maulid itu. Shalahuddin berpandangan bahwa maulid bisa menjadi manifesto persatuan dan persaudaraaan (ukhuwwah) umat Islam. Untuk membangkitkan semangat juang prajuritnya, Shalahuddin mengadakan sayembara menggubah syair-syair madah. Salah satu karya besar yang lahir setelah itu adalah kitab Maulid al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far al-Barzanji, yang masih banyak dibaca hingga kini dan cukup sering didendangkan rutin mingguan oleh orang-orang NU.

Lebih dari itu, dulu tak sedikit di antara para khalif Abbasiyah yang mengambil menteri dari orang Syiah. Dinasti Fathimiyah, yang bermazhab Syiah-Ismailiyah, pun tak sedikit mengambil menteri dari orang Sunni. Para ilmuwan dan saintis yang mengabdi pada negara juga banyak yang lahir dari kelompok Syiah: Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Miskawayh, Jabir ibn Hayyan, Ibn Sina, dll—karena itu, bila sekolompok umat Islam tak mengakui Syiah sebagai bagian dari Islam, maka mereka tak bisa mendaku penemuan para saintis itu sebagai sumbangsih Muslim kepada dunia.

Dalam hal ini berlaku hukum sejarah: Peradaban yang berkembang (izdihâr) ialah peradaban yang terbuka (infitâh), menyerap berbagai budaya, dan toleran pada perbedaan pandangan. Semakin peradaban tertutup, maka ia makin menuju fase kemunduran (inhithâth). Tiada peradaban yang berkembang hanya berdasar murni dari dirinya sendiri, tanpa ada kontak dengan peradaban, kebudayaan, dan pemikiran yang berbeda.

Di masa inklusivisme—Dr Mukhtar menyebutnya ‘ashr at-tawĆ¢shul wa al-infitĆ¢h—pernah terjadi integrasi Sunni-Syiah dalam masyarakat, dan hampir tiada friksi. Lalu, eksklusivisme—Dr Mukhtar menyebutnya dengan istilah ‘ashr at-ta’asshub wa al-qathĆ®’ah—menghinggapi hubungan Sunni-Syiah dengan ditandai oleh dua perkembangan sejarah. Pertama, saat pandangan Hanabilah mendominasi dunia Sunni dan, kedua, saat Mu’tazilah merasuk ke dunia Syiah.

Akar sengketa bermula pada awal-awal abad ke-5 H, sebagai imbas dari tragedi “mihnah”—yang menyeret Imam Ahmad ibn Hanbal ke dalam siksaan penjara. Tragedi itu menyisakan permusuhan akut antara Ahlul Hadits versus Mu’tazilah. Seiring dengan hegemoni Ahlul Hadits yang mengalahkan dominasi Ahlur Ra’yi di dunia Sunni, permusuhan pada Mu’tazilah menguat. Di sisi lain, Mu’tazilah terserap ke dalam Syiah. Jadilah Syiah bukan sekedar gerakan politik, melainkan menjadi mazhab akidah. Sejak itulah, Syiah sebagai ideologi menemukan bentuk yang sempurna. Di masa itu pula kemudian 4 kitab hadis induk Syiah mulai ditulis. (Empat kitab hadis induk Syiah itu muncul setelah Sunni-Syiah sudah mengalami fase separasi dan benih-benih permusuhan mulai tumbuh, sehingga tidak kecil kemungkinannya sentimen sektarian ikut merembes ke dalam kitab hadis Syiah itu)

Pada mulanya, sengketa terjadi hanya antara Hanabilah versus Syiah. Kitab-kitab tarikh yang menerangkan kejadian pada abad 5 H, kata Dr Mukhtar asy-Syinqithi, banyak menuliskan terjadinya fitnah antara Hanabilah versus Syiah.

Pada perjalanan selanjutnya, ringkas cerita, pandangan Hanabilah ini mendominasi dunia Sunni [Apalagi, saat permusuhan itu semakin diruncingkan oleh Ibn Taimiyyah, yang mengkritik keras Syiah melalui kitabnya “Minhaj as-Sunnah”, kemudian ajaran Ibn Taimiyah itu dihidupkan oleh Muhammad ibn Abdil Wahhab dan menjadi paham Salafi kini]. Di sisi Syiah-Imamiyah, gerakan politiknya semakin radikal seiring ideologi politik harakiy ala Syiah-Ismailiyah menjadi ideologi arus utama: oposisi setia terhadap Sunni. Sejak itu, Sunni dan Syiah terlibat sengketa tiada henti sampai sekarang.

Poin saya di sini adalah: sengketa akut Sunni-Syiah sangat tidak terlepas dari faktor sejarah politik. Tensi politik dalam sejarah masa lampau itu, sedikit maupun banyak, ikut mempengaruhi ajaran dan kredo yang kemudian merembes ke dalam kitab-kitab rujukan kedua mazhab tersebut.

Butuh usaha besar untuk menggali kembali sisi sejarah yang hilang; sejarah saat Sunni dan Syiah bisa berdampingan, berintegrasi; dan perbedaan pandangan tidak menjadi alasan untuk bermusuhan, justru jadi peluang untuk saling belajar; menerima dan memberi.


[ 7 ]
Data sejarah Nusantara menunjukkan bahwa Syiah sudah lama berada di bumi Indonesia. Salah satu tesis terkuat tentang muasal Islam di Nusantara ialah dari Gujarat & Persia yang, sedikit atau banyak, diwarnai oleh ajaran dan amaliyah Syiah.

Menurut Agus Sunyoto di buku Wali Songo, Islam mulai berkembang di India, salah satunya, dimotori oleh kalangan Alawiyyin yang lari dari kejaran penguasa Umayyah dan Abbasiyah. Pengaruh tradisi dan pemikiran Alawiyyin yang dianut orang-orang Persia terbawa ke India. Dari India, kemudian terbawa ke Nusantara.

Pengaruh Persia itu antara lain ada dalam sistem pengajaran al-Qur’an yang menggunakan istilah-istilah berbahasa Persia untuk menyebut harakat (vokal) dalam bahasa Arab, seperti jabar untuk fathah, jer untuk kasrah, dan pes (fesy) untuk dhammah. Generasi simbah saya masih ada yang mengeja al-Quran dengan jabar, jer, dan pes itu.

Pengaruh dalam bidang kesusastraan juga cukup besar. Ini muncul dalam karya terjemahan dari sastra Persia: Qissa-i-Emir Hamza (Hikayat Amir Hamzah, mengisahkan kepahlawanan Hamzah ibn Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad Saw), Qissah Insyiqaq al-Qamar (Hikayat Terbelahnya Bulan, salah satu mukjizat Nabi Muhammad Saw), Rawdhat al-Ahbab (Hikayat Nur Muhammad), Wafat Nameh (Hikayat Nabi Wafat), Qissah Wasiyyah al-Mustafa li Imam ‘Ali (Kisah Wasiat Nabi kepada Ali), Qissah Amir al-Mu`minin Hasan wa Husain (Kisah Amirul Mukminin Hasan dan Husain), Qissah i Ali Hanafiyah (Kisah Ali al-Hanafiyah [putra Ali ibn Abi Thalib dari istrinya, Khaulah, dari Bani Hanifah]), dan lain-lain. [Simaklah judul-judul karya itu; yang indikatif pada ajaran Syiah]

Konon, dulu juga pernah ada Kesultanan Perlak di Aceh—yang sezaman dengan masa Daulah Abbasiyah—yang bermazhab Syiah. Ada pula beberapa tradisi Syiah yang bertahan lama, mungkin sampai kini masih ada, yakni perayaan Asyuro dengan Tabot & bubur Asyuro—dan bulan Muharram pun lazim disebut orang Jawa dengan nama “Sasi Suro”. Adapula beberapa ajaran yang mirip—untuk tak dikatakan sama persis—antara Syiah dengan Ahlus Sunnah. Misalnya, tawassul, tabarruk, peringatan hari kematian, ziarah kubur, maulid Nabi, dan lain-lain.

Data sejarah ini menunjukkan bahwa sudah sejak lama Syiah menjadi bagian integral dalam Islam di Nusantara. Santri-santri Nahdliyin yang gemar shalawat pasti tahu bahwa syair “Ya Rasulallah Salamun ‘Alayk” yang biasa dibaca dalam Barzanji atau Diba’i menyebut imam-imam Syiah: dari ‘Ali ibn Abi Thalib sampai ‘Ali ar-Ridha. (Lihat mulai bagian syair: kam imĆ¢min ba’dahu khalafĆ»). Orang-orang NU yang gemar bershalawat tentu tahu kasidah-kasidah macam “Ya Zahra”, “Ya Ala Baitin Nabi”, “Birasulillah wal-Badawi”, “Li Khamsatun”, dll. [Sebagai misal, “Li Khamsatun” oleh anak-anak Syiah bisa dilihat Videonya:


“Li Khamsatun” oleh anak-anak NU bisa dilihat Videonya:


Kasidah-kasidah pujian kepada Ahlul Bait itu tak hanya didendangkan oleh Sunni, melainkan juga oleh Syiah. Kenyataan ini menunjukkan kebenaran ungkapan masyhur dari Gus Dur itu: NU adalah Syiah-kultural.


[ 8 ]
Makna “Syiah” dalam konsep Al-Quran (6:159 & 30:32) sebenarnya identik dengan golongan yang suka mencerai-beraikan agama (alladzina farraqĆ» dĆ®nahum wakĆ¢nĆ» syiya’an)–perlu dimengerti, istilah “Syiah” itu sendiri sebenarnya peyoratif; orang-orang Syi’i lebih suka menisbati diri mereka sendiri dengan nama Mazhab Ahlil-Bayt atau sekurang-kurangnya dengan Syi’atu ‘Ali. Hari ini ada sebagian umat Islam yang berusaha menghentikan upaya persatuan & rekonsiliasi Sunni-Syiah, atas dasar anggapan bahwa Syiah bukan Islam. Bisa jadi, justru para pemecah belah itulah yang lebih cocok dengan konsep “Syiah” dalam deskripsi Al-Quran. Artinya, mereka menjadi “Syiah” tanpa sadar.

Betapapun, persatuan itu lebih baik daripada perpecahan. Al-Quran menyatakan banyak ayat tentang perdamaian dan rekonsiliasi (ash-shulh): Wash-shulhu khair; Wa ashlihû dzâta baynikum, dll. Al-Quran melarang umat Islam berpecah belah: la tafarraqû.

Kita mesti mengakhiri sengketa panjang lebih dari satu milenium ini. Sungguh menarik ayat yang dikutip Syaikh Wahbah dalam salah satu Muktamar Taqrib: Tilka ummatun qad khalat, lahĆ¢ ma kasabat wa ‘alayha ma iktasabat. Mereka kaum yang telah lalu; bagi mereka apa yang mereka lakukan. Sejarah kelam mestinya kita tinggalkan, demi menatap masa depan yang lebih toleran terhadap perbedaan, bukan?

In urĆ®du illa al-ishlĆ¢h ma istatha’tu. WamĆ¢ tawfĆ®qĆ® illĆ¢ billĆ¢h.

(Liputan-Islam/Shabestan/Berbagai-Sumber-Lain/ABNS)
Share this post :

Post a Comment

mohon gunakan email

Terkait Berita: